Peternakan sapi potong di Indonesia mulai mengalami perkembangan yang negatif pada saat krisis moneter, usaha sapi potong bayak yang gulung tikar termasuk peternakan rakyat. Kondisi ini disebabkan ketergantungan yang besar terhadap sapi bakalan dari luar dan ketidak tersediaan bibit unggul. Kegiatan
usaha yang mampu bertahan selama krisis adalah peternakan sapi potong rakyat yang dipelihara secara subsistem. Ditinjau dari populasi sapi potong di
Indonesia, jumlah populasi terbanyak adalah pada tahun 1997 sebesar 11 938 856
ekor yang kemudian terus mengalami penurunan hingga tahun 2004 menjadi 10 532 889 ekor. Sejak tahun 2005 peningkatan terus terjadi hingga dengan tahun
2008 populasi sapi potong sudah mencapai 11 869 158 ekor (BPS 2008), kondisi ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun tidak terjadi perkembangan populasi yang berarti. Menurut BPS (2008), jumlah penduduk Indonesia tahun 2007 mencapai 223 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan populasi 1.01% per tahun dengan tingkat konsumsi daging sapi 0.52 kg/kapita/tahun, hal ini berarti bahwa penduduk Indonesia tiap tahun membutuhkan daging sapi lebih kurang 116 000 ton yang setara dengan 1 035 357 ekor sapi, dari jumlah kebutuhan daging ini lebih kurang 600–700 ribu ekor diimpor dari Australia dan beberapa negara lain.
Berdasarkan potensi yang ada, Indonesia selayaknya harus mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan asal ternak dan bahkan dapat menjadi negara pengekspor ternak, hal ini sangat mungkin untuk dicapai karena ketersediaan sumber daya ternak dan peternak (Tabel 1), lahan dengan berbagai jenis tanaman dan produk industri pertanian (Tabel 2), biofuel, pangan dan keberadaan sumber daya manusia serta ketersediaan inovasi teknologi yang memadai. Apabila potensi penggunaan lahan dapat dimanfaatkan sebesar 50 % maka secara potensial dapat menampung 29 juta satuan ternak (Bamualim et al. 2008).
Tabel 1. Populasi ternak sapi, kerbau dan jumlah keluarga peternak di Indonesia tahun 2007
Jenis Ternak Jumlah ternak (ekor) Jumlah Keluarga Peternak (KP) Rasio Ternak:KP (ekor/KP) Sapi potong Sapi perah Kerbau 11 515 000 377 772 2 346 017 4 572 766 118 752 450 605 2.52 3.18 2.51 Total 14 238 789 5 142 123 2.77 Sumber: Ditjennak (2008)
Tabel 2. Luas lahan dan penggunaannya di Indonesia
Nomor Penggunaan Luas Lahan Potensi**)ST/ha*) Jumlah ST
ditampung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Persawahan Perumahan Pekarangan Shifting cultivation Padang ilalang Rawa Danau, sungai dll. Lahan kosong Hutan Perkebunan 7 885 878 5 357 596 10 775 057 3 839 093 2 432 113 431 156 236 228 11 341 757 9 303 625 18 489 589 1.75 - - - 0.40 0.20 - 0.40 0.10 2.00 13 800 287 - - - 972 845 862 631 - 4 536 703 930 363 26 979 178 Total 74 516 803 - 58 082 006 Sumber: BPS (2008); **)Puslitbangnak (2006).
Keterangan:*)ST (Satuan ternak).
Populasi ternak sapi potong di Papua Barat dalam kurun waktu empat tahun dari tahun 2004 (30 149 ekor) sampai dengan 2008 (34 952 ekor), menunjukkan terjadi peningkatan sebesar 3.4% per tahun (BPS 2008). Kabupaten Raja Ampat hanya menyumbang 2.3% atau 923 ekor dari total populasi sapi potong di Provinsi Papua Barat (Distannakbun Raja Ampat 2007). Luas wilayah Kabupaten Raja Ampat ± 6084.5 km2 dengan luas daratan ± 3650.7 km2 dan
60% merupakan pulau-pulau kecil dan dataran rendah (Bappeda Raja Ampat 2007). Dataran rendah dan pulau-pulau kecil luasnya 2190.42 km2 merupakan potensi bagi pengembangan sapi potong. Populasi ternak keseluruhan dipelihara secara ekstensif, jumlah kepemilikan berkisar 2-4 ekor per keluarga peternak dengan tenaga kerja berasal dari dalam keluarga dan bersifat usaha sampingan
dari usaha utama sebagai petani atau nelayan (Distannakbun Raja Ampat 2007). Konsekuensi dari sistem ini mengakibatkan rendahnya produktivitas ternak dan perkembangan peternakan sapi potong menjadi terhambat, oleh karena itu di perlukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan sumber daya ternak, peternak, lahan dan produksi pakan (Wirdahayati dan Bamualim 2007).
Konsumsi produk hasil ternak berupa daging, telur dan susu untuk Kabupaten Raja Ampat tahun 2006 sebesar 4.3 kg/kapita/tahun, sementara target produksi daging nasional yang mengacu pada kesepakatan Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 2005 per orang adalah 10 kg/kapita/pertahun. Hal ini menunjukkan kebutuhan gizi asal hewani masyarakat Kabupaten Raja Ampat belum terpenuhi, sehingga perlu upaya untuk mencukupinya melalui ketersediaan protein yang berasal dari ternak sapi potong (Bappeda Raja Ampat 2007).
Pembangunan peternakan sapi potong saat ini dilakukan secara bersama oleh pemerintah, masyarakat (peternak skala kecil) dan swasta. Pemerintah menetapkan aturan main, memfasilitasi dan mengawasi aliran dan ketersediaan produk baik jumlah maupun mutunya, agar terpenuhi halal, aman, bergizi dan sehat. Swasta dan petani peternak berperan seluas-luasnya dalam mewujudkan kecukupan produk peternakan melalui produksi, importasi, pengolahan, pemasaran dan distribusi produk sapi potong (Bamualim et al. 2008).
Karakteristik Produksi dan Reproduksi Sapi Potong
Sapi potong di Indonesia diklasifikasikan menjadi beberapa spesies berdasarkan habitat wilayahnya antara lain adalah sapi Bali, Peranakan Ongol (PO), Sumba Ongol, Madura, Aceh dan Brahman (Deptan 2006). Jenis sapi yang dipelihara di kabupaten Raja Ampat adalah sapi Bali yang di introduksi pertama kali pada tahun 1978 oleh Pemerintah Provinsi Irian Jaya (Papua) sebanyak 70 ekor (Distannakbun Raja Ampat 2007).
Salah satu upaya untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas sapi potong adalah dengan menggunakan bibit sapi potong yang berkualitas, karena hal ini merupakan salah satu faktor produksi yang menentukan dan mempunyai nilai strategis dalam upaya pengembangan peternakan sapi potong secara berkelanjutan (Deptan 2006). Bibit sapi potong yang bagus
menurut Wiyono dan Aryogi (2007) harus memiliki beberapa kriteria umum sebagai berikut :
a. Kesesuaian warna tubuh dengan bangsanya, sapi PO berwarna putih, sapi Madura berwarna coklat, dan sapi Bali betina berwarna merah bata serta jantan dewasa berwarna hitam (Gambar 2).
Gambar 2. Warna tubuh yang normal pada sapi Bali betina (1), Bali jantan (2), PO (3) dan Madura (4).
b. Keserasian bentuk dan ukuran antara kepala, leher dan tubuh ternak, dengan tingkat pertambahan dan pencapaian berat badan ternak yang tinggi pada umur tertentu tinggi (Gambar 3).
c. Ukuran tinggi punuk/gumba minimal pada calon bibit sapi potong (indukan dan pejantan), mengacu pada standar bibit populasi setempat, regional atau nasional.
d. Tidak tampak adanya cacat tubuh yang dapat diwariskan, baik yang dominan (terjadi pada sapi yang bersangkutan) maupun yang resesif (tidak terjadi pada sapi yang bersangkutan, tetapi terjadi pada sapi tetua dan atau di sapi keturunannya).
e. Untuk pejantan, testis sapi umur diatas 18 bulan harus simetris (bentuk dan ukuran yang sama antara skrotum kanan dan kiri), menggantung dan mempunyai ukuran lingkaran terpanjangnya melebihi 32 cm (32–37 cm).
f. Kondisi sapi sehat yang diperlihatkan dengan mata yang bersinar, gerakannya lincah tetapi tidak liar dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan pada organ reproduksi luar, serta bebas dari penyakit menular terutama yang dapat disebarkan melalui aktivitas reproduksi.
Gambar 3. Keserasian bentuk tubuh sapi Bali (1), PO (2) dan Madura (3).
Produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sampai 70% dan faktor genetik hanya sekitar 30%. Diantara faktor lingkungan tersebut, aspek pakan mempunyai pengaruh paling besar yaitu sekitar 60% (Maryono dan Romjali 2007). Hal ini menunjukkan bahwa walaupun potensi genetik ternak tinggi, namun apabila pemberian pakan tidak memenuhi persyaratan kuantitas dan kualitas, maka produksi yang tinggi tidak akan tercapai (Andini et al. 2007). Disamping pengaruhnya yang besar terhadap produktivitas ternak, faktor pakan juga merupakan biaya produksi yang terbesar dalam usaha peternakan. Biaya pakan ini dapat mencapai 60-80% dari keseluruhan biaya produksi (Umiyasih et al. 2007). Pakan utama ternak ruminansia adalah hijauan yaitu sekitar 60-70%, dan pakan yang baik adalah murah, mudah didapat, tidak beracun, disukai ternak, mudah diberikan dan tidak berdampak negatif terhadap produksi dan kesehatan ternak serta lingkungan (Maryono dan Romjali 2007).
Perkandangan merupakan salah satu faktor produksi yang belum mendapat perhatian dalam usaha peternakan sapi potong khususnya peternakan rakyat. Konstruksi kandang yang belum sesuai dengan persyaratan teknis akan mengganggu produktivitas ternak, kurang efisien dalam penggunaan tenaga kerja dan berdampak terhadap lingkungan sekitarnya (Alim et al. 2004). Beberapa persyaratan yang diperlukan dalam mendirikan kandang antara lain (1) memenuhi persyaratan kesehatan ternaknya, (2) mempunyai ventilasi yang baik, (3) efisien dalam pengelolaan (4) melindungi ternak dari pengaruh iklim dan keamanan dan, (5) tidak berdampak terhadap lingkungan sekitarnya. Konstruksi kandang harus kuat dan tahan lama, penataan dan perlengkapan kandang hendaknya dapat memberikan kenyamanan kerja bagi petugas dalam proses produksi seperti memberi pakan, pembersihan, pemeriksaan birahi dan penanganan kesehatan. Bentuk dan tipe kandang hendaknya disesuaikan dengan lokasi berdasarkan agroekosistemnya, pola atau tujuan pemeliharaan dan kondisi fisiologis ternak (Rasyid dan Hartati 2007).
Produktivitas ternak sapi dapat dinilai melalui dua indikator, pertama adalah performans produksi diantaranya penampilan bobot hidup dan pertambahan bobot badan; kedua adalah performan reproduksi diantaranya produksi anak (calf crop) dalam satu tahun. Calf crop adalah angka yang menggambarkan jumlah anak lepas sapih yang diproduksi dalam satu tahun terhadap jumlah induk dalam persen. Calf crop dipengaruhi oleh jumlah anak sekelahiran, persentase induk yang melahirkan dalam total populasi induk, persentase kematian (mortalitas) pada saat anak belum disapih, dan jarak beranak (Arrington dan Kelley 1976). Jarak kelahiran dipengaruhi oleh lama kebuntingan dan jarak antara melahirkan dan pengawinan berikutnya (service period) yang dipengaruhi oleh keterampilan peternak dalam mengawinkan ternak yang ditunjukkan oleh besarnya angka service per conception dan waktu menyusui (Fraser 1979).
Kemampuan reproduksi seekor ternak akan berpengaruh terhadap penampilan produksi dari ternak tersebut, terutama pada jumlah anak yang dilahirkan. Terdapat empat hal yang menjadi kendala reproduksi ternak sapi potong, yaitu : 1) lama bunting yang panjang, 2) panjangnya interval
dari melahirkan sampai estrus pertama, 3) tingkat konsepsi yang rendah dan 4) kematian anak sampai umur sapih yang tinggi. Aktivitas reproduksi dan jarak beranak sebagian besar (95%) dipengaruhi oleh faktor non genetik dan lingkungan, mencakup tatalaksana pakan dan kesehatan. Adanya perbedaan penampilan reproduksi bangsa ternak di suatu wilayah dipengaruhi oleh keragaman lingkungan yang meliputi keragaman genetik, ketersediaan nutrisi, dan tatalaksana reproduksi (Toelihere 1983).
Kendala dan peluang pemeliharaan sapi potong di suatu wilayah, secara umum harus memperhatikan tiga faktor, yaitu pertimbangan teknis, sosial dan ekonomis. Pertimbangan teknis mengarah pada kesesuaian sistem produksi yang berkesinambungan, ditunjang oleh kemampuan manusia, dan kondisi agroekologis. Pertimbangan sosial mempunyai arti bahwa eksistensi teknis ternak di suatu daerah dapat diterima oleh sistem sosial masyarakat dalam arti tidak menimbulkan konflik sosial. Pertimbangan ekonomis mengandung arti bahwa ternak yang dipelihara harus menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian daerah serta bagi pemeliharanya sendiri. Disamping ketiga faktor tersebut terdapat faktor lain yang mempengaruhi perkembangan peternakan secara eksternal di antaranya adalah infrastruktur, keterpaduan dan terkoordinasi lintas sektoral, perkembangan penduduk serta kebijakan perkembangan wilayah atau kebijakan pusat dan daerah (Santosa 2001).
Hambatan-hambatan dalam usaha meningkatkan produksi ternak pada umumnya disebabkan oleh masalah yang kompleks dan bersifat biologis, ekologis serta sosioekonomis. Hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas secara kuantitatif terutama usaha peternakan yang bersifat tradisional. Pembangunan peternakan nasional, peternakan rakyat ternyata masih memegang peranan sebagai aset terbesar, tetapi sampai saat ini tipologinya masih bersifat sambilan (tradisional) yang dibatasi oleh skala usaha kecil, teknologi sederhana dan produk berkualitas rendah (Riady 2004).
Budidaya Sapi Potong
Budidaya sapi potong merupakan suatu kegiatan pemeliharaan sapi potong secara terkontrol untuk tujuan produksi. Berdasarkan tujuan produksi, usaha budidaya sapi potong terutama terdiri dari usaha pembibitan dan usaha
penggemukan sapi. Pada suatu kawasan agribisnis sapi potong terdapat juga kombinasi usaha pembibitan dan penggemukan sapi. Pembibitan sapi merupakan kegiatan pemeliharaan sapi bibit baik secara intensif melalui manajemen yang terkontrol maupun ekstensif dilepas di padang penggembalaan dengan tujuan untuk menghasilkan sapi bibit pengganti (replacement stock) dan sapi bakalan. Induk sapi dan anak dalam sistem ini dipelihara bersama hingga mencapai masa penyapihan. Output yang dihasilkan dalam kegiatan ini adalah anak sapi sapihan jantan dan betina. Berbeda dengan penggemukan sapi, tujuan pemeliharanya untuk menghasilkan sapi potongan yang sesuai dengan spesifikasi pasar. Oleh karena itu, output yang dihasilkan adalah sapi ‘finish’ (Priyanto 2002).
Indonesia memiliki tiga pola pengembangan sapi potong rakyat (Yusdja et al. 2004). Pola Pertama, pengembangan sapi potong yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan usaha pertanian terutama sawah dan ladang, artinya di setiap wilayah persawahan atau perladangan yang luas maka disana ditemukan banyak ternak sapi. Pola ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Peternak memelihara sapi dengan tujuan sebagai sumber tenaga kerja terutama untuk mengolah tanah dan penarik barang. Oleh karena itu, pertumbuhan sektor pertanian akan meningkatkan jumlah populasi sapi, selain itu usaha pertanian berhubungan erat dengan perkembangan penduduk. Penduduk akan semakin padat diwilayah tanah pertanian yang subur. Keadaan ini menciptakan struktur usaha peternakan berskala kecil.
Pola Kedua, adalah pengembangan sapi tidak terkait dengan pengembangan usaha pertanian. Pola ini terjadi di wilavah tidak subur, sulit air, temperatur tinggi, dan sangat jarang penduduk seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Sulawesi. Pada umumnya, pada wilayah semacam ini, terdapat padang-padang yang luas yang tidak dapat diandalkan sebagai lahan pertanian. Tujuan pemeliharaan sapi potong di wilayah ini, yang semula dimaksudkan sebagai sumber daging, ternyata juga berkembang sebagai status sosial. Usaha sapi tetap bertahan sebagai usaha rakyat, namun pemerintah mengubah pandangan tersebut bahwa usaha ternak sapi merupakan lapangan kerja dan sumber pendapatan.
Ciri-ciri peternakan rakyat yakni skala usaha relatif kecil, merupakan usaha rumah tangga, merupakan usaha sampingan, menggunakan teknologi sederhana dan bersifat padat karya serta berbasis organisasi kekeluargaan (Yusdja et al. 2004). Usaha peternakan rakyat memiliki posisi yang sangat lemah dan sangat peka terhadap perubahan. Alternatif pengembangannya adalah dengan melakukan reformasi modal, penciptaan pasar, sistem kelembagaan dan input teknologi.
Pola Ketiga,Pengembangan usaha penggemukan sapi potong yang benar-benar padat modal, dalam usaha skala besar hanya terbatas pada pembesaran sapi bakalan menjadi sapi potong. Perusahaan penggemukan ini dikenal dengan istilah feedlotters menggunakan sapi bakalan impor untuk usaha penggemukan.
Kawasan Agribisnis Sapi Potong
Konsep kawasan adalah wilayah yang berbasis pada keberagaman fisik dan ekonomi tetapi memiliki hubungan erat dan saling mendukung satu sama lain secara fungsional demi mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kawasan ini secara sendiri-sendiri maupun
secara bersama membentuk suatu klaster yang dapat berupa klaster pertanian dan klaster industri, tergantung dari kegiatan ekonomi yang dominan dalam
kawasan itu (Bappenas 2004). Kawasan peternakan merupakan suatu kawasan yang secara khusus diperuntukan untuk kegiatan peternakan atau terpadu sebagai komponen usahatani (berbasis tanaman pangan, perkebunan, hortikultura atau perikanan) dan terpadu sebagai komponen ekosistem tertentu (kawasan hutan lindung, suaka alam), sedangkan kawasan agribisnis peternakan adalah kawasan peternakan yang berorientasi ekonomi dan memiliki sistem agribisnis berkelanjutan yang berakses ke industri hulu maupun hilir (Deptan 2002b).
Paradigma pembangunan peternakan yang mampu memberikan peningkatan pendapatan peternak sapi potong rakyat yang relatif tinggi dan menciptakan daya saing global produk peternakan adalah paradigma pembangunan agribisnis berbasis peternakan, subsistem agribisnis peternakan mencakup empat subsistem, yaitu: (1) subsistem agribisnis hulu peternakan, kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak, (2) subsistem agribisnis budidaya peternakan, kegiatan yang menggunakan sapronak untuk menghasilkan komoditi peternakan primer,
(3) subsistem agribisnis hilir peternakan, kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas peternakan primer menjadi produk olahan, dan (4) subsistem agribisnis jasa penunjang, kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa yang dibutuhkan ketiga sistem yang lain seperti transportasi, penyuluhan dan pendidikan, penelitian dan pengembangan, perbankan, dan kebijakan pemerintah (Saragih 2000),
Menurut Bappenas (2004) Dipandang dari segi potensi agrosistem dan tingkat kemandirian kelompok, kawasan peternakan bisa dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: kawasan baru, kawasan binaan, dan kawasan mandiri. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketiga macam kawasan itu adalah merupakan tahapan pengusahaan pengembangan kawasan peternakan rakyat. Tahapan ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kawasan Peternakan Baru.
Kawasan ini dikembangkan dari daerah atau wilayah kosong ternak atau jarang ternak, tapi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi suatu kawasan peternakan. Petani telah memiliki usaha tani lain terlebih dahulu, atau belum memiliki usaha apapun di sektor agribisnis. Demikian pula kelompok petaninya juga belum terbentuk, kalaupun sudah ada tapi belum memiliki kelembagaan yang kuat (kelompok pemula). Lahan cukup luas dan bahan pakan cukup potensial untuk digunakan sebagai salah satu sumber makanan ternak. Peran pemerintah diperlukan dalam bentuk pelayanan, pengaturan dan pengawasan.
2. Kawasan Peternakan Binaan.
Kawasan ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari Kawasan baru, setelah memenuhi berbegai persyaratan yang ditentukan untuk kawasan binaan. Daerah atau wilayah telah berkembang sesuai dengan perkembangan dan peningkatan kemampuan kelompok tani dari kelompok pemula menjadi kelompok madya, dan masing-masing kelompok telah memiliki populasi minimal dengan skala usaha yang ekonomis. Kerjasama antar kelompok tani sudah mulai dirintis, dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA). Demikian pula unit-unit pelayanan, unit-unit pengembangan sarana dan unit-unit pemasaran, sudah mulai dibangun. Peran pemerintah sama seperti pada kawasan baru, namun peran pelayanan sudah mulai berkurang.
3. Kawasan Peternakan Mandiri.
Kawasan ini merupakan pengembangan tahap lanjut dari kawasan binaan, yang telah lebih maju dan berkembang menjadi wilayah yang lebih luas. Kelompok tani telah meningkat kemampuannya menjadi kelompok lanjut, dan telah bekerjasama dengan beberapa kelompok lain dalam wadah KUBA. Bahkan telah dikembangkan beberapa KUBA yang satu sama lainnya saling bekerja sama. Terdapat populasi minimal dengan skala usaha yang ekonomis pada setiap kepala keluarga, setiap Kelompok, setiap KUBA, dengan perkembangan populasi minimal untuk satu kawasan. Unit-unit pelayanan, unit-unit pengembangan sarana produksi, dan unit-unit pemasaran telah berkembang sangat efisien, sedemikian hingga ada kemandirian para petani ternak, kelompok petani, KUBA, dan kawasan. Pada tahap ini, peran pemerintah tinggal hanya pengaturan dan pengawasan.
Komponen-komponen pembentuk kawasan peternakan sapi potong yang menjadi indikator penentuan suatu bentuk kawasan meliputi lahan, pakan, ternak sapi potong, teknologi, peternak dan petugas pendamping, kelembagaan, aspek manajemen usaha, dan fasilitas (Priyanto 2002).
Strategi Pengembangan Kawasan Sapi Potong
Strategi merupakan rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat (Glueck and Jauch 1994). Esensi strategi merupakan keterpaduan dinamis faktor eksternal dan faktor internal yang berisikan strategi itu sendiri. Strategi merupakan respon yang secara terus-menerus atau adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal (Rangkuti 2006).
Manajemen strategi dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan dan mengevaluasi suatu keputusan sehingga mampu mencapai tujuan obyektifnya. Proses manajemen strategi terdiri atas tiga tahap yaitu perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Perumusan strategi adalah mengenali peluang dan ancaman eksternal, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal serta memilih strategi
tertentu untuk dilaksanakan. Implementasi strategi sering disebut tahap tindakan manajemen strategi dengan mengubah strategi yang telah dirumuskan menjadi suatu tindakan. Evaluasi strategi adalah tahap akhir dari manajemen strategi dengan melakukan tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi yaitu meninjau faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi, mengukur prestasi dan mengambil tindakan korektif (David 2001).
Menurut Wahyudi (1996) tahap perumusan atau pembuatan strategi merupakan tahap yang paling menantang dan menarik dalam proses manajemen strategi. Inti pokok dari tahapan ini adalah menghubungkan suatu organisasi dengan lingkungannya dan menciptakan strategi-strategi yang cocok untuk dilaksanakan. Proses pembuatan strategi terdiri atas empat elemen sebagai berikut ; (1) identifikasi masalah-masalah strategik yang dihadapi meliputi lingkungan eksternal dan internal; (2) pengembangan alternatif-alternatif strategi yang ada dengan mempertimbangkan strategi yang lain; (3) evaluasi tiap alternatif strategi; dan (4) penentuan atau pemilihan strategi terbaik dari berbagai alternatif yang tersedia.
Sejak dikeluarkannya UU No. 24 Tahun 1992 tentang tata ruang, semua kegiatan pembangunan yang menggunakan, memanfaatkan, dan mengelola sumberdaya alam yang berada di darat, laut dan udara harus disesuaikan dengan rencana penataan ruang sebagai suatu strategi nasional dalam memanfaatkan, menggunakan kekayaan sumberdaya alam, mendorong pembangunan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat secara nasional dan berkelanjutan (Ditjennak 2005). Pengembangan sapi potong merupakan upaya untuk meningkatkan produksi ternak secara kuantitas maupun kualitas, meningkatkan kecernaan bahan pakan, membangun sistem agribisnis peternakan, mengembangkan penggunaan sumberdaya tersedia, dan dapat meningkatkan nilai tambah bagi peternak sebagai pengelola usaha peternakan tersebut. Bamualim (2007) menganjurkan agar dalam pengembangan ternak di suatu daerah, perlu diukur potensi sumberdaya yang tersedia yang mencakup ketersediaan lahan dan pakan, tenaga kerja dan potensi ternak yang akan dikembangkan. Potensi lahan ditentukan oleh tersedianya tanah pertanian, kesuburan tanah, iklim, topografi, ketersediaan air, dan pola pertanian yang ada.
Gunardi (1998) menyatakan bahwa usaha untuk mencapai tujuan
pengembangan ternak dapat dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu (1) pendekatan teknis dengan meningkatkan kelahiran, menurunkan kematian,
mengontrol pemotongan ternak dan perbaikan genetik ternak, (2) pendekatan terpadu yang menerapkan teknologi produksi, manajemen ekonomi, pertimbangan sosial budaya yang mencakup dalam "Sapta Usaha Peternakan", serta pembentukan kelompok peternak yang bekerjasama dengan instansi-instansi terkait, dan (3) pendekatan agribisnis dengan tujuan : mempercepat pengembangan peternakan melalui integrasi dari keempat aspek yaitu input produksi (lahan, pakan, plasma nutfah, dan sumberdaya manusia), proses produksi, pengolahan hasil, dan pemasaran.
Menurut Preston dan Leng (1987), tujuan dasar yang harus diperhatikan
dalam pengembangan sapi potong dengan sistem usaha tani lain adalah (1) mengoptimalkan produktivitas pertanian dan peternakan dengan menggunakan
input yang tersedia, dan (2) memadukan antara beberapa jenis tanaman, ternak, limbah peternakan dan pertanian sehingga semua bagian saling memanfaatkan.
Kabupaten Raja Ampat melalui Dinas Pertanian dan Peternakan sebagai instansi teknis telah melakukan beberapa terobosan yang merupakan strategi untuk meningkatkan populasi ternak sapi potong khususnya sapi Bali. Terobosan tersebut berupa pelaksanaan program perbibitan dengan penyebaran ternak sapi Bali kepada petani di beberapa Distrik dan pembangunan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Peternakan Sapi Bali di kampung Kalobo distrik salawati Utara dengan menggunakan pola Village Breeding Center (VBC) dan kemitraan dengan para petani peternak.