(Kajian Tafsir Tematik)
Muh. Mu’ads Hasri
Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta [email protected]
Abtract
This article discusses about Al-quran’s opinion on the role of father in the develoment of the child. The focus of this study is to reveal the verses of Al-qur’an that relate to the role of father in the family. Furthermore, this article also illustrates the story of father in the Qur’an. This article is a library research with descriptive-analytic method. The contemporary and classics tafsir paradigm are also used as the approach to analyse the data. From the analysis that has been carried out, this research concludes several important remarks. Firts,the Qur’an shows a role that should be applied by a father in the development process of his children, one of which is by monitoring and controlling the daily life of the children, embedding educational values, building good relationships and communication with the children, and providing support and direction well. Second, several verses in the Qur’an describe the role of fathers (Luqman, Prophet Ibrahim, Prophet Nuh, and Prophet Ya’qub) who have their own ways of educating their children, so that the method is relevant to be applied in the present context.
Artikel ini membahas tentang pandangan Al-qur’an terhadap peran ayah dalam proses perkembangan anak. Adapun yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah mengupas ayat-ayat Al-qur’an yang berkaitandengan peran ayah dalam keluarga. Selain itu, artikel ini juga akan menggambarkan kisah ayah dalam Al-qur’an. Artikel ini merupakan jenis penelitian pustaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analisis dengan menggunakan pendekatan paradigma tafsir klasik-kontemporer. Dari analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menyimpulkan bahwa: pertama, Al-qur’an menunjukkan peran yang seharusya diaplikasikan oleh seorang ayah dalam proses perkembangan anak-anaknya, salah satunya dengan memantau dan mengontrol keseharian anak, menanamkan nilai-nilai pendidikan, membangun kedekatan dan komunikasi yang baik bersama anak, dan memberi dukungan serta arahan yang baik. Kedua, beberapa ayat dalam al-Qur’an menggambarkan peranayah yang memiliki cara tersendiri dalam mendidik anaknya, sehingga cara tersebut relevan untuk diaplikasikan dalam konteks kekinian. Sosok ayah yang dimaksud adalah Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Ya’qub.
Kata Kunci: Al-qur’an, Perkembangan Anak, Peran Ayah
Pendahuluan
A.
Dalam pemahaman masyarakat klasik, ibu selalu diidentikkan sebagai sosok yang lebih sering berada di rumah. Hal ini karena keberadaannya diasosiasikan sebagai wujud dari pengasuhan untuk menjaga dan merawat anak sebagai implementasi dari pemenuhan nafkah batin anak. Sedangkan substansi perlindungan terletak pada sosok ayah yang lebih sering di luar rumah mencari dan memenuhi nafkah lahir sebagai implementasi dari perlindungan.1 Sehingga keberadaan ayah dianggap kurang memperhatikan perrkembangan serta psikologi anak. Padahal aspek terakhir ini akan sangat penting bagi perkembangan anak ke depan. Namun pemahaman masyarakat seperti ini tak dapat disalahkan karena memang hal ini seperti 1 Harmaini dkk., “Peran Ayah dalam Mendidik Anak”, Jurnal Psikologi, Vol. 10, Desember 2014, h. 81.
disinyalir dalam surah al-Baqarah [2]: 233, bahwa tanggungan nafkah diberikan kepada ayah memang cukup berat. Maka tidak heran jika ayah dominan berada di lingkungan luar keluarga.
... ِفوُرْعَمْلاِب َّنُهُتَو ْسِكَو َّنُهُقْزِر ُهَل ِدوُلْوَمْلا ىَلَعَو
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.2
Ayat ini menegaskan tentang tugas seorang ayah memberikan nafkah kepada istrinya. Menurut Abu Ja’far (w. 310 H) dalam Tafsir
At-Tabari bahwa seorang ayah wajib memberi makan ibunya dengan
makanan yang mengenyangkan serta pakaian dengan cara yang baik yang sesuai dengan kemampuannya.3 Ayah memiliki tanggung jawab yang berat dalam keluarga, dan karena itulah ayah memperbanyak waktu di luar demi mencari nafkah bagi keluarganya
Jika ayat di atas tidak dipahami dengan baik maka akan timbul permasalahan di tengah-tengah keluarga, salah satunya adalah kurangnya kontribusi seorang ayah dalam keluarganya. Ayah hanya dianggap memberikan nafkah tanpa memikirkan betapa pentingnya kontribusinya dalam mendidik moral si anak. Padahal peran seorang ayah sangatlah besar dalam keluarga, terutama dalam mendidik, membina, dan menasehati anaknya. Ibarat sebuah kapal, ayah merupakan nahkoda yang akan menentukan arah berlayar keluarganya. Akan tetapi, terkadang perannya tidak terlalu dirasakan oleh beberapa keluarga. Begitu juga dalam hal memberikan perlindungan terhadap keluarga, ayah harus menjadi pelindung bagi keluarga, baik secara fisik maupun non fisik. Ayah juga harus memberikan kenyamanan dan keamanan emosional, serta bertanggung jawab atas finansial keluarga.
Dalam al-Qur’an, terdapat beberapa ayat yang menceritakan tentang kisah seorang ayah dan anaknya, di antaranya adalah 2 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya, (Jakarta: CV. Bumirestu, 1990), h. 57.
3 Abu Ja’far Muhammad Bin Jari̅r At-Tabari, Ja̅mi’ul Al-Baya̅n fi Ta’wi̅l Al-Qur’a̅n
Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Ya’qub. Sebagian besar dari ayat-ayat tersebut menyinggung tentang relasi antara ayah dan anak. Sementara ayat yang menyinggung tentang hubungan ibu dan anak hanya pada satu tempat, yaitu kisah Nabi Isa dan ibunya. Melalui kisah-kisah ini, dapat ditemukan bahwa al-Qur’an secara tidak langsung memberikan isyarat bahwa ayah memiliki peran penting dalam proses perkembangan anak.
Berdasar pada permasalahan di atas, penulis mencoba menggali ayat-ayat yang berkaitan dengan peran ayah, sehingga akan ditemukan pandangan al-Qur’an tentang peran ayah dalam proses perkembangan anak. Dikarenakan penelitian ini merupakan tematik konseptual maka pengumpulan data dalam penelitian ini adalah mencari data-data dari sumber primer (Al-qur’an dan Hadis) maupun sekunder yang menjelaskan mengenai peran ayah dalam al-Qur’an dengan merujuk kepada buku-buku yang dipakai sebagai rujukan. Kemudian mencari penjelasan melalui pendapat-pendapat mufassir, hadis-hadis dan buku-buku atau literatur-literatur lainnya yang berkaitan dengan tema pembahasan.
Ayat-Ayat Tentang Peran Ayah
B.
Setidaknya ada enam ayat dalam Al-qur’an yang berbicara tentang peran ayah. Masing-masing berbentuk kisah dan dialog antara ayah dan anaknya, dengan klasifikasi sebagai berikut:
Nabi Ibrahim as. dan Anaknya: 1.
QS. Al-Baqarah [2]: 132, a.
َلَف َنيِّدلا ُمُكَل ىَفَط ْصا َ َّللها َّنِإ َّيِنَباَي ُبوُقْعَيَو ِهيِنَب ُميِهاَرْبِإ اَهِب ى َّصَوَو
َنوُمِل ْسُم ْمُتْنَأَو َّلِإ َّنُتوُمَت
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.4 QS. Al-Baqarah [2]: 133, b.
ْنِم َنوُدُبْعَت اَم ِهيِنَبِل َلاَق ْذِإ ُتْوَمْلا َبوُقْعَي َر َض َح ْذِإ َءاَدَه ُش ْمُتْنُك ْمَأ
اًاهَلِإ َقا َح ْسِإَو َليِعاَم ْسِإَو َميِهاَرْبِإ َكِئاَبآ َهَلِإَو َكَهَلِإ ُدُبْعَن اوُلاَق يِدْعَب
َنوُمِل ْسُم ُهَل ُن ْحَنَو اًاد ِحاَو
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “ apa yang kamu sembah sepeninggalku ?” mereka menjawab: “kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.5
QS. As-Shaffat [37]: 102, c.
ْرُظْناَف َك ُحَبْذَأ يِّنَأ ِماَنَمْلا يِف ىَرَأ يِّنِإ َّيَنُباَي َلاَق َيْعَّسلا ُهَعَم َغَلَب اَّمَلَف
َنيِرِبا َّصلا َنِم ُ َّللها َءا َش ْنِإ يِنُد ِجَت َس ُرَمْؤُت اَم ْلَعْفا ِتَبَأاَي َلاَق ىَرَت اَذاَم
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” ia menjawab: “hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.6
Nabi Nuh as. dan Anaknya: 2.
QS. Hud [11]: 42,
ٍلِزْعَم يِف َناَكَو ُهَنْبا ٌحوُن ىَداَنَو ِلاَب ِجْلاَك ٍجْوَم يِف ْمِهِب يِر ْجَت َيِهَو
4 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya..., h. 34. 5 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 34. 6 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 725.
َنيِرِفاَكْلا َعَم ْنُكَت َلَو اَنَعَم ْبَكْرا َّيَنُباَي
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.7
Nabi Ya’qub dan Anaknya: 3.
QS. Yusuf [12]: 45-,
َرَمَقْلاَو َسْم َّشلاَو اًابَكْوَك َر َشَع َد َحَأ ُتْيَأَر يِّنِإ ِتَبَأاَي ِهيِبَ ِل ُف ُسوُي َلاَق ْذِإ
َكِتَو ْخِإ ىَلَع َكاَيْؤُر ْص ُصْقَت َل َّيَنُباَي َلاَق )4( َنيِد ِجا َس يِل ْمُهُتْيَأَر
)5( ٌنيِبُم ٌّوُدَع نا َسْنِ ْلِل َناَطْي َّشلا َّنِإ اًادْيَك َكَل اوُديِكَيَف
Ketika Yu̅suf berkata kepada ayahnya (Ya’qu̅b): “wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya bersujud kepadaku”. Ayahnya (Ya’qu̅b) berkata: “hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpi-mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaiṭan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”.8
Luqman dan Anaknya: 4.
QS. Luqman [31]: 13, a.
ٌمْلُظَل َكْر ِّشلا َّنِإ ِ َّللهاِب ْكِر ْشُت َل َّيَنُباَي ُهُظِعَي َوُهَو ِهِنْب ِل ُناَمْقُل َلاَق ْذِإَو
ٌميِظَع
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah
7 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 333. 8 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 348.
adalah benar-benar kezaliman yang besar”.9 QS. Luqman [31]: 16,
b.
ِتاَواَم َّسلا يِف ْوَأ ٍةَر ْخ َص يِف ْنُكَتَف ٍلَدْر َخ ْنِم ٍةَّب َح َلاَقْثِم ُكَت ْنِإ اَهَّنِإ َّيَنُباَي
ٌريِب َخ ٌفيِطَل َ َّللها َّنِإ ُ َّللها اَهِب ِتْأَي ِضْرَ ْلا يِف ْوَأ
Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi , dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (mebalasanya). Sesungguhnya Allah Maha Halus Lagi Maha Mengetahui.10
QS. Luqman [31]: 17, c.
اَم ىَلَع ْرِب ْصاَو ِرَكْنُمْلا ِنَع َهْناَو ِفوُرْعَمْلاِب ْرُمْأَو َة َل َّصلا ِمِقَأ َّيَنُباَي
ِروُمُ ْلا ِمْزَع ْنِم َكِلَذ َّنِإ َكَبا َصَأ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan.11
Peran Ayah dalam Proses Perkembangan Anak
C.
Perspektif Al-Qur’an
Sebagai Pendidik dan Pembentuk Kepribadian 1.
Adalah tanggung jawab seorang ayah untuk selalu memberi nasehat kepada anak-anaknya. Hal ini sebagaimana disebutkan Al-qur’an surat Luqman [31]: 13 sebagai berikut:
ٌمْلُظَل َكْر ِّشلا َّنِإ ِ َّللهاِب ْكِر ْشُت َل َّيَنُباَي ُهُظِعَي َوُهَو ِهِنْب ِل ُناَمْقُل َلاَق ْذِإَو
ٌميِظَع
9 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 654. 10 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 655 11 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 655.
Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”.12
Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, kata ya’iẓuhû terambil dari kata wa’ẓa yaitu nasihat berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Kata ini juga mengisyaratkan bahwa nasihat itu dilakukan dari saat ke saat. Hal ini seperti dipahami dari bentuk kata kerja masa kini dan akan datang pada kata ya’iẓuhû.13 Dalam ayat ini
Luqman menegaskan kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah karena merupakan kezaliman yang besar. Begitu pula pada ayat selanjutnya (ayat 16-19) yang berisi nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.
Demikian pula dengan kisah Nabi Nuh ketika memberi nasihat kepada anaknya dalam Surah Hud [11]: 42 sebagai berikut:
ٍلِزْعَم يِف َناَكَو ُهَنْبا ٌحوُن ىَداَنَو ِلاَب ِجْلاَك ٍجْوَم يِف ْمِهِب يِر ْجَت َيِهَو
َنيِرِفاَكْلا َعَم ْنُكَت َلَو اَنَعَم ْبَكْرا َّيَنُباَي
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.14
Dua ayat di atas menggunakan kata “ya bunayya” yang artinya wahai anakku sayang. Menurut Quraish Shihab, kata bunayya berarti patron yang menggambarkan kemungilan. Kata bunayya adalah bentuk tasghîr/perkecilan dari kata ibnî yang berarti anakku. Bentuk itu antara lain digunakan untuk menggambarkan kasih sayang, karena kasih sayang biasanya tercurah kepada anak.15 Berbeda dengan
Al-12 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 654.
13 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol.
11, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. 126.
14 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 333.
15 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol.
Qurthubi, menurutnya lafaz bunayya sendiri bukan bentuk hakikat
tashgir, sekalipun lafaznya tashgir. Akan tetapi merupakan bentuk tarqiq (ungkapan kelembutan dan kasih sayang), misalnya kalimat yang
diungkapkan kepada seseorang yâ ukhayya.16 Dari sini dapat diketahui bahwa dalam memberi nasihat baiknya disertai dengan penuh kasih sayang. Begitupun dengan ayat 16 dan 17, semuanya menggunakan kata bunayya dalam memberikan nasihat.
Selanjutnya, nasihat-nasihat Luqman yang berisi tentang akhlak mulia di antaranya larangan menyekutukan Allah terdapat pada ayat 16. Nasihat yang berkaitan dengan amal saleh yang puncaknya pelaksanaan shalat dan amal kebaikan yang tercermin dalam amar makruf nahi munkar serta membentengi diri dari kegagalan terdapat pada ayat 17. Sedangkan nasihat tentang adab ketika berbicara terekam dalam ayat 18, dan nasihat untuk tetap tawadhu’ atau rendah hati dalam ayat 19.
Adapun nasihat Nabi Nuh as. yang berisi anjuran menjauhi orang-orang kafir dan juga tentang keselamatan anaknya—meski disebut sebagai anak durhaka—namun dengan penuh rasa kasih sayang Nabi Nuh tetap ingin menyelamatkannya. Saat itu Nabi Nuh masih dapat menasihati dan membujuk anaknya sebelum tenggelam. Nasihat yang penuh dengan kasih sayang, namun anaknya tetap keras kepala dan menolak untuk mengikuti ayahnya.
Tidak berhenti di situ, al-Qur’an sekali lagi menunjukkan sosok seorang ayah yang tak henti-hentinya memberi nasehat kepada anak-anaknya yaitu Nabi Ibrahim. Sosok ayah yang tangguh dengan penuh kekhawatiran terhadap anak-anaknya. Hal ini dapat dilihat dalam Surah Al-Baqarah [2]: 132 sebagai berikut:
َلَف َنيِّدلا ُمُكَل ىَفَط ْصا َ َّللها َّنِإ َّيِنَباَي ُبوُقْعَيَو ِهيِنَب ُميِهاَرْبِإ اَهِب ى َّصَوَو
َنوُمِل ْسُم ْمُتْنَأَو َّلِإ َّنُتوُمَت
16 Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 14, terj. Marwan Affandi dkk., (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), h. 152.
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.17
Ayat ini menggambarkan arti penting peran ayah yang selalu memberi arahan terhadap anak-anaknya. Ibnu Katsir menjelaskan “hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Dalam
arti, berbuat baiklah kamu dalam kehidupan dan tetap teguhlah dalam agama ini, niscaya Allah akan menganugrahimu kematian dalam kondisi demikian. Sebab seseorang biasanya meninggal dalam kondisi yang tengah dilakukannya, dan dibangkitkan dalam kondisi itu pula.
Menurut Abu Ja’far (w. 310 H), kalimat َنوُمِل ْسُم ْمُتْنَأَو َّلِإ َّنُتوُمَت َلَف di sini berarti janganlah kalian memisahkan diri dari agama ini dalam kehidupan kalian, yaitu Islam. Karena tak seorang pun yang dapat mengetahui kapan ajal akan menjemputnya. Maka dari itu, Nabi Ibrahim dan Ismail berkata َنوُمِل ْسُم ْمُتْنَأَو َّلِإ َّنُتوُمَت َلَف karena kalian tidak tahu kapan ajal akan datang kepada kalian, siang hari atau malam hari.18 Faktor ini yang menjadikan Ibrahim mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dan ajaran yang dianut olehnya kemudian diteruskan kepada generasi setelahnya. Inilah yang diuraikan dalam firman-Nya: dan Ibrahim telah mewasiatkannya yaitu agama, atau prinsip ajaran itu kepada anak-anaknya, yaitu Ismail, Ishaq dan saudara-saudara mereka.19
Begitu pula dengan Nabi Muhammad saw. ketika memberi nasihat kepada anak asuhnya, Umar bin Abdullah dalam hadis riwayat Muslim No. 5376:
17 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 34.
18 Abu Ja’far Muhammad Bin Jari̅r At-Tabari, Ja̅mi’u Al-Baya̅n fi Ta’wi̅l Al-Qur’a̅n
Jilid 2, terj. Ahsan Askan, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), h. 556.
19 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol.
يِدَي ْتَناَكَو ،َمَّل َسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّل َص ِ َّللها ِلو ُسَر ِر ْج َح يِف اًامَلُغ ُتْنُك
،ُمَلُغ اَي :َمَّل َسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّل َص ِ َّللها ُلو ُسَر يِل َلاَقَف ،ِةَف ْح َّصلا يِف ُشيِطَت
. َكيِلَي اَّمِم ْلُكَو ، َكِنيِمَيِب ْلُكَو ،َ َّللها ِّم َس
Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Saw. pernah suatu ketika tanganku ke sana kemari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullaah Saw. berkata kepadaku: “Wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tanganmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu.”20
Dari beberapa dalil di atas menunjukkan bahwa peran ayah sangatlah penting dalam memberi nasihat, arahan, dan petunjuk kepada anak-anaknya. Tidak hanya itu, ketika menjalankannya perannya, seorang ayah hendaknya membina anaknya dengan rasa kasih sayang. Karena dengan kasih sayang tersebut anak dapat mencerna dengan baik makna dari isi nasihat-nasihat yang diberikannya.
Adapun peran ayah dalam perkembangan anak selanjutnya antara lain:
Membangun Kebersamaan dengan Anak 1.
Ayah merupakan salah satu model yang diperlukan oleh si anak ketika dibutuhkan. Karena kehidupan anak tidak selalu dalam keterlibatan ibu, ayah juga berperan penting untuk bersama-sama dengan anaknya, seperti jalan bersama, dan mendengarkan curahan hati si anak. Dalam al-Qur’an Surah As-Shaffat [37]: 102 digambarkan kisah Nabi Ibrahim dan anaknya sebagai berikut:
ْرُظْناَف َك ُحَبْذَأ يِّنَأ ِماَنَمْلا يِف ىَرَأ يِّنِإ َّيَنُباَي َلاَق َيْعَّسلا ُهَعَم َغَلَب اَّمَلَف
َنيِرِبا َّصلا َنِم ُ َّللها َءا َش ْنِإ يِنُد ِجَت َس ُرَمْؤُت اَم ْلَعْفا ِتَبَأاَي َلاَق ىَرَت اَذاَم
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “hai
20 Imam Muslim Bin Al-Hajja̅j, Shahi̅h Muslim Juz 13, (Beirut: Dar Al-Marefah, 2007), h. 268.
anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” ia menjawab: “hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.21
Ayat ini menggambarkan kisah Nabi Ibrahim bersama anaknya ketika saling bincang. Sebagaimana dikutip dalam buku Ringkasan
Tafsir Ibnu Katsir, ia menjelaskan firman Allah, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim”, yaitu
menjadi besar dan dewasa serta dapat pergi bersama ayahnya dan sanggup melaksanakan pekerjaan yang dikerjakan oleh ayahnya.22 Selanjutnya Sayyid Qutb menjelaskan bahwa kalimat itu berarti Ibrahim merasakan kenikmatan terhadap anaknya, menyertai perjalanannya dan menemaninya dalam kehidupannya.23
Begitu juga dengan Al-Maraghi dalam karya tafsirnya menjelaskan kata يعسلا هعم غلب املف falammâ balaga ma’ahu al-Sa’ya, diartikan tatkala Ismail mencapai umur yang ia dapat membantu ayahnya untuk berusaha bersama-sama dengan beliau dalam pekerjaan-pekerjaan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.24 Menurut Al-Farra’ (w. 207 H), ketika itu Ismail berumur 13 tahun.25 Dan sekali lagi Nabi Ibrahim memanggil anaknya dengan kata bunayya yang menurut Quraish Shihab kata tersebut merupakan bentuk tasghîr/perkecilan dari kata ينبا ibnî/anakku, digunakan untuk mengekspresikan kasih sayang, karena kasih sayang biasanya tecurah kepada anak. Ini mengisyaratkan bahwa beliau sangat sayang kepada anaknya, dengan
21 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 725.
22 Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4terj. Syihabuddin (jakarta: Gema Insani Press, 2012), h. 30.
23 Sayyid Qutb, Tafsi̅r Fi Ẓila̅lil Qur’a̅n Jilid 6,terj. As’ad Yasin dkk., (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), h. 346.
24 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Mara̅giy juz 22,terj. Bahrun Abubakar dkk., (Semarang: Toha Putra, 1989), h, 127.
25 Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 15, terj. Marwan Affandi dkk., (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), h. 234.
selalu berada di samping anaknya saat diperlukan, sebab sejatinya anak juga membutuhkan seorang ayah untuk berada di sampingnya.
Ini juga seperti kisah Nabi Ya’qub dan anaknya dalam Surah Yusuf [12]: 45-, yang menggambarkan kedekatan Nabi Ya’qub dengan anaknya. Seorang ayah menjadi tempat mengadu sang anak ketika dilanda rasa bingung akan mimpinya. Berikut firman-Nya:
َرَمَقْلاَو َسْم َّشلاَو اًابَكْوَك َر َشَع َد َحَأ ُتْيَأَر يِّنِإ ِتَبَأاَي ِهيِبَ ِل ُف ُسوُي َلاَق ْذِإ
َكِتَو ْخِإ ىَلَع َكاَيْؤُر ْص ُصْقَت َل َّيَنُباَي َلاَق )4( َنيِد ِجا َس يِل ْمُهُتْيَأَر
)5( ٌنيِبُم ٌّوُدَع نا َسْنِ ْلِل َناَطْي َّشلا َّنِإ اًادْيَك َكَل اوُديِكَيَف
Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya’qub): “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya bersujud kepadaku”. Ayahnya (Ya’qu̅b) berkata: “hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpi-mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaiṭan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”26
Ayat ini menggambarkan tentang kisah Nabi Ya’qub dan anaknya yaitu Nabi Yusuf yang ketika menceritakan mimpinya kepada ayahnya. Sungguh, apa yang disampaikan itu merupakan perkara yang sangat besar, apalagi bagi seorang anak yang sejak kecil hatinya diliputi oleh kesucian dan kasih sayang ayah. Kasih sayang ayahnya pun disambut dengan penghormataan kepadanya. Hal ini terlihat ketika beliau memanggil ayahnya dengan panggilan تبأ اي , yang menggambarkan kedekatannya kepada beliau. Kedekatannya kepada ayahnya diakui oleh ayat ini, sehingga bukan nama ayahnya yang disebut oleh ayat ini, tetapi kedudukannya sebagai orang tua.
Dengan penuh kasih sayang, sang ayah berkata, Hai anakku,
janganlah kamu ceritakan mimpi-mimpimu itu kepada saudara-saudaramu.
Kata ّينب bunayya adalah bentuk tasghîr/perkecilan dari kata ينبا ibnî/ 26 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 348.
anakku. Bentuk itu antara lain digunakan untuk menggambarkan kasih sayang, karena kasih sayang biasanya tercurah kepada anak, apalagi anak tersebut masih kecil. Kesalahan-kesalahannya pun ditolerir, paling tidak karena dianggap masih kecil.27 Sedangkan menurut Al-Qurthubi, lafaz ّينب sendiri bukan bentuk hakikat tashgir, sekalipun lafaznya tashgir, namun merupakan bentuk tarqiq (ungkapan kelembutan dan kasih sayang).28
Ayat-ayat di atas menunjukkan kedekatan ayah dan anak. Ayah seharusnya selalu bersama dengan anaknya, selalu mendampingi anaknya, dapat dilihat dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Begitu juga dengan gambaran Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf. Sang anak justru menyampaikan isi mimpinya kepada ayahnya, bukan kepada ibunya. Hal ini mengisyaratkan akan keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya.
Sebagai Pelindung dan Pengayom 2.
Secara tegas al-Qur’an menegaskan kepada pemimpin keluarga agar bertanggung jawab penuh atas keluarganya. Hal ini sebagaimana terekam dalam surah At-Tahrim [66]: 6 sebagai berikut:
ُةَرا َج ِحْلاَو ُساَّنلا اَهُدوُقَو اًاراَن ْمُكيِلْهَأَو ْمُك َسُفْنَأ اوُق اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأاَي
اَم َنوُلَعْفَيَو ْمُهَرَمَأ اَم َ َّللها َنو ُصْعَي َل ٌداَد ِش ٌظ َلِغ ٌةَكِئ َلَم اَهْيَلَع
َنوُرَمْؤُي
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaga malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.29
27 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol.
11, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. 396.
28 Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 14, terj. Marwan Affandi dkk...., h. 152.
Ayat ini menyerukan bahwa salah satu tanggung jawab ayah sebagai pemimpin keluarga adalah untuk menjaga dan melindungi keluarganya dengan cara tidak menyekutukan Allah dan selalu mengerjakan perintah-perintah-Nya. Beban tanggung jawab yang ada dalam diri dan keluarganya merupakan beban yang sangat berat dan menakutkan. Sehingga perkara semacam ini menjadi kewajiban seorang ayah untuk senantiasa membentengi diri dan keluarganya dari neraka yang selalu mengintai dan menantinya.30
Tanggung jawab seorang ayah sangatlah besar terhadap anak-anaknya. Semenjak anak terlahir ke dunia, maka sejak itulah dimulainya tanggung jawab yang besar itu. Sebab anak lahir dalam keadaan fitrah, dan orang tuanya yang akan menentukan benar atau tidaknya anak itu kelak. Hal ini dijelaskan Rasulullah dalam Hadis riwayat Bukhari No. 1359 sebagai berikut:
ِهِناَر ِّصَنُيَو ،ِهِناَدِّوَهُي ُهاَوَبَأَف . ِةَر ْطِفلا ىَلَع ُدَلوُي َّلِإ ٍدوُلْوَم ْنِم اَم
Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.31
Hadis ini menunjukkan bahwa orang tua bertanggung jawab atas kesalehan dan tidaknya seorang anak. Ketika datang pengaruh-pengaruh dari luar, termasuk benar atau tidaknya orang tuanya dalam mendidik anak. Maka, kefitrahan seorang anak untuk terus berada dalam jalur kebaikan dan keimanan menjadi tanggung jawab seorang ayah..
Seorang ayah tidak hanya bertanggung jawab atas dunianya, namun juga berkenaan dengan persoalan akhirat. Jika sang anak tersesat di jalan yang tidak lurus maka ayah akan mendapat ganjaran di akhirat karena perbuatan anaknya, sebagaimana hadis Rasulullah saw. dalam Riwayat Muslim No. 1829:
30 Sayyid Qutb, Tafsi̅r Fi Ẓila̅lil Qur’a̅n Jilid 11, terj. As’ad Yasin dkk...., h. 338. 31 Al-Ima̅m Al-Bukha̅ri, Shaḥi̅ḥ Al-Bukha̅ri Jilid 1, (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2009), h. 330.
ْمُهْنَع ٌلوُئ ْسَم َوُهَو ،ِهِتْيَب ِل ْهَأ ىَلَع ٍعاَر ُل ُجَّرلاَو
Seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin bagi keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua.32
Berdasar hadis di atas, menjadi tanggung jawab ayah untuk membimbing istri dan anaknya di jalan yang benar. Sebagai ayah harus lebih meningkatkan dalam membina anak-anaknya, terutama persoalan agamanya meskipun telah hampir tiba ajalnya, seperti kisah dalam al-Qur’an Surah Al-Baqarah [2]: 133 menggambarkan Nabi Ibrahim sebagai berikut:
ْنِم َنوُدُبْعَت اَم ِهيِنَبِل َلاَق ْذِإ ُتْوَمْلا َبوُقْعَي َر َض َح ْذِإ َءاَدَه ُش ْمُتْنُك ْمَأ
اًاهَلِإ َقا َح ْسِإَو َليِعاَم ْسِإَو َميِهاَرْبِإ َكِئاَبآ َهَلِإَو َكَهَلِإ ُدُبْعَن اوُلاَق يِدْعَب
َنوُمِل ْسُم ُهَل ُن ْحَنَو اًاد ِحاَو
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “ apa yang kamu sembah sepeninggalku ?” mereka menjawab: “kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”33
Menurut Sayyid Qutb, ayat ini menggambarkan pemandangan ketika Nabi Ya’qub bersama anak-anaknya saat beliau menghadapi kematiannya. Sakaratul maut yang sudah di depan mata, namun masih ada yang mengusik hati beliau. Menyibukkan hatinya berupa amanat, modal, dan warisan yang hendak ingin disampaikannya. Sehingga beliau mengeluarkan sebuah kalimat kepada anak-anaknya “apakah
yang kamu sembah sepeninggalku ?” tampak jelas bentuk tanggung
jawab yang sangat besar yang dipikul oleh Nabi Ibrahim sebagai ayah dari anak-anaknya.34 Kisah tersebut menunjukkan betapa khawatirnya 32 Ima̅m Muslim Al-Hajja̅j, Shahi̅h Muslim Jilid 3, (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2008), h. 225.
33 Departemen Agama R.I, Al-Qur’an dan Tejemahnya ..., h. 34.
Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya, bahkan ketika beliau hendak menjumpai ajalnya.
Demikianlah, Ibrahim, Ya’qub, dan Luqman al-Hakim menjadi sosok ayah yang sangat patut dijadikan sebagai contoh yang baik terhadap perkembangan anak. Tidak hanya persoalan duniawi, kekhawatiran mereka pun yang paling utama terhadap persoalan ukhrawi. Sesembahan, kebaikan, sedekah jariyah. Akankah itu semua masih dan akan terus dijalankan oleh anak-anaknya setelah para ayah meninggal dunia? Penjelasan Al-qur’an di atas tak dapat dipungkiri menegaskan peran ayah dalam proses perkembangan anak.
Makna Kontekstual Peran Ayah dan Keterlibatannya
D.
dalam Proses Perkembangan Anak
Pada hakikatnya, dalam keluarga tidak hanya peran ibu yang dibutuhkan, namun juga peran ayah juga sangat dibutuhkan untuk memberi warna yang berbeda dalam proses perkembangan anak. Ketika memasuki area kepengasuhan anak, secara otomatis ayah juga terlibat dalam proses perkembangan anak. Seorang ayah akan memerankan perannya sebagai pendidik, pembina, pengarah, pelindung. Tentu saja peran tersebut tidak semudah yang difikirkan, harus didampingi dengan cara dan metode yang cocok dan cara yang khusus. Karena sejatinya anak membutuhkan peran seorang ayah.
Dalam menjalankan perannya, hendaknya seorang ayah harus sering meluangkan waktunya bersama anak-anaknya. Dengan meluangkan waktu bersama anaknya, tidak menutup kemungkinan sang anak akan merasa nyaman dan merasakan kehangatan ketika sering dekat dengan ayahnya. Rasa bahagia tentu akan meliputi suasana hatinya. Berbeda jika tingkat kebersamaan dengan ayah itu kurang. Ini akan berdampak buruk bagi perkembangan anaknya.
Al-Qur’an sebagai petunjuk menggambarkan kebersamaan seorang ayah dan anaknya. Hal ini sebagaimana dalam QS. As-Shaffat
[37]: 102 yang menggambarkan kedekatan Nabi Ibrahim as. dengan Ismail anaknya ketika masih berumur 13 tahun. Peran ayah dalam proses perkembangan anak justru akan memberikan warna yang khas dalam kehidupan anak. Berdasarkan beberapa hasil penelitian terbukti bahwa anak belajar banyak hal secara berbeda dari ayah dan ibu. Pada ibu anak dapat belajar kelembutan, kontrol emosi, dan kasih sayang. Sedangkan pada ayah, anak belajar ketegasan, sifat maskulin, kebijaksanaan, keterampilan kinestetik, dan kemampuan kognitif.35
Begitu pula dalam QS. Yusuf [12]: 4. Ayat ini berbicara tentang kedekatan Nabi Ya’qub as. dan Yusuf as. Ketika Nabi Yusuf as. mengalami masalah dalam mimpinya, justru ia mengadukan mimpinya kepada ayahnya, bukan kepada ibunya. Dari sini terlihat jelas bahwa Nabi Ya’qub as. sangat dekat dengan anaknya, dan sebaliknya. Dari peristiwa tersebut, ayah dapat membangun kebersamaan dengan anak melalui kegiatan olahraga bersama baik itu jogging, main bola, atau permainan yang disukai oleh anak. Atau, sering bercerita dengan anak soal keseharian ayah ketika masih muda.
Selain itu, ayah sangat diharapkan agar selalu memberikan dukungan dan arahan. Sri Lestari mengungkapkan dalam bukunya
Psikologi Keluarga,36 sesungguhnya anak akan sangat membutuhkan arahan dan dukungan seorang ayah untuk menyelesaikan masalah-masalahnya, serta membantunya menentukan nasib sendiri. Jika dicermati, memang anak yang baru tumbuh dewasa masih sangat butuh arahan dari orang tuanya karena sepatutnya anak yang baru akan melalui proses berkembangnya dari anak-anak ke remaja masih belum dapat menentukan arah kehidupannya sendiri. Ia sangat membutuhkan penyemangat dalam setiap langkahnya, serta menjalani hari-hari dalam kehidupannya.
35 Sri Muliyati Abdullah, “Studi Eksplorasi Tentang Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini”, dalam www.fpsi.mercubuana-yogya.ac.id diakses 11 Agustus 2018, hlm. 4.
36 Sri Lestari, Psikologi Keluarga, (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2012), h. 36.
Mengontrol dan mengayomi anak juga merupakan peran yang paling penting bagi ayah. Termasuk menghindarkan anak dari pergaulan bebas, obat-obat terlarang, minuman keras dan sejenisnya. Hasil statistik menunjukkan bahwa angka kenaikan jumlah pemakai obat terlarang semakin meningkat.37 Hal ini sebagian besar dipicu karena kekurangan perhatian dari orang tuanya. Terlebih maraknya berita-berita di media sosial yang menunjukkan tingginya angka pecandu narkoba di Negeri ini. Sehingga, ini menjadi tugas seorang ayah agar dapat mengontrol gerak gerik anak-anaknya. Karena dampaknya akan sangat berbahaya manakala mereka telah terjerumus dalam dunia obat-obat terlarag. Masa depan anak akan hilang dan hancur. Selain itu, bentuk tanggung jawab ayah yang lain terhadap anaknya di zaman sekarang, bagaimana kehidupan anaknya itu sejahtera. Misalnya dalam menentukan pendamping hidup bagi anaknya, maka ayah harus memikirkan dengan matang untuk menentukan yang terbaik buat anaknya.
Penutup
E.
Sebagai kepala keluarga, ayah dituntut berperan aktif sekaligus menjadi panutan bagi anak-anaknya. Di antaranya membangun kebersamaan dan komunikasi yang baik dengan anak; sebagai pengontrol dan pemantau keseharian anak; senantiasa menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak; memberikan dukungan serta arahan. Beberapa ayat dalam al-Qur’an telah memberikan contoh yang sangat jelas bagaimana peran ayah dalam mendidik anaknya. Cara tersebut hemat penulis masih relevan untuk diaplikasikan dalam konteks kekinian. Sosok ayah ideal yang seringkali menjadi contoh antara lain: Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Ya’qub. Selain dari pada itu, Al-qur’an juga menunjukkan peran yang seharusya diaplikasikan oleh seorang ayah dalam proses perkembangan
anak-37 Adnan Hasan Baharits, Tanggung Jawab Ayah Terhadap Anak Laki-Laki, (Jakarta: Gema Insani Press. 1996), h. 437.
anaknya. Salah satunya dengan memantau dan mengontrol keseharian anak, menanamkan nilai-nilai pendidikan, membangun kedekatan dan komunikasi yang baik bersama anak, memberi dukungan serta arahan yang baik, dan melindungi dan mengayomi anak-anaknya.
Dengan demikian, melalui komunikasi dan kedekatan ayah dengan anaknya, diharapkan nantinya anak akan tumbuh dengan kepribadian yang baik. Tentu saja lewat contoh yang baik pula dari anaknya. Karena anak selalu merekam jejak ayahnya dalam keseharian. Jika rekam jejak sang ayah itu baik dan saleh, maka anak pun akan meniti jalan yang sama, menciptakan rekam jejak yang baik dan saleh pula. Seperti ayahnya.
Daftar Pustaka
Bukha̅ri. Al-Ima̅m Al-. Shaḥi̅ḥ Al-Bukha̅ri Jilid 1. Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2009.
Hajja̅j. Imam Muslim Bin Al-.Shaḥi̅ḥ Muslim Jilid 3. Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2008.
Harmaini (dkk). “Peran Ayah dalam Mendidik Anak”. Jurnal Psikologi. Vol. 10. Desember 2014.
Maragiy, Ahmad Mustafa Al-. Tafsir Al-Mara̅giy Juz 2 terj. Bahrun Abu Bakar (dkk). Semarang: Toha Putra, 1989.
Maragiy, Ahmad Mustafa Al-. Tafsir Al-Mara̅giy Juz 21 Terj. Bahrun Abu Bakar (dkk). Semarang: Toha Putra, 1989.
Maragiy, Ahmad Mustafa Al-. Tafsir Al-Mara̅giy Juz 22 terj. Bahrun Abu Bakar (dkk). Semarang: Toha Putra, 1989.
Qurthubi, Syaikh Imam Al-. Tafsir Al-Qurthubi Jilid 14. Terj. Marwan Affandi dkk. Jakarta: Pustaka Azzam, 2009.
Qurthubi, Syaikh Imam Al-. Tafsir Al-Qurthubi Jilid 15. terj. Marwan Affandi dkk. Jakarta: Pustaka Azzam, 2009.
Qutb, Sayyid. Tafsi̅r Fi Ẓila̅lil Qur’a̅n di Bawah Naungan Al-Qur’an Jilid
1. Terj. As’ad Yasin (dkk). Jakarta: Gema Insani, 2003.
Qutb, Sayyid. Tafsi̅r Fi Ẓila̅lil Qur’a̅n di Bawah Naungan Al-Qur’an Jilid
6. Terj. As’ad Yasin (dkk). Jakarta: Gema Insani, 2003.
Qutb, Sayyid. Tafsi̅r Fi Ẓila̅lil Qur’a̅n di Bawah Naungan Al-Qur’an Jilid
11. Terj. As’ad Yasin (dkk). Jakarta: Gema Insani, 2003.
RI,Departemen Agama. Al-Qur’an danTerjemahnya.Jakarta: CV. Bumirestu, 1990.
Rifa’i, Muhammad Nasib Ar-. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. Terj. Syihabuddin. Jakarta: Gema Insani, 2012.
Rifa’i, Muhammad Nasib Ar-. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4. Terj. Syihabuddin. Jakarta: Gema Insani, 2012.
Shihab, M.Quraish. Tafsir Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an Vol. 1. Jakarta: Gema Insani, 2002.
Shihab, M.Quraish. Tafsir Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an Vol. 11. Jakarta: Gema Insani, 2002.
Shihab, M.Quraish. Tafsir Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an Vol. 13. Jakarta: Gema Insani, 2002.
Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jari̅r At-.Ja̅mi’ul Baya̅n fi Ta’wi̅l
Al-Qur’a̅n Jilid 2. Terj. Ahsan Askan. Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jari̅r At-.Ja̅mi’ul Baya̅n fi Ta’wi̅l
Al-Qur’a̅n Jilid 4. Terj. Ahsan Askan. Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jari̅r At-.Ja̅mi’ul Al-Baya̅n fi Ta’wi̅l
Al-Qur’a̅n Jilid 20. Terj. Ahsan Askan. Jakarta: Pustaka Azzam,