DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

RINGKASAN ... v

HALAMAN PERSETUJUAN ... vii

TIM PENGUJI ... viii

RIWAYAT HIDUP ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1 Pengertian Penyuluhan ... 10

2.2 Tujuan dan Prinsip-prinsip Penyuluh Pertanian ... 12

2.3 Peranan Penyuluhan Pertanian ... 22

2.4 Pengertian Kelompok dan Kelompok Tani ... 26

2.5 Kelompok Wanita Tani ... 28

2.6 Pembinaan Kelompok Tani ... 31

2.7 Pendapatan Pengolahan Kacang Kace ... 33

2.8 Kerangka Pemikiran ... 34

III. METODE PENELITIAN ... 37

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37

3.2 Data Penelitian ... 37

3.2.1 Jenis data ... 37

3.2.2 Sumber data ... 38

3.2.3 pengumpulan data ... 39

3.2.4 Populasi, responden, dan Informan kunci ... 42

3.3 Konsep Variabel, Indikator, Parameter, dan Skala Pengukuran ... 43

3.4 Instrumen Penelitian... 46

(2)

3.6 Analisis Data ... 49

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 52

4.1 Letak Geografis Kabupaten Klungkung... 52

4.2 Letak Demografi Desa Nyanglan ... 53

4.2.1 Data penduduk ... 53

4.2.2 Kesehatan ... 54

4.3 Letak Geografis Desa Nyanglan ... 54

4.4 Keadaan Sosial ... 55

4.5 Keadaan Ekonomi ... 56

4.6 Struktur Organisasi Pemerintah Desa Nyanglan ... 57

4.7 Sejarah Kelompok Wanita Tani ... 59

4.7.1 Kelompok Wanita Tani Karang Sari ... 59

4.7.2 Kelompok Wanita Tani Merta Sari ... 60

4.8 Struktur Organisasi ... 61

4.9 Pembagian Tugas ... 64

4.10 Kegiatan Pengolahan Kacang Kace ... 65

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 68

5.1 Karakteristik Responden ... 68

5.1.1 Status perkawinan ... 68

5.1.2 Umur ... 68

5.1.3 Tingkat pendidikan formal ... 70

5.1.4 Pekerjaan ... 71

5.1.5 Anggota rumah tangga ... 72

5.2 Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) ... 74

5.2.1 Peran penyuluh pertanian sebagai edukator ... 75

5.2.2 Peran penyuluh pertanian sebagai diseminasi informasi/inovator ... 77

5.2.3 Peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator... 79

5.2.4 Peran penyuluh pertanian sebagai konsultan ... 81

5.2.5 Peran penyuluh pertanian sebagai supervisior .... 82

5.2.6 Peran penyuluh pertanian sebagai monitoring .... 84

5.2.7 Peran penyuluh pertanian sebagai evaluator ... 86

5.3 Tingkat Pendapatan Pengolahan Kacang Kace pada Kelompok Wanita Tani (KWT) ... 87

VI. SIMPULAN DAN SARAN ... 90

6.1 Simpulan ... 90

6.2 Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 92

(3)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Halaman

3.1 Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita

Tani ... 43

3.2 Kategori Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok

Wanita Tani ... 51

4.3 Tugas Karyawan Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Merta

Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten

Klungkung ... 64 5.1 Distribusi Jumlah Responden Berdasarkan Kelompok Umur pada

Kwt Karang Sari dan Merta Sari ... 70

5.2 Tingkat pendidikan formal responden Kelompok Wanita Tani

Karang sari dan Merta sari ... 71

5.3 Jenis Pekerjaan Pokok dan Sampingan Responden Kelompok

Wanita Tani Karang Sari dan Merta Sari ... 72

5.4 Distribusi Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden

Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Merta Sari ... 73

5.5 Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita

Tani dalam Pengolahan Kacang Kace Dilihat dari Total

Pencapaian Skor Untuk Masing-masing Indikator ... 74

5.6 Peran Penyuluhan Pertanian sebagai Edukator, pada KWT

Karang sari dan KWT Merta Sari ... 75

5.7 Peran Penyuluh Pertanian sebagai Diseminasi Informasi/

Innovator, pada KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari ... 77

5.8 Peran Penyuluh Pertanian sebagai Fasilitator, pada KWT Karang

Sari dan KWT Merta Sari ... 79

5.9 Peran Penyuluh Pertanian sebagai Konsultan, pada KWT Karang

Sari dan KWT Merta Sari ... 81 5.10 Peran Penyuluh Pertanian sebagai Supervisor, pada KWT Karang

Sari dan KWT Merta Sari ... 83 5.11 Peran Penyuluhan Pertanian sebagai Monitoring, pada KWT

Karang sari dan KWT Merta Sari ... 84

5.21 Peran Penyuluhan Pertanian sebagai Evaluator, pada KWT

(4)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Halaman

2.1 Kerangka Pemikiran Peran Penyuluh Pertanian dalam

Pembinaan Kelompok wanita Tani ... 36

4.1 Struktur Organisasi Kelompok wanita Tani Karang sari

Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten

Klungkung ... 62

4.2 Struktur Organisasi Kelompok wanita Tani Merta sari

Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten

Klungkung ... 63

4.4 Proses Pengolahan Kacang Kace pada Kelompok Wanita

Tani Karang sari dan Merta Sari di Desa Nyanglan,

Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung ... 67

(5)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Halaman

1 Kelompok Wanita Tani Karang sari ... 97

2 Kelompok Wanita Tani Merta sari ... 98

3 Kuesioner Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan Kelompok Wanita Tani ... 99

4 Hasil Uji Reliabilitas dan Validitas Kuesioner ... 114

5 Karakteristik Responden ... 115

6 Rekapitulasi Kuesioner ... 116

(6)

ABSTRAK

Ni Putu Wulan Suwarningmas. NIM 1205315065. Peran Penyuluh Pertanian Dalam Pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT), ( Kasus Pengolahan Kacang Kace “Canavalia” pada KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung). Dibimbing oleh: Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si. Dan Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP, M.Si.

Penyuluhan pertanian merupakan pendidikan non formal yang dilaksanakan oleh petani untuk mengubah perilaku petani, sehingga petani menjadi semakin maju. Melalui komunikasi yang efektif dapat menunjang keberhasilan penyuluhan pertanian, yang lebih penting adalah mengubah sikap dan perilaku masyarakat pertanian agar mereka tahu dan mau menerapkan informasi yang disampaikan oleh Penyuluh Pertanian. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi peran penyuluh pertanian dalam pembinaan Kelompok Wanita Tani baik peranannya sebagai edukator, diseminasi informasi/inovator, fasilitator, konsultan, supervisior, monitoring, dan evaluasi. Penelitian ini berlokasi di KWT Karang Sari dan Merta Sari, lokasi penelitian dipilih secara purposive sampling. Pengambilan responden menggunakan metode sampling jenuh sesuai dengan jumlah anggota KWT yaitu sebanyak 14 orang, dan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, yaitu penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran serta penjelasan tentang variabel yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran penyuluh pertanian dalam pembinaan KWT khususnya dalam pengolahan kacang kace pada KWT Karang Sari dan Merta Sari sudah mampu berperan dengan baik dalam menjalankan tugasnya. Pendapatan anggota KWT responden masih di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), yaitu Rp 1.839.750,00 perbulan. Hal ini berarti penyuluh diharapkan membina kelompok wanita tani dalam pengolahan kacang kace agar memiliki nilai jual yang tinggi guna

menciptakan kemandirian dan kreatifitas petani dalam berinovasi

mengembangkan produk olahan kacang kace.

(7)

ABSTRACT

Ni Putu Wulan Suwarningmas. Registration 1205315065. The Role of Agricultural Extension in the Development of Women Farmers Group (KWT), (A Case on Kace Canavalia Bean Processing on the KWT of Karang Sari and KWT of Merta Sari in the Village of Nyanglan, Sub-District of Banjarangkan, Regency of Klungkung). Supervised by: Dr. Ir. I Dewa Putu Oka Suardi, M.Si. and Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP, M.Si.

Agricultural extension is a non formal education conducted by farmers to change the behavior of farmers, so that farmers become more advanced. Effective communication can support the success of agricultural extension, more importantly is to change the attitude and behavior of agricultural communities so that they learn and want to apply the information provided by Agricultural Extension. The objective of the research was to identify the roles of agricultural extension officers in the promotion of Women Farmers Group, either their role as educator, information dissemination/innovator, facilitator, consultant, supervision, monitoring and evaluation. The research was conducted in the KWT of Karang Sari and Merta Sari, the location of the study was chosen by purposive sampling. Selection of respondents was by saturated sampling method in accordance with the number of members of KWT i.e. as many as 14 people, and by using descriptive qualitative analysis method, i.e. the research aimed to provide description and explanation of the variables studied. The findings of the research showed that the role of agricultural extension in the KWT guidance, especially in the processing of Canavalia bean at KWT Karang Sari and Merta Sari has been able to play well in carrying out their duties. Revenue of KWT member of respondent is still below the Minimum Wage of Regency / City (UMK), which is Rp. 1,839,750.00 per month. This means that the extension workers are expected to foster the group of women farmers in processing Canavalia bean to have a high selling value in order to create independence and creativity of farmers in innovating to develop processed Canavalia bean products.

Keywords: role, extension workers, Women Farmers Group, Processing of Kace Canavalia Beans

(8)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan pertanian di Negara Indonesia masih terkendala oleh banyak faktor yang menyebabkan sulitnya bagi para petani untuk berkembang, oleh karena itu dibutuhkan fasilitator yang dilakukan oleh pekerja pengembangan masyarakat antara lain sebagai orang yang mampu membantu masyarakat agar masyarakat mau berpartisipasi dalam kegiatan bertani, orang yang mampu mendengar dan memahami aspirasi masyarakat, mampu memberikan dukungan, mampu memberikan fasilitas kepada masyarakat (Mosher,1996).

Orang yang melakukan penyuluhan adalah petugas penyuluh pertanian. Petugas penyuluh pertanian tersebut merupakan petugas yang memiliki kompetensi dibidang pertanian. Kemampuan komunikasi yang baik oleh petugas penyuluh pertanian juga sangat dibutuhkan sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh semua petani. Untuk lebih mengefisienkan penyuluhan yang dilaksanakan, maka kegiatan penyuluhan dilakukan pada kelompok-kelompok tani yang sebelumnya dibentuk, tidak terkecuali penyuluhan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT). Kelompok Wanita Tani merupakan sekumpulan dari beberapa petani wanita atau istri petani yang kemudian membentuk kelompok. Pembentukan Kelompok Wanita Tani tersebut dengan atau tanpa bantuan petugas penyuluh pertanian. (Mardikanto,2002).

Penyuluhan pertanian merupakan pendidikan non formal yang dilaksanakan oleh petani. Tujuan dari penyuluhan tersebut untuk mengubah perilaku (pengetahuan, sikap dan keterampilan) petani, sehingga petani menjadi

(9)

semakin maju. Penyuluhan pertanian juga merupakan tonggak awal pembangunan pertanian, karena melalui penyuluhan pertanian petani dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam menjalankan usahataninya (Mardikanto,1993).

Peran penyuluh pertanian sebagai petugas yang mempersiapkan para petani dan pelaku usaha pertanian lain sudah mulai tumbuh yang antara lain dicirikan dari kemampuannya dalam mencari, memperoleh, dan memanfaatkan informasi, serta tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan keterampilan yang dikelola oleh petani sendiri. Sejalan dengan berubahnya paradigma pembangunan pertanian dilakukan melalui pendekatan partisipatif untuk lebih meningkatkan peran serta aktif petani dan pelaku usaha pertanian lainnya (Deptan,2008).

Pembinaan usahatani melalui kelompok tani tidak lain adalah sebagai upaya percepatan sasaran. Petani yang banyak jumlahnya dan tersebar di pedesaan yang luas, sehingga dalam pembinaan kelompok diharapkan timbulnya cakrawala dan wawasan kebersamaan memecahkan dan merubah citra usahatani sekarang menjadi usahatani masa depan yang cerah dan tetap tegar. Adapun tujuan

dibentuknya kelompok tani adalah untuk lebih meningkatkan dan

mengembangkan kemampuan petani dan keluarganya sebagai subjek

pembangunan pertanian melalui pendekatan kelompok agar lebih berperan dalam pembangunan. Kelompok tani merupakan suatu bentuk perkumpulan petani yang berfungsi sebagai media penyuluhan yang diharapkan lebih terarah dalam perubahan aktivitas usahatani yang lebih baik lagi. Aktivitas usahatani yang lebih baik dapat dilihat dari adanya peningkatan-peningkatan dalam produktivitas usahatani yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani sehingga

(10)

akan mendukung terciptanya kesejahteraan yang lebih baik bagi petani dan keluarganya (BPLPP, 1990).

Pengembangan sektor usaha kecil seperti usaha pertanian dapat di manfaatkan oleh anggota rumah tangga untuk bekerja sebagai upaya meningkatkan pendapatan keluarga. Upaya peningkatan pendapatan ini dapat ditempuh melalui usaha produktif seluruh sumber daya manusia yang ada dalam keluarga. Mengingat susahnya mencari pekerjaan, menyebabkan pendapatan masing-masing keluarga menurun. Hal ini mendorong istri yang semula hanya sebagai ibu rumah tangga mulai berperan di bidang usaha pertanian untuk membantu pendapatan keluarga.

Wanita merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari peningkatan kualitas pembangunan sumber daya manusia (SDM), untuk meningkatkan peran aktif dalam kegiatan pembangunan dalam kaitannya mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera dan bahagia dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya sudah tentu pembinaan peranan wanita perlu dilakukan. Wujudnya bisa dilakukan melalui kegiatan bimbingan kepemimpinan untuk kemudian difungsikan dalam pelaksanaan bimbingan keterampilan ekonomis produktif agar potensi sumber daya yang ada disekitarnya dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, program pembinaan kepada para wanita disemua sektor semakin ditingkatkan.

Pengembangan sumberdaya manusia pertanian dinilai sangat penting karena meningkatnya kualitas sumberdaya manusia, akan mampu mengatasi problema pertanian yang penuh risiko tidak hanya dalam peningkatan produksi, tetapi juga dalam peningkatan pendapatan dan pengembangan usaha pertanian.

(11)

Dengan demikian, di Indonesia kegiatan pembangunan pertanian banyak ditekankan melalui pemberdayaan sumberdaya manusia, upaya ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan pertanian yang antara lain dilakukan melalui pendekatan kelompok. Oleh karena itu, para penyuluh pertanian membentuk dan mengembangkan kelompok-kelompok tani sebagai wadah belajar dan beragam kegiatan dibidang pertanian (Hariadi, 2011).

Melihat pentingnya peran PPL dan pentingnya inovasi yang disampaikan olehnya, PPL harus mampu menjadi seorang pemimpin yang dapat membina dan meningkatkan kemampuan petani dalam usaha bersama mengubah kehidupan menjadi lebih baik. PPL harus mampu berperan sebagai komunikator yang baik supaya inovasi yang disampaikan dapat dimengerti oleh para petani. Agar para petani yang dibinanya bergairah dan bersemangat untuk berusaha mencapai cita-cita kehidupan, maka PPL juga harus berfungsi sebagai motivator yang tangguh atau orang yang membangkitkan motivasi masyarakat yang dibinanya dalam tugas sebagai penyuluh pertanian. PPL juga merupakan fasilitator yang membantu petani untuk melaksanakan proses usahataninya (Zulkarimein, 1990).

Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Merta sari, di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, terletak disebalah Utara Kota Kecamatan Banjarangkan dengan batas-batas: sebelah Selatan Desa Timuhun, sebelah Barat Tukad Yeh Bubuh, sebelah Timur Tukad Yeh Jinah, dan sebelah Utara Desa Bangbang. Kelompok Wanita Tani Karang Sari terbentuk pada tahun 2003 yang beranggotakan delapan orang, dan Kelompok Wanita tani Merta Sari berdiri pada tahun 2006 dan baru dikukuhkan atau disahkan pada tahun 2014 yang beranggotakan enam orang. Kelompok Wanita Tani ini merupakan

(12)

Kelompok Wanita Tani yang masih aktif dalam proses pengolahan kacang kace dan selalu menghasilkan produk olahan kacang yang baik dan memiliki kualitas yang tinggi sehingga sampai menembus pasaran dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Merta Sari merupakan kelompok tani binaan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Klungkung yang masih eksis menjalankan program home industry. Dibentuknya Kelompok Wanita Tani sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar karena dapat membuka atau memberikan lapangan pekerjaan bagi anggota Kelompok Wanita Tani tersebut atau bagi masyarakat yang membutuhkan. Adapun usaha yang dikembangkan oleh anggota Kelompok Wanita Tani ini antara lain : pengolahan kacang asin, kacang kace, dan kacang kapri.

Kecamatan Banjarangkan Kabupaten klungkung memiliki paling sedikit dua kelompok wanita tani. Kelompok wanita tani ini dibentuk untuk mewadahi wanita tani ataupun istri petani dalam berbagai kegiatan. Kegiatan yang dilakukan kelompok wanita tani tersebut sangat beragam. Kegiatan tersebut melibatkan petugas penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian dalam kelompok wanita tani tersebut memiliki banyak peran yang membantu kelompok wanita tani agar selalu dapat berkembang. Melalui kegiatan yang dilakukan oleh kelompok wanita tani dapat dilihat perkembangan kelompok tersebut. Perkembangan kelompok wanita tani antara satu dengan yang lainnya berbeda. Melalui peran penyuluh, petani diharapkan menyadari akan kekurangannya atau kebutuhannya, melakukan peningkatan kemampuan diri dan dapat berperan dimasyarakat dengan lebih baik.

(13)

Melalui penyuluhan pertanian, masyarakat pertanian dibekali dengan ilmu, pengetahuan, keterampilan, pengenalan paket teknologi dan inovasi baru di bidang pertanian, penanaman nilai-nilai atau prinsip agribisnis, mengkreasi sumber daya manusia dengan konsep dasar filosofi rajin, kooperatif, inovatif, kreatif dan sebagainya. Penyuluh Pertanian dapat dan harus menggunakan teknik-teknik komunikasi yang paling efektif agar sasaran mau menerapkan pengetahuan barunya itu. Melalui komunikasi yang efektif dapat menunujang keberhasilan penyuluhan pertanian, yang lebih penting lagi adalah mengubah sikap dan perilaku masyarakat pertanian agar mereka tahu dan mau menerapkan informasi anjuran yang dibawa dan disampaikan oleh Penyuluh Pertanian, namun kenyataannya masih banyak dijumpai di dalam masyarakat bahwa kegiatan penyuluhan pertanian masih dianggap kurang berhasil bahkan di beberapa tempat malah tidak berjalan.

Menurut Theodurus M.Tuanakotta (2000) pendapatan didefinisikan sebagai hasil dari suatu perusahaan. Pendapatan adalah darah kehidupan dari suatu perusahaan. Mengingat pentingnya sangat sulit mendefinisikan pendapatan sebagai unsur akuntansi pada dirinya sendiri. Pada dasarnya pendapatan adalah kenaikan laba. Seperti laba pendapatan adalah proses arus penciptaan barang atau jasa oleh suatu perusahaan selama suatu kurun waktu tertentu. Perkembangan suatu perusahaan atau usaha dapat dilihat dari tingkat pendapatan yang diperoleh. Peran penyuluh pertanian dalam pembinaan kelompok wanita tani bukan hanya dilihat dari segi kinerjanya saja tetapi dari segi tingkat pendapatan yang diterima oleh kelompok wanita tani tersebut. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis sengaja memilih judul skripsi Peran Penyuluh Pertanian dalam Pembinaan

(14)

Kelompok wanita Tani (kasus pengolahan kacang kace (canavalia) pada KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung) karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pertanian. Untuk itulah dibutuhkan dukungan dari sistem penyuluhan yang handal sebagaimana yang diamanatkan di dalam Undang-undang nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Bagaimana peran penyuluh pertanian dalam pembinaan Kelompok Wanita Tani (kasus pengolahan kacang kace pada KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari) di Desa Nyanglan Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung ? 2. Berapakah pendapatan pengolahan kacang kace pada KWT Karang Sari dan

KWT Merta Sari di Desa Nyanglan Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui Peran penyuluh pertanian dalam pembinaan kelompok Wanita Tani (kasus pengolahan kacang kace pada KWT Karang Sari dan

(15)

KWT Merta Sari) di Desa Nyanglan Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

2. Untuk mengetahui pendapatan pengolahan kacang kace pada KWT Karang Sari dan KWT Merta Sari) di Desa Nyanglan Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diarapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi berbagai pihak, sebagai berikut.

1. Pemerintah, sebagai salah satu masukan dan informasi pendukung atau pelengkap bagi dinas terkait dan sebagai rujukan pengambilan sikap untuk memutuskan suatu kebijakan dalam mengembangkan sektor pertanian dalam pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) kususnya dalam pengolahan kacang kace.

2. Penyuluh, diharapkan dapat sebagai acuan dalam melaksanakan tugasnya pada masa yang akan datang.

3. Sebagai bahan informasi dan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah kelompok tani dalam rangka pembinaan dan pengembangan kelompok tani dipedesaan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini di lakukan di Kelompok Wanita Tani Karang Sari dan Kelompok Wanita Tani Merta Sari di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung dan aspek yang diteliti mencakup Peran Penyuluh

(16)

Pertanian dalam Pembinaan KWT dan pendapatan pengolahan kacang kace (kasus pengolahan kacang kace pada KWT karang Sari dan KWT Merta Sari) di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Pemilihan lokasi dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling.

(17)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :