HALAMAN SAMPUL
ANALISA SITUASI TUBERKULOSIS (TB)
Dalam Rangka Mempercepat Peningkatan Peran
Seluruh Pemangku Kepentingan Daerah untuk Penanggulangan TB
Tim Penulis:
Dra. Kanthi Pamungkas Sari, M.Pd Ns. Priyo, S.Kep, M.Kep Puguh Widiyanto, S.Kep, M.Kep Hendri Tamara Yudha, S.Kep, M.Kep
ii
Penulis:
Dra. Kanthi Pamungkas Sari, M.Pd Ns. Priyo, S.Kep, M.Kep
Puguh Widiyanto, S.Kep, M.Kep Hendri Tamara Yudha, S.Kep, M.Kep Isma Yuniar, S.Kep. M.Kep
Editor:
Zulfikar Bagus Pambuko, MEI.
Lay out
Andri Trismanto, S.Kom
Desain sampul:
Ahmad Arif Prasetyo, S.Kom
Penerbit:
UNIMMA PRESS
Gedung Rektorat Lt. 3 Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang Jl. Mayjend. Bambang Soegeng, Mertoyudan, Magelang 56172
Telp. (0293) 326945
E-Mail: [email protected]
Hak Cipta dilindungi Undang-undang All Right Reserved
Cetakan I, Juni 2018
ANALISA SITUASI TUBERKULOSIS (TB)
ISBN:ͻͺǦͲʹǦͷͳͻ͵ͻǦͺǦͻ Hak Cipta 2018 pada Penulis
iii
KATA PENGANTAR
Monograf ini merupakan hasil penelitian Analisis Situasi Tuberkolusis (TB) di Kebumen, yang dilaksanakan dalam rangka mempercepat peningkatan peran seluruh pemangku kepentingan daerah untuk penanggulangan TB. Penelitian yang difasilitasi oleh Community TB Care Aisyiyah; Majelis Pendididikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Magelang dan Stikes Muhammadiyah Gombong.
Analisa Situasi TB ini bertujuan mendapatkan data dan melakukan analisa mengenai kondisi penyakit TB, kebijakan terkait TB, penganggaran daerah untuk penanggulangan TB, kondisi layanan termasuk akses terhadap layanan kesehatan terkait TB, dan para pemangku kepentingan dalam penanggulangan TB. Selain itu juga untuk mengidentifikasi isu-isu dan beberapa kemungkinan dalam rangka menguatkan penanggulangan TB di Kabupaten Kebumen.
Kombinasi metode yang digunakan terdiri dari Analisa Profil, Disability Adjusted Life Year (DALY), Root Cause Analysis (RCA), dan Analisa Peran. Adapun proses penyusunan melalui tiga tahapan yaitu: 1) asesmen, 2) analisa, dan 3) action.
Semoga karya ilmiah yang dituangkan dalam monograf ini dapat memberikan pertimbangan yang berarti dalam penanggulangan TB di daerah.
Magelang, 20 Mei 2018
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 5
C. Proses Penyusunan ... 5
D. Manfaat ... 6
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH ... 7
A. Wilayah Geografis ... 7
B. Keadaan Demografi ... 10
C. Keadaan Ekonomi dan Lingkungan ... 14
D. Sumber Daya Kesehatan ... 16
E. Anggaran dan Kebijakan Pemerintah tentang TB Paru ... 18
F. Prevalensi Penderita TB Paru ... 21
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
A. Tinjauan Situasi... 24
B. Analisa... 25
C. Rekomendasi Aksi dan Advokasi ... 26
BAB IV HASIL ANALISA SITUASI ... 27
A. Tinjauan Situasi... 27
B. Analisa Situasi ... 29
C. Analisa Peran ... 45
BAB V REKOMENDASI RENCANA DAN ADVOKASI ... 46
A. Rekomendasi Rencana Aksi Utama ... 46
v
C. Rekomendasi Rancangan Program ... 57
BAB VI PENUTUP ... 64
A. Analisa Profil ... 64
B. Analisa DALY ... 64
C. Analisa RCA ... 64
D. Analisa Peran ... 66
E. Rekomendasi... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 67
DAFTAR SINGKATAN ... 68
vi
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar II.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun
2011, 2012, 2013 di Kabupaten Kebumen
11
Gambar II.2. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke atas Melek Huruf dan Berpendidikan Tertinggi SMP+ di Kabupaten Kebumen
Tahun 2011, 2012, 2013
13
Gambar II.3. Persentase Rumah Tangga ber PHBS dan Rumah Sehat di Kabupaten Kebumen Tahun 2011, 2012, dan 2013
15
Gambar II.4. Program unggulan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen tahun 2013
19
Gambar IV.1. RCA Penemuan Kasus TB Paru di Bawah Standar
33
Gambar IV.2. RCA Succes Rate di Bawah Standar 38 Gambar IV.3. RCA Kematian Akibat TB 43 Gambar V.1. Pemetaan Jaringan Stakeholders Prioritas
Pertama
54
Gambar V.2. Pemetaan Jaringan Stakeholders Prioritas Kedua
55
Gambar V.3. Pemetaan Jaringan Stakeholders Prioritas Ketiga
56
Gambar V.4. Pemetaan Jaringan Stakeholders Prioritas Keempat
vii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel II.1. Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah
Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Kabupaten Kebumen Tahun 2013
8
Tabel II.2. Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten serta Fasilitas Angkutan Umum yang Tersedia
9
Tabel II.3. Tiga Kecamatan Terpadat di Kabupaten Kebumen Tahun 2011, 2012, 2013
12
Tabel II.4. Jumlah Sumber Daya Kesehatan di Kabupaten Kebumen Tahun 2011, 2012, dan 2013
17
Tabel II.5. Alokasi Anggaran Kesehatan Kabupaten Kebumen berdasarkan Sumber Dana tahun 2011, 2012, dan 2013
20
Tabel II.6. Jumlah Kasus Baru TB Paru dan Kematian akibat TB Paru menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Puskesmas Kabupaten Kebumen tahun 2013
22
Tabel IV.1. Matrik Prioritas Masalah TB Paru Kabupaten Kebumen
28
Tabel IV.2. Angka Insiden, Prevalensi, Kematian, Kasus Klinis, BTA+, Pengobatan, CDR dan Succes Rate TB Paru di Kabupaten Kebumen Tahun 2011, 2012, 2013
30
Tabel IV.3. Kerugian Ekonomi karena TB Paru Kabupaten Kebumen 2013
31
Tabel IV.4. Analisa Kesenjangan Kapasitas Pemegang Peran Penderita TB, Keluarga-PMO, Stakeholders, Petugas Kesehatan dan Dinkes/ Bapeda/ Bupati/ DPRD Terhadap Wewenang – Tanggungjawab – Sumberdaya
45
Tabel V.1. Rekomendasi Rencana Aksi Utama 50 Tabel V.2. Pemetaan Jaringan Stakeholders berdasarkan
pada Skema Prioritas
53
viii
Tabel V.4. Matrix Logframe Perbaikan Program Penanggulangan TB Kabupaten Kebumen
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) merupakan penyebab kematian utama di banyak negara-negara berkembang. Diperkirakan sekitar 2,7 juta jiwa meninggal karena TB setiap tahunnya di seluruh dunia. Jumlah wanita usia reproduktif yang meninggal karena TB lebih banyak dari sebab-sebab yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Oleh karena TB banyak dijumpai pada golongan usia produktif (15-59 tahun) penyakit ini bertanggungjawab atas 2 hingga 4 dari beban penyakit nasional di banyak negara berkembang. Di negara maju, kecenderungan kesakitan dan kematian karena TB Paru yang selama ini menurun, mulai tahun 1980an menunjukan kenaikan terutama di negara dengan banyak kasus infeksi HIV/AIDS. Sejak tahun 1989 muncul wabah “multi-drug resistant” pada penderita TB Paru yang banyak dikaitkan dengan tingkat kematian tinggi. Hampir dua dekade terakhir penanggulangan TB seolah-olah dilalaikan masyarakat karena tidak termasuk dalam program prioritas
TB adalah masalah kesehatan dimana Indonesia cukup memberikan kontribusi ke tingkat dunia. Dibuktikan dengan saat ini berada pada peringkat empat dengan beban TB tertinggi dunia, yaitu setelah China, India, dan Afrika Selatan. Per tahun 2012 angka prevalensi TB Paru adalah 730.000/tahun atau berarti menjadi 83 kasus baru per jam dan angka kematian akibat TB sebesar 67.000 orang/tahun atau 8 kematian akibat TB perjam.
2
0,2%. Sejumlah 12 provinsi telah dinyatakan sebagai daerah prioritas untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia sekitar 190.000-400.000. Estimasi nasional prevalensi HIV pada pasien TB adalah 2.8%. Angka MDR-TB diperkirakan sebesar 2% dari seluruh kasus TB baru dan 20% dari kasus TB dengan pengobatan ulang. Diperkirakan terdapat sekitar 6.300 kasus MDR TB setiap tahunnya.
Strategi Nasional program pengendalian TB dengan visi “Menuju Masyarakat Bebas Masalah TB, Sehat, Mandiri dan Berkeadilan”. Strategi tersebut bertujuan mempertahankan kontinuitas pengendalian TB Paru periode sebelumnya. Untuk mencapai target yang ditetapkan dalam strategi nasional, telah disusun delapan Rencana Aksi Nasional yaitu : 1) Public- Private Mix untuk TB; 2) Programmatic Management of Drug Resistance TB; 3) Kolaborasi TB-HIV; 4) Penguatan Laboratorium; 5) Pengembangan Sumber Daya Manusia; 6) Penguatan Logistik; 7) Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial; dan 8) Informasi Strategis TB .
Rencana Aksi nasional tersebut menjadi ujung tombak Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014. Kementerian Kesehatan telah merumuskan enam strategi utama, meliputi:
1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif
3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional;
4. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu;