i ITA 105730237811
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Strata Satu (SI) pada Jurusan Akuntansi Fakultas ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR 2015
ii
dan disahkan oleh panitia Ujian Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Muhammadiyah Makassar berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ekonomi
dan Bisnis No.29/05/A.4-II/I/36/2015 sebagai salah satu persyaratan guna
memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar pada hari Sabtu, 22 Agustus
2015/8 Dzulqaidah 1436 H.
Makassar, Dzulqaidah 1436 H Agustus 2015 M
Panitia Ujian :
Pengawas : Dr. H. Irwan Akib, M.Pd
(Rektor Unismuh Makassar) (...)
Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung , M.A
(Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis) (...)
Sekretaris : Drs. H. Sultan Sarda, MM
(PD. 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis) (...)
Penguji :
1. Drs. H. Sultan Sarda, MM (...)
2. Linda Arisanti Razak, SE., M.Si., Ak., CA (...)
3. (...)
iii
OPTIMAL PADA PT.INCIPNA INDONESIA”.
Nama : ITA
Stambuk : 105730237811
Jurusan : AKUNTANSI
Fakultas : EKONOMI DAN BISNIS
Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Telah diujiankan pada hari, Sabtu tanggal 22 Agustus 2015
Makassar, Agustus 2015
Disetujui Oleh
Pembimbing I Pembimbing II
Drs.H.Sultan Sardan,MM Linda Arisanty Razak,SE.,M.Si.AK.CA
Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Ketua Jurusan Akuntansi
Dr. H. Mahmud Nuhung, MA Ismail Badollahi, SE, M.Si,Ak
iv
telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini meskipun di dalamnya masih bersifat sederhana. Dan
tak lupa pula penulis mengucapkan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad
SAW serta para sahabatnya dan pengikutnya. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi
salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi SI
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah
Makassar. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini bukan akhir dari belajar
karena belajar adalah sesuatu yang tidak terbatas.
Ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tuaku, ibunda dan
Ayahanda (Hasna dan Abd.Latief Sam) yang telah melahirkan, mengasuh,
memelihara, mendidik, dan membimbing penulis dengan penuh kasih sayang serta
pengorbanan yang tak terhingga sejak dalam kandungan hingga dapat
menyelesaikan studi di perguruan tinggi ini, serta kakak-kakak dan adikku yang
selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis.
Serta tidak lupa dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak
mendapatkan bimbingan, petunjuk, bantuan,dan dukungan baik moril maupun
materil. Sehingga hambatan yang ada dapat dilalui dan dihadapi dengan penuh
rasa sabar. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan
v
penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Ismail Badollahi, SE., M.Si.,Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Pimpinan dan Karyawan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik
Kelapa Sawit Unit Burau yang telah membantu dan memberikan
kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dalam rangka
merampungkan tugas skripsi penulis.
5. Temam-teman yang selalu memberikan semangat dan dukungan sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan khususnya kelas Ak 1angkatan 2011.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan pada
umumnya. Dan semoga Allah SWT amal dan kebaikan kepada
pihak-pihak yang telah membantu meyelesaikan skripsi ini. Amin...
Makassar, Agustus 2015
vi
Unit Burau. (dibimbing oleh Ibu Euis Eka Pramiarsih dan Bapak Samsul Rizal).
Penentuan biaya overhead pabrik sangat penting, karena semakin besar biaya overhead pabrik yang dikeluarkan perusahaan maka akan semakin besar pula harga jual yang ditetapkan.
Penelitian ini dilakukan pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau yaitu perusahaan yang memproduksi bahan mentah berupa kelapa sawit menjadi barang jadi berupa CPO dan karnel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi.
Seluruh data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memenuh data yang diperlukan. Kemudian data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa biaya overhead pabrik berpengaruh signifikan terhadap harga jual hasil produksi PT.Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau.
vii
LEMBAR PENGESAHAN ...ii
HALAMAN PERSETUJUAN ...iii
KATA PENGANTAR ...iv
ABSTRAK ...vi
DAFTAR ISI ...vii
DAFTAR TABEL ...ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ...xi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN...xii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 7
A. Konsep Biaya ... 7
B. Biaya Overhead Pabrik ... 12
C. Harga Jual ... 20
D. Kerangka Pikir ... 28
E. Hipotesis ... 29
BAB III METODE PENELITIAN ... 30
viii
F. Defenisi Operasionel Perusahaan... 34
G. Sistematika Penulisan ... 34
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PERUSAHAAN ... 36
A. Sejarah Pendirian Perusahaan ... 36
B. Deskripsi Bidang Usaha ... 38
C. Visi dan Misi Perusahaan ... 39
D. Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi ... 40
E. Gambaran Umum PT. PN XIV (Persero) PKS Luwu Unit Burau ... 43
F. Struktur Organisasi ... 46
G. Job Description ... 48
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56
A. Hasil Penelitian ... 56 B. Pembahasan ... 65 BAB VI PENUTUP ... 67 A. Kesimpulan ... 70 B. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN... 73
ix
Tabel 4.2 Susunan Dewan Direksi ... 43
Tabel 4.3 Penggunaan Lahan HGU ... 45
Tabel 4.4 Daftar Curah hujan Pertahun ... 46
Tabel 5.1 Perkembangan Hasil Produksi ... 56
Tabel 5.2 Perkembangan total Biaya ... 58
Tabel 5.3 Perkembangan jumlah Produksi... 59
Tabel 5.4 Harga Jual Produk CPO ... 64
Tabel 5.5 Variabel X dan Variabel Y ... 64
Tabel 5.6 Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana... 66
x
xi
Lampiran 2 Surat Persetujuan Izin penelitian
Lampiran 3 Surat Keterangan Telah melaksanakan Penelitian
Lampiran 4 Laporan Laba Rugi Perusahaan
Lampiran 5 Daftar Investasi
Lampiran 6 Hasil Olahan Data
xii
Betapa bodohnya jiwa yang senang tiasa mengizinkan masa lalunya menjadi momok yang menakutkan bagi dirinya.
Betapa ruginya jiwa yang merelakan masa depannya suram
hanya karena jeratan pengalaman pahit yang dirasakannya pada masa silam.”
“Man Jadda Wajada”
Ku Persembahkan Karya Ini untuk :
Ayah dan Ibuku
(Abdul Latief Sam dan Hasna)
Kakak-Kakakku
(Namri Nur, Ikanati, Nur Jannah,
Alian Nur, dan Syarifuddin)
Dan Adikku
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bagi suatu perekonomian tujuan perusahaan adalah memperoleh laba
yang maksimal. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diperlukan adanya
pengendalian perusahaan. Dimana, usaha tersebut dapat dilakukan perusahaan
dengan meningkatkan volume penjualan dan pengendalian biaya-biaya untuk
memperluas fungsi pasar.
Pada era sekarang ini, semakin banyaknya perusahaan yang bersaing
untuk menghasilkan produk barang atau jasa yang bermutu dengan harga yang
rendah dan berpedoman bahwa konsumen hanya dibebankan pada biaya-biaya
untuk aktivitas penambahan nilai. Hal ini dilakukan karena persaingan di dunia
usaha semakin ketat sehingga untuk memenangkan persaingan perusahaan
dituntut untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga yang
kompetitif. Strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan menentukan
harga jual termasuk biaya produksi yang meliputi: biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
Menurut Mulyadi (2014:7) “Akuntansi Biaya adalah proses
pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya, pembuatan dan
penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran
terhadapnya”. Sedangkan menurut Abdul Halim (2007;3) “Akuntansi Biaya
adalah akuntansi yang membahas tentang penentuan harga pokok (Cost) dari
sesuatu produk yang diproduksi (atau dijual di pasar) baik untuk memenuhi
pesanan dari pemesan maupun untuk menjadi persediaan barang dagangan
yang akan dijual.
Berdasarkan defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa biaya produksi
merupakan variabel yang sangat penting bagi perusahaan untuk menentukan
harga jual. Oleh karena itu, biaya produksi sangatlah penting sebab modal yang
dikeluarkan oleh perusahaan berpengaruh pada harga pokok yang dihasilkan
sehingga mengakibatkan harga jual pada perusahaan lebih rendah dari pada
harga jual perusahaan pesaing. Hal ini sangat berpengaruh terhadap jumlah
pengeluaran dalam perusahaan.
Informasi biaya yang tepat dan akurat dapat membantu perusahaan
untuk menentukan harga jual yang sesuai dengan mutu produk yang dihasilkan.
Dengan menghitung harga pokok produksi, semua biaya-biaya yang
dikeluarkan dalam mengolah suatu produk akan lebih jelas terlihat sehingga
dapat mengajikan informasi yang lengkap. Harga pokok produksi termasuk
biaya overhead pabrik memuat informasi biaya yang diperlukan sebagai dasar
penentuan harga jual yaitu dengan menghitung harga pokok produksi dan
menambah keuntungan yang diinginkan.
Selain itu, harga pokok produksi memiliki peranan yang penting
dalam menentukan harga jual dan menilai apakah biaya-biaya yang
dikeluarkan dalam suatu produksi telah dilaksanakan secara efisien sesuai
dengan standar yang dihasilkan dan membantu manajemen di dalam
Serta bagaimana peran manajemen dalam meningkatkan hasil penjualan
tersebut.
PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit
Burau yang menjadi lokasi penelitian penulis merupakan perusahaan bergerak
dalam bidang produksi kelapa sawit. Dalam kegiatan produksinya PT.
Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau
menentukan harga jual produksinya dengan menghitung terlebih dahulu harga
pokok produksi yang telah dikeluarkan dan kemudian menentukan harga jual
berdasarkan harga pokok produksi. Harga pokok produksi yang dihitung dari
proses akuntansi biaya dapat dilakukan dengan menggunakan dua alternatif
metode, untuk dapat menghasilkan suatu perhitungan harga pokok produksi
diperlukan suatu proses pengumpulan dari biaya-biaya yang terjadi atas suatu
produk.
Penjualan dari produk yang dihasilkan merupakan sumber pendapatan
utama bagi perusahaan atau industri tersebut. Untuk itu, perusahaan dituntut
untuk antisipasi terhadap segala kemungkinan yang terjadi dalam persaingan,
salah satunya adalah menentukan harga jual suatu produk. Harga jual yang
terlalu tinggi dapat menimbulkan kemungkinan menurunnya daya saing.
Sebaliknya harga yang terlalu rendah dapat menyebabkan kerugian, khususnya
bila biaya meningkat.
Banyaknya faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam
menentukan harga jual. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor produksi, tujuan
biaya overhead pabrik. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi harga jual
yaitu faktor eksternal seperti elastisitas permintaan, sasaran produk, persaingan
pasar, dan pengawasan pemerintah.
Umumnya harga jual produk dan jasa ditentukan oleh perimbangan
penawaran dan permintaan di pasar sehingga biaya bukan satu-satunya
penentuan harga jual. Selera konsumen, jumlah pesaing yang memasuki pasar,
dan harga jual yang ditentukan pesaing merupakan contoh faktor yang sulit
untuk diramalkan dan mempengaruhi pembentukan harga jual produk di pasar.
Oleh karena itu, satu-satunya kepastian relatif tinggi yang berpengaruh dalam
penentuan harga jual adalah biaya produksi.
Biaya produksi merupakan dasar yang memberikan perlindungan bagi
perusahaan dari kemungkinan kerugian. Kerugian akan mengakibatkan suatu
perusahaan tidak dapat tumbuh dan bahkan akan dapat mengakibatkan
perusahaan harus menghentikan kegiatan bisnisnya. Untuk menghindari
kerugian yaitu dengan berusaha memperoleh pendapatan yang setidaknya dapat
menutupi biaya produksi. Dengan demikian, sangatlah penting untuk
memperhitungkan biaya produksi dan menetapkan harga jual produk dengan
tepat untuk memberikan perlindungan bagi perusahaan dari kemungkinan
kerugian.
Selain berpengaruh terhadap harga jual, biaya produksi termasuk
biaya overhead pabrik yang dikeluarkan PT. Perkebunan Nusantara XIV
(Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau juga dapat mempengaruhi volume
digunakan dalam kegiatan produksi dan operasional perusahaan. Dengan
demikian dapat kita simpulkan bahwa terdapat keterkaitan antara biaya
overhead pabrik dalam menentukan harga jual serta volume penjualan, dimana
biaya dapat dijadikan dasar dalam mencapai tingkat penjualan yang
diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dan mengambil judul tentang “Pengaruh Biaya Overhead Pabrik
Terhadap Harga Jual Hasil Produksi Pada PT. Perkebunan Nusantara
XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menyimpulkan
bahwa permasalahan pokok dalam Penelitian ini yaitu: “Seberapa besar
pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi pada PT.
Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau.”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh
biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi pada PT.
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Perusahaan
Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi manajemen PT. Perkebunan
Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau dalam
menetapkan biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi.
b. Bagi Penulis
Penyusunan penelitian ini dilakukan untuk menambah pengetahuan penulis
khususnya yang berkaitan dengan biaya overhead pabrik terhadap harga jual
hasil produksi.
c. Bagi Pihak Lain
Dapat digunakan sebagai bahan informasi dan sumbangan pemikiran yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Biaya
1. Defenisi dan Penggolongan Biaya
Untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu untuk mendapatkan laba
yang maksimal, maka pihak manajemen perlu memperhitungkan biaya
sebagai salah satu faktor untuk menentukan harga jual. Barikut ini defenisi
biaya dari beberapa pakar ekonomi yaitu:
Menurut Mulyadi (2014:8) mengemukakan bahwa defenisi biaya
dibagi atas dua yaitu biaya dalam arti sempit dan biaya arti luas. Dalam arti
luas, biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan
uang yang telah terjadi dan kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu,
sedangkan pengertian biaya dalam arti sempit adalah sebagai pengorbanan
sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva.
Menurut Arif Suadi (2013:19) mengemukakan “biaya adalah kas
atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau
jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di masa yang akan
datang bagi organisasi. Sedangkan menurut Supriyono (2011:185) “biaya
adalah pengorbanan ekonomis untuk memperoleh barang atau jasa.
Sedangkan menurut Bastian, Bustami dan Nurlela (2010:7) “biaya atau cost
pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah
terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa biaya
merupakan sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang yang
telah terjadi atau secara potensial akan terjadi untuk mencapai tujuan
tertentu. Tidak satupun konsep biaya yang dipakai untuk semua tujuan,
maka dalam melakukan penggolongan biaya perlu diketahui untuk tujuan
apa biaya tersebut digolongkan. Untuk tujuan yang berbeda digunakan
penggolongan yang berbeda pula.
Menurut Mulyadi (2012:13) dalam bukunya “Akuntansi Biaya”
bahwa biaya dapat digolongkan menurut :
a. Objek pengeluaran
b. Fungsi pokok dalam perusahaan
c. Hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai
d. Perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.
e. Jangka waktu manfaatnya
Berdasarkan penggolongan biaya di atas dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran
Dalam penggolongan ini, nama objek pengeluaran dasar penggolongan
biaya misalnya objek pengeluaran bahan bakar, maka semua pengeluaran
yang berhubungan dengan bahan bakar disebut biaya bahan bakar.
b. Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan
Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok yaitu fungsi
karena itu, dalam perusahaan manufaktur biaya dapat dikelompokkan
menjadi tiga bagian yaitu:
1) Biaya produksi, merupakan biaya yang terjadi untuk mengolah bahan
baku menjadi produk jadi siap untuk dijual.
2) Biaya pemasaran, merupakan biaya-biaya terjadi untuk melaksanakan
kegiatan pemasaran produksi.
3) Biaya administrasi dan umum, merupakan biaya- biaya untuk
mengkoordinasikan kegiatan produksi pemasaran produk.
c. Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang
dibiayai. Dalam hubungan dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat
dikelompokkan menjadi dua golongan:
1) Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi, yang penyebab
satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang biayai. Jika sesuatu
yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung tidak akan
terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasi
dengan sesuatu yang dibiayai. Biaya produksi langsung terdiri dari
biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja.
2) Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang terjadi tidak
hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung
dalam hubungannya produk disebut dengan istilah biaya produksi
tidak langsung dan biaya overhead pabrik (factory overhead costs).
d. Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan
perubahan volume kegiatan. Dalam hubungannya dengan volume
kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi:
1) Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding
dengan perubahan volume kegiatan. Contohnya: biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja langsung.
2) Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding
dengan perubahan volume kegiatan. Contohnya: unsur biaya tetap dan
unsur biaya variabel.
3) Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume
kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstant pada
volume produksi tertentu.
4) Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar
volume kegiatan tertentu. Contohnya: gaji direktur produksi.
e. Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu dan manfaatnya, biaya
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Pengeluaran modal (capital expenditures) adalah biaya yang
mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya
periode akuntansi adalah satu tahun kalender). Pengeluaran modal ini
pada saat terjadi dibebankan sebagai harga pokok aktiva dan
dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan
cara didepresiasi, diamortisasi atau dideplesi. Contoh pengeluaran
2) Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures) adalah biaya yang
hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadi
pengeluaran tersebut. Contoh pengeluaran pendapatan yaitu biaya
iklan, biaya telex, dan biaya tenaga kerja.
2. Biaya Produksi
Untuk menentukan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh
perusahaan perlu diketahui apakah yang dimaksud biaya produksi itu
sendiri. Dimana biaya produksi merupakan salah satu faktor penting yang
dapat mempengaruhi hasil kegiatan produksi, sehingga memerlukan
perhatian yang lebih, baik dalam perencanaan maupun dalam
pengendaliannya.
Menurut Arif Suadi (20013:26) menyatakan bahwa “biaya produksi
merupakan biaya yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan
jasa”. Contohnya biaya depresiasi mesin dan equipment, biaya bahan baku,
biaya bahan penolong, dan biaya gaji karyawan. Sedangkan defenisi biaya
produksi menurut Mulyadi (2014:14) adalah biaya-biaya yang terjadi untuk
mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.
Biaya produksi yang terdiri dari bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead pabrik terbagi lagi kedalam dua kategori yakni
biaya prima (prime cost) yang terdiri atas biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja, sedangkan biaya konvensi (convension cost) yakni biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, yang merupakan biaya
B. Biaya Overhead Pabrik
1. Pengertian Biaya Overhead Pabrik
Bahan baku langsung akan menjadi komponen utama produk dan
dapat diukur dalam hubungannya dengan jumlah yang diproduksi. Tenaga
kerja langsung dibebankan secara langsung pada produk dan perubahannya
dapat diukur dalam hubunganya dengan jumlah yang produksi. Oleh karena
itu, biaya per unit bahan baku dari tenaga kerja langsung dalam kapasitas
tertentu adalah tetap, dengan asumsi bahwa tidak ada perubahan harga atau
tarif upah serta pengawasan yang efektif tetap terlaksana. Sedangkan
biaya-biaya yang tidak dapat secara langssung dibebankan kepada produk atau
tidak dapat dihubungkan secara langsung, dikelompokkan ke dalam biaya
overhead pabrik.
Menurut Mulyadi (2014:194) mengatakan bahwa biaya overhead
pabrik adalah semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi
tidak langsung. Sedangkan menurut Lili M dan Bedjo Siswanto (2010:45)
biaya overhead pabrik adalah semua biaya selain biaya bahan mentah atau
upah langsung yang berkaitan dengan proses produksi.
Selanjutnya menurut Arief Suadi (2013:29) mengatakan bahwa biaya
overhead pabrik adalah biaya-biaya yang terjadi di pabrik selain biaya
bahan baku maupun biaya tenaga kerja langsung. Sedangkan menurut
yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka proses produksi, kecuali biaya
bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
Berdasarkan beberapa defenisi di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi yang
dikeluarkan perusahaan selama proses produksi kecuali biaya bahan baku
dan biaya tenaga kerja langsung.
Biaya overhead pabrik tidak dapat diidentifikasi secara langsung
kepada produk yang menggunakannya atau mengkonsumsinya. Ini berbeda
dengan biaya produksi langsung yang dapat diidentifikasi secara langsung
kepada produk yang mengkonsumsinya. Biaya overhead pabrik umunya
dikonsumsi oleh lebih dari satu departemen produksi. Oleh karena itu, perlu
satu prosedur distribusi biaya overhead pabrik ini kepada tiap-tiap
departemen atau produk yang mengkonsumsinya.
2. Penggolongan Biaya Overhead Pabrik
Penggolongan biaya overhead pabrik menurut Mulyadi (2014:193)
ada tiga cara penggolongan yaitu:
a. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya
Dalam perusahaan yang memproduksi berdasarkan pesanan, biaya
overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi termasuk dalam biaya
overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan berikut ini:
Adalah biaya bahan yang digunakan untuk membantu penyelesaian
suatu produk yang jumlahnya relatif kecil. Misalnya lem dalam
perusahaan percetakan, pernis dan paku dalam perusahaan mebel.
2) Biaya tenaga kerja tidak langsung
Adalah upah yang dibayarkan kepada karyawan pabrik secara ini
antara lain upah pisik tidak berhubungan dengan proses pembuatan
produk. Termasuk dalam kelompok ini antara lain upah mandor, gaji
manajer produksi, gaji pegawai administrasi publik.
3) Biaya penyusutan aktiva tetap pabrik
Adalah biaya penyusutan atas aktiva tetap yang dipergunakan di
pabrik untuk penyelesaian produk baik secara langsung maupun tidak
langsung, misalnya biaya penyusutan gedung pabrik, mesin-mesin,
dan kendaraan pabrik.
4) Biaya reparasi dan pemeliharaan
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan dan perawatan mesin,
gedung pabrik dan perawatan pabrik lainnya.
5) Biaya asuransi
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk membagi resiko yang terjadi
dalam proses produksi, biaya asuransi karyawan pabrik.
6) Biaya yang timbul karena penggunaan jasa pihak lain
Adalah biaya-biaya yang timbul karena penggunaan jasa pihak lain
guna penyelesaian dan kelancaran proses produksi, misalnya biaya
7) Biaya-biaya yang terjadi di departemen pembantu
Dalam perusahaan yang memiliki departemen pembantu, misalnya
departemen bengkel atau pembangkit tenaga listrik, maka semua biaya
yang terjadi di departemen pembantu tersebut diperlakukan sebagai
biaya overhead pabrik.
b. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam
hubungannya dengan perubahan volume produksi
Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam
hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik
dibagi menjadi tiga golongan yaitu:
1) Biaya overhead pabrik tetap
Adalah biaya overhead pabrik yang sampai tingkat tertentu jumlahnya
konstan, tidak terpengaruh oleh adanya tingkat produksi. Contohnya:
biaya penyusutan gedung pabrik, PBB pabrik, amortisasi patent dan
lain-lain.
2) Biaya overhead pabrik variabel
Adalah biaya overhead pabrik yang jumlahnya terpengaruh dengan
perubahan tingkat produksi volume kegiatan dimana perubahannya
sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
3) Biaya overhead pabrik semivariabel
Adalah biaya overhead pabrik yang mengandung unsur tetap dan
variabel. Jumlahnya terpengaruh oleh perubahan tingkat produksi,
kegiatan. Termasuk dalam kelompok ini antara lain: PPh karyawan
yang ditanggung perusahaan, biaya pemeliharaan mesin, dan biaya
pemeriksaan.
c. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan
departemen .
Jika memiliki departemen produksi, perusahaan juga mempunyai
departemen-departemen pembantu, maka biaya overhead pabrik meliputi
juga semua biaya yang terjadi di departemen-departemen pembantu ini
yang meliputi biaya tenaga kerja, depresiasi, reparasi, dan pemeliharaan
aktiva tetap serta asuransi yang terjadi di departemen tersebut.
Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-depertemen yang ada
dalam pabrik, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua
kelompok yaitu:
1) Biaya overhead pabrik langsung departemen adalah biaya overhead
pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya
dinikmati oleh departemen tersebut.
2) Biaya overhead pabrik tidak langsung depertemen adalah biaya
overhead pabrik yang manfaatnya dinikmati lebih dari satu
departemen.
3. Perhitungan Tarif Biaya Overhead Pabrik
Apabila biaya overhead pabrik dibebankan atas dasar tarif yang
dihitung dimuka, maka sebelum melakukan aktivitas produksi harus
overhead pabrik dibebankan. Langkah-langkah untuk menghitung besarnya
tarif biaya overhead pabrik tersebut adalah:
a. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik
Langka pertama untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik
adalah menyusun anggaran biaya overhead pabrik dalam satu periode
tertentu. Dalam menyusun anggaran biaya overhead pabrik dengan
mengasumsikan jumlah produksi pada satu periode tertentu. Pada
kapasitas yang akan dipakai tersebut dianggarkan besarnya
masing-masing elemen biaya overhead pabrik, termasuk perlu dipisahkan
variabilitas biayanya.
b. Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik
Setelah anggaran biaya overhead pabrik disusun, maka selanjutnya
menentukan dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk.
4. Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik
Depatementalisasi biaya overhead pabrik adalah pembagian pabrik
ke dalam bagian-bagian yang disebut departemen atau pusat biaya yang
dibebani dengan biaya overhead pabrik. Dalam departementalisasi, biaya
overhead dihitung untuk setiap departemen produksi dengan dasar
pembebanan yang mungkin berbeda di antara departemen-departemen yang
ada.
Oleh karena itu, departementalisasi biaya overhead pabrik
memerlukan pembagian perusahaan ke dalam departemen-departemen
Departemen-departemen inilah yang merupakan pusat biaya dibandingkan biaya dengan
prestasi yang dihasilkan oleh departemen tersebut.
Pada dasarnya langkah-langkah penentuan tarif biaya overhead
pabrik per departemen adalah sama, tetapi masalah yang timbul adalah
langkah yang berbeda. Langkah-langkah penentuan biaya overhead pabrik
per departemen adalah sebagai berikut:
a. Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen;
b. Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen
produksi; dan
c. Perhitungan tarif pebebanan biaya overhead pabrik per departemen.
5. Metode-Metode Alokasi Biaya Overhead Pabrik
Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk
departemen-departemen produksi saja, karena pengambilan bahan baku
menjadi produk yang biasanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena
itu, biaya overhead pabrik yang akan dibebankan kepada produk tersebut
hanya terdiri dari biaya yang terjadi dalam departemen-departemen produksi
saja, maka untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik per departemen,
biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen
produksi.
Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen
produksi dilakukan dengan dua cara yaitu:
Dalam metode alokasi ini, biaya overhead pabrik departemen
pembantu dilakukan ke tiap-tiap departemen produksi yang
menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang
dihasilkan oleh departemen pembantu hany dinikmati oleh departemen
produksi saja. Tidak ada departemen pembantu yang memakai jasa
departemen lainnya.
b. Metode alokasi bertahap (step method)
Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen
pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi
digunakan pula oleh departemen lainnya. Oleh karena itu, sebelum biaya
overhead pabrik di dua departemen tersebut dialokasikan ke departemen
produksi, maka perlu diadakan alokasi biaya overhead pabrik antara
departemen pembantu yang saling menikmati jasa tersebut. Dengan
demikian alokasi biaya overhead pabrik dari departemen pabrik ke
departemen produksi dilakukan secara bertahap dengan mengalokasikan
biaya overhead antar departemen kemudian mengalokassikan biaya
overhead departemen pembantu ke departemen produksi. Metode alokasi
bertahap di bagi menjadi dua kelompok metode, yakni:
1. Metode alokasi bertahap yang memperhitungkan transfer jasa timbal
balik antar departemen-departemen pembantu. Yang termasuk dalam
metode ini adalah sebagai berikut:
Dalam metode ini biaya overhead pabrik departemen-departemen
pembantu yang saling memberikan jasa, dialokasikan secara terus
menerus sehingga jumlah biaya obverhead yang belum
dialokasikan menjadi tidak berarti.
b) Metode alokasi aljabar (algebraic method)
Ketika menggunakan metode bertahap ketidaklengkapan timbul
karena pendistribusian yang berturut sehingga departemen yang
ditutup terlebih dahulu tidak menerima pembagian biaya dari
departemen yang ditutup kemudian.
2. Metode alokasi bertahap yang tidak memperhitungkan transfer jasa
timbal balik antar departemen pembantu. Metode alokasi yang
termasuk dalam kelompok ini adalah metode urutan alokasi yang
diatur.
C. Harga Jual
1. Defenisi Harga Jual
Harga jual produk yang ditetapkan oleh suatu perusahaan, tentunya
dapt bersaing di pasaran. Penentuan harga jual yang dapat bersaing
bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Harga jual yang terlalu tinggi
dapat berakibat kalahnya perusahaan dalam persaingan, sedangkan harga
yang terlalu rendah dapat berakibat tidak tercapainya tujuan perusahaan,
yaitu tercapainya laba pada tingkat yang dikehendaki.
Menurut William Carter K (2009:21) “harga jual adalah besarnya
dihitung dari biaya produksi ditambah biaya non-produksi dan laba yang
diharapkan”. Sedangkan menurut Abdul Halim (2007:128) “harga jual
adalah harga jual yang meliputi biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan
distribusi, ditambah dengan jumlah laba yang diinginkan”.
Berdasarkan defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual
adalah nilai (harga) yang ditetapkan oleh suatu perusahaan dalam
menawarkan produknya kepada konsumen setelah memperhitugkan seluruh
biaya yang dikeluarkan ditambah persentase laba yang diharapkan.
2. Tujuan Penentapan Harga Jual
Pada umumnya para produsen di dalam menentukan tingkat harga
dari setiap barang atau jasa yang di hasilkan memiliki sejumlah tujuan yang
akan dicapai dari setiap kebijakan yang diambil. Pemilihan secara jelas
antara tujuan dan sasaran penentuan harga, tentunya dengan tujuan utama
untuk lebih memudahkan manajemen untuk melakukan analisa atau evaluasi
terhadap setiap kebijakan yang diambil, sehingga berdasarkan hasil analisa
dan evaluasi yang dilakukan, manajemen akan segera membuat kebijakan
baru guna memperbaiki kesalahan/kekurangan dari berbagai kebijakan
harga yang telah ditentukan sebelumnya.
Tujuan penentuan harga merupakan suatu panduan untuk
menciptakan masa depan, namun tujuan ini tidak mempunyai unsur
mendesak yang akan membantu pencapaiannya. Tujuan penentuan harga
sampai disana. Oleh karena itu, perusahaan perlu melengkapinya dengan
menetapkan sasaran untuk menentukan harga jual.
3. Faktor Penentapan Harga Jual
Penentuan harga jual barang atau jasa merupakan hal yang tidak
mudah disebabkan banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan. Para
pakar ekonomi memberikan batasan mengenai faktor penentuan harga jual,
salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Abdul Halim (2007:185) yang
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual antara lain:
harga jual produk saingan dan kondisi perekonomian pada umumnya.
Dimana teori tersebut dikenal dengan nama “teori harga”.
Sedangkan menurut Stanto dalam buku ”Dasar-Dasar Pemasaran”
oleh Marius P. Angipora (2002:276-279) mengatakan bahwa penentuan
harga jual meliputi 5 tahap yaitu:
a. Mengestimasi permintaan untuk barang tersebut
Pada tahap ini seharusnya produsen perlu membuat estimasi
permintaan barang aatau jasa yang dihasilkan secara total.
Pengestimasian permintaan tersebut dapat dilakukan dengan jalan
menentukan harga jual yang diharapkan yakni dengan harga yang
diharapkan dapat diterima oleh konsumen dan mengestimasikan volume
penjualan pada berbagai tingkat harga.
b. Mengetahui lebih dahulu reaksi dalam persaingan
Kebijakan penentuan harga tentu harus memperhatikan kondisi
c. Menentukan market share yang dapat diharakan
Bagi perusahaan yang ingin bergerak dan maju lebih cepat tentu
selalu mengharapkan market share yang lebih besar. Untuk
mendapatkannya harus ditunjang oleh kegiatan promosi dan kegiatan lain
dari persaingan non harga, disamping dengan penentuan harga tertentu.
d. Memilih strategi harga untuk mencapai target pasar
Ada beberapa strategi harga yang dapat digunakan oleh perusahaan
untuk mencapai target pasar yang sesuai yaitu: penetapan harga
penyaringan (skim the cream princing), strategi ini berupa penetapan
harga yang setinggi-tingginya dan penentuan harga penetrasi
(penetracion pricing), strategi ini merupakan strategi harga yang
serendah-rendahnya untuk mencapai pasar-pasar massal secara cepat
yang bertujuan untuk mencapai volume penjualan yang sebesar-besarnya
dalam waktu relatif singkat.
e. Mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan
Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam penentuan harga atau
mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan denganmelihat pada
barang, sistem distribusi atau program promosinya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
walaupun biaya bukan merupak satu-satunya faktor penentu ketidakpastian
dikarenakan permintaan konsumen atas barang atau jasa, jumlah pesaing
dan lain-lain yang merupakan hal yang sulit diramalkan, akan tetapi biaya
perusahaan serta yang perlu diingat bahwa sebaiknya harga jual barang atau
jasa dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan atau sumber daya yang
dikorbankan untuk membuat barang atau jasa sehingga dapat menghasilkan
laba bagi perusahaan.
4. Metode Penetapan Harga Jual
Seperti yang dikemukakan oleh Carter K dan Usry (2005:65) dalam
bukunya : Akuntansi Biaya” mengatakan bahwa ada beberapa metode
penentuan harga jual yaitu:
a. Gross margin pricing yaitu dengan menggunakan cost barang yang dijual
ditambah mark up yang diinginkan perusahaan. Umumnya digunakan
oleh perusahaaan perdagangan dimana produk yang dijual tidak dibuat
sendiri, sehingga tidak banyak aktiva tetap yang digunakan.
b. Direct cost pricing yang lebih dikenal dengan nama marginal income
pricing, karena hanya memperhitungkan biaya-biaya yang berhubungan
secara profesional dengan volume penjualan, sehingga menghasilkan
marginal income yang dipakai sebagai penentuan harga jual ialah berapa
marginal income yang dikehendaki oleh perusahaan.
c. Full cost pricing yaitu metode yang memperhitungkan semua biaya yang
dipakai dalam pembuatan produk tersebut ditambah persentase laba yang
diinginkan untuk menutup biaya operasi dan laba yang diinginkan.
d. Time and material pricing yaitu metode yang menentukan tarif tertentu
dari upah langsung dan tarif lainnya dari bahan baku masing-masing.
biaya tidak langsung serta laba yang diinginkan. Metode ini banyak
digunakan oleh perusahaan-perusahaan jasa dan perusahaan profesional.
e. Return on capital employed pricing yaitu metode yang menentukan
persentase mark up tertentu dari capital employed. Yaitu capital yang
dianggap mempunyai peranan dalam memproduksi barang atau jasa.
Selain manajemen, penentuan harga barang atau jasa bukan hanya
merupakan kebijaksanaan di bidang pemasaran atau keuangan, melainkan
merupakan kebijakan yang berkaitan dengan seluruh aspek kegiatan
perusahaan. Harga jual barang atau jasa, selain mempengaruhi volume
penjualan atau jumlah pembelian produk atau jasa terseebut, juga akan
mempengaruhi jumlah pendapatan perusahaan.
Selain jenis produk atau jasa yang dihasilkan oleh banyak
perusahaan, barangkali dalam penentuan harga jual relatif tidak banyak
dijumpai masalah. Dalam keadaan tersebut, pada umumnya massing-masing
perusahaan tidak dapat secara langsung mempengaruhi tinggi rendahnya
harga jual produk atau jasa yang dihasilkan. Biasanya perusahaan dibidang
pertanian merupakan contoh perusahaan yang tidak banyak menjumpai
masalah dalam penentuan harga jual. Sebaliknya, bagi perusahaan yang
secara langsung dapat mempengaruhi harga jual, perusahaan akan
dihadapkan pada masalah bagaimana menentukan harga jual produk yang
dihasilkan. Dalam jangka waktu panjang harga jual produk yang ditentukan
perusahaan. Penentuan harga jual produk dapat diterapkan untuk produk
baru atau produk yang ada sebelumnya.
Biaya (cost) merupakan komponen penting yang harus
dipertimbangkan dalam penentuan harga jual barang atau jasa. Harga jual
produk pada umumnya ditentukan dari jumlah tertentu yang disebut sebagai
mark up. Cara penentuan harga jual tersebut dikenal dengan pendekatan cost plus.
5. Komponen Harga Jual
Harga jual berdasarkan cost plus pricing dihitung dengan rumus:
Rumus perhitungan harga jual atas dasar biaya secara umum dapat
dinyatakan dalam persamaan berikut ini:
Persentase mark up dihitung dengan rumus:
persentase mark up =
laba yang diharapkan + biaya yang berhubungan langsung oleh produk
biaya yang diperhitungkan langsung oleh produk
Terdapat perbedaan konsep langsung dan tidak langsungnya biaya
dengan volume antara metode full costing dengan metode variabel costing
adalah berupa biaya produksi, sedangkan biaya yang tidak berhubungan
langsung dengan volume adalah berupa biaya nonproduksi. Dengan Harga Jual = biaya + laba yang diharapkan
demikian perhitungan harga jual per unit menurut pendekatan full costing
disajikan dalam tabel di bawah ini:
Perhitungan Markup :
Biaya adminstrasi dan umum Rp xxx
Biaya pemasaran Rp xxx
Laba yang diharapkan % ROI × investasi Rp xxx
Jumlah Rp xxx
Biaya produksi :
- Biaya bahan baku Rp xxx
- Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx
- Biaya overhead pabrik Rp xxx
- Jumlah biaya produksi Rp xxx
Persentase markup y %
Perhitungan harga jual :
Biaya produksi Rp xxx
Markup y% × biaya produksi Rp xxx
Harga jual Rp xxx
Volume produksi xxx
Harga jual per unit Rp xxx
Sumber : Buku Akuntansi Biaya, 2015
Sedangkan untuk pendekatan variable costing memandang dengan
cara yang berbeda terhadap biaya yang dipengaruhi secara langsung oleh
volume produk bila dibandingkan dengan full costing. Dalam pendekatan
produk terdiri dari biaya variabel, sedangkan biaya penuh yang tidak
dipengaruhi secara langsung oleh volume produk terdiri dari biaya tetap.
D. Kerangka Pikir
PT.Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit
Burau merupakan salah satu perusahaan milik negara yang bergerak dibidang
produksi kelapa sawit. Perusahaan ini menjalankan usahanya untuk
kelangsungan hidup dilandasi dengan tujuan. Dalam menetapkan harga jual
sangat dipengaruhi oleh seberapa besar biaya overhead pabrik yang
dikeluarkan perusahaan, karena semakin tinggi biaya overhead pabrik yang
dikeluarkan oleh perusahaan maka akan mempengaruhi biaya produksi
sehingga harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan tentu harga yang dapat
bersaing dipasaran.
Sebelum menetapkan harga jual, PT. Perkebunan Nusantara XIV
(Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau terlebih dahulu menghitung biaya
produksi termasuk biaya overhead pabrik yang telah dikeluarkan oleh
perusahaan kemudian menetapkan harga jual. Untuk lebih jelasnya mengenai
Gambar: 2.1 Bagan Kerangka Pikir E. Hipotesis
Berdasarkan dari uraian permasalahan di atas, diduga bahwa biaya
overhead pabrik berpengaruh signifikan terhadap harga jual hasil produksi
pada PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit
Burau.
PT.PN XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau
Biaya Produksi
Biaya Overhead Pabrik
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada PT. Perkebunan Nusantara XIV
(Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau. Pabrik kelapa sawit ini berada di
Desa Lagego Kecamatan Burau, Kabupaten luwu Timur, Provinsi Sulawesi
Selatan. Sedangkan waktu penelitian kurang lebih 2 bulan mulai dari bulan
Maret sampai dengan bulan April 2015.
B. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini pengumpulan data dapat diperoleh melalui:
1. Observasi yaitu pengamatan dan peninjauan langsung pada perusahaan
untuk memperoleh informasi atau gambaran tentang keadaan dan
keterangan yang dapat menunjang penelitian ini.
2. Dokumentasi yaitu pengumpulan data melalui dokumen-dokumen
perusahaan yang berupa laporan biaya overhead pabrik dan daftar harga jual
serta dokumen lainnya.
3. Wawancara yaitu tanya jawab yang dilakukan peneliti dengan pihak-pihak
yang bersangkutan guna mendapatkan data dan keterangan yang menunjang
proses dalam penelitian.
C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a) Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka-angka
yang diperoleh melalui obyek yang diteliti.
b) Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dalam bentuk
penjelasan-penjelasan yang relevan dengan obyek penelitian berupa gambaran
umum perusahaan maupun informasi langsung yang menyangkut
kebijakan pimpinan.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer
dan data sekunder yaitu:
a) Data primer yaitu data yang diperoleh langsung melalui pengamatan,
wawancara yang dilakukan oleh pimpinan atau manajer keuangan dan
manajer produksi pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik
Kelapa Sawit Unit Burau.
b) Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang
ada hubungannya dengan data-data yang diperlukan mengenai biaya
overhead pabrik dan harga jual yang berkaitan dengan masalah yang
D. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel bebas adalah variabel yang memnyebabkan atau memengaruhi
faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk
menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati.
Dalam penelitian ini yang merupakan variabel bebas (independent) adalah
biaya overhead pabrik (X).
2. Variabel terikata dalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk
menentukan adanya pengaruh variabel bebas yaitu faktor yang muncul atau
tidak muncul, atau perubahan sesuai dengan yang diperkenalkan peneliti.
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat (dependent) yaitu harga
jual (Y).
E. Metode Analisis Data
1. Analisis Regresi Linear Sederhana
Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yang berusaha menjawab
masalah tentang pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil
produksi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit
Burau. Sehingga untuk mengetahui pengaruh biaya overhead pabrik terhadap
harga jual hasil produksi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik
Kelapa Sawit Unit Burau, maka digunakan analisis regresi linear sederhana
Hasil analisis regresi ini digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya pengaruh biaya overhead pabrik terhadap harga jual hasil produksi.
Rumus analisis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut:
Dimana :
Y= Variabel Terikat (Harga Jual)
a = Konstanta
b = Koefisien Regresi
X= Variabel Bebas (Biaya overhead pabrik)
2. Pengujian Hipotesis
pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji t, adapun
langkah-langkah uji t adalah sebagai berikut:
a. Menentukan hipotesis
H : Tidak ada pengaruh secara signifikan antara biaya overhead pabrik
terhadap harga jual hasil produksi.
H : Ada pengaruh secara signifikan antara biaya overhead pabrik terhadap
harga jual hasil produksi.
a. Menentukan tingkat signifikan (α) yang digunakan
b. Menghitung nilait c. Menentukant
d. Kriteria pengujian dengan membandingkant dengant Jikat <t makaH diterima dan H ditolak Y= a+bX
Jikat >t makaH ditolak dan H diterima e. Kesimpulan
F. Defenisi Operasional Perusahaan
Variabel yang diteliti perlu di definisikan agar terdapat persamaan
pendapat tentang cara-cara yang dpergunakan. Hal ini untuk menghindarkan
kesalahan penafsiran dalam mengartikan suatu hasil penelitian. Berikut
defenisi operasional masing-masing variabel sebagai berikut :
1. Biaya adalah sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah
terjadi atau secara potensial aan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi yang dikeluarkan
perusahaan selama proses produksi kecuali bahan baku dan biaya tenaga
kerja.
3. Harga jual adalah nilai (harga) yang ditetapkan oleh suatu perusahaan dalam
menawarkan produknya kepada konsumen setelah memperhitungkan
seluruh biaya yang dikeluarkan ditambah persentase laba yang diharapkan.
4. Pabrik kelapa sawit adalah salah satu perusahaan yang ada di PT.
Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau yang
kegiatan usahanya yaitu memproduksi kelapa sawit menjadi CPO dan
G. Sistematika Penulisan
Skripsi ini disusun secara sistematika menjadi enam bab sebagai
berikut :
BAB I Pendahuluan yang bersifat latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitan dan manfaat penelitian.
BAB II Tinjauan Pustaka menjelaskan tentang konsep biaya, biaya
overhead pabrik,harga jual, kerangka piker dan hipotesis.
BAB III Metodologi Penelitian yang membahas masalah tempat dan waktu
penelitian, teknik pengumpulan data, jenis dan sumber penelitian,
metode analisis data, defenisi operasional, dan sistematika
penulisan.
BAB IV Gambaran Umum Objek Penelitian yang terdiri dari sejarah singkat
perusahaan, struktur organisasi, dan kegiatan usaha perusahaan.
BAB V Hasil Penelitian dan Pembahasan tentang pengaruh biaya overhead
pabrik terhadap harga jual hasil produksi pada PT.Perkebunan
Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau. Adapun
komponen-komponen lainnya ialah laporan laba rugi dan realisasi
biaya.
BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
Sebagai sebuah hasil Badan Usaha Milik Negara, PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) dikenal sebagai salah satu perusahaan peninggalan Belanda yang merupakan sebuah sektor penting dalam membangun perekonomian dan kesejahteraan bangsa. Sebagai perusahan yang bergerak di bidang pengolahan perkebunan Negara, PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) memiliki beberapa cabang pengolahan hasil perkebunan di antaranya tebu dan kelapa sawit yang berada di daerah terpencil di pelosok Nusantara. PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) memiliki tujuan seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasar No. 47 Tanggal 13 Agustus 2008 yaitu, Melakukan Usaha di bidang agrobisnis dan agroindustri serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya perseroan untuk menghasilkan barang dan / jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.
A. Sejarah Pendirian Perusahaan
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV (Persero) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tanggal 14 Februari 1995 dan Akta Notaris Harun Kamil, SH. Nomor 47 tanggal 11 Maret 1996. Proses pembentukannya diawali dengan pengelompokan 26 buah PT Perkebunan (Persero) menjadi 9 kelompok pada tahun 1994, sebagaimana ditetapkan dalam
Surat Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 361/Kpts/07.210/5/1994 tentang Restrukturisasi BUMN Sektor Pertanian.
Pengelompokan tersebut dalam rangka optimalisasi skala usaha untuk meningkatkan daya saing menghadapi pasar bebas. Setelah tahap pengelompokan, maka pada tanggal 11 Maret 1996 dibentuklah 14 buah PT Perkebunan Nusantara, salah satu diantaranya adalah PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) yang merupakan peleburan (merger murni) dari : 1. PT. Perkebunan XXVIII (Persero),
2. PT. Perkebunan XXXII (Persero), 3. PT. Bina Mulya Ternak (Persero), dan
4. Eks Proyek PT. Perkebunan XXIII (Persero) di Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami perubahan, terakhir dengan Akta Nomor 13 tanggal 11 Agustus 2008 dari Notaris Lola Rosalina, SH tentang Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham tentang Penambahan Modal Disetor dan Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Nomor AHU-76872.AH.01.02 tahun 2008 tanggal 23 Oktober 2008 tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan. Perubahan modal menjadi sebagai berikut: Modal Dasar sebesar Rp 540.000.000.000,-, Modal Belum Ditempatkan/Disetor sebesar Rp
305.000.000.000,-, dan Modal Ditempatkan/Disetor sebesar Rp 235.000.000.000,-. Pasal 11 Akta Nomor 13 mengalami perubahan sesuai Pasal 11 Akta Nomor 13 mengalami perubahan sesuai Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham tentang Perubahan Anggaran Dasar Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Nomor KEP-83/S.MBU/2009 dan KEP- 16/D4.MBU/2009 tanggal 14 September 2009, dan telah dicatatkan dengan Akta Nomor 18 tanggal 27 Maret 2012 yang dibuat oleh Notaris Lola Rosalina, SH.
B. Deskripsi Bidang Usaha
PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV (Persero) mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, kakao, kelapa hibrida, kelapa Nias/Tall, pala, kopi dan budidaya semusim tebu yang ditanam pada areal konsesi seluas 55.425,25 ha. Areal tanaman kelapa sawit seluas 16.228 ha, karet 2.513,5 ha, kakao seluas 995 ha (juga ditanam sebagai tanaman sela pada areal seluas 2.030 ha), kelapa hibrida 3.600 ha, kelapa Nias/tall 360 ha, pala 275 ha dan kopi 23 ha serta tanaman tebu pada areal seluas 14.312 ha. Selain penanaman komoditi pada areal sendiri (inti), PTPN XIV (Persero) juga mengelola areal Plasma budidaya tahunan milik petani seluas 14.514,75 ha untuk tanaman kelapa sawit seluas 10.068 ha, karet 2.556 ha dan kakao 1.890,75 ha, sedangkan tanaman tebu rakyat hanya seluas 88 ha. PTPN XIV (Persero) juga mengelola komoditi ubi kayu pada areal bekas milik PT BMT seluas 2.500 ha dan usaha peternakan sapi di areal seluas 19.581 ha.
C. Visi dan Misi Perusahaan
PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV (Persero) memiliki visi dan misi serta tujuan dan strategi bisnis, sebagai berikut:
1. Visi :
Menjadi perusahaan agribisnis dan agroindustri di Kawasan Timur Indonesia yang kompetitif, mandiri, dan memberdayakan ekonomi rakyat. 2. Misi :
a. Menghasilkan produk utama perkebunan berupa gula dan minyak sawityang berdaya saing tinggi, serta produk lain seperti karet, kopra dan ternak sapi, untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan/atau internasional,
b. Mengelola bisnis dengan teknologi akrab lingkungan yang memberikan kontribusi nilai kepada produk dan mendorong pembangunan berwawasan lingkungan,
c. Melalui kepemimpinan, teamwork, inovasi, dan SDM yang kompeten, dalam meningkatkan nilai secara terus-menerus kepada shareholder dan stakeholders,
d. Menempatkan Sumber Daya Manusia sebagai pilar utama penciptaan nilai (value creation) yang mendorong perusahaan tumbuh dan berkembang bersama mitra strategis.
3. Tujuan :
Tercapainya peningkatan laba berkelanjutan (sustainable profit
mensejahterakan shareholder dan stokeholders strategis dengan kesehatan perusahaan menimal mencapai A.
4. Strategi Bisnis :
Mengingat produk akhir bisnis sawit dan karet berbentuk komoditas dan produk gula dipasarkan dalam bentuk bulk, maka strategi bisnis yang diterapkan adalah strategi kepemimpinan biaya (overall cost leadership). 5. Nilai-Nilai Organisasi :
Kompoten : Bahwa seluruh jajaran karyawan perusahaan harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan bagi jabatan yang diemban;
Integritas: : Diyakini bahwa karyawan yang berintegritas adalah yang memiliki kesamaan antara yang dipikirkan, diucapkan, dan yang dilakukan;
Inovasi : Bahwa proses berfikir menghasilkan kreativitas yang memberikan nilai tambah ekonomis;
Pembelajaran : Seluruh jajaran perusahaan menjadikan pengalaman dan perubahan lingkungan bisnis sebagai proses pengembangan individu dan organisasi secara berkelanjutan;
Sinergi : Diyakini bahwa kerjasama tim yang efektif akan memberikan efek ganda terhadap hasil akhir.
D. Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi a. Susunan Dewan Komisaris
Susunan Dewan Komisaris PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1
Susunan Dewan Direksi
JABATAN NAMA SURAT KEPUTUSAN
Komisaris Utama
Mayjen TNI (Purn) H. Abdul Rivai Nomor : SK-394/MBU/2013 Tanggal : 21 November 2013 Komisaris
Prof. Dr. Ir. H. Ambo Ala, MS Nomor : SK-289/MBU/2012 Tanggal : 06 Agustus 2012 Komisaris Drs. Riyadi Widiasmoro,
M.Si Nomor : SK-16/MBU/2013
Tanggal : 16 Januari 2013 Komisaris H. Ahmad Yahya
Nomor : SK-394/MBU/2013
Tanggal : 21 November 2013
b. Susunan Dewan Direksi
Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham Nomor SK-99/MBU/2012 tanggal 1 Maret 2012 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan AnggotaAnggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV memberhentikan Amrullah AM sebagai Direktur Utama serta Natsir Djidding, Bambang Hartadi, Suhardjito masing-masing sebagai Direktur Produksi, Direktur SDM dan Umum, Direktur Pemasaran, Perencanaan dan Pengembangan; sekaligus mengalihkan penugasan Budi Purnomo sebagai Direktur Keuangan yang diangkat
berdasarkan Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP- 02/MBU/2009 tanggal 12 Januari 2009 menjadi Direktur Utama, serta mengangkat Anggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV, yaitu Amrullah Haris, Rispan Adi Idris, dan Mardiyanto sebagai Direktur. Keputusan tersebut telah dicatatkan secara notariil dengan Akta Nomor 20 tanggal 27 Maret 2012 yang dibuat oleh Notaris Lola Rosalina, SH.
Menteri Badan Usaha Milik Negara Selaku Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV dengan Keputusan Nomor SK-55/MBU/2013 tanggal 1 Februari 2013 tentang Penegasan Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV telah menegaskan kembali pemberhentian Anggota-anggota Direksi, pengalihan penugasan, dan pengangkatan Anggota-anggota Direksi sebagaimana telah ditetapkan dengan Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV Di Luar Rapat Umum Pemegang Saham Nomor SK-99/MBU/2012 tanggal 1 Maret 2012. Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-55/MBU/2013 tanggal 1 Februari 2013 tersebut telah disampaikan kepada Notaris Lola Rosalina, SH untuk dibuat akta dan pelaporannya ke Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia dengan surat Direksi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Nomor S.067/00.N14/X/II/2013 tanggal 15 Februari 2013 dan sampai saat ini masih dalam proses.
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Utama Nomor 05/SK/2012.22 tanggal 2 Maret 2012 tentang Pembagian Tugas Wewenang dan Tanggung Jawab Direktur PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) ditetapkan susunan Direksi PT Perkebunan Nusantara XIV sebagai berikut :
Tabel 4.2
Susunan Dewan Direksi
JABATAN NAMA SK PENGANGGKATAN
Direktur Utama Budi Purnomo Nomor : SK-99/MBU/2012 Tanggal : 01 Maret 2012 Direktur Produksi Amrullah Haris Nomor : SK-99/MBU/2012
Tanggal : 01 Maret 2012 Nomor : 05/SK/2012.22 Tanggal : 02 Maret 2012 Direktur
Keuangan Mardiyanto Nomor : SK-99/MBU/2012 Tanggal : 01 Maret 2012 Nomor : 05/SK/2012.22 Tanggal : 02 Maret 2012 Direktur SDM &
Umum Rispan Adi Idris Nomor : SK-99/MBU/2012 Tanggal : 01 Maret 2012 Nomor : 05/SK/2012.22 Tanggal : 02 Maret 2012
E. Gambaran Umum PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Kelapa Sawit Luwu Unit Burau
Pabrik Kelapa Sawit Unit Burau merupakan salah satu unit usaha PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero).Profil Perkebunan Kelapa Sawit Luwu Unit Burau berawal dari perusahaan perkebunan Belanda yang dinasionalisasikan dengna UU No. 84 tahun 1958 yang pelaksanaannya tahun
1959 menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Aneka Tani Cabang Maluku.
Tahun 1965 diubah menjadi Proyek Kebun-Kebun di Indonesia Bagian Timur (PIPREK-INTIM) dengan SK Menteri Perkebunan RI No. SP.05/Men.Pon/65 tanggal 22 Juni 1969. Dengan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1965 menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XXVIII (Persero), merupakan proyek Nucleus Estate and Smallholder (NES) yang dikelola PTP XXVIII (Persero). Tahun 1990 Perkebunan Kelapa SawitNES VII dibagi menjadi tiga unit usaha masing-masing Kebun Luwu I di Burau, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Burau dan Kebun Luwu II di Mangkutana.
Tahun 1994 PT Perkebunan XXVIII (Persero) bergabung dengan PT Perkebunan XXXII berdasarkan SK Menteri Keuangan No. 171/KMK/060.1994 menjadi PT Perkebunan XXXII Group.
Tahun 1996 berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 mulai tanggal 14 Februari 1996 dilakukan peleburan PT Perkebunan XXVIII, PT.Perkebunan XXXII, PT Perkebunan XXIII dan PT Bina Mulya Ternak menjadi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero).
PKS Luwu Unit Burau adalah gabungan dari Kebun Luwu I, Kebun Luwu II dan Pabrik Kelapa Sawit berkedudukan di Burau yang merupakan salah satu Unit Usaha dari PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) dengan budidaya tanaman kelapa sawit.
Adapun pengelolaan PKS Luwu Unit Burau terdiri dari: 1. Kebun Inti Kelapa Sawit
2. Kebun Plasma kelapa sawit PIR/NES (Nucleus Estate and Smallholder) 3. Kebun Plasma kelapa sawit KKPA (Koperasi Kredit Primer Anggotan) 4. Pabrik Minyak Kelapa Sawit
5. Instalasi Tangki Timbun (ITT) Palopo
Lahan yang dikelola merupakan lahan HGU berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertahanan Nasional dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 4.3
Penggunaan Lahan HGU
No. Urut Kebun/ Afdeling No. HGU Tanggal Terbit HGU Luas HGU (Ha) Tertanam (Ha) Sisa HGU (Ha) Jumlah 67/HGU/BPN/9 01 Nop.
1995
9,073 4,355 4,718
Pabrik Kelapa Sawit Luwu unit Burau Iklim cenderung basah, curah hujan merata sepanjang tahun, musim kemarau berkepanjangan tidak ada karena pada setiap bulan ada turun hujan, sehingga berdasarkan data curah hujan di Pabrik Kelapa Sawit Luwu Unit Burau mulai tahun 2009 sampai dengan September 2012 ( +/- 4 tahun), rata-rata curah hujan 3.644 mm/tahun dan hari hujan rata-rata 187 hari/tahun.
Tabel 4.4
Daftar Curah hujan Pertahun
Tahun
Kebun Wil. Barat Kebun Wil. Timur
Keterangan MM HH MM HH 2009 2,760 99 1,440 151 2010 2,605 168 1,334 77 2011 2,775 125 3,218 178 Sd. Sept 2012 2,320 97 2,242 111 Jumlah 10,460 489 8,234 517 Rata-rata 2,615 122 2,059 129 F. Struktur Organisasi
Salah satu cara untuk mencapai kemampuan mengelola suatu perusahaan yang baik adalah menentukan struktur formal dari organisasi tersebut. Adanya struktur organisasi yang jelas akan memudahkan para anggota organisasi melihat bagaimana organisasi disusun. Sehingga mereka masing-masing mengetahui tugas dan kewajibannya secara jelas, karena apabila terdapat persoalan yang ingin dipecahkan lebih mudah mencari pemecahannya.
Struktur organisasi merupakan pengorganisasian dalam suatu organisasi yang menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap
berhubungan- berhubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian, atau posisi-posisi, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang, dan tanggung jawab berbeda-beda dalam suatu organisasi.
Untuk lebih jelas bagan struktur organisasi digambarkan dalam gambar sekaligus menguraikan secara singkat tentang mekanisme tugas dan fungsi masing-masing bagian.
G. Job Description 1. Direktur Utama
a. Tugas Pokok :
1) Menetapkan misi dan perencanaan strategis.
2) Menetapkan dan mengembangkan budaya perusahaan, ethos kerja, hubungan industri dan visi perusahaan.
3) Memimpin dan mengurus perusahaan sesuai tujuan perusahaan dan senantiasa berusaha meningkatkan efesiensi dan efektivitas perusahaan.
4) Menguasai, memelihara dan mengurus kekayaan perusahaan. b. Tanggung Jawab :
1) Bertanggung jawab kepada Rapat direksi.
2) Bertanggung jawab kepada Rapat Umum Pemegang Saham. 2. Direktur Produksi
a. Tugas Pokok :
1) Menetapkan misi dan perencanaan strategis.
2) Menetapkan dan mengembangkan budaya perusahaan, ethos kerja, hubungan industri dan visi perusahaan.
3) Memimpin dan mengurus perusahaan sesuai tujuan perusahaan dan senantiasa berusaha meningkatkan efesiensi dan efektivitas perusahaan.