BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Menurut Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional (pasal 1 ayat 1), pendidikan yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk masa yang akan datang.
Undang – Undang Dasar 1945 dengan tegas telah mengatur pentingnya pendidikan bagi warga negara Republik Indonesia. UUD 1945 Pasal 31 a berbunyi : “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran” sedangkan pasal 31 b berbunyi :”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”. Amanat undang -undang ini jelas menggambarkan bahwa pendidikan itu memiliki manfaat yang cukup besar sehingga menjadi hak setiap warga negara untuk mendapatkannya dan menjadi kewajiban bagi negara untuk menyelenggarakannya.
Dalam Robinson Torigan (2006) menyebutkan bahwa:
1. Pendidikan merupakan sembarang proses yang dipakai individu untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan, atau mengembangkan sikap-sikap
2. Pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis dan intensional, dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pendidkan tertentu.
Definisi lain dikemukakan oleh Carter V. Good seperti dikutip dari (Robinson Torigan, 2006) pendidikan aalah
1. Proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakat.
2. Proses sosial di mana seseorang dipengaruhi oleh suatu lingkungan yang terpimpin (misalnya sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan pribadinya.
2. Tujuan Serta Pentingnya Pendidikan
Pendidikan sangat penting dalam kehidupan masyarakat dari suatu bangsa dan negara. Melalui pendidikan yang diupayakan suatu bangsa atau negara dapat mencapai cita- cita dan tujuan hidupnya sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup negara yang dianutnya. Dengan kata lain bahwa pendidikan merupakan sarana yang tepat untuk mencapai tujuan hidup suatu bangsa atau negara.
dan keterampilan, kesejahteraan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
Penjelasan diatas dengan jelas bahwa begitu pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia. Pendidikan merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan status sosial ekonomi keluarga. Terpenuhnya pendidikan seseorang merupakan modal untuk mengubah status sosial ekonominya agar menjadi lebih baik.
B. Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan pembangunan nasional, karena dalam pembangunan nasional itu diperlukan manusia – manusia yang berkualitas dalam segala hal. Dari sini dapat dilihat betapa pentingnya pendidikan, tetapi tidak semua manusia dapat mengenyam pendidikan. Hal ini dikarenakan salah satu penyebabnya adalah ekonomi. Masyarakat yang ekonominya tidak mampu sulit mendapatkan pendidikan karena diperlukan biaya yang tidak sedikit.
Tingginya rata-rata tingkat pendidikan masyarakat sangat penting bagi kesiapan bangsa menghadapi tantangan global di masa depan (Basrowi dan Siti Juariyah 2010). Pendidikan yang tinggi tidak mudah didapat bagi anak, terutama didaerah pedesaan, banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut antara lain berasal dari orang tua.
lebih dapat dikategorikan ke dalam dua variabel,variabel struktural dan variabel proses. Yang dikategorikan variabel struktural anatara lain latar belakang status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan orang tua. Sedangkan variabel proses adalah perilaku orang tua dalam memberikan perhatian dan bantuan kepada anaknya dalam belajar.
Menurut Undang – Undang RI No. 20 Tahun 2003 pasal 1, jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Jenjang pendidikan seseorang akan mempengaruhi pandangan terhadap suatu yang datang dari luar. Orang yang mempunyai pandangan luas akan memberikan pandangan yang rasional daripada orang yang berpendidikan lebih rendah atau tidak berpendidikan sama sekali.
1. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program tahunan terdiri atas Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), sedangkan bentuk satuan program 3 tahun sesudah 6 tahun adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat (Undang – undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Pasal 7).
2. Pendidikan Menengah
pendidikan menengah terdiri dari atas Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan bentuk lain yang sederajat (Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Pasal 18).
3. Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi disebut Perguruan Tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas (Undang – Undang Sistem pendidikan nasional No. 20 Tahun 2003, pasal 19 dan 20).
C. Kesejahteraan Keluarga
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kesejahteraan merupakan kata benda yang mempunyai arti hak atau keadaan sejahtera, keamanan dan keselamatan dan ketentraman. Kata sejahtera merupakan kata sifat yang memiliki arti aman sentosa dan makmur, serta selamat (terlepas dari segala macam gangguan).
Menurut Undang – Undang Nomor 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, “kesejahteraan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual,
berhubungan dengan adanya lapangan pekerja, peluang dan kondisi usaha, dan faktor ekonomi lainnya. Kesempatan kerja dan kesempatan berusaha diperlukan agar masyarakat mampu memutar roda perekonomian yang pada akhirnya mampu meningkatkan jumlah pendapatan yang diterima.
Berdasarkan definisi tentang kesejahteraan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan adalah suatu keadaan terpenuhinya segala kebutuhan hidup baik material maupun non-material, yang dapat diukur dengan adanya pemerataan pendapatan, pendidikan yang mudah dijangkau, dan kualitas kesehatan yang semakin meningkat dan merata, sehingga dapat membuat seseorang merasa aman, sentosa, makmur, dan selamat.
Kesejahteraan keluarga adalah suatu kondisi dinamis keluarga dimana terpenuhi semua kebutuhan fisik materil, mental spiritual dan sosial, yang memungkinkan keluarga dapat hidup wajar sesuai dengan lingkungannya serta memungkinkan anak-anak tumbuh kembang dan memperoleh perlindungan yang diperlukan untuk membentuk sikap mental dan kepribadian yang mantap dan matang sebagai sumber daya manusia yang berkualitas (BAPPERMASKB : 2010/2011 dalam Praja : 2014).
hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat dan lingkungan (BAPPERMASKB : 2010/2011 dalam Praja 2014).
1. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan
a. Faktor intern keluarga 1. Jumlah anggota keluarga
Pada zaman seperti sekarang ini tuntutan keluarga semakin meningkat. Tidaknya hanya cukup dengan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, pendidikan dan sarana pendidikan), tetapi juga kebutuhan lainnya seperti hiburan, rekreasi, sarana ibadah, sarana untuk transportasi dan lingkungan yang serasi. Kebutuhan di atas akan lebih baik memungkinkan dapat terpenuhi jika jumlah anggota keluarga berjumlah kecil.
2. Tempat tinggal
Suasana tempat tinggal sangat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Keadaan tempat tinggal yang diatur sesuai dengan selera keindahan penghuninya, akan lebih menimbulkan suasana yang tenang dan menggembirakan serta menyejukkan hati. Sebaliknya tempat tinggal yang tidak teratur tidak jarang menimbulkan kebosanan untuk menempati.
3. Keadaan sosial keluarga
4. Keadaan ekonomi keluarga
Ekonomi dalam keluarga meliputi keuangan dan sumber – sumber yang dapat meningkatkan taraf hidup anggota keluarga (BKKBN, 1994 dalam Praja : 2014). Jadi, semakin banyak sumber – sumber keuangan atau pendapatan yang diterima maka akan meningkatkan taraf hidup keluarga.
b. Faktor Ekstern Keluarga
Kesejahteraan keluarga perlu dipelihara dan terus dikembangkan. Terjadinya kegoncangan dan ketegangan jiwa diantara anggota keluarga perlu dihindarkan, karena hal ini dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan kehidupan dan kesejahteraan keluarga.
Faktor yang dapat mengakibatkan kegoncangan jiwa dan ketentraman batin anggota keluarga yang datangnya dari luar lingkungan keluarga antara lain : 1. Faktor manusia, yaitu iri hati dan fitnah, ancaman fisik, pelanggaran norma. 2. Faktor alam, yaitu bahaya alam, kerusuhan dan berbagai macam virus
penyakit.
3. Faktor ekonomi negara, yaitu pendapatan tiap penduduk atau income perkapita rendah, inflasi.
D. Tingkat Kesejahteraan
tergantung dari besarnya kepuasan yang diperoleh dari hasil mengkonsumsi pendapatan tersebut.
Gambaran tentang cara yang lebih baik untuk mengukur kesejahteraan dalam sebuah rumah tangga mengingat sulitnya memperoleh data yang akurat. Cara yang dimaksud adalah dengan menghitung pada konsumsi rumah tangga (Danhartani, Eka Radiah, dan Usamah Hanafie, 2012).
Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional2000 (Danhartani, Eka Radiah, dan Usamah Hanafie 2010), membagi tingkat kesejahteraan keluarga atas batasan / pengertian keluarga miskin dengan alasan ekonomi, yaitu :
1. Keluarga pra sejahtera, apabila keluarga tersebut dikategorikan sebagai keluarga miskin, yaitu apabila karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
a. Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sekali atau lebih.
b. Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk dirumah, bekerja / sekolah dan berpergian.
c. Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah.
2. Keluarga sejahtera I, apabila keluarga tersebut diategorikan sebagai keluarga miskin, yaitu keluarga yang karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
a. Anggota keluarga melaksanakan ibadah agama.
b. Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.
d. Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah.
e. Anak sakit atau PUS ingin berKB dibawa kesarana kesehatan. 3. Keluarga sejahtera II, dengan indikator sebagai berikut : a. Indikator keluarga sejahtera I.
b. Anggota keluarga melaksanakan ibadah agama secara teratur. c. Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging / telur / ikan.
d. Setahun terakhir anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.
e. Luas lantai rumah paling kurang 8 m² untuk tiap penghuni.
f. Tiga bulan terakhir anggota keluarga dalam keadaan sehat dan dapat melaksanakan tugas / fungsi masing – masing.
g. Ada anggota keluarga umur 15 tahun keatas berpenghasilan tetap. h. Anggota keluarga umur 10 - 16 tahun bisa baca tulis latin.
i. Anak umur 7 – 15 tahun bersekolah.
j. PUS dengan anak hidup 2 atau lebih saat ini memakai kontrasepsi.
4. Keluarga sejahtera III, yaitu keluarga yang memenuhi indikator sebagai berikut :
a. Indikator keluarga sejahtera II.
b. Keluarga berupaya meningkatkan pengetahuan agama. c. Sebagian keluarga ditabung.
d. Kebiasan keluarga makan bersama paling kurang satu kali dan dimanfaatkan untuk komunikasi.
f. Keluarga berekreasi diluar rumah paling kurang sekali dalam enam bulan. g. Keluarga memperoleh dari surat kabar / radio / TV / majalah.
h. Anggota keluarga mampu memanfaatkan sarana transportasi setempat. 5. Keluarga III plus, yaitu dengan indikator sebagai berikut :
a. Indikator keluarga sejahtera III
b. Keluarga secara teratur dengan sukarela memberikan sumbangan materi untuk kegiatan sosial.
c. Ada anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan yayasan institusi masyarakat.
1. Pengertian Buruh
Dari berbagai sumber definisi buruh bukan hanya pekerja kasar pabrik, tapi juga semua orang yang bekerja di bawah perintah kekuasaan orang lain dan menerima upah. Jadi pegawai negeri sipil maupun eksekutif pun sebenarnya adalah buruh juga. Tapi definisi ini sengaja dikaburkan dijaman Orde Baru sebagai upaya pengkotak – kotakan dan pemecah belahan, sehingga definisi terpecah menjadi buruh, pekerja, pegawai, kaum professional, dsbnya. Tujuannya supaya kekuatan buruh tidak bersatu sehingga tidak bisa mempengaruhi kekuasaan politik penguasa saat itu.
Di Indonesia, pada tataran praksis ketika kita berbicara tentang buruh, maka yang dimaksud adalah pekerja “berkerah biru” (blue collar) yang selalu diidentikan dengan kemiskinan, kumuh, untuk makan harus “gali lobang tutup lobang”, termarginalkan. Buruh inilah yang kemudian dilihat dari tingkat
kesejahteraan berada pada level bawah masyarakat.
Tenaga kerja atau pekerja adalah tiap orang yang melakukan pekerjaan baik dalam hubungan kerja maupun di luar hubungan kerja yang bisanya disebut dengan buruh bebas mislanya seorang dokter yang membuka pintu praktek, pengacara, penjual koran / majalah, di pinggir jalan, petani, yang menggarap lahannya sendiri. Tenaga kerja / buruh ini disebut dengan istilah pekerja. Karyawan ialah setiap orang yang melakukan kerja / pekerjaan seperti karyawan toko, karyawan buruh, karyawan perusahaan dan karyawan angkatan bersenjata, mereka ini disebut dengan istilah tenaga kerja.
belah pihak, baik lisan maupun tertulis, yang biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian (Praja : 2014).
E. Penelitian Yang Relevan
Berdasarkan dasar teori diatas, maka penelitian yang relevan yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Novi Arzaqa Hadi Praja (2014) bertujuan untuk mengetahui
a. Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan buruh penambang pasir di Desa Kaliori Kecamatan Kalibogor Kabupaten Banyumas.
b. Untuk mengetahui perbedaan pendapatan pada musim kemarau dan musim penghujan.
Teknik pengambilan sampelnya menggunakan Total Sampling. Untuk pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi dan metode angket. Analisis datanya menggunakan korelasi. Hasil penelitiannya adalah
1) Tingkat kesejahteraan buruh penambang pasir serayu di Desa Kaliori Kecamatan Kalibogor Kabupaten Banyumas > 80% sejahtera II.
2) Terdapat perbedaan pendapatan pada musim hujan dan musim kemarau. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Teguh Santoso (2015) bertujuan untuk
mengetahui :
a. Untuk mengetahui kesejahteraan penambang batu gamping.
Teknik pengambilan sampelnya menggunakan purposif sampling (penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu). Untuk pengumpulan datanya menggunakan Kuisoner (Angket) dan Dokumentasi. Analisis datanya menggunakan tabel frekuensi dan tabulasi silang. Hasil penelitiannya adalah kajian tingkat kesejahteraan penambang batu gamping dan pendidikan anak di Desa Darmakraden Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas dalam tahaf sejahtera.
Tabel 2.1 Hasil Peneliti yang Relevan No Nama
dan Tahun
Judul Penelitian
Tujuan Penelitian Metode Penelitian
Hasil
1. Novi Arzaqa Hadi Praja (2014)
kajian tingkat kesejahteraan buruh
penambang pasir serayu di Desa Kaliori Kecamatan Kalibogor Kabupaten Banyumas 1. Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan buruh penambang pasir di Desa Kaliori Kecamatan Kalibogor Kabupaten Banyumas. 2. Untuk mengetahui perbedaan pendapatan pada musim kemarau dan musim penghujan. pengambilan sampelnya menggunakan Total Sampling. menggunakan metode dokumentasi dan metode angket. Analisis datanya menggunakan korelasi 1. Tingkat kesejahteraan buruh penambang pasir serayu di Desa Kaliori Kecamatan Kalibogor Kabupaten Banyumas > 80% sejahtera II.
2. Terdapat perbedaan pendapatan pada musim hujan dan musim
kemarau. 2. Teguh
Santoso (2015)
kajian tingkat kesejahteraan penambang batu gamping dan pendidikan anak di Desa Darmakraden Kecamatan Ajibarang 1. Untuk mengetahui kesejahteraan penambang batu gamping. 2. Untuk mengetahui tingkat pendidikan Pengambilan sampelnya menggunakan purposif sampling (penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu).
Tingkat kesejahteraan penambang batu gamping dan pendidikan anak di Desa Darmakraden Kecamatan
Banyumas penambang batu gamping. 3. Untuk mengetahui pengaruh tingkat kesejahteraan terhadap pendidikan anak. Kuisoner (Angket) dan Dokumentasi. Analisis menggunakan tabel frekuensi dan tabulasi silang.
tahaf sejahtera.
3. Peneliti Kajian tingkat kesejahteraan dan pendidikan anak
penambang batu kapur di desa karangdawa kecamatan margasari kabupaten tegal Untuk mengetahui tingkat
kesejahteraan dan pendidikan anak penambang batu kapur di desa karangdawa kecamatan margasari kabupaten tegal. Pengambilan sampelnya menggunakan purposif sampling (penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu). Menggunakan Kuisoner (Angket) dan Dokumentasi. Analisis Korelasi Sperman Rank menggunakan tabel frekuensi dan presentase dan skor.
Terdapat hubungan yang positif antara tingkat
F. Kerangka Pikir
Berdasarkan permasalahan yang dibahas oleh peneliti, maka dapat dibuat kerangka pikir sebagai berikut :
Gambar 2.1 Diagram Alir Kerangka Pikir Penghasilan Pekerja
Kesejahteraan pekerja Papan
Pangan Sandang Kesehatan Komunikasi
Kegiatan Kemasyarakatan Informasi
Peribadatan Pendidikan penghasilan
Pendidikan Anak 6 Tahun (Tamatan SD) 9 Tahun (Tamatan SMP) 12 Tahun (Tamatan SMA)
H. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka pikir diatas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ho : Tidak dapat terdapat hubungan positif antara tingkat kesejahteraan dengan pendidikan anak penambang batu kapur