KONSTITUSIONALISME DALAM UUD 1945 AMANDE

20  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Konstitusi dan Kelembagaan Pemerintahan pada Program Pascasarjana Ilmu Pemerintahan dengan dosen

pembimbing Prof. Dr. H. Nandang A. Delianoor, S.H., M.Hum.

Disusun oleh:

Nina Minawati Muhaemin, S.IP NPM 170820170003

PROGRAM PASCASARJANA ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(2)

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Lord Acton mengatakan “Power tend to corrupt, absolut power corrupt absolutely”, jika diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia artinya Kekuasaan cenderung pada kesewenang-wenangan, dan kekuasaan yang absolut akan sewenang-wenang secara absolut. Maka dari itu, kekuasaan harus dibatasi. Terutama di negara dengan kedaulatan rakyat, seperti di Indonesia dengan konstitusinya yang disebut UUD 1945. Untuk membatasi kekuasaan pemerintah dan menjamin hak-hak rakyat, maka dibentuklah sebuah konstitusi yang kemudian menjelma sebagai hukum tertinggi dari sebuah negara.

Carl J. Friederich dalam buku Constitutional Government and Democracy, konstitusionalisme merupakan gagasan bahwa pemerintahan merupakan:Suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat, tetapi yang dikenakan beberapa pembatasan yang diharapkan akan menjamin bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.1

Selanjutnya, Budiardjo mengemukakan sebagai berikut:

UUD sebenarnya tidak dapat dilihat lepas dari konsep konstitusionalisme, suatu konsep yang telah berkembang sebelum UUD pertama dirumuskan. Ide pokok dari konstitusionalisme adalah bahwa pemerintah perlu dibatasi kekuasaannya (the limited state), agar penyelenggaraannya tidak bersifat sewenang-wenang.2

Untuk membatasi kekuasaan dan menjamin hak-hak rakyat, konstitusionalisme dalam UUD 1945, pada intinya mengatur, hubungan antara pemerintahan dengan warga negara dan hubungan antara lembaga negara yang satu dengan lembaga negara yang lain.

1 Budiardjo, Prof. Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta, Gramedia, 2008,

(3)

1.2 Rumusan Masalah

Makalah ini akan membahas mengenai:

- Bagaimana konstitusionalisme dalam UUD 1945?

1.3 Tujuan Penulisan

(4)

PEMBAHASAN

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Konstitusi dan Konstitusionalisme

Sebuah keniscayaan bagi setiap negara untuk memiliki konstitusi, baik konstitusi tertulis yang dituangkan dalam dokumen maupun konstitusi tidak tertulis (konvensi). Secara etimologi, konstitusi berasal dari bahasa Latin ‘Cum’ yang artinya ‘bersama dengan...’ dan ‘Statuere’ yang artinya ‘membuat sesuatu agar berdiri’. Jadi, konstitusi dapat diartikan sebagai menetapkan atau mendirikan sesuatu secara bersama-sama.

Dalam buku “Corpus Juris Scundum” yang dikutip oleh Syahuri (Syahuri, 2004: 28) pengertian konstitusi konstitusi didefinisikan sebagai “ the original law bay which a system of government is created and set up, and to which the branches of government must look for all their power and authority.”3 Sementara

itu Wheare membagi konstutusi dalam dua pengertian. Pertama, istilah konstitusi dipergunakan untuk menunjuk kepada seluruh peraturan-peraturan mengenai sistem ketatanegaraan; kedua, istilah konstitusi menunjuk kepada suatu dokumen atau beberapa dokumen yang memuat aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan tertentu yang bersifat pokok atau dasar saja mengenai ketatanegaraan suatu negara.4

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa konstitusi adalah peraturan dasar yang disepakati oleh suatu negara untuk mengatur jalannya pemerintahan, serta mengatur kekuasaan dan wewenang dari pemerintah.

Konstitusi berfungsi untuk membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan menjadi terbatas dan tidak

sewenang-3 Syahuri, Dr. Taufiurrohman, Hukum Konstitusi: Proses dan Prosedur

Perubahan UUD di Indonesia 1945-2002, Ghalia Indonesia, Bogor, 2004, hlm. 28.

(5)

wenang. Dengan demikian, hak-hak warga negara dapat terlindungi. Gagasan ini dinamakan konstitusionalisme. Menurut Carl J. Friedrich, konstitusionalisme merupakan gagasan di mana pemerintah dipasang sebagai suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat, tetapi yang dikenakan beberapa beberapa pembatasan yang diharapkan akan menjamin bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan itu tidak disalahgunakan.5

Indonesia telah mengalami empat kali pergantian konstitusi. Dimulai dari Undang-Undang Dasar 1945 (1945 – 1949), Konstitusi Republik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS 1949 – 1950), Undang-Undang Dasar Sementara ( 1950-1959), hingga akhirnya kembali lagi pada Undang-Undang Dasar 1945 melalui Dekrit Presiden lima Juli 1959 dan masih berlaku sampai dengan sekarang. Dalam perjalanannya, UUD 1945 telah mengalami empat kali perubahan atau amandemen. Yakni pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002. Pada saat itu, mandemen terhadap UUD 1945 dilakukan sebagai tuntutan reformasi. Rakyat merasa UUD 1945 harus diamandemen, terutama terhadap pasal-pasal yang dapat melanggengkan kekuasaan pemerintah.

2.1.2 Pembagian Kekuasaan

Para ahli pemerintahan mencoba mengusulkan pendapat untuk membagi ataupun memisahkan kekuasaan. Terdapat beberapa pembagian kekuasaan yang dikemukakan beberapa ahli sebagai berikut:

- Kekuasaan federatif (untuk memimpin perserikatan)6

5 Budiardjo, Prof. Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta, Gramedia, 2008,

hlm. 171

6 Syafie, Inu Kencana, Pengantar Ilmu Pemerintahan, Bandung, Refka

(6)

Di Indonesia tidak menganut pemisahan kekuasaan trias politika secara keseluruhan. Di Indonesia terdapat kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif seperti yang disebutkan oleh Montesquieu, namun tidak terdapat pemisahan kekuasaan yang drastis (Separation of power), melainkan hanya pembagian kekuasaan (distribution of power) sehingga dengan demikian antara lembaga kekuasaan masih ada hubungan sebagai upaya untuk melakukan checks and balances.

Adapun pembagian lembaga kekuasaan negara menurut UUD 1945 (setelah amandemen) antara lain:

- Kekuasaan konstitutif (MPR) - Kekuasaan eksekutif (Presiden) - Kekuasaan legislatif (DPR)

- Kekuasaan yudikatif (MA, MK, KY) - Kekuasaan inspektif (BPK)

2.1.3 Hubungan Pemerintahan

Hubungan pemerintahan dibagi menjadi dua, yakni hubungan vertikal dan hubungan horizontal.7

Hubungan vertikal yaitu hubungan atas bawah antara pemerintah dengan rakyatnya, di mana pemerintah sebagai pemegang kendali yang memberikan perintah-perintah kepada rakyat, sedangkan rakyat menjalankan dengan penuh ketaatan. Sebaliknya, dalam pola ini dapat pula rakyat sebagai pemegang otoritas yang diwakili oleh parlemen, sehingga kemudian pemerintah bertanggungjawab terhadap rakyat tersebut.

Hubungan horizontal adalah hubungan di mana pemerintah dapat saja berlaku sebagai produsen sedangkan rakyat sebagai konsumen karena rakyatlah yang menjadi pemakai utama barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah sendiri. Misalnya negara-negara komunis seperti salah satunya adalah China.

(7)

Sebaliknya, dapat pula pola ini berlaku, yaitu rakyat yang menjadi produsen sedangkan pemerintah menjadi konsumennya, karena seluruh industri raksasa milik rakyat dipakai sendiri oleh pemerintahannya sendiri. Misalnya negara Jepang.

2.2 Konstitusionalisme dalam UUD 1945

Untuk membatasi kekuasaan dan menjamin hak-hak rakyat, konstitusionalisme dalam UUD 1945, pada intinya mengatur, hubungan antara pemerintahan dengan warga negara dan hubungan antara lembaga negara yang satu dengan lembaga negara yang lain. Dalam hal ini, penulis mengetengahkan pembahasan mengenai konstitusionalisme dalam UUD 1945 hasil amandemen.

2.2.1 Hubungan antara Lembaga Kekuasaan Negara yang Satu dengan Lembaga Kekuasaan Negara yang Lain

Seperti telah diutarakan sebelumnya, lembaga kekuasaan negara di Indonesia tidak sepenuhnya menganut trias politika dari Montesquieu. Tria Politika menghendaki adanya pemisahan ketat antara masing-masing lembaga kekuasaan pemerintahan negara sebagai prasyarat kebebasan. Indonesia menganut sistem pembagian kekuasaan (distribution of power) karena:

1) Undang-Undang Dasar 1945 tidak membatasi secara tajam, bahwa setiap kekuasaan itu harus dilakukan oleh satu organ/badan tertentu yang tidak boleh saling campur tangan. Hal ini dapat dilihat dari pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 ayat (2) sampai dengan ayat (5). Dalam pasal ini terdapat hubungan kerjasama antara Presiden dengan DPR dalam membentuk undang-undang.

(8)

Perubahan UUD 1945 dapat dilihat sebagai berikut:

1) Mempertegas prinsip negara berdasarkan atas hukum (pasal 1 ayat (3)) dengan menempatkan kekuasaan kehakiman sebagai kekuasaan yang merdeka.

2) Mengatur mekanisme pengangkatan dan pemberhentian para pejabat negara, seperti Hakim.

3) Sistem konstitusional berdasarkan perimbangan kekuasaan (check and balances) yaitu setiap kekuasaan dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi masing-masing.

4) Setiap lembaga negara sejajar kedudukannya di bawah UUD 1945.

5) Menata kembali lembaga-lembaga negara yang ada serta membentuk beberapa lembaga negara baru agar sesuai dengan sistem konstitusional dan prinsip negara berdasarkan hukum. Penyempurnaan pada sisi kedudukan dan kewenangan maing-masing lembaga negara disesuaikan dengan perkembangan negara demokrasi modern.

Berikut ini akan dijelaskan lembaga kekuasaan negara berdasarkan UUD 1945.

1) Presiden yang memegang kekuasaan Eksekutif

Dalam UUD 1945 hasil amandemen, kekuasaan Eksekutif diatur dalam pasal 4 sampai dengan pasal 16. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar yang dalam melaksanakan kewajibannya dibantu oleh seorang wakil presiden dan menteri-menteri yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden. artinya presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, karena itu menteri-menteri bertanggungjawab langsung kepada Presiden.

(9)

presiden dan calon wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu. Artinya, setelah amandemen, partai politik dan sistem multi partai mendapat penegasan dalam Undang-Undang Dasar. Partai politik menjadi sangat penting dan keberadaannya menjadi sebuah keniscayaan karena calon presiden hanya didapatkan melalui partai politik, tidak seperti kepala daerah yang dapat mencalonkan diri secara independen. Begitu pun dengan DPR yang juga anggotanya dipilih melalui seleksi dari partai poltik terlebih dahulu. Artinya, dua lembaga kekuasaan negara, keberadaannya bergantung kepada partai politik.

Presiden berhak untuk mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR dan memiliki hak prerogatif dalam hal mengangkat menteri, mengangkat duta atau konsul, menerima penempatan duta negara lain, memberi amnesti dan abolisi, yang memperhatikan pertimbangan DPR.. Kemudian presiden dapat memberi grasi dan rehabilitasi dengan menjalankan tugasnya tidak bisa dipisahkan secara tegas satu dengan yang lainnya.

(10)

korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/ atau Wakil Presiden berdasarkan putusan MK. Sementara pertanggungjawaban kinerja dalam hal penyelenggaraan pemerintahan tidaklah jelas jalurnya. Dalam hal ini, pertanggungjawaban presiden kepada rakyat secara langsung hanya dapat dilihat dan dianggap diterima jika ia dalam hal ini presiden terpilih kembali dalam pemilu selanjutnya. 2) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang memegang kekuasaan

konstitutif

MPR diatur dalam pasal 2 dan pasal 3 UUD 1945. Amandemen yang dilakukan terhadap UUD 1945 telah membawa perubahan besar dalam penyelenggaraan pemerintahan terutama perubahan terhadap tugas dan wewenang MPR. Mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut.

Dalam asal 2 ayat (1) UUD 1945 hasil amandemen, MPR terdiri atas anggota DPR dang anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan umum. Berbeda dengan sebelum amandemen, bahwa anggota MPR terdiri dari anggota DPR hasil pemilu, Utusan Daerah dan Utusan Golongan yang diangkat oleh pemerintah. Adanya utusan daerah dan utusan golongan dimaksudkan agar adanya sistem keterwakilan yang sempurna, karena DPR saja tidak cukup untuk merepresentasikan seluruh rakyat Indonesia. Hal ini karena Indonesia terbagi dalam beberapa daerah yang memiliki kepentingan sendiri yang berbeda dengan daerah lainnya, sementara adanya utusan golongan adalah karena terdapat golongan-golongan minoritas yang kepentingan-kepentingannya perlu mendapat keterwakilan.

(11)

Kewenangan MPR sebelum amandemen tercantum yakni menetapkan UUD dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), memilih Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan suara terbanyak di MPR. Bahkan sebelum amandemen terhadap UUD 1945, MPR menjelma sebagai kedaulatan rakyat yang menjadikannya sebagai lembaga tertinggi negara. Setelah amandemen, kekuasaan MPR dibatasi hanya pada penetapan UUD, dan adapun kewenangan MPR untuk melakukan pemberhentian terhadap presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya dilakukan menurut UUD yang diatur dalam pasal 7A dan 7B harus diusulkan oleh DPR yang sebelumnya harus diajukan terlebih dahulu kepada MA untuk memeriksa, mengadili, dan memutus apakah presiden dan/atau wakil presiden dinyatakan telah melakukan pelanggaran yang disebutkan dalam konstitusi. Hal ini menjadi bentuk checks and balances antara MPR dengan lembaga kekuasaan negara lainnya di mana MPR dalam menjalankan tugasnya tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya hubungan dengan lembaga kekuasaan lainnya.

(12)

atau tidak selesai.

Bagi pihak yang setuju beranggapan bahwa UU tentang perencanaan Pembangunan Nasional sudah cukup untuk menjadi grand design pembangunan nasional, karena UU tersebut juga telah memuat tahapan capaian-capaian pembangunan melalui RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional). Segala visi dan misi presiden harus mengacu pada RPJMN dan RPJPN tersebut. Hal ini karena adanya anggapan bahwa presiden paling tahu mengenai kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan termasuk pembangunan, karena Presidenlah yang melaksanakan kekuasaan pemerintahan tersebut.

Hemat penulis, baik GBHN ataupun Regulasi tentang Rencana Pembangunan Nasional tentu memiliki kelemahan dan kelebihannya sendiri. Kiranya yang perlu diperhatikan dari pelaksanaan kedua grand design pembangunan tersebut adalah mengenai political will dari setiap penyelenggara pemerintahan. Faktanya, Inggris berjalan dengan baik dengan GBHNnya dan Amerika Serikat tetap menjadi negara adidaya dengan tanpa adanya GBHN (artinya program kerja disusun sendiri oleh Presiden). Namun, untuk negara Indonesia yang baru saja merdeka, diperlukan suatu sistem perencanaan pembangunan yang ajeg yang dituangkan dalam GBHN agar pembangunan menjadi lebih terarah sesuai tahapan pembangunan yang ingin, akan, harus, dan segera dicapai.

3) Dewan Perwakilan Rakyat sebagai pemegang Kekuasaan Legislatif DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Keberadaan DPR diatur dalam pasal 19 sampai dengan pasal 22B UUD 1945 hasil amandemen. Anggota DPR dipilih secara langsung oleh rakyat dalam pemilu melalui rekrutmen partai politik. Maka dari itu, DPR tidak dapat dibubarkan oleh presiden ataupun memberhentikan presiden.

(13)

setiap Rancangan Undang-Undang (RUU) yang dibuat dan diusulkan oleh DPR harus dibahas dengan presiden untuk mendapat persetujuan bersama. Hasil pembahasan dengan presiden bersifat mengikat karena RUU yang tidak disetujui oleh Presiden tidak bisa disahkan dan boleh dibahas kembali serta tidak boleh diusulkan kembali. Artinya, dalam menjalankan tugasnya ini, DPR tidaklah berdiri sendiri. Untuk itu perlu ada hubungan yang baik antara dua lembaga tinggi negara ini.

Selain menjalankan fungsi legislatif, DPR memiliki fungsi lainnya, yakni fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Sebagai wakil rakyat di pemerintahan, DPR melakukan pengawasan terhadap penggunaan kuangan negara yang digunakan oleh pemerintah dalam hal ini eksekutif, dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan oleh Presiden. Fungsi anggaran dilakukan saat Presiden mengajukan RAPBN yang harus dibahas bersama antara presiden dan DPR, tujuannya agar DPR sebagai wakil rakyat dapat mengetahui digunakan untuk apa saja uang negara tersebut yang bersumber pada hasil pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Sementara itu, dalam melaksanakan fungsi pengawasan, DPR memiliki hak interpelasi, hak angket, dan menyatakan pendapat.

(14)

berjalan harmonis, artinya tidak terlalu terjadi banyak perdebatan, jika anggota DPR dari partai pemerintah mendominasi komposisi anggota DPR yang ada. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa partai politik menjadi kendaraan politik sekaligus kekuatan politik bagi kekuasaan pemerintah dalam hal ini presiden. Hal ini terjadi pada masa orde baru, dimana DPR diisi oleh partai pemerintah, sehingga kebijakan pemerintah tidak mengalami hambatan yang berarti di parlemen.

UUD 1945 hasil amandemen juga mengatur mengenai Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Anggota DPD dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. DPD bukanlah lembaga kekuasan legislatif meskipun memiliki hak mengajukan RUU, ikut membahas RUU, dan melakukan pengawasan pengawasan terhadap undang-undang yang berkenaan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.

Dewasa ini sering terdapat kekeliruan di masyarakat yang menganggap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah lembaga legislatif di daerah. Anggapan tersebut merupakan sebuah kesalahan. DPRD tidak memiliki kekuasaan untuk membentuk Undang-Undang, selain itu, kedudukan DPRD bukanlah lembaga kekuasaan negara, namun hanya lembaga negara yang merupakan salah satu unsur penyelenggara negara di daerah bersama dengan kepala daerah. DPRD hanya memiliki fungsi yang hampir sama dengan DPR, yakni melakukan fungsi regulasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Berkenaan dengan fungsi regulasi, DPRD berwenang untuk membentuk peraturan darah yang dalam sistem konstitusional berada dibawah Undang-Undang yang dibentuk oleh DPR atas persetujuan bersama dengan Presiden.

(15)

Lembaga inspektif adalah lembaga pemgawasan yang mengontrol dan memeriksa penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. Hasil pemerikasaan keuangan negara oleh BPK diserahkan kepada DPR dan DPRD. Anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden. BPK sebagai lembaga pengawas keuangan negara (APBN dan APBD) harus terlepas dari kekuasaan eksekutif dan juga tidak berarti berdiri diatas lembaga eksekutif. Namun, karena anggota BPK dipilih oleh DPR dan hasil pemeriksaan diberikan lagi kepada DPR dan DPRD, maka sulit bagi BPK melakukan pengawasan secara independen. Inilah salah satu yang melatarbelakangi dibuatnya lembaga ad-hoc Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui UU tentang KPK. Meskipun anggota KPK dipilih oleh Presiden, namun KPK berwenang untuk melakukan peradilan pidana yang merupakan ranah dari kekuasaan yudikatif yang independen. KPK dibentuk berdasarkan pasal 24 ayat (3) UUD 1945 hasil amandemen. 5) Lembaga Kekuasaan Kehakiman/Yudikatif (MA, MK, dan KY)

Kekuasaan Kehakiman diatur dalam pasal 24, 24A-C, dan pasal 25 UUD 1945 hasil amandemen. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung (MA) dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi (MK).

(16)

hakim agung dan mempunya wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Anggota KY diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR.

MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji UU terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan hasil pemilihan umum. MK wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD. MK memiliki 9 orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing 3 orang oleh MA, 3 orang oleh DPR, dan 3 orang oleh Presiden.

Kekuasaan kehakiman hadir sebagai bentuk pengawasan terhadap kekuasaan eksekutif dan kekuasaan legislatif, karena UU yang telah dibuat oleh DPR dan Presiden dan perundangan lain di bawahnya perlu diuji oleh lembaga kekuasaan kehakiman agar peraturan yang ada bersifat konstitusional, artinya peraturan yang satu dengan peraturan yang lain tidak saling berlawanan. Sebagai contoh, terdapat beberapa UU yang diuji MK seperti UU tentang Pilkada yang baru disahkan tahun 2017 ini. Beberapa pasal dalam UU tersebut dianggap tidak konstitusional, seperti pasal yang membahas tentang presidential treshold dan pasal yang membahas tentang pelaksanaan konsultasi antara KPU dengan DPR dan Pemerintah yang keputusannya bersifat mengikat.

2.2.2 Hubungan Pemerintahan

(17)

sebagai pemegang otoritas yang diwakili oleh parlemen. Dalam hal ini, UUD 1945 hasil amandemen memberikan kekuasaan kepada pemerintah (Presiden) untuk memegang kekuasaan pemerintahan (pasal 4 ayat 1). Dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan, pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang harus ditaati oleh masyarakat. Selanjutnya, UUD 1945 mengatur mengatur tentang DPR yang merupakan wakil rakyat untuk menyalurkan aspirasi rakyat kepada pemerintah dan pemerintah wajib untuk mengartikulasikan kepentingan-kepentingan rakyat tersebut.

Kemudian berkenaan dengan hubungan pemerintahan secara horizontal, di mana pemerintah dapat berlaku sebagai produsen dan pemerintah sebagai konsumen karena rakyatlah yang menjadi pemakai utama barang-barang yang diproduksi pemerintahnya sendiri. Dalam hal ini, UUD 1945 mengatur hubungan pemerintahan secara horizonyal melalui pasal 31 mengenai pendidikan dan kewajiban negara untuk membiayai pendidikan dasar dan mengalokasikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk penyelenggaraan pendidikan nasional, pasal 33 ayat (2) dan (3) di mana cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, serta pasal 34 ayat (1) sampai dengan ayat (3) di mana fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara, adanya sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat yang lemah dan tidak mampu, serta adanya penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

(18)

proses pembangunan menuju negara dengan masyarakat yang mandiri. Kiranya, di negara berkembang seperti Indonesia, masyarakat belum bisa sepenuhnya menjadi subjek pembangunan, maka dari itu, UUD 1945 lebih menempatkan masyarakat sebagai objek pembangunan, terutama dalam hal pembangunan kualitas SDM melalui kesehatan dan pendidikan yang diatur dalam UUD 1945.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di bab II, dapat disimpulkan bahwa konstitusionalisme dalam UUD 1945 dapat dilihat dari hubungan lembaga kekuasaan negara dengan lembaga kekuasaan negara lainnya, dan dapat dilihat dari hubungan pemerintahan dengan warga negara. Indonesia membagi kekuasaan negara ke dalam kekuasaan eksekutif (Presiden), Kekuasaan konstitutif (MPR), kekuasaan legislatif (DPR), Kekuasaan yudikatif (MA, MK, KY), dan kekuasaan inspektif (BPK). Masing-masing lembaga kekuasaan negara tersebut saling berhubungan satu sama lain atau dengan kata lain disebut distribution of power, artinya, Indonesia tidak sepenuhnya menganut trias politika dari Montesquieu.

Selanjutnya, hubungan pemerintahan dengan warga negara diatur oleh UUD 1945 melalui kekuasaan pemerintah sebagai penyelenggara pemerintahan yang karena kekuasaannya dapat membuat kebijakan yang harus ditaati oleh rakyat, selain itu rakyat melalui DPR dapat memberikan aspirasinya sehingga pemerintah harus mengartikulasi kepentingan rakyat tersebut. Selanjutnya, UUD 1945 juga mengatur mengenai hal-hal yang harus disediakan oleh pemerintah untuk pemenuhan kepentingan rakyat, serta harus menjamin hak konstitusional warga negara.

(19)
(20)

Budiardjo, Prof. Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta, Gramedia, 2008.

Syafiie, Inu Kencana, Pengantar Ilmu Pemerintahan, Bandung, Refika Aditama, 2013

Syahuri, Dr. Taufiqurrohman, Hukum Konstitusi: Proses dan Prosedur Perubahan UUD di Indonesia 1945-2002, Ghalia Indonesia, Bogor, 2004.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...