• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Kecelakaan Kerja

Kecelakaan dapat didefinisikan sebagai suatu yang tidak direncanakan , tidak terkendali , dan dalam beberapa cara yang tidak diinginkan, kecelakaan juga mengganggu fungsi normal tubuh seseorang dan menyebabkan cedera atau luka yang mana tubuh seseorang kontak dengan atau terkena beberapa objek atau substansi yang merugikan (Anton, 2000). Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan atau tidak terdapat unsur kesengajaan ataupun perencanaan yang dapat menimbulkan korban manusia dan harta benda (Sastrohadiwiryo, 2003).

Kecelakaan menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 3/MEN/1998 adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak terduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan harta benda. Secara umun, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat diduga, sedangkan kecelakan kerja adalah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan (Silalahi dkk, 1995).

Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan kerja di perusahaaan. Hubungan kerja di sini dapat diartikan

(2)

bahwa kecelakaan dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan (Aditama dan Hastuti, 2002).

Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menilmbulkan kerugian baik korban manusia maupun harta benda. Sedangkan menurut UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga kerja, kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi di lokasi pekerjaan, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja. Demikian pula kecelakaan kerja yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang kerumah melaluijalan yang biasa atau wajar dilalui.

2.2 Penyebab Kecelakaan Kerja

Menurut Frank Bird dalam Ramli S (2010) kecelakaan dapat terjadi karena adanya kontak dengan suatu sumber energi seperti mekanis, kimia, kinetik, fisis yang dapat mengakibatkan cedera pada manusia, alat dan lingkungan. Kontak dengan energi tidak terjadi begitu saja melainkan ada penyebabnya. Frank Bird menggolongkan faktor penyebab kecelakaan kerja ini dalam teori dominonya yaitu kondisi dan tindakan tidak aman. Dalam buku Frank Bird yang berjudul Management Guide To Loss Control tentang penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu adanya kekurangan pada sistem pengawasan manajemen (Delfianda, 2011) .

(3)

Penyebab-penyebab kecelakaan paling utama ditemukan tidak pada mesin-mesin paling berbahaya atau zat-zat paling berbahaya, tetapi pada kegiatan- kegiatan biasaa seperti terkantuk, terjatuh, bekerja tidak tepat atau penggunaan perkakas tangan dan tertimpa oleh benda jatuh. Hal ini dapat dilihat dari beberapa statistik. Di Perancis, kecelakaan atas penyebab diatas mencapai 78,2 %, sedangkan mesin hanya 11,5 %. Di Indonesia yang dilaporkan hanya kecelakaan-kecelakaan berat dan angka kecelakaan atas dasar laporan tersebut terbesar bersumber pada pekerjaan-pekerjaan berbahaya (Suma'mur, 1997).

Secara umum penyebab kecelakaan ada dua, yaitu unsafe action (faktor manusia atau tindakan tidak aman) dan unsafe condition (faktor lingkungan atau kondisi tidak aman), dimana bahwa 80-85 % kecelakaan disebabkan oleh unsafe action (faktor manusia yang melakukan tindakan tidak aman) (Anizar, 2009).

1. Unsafe action (tindakan tidak aman) adalah suatu pelanggaran terhadap prosedur keselamatan kerja yang memberikan peluang terhadap terjadinya kecelakaan.

Contoh unsafe action :

a) Tidak mengikuti metode kerja yang telah disetujui. b) Mengambil jalan pintas.

c) Menyingirkan atau tidak menggunakan perlengkapan keselamatan.

(4)

i. Kurang pengalaman.

ii. salah pengertian terhadap suatu perintah. iii. Kurang terampil.

iv. Salah mengartikan SOP (Standard Oparational Procedure) sehingga mengakibatkan kesalahan pemakaian alat kerja.

e) Menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan. f) Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai.

g) Ketidakseimbangan fisik tenaga kerja, yaitu :

i. Posisi tubuh yang menyebabkan mudah lelah. ii. Cacat fisik.

iii. Cacat Sementara.

iv. Kepekaan indra terhadap sesuatu.

h) Pemakaian alat pelindung diri (APD) hanya berpura-pura. i) Mengangkut beban yang berlebihan.

j) Bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja.

k) Pemuatan, penempatan, pencampuran secara berbahaya. l) Mengancam, menggoda, sembrono, membuat terkejut dll.

