• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA YANG OPTIMAL PADA PT.INCIPNA INDONESIA ITA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA YANG OPTIMAL PADA PT.INCIPNA INDONESIA ITA"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

i ITA 105730237811

Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Strata Satu (SI) pada Jurusan Akuntansi Fakultas ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2015

(2)

ii

dan disahkan oleh panitia Ujian Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Muhammadiyah Makassar berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ekonomi

dan Bisnis No.29/05/A.4-II/I/36/2015 sebagai salah satu persyaratan guna

memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar pada hari Sabtu, 22 Agustus

2015/8 Dzulqaidah 1436 H.

Makassar, Dzulqaidah 1436 H Agustus 2015 M

Panitia Ujian :

Pengawas : Dr. H. Irwan Akib, M.Pd

(Rektor Unismuh Makassar) (...)

Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung , M.A

(Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis) (...)

Sekretaris : Drs. H. Sultan Sarda, MM

(PD. 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis) (...)

Penguji :

1. Drs. H. Sultan Sarda, MM (...)

2. Linda Arisanti Razak, SE., M.Si., Ak., CA (...)

3. (...)

(3)

iii

OPTIMAL PADA PT.INCIPNA INDONESIA”.

Nama : ITA

Stambuk : 105730237811

Jurusan : AKUNTANSI

Fakultas : EKONOMI DAN BISNIS

Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Telah diujiankan pada hari, Sabtu tanggal 22 Agustus 2015

Makassar, Agustus 2015

Disetujui Oleh

Pembimbing I Pembimbing II

Drs.H.Sultan Sardan,MM Linda Arisanty Razak,SE.,M.Si.AK.CA

Mengetahui

Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Ketua Jurusan Akuntansi

Dr. H. Mahmud Nuhung, MA Ismail Badollahi, SE, M.Si,Ak

(4)

iv

telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini meskipun di dalamnya masih bersifat sederhana. Dan

tak lupa pula penulis mengucapkan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad

SAW serta para sahabatnya dan pengikutnya. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi

salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi SI

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah

Makassar. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini bukan akhir dari belajar

karena belajar adalah sesuatu yang tidak terbatas.

Ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tuaku, ibunda dan

Ayahanda (Hasna dan Abd.Latief Sam) yang telah melahirkan, mengasuh,

memelihara, mendidik, dan membimbing penulis dengan penuh kasih sayang serta

pengorbanan yang tak terhingga sejak dalam kandungan hingga dapat

menyelesaikan studi di perguruan tinggi ini, serta kakak-kakak dan adikku yang

selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis.

Serta tidak lupa dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak

mendapatkan bimbingan, petunjuk, bantuan,dan dukungan baik moril maupun

materil. Sehingga hambatan yang ada dapat dilalui dan dihadapi dengan penuh

rasa sabar. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan

(5)

v

penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Ismail Badollahi, SE., M.Si.,Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Pimpinan dan Karyawan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik

Kelapa Sawit Unit Burau yang telah membantu dan memberikan

kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dalam rangka

merampungkan tugas skripsi penulis.

5. Temam-teman yang selalu memberikan semangat dan dukungan sehingga

skripsi ini dapat diselesaikan khususnya kelas Ak 1angkatan 2011.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

penulis khususnya dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan pada

umumnya. Dan semoga Allah SWT amal dan kebaikan kepada

pihak-pihak yang telah membantu meyelesaikan skripsi ini. Amin...

Makassar, Agustus 2015

(6)

vi

Unit Burau. (dibimbing oleh Ibu Euis Eka Pramiarsih dan Bapak Samsul Rizal).

Penentuan biaya overhead pabrik sangat penting, karena semakin besar biaya overhead pabrik yang dikeluarkan perusahaan maka akan semakin besar pula harga jual yang ditetapkan.

Penelitian ini dilakukan pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau yaitu perusahaan yang memproduksi bahan mentah berupa kelapa sawit menjadi barang jadi berupa CPO dan karnel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi.

Seluruh data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memenuh data yang diperlukan. Kemudian data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa biaya overhead pabrik berpengaruh signifikan terhadap harga jual hasil produksi PT.Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau.

(7)

vii

LEMBAR PENGESAHAN ...ii

HALAMAN PERSETUJUAN ...iii

KATA PENGANTAR ...iv

ABSTRAK ...vi

DAFTAR ISI ...vii

DAFTAR TABEL ...ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ...xi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN...xii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 7

A. Konsep Biaya ... 7

B. Biaya Overhead Pabrik ... 12

C. Harga Jual ... 20

D. Kerangka Pikir ... 28

E. Hipotesis ... 29

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

(8)

viii

F. Defenisi Operasionel Perusahaan... 34

G. Sistematika Penulisan ... 34

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PERUSAHAAN ... 36

A. Sejarah Pendirian Perusahaan ... 36

B. Deskripsi Bidang Usaha ... 38

C. Visi dan Misi Perusahaan ... 39

D. Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi ... 40

E. Gambaran Umum PT. PN XIV (Persero) PKS Luwu Unit Burau ... 43

F. Struktur Organisasi ... 46

G. Job Description ... 48

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56

A. Hasil Penelitian ... 56 B. Pembahasan ... 65 BAB VI PENUTUP ... 67 A. Kesimpulan ... 70 B. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN... 73

(9)

ix

Tabel 4.2 Susunan Dewan Direksi ... 43

Tabel 4.3 Penggunaan Lahan HGU ... 45

Tabel 4.4 Daftar Curah hujan Pertahun ... 46

Tabel 5.1 Perkembangan Hasil Produksi ... 56

Tabel 5.2 Perkembangan total Biaya ... 58

Tabel 5.3 Perkembangan jumlah Produksi... 59

Tabel 5.4 Harga Jual Produk CPO ... 64

Tabel 5.5 Variabel X dan Variabel Y ... 64

Tabel 5.6 Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana... 66

(10)

x

(11)

xi

Lampiran 2 Surat Persetujuan Izin penelitian

Lampiran 3 Surat Keterangan Telah melaksanakan Penelitian

Lampiran 4 Laporan Laba Rugi Perusahaan

Lampiran 5 Daftar Investasi

Lampiran 6 Hasil Olahan Data

(12)

xii

Betapa bodohnya jiwa yang senang tiasa mengizinkan masa lalunya menjadi momok yang menakutkan bagi dirinya.

Betapa ruginya jiwa yang merelakan masa depannya suram

hanya karena jeratan pengalaman pahit yang dirasakannya pada masa silam.”

“Man Jadda Wajada”

Ku Persembahkan Karya Ini untuk :

Ayah dan Ibuku

(Abdul Latief Sam dan Hasna)

Kakak-Kakakku

(Namri Nur, Ikanati, Nur Jannah,

Alian Nur, dan Syarifuddin)

Dan Adikku

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi suatu perekonomian tujuan perusahaan adalah memperoleh laba

yang maksimal. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diperlukan adanya

pengendalian perusahaan. Dimana, usaha tersebut dapat dilakukan perusahaan

dengan meningkatkan volume penjualan dan pengendalian biaya-biaya untuk

memperluas fungsi pasar.

Pada era sekarang ini, semakin banyaknya perusahaan yang bersaing

untuk menghasilkan produk barang atau jasa yang bermutu dengan harga yang

rendah dan berpedoman bahwa konsumen hanya dibebankan pada biaya-biaya

untuk aktivitas penambahan nilai. Hal ini dilakukan karena persaingan di dunia

usaha semakin ketat sehingga untuk memenangkan persaingan perusahaan

dituntut untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga yang

kompetitif. Strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan menentukan

harga jual termasuk biaya produksi yang meliputi: biaya bahan baku, biaya

tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Menurut Mulyadi (2014:7) “Akuntansi Biaya adalah proses

pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya, pembuatan dan

penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran

terhadapnya”. Sedangkan menurut Abdul Halim (2007;3) “Akuntansi Biaya

adalah akuntansi yang membahas tentang penentuan harga pokok (Cost) dari

sesuatu produk yang diproduksi (atau dijual di pasar) baik untuk memenuhi

(14)

pesanan dari pemesan maupun untuk menjadi persediaan barang dagangan

yang akan dijual.

Berdasarkan defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa biaya produksi

merupakan variabel yang sangat penting bagi perusahaan untuk menentukan

harga jual. Oleh karena itu, biaya produksi sangatlah penting sebab modal yang

dikeluarkan oleh perusahaan berpengaruh pada harga pokok yang dihasilkan

sehingga mengakibatkan harga jual pada perusahaan lebih rendah dari pada

harga jual perusahaan pesaing. Hal ini sangat berpengaruh terhadap jumlah

pengeluaran dalam perusahaan.

Informasi biaya yang tepat dan akurat dapat membantu perusahaan

untuk menentukan harga jual yang sesuai dengan mutu produk yang dihasilkan.

Dengan menghitung harga pokok produksi, semua biaya-biaya yang

dikeluarkan dalam mengolah suatu produk akan lebih jelas terlihat sehingga

dapat mengajikan informasi yang lengkap. Harga pokok produksi termasuk

biaya overhead pabrik memuat informasi biaya yang diperlukan sebagai dasar

penentuan harga jual yaitu dengan menghitung harga pokok produksi dan

menambah keuntungan yang diinginkan.

Selain itu, harga pokok produksi memiliki peranan yang penting

dalam menentukan harga jual dan menilai apakah biaya-biaya yang

dikeluarkan dalam suatu produksi telah dilaksanakan secara efisien sesuai

dengan standar yang dihasilkan dan membantu manajemen di dalam

(15)

Serta bagaimana peran manajemen dalam meningkatkan hasil penjualan

tersebut.

PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit

Burau yang menjadi lokasi penelitian penulis merupakan perusahaan bergerak

dalam bidang produksi kelapa sawit. Dalam kegiatan produksinya PT.

Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau

menentukan harga jual produksinya dengan menghitung terlebih dahulu harga

pokok produksi yang telah dikeluarkan dan kemudian menentukan harga jual

berdasarkan harga pokok produksi. Harga pokok produksi yang dihitung dari

proses akuntansi biaya dapat dilakukan dengan menggunakan dua alternatif

metode, untuk dapat menghasilkan suatu perhitungan harga pokok produksi

diperlukan suatu proses pengumpulan dari biaya-biaya yang terjadi atas suatu

produk.

Penjualan dari produk yang dihasilkan merupakan sumber pendapatan

utama bagi perusahaan atau industri tersebut. Untuk itu, perusahaan dituntut

untuk antisipasi terhadap segala kemungkinan yang terjadi dalam persaingan,

salah satunya adalah menentukan harga jual suatu produk. Harga jual yang

terlalu tinggi dapat menimbulkan kemungkinan menurunnya daya saing.

Sebaliknya harga yang terlalu rendah dapat menyebabkan kerugian, khususnya

bila biaya meningkat.

Banyaknya faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam

menentukan harga jual. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor produksi, tujuan

(16)

biaya overhead pabrik. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi harga jual

yaitu faktor eksternal seperti elastisitas permintaan, sasaran produk, persaingan

pasar, dan pengawasan pemerintah.

Umumnya harga jual produk dan jasa ditentukan oleh perimbangan

penawaran dan permintaan di pasar sehingga biaya bukan satu-satunya

penentuan harga jual. Selera konsumen, jumlah pesaing yang memasuki pasar,

dan harga jual yang ditentukan pesaing merupakan contoh faktor yang sulit

untuk diramalkan dan mempengaruhi pembentukan harga jual produk di pasar.

Oleh karena itu, satu-satunya kepastian relatif tinggi yang berpengaruh dalam

penentuan harga jual adalah biaya produksi.

Biaya produksi merupakan dasar yang memberikan perlindungan bagi

perusahaan dari kemungkinan kerugian. Kerugian akan mengakibatkan suatu

perusahaan tidak dapat tumbuh dan bahkan akan dapat mengakibatkan

perusahaan harus menghentikan kegiatan bisnisnya. Untuk menghindari

kerugian yaitu dengan berusaha memperoleh pendapatan yang setidaknya dapat

menutupi biaya produksi. Dengan demikian, sangatlah penting untuk

memperhitungkan biaya produksi dan menetapkan harga jual produk dengan

tepat untuk memberikan perlindungan bagi perusahaan dari kemungkinan

kerugian.

Selain berpengaruh terhadap harga jual, biaya produksi termasuk

biaya overhead pabrik yang dikeluarkan PT. Perkebunan Nusantara XIV

(Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau juga dapat mempengaruhi volume

(17)

digunakan dalam kegiatan produksi dan operasional perusahaan. Dengan

demikian dapat kita simpulkan bahwa terdapat keterkaitan antara biaya

overhead pabrik dalam menentukan harga jual serta volume penjualan, dimana

biaya dapat dijadikan dasar dalam mencapai tingkat penjualan yang

diharapkan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dan mengambil judul tentang “Pengaruh Biaya Overhead Pabrik

Terhadap Harga Jual Hasil Produksi Pada PT. Perkebunan Nusantara

XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menyimpulkan

bahwa permasalahan pokok dalam Penelitian ini yaitu: “Seberapa besar

pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi pada PT.

Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau.”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh

biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi pada PT.

(18)

D. Manfaat Penelitian

a. Bagi Perusahaan

Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi manajemen PT. Perkebunan

Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau dalam

menetapkan biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi.

b. Bagi Penulis

Penyusunan penelitian ini dilakukan untuk menambah pengetahuan penulis

khususnya yang berkaitan dengan biaya overhead pabrik terhadap harga jual

hasil produksi.

c. Bagi Pihak Lain

Dapat digunakan sebagai bahan informasi dan sumbangan pemikiran yang

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Biaya

1. Defenisi dan Penggolongan Biaya

Untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu untuk mendapatkan laba

yang maksimal, maka pihak manajemen perlu memperhitungkan biaya

sebagai salah satu faktor untuk menentukan harga jual. Barikut ini defenisi

biaya dari beberapa pakar ekonomi yaitu:

Menurut Mulyadi (2014:8) mengemukakan bahwa defenisi biaya

dibagi atas dua yaitu biaya dalam arti sempit dan biaya arti luas. Dalam arti

luas, biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan

uang yang telah terjadi dan kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu,

sedangkan pengertian biaya dalam arti sempit adalah sebagai pengorbanan

sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva.

Menurut Arif Suadi (2013:19) mengemukakan “biaya adalah kas

atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau

jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di masa yang akan

datang bagi organisasi. Sedangkan menurut Supriyono (2011:185) “biaya

adalah pengorbanan ekonomis untuk memperoleh barang atau jasa.

Sedangkan menurut Bastian, Bustami dan Nurlela (2010:7) “biaya atau cost

pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah

terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.

(20)

Berdasarkan defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa biaya

merupakan sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang yang

telah terjadi atau secara potensial akan terjadi untuk mencapai tujuan

tertentu. Tidak satupun konsep biaya yang dipakai untuk semua tujuan,

maka dalam melakukan penggolongan biaya perlu diketahui untuk tujuan

apa biaya tersebut digolongkan. Untuk tujuan yang berbeda digunakan

penggolongan yang berbeda pula.

Menurut Mulyadi (2012:13) dalam bukunya “Akuntansi Biaya”

bahwa biaya dapat digolongkan menurut :

a. Objek pengeluaran

b. Fungsi pokok dalam perusahaan

c. Hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai

d. Perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.

e. Jangka waktu manfaatnya

Berdasarkan penggolongan biaya di atas dapat dijelaskan sebagai

berikut:

a. Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran

Dalam penggolongan ini, nama objek pengeluaran dasar penggolongan

biaya misalnya objek pengeluaran bahan bakar, maka semua pengeluaran

yang berhubungan dengan bahan bakar disebut biaya bahan bakar.

b. Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan

Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok yaitu fungsi

(21)

karena itu, dalam perusahaan manufaktur biaya dapat dikelompokkan

menjadi tiga bagian yaitu:

1) Biaya produksi, merupakan biaya yang terjadi untuk mengolah bahan

baku menjadi produk jadi siap untuk dijual.

2) Biaya pemasaran, merupakan biaya-biaya terjadi untuk melaksanakan

kegiatan pemasaran produksi.

3) Biaya administrasi dan umum, merupakan biaya- biaya untuk

mengkoordinasikan kegiatan produksi pemasaran produk.

c. Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang

dibiayai. Dalam hubungan dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat

dikelompokkan menjadi dua golongan:

1) Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi, yang penyebab

satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang biayai. Jika sesuatu

yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung tidak akan

terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasi

dengan sesuatu yang dibiayai. Biaya produksi langsung terdiri dari

biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja.

2) Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang terjadi tidak

hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung

dalam hubungannya produk disebut dengan istilah biaya produksi

tidak langsung dan biaya overhead pabrik (factory overhead costs).

(22)

d. Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan

perubahan volume kegiatan. Dalam hubungannya dengan volume

kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi:

1) Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding

dengan perubahan volume kegiatan. Contohnya: biaya bahan baku dan

biaya tenaga kerja langsung.

2) Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding

dengan perubahan volume kegiatan. Contohnya: unsur biaya tetap dan

unsur biaya variabel.

3) Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume

kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstant pada

volume produksi tertentu.

4) Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar

volume kegiatan tertentu. Contohnya: gaji direktur produksi.

e. Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu dan manfaatnya, biaya

dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:

1) Pengeluaran modal (capital expenditures) adalah biaya yang

mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya

periode akuntansi adalah satu tahun kalender). Pengeluaran modal ini

pada saat terjadi dibebankan sebagai harga pokok aktiva dan

dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan

cara didepresiasi, diamortisasi atau dideplesi. Contoh pengeluaran

(23)

2) Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures) adalah biaya yang

hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadi

pengeluaran tersebut. Contoh pengeluaran pendapatan yaitu biaya

iklan, biaya telex, dan biaya tenaga kerja.

2. Biaya Produksi

Untuk menentukan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh

perusahaan perlu diketahui apakah yang dimaksud biaya produksi itu

sendiri. Dimana biaya produksi merupakan salah satu faktor penting yang

dapat mempengaruhi hasil kegiatan produksi, sehingga memerlukan

perhatian yang lebih, baik dalam perencanaan maupun dalam

pengendaliannya.

Menurut Arif Suadi (20013:26) menyatakan bahwa “biaya produksi

merupakan biaya yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan

jasa”. Contohnya biaya depresiasi mesin dan equipment, biaya bahan baku,

biaya bahan penolong, dan biaya gaji karyawan. Sedangkan defenisi biaya

produksi menurut Mulyadi (2014:14) adalah biaya-biaya yang terjadi untuk

mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.

Biaya produksi yang terdiri dari bahan baku, biaya tenaga kerja

langsung dan biaya overhead pabrik terbagi lagi kedalam dua kategori yakni

biaya prima (prime cost) yang terdiri atas biaya bahan baku dan biaya

tenaga kerja, sedangkan biaya konvensi (convension cost) yakni biaya

tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, yang merupakan biaya

(24)

B. Biaya Overhead Pabrik

1. Pengertian Biaya Overhead Pabrik

Bahan baku langsung akan menjadi komponen utama produk dan

dapat diukur dalam hubungannya dengan jumlah yang diproduksi. Tenaga

kerja langsung dibebankan secara langsung pada produk dan perubahannya

dapat diukur dalam hubunganya dengan jumlah yang produksi. Oleh karena

itu, biaya per unit bahan baku dari tenaga kerja langsung dalam kapasitas

tertentu adalah tetap, dengan asumsi bahwa tidak ada perubahan harga atau

tarif upah serta pengawasan yang efektif tetap terlaksana. Sedangkan

biaya-biaya yang tidak dapat secara langssung dibebankan kepada produk atau

tidak dapat dihubungkan secara langsung, dikelompokkan ke dalam biaya

overhead pabrik.

Menurut Mulyadi (2014:194) mengatakan bahwa biaya overhead

pabrik adalah semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya

tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi

tidak langsung. Sedangkan menurut Lili M dan Bedjo Siswanto (2010:45)

biaya overhead pabrik adalah semua biaya selain biaya bahan mentah atau

upah langsung yang berkaitan dengan proses produksi.

Selanjutnya menurut Arief Suadi (2013:29) mengatakan bahwa biaya

overhead pabrik adalah biaya-biaya yang terjadi di pabrik selain biaya

bahan baku maupun biaya tenaga kerja langsung. Sedangkan menurut

(25)

yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka proses produksi, kecuali biaya

bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Berdasarkan beberapa defenisi di atas, maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi yang

dikeluarkan perusahaan selama proses produksi kecuali biaya bahan baku

dan biaya tenaga kerja langsung.

Biaya overhead pabrik tidak dapat diidentifikasi secara langsung

kepada produk yang menggunakannya atau mengkonsumsinya. Ini berbeda

dengan biaya produksi langsung yang dapat diidentifikasi secara langsung

kepada produk yang mengkonsumsinya. Biaya overhead pabrik umunya

dikonsumsi oleh lebih dari satu departemen produksi. Oleh karena itu, perlu

satu prosedur distribusi biaya overhead pabrik ini kepada tiap-tiap

departemen atau produk yang mengkonsumsinya.

2. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik

Penggolongan biaya overhead pabrik menurut Mulyadi (2014:193)

ada tiga cara penggolongan yaitu:

a. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya

Dalam perusahaan yang memproduksi berdasarkan pesanan, biaya

overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya

tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi termasuk dalam biaya

overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan berikut ini:

(26)

Adalah biaya bahan yang digunakan untuk membantu penyelesaian

suatu produk yang jumlahnya relatif kecil. Misalnya lem dalam

perusahaan percetakan, pernis dan paku dalam perusahaan mebel.

2) Biaya tenaga kerja tidak langsung

Adalah upah yang dibayarkan kepada karyawan pabrik secara ini

antara lain upah pisik tidak berhubungan dengan proses pembuatan

produk. Termasuk dalam kelompok ini antara lain upah mandor, gaji

manajer produksi, gaji pegawai administrasi publik.

3) Biaya penyusutan aktiva tetap pabrik

Adalah biaya penyusutan atas aktiva tetap yang dipergunakan di

pabrik untuk penyelesaian produk baik secara langsung maupun tidak

langsung, misalnya biaya penyusutan gedung pabrik, mesin-mesin,

dan kendaraan pabrik.

4) Biaya reparasi dan pemeliharaan

Adalah biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan dan perawatan mesin,

gedung pabrik dan perawatan pabrik lainnya.

5) Biaya asuransi

Adalah biaya yang dikeluarkan untuk membagi resiko yang terjadi

dalam proses produksi, biaya asuransi karyawan pabrik.

6) Biaya yang timbul karena penggunaan jasa pihak lain

Adalah biaya-biaya yang timbul karena penggunaan jasa pihak lain

guna penyelesaian dan kelancaran proses produksi, misalnya biaya

(27)

7) Biaya-biaya yang terjadi di departemen pembantu

Dalam perusahaan yang memiliki departemen pembantu, misalnya

departemen bengkel atau pembangkit tenaga listrik, maka semua biaya

yang terjadi di departemen pembantu tersebut diperlakukan sebagai

biaya overhead pabrik.

b. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam

hubungannya dengan perubahan volume produksi

Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam

hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik

dibagi menjadi tiga golongan yaitu:

1) Biaya overhead pabrik tetap

Adalah biaya overhead pabrik yang sampai tingkat tertentu jumlahnya

konstan, tidak terpengaruh oleh adanya tingkat produksi. Contohnya:

biaya penyusutan gedung pabrik, PBB pabrik, amortisasi patent dan

lain-lain.

2) Biaya overhead pabrik variabel

Adalah biaya overhead pabrik yang jumlahnya terpengaruh dengan

perubahan tingkat produksi volume kegiatan dimana perubahannya

sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

3) Biaya overhead pabrik semivariabel

Adalah biaya overhead pabrik yang mengandung unsur tetap dan

variabel. Jumlahnya terpengaruh oleh perubahan tingkat produksi,

(28)

kegiatan. Termasuk dalam kelompok ini antara lain: PPh karyawan

yang ditanggung perusahaan, biaya pemeliharaan mesin, dan biaya

pemeriksaan.

c. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan

departemen .

Jika memiliki departemen produksi, perusahaan juga mempunyai

departemen-departemen pembantu, maka biaya overhead pabrik meliputi

juga semua biaya yang terjadi di departemen-departemen pembantu ini

yang meliputi biaya tenaga kerja, depresiasi, reparasi, dan pemeliharaan

aktiva tetap serta asuransi yang terjadi di departemen tersebut.

Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-depertemen yang ada

dalam pabrik, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua

kelompok yaitu:

1) Biaya overhead pabrik langsung departemen adalah biaya overhead

pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya

dinikmati oleh departemen tersebut.

2) Biaya overhead pabrik tidak langsung depertemen adalah biaya

overhead pabrik yang manfaatnya dinikmati lebih dari satu

departemen.

3. Perhitungan Tarif Biaya Overhead Pabrik

Apabila biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar tarif yang

dihitung dimuka, maka sebelum melakukan aktivitas produksi harus

(29)

overhead pabrik dibebankan. Langkah-langkah untuk menghitung besarnya

tarif biaya overhead pabrik tersebut adalah:

a. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik

Langka pertama untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik

adalah menyusun anggaran biaya overhead pabrik dalam satu periode

tertentu. Dalam menyusun anggaran biaya overhead pabrik dengan

mengasumsikan jumlah produksi pada satu periode tertentu. Pada

kapasitas yang akan dipakai tersebut dianggarkan besarnya

masing-masing elemen biaya overhead pabrik, termasuk perlu dipisahkan

variabilitas biayanya.

b. Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik

Setelah anggaran biaya overhead pabrik disusun, maka selanjutnya

menentukan dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk.

4. Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik

Depatementalisasi biaya overhead pabrik adalah pembagian pabrik

ke dalam bagian-bagian yang disebut departemen atau pusat biaya yang

dibebani dengan biaya overhead pabrik. Dalam departementalisasi, biaya

overhead dihitung untuk setiap departemen produksi dengan dasar

pembebanan yang mungkin berbeda di antara departemen-departemen yang

ada.

Oleh karena itu, departementalisasi biaya overhead pabrik

memerlukan pembagian perusahaan ke dalam departemen-departemen

(30)

Departemen-departemen inilah yang merupakan pusat biaya dibandingkan biaya dengan

prestasi yang dihasilkan oleh departemen tersebut.

Pada dasarnya langkah-langkah penentuan tarif biaya overhead

pabrik per departemen adalah sama, tetapi masalah yang timbul adalah

langkah yang berbeda. Langkah-langkah penentuan biaya overhead pabrik

per departemen adalah sebagai berikut:

a. Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen;

b. Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen

produksi; dan

c. Perhitungan tarif pebebanan biaya overhead pabrik per departemen.

5. Metode-Metode Alokasi Biaya Overhead Pabrik

Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk

departemen-departemen produksi saja, karena pengambilan bahan baku

menjadi produk yang biasanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena

itu, biaya overhead pabrik yang akan dibebankan kepada produk tersebut

hanya terdiri dari biaya yang terjadi dalam departemen-departemen produksi

saja, maka untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik per departemen,

biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen

produksi.

Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen

produksi dilakukan dengan dua cara yaitu:

(31)

Dalam metode alokasi ini, biaya overhead pabrik departemen

pembantu dilakukan ke tiap-tiap departemen produksi yang

menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang

dihasilkan oleh departemen pembantu hany dinikmati oleh departemen

produksi saja. Tidak ada departemen pembantu yang memakai jasa

departemen lainnya.

b. Metode alokasi bertahap (step method)

Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen

pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi

digunakan pula oleh departemen lainnya. Oleh karena itu, sebelum biaya

overhead pabrik di dua departemen tersebut dialokasikan ke departemen

produksi, maka perlu diadakan alokasi biaya overhead pabrik antara

departemen pembantu yang saling menikmati jasa tersebut. Dengan

demikian alokasi biaya overhead pabrik dari departemen pabrik ke

departemen produksi dilakukan secara bertahap dengan mengalokasikan

biaya overhead antar departemen kemudian mengalokassikan biaya

overhead departemen pembantu ke departemen produksi. Metode alokasi

bertahap di bagi menjadi dua kelompok metode, yakni:

1. Metode alokasi bertahap yang memperhitungkan transfer jasa timbal

balik antar departemen-departemen pembantu. Yang termasuk dalam

metode ini adalah sebagai berikut:

(32)

Dalam metode ini biaya overhead pabrik departemen-departemen

pembantu yang saling memberikan jasa, dialokasikan secara terus

menerus sehingga jumlah biaya obverhead yang belum

dialokasikan menjadi tidak berarti.

b) Metode alokasi aljabar (algebraic method)

Ketika menggunakan metode bertahap ketidaklengkapan timbul

karena pendistribusian yang berturut sehingga departemen yang

ditutup terlebih dahulu tidak menerima pembagian biaya dari

departemen yang ditutup kemudian.

2. Metode alokasi bertahap yang tidak memperhitungkan transfer jasa

timbal balik antar departemen pembantu. Metode alokasi yang

termasuk dalam kelompok ini adalah metode urutan alokasi yang

diatur.

C. Harga Jual

1. Defenisi Harga Jual

Harga jual produk yang ditetapkan oleh suatu perusahaan, tentunya

dapt bersaing di pasaran. Penentuan harga jual yang dapat bersaing

bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Harga jual yang terlalu tinggi

dapat berakibat kalahnya perusahaan dalam persaingan, sedangkan harga

yang terlalu rendah dapat berakibat tidak tercapainya tujuan perusahaan,

yaitu tercapainya laba pada tingkat yang dikehendaki.

Menurut William Carter K (2009:21) “harga jual adalah besarnya

(33)

dihitung dari biaya produksi ditambah biaya non-produksi dan laba yang

diharapkan”. Sedangkan menurut Abdul Halim (2007:128) “harga jual

adalah harga jual yang meliputi biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan

distribusi, ditambah dengan jumlah laba yang diinginkan”.

Berdasarkan defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual

adalah nilai (harga) yang ditetapkan oleh suatu perusahaan dalam

menawarkan produknya kepada konsumen setelah memperhitugkan seluruh

biaya yang dikeluarkan ditambah persentase laba yang diharapkan.

2. Tujuan Penentapan Harga Jual

Pada umumnya para produsen di dalam menentukan tingkat harga

dari setiap barang atau jasa yang di hasilkan memiliki sejumlah tujuan yang

akan dicapai dari setiap kebijakan yang diambil. Pemilihan secara jelas

antara tujuan dan sasaran penentuan harga, tentunya dengan tujuan utama

untuk lebih memudahkan manajemen untuk melakukan analisa atau evaluasi

terhadap setiap kebijakan yang diambil, sehingga berdasarkan hasil analisa

dan evaluasi yang dilakukan, manajemen akan segera membuat kebijakan

baru guna memperbaiki kesalahan/kekurangan dari berbagai kebijakan

harga yang telah ditentukan sebelumnya.

Tujuan penentuan harga merupakan suatu panduan untuk

menciptakan masa depan, namun tujuan ini tidak mempunyai unsur

mendesak yang akan membantu pencapaiannya. Tujuan penentuan harga

(34)

sampai disana. Oleh karena itu, perusahaan perlu melengkapinya dengan

menetapkan sasaran untuk menentukan harga jual.

3. Faktor Penentapan Harga Jual

Penentuan harga jual barang atau jasa merupakan hal yang tidak

mudah disebabkan banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan. Para

pakar ekonomi memberikan batasan mengenai faktor penentuan harga jual,

salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Abdul Halim (2007:185) yang

menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual antara lain:

harga jual produk saingan dan kondisi perekonomian pada umumnya.

Dimana teori tersebut dikenal dengan nama “teori harga”.

Sedangkan menurut Stanto dalam buku ”Dasar-Dasar Pemasaran”

oleh Marius P. Angipora (2002:276-279) mengatakan bahwa penentuan

harga jual meliputi 5 tahap yaitu:

a. Mengestimasi permintaan untuk barang tersebut

Pada tahap ini seharusnya produsen perlu membuat estimasi

permintaan barang aatau jasa yang dihasilkan secara total.

Pengestimasian permintaan tersebut dapat dilakukan dengan jalan

menentukan harga jual yang diharapkan yakni dengan harga yang

diharapkan dapat diterima oleh konsumen dan mengestimasikan volume

penjualan pada berbagai tingkat harga.

b. Mengetahui lebih dahulu reaksi dalam persaingan

Kebijakan penentuan harga tentu harus memperhatikan kondisi

(35)

c. Menentukan market share yang dapat diharakan

Bagi perusahaan yang ingin bergerak dan maju lebih cepat tentu

selalu mengharapkan market share yang lebih besar. Untuk

mendapatkannya harus ditunjang oleh kegiatan promosi dan kegiatan lain

dari persaingan non harga, disamping dengan penentuan harga tertentu.

d. Memilih strategi harga untuk mencapai target pasar

Ada beberapa strategi harga yang dapat digunakan oleh perusahaan

untuk mencapai target pasar yang sesuai yaitu: penetapan harga

penyaringan (skim the cream princing), strategi ini berupa penetapan

harga yang setinggi-tingginya dan penentuan harga penetrasi

(penetracion pricing), strategi ini merupakan strategi harga yang

serendah-rendahnya untuk mencapai pasar-pasar massal secara cepat

yang bertujuan untuk mencapai volume penjualan yang sebesar-besarnya

dalam waktu relatif singkat.

e. Mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan

Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam penentuan harga atau

mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan denganmelihat pada

barang, sistem distribusi atau program promosinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

walaupun biaya bukan merupak satu-satunya faktor penentu ketidakpastian

dikarenakan permintaan konsumen atas barang atau jasa, jumlah pesaing

dan lain-lain yang merupakan hal yang sulit diramalkan, akan tetapi biaya

(36)

perusahaan serta yang perlu diingat bahwa sebaiknya harga jual barang atau

jasa dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan atau sumber daya yang

dikorbankan untuk membuat barang atau jasa sehingga dapat menghasilkan

laba bagi perusahaan.

4. Metode Penetapan Harga Jual

Seperti yang dikemukakan oleh Carter K dan Usry (2005:65) dalam

bukunya : Akuntansi Biaya” mengatakan bahwa ada beberapa metode

penentuan harga jual yaitu:

a. Gross margin pricing yaitu dengan menggunakan cost barang yang dijual

ditambah mark up yang diinginkan perusahaan. Umumnya digunakan

oleh perusahaaan perdagangan dimana produk yang dijual tidak dibuat

sendiri, sehingga tidak banyak aktiva tetap yang digunakan.

b. Direct cost pricing yang lebih dikenal dengan nama marginal income

pricing, karena hanya memperhitungkan biaya-biaya yang berhubungan

secara profesional dengan volume penjualan, sehingga menghasilkan

marginal income yang dipakai sebagai penentuan harga jual ialah berapa

marginal income yang dikehendaki oleh perusahaan.

c. Full cost pricing yaitu metode yang memperhitungkan semua biaya yang

dipakai dalam pembuatan produk tersebut ditambah persentase laba yang

diinginkan untuk menutup biaya operasi dan laba yang diinginkan.

d. Time and material pricing yaitu metode yang menentukan tarif tertentu

dari upah langsung dan tarif lainnya dari bahan baku masing-masing.

(37)

biaya tidak langsung serta laba yang diinginkan. Metode ini banyak

digunakan oleh perusahaan-perusahaan jasa dan perusahaan profesional.

e. Return on capital employed pricing yaitu metode yang menentukan

persentase mark up tertentu dari capital employed. Yaitu capital yang

dianggap mempunyai peranan dalam memproduksi barang atau jasa.

Selain manajemen, penentuan harga barang atau jasa bukan hanya

merupakan kebijaksanaan di bidang pemasaran atau keuangan, melainkan

merupakan kebijakan yang berkaitan dengan seluruh aspek kegiatan

perusahaan. Harga jual barang atau jasa, selain mempengaruhi volume

penjualan atau jumlah pembelian produk atau jasa terseebut, juga akan

mempengaruhi jumlah pendapatan perusahaan.

Selain jenis produk atau jasa yang dihasilkan oleh banyak

perusahaan, barangkali dalam penentuan harga jual relatif tidak banyak

dijumpai masalah. Dalam keadaan tersebut, pada umumnya massing-masing

perusahaan tidak dapat secara langsung mempengaruhi tinggi rendahnya

harga jual produk atau jasa yang dihasilkan. Biasanya perusahaan dibidang

pertanian merupakan contoh perusahaan yang tidak banyak menjumpai

masalah dalam penentuan harga jual. Sebaliknya, bagi perusahaan yang

secara langsung dapat mempengaruhi harga jual, perusahaan akan

dihadapkan pada masalah bagaimana menentukan harga jual produk yang

dihasilkan. Dalam jangka waktu panjang harga jual produk yang ditentukan

(38)

perusahaan. Penentuan harga jual produk dapat diterapkan untuk produk

baru atau produk yang ada sebelumnya.

Biaya (cost) merupakan komponen penting yang harus

dipertimbangkan dalam penentuan harga jual barang atau jasa. Harga jual

produk pada umumnya ditentukan dari jumlah tertentu yang disebut sebagai

mark up. Cara penentuan harga jual tersebut dikenal dengan pendekatan cost plus.

5. Komponen Harga Jual

Harga jual berdasarkan cost plus pricing dihitung dengan rumus:

Rumus perhitungan harga jual atas dasar biaya secara umum dapat

dinyatakan dalam persamaan berikut ini:

Persentase mark up dihitung dengan rumus:

persentase mark up =

laba yang diharapkan + biaya yang berhubungan langsung oleh produk

biaya yang diperhitungkan langsung oleh produk

Terdapat perbedaan konsep langsung dan tidak langsungnya biaya

dengan volume antara metode full costing dengan metode variabel costing

adalah berupa biaya produksi, sedangkan biaya yang tidak berhubungan

langsung dengan volume adalah berupa biaya nonproduksi. Dengan Harga Jual = biaya + laba yang diharapkan

(39)

demikian perhitungan harga jual per unit menurut pendekatan full costing

disajikan dalam tabel di bawah ini:

Perhitungan Markup :

Biaya adminstrasi dan umum Rp xxx

Biaya pemasaran Rp xxx

Laba yang diharapkan % ROI × investasi Rp xxx

Jumlah Rp xxx

Biaya produksi :

- Biaya bahan baku Rp xxx

- Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx

- Biaya overhead pabrik Rp xxx

- Jumlah biaya produksi Rp xxx

Persentase markup y %

Perhitungan harga jual :

Biaya produksi Rp xxx

Markup y% × biaya produksi Rp xxx

Harga jual Rp xxx

Volume produksi xxx

Harga jual per unit Rp xxx

Sumber : Buku Akuntansi Biaya, 2015

Sedangkan untuk pendekatan variable costing memandang dengan

cara yang berbeda terhadap biaya yang dipengaruhi secara langsung oleh

volume produk bila dibandingkan dengan full costing. Dalam pendekatan

(40)

produk terdiri dari biaya variabel, sedangkan biaya penuh yang tidak

dipengaruhi secara langsung oleh volume produk terdiri dari biaya tetap.

D. Kerangka Pikir

PT.Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit

Burau merupakan salah satu perusahaan milik negara yang bergerak dibidang

produksi kelapa sawit. Perusahaan ini menjalankan usahanya untuk

kelangsungan hidup dilandasi dengan tujuan. Dalam menetapkan harga jual

sangat dipengaruhi oleh seberapa besar biaya overhead pabrik yang

dikeluarkan perusahaan, karena semakin tinggi biaya overhead pabrik yang

dikeluarkan oleh perusahaan maka akan mempengaruhi biaya produksi

sehingga harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan tentu harga yang dapat

bersaing dipasaran.

Sebelum menetapkan harga jual, PT. Perkebunan Nusantara XIV

(Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau terlebih dahulu menghitung biaya

produksi termasuk biaya overhead pabrik yang telah dikeluarkan oleh

perusahaan kemudian menetapkan harga jual. Untuk lebih jelasnya mengenai

(41)

Gambar: 2.1 Bagan Kerangka Pikir E. Hipotesis

Berdasarkan dari uraian permasalahan di atas, diduga bahwa biaya

overhead pabrik berpengaruh signifikan terhadap harga jual hasil produksi

pada PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit

Burau.

PT.PN XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau

Biaya Produksi

Biaya Overhead Pabrik

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. Perkebunan Nusantara XIV

(Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau. Pabrik kelapa sawit ini berada di

Desa Lagego Kecamatan Burau, Kabupaten luwu Timur, Provinsi Sulawesi

Selatan. Sedangkan waktu penelitian kurang lebih 2 bulan mulai dari bulan

Maret sampai dengan bulan April 2015.

B. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan data dapat diperoleh melalui:

1. Observasi yaitu pengamatan dan peninjauan langsung pada perusahaan

untuk memperoleh informasi atau gambaran tentang keadaan dan

keterangan yang dapat menunjang penelitian ini.

2. Dokumentasi yaitu pengumpulan data melalui dokumen-dokumen

perusahaan yang berupa laporan biaya overhead pabrik dan daftar harga jual

serta dokumen lainnya.

3. Wawancara yaitu tanya jawab yang dilakukan peneliti dengan pihak-pihak

yang bersangkutan guna mendapatkan data dan keterangan yang menunjang

proses dalam penelitian.

(43)

C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a) Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka-angka

yang diperoleh melalui obyek yang diteliti.

b) Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dalam bentuk

penjelasan-penjelasan yang relevan dengan obyek penelitian berupa gambaran

umum perusahaan maupun informasi langsung yang menyangkut

kebijakan pimpinan.

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer

dan data sekunder yaitu:

a) Data primer yaitu data yang diperoleh langsung melalui pengamatan,

wawancara yang dilakukan oleh pimpinan atau manajer keuangan dan

manajer produksi pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik

Kelapa Sawit Unit Burau.

b) Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang

ada hubungannya dengan data-data yang diperlukan mengenai biaya

overhead pabrik dan harga jual yang berkaitan dengan masalah yang

(44)

D. Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel bebas adalah variabel yang memnyebabkan atau memengaruhi

faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk

menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati.

Dalam penelitian ini yang merupakan variabel bebas (independent) adalah

biaya overhead pabrik (X).

2. Variabel terikata dalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk

menentukan adanya pengaruh variabel bebas yaitu faktor yang muncul atau

tidak muncul, atau perubahan sesuai dengan yang diperkenalkan peneliti.

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat (dependent) yaitu harga

jual (Y).

E. Metode Analisis Data

1. Analisis Regresi Linear Sederhana

Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yang berusaha menjawab

masalah tentang pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil

produksi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit

Burau. Sehingga untuk mengetahui pengaruh biaya overhead pabrik terhadap

harga jual hasil produksi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik

Kelapa Sawit Unit Burau, maka digunakan analisis regresi linear sederhana

(45)

Hasil analisis regresi ini digunakan untuk mengetahui ada atau

tidaknya pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi.

Rumus analisis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut:

Dimana :

Y= Variabel Terikat (Harga Jual)

a = Konstanta

b = Koefisien Regresi

X= Variabel Bebas (Biaya overhead pabrik)

2. Pengujian Hipotesis

pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji t, adapun

langkah-langkah uji t adalah sebagai berikut:

a. Menentukan hipotesis

H : Tidak ada pengaruh secara signifikan antara biaya overhead pabrik

terhadap harga jual hasil produksi.

H : Ada pengaruh secara signifikan antara biaya overhead pabrik terhadap

harga jual hasil produksi.

a. Menentukan tingkat signifikan (α) yang digunakan

b. Menghitung nilait c. Menentukant

d. Kriteria pengujian dengan membandingkant dengant Jikat <t makaH diterima dan H ditolak Y= a+bX

(46)

Jikat >t makaH ditolak dan H diterima e. Kesimpulan

F. Defenisi Operasional Perusahaan

Variabel yang diteliti perlu di definisikan agar terdapat persamaan

pendapat tentang cara-cara yang dpergunakan. Hal ini untuk menghindarkan

kesalahan penafsiran dalam mengartikan suatu hasil penelitian. Berikut

defenisi operasional masing-masing variabel sebagai berikut :

1. Biaya adalah sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah

terjadi atau secara potensial aan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi yang dikeluarkan

perusahaan selama proses produksi kecuali bahan baku dan biaya tenaga

kerja.

3. Harga jual adalah nilai (harga) yang ditetapkan oleh suatu perusahaan dalam

menawarkan produknya kepada konsumen setelah memperhitungkan

seluruh biaya yang dikeluarkan ditambah persentase laba yang diharapkan.

4. Pabrik kelapa sawit adalah salah satu perusahaan yang ada di PT.

Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau yang

kegiatan usahanya yaitu memproduksi kelapa sawit menjadi CPO dan

(47)

G. Sistematika Penulisan

Skripsi ini disusun secara sistematika menjadi enam bab sebagai

berikut :

BAB I Pendahuluan yang bersifat latar belakang, rumusan masalah, tujuan

penelitan dan manfaat penelitian.

BAB II Tinjauan Pustaka menjelaskan tentang konsep biaya, biaya

overhead pabrik,harga jual, kerangka piker dan hipotesis.

BAB III Metodologi Penelitian yang membahas masalah tempat dan waktu

penelitian, teknik pengumpulan data, jenis dan sumber penelitian,

metode analisis data, defenisi operasional, dan sistematika

penulisan.

BAB IV Gambaran Umum Objek Penelitian yang terdiri dari sejarah singkat

perusahaan, struktur organisasi, dan kegiatan usaha perusahaan.

BAB V Hasil Penelitian dan Pembahasan tentang pengaruh biaya overhead

pabrik terhadap harga jual hasil produksi pada PT.Perkebunan

Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau. Adapun

komponen-komponen lainnya ialah laporan laba rugi dan realisasi

biaya.

(48)

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

Sebagai sebuah hasil Badan Usaha Milik Negara, PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) dikenal sebagai salah satu perusahaan peninggalan Belanda yang merupakan sebuah sektor penting dalam membangun perekonomian dan kesejahteraan bangsa. Sebagai perusahan yang bergerak di bidang pengolahan perkebunan Negara, PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) memiliki beberapa cabang pengolahan hasil perkebunan di antaranya tebu dan kelapa sawit yang berada di daerah terpencil di pelosok Nusantara. PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) memiliki tujuan seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasar No. 47 Tanggal 13 Agustus 2008 yaitu, Melakukan Usaha di bidang agrobisnis dan agroindustri serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya perseroan untuk menghasilkan barang dan / jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

A. Sejarah Pendirian Perusahaan

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV (Persero) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tanggal 14 Februari 1995 dan Akta Notaris Harun Kamil, SH. Nomor 47 tanggal 11 Maret 1996. Proses pembentukannya diawali dengan pengelompokan 26 buah PT Perkebunan (Persero) menjadi 9 kelompok pada tahun 1994, sebagaimana ditetapkan dalam

(49)

Surat Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 361/Kpts/07.210/5/1994 tentang Restrukturisasi BUMN Sektor Pertanian.

Pengelompokan tersebut dalam rangka optimalisasi skala usaha untuk meningkatkan daya saing menghadapi pasar bebas. Setelah tahap pengelompokan, maka pada tanggal 11 Maret 1996 dibentuklah 14 buah PT Perkebunan Nusantara, salah satu diantaranya adalah PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) yang merupakan peleburan (merger murni) dari : 1. PT. Perkebunan XXVIII (Persero),

2. PT. Perkebunan XXXII (Persero), 3. PT. Bina Mulya Ternak (Persero), dan

4. Eks Proyek PT. Perkebunan XXIII (Persero) di Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara.

Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami perubahan, terakhir dengan Akta Nomor 13 tanggal 11 Agustus 2008 dari Notaris Lola Rosalina, SH tentang Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham tentang Penambahan Modal Disetor dan Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Nomor AHU-76872.AH.01.02 tahun 2008 tanggal 23 Oktober 2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan. Perubahan modal menjadi sebagai berikut: Modal Dasar sebesar Rp 540.000.000.000,-, Modal Belum Ditempatkan/Disetor sebesar Rp

(50)

305.000.000.000,-, dan Modal Ditempatkan/Disetor sebesar Rp 235.000.000.000,-. Pasal 11 Akta Nomor 13 mengalami perubahan sesuai Pasal 11 Akta Nomor 13 mengalami perubahan sesuai Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham tentang Perubahan Anggaran Dasar Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Nomor KEP-83/S.MBU/2009 dan KEP- 16/D4.MBU/2009 tanggal 14 September 2009, dan telah dicatatkan dengan Akta Nomor 18 tanggal 27 Maret 2012 yang dibuat oleh Notaris Lola Rosalina, SH.

B. Deskripsi Bidang Usaha

PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV (Persero) mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, kakao, kelapa hibrida, kelapa Nias/Tall, pala, kopi dan budidaya semusim tebu yang ditanam pada areal konsesi seluas 55.425,25 ha. Areal tanaman kelapa sawit seluas 16.228 ha, karet 2.513,5 ha, kakao seluas 995 ha (juga ditanam sebagai tanaman sela pada areal seluas 2.030 ha), kelapa hibrida 3.600 ha, kelapa Nias/tall 360 ha, pala 275 ha dan kopi 23 ha serta tanaman tebu pada areal seluas 14.312 ha. Selain penanaman komoditi pada areal sendiri (inti), PTPN XIV (Persero) juga mengelola areal Plasma budidaya tahunan milik petani seluas 14.514,75 ha untuk tanaman kelapa sawit seluas 10.068 ha, karet 2.556 ha dan kakao 1.890,75 ha, sedangkan tanaman tebu rakyat hanya seluas 88 ha. PTPN XIV (Persero) juga mengelola komoditi ubi kayu pada areal bekas milik PT BMT seluas 2.500 ha dan usaha peternakan sapi di areal seluas 19.581 ha.

(51)

C. Visi dan Misi Perusahaan

PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV (Persero) memiliki visi dan misi serta tujuan dan strategi bisnis, sebagai berikut:

1. Visi :

Menjadi perusahaan agribisnis dan agroindustri di Kawasan Timur Indonesia yang kompetitif, mandiri, dan memberdayakan ekonomi rakyat. 2. Misi :

a. Menghasilkan produk utama perkebunan berupa gula dan minyak sawityang berdaya saing tinggi, serta produk lain seperti karet, kopra dan ternak sapi, untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan/atau internasional,

b. Mengelola bisnis dengan teknologi akrab lingkungan yang memberikan kontribusi nilai kepada produk dan mendorong pembangunan berwawasan lingkungan,

c. Melalui kepemimpinan, teamwork, inovasi, dan SDM yang kompeten, dalam meningkatkan nilai secara terus-menerus kepada shareholder dan stakeholders,

d. Menempatkan Sumber Daya Manusia sebagai pilar utama penciptaan nilai (value creation) yang mendorong perusahaan tumbuh dan berkembang bersama mitra strategis.

3. Tujuan :

Tercapainya peningkatan laba berkelanjutan (sustainable profit

(52)

mensejahterakan shareholder dan stokeholders strategis dengan kesehatan perusahaan menimal mencapai A.

4. Strategi Bisnis :

Mengingat produk akhir bisnis sawit dan karet berbentuk komoditas dan produk gula dipasarkan dalam bentuk bulk, maka strategi bisnis yang diterapkan adalah strategi kepemimpinan biaya (overall cost leadership). 5. Nilai-Nilai Organisasi :

Kompoten : Bahwa seluruh jajaran karyawan perusahaan harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan bagi jabatan yang diemban;

Integritas: : Diyakini bahwa karyawan yang berintegritas adalah yang memiliki kesamaan antara yang dipikirkan, diucapkan, dan yang dilakukan;

Inovasi : Bahwa proses berfikir menghasilkan kreativitas yang memberikan nilai tambah ekonomis;

Pembelajaran : Seluruh jajaran perusahaan menjadikan pengalaman dan perubahan lingkungan bisnis sebagai proses pengembangan individu dan organisasi secara berkelanjutan;

Sinergi : Diyakini bahwa kerjasama tim yang efektif akan memberikan efek ganda terhadap hasil akhir.

D. Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi a. Susunan Dewan Komisaris

(53)

Susunan Dewan Komisaris PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1

Susunan Dewan Direksi

JABATAN NAMA SURAT KEPUTUSAN

Komisaris Utama

Mayjen TNI (Purn) H. Abdul Rivai Nomor : SK-394/MBU/2013 Tanggal : 21 November 2013 Komisaris

Prof. Dr. Ir. H. Ambo Ala, MS Nomor : SK-289/MBU/2012 Tanggal : 06 Agustus 2012 Komisaris Drs. Riyadi Widiasmoro,

M.Si Nomor : SK-16/MBU/2013

Tanggal : 16 Januari 2013 Komisaris H. Ahmad Yahya

Nomor : SK-394/MBU/2013

Tanggal : 21 November 2013

b. Susunan Dewan Direksi

Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham Nomor SK-99/MBU/2012 tanggal 1 Maret 2012 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan AnggotaAnggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV memberhentikan Amrullah AM sebagai Direktur Utama serta Natsir Djidding, Bambang Hartadi, Suhardjito masing-masing sebagai Direktur Produksi, Direktur SDM dan Umum, Direktur Pemasaran, Perencanaan dan Pengembangan; sekaligus mengalihkan penugasan Budi Purnomo sebagai Direktur Keuangan yang diangkat

(54)

berdasarkan Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP- 02/MBU/2009 tanggal 12 Januari 2009 menjadi Direktur Utama, serta mengangkat Anggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV, yaitu Amrullah Haris, Rispan Adi Idris, dan Mardiyanto sebagai Direktur. Keputusan tersebut telah dicatatkan secara notariil dengan Akta Nomor 20 tanggal 27 Maret 2012 yang dibuat oleh Notaris Lola Rosalina, SH.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Selaku Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV dengan Keputusan Nomor SK-55/MBU/2013 tanggal 1 Februari 2013 tentang Penegasan Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV telah menegaskan kembali pemberhentian Anggota-anggota Direksi, pengalihan penugasan, dan pengangkatan Anggota-anggota Direksi sebagaimana telah ditetapkan dengan Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham Nomor SK-99/MBU/2012 tanggal 1 Maret 2012. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-55/MBU/2013 tanggal 1 Februari 2013 tersebut telah disampaikan kepada Notaris Lola Rosalina, SH untuk dibuat akta dan pelaporannya ke Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia dengan surat Direksi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Nomor S.067/00.N14/X/II/2013 tanggal 15 Februari 2013 dan sampai saat ini masih dalam proses.

(55)

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Utama Nomor 05/SK/2012.22 tanggal 2 Maret 2012 tentang Pembagian Tugas Wewenang dan Tanggung Jawab Direktur PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) ditetapkan susunan Direksi PT Perkebunan Nusantara XIV sebagai berikut :

Tabel 4.2

Susunan Dewan Direksi

JABATAN NAMA SK PENGANGGKATAN

Direktur Utama Budi Purnomo Nomor : SK-99/MBU/2012 Tanggal : 01 Maret 2012 Direktur Produksi Amrullah Haris Nomor : SK-99/MBU/2012

Tanggal : 01 Maret 2012 Nomor : 05/SK/2012.22 Tanggal : 02 Maret 2012 Direktur

Keuangan Mardiyanto Nomor : SK-99/MBU/2012 Tanggal : 01 Maret 2012 Nomor : 05/SK/2012.22 Tanggal : 02 Maret 2012 Direktur SDM &

Umum Rispan Adi Idris Nomor : SK-99/MBU/2012 Tanggal : 01 Maret 2012 Nomor : 05/SK/2012.22 Tanggal : 02 Maret 2012

E. Gambaran Umum PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Luwu Unit Burau

Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau merupakan salah satu unit usaha PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero).Profil Perkebunan Kelapa Sawit Luwu Unit Burau berawal dari perusahaan perkebunan Belanda yang dinasionalisasikan dengna UU No. 84 tahun 1958 yang pelaksanaannya tahun

(56)

1959 menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Aneka Tani Cabang Maluku.

Tahun 1965 diubah menjadi Proyek Kebun-Kebun di Indonesia Bagian Timur (PIPREK-INTIM) dengan SK Menteri Perkebunan RI No. SP.05/Men.Pon/65 tanggal 22 Juni 1969. Dengan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1965 menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XXVIII (Persero), merupakan proyek Nucleus Estate and Smallholder (NES) yang dikelola PTP XXVIII (Persero). Tahun 1990 Perkebunan Kelapa SawitNES VII dibagi menjadi tiga unit usaha masing-masing Kebun Luwu I di Burau, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Burau dan Kebun Luwu II di Mangkutana.

Tahun 1994 PT Perkebunan XXVIII (Persero) bergabung dengan PT Perkebunan XXXII berdasarkan SK Menteri Keuangan No. 171/KMK/060.1994 menjadi PT Perkebunan XXXII Group.

Tahun 1996 berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 mulai tanggal 14 Februari 1996 dilakukan peleburan PT Perkebunan XXVIII, PT.Perkebunan XXXII, PT Perkebunan XXIII dan PT Bina Mulya Ternak menjadi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero).

PKS Luwu Unit Burau adalah gabungan dari Kebun Luwu I, Kebun Luwu II dan Pabrik Kelapa Sawit berkedudukan di Burau yang merupakan salah satu Unit Usaha dari PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) dengan budidaya tanaman kelapa sawit.

Adapun pengelolaan PKS Luwu Unit Burau terdiri dari: 1. Kebun Inti Kelapa Sawit

(57)

2. Kebun Plasma kelapa sawit PIR/NES (Nucleus Estate and Smallholder) 3. Kebun Plasma kelapa sawit KKPA (Koperasi Kredit Primer Anggotan) 4. Pabrik Minyak Kelapa Sawit

5. Instalasi Tangki Timbun (ITT) Palopo

Lahan yang dikelola merupakan lahan HGU berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertahanan Nasional dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 4.3

Penggunaan Lahan HGU

No. Urut Kebun/ Afdeling No. HGU Tanggal Terbit HGU Luas HGU (Ha) Tertanam (Ha) Sisa HGU (Ha) Jumlah 67/HGU/BPN/9 01 Nop.

1995

9,073 4,355 4,718

Pabrik Kelapa Sawit Luwu unit Burau Iklim cenderung basah, curah hujan merata sepanjang tahun, musim kemarau berkepanjangan tidak ada karena pada setiap bulan ada turun hujan, sehingga berdasarkan data curah hujan di Pabrik Kelapa Sawit Luwu Unit Burau mulai tahun 2009 sampai dengan September 2012 ( +/- 4 tahun), rata-rata curah hujan 3.644 mm/tahun dan hari hujan rata-rata 187 hari/tahun.

(58)

Tabel 4.4

Daftar Curah hujan Pertahun

Tahun

Kebun Wil. Barat Kebun Wil. Timur

Keterangan MM HH MM HH 2009 2,760 99 1,440 151 2010 2,605 168 1,334 77 2011 2,775 125 3,218 178 Sd. Sept 2012 2,320 97 2,242 111 Jumlah 10,460 489 8,234 517 Rata-rata 2,615 122 2,059 129 F. Struktur Organisasi

Salah satu cara untuk mencapai kemampuan mengelola suatu perusahaan yang baik adalah menentukan struktur formal dari organisasi tersebut. Adanya struktur organisasi yang jelas akan memudahkan para anggota organisasi melihat bagaimana organisasi disusun. Sehingga mereka masing-masing mengetahui tugas dan kewajibannya secara jelas, karena apabila terdapat persoalan yang ingin dipecahkan lebih mudah mencari pemecahannya.

Struktur organisasi merupakan pengorganisasian dalam suatu organisasi yang menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap

(59)

berhubungan- berhubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian, atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang, dan tanggung jawab berbeda-beda dalam suatu organisasi.

Untuk lebih jelas bagan struktur organisasi digambarkan dalam gambar sekaligus menguraikan secara singkat tentang mekanisme tugas dan fungsi masing-masing bagian.

(60)

G. Job Description 1. Direktur Utama

a. Tugas Pokok :

1) Menetapkan misi dan perencanaan strategis.

2) Menetapkan dan mengembangkan budaya perusahaan, ethos kerja, hubungan industri dan visi perusahaan.

3) Memimpin dan mengurus perusahaan sesuai tujuan perusahaan dan senantiasa berusaha meningkatkan efesiensi dan efektivitas perusahaan.

4) Menguasai, memelihara dan mengurus kekayaan perusahaan. b. Tanggung Jawab :

1) Bertanggung jawab kepada Rapat direksi.

2) Bertanggung jawab kepada Rapat Umum Pemegang Saham. 2. Direktur Produksi

a. Tugas Pokok :

1) Menetapkan misi dan perencanaan strategis.

2) Menetapkan dan mengembangkan budaya perusahaan, ethos kerja, hubungan industri dan visi perusahaan.

3) Memimpin dan mengurus perusahaan sesuai tujuan perusahaan dan senantiasa berusaha meningkatkan efesiensi dan efektivitas perusahaan.

Gambar

Gambar 4.1 Struktur Organisasi.......................................................................

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Judul : Analisis Efisiensi Penggunaan Modal Kerja Perusahaan Dengan Rasio Keuangan Pada PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan.. yang dilaksanakan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi keuangan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan dengan menghitung efisiensi penggunaan modal kerja dengan

tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Analisis Efisiensi Penggunaan Modal Kerja Perusahaan Dengan Rasio Keuangan Pada PT Perkebunan Nusantara III (Persero)

PENYERTAAN MODAL NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNTUK PENDIRIAN PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO)b. PT PERKEBUNAN NUSANTARA

PENYERTAAN MODAL NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNTUK PENDIRIAN PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO).. PT PERKEBUNAN

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kegiatan keuangan yang dilakukan oleh PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Takalar belum bisa

Perkebunan Nusantara XII (Persero) Kebun Kalisepanjang, bagaimanakah tingkat produktivitas tenaga kerja pada produksi komoditas kakao pada PT.. Perkebunan Nusantara XII

Pengaruh pencahayaan dan kebisingan tempat kerja terhadap kinerja karyawan di PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) Pabrik Gula Gempolkrep