Hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa - USD Repository

138 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA IMPULSIVITAS DAN KETERGANTUNGAN HP

PADA MAHASISWA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh:

Evita Oktavia

NIM : 139114090

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)

iii Nama Lengkap

1. Penguji 1 : P. Henrietta P.D.A.D.S., S. Psi., M.A.

2. Penguji 2 : Prof. A. Supratiknya, Ph.D.

Tanda Tangan

...

(4)

HALAMAN MOTTO

“ Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau,

Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu;

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;

Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang

membawa kemenangan. “

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tuhan Yesusku yang kepada-Nya ku dapat

(6)
(7)

vii

HUBUNGAN ANTARA IMPULSIVITAS DAN KETERGANTUNGAN HP PADA MAHASISWA

Evita Oktavia

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa. Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan dan positif antara impulsivitas dengan ketergantungan HP pada mahasiswa. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang mahasiswa berusia 18 hingga 23 tahun dan pengguna aktif HP atau smartphone. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala impulsivitas dan skala ketergantungan HP. Skala impulsivitas terdiri dari 26 item dengan koefisien reliabilitas 𝛼 = 0, 833 dan skala ketergantungan HP terdiri dari 42 item dengan koefisien reliabilitas 𝛼 = 0, 930. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Spearman. Penelitian ini menghasilkan nilai korelasi r = 0, 274 dan nilai signifikansi p = 0,003 < 0,05. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan. Hal ini memiliki arti semakin tinggi impulsivitas maka semakin tinggi pula ketergantungan HP. Sebaliknya, semakin rendah impulsivitas, semakin rendah pula ketergantungan HP. Faktor usia, jenis kelamin, jenis HP yang digunakan, waktu penggunaan dalam sehari, serta berbagai fitur aplikasi pada HP yang digunakan oleh subjek cenderung mendukung terjadinya hubungan yang searah antara impulsivitas dan ketergantungan HP.

(8)

THE CORRELATION BETWEEN IMPULSIVITY AND DEPENDENCE ON MOBILE PHONE AMONG COLLEGE STUDENTS

Evita Oktavia ABSTRACT

This research is aimed to investigate correlation between impulsivity and dependence on mobile phone among college students. The hypothesis was that there was significant and positive relationship between impulsivity and dependence on mobile phone among college students. Subjects were 100 college students, aged 18 to 23 years old, and active users of smartphone. Data were collected using impulsivity and dependence on mobile phone scales. The reliability coeffient of impulsivity scale that consist of 26 items was 𝛼 = 0, 833 and the reliability coeffient of dependence on mobile phone scale that consist of 42 items was 𝛼 = 0, 930. Data were analyzed using Spearman correlation test. This research showed that the value of Spearman correlation test was r = 0, 274 and significance level p = 0,003 < 0,05. The results indicated a positive and significant correlation between impulsivity and dependence on mobile phone. It means that the higher level of impulsivity, the higher level of dependence on mobile phone in college students. Age, gender, type of mobile phone use, average minutes per day spent using technology, and activities on mobile phones tend to support the occurrence of a unidirectional relationship between impulsivity and dependence on mobile phone.

(9)

ix

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus atas kasih dan karunia-Nya dalam menuntun peneliti hingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Semoga penelitian ini bisa menjadi terang dan alat untuk kemuliaan nama Tuhan.

(11)

xi

Peneliti menyadari bahwa keberhasilan peneliti dalam menjalani proses penyelesaian studi tidak lepas dari berbagai pihak berikut ini, sehingga peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M. Psi., Psi. selaku Dekan tahun 2018 Fakultas

Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih telah membina setiap kami bu.

2. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., selaku Dekan periode tahun 2013 – 2017 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas keramahannya saat menghadapi setiap kami pak.

3. Ibu Monica Eviandaru M., M. Psych., Ph. D., selaku Ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas keramahannya saat menghadapi setiap kami bu.

4. Bapak Edward Theodorus M. App. Psy., yang telah mendampingi dan membimbing saya dengan sangat sabar dalam proses penulisan skripsi ini. Terima kasih banyak pak! Mohon maaf apabila saya banyak kesalahan. 5. Bapak Timotius Maria Raditya Hemawa M.Psi., selaku Dosen

Pembimbing Akademik tahun 2013 – 2017. Terima kasih atas nasihat dan telah membimbing selama proses studi ini pak.

6. Bapak Prof. A. Supratiknya, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik

(12)

7. Ibu Dr. M. Laksmi Anantasari, M.Si. yang telah memberikan masukan dan bimbingan selama proses ujian serta memberikan kesempatan berharga untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Tuhan memberkati ibu.

8. Seluruh karyawan dan staff di Fakultas Psikologi Universitas Sanata

Dharma. Terima kasih untuk kebaikan dan keramahannya.

9. Rizky Randy, Ray Fandi, Rizkya Elvina, Beatrix Maharani, Alfonsa Cindy, Hans Kornelius, dan Kevin Irwanto. Terima kasih telah bersedia memberikan waktu dan berbagi ilmu pengetahuan untuk membantu dalam proses penulisan skripsi. Terbaik!

10. Psikologi A angkatan 2013: Anette, Anti, bunda Vivi, Cindy, Citra, Clara, Dea, Dhani, Dita, Doni, Erdian, Etha, Evelyn, Gabby, Hans, Ignatia, Isabella, kakak Sonya, Keke, koko Edwin, Leviana, Lia, Lias, mbakdi, Paskal, Praba, Rani, Rista, Sefa, SSSS, Tata, Tom, Vena, Vero, Vionny, Yayak, Yesi, Yessica, dan Yoyo. Terima kasih untuk kebersamaannya selama proses belajar di masa kuliah. Keep in touch ya.

11. Angela Yonara Maha Dewi, Yoga Prihantara, Patrick Ganang, Hilarius Deonaldi Wiranatha, Paskalin Tri, Ida Ayu Gayatri Praba, Alvonsa Cindy, Philosophia Wisung, Rini Bayu, Rizkya Elvina, Claudia Ponomban, Elizabeth Erma Nurani, Deo Gracia, Jesysca Exderya, Gabriella Taneira, dan Ratih Envira. Terima kasih telah membantu dalam proses peer-rating item skala dalam penelitian ini.

(13)

xiii

mbak Vivin, kak Dedi, Yesa, dan mbak Rini. Terima kasih untuk semangat kalian yang sangat memotivasiku dalam proses penyelesaian skripsi ini. Tetap semangat!

13. Teman kos Diva : kak Melan, kak Ella, kak Angga, kak Liana, Inge,

Grace, kak Shinta, ce Putri, ka Irest, Heidy, Dita, Ria, Intan, dan Lori. Terima kasih telah memberikan dukungan semangat.

14. Teman Jogja International Batik Bienalle 2018 : Upik, Syahdane, Stella,

mba Diyah, mba Dewi, mas Apip, mas Adit, Jordy, Kyla, Hendra, Fira, Dhatu, Cori, dan Ano. Terima kasih telah memberikan semangat!

15. Kos Jongkang : pak Amri, pak Iswan dan bu Iswan, Sukma, Shafira, Lulu, Inung, Erlinda, Dinda, dan Dama. Terima kasih atas semangat yang selalu diberikan.

16. Tim pelayanan star 3 Gereja Keluarga Allah dan komsel Rafael, ka Innya, serta Inneke Dwiyani Putri. Terima kasih telah mendukung dalam doa untuk penyelesaian skripsi ini.

17. Gereja Keluarga Allah Yogyakarta. Terima kasih atas pengajaran Firman Tuhan yang diberikan, sungguh membangkitkan iman!

18. Bala Keselamatan Korps 1 Kulawi. Terima kasih atas dukungan doanya. 19. Bapak dan Ibu Mayor Mariono. Terima kasih selalu memberikan

dukungan doa.

(14)

21. Seluruh teman di Fakultas Psikologi USD, khususnya Psikologi angkatan 2013. Terima kasih untuk dinamika yang ada selama masa studi!

(15)

xv DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xv

DAFTAR TABEL ... xix

DAFTAR GAMBAR ... xx

DAFTAR LAMPIRAN ... xxi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Permasalahan ... 12

C. Ruang Lingkup Penelitian ... 12

(16)

E. Pertanyaan Penelitian ... 13

F. Manfaat Penelitian ... 13

1. Bagi mahasiswa ... 13

2. Bagi orang tua ... 13

3. Organisasi kesehatan mental ... 13

4. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi ... 13

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

A. Pengantar ... 14

B. Dinamika Psikologis Mahasiswa ... 14

1. Perspektif perkembangan ... 15

2. Perspektif sosial ... 18

C. Problematic Use Of Mobile Phone ... 21

1. Definisi problematic use of mobile phone ... 21

2. Dimensi problematic use of mobile phone ... 24

3. Aspek ketergantungan HP ... 26

4. Faktor ketergantungan HP ... 30

5. Proses dan dampak ketergantungan HP ... 33

D. Ketergantungan HP pada Mahasiswa ... 35

E. Impulsivitas ... 37

(17)

xvii

2. Dimensi impulsivitas ... 38

3. Proses dan dampak impulsivitas ... 40

F. Impulsivitas pada Mahasiswa ... 43

G. Dinamika Hubungan ... 44

D. Identifikasi Variabel Penelitian ... 50

Variabel independen ... 50

1. Variabel dependen ... 50

2. E. Definisi Operasional ... 50

Impulsivitas ... 51

1. Ketergantungan HP ... 51

2. F. Prosedur Pelaksanaan ... 52

G. Instrumen Pengumpulan Data ... 53

Impulsivitas ... 53

(18)

Validitas ... 57

3. Seleksi item ... 58

4. Reliabilitas ... 60

5. H. Analisis Data ... 61

I. Pertimbangan Etis ... 63

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65

A. Pengantar ... 65

B. Hasil Penelitian... 65

C. Pembahasan ... 72

BAB V PENUTUP ... 77

A. Kesimpulan ... 77

B. Keterbatasan Penelitian ... 77

C. Saran ... 78

D. Komentar Penutup ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 81

(19)

xix

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pemberian nilai skor Skala Impulsivitas ... 53

Tabel 2. Blueprint Skala Impulsivitas ... 54

Tabel 3. Skala Impulsivitas untuk Try Out ... 55

Tabel 4. Pemberian nilai skor Skala Ketergantungan HP ... 55

Tabel 5. Blueprint Skala Ketergantungan HP ... 56

Tabel 6. Skala Ketergantungan untuk try out ... 57

Tabel 7. Seleksi Item Skala Impulsivitas ... 59

Tabel 8. Seleksi Item Skala Ketergantungan ... 60

Tabel 9. Penggunaan HP dalam 1 tahun terakhir ... 66

Tabel 10. Data teoretis dan empiris ... 67

Tabel 11. Data empiris skala impulsivitas ... 67

Tabel 12. Data empiris skala ketergantungan ... 68

Tabel 13. Hasil Uji Normalitas ... 69

Tabel 14. Hasil Uji Linearitas ... 70

Tabel 15. Hasil uji perbedaan ketergantungan berdasarkan jenis kelamin ... 71

(20)

DAFTAR GAMBAR

(21)

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian ... 90

LAMPIRAN 2. Reliabilitas Skala Impulsivitas dan Ketergantungan HP ... 104

LAMPIRAN 3. Hasil Uji Deskriptif Jenis Kelamin ... 110

LAMPIRAN 4. Hasil Uji Deskriptif Usia ... 112

LAMPIRAN 5. Hasil Uji Deskriptif Waktu Penggunaan HP dalam Sehari ... 114

(22)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Penelitian ini adalah tentang perilaku penggunaan handphone (HP) pada mahasiswa. Fenomena ini menarik bagi peneliti karena setidaknya tiga alasan, yakni peneliti merasa prihatin melihat beberapa dari mahasiswa saat ini yang menggunakan HP sesuka hati, di mana pun dan kapan pun. Kedua, peneliti mencemaskan perilaku penggunaan HP peneliti yang kurang bijak, sehingga sering menyalahkan diri sendiri. Ketiga, topik ini merupakan bagian dari usaha peneliti untuk meningkatkan kesadaran teman-teman peneliti terkait penggunaan HP yang disfungsional. Adapun ketiga alasan peneliti di atas dapat diuraikan sebagai berikut.

(23)

sedang ibadah atau sedang dalam suatu perkumpulan, belajar, dan berjalan kaki. Pada dasarnya HP merupakan alat yang bermanfaat karena dapat menjadi alat bantu untuk memudahkan pekerjaan individu. Sehingga, tidak heran jika individu merasa ingin terus menggunakan HP. Namun, peneliti setuju dengan Billieux (2012) yang mengatakan bahwa salah satu masalah terpenting dari penggunaan HP adalah jika hal itu menjadi berlebihan atau tidak terkendali yang mana hal ini berpotensi menimbulkan konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, peneliti merasa cemas karena beberapa kali terlibat dalam penggunaan HP lebih dari batas waktu yang peneliti targetkan. Dalam situasi di mana seharusnya peneliti menyelesaikan tugas atau mengerjakan suatu pekerjaan, hal ini seringkali menjadi tidak produktif. Akibatnya, tugas-tugas yang perlu dikerjakan menjadi tertunda atau membutuhkan waktu lebih untuk menyelesaikannya. Situasi tersebut juga sering membuat peneliti merasa menyesal dan terus menyalahkan diri sendiri karena keasyikan dalam menggunakan HP, meski begitu perilaku tersebut tetap saja berulang di hari berikutnya. Melalui topik penelitian ini, menarik bagi peneliti untuk menambah pengetahuan mengenai proses atau faktor-faktor yang memengaruhi perilaku penggunaan HP dan menemukan solusi agar peneliti dapat menggunakan HP dengan bijak.

(24)

rekan peneliti mengaku bahwa HP seringkali menjadi pengganggu untuk menyelesaikan kegiatannya, seperti mengerjakan skripsi, mandi, makan, atau membersihkan kamar. Pengakuan dari beberapa teman peneliti tersebut menimbulkan rasa empati peneliti. Sehingga, peneliti berharap topik penelitian ini dapat membantu meningkatkan kesadaran teman-teman peneliti mengenai perilaku penggunaan HP yang mungkin merugikan atau berbahaya bagi diri sendiri serta menemukan solusi untuk penggunaan HP yang lebih bijak.

Saat ini HP telah menjadi sebuah alat yang keberadaannya makin dibutuhkan masyarakat (Tarigan dan Simbolon, 2017). Berdasarkan Dream Incubator Marketing (Kaonang, 2016) yang telah melakukan survei terdahulu mengenai perilaku penggunaan HP pada individu dari semua kelompok usia ditemukan bahwa mengakses media sosial dan chatting merupakan aktivitas yang paling digemari oleh semua kelompok usia. Selanjutnya diikuti dengan mendengarkan musik, menonton video, mengecek email, panggilan telepon, bermain, mengambil foto, membaca berita, melihat informasi suatu produk, melihat peta atau sistem navigasi, mengedit foto, berbelanja, dan mengakses e-banking. Hal ini menunjukkan bahwa individu sering menggunakan HP.

(25)

Pertama, sebuah survei yang dilakukan oleh Satriani (2013) ditemukan bahwa saat ini mahasiswa suka menggunakan HP di dalam kelas. Saat di mana seharusnya mahasiswa mendengarkan penjelasan dosen mereka justru melakukan pengiriman teks, mengecek email, mengakses media sosial, atau bermain game dan hal ini dilakukan rata-rata 11 kali dalam satu hari. Seakan-akan beraktivitas dengan HP di dalam kelas telah menjadi hal yang wajar untuk dilakukan. Padahal jika terus-menerus dilakukan hal ini dapat mengganggu konsentrasi mahasiswa di kelas. Seperti pengakuan beberapa mahasiswa yang telah disebutkan oleh Satriani (2013) bahwa penggunaan HP di dalam kelas mengakibatkan mereka kurang berkonsentrasi atau kurang memperhatikan pelajaran dan kehilangan informasi. Bahkan yang lebih bahaya adalah mengalami penurunan nilai akibat perilaku tersebut (Satriani, 2013). Survei ini sejalan dengan Lepp, Barkley, dan Karpinski (2014) yang mengatakan bahwa semakin mahasiswa menggunakan HP mereka akan cenderung mengalami penurunan nilai akademik dan hal ini justru meningkatkan kecemasan, serta kepuasan terhadap hidupnya menjadi berkurang karena waktu mereka hanya dihabiskan untuk menggunakan HP. Kepuasan hidup mahasiswa juga dapat mengalami penurunan karena bagi mahasiswa salah satu indikator kepuasan hidup adalah prestasi akademik (Lepp et al., 2014).

(26)

dimiliki hingga cenderung mengabaikan orang di sekitarnya. Hal ini didukung oleh fakta dari seorang mahasiswa yang mengungkapkan keluhannya mengenai perilaku teman-temannya yang ketika berkumpul justru asyik dengan HP masing-masing (Tarigan dan Simbolon, 2017). Padahal, sebelum ada HP individu dapat dengan mudah untuk saling menyapa dan berinteraksi ketika bersama. Perilaku penggunaan HP saat ini menjadi fenomena yang dikaitkan dengan penurunan kualitas hubungan antar manusia (Billieux, Linden, Acremont, Ceschi, dan Zermatten, 2007) di mana, individu terus-menerus sibuk menggunakan HP hingga cenderung mengabaikan orang yang ada di sekitarnya (Plant, 2001). Hal ini menunjukkan relasi yang kurang sehat.

Ketiga, mahasiswa menggunakan HP lebih dari yang seharusnya sebagai pengalihan. Hasil wawancara awal peneliti menemukan bahwa seorang rekan peneliti mengaku sering terlibat dalam penggunaan HP dengan jangka waktu lebih lama dari yang ditargetkan, yang kemudian menunda untuk mengerjakan tugas.

Aku sering banget itu kalo lagi ngerjain tugas yang sulit aku lariinnya ke HP, trus aku ngecek-ngecek HP bisa sampe sejam sendiri dan ngerjain tugas hanya sepuluh sampe lima belasan menit kayaknya, padahal ya tadinya mau sekedar ngecek aja di HP tapi malah sampe ke bablasan akhirnya ketunda deh selesainya (wawancara dengan R, 5 Januari 2018)

(27)

kurang efektif, karena hanya bersifat sementara waktu dan tidak memengaruhi tekanan yang dihadapi sehingga tekanan akan tetap ada. Bahkan, semakin lama individu menghindar justru akan semakin sulit menanganinya dan semakin sedikit waktu yang tersedia untuk menanganinya.

Keempat, baru-baru ini dua pelajar di Bondowoso, Jawa Timur didiagnosa mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan HP (Widarsha, 2018). Seperti yang dikatakan oleh Widarsha, dua pelajar tersebut menunjukkan perilaku tidak mau ke sekolah karena tidak diizinkan menggunakan HP, bahkan salah seorang pelajar tersebut sampai membentur-benturkan kepalanya ke tembok jika tidak diberi HP. Lebih parahnya lagi, hasil psikotest salah seorang pelajar tersebut menunjukkan bahwa figur yang paling dibenci adalah orang tuanya sendiri. Hal ini karena orang tuanya dianggap menjadi penghalang untuk menggunakan HP. Hal ini menunjukkan adanya masalah kesehatan mental.

Berdasarkan empat poin fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat saat ini telah menunjukkan perilaku bermasalah terkait dengan penggunaan HP. Bentuk perilaku tersebut dapat dikategorikan sebagai perilaku ketergantungan HP (Billieux, 2012).

(28)

He, dan Billieux (2016), Toda, Monden, Kubo, dan Morimoto (2004), Yen et al., (2009) yang sebelumnya telah meneliti mengenai ketergantungan HP.

Ketergantungan HP penting untuk diteliti mengingat bahwa ketergantungan dapat berdampak negatif bagi penggunanya (Billieux, 2012). Seperti yang diungkapkan oleh penelitian sebelumnya, ketergantungan berpotensi mengganggu kualitas tidur individu menjadi semakin buruk (Putri, 2018). Selain itu, berpotensi terhadap penurunan nilai akademik (Gi, Park, Kyung, dan Park, 2016), berpotensi terhadap penurunan kesehatan seperti sakit kepala, telinga, demam, kelelahan dan terkait muskuloskeletal (Goswami dan Singh, 2016).

Ketergantungan HP merupakan salah satu dari empat dimensi problematic use of mobile phone yang dikemukakan oleh Billieux (2012). Menurut Kuss et al., (2018), refleksi teoretis tidak lagi mengusulkan financial problems sebagai dimensi dari problematic use of mobile phone karena

(29)

mengalami ketergantungan HP (Kuss et al., 2018). Dimensi ketergantungan HP ini mengacu pada kriteria ketergantungan zat dalam DSM-IV-TR.

APA (2000) mendefinisikan ketergantungan sebagai suatu kondisi individu dengan gejala kognitif, perilaku, dan fisiologis di mana individu terus menggunakan HP terlepas dari berbagai masalah yang disebabkan oleh penggunaan HP tersebut. Hal ini berarti, terdapat berbagai masalah dalam penggunaan HP individu. Ketergantungan dapat terjadi dalam tujuh karakteristik yang dialami dalam masa satu tahun sebelumnya yakni tolerance, withdrawal, use more frequent or for longer than intended, relapse, overuse,

reduce activities, dan continues use (American Psychiatric Association, 2000).

Individu dengan ketergantungan cenderung tidak pernah pergi tanpa membawa HP bahkan ketika ia lupa, ia akan mengambilnya (Kuss, Harkin, Kanjo, dan Billieux, 2018). Individu juga ditandai dengan penggunaan HP yang lebih sering serta durasi penggunaan yang lebih lama dari waktu yang ditentukan.

Fenomena dan penelitian tentang ketergantungan HP di atas memperlihatkan bahwa individu dengan ketergantungan pada HP tampaknya memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi pada tugas yang sulit serta kurang mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya. Kedua asumsi ini merupakan bagian dari impulsivitas. Sehingga peneliti menduga ada hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan pada HP.

(30)

bahwa meningkatnya impulsivitas cenderung membuat individu mengalami masalah dalam menunda penggunaan HP yang dimiliki yang mengarah pada ketergantungan, terutama dalam kondisi negatif.

Beberapa penelitian sebelumnya telah mengaitkan ketergantungan dengan regulasi diri (Deursen, Bolle, Hegner, dan Kommers, 2015), ekstraversi dan neurotisme (Bianchi dan Phillips, 2005), loneliness dan shyness (Bian dan Leung, 2014), serta impulsivitas (Billieux et al., 2007; 2008). Penelitian ini akan berfokus pada impulsivitas. Hal ini karena beberapa penelitian telah sering menunjukkan bahwa impulsivitas terlibat dalam berbagai keadaan psikologis terkait dengan ketergantungan seperti penggunaan alkohol (Whiteside dan Lynam, 2003) dan gangguan makan (Billieux et al., 2007).

Secara umum, impulsivitas merupakan tindakan cepat yang tidak direncanakan yang mengarah pada perilaku tanpa berpikir dan kecenderungan untuk bertindak tanpa rencana (Sediyama et al., 2017). Impulsivitas terdiri dari empat dimensi yang menunjukkan impulsivitas memiliki kecederungan tinggi atau rendah, yakni urgency, premeditation, perseverance, dan sensation seeking (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside, Lynam, Miller, dan

Reynolds, 2005).

(31)

dilakukan tanpa pertimbangan dan disertai respon emosi yang kuat. Sedangkan, penelitian mengenai ketergantungan HP ada yang dikaitkan dengan stres akademik (Karuniawan dan Cahyanti, 2013), kualitas tidur (Hidayat dan Mustikasari, 2014; Putri, 2018), kecemasan (Palupi, Sarjana, dan Hadiati, 2018), serta produktivitas kerja (Riani, 2016). Sementara itu, penelitian yang secara persis mengulas terkait impulsivitas dan ketergantungan pada HP telah dilakukan di luar Indonesia (Billieux et al., 2007, 2008). Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa di Indonesia.

(32)

Kedua, terkait dengan peran organisasi kesehatan mental, seperti Indonesia Mental Health Care Foundation. Rarung (2015) telah mengatakan bahwa umumnya organisasi kesehatan memiliki tujuan untuk menyusun dan melaksanakan suatu program atau kebijakan guna meningkatkan derajat kesehatan di masyarakat. Hal ini berarti, organisasi kesehatan mental memiliki peran untuk andil dalam memberikan suatu kebijakan terkait dengan kesehatan mahasiswa. Kebijakan ini penting bagi perilaku ketergantungan HP pada mahasiswa. Sehingga, tambahan pengetahuan ini penting bagi organisasi kesehatan mental guna memahami ketergantungan HP pada mahasiswa. Akan sangat baik jika pihak organisasi kesehatan mental di Indonesia dapat memberikan arah dan kebijakan dalam penanganan ketergantungan terkait dengan kesehatan mahasiswa, tidak bergantungnya mahasiswa terhadap HP memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terhindar dari berbagai konsekuensi yang merugikan atau senantiasa hidup bahagia.

(33)

Indonesia yang masih terbatas. Penelitian yang sudah dilakukan misalnya terkait stres akademik dan ketergantungan HP (Karuniawan dan Cahyanti, 2013), serta harga diri dan ketergantungan HP (Mulyana dan Afriani, 2017). Dengan demikian, topik ini dapat memberikan kontribusi teoretis mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP, khususnya pada mahasiswa.

B.Rumusan Permasalahan

Saat ini, HP telah memberikan banyak manfaat bagi penggunanya, secara khusus mahasiswa. Misalnya, dapat memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk berkomunikasi dengan orang yang dikasihi tanpa dibatasi oleh jarak (Billieux et al., 2007). Namun, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pada kenyataannya penggunaan HP telah terkait dengan perilaku yang bermasalah yaitu ketergantungan, yang memiliki konsekuensi negatif bagi mahasiswa (Billieux, 2012). Pembahasan sebelumnya telah menunjukkan bahwa mahasiswa mungkin terlibat dalam berbagai perilaku ketergantungan HP.

C.Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini sebatas mencari tahu korelasi antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artinya, penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan sampel mahasiswa yang aktif menggunakan HP di Universitas Sanata Dharma Yogayakarta. D.Tujuan Penelitian

(34)

E.Pertanyaan Penelitian

Apakah ada hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa?

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi mahasiswa

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa terkait impulsivitas dan ketergantungan pada HP. Pengetahuan yang ada dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai pengguna aktif HP untuk lebih bijak dalam menggunakan HP.

2. Bagi orang tua

Bagi orang tua penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya wawasan ilmu pengetahuan mengenai impulsivitas dan ketergantungan pada HP. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk mencegah lebih dini akan penggunaan HP yang berlebih dengan memberi pengawasan saat anak menggunakan HP.

3. Organisasi kesehatan mental

Bagi organisasi kesehatan mental penelitian ini penting untuk memperkaya bahan informasi sebagai materi untuk memberikan arah dan kebijakan dalam penanganan ketergantungan pada HP.

4. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi

(35)

14 BAB II

LANDASAN TEORI

A.Pengantar

Bab ini akan memaparkan definisi dan konsep dari teori serta penelitian-penelitian terkait mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa. Pertama, akan dibahas mengenai dinamika psikologis mahasiswa. Kedua, mengenai problematic use of mobile phone yang terdiri dari definisi serta empat dimensinya. Dalam hal ini, peneliti hanya akan memilih salah satu dimensi dari problematic use of mobile phone, yaitu ketergantungan. Ketiga, akan membahas ketergantungan yang terdiri dari definisi, aspek-aspek, faktor-faktor, proses dan dampak, serta kaitannya dengan mahasiswa.

Keempat, peneliti juga akan membahas mengenai impulsivitas yang terdiri dari definisi, dimensi, faktor-faktor, proses dan dampak, serta kaitannya dengan mahasiswa. Kelima, pembahasan mengenai dinamika hubungan antar variabel dan mahasiswa. Keenam, akan ada kerangka konseptual. Terakhir, akan dicantumkan hipotesis yang diuji dalam penelitian ini.

B.Dinamika Psikologis Mahasiswa

(36)

1. Perspektif perkembangan

Dalam perspektif perkembangan terdapat dua kajian di dalamnya, yakni (1) emerging adulthood dan (2) mahasiswa. Kajian mengenai emerging adulthood akan ditilik dari Newman dan Newman (2012). Seperti

yang diuraikan dalam Newman, emerging adulthood memiliki tugas perkembangan yang disebut autonomy from parents yakni, kemampuan untuk mengatur diri sendiri dalam mengambil keputusan tanpa bergantung kepada orang tua. Selain itu emerging adulthood juga memiliki tugas perkembangan sebagai gender identity yakni, adanya keyakinan, sikap, dan nilai-nilai tentang diri sendiri sebagai individu dalam kehidupan sosial baik itu hubungan romantis, keluarga, pekerjaan, komunitas, dan kelompok. Ada juga tugas perkembangan sebagai internalized morality di mana individu akan mulai memandang diri mereka sebagai makhluk bermoral yang tindakannya berimplikasi pada kesejahteraan orang lain. Serta, tugas perkembangan dalam career choice yakni, memilih pekerjaan tetap sebagai sumber dari uang pribadi individu.

Pada tahap ini juga emerging adulthood mengalami yang namanya intimacy vs isolation sebagai konflik mendasar yang dialami oleh emerging

adulthood. Individu dengan intimacy mengalami keterbukaan untuk mengkomunikasikan perasaan terhadap orang yang dekat dengannya dan dihargai serta dipercaya oleh orang lain. Sebaliknya, beberapa emerging adulthood kurang dapat terlibat dalam hubungan saling percaya, terbuka

(37)

kemudian membuat individu mengalami isolation (Newman dan Newman, 2012).

Kajian mengenai mahasiswa ditilik dari salah seorang psikolog perkembangan Jeffrey Jansen Arnett yang mengatakan bahwa kebanyakan dari mahasiswa memiliki usia 18 hingga 23 tahun (Arnett, 1994). Usia ini menunjukkan jika mahasiswa merupakan bagian dari masa emerging adulthood, yang mana mahasiswa tidak lagi remaja tetapi juga belum

menetap menjalankan peran sebagai orang dewasa (Arnett, 1994, 2000). Secara khusus Arnett (1994) mengungkapkan mahasiswa masih dalam proses mempersiapkan diri untuk memiliki peran tersebut.

(38)

serta ada yang pindah ke negara lain, dan sebagian yang lain menetap di rumah (Arnett, 2015).

Proses eksplorasi berbagai kemungkinan dalam pendidikan tersebut memiliki tujuan untuk mengembangkan identitas mahasiswa yang lebih pasti, termasuk mengenai pemahaman siapa mereka, apa kemampuan dan keterbatasan mereka, apa keyakinan dan nilai mereka, serta bagaimana mereka terjun ke masyarakat sekitar (Arnett, 1994).

(39)

Pada titik ini dalam perkembangan mereka, mahasiswa juga mengalami apa yang dinamakan perkembangan psikososial selama mereka kuliah. Hal ini berkontribusi pada pembentukan identitas mereka (Evans, Forney, Guido, Patton, dan Renn, 2010). Peneliti akan menilik hal ini dari teori yang diusulkan oleh Chickering (1993, dalam Evans et al., 2010). 2. Perspektif sosial

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Chickering (1993, dalam Evans et al., 2010) mengusulkan 7 vektor perkembangan psikososial mahasiswa. Adapun tujuh vektor ini tidak berurutan dan tidak dimaksudkan sebagai tahap melainkan dapat berinteraksi satu sama lain serta saling membangun.

a. Developing competence

(40)

secara efektif dengan orang lain. Sebagai contoh, individu yang menyatakan bahwa ia belum merasa nyaman dengan keterampilan belajar cenderung memiliki masalah dalam kompetensi intelektual, dan seorang perempuan yang kurang bisa berbicara dengan laki-laki mengalami masalah kompetensi interpersonal.

b. Managing emotions

Dalam vektor ini, mahasiswa mengembangkan kemampuan untuk mengenali dan menerima emosi, serta mengekspresikan dan mengendalikannya secara tepat. Selain itu, belajar untuk bertindak atas perasaan dengan cara yang bertanggung jawab. Perasaan yang dimaksud termasuk agresi, hasrat seksual, kecemasan, depresi, marah, rasa malu, dan rasa bersalah, serta emosi positif seperti kepedulian, optimisme, dan inspirasi. Sebagai contoh, seorang individu yang kesal terhadap orang tuanya yang menginginkan agar ia segera mencari informasi tentang pekerjaan dan mulai berkarir, cenderung mengalami kesulitan dalam mengekspresikan dan mengendalikan emosinya secara tepat.

c. Moving through autonomy toward interdependence

(41)

d. Developing mature interpersonal relationship

Vektor ini termasuk pengembangan toleransi antar budaya dan pribadi, mengapresiasi perbedaan, serta menghargai persamaan. Sebagai contoh, pengembangan hubungan interpersonal yang matang adalah individu yang tertarik untuk belajar menghargai perbedaan.

e. Establishing identity

Vektor ini mengacu pada pengakuan akan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, latar belakang budaya, serta orientasi seksual. Selain itu, memiliki rasa nyaman dengan kondisi tubuh, penampilan, serta gaya hidup. Individu yang menolak identitas yang diberikan orang lain kepadanya dan mencari gaya hidup serta peran yang berarti bagi dirinya sendiri merupakan contoh dari pengembangan vektor ini.

f. Developing purpose

Vektor ini mengacu pada pengembangan untuk membuat tujuan yang jelas dan komitmen yang berarti pada hal-hal penting atau kegiatan pribadi mahasiswa. Dengan ini, mahasiswa dapat mempertahankan keputusannya saat menghadapi pertentangan.

g. Developing integrity

(42)

Tujuh vektor tersebut berperan sebagai jalan untuk menuju individuasi. Dengan demikian, penjabaran di atas menunjukkan bahwa mahasiswa merupakan bagian dari populasi emerging adulthood yang mengikuti perguruan tinggi dan memiliki empat tugas perkembangan, adanya masalah perkembangan, serta mengalami perkembangan kognitif maupun psikososial di masa kuliah.

Setelah membahas dinamika psikologi dari perspektif perkembangan dan sosial. Selanjutnya akan dibahas mengenai ketergantungan HP. Ketergantungan HP ini sebenarnya merupakan dimensi dari problematic use of mobile phone. Oleh karena itu peneliti akan membahas mengenai problematic

use of mobile phone terlebih dulu lalu secara khusus membahas ketergantungan

HP.

C.Problematic Use Of Mobile Phone

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, berikut akan dibahas mengenai problematic use of mobile phone dan dimensi-dimensinya.

1. Definisi problematic use of mobile phone

(43)

kecanduan penggunaan alat teknologi. Pada tahun 2017 ia berfokus menangani klien dengan masalah terkait kecanduan teknologi. Salah satu yang menjadi fokus penelitiannya adalah penggunaan HP yang dirumuskan ke dalam teori problematic use of mobile phone. Problematic use of mobile phone didefinisikan berdasarkan ide bahwa zaman ini penggunaan HP tidak

lagi hanya terkait dengan peran positifnya melainkan sudah semakin sering dikaitkan dengan perilaku bermasalah atau yang berpotensi mengganggu (Billieux, 2012; Billieux et al., 2008). Studi pertama yang berfokus pada problematic use of mobile phone ditujukan untuk menentukan dampaknya

terhadap kemampuan mengemudi. Secara keseluruhan, penelitian yang ada menekankan bahwa menggunakan HP saat mengemudi mengurangi kapasitas perhatian, bahkan dalam kasus hands-free (Billieux, 2012). Selain itu, analisis mengenai karakteristik kecelakaan telah menunjukkan bahwa individu yang menggunakan HP saat mengemudi lebih sering terlibat dalam kecelakaan fatal dibandingkan dengan individu yang tidak menggunakan HP saat mengemudi (Billieux, 2012). Kemudian, Billieux et al., (2008) juga mengatakan bahwa semakin banyak negara memberlakukan UU yang melarang penggunaan HP saat mengemudi.

(44)

sama halnya seperti merokok (misalnya perpustakaan, angkutan umum) (Nickerson et al., 2008, dalam Billieux, 2012). Terakhir, Billieux et al., (2007) dan Toda, Monden, Kubo, dan Morimoto (2004) telah menunjukkan bahwa penggunaan HP dapat menjadi ketergantungan.

Dengan demikian, Billieux (2012) kemudian mendefinisikan problematic use of mobile phone sebagai ketidakmampuan individu untuk

mengelola penggunaan HP-nya yang kemudian melibatkan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari. Konsekuensi tersebut dapat berupa masalah keuangan (Billieux et al., 2008), ketergantungan (Bianchi dan Phillips, 2005; Billieux et al., 2007), gangguan tidur (karena menelepon dan atau pemantauan SMS di malam hari) (Thomée, Härenstam, dan Hagberg, 2011), penggunaan yang berbahaya (seperti, menelepon saat mengemudi) (White, Eiser, dan Harris, 2004), penggunaan yang dilarang (menelepon di tempat terlarang seperti perpustakaan dan angkutan umum) (Nickerson, Isaac, dan Mak, 2008), cyberbullying (Nicol dan Fleming, 2010), sexting (Dir, Cyders, dan Coskunpinar, 2013), atau dihantui perasaan nada dering HP yang berbunyi (Kruger dan Djerf, 2015).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa problematic use of mobile phone mengacu pada ketidakmampuan individu

(45)

2. Dimensi problematic use of mobile phone

Pada sub bab sebelumnya telah dipaparkan mengenai definisi problematic use of mobile phone, berikut adalah tentang empat dimensi dari

problematic use of mobile phone. Definisi dari setiap dimensi didukung oleh

penelitian lain yang sejalan dengan Billieux (2012). a. Dangerouse use

Dimensi ini didefinisikan sebagai kecenderungan untuk menggunakan HP pada saat mengemudi (Billieux, 2012). Brace, Young, dan Regan (2007) mengatakan, penggunaan HP saat mengemudi cenderung dapat mengalihkan perhatian pengemudi secara visual, fisik, serta kognitif. Artinya, hal tersebut dapat mendorong pengemudi untuk mengalihkan perhatian (gangguan visual), pikiran dari jalanan (gangguan kognisi), dan tangan dari setir (gangguan fisik). Hal ini kemudian dianggap berbahaya karena berpotensi menurunkan performa berkendara dan meningkatkan risiko kecelakaan. Lebih lanjut dikatakan oleh Brace et al., (2007) panggilan telepon, bercakap-cakap, mengirim pesan, jenis

HP, waktu yang dihabiskan, kerumitan kata sandi HP, dan tuntutan tugas mengemudi merupakan faktor penggunaan HP yang dapat memengaruhi performa saat mengemudi.

b. Prohibited use

(46)

menjadi dilarang karena ada dugaan bahwa penggunaannya cenderung mengakibatkan terganggunya aktivitas sosial (Nickerson et al., 2008). Hal ini didukung Plant (2001), menurut Plant, individu memiliki tiga jenis sikap dalam menerima panggilan saat sedang dalam situasi sosial. Pertama, individu segera menjauh dari situasi sosial (flight). Kedua, tetap di tempat tetapi menghentikan aktivitas sosial selama menerima panggilan (suspension). Terakhir, tetap terlibat secara sosial yaitu sebisa mungkin melakukan apapun yang dilakukan sebelum akhirnya menerima panggilan telepon (persistence). Tiga respon tersebut berisiko membuat orang lain akan merasa ditinggalkan (Plant, 2001).

c. Financial problems

Billieux (2012) mengatakan financial problems dapat dianggap sebagai ukuran dari hasil negatif penggunaan HP dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya pengeluaran untuk HP mencerminkan sejauh mana penggunaan HP berpotensi menjadi bermasalah. Billieux et al., (2008) memperkirakan bahwa financial problems terkait dengan ketidakmampuan untuk mencegah diri menggunakan HP dalam situasi tertentu misalnya, saat mengalami pengaruh negatif atau mengalami pikiran yang mengganggu. Pada situasi tersebut, individu diduga menjadi boros dalam keuangan untuk membayar tagihan telepon atau SMS. d. Dependence

(47)

perilaku adiktif (Bianchi dan Phillips, 2005; Billieux, 2012; Billieux, Philippot, Schmid, Maurage, dan Mol, 2014; Choliz, 2010; Griffiths, 1996; Kwon et al., 2013; Merlo, Stone, dan Bibbey, 2013; Yen et al., 2009). Konsep umum kriteria perilaku adiktif dapat ditemukan dalam kriteria ketergantungan zat pada Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental (DSM-IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000). Kriteria ini dulunya terbatas pada obat-obatan atau alkohol, namun berdasarkan pengembangannya, saat ini telah diterapkan untuk perjudian, internet, game, penggunaan HP, serta perilaku kecanduan lainnya (Bianchi dan Phillips, 2005; Kwon et al., 2013).

Mengacu pada DSM-IV-TR (American Psychiatric Association, 2000), ketergantungan didefinisikan sebagai suatu kondisi yang dialami individu dalam masa satu tahun sebelumnya di mana individu menggunakan HP lebih banyak dari yang dimaksudkan, mencoba untuk berhenti menggunakan HP namun tidak berhasil, memiliki berbagai masalah fisik atau psikologis yang semakin parah karena penggunaan HP, serta mengalami masalah dalam pekerjaan atau dengan teman-teman APA (2000).

3. Aspek ketergantungan HP

(48)

akan digunakan dalam penyusunan alat ukur ketergantungan pada penelitian ini. Adapun tujuh kriteria tersebut terdiri dari tolerance, withdrawal, use more frequent or longer than intended, relapse, overuse, reduce activities,

dan continues use.

Tolerance

a.

Tolerance mengacu pada proses di mana meningkatnya jumlah

(49)

menjadi aspek penting untuk membedakan individu yang mengalami ketergantungan pada HP dari individu yang tidak mengalaminya. Meningkatnya tolerance terjadi setelah individu mengalami ketergantungan HP setelah beberapa tahun (Davison, Neale, dan Kring, 2006).

Withdrawal

b.

Seperti yang dikemukakan oleh APA (2000), withdrawal mengacu pada efek negatif fisik dan psikologis yang terjadi ketika penggunaan HP diberhentikan atau tiba-tiba dikurangi pada individu yang biasanya menggunakan HP. Misalnya, ketika individu tidak dapat menggunakan HP yang dimiliki oleh karena sedang berada di tempat yang dilarang atau berada di tempat yang tidak memiliki sinyal, atau lupa membawa HP, beberapa individu akan mengalami perubahan emosional mungkin berupa perasaan cemas, marah, resah, atau pikiran-pikiran yang mengganggu (Billieux et al., 2014).

Use more frequent or for longer than intended

c.

(50)

Relapse

d.

Aspek ini mengacu pada kecenderungan untuk berulang kembali ke penggunaan HP setelah berusaha mengurangi atau mengentikan penggunaannya (American Psychiatric Association, 2000). Individu ini digambarkan memiliki keinginan yang kuat untuk selalu menggunakan HP serta kurang mampu untuk menghentikan atau membatasi waktu penggunaan HP meskipun pada waktu tertentu dalam sehari (Davison et al., 2006). Adapun, upaya tersebut dapat dipengaruhi oleh orang-orang

sekitar yang memberitahu bahwa individu telah menggunakan HP secara berlebihan (Kwon et al., 2013).

Overuse

e.

Overuse mengacu pada adanya dorongan untuk melakukan banyak hal supaya tetap dapat menggunakan HP (American Psychiatric Association, 2000). Ketika individu mengalami overuse, mereka cenderung lebih memilih untuk mencari bantuan menggunakan HP dan cenderung selalu menyiapkan alat pengisi daya (cas) (Kwon et al., 2013).

Reduce activities

f.

(51)

suka menggunakan HP daripada berurusan dengan kegiatan lain. Hal ini terkait dengan pentingnya HP bagi kehidupan penggunanya. Ketika individu mengalami reduce activities, individu mungkin terlibat konflik dengan orang-orang di sekitar (Griffiths, 1996), serta mengalami kurangnya konsentrasi pada saat di kelas atau saat bekerja (Davison et al., 2006).

Continues use

g.

Aspek ini mengacu pada perilaku di mana pengguna tetap saja menggunakan HP meskipun mengetahui adanya masalah fisik atau psikologis yang disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan HP (American Psychiatric Association, 2000). Individu ini memiliki kecenderungan untuk mengalami pusing atau penglihatan kabur, merasa pegal pada pergelangan tangan atau belakang leher dan meskipun mengalami masalah ini, individu akan tetap menggunakan HP (Kwon et al., 2013). Dengan kata lain, individu menyadari bahwa ia mengalami

kehilangan kendali atas penggunaannya yang sering mengakibatkan masalah, namun demikian ia tetap saja menggunakan HP (Billieux et al., 2014).

4. Faktor ketergantungan HP

(52)

dan ekstraversi, serta self-esteem (Billieux, 2012). Terakhir, patterns of mobile phone use yang terdiri dari statius terhubung dengan internet, jenis HP, waktu pemakaian dalam satu hari, durasi penggunaan HP dalam satu minggu, status apakah menggunakan HP setiap hari, tagihan pengeluaran telepon setiap bulan, dan fitur penggunaan HP yang digunakan dalam satu tahun terakhir (Lopez-fernandez et al., 2017). Dalam hal ini peneliti hanya akan menggunakan sosio-demographic dan patterns of mobile phone use.

Sosio demografis. a.

Berkenaan dengan sosio demografis Bianchi dan Phillips (2005) mengatakan bahwa jenis kelamin dapat memprediksi jenis penggunaan HP. Artinya, laki-laki dan perempuan berpotensi memiliki jenis penggunaan HP yang berbeda. Misalnya, sebagian besar penelitian terdahulu menemukan pengguna HP dengan jenis kelamin perempuan cenderung lebih tinggi dalam menggunakan HP (khususnya, SMS) daripada laki-laki (Billieux et al., 2008). Sebagian penelitian lain juga menemukan pengguna dengan jenis kelamin perempuan cenderung lebih rentan mengalami ketergantungan (Billieux et al., 2008). Sedangkan, pengguna dengan jenis kelamin laki-laki cenderung menggunakan HP saat mengemudi (Billieux et al., 2008). Namun, penelitian yang dilakukan oleh Mei, Chai, Wang, Ng, dan Ungvari, (2018) menemukan bahwa tidak ada perbedaan jenis kelamin terhadap ketergantungan HP.

(53)

tinggi dari ketergantungan. Misalnya, Billieux et al., (2008) mengatakan bahwa individu dengan usia muda memprediksi penggunaan HP yang lebih sering dan lebih lama di mana hal ini cenderung mendapat skor tinggi pada ketergantungan. Menurut, Bianchi dan Phillips (2005) hal ini karena orang yang lebih muda cenderung lebih tertarik untuk menggunakan teknologi yang baru atau up-to-date terhadap teknologi dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Mungkin karena orang yang lebih tua telah memiliki keterbatasan fisik dan di masa sekolah orang tua juga kurang akrab dengan teknologi berbeda dengan usia yang lebih muda. Orang tua cenderung menggunakan HP untuk tujuan bisnis (Bianchi dan Phillips, 2005).

Pola penggunaan HP b.

(54)

individu. Dalam hal ini pola penggunaan HP termasuk jenis HP yang digunakan, waktu yang dihabiskan untuk menggunakan HP setiap harinya, serta fitur aplikasi yang digunakan dalam 1 tahun terakhir (Lopez-fernandez et al., 2017).

5. Proses dan dampak ketergantungan HP

Sub bab ini, akan menjelaskan mengenai tujuh aspek yang dapat menunjukkan tingkat tinggi atau rendah dari ketergantungan pada HP, tingkat yang tinggi cenderung menunjukkan ketergantungan yang lebih serius (Kwon et al., 2013).

(55)

Sebaliknya, individu dengan ketergantungan HP rendah cenderung menunjukkan perilaku yang berlawanan, di mana individu memiliki kecenderungan untuk menggunakan HP dengan lebih terkendali, cenderung tetap dapat mengerjakan tugas yang telah direncanakan, cenderung tetap memiliki hubungan pertemanan yang intim dengan teman di dunia nyata, serta cenderung tidak merasa jengkel saat penggunaan HP-nya terganggu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa individu dengan ketergantungan rendah cenderung lebih memanfaatkan penggunaan HP dengan bijak.

(56)

nyeri skeletomuskular, memperburuk kecemasan atau depresi, dan mengurangi kualitas tidur (Jo, Na, dan Kim, 2017).

Dari berbagai penjabaran di atas, ditunjukkan bahwa dampak ketergantungan pada HP tidak saja hanya pada kesehatan jasmani, fungsi mental, kehidupan emosi dan sosial individu itu sendiri, tetapi juga merugikan keluarga dan orang-orang terdekat lainnya. Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa mahasiswa merupakan kelompok usia yang menunjukkan penggunaan HP dan gejala ketergantungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua (Bianchi dan Phillips, 2005). Oleh karena itu dalam penelitian ini juga akan dibahas mengenai ketergantungan HP pada mahasiswa. Berikut ini dikemukakan pembahasannya.

D.Ketergantungan HP pada Mahasiswa

Sebagaimana yang diketahui di awal bahwa HP memiliki peran yang besar dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. HP bukanlah hal baru untuk mahasiswa, mereka dapat mempelajarinya bahkan sejak masih usia dini, HP menjadi alat yang selalu menemani mereka (Arnett, 2015). Bahkan ketika mahasiswa terlibat perkumpulan, mereka akan berhenti sesekali untuk melihat pesan teks yang baru muncul dan juga dengan cepat membalas pesan teks tersebut (Arnett, 2015).

(57)

2016) menambahkan, mahasiswa sebagai digital natives telah mengintegrasikan HP menjadi bagian dari kehidupannya.

Di samping itu, Arnett (2000, dalam Lopez-fernandez et al., 2017) berpendapat bahwa mahasiswa memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan perilaku tidak sehat atau berisiko seperti perilaku ketergantungan. Misalnya, penggunaan obat atau terlibat dalam ketergantungan video game (Lopez-fernandez et al., 2017). Oleh karena itu ketergantungan pada HP merupakan hal yang dapat dialami dan ditingkatkan oleh mahasiswa (Arnett, 2015). Penelitian sebelumnya telah banyak mengaitkan mahasiswa dengan ketergantungan HP (Bianchi dan Phillips, 2005). Bianchi dan Phillips mengatakan mahasiswa lebih banyak memiliki masalah terkait dengan penggunaan HP. Sejalan dengan Arnett (2015) yang mengatakan bahwa HP telah menjadi hal utama dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, dan kebanyakan dari mereka tidak dapat membayangkan kehidupan tanpa HP.

Ketergantungan HP pada mahasiswa dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti sosio demografis serta pola penggunaan. Mahasiswa sendiri pun diduga dapat dipengaruhi oleh impulsivitas. Hal ini karena impulsivitas merupakan aspek psikologis yang sering dikaitkan dengan perilaku ketergantungan, misalnya ketergantungan internet (H. W. Lee et al., 2012), perjudian (Moeller et al., 2001, dalam Lee et al., 2012) dan obat-obatan (Sediyama et al., 2017).

(58)

E.Impulsivitas

Di bawah ini adalah penjelasan mengenai impulsivitas yang terdiri dari definisi, aspek, serta proses dan dampak dari impulsivitas yang ditilik dari (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside, Lynam, Miller, dan Reynolds, 2005) serta penelitian-penelitian yang sejalan dengannya. Berikut adalah penejelasannya.

1. Definisi impulsivitas

(59)

Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa impulsivitas merupakan tindakan spontan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Tindakannya cepat dan mengarah pada bertindak tanpa memikirkan perilakunya terlebih dahulu. Artinya, individu bertindak tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi.

2. Dimensi impulsivitas

Seperti yang telah disebutkan di atas, tindakan tanpa perencanaan yang matang diartikan sebagai impulsivitas. Untuk itu, untuk memahami perilaku impulsivitas, berikut akan dibahas mengenai empat dimensi dari impulsivitas, yaitu urgency, (lack of) premeditation, (lack of) perseverance, dan sensation seeking yang ditilik dari (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside et al., 2005).

a. Urgency

(60)

disesali untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Individu juga cenderung sulit menghentikan aktivitas yang dilakukannya meskipun hal tersebut membuat keadaan individu menjadi lebih buruk. Hal ini berarti, individu dengan urgency memiiki kecenderungan untuk bertindak terburu-buru dalam suasana hati yang buruk. Whiteside dan Lynam (2003) mengatakan bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk meringankan emosi negatif. Untuk itu, Cynders dan Smith (2008, dalam Neto dan True, 2011) menyebutkan urgency adalah prediktor kuat untuk masalah dalam kesehatan, pekerjaan, mengkonsumsi alkohol atau narkoba, keluarga, sosial, hukum, dan ketergantungan obat-obatan. b. (lack of) Premeditation

Premeditation mengacu pada suatu kondisi di mana individu

(61)

c. (lack of) Perseverance

Dimensi ini mengacu pada kemampuan individu untuk tetap fokus pada suatu tugas yang mungkin membosankan atau sulit (Lepp et al., 2014). Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan perseverance

mampu mengabaikan hal-hal yang dapat mengganggu pengerjaannya dan mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Selain itu, individu akan terus berusaha menyelesaikan tugasnya sampai selesai karena ia kurang suka mengabaikan tugas-tugas yang didapatnya. Tidak hanya itu saja, individu dengan perseverance juga akan disiplin dalam mengerjakan tugas, ia mudah berkonsentrasi, dan produktif (Whiteside dan Lynam, 2001). d. Sensation seeking

Whiteside dan Lynam (2001) mendefinisikan sensation seeking sebagai kecenderungan untuk menikmati dan mengejar kegiatan yang menarik serta terbuka dengan pengalaman baru, entah itu berbahaya maupun tidak. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan sensation seeking akan bertindak mencari pengalaman baru untuk mendapat

kesenangan dan kepuasan, ia bersedia untuk mencoba apapun demi mendapat kesenangan.

3. Proses dan dampak impulsivitas

(62)

yang gegabah atau terburu-buru untuk meringankan emosi negatif mereka meskipun terdapat konsekuensi jangka panjang berbahaya dari tindakan ini. Misalnya, seseorang yang terlibat pertengkaran akan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan untuk meluapkan kekesalannya namun kemudian ia menyesalinya. Selanjutnya, untuk individu dengan premeditation tinggi, individu cenderung menjadi bijaksana dan penuh pertimbangan misalnya, individu tidak suka memulai suatu pekerjaan sampai ia paham betul bagaimana cara melakukannya. Sedangkan, individu dengan premeditation rendah cenderung bertindak secara mendadak dan tanpa memperhatikan konsekuensi dari tindakannya. Untuk individu dengan perseverance yang tinggi, Whiteside dan Lynam (2001) mengatakan bahwa individu cenderung dapat menyelesaikan pekerjaan dan cenderung mampu bekerja di bawah kondisi yang memerlukan ketahanan terhadap situasi mengganggu. Sebaliknya, individu yang rendah dalam perseverance cenderung tidak mampu untuk tetap fokus terhadap tugas yang sulit atau membosankan sekalipun sudah dipaksakan. Misalnya, individu menjadi mudah menyerah. Terakhir, untuk individu dengan sensation seeking tinggi, individu cenderung menikmati risiko dan terlibat dalam aktivitas berbahaya, sedangkan individu dengan sensation seeking rendah cenderung menghindari risiko dan bahaya. Misalnya, individu dengan sensation seeking tinggi cenderung terlibat dalam situasi mengemudi dengan

(63)

Urgency dan sensation seeking yang tinggi serta kurangnya

premeditation dan perseverance menunjukkan tingkat impulsivitas yang tinggi di mana hal ini umumnya bersifat maladaptif yang dapat menghasilkan konsekuensi merugikan pada individu itu sendiri (Mitchell dan Potenza, 2014). Secara khusus, urgency tinggi terkait dengan kepribadian borderline di mana perilaku menyakiti diri sendiri yang biasanya ditunjukkan oleh individu dengan gangguan kepribadian borderline diduga didorong oleh impuls yang kuat dan merupakan upaya dalam mengatasi emosi negatif mereka (Whiteside et al., 2005). Selain itu, Whiteside dan Lynam (2001) mengatakan lack of premeditation cenderung terkait dengan gangguan kepribadian psikopat. Perilaku tersebut dilakukan karena kurang mampu mengantisipasi konsekuensi dari perilaku tersebut dan lack of perseverance sangat terkait dengan bentuk psikopatologi yang diperiksa dalam sebuah studi meta-analisis (Berg et al., 2015, dalam Sperry, Lynam, Walsh, Horton, dan Kwapil, 2016) yaitu, perilaku bunuh diri, kecemasan, agresi, ciri kepribadian borderline, gangguan makan, depresi, dan penggunaan zat. Lack of premeditation terkait dengan penggunaan zat, ciri kepribadian borderline, dan depresi (Berg et al., 2015, dalam Sperry et al., 2016), serta kepribadian hiperaktif dan antisosial (Miller et al., 2003,

(64)

karena individu kurang memiliki kendali untuk mengontrol keinginannya atau memiliki dorongan yang sangat kuat untuk memenuhi keinginannya. Terakhir, bahwa impulslvitas juga memiliki dampak terhadap sejumlah aspek kehidupan misalnya prestasi akademik (Mosti et al., 2014, dalam Babaeian dan Jamshidzadeh, 2015) yang hasilnya menunjukkan bahwa ada korelasi negatif yang signifikan antara impulsivitas dengan prestasi akademik, juga dengan gangguan pikiran, perasaan negatif terhadap diri sendiri, menurunnya kemampuan untuk menikmati dan menyelesaikan suatu kegiatan, meningkatkan perilaku yang bermasalah, serta kesulitan berkonsentrasi (Sperry et al., 2016).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa impulsivitas memiliki sifat maladaptif yang dapat menghasilkan berbagai konsekuensi negatif bagi kehidupan individu. Tidak hanya itu saja, impulsivitas telah dikaitkan dengan mahasiswa. Hal ini karena mahasiswa merupakan kelompok usia yang rentan dengan perilaku berisiko, misalnya penyalahgunaan alkohol (Arnett, 2015). Arnett mengatakan bahwa hal ini didorong oleh sensation seeking yang merupakan aspek dari impulsivitas. Hal ini akan diuraikan

pada poin selanjutnya. F. Impulsivitas pada Mahasiswa

(65)

hari mereka dengan perasaan bersemangat dan gembira. Namun, Arnett (2015) menjelaskan bahwa kegembiraan dan masalah dalam masa dewasa ini hidup berdampingan, sehingga perjalanan hidup sebagai mahasiswa menjadi tahap kehidupan yang sangat kompleks. Berbagai perilaku bermasalah dan gangguan psikologis juga dialami mahasiswa. Misalnya, mengemudi mobil. Arnett (2015) mengatakan para pengemudi di dewasa ini terlibat dalam banyak kesalahan mengemudi, di mana sensation seeking adalah salah satu faktor yang memengaruhi. Secara khusus Arnett (2015) mengatakan mahasiswa didorong oleh impuls sensation seeking dengan tujuan mencoba atau menambah pengalaman baru. Penggunaan obat terlarang atau tindakan kriminal pada mahasiswa juga dapat didorong oleh sensation seeking. Untuk itu, mahasiswa dengan sensation seeking tinggi cenderung terlibat dalam berbagai perilaku berisiko (Arnett, 2015). Sejalan dengan hal ini, Whiteside dan Lynam (2001) mengatakan sensation seeking adalah bagian dari perilaku impulsif yaitu individu bertindak tanpa berpikir atau tanpa rencana.

Hal ini menunjukkan bahwa berbagai perilaku berisiko pada mahasiswa didukung oleh aspek dari impulsivitas. Selain daripada itu, sub bab berikut merupakan dinamika dari hubungan antar variabel dengan mahasiswa.

G.Hubungan Antara Impulsivitas dan Ketergantungan HP pada Mahasiswa

(66)

impulsivitas (Whiteside dan Lynam, 2003). Perilaku berisiko itu sendiri ada kaitannya dengan eksplorasi identitas sebagai karakteristik utama dari mahasiswa (Arnett, 2000). Berkenaan dengan hal tersebut, saat ini penggunaan HP telah dikaitkan dengan perilaku berisiko, karena penggunaannya dapat menjadi ketergantungan yang kemudian melibatkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Billieux et al., 2007). Billieux et al., (2007; 2008), Mitchell dan Potenza, (2014), Jo et al., (2017), serta Mei et al., (2018) mengatakan bahwa tingkat impulsivitas tinggi terkait erat dengan ketergantungan pada HP. Menurut Mitchell dan Potenza (2014, dalam Mei et al., 2018), individu dengan tingkat impulsivitas tinggi lebih suka menggunakan HP untuk bersenang-senang tanpa memikirkan konsekuensi dari tindakannya. Secara khusus, Billieux et al., (2007) menjelaskan hal ini berdasarkan dari empat dimensi impulsivitas. Pertama, bahwa dorongan kuat yang timbul untuk menggunakan HP tanpa adanya pertimbangan berpotensi menimbulkan ketergantungan. Individu cenderung mengalami kesulitan dalam melawan dorongan kuat tersebut, terutama dalam kondisi negatif. Dengan kata lain, mahasiswa dengan urgency tinggi cenderung menggunakan HP lebih sering dan memiliki

(67)

melepaskan diri dari pemikiran yang tidak diinginkan tersebut dan kemudian cenderung menimbulkan durasi panggilan yang lebih lama dan penggunaan yang lebih sering sebagai aspek dari ketergantungan HP. Ketiga, lack of premeditation berpotensi menjadikan individu menggunakan HP berlebihan

(68)

H.Kerangka Konseptual

Gambar 1.

Skema hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada

mahasiswa

I. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara impulsivitas dengan ketergantungan HP pada

Mahasiswa

(69)

48 BAB III

METODE PENELITIAN

A.Pengantar

Setelah pada bab sebelumnya dibahas mengenai teori-teori dan penelitian terkait kedua variabel berikut uraian mengenai metode dalam penelitian ini. Pembahasan dalam bab III ini dimulai secara berurutan dari topik (1) rancangan penelitian yaitu mengenai jenis dan bentuk penelitian, serta metode yang digunakan untuk mengumpulkan data; (2) subjek penelitian yaitu individu yang akan menjadi sasaran dalam penyebaran skala; (3) identifikasi variabel yaitu penjabaran singkat mengenai variabel penelitian yang terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat; (4) definisi operasional; (5) prosedur pelaksanaan yang membahas langkah dalam penyebaran skala; (6) instrumen pengumpulan data yang berisi blueprint dari kedua variabel penelitian; (7) validitas; (8) seleksi item; (9) reliabilitas; (10) analisis data; (11) terakhir, pertimbangan etis yang perlu dilakukan peneliti sebelum melakukan penelitian. B.Rancangan Penelitian

(70)

penyebaran skala. Kemudian, metode penskalaan yang digunakan yaitu skala Likert. Skala Likert merupakan metode penskalaan yang cukup sederhana dengan adanya pernyataan-pernyataan favorable dan unfavorable. Subjek diminta untuk menyatakan kesetujuan-ketidaksetujuannya terhadap setiap pertanyaan atau item dalam sebuah kontinum yang terdiri atas lima respon yaitu: sangat setuju, setuju, tidak tahu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju (Supratiknya, 2014). Dalam pengembangannya terdapat modifikasi terhadap opsi jawaban skala Likert yaitu penggunaan jumlah genap, guna tidak memberi kesempatan kepada subjek memberikan jawaban netral (Supratiknya, 2014). Penelitian ini menggunakan opsi jawaban dalam jumlah genap untuk menghilangkan central tendency effect yaitu kecenderungan untuk memilih jawaban netral sebagai jawaban aman. Selain itu, terdapat dua jenis skala sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu skala impulsivitas dan skala ketergantungan HP.

C.Subjek

Setelah membahas mengenai rancangan penelitian, berikut adalah kriteria mengenai subjek dan cara pengambilan sampel dalam penelitian ini. Pertama, subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa berusia 18 – 23 tahun dan merupakan pengguna aktif telepon genggam (HP). Bianchi dan Phillips (2005) mengatakan bahwa mahasiswa lebih rentan terhadap problematic use of mobile phone. Kedua, pengambilan sampel dilakukan tanpa menerapkan

(71)

sampel. Cara ini menghasilkan jenis sampel yang disebut sample of convenience, lazimnya berupa kelompok-kelompok testi yang kebetulan bisa

diakses oleh penyusun tes (Supratiknya, 2014). D.Identifikasi Variabel Penelitian

Berikut adalah variabel dalam penelitian ini yang terdiri dari dua variabel, yaitu :

Variabel independen 1.

Cresswell (dalam Supratiknya, 2015) mengatakan variabel independen adalah variabel yang kemungkinan menyebabkan, memengaruhi atau berdampak pada hasil tertentu. Variabel independen dalam penelitian ini adalah impulsivitas.

Variabel dependen 2.

Cresswell (dalam Supratiknya, 2015) mengatakan variabel dependen adalah variabel yang tergantung pada variabel independen, dalam arti variabel yang diasumsikan merupakan hasil atau akibat pengaruh dari variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah ketergantungan HP.

E.Definisi Operasional

(72)

untuk memahami hubungan antar variabel (Creswell, 2014). Dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah impulsivitas dan ketergantungan HP.

Impulsivitas 1.

Impulsivitas merupakan tindakan spontan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Tindakannya cepat dan mengarah pada bertindak tanpa memikirkan perilakunya terlebih dahulu. Artinya, individu bertindak tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi. Impulsivitas memiliki 4 aspek yakni, urgensi, kurangnya ketekunan, kurangnya premeditasi, serta pencarian sensasi (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside et al., 2005). Impulsivitas akan diukur dengan skala impulsivitas yang disusun berdasarkan teori Whiteside dan Lynam (2001,2003) serta Whiteside et al., (2005). Semakin tinggi skor yang diperoleh mahasiswa pada skala impulsivitas, maka semakin tinggi impulsivitas mahasiswa. Sebalikya, semakin rendah skor yang diperoleh mahasiswa pada skala impulsivitas, maka semakin rendah impulsivitas mahasiswa.

Ketergantungan HP 2.

Figur

Gambar 1. Kerangka Konseptual .........................................................................
Gambar 1 Kerangka Konseptual . View in document p.20
Gambar 1.
Gambar 1 . View in document p.68
Tabel 1. Pemberian nilai skor Skala Impulsivitas
Tabel 1 Pemberian nilai skor Skala Impulsivitas . View in document p.74
Tabel 2. Blueprint Skala Impulsivitas
Tabel 2 Blueprint Skala Impulsivitas . View in document p.75
Tabel 4. Pemberian nilai skor Skala Ketergantungan HP
Tabel 4 Pemberian nilai skor Skala Ketergantungan HP . View in document p.76
Tabel 5. Blueprint Skala Ketergantungan HP
Tabel 5 Blueprint Skala Ketergantungan HP . View in document p.77
Tabel 6.
Tabel 6 . View in document p.78
Tabel 7. Seleksi Item Skala Impulsivitas
Tabel 7 Seleksi Item Skala Impulsivitas . View in document p.80
Tabel 8.
Tabel 8 . View in document p.81
Tabel 9. Penggunaan HP dalam 1 tahun terakhir
Tabel 9 Penggunaan HP dalam 1 tahun terakhir . View in document p.87
Tabel 10. Data teoretis dan empiris
Tabel 10 Data teoretis dan empiris . View in document p.88
Tabel 12.
Tabel 12 . View in document p.89
Tabel 13. Hasil Uji Normalitas
Tabel 13 Hasil Uji Normalitas . View in document p.90
Tabel 14. Hasil Uji Linearitas
Tabel 14 Hasil Uji Linearitas . View in document p.91
Tabel 15. Ketergantungan berdasarkan jenis kelamin
Tabel 15 Ketergantungan berdasarkan jenis kelamin . View in document p.92
Tabel di atas menunjukkan nilai signifikansi yang diperoleh adalah
Tabel di atas menunjukkan nilai signifikansi yang diperoleh adalah . View in document p.93

Referensi

Memperbarui...