2. Unsafe condition (keadaan tidak aman ) adalah suatu kondisi fisik atau keadaan yang berbahaya yang mungkin dapat langsung mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

Contoh unsafe condition :

a) Peralatan yang sudah tidak layak pakai. b) Ada api di tempat bahaya.

(5)

c) Pengamanan gesung yang kurang standar. d) Terpapar bising.

e) Terpapar radiasi.

f) Pencahayaan dan ventilasi yang kurang dan berlebihan. g) Kondisi suhu yang membahayakan.

h) Dalam keadaan pengamanan yang berlebihan. i) Sistem peringatan yang berlebihan.

j) Sifat pekerjaan yang mengandung potensi bahaya. k) Selang air yang yang melintang dijalan-jalan.

l) Lantai yang licin sehingga mengakibatkan jatuhnya seseorang. m) Tata letak (lay out) area kerja yang tidak baik.

n) Tidak ada prosedur operasional kerja. o) Cara penyimpanan yang berbahaya.

2.3 Klasifikasi Kecelakaan Kerja

Klasifikasi Kecelakaan akibat kerja menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tahun 1962 dalam Anizar (2009) antara lain :

1) Jenis Kecelakaan Kerja a) Terjatuh

b) Tertimpa benda jatuh

c) Tertumbuk atau terkena benda-benda, terkecuali benda jatuh d) Terjepit oleh benda

(6)

f) Pengaruh suhu tinggi g) Terkena arus listrik

h) Kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi

i) Jenis-jenis lain atau kecelakaan-kecelakaan lain yang belum termasuk dalam klasifikasi tersebut.

2) Penyebab Kecelakaan Kerja a) Mesin :

i. Pembakit tenaga, terkecuali motor-motor listrik ii. Mesin penyalur (transmisi)

iii. Mesin-mesin untuk mengerjakan logam iv. Mesin-mesin pengolah kayu

v. Mesin-mesin pertanian vi. Mesin-mesin pertambangan

vii. Mesin-mesin lain yang tidak termasuk klasifikasi tersebut b) Alat angkut dan alat angkat :

i. Mesin angkat dan peralatannya ii. Alat angkutan di atas rel

iii. Alat angkutan lain yang beroda, terkecuali kereta api iv. Alat angkutan udara

v. Alat angkutan air vi. Alat-alat angkutan lain c) Peralatan lain :

(7)

ii. Dapur pembakar dan pemanas iii. Instalasi pendingin

iv. Instalasi listrik, termasuk motor listrik, tetapi dikecualikan alat-alat listrik (tangan)

v. Alat-alat listrik (tangan)

vi. Alat-alat kerja dan perlengkapannya, kecuali alat-alat listrik vii. Tangga

viii. Peralatan lain yang belum termasuk klasifikasi tersebut d) Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi :

i. Bahan peledak

ii. Debu, gas, cairan dan zat-zat kimia terkecuali bahan peledak

iii. Bahan-bahan melayang iv. Radiasi

v. Bahan dan zat lain yang belum termasuk klasifikasi golongan tersebut

e) Lingkungan Kerja : i. Diluar bangunan ii. Didalam bangunan iii. Dibawah tanah 3) Sifat luka / kelainan

a) Patah tulang b) Dislokasi/keseleo

(8)

c) Regang otot/urat

d) Memar dan luka dalam yang lain e) Amputasi

f) Luka-luka lain g) Luka di permukaan h) Gegar dan remuk i) Luka bakar

j) Keracunan-keracunan mendadak (akut) k) Akibat cuaca dan lain-lain

l) Mati lemas m) Pengaruh radiasi

n) Luka-luka yang banyak dan berlainan sebabnya] 4) Letak kelainan / luka

a) Kepala b) Leher c) Badan d) Anggota atas e) Anggota Bawah f) Kelainan umum

g) Letak lain yang tidak dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi tersebut.

Klasifikasi-klasifikasi ini pencerminan kenyataan, bahwa kecelakaan akibat kerja disebabkan oleh beberapa faktor. Penggolongan-penggolongan ini berguna dalam

(9)

menunjukkan / menggambarkan bagaimana suatu kecelakaan kerja terjadi dan apa yang mengakibatkan kecelakaan, membantu dalam usaha pencegahan kecelakaan , dan juga berguna bagi penelaahan tentang kecelakaan lebih lanjut dan terperinci (Suma'mur, 1997).

2.4 Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja

Setiap kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian yang besar, baik itu kerugian material dan fisik.

Kerugian akibat kecelakaan kerja menurut Anizar (2009) adalah antara lain :

1. Kerugian ekonomi

a) Kerusakan alat / mesin, bahan dan bangunan b) Biaya pengobatan dan perawatan

c) Tunjangan kecelakaan

d) Jumlah produksi dan mutu berkurang e) Kompensasi kecelakaan

f) Penggantian tenaga kerja yang mengalami kecelakaan 2. Kerugian non ekonomi

a) Penderitaan korban dan keluarga

b) Hilangnya waktu selama sakit, baik korban maupun pihak keluarga c) Keterlambatan aktivitas akibat tenaga kerja lain berkerumun/

berkumpul, sehingga aktivitas berhenti sementara d) Hilangnya waktu kerja

(10)

Menurut Ramli (2010) kerugian akibat kecelakaan kerja dikategorikan atas kerugian langsung (direct cost) dan kerugian tidak langsung (inderect cost).

1. Kerugian Langsung

Kerugian langsung adalah kerugian akibat kecelakaan yang langsung dirasakan dan membawa dampak sebagai berikut :

a) Biaya pengobatan dan kompensasi

Kecelakaan menyebabkan cedera, baik cedera ringan, berat, cacat maupun menimbulkan kematian. Cedera ini akan mengakibatkan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga mempengaruhi produktivitas.

b) Kerusakan sarana produksi

kerugian langsung lainnya adalah kerusakan sarana produksi akibat kecelakaan seperti kebakaran, peledakan, dan kerusakan. 2. Kerugian Tidak Langsung

Kerugian tidak langsung adalah kerugian yang tidak terlihat sehingga disebut kerugian tersembunyi.

a) Kerugian jam kerja

Jika terjadi kecelakaan, kegiatan pasti akan terhenti sementara untuk membantu korban yang cedera, penanggulangan kejadian, perbaikan kerusakan atau penyelidikan kejadian. Kerugian jam kerja akibat kecelakaan jumlahnya cukup besar yang dapat mempengaruhi produktivitas.

(11)

Kecelakaan juga membawa kerugian terhadap proses produksi akibat kerusakan atau cedera pada pekerja. Perusahaan tidak bisa berproduksi sementara waktu sehingga kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan.

c) Kerugian Sosial

Kecelakaan dapat menumbulkan dampakl sosial baik terhadap keluarga korban yang terkait langsung, maupun lingkungan sosial sekitarnya.

Apabila seorang pekerja mendapat kecelakaan, keluarganya akan ikut menderita. Bila korban tidak mampu bekerja atau meninggal, maka keluarga akan kehilangan sumber kehidupan.

d) Citra dan kepercayaan konsumen

Kecelakaan menimbulkan citra negatif bagi perusahaan karena dinilai tidak peduli keselamatan, tidak aman atau merusak lingkungan sehingga berakibat buruk pada rendahnya kepercayaan konsumen.

Menurut Sumakmur (2009) tiap kecelakaan merupakan suatu kerugian yang antara lain tergambar dari pengeluaran dan besarnya biaya kecelakaan. Biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya kecelakaan seringkali sangat besar, padahal biaya tersebut bukan semata-mata beban suatu perusahaan melainkan juga beban masyarakat dan negara secara keseluruhan. Biaya ini dapat dibagi menjadi biaya langsung meliputi biaya atas P3K, pengobatan, perawatan, biaya angkutan, upah selama tidak mampu bekerja, kompensasi cacat, biaya atas

(12)

kerusakan bahan, perlengkapan, peralatan, mesin dan biaya tersembunyi meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu dan beberapa waktu pasca kecelakaan terjadi, seperti berhentinya operasi perusahaan oleh pekerja lainnya menolong korban, biaya yang harus diperhitungkan untuk mengganti orang yang ditimpa kecelakaan dan sedang sakit serta berada dalam perawatan dengan orang yang baru belum biasa bekerja pada pekerjaan di tempat terjadinya kecelakaan

.

2.5 Pencegahan Kecelakaan Kerja

Menurut Anizar (2009), pencegahan kecelakaan akibat kerja dapat dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan maupun oleh pihak pekerja atau tenaga kerja.

1. Manajemen Perusahaan

a) Perusahaan melakukan evaluasi pendahuluan tentang karakteristik perusahaan sebelum dimulai oleh orang terlatih untuk mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja dan untuk membantu memilih cara perlindungan karyawan yang tepat. Termasuk di dalamnya aladah semua kondisi yang dicurigai kondisi dapat dengan cepat menyebabkan kehidupan atau kesehatan, atau yang menyebabkan luka serius.

b) Memberikan pelatihan untuk karyawan sebelum diijinkan bekerja yang dapat menimbulkan potensi bahaya. Pekerja yang berpengalaman diberikan pelatihan penyegaran bila diperlukan.

(13)

c) Pemeriksaan kesehatan setidaknya dilakukan secara berkala misalnya satu tahun sekali dan pada saat karyawan berhenti bekerja.

d) Memberikan demontrasi kepada karyawan tentang pentingnya pemakaian APD (Alat Pelindung Diri) dan pentingnya keselamatan kerja.

e) Pelaksanaan houskeeping yang baik (Penatalaksanaan yang teratur dan baik).

f) Pemberian sanksi kepada karyawan yang melanggar peraturan, misalnya karyawan yang tidak memakai APD.

g) Memberikan insentif kepada pekerja jika kecelakaan kerja dapat dikurangi sehingga dana yang dianggarkan oleh perusahaan untuk biaya dampak akibat kecelakaan dapat dialihkan untuk kesejahteraan pekerja.

2. Tenaga Kerja

a) Memakai APD dengan sungguh-sungguh tanpa paksaan. b) Menyadari betapa pentingnya keselamatan kerja.

c) Mematuhi peraturan yang berlaku ditempat kerja.

Menurut Suma'mur (2009) pencegahan kecelakaan kerja ditujukan kepada lingkungan, mesin, peralatan kerja, perlengkapan kerja dan terutama faktor manusia.

(14)

1. Lingkungan

Syarat lingkungan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

a) Memenuhi sayarat aman, meliputi hygine umum, sanitasi, ventilasi udara, pencahayaan dan penerangan di tenpat kerja dan pengaturan suhu udara ruang kerja.

b) Memenuhi syarat keselamatan, meliputi pengaturan penyimpanan barang, penempatan dan pemasangan mesin, penggunaan tempat dan ruangan.

2. Mesin dan peralatan kerja

Mesin dan peralatan kerja harus didasarkan pada perencanaan yang baik dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku. Perencanaan yang baik terlihat dari baiknya pagar atau tutup pengaman pada bagian-bagian mesin atau perkakas yang bergerak, antara lain bagian yang berputar. Bila pagar atau tutup pengaman telah terpasang, harus diketahui dengan pasti efektif atau tidaknya pagar atau tutup pengaman tersebut terlihat dari bentuk dan ukurannya yang sesuai terhadap mesin atau alat serta perkakas yang terhadapnya keselamatan pekerja dilindungi.

3. Perlengkapan kerja

Alat pelindung diri merupakan perlengkapan kerja yang harus terpenuhi bagi pekerja. Alat pelindung diri berupa pakaian kerja, kacamata, sarung tangan, yang kesemuanya harus cocok ukurannya sehingga menimbulkan kenyamanannya dalam penggunaanya.

(15)

4. Faktor manusia

Pencegahan kecelakaan terhadap faktor manusia meliputi peraturan kerja, mempertimbangkan batas kemampuan dan keterampilan pekerja, meniadakan hal-hal yang mengurangi kosentrasi kerja, menegakkan disiplin kerja, menghindari perbuatan yang mendatangkan kecelakaan serta menghilangkan adanya ketidakcocokan fisik dan mental

2.6 Pelaporan Kecelakaan

Menurut Ridley (2008) dasar pembuatan laporan kecelakaan akibat kerja adalah :

1. Kewajiban menurut undang-undang 2. Klaim asuransi

3. Pencegahan kecelakaan in-house.

Pelaporan ini diisyaratkan oleh Reporting Of Injuries, Diseases and

Dangerous Occurences Regulations 1995, yang memberlakukan ketentuan

pelaporan ynag berhubungan dengan kejadian : a) korban jiwa

b) cedera berat

c) melukai non-pekerja sehingga perlu dilarikan ke rumah sakit d) penyakit tertentu yang disebabkan oleh proses-proses kerja

e) cedera atau kematian yang dikaitkan dengan penggunaan flammable

gas

(16)

2.7 Upaya Keselamatan Kerja

Salah satu cara untuk meminimalisir kecelakaan kerja adalah terpenuhinya aspek keselamatan kerja, baik berupa kebijakan maupun peralatan

(hardware). Aspek keselamatan kerja adalah sarana atau alat untuk mencegah

timbulnya kecelakaan kerja baik yang disebabkan oleh kelalaian kerja maupun lingkungan kerja yang tidak kondusif. Terpenuhinya aspek keselamatan kerja ini diharapkan dapat meniadakan kecelakaan kerja yang bisa berakibat cacat atau kematian terhadap karyawan serta mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Memiliki Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi sudah merupakan suatu keharusan untuk sebuah perusahaan dan telah menjadi peraturan terutama pada proyek konstruksi. Organisasi Buruh Sedunia (ILO) menerbitkan panduan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Di Indonesia panduan yang serupa dikenal dengan istilah SMK3, sedang di Amerika OSHAS 1800-1, 1800-2 dan di Inggris BS 8800 serta di Australia disebut AS/NZ 480-1 (Alfero, 2012).

Landasan Hukum Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Layaknya sebuah program, maka program kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan harus memiliki landasan hukum yang kuat. Ada empat landasan hukum yang bisa di sebutkan disini yaitu :

(17)

1. Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Undang-undang ini memuat antara lain ruang lingkup pelaksanaan keselamatan kerja, syarat keselamatan kerja, pengawasan, pembinaan, tentang kecelakaan, kewajiban dan hak tenaga kerja, kewajiban memasuki tempat kerja, kewajiban pengurus dan ketentuan penutup (ancaman pidana) dan lain-lain.

2. UU No. 21 tahun 2003 yang meratifikasi Konvensi ILO No. 81

Menurut ILO dalam Admin, (2012) pada 19 Juli 1947, badan PBB

International Labour Organization (ILO) telah mengesahkan konvensi ILO No.

81 tentang pengawasan tenaga kerja bidang industri dan perdagangan (Labour

Inspection in Industry and Commerce). Sebanyak 137 negara atau lebih dari 70

persen anggota ILO meratifikasi konvensi ini, termasuk Indonesia. 3. UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Khususnya alinea 5 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pasal 86 dan pasal 87. Pasal 86 ayat 1 : Setiap Pekerja / Buruh mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas (a) Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Pasal 86 ayat 2 : Untuk melindungi keselamatan Pekerja / Buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Pasal 87 : Setiap Perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Perusahaan.

(18)

landasan Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3), mirip OHSAS 18001 di Amerika atau BS 8800 di Inggris.

2.8 Upaya Keselamatan Kerja BP3 Konsorsium

Perusahaan mempunyai komitmen untuk memberikan jaminan, bahwa jasa yang diserahkan selalu memenuhi keinginan pelanggan. Berbagai bidang yang dilakukan oleh perusahaan memiliki potensi terjadinya kecelakaan kerja maka dibuat suatu program sistem manajemen K3 dan Lingkungan yang mangacu kepada standar Internasional. Perusahaan menerapkan sistem manajemen secara konsisten dan selalu meningkatkan kinerja perusahaan secara berkesinambungan, maka jajaran manajemen perusahaan menetapkan penerapan sistem manajemen K3 ( OHSAS 18001:2007) dan lingkungan ( ISO 14001:2004), secara terintegrasi, penerapan sistem ini dinyatakan untuk mendapat penerapan konsistensi sistem tersebut, dalam lingkup aktivitas perusahaan untuk pekerjaan Enginnering, Fabrikasi, konstruksi dan Pengadaan Material.

Perusahaan juga memberikan pengertian bahwa target utama adalah “Zero Accident”. Mengutamakan keselamatan karyawan dan public diatas peralatan-peralatan milik perusahaan, Menjamin bahwa semua karyawan telah mengetahui dan dilatih untuk melaksanakan pekerjaan secara produktif, cara aman, melalui pelatihan yang benar, instruksi pekerjaan yang tepat, dan instruksi pemakaian peralatan yang melalui pengawasan yang tepat terhadap semua karyawan, Menyediakan fasilitas, peralatan, perlengkapan keselamatan kerja yang layak dan memadai serta menjamin akan digunakan secara tepat, Menyediakan jalan masuk

(19)

ke lokasi kerja yang aman dan penerangan yang cukup, Memastikan bahwa yang diminta dan direkomendasikan dalam kebijakan K3L telah diikuti, Meningkatkan perlindungan dan pelestarian lingkungan dalam segala aktivitas dan meminimumkan kerusakan yang mungkin terjadi akibat aktivitas tersebut, Semua karyawan dan pekerja proyek harus sudah mengetahui akan tanggung jawabnya masing-masing termasuk peduli akan kesehatannya, keselamatannya dan lingkungan masing-masing di tempat kerja

2.8.1 Pelatihan Karyawan

1. Pelatihan Pengenalan K3L atau HES Induction.

a) Setiap karyawan sebelum memulai kegiatan work shop dan dilapangan akan terlebih dahulu dibenahi dengan pelatihan pengenalan K3L. b) Bila klien memiliki program Pelatihan Pengenalan K3L atau HES

Induction maka program ini sudah dianggab terpenuhi secara otomatis dengan asumsi bahwa persyaratan klien akan diutamakan karena sebagai pemilik fasilitas dan lebih memahami situasi K3L fasilitasnya.

c) Bila karyawan tertentu telah mengikuti pelatihan dengan prosedur klien seperti dinyatakan pada pasal B akan tetapi dipindah tugaskan dengan ke proyek lain dengan pemilik projek yang berbeda maka sikaryawan tersebut tetap harus mengikuti pelatihan K3L ditempat proyek yang baru tersebut. d) Untuk peserta pelatihan K3L akan dilakukan proses penilaian dengan

melaksanakan ujian tertulis.

e) Peserta yang lulus ujian tertulis saja yang diperbolehkan bekerja ke lapangan proyek perusahaan.

(20)

f) Perwakilan HES akan bertanggung jawab dalam pelaksanaan training K3L.

g) HRD akan menentukan jadwal training pengenalan K3L dan mengundang peserta training pada karyawan.

h) Hasil dari pelatihan ini akan dilaporkan oleh bagian K3L dan hasilnya dilaporkan ke bagian HRD.

2. Pengawasan dan Pelatihan Karyawan dengan Tugas Baru.

a) Setiap karyawan yang baru diterima dan dipekerjakan dilapangan akan diperlakukan program pengawasan dan pelatihan.

b) Karyawan yang sudah lama bekerja namun dipindahkan ke posisi baru dengan pekerjaan yang berbeda dengan sebelumnya akan diperlakukan sama dengan karyawan baru dan pasal B akan diperlakukan terhadap karyawan tersebut.

c) Untuk karyawan yang masuk ke kategori pasal 7.2.1 dan pasal 7.2.1 di atas akan diawasi oleh seorang Mentor dimana mentor ini akan ditunjuk oleh Supervisor atau atasan sesuai dengan Formulir BKP4-HES-008B. d) Mentor bertugas untuk mengawasi dan melatih karyawan yang diawasi

agar terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak selamat

e) Program pengawasan ini akan berakhir apa bila sudah berlangsung dalam tiga bulan.

f) Karyawan yang dalam kondisi pengawasan dan pelatihan lapangan ini akan diberikan memakai HELMET yang warnanya tidak sama dengan yang lainnya dengan tujuan agar mudah mengamatinya.

(21)

3. Pelatihan Internal

a) Pelatihan karyawan yang mana mentornya berasal dari karyawan perusahaan dinamakan pelatihan internal.

b) Mentor Internal harus mempunyai pengetahuan dan telah disetujui oleh pihak management sebagai Mentor.

c) Mentor Internal bisa mendapat pelatihan eksternal demi menambah kemampuan dan pengetahuannya.

d) Perusahaan akan memasukkan program pelatihan internal dalam program pelatihan K3L sesuai kebutuhan operasional perusahaan.

4. Pelatihan Eksternal

a) Pelatihan Eksternal dilakukan dengan mengikuti program-program pelatihan yang dilakukan oleh organisasi diluar perusahaan.

b) Perusahaan akan memasukkan pelatihan-pelatihan eksternal sesuai

kebutuhan operasionalnya dan dimasukkan dalam Program Pelatihan K3L. 5. Program Pelatihan untuk K3L

a) Bagian K3L akan menyusun program pelatihan K3L tahunan dan diajukan ke Direktur untuk disetujui.

b) Program K3L yang sudah disetujui oleh Direktur akan diserahkan ke HRD agar dilaksanakan dengan kordinasi dengan bagian K3L dalam

pelaksanaannya.

c) Bagian K3L akan membuat rekaman daftar karyawan yang mengikuti pelatihan dan satu rangkap akan diberikan ke HRD untuk file.

(22)

6. Rekaman Training K3L.

a) Semua Rekaman Pelatihan K3L karyawan perusahaan akan di salinkan dalam bentuk laporan dengan memakai Formulir BKP4-HES-008 A (REKAMAN PELATIHAN K3L KARYAWAN ).

b) Satu Copy Daftar Pelatihan Karyawan akan dikirimkan ke HRD untuk file.

2.8.2 Rencana Pencegahan Kecelakaan Kerja

Prosedur ini digunakan untuk mengetahui level-level resiko yang ada di setiap proyek dan menentukan langkah-langkah pengendalian yang dapat dilakukan terhadap resiko-resiko tersebut

(23)

MITIGATION PLAN FLOW CHART Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya

Gambar 2.8.1 Diagram Prosedur Rencana Pencegahan Kecelakaan Kerja

Mulai Analisa proses kerja di lapangan Laporkan ke Klien dan Manajemen Perusahaan Mulai atau lanjutkan pekerjaan Jika ada Siapkan mitigation strategy Record dan urutkan level resiko Jika mitigation strategy Evaluasi dan review ulang Implementasikan mitigation strategy Jika implementa si berhasil Laporkan ke Klien dan Manajemen perusahaan Selesai

(24)

2.8.3 Pelaporan Insiden

Rincian Prosedur pelaporan insiden adalah sebagai berikut :

1. Pencegahan Kecelakaan.

a) Setiap karyawan termasuk kontraktor mempunyai tanggung jawab dalam usaha mencegah kecelakaan kerja dengan melaporkan setiap kejadian hampir celaka dan atau potensi bahaya.

b) Potensi bahaya dan atau kejadian hampir celaka yang terjadi dilaporkan kepada Supervisor terkait untuk ditindak lanjuti.

c) Supervisor yang menerima laporan tersebut harus segera melakukan tindakan yang sesuai dan mencatat tindakan tersebut dilakukan dalam formulir laporan potensi bahaya dan near miss.

2. Pelaporan dan Penanganan Kecelakaaan.

a) Setiap karyawan yang melihat kecelakaan terjadi diarea segera melaporkan kepada pihak terkait sesuai dengan standar komunikasi dan pelaporan kecelakaan.

b) Supervisor terkait melakukan koordinasi atau melaporkan dengan K3L Dept dan Klinik.

c) Petugas yang ditunjuk K3L segera melakukan lokalisir area kejadian untuk menghindari kontaminasi terhadap area kejadian, sedangkan Supervisor dan bagian K3L melakukan penanganan terhadap korban sesuai dengan penanganan korban kecelakaan.

(25)

d) Segera setelah melakukan penanganan terhadap korban, Supervisor terkait membuat Laporan Awal Kecelakaan dan diserahkan kepada Manajemen Representative atau Project Manager dan K3L Depertemen.

e) Project Manager akan melaporkan ke Direktur dan juga terhadap penanggung jawab Proyek Klien.

f) Bentuk laporan yang dilakukan adalah dengan lisan demi kecepatan sampainya laporan akan tetapi akan dilanjutkan dengan laporan dengan mengisi Formulir BKP4-HES-019 A

2.8.4. Tindakan Perbaikan.

1. Identifikasi Ketidaksesuaian.

a) Setiap karyawan bertanggung jawab terhadap pendeteksian ketidaksesuaian yang terjadi dan mencatat pada formulir Tindakan Perbaikan (BKP4-HES-005 A) untuk disampaikan pada Divisi terkait. b) Ketidaksesuaian dari hasil audit eksternal dikoordinir oleh MR dan

disampaikan kepada penanggung jawab Divisi terkait.

c) Ketidaksesuaian dari keluhan pelanggan ditangani sesuai dengan prosedur penanganan keluhan pelanggan.

d) Ketidaksesuaian dari audit K3L internal ditindak lanjuti sesuai prosedur audit K3L internal.

2. Pelaksanaan Tindakan Perbaikan.

a) Divisi terkait meninjau ketidaksesuaian dengan melakukan investigasi untuk menentukan penyebab / akar dari ketidaksesuaian.

(26)

b) Menentukan rencana tindakan perbaikan dan target waktu yang diperlukan sehingga ketidaksesuaian tidak berulang.

c) Pelaksanaan tindakan perbaikan dicatat dalam formulir tindakan perbaikan.

3. Verifikasi Tindakan Perbaikan.

a) MR dan atau bersama dengan penanggung jawab Divisi melakukan verifikasi terhadap tindakan perbaikan yang diambil.

b) Jika telah dilakukan sesuai dengan rencana maka dinyatakan closed out (selesai).

c) Jika belum dilakukan sesuai dengan rencana maka MR akan menerbitkan surat pemberitahuan kepada Divisi tersebut untuk diambil tindakan terhadap rencana tersebut.

d) Hasil verifikasi dicatat pada formulir permintaan tindakan perbaikan. e) Rencana tindakan perbaikan yang masih outstanding akan di diskusikan

pada Rapat Tinjauan Manajemen.

2.9 Kerangka Pikir

Gambar 2.8 Kerangka Pikir KECELAKAAN KERJA

 Waktu kecelakaan kerja

 Penyebab kecelakaan kerja

 Jenis kecelakaan kerja

 Sifat luka/kelainan

 Letak luka/kelainan

UPAYA KESELAMATAN KERJA

(27)

Kerangka Pikir pada penelitian ini adalah dimana untuk melihat gambaran kecelakaan terbanyak berdasarkan waktu kecelakaan kerja, penyebab kecelakaan kerja, jenis kecelakaan kerja, sifat luka/kelainan, dan letak luka/kelainan serta upaya keselamatan kerja yang dilakukan oleh pihak Konsorsium BP3 2015.

Gambar

Gambar 2.8.1 Diagram Prosedur Rencana Pencegahan Kecelakaan Kerja Mulai Analisa proses  kerja di lapangan Laporkan  ke Klien dan Manajemen Perusahaan Mulai atau lanjutkan pekerjaan Jika ada Siapkan mitigation strategyRecord dan urutkan level resikoJika mit

Referensi

Dokumen terkait

Pertama, di dalam variabel kepuasan pelanggan didapatkan hasil bahwa indikator “Saya merasa puas dengan kualitas produk Rama Krisna Oleh-Oleh Khas Bali dan saya

Dari penjelasan latar belakang diatas maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana menyajikan model rumah tinggal dalam bentuk 3D (tiga dimensi), bagaimana meminimalisasi biaya

Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk menganalisis besaran ketersediaan air pada Tampungan Aik Membadin Kecamatan Sijuk pada tahun 2016-2025,

Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subyek penelitian siswa kelompok B TK Dharma Wanita Kunjang Kecamatan Ngancar.

Dipersiapkan alat penyulingan minyak atsiri tipe uap langsung.. Dimasukkan air kedalam

Apabila sampai dengan batas waktu yang telah ditetapkan sebagaimana tersebut diatas, saudara tidak dapat hadir atau tidak dapat menunjukkan dokumen asli untuk melakukan

Maka bersama ini kami mengundang Saudara untuk pembuktian kualifikasi tersebut yang akan dilaksanakan pada : Menunjuk hasil Evaluasi dan Penelitian Dokumen Penawaran &

[r]