RISALAH
RAPAT PANJA KOMISI IX DPR-RI
Tahun Sidang Masa Persidangan Hari/Tanggal Pukul Tern pat Acara Ketua Rapat Sekretaris Rapat Hadir : 2002-2003 : I : Sabtu, 21 September 2002
Pembahasan Ruu tentang Surat Utang Negara Drs. SUDIRMAN, S.E, Msi.
USIJANA, S.H (Lihat Daftar Hadir)
KETUA RAPAT ( DRS. SUDIRMAN, S.E., Msi): Assalamu'alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua
Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang kami hormati. Setelah kita memenuhi kuorum, maka skors rapat dengan resmi kami buka kembali.
(RAPAT DIBUKA) Bapak-bapak dan lbu-ibu yang kami hormati.
Sebelum kami kern bali ke materi pembahasan, kami menginformasikan bahwasanya Rapat Badan Musyarawah DPR-RI hari Kamis itu memutuskan pendapat akhir keputusan Surat Utang Negara dijadwalkan oleh DPR hari Selasa. Berarti kita tidak ada lagi waktu kecuali kalau ketentuan Bamus itu tidak bisa kita laksanakan yaitu kita masih memerlukan waktu untuk Plena Komisi dalam rapat kerja dan saya minta ke Sekretariat karena kita tidak ada lagi waktu, perintah Bamus demikian, hari Senin itu malam karena paginya Paripuma, kemudian siang kita sudah dijadwalkan dengan Menteri HAM, maka kita rencanakan jadwalnya itu hari Senin malam. Untuk sampai ke Plena Komisi, kami selaku Pimpinan Panja harus menyusun laporan.
Jadi kami merencanakan karena hanya 3 Pasal yang tertunda, kalau bisa kita selesaikan pagi ini langsung Tim Perumus Tim Singkronisasi bekerja. Karena seharusnya malam tadi Tim Perumus Tim Singkronisasi seharusnya sudah bekerja. Tetapi tidak apa-apa, ini demi kebaikan kita semua. Nanti siang itu kami menyusun laporan sehingga yang ingin check out nanti siang itu dapat melaksanakan, yang tidak itu bisa juga dilaksanakan. Karena saya dengan dari ternan-ternan, ternan-ternan harus menyiapkan juga PA dan lain sebagainya, rnasing-masing Fraksi. Jadi ini hanya informasi yang saya ingin sampaikan sehingga kita dapat memakluminya.
' Baiklah, Bapak-Bapak, Ibu-ibu yang kami horrnati.
Kita kern bali kepada yang tertinggal adalah Pasal20 dan Pasal 21 secara paket. Kernudian catatan usul FKB untuk menarnbah ayat (3) dalarn DIM catatan yang Pasal8, konsekuensi daripada Pasal8 ayat (2). Karena malarn tadi kita sudah mernulai Pasal 20 dan kelihatannya sudah ada gambaran titik temu, namun demikian kita beri kesempatan Pemerintah, posisi terakhir Pemerintah. Kemudian penjelasan terakhir Pernerintah dari rnasukan-rnasukan yang diberikan Anggota malam tadi. Sehingga kalau itu sudah oke dengan penjelasan dan lain sebagainya, kalau Bapak-bapak tidak keberatan kita ketok
terus langsung yang lainnya kita coba selesaikan. Kami persilahkan Pemerintah.
PEMERINTAH/DIRJEN LK DEPKEU (DARMIN NASUTION): Terima kasih Bapak Ketua. Bapak-bapak yang terhormat. Mengenai Pasal 20 mohon ditayangkan yang kita sudah coba rumuskan tadi malam. Pasal20 di dalam Batang Tubuh sebagaimana kamijelaskan tadi malam, itu cukup seperti aslinya saja, dimana nanti untuk Butir c. "Pinjaman Dalam Negeri dalam bentuk Surat Utang ", itu pengertiannya meliputi Surat Utang dalam rangka BLBI, Surat Utang dalam rangka penjaminan. Sehingga di dasar hukumnya penjelasannya itu perlu ditambahkan 3 Keppres yang beluni disebutkan. Yajadi a adalah "Peraturan Pemerintah No. 84 tahun 1998 tentang Program Rekapitalisasi Bank Umum". Ini adalah dasar hukurr untuk obligasi Negara dalam rangka rekapitalisasi. Kemudian b. "Keputusan Presiden No. 17 tahun 1978 tentang Pinjaman Luar Negeri dalam bentuk Surat Utang atau Obligasi.
Memangjudulnya begin! Pak, ini adalah dasar hukum untuk mengeluarkan yanke bond itu, yang di Butir b juga di Batang tubuhnya. Jadi ini a ke a, b ke b. bini menjelaskan dasar hukum untukyanke bond, c, "Keputusan Presiden No. 55 tahun 1998 tentang Pinjaman Dalam Negeri dalam bentuk Surat Utang". Memang bukan hanya ini dasar hukum untuk Butir c di Batang Tubuh. Butir c di Batang Tubuh adalah Surat Utang dalam rangka pinjaman dalam Negeri. Sebetulnya c ini mestinya bersama-sama disampaikan dengan e, f dan g, supaya tetap tidak merubah a penjelasannya a, b penjelasannya b, c penjelasannya c, sehingga supaya tidak merubah urutannya itu. Setelah kami baca kembali hubungan antara Batang Tubuh dan penjelasannya maka Butir c ini, Keputusan Presiden No. 55 tahun 1998 tentang Pinjaman Dalam Negeri dalam bentuk Surat Utang, termasuk ...
Nah kemudian to long dicopy yang Butir e, tidak termasuk e-nya ya, itu di move ke c, setelah "termasuk", f di move, kemudian g di move lagi supaya tidak merubah hubungan antara Batang Tubuh dan penjelasan. Titik koma dan. Nah dengan demikian c ini memang adalah seluruh dasar hukum untuk c yang di Batang Tubuh. Itu meliputi Surat Utang 001, 002, 003, 004 dan 006. 005 itu adalah kredit program. Itu yang b. Jadi c itu adalah kalau nanti dilihat dihubungkan antara Batang Tubuh dengan penjelasan ini, itu meliputi SU 001, 002, 003, 004, 006. Adapun 006 itu penjaminan yang belakangan sekali. Ini urutannya karena Batang Tubuh itu tadinya penje1asan ini, Butir a
penjelasan berdasar hukum untuk Butir a Batang Tubuh, begitu. Butir b penjelasan berdasar hukum untuk Butir b Batang Tubuh. Nah yang c ini adalah dasar hukum untuk Surat Utang dalam rangka Pinjaman Dalam Negeri.
Tetapi begini Pak, tadi malam itukan Pak Soemitro mengatakan loan agreement itu adalah Surat Utang. Setelah kami coba buka-buka memang karena kita huang waktu ketentuan umum kata-kata "Surat berharga". Jadi Surat Utang Negara adalah ... "Surat berharga" itu dulu dibuang itu, sehingga sulit membedakan antara loan agreement dengan Surat Utang. Di ketentuan umum dulu Pak, dulu awalnya itu "Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia". Akhirnya waktu Pansus didroplah kata-kata "surat berharga" itu, sehingga menjadi "Surat Utang Negara adalah surat pengakuan utang", langsung begitu.
KETUA RAPAT :
Apa kita usulkan lagi ke Pleno untuk dihidupkan kembali ? PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) :
Sebetulnya kalau mau sempuma untuk tidak ada celah masuknya loan agreement menjadi Surat Utang Negara, maka memang perlu surat berharga itu Pak. Mohon maafPak Ketua, yang namanya Surat Utang Negara memang hanya ini, tetapi kalau yang lain itu loan agreement itu. Jadijustru perbedaannya itu di surat berharganya itu Pak. Loan agreement itu bukan surat berharga.
ANGGOTA F-KKI (F. X. SOEMITRO) :
Itu saya setuju Pak. Kalau kita menggunakan Prof. DR. Pangaribuan atau siapa . .itu surat berharga itu hanya saya katakan wese] sebetulnya, cek, aset, itu surat berharga. Yang lain itu adalah itu negosible instrument Pak. Yang lain itu adalah letter of value. Nah sekarang kita menggunakan letter of value atau negosible instrument, itu saja. Kalau kita bicara surat berharga negosible instrument itu memang loan agreement tidak masuk Pak. Tetapi kalau kita bicara letter of value, loan agreement itu masuk. Nah sedangkan ini yang diatur judulnya adalah "Surat Utang Negara". Bukan surat berharga loh Pak, Surat Utang Negara. Judulnya Surat Utang Negara. Dari awal mengenai judul ini kita sudah ribet itu. Kalau Surat Utang Negara berarti perjanjian apapun yang berakibat pembayaran utang bagi Negara, itu adalah
Surat Utang. Jadi termasuk loan agreement. Kalau ini tidak dilegalisir tidak diberikan legalitas di dalam Undang-Undang, begitu Undang-Undang ini keluar, utang Negara hanya ini loh Pak. Saya hanya mengatakan utang Negara ini yang dijamin di dalamAPBN. Oh saya setuju sekali.
Jadi oleh karena itu sekalipun ini dulu di Pansus di drop, kita boleh saja kembali. Apakah nanti kita selesaikan di Pansus atau kita bagaimana. Jangan nanti timbul suatu interpretasi, muncul ini jadi onar. Ada yang mengatakan utangnya hanya ini, loan agreement tidak utang. Wah nantikan menimbulkan kekacauan. Ini masalahnya Pak.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARWIN NASUTION ) :
Bapak Ketua, sebetulnya RUU tentang Pinjaman dan Hi bah Luar Negeri itu sedang di Sekneg sekarang. Tidak lama lagi juga akan dikirim ke DPR, kalau Presiden sudah setuju. Jadi itu adalah rezim sendiri yang mengatur pinjaman dan hi bah luar negeri. Ini adalah rezim yang mengatur surat berharga yang namanya Surat Utang Negara.
KETUA RAPAT :
Baiklah. Ini mungkin lebih bagus kita putar saja. Jadi nanti kita pikirkan. Kalau yang kita tangkap dari Pak Mitro, Surat Utang secara value itu termasuk loan agreement. Tetapi menurut Pemerintah, di sini yang diatur hanya Surat Berharga berkenaan dengan Surat Utang Negara. Jadi nanti mungkin bisa kita pertimbangkan memunculkan kembali kata yang didrop. Jadi ini nanti akan kita pertimbangkan memasukkan lagi kata-kata yang hilang itu, sehinggajelas ini adalah Surat Utang Negara yang dalam Surat Berharga. Karena tadi saya dengar mengenai loan agreement itu akan ada Undang-Undangnya yang sekarang sudah masuk ke Sekneg. Nanti kita lihat bagaimana yang sebetulnya. Jadi ini dari gambaran penjelasan Pak Mitro dan Pemerintah yang isinya yang kami tangkap itu, kami mohon tanggapan daripada rekan-rekanAnggota Panja. Dari PDI Perjuangan dulu. Silahkan Pak.
ANGGOTA F-PDIP (DRS. POLTAK SITORUS ) :
Bapak Pimpinan, Bapak-bapak Anggota Dewan yang saya hormati. Bapak-bapak dari Departemen Keuangan ... Saya sebenamya sepakat dengan apa yang tadi dikemukakan oleh Pak Dirjen. Sebenamya DIM 21 itu ada kaitannya dengan DIM 33. Yang karena di sana mungkin memang kata "surat berharga" itu harus kerhbali kalau kita menyetujui DIM 33. Karena di dalam DIM 33 dikatakan bahwa Surat Utang Negara sebagaimana ... disebutkan dalam
bentuk yang .... J adi itu berarti bahwa maknanya adalah bahwa Surat Utang Negara ini adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan ... Jadi surat berharganya itu yang penting karena ini untuk tadi menjawab barangkali apa yang diidenya Pak Mitro. Karena kalau Pak Mitro itu seluruh utang Negara itu perjanjian antara Negara yang satu dengan Negara yang lain. Itu memang bukan Surat Utang Negara tetapi itu hutang Negara, barangkali memang beda. Apa yang dirumuskan pada DIM 21 hubungannya sampai dengan DIM 32. Terima kasih.
ANGGOTA F-KB (H. ARIS AZHARI SIAGIAN, S. H. ) : Pak Dani sendiri mengatakan .... bahwa Surat Utang Negara itu ada yang bisa diperdagangkan, ada juga yang tidak bisa diperdagangkan. Ini kongkrit loh Pak. Saya setuju itu, pendapat itu saya setuju. Ba'k itu yang bisa diperdagangkan maupun yang tidak diperdagangkan.
Jadi Surat Utang Negara itu ... , yang bisa diperdagangkan dan yang tidak bisa diperdagangkan. Saya setuju Pak. Prinsip itu saya setuju. Hanya kita langsung mengatakan yang sebetulnya yang diperdagangkan yang mana ? Kita memberikan rumusan kepada Surat Utang yang dapat diperdagangkan. Undang-Undang ini masuk ... sebagai yang menyusun konsep. Yang dimaksudkan Undang-Undang ini adalah Surat Utang Negara yang bisa diperdagangkan saja. Kalau loan agreement itu bukan Surat Utang, loan agreement.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ) :
Nab Pak, sehingga kita rumuskanlah di defmisi. Kalau non tradeble atau tradeble, memang. Biarpun dia security berhakyang mengeluarkan Surat Utang itu mengatakan boleh diperdagangkan atau juga dia berhak mengatakan tidak boleh diperdagangkan. Asal yang menerima Surat Utang ini nanti setuju. Dia tidak perlu teken Pak. Kalau loan agreement itu yang memberikan utang atau yang menjadi pemegang piutang, itu harus teken. Kalau Surat Utang Negara hanya sepihak diteken dan orang yang percayalah yang mau menerimanya. Itu sebabnya dia disebut.. .. surat berharga pengakuan utang. Secara umum dia itu sebenarnya diperdagangkan, tetapi seperti kasus Surat Utang kepada BI karena kita tidak ingin dia nanti menjadi security utang kemana-mana, Pemerintah bilang ke BI, kita keluarkan Surat Utang tetapi tidak boleh diperdagangkan ya. Ya kata BI, kita buat. Tetapi kalau obligasi itu Pak, kan Surat Utang Negara itu ada Surat Utang ada Obligasi Negara. Obligasi Negara itu Pak, itu tidak pernah ada klausulnya, tidak boleh
diperdagangkan. Memang nanti dibagi dua Pak. ANGGOTA ( ... ):
Perdebatan ini Pak Mitro sebetulnya di belakang. Pak Mitro kan datang belakangan, sehingga sebetulnya kita balik lagi. Jadi kalau bicara soal Surat Utang sebagai nama apa, itu sudah kita bicarakan. Sudah lewat Pak Mitro. Jadi kalau kita mau balik lagi ke sini memangjuga akan terjadi pembicaraan mentah lagi.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ) : Kalau mau kepastian itu yang diperlukan, di ketentuan umum Butir 1 itu, Surat Utang Negara adalah Surat berharga yang berupa dan seterusnya. Kemudian perjanjian pinjaman luarnegeri tidak termasukdi dalam Surat Utang Negara ini. Kita buat begitu.
KETUA RAPAT :
Begini Pak Darmin. J adi betul dalam Pansus itu bunyinya itu, itu yang pengusulnya adalah PDIP, menghilangkan "surat berharga". Itu tgl. 8 Juli, itu usul PDIP. Itu menghilangkan "surat berharga". Tetapi tgl. 13 Juli Pak Poltak itu sudah cabut lagi Pak, munculkan lagi "surat berharga". Tetapi ini ketik masih memakai tidak memasukkan "surat berharga". Jadi berarti kesalahan tukang ketik. Jadi Pak Mitero tidak salah, ini yang salah tukang ketik. Dokumennya saya ada, tanggalnya saya ada.
ANGGOTA F-PDIP (DRS. POLTAK SITORUS) :
Baik, saya pikir demikian Pemerintah. Memang kami cabut pada waktu itu.
KETUA RAPAT :
Di Penjelasan Umum. Oke, Pak Darmin kita tambahkan satu klausul di penjelasan umum. Ya Tim Perumus tolong nanti diingat ya. Ini dicatat Sekretariat. Oke ya ? Berarti ini sudah selesai masalahnya ya, Baik. Jadi penjelasannya PakAli, nanti di Ketentuan Umum, "Surat Utang Negara yang dimaksud Undang-Undang ini adalah Surat berharga dan lain seterusnya". Nanti di belakangnya Pak Ali ditambah "tidak termasuk yang di dalam loan agreement. Oke ya ? Baik, Bagaimana Pasal20 ini bisa kita ketok? Pasal20 Batang Tubuh penjelasan sudah diterangkan oleh Pemerintah, sudah kita putar, kalau masih ada sebelum diketok, silahkan.
ANGGOTA F -KB ( DRS. H. ALY AS' AD ) :
Justru ini kalau yang Pak Mitro tadi, okelah itu begitu. Tetapi Pasal20, inikan menyangkut rimba raya yang masih penuh masalah itu. Kemudian di Pasal20 itu mau kita sahkan. Kan begitu Pak ceritanya ya. Obligasi yang 655 trilyun
+
40,jadi 695 trilyun itu mau kita .. .loh malah lebih loh. Ini tambah U$ 400 juta, tam bah lagi ... tidak tahu lagilah, pokoknya ban yak sekali. Ini artinya mau kita sahkan dengan Pasal20 ini yaitu terbukti pada DIM yang No. 112. Dinyatakan sah dan tetap berlaku sampai dengan saatjatuh tempo, kan begitu. Nah kalau itujustru inti diskusinya kan di sini sejak kemarin. Kalau kami dari Fraksi PKB tetap mengusulkan dilakukan verifikasi dulu itu semua. Yang dinyatakan sah itu yang mana. Ini kalau kita diskusi ini bisa lamalah pokoknya, apalagi ada BLBI, ada yanke bond, ada macam-macam itu. Sudah pokoknya lama. Karena itu begini Pak, kalau ini disetujui, oke ya. Misalnya dilakukan verifikasi dan diajukan ke DPR untuk dimintakan persetujuan dan dibuat Surat Utang Negara yang baru sesuai dengan Undang-Undang ini. Kalau misalnya ini sepakat, oke jalan. Kalau seandainya belum sepakat, kami ada usulan lain. Justru Pasal20 ini dikeluarkan dari Undang-Undang ini. Pasal21 juga begitu. Mengapa? Begini Pak, Undang-Undang inikan kita perlukan untuk memberikan legitimasi terhadap Surat Utang Negara yang stgera akan diterbitkan untuk recikel bond-ltu antara lain, yang sudah padajatuh tempo dalam rangka reprofilling maka nanti akan diterbitkan yang baru berdasar Undang-U ndang ini. Sehingga mereka mau kalau berdasar U ndang-Undang. Tetapi kan kalau kepentingan itu tidak berarti kita melegitimasi yang sudah, kan begitu. Toh itu akan selesai. Justru kita tukar dengan yang berdasar Undang-Undang ini. Jadi Undang-Undang SUN ini bagi saya tidak perlu dibebani untuk melegitimasi yang sudah-sudah. Karena kepentingan kita bukan itu. Kepentingan kita membuat legitimasi terhadap SUN yang segera akan diterbitkan. Apakah dalam rangka mencari pembiayaan pembangunan, dalam rangkajaminan, apa dalam rangka recikel bond, dalam rangka membuat profil jatuh tempo baru ( reprofailing) kita itu, kan begitu.Kemarin Pak Darmin bilang, kalau itu yang dimaksudkan, kalau itu yang diusulkan, itu tidak lazim. Karena biasanya Undang-Undang yang baru itu selalu merupakan lanjutan atau berbicarajuga tentang kasus yang sama atau hal yang sama pada yang sudah terjadi sebelumnya. Sehingga di sini perlu melegitimasi a tau membatalkan atau mengapa hal-hal yang sudah-sudah, kan begitu Pak Darmin kemarin waktu di sana. Nah ini diskusinyajustru di situ Pak. Itu Pak Dirman.
Tetapi saya tetap mengusulkan bahwa ini tidak perlu melegitimasi itu, tori itu sudah berjalan dan juga dibayar bunganya oleh APBN, perlu apalagi kita mengambil resiko untuk melegitimasi sesuatu yang belumjelas, itu Pak. Nah ini saya usulkanjustru di keluarkan toh sanajugajalan. Yang lain beginijustru kita nanti Pemerintah akan punya harga tawar tinggi. Mereka nanti kalau sudah maujatuh tempo akan mudah di nego, sudah deh kita beri obligasi yang baru saja. Toh ini malah berdasar Undang-Undang. Itu yang punya anda kan ? Begitulah kira-kira. Di sini ada ruang negosiasi. Kalau itu sudah dilegitimasi dengan Undang-Undang, ya kan. Undang-Undang ini. Tidak, saya mesti dicash. Wah itu uang siapa itu. Kita tidak bisa lakukan repro fillingjatuh tempo itu. Ini beberapa tuntutan saya dan ini saya sampaikanjustru ingin bagaimana mencari jalan keluar yang aman semuanya menurut pendapat saya. Sebab kalau kita melegitimasi itu ya mohon maaf Pak, kita sendiri bel urn semuanya paham tentang berbagai kasus yang melatarbelakangi itu semua. Dan dengan begitu maka dengan nanti reprofeiling, selesailah sudah itu. Urusan itu sudahlah kita lupakan., tinggal ke depan. Kalau ini kan kita turut berdosa ya, kalau memang itu di sana ada hal-hal yang tidak benar a tau paling tidak kalau kita ... meskipun kita tidak ikut berbuat yang tidak benar, kalau kita menyetujui sesuatu yang kita sendir belum paham itukan tidak sesuai dengan nurani. Ya itu Pak. Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT :
Baik. Jadi ini wacana ya pertanyaan yang diajukan PakAly, to long dijawab oleh Pemerintah karena dalam DIM itu tidak ada. Di Pansus ini di sini FKB Pasal 20 berubah menjadi Pasal 21. FKB redaksional diubah. Silahkan Pemerintah.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ) : Terima kasih Pak Ketua. Bapak-bapak yang terhormat. Jadi Surat Utang maupun Obligasi Negara yang sudah diterbitkan itu ada di pasar sebetulnya sebagian sekarang. Sebagian memang masih di Bank Rekap, sebagian di BI yang tidak diperdagangkan. Jadijustru RUU ini kalau nanti menjadi Undang-Undang, tujuannya sebetulnya memberi rasa aman atau kepastian hukum kepada market kepada publik terhadap Surat Utang maupun Obligasi yang diterbitkan. Bukan hanya nanti Pak, yang sudahpun masuk. Kalau itu sampai jatuh harganya Pak, seluruh Bank kitajuga akan kolep lagi. Karena dia harus mark to market Pak. Kalau pasamya bilang yang Rp.1 00,- itu harganya sudah tinggal Rp.30,- karena tidak dipercayai, maka pembukuan Bank harus mencatat yang 100 itu menjadi 30. maka diasetnya akan terjadi penurunan
drastis sehingga minus lagi dia kapitalnya. Itu Banknya.
Dipihak lain sebagian dari Obligasi N egara yang dalam rangka rekap itu sudah ada di pasar. Perdagangannya sekarang itu sudah pada angka 60 trilyunan. Ini Pak kalau sampai tidak ada rasa aman dan tidak me rasa didukung oleh Undang-Undang, maka harganyapun akan jatuh. Kita mau menerbitkanpun .. repro filling itu Pak tetap saja surat utang yang lama itu kita tank dia lebih panjang umurnya. Jadi bisa ya bisa tidak. Karena minggu depan rencananya Pemerintah akan minta waktu ke DPR untuk menyampaikan itu, reprofilling itu. Begitu disetujui Pak, kita akan laksanakan itu reprofilling itu. Jadi tidak menunggu. Jadi Pak, kepastian hukum dan kredibilitas dari surat utang non obligasi yang sudah diterbitkan dan memang masih beredar sekarang itu, itu tidak kalah pentingnya dengan yang akan diterbitkan di masa mendatang. Jadi kalau itu sampai tidak kita masukkan di dalam lindungan Undang-Undang ini, maka bisa diperkirakan seluruh Bank kita yag direkap mahal-mahal itu akan menghadapi persoalan kembali. Pasar sekunder dari obligasi kita yang diterbitkan dahulu itujuga akan menghadapi persoalan berat. Jadi itu PakAli situasinya. J adi memang dari awal walaupun dikatakan ini salah satu dalam rangka menerbitkan tybills, bukan hanya itu. Itu salah satu saja. Terima kasih Pak.
ANGGOTA F -KB ( DRS. H. ALY AS' AD ) :
Saya sebetulnya tidak ingin ini bertele-tele Pak. Karena kalau kita gugat menggugat ... Karena itu sejak dulu saya kan selalu tanya, obligasi rekap itu apa sudah di pasar. Pemerintah selalu jawab, bel urn di pasar. Hanya waktu itu BPPN melaporkan sudah di pasar, kemudian semua terbuka ternyata sudah di pasar. Ini kami yang sesungguhnya berpikir antisipatif. Sebab kalau di pasar itu pembicaraannya itu sudah menjadi semakin panjang itu. Dulukan harapan kita obligasi itu di sana hanya untuK hitungan aset itu, kemudian dia toh dapat bunga dari APBN untuk dia bisa manfaatkan di dalam praktek perbankan masing-masing. Kan begitu pemikiran kita. Bahwa kemudian sudah di pasar, ini memang belum pemah kita antisipasi. Karena waktu itu paham kita bel urn di pasar. Kalau yang di BI kan jelas tidak di pasar. Oke sekarang sudah di pasar katakan saja. Kurang apa pasar percayanya kalau bunganya sudah dilindungi Undang-Undang APBN. Sudah dijadwalkan di APBN bunganya. Artinya ... sekali itu dengan bunga di APBN.
Bahwa kemudian kita hams memberikan legitimasi yang lebihjauh dengan mengakui bahwa ini sesuai Undang-Undang, ini kan kitamemberikan sesuatu yang lebih daripada yang mereka maui. Pasar yang maui kan bunganya
bunganya ada tidak, ada. Mana ini angkanya, APBN jelas dan Pemerintah tidak akan melanggar APBN. Bahwa obligasi itu berdasar Undang-undang apa tidak. Sejak awal mereka sudah tahu bahwa dasarnya ya itu untuk mereka beli. Ada Peraturan Presiden, ada Peraturan Pemerintah, ada apa, itu dasamya dan itu mereka beli, selama inijuga sudah beranak pinak sudah mendapatkan uang. Saya pikir mereka sudah cukup itu.
Kalau kita kemudian melegitimasi, itu artinya tidak hanya menjamin mereka bakal dapat bunga atau diskonto itu, tetaoi lebih dari itu. Kita melegitimasi semua proses yang berkaitan dengan itu dan saya pikir itu kita malah akan membangkitkan harimau tidur itu. ltu tidak usah kita legitimasi, kita lupakan saja. Toh semua sudah berjalan. Bunganyajuga kita bayar. Kan sudah itu. Nanti membangkitkan harimau tidur. Satu persatu diginikan, waduh itu semua akan tidakjalan kita. Karena itu cabut saja Pasal20 ini. Kita tidak usah melegitimasi yang sudah-sudah. Ini, kemudian aturan penutup, selesailah. Minggu depan kita sahkan atau saya sepakat untuk mensahkan minggu depan, apabila ini tidak terjadi legitimasi terhadap obligasi-obligasi, utang-utang yang sudah-sudah yangjumlahnya sekian itu. Toh itu sudah kita akui via Undang-UndangAPBN yang selalu kita susun dan bunganyapun kita bayar. Dan nanti semua akan bersih jika sudah terjadi reprofilling itu karena diganti dengan yang berdasar Undang-Undang. Semua ini pemikiran kami. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Saya rasa untuk ini bisa kita putar saja. Hanya yang ini saja, perlu kita cantumkan di sini atau tidak. Itu saja. Kalau menurut Pak Aly tidak usah di sini karena itu sudahjalan, tetapi kalau pak Darmin perlu di sini. Ini kita putar saja ya. Darimana dulu? Dari PDIP dulu. Kalau saya kebetulan ternan saya dari Frak.! TNI/POLRI tidak ada, saya izin.
Setahu saya dalam kita membuat Undang-Undang yang baru itu kita inventarisasi Undang-Ujidang yang lama yang biasanya itu kita bawa ke Aturan Peralihan. Biasanya begitu, karena ada yang setahu kami itu bahwasanya Undang-Undang yang baru itu lebih kuat daripada meniadakan Undang-Undang yang lama. Undang-Undang yang lebih tinggi lebih kuat kedudukannya daripada Undang-Undang dibawahnya. Jadi itu ketentuan yang setahu kami dan biasa selalu setisap kita membuat Undang-Undang yang baru itu selalu Undang-' Undang yang lama yang terkait itu, itu kita cantumkan dalam Peralihan. Itu hanya informasi dari kami saja. Sehingga betul tanpa ini, itu jalan sendiri tetapi karena prosedur yang biasa yang kami pribadi tahu dalam menyusun
Undang-Undang begitu, sehingga urgensi ini lebih menguatkan, lebih ada kepastian hukum. Itu dari kami Fraksi TNUPOLRI. Silahkan dari PDI Perjuangan terlebih dahulu.
ANGGOTA F-PDIP ( WILLEIM M. TUTUARIMA, S. H. ) : Terima kasih. Jadi seingat kami dulu Fraksi kami mohon izin untuk berkonsultasi dengan Pimpinan Fraksi. Dan itu sudah kami lakukan dan hasilnya adalah bahwa Fraksi kami memutuskan bahwa kita dapat menerima Pasal20 ini sebagaimana mestinya karena ini utangnya adalah merupakan utang dari institusi Pemerintah yang lalu, kemudian diganti Pemerintah dan dioperkan kepada Pemerintah yang sekarang. Itu konsekuensi logis dari Pemerintah. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, ya oke. PDIP oke, TNI oke. Ya, tambahan. Silahkan Pak Suratal. ANGGOTA F-PDIP ( DRS. SURATAL HW. ) :
Tadi ringkasnya dalam Fraksi kami, kami selaku Wakil Ketua. Memang dulunya itu pemikiran-pemikiran yang saya katakan progresif revolusioner, persis itu. Sudah, tidak usahlah diakui yang lama-lama. Pjrsis peristiwa tahun 1966. Pak Harto muncul tidak mengakui. Hutang-hutang selama Bung Kamo yang dicap Orla-orla. Ringkasnya pikir punya pikir, loh Negara itu punya otoritas tidak? Selama ini utang misalnya tahun 1966 ya, baik itu Negara Kapitalis dan Negara Sosialis Komunis untuk beli senjata itu. Akhirnya mengundang Pimpinan Bank Central Jerman Barat DR. Herman ABS. Ringkasnya 1465 juta dolar dari Negara Barat, 1,1 dari Negara Komunis. Ya akhirnya diakui itu oleh Pemerintahan Pak Harto. Itu suatu contoh dan ini kembali ke sini. Dalam alam reformasi lalu ringkasnya saja hutang Luar Negeri entah itu nanti termasuk itu, masuk apa tidak, katanya tidak, itu ada aturan sendiri US$137,5 milyar. Kemudian yang ini yang Dalam Negeri 659,5 trilyun, tidak usah. Lalu pikir yang utang itu siapa, untuk kepentingan apa. Ringkasnya Negara. Nah sebagai Negara punya otoritas.
Lalu kita hubungkan waktu Presiden Megawati itu menerima sampur dari Presiden Gus Dur yaitu dilantik itu. Semua perjanjian dan pengakuan utang-utang yang lama tetap dihormati. Kami lalu mengambil sikap, ya meskipun ini pahit ini. Ya sudah. Ringkasnya begitu. Jadi latar belakang supaya kita semua menerima itu ada dasarnya bahwa Negara ini memang yang kita cintai. Ringkasnya meskipun banyak hutang pahit dan sebagainya.
Maka tadi saya mengatakan sama Pak Willeim Tutuarima tadi. Kira-kira ini sudah atau belum diaudit. Ini kebenaran dan penggunaannya itu betul apa tidak selama ini. Meskipun Pasal20 ini intinya inti. Di dalam penjelasan ada semacam diligent dari BPK ya, yang lewat-lewat itu resmi sungguh tidak ya atau akal-akalan saja. ltu kurang lebih tadi. Ya syukur kalau itu dari Departemen Keuangan cq Pak Darmin Nasution yang kami cintai kami hormati, benar-benar angka ini tidak dengkulan. Kami yang menanggung dan Menteri Budiono, misalnya begitu ya paling tidak sudah menenteramkan. Tetapi kalau ada surat dari BPK bahwa ini hutang sungguh digunakan. Ini untuk ini, ini untuk ini, alhamdulillah. Jadi kita menerima itu tidak seperti anak kecil, tetapi adajalan pikiran yang sehat. Sebab ini nanti pasti ini diundangkan, ribut di luar. Mesti itu. Apalagi Saudara-saudara kita yang duduk di LSM yang terhormat.
Nah demikian Pak Ketua penjelasan kami. Jadi kita menerima itu ada dasamya yaitu tadi Negara kita tetap menghormati ini-ini-ini. Dan pidato Presiden yang pertama di muka MPR itu. Terima kasih.
Wassalamu' alaikum Wr. Wb KETUA RAPAT :
Selanjutnya silahkan Golkar.
ANGGOTA F-PG ( H. AZHAR MUCHLIS) :
Terima kasih Ketua. Pada hakekatnya Fraksi Partai Golkar setelah mendalami apa yang telah disampaikan oleh Pemerintah, dapat mengikuti pikiran-pikiran Pemerintah dalam rangka membuat Undang-undang, maka hal ini masuk di dalam Peralihan. Hanya sebagai suatu pemikiran, kalau toh ini suatu saat menjadi disahkan tentu kami harus punya bekal. Bekal pertama adalah ditanya oleh masyarakat, setelah itu diundangkan itu Surat Utang Negara Republik Indonesia sampai hari ini berapa sih mas? Waduh, kalau kita tidak bisa jawab kan berarti kita ini cek kosong. Ini petanggung-jawaban publik pertanggung-jawaban kami kepada audiens atau kepada Pemerintah khususnya dan orang-orang yang memahami tentang Surat Utang Negara. Yang kedua juga yang ada di dalam penjelasan tadi. Berapa obligasinya, berapa utang Negaranya di dalam dan di luar Negeri. Kita harus punya caatan-catatan yangjelas. Pada tanggal berapa itu saat disampaikan. Dengan demikian maka seandainya diumumkan itu kita bisa memberitahukan kepada masyarakat sekaligus kami tahu mengapa dimasukkan di dalam Peralihan. Pertama, memang menyangkut aturan perundangan. Yang kedua adalah menimbulkan
satu kepercayaan terhadap masyarakat. N ah namanya kepercayaan ini san gat mahal. Kalau masyarakat peraya kalau kita bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat. Bukan sekedar apa yang kita putuskan ini menjadi pengetahuan masyarakat.
Ini kami kira semua wakil rakyat punya kepentingan terhadap itu. Nah oleh karena itu sebelum disahkan, kami minta Pak Darmin memberikan penjelasan lagi, apakah hanya ini, apakah masih ada yang lain dan sekaligus tentang utang negara kita terhadap negara lain, utang Negara kita yang langsung loan agreement terhadap yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Sekali lagi saya katakan padr prinsipnya kami bisa terima. Kalau tidak diatur di dalam Peralihan, memang kepercayaan masyarakat akan semakin menurun walaupun disinyalir atau diramalkan oleh Pak Ratal, kemungkinan ada cercaan terhadap hal ini. Ya memang ya harus diterima selama kita bisa menjelaskan. Inilah memang komitmen kita menerima warisan hal-hal yang kurang, ya yang negatiflah walaupun juga ada hal-hal yang poitif yang bisa kita rasakan bersama. Tetapi kami dari Fraksi Partai Golkar sepakat untuk menerima itu. Intinya demikian. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, terima kasih. Silahkan PPP.
ANGGOTA F-PPP ( DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM ) : Saudara Ketua. Sejak awal kita memang sudah berbicara tentang Surat Utang Negara ini. Karena itu tadi mohon maaf Pak Mitro. Sejak awal kita berdebat Surat Utang ini kontennya sudah dibatasi yaitu obligasi dan Syrat Utang Negara. Jadi yang Pak Mitro katakan memang sudah tidak masuk sejak awal di DIM, loan agreement itu tidak masuk karena kita kontennya hanya Surat Perbendaharaan Negara yang menatur kas kecil dan kemudian obligasi. ltu saja. Nah sekarang persoalannya obligasi ini sudah ada sebelum Undang-Undang ini, kan begitu Pak Aly ini. Makanya pertanyaan saya, apa itu harus diakui ? Oh jelas, karena yang mengeluarkan adalah Pemerintah. Nah kalau harus diakui harus di dalam Aturan Peralihan kan obligasi ini. Sehingga memangAPBN itu pasti, karena memang itu menjadi utang negara termasuk APBN. Nah kalau tidak dimasukkan di Aturan Peralihan itu ada klausul di belakang, setiap ada surat utang yang tidak diatur dalam Undang-Undang ini dinyatakan tidak berlaku. Artinya itu hapus dan kita tidak punya kewajiban untuk menyusun APBN memasuki bunga obligasi, karena memang tidak diatur. Ini pentingnya Pak Aly ya. N ah sekarang persoalannya adalah
apakah konteh tadi itu sudah betul. Yang saya perdebatkan adalahjustru isinya. Di Pasal 20 Aturan Peralihan ini jangan sampai memuat hal-hal yang tidak pasti. Jadi harus pasti isinya yang diakui itu, yang clijustifikasi.
Katakanlah joroknya Undang-Undang ini kan Undang-Undang untuk menjustifikasi utang kita yang sudah dibuat. Apapun isinya, prosesnya tidak benar, kita akuilah begitu. Itu joroknya yang mungkin LSM akan serang kita. Tetapi sekarang kita terima itu sebagai Surat Utang N egara atau Pemerintah yang harus kita jelaskan itu. Makanya saya ke Pak Darmin tadi pagi juga minta, mana sih isinya, berapa sih jumlahnya, Keppresnya seperti apa. Itu yang sebetulnya Pak Ketua harus transparan di sini, di Pasal 21 ini. Nah kalau Pasal21 ini kita terima, kemudian isinya tidakjelas ya memang buntel kadut itu. Langsung kita terima apa isinya, di belakang kita tidak mengerti. Inilah Pak Darmin permintaa saya. Dalam rangka membahas ini konten Pasal 21 ini harus terbuka. Jumlahnya berapa, Keppresnya yang tadi disebutkan berapa, itu yang sekarang. Saya sudah dapat belum ya ? Saya kira saya belum dapat atau lupa saya dapatnya. ltu saja kalau saya.
KETUA RAPAT :
Baik. Selanjutnya ... FKB sudah, Reformasi sudah, FTNIIPOLRI sudah. Silahkan Pak Mitro dari F-KKI.
ANGGOTA F-KKI (F. X. SOEMITRO ) : Terima kasih Saudara Ketua.
Ada dua ya. Saya tidak keberatan ini masuk, apakah ini lengkap atau tidak lengkap. Terus terang saja saya tidak keberatan. Kalau tidak lengkap, mudah-mudahan tidak lengkap. Karena apa? Supaya utang kita lebih kecil. Ini saja, bukan muteng. Karena apa ? Kalau kita kembalikan saya agak mempunyai satu pemikiran yang berbeda. Oleh karena itu bagi saya, saya terima. Tetapi karena tadi ada penjelasan bahwa yang dimaksudkan di sini tidak termasuk loan agreement dengan Dalam Negeri maupun Luar Negeri, itu oke itu masukan. Sehingga apa yang dikatakan oleh Pak Muchlis tadi, berapa utang Dalam Negeri, utang kita. Tidak tahu. Jawabnya begitu. Kenapa ? Wong ini yang dicatat ini, yang belum loan agreement kita tidak tahu. Arena apa? Ya be1um dihitung kok. Ini masalahnya itu saja. Jadi kita keluarkan Undang-Undang nanti, saat dimasyarakat disosialisasikan, jumlah utang negara berapa? Tidak tabu. Karena apa? Ada dua definisi tadi. Apa1agi kalau kita nanti katakan menurut Pak Darmin nanti sih akan dibuat 1agi Undang-Undang. Itu menurut saya, saya bisa terima dengan catatan itu tadi.
Bahwa di dalam penjelasan umum harus ada penambahan catatan bahwa yang dimaksudkan Surat Utang di sini adalah tidak termasuk loan agreement yang dibuat di Luar Negeri maupun yang dibuat di Dalam Negeri. ltu saja. Kalau itu sudah dimasukkan, tidak ada masalah. Hanya tadi saya kembalikan bahwa berapa jumlah urat utang yang reel yang dikatakan kepastian. Kita tidak bicara kepastian lagi. Belum tahu kita. Karena masih ada macam-macam surat utang yang nanti mempunyai definisi yang katanya ada Undang-Undang baru lagi. Ya kita lihat saja nanti. Saya kira itu saja Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, terima kasih. Jadi setelah saya putar, TNI /POLRI tetap seperti Pasal 20 ini, PDIP tetap seperti Pasal 20 ini, F-PG prinsipnya menerima tetapi minta penjelasan yang tadi dari Pemerintah sudah mencatat. Kemudian PPP juga tetap tetapi harusjugajumlahnya, apalagi nanti dalam Pasal21 itu harus j elas betul jumlahnya itu berapa. Kemudian KKI tidak keberatan masuk, tetapi loan agreement itu masuk dalam Ketentuan Umum. ltu kita sudah catat.
Interupsi:
ANGGOTA F-PDIP (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO,S.H): Saya kira PDIP juga mengharapkan agar ada satu penjelasan. Tidak harus dimasukkan dalam penjelasan ini tetapi kita menerima. Misalnya yang dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor sekian itu berapa-berapa-berapa, sehinggajumlahnya sekian. Ya, kitajuga mengharapkan itu. Walaupun itu tidak masuk di dalam penjelasan Undang-Undang karena ini penjelasan Undang-Undang. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Kami persilakan Pemerintah untuk memberikan penjelasan atau tanggapan.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) : Terima kasih.
Jadi kalau mengenai mana yang diterbitkan berdasarkan dasar hukum yang kami sampaikan itu yang sudah kita muat itu, itu demikian : Program rekapitulisasi bank umum itu dengan PP No. 48 di dalam daftar adalah FR. 001 sampai habis HB. 0053. Jadijumlah nominalnya pada waktu diterbitkan 427,5 tetapi heksbond itu pada waktu jatuh tempo dia itu bisa di role over
bisa ditukar dengan yang bukan heks bond. Heks bond itu di indeksnya dengan cyber kurs dollar. Karena ada penguatan-penguatan maka setelah diindeks per posisi 20 Agustus 2002 jumlahnya sedikit lebih rendah dari nominalnya waktu diterbitkan dia menjadi 425,362. Kalau nanti rupiah kita makin kuat ini turun lagi yang heks bond ini. Itu adalah butir a dan dasar hukumnya PP No. 84.
Kemudian b tidak kita cantumkan di sini yaitu yang key bonds US $400.000.000, itu dananya ada di BI, dasarnya adalah Keputusan Presiden No. 17 tahun 1978 itu sudah lama, sebelum krisis. Itu dahulu untuk memperkuat cadangan devisa negara, bunganya selama ini itu dibayar oleh Bank Indonesia, karena itu diterbitkan oleh Bank Indonesia atas nama Pemerintah dengan persetujuan Pemerintah, dan dana itu ada di sana, kalau jatuh tempo bisa dibayar. Itu adalah b. Yang butir c pinjaman luar negeri dalam bentuk surat utang yang dasar hukumnya tadi adalah Keppres No.26, Keppres 55, Keppres 120, Keppres 193 itu adalah yang SU-SU itu. SU 001 Rp. 80 trilyun pada waktu diterbitkan itu adalah BLBI, SU 002 Rp. 20 trilyun adalah Bank Exzim, SU 003 Rp. 64,5 trilyun BLBI, SU 004 Rp. 53,779 adalah penjaminan rekening 502. Kemudian yang di bawah sekali SU 005 kredit program itu yang kami jelaskan bahwa nominalnya memang Rp. 9,970 tetapi di dalam terms and condition di dalam surat utang itu disebutkan efektifnya surat utang Pemerintah adalah sebanyak penarikan dari pengembalian KLBI masa lalu itu. Penarikan yang telah terjadi Rp. 850 milyar. Jadi utang efektif dari Rp.9,970 trilyun ini adalah plafon yang'bisa ditarik, ini dahulu pada waktu BI tidak bisa kasih kredit lagi kepada Pemerintah. Ini dibuat kebijakan pada waktu itu, nanti kalau untuk melanjutkan kredit program ini bagaimana. Dikeluarkanlah plafon itu dengan terms and condition berapa yang dik/\mbalikan dari KLBI masa lalu boleh ditarik Pemerintah untuk dipinjamkan. Tetapi karena bunganya SBI agak tinggi paling tidak sampai saat ini sehingga tidak menarik untuk disalurkan. Mudah-mudahan nanti kalau SBI-nya makin murah. Jadi dalam hubungan itu harus kembali, dia tanggih itu dia setor masuk ke sebuah rekening di BI. Setorannya itu boleh kita pinjamkan kembali sebanyak yang kita pinjamkan dia menjadi efektif utang di dalam plafon Rp. 9,97 artinya sekalipun nanti pengembaliannya Rp. 12 trilyun kita tidak boleh tarik Rp. 12 trilyun paling tinggi Rp. 9,97 trilyun. Karena ini dahulu KLBI yang mengeluarkan.
Satu lagi yang belum masuk ini SU 006 itu belum ada pemakaian sama sekali Rp. 40 trilyun penjaminanjugarekening 5196 tahun 2001, itu masih utuh sepenuhnya. Catalan yang juga dapat kami sampaikan SU 001 dan SU
003 jika nanti penyelesaian BLBI itu disepakati ini akan ditarik dan ditukar dengan yang tidak pakai indeks. Tidak pakai indeks lagi, jumlahnya juga akan sedikit turun karena ada penurunan. Sebetulnya BLBI itu di dalam SU 004 Rp. 53,779 itu ada Rp. 14,5 trilyun yaitu BLBI setelah 29 Januari 1999 yang waktu itu audit BPK hanya sampai 29 Januari 1999 Rp. 14,5 trilyun.
Nanti kalau di SU 001 dan SU 003 ini ditukar dengan yang tidak pakai indeks maka SU 004 ini yang sekarang sudah sampai habis sehingga diterbitkan SU 006 sekarang dananya barangkali tinggal Rp. 2 trilyun itu Rp. 14,5 trtilyun itu akan hidup kern bali. Kita bisa saja ada dana penjaminan Rp. 14,5 trilyun di 502.
Kemudian mohon maaf saya sudah meloncat ke d Keputusan Presiden No. 176 yaitu d di Batang Tubuh pembiayaan kredit program itu yang paling bawah tadi SU 005. Jadi dia tidak masuk di c SU 005. Jadi saya mau mengatakan tidak ada lagi surat utang obligasi Pemerintah di luar ini yang totalnya sekarang adalah Rp.655,8 milyar ditambah yang belum dipakai Rp. 40trilyun.
ANGGOTA F. PDIP (Drs. SURATAL HW.) :
Pak Darmin, tanya dahulu, a/\akah ini kira-kira BPK sudah tabu. Kemudian yang kedua Pak Darmin, supaya kita bersama inijelas, di sini yang kolom terakhir kata "indeks mounth." Ini ringkasnya semacam present value atau semacam apa itu supayajelas.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) :
Yang SU 001, 002, 003 dan 004 tetapi bukan 005 itu di indeks dengan inflasi,jadi pokoknya berubah mengikuti inflasi. Kecuali SU 001 dan 003 yang mau ditukar kalau BLBI selesai dia akan kern bali ke titik 0 lagi dan indeksnya hilang. Tetapi kalau SU 002 dan 004 yaitu penyelesaian Bank Exzim dan penjaminan 502 itu yang Rp. 53,779 trilyun dia hidup indeksasinya. Dia mengikuti inflasi yang diterbitkan oleh BPS.
ANGGOTA F. PDI P (Drs. SURATAL HW.) :
Jadi angka indeks sudah dihitung indeksasinya ada daftar yang biasanya orang-orang akutansi sudah mempunyai yang seperti itu. Jadi istilahnya tidak menipu pub lie membuat indeks ada standarnya.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) :
Ini saling kontrol antara Pemerintah dan BI, karena SU ini semua di tangan Bl. Jadi kita tidak boleh berbeda sedikitpun kalau berbeda berarti tidak setel angkanya. Sementara kalau utang luar negeri, saya tidak tabu apakah harus sekarang atau dibolehkan kita nanti pada waktu Pansus kita sampaikan karena itu terus terang yang mengadministrasikannya adalah Direktur J enderal Anggaran untuk utang luar negeri, kalau catatannya kita punya, tetapi rinciannya tidak ada. Catatannya US $. 61.826.805.000 per 31 Juni 2002 itu yang pemerintah yang belum ada di sini. Itu hanya yang frankfurt agreement yang dijamin oleh Pemerintah, itupun menyangkut sebenarnya bank-bank yang sudah koleps itu. Itu sebenarnya sudah dibayari sebagian, masih ada yang tersisa tetapi sudah dibayari melalui 502. Setiap kali itu dari BI penagihannya, BI menyampaikan tagihan jumlahnya, BPPN memverifikasi karena bank matinya itu ada di BPPN. Setelah diverifikasi oleh BPPN, Menteri Keuangan memberikan kuasa ke BI setiap kali dia meminta pembayaran ada yangjatuh tempo. Begitu mekanismenya.
Terima kasih. KETUA RAPAT :
Baik, jadi semua pertanyaan sudah dijawab oleh Pemerintah dan saya tangkap. Sebelum itu saya tanyakan dahulu F. PKB.
ANGGOTA F. KB (Drs. H. ALY AS' AD) :
Pertama kali sebenamya kami bukan revosioner sebetulnya. Tetapi kami mempunyai semangat ingin mencari jalan keluar yang semua enak begitu. Kita juga tidak mempunyai be ban politik yang sangat berat, tetapi masalah utang yang sudah dilakukan Pemerintah sebelumnya dan itu adalah bagian perjalanan kita ini sudah dapat diselesaikan tanpa merugikan pihak-pihak. Jalan keluar untuk memenuhi semangat itu menurut kami dibayar bunganya lewat APBN dan nanti akhirnya setelah jatuh tempo diganti dengan obligasi baru yang berdasar Undang-Undang. Itujalan keluar menurut kami.
Bagi kami itu sudah cukup tidak perlu harus dinyatakan itu sesuai dengan Undang-Undang, memang nyatanya tidak. Itu beban moral politik yang bagi saya itu berat.
Yang kedua, dahulu saya memang pernah bersama Pak Anggito yang sekarang tidak masuk, saya menghadapi kasus ini pertama kali mungkin
Bapak-bapak belum pernah. Saya itu diadili oleh sejumlah mahasiswa UGM mahasiswanya Pak Soemitro, mereka datangkan kami saya dan Pak Anggito berangkat dari Horizonjadi kita waktu Panja itu ditangkap di sana disuruh bicara mengenai pinjaman dalam dan luar negeri. Waktu kami bilang utang kita adalah, saya baru sepatah kata mereka interupsi "saya tidak setuju anda memakai istilah kita, bukan utang kita, utang mereka." Saya menjelaskan pelan-pelan bahwa kita adalah bagian perjalanan hidup dan saya jelaskan dengan sedemikian rupa. Akhimya saya masih tetap berprinsip bagaimanapun ini adalah bagian dari tanggungjawab kita yang tentu kita bisa ambil jalan keluar yang orangjawa bilang "tertangkap ikannya tetapi airnya tidak keruh." Menurut saya "tertangkap ikannya, aimya tidak keruh" itu seperti solusi kami itu, kita bayar lewat APBN, nanti recycle kita pak J yang sesuai dengan Undang-Undang, tetapi kita tidak perlu legitimasi dengan Undang-Undang sebesar ini. Itu jalan keluar menurut kami.
J adi tidak berati kami tidak mengakui ini, karena ini bagian dari proses hid up kita. Kami mengakui dari dahulu juga seandainya ada yang hilang atau dikorupsi itu tidak semuanya, dan dimana ada kekuasaan itu tidak korup di seluruh dunia ini bahkan kekuasaan agamapun begitu. Itu kami sadar betul, tetapi kami ingin mencarijalan yang paling aman paling maslahat untuk kita semua. Itu semangat kami sebetulnya itu karena itu kami usul seperti ini. Kalau kemudian langsung disahkan sesuai Undang-Undang ya saya tidak mengerti apa yang harus kami lakukan. Apa kami akan ikut dari Fraksi PDI P bahwa sekarang kami akan konsultasi ke DPP dahulu karena saya melihat ini sarat akan berbagai beban. Kalau bunyinya begini seperti tadi sudah diprediksi oleh Bapak-bapak ini nanti diumumkan akan ramai, itu tempat kami kebetulan rumah kami adalah sangat rawan setiap hari terjadi ejolak di partai kami. Apa kami harus ikut F. PDI P bahwa kami konsultasi dahulu dengan induk kami bagaimana, kalau memang belum bisa dicarijalan keluar. Ini betul, ini dari hati saya kami ingin selesai setelah ini selesai sudah kita tidak in gat ini lagi kita lihat ke depan, tetapi kalau solusinya begini kami belum pas. Terimakasih.
KETUA RAPAT : Silakan.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) :
Jadi begini, sebetulnya secara hukum walaupun saya bukan ahli hukum. Itu semua yang boleh beredar setelah Undang-Undang ini ada harus diakui
dahulu olehAndang-Wndang ini kalau tidak itu palsu tidak sah. Ini juga akan memisahkan obligasinya Hamkamnas im tidak sah itu, dan kita mestinya dengan kekuatan ini makin bisa memproses orang yang meneken itu, sehingga kita tidak bayar lawyer itu di New York digugati orang, itu j alan gugat menggugat di sana karena itu ditangan pihak-pihak lain. Jadi harus ada dasar hukum kalau dia masih mau beredar, kalau tidak apa dasarnya.
Makanya kita tidak pernah berniat dari awal mencantumkanjumlahnya di sini karena proses masih berjalan terus, saya bisa menjelaskan karena di Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan sekarang kita bisa mengauditAkuntan Publik itu di BPKB yangtadinya di BPKP sejak tahun ini, kita akan mengaudit semua auditor yang dahulu semua Dirjen merekav, apakah benar dahulu ini hitungannya karena kita tidak mungkin mengetahui secara persis, itu diserahkan kepada dua, yang satu auditor yang statusnya internasional dia mendudelegent angkanya rinci dikasih waktu 3 bulan, kemudian Pemerintah menyewa konsultan auditor lagi untuk meng-counter. Jadi ini ada mengadu, tetapi kita tetap masih ragu, jangan-jangan ada yang tidak betul. Kita mau mengaudit auditornya. Untuk BBO, BBKU itu tadinya karena KMK kita tadinya bel urn cukup kuat, itu kita meminta divonis dahulu BBO, BBKU itu ada auditornya itu tahu-tahu dihukum ringan oleh IAI, kita protes ke IAI sekarang ada 4 yang ken a pembekuan dalam waktu dekat. Akuntan pub lie yang nanti akan kita perkuat pembekuannya. Itu bukan rekap BBOBBKU. Jadi proses ini berjalan kalau verifikasi dan sebagainya, penyelesaian BLBijuga berjalan, itu sebabnya kita tidak inginjumlahnya masuk, karena dia nanti bisa berubah.
Jadi demikian, karena akan rancu sekali kalau setelah Undang-Undang ini berlaku ada obligasi beredar tidak dikenal oleh Undang-Undang ini.
Terima kasih. KETUA RAPAT : Silakan.
ANGGOTA F. PPP ( Drs. H. NU'UMAN ABDUL HAKIM) : Pak Ketua sedikit saja, saya ingin menyambung Pak Aly As'ad bukan ingin mementahkan ini, memang Pak Darmin terus terang saja harus bisa menangkap nuansa kami di sini, bagaiman kami harus menlegitimasi sebuah utang yang itu diperkarakan misalnya oleh Dewan dalam Pansus BLBI, di BPKjuga masih ada masalah. Jadi kalau katakanlah seperti PakAly sampaikan
kita terima "buntelan" seperti itu di dalamnya ada persoalan antara Pemerintah dengan BLBI soal kasus BLBI belum selesai dengan BPK belum selesai, ini kita bulat-bulat sudah telan, inilah nuan/\a barangkali yang harus ditangkap Pemerintah bahwa memang kita kawin terpaksa ini.
Jadi sebagai negarawan harus menerima sebagai suatu konsekuensi dari mendisiplinkan. Yangjelas PakAly kalau saya tidak ada Peraturan Peralihan ini justru berbahanya itu makin melebar. Kita ada yang berkenan lewat Wanhamkamnas yang diteken oleh Pak Kholid Mawardi di Siria kemudian beredar. Justru saya bilang kontens dari Pasal peralihan itu hams jelas, sehingga termasuk angkanya itu. Kalau tidak ada itu Pak Nurlif juga sedang nagih sebetulnya, dia pegang tahun 1940, yang Pak Dudhie bilang gugat saja saya begitu. Kalau tidak ada pasal peralihan itu banyak sekali yang Pak Soemitro bilang surat utang itu banyak sekali sebetulnya. Justru dengan peraturan peralihan ini memberikan kepastian mana yang kita akui sebelum Undang-Undang. Saya kira saya lebih memahami adanya pasal ini ketimbang tidak ada, walaupun itu buruk bagi kita, PakAly masih Ketua Pansus BLBI utangnya sudah kita akui ini.
Terima kasih. KETUA RAPAT :
Baik, Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang kami hormati. Jadi kami kembalikan F.PKB tadi dan temyata materinya tetap itu. Karena tadi sudah kita putar, jadi pada prinsipnya semua tidak keberatan dengan naskah ini kecuali F. PKB. Jadi ini apakah bisa kita putus?
ANGGOTA F. KB ( Drs. H. ALY AS' AD) :
Pertama saya ingin menyampaikan bahwa semangat kami untuk menyelesaikan ini karena demi ke depan ini, tidak bisa di profilling kemudian nanti akan bangkrut APBN -nya itu kami mengetahui betul. Cum a rumusannya ini sampai sekarang kami bel urn berani bilang setuju, doakan mudah-mudahan nanti kita akan berani, kami segera akan konsultasi ke atasan kami, supaya nanti keputusan politik ini didukung oleh atasan-atasanjuga. Kami tidak ingin menjadi sesuatu yang kami bemiat baik, kemudian kami menghadapi masalah, repotjuga yang namanya politik. Perkara kemudian disetujui, dirumuskan dan lain sebagainya itu soal Bapak-bapak, tetapi kami akan melakukan konsultasi untuk mencari titik temu kayak apa yang terbaik. Semangat kami untuk selesai, karena kami sadar betul itu. Kami akan segera telepon-telepon,
kalau kami dipanggil kami akan segera berangkat untuk presentasi itu, sebab ini bagi kami rangkainnya tidak hanya di Senayan, kami harus tanggungjawab kepada atasan kami.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Baik, sekali lagi pada prinsipnya semua kita setuju, kecuali F. PKB meminta waktu untuk mekonsultasikan dengan fraksi. Ini bagaimana keputusannya ?
ANGGOTA F. KKI ( F.X. SOEMITRO) :
Ini belum ada keputusan, karena F. PKB meminta konsultasi dahulu dengan atasannya, saya bisa memahami karena ini rakyat disuruh meminum endrim tidak pakai duit suruh bayar utang. Makanya saya setuju dengan itu mendingan tidak usah diputus, kasih kesempatan saya F. PKB untuk konsultasi, ini benar.
ANGGOTA F. PDIP ( Drs. POLTAK JSITORUS) :
Pimpinan, sambiljuga menunggu keputusan lebih Ian jut yang akan kita bicarakan yang juga dari F. PKB. Kami Panja ini meminta semua PP dan Keppres ini dijadikan satu dan disampaikan kepada kita. Supaya PP dan Keppres yang termaktup di dalam ini disampaikan kepada kita.
Terima kasih.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) : Sekaligus kami mau menyampaikan juga nanti foto copy keputusan dari Menteri Keuangan mengenai pembayaran obligasi yang lama-lama itu, kemudian berita Antara, foto copy koran Merdeka, Kompas, Suara Karya dan sebagainya.
J adi demikian. KETUA RAPAT :
Baiklah kita tunggu dari F. PKB yang penting ini kita sudah cair. Kemudian apakah kita bisa melanjutkan Pasal 21 atau itu satu paket saja dengan Pasal 20, satu paket. Maka sekarang terakhir ini kembali kita usul F. PKB untuk menambah ayat baru sebagai konsekuensi dari Pasal 8
Ini kami kembalikan keF. PKB. Silakan.
ANGGOTA F. KB ( Drs. H. ALY AS' AD) :
Itu di Pasal 8 Pemerintah harus membayar pokok maupun bunga surat utang obligasi apabila sudah jatuh tempo. Kemudian kami usulkan di sana apabila Pemerintah one prestasi dalam arti tidak bisa membayar jatuh tempo, maka titik titik. Kami titik titik karena sudah sangsi, dan sebagaimana pendirian kita kalau masalah sangsi itu kita susah untuk mengukur mana yang adil, kecuali kemarin setelah ada penjelasan tentang kriteria dari Pak Luky Lukman itu soallain, tetapi prinsipnya kami usulkan harus ada sangsi apabila Pemerintah itu one prestasi tidak bisa membayar pada saatnya. Kami telah melakukan pembicaraan-pembicaraan dengan pihak Pemerintah semalam "ada tidak satu peraturan perundangan yang memberikan proteksi dalam hal ini terhadap pemegang surat utang atau obligasi atau kreditur ?" karena Undang-Undang ini adalah merupakan regulasi terhadap suatu aktivitas yang profit oriented, maka tidak boleh ada satu pihakpun yang dirugikan secara finansial, meskipun yang pihak one prestasi mungkin telah terugikan secara politik, misalnya kemudian jatuh Menterinya. Tetapi secara financial tidak boleh ada pihak yang dirugikan karena ini regulasi tentang profit, karena kita telah berbicara harus bayar.
Oleh karena itu kami mengusulkan harus ada sanksi bagi pihak yang one prestasi. Kemudian semalam dalam pembicaraan-pembicaraan kami tanya kepada Pemerintah di luar rapat ada tidak aturan hukum yang mengatur ini, sanksi apabila Pemerintah one pretasi di bidang keuangan. Dijelaskan oleh Pak Sis ada, dijelaskan sudah ada aturan yang memberikan sanksi ke Pemerintah apabila one prestasi, tetapi aturan itu masih dikonsepkan di dalam RUU Perbendaharaan Negara. Seandainya sudah ada Undang-Undang lain yang mengatur itu saya pikir kita bisa berdamai, begitu kira-kira.
Tetapi mungkin tidak kalau kalimat di RUU itu diangkat ke sini. Kemudian disesuaikan relevansinya dengan Undang-Undang ini. Itu begitu. Itu perkembangan yang sudah kami lakukan untuk mencoba mencari titik temunya di mana ini. Tetapi prinsipnya menurut kami sanksi itu perlu untuk memberikan jaminan terhadap para pemegang obligasi maupun Surat Utang Negara.
KETUA RAPAT : Ya, silahkan Pemerintah.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ) :
Baik Pak. Terima kasih. Jadi memang di dalam RUU Perbendaharaan Negara memang ada Pak prinsip itu dan memang dia masih RUU. Di dalam Pasal4 dari RUU itu, Pasal4 ayat (1) bunyinya seperti ini, "Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara merupakan dasar bagi Pemerintah Pusat untuk melakukan penerimaan dan pengeluaran Negara". Jadi hanyaAPBN dasar di situ. Bara di ayat (5)-nya disebutkan, "Kelambatan pembayaran atas tagihan yang berkaitan dengan pelaksanaan anggaran Negara". Ada kata-kata "dapat" di sini, nanti terserah Bapak-bapaklah waktu memfinalkan RUU-nya, "dapat mengakibatkan pengenaan denda atau bunga". Nah apakah dicantumkan di Undang-Undang ini atau di RUU Perbendaharaan Negara, sebetulnya ada memang prinsip-prinsip yang begitu diatur di aturan umumnya mengenai APBN itu, mestinya tidak perlu diatur di bagian-bagian dari APBN itu. Inikan sebetulnya bagian dari pelaksanaan APBN nantinya.
Sarna dengan waktu kita cabut inventasi jangka pendek itu Pak. Karena kita Pemerintah sepakat itu diaturnya di induknya saja, di Undang-Undang Perbendaharaan Negara yang tadinya kita usulkan di sini. Jadi jika disepakati Pak, Bapak-bapak yang terhormat pada umumnya, Pak Aly dari PKB pada khususnya, kami mengusulkan supaya dia di induknya saja
Pak. Dia akan kena kepada semua pelaksanaan APBN. Tidak hanya mengenai hal ini bahwa setiap kelambatan pembayaran atas tagihan yang berkaitan dengan APBN dan memang harus ada di APBN Pak pembayaran bu-iga dan pokok dari Surat Utang Negara ini di masa mendatang. Tidak mungkin kalau tidak ada diAPBN, maka biarlah induknya itu yang mengatun1ya. Tetapi kalau dianggap, "oh itu kurang", ya mari kita tidak apriori Pak membicarakan ini. Karena kita berani mengajukan diinduknya, masa tidak berani di anaknya.
Itu juga bisa, namun dilihat dari rezim Peraturan Perundang-undangan seyogyanya ya biarkan di induknya yang khusus mengenai induk saya kira investasi j angka pendek itu juga biarkanlah yang mengatur induknya itu. J angan di sini, walaupun menyangkut ini. Waktu itu kan ada yang kita cabut Pak bahwa Menteri Keuangan dapat melakukan investasijangka pendek atas dana yang ada yang beresiko rendah. Itu pengertiannya, "biarlah itu diatur, jangan atur di sini". Biarlah itu diatur oleh RUU Perbendaharaan Negara.
Demikian Pak. Terima kasih. KETUA RAPAT :
Baik, jadi saya putar saja. Ini hanya PKB yang mengusu1 dari .. Saya putar, ya mulai dari PDIP dulu. Silahkan Fraksi PDIP.
ANGGOTA F-PDIP ( DRS. SURATAL HW. ) :
Lebih baik atas nama Anggota Panja saja, 1ebih enak. Begini, kalau kita uang di Bankjatuh tempo be1um melunasi pokok atau bunganya, kena denda finally sekian persen, itu ada. Jadi sekali lagi kena denda finally. Nomor dua, sekarang kalau kita kurang membayar pajak, lalu ada 15% itu Pak dihitung 15% kita harus membayar. Tetapi sebaliknya, kalau kita membayar pajak kelebihan, tidak Iekas dikembalikan retribusinya itu. Nah itu Pemerintahjuga harus membayar 15%, kan itu ada aturannya Pak Darwin. Nah sekarang yang ketiga ini Pasal 8 ayat (2), "Pemerintah wajib membayar bunga dan pokok setiap Surat Utang Negara pada saatjatuh tempo". ltu memang wajib. Kebetulan profilling, wah mundur-mundur. ltu mesti ada dua ini. Satu, kena indeksflasi Pak. Semacam obligasi tahun 1950 dulu. Itu sampai dilipastkan 300x-nya itu. Dalam tempo sekian harus diambil dilipatkan itu.
Kemudian kami ingat juga yang tahun 1960. Itu juga ada. Jadi pada tahun 1950 itu gunting satu dan yang tengah itu dan sebagainya tahun 1960 itu uang Rp. 1000,- menjadi Rp. 100,- dan khusus Rp. 500,- menjadi Rp. 50,- dan sebagainya. Itu juga harus mengambil sekian dengan kelipatan sekian kali. Jadi ada dua tipe, denda persen atau memakai indeksflasi tadi. Nah itu terserah. Kemungkinan di dalam PP lebih jelas, tetapi di sini juga ya kami harapkan pada saat jatuh tempo itu tidak mundur supaya tidak merugikan setnua pihak. Terutama kalau sampaijatuh ke tangan obligasi itu masyarakat. Paling begitu Pak lebih kurang. Jadi ada dua kemungkinan, terserah nanti teknisnya peraturan. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik. Ada lagi Fraksi PDIP yang mau menambahkan ? Kalau tidak ada, Fraksi FG?
ANGGOTA F-PG (DRS. BAHARUDDIN ARITONANG): Ini waktu minggu 1alu Pak Aly melontarkan ini, saya sebenarnya memback-up. Dan kemudianjuga ketika kita mengundang Pak Luby Lukman juga dipertegas. Hanya memang kalau kita sepakat di Undang-Undang
Perbendaharaan Negara, saya oke. Kemudian tetapi kemungkinan saya tidak tahu. Kebetulan memang saya bukan Ahli Hukum. Apa kemudian dengan klausul seperti ini sudah memadai tidak untuk katakanlah mengajukan atau katakanlah memperkarakan Pemerintah ke PTUN atau barangkali menggunakan Hukum Acara Pidana.
Barangkali Pak Mitro bisa dengan klausul seperti ini Pasal 8 ayat (2). Saya sepakat kalau tetap kita lengkapi di Undang-Undang Perbendaharaan Negara. Barangkali kalau UU itu memang semuanya kalau memang harus di sini ya kita cari kalimat tersendiri nanti untuk melengkapi Pasal 8 ayat (2). Sepertinya itu saja Pak. Itu pandangan kami. Intinya kalau Perbendaharaan Negara sudah menampung ya sudah. Tetapi kalaupun tidak, masih ada lapis berikutnya yang seperti yang saya katakan tadi. Ketika katakanlah misalnya yang terkena mengajukan tuntutan dengan menggunakan ayat (2) ini, apa cukup ke ... mungkin Peraturan Perundang-undangan lain penggunaannya. Hanya soal sanksinya memang tidakjelas. Kalau itu perlu kita perjelas, kalau di Perbendaharaan Negara cukup memperjelas nanti ya cukup di situ. Jadi artinya catatan tersendiri kalau ketika ini nanti dimasukkan di Undang-Undang Perbendaharaan Negara, kita pertegas sanksinya. Barangkali itu saja Pak Ketua. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik. Ada lagi dari Fraksi Golkar yang mau menambahkan? ·silahkan PPP.
ANGGOTA F-PPP ( DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM ) : Saya tidak tahu 'persis ya, apakah memang seharusnya diatur. Tetapi yang jelas semangat yang disampaikan oleh Pak Aly itu memang betul. Bagaimana publik bisa diberikan kekuatan untuk melakukan katakanlah kontrol kepada sebuah kekuasaan. Walaupun Surat Utang Negara itu dianggap sebagai surat utang yang tanpa resiko. Katakanlah seolah-olah pasti bayamya begitulah. Tetapi harus terjamin bagaimana publik yang memegang surat obligasi ini juga terjamin, apabila memang one prestasi Dimana kira-kira diaturnya. Apakah masuknya di Pasal 8 tadi atau dimana kira-kira. Yang itu justru memberikan kepastian lagi barangkali Pak Darmin. Terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT :
ANGGOTA F-TNIIPOLRI ( R. SULISTYADI, SIP., M.M.) : Terima kasih. Waktu diskusi yang lalu saya pernah menyampaikan saya pernah bela jar ten tang keuangan Negara ini, tetapi karena bukan Ahli Hukum barangkali nanti bisa dikoreksi oleh Ahli-ahli Hukum yang ada di sini. Beberapa kejadian misalnya bendaharawan itu tidak bisa dituntut misalnya kalau pada waktunya tidak bisa membayar tagihan, karena uangnya belum tersedia, otorisasinya belum ada dan sebagainya. Pada waktu itujuga ada kebijakan-kebijakan Pemerintah, faktur dan sebagainya, ada proyek yang dijadwal, yang ditunda, yang dibatalkan kontraknya. Ada penjelasan bahwa berdasarkan hukum publikNegara tidak bisa dituntut karena masalah-masalah one prestasi ini. Namun demikian karena tanpa menungguAhli Hukum dari luar, di sini sudah adaAhli Hukum, barangkali bisa diperjelas olehAhli-ahli hukum yang ada di sini. Ini pendapat kami. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik. selanjutnya silahkan Pak Mitro.
ANGGOTA F-KKI (F. X. SOEMITRO) :
Saya sebetulnya menghadapi .. .ini masalah one prestasinya ya. Sebetulnya pemahaman one prestasi itukan tidak memenuhi kewajiban sesuai yang diperjanjikan. ltu pengertian one prestasi. Nah sebetulnya untuk Negara itu tidak mungkin tidak memenuhi kewaj iban sesuai yang diperjanj ikan. Bagi Negara selalu diasumsikan kalau tidak memenuhi berarti persyaratannya belum memenuhi. Kalau Negara tidak membayar, itu persyaratannya belum memenuhi itu. Beda perorangan. Jadi harus kita pisahkan antara kekuasaan dengan perorangan. Kalau perorangan bisa memang tidak mampu, tetapi kalau Negara tidak bisa dikatakan bahwa suatu Negara itu tidak mampu, itu tidak bisa. Kaitannya dengan one prestasi. Oleh karena itu bahwa Negara bisa digugat? Bisa. Tetapi kalau dipailitkan, tidak bisa. Karena mengenai one prestasi. Kalau one prestasi kan syarat untuk kepailitan. Nah itu Negara tidak bisa dipailitkan. Siapa yang mau mempailitkan Negara, tidak bisa. Oleh karena itu istilah "one prestasi" tidak dikenakan kepada Negara itu saja.
Jadi menurut saya bisa digugat? Bisa. Tetapijangan itu lari pengertian "one prestasi" nanti dikaitkan dengan kepailitan itu saja. Bahwa Negara tidak mungkin melakukan one prestasi. Bahwa Negara tidak melakukan kewajibannya karena belum memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi, yang dituntut itu bel urn ada. Artinya belum dipenuhi.
Karena pernah saya menjadi Staf Ahli di Perusahaan Pasang Surut. Itu di Banjarmasin kebetulan. ltujuga pernah mau dipailitkan karena one prestasi, karena pemborong mau mempailitkan dikarenakan PU tidak mau membayar kontrak yang seharusnya itu dibayar. Saya datang ke sana di Banjarmasin, saya bilang "loh kita bukan tidak mau membayar karena Saudara yang tidak mau menerima pembayaran itu". Dia nuntut 66, padahal yang seharusnya dia terima hanya 9 juta. Sehingga akhirnya tidak bisa juga dipailitkan, karena itu tidak berlaku untuk N egara. J adi masalah one prestasi itu sebetulnya tidak bