• Tidak ada hasil yang ditemukan

BANK INDONESIA. Telepon : (sirkulasi) Fax. : Website :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BANK INDONESIA. Telepon : (sirkulasi) Fax. : Website :"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan

Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan

Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan

Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan

Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan

Biro Kebijakan Moneter

Biro Kebijakan Moneter

Biro Kebijakan Moneter

Biro Kebijakan Moneter

Biro Kebijakan Moneter

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter

Telepon

: +62 61 3818163

+62 21 3818206 (sirkulasi)

Fax.

: +62 21 3452489

E-mail

: [email protected]

(3)

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER

BANK INdONEsIA

Laporan Kebijakan Moneter dipublikasikan secara triwulanan oleh Bank Indonesia setelah

Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Selain dalam

rangka memenuhi ketentuan pasal 58 UU Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999 sebagaimana

telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, laporan ini berfungsi untuk dua maksud utama,

yaitu: (i) sebagai perwujudan nyata dari kerangka kerja antisipatif yang mendasarkan pada

prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan dalam perumusan kebijakan moneter, dan (ii)

sebagai media bagi Dewan Gubernur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat

luas mengenai berbagai pertimbangan permasalahan kebijakan yang melandasi keputusan

kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

Dewan Gubernur

Boediono

Gubernur

Miranda S. Goeltom

Deputi Gubernur Senior

Hartadi A. Sarwono

Deputi Gubernur

Siti Ch. Fadjrijah

Deputi Gubernur

S. Budi Rochadi

Deputi Gubernur

Muliaman D. Hadad

Deputi Gubernur

Ardhayadi Mitroatmodjo

Deputi Gubernur

Budi Mulya

Deputi Gubernur

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER

TRIwuLAN II-2009

(4)
(5)

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER

BANK INdONEsIA

strategi Kebijakan Moneter

Prinsip Dasar

Kebijakan moneter dengan ITF menempatkan sasaran inflasi sebagai tujuan utama (overriding objective) dan jangkar nominal (nominal anchor) kebijakan moneter. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia menerapkan strategi antisipatif (forward looking) dengan mengarahkan respon kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi jangka menengah ke depan.

Penerapan ITF tidak berarti bahwa kebijakan moneter tidak memperhatikan pertumbuhan ekonomi. Paradigma dasar kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan (striking the optimal balance) antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan, baik dalam penetapan sasaran inflasi maupun respon kebijakan moneter, dengan mengarahkan pada pencapaian inflasi yang rendah dan stabil dalam jangka menengah-panjang.

Sasaran Inflasi

Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi IHK untuk tahun 2008, 2009, dan 2010 masing-masing sebesar 5%+1%, 4,5%+1%, dan 4%+1%. Sasaran inflasi dimaksud sejalan dengan proses penurunan inflasi secara bertahap (gradual disinflation) mengarah pada sasaran inflasi jangka menengah-panjang yang kompetitif dengan negara lain sekitar 3%.

Instrumen dan Operasi Moneter

BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indo-nesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate merupakan suku bunga sinyaling dalam rangka mencapai sasaran inflasi jangka menengah panjang, yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu. Dalam rangka implementasi penyempurnaan kerangka operasional kebijakan moneter, terhitung sejak tanggal 9 Juni 2008 Bank Indonesia melakukan perubahan sasaran operasional dari suku bunga SBI 1 bulan menjadi suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N).

BI Rate diimplementasikan dalam operasi moneter melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter yang tercermin pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian likuiditas di pasar, operasi moneter harian dilakukan dengan menggunakan seperangkat instrumen moneter dan koridor suku bunga (standing facilities). Proses Perumusan Kebijakan

BI Rate ditetapkan oleh Dewan Gubernur melalui mekanisme Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan. Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan stance kebijakan moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui RDG mingguan. Perubahan dalam BI Rate pada dasarnya menunjukkan respons kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mengarahkan prakiraan inflasi ke depan agar tetap berada dalam lintasan sasaran inflasi yang telah ditetapkan.

Transparansi

Kebijakan moneter dari waktu ke waktu dikomunikasikan melalui media komunikasi yang lazim seperti penjelasan kepada press dan pelaku pasar, website, maupun penerbitan Laporan Kebijakan Moneter (LKM). Transparansi dimak-sudkan untuk meningkatkan pemahaman dan sekaligus pembentukan ekspektasi masyarakat atas prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan serta respon kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

Koordinasi dengan Pemerintah

Untuk koordinasi dalam penetapan sasaran, pemantauan dan pengendalian inflasi, Pemerintah dan Bank Indonesia telah membentuk Tim yang melibatkan pejabat-pejabat dari berbagai instansi terkait. Dalam pelaksanaan tugasnya, Tim membahas dan merekomendasikan kebijakan-kebijakan yang diperlukan baik dari sisi Pemerintah maupun Bank

Langkah-langkah Penguatan

Kebijakan Moneter dengan sasaran Akhir Kestabilan Harga

(Inflation Targeting Frameworks)

Mulai Juli 2005 Bank Indonesia telah mengimplementasikan penguatan kerangka kerja kebijakan moneter konsisten dengan Inflation Targeting Framework (ITF), yang mencakup empat elemen dasar: (1) penggunaan suku bunga BI Rate sebagai policy reference rate, (2) proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif, (3) strategi komunikasi yang lebih transparan, dan (4) penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Langkah-langkah dimaksud ditujukan untuk meningkatkan efek-tivitas dan tata kelola (governance) kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

(6)
(7)

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER

BANK INdONEsIA

Kata Pengantar

Triwulan II-2009 diwarnai oleh munculnya tanda-tanda perbaikan ekonomi dunia. Ekspektasi pemulihan

ekonomi yang terjadi telah mendorong sentimen positif di pasar keuangan global. Kendati demikian, membaiknya prospek perekonomian tersebut diperkirakan belum mampu mengkompensasi perlambatan ekonomi global, yang terutama disumbang oleh negara maju. Laju perekonomian domestik diprakirakan melambat, meski tidak sedalam proyeksi semula. Di sisi eksternal, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya, ditopang oleh prospek perekonomian global yang membaik, harga komoditas yang meningkat serta pasar keuangan global yang menunjukkan tanda-tanda kestabilan.

Pertumbuhan ekonomi selama triwulan II-2009 diprakirakan berada dalam kisaran 3,7%-4,0%, lebih rendah

dibandingkan triwulan I-2009 (4,4%), namun lebih tinggi dari prakiraan semula (3,3%). Pertumbuhan ekonomi domestik yang melemah, terutama disebabkan oleh kontraksi kegiatan ekspor dan perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, kinerja ekspor menurun signifikan akibat lemahnya ekspansi ekonomi dunia, termasuk di negara mitra dagang utama. Pengeluaran konsumsi masyarakat melemah dan daya beli belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Namun, perlambatan yang lebih dalam pada konsumsi swasta ini dapat tertahan oleh pengeluaran terkait penyelenggaraan pemilihan presiden serta adanya realisasi pembayaran gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil.

Neraca Pembayaran Indonesia triwulan II-2009 diprakirakan mencatat surplus sebesar USD 0,4 miliar.

Transaksi berjalan mencatat surplus terkait meningkatnya harga komoditas di pasar global dan permintaan dari emerging markets, khususnya Cina dan India. Sementara, transaksi di neraca modal dan finansial mencatat defisit. Pembalikan arus dana yang sempat dialami pasar keuangan domestik sejak pertengahan Juni 2009 menyebabkan investasi portofolio selama triwulan II-2009 tidak setinggi perkiraan sebelumnya. Cadangan devisa mencapai USD57,6

miliar setara dengan 5,6 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.

Kondisi sektor keuangan domestik membaik seiring dengan perkembangan global dan indikator makro domestik yang kondusif. Selama triwulan II-2009, rupiah cenderung menguat, indeks saham meningkat, yield SUN

menurun didukung oleh terjaganya kondisi fundamental domestik. Pada akhir triwulan, indikator-indikator tersebut sempat mengalami koreksi akibat pengaruh perkembangan global yang belum stabil.

(8)

BANK INdONEsIA

Likuiditas di sektor perbankan cenderung longgar, seperti tercermin pada meningkatnya simpanan perbankan

dalam instrumen moneter, naiknya volume transaksi PUAB dan suku bunga PUAB yang menurun. Respon penurunan suku bunga perbankan masih terbatas pada suku bunga simpanan. Adapun, suku bunga kredit turun lebih lambat dengan ekspansi kredit yang masih terbatas.

Penurunan laju inflasi terus berlanjut. Terjaganya pasokan pangan serta penguatan nilai tukar mendukung

penurunan tekanan inflasi. Inflasi triwulan II-2009 tercatat sebesar -0,15% (qtq), jauh lebih rendah dibanding pola historisnya. Secara kumulatif, inflasi IHK tercatat amat rendah, mencapai 0,21% (ytd) atau 3,65% (yoy).

Perekonomian Indonesia selama 2009 berpotensi tumbuh lebih tinggi dari prakiraan semula. PDB 2009

diprakirakan tumbuh mencapai batas atas kisaran 3,5%-4,0%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya (3,3%). Sementara itu, inflasi pada 2009 diproyeksikan lebih rendah dari prakiraan sebelumnya bahkan berpotensi di bawah 5%, seiring dengan membaiknya ekspektasi inflasi dan terjaganya pasokan dan distribusi bahan makanan.

Bank Indonesia akan senantiasa mengarahkan kebijakan moneter yang kondusif bagi permintaan domestik dengan tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka menengah-panjang. Di bidang perbankan, Bank Indonesia akan terus mendorong konsolidasi dan intermediasi perbankan serta memperkuat daya tahan perbankan di tengah gejolak global. Demikian gambaran singkat materi laporan pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia selama triwulan II-2009.

Jakarta, 3 Juli 2009 Pjs. GUBERNUR BANK INDONESIA

(9)

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER

BANK INdONEsIA

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan II-2009

daftar Isi

Daftar Isi

1. Tinjauan Umum ... 1

2. Perkembangan Makroekonomi Terkini ... 5

Perkembangan Ekonomi Dunia ... 5

Pertumbuhan Ekonomi ... 6

Neraca Pembayaran Indonesia ... 14

3. Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan II-2009 ... 16

Nilai Tukar Rupiah ... 17

Inflasi ... 18

Kebijakan Moneter ... 21

4. Perekonomian Indonesia ke Depan ... 27

Asumsi dan Skenario yang Digunakan ... 27

Prospek Pertumbuhan Ekonomi ... 28

Prakiraan Inflasi ... 33

Faktor Risiko... 34

5. Respon Kebijakan Moneter Triwulan II-2009 ... 35

(10)

BANK INdONEsIA

(11)

Tinjauan Umum

. Tinjauan Umum

Perkembangan perekonomian global mengindikasikan proses pemulihan yang semakin menguat, walaupun masih terdapat sejumlah risiko. Di negara maju, berbagai

indikator pemulihan ekonomi makro telah menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik. Paket stimulus yang diluncurkan oleh pemerintah dan program stabilisasi sektor keuangan telah berhasil mendorong penguatan keyakinan masyarakat sehingga mampu mendorong konsumsi. Di samping itu, kondisi pasar kredit yang mulai membaik turut menopang kenaikan pengeluaran konsumsi masyarakat. Kendati demikian, masih tingginya angka pengangguran menjadi faktor risiko yang membayangi proses pemulihan ekonomi di kelompok negara tersebut. Di sisi lain, pemulihan ekonomi negara emerging markets, khususnya China, India dan Korea, semakin menunjukkan penguatan. Dengan dukungan stimulus fiskal dalam bentuk infrastruktur dan tingginya pertumbuhan kredit, kegiatan investasi di China yang telah berlangsung sejak awal tahun terus berlanjut. Geliat permintaan domestik di beberapa negara Asia tersebut pada gilirannya mendorong peningkatan kinerja perekonomian negara lainnya di kawasan. Namun demikian, membaiknya perekonomian di beberapa negara emerging markets diperkirakan belum mampu mengkompensasi perlambatan ekonomi negara maju. Dengan berbagai perkembangan tersebut, kontraksi ekonomi global diperkirakan masih berlanjut, meski dengan laju yang semakin melambat.

Ekspektasi pemulihan ekonomi dunia mendorong perkembangan positif di pasar keuangan global. Sepanjang triwulan II-2009 kinerja sektor keuangan global terus

membaik. Bursa saham di negara maju mencatat peningkatan indeks harga yang didorong oleh faktor sentimen positif terkait dengan membaiknya permodalan bank pasca stress test, optimisme terhadap upaya stabilisasi sektor keuangan dan kondisi perekonomian, serta laporan keuangan beberapa lembaga keuangan dunia yang mencatat kinerja positif. Kondisi sektor perbankan juga menunjukkan perbaikan, sebagaimana tercermin dari pelonggaran standar pemberian kredit. Perkembangan pasar keuangan di negara maju tersebut pada gilirannya berimbas pada pasar keuangan di kawasan. Kendati demikian, menjelang akhir periode perkembangan di pasar keuangan menunjukkan pembalikan arah yang dipicu oleh sentimen negatif terkait dengan masih tingginya angka pengangguran di Amerika Serikat dan Eropa.

Kecenderungan perekonomian global yang membaik telah memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dampak penguatan permintaan negara

mitra dagang, terutama China dan India, mendorong peningkatan kinerja ekspor Indonesia terhadap beberapa komoditas ekspor seperti CPO, batubara, dan tembaga. Meski terus membaik, belum pulihnya perekonomian global menyebabkan kinerja ekspor yang masih mengalami kontraksi. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan konsumsi swasta dapat tertahan oleh pengeluaran terkait penyelenggaraan pemilihan presiden (pilpres), serta adanya realisasi pembayaran gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil. Dalam kondisi permintaan yang masih lemah dan tingkat utilisasi kapasitas yang masih rendah, kegiatan investasi masih terbatas. Mencermati perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi selama triwulan II-2009 diprakirakan berada pada kisaran 3,7% - 4,0%.

(12)

Di sisi harga, tren penurunan inflasi diprakirakan masih berlanjut. Pada Juni 2009, harga barang konsumen mencatat inflasi sebesar 0,11% (m-t-m), jauh lebih rendah dibandingkan dengan pola historisnya maupun proyeksi sebelumnya. Kenaikan harga beberapa komoditas pangan di pasar internasional masih dapat dikompensasi oleh apresiasi rupiah sehingga kenaikan harga barang domestik masih terkendali. Selain penguatan rupiah, lemahnya permintaan domestik, serta membaiknya ekspektasi inflasi sejalan dengan meningkatnya akselerasi disinflasi menyebabkan laju inflasi kelompok inti menunjukkan penurunan. Terjaganya pasokan pangan juga menjadi faktor yang mendukung rendahnya inflasi selama triwulan II-2009. Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif (ytd) inflasi IHK baru mencapai 0,21% atau 3,65%(yoy).

Kenaikan harga komoditas dan membaiknya permintaan negara emerging markets juga menyebabkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) lebih baik dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Perbaikan kinerja NPI ditopang oleh surplus

pada transaksi berjalan yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan harga komoditas di pasar global, terutama untuk komoditas tambang dan crude palm oil, serta meningkatnya permintaan dari negara emerging markets, khususnya China dan India, mendukung peningkatan ekspor non migas. Di sisi neraca neraca modal dan finansial (TMF), investasi dalam bentuk portofolio masih mencatat surplus. Membaiknya kondisi pasar keuangan global, serta terjaganya persepsi positif terhadap ekonomi domestik mendorong aliran masuk modal asing dalam bentuk portofolio. Kendati demikian, pembalikan arus dana yang sempat mewarnai pasar finansial domestik sejak pertengahan Juni 2009 menyebabkan investasi portofolio selama triwulan II-2009 tidak setinggi perkiraan sebelumnya. Penanaman dana dalam bentuk investasi langsung juga diperkirakan meningkat sejalan dengan meningkatnya kegiatan eksplorasi perusahaan migas. Lebih lanjut, terjaganya kepercayaan terhadap prospek perekonomian domestik dan membaiknya keketatan di pasar keuangan global mendukung penarikan utang luar negeri swasta yang lebih tinggi dari perkiraan. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa sampai dengan akhir Juni 2009 mencapai 57,58 miliar dolar AS atau setara dengan 5,6 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.

Membaiknya NPI dan sentimen positif di pasar global mendorong apresiasi nilai tukar. Dibandingkan dengan negara di kawasan, rupiah mengalami penguatan tertinggi

setelah Won Korea. Secara rata-rata, selama triwulan II-2009 rupiah terapresiasi 9,99%. Penguatan nilai tukar tersebut ditopang oleh meningkatnya pasokan valas sejalan dengan aliran masuk modal asing. Optimisme akan pemulihan ekonomi global yang disertai dengan terjaganya kondisi fundamental domestik sebagaimana tercermin pada neraca pembayaran yang surplus dan imbal hasil rupiah yang tetap menarik, telah menumbuhkan risk appetite terhadap aset di pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia. Namun demikian, adanya sentimen negatif pada perekonomian global berdampak pada sedikit melemahnya nilai tukar diakhir triwulan II-2009 dibandingkan dengan awal Juni 2009.

Di sektor keuangan, perkembangan global dan indikator makro domestik yang kondusif memberikan dampak positif di sektor keuangan domestik. Di pasar saham,

secara umum perkembangan bursa efek selama triwulan II-2009 ditandai oleh peningkatan indeks harga, meski di akhir periode terjadi pembalikan arus modal asing yang sempat

(13)

Tinjauan Umum

mengakibatkan turunnya indeks harga. Fundamental domestik yang membaik serta kenaikan harga komoditas global telah mendorong maraknya pembelian saham baik oleh investor asing maupun domestik. Di pasar obligasi, yield SUN mencatat penurunan sejalan dengan menurunnya suku bunga kebijakan moneter dan meningkatnya minat investasi penanam modal asing. Kendati demikian, untuk tenor jangka panjang (di atas 15 tahun) yield SUN masih cenderung tinggi, terkait dengan masih tingginya persepsi risiko.

Di sektor perbankan, kondisi perbankan nasional relatif stabil, namun respons perbankan terhadap kebijakan pelonggaran moneter masih terbatas. Secara mikro,

kondisi perbankan nasional tetap stabil, yang diindikasikan oleh masih terjaganya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) per Mei 2009 yang cukup tinggi mencapai level 17,3%. Sementara itu rasio gross Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali di bawah 5% dengan rasio net di bawah 2%. Likuiditas Perbankan, termasuk likuiditas dalam pasar uang antar bank makin membaik dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat. Namun demikian, respons suku bunga perbankan masih terbatas. Penurunan BI Rate sebesar 250 bps sejak Desember 2008 hingga Juni 2009 baru direspons dengan penurunan suku bunga dasar kredit (base lending rate) hingga Mei 2009 sekitar 45 bps. Terkait dengan hal tersebut, penyaluran kredit perbankan sampai dengan bulan Mei 2009 masih mencatat kontraksi sebesar 1,1% (ytd) . Kendati demikian, likuiditas perekonomian masih cukup longgar. Meski pertumbuhan besaran moneter (uang kartal dan M1) masih sangat rendah, perhitungan berdasarkan faktor fundamentalnya menunjukkan perkembangan besaran moneter masih sesuai dengan kebutuhan perekonomian. Dengan penurunan suku bunga kredit yang lebih lambat dan ekspansi kredit yang masih sangat terbatas, terdapat indikasi dunia usaha semakin intensif mencari alternatif pembiayaan selain perbankan, antara lain melalui penerbitan obligasi.

Ke depan, prospek ekonomi berpotensi tumbuh lebih baik dari perkiraan semula.

Proyeksi perekonomian dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan global. Kinerja ekspor keseluruhan tahun yang diperkirakan masih mengalami kontraksi diprakirakan dapat dikompensasi oleh peningkatan konsumsi masyarakat yang ditopang oleh penyelenggaraan Pemilu. Mencermati dampak dari penyelenggaran pemilihan calon legislatif selama triwulan I-2009 yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya, penyelenggaraan pemilihan presiden 2009 diprakirakan dapat memberi sumbangan yang signifikan pada kegiatan konsumsi masyarakat. Di tengah kondisi daya beli yang belum menunjukkan perbaikan signifikan, konsumsi swasta selama tahun 2009 diprakirakan dapat tumbuh relatif tinggi sebagai imbas dari penyelenggaraan Pemilu. Dengan latar belakang kondisi tersebut, perekonomian selama keseluruhan tahun 2009 berpotensi tumbuh lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Secara keseluruhan tahun, PDB diprakirakan dapat tumbuh sebesar 3,5-4,0% dengan kecenderungan menuju batas atas kisaran tersebut.

Neraca Pembayaran Indonesia diperkirakan mencatat surplus untuk keseluruhan tahun 009. Hal tersebut ditopang oleh kondisi perekonomian global yang membaik, harga

komoditas yang meningkat, serta stabilisasi pasar keuangan global yang berlanjut. Kegiatan ekspor diprakirakan membaik, seiring dengan penguatan ekonomi global sejak triwulan III-2008 secara lebih merata di berbagai kawasan, serta berlanjutnya kenaikan harga komoditas

(14)

dunia. Di sisi neraca transaksi modal finansial, arus masuk modal asing, baik dalam bentuk portofolio maupun investasi langsung, diprakirakan berlanjut sejalan dengan optimisme pemulihan ekonomi dunia yang disertai dengan semakin kondusifnya pasar finansial global. Selain itu, arus masuk modal di sektor publik diprakirakan turut menopang kinerja neraca Transaksi Modal dan Finansial.

Dengan mempertimbangkan perkembangan-perkembangan tersebut di atas, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada  Juli 009 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 5 bps, dari 7,0% menjadi 6,75%. Keputusan tersebut diharapkan dapat

mendukung upaya menjaga optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Ke depan, kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara mendorong perekonomian domestik di tengah masih lesunya perekonomian global dan menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka menengah dengan mempertimbangkan kenaikan tekanan inflasi di tahun 2010. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, kebijakan

moneter ke depan akan dilakukan secara lebih berhati-hati mengingat ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas.

(15)

Perkembangan Makroekonomi Terkini

2. Perkembangan Makroekonomi

Terkini

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2009 diprakirakan akan tumbuh melambat menjadi sekitar 3,7-4,0% (yoy). Di sisi permintaan, seluruh komponen PDB diperkirakan masih berada dalam tren melambat. Walaupun perbaikan ekonomi global mendukung kinerja ekspor Indonesia dalam triwulan II-2009, perekonomian global yang masih kontraksi menyebabkan ekspor masih mengalami kontraksi yang cukup signifikan dalam Triwulan II-2009. Namun demikian, laju perlambatan ekonomi tertahan oleh pengeluaran konsumsi swasta terkait dengan Pemilu Pilpres putaran pertama. Sementara itu, pertumbuhan investasi diperkirakan menurun sejalan dengan melemahnya permintaan dan belum membaiknya sentimen bisnis pengusaha. Di sisi penawaran, sebagian sektor-sektor perekonomian pada triwulan II-2009 juga diperkirakan tumbuh melambat seiring dengan melemahnya permintaan eksternal maupun domestik. Meskipun demikian, beberapa sektor ekonomi diperkirakan tumbuh membaik seiring dengan meningkatnya permintaan untuk kegiatan Pemilu Presiden yakni sektor pengangkutan dan telekomunikasi, sektor jasa dan sektor industri pengolahan khususnya subsektor industri makanan dan minuman, subsektor industri kertas dan barang cetakan, serta subsektor industri tekstil.

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA

Prospek pemulihan ekonomi global semakin membaik. Kondisi tersebut sejalan dengan proses stabilisasi di pasar keuangan, dukungan stimulus fiskal yang cukup besar, suku bunga rendah, serta mulai pulihnya keyakinan konsumen dan bisnis.

Berbagai respons pelonggaran moneter dan stimulus fiskal yang ditempuh di hampir semua negara memicu optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi global. Fase pemulihan ekonomi dunia tercermin dari tren penurunan indikator makro ekonomi yang makin melambat dan bahkan banyak yang diyakini sudah mencapai titik terendah. Secara keseluruhan, perekonomian dunia pada triwulan II-2009 diperkirakan masih mengalami kontraksi, Kontraksi ekonomi tersebut diperkirakan lebih terbatas dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2009. Perbaikan ekonomi dunia lebih didorong oleh pertumbuhan kelompok ekonomi negara berkembang, sementara kelompok negara maju masih berada pada titik terendahnya.

Perekonomian AS pada triwulan II-2009 diperkirakan masih akan menurun. Penurunan tersebut disebabkan oleh merosotnya

aktivitas ekonomi, dipicu terutama oleh turunnya investasi swasta, khususnya non-residensial, dan turunnya ekspor seiring dengan anjloknya permintaan dunia. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga AS masih tumbuh positif. Hal tersebut terutama didorong oleh berbagai kebijakan bantuan tunai dari pemerintah AS. Pendapatan rumah tangga

Grafik 2.1

Grafik Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga AS

������ ���� ���� ���� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ��� ��� ��� ��� ��� ������ ������ ������ ������ ������ ������ ������ ������ ������ ������ ����� ����������������� ������������������ �����������

(16)

AS di bulan April menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan lalu didorong social benefit yang diberikan oleh Pemerintah AS (Grafik 2.1). Namun demikian, kekhawatiran atas ketatnya pasar tenaga kerja dan ketidakpastian ke depan mendorong rumah tangga mengurangi konsumsi dan beralih meningkatkan tabungan seperti tercermin melonjaknya savings rate yang mencapai level tertinggi dalam 14 tahun . Membaiknya indikator konsumsi mulai direspons dengan membaiknya kegiatan ekonomi di sektor manufaktur sebagaimana tercermin dari menurunnya inventory to sales ratio, membaiknya indeks pembelian kalangan pabrikan (PMI), dan melambatnya kontraksi industrial

production (Grafik 2.2).

Kondisi sektor keuangan global terus mengalami perbaikan.

Kondisi keketatan likuditas terus mereda didorong aliran likuiditas dan kebijakan quantitative easing oleh beberapa bank sentral. Injeksi likuiditas yang dilakukan bank sentral seperti the Fed, BOE, BOJ, dan ECB mampu meredakan ketegangan pasar kredit seperti tercermin dari menurunnya spread Libor dengan Overnight

Index Swap (OIS) ke level sebelum Lehman Brothers bangkrut. Perbaikan di sektor keuangan

juga ditunjukkan oleh hasil stress test yang dilakukan the Fed yang menyimpulkan bahwa perbankan AS relatif tahan terhadap gejolak keuangan, tercermin dari kewajiban pemenuhan permodalan yang ternyata tidak sebesar yang diperkirakan semula. Bahkan dalam perkembangannya, beberapa perbankan berencana untuk mengembalikan dana TARP (Troubled Asset Relief Programme) kepada Pemerintah lebih cepat dan mampu memenuhi kecukupan modal yang disyaratkan tanpa menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

Indikasi perbaikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2009 terjadi juga di Asia. Perbaikan ekonomi China telah mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan

Asia. Perbaikan ekonomi China tersebut tercermin dari solidnya pertumbuhan fixed asset

investment dan tingginya penyaluran kredit perbankan, ditambah lagi dengan paket mega

stimulus fiskal sebesar 4 triliun yuan (586 miliar dolas AS).

Inflasi dunia masih dalam tren menurun akibat melambatnya kegiatan ekonomi dan masih cukup rendahnya harga komoditas dibandingkan tahun 2008. Beberapa

negara seperti AS, Jepang, China dan India bahkan mengalami deflasi pada bulan Mei 2009. Namun demikian, membaiknya prospek ekonomi ke depan dibarengi oleh kenaikan harga minyak internasional yang berpotensi meningkatkan inflasi di masa datang. Kondisi tersebut menyebabkan bank sentral negara-negara di dunia lebih berhati-hati dalam melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Dengan demikian perkembangan ekonomi global yang membaik ini perlu terus dicermati, mengingat berbagai faktor risiko yang menyertainya.

PERTUMBUHAN EKONOMI Permintaan Agregat

Di perekonomian domestik, membaiknya perekonomian global berkontribusi positip pada kinerja ekspor. Namun, sejalan masih berlangsungnya kontraksi perekonomian global,

Grafik 2.2

Grafik Capacity Utilization dan Industrial Production AS

����� ��� ���� ���� �� �� �� �� �� �������������������� �������������������������� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ����

(17)

Perkembangan Makroekonomi Terkini

ekspor masih tumbuh negatif meski tertahan oleh indikasi membaiknya permintaan dari negara berkembang. Sejalan dengan berkurangnya intensitas kegiatan ekonomi, pertumbuhan impor juga diprakirakan masih negatif (Tabel 2.1). Dari sisi domestik, perlambatan ekonomi domestik sedikit tertahan dengan adanya pengeluaran konsumsi menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden putaran pertama. Sementara itu, investasi juga diprakirakan akan terus menurun seiring dengan melemahnya kegiatan ekonomi. PDB pada triwulan II-2009 diprakirakan akan tumbuh pada kisaran 3,7% - 4,0% (yoy). Perlambatan tersebut dikonfirmasi oleh perkembangan indikator penuntun PDB yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi berada pada fase perlambatan paling tidak sampai dengan 5 bulan ke depan (Grafik 2.3).

Konsumsi masyarakat pada triwulan II-2009 diprakirakan tumbuh melambat. Perlambatan tersebut sejalan dengan pergerakan indikator

penuntun konsumsi swasta yang mengindikasikan siklus perlambatan pertumbuhan akan berlangsung setidaknya hingga dua triwulan ke depan (Grafik 2.4). Seiring dengan masih terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tekanan terhadap daya beli masyarakat diperkirakan masih berlanjut. Namun demikian, penghasilan yang bersumber dari musim panen pada akhir triwulan I-2009 dan realisasi gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) ke-13, serta pengeluaran menjelang Pemilu Pilpres diprakirakan berpotensi menahan perlambatan konsumsi masyarakat yang lebih dalam. Tertahannya laju perlambatan konsumsi masyarakat pada triwulan II-2009 juga didukung oleh perkembangan indikator dini yang sebagian besar menunjukkan peningkatan pada April 2009. Berdasarkan perkembangan tersebut, konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2009 diprakirakan tumbuh melambat pada kisaran 3,8% - 4,5% (yoy).

Beberapa indikator dini pada April 2009 mengindikasikan adanya perbaikan pada konsumsi masyarakat pada triwulan laporan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada sisi pembiayaan, indikator M1 riil dan kredit konsumsi riil menunjukkan

dukungan pembiayaan konsumsi masyarakat relatif stabil. Kemampuan daya beli masyarakat

Grafik 2.3 Indikator Penuntun PDB ��������� ��������������� ���� ���� ���� ����� ����� ����� ���� ���� ���� ����� ����� ����� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ��������������������� ��������������������������������������������������������� ���������������������������������������������������������������������� ����������������������������� ����������������������������������������������������������������������������� �������������������������������������������������������������������������

% Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

II III IV I II III IV I II*

Indikator

Tabel 2.1

Pertumbuhan Ekonomi - Sisi Permintaan

200

* Angka Proyeksi Bank Indonesia

Total Konsumsi 4,6 5,3 5,0 4,9 5,5 5,5 6,3 6,4 5,9 7,2 4,9 - 5,6

Konsumsi Swasta 4,7 5,1 5,5 5,0 5,7 5,5 5,3 4,8 5,3 5,8 3,8 - 4,5

Konsumsi Pemerintah 3,8 6,5 2,0 3,9 3,6 5,3 14,1 16,4 10,4 19,2 12,9 - 13,5

Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 7,6 9,7 12,4 9,4 13,7 12,0 12,2 9,1 11,7 3,5 1,9 - 2,4

Ekspor Barang dan Jasa 10,4 7,4 7,9 8,5 13,6 12,4 10,6 1,8 9,5 -19,1 (-17,4) - (-16,5)

Impor Barang dan Jasa 6,5 7,0 13,9 9,0 18,0 16,1 11,0 -3,5 10,0 -24,1 (-21,3 - (-19,9)

PDB , , ,8 ,3 ,2 ,4 ,4 ,2 ,1 4,4 3, - 4,0

(18)

menengah atas menunjukkan peningkatan. Hal tersebut ditunjukkan oleh pertumbuhan nilai transaksi belanja dengan menggunakan kartu debit/ATM dan kartu kredit hingga pertengahan triwulan II-2009 yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan selama Januari-Maret 2009. Selain itu, pertumbuhan konsumsi masyarakat terutama durable goods juga memberikan indikasi positif sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan penjualan produk elektronik serta kendaraan terutama sepeda motor. Namun demikian, pertumbuhan impor barang konsumsi mengalami penurunan yang tajam. Di sisi lain, keyakinan konsumen cenderung menguat didukung oleh ekspektasi perbaikan penghasilan dan membaiknya ketersediaan lapangan kerja. Indikasi Keyakinan Konsumen – Bank Indonesia (IKK–BI, Grafik 2.5) menunjukkan adanya perbaikan terutama karena membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi saat ini yang relatif stabil menjelang Pemilu Pilpres dan kondisi 6 bulan mendatang karena peningkatan ekspektasi kondisi tingkat penghasilan yang terutama didorong oleh realisasi pemberian gaji ke-13 untuk PNS pada akhir triwulan laporan. Sementara itu, indeks riil penjualan eceran bergerak meningkat terutama pada kelompok makanan dan tembakau sejalan dengan perkembangan harga yang mengalami penurunan.

Tertahannya perlambatan konsumsi yang lebih dalam juga dikonfirmasi oleh beberapa indikator daya beli di berbagai daerah. Kredit konsumsi menunjukkan arah perkembangan yang

relatif stabil di seluruh wilayah disertai dengan membaiknya optimisme masyarakat yang ditandai oleh kenaikan IKK di seluruh wilayah. Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) juga menunjukkan perkembangan yang positif, terutama di Jabalnustra.

Pertumbuhan investasi pada triwulan II-2009 diprakirakan akan mengalami penurunan terkait masih lemahnya permintaan eksternal dan kepercayaan dunia bisnis. Pergerakan indikator

penuntun investasi sampai dengan triwulan II-2009 mengindikasikan pertumbuhan investasi masih berada pada siklus perlambatan minimal sampai dengan empat bulan ke depan (Grafik 2.6). Perlambatan investasi tersebut terutama disebabkan penurunan investasi non-bangunan terkait dengan masih rendahnya daya serap eksternal dan belum membaiknya risiko ketidakpastian global. Tertundanya penyaluran stimulus fiskal dan realisasi proyek infrastruktur juga mendorong lemahnya tendensi bisnis pelaku usaha meskipun kondisi dalam negeri menjelang Pemilu Pilpres relatif stabil. Di samping itu, langkah percepatan pembangunan infrastruktur dengan mendirikan dua lembaga yaitu Lembaga Pembiayaan Infrastruktur (Infrastructure Fund) dan Lembaga Penjaminan Infrastruktur (Guarantee Fund) diperkirakan belum berdampak pada

Grafik 2.4

Indikator Penuntun Konsumsi Swasta

���� ���� ���� ���� ���� ����� ����� ����� ����� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���������������������������������� ���������� ��������������� Grafik 2.

Indeks Keyakinan Konsumen Survei Konsumen BI

�� �� �� �� ��� ��� ��� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � �� ���� ���� ���� ������������������� ������������������������ ������������������������� ������� ������� ������ Grafik 2.

Indikator Penuntun Investasi

�� �� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ��� ��������������������������������������������������������������������������

(19)

Perkembangan Makroekonomi Terkini

triwulan II-2009. Berdasarkan perkembangan tersebut, investasi pada triwulan II-2009 diprakirakan tumbuh sebesar 1,9% - 2,2% (yoy), melambat bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Jika dilihat dari distribusinya, pangsa pertumbuhan investasi pada triwulan II-2009 diperkirakan masih ditopang oleh investasi bangunan (Grafik 2.7).

Perlambatan pertumbuhan investasi juga dikonfirmasi oleh perkembangan berbagai indikator dini. Pertumbuhan investasi

nonbangunan cenderung melambat sejalan dengan penurunan permintaan mesin dan perlengkapan luar negeri serta melemahnya impor barang modal (Grafik 2.8). Di sisi lain, investasi bangunan diprakirakan tumbuh melambat akibat rendahnya realisasi pembangunan infrastruktur serta proyek properti pada kuartal II-2009. Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan konsumsi semen yang berangsur menurun sejak awal triwulan II-2009 hingga pada bulan Mei 2009, terutama terjadi di Pulau Jawa dan Sumatera. Dukungan pembiayaan investasi berupa kredit investasi riil hingga awal triwulan II-2009 juga mengindikasikan penurunan. Sementara itu, perkembangan tendensi bisnis pengusaha juga mengindikasikan perlambatan kegiatan investasi (Grafik 2.9). Hasil survei BPS memperkirakan masih lemahnya minat pengusaha terutama diperkirakan karena penurunan kegiatan usaha pada sektor industri pengolahan. Indikasi tersebut juga didukung oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang memperkirakan nilai rencana investasi serta jumlah pelaku usaha yang akan berinvestasi pada semester I-2009 diperkirakan menurun jika dibandingkan dengan semester sebelumnya.

Perlambatan pertumbuhan ekspor pada triwulan II-2009 diperkirakan akan tertahan sejalan dengan membaiknya kinerja negara mitra dagang utama, seperti India dan China, serta harga komoditas internasional. Kinerja ekspor pada triwulan II-2009 diperkirakan masih lemah yang dipicu oleh penurunan permintaan terutama pada pasar tradisionalnya. Namun demikian, pelemahan tersebut diindikasikan tertahan oleh membaiknya permintaan negara emerging markets yang memiliki pangsa sebesar 26%, terutama pada komoditas CPO dan batubara. Di samping itu, berangsur menguatnya harga komoditas pertambangan dan pertanian yang dibarengi dengan indikasi membaiknya pergerakan

Consumer Confidence negara tujuan ekspor utama diperkirakan

juga akan menopang perbaikan permintaan eksternal. Berdasarkan perkembangan tersebut, ekspor pada triwulan II-2009 diprakirakan tumbuh sebesar (-17,4)% - (-16,5)% (yoy). Menurut sektor dan golongan komoditas (HS 2 dijit), permintaan ekspor pada bulan April 2009 masih didominasi oleh komoditas berbasis sumber daya alam seperti CPO, karet dan barang dari karet (Grafik 2.10).

Grafik 2.

Pertumbuhan Investasi Bangunan & Nonbangunan

�������� ������������ ���������� � � � �� �� � �� � �� � �� �� �� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ������� ���� ���� ���� Grafik 2.8

Pertumbuhan Impor Barang Modal

� �� � �� � � � � �� �� �� �� �� �� �� ��� ��� �� �� �� �� �� ��� � �� ��� �� � �� ���� ���� ��������� �������� ������������� ��� ��� Grafik 2.9 Sentimen Bisnis – BPS �� �� ��� ��� ��� ��� � �� ��� �� � �� ��� �� � ��� ���� ���� ���� ������ ��� ���������������� ����������������������������� ����������������

(20)

Penurunan permintaan domestik dan eksternal diperkirakan mendorong pelemahan kinerja impor pada triwulan II-2009.

Pertumbuhan impor pada triwulan II-2009 diperkirakan masih berada pada siklus kontraksi sebagaimana ditunjukkan oleh pergerakan indikator penuntun impor (Grafik 2.11). Hal tersebut searah dengan perlambatan impor bahan baku dan barang modal akibat melambatnya kegiatan perekonomian terutama pada sektor industri pengolahan. Selain itu, melambatnya pertumbuhan bea masuk impor dan melemahnya pertumbuhan impor komoditas bahan baku seperti besi dan baja juga mengindikasikan perlambatan pertumbuhan impor pada triwulan II-2009. Dengan perkembangan tersebut, kinerja impor pada triwulan II-2009 diprakirakan masih negatif sekitar (-21,3)% - (-19,9)% (yoy). Bila dilihat dari distribusinya, pangsa terbesar impor masih disumbang oleh impor bahan bahan baku dan barang modal yang tumbuh melambat. Pada bulan April 2009, pangsa pertumbuhan nilai impor berdasarkan golongan komoditas HS 2 dijit masih bertopang pada komoditas impor kelompok bahan baku dan barang modal yang mendukung kegiatan produksi, seperti mesin/pesawat mekanik serta besi dan baja.

Operasi Keuangan Pemerintah

Selama April-Mei 2009, APBN mencatat surplus anggaran sebesar Rp,8 triliun (0,1% dari PDB), hampir sama dengan kondisi periode yang sama tahun sebelumnya yang mengalami surplus sebesar Rp3, triliun (0,1% dari PDB). Dibandingkan dengan periode yang

sama tahun lalu, operasi keuangan Pemerintah pada triwulan II-2009 diperkirakan akan mengalami penurunan baik di sisi penerimaan maupun belanja. Penurunan penerimaan pada periode Januari-Mei 2009 tersebut berdampak pada lebih rendahnya surplus anggaran dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008. Jika dibandingkan dengan targetnya selama tahun 2009, realisasi pendapatan negara dan hibah lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu akibat kinerja sektor perpajakan yang melambat. Sebaliknya, penyerapan belanja negara pada periode laporan mengalami peningkatan baik dari Belanja Pemerintah Pusat maupun Transfer ke Daerah.

Pencapaian penerimaan perpajakan di triwulan II-2009 mengalami penurunan sebagai imbas dari melambatnya perekonomian dan dikeluarkannya beberapa stimulus perpajakan di tahun 2009. Namun, penurunan tersebut sedikit terbantu

dengan adanya peningkatan PPh nonmigas pada bulan April terkait pembayaran PPh Badan. Penurunan terutama terjadi pada penerimaan PPN dan Pajak Ekspor seiring dengan menyusutnya perdagangan internasional dan dihapuskannya pajak ekspor CPO sejak November 2008. Di sisi nonpajak, penerimaan SDA Migas mengalami peningkatan signifikan di bulan Mei seiring dengan kembali meningkatnya harga minyak internasional1. Sektor 1 Di bulan Mei 2009, rata-rata harga minas mencapai US$59,7/barel, meningkat pesat dibandingkan rata-rata harga minas selama

periode Januari-April 2009 sebesar US$45,2/barel.

Grafik 2.10

Pertumbuhan Ekspor Menurut Sektor

����������������� ���������������� ��������������� �������������� ��� �� �� �� ��� ��� �� �� �� ��� ��� � �� ��� �� � �� ��� �� � ����� ���� ���� ���� ��� ��� Grafik 2.11 Indikator Penuntun Impor

���� ���� ���� ���� ���� ����� ����� ����� ����� ����� ����� �� �� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ��������� �������������� ������������������������������������������������������������������������������������� ������������������������������������������������������������������ ��������������������������������������������������������������������� ����� ������� ���������

(21)

Perkembangan Makroekonomi Terkini

pajak yang utama seperti PPh nonmigas terus mengalami perlambatan pertumbuhan yang selain akibat perlambatan perekonomian juga terkait dengan pemberian stimulus seperti pengurangan tarif Pajak Penghasilan dan kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak yang mulai berlaku tahun ini. Sementara itu, perlambatan perekonomian dunia terlihat jelas dampaknya pada penerimaan PPN yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar -6,5% (yoy) selama lima bulan pertama tahun 2009 terutama akibat menurunnya aktivitas impor.

Kinerja belanja negara mengalami peningkatan. Aktivitas belanja negara selama

triwulan II-2009 ditandai dengan pembayaran subsidi BBM dan listrik dalam jumlah yang cukup signifikan pada bulan Mei lalu. Pemerintah juga melaksanakan pembayaran rapel gaji PNS, TNI/Polri dan pensiunan pada bulan April dan pembayaran gaji ke-13 yang dijadwalkan pada Juni 2009. Secara keseluruhan tahun, kinerja belanja negara mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya dikarenakan realisasi belanja Pemerintah Pusat dan transfer ke daerah yang lebih tinggi. Lebih tinggi realisasi belanja Pemerintah Pusat bersumber dari peningkatan belanja barang dan belanja lain. Dari pembayaran transfer, porsi pengeluaran Pemerintah dalam rangka subsidi dibandingkan dengan targetnya mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode Januari-Mei 2008. Namun secara nominal, biaya subsidi lebih rendah seiring dengan turunnya harga minyak internasional. Dengan kondisi tersebut, realisasi Belanja Pemerintah Pusat selama tahun 2009 mencapai 25,3% dari APBNP, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 21,8% dari APBNP. Transfer ke Daerah juga meningkat terlepas dari menurunnya Dana Bagi Hasil (DBH) seiring dengan penurunan harga minyak di pasar internasional. Meningkatnya Belanja Daerah dikarenakan faktor teknis dimana terdapat rapel pembayaran Dana Alokasi Umum (DAU) untuk Januari dan Februari yang dilakukan di bulan Januari. Dengan perkembangan tersebut, realisasi Transfer ke Daerah telah mencapai 37,5% dari APBNP, lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 33,0% dari APBNP.

Penawaran Agregat

Sektor-sektor perekonomian pada triwulan II-2009 diprakirakan tumbuh melambat sejalan dengan perkembangan sisi permintaan (Tabel 2.2). Hal tersebut terkait

dengan masih tingginya ketidakpastian perekonomian global sehingga membuat pelaku usaha melakukan penundaan investasi dan ekspansi usaha. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil survei pelaku bisnis yang menunjukkan penurunan pada triwulan II-2009. Survei Tendensi Bisnis – BPS menunjukkan bawa ekspektasi pelaku bisnis hingga triwulan II-2009 mengalami penurunan. Seluruh variabel pembentuk indeks tendensi bisnis BPS seperti penggunaan kapasitas produksi, pendapatan usaha, serta jumlah jam kerja menunjukkan penurunan. Indikasi melambatnya pertumbuhan sisi penawaran juga dikonfirmasi oleh jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang masih mengalami peningkatan. Namun demikian, penyelenggaraan Pemilu Presiden diperkirakan dapat berdampak positif terhadap kinerja beberapa sektor pada triwulan II-2009. Jika melihat pola historis tahun 2004, Pemilu Presiden dapat mendorong pertumbuhan beberapa sektor terutama subsektor jasa perusahaan. Hal

(22)

tersebut terkait dengan belanja iklan pada saat Pemilu Presiden yang cenderung meningkat dibandingkan pada Pemilu Legislatif lalu. Sementara itu, sektor lainnya seperti sektor komunikasi dan industri terutama subsektor makanan, tekstil dan barang cetakan masih akan tumbuh namun lebih rendah jika dibandingkan dengan Pemilu Legislatif yang lalu.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan pada triwulan II-2009 diprakirakan masih berada dalam tren yang melambat, yaitu tumbuh pada kisaran 1,3% - 1,% (yoy).

Perlambatan tersebut terutama terkait dengan belum membaiknya permintaan terutama permintaan ekspor. Selain berdampak pada pemanfaatan kapasitas yang tersedia, lemahnya permintaan juga mendorong pengusaha untuk menunda kegiatan investasi yang tercermin dari rendahnya tingkat penyerapan dana stimulus fiskal berupa Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDtP). Meskipun demikian, pelaksanaan Pemilu Presiden diperkirakan dapat sedikit menahan laju perlambatan sektor industri terutama untuk subsektor industri tekstil, subsektor makanan, minuman, dan tembakau, serta subsektor kertas dan barang cetakan. Jika dilihat dari strukturnya, distribusi terbesar sektor industri pengolahan masih berasal dari subsektor alat angkutan, mesin dan peralatannya, subsektor makanan, minuman dan tembakau serta subsektor kimia dan barang dari karet. Sementara itu, subsektor makanan, minuman dan tembakau, subsektor kimia dan barang dari karet, serta subsektor kertas dan barang cetakan merupakan kontributor utama sektor industri pengolahan.

Melambatnya kinerja sektor industri pengolahan tercermin dari tren penurunan indeks dan kapasitas produksi yang dihasilkan oleh Survei Produksi – BI. Jika dilihat

lebih rinci, penurunan yang cukup signifikan terlihat pada subsektor alat angkutan, mesin dan peralatannya, serta subsektor logam dasar. Namun demikian, beberapa subsektor yang terkait dengan Pemilu seperti subsektor makanan dan minuman, subsektor tekstil, serta subsektor kertas dan barang cetakan masih menunjukkan peningkatan. Indikator melambatnya sektor industri juga dikonfirmasi oleh perkembangan beberapa indikator dini lainnya. Sampai dengan pertengahan triwulan II-2009, produksi mobil dan sepeda motor masih tumbuh dalam tren yang melambat. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh konsumsi listrik sektor industri yang masih berada dalam tren yang melambat sampai dengan awal triwulan II-2009. Sementara itu, subsektor semen mulai menunjukkan sedikit perbaikan yang

% Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

II III IV I II III IV* I II*

Sektor

Tabel 2.2

Pertumbuhan Ekonomi - Sisi Penawaran

200

* Angka Proyeksi Bank Indonesia

Pertanian 5,6 7,7 2,0 3,4 6,3 4,8 3,4 4,7 4,8 4,8 4,0 - 4,3

Pertambangan dan Penggalian 3,2 1,0 -2,0 2,0 -1,7 -0,5 2,1 2,1 0,5 2,2 1,7 - 1,9

Industri Pengolahan 5,1 4,5 3,8 4,7 4,3 4,2 4,3 1,8 3,7 1,6 1,3 - 1,6

Listrik, Gas, dan Air Bersih 10,2 11,3 11,6 10,3 12,3 11,8 10,4 9,3 10,9 11,4 11,0 - 11,4

Bangunan 7,7 8,3 9,9 8,6 8,0 8,1 7,6 5,7 7,3 6,3 5,7 - 6,1

Restoran, Hotel, dan Perdagangan 7,8 8,0 8,6 8,4 6,9 8,1 8,4 5,6 7,2 0,6 0,3 - 0,6

Pengangkutan dan Komunikasi 13,7 14,8 14,5 14,0 18,3 17,3 15,5 15,8 16,7 16,7 14,7 - 15,9

Keuangan, Persewaan, dan Jasa 7,6 7,6 8,6 8,0 8,3 8,7 8,6 7,4 8,2 6,3 4,6 - 4,6

Jasa-Jasa 7,0 5,2 7,2 6,6 5,9 6,7 7,2 6,0 6,4 6,8 5,8 - 6,1

PDB , , ,8 ,3 ,2 ,4 ,4 ,2 ,1 4,4 3, - 4,0

(23)

Perkembangan Makroekonomi Terkini

diindikasikan oleh meningkatnya konsumsi semen pada pertengahan triwulan II-2009. Namun demikian, pertumbuhan konsumsi semen ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor industri sampai dengan awal triwulan II-2009 menunjukkan perlambatan dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan tahun 2008.

Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) diprakirakan akan tumbuh melambat pada triwulan II-2009 pada kisaran 0,3% - 0,% (yoy). Perlambatan tersebut terutama

disebabkan oleh menurunnya permintaan karena melemahnya daya beli masyarakat akibat turunnya penghasilan dan masih meningkatnya jumlah PHK, serta menurunnya kinerja impor. Namun demikian, adanya penyelenggaraan Pemilu Presiden diperkirakan dapat menahan laju perlambatan yang lebih dalam terutama untuk beberapa kelompok komoditas seperti makanan dan tembakau, serta pakaian dan perlengkapannya. Indikator dini sektor PHR seperti Indeks Penjualan Eceran (SPE-BI) mulai menunjukkan adanya perlambatan pada pertengahan triwulan II-2009. Jika dilihat lebih rinci, hampir seluruh kelompok komoditas menunjukkan tren perlambatan terutama untuk barang tahan lama. Hal yang sama juga terlihat pada indikator kinerja subsektor hotel yaitu rata-rata tingkat hunian hotel di Jakarta dan Bali yang juga mengindikasikan perlambatan sampai dengan awal triwulan II-2009. Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan yang telah disalurkan pada sektor perdagangan sampai dengan awal triwulan II-2009 juga melambat dan tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan tahun 2008.

Pada triwulan II-2009, sektor pertanian diprakirakan akan tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Melambatnya pertumbuhan sektor

pertanian dikarenakan telah berlalunya musim panen raya. Berdasarkan angka ramalan I BPS, produksi padi dan luas panen akan menurun pada sub-round kedua (Mei –Agustus) seiring dengan berlalunya musim panen. Sementara itu, jika dilihat dari strukturnya, pangsa terbesar sektor pertanian berasal dari subsektor tanaman bahan makanan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh kinerja subsektor perkebunan, kecuali perkebunan kelapa sawit. Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit perbankan ke sektor pertanian sampai dengan pertengahan triwulan II-2009 tumbuh relatif stabil namun masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan tahun 2008.

Sektor pertambangan dan penggalian diprakirakan akan tumbuh melambat pada kisaran 1,% - 1,9% (yoy) pada triwulan II-2009. Melambatnya pertumbuhan tersebut

terutama disebabkan oleh menurunnya permintaan ekspor komoditas pertambangan seperti ditunjukkan oleh perkembangan ekspor bijih, kerak dan abu logam, nikel, serta aluminium. Namun demikian, mulai membaiknya harga beberapa komoditas ekspor diperkirakan dapat sedikit menahan laju perlambatan sektor pertambangan. Sementara itu, sampai dengan awal triwulan II-2009 kredit yang disalurkan ke sektor pertambangan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan II-2009 diprakirakan akan tumbuh stabil di kisaran 14,% - 1,9% (yoy), yang diindikasikan oleh tren peningkatan jumlah pelanggan seluler. Stabilnya pertumbuhan tersebut tercermin dari

(24)

kinerja perusahaan sektor komunikasi seperti Telkom yang masih menunjukkan peningkatan. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya lalu-lintas percakapan dan pemakaian pulsa menjelang Pemilu Legislatif, dimana diperkirakan akan terjadi juga pada Pemilu Presiden mendatang. Sementara itu, kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh relatif stabil sampai dengan awal triwulan II-2009, namun tetap masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan tahun 2008.

Sektor bangunan diprakirakan masih tumbuh stabil pada triwulan II-2009. Hal

tersebut diindikasikan oleh beberapa indikator seperti perkembangan pembangunan properti komersial pada Survei Properti Komersial – BI yang tumbuh relatif stabil sampai dengan triwulan II-2009. Hal yang sama juga dicerminkan oleh perkembangan konsumsi semen yang sampai dengan pertengahan triwulan II-2009 mulai menunjukkan indikasi peningkatan, walaupun masih berada di bawah tingkat pertumbuhan tahun 2008. Di sisi pembiayaan, kredit yang disalurkan perbankan ke sektor bangunan sampai dengan awal triwulan II-2009 masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan kredit tahun 2008. Sementara itu, mulai turunnya tingkat suku bunga perbankan terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR) diperkirakan dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan sektor properti.

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (NPI)

Evaluasi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II-2009 menunjukkan adanya prospek perbaikan kinerja eksternal Indonesia, khususnya di sisi transaksi berjalan.

Ditopang dengan membaiknya prospek ekonomi global, permintaan akan komoditas ekspor Indonesia semakin meningkat. Tertahannya penurunan harga komoditas juga positif dalam menopang perbaikan neraca perdagangan Indonesia. Kinerja impor diprakirakan terkoreksi lebih tajam dibandingkan dengan ekspor sehingga mampu memperbaiki kinerja transaksi berjalan (TB) pada triwulan II-2009. Di sisi transaksi modal dan finansial (TMF), relatif terjaganya stabilitas pasar finansial global serta minat asing untuk berinvestasi, cukup positif dalam menopang arus masuk dana asing dalam bentuk investasi portofolio. Aktivitas investasi asing langsung juga tampak semakin positif sejalan dengan meningkatnya harga komoditas serta prospek ekonomi domestik yang tetap positif. Peran sektor publik dalam menarik dana asing tetap dominan diantaranya melalui instrumen SBI, SUN, serta penerbitan SUKUK valas pada triwulan II-2009. Sementara di sektor swasta, tekanan transaksi Utang Luar Negeri (ULN) sedikit meningkat akibat pembayaran utang korporasi yang lebih besar. Berdasarkan perkembangan tersebut, NPI triwulan II-2009 diprakirakan mencatat surplus.

Transaksi Berjalan

Evaluasi terhadap neraca transaksi berjalan menunjukkan adanya perbaikan kinerja eksternal Indonesia yang terlihat dari meningkatnya surplus neraca perdagangan sejalan dengan membaiknya ekspor. Positifnya kinerja ekspor tersebut didukung oleh

meningkatnya permintaan komoditas berbasis SDA oleh beberapa negara, terutama China dan negara Asia non-Jepang lainnya. Hal tersebut diprakirakan mampu mengkompensasi sebagian perlambatan permintaan global yang terutama bersumber dari AS dan Eropa. Tren penurunan harga komoditas yang terhenti juga cukup kondusif dalam membantu

(25)

Perkembangan Makroekonomi Terkini

memperbaiki kinerja ekspor. Secara keseluruhan, surplus neraca perdagangan mampu menutupi defisit pada transaksi jasa, pendapatan, dan transfer berjalan.

Kinerja ekspor mendapat dukungan positif dari perkembangan harga komoditas selama periode Januari-Juni 2009. Penurunan harga komoditas nonmigas yang berlangsung sejak triwulan III-2008 tertahan di triwulan I-2009 dan terus menunjukkan peningkatan hingga triwulan II-2009. Dengan perkembangan harga komoditas tersebut serta dikombinasikan dengan potensi perbaikan permintaan oleh mitra dagang, realisasi ekspor nonmigas di triwulan II-2009 diprakirakan akan lebih tinggi dari perkiraan semula. Di sisi impor, perekonomian domestik yang belum sepenuhnya pulih memberi kecenderungan realisasi impor nonmigas untuk bias ke bawah. Di sektor migas, rendahnya konsumsi minyak pada triwulan I-2009 diprakirakan akan berlanjut pada triwulan II-2009. Hingga Maret 2009, impor minyak berangsur-angsur menurun dikarenakan menurunnya aktivitas ekonomi domestik. Penurunan impor juga didukung oleh penurunan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) sejalan dengan program konversi dari minyak tanah ke gas dan diversifikasi sumber energi PLN. Defisit neraca jasa, pendapatan, dan transfer berjalan pada NPI triwulan II-2009 secara keseluruhan diprakirakan lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya. Lebih tingginya defisit disebabkan oleh neraca jasa, terutama transportasi, yang mencatat defisit lebih tinggi terkait kenaikan harga minyak internasional akhir-akhir ini.

Neraca Modal dan Finansial

Perkembangan transaksi modal dan finansial pada triwulan II-2009 diwarnai dengan peningkatan credit rating outlook oleh Moody’s yang semula stabil menjadi positif.

Moody’s menggarisbawahi beberapa faktor, diantaranya prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, kerangka kebijakan yang cukup efektif meredam dampak gejolak dan mempertahankan resiliensi perekonomian, stabilitas politik dalam negeri, credit fundamental yang semakin membaik dibandingkan dengan peers --tercermin dari penurunan angka ULN--, neraca perdagangan yang positif, sustainabilitas pembiayaan eksternal, serta likuiditas perbankan yang cukup memadai dan dukungan permodalan yang baik. Transaksi portofolio asing triwulan II-2009 diprakirakan tetap mencatat surplus yang ditopang oleh terjaganya kondisi makroekonomi domestik. Selama triwulan II-2009, minat investor asing terhadap aset komersial domestik (SBI, SUN, dan Saham) tetap positif. Meski demikian, transaksi portofolio diprakirakan akan mencatat realisasi yang lebih rendah dari prakiraan semula disebabkan oleh penyesuaian kepemilikan asing dari pasar keuangan domestik yang diantaranya didorong oleh aksi ambil untung investor. Kondisi yang berlangsung sejak pertengahan Juni 2009 ini diprakirakan bersifat sementara mengingat adjustment perekonomian global terus berlangsung ke arah yang lebih positif.

Cadangan Devisa

Dengan perkembangan pada transaksi berjalan serta neraca modal dan finansial tersebut di atas, posisi cadangan devisa sampai dengan akhir triwulan II-2009 mencapai ,8

miliar dolar AS atau setara dengan 5,6 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri

(26)

3. Perkembangan dan Kebijakan

Moneter Triwulan II-2009

Perkembangan kondisi eksternal sepanjang triwulan II-2009 mulai menunjukkan perbaikan. Proses pemulihan ekonomi global yang terus berlanjut memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar untuk kembali berinvestasi di emerging markets. Perkembangan tersebut juga menumbuhkan optimisme akan lebih baiknya perekonomian global ke depan. Nilai tukar Rupiah bergerak menguat sepanjang

triwulan II-2009. Selain karena faktor eksternal yang kondusif, penguatan rupiah juga

didukung oleh faktor domestik yang cukup solid. Kinerja NPI yang mencatat surplus, imbal hasil rupiah yang masih menarik, serta kondisi sosial politik paska pemilu yang tetap kondusif turut menopang penguatan rupiah. Rata-rata nilai tukar Rupiah untuk triwulan II-2009 mencapai Rp10.527 per dolar AS, menguat 9,99% dibandingkan triwulan I-2009. Di sisi harga, tekanan inflasi pada triwulan II-2009 terus menurun dengan akselerasi yang semakin cepat. Inflasi IHK pada triwulan II-2009 tercatat sebesar 3,65% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,92% (yoy). Penurunan inflasi terutama disebabkan oleh faktor non-fundamental, meski tekanan dari sisi fundamental juga mulai menunjukkan penurunan. Inflasi administered prices yang lebih rendah pada triwulan II-2009 disebabkan tidak adanya kebijakan strategis pemerintah di bidang harga, sementara inflasi volatile food yang menurun terutama dipengaruhi oleh musim panen raya serta pasokan bahan pangan domestik yang terjaga. Tekanan inflasi dari sisi fundamental juga diperkirakan turun. Meredanya tekanan eksternal sejalan dengan penguatan rupiah di tengah permintaan domestik yang masih lemah merupakan faktor utama yang mendorong penurunan tekanan inflasi.

Sementara itu, berbagai indikator moneter menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Pertumbuhan DPK yang melambat terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang menurun, sementara ekspansi kredit yang menurun dipengaruhi oleh persepsi risiko terhadap kondisi ekonomi ke depan yang meningkat. Respon suku bunga perbankan terhadap penurunan BI Rate terus membaik, tercermin pada perkembangan suku bunga berbagai tenor yang terus turun. Di pasar saham, optimisme terhadap proses pemulihan ekonomi global serta kondisi fundamental mikro perusahaan yang masih kuat mendorong investor untuk menanamkan dananya ke pasar modal. Pada triwulan II-2009, IHSG terus meningkat, meski sempat mengalami koreksi pada akhir periode laporan. Di pasar SBN, yield SUN untuk seluruh tenor tercatat menurun sejalan dengan penurunan BI Rate yang diiringi dengan persepsi risiko yang membaik. Hal tersebut selanjutnya mendorong kenaikan penempatan investor asing di pasar SUN. Sementara itu, pembiayaan sektor riil pada triwulan II-2009 terutama bersumber dari sektor non perbankan, seperti tercermin dari right issue beberapa saham dan penerbitan obligasi korporasi baru di tengah penyaluran kredit oleh perbankan yang turun tajam.

Gambar

Grafik Pendapatan dan Pengeluaran  Rumah Tangga AS
Grafik Capacity Utilization dan Industrial Production AS
Grafik	3.13 Indeks	Produksi	Sektor	Industri	Pengolahan	(SP)����������������������������������������������������������� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � ��������������������� Grafik	3.
Grafik	3.19 Volume	Perdagangan	&	Yield	SBN	(seluruh	tenor)������� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � ������� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � ��������������������� � �����������������������������������������������������
+7

Referensi

Dokumen terkait

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

Berdasarkan hasil wawancara kepada pihak terkait dan observasi penulis, dapat disimpulkan bahwa iklan Djarum 76 versi “Jin” ini telah melanggar Etika Pariwara

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas infrastruktur jalan terhadap sistem pemasaran hasil-hasil pertanian di kecamatan dolok silau

2. Kongres Pemuda Kedua adalah kongres pergerakan pemuda Indonesia yang melahirkan keputusan yang memuat ikrar untuk mewujudkan cita-cita berdirinya negara Indonesia, yang

Karya akhir dengan judul “Evaluasi Rancangan dan Implementasi Balanced Scorecard Tema Belanja Negara pada Departemen Keuangan” ini dapat diselesaikan tidak lepas dari bantuan

Selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan kepada guru bimbingan dan konseling tentang bagaimana metode yang dilakukan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling terkait

Jika nilai rata-rata Yuni untuk keseluruhan tes yang diikutinya adalah 87, berapa kali Yuni telah mengikuti tes pada semester tersebut.. Berapa nilai rata-rata dari 32 siswa

Lampiran 7: KUESIONER PENELITIAN Persepsi penerimaan teknologi SKPD terhadap penggunaan SIMDA Berikut ini adalah kuesioner yang berkaitan tentang persepsi penerimaan teknologi