SELEKSI KLON-KLON UBIJALAR BERKADAR BETA KAROTIN
DAN BAHAN KERING TINGGI
M. Jusuf, St.A. Rahayuningsih, dan T.S. Wahyuni
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Jalan Raya Kendalpayak KM 8 KP 66, Malang Telp. 0341-801468
ABSTRAK
Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Tumpang pada MK II, 2011. Penelitian disusun menurut augmented design dengan tiga ulangan. Bahan yang digunakan adalah 210 klon terpilih yang mengandung beta karotin. Setiap 70 klon uji ditanam varietas pembanding Beta 2, Beta 1, dan Sari. Masing-masing klon ditanam satu gulud dengan panjang gulud 10 m, jarak tanam antar gulud 100 cm dan dalam gulud 25 cm. Ditinjau dari segi hasil umbi dan komponen hasilnya terlihat keragaman yang cukup tinggi. Jumlah umbi besar, umbi kecil dan umbi total per gulud masing-masing berkisar antara 0–80 umbi, 0−140 umbi, dan 0−157 umbi, sedangkan berat umbi besar, umbi kecil dan umbi total per gulud masing-masing berkisar antara 0−37,4 kg/10m2 ; 0−10,4 kg/10m2 dan 1,0−40,9 kg/10m2 dengan kisaran kadar bahan kering umbi 20,0−34,3%. Berdasarkan jumlah umbi total per gulud dengan batas seleksi 30% (76 umbi/gulud) terseleksi 20 klon dengan jumlah umbi total terbanyak 157 umbi/10m2, terdapat pada klon nomer 1385 (MSU 10038-08). Berdasarkan berat umbi total per gulud dengan batas seleksi 30% (23,14 kg/tanaman) terseleksi 22 klon dengan berat umbi total tertinggi 40,9 kg/gulud, dicapai oleh klon 1572 (MSU 10043-25). Batas seleksi 30% bahan kering umbi adalah 27,9 g, dengan batas seleksi 30% tersebut terpilih 21 klon, bahan kering tertinggi (36,0 g) dicapai oleh klon 2023 (MSU 10066-36). Ditinjau dari kadar beta karotin, penilaian secara visual dari daging umbi menunjukkan bahwa dari 210 klon yang diuji terdapat 50 klon yang memiliki kadar kadar beta karotin agak tinggi, 9 klon tinggi dan 2 klon memiliki kadar beta karotin sangat tinggi. Berdasarkan berat umbi total, karakter umbi, kadar beta karotin dan tingkat serangan hama dan penyakit utama terseleksi 25 klon. Klon terpilih yang memiliki produksi tinggi, Berdasarkan berat umbi total/tanaman, bahan kering umbi dan kadar beta karotin tinggi terpilih 4 klon terbaik yaitu MSU 10034-35, MSU 10039-06, MSU 10049-20, MSU 10063-11 untuk diuji lebih lanjut pada tahapan seleksi berikutnya.
Kata kunci : Ubi jalar, produksi dan beta karotin. ABSTRACT
Selection of sweetpotato clones with high beta carotene content. The experiment
was carried out in lowland at Tumpang Sub-district during dry season 2011. The experiment was arranged in Augmented design with three replications. Two hundred clones with beta carotene content were used in this experiment, varieties Beta-1, Beta-2 and Sari were used as check. Each clone was planted in single row plot, 10 m length with 1 m ridge distance and 25 cm distance between plants within ridge. There was high yield and yield components variation. The number of big, small and total tubers per ridge varied from 0-80, 0-140, and 0-157 tubers, respectively. The weight of big, small and total tubers varied from 0-37.4 kg 10 m-2 , 0-10.4 kg 10 m-2, and 1.0-40.9 kg 10 m-2 and dry matter content ranged from 20.0-34.3%. Based on the number of tubers/ridge with selection index of 30% (76 tubers/ridge) it was selected 20 clones with the highest total number of tubers was 157 tubers 10 m-2 achieved by clone MSU 10038-08. Based on total tuber weight per ridge with selection intensity of 30% (0.923 kg/plant) it was selected 22 clones, with the highest weight of 40.9 kg/ridge was achieved by clone MSU 10043-25. With selection intensity of 30% on tuber dry matter content (27.9%) 21 clones were
selected, the highest dry matter content (36%) was achieved by clone MSU 10066-36. Based on visual observation on tuber flesh color for beta carotene content observation, 50 clones had moderately high, 9 clones with high and 2 clones with very high beta carotene content. Based on total tubers weight, tuber character and beta carotene content, it was selected 25 clones which produced high yield but if the selection criteria for weight of total tubers, tuber dry matter and beta carotene content it was selected 4 clones namely, MSU 10034-35, MSU 10039-06, MSU 10049-20 and MSU 10063-11. These will evaluated further on next breeding stages. Key words: Sweet potato, yield and beta carotene.
PENDAHULUAN
Ubijalar sebagai bahan pangan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain relatif kaya karbohidrat, vitamin A dan C, antosianin (antioksidan) dan mineral. Oleh karena itu, ubijalar dapat digunakan sebagai salah satu bahan pangan untuk mendukung tercapainya program diversifikasi pangan, disamping sebagai bahan baku industri (Yoshinaga 1997). Perakitan varietas unggul ubijalar tidak hanya untuk memperoleh varietas yang memiliki potensi hasil tinggi, tetapi juga diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan konsumen dan peningkatan kualitasnya. Terbatasnya jumlah varietas ubijalar yang tersedia untuk tujuan pangan dan industri terbatas pula pilihan bagi pengguna. Varietas ubijalar yang umum dibudidayakan adalah yang kualitas umbinya cocok digunakan untuk konsumsi langsung (pangan) dan sedikit sekali yang berorientasi untuk industri.
Akhir-akhir ini, varietas ubijalar yang dibutuhkan untuk konsumsi adalah yang memiliki daging umbi berwarna kuning tua seperti Beniazuma dan Kidal yang berpotensi untuk ekspor. Wolfe (1992) melaporkan, beta karotin memiliki aktivitas vitamin A tertinggi (100%) dibanding senyawa karotenoid lainnya, seperti a-karotin dan y-karotin. Kadar beta karotin pada ubijalar kuning bervariasi antara 0 sampai > 4.000 μg/100g, sedang pada umbi yang berwarna oranye 3.000–20.000 μg/100g. Kandungan beta karotin berkorelasi positif (r=0,99) dengan intensitas warna kuning/oranye umbi (Purcel and Walter 1968 dalam Wolfe 1992, Simonne et al. 1993). Selain memiliki aktivitas vitamin A, beta karotin dilaporkan juga dapat memberi perlindungan/pencegahan terhadap kanker, penuaan, penurunan kekebalan, penyakit jantung, stroke, katarak, sengatan matahari, dan gangguan otot (Mayne 1966). Hal ini berkaitan dengan kemampuannya menarik radikal bebas yang dipercaya sebagai penyebab terjadinya tumor dan kanker (Hongmin et al. 1996).
Untuk memenuhi permintaan pasar dan menjaga ketersediaan pangan, maka penyediaan ubijalar dalam jumlah cukup merupakan suatu keharusan. Kebutuhan akan ubijalar yang memiliki nilai komersial dan gizi tinggi cenderung meningkat, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun industri. Ubijalar berwarna oranye memiliki kan-dungan beta karotin tinggi diperlukan sebagai sumber pro-vitamin A. Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengembangan ubijalar sumber pro-vitamin A adalah terbatasnya pilihan varietas kaya beta karotin bagi petani (Jusuf dkk. 2001).
Walaupun sudah dihasilkan varietas Beta-1 dan Beta-2 yang memiliki beta karotin tinggi, namun kadar bahan kering umbi masih rendah, sedangkan yang dibutuhkan saat ini adalah varietas dengan kadar beta karoten dan bahan kering tinggi (Jusuf dkk. 2009). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan klon-klon ubijalar berproduksi tinggi kaya beta karotin dan kadar bahan kering umbi yang juga tinggi.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Tumpang pada MK II 2011 disusun menurut rancangan augmented dengan tiga ulangan. Bahan yang digunakan adalah 210 klon terpilih mengandung beta karotin. Untuk setiap 70 klon uji ditanam varietas pembanding Beta 2, Beta 1, dan Sari. Klon-klon yang digunakan berasal dari hasil seleksi gulud tunggal pada MK I, 2011. Setiap klon ditanam satu gulud dengan panjang gulud 10 m, jarak tanam antargulud 100 cm dan dalam gulud 25 cm.
Persiapan percobaan diawali dengan pembersihan lahan percobaan dari gulma, menggunakan herbisida. Selanjutnya tanah diolah sampai halus dan dibuat guludan-guludan sepanjang 10 m2. Sebelum ditanam, stek-stek ubijalar direndam didalam larutan yang mengandung fungisida dan insektisida selama 1 menit. Kemudian stek pucuk dengan ukuran 25−30 cm ditanam dengan posisi agak miring dengan 2−3 ruas sulur asuk terbenam dalam tanah. Tanaman dipupuk dengan pupuk majemuk Phonska 300 kg/ha dan pupuk kandang kotoran ayam 2 t/ha. Pupuk diberikan dua kali, pertama pada saat tanaman berumur satu minggu dengan takaran sepertiga bagian pupuk dan sisanya diberikan pada umur 1,5 bulan setelah tanam. Pemupukan dilakukan dengan cara garitan. Penyiangan dilakukan pada umur 4, 7 dan 10 minggu setelah tanam.
Penurunan gulud dilakukan pada saat tanaman berumur 1,5 bulan bersamaan dengan penyiangan pertama dan dilanjutkan dengan pemberian pupuk susulan. Pembalikan batang dilakukan pada saat tanaman berumur 6, 9, dan 12 minggu setelah tanam dan untuk mencegah kekeringan dilakukan pengairan pada waktu tanam, dan setelah itu diberikan sebulan sekali sampai panen. Pemberian Furadan diulang pada fase pembesaran umbi (2 bulan). Pengendalian hama dan penyakit lainnya dilakukan secara intensif dan panen pada umur 4−4,5 bulan.
Pengamatan dilakukan terhadap jumlah umbi besar dan umbi kecil, berat umbi besar dan umbi kecil, bentuk umbi, kualitas umbi (secara visual), keseragaman bentuk dan ukuran umbi, rengkah, bahan kering umbi, warna kulit dan daging umbi, serangan hama dan penyakit utama dengan skor 1−5. Pengamatan bentuk umbi, keseragaman bentuk dan ukuran umbi serta cacat umbi berpedoman kepada Rasco dan Amante (1992). Kriteria bentuk umbi masing-masing adalah dengan skor 1=berlekuk dalam, 2= berlekuk agak dalam, 3= berlekuk dangkal, 4 = sedikit berlekuk agak dangkal melintang atau membujur dan 5 = tidak ada lekukan dan kulit umbi mulus. Skor keseragaman bentuk umbi adalah 1= >50% dari populasi umbi yang bentuknya tidak seragam, 2= 26-50% dari populasi umbi yang bentuknya tidak sama, 3= 11−25% dari populasi umbi yang bentuknya tidak sama, 4= 1-10% dari populasi umbi yang bentuknya tidak sama, 5= bentuk umbi seragam 100%. Skor keseragaman ukuran umbi adalah 1= >50% dari populasi umbi yang ukurannya tidak seragam, 2= 26-50% dari populasi umbi yang ukuranya umbi tidak sama, 3= 11−25% dari populasi umbi yang ukurannya tidak sama, 4= 1−10% dari populasi umbi yang ukurannya tidak sama, 5= ukuran umbi seragam 100%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ditinjau dari segi hasil umbi dan komponen hasilnya terlihat keragaman yang cukup tinggi. Jumlah umbi besar per gulud (10 m2) berkisar antara 0–80 umbi dengan rata-rata 27,13 umbi. Frequensi terbesar untuk jumlah umbi besar berada pada interval 18−35 umbi per gulud yaitu 96 klon (45,7%). Berdasarkan intensitas seleksi 30%, (jumlah umbi
rata pembanding (48,56 umbi) terdapat 15 klon yang mempunyai jumlah umbi besar di atas rata-rata pemanding (Tabel 2).
Tabel 1. Beberapa parameter dari seleski gulud tunggal klon-klon ubijalar kaya beta karotin yang di seleksi di Malang, MK II 2011.
Parameter Minimal Maximal Ragam
(σ2) Standar deviasi (σ) Seleksi 30 % Jumlah* klon terseleksi
Jumlah umbi besar 0 83 220,75 14,86 44,87 15
Jumlah umbi kecil 0 140 298,80 17,29 38,98 7
Jumlah umbi/gulud 0 157 642,73 25,35 75,97 14
Berat umbi besar (Kg) 0 37,4 51,43 7,17 20,68 14
Berat umbi kecil (Kg) 0 10,4 3,38 1,84 4,29 20
Berat umbi/gulud (Kg) 1,0 40,9 55,27 7,43 23,14 15
Berat kering umbi (%) 20,0 34,3 0,11 0,33 2,79 16
Skor produksi 1 5 0,76 0,87 4,30 8
Skor kualitas umbi 1 5 0,87 0,93 4,63 25
Skor bentuk umbi 2 5 0,31 0,55 4,78 37
Skor keseragaman bentuk umbi 3 5 0,22 0,47 4,85 56
Skor keseragaman ukuran umbi 3 5 0,10 0,31 4,46 14
Skor rengkah umbi 2 5 0,51 0,71 4,93 50
Skor penerimaan umum 1 5 0,74 0,86 4,18 5
Skor serangan hama pemakan daun 4 5 0,15 0,39 - -
Skor serangan hama penggulung daun 4 5 0,24 0,49 - -
Skor serangan hama boleng 4 5 0,25 0,50 - -
Skor serangan hama tungau puru 1 5 1,08 1,04 - -
Skor infeksi penyakit kudis (scab) 1 5 0,63 0,80 - -
Skor infeksi penyakit cercospora 3 5 0,30 0,54 - -
Skor infeksi penyakit bercak ungu 3 5 0,20 0,45 - -
Keterangan : * terpilih dari intensitas seleksi 30 %
Jumlah umbi kecil per gulud (10 m2) berkisar antara 0−140 umbi dengan rata-rata 18,63 umbi. Frequensi terbesar untuk jumlah umbi kecil berada pada interval 0−126 umbi per gulud yaitu 126 klon (60,7%). Berdasarkan intensitas seleksi 30%, dengan jumlah umbi kacil per guludnya lebih dari 38,98 umbi, terseleksi 7 klon namun berdasarkan rata-rata pembanding (17,44 umbi) terdapat 84 klon yang mempunyai jumlah umbi kecil di atas rata-rata pemanding.
Jumlah umbi total (umbi besar dan umbi kecil) per gulud (10 m2) berkisar antara 0−157 umbi dengan rata-rata 45,75 umbi. Frequensi terbesar untuk jumlah total umbi berada pada interval 34−52 umbi per guludnya yaitu 72 klon (34,30%). Dengan intensitas seleksi 30% (jumlah umbi per gulud lebih dari 75,97 umbi), terseleksi 14 klon, namun berdasarkan rata-rata pembanding (66,00 umbi) terdapat 36 klon yang mempunyai jumlah umbi total di atas rata-rata pemanding (Tabel 2).
Berat umbi besar per gulud (10 m2) berkisar antara 0−37,4 kg/gulud, dengan rata-rata 12,14 kg/gulud. Frequensi terbesar untuk berat umbi besar berada pada interval 10−15 kg/gulud, yaitu 96 klon (45,7%). Berdasarkan intensitas seleksi 30%, (berat umbi >20,68 kg/gulud), terseleksi 14 klon, namun berdasarkan rata-rata pembanding (23,31 kg/gulud)
terdapat 13 klon yang mempunyai jumlah umbi besar di atas rata-rata pembanding (Tabel 2).
Tabel 2. Beberapa parameter dari seleksi gulud tunggal klon-klon ubijalar kaya beta karotin, Malang, MK II 2011.
Rata-rata Parameter
Populasi Beta-1 Beta-2 Sari Pembanding
Jumlah umbi besar 27,63 52,00 42,67 51,00 48,56
Jumlah umbi kecil 18,93 13,00 8,67 30,67 17,44
Jumlah umbi/gulud 46,56 65,00 51,33 81,67 66,00
Berat umbi besar (kg/10 m2) 12,36 22,07 26,10 21,77 23,31
Berat umbi kecil (kg/10m2) 2,15 1,93 0,33 3,43 1,90
Berat umbi/gulud (kg/10 m2) 14,51 24,00 26,43 25,20 25,21
Berat kering umbi (%) 24,10 21,60 23,30 21,70 22,20
Skor produksi 3,29 4,33 4,00 4,33 4,22
Skor kualitas umbi 3,55 3,00 4,00 4,00 3,67
Skor bentuk umbi 4,14 4,67 4,33 3,67 4,22
Skor keseragaman bentuk umbi 4,31 5,00 4,00 4,33 4,44
Skor keseragaman ukuran umbi 4,10 5,00 4,00 4,00 4,33
Skor rengkah umbi 4,11 4,33 4,00 3,33 3,89
Skor penerimaan umum 3,18 4,00 4,00 3,33 3,78
Skor serangan hama pemakan daun 4,19 4,00 4,00 4,33 4,11
Skor serangan hama penggulung daun 4,62 4,00 4,67 5,00 4,56
Skor serangan hama boleng 4,47 5,00 4,33 4,67 4,67
Skor serangan hama tungau puru 3,90 3,33 4,00 4,67 4,00
Skor infeksi penyakit kudis (scab) 4,61 4,67 4,67 5,00 4,78
Skor infeksi penyakit cercospora 4,52 4,33 5,00 4,00 4,44
Skor infeksi penyakit bercak ungu 4,75 4,67 5,00 5,00 4,89
Berat umbi kecil per gulud (10 m2) berkisar antara 0−10,4 kg/gulud, dengan rata-rata 2,12 kg/gulud. Frequensi terbesar untuk berat umbi kecil berada pada interval 1−6 kg/gulud, yaitu 143 klon (68,1%). Berdasarkan intensitas seleski 30%, (berat umbi > 4,29 kg/gulud), terseleksi 20 klon, namun berdasarkan rata-rata pembanding (1,90 kg/ gulud) terdapat 98 klon yang jumlah umbi besarnya di atas rata-rata pembanding (Tabel 2).
Berat umbi total (umbi besar dan umbi kecil) per gulud (10 m2) berkisar antara 1,0−40,9 kg/gulud, dengan rata-rata 14,26 kg/gulud. Frequensi terbesar untuk berat total umbi kecil berada pada interval 10−15 kg/gulud yaitu 55 klon (26,2%). Berdasarkan intensitas seleski 30%, (berat umbi >23,14 kg/gulud), terseleksi 15 klon, namun berdasarkan rata-rata pembanding (25,21 kg/gulud) terdapat 17 klon yang mempunyai jumlah umbi total di atas rata-rata pembanding (Tabel 2).
Berdasarkan parameter utama pada seleksi ubijalar yang meliputi hasil umbi, kadar beta karotin, kadar bahan kering dan kualitas umbi, maka dari 210 klon yang diuji terseleksi sebanyak 25 klon (11,9%) untuk diuji lebih lanjut pada tahapan seleksi berikutnya (Tabel 3). Apabila hasil umbi digunakan sebagai parameter utama seleksi maka terdapat 4 klon yang memberikan hasil yang sangat tinggi >35 t/ha, namun keempat klon ini tidak memiliki kadar beta karotin tinggi seperti yang diharapkan. Saat ini yang dibutuhkan adalah klon dengan produksi, beta karotin dan bahan kering umbi tinggi. Keempat klon tersebut adalah MSU 10043-25, MSU 10038-28, MSU 10051-02, dan MSU
10041-48 dengan hasil umbi masing-masing 40,9 t/ha ; 39,5 t/ha ; 35,5 t/ha dan 35,4 t/ha dan kadar bahan kering umbi 21,4-24,0%. Kadar bahan kering umbi dari keempat klon ini ergolong rendah tetapi hampir sama dengan kadar bahan kering ketiga varietas pem-banding Beta-1, Beta-2 dan Sari. Keempat klon memiliki hasil umbi lebih tinggi dari ketiga varietas pembanding. Apabila kadar beta karotin umbi digunakan sebagai parameter utama seleksi, hanya terpilih 2 klon yang memiliki kadar beta karotin sangat tinggi (warna daging umbo O7) yaitu klon MSU 10034-35 dan MSU 10063-11 dengan hasil umbi masing-masing 25,5 t/ha, dan 30,2 t/ha dan kadar bahan kering umbi masing-masing 30,5% dan 25,6% (Tabel 3).
Tabel 3. Skor parameter umbi dan hasil umbi klon terpilih pada percobaan seleksi klon ubijalar kadar beta karotin tinggi. Malang, MK II 2011.
S k o r
Keseragaman b) Warna d)
No Klon/varietas
Bentuk
umbi a) Kualitas umbi a)
Bentuk Ukuran Rengkah umbi c) Kulit Daging Bahan kering umbi (%) Hasil umbi (t/ha) 1 MSU 10028-07 4,0 4,0 4,0 4,0 5,0 M3 O4 23,4 24,5 2 MSU 10030-23 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 M2 O4 21,3 24,2 3 MSU 10034-35 4,0 4,0 4,0 4,0 5,0 M3 O7 30,3 25,9 4 MSU 10038-15 4,0 3,0 4,0 4,0 3,0 K5 O5 20,3 24,5 5 MSU 10038-28 4,0 3,0 4,0 4,0 4,0 M2 O4 21,4 39,5 6 MSU 10039-06 4,0 4,0 4,0 4,0 4,0 M5 O5 28,8 23,8 7 MSU 10040-09 4,0 3,0 4,0 4,0 4,0 M4 O4 26,3 25,9 8 MSU 10041-42 5,0 3,0 5,0 4,0 5,0 M2 O4 20,1 23,5 9 MSU 10041-48 5,0 3,0 5,0 5,0 5,0 M2 O3 23,2 35,4 10 MSU 10041-59 4,0 3,0 4,0 4,0 5,0 K6 O5 26,8 26,4 11 MSU 10041-60 5,0 2,0 5,0 5,0 5,0 M2 O3 28,0 32,1 12 MSU 10043-08 4,0 3,0 4,0 4,0 4,0 M4 O5 24,3 28,5 13 MSU 10043-25 5,0 3,0 5,0 5,0 5,0 M3 O4 23,1 40,9 14 MSU 10044-09 5,0 2,0 5,0 4,0 4,0 K7 O4 22,8 26,5 15 MSU 10044-18 4,0 2,0 5,0 4,0 4,0 M3 O5 22,6 23,0 16 MSU 10049-17 3,0 3,0 4,0 4,0 4,0 O3 O5 27,4 26,2 17 MSU 10049-20 4,0 3,0 4,0 4,0 4,0 O2 O6 27,7 24,4 18 MSU 10051-02 4,0 5,0 5,0 5,0 5,0 M4 O3 24,0 35,5 19 MSU 10054-02 4,0 5,0 4,0 4,0 5,0 M5 O5 20,4 26,8 20 MSU 10055-06 4,0 3,0 4,0 4,0 4,0 O2 O4 21,6 25,7 21 MSU 10056-10 4,0 3,0 4,0 4,0 4,0 M2 O3 27,0 30,1 22 MSU 10058-01 5,0 2,0 5,0 5,0 5,0 M2 O4 23,0 24,3 23 MSU 10059-04 4,0 4,0 4,0 4,0 5,0 O4 O5 24,6 26,4 24 MSU 10063-11 4,0 3,0 4,0 4,0 4,0 O2 O7 23,1 25,8 25 MSU 10066-36 5,0 2,0 5,0 4,0 4,0 M2 O4 32,8 26,1 Rata-rata 4,21 3,18 4,33 4,18 4,36 - - 24,50 27,96
Keterangan : a) 1= jelek, 2= agak jelek, 3= sedang, 4= agak baik, dan 5= baik ; b) 1= bervariasi, 2= agak bervariasi, 3= sedang, 4= agak seragam, 5= seragam; c) 1 = rengkah >75%, 2 = rengkah 51-75%, 3 = rengkah 26.50%, 4 = rengkah; 11-25 %, 5 = tidak ada rengkah; d) M= merah, K= kuning, U= ungu, O= oranye1= sangat pucat, 2= agak pucat, 3= pucat, 4= cerah, 5= agak gelap, 6= gelap, 7= sangat gelap.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Berdasarkan jumlah umbi total per gulud dengan batas seleksi 30% (75,97 umbi/ gulud) terseleksi 20 klon dengan jumlah umbi total terbanyak 157 umbi/5 m2 yang terdapat pada klon dengan nomor 1385 (MSU 10038-08). Berdasarkan parameter
berat umbi total per gulud dengan batas seleksi 30% (23,14 Kg/tanaman) terseleksi 22 klon dengan berat umbi total tertinggi 40,9 kg/gulud, dicapai oleh klon dengan nomor 1572 (MSU 10043-25). Batas seleksi 30% bahan kering umbi adalah 27,9% sehingga terpilih 21 klon dengan bahan kering tertinggi (36,0%), dicapai oleh klon dengan nomor 2023 (MSU 10066-36).
2. Ditinjau dari kadar beta karotin, penilaian secara visual dari warna daging umbi me-nunjukkan bahwa dari 210 klon yang diuji terdapat 50 klon yang memiliki kadar beta karotin agak tinggi, 9 klon tinggi, dan 2 klon sangat tinggi.
3. Berdasarkan karakter berat umbi total, karakter umbi, kadar beta karotin dan tingkat serangan hama dan penyakit utama terseleksi 25 klon.
DAFTAR PUSTAKA
Hongmin, L., G. Xiaoding and M. Daifu. 1996. Orange-flesh sweet potato, a potential source for β-carotene production,. In E.T. Rasco and V.R. Ammante (Eds). Selected research paper. July 1995 – June 1996. Vol 2 : Sweet potato. ASPRAD. Manila, Philippines. P. 126−130.
Jusuf, M, St. A. Rahayuningsih, S. Pambudi. 2001. Adaptasi dan stabilitas hasil klon-klon harapan ubijalar. p.259−264. Dalam Jusuf et al (Eds). Teknologi Inovatif Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian Mendukung Ketahanan Pangan. Prosiding Seminar Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian.
Jusuf., M, St. A. Rahayuningsih., T.S. Wahyuni., E. Ginting., J. Restuono dan G. Santoso. 2009. Usulan Pelepasan Varietas MSU 01015-07 dan MSU 01015-02 Klon Harapan Ubijalar Kaya β-karotin. Makalah disampaikan pada Pertemuan Tim Penilai dan Pelepas Varietas Tanaman Pangan di Jakarta. 84p.
Mayne, S.T. 1966. Beta carotene, carotenoids and disease prevention in humans. FASEB. J.10: 690−701.
Rasco and V.R. Ammante. 1992. Sweetpotato variety evaluation. Volume 2. Background papers and SAPRAD country report. Southeast Asian Program for Potato Research and Development. p 122
Simonne, A.H., S.J. Kays, P.E. Koehler and R.R. Eitenmiller. 1993. Assessment of β-carotene content in sweet potato breeding lines in relation to dietary requirements. J. Food Comp. Anal. 6:336−345.
Wolfe, J.A. 1992. Sweet potato an untapped food resource. Cambridge University Press. Cambridge. P 60−71 ; 71−79 ; 146−158.
Yoshinaga. M. 1997. Breeding of purple-fleshed sweet potato. Proceeding of International Workshop on sweet potato Production System Towards the 21st Century. Pp 193−199.