Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika Bisnis Barat
0
MIND MAPKRITIK ATAS ETIKA BISNIS BARAT Fadjar Setiyo Anggraeni
UNAKI
KRITIK
ATAS
ETIKA
BISNIS
BARAT
MENILAI ETIKA
BISNIS
KONVENSIONAL
Penguasaan Bahan Mentah
Mengganti Emas dg Dollar
Sumber
Neg berkembang sbg pasar onsumsi
Jerat hutang melalui IMF
Brain drain
Kebijakan Ekonomi oleh IMF
Perang Regional
Suasana tidak aman
Globalisasi, privatisasi, investasi
Mengangkat agen-agen kapitalis
Tentara di daerah konflik
Memecah Belah Dunia
Budaya dan gaya hidup kapitalis
Sanksi melalui PBB
Motif
Paradigma
Pondasi Dasar
Landasan Filosofi
Harta
Investasi
Distribusi Kekayaan
Konsumsi - Produksi
Mekanisme Pasar
Pengawas Pasar
Fungsi Negara
Bangunan Ekonomi
TINJAUAN
ETIKA BISNIS
DARI
BERBAGAI ISUE
PENILAIAN
IMPLEMENTASI
ETIKA
KRITIK ATAS
TEORI
UTILITARIANISM
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
BAB 2KRITIK ATAS ETIKA BISNIS BARAT Fadjar Setiyo Anggraeni
UNAKI
Kondisi bisnis dewasa ini menuntut para pebisnis untuk berfikir keras memenangkan persaingan. Apalagi dengan terbukanya pasar bebas yang memungkinkan semua Negara memperebutkan pangsa pasar yang sama. Disadari atau tidak, pada akhirnya mereka, para pebisnis mulai menimbang-nimbang aktivitas yang paling menguntungkan bagi perusahaannya. Sesuatu yang hukumnya dilarang dibuat remang-remang agar mendapatkan legalitas. Sebagai akibatnya, ekonomi menjadi keluat dari “khittah” ekonomi yang digagas oleh Adam Smith, yang pada dasarnya—melalui The Wealth of Nations dan The Theory of Moral Sentiments—tidak pernah memisahkan etika dan moral dari perilaku ekonomi.
Kajian etika bisnis dalam studi Islam selama ini lebih didasarkan pada al-Qur’an. Tokoh-tokoh Islam utama seperti Muhammad SAW telah banyak memberikan inspirasi bagi etika bisnis Islam. Mentalnya sebagai pekerja keras sudah terbentuk sejak beliau berusia 4 tahun, saat dia mulai belajar menggembala kambing bersama saudara-saudara sepersusuannya. Di usia 12 tahun dia mulai tertarik dengan dunia bisnis. Bersama pamannya Abu Thalib, dia mulai perjalanan bisnisnya ke Syam. Berbagai pasar dan festival perdagangan dikunjunginya untuk membangun jaringan. Hal ini dilakukannya hingga dia menjadi keryawan Khadijah dan pada akhirnya menjadi suami Khadijah.
Smith mengatakan; “Setiap orang senantiasa berupaya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dari apapun yang dimilikinya. Sesungguhnya, keuntungannya sendirilah, dan bukan keuntungan masyarakat, yang ia pertimbangkan. Namun memperhitungkan keuntungan pribadi, dengan sendirinya- atau malah tidak dapat tidak akan membuat ia memilih apa yang paling menguntungkan bagi masyarakat luas … Dalam hal ini, seperti dalam hal-hal lain juga, ia dipimpin oleh suatu tangan yang tidak kelihatan, yang membuat ia mengusahakan suatu tujuan, yang sebenarnya semula tidak dimaksudkannya.
Apakah yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Adam Smith? Pertama, ia ingin mengatakan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi. Hal ini bukan hanya merupakan kebenaran empiris belaka akan tetapi ia sudah menjadi naluri yang melekat pada diri manusia.
Kedua, sepintas apa yang dikatakan oleh Adam Smith itu mirip dengan apa yang dikatakan oleh filsuf Inggris, Thomas Hobbes yang berbicara mengenai naluri ketamakan dan keserakahan pada setiap orang, dalam bukunya Leviathan. Menurutnya, perilaku tersebut hanya dapat dihindari apabila manusia menahan diri dan menekan nalurinya manakala kebebasan dan kecenderungan naluriahnya mulai dibatasi oleh kepentingan masyarakat dan negara. Akan tetapi ternyata Adam Smith memiliki pandangan lain. Manusia, menurutnya, tidak perlu membatasi diri karena manusia akan dihindarkan dari malapetaka oleh “tangan yang tidak kelihatan” (invisible hand). Apakah yang ia maksudkan di sini adalah kuasa dan campur tangan ilahi, yang di dalam teologi Kristen disebut “kuasa pemeliharaan Allah” (providential dei)? Mungkin yang dimaksudkannya hanyalah suatu mekanisme di dalam hukum alam yang biasa.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
PENILAIAN IMPLEMENTASI ETIKAAdam Smith dalam bukunya The Wealth of Nation (1776) mengatakan bahwa pasar yang baik adalah pasar yang dibentuk oleh kompetisi antara penawaran dan permintaan, agar tercipta harga yang wajar sebagai wujud keseimbangan dari kompetisi bebas antara kekuatan penawaran dan kekuatan permintaan. Jika kita telusur lebih jauh mengenai teori yang dikemukakan oleh Adam Smith tersebut, sesungguhnya apa yang dimaksudkannya sudah ada sejak Rasulullah SAW. Riwayat hadits yang disampaikan oleh Anas ra berikut ini berhubungan dengan adanya kenaikan harga-harga barang di kota Madinah. Dalam hadits tersebut diriwayatkan sebagai berikut :
“Harga melambung pada zaman Rasulullah SAW. Orang-orang ketika itu mengajukan
saran kepada Rasulullah dengan berkata: “Ya Rasulullah hendaklah engkau menentukan harga”. Rasulullah SAW. bersabda: ”Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kedzaliman dalam darah maupun harta.”
Pasa hadits tersebut terlihat apa yang mendasari teori ekonomi Islam mengenai harga. Rasulullah SAW dalam hadits tersebut tidak menentukan harga. Ini menunjukkan bahwa ketentuan harga itu diserahkan kepada mekanisme pasar yang alamiah. Rasulullah menolak tawaran menetapkan harga dan mengatakan bahwa harga di pasar tidak boleh ditetapkan, karena Allah-lah yang menentukannya. Ucapan Nabi Saw itu mengandung pengertian bahwa harga pasar itu sesuai dengan kehendak Alloh yang sunnatullah atau hukum “supply and demand” (Republika Online, 2015)
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah; apakah pemahaman etika yang dikemukakan oleh Adam Smith, sama dengan pemahaman etika yang dimaksud oleh Muhammad SAW? Pada kenyataanya kaum kapitalis telah mengartikan kebebasan itu sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk memperoleh keuntungan yang setinggi-tingginya. Praktik monopoli adalah satu contoh aktivitas ekonomi kaum kapitalis dengan pandangan hidup liberalnya yang telah membawa dampak negatif bagi kompetisi pasar yang sehat. Pada pasar monopolis produsen-produsen lain tidak akan dapat bertahan, bahkan yang lebih buruk produktifitas dengan sengaja diturunkan demi tujuan politis, yaitu mengatur harga agar maksimal. Dengan demikian apa yang diharapkan Smith akan terjadi invisible hand akan jauh dari kenyataan, karena dengan sendirinya akan terjadi kelangkaan barang (scarcity) yang dampaknya akan sangat dirasakan oleh masyarakat (konsumen). Dengan demikian sudah bisa dipastikan keseimbangan pasar tidak akan terjadi.
Berikut ini adalah daftar panjang dari praktik kapitalisme dunia barat, yang akan terus berlanjut sampai mereka benar-benar bisa memegang kendali atas dunia;
o Pertama, penguasaan bahan-bahan mentah di manapun dan kapanpun adanya.
Peristiwa jatuhnya Konstantinopel pada 1453 yang merupakan ibu kota Imperium Romawi-Byzantium (Romawi Timur) ke tangan Dinasti Usmani (Ottoman) Turki yang dipimpin oleh Sultan Muhammad II (1451-1481)menjadi awal pengalihan kekuasaan Eropa ke kawasan Timur dan Asia. Ketika itu Imperium Turki Usmani segera menguasai wilayah-wilayah strategis yang dikuasai oleh Eropa yang menyebabkan tertutupnya perdagangan di Laut Tengah bagi orang-orang Eropa. Penguasa Turki Usmani juga menjalankan politik yang mempersulit pedagang Eropa beroperasi di daerah kekuasannya sehingga berdampak pada mundurnya hubungan dagang antara dunia Timur dengan Eropa.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
Amerika. Sehingga kemudian lahirlah pembagian kekuasaan atas wilayah-wilayahtersebut untuk memasarkan hasil industri dari Eropa dan juga untuk mengambil bahan-bahan mentah bagi kepentingan industrialisasi di Eropa.
Sebagaimana prinsip utama dalam praktek merkantilisme, monopoli menjadi hal utama untuk mencapai kesuksesan perekonomian negara penganut merkantilisme dalam sistem ekonominya. Monopoli dapat terwujud apabila tercapai suatu penguasaan terhadap wilayah perdagangan. Sehingga dibutuhkan penguasaan teritorial dalam usaha mengontrol aktifitas perdagangan. Karena itulah, mereka memiliki banyak jajahan di berbagai belahan dunia, untuk bisa memperoleh dan menguasai bahan mentah yang mereka butuhkan.
o Kedua, menggantikan emas dengan dollar sebagai mata uang dunia.
Rezimisasi mata uang dollar AS tengah terjadi saat ini, yaitu dengan menjadikan mata uang ini sebagai standar moneter di dunia. Hal ini bermula dari keputusan Presiden AS, Richard Nixon pada tanggal 15 Juli 1971 yang secara resmi menggantikan sistem Brettonwoods yang dianggap sebagai keputusan yang mengikat mata uang dollar dengan emas dan mematoknya dengan nilai tertentu. Keputusan ini tentu menguntungkan AS, karena secara otomatis dia bisa mengontrol mata uang negara lain, karena hanya AS-lah yang berhak untuk membuat dollar, mencetak dan menerbitkannya. Sementara negara-negara lain hanya ‘diwajibkan’ untuk menyandarkan mata uang mereka pada mata uang ini. Akibatnya nilai tukar negara lain, menjadi tidak stabil karena mengikuti pergerakan dollar dan pasar dollar yang fluktuatif. Wajar jika kemudian, AS juga bisa menjadikan dollar ini sebagai alat politik untuk melakukan penjajahan ekonomi atas negara-negara lain.
Saat ini masyarakat Eropa berusaha melepaskan diri dari hegemoni AS dengan cara memakai mata uang bersama, yaitu Euro, sementara sejumlah negara juga sedang berusaha memperkenalkan kembali emas (dinar) dan perak (dirham) sebagai standar.
o Ketiga, terus menjadikan negara-negara berkembang sekedar sebagai pasar konsumsi, dengan selalu mencegah mereka dari upaya mengembangkan industri berat dan bahkan, berbagai industri ringan.
Negara kapitalis pemegang kontrol produksi atau penjualan (seringnya produksi dan penjualan sekaligus) atas bagian terbesar dari komoditi-komoditi tertentu. Apapun bentuk asosiasinya, tujuannya tetap mencari keuntungan sebesar-besarnya. Asosiasi-asosiasi monopolis muncul terutama di cabang-cabang industri berat, di mana produksi telah terkonsentrasi. Ketika telah memegang kontrol terhadap industri berat, monopoli menyebar ke cabang-cabang industri lainnya, menelan pesaing-pesaingnya.
Bentuk-bentuk asosiasi monopolis bervariasi dan pada awalnya merupakan kesepakatan short term (jangka pendek) antara individual kapitalis berkaitan dengan harga. Sedangkan kesepakatan jangka panjang (long term) bisa berbentuk Kartel, Syndicate, Trust, atau Concern.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
o Keempat, menenggelamkan berbagai negara berkembang dengan jerat hutangberbunga melalui IMF dan Bank Dunia. Bahaya jerat hutang ini sangat jelas kelihatan. Sejak masuknya IMF sebagai organisasi memberi bantuan financial bagi Negara-negara yang tengah dilanda krisis keuangan, telah mengundang banyak kontroversi. Beberapa kebijakan IMF yang ditawarkan kepada Negara-negara tersebut seringkali tidak sesuai dengan keadaan lapangan dan malah membuat negara debitur semakin tergantung dengan bantuan IMF. Contohnya saja kebijakan privatisasi, di mana negara harus menjual aset perusahaan negara kepada swasta untuk mengurangi subsidi. Sehingga yang terjadi justru akses fasilitas kebutuhan publik seperti kesehatan dan transportasi menjadi mahal dan tidak terjangkau bagi masyarakat kurang mampu yang di Negara Dunia Ketiga volumenya masih sangat banyak. Sementara itu negara telah mengurangi subsidinya hingga batas minimum di saat rakyat masih sangat membutuhkan. Hal ini berakibat pada semakin besarnya angka kemiskinan.
Kebijakan-kebijakan IMF dipandang sangat timpang dan terpusat pada pemilik modal besar saja. Belum lagi kebijakan untuk membuka pasar terhadap perdagangan global, mengusik perekonomian rakyat kecil. Pasar dibanjiri oleh produk-produk impor yang berkualitas baik dan harga lebih murah, sementara pengusaha kecil tidak mampu bersaing dengan barang- barang impor. Sehingga tak jarang ditemukan usaha yang gulung tikar dan tentunya meningkatkan angka pengangguran.
o Kelima, menarik kalangan profesional dan intelektual yang tidak menemukan atau tidak puas dengan posisi mereka di negara asalnya, agar mereka beremigrasi ke negara-negara Barat.
Munculnya istilah brain drain pertama kali dikenalkan oleh Britain’s Royal Society untuk menggambarkan perpindahan para saintis dan para ahli teknologi Inggris ke Amerika Utara pada 1950-an dan awal 1960-an. Peristiwa emigrasi ini mulai menjadi tren sejak 1970 dan terus meningkat pada 1990 hingga 2000. Kebanyakan dari mereka tertarik oleh tawaran gaji yang lebih tinggi, kesempatan karir yang lebih baik, standar hidup yang lebih baik, atau bahkan belakangan negara kaya memang sengaja menjaring tenaga kerja berkeahlian tinggi untuk bekerja di negaranya. Amerika menjadi negara yang menikmati dampak positif dari fenomena brain drain (brain drain net importer). Negara ini sadar benar dengan pentingnya keberadaan kaum cerdik cendekia di negaranya. Bahkan, Amerika telah menerbitkan program visa khusus untuk menarik kaum terpelajar dari seluruh dunia datang dan memperkuat ekonomi negara ini. Sementara itu, negara-negara berkembang seperti India, China, Pakistan, dan Filipina dilaporkan mengalami eksodus kaum intelektual ke Amerika dan Eropa Barat
Umumnya, brain drain memberikan tiga bentuk kerugian bagi negara pengekspor (negara asal), antara lain;
Pertama, brain drain menyebabkan kelangkaan SDM ahli. Hijrahnya kaum intelektual ke luar negeri menyebabkan kurangnya tenaga ahli di dalam negeri. Untuk mengatasi jurang antara kebutuhan industri dan kelangkaan SDM ahli, negara yang terkena brain drain harus merogoh kocek sangat dalam untuk membayar ekspatriat, yang akan berimbas pada lemahnya produk domestik bruto negara. Negara – negara Afrika mengalami kerugian hingga sekitar 38 trilyun rupiah setiap tahun akibat brain drain. Negara jazirah Arab harus merogoh kocek hingga 200 milyar dolar juga akibat brain drain.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
Ketiga, pengembangan sumber daya manusia negara asal yang semakin tertinggal.Dampak ketiga ini dialami oleh negara Indonesia. berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNDP (United Nations Development Program) pada 2005, menyebutkan Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Pada tahun sebelumnya, yakni 1997 peringkat Indonesia turun dari urutan 99, ke 102 pada 2002 dan merosot kembali pada peringkat 111 pada tahun 2004.
o Keenam, merumuskan berbagai kebijakan ekonomi dan pembangunan yang disetir oleh IMF, yang mengakibatkan lemahnya tingkat keamanan pangan di berbagai negara berkembang, hingga mereka menggantungkan diri mereka dengan berbagai bantuan, grant, dan pinjaman dari Barat, meski sebelumnya mereka berhasil melakukan swasembada pangan.
Konsep liberalisasi menjadi landasan pikiran dari lembaga-lembaga Internasional, seperti Bank Dunia, IMF maupun WTO, yang kemudian menjadi latar belakang dalam menginvasi berbagai negara untuk bergabung dalam gerakan globalisasi dan liberalisasi di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi. Akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya persaingan bebas antara negara kaya dengan negara miskin ataupun negara kuat dengan negara lemah. Sehingga sudah pasti dapat ditebak siapa yang menang dan menindas serta siapa yang akan kalah dan tertindas, apalagi ketika terjadi keadaan di mana peran dari negara semakin lemah, maka disitulah negara dunia ke-tiga pasti akan dirugikan.
Sektor swasta memiliki dua ciri pokok yaitu semangat mengejar keuntungan dan posisinya yang bebas dari kontrol negara. Ia selalu dapat hidup dan bertahan bahkan di negara sosialis-komunis sekalipun. Kemampuannya yang besar secara ekonomi dan politik memberikan kekhawatiran tersingkirnya petani terutama petani kecil. Petani diyakini pasti akan kalah bersaing jika swasta masuk pada sektor yang sama. Ketika IMF menghapus peran PSO (public service obligation) Bulog melalui LoI 1998, maka monopoli Bulog dalam pengaturan stok dan harga beras dibatasi.
Bank Dunia juga menolak perlindungan pasar, dengan diberikannya mekanisme harga pada pasar dan dibukanya keran impor seluas-luasnya. Bank Dunia yakin inilah resep ampuh untuk ketahanan pangan dan pemberantasan kemiskinan. Tetapi pada kenyataannya, menurunnya peran negara dan meningkatnya peran swasta (terutama swasta internasional) justeru mengakibatkan negara tidak dapat lagi melindungi rakyatnya. Pasar yang terlalu berkuasa hanya akan meminggirkan penduduk miskin dan petani kecil.
o Ketujuh, menciptakan perang-perang regional untuk memaksa sejumlah negara membeli senjata dan perlengkapan perang dari Barat yang akan menjadi alat-alat perang yang ketinggalan zaman atau bahkan tumpukan besi bekas, jika tidak segera digunakan pada perang-perang regional antar negara berkembang.
Timur tengah merupakan kawasan berpotensi konflik yang dipicu oleh persaingan persenjataan. Lebih lanjut, persaingan senjata dan perdagangannya mengundang campur tangan negara-negara pamasok. Sehingga terbentuk blok-blok dengan sekutu yang berbeda berdasar negara pemasoknya. Terbentuknya blok-blok tersebut seakan memperlebar kekuataan militer negara pemasok ke wilayah-wilayah konsumen. Dalam artian, ada persekutuan antara pemasok dan konsumen, disamping adanya motif ekonomi.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
hingga 30 persen ke Timur Tengah dan Negara-negara Afrika Utara, yang menjadipusat gerakan protes anti rezim totaliter di kawasan tersebut. Inggris menjual senjata senilai 30,5 juta pound ke berbagai negara termasuk Bahrain dan Arab Saudi antara bulan Februari dan Juni tahun 2011. Jika dibandingkan dengan tahun 2010 pada periode yang sama, angka tersebut mengalami peningkatan 30 persen dari 22 juta pound. Sebelum Dewan Keamanan PBB memberlakukan embargo suplai senjata ke Libya pada Februari, Inggris telah menyuplai amunisi kepada rezim Libya senilai 64,000 pound. Sepertinya, ada standar ganda yang diterapkan pemerintah Inggris menyusul kecaman keras London atas represi rezim-rezim penguasa di Timur Tengah terhadap para demonstran revolusi di Timur Tengah.
Sementara itu, di kawasan China Daratan, Taiwan mampu menggagalkan usaha Cina untuk memblokade pulau Taiwan. Angkatan Udara Taiwan bisa menyebabkan kerugian bagi kegiatan perkapalan Cina dalam sekitar 1000 km dari Taiwan. Dengan kapal selam barunya yang dibeli dari Amerika, akan memberikan kemampuan untuk menyerang kegiatan perkapalan Cina di seluruh laut di Asia Timur. Taiwan dapat menghancurkan kegiatan perdagangan melalui laut. Kemampuan Cina untuk mengganggu perdagangan Taiwan lebih terbatas. Tindakan ini dibalas oleh Cina dengan mengadakan percobaan penembakan misil, tindakan ini banyak disebut-sebut orang sebagai tindakan untuk mempengaruhi pemilihan umum dengan pamer kekuatan. Taiwan yang sudah melakukan hubungan dengan AS mendapatkan dukungan dari negara adikuasa tersebut, AS merespon tindakan Cina dengan pengiriman kapal perang ke Teluk Taiwan. AS melakukan hal ini karena tidak ingin Cina menjadi the only big power di Asia Pasifik. Cina membalas tindakan ini dengan berbagai pengembangan senjata, bahkan pada bulan maret 2006 Taiwan mengeluh pada Cina yang telah mengembangkan kemampuan penyerangan militernya secara besar-besaran. Bahkan disebut-sebut bahwa Cina mengarahkan sedikitnya 700 buah misil balistiknya ke arah Taiwan
o Kedelapan, berusaha menciptakan suasana tidak aman di berbagai negara, agar terjadi pelarian modal ke negara-negara Eropa dan Amerika yang aman, dengan maksud agar sewaktu-waktu bisa dibekukan bila diinginkan. Diperkirakan paling sedikit ada dana sebesar 800 miliar dollar milik negara-negara Arab saja yang disimpan berbagai negara Barat. Kita dapat membayangkan, betapa besar kekayaan yang mereka jarah dari negeri-negeri Islam, belum lagi yang berasal dari negara-negara berkembang lainnya.
Pola lain yang diterapkan oleh IMF dalam menjalankan rancangan untuk penghancuran lembaga-lembaga sosial-ekonomi di balik dalih persyaratan untuk meminjamkan uang di antaranya adalah “Pricing” atau penentuan harga sesuai dengan pasar, sebuah istilah yang muluk untuk meningkatkan program menaikkan harga komoditas strategis seperti pangan, air bersih dan BBM. Tahapan ini akan menuju tahapan ”kerusuhan IMF”, yaitu sebuah kekacauan di dalam negara penerima bantuan IMF dalam skup multidimensi. Akan terjadi banyak kerusuhan, aksi demonstrasi yang dibubarkan dengan gas air mata, peluru dan tank. Situasi keamanan yang ‘terganggu’ ini akan menyebabkan pelarian modal (capilat flight) dan kebangkrutan pemerintah setempat.
o Kesembilan, penguasaan berbagai kepentingan ekonomi di berbagai negara melalui apa yang mereka sebut globalisasi, privatisasi, dan investasi modal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kapitalis raksasa.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
ditawarkan IMF ini nampak sebagai ‘malaikat penolong’ yang akan sangat bagus. Akantetapi, jika ditelaah secara lebih mendalam, akan banyak dijumpai berbagai kontradiksi.
Sebagai sebuah lembaga dunia yang bertugas membantu pertumbuhan negara-negara berkembang yang dilanda krisis, seharusnya IMF menyarankan untuk meningkatkan ekspor guna memperbaiki neraca perdagangan negara tersebut. Akan tetapi, ironisnya, IMF justru menyarankan liberalisasi perdagangan yang berarti memperluas pasar impor yang justeru akan membahayakan transaksi berjalan di negara tersebut.
Sementara itu, dari kesimpulan penelitian empiris menunjukan bahwa derasnya aliran masuk investasi asing ternyata tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk memecahkan masalah neraca pembayaran di berbagai negara berkembang. Sebaliknya biaya untuk melayani investasi asing jauh lebih tinggi dibanding dengan utang luar negeri. Posisi neraca berjalan tidak mengalami perbaikan, bahkan bertambah parah karena negara-negara tersebut sudah berada dalam victous circle of import. Semakin besar aliran investasi asing, maka semakin tinggilah tingkat intensitas import boom di negara-negara tersebut. Seiring dengan hal tersebut, aliran masuk dari investasi asing yang longgar juga mengakibatkan semakin terdesaknya kekuatan ekonomi domestik ke pinggir sambil menunggu saat kematiannya.
o Kesepuluh, mengangkat penguasa-penguasa – yang merupakan agen-agen mereka – bersama dengan kekuatan militer dan intelejen untuk mempertahankan berbagai kepentingan mereka.
Pasca runtuhnya Khilafah, sebagian besar Dunia Islam mengalami penjajahan kolonial secara langsung. Negara-negara penjajah mengirim pasukannya secara langsung. Penjajahan model langsung seperti ini dianggap tidak efektif. Keberadaan musuh yang nyata di depan mata, perlawanan dari umat relatif lebih mudah digerakkan, ditambah dengan biaya pendudukan langsung yang mahal dengan risiko yang tinggi. Barat lalu mengganti strategi penjajahan dengan cara memberikan kemerdekaan semu dan mendudukkan para pengusa lokal yang merupakan agen-agen mereka di Dunia Islam.
Di Indonesia, pada masa pendudukan VOC, para penguasa pribumi (raja, sultan dan semisalnya) tidak lagi menjadi penguasa utama. Mereka bukan lagi penguasa yang berdaulat dan mempunyai kewenangan yang mutlak. Para bupati dan pejabat di bawahnya masih mendapat kebebasan untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa selama mereka dianggap tidak membahayakan VOC atau Pemerintah Kolonial. Kekuasaan dan kewenangan mereka berjalan di daerah atas nama VOC atau atas nama Pemerintah Kolonial Belanda. Sistem indirect rule ini telah berhasil menjerat penguasa pribumi sebagai agen kekuasaan asing. Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah makin kuatnya elit zalim dan tidak mengakar pada rakyat akan tetapi patuh pada kepentingan kekuasaan asing.
Jika kembali ke masa sekarang, indikasi inferior para pejabat negara dan pandangan superior terhadap negara Barat terlihat dari rasa bangga mereka mendapatkan penghargaan demokrasi dan dielu-elukan di luar negeri. Ironinya, kemiskinan terjadi di mana-mana, kesenjangan kekayaan dan kesejahteraan rakyat dengan pejabat semakin besar, dan sebagainya. Seolah-olah, kondisi di dalam yang carut-marut ini bukan merupakan suatu masalah akan tetapi yang terpenting baik di mata asing.
armada-Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
armada kapal induk yang mengarungi berbagai samudera untuk mengamankanoperasi-operasi penjarahan yang mereka lakukan.
Sebagaimana diberitakan oleh Islampos pada 30 October 2013, bahwa pasca Perang Dunia II, tak ada yang lebih menarik minat Amerika selain Arab Saudi dan Iran mengingat kedua negara tersebut merupakan negara yang kaya akan potensi minyak. Iraq sendiri dipandang Amerika sebagai negara radikal lemah dan memiliki kedekatan dengan Rusia namun tidak begitu mengancam. Barulah di tahun 1980 bilateral antara Iraq dan Amerika Serikat mulai terjalin begitu erat. Akibat kemerosotan ekonomi yang dialami negaranya, Iraq berencana untuk menginvasi Kuwait. Hal tersebut menjadi pukulan keras bagi Presiden Amerika Serikat yaitu Geroge H. W. Bush di mana tindakan Iraq menjadi ancaman bagi negara Adikuasa tersebut dalam meletakan kepentingannya di Teluk Persia dan menjamin agar minyak terus mengalir serta mencegah munculnya hegemoni musuh di region Teluk. Sebab apabila Kuwait berhasil di kuasai Iraq maka negara Bulan Sabit tersebut akan menguasai 9% dari produksi minyak global yang mampu disaingkan dengan Arab Saudi dengan penguasaan minyak dunia mencapai hampir 11%, sehingga kestabilan Arab Saudi akan terancam dan dikhawatirkan akan mengalami “Finlandized” berupa paksaan untuk mengikuti kebijakan harga minyak luar negeri yang didiktatori Baghdad, atau dengan kata lain Iraq memiliki kapabilitas untuk megatur harga minyak global.
Pada pada 2 Agustus 1990 Iraq melancarkan invasinya ke Kuwait yang dikenal dengan sebutan Perang Teluk Persia I atau Gulf War. Invasi Iraq ini dibuka dengan penyerangan oleh dua brigade Pasukan Khusus Republik Iraq yang bergerak cepat untuk menguasai istana Amir dan Bank Sentral Kuwait.Pada hari yang sama Iraq membombardir ibukota Kuwait City dari udara. Meskipun Angkatan Bersenjata Kuwait, baik kekuatan darat maupun udara berusaha mempertahankan negara, namun mereka dengan cepat kewalahan. Selanjutnya Kuwait berhasil memperlambat gerak Iraq dan segera menyelamatkan keluarga kerajaan untuk meloloskan diri ke Arab Saudi beserta sebagian besar tentara yang masih tersisa. Invasi membabibuta yang dilakukan Iraq membuat Kuwait meminta bantuan kepada Amerika Serikat tepat tanggal 7 Agustus 1990.
Presiden Saddam Husein begitu percaya diri dengan invasi yang dilakukannya di atas tanah Kuwait hingga pada musim gugur tanggal 6 Agustus 1990 Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi Pada Iraq dan dilanjutkan dengan misi diplomatik antara James Addison Baker III diplomat Amerika Serikat dengan menteri luar negeri Iraq Tareq Aziz tanggal 9 Januari 1991 namun tidak membuahkan hasil. Iraq menolak permintaan PBB agar menarik pasukannya dari Kuwait 15 Januari 1991.
Dengan segera Presiden Amerika Serikat George H. W. Bush mengambil tindakan tegas terhadap Iraq setelah memperoleh izin untuk menyatakan perang oleh Kongres Amerika Serikat tanggal 12 Januari 1991. Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain baik negara-negara Arab dan AfrikaUtara kecuali Syria, Libya, Yordania dan Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa khususnya Eropa Barat (Inggris, Perancis dan Jerman Barat ditambah negara-negara Eropa Utara dan Eropa Timur), serta 2 negara Asia yaitu Bangladesh dan Korea Selatan.
o Keduabelas, berupaya memecah-belah dunia menjadi negara-negara kecil yang lemah dengan alasan kemerdekaan, agar mereka mudah dikuasai dan dikendalikan.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
dimuat USA Today, 13 Februari 2005 -- juga dikutip oleh Kompas edisi 16 Februari2005. Inti laporan NIC tentang perkiraan situasi tahun 2020-an. Rinciannya ialah sebagai berikut: (1) Dovod World: Kebangkitan ekonomi Asia, dengan China dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia; (2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS; (3) A New Chaliphate: Bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat; dan (4) Cycle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia). Yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia -- kekerasan akan dibalas kekerasan. Tahun 2008 dokumen ini direvisi mengenai perkiraan peran AS pada tata politik global dengan sedikit perubahan pada hegemoni AS era 2015-an yang diramalkan bakal turun meski kendali politik masih dalam cengkeraman.
o Ketigabelas, menyebarluaskan budaya dan konsep-konsep peradaban mereka, dengan tujuan untuk mempertahankan dominasinya atas negara yang lemah dan menjauhkan ummat yang tertindas dari pemikiran tentang perlunya perubahan dan pembebasan dari cengkeraman mereka.
Kenyataan saat ini adalah bahwa budaya gaya hidup Amerika yang materialistik, film-film Hollywood, nilai-nilai kebebasan pribadi menghadirkan bentuk lain dari pengaruh hegemoni mereka yang berkedok kemajuan teknologi dan hasil produk-produk dari negara-negara kaya dirasakan semakin dominan. Bahaya dari budaya baru tersebut telah memaksa orang untuk digunakannya ideologi asing, pendidikan dan nilai-nilai pada masyarakat di negara-negara berkembang ini dengan membuat mereka menjadi konsumen produksi perusahaan multinasional itu.
Pasca penjajahan dewasa ini, proses modernisasi di negara-negara Afrika, Timur Tengah, dan Asia, berwujud sebagai perubahan sosial, yang berusaha untuk mereka selaraskan dengan modernisasi gaya Barat. Contohnya, pada kasus Afrika Utara, budaya dan bahasa Perancis sangat mengakar kuat sampai pada tahap di mana bagian substansi dari budaya Islam sudah punah begitu saja. Contoh lain di Tunisia, Presiden Habib Burgaiba sampai-sampai menyalahkan Islam dan menyatakan nilai-nilai Islam sebagai lambang dari keterbelakangan dan tidak berkembangnya suatu masyarakat. Mereka tidak menyadari, meski budaya Barat mempunyai peran positif, tetapi semua itu tidak dapat menggantikan ilmu pengetahuan milik mereka sendiri terkait dengan upaya untuk mengatasi masalah lingkungan, hubungan sosial ataupun usaha mereka untuk maju.
o Keempatbelas, menerapkan sanksi terhadap negara-negara tertentu, seperti halnya sanksi AS terhadap Irak. AS, melalui Dewan Keamanan PBB, telah mengeluarkan resolusi nomor 665 untuk menerapkan boikot atas Irak, dan memberikan wewenang kepada Angkatan Laut AS untuk menggunakan senjata dalam rangka mencegah setiap transaksi perdagangan dengan Irak. Dalam bukunya, ‘Leaders’, Bob Woodward memberikan komentar tentang resolusi ini, “Inilah pertama kalinya dalam empat puluh lima tahun usianya, PBB memberikan hak untuk menerapkan sanksi ekonomi kepada negara-negara di luar lembaganya. Ini merupakan kemenangan diplomatik yang luar biasa bagi Pemerintah AS.”
TINJAUAN ETIKA BISNIS DARI BERBAGAI ISUE 1. Sumber
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
keseluruhan dari produksi yang mempunyai kedalaman logika, bahwa bisnis dirumuskansebagai maksimalisasi keuntungan (profit maximization) perusahaan dengan meminimumkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu bisnis seringkali lebih menetapkan pilihan strategis daripada pendirian berdasarkan nilai (Nafis Irkhami, 2007).
Konsekuensi dari kesadaran seperti ini pada akhirnya menuntun kepada sikap bisnis yang benar-benar hanya mempertimbangkan keuntungan. Bahkan kesadaran seperti ini telah menjadi semacam jargon yang dikenal luas dalam masyarakat bahwa; “bisnis adalah bisnis,” atau di Barat dinyatakan dengan “the business of business is business.”
Proses bisnis syariah sangat berbeda dengan konvensional. Bisnis syariah bersumber kepada Al-Quran dan Hadits yang tidak bisa dibandingkan dengan pemikiran manusia, bisnis syariah juga memiliki pedoman harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Ketetapan ini tidak akan berubah hingga kapan pun dan di manapun, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surah Yunus ayat 64, “… tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah…”.
2. Motif
Bisnis konvensional memiliki motif rasional materialism. Pada bisnis konvensional, motif aktivitas mengarah kepada pemenuhan keinginan (wants) individu manusia yang tak terbatas dan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar (needs) yang tentu memiliki batas. Pemenuhan keinginan dan pemenuhan dasar tersebut akan dipenuhi dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang terbatas, sehingga berakibat pada masalah kelangkaan (scarcity) dan pilihan (choices).
Berbeda dengan praktik bisnis Islam, di mana motif di dalam bisnis Islam adalah ibadah, yaitu bahwa segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memiliki tujuan falah (kedamaian dan kesejahteraan dunia akhirat). Bahkan bisnis di dalam Islam, tidak boleh menggangu kegiatan ibadah kepada Allah. Firman Allah dalam QS: An Nur ayat 37:
“Orang yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS: An Nur ayat 37)
3. Paradigma
Ada perbedaan mendasar paradigma antara bisnis konvensional dengan bisnis syariah. Pada bisnis konvensional, berkembang paradigma Marxisme dan Ekonomi Pasar di mana fokus perhatian mereka adalah pada kekuatan pasar, yang memberi kebebasan setiap orang untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya hingga tak terbatas. Bisnis konvensional cenderung ‘mengharamkan, intervensi Pemerintah, karena pemerataan dan keseimbangan pasar diserahkan pada apa yang dinamakan sebagai mekanisme pasar (invisible hand). Dalam praktik bisnis konvensional juga diabaikan konsep halal atau haramnya produk yang dihasilkan atau didistribusikan, maupun cara mendapatkannya.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
4. Pondasi DasarDari sisi Pelaku Bisnis, Bisnis konvensional dan Bisnis syariah sama-sama digerakkan oleh aktivitas sosial, akan tetapi pada Bisnis syariah transaksi perekonomian juga dipersepsikan sebagai bentuk ekspresi keagamaan atau wujud religiusitas, dikendalikan oleh nilai-nilai ajaran Islam. Artinya teori-teori perekonomian yang diaplikasikan, dideduksi pula dari wahyu Allah SWT dan bukan semata-mata berasal dari pemikiran manusia. Sedangkan ekonomi konvensional jelas menafikan anasir keilahian dalam modus perekonomian dan dikendalikan oleh kepentingan individu.
5. Landasan Filosofi
Pada Bisnis Syariah yang menjadi landasan filosofi adalah Falah, di mana manusia sebagai individu berperan sebagai wakil (vicegerent) Tuhan di bumi dengan tujuan untuk mencapai kesuksesan, kemuliaan atau kemenangan di dunia dan akhirat, sehingga ada pertanggungjawaban atas kinerja masing-masing individu tersebut kepada Allah, kelak di akhirat.
Bisnis konvensional yang menganut sistem ekonomi sosialisme dan kapitalisme memiliki landasan filosofi yang berbeda. Pada sistem ekonomi sosialis (marxisme) berkembang filosofi Materialisme Dialektikal yang menekankan pada hubungan dialektika dalam kehidupan material. Disebut materialis karena tafsiran mengenai gejala-gejala alam, pemahaman peristiwa, dan teorinya berdasarkan landasan-landasan yang material. Sedangkan cara-caranya dalam mendekati, membaca, mempelajari dan memahami gejala-gejala alam menggunakan pendekatan dialektis.
Di lain pihak, sistem ekonomi kapitalisme memiliki landasan filosofi Individualisme utilitarian yang didasarkan pada filosofi laissez-faire, yaitu tindak dan pilihan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan rasional untuk kepentingan individual yang ukurannya adalah maksimalisasi (memperbanyak sebanyak mungkin) kepentingan diri dengan harapan bahwa akan memberi pula kebaikan yang lebih besar.
6. Harta
Dalam bisnis Islam, harta dipandang sebagai pokok kehidupan. Sebagaimana Allah berfirman; “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (anak yatim yang belum baligh), harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan (qiyâman)” (QS. An-Nisa [4]: 5). Hal ini diperkuat oleh As-Syaikh Sa’di –rahimahullah- yang berkata, “Allah melarang para wali untuk menyerahkan uang kepada mereka yang belum sempurna akalnya, khawatir mereka akan merusak dan menghancurkannya. Karena Allah menjadikan harta sebagai pokok kehidupan bagi hamba-hambanya baik dalam kemaslahatan agama atau dunianya.” (Tasîr al Karîm 1/164).
Harta pada hakikatnya milik Allah Ta’ala, dan manusia hanya memilikinya sebagai amanah Allah. Posisi manusia sebagai pihak yang diberi amanah selayaknya menggunakan harta untuk kepentingan mencapai kebahagian dunia dan akhiratnya. Allah titipkan harta kepadanya untuk melihat apa yang akan diperbuat dengan harta tersebut. Dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan. Keterbatasan dalam harta bisa menjadi keterbatasan dalam beribadah. Dalam kendali dan pengaturan orang shaleh, harta adalah karunia terbaik yang mampu melesatkannya menjadi manusia mulia dan terhormat, baik dalam pandangan Allah, ataupun dalam pandangan manusia.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
harta adalah individu. Dalam hal ini kapitalis sama sekali tidak membawa aspek ruhaniahdalam kegiatan ekonominya, sehingga terjadilah penghambaan terhadap materi.
7. Investasi
Pada investasi bisnis konvensional, dikenal istilah Bunga atau interest yaitu sejumlah imbalan yang diberikan oleh bank kepada nasabah atas dana yang disimpan di bank yang dihitung sebesar persentase tertentu dari pokok simpanan dan jangka waktu simpanan atau persentase yang dikenakan terhadap pinjaman yang diberikan bank kepada debiturnya. Ukuran besarnya bunga dalam bentuk persentase yang sudah ditetapkan oleh bank, kemudian dibayarkan kepada nasabah sesuai jumlah dana yang dimiliki nasabah pada bank tempat ia menyimpan, atau dibayarkan oleh nasabah sesuai dengan jumlah pembiayaan yang diperolehnya dari bank. Bunga, menjadi sarana yang dibebankan kepada peminjam agar si pemilik dana mendapatkan imbalan. Inilah yang menjadi kewajiban nasabah ketika ingin meminjam uang untuk tujuan konsumtif maupun modal usaha. Bank tidak mau tahu apakah si nasabah tersebut memiliki kemampuan atau tidak untuk mengembalikan uang tersebut, yang penting wajib dikembalikan dengan tambahan bunga (hutang). Jika tidak sanggup, hukum akan bermain, biasanya berupa penyitaan jaminan. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa bank konvensional tidak jauh berbeda dengan rentenir.
Berbeda dengan istilah bagi hasil atau sering disebut dengan profit sharing yang memiliki akad bekerja sama. Yaitu bahwa dana yang diberikan oleh nasabah kepada bank dapat dikelola oleh bank dengan menghasilkan keuntungan (profit), kemudian dari profit tersebut akan diambil kesepakatan antara pengelola dan pemilik dana mengenai pembagian keuntungannya dalam bentuk persentase. Meskipun secara realitas pihak bank memiliki hak yang kuat untuk menentukan persentase tersebut, namun tetap saja pembagian hak nasabah bukan dari sebuah 'kewajiban' yang sudah ditetapkan, melainkan dari keuntungan yang diperoleh bank. Besarnya bagi hasil tergantung dari besarnya keuntungan bank yang diperoleh. Jika bank tidak untung, maka nasabah pun juga tidak akan meperoleh bagi hasilnya. Inilah bentuk dari konsep keadilan dalam Islam di bidang ekonomi.
8. Distribusi Kekayaan
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
sosial yang paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara di kawasan lain.(Muhishak,2011)
Berbeda kapitalis, ekonomi Islam terkait dan mempunyai hubungan yang erat dengan agama yang membedakannya dari sistem ekonomi kapitalis. Pemahaman kaum kapitalisme memandang bahwa materi adalah segalahnya bagi kehidupan, menurut Islam adalah merupakan pemahaman yang salah, dan dalam pandangan ekonomi Islam adalah dzalim sebab apabila teori tersebut diterapkan maka akan berimplikasi pada penumpukan kekayaan pada sebagian pihak dan ketidakmampuan di pihak yang lain. Sistem ekonomi Islam menghendaki bahwa dalam hal pendistribusian harus berdasarkan dua sendi, yaitu sendi kebebasan dan keadilan kepemilikan. Kebebasan disini adalah kebebasan dalam bertindak yang di bingkai oleh nilai-nilai agama dan keadilan. Bukan seperti pemahaman kaum kapitalis yang menyatakannya sebagai tindakan membebaskan manusia untuk berbuat dan bertindak tanpa campur tangan pihak mana pun, tetapi sebagai keseimbangan antara individu dengan unsur materi dan spiritual yang dimilikinya, keseimbangan antara individu dan masyarakat serta antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
Sedangkan dalam rangka mencegah praktek monopolistik, ekonomi Islam menawarkan langkah prioritas yang perlu dilakukan oleh otoritas yang berwenang yang dalam hal ini adalah pemerintah. Langkah-langkah tersebut meliputi:
a) Zakat sebagai mekanisme pendistribusian harta dari golongan kaya kepada golongan miskin.
b) Negara harus mengamati dan mengatur pemerataan distribusi sumber daya alam. c) Kekayaan masyarakat harus di kelolah negara dalam rangka optimalisasi hasil yang
maksimal.
d) Jasa layanan masyarakat yang menghasilkan keuntungan seperti kereta api, pos dan telegraf, listrik, air dan gas harus dikelola negara dalam rangka untuk menjamin pengelolaan yang efisien dan hasil yang terbaik.
e) Jasa layanan masyarakat yang bersifat non profitables seperti jalan, sumur umum, tempat parkir dan yang lain harus di subsidi Negara.
9. Konsumsi – Produksi
Segala aktivitas manusia tidak hanya sekedar untuk memenuhi kepuasan/keinginan belaka. Mencukupi kebutuhan adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islam, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama dengan prinsip maslahah. Dari uraian di atas terdapat 3 hal penting yang perlu digarisbawahi dalam konsumsi-produksi ekonomi Islam, antara lain; maslahah, kebutuhan dan kewajiban.
Secara fitrah, setiap manusia memiliki kebutuhan untuk melanjutkan hidup dan kehidupannya. Oleh karena itu, menjadi sebuah kewajiban bagi setiap manusia untuk bisa memenuhi kebutuhannya, yang tentu saja dengan cara-cara yang dibenarkan oleh agama sehingga apa yang diupayakannya tersebut menjadi maslahah. Sebagaimana pandangan al-Ghazali (1980, II: 109) bahwa tujuan utama kehidupan manusia adalah untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat (maslahah ad-dunya wa ad-din). Maslahah merupakan tujuan hukum syara yang paling utama. Maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992). Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: AGAMA, kehidupan atau jiwa nafs), properti atau harta benda mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Dengan kata lain, maslahah meliputi integrasi manfaat fisik dan unsur-unsur keberkahan.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
dirinya. Berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariahdan sifatnya mengikat bagi semua individu.
Perbedaan mencolok dengan hal produksi dan konsumsi yang dikemukakan oleh kaum kapitalis. Kegiatan ekonomi konvensional berprinsip pada rasionalisme, materialisme yang berakibat timbulnya sikap egoisme. Paham rasionalisme muncul dari pemikiran bahwa kegiatan konsumsi merupakan hal yang wajar dilakukan oleh semua manusia. Sedangkan materialism adalah paham yang hanya bersandar pada materi (ma’dah), yang tidak meyakini adanya alam ghaib. Tidak meyakini alam ghaib berarti tidak meyakini adanya kekuatan yang menguasai alam semesta ini, yang otomatis menafikan adanya tuhan sebagai pencipta alam semesta. Egoisme merupakan nilai yang konsisten dalam diri setiap manusia yang mempengaruhi setiap keputusan-keputusan hidup, termasuk keputusan ekonomi.
10.Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar konvensional yang membenarkan praktek monopolistic rent yakni mengambil keuntungan di atas keuntungan normal. Adam Smith dalam The Wealth Of Nation menentang adanya pembatasan perdagangan. Dalam pandangannya, mekanisme pasar yang paling baik adalah membuatnya bebas, untuk menemukan keseimbangannya sendiri. Usaha untuk menyeimbangkan perdagangan adalah “absurd”. Kebijakan merkantilis dianggap hanya menghasilkan kemakmuran dan keuntungan bagi produsen dan pemegang monopoli saja. Marx merupakan penentang keras dari mekanisme pasar bebas yang diungkapkan oleh Adam Smith ini. Marx berusaha untuk menggeser sistem ini dengan cara revolusi. Dengan mengemukakan beberapa prinsip dalam pasar sosial, antara lain:
a) Prinsip Individualitas (yang bertujuan pada ideal liberal bagi kebebasan individu). b) Prinsip Solidaritas (Mengacu pada ide setiap individu manusia terlekat dengan
masyarakat yang saling tergantung sama lain dengan tujuan menghapus ketidakadilan).
c) Prinsip subsidiaritas (yang berarti sebuah tugas institusional yang bertujuan menajamkan hubungan antara individualitas dan solidaritas. Aturan tersebut harus memberikan jaminan hak individu dan menempatkannya sebagai prioritas utama, yang berarti apa yang mampu dilakukan oleh individu harus dilakukan oleh individu dan bukan oleh negara).
Sementara, mekanisme pasar yang ditempuh oleh sistem ekonomi Islam adalah kebebasan namun tetap dalam pengawasan karena dalam kebebasannya tetap harus memperhatikan hak-hak manusia lain. Dengan demikian diharapkan dapat terwujud distribusi kekayaan di antara manusia yang seadil-adilnya. Konsep mekanisme pasar dalam Islam dibangun atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Ar-Ridha, yakni segala transaksi yang dilakukan haruslah atas dasar kerelaan antara masing-masing pihak (freedom contract). Hal ini sesuai dengan Qur’an Surat an Nisa’ ayat 29 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”(QS: An-Nisa’: 29)
2. Berdasarkan persaingan sehat (fair competition). Mekanisme pasar akan terhambat bekerja jika terjadi penimbunan (ihtikar) atau monopoli. Monopoli setiap barang yang penahanannya akan membahayakan konsumen atau orang banyak. Mengenai konsep persaingan terlukis di dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 148 yang artinya:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). SesungguhnyaAllah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS: Al-Baqarah : 148)
3. Kejujuran (honesty), kejujuran merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam, sebab kejujuran adalah nama lain dari kebenaran itu sendiri. Islam melarang tegas melakukan kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun. Sebab, nilai kebenaran ini akan berdampak langsung kepada para pihak yang melakukan transaksi dalam perdagangan dan masyarakat secara luas. Banyak ayat Al Qur’an yang menerangkan mengenai pentingnya kejujuran dalam bisnis, diantaranya adalah;
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS: Al Isra’:35)
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS: Ar Rahman:9)
4. Keterbukaan (transparancy) serta keadilan (justice). Pelaksanaan prinsip ini adalah transaksi yang dilakukan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan yang sesungguhnya, sebagaimana dalam surat An-Nisa ayat 58 yang artinya sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat”.(QS: An-Nisa : 58)
11.Pengawas Pasar
Karena pasar konvensional menganut prinsip kebebasan untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya, maka sudah dipastikan bahwa pasar konvensional menafikan adanya unsur pengawasan. Bahkan porsi pemerintahpun sama sekali tidak diharapkan hadir dalam proses bisnis ini. Privatisasi badan-badan usaha milik negara membuktikan adanya praktik liberalisasi yang me’nonaktifkan’ peran pemerintah dalam pengawasan.
Dalam Islam, dikenal istilah hisbah sebagai lembaga pengawas kegiatan ekonomi. Hisbah secara terminologi diambil dari kata HSB yang berarti menghitung (reckoning dan computing) berarti pula kalkulasi, berpikir (thinking), memberikan opini, pandangan dan lain-lain. Sedangkan menurut John L. Esposito, kata hisbah secara harfiah berarti jumlah, hitungan, atau upah, hadiah, pahala. Namun, secara teknis, ia mengandung arti institusi negara untuk mendukung kebaikan dan mencegah kemungkaran (al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyu ‘an al-munkar). Institusi hisbah didefinisikan oleh Abdul Hadi sebagi sebuah sistem yang membuat seseorang bisa berlaku benar dalam prilaku mereka. Dalam kata lain ia adalah institusi check and balances.
Mu’jam al Wasith menerangkan definisi hisbah sebagai sebuah lembaga yang dibentuk oleh negara Islam dengan mengangkat seorang kepala yang bertugas mengawasi urusan umum, harga dan adab umum. Berdasarkan definisi tersebut, setidaknya ada tiga poin penting mengenai institusi hisbah, yaitu:
1. Bahwa hisbah adalah sebuah lembaga (departemen) yang secara khusus dibentuk oleh pemerintah.
2. Tugas utamanya adalah melakukan amar makruf nahi mungkar
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
12.Fungsi NegaraNegara mempunyai peran penting dalam perekonomian. Para ulama dan pakar ekonomi Islam sepanjang sejarah telah membahas peran penting negara dalam perekonomian, Menurut para ulama, dalam ekonomi Islam, negara memiliki kekuasaan yang paling luas untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, dengan syarat bahwa tugas itu dilaksanakan dengan cara demokratis dan adil, di mana segala keputusan diambil sesudah bermusyawarah secukupnya dengan wakil-wakil rakyat yang sebenarnya. Meskipun Islam memberikan peran kepada negara secara luas, hal itu tidak berarti bahwa konsep ekonomi Islam mengabaikan kemerdekaan individu.
Secara garis besar fungsi negara yang dikemukakan Dr. Yusuf Qardhawi terbagi pada dua hal, antara lain ;
1. Negara berfungsi menjamin segala kebutuhan minimum rakyat. Fungsi pertama ini bermakna bahwa negara harus menyediakan atau menjaga tingkat kecukupan kebutuhan minimun dari masyarakat. Fungsi ini pada hakekatnya bertujuan untuk menjaga keimanan masyarakat secara umum. Dengan terpenuhinya kebutuhan pokok, maka diharapkan hubungan transcendental manusia dengan Allah SWT tetap terjaga. 2. Negara berfungsi mendidik dan membina masyarakat. Dalam fungsi ini yang menjadi
ruang lingkup kerja negara adalah menyediakan fasilitas-infrastruktur, regulasi, institusi, sumber daya manusia, pengetahuan sekaligus kualitasnya. Sehingga keilmuan yang luas dan mendalam serta menyeluruh (syaamil mutakammil) tersebut berkorelasi positif pada pelestarian dan peningkatan keimanan yang telah dimunculkan oleh poin pertama dari fungsi negara ini.
Sementara itu menurut teori kapitalisme klasik yang dibawa oleh Adam Smith, gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-Comodity-Money), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi yang akan mengatur pasar (invisible hand), sehingga pasar harus memiliki laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya.
Pada akhirnya, banyak ekonom yang menyalahartikan kalimat Smith dan Friedman di atas. Sehingga beberapa ekonom pasar radikal kanan bahkan mengharamkan sama sekali peran Negara dalam perekonomian. Padahal Friedman sendiri pernah menyatakan bahwa eksistensi pasar bebas bukan berarti meniadakan sama sekali peran pemerintah. Dalam hal ini pemerintah tetap dibutuhkan, meskipun dalam wilayah yang sangat dibatasi.
Menurut Friedman, pemerintah diperlukan untuk menetapkan rules of the game dan sebagai penjamin bagi pelaksanaan aturan-aturan tersebut. Pasar yang efisien dengan sendirinya akan mengurangi peran-peran pemerintah yang tidak perlu. Sementara itu, Berger berpendapat bahwa dalam sistem kapitalis, apabila kontrol dari negara terhadap perekonomian terlalu besar, maka demokrasi tidak akan berhasil. Sebaliknya, dalam sistem sosialis, apabila pasar dibiarkan bebas, demokrasi akan tumbuh.
13.Bangunan Ekonomi
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
memiliki kontribusi maksimal bagi pembangunan ekonomi nasional, melalui aktifitas yangterjaga untuk selalu bermuara pada sektor riil. Banyak sektor riil yang memberikan peluang untuk dikembangkan, antara lain sektor agribisnis, mini market, konveksi, pabrik segala kebutuhan ummat Islam, seperti pabrik susu, pabrik odol, sabun, shampo dan ratusan jenis kebutuhan masyarakat lainnya. Dalam mengembangkan sektor riil ini, diperlukan kordinasi yang baik dengan semua pihak yang terkait, seperti bank sentral, masyarakat ekonomi syari’ah, bankir syari’ah, para akademisi, pengusaha dan ulama. Sementara itu, dikotomi sektoral yang sejajar antara ekonomi riil dan moneter yang terjadi pada ekonomi konvensional dan telah menjadi pemicu terjadinya krisis adalah deviasi dalam sektor keuangan karena adanya aktivitas spekulasi. Sektor keuangan dalam praktek ini terlepas dari sektor riil. Akibat dari kekacauan ini telah menyebabkan pula kekacauan pada sektor riil (produksi, perdagangan dan jasa). Harga-harga barang dan jasa naik, bukan karena hukum permintaan dan penawaran (supply and demand), akan tapi karena dipicu oleh kenaikan suku bunga perbankan, tarjadinya depresiasi rupiah atau bahkan karena faktor psikologis seperti yang diakui oleh paa pedagang kecil yang tidak tahu menahu mengapa harga barang naik, imbasnya, mereka dipaksa untuk ikut menaikkan harga barang dagangannya jika tidak ingin merugi.
Pukulan terberat adalah pada sektor properti. Dikarenakan suku bunga pinjaman yang terus merangkak naik, akhirnya banyak proyek properti yang terbengkalai, bahkan dari sisi daya beli konsumen pun juga mengalami penurunan karena kenaikan suku bunga ini. Hal serupa juga terjadi pada bisnis otomotif yang terus mengalami penurunan penjualan, karena daya beli konsumen yang semakin melemah.
Menilai Etika Bisnis Konvensional
Penilaian etika sebagai suatu ilmu dititikberatkan pada perbuatan baik atau jahat, susila atau tidak susila. Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat atau telah mendarah daging baginya itu yang kemudian disebut sebagai akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan maka dinamakan pekerti. Sehingga dengan demikian, pangkal penilaian dari suatu budi pekerti adalah dari dalam jiwa; sejak ia masih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, sampai ia terlahir menjadi perbuatan nyata.
Al-Qur’an sendiri sangat mendorong manusia untuk melakukan bisnis. (Qs. 62:10). Dalam Al-Qur’an terdapat pentunjuk agar dalam bisnis dilakukan hubungan yang harmonis, saling ridha, tidak ada unsur eksploitasi (QS. 4: 29) dan terbebas dari kecurigaan atau penipuan, Oleh karenanya, dalam bisnis ada keharusan membuat administrasi transaksi kredit (QS. 2: 282). Muhammad SAW adalah seorang pedagang dengan reputasi international yang membangunan bisnisnya berdasar kepada nilai-nilai ilahiyah (transenden). Dengan dasar itu pula lah Muhammad SAW telah membangun sistem ekonomi Islam yang tercerahkan.
Prinsip-prinsip bisnis yang ideal ternyata pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Realitas ini menjadi bukti bagi banyak orang, bahwa tata ekonomi yang berkeadilan, merupakan suatu keniscayaan, ada dan pernah terjadi, meski dalam lingkup nasional, negara Madinah. Jika tata ekonomi baru yang berkeadilan adalah merupakan keinginan, maka nilai-nilai spirit dan ajaran yang dibawa oleh Muhammad itu harus digunakan sebagai dasar untuk membangun dan mewujudkannya.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
Kepercayaan bahwa mekanisme pasar dapat menyelesaikan masalah ekonomi hanya benarketika tidak terjadi krisis.
Kritik atas Utilitarianisme
Utilitarianisme adalah paham dalam filsafat moral yang menekankan manfaat atau kegunaan dalam menilai suatu tindakan sebagai prinsip moral yang paling dasar, untuk menentukan bahwa suatu perilaku baik jika bisa memberikan manfaat kepada sebagian besar konsumen atau masyarakat.
Terlepas dari daya tariknya, teori utilitarianisme juga mempunyai kelemahan, antara lain: a) Manfaat merupakan konsep yang kompleks sehingga penggunaannya sering
menimbulkan kesulitan. Masalah konsep manfaat ini dapat mencakup persepsi dari manfaat itu sendiri yang berbeda-beda bagi tiap orang dan tidak semua manfaat yang dinilai dapat dikuantifikasi yang berujung pada persoalan pengukuran manfaat itu sendiri.
b) Utilitarianisme tidak mempertimbangkan nilai suatu tindakan itu sendiri, dan hanya memperhatikan akibat dari tindakan itu. Dalam hal ini utilitarianisme dianggap tidak memfokuskan pemberian nilai moral dari suatu tindakan, melainkan hanya terfokus aspek nilai konsekuensi yang ditimbulkan dari tindakan tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa utilitarianisme tidak mempertimbangkan motivasi seseorang melakukan suatu tindakan.
c) Kesulitan untuk menentukan prioritas dari kriteria etika utilitarianisme itu sendiri, apakah lebih mementingkan perolehan manfaat terbanyak bagi sejumlah orang atau jumlah terbanyak dari orang-orang yang memperoleh manfaat itu walaupun manfaatnya lebih kecil.
d) Utilitarianisme hanya menguntungkan mayoritas. Dalam hal ini suatu tindakan dapat dibenarkan secara moral sejauh tindakan tersebut menguntungkan sebagian besar orang, walaupun mungkin merugikan sekelompok minoritas. Dengan demikian, utilitarianisme dapat dikatakan membenarkan ketidakadilan, yaitu bagi kelompok yang tidak memperoleh manfaat.
Kritik atas Teori Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.
Tujuan filsafat moral menurut Kant adalah untuk menetapkan dasar yang paling dalam guna menentukan keabsahan (validitas) peraturan-peraturan moral. Ia berusaha untuk menunjukkan bahwa dasar yang paling dalam ini terletak pada akal budi murni, dan bukan pada kegunaan, atau nilai lain. Norma moral mengikat setiap orang di mana pun dan kapan pun tanpa kecuali. Etika moral ini memiliki kekuatan; (1) Memberi dasar kokoh bagi rasionalitas dan objektivitas kesadaran moral, (2) Memberi tolok ukur yang perlu dan penting untuk menilai moralitas suatu tindakan, yakni prinsip universalitas dan (3) Menjamin otonomi dan keluhuran martabat manusia.
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
dengan mengindahkan akibat tindakan menjadi sulit diterima, dan (3) Imperatif kategoris Kantbersifat formal, hingga tidak membantu mengerti kewajiban mana yang secara konkret mengikat seorang pelaku moral
Buku Daras Akuntansi Syariah|Bagian 2
–
Etika Bisnis Islam| Bab 2
–
Kritik Atas Etika
DAFTAR PUSTAKAAbdul Main, M.Hum, 2009, Dialog Pemikiran Etika Barat dan Islam (Membangun Landasan Epistemologis Etika Organisasi Pemerintah), http://abdulmainwidyaiswara.blogspot.com (diakses Mei 2015)
AM. M. Hafidz MS., H. Sam’ani Sya’roni, Marlina, 2012, Etika Bisnis Al-Ghazali dan Adam Smith dalam Perspektif Ilmu Bisnis dan Ekonomi, Jurnal Penelitian Vol. 9, No. 1, Mei 2012.
Any Setianingrum, 2013, Maslahah VS Utility, Perilaku Konsumen Dalam Ekonomi Islam dan Konvensional, Islamic Economics, Management & Accounting,
http://any-setianingrum-pasca12.web.unair.ac.id (diakses Mei 2015)
Khan, Fahim M. and Noor Muhammad Ghifari (1992), ‘Shatibi’s Objectives of Sharī’ah and Some Implications for Consumer Theory’, in Abul Hasan Sadeq & Aidit Ghazali (ed.), Readings in Islamic Economic Thought , Petaling Jaya, Malaysia: Longman
Muhammad Saifullah, 2011, Etika Bisnis Islami Dalam Praktek Bisnis Rasulullah, Walisongo Volume 19 Nomor 1, Mei 2011
Muhishak, 2011, Kebatilan Jaminan Sosial Sistem Kapitalisme, Ideologi Islam, https://muhishak.wordpress.com/ (diakses Mei 2015)
Nafis Irkhami, 2007, INTERNALISASI ETIKA BISNIS ISLAM: PERSPEKTIF EKOLOGI, Jurnal Ulumuddin No. 03, th. X, Jan-Juni, 2007 http://hes.stainsalatiga.ac.id/?p=132 (diakses Mei 2015)
Pembebasan, 2008, Kapitalisme, Imperialisme, dan Neoliberalisme,
http://pembebasan-pusat.blogspot.com/2008/02/kapitalisme-imperialisme-dan.html (diakses Mei 2015)
Republika Online, 2015, Ekonomi Invisible Hand Jauh Sebelum Adam Smith, http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/celoteh-kang-erick/12/11/01/mcaqtn-ekonomi-invisible-hand-jauh-sebelum-adam-smith (diakses Mei 2015)