BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Pendidikan menjadi hal yang sangat fundamental bagi kehidupan sesorang, dengan pendidikan yang baik maka akan baik pula pola pikir dan sikap sesorang. Pendidikan yang baik terbentuk dari pola dan sistem pendidikan yang baik pula. Sistem dan pola pendidikan yang baik terwujud dengan kurikulum yang baik.
Di Indonesia sendiri, pengertian kurikulum terdapat dalam Pasal 1 butir 19 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu kurikulum adalah adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia meliputi empat keterampilan berbahasa dan satu apresisasi. Keempat keterampilan berbahasa itu adalah menulis, berbicara, membaca, dan menyimak. Sedangkan apresiasi adalah mengapresiasi bahasa dan sastra Indonesia. Keempat aspek keterampilan tersebut terdiri atas materi kebahasaan dan kesastraan. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMP/ MTs materi sastra tidak diajarkan secara terpisah tetapi menyatu dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan alokasi waktu empat jam pelajaran dalam 40 menit setiap minggu.
Kenyataannya seiring dengan perkembangan waktu pembelajaran sulit dilakukan karena adanya beberapa kendala. Kendala-kendala ini dapat berasal dari siswa sendiri maupun dari seorang guru itu sendiri. Misalnya terlalu banyaknya materi yang harus dikuasai oleh siswa sehingga tidak setiap materi bisa tersampaikan dengan baik, belum lagi persoalan guru yang kurang berdedikasi terhadap mata pelajaran yang dia ampu, beban belajar siswa dan termasuk guru terlalu berat sehingga waktu belajar di sekolah terlalu lama, termasuk parahnya lagi kurangnya pemahaman guru terhadap kurikulum.
Bahasa merupakan alat komunikasi. Berbahasa terjadi karena adanya interaksi sosial seseorang terhadap orang lain. Namun, tidak setiap orang dapat berinteraksi secara spontanitas. Terkadang seseorang melakukan kesalahan dalam berbahasa. Kesalahan dalam berbahasa ini terbagi menjadi dua, yakni kesalahan dalam ucapan atau tulisan.
diraih dengan melakukan kegiatan berbahasa. Dalam pembelajaran itu, ada empat aspek keterampilan yang harus dikuasai, ada keterampilan menyimak/mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara. Semua aspek keterampilan tersebut memiliki ranah sendiri-sendiri. Namun, keempat keterampilan tersebut selalu berkaitan antara yang satu dengan yang lain.
Dalam pembelajaran keterampilan berbahasa di sekolah, siswa dibekali untuk dapat berkomunikasi dengan baik, terutama dalam hal menulis. Namun, kenyataannya selama ini para siswa merasa kesulitan dalam membuat suatu tulisan sehingga malas dalam mengikuti pembelajaran menulis. Peran guru sebagai fasilitator dan motivator perlu dikedepankan untuk memecahkan masalah tersebut. Guru harus mencari suatu metode yang memudahkan siswa dalam membuat suatu tulisan. Oleh karena itu, berbagai metode perlu diterapkan, seperti metode langsung, metode komunikatif, metode konstruktivistik, dan sebagainya.
Namun disamping kendala-kendala itu tadi mestinya dapat diantisipasi dengan adanya kreativitas, inovasi, dan pengembangan bahan ajar, terutama dilakukan oleh seorang guru. Dengan demikian, pembelajaran ini tidak terhambat yang nantinya juga akan merugikan peserta didik.
Dalam arti sederhana, menulis atau mengarang itu berarti mencoret-coret dengan alat tulis pada lembaran kertas, papan tulis atau pada alat sejenisnya. Dalam hal ini, menulis tersebut belum tentu menghasilkan tulisan atau karangan yang teratur dan mengandung suatu kesatuan ide atau tujuan yang ingin dicapai, tetapi kegiatan itu hanya sekedar penyaluran gerakan motoris tangan dalam bentuk coreng-moreng yang tidak teratur, seperti yang terlihat pada kebiasaan anak-anak kecil.
Pembelajaran keterampilan menulis termasuk kategori sulit. Kesulitan itu bukan hanya dialami oleh siswa, tetapi juga pelaksanaan pembelajaran oleh guru. Ada anggapan bahwa keterampilan menulis hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu saja. Tidak semua orang dapat memiliki keterampilan tersebut, begitulah anggapan itu menjadi pegangan. Akibatnya, menulis benar-benar dianggap sulit dibandingkan dengan ketiga keterampilan berbahasa lainnya.
harus ditempuh dalam kegiatan menulis. Jadi ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai keterampilan menulis yakni pengetahuan kebahasaan untuk dapat menyusun tulisan dan waktu berlatih untuk menulis yang cukup, termasuk dalam menulis sebuah naskah drama.
pembelajaran menulis drama, masih banyak pula yang dijumpai siswa yang kesulitan untuk memulai menulis ide naskah drama, yang mana penyebabnya itu karena terbatasnya sumber belajar untuk pembelajaran menulis cerita drama di Sekolah Menengah Pertama (SMP) juga termasuk kendala dalam pembelajaran sastra.
Kita lupa bahwa kesuksesan seorang artis tidak terlepas dari orang-orang yang bekerja di balik layar. Kita lupa bagaimana artis dapat memerankan peran sehebat itu karena arahan sutradara dan kerja sama crew film/ teater yang solid. Dan kita enggan pula mencari tahu siapa yang menuliskan cerita drama (film) tersebut sehingga penonton dibuat penasaran, emosi, kita dibuat berkecamuk, dan terngiang-ngiang selalu ceritanya.
Dari hasil studi pendahuluan dan juga pengalaman peneliti selama ini dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis siswa masih rendah meskipun guru selama ini sudah berusaha untuk membantu dan mendampingi siswa dalam proses menulis dan juga telah menerapkan berbagai metode pembelajaran.
peserta didik. Pembelajaran materi bahan ajar yang disajikan berupa teori, sebagai akibatnya peserta didik tidak dapat membuat hubungan antara apa yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan akan digunakan, dengan demikian, peserta didik menjadi tidak tertarik/ berminat dalam pembelajaran menulis teks naskah drama, atau bahakan peserta didik akan mengatakan kalau menulis teks naskah drama itu sangatlah sulit.
Oleh karena itu, untuk menjadikan pembelajaran menulis teks naskah drama lebih diminati, mudah, dan menyenangkan, tentunya tidak lepas dari pengalaman dan lingkungan hidup siswa sehari-hari.
Dengan mengacu pada kondisi yang yang terjadi dalam pembelajaran menulis di SMP penting dilakukan terobosan dalam upaya yang lain untuk mengatasi permasalahan ini. Peneliti melihat perlunya jembatan yang mampu menghubungkan berbagai permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran. Jika guru merasakan beban materi yang cukup banyak dengan waktu yang sebenarnya cukup, tapi masih saja terdapat kesulitan dalam menyusun sebuah teks drama langsung jadi oleh peserta didik, sehingga pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan menyampaikan teori dan tanya jawab tanpa banyak melakukan kegiatan praktik di mana di sisi lain siswa merasa selama ini mereka tidak punya cukup waktu untuk berlatih, maka perlu dikembangkan sebuah cara yang mampu menjembatani kondisi tersebut.
naskah drama, meningkatkan kemampuan atau hasil belajar siswa pada kompetensi dasar menulis kreatif naskah drama.
Pengembangan bahan ajar ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik agar dapat belajar lebih mandiri secara terbimbing atau tertuntun terutama dalam kegiatan menulis kreatif naskah drama, sehingga jika guru merasa siswa memiliki keterbatasan waktu untuk melakukan praktik menulis kreatif naskah drama di kelas, mereka bisa melakukan dengan bantuan bahan ajar atau modul yang disusun sesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran.
Bahan ajar yang dikembangkan untuk pembelajaran menulis kretif naskah drama adalah bahan ajar menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran berbasis proyek merupakan pembelajaran yang menekankan pada pembelajaran mandiri, agar siswa dapat melakukan pengamatan, bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan sendiri, yang nantinya kesemuanya ini juga dari, oleh, dan untuk mereka sendiri selaku peserta didik.
Pembelajaran berbasis proyek adalah merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari masalah yang ada. Siswa dengan kemampuan berpikir secara kritis dan analisis cenderung akan lebih mampu menemukan suatu hal yang baru dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dilakukan guru dengan mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai bagian dari keluarga maupun masyarakat.
B.Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah kebutuhan bahan ajar menurut guru dan siswa yang
dikembangkan untuk pembelajaran menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual di SMP kelas VIIII ?
2. Bagaimanakah pengembangan prototype / kelayakan bahan ajar menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual pada SMP kelas VIIII ?
3. Bagaimanakah respon ahli dan siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual yang telah dikembangkan ?
4. Apakah bahan ajar menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual yang dikembangkan efektif ?
C.Tujuan Pengembangan
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:
1. Merumuskan kebutuhan bahan ajar menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual menurut guru dan siswa di SMP Kelas VIIII.
3. Mengetahui repon ahli dan siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual yang telah dikembangkan.
4. Mengetahui keefektifan penggunaan bahan ajar menulis kreatif naskah
drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual pada siswa SMP kelas VIIII.
D.Manfaat Penelitian Pengembangan 1. Manfaat Teoretis
a. Bahan ajar menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual di SMP kelas VIII dapat memberikan sumbangan terhadap teori pembelajaran khususnya pengembangan kompetensi dalam menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual.
b. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, khususnya pelajaran bahasa Indonesia di SMP.
2. Manfaat Praktis a. Guru
1) Hasil penelitian ini menawarkan salah satu alternatif bahan ajar untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP. 2) Memberi solusi kesulitan bahan ajar bahasa Indonesia sesuai
3) Meningkatkan kualitas pembelajaran yang bervariatif, inovatif, dan kreatif.
b. Siswa
1) Terciptanya suasana belajar yang menyenangkan.
2) Menumbuhkan kreativitas dan inivatif siswa dalam menyikapi masalah di sekitarnya.
3) Tumbuhnya rasa empati dan partisipasi aktif dalam membantu masyarakat untuk mengatasi masalah yang ada di sekitar siswa.
4) Melatih siswa agar terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
c. Penulis
1) Dapat mengetahui keefektifan bahan ajar yang dikembangkan. 2) Menambah wawasan penulis.
3) Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman menyusun bahan ajar sesuai kebutuhan dan kemampuan siswa, guru, dan sekolah. d. Peneliti Berikutnya
1) Menggunakan hasil penelitian ini sebagai dasar penelitian berikutnya. 2) Dapat memperluas dan mendalami penelitian sejenis pada masa
mendatang baik dari aspek substansi maupun desain penelitian. e. Pengambil Kebijakan
E. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Produk pengembangan dalam penelitian ini berupa modul. Modul adalah sebuah bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka, agar mereka dapat belajar sendiri (mandiri) dengan bantuan atau bimbingan yang minimal dari pendidik.
Produk pengembangan berupa modul menulis kreatif naskah drama yang berpedoman pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2016) yang di dalamnya terdapat Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
Modul menulis kreatif naskah drama ini secara garis besar berisi: judul/ identitas, pendahuluan, peta konsep, petunjuk balajar, materi pembelajaran, altihan-latihan, evaluasi (dalam bentuk proyek), rubrik penilaian, dan LKS, yang diharapkan dapat menjadi bahan ajar mandiri bagi siswa di luar kelas dan dapat membantu siswa memcahkan permasalahan terkait dengan penulisan kreatif naskah drama malaui interaksi dengan lingkungannya agar lebih mudah menemukan dan mengembangkan ide menulsinya.
F. Pentingnya Pengembangan
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pembalajaran menulis di sekolah adalah perbaikan proses pembelajaran menulis. Berbagai konsep
mengajar yang dilakuakan oleh siswa dan guru dengan penekanan pada penciptaan kondisi belajar menulis untuk mencapai kompetensi dasar menulis yang ditentukan dengan pembelajaran berpusat pada siswa dan pemanfaatan media belajar.
Pengembangan bahan ajar menulis kreatif naskah drama ini dilatarbelakangi karena pada umumnya siswa belum belum mampu membuat tulisan atau karangan, apalagi pembelajaran menulis ini dilakukan pada siswa SMP kelas VIII, tentu dalam pembelajarannya ini mengalami kesulitan dalam menulis sebuah kreatif naskah drama sebagai salah satu kompetensi yang harus mereka kuasai dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Kesulitan ini disebabkan (a) kurangnya minat dan pemahaman siswa terhadap aktivitas menulis, (b) kurangnya aktivitas siswa dalam melakukan penjelajahan terhadap tulisan melalui membaca atau menyimak secara langsung, (c) kurangnya kesempatan umtuk mengidentifikasi unsur-unsur tulisan dalam diskusi kelompok, (d) kurangnya kesempatan siswa mendemonstrasikan atau menuliskan karyanya secara langsung dan mendikusikannya dengan teman-teman dan guru, (e) kurangnya kesempatan siswa untuk memperbaiki kembali karyanya, dan (f) kurangnya pengakuan hasil kerja keras siswa dari teman-teman dan guru.
berbagi pengalaman dengan teman sejawat maupun guru dalam belajar menulis. Padahal dengan bekal menulis, siswa diharapkan dapat menambah bekal dan rasa percaya diri untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
Oleh karena itu diperlukan sebuah langkah strategis untuk menjembatani kondisi ini salah satunya adalah dengan membuat bahan ajar (modul) menulis kreatif naskah drama yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa belajar mandiri namun tetap terbimbing dalam melakukan praktik menulis kreatif naskah drama, sehingga alasan keterbatasan waktu dan muatan materi yang banyak dapat teratasi dengan siswa dapat mempelajari modul yang dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan belajar yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, pengembangan mengembangan modul menulis kreatif naskah drama yang mudah dan menyenangkan bagi peserta didik menjadi sangat diperlukan. Modul ini diberi nama “Modul menulis kreatif
naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual.”
G.Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan 1. Asumsi
khususnya di SMP Muhammadiyah Ajibarang, sebagai pilihan penggunaan bahan ajar dalam pembelajaran menulis kreatif naskah drama yang sesuai dengan Kurikulum, (3) Di SMP Negeri 1 Ajibarang sebagai sekolah percontohan belum menggunakan modul pembelajaran menulis kreatif naskah drama.
2. Keterbatasan Pengembangan
Penelitian pengembangan ini, menghasilkan produk bahan ajar berupa modul. Namun demikian, dalam pengembangannya modul ini memiliki keterbatasan pengembangan. Adapun keterbatasannya yaitu (1) modul menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual dikembangkan dari salah satu Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (2) Modul menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual dinilai oleh ahli materi, isi, bahasa, guru bahasa Indonesia, dan guru TIK untuk memberi masukan, (3) madul menulis kreatif naskah drama berbasis proyek dengan pendekatan kontekstual yang telah peneliti kembangkan sebagai produk penelitian pengembangan diimplementasikan di SMP Negeri 1 Ajibarang pada kelas VIII.
H.Definisi Istilah
1. Pengembangan
Pengembangan adalah proses penyusunan bahan ajar (modul) yang memenuhi kriteria mudah, menyenangkan, praktis, dan efektif. Model pengembangan bahan ajar yang digunakan dalam penelitian ini adalah ada 10 langkah namun demikian, menurut Borg and Gall kesepuluh langkah penelitian itu dapat disederhanakan menjadi lima langkah utama yaitu (1) Melakukan analisis produk yang akan dikembangkan, (2) Mengembangkan produk awal, (3) Validasi ahli dan revisi, (4) Uji coba lapangan skala kecil dan revisi poduk, dan (5) uji coba lapangan skala besar dan produk akhir.
2. Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan komponen pembelajaran yang digunakan oleh guru sebagai bahan belajar bagi siswa dan membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
3. Modul
sebagai sarana belajar yang bersifat mandiri, sehingga peserta didik dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan masing-masing. 4. Menulis
Menulis adalah aktivitas mengemukakan gagasan melalui media bahasa. Aktivitas yang pertama menekankan unsur bahasa, sedang yang kedua gagasan.
5. Naskah Drama
Naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan. Drama adalah komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan.
6. Berbasis Proyek
Projek Based Learning (PBL) atau model pembelajaran berbasis
proyek (PBP) merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/ kegiatan sebagai media.
7. Contextual Teaching and Learning (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar di