245
KRITERIA INTEGRATED DI BANGUNAN MIXED-USE
INTEGRATED CRITERIA IN THE MIXED-USE BUILDINGS
Muhammad Yoga Prabowo1) Maria Immaculata Ririk Winandari2) Sri Tundono3)1) Mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti
2)3) Dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No.1 Jakarta Barat 11440
E-mail : 1) [email protected], 2)[email protected], 3) [email protected]
ABSTRAK
Konsep integrated saat ini sering digunakan pada bangunan-bangunan berkonsep
Transit Oriented Development untuk memberikan kemudahan mengakses moda
transportasi dan bangunan terdekat. Hal ini juga harus didukung oleh kenyamanan agar masyarakat mau untuk menggunakan transportasi umum. Faktanya konsep integrated tidak hanya sekedar membangun jembatan penghubung dan memberikan akses menuju dua tempat. Tulisan ini menggunakan metode komparatif terhadap pembanding beberapa
mixed-use di kawasan Blok M Plaza, BSD City dan PGC. Variabel yang diamati terdiri
dari fungsi jembatan, peneduh, fasilitas, posisi moda transportasi dan integrasi antar bangunan. Hasil menunjukkan bahwa kriteria konsep integrasi bangunan memperhatikan Jembatan penghubung yang memiliki peneduhan untuk menghindari hujan dan panas, bangunan yang berorientasi pada moda transportasi, pembatas jalan yang ramah disabilitas dan menggunakan tanaman sebagai pagar alami.
Kata kunci: Jembatan Penyeberangan Orang, Transportasi dan Integrasi antar bangunan.
ABSTRACT
The concept of integrated is currently often used in buildings with the concept of
Transit Oriented Development to provide ease of access to modes of transportation and the nearest building. It must also be supported by convenience so that people want to use public transportation. The fact is that the concept of integrated is not just building bridges and providing access to two places. This paper uses a comparative method of comparing mixed-use in the Blok M Plaza, BSD City and PGC areas. The observed variables consisted of bridge function, shade, facilities, transportation mode position and inter-building integration. The results show that the criteria for building integration concepts pay attention to connecting bridges that have shade to avoid rain and heat, buildings that are oriented to transportation modes, roadblocks that are disability friendly and use plants as natural fences.
Keywords : Pedestrian Crossing bridges, Transportation and Integrated Building.
A. PENDAHULUAN
Pembangunan bangunan perkantoran maupun
mixed-use di daerah perkotaan saat ini sedang ramai-ramainya menerapkan sistem TOD(Transit Oriented Development) yaitu suatu sistem yang mengintegrasikan bangunan
secara langsung dengan moda transportasi terdekat seperti bus, kereta hingga MRT(Mass
Rapid Transit). Integrasi bangunan menuju
moda transportasi tentu memerlukan sebuah penghubung berupa jalan trotoar maupun jembatan penyeberangan orang. Kenyamanan
246 penggunaan jembatan penghubung ini perlu
menjadi fokus utama agar masyarakat mau untuk berpindah dari penggunaan transportasi pribadi menjadi pengguna transportasi umum. Walaupun faktanya konsep integrated atau
Transit Oriented Development hanya sekedar
membangun jembatan penghubung dan memberikan akses menuju dua tempat. Hal inilah yang menjadi dasar tujuan pengamatan untuk mencari kriteria konsep integrasi bangunan dari beberapa mixed-use yang telah terhubung langsung dengan moda transportasi.
Hubungan sistem bangunan dengan kinerja total dan integrasi bangunan pada bangunan bertingkat telah dibahas oleh Herry Pintardi Chandra, 2001. Selain itu ada karakteristik penggunaan jembatan penyeberangan oleh Harahap, 2014. Namun, belum ada yang membahas tentang Kriteria Integrated pada bangunan berkonsep mixed-use. Transportasi merupakan salah satu faktor untuk mengurangi kemacetan dan pendukung aktivitas manusia. Sebagai salah satu faktor pendukung maka fasilitas yang disediakan haruslah dapat memberikan kemudahan bagi pengguna jasa.
B. TINJAUAN PUSTAKA
B.1 Jembatan Penyeberangan Orang
Menurut SE Menteri PUPR Nomor : 02/SE/M/2018 tentang Perencanaan teknis fasilitas pejalan kaki:
1) Jembatan penyeberangan pejalan kaki merupakan bangunan jembatan yang digunakan bagi pejalan kaki menyebrang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya. Jembatan pejalan kaki harus dibangun dengan konstruksi yang kuat dan mudah dirawat. Perspektif jembatan penyeberangan orang dapat dilihat pada Gambar B.1 dan B.2.
2) Jembatan penyeberangan pejalan kaki memiliki lebar dua meter dan kelandaian tangga maksimum 20º.
3) Jembatan penyeberangan pejalan kaki harus dilengkapi dengan pagar pembatas. 4) Lokasi jembatan penyeberang pejalan kaki
harus sesuai dengan kebutuhan pejalan kaki.(Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017)
Gambar B.1 - Perspektif jembatan penyeberangan orang Sumber : (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017)
Gambar B.2 - Tipikal jembatan penyeberangan
Sumber : (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017) Persyaratan rancangan untuk pejalan kaki
penyandang disabilitas
Kebutuhan lebar ruang bagi pejalan kaki dengan kebutuhan khusus dapat dilihat dari Gambar B.3, B.4 dan B.5.
Gambar B.3 Ruang gerak bagi pengguna kruk
247 Gambar B.4 Ruang gerak bagi tuna netra
Sumber : (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017)
Gambar B.5 Ruang Gerak Bagi Pengguna Kursi Roda Sumber : (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017) Persyaratan lajur yang landai
Persyaratan khusus untuk rancangan jalan yang landai bagi penyandang disabilitas adalah sebagai berikut:
1. Tingkat kelandaian tidak melebihi 8%; 2. Memiliki pegangan dikedua sisi;
3. Pegangan tangan harus dibuat dengan ketinggian 0.8 meter diukur dari permukaan tanah.
4. Area landai harus memiliki penerangan yang cukup.(Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017) Penyediaan informasi bagi pejalan kaki
yang memiliki keterbatasan
Pejalan kaki dengan keterbatasan
pandangan akan mengandalkan
kemampuannya untuk mendengar dan merasakan ketika berjalan. (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017)
B.2 Moda Transportasi
Moda transportasi di darat sering dianggap identik dengan moda transportasi jalan raya
(Warpani, 1990). Transportasi darat dapat dibagi menjadi:
1. Geografis Fisik, terdiri dari moda transportasi jalan rel dan roda.
2. Geografis Administratif, terbagi atas transportasi dalam kota, transportasi desa, transportasi antar-kota dalam provinsi (AKDP), transportasi antar-kota antar-provinsi (AKAP) dan transportasi lintas batas antar-negara (internasional).
B.3 Integrasi Antar Bangunan
Integrasi fisik pada dasarnya adalah tentang bagaimana komponen dan sistem berbagi ruang, bagaimana mereka cocok bersama. Di praktik standar, misalnya, bagian langit-langit bangunan sering dibagi menjadi zona berbeda: pencahayaan tersembunyi di zona terendah, ruang untuk saluran berikutnya, dan kemudian zona untuk kedalaman struktur untuk mendukung lantai di atas. Volume yang terpisah ini mencegah "gangguan" antar sistem dengan menyediakan ruang yang cukup untuk masing-masing sistem secara terpisah. Integrasi antara bangunan dan transportasi umum memiliki penghubung seperti jembatan penyeberangan dan jalur pedestrian.
Integrasi sistem pada tingkat site
berkaitan dengan isu konteks: lingkungan, sosial, perkotaan, budaya, dan kondisi khusus apa pun yang disajikan oleh situasi proyek bangunan yang tepat dan lingkungan sekitarnya. Variabel yang diamati adalah struktur, peneduhan, orientasi, perimeter dan lansekap (Bachman, 2004).
C. METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif komparatif. Penelitian komparatif menurut (Sugiyono, 2015) adalah penelitian yang membandingkan keadaan pada dua atau lebih kasus yang berbeda. Metode komparatif menyajikan data yang berkaitan dengan jembatan penghubung antara bangunan dengan transportasi umum.
248 Langkah-langkah yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah menetapkan variabel yang diamati untuk menemukan faktor kenyamanan dalam perancangan jembatan penghubung bangunan dengan transportasi umum. Kemudian melakukan pengamatan pada kasus yang diamati adalah Jembatan penghubung antara Blok M Plaza dengan Stasiun MRT Jakarta, Jembatan penghubung antara pasar modern dengan terminal bus layang intermoda BSD City dan jembatan penghubung antara Pusat Grosir Cililitan dengan halte
Langkah yang terakhir adalah menyesuaikan temuan yang ada dengan studi pustaka agar dapat menemukan faktor-faktor kenyamanan bagi masyarakat yang menggunakan jembatan penghubung menuju transportasi umum.
D. HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN D.1 Jembatan Penyeberangan Orang (JPO)
Berdasarkan SE Menteri PUPR Nomor : 02/SE/M/2018 tentang Perencanaan teknis fasilitas pejalan kaki. Jembatan di Blok M, Intermoda BSD City dan Pusat Grosir Cililitan masih memiliki kekurangan dari standar yang telah diatur, seperti kurangnya fasilitas untuk disabilitas ,belum adanya blindpath untuk memandu Tuna netra. Pada Pusat Grosir Cililitan tidak dapat dijangkau bagi pengguna kursi roda sebab jembatan penghubung berbentuk tangga oleh adanya perbedaan ketinggian lantai menuju bangunan dan peneduhan. Namun, fungsi, letak dan luas jembatan telah sesuai dengan standar perancangan
Tabel D.1 Jembatan Penyeberangan Orang Kasus
Temuan Blok M Plaza Pasar Modern, BSD City Pusat Grosir Cililitan
Fungsi Menghubungkan antara bangunan menuju moda transportasi
Menghubungkan antara bangunan menuju moda transportasi
Menghubungkan antara bangunan menuju moda transportasi
Sebagai penghubung dari bangunan menuju transportasi umum Letak
Sumber :
https://www.viva.co.id/ Berada pada lantai 2 Plaza Blok M
Sumber :
https://www.skyscraper city.com/
Berada pada lantai 2 pasar modern
Sumber : Diolah dari googlemaps Berada pada lantai 2 PGC
Berbatasan langsung
dengan moda
transportasi
Luas 10m x 15m2 = 150m2 10m x 20m = 200m2 2,5m x 8m = 20 m2 Area transisi memerlukan luasan yang besar untuk dapat menampung pergerakan pengunjung
Struktur Beton bertulang Beton bertulang Rangka baja Beton bertulang Fasilitas - Ramah disabilitas (tanpa
ada perbedaan ketinggian lantai) Tidak ada blindpath
- Ramah disabilitas (tanpa ada perbedaan ketinggian lantai)
Tidak ada blindpath
- Tidak ramah disabilitas (penghubung berupa tangga)
Tidak ada blindpath
Jembatan penghubung memerlukan fasilitas bagi penyandang disabilitas, seperti Blindpath, ramp,dll. Sumber : Analisa penulis D.2 Moda Transportasi
249 Moda Transportasi darat yang
dihubungkan oleh jembatan penyeberangan menuju bangunan pada Blok M, Intermoda BSD City dan Pusat Grosir Cililitan memiliki kesamaan yaitu Transportasi yang dihubungan berbasis
rel dan aspal . Lokasi transportasi umum pada ketiga lokasi berada di tengah-tengah jalan
raya dan berada dekat dengan titik keramaian kawasan tersebut.
Hal ini telah sesuai dengan yang diungkapkan oleh Warpani. Bahwa moda terdiri dari moda transportasi jalan rel dan aspal
Tabel D.2 Moda Transportasi Kasus
Temuan Blok M Plaza Pasar Modern, BSD City Pusat Grosir Cililitan
Moda
S u mb e r :
h t t p s : / / w w w . j a k a r t a mr t . c o . id / - MRT (Moda Raya Terpadu) - Berbasis rel
Sumber :
http://wartakota.tribunnews.com/ - Bus dan kereta api - Berbasis aspal(jalan) dan rel
i Sumber : http://transjakarta.co.id/ - Transjakarta - Berbasis aspal(jalan) - MRT - Bus - Kereta api Posisi Sumber : https://www.jakartamrt.co.id/ Berada pada jalan Panglima
Polim, Jakarta Selatan
Sumber : diolah dari googlemaps Berada pada komplek Intermoda, BSD City,
Kabupaten Tangerang.
Sumber : diolah dari googlemaps Berada pada jalan Mayjen
Sutoyo, Jakarta Timur
- Berada pada titik keramaian atau jalan utama. - Pintu utama bangunan (Lobby)
Sumber : Analisa penulis
D.3 Integrasi antar bangunan.
Jenis kegunaan pada ketiga lokasi kasus memiliki kesamaan, yaitu hanya dikhususkan sebagai jembatan penghubung tanpa memiliki retail-retail pada sisinya. Struktur penyangga jembatan pada Blok M Plaza dan Pasar Modern menggunakan struktur beton
bertulang untuk menyangga beban. Sedangkan pada Pusat Grosir Cililitan menggunakan struktur rangka baja seperti pada Jembatan Penyeberangan Orang di Kota Jakarta pada umumnya.
Tabel D.3 Integrasi Antar Bangunan
Jenis
Kasus
Temuan Blok M Plaza Pasar Modern, BSD City Pusat Grosir Cililitan
Jembatan Penyebrangan Orang Jembatan Penyebrangan Orang/Skywalk Jembatan Penyebrangan Orang Jembatan Penyebrangan Orang Peneduhan Memiliki peneduhan sepanjang Jembatan penghubung Tidak memiliki peneduhan(terbuka) Memiliki peneduhan sepanjang Jembatan penghubung Jembatan penghubung harus memiliki peneduhan untuk menghindari hujan dan panas Orientasi Menghadap timur, berhadapan dengan transportasi MRT Menghadap utara, Transportasi Bus berada pada sisi timur bangunan
Menghadap tenggara, berhadapan dengan transportasi Transjakarta
Bangunan berhadapan dengan moda transportasi terdekat
Peri meter
Memiliki pagar pembatas. Namun,
Tidak ada pagar pembatas, pembatas berupa daerah
Memiliki pagar pembatas. Namun, memiliki akses
Menggunakan pagar pembatas dan ramah
250
memiliki akses pedestrian
hijau pedestrian pedestrian.
Landsekap
Sisi yang menghadap moda transportasi diisi oleh pohon palem berketinggian rendah.
Sisi yang menghadap moda transportasi diisi oleh tanaman rerumputan dan pohon peneduh
Sisi yang menghadap moda transportasi diisi oleh pohon palem dan pagar alami
Sisi yang menghadap moda transportasi diisi tanaman yang berfungsi sebagai pagar alami
Sumber : Analisa penulis
E. KESIMPULAN
Konsep Integrated pada bangunan mixed-use memiliki kriteria sebagai berikut: jembatan penghubung dari bangunan menuju transportasi umum Berbatasan langsung dengan moda transportasi, Area transisi yang luas dan Jembatan penghubung yang ramah disabilitas. Moda transportasi biasanya berbasis rel dan roda serta terletak di jalan utama kawasan. Integrasi bangunan memperhatikan Jembatan penghubung yang memiliki peneduhan untuk menghindari hujan dan panas, bangunan yang berorientasi pada moda transportasi, pembatas jalan yang ramah disabilitas dan menggunakan tanaman sebagai pagar alami.
Sebaiknya Jembatan penghubung pada bangunan perbelanjaan lebih memperhatikan aspek kenyamanan pengguna jasa seperti menyediakan peneduhan dan fasilitas disabilitas agar dapat meningkatkan minat masyarakat untuk datang. Sebab jembatan yang baik akan dapat menarik pengunjung untuk melaluinya menuju tujuan.
DAFTAR PUSTAKA
Bachman, L. R. (2004). Integrated Buildings: The
Systems Basis of Architecture. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc
Harahap, H. H. (2014). Analisa Karakteristik
Penggunaan Jembatan Penyeberangan Pada Daerah Perbelanjaan Di Jalan Jenderal
Sudirman Kota Palembang.
Palembang:Universitas Sriwijaya
Herry Pintardi Chandra. (2001). Analisis Hubungan
Sistem Bangunan Dengan Kinerja Total Dan Integrasi Bangunan Pada Berbagai Gedung Bertingkat Di Surabaya. Retrieved from
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/civ/a rticle/view/15533
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2017). Pedoman Bahan Konstruksi
Bangunan dan Rekayasa Sipil: Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan
Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Warpani, S. (1990). Merencanakan Sistem Perangkutan. Bandung: ITB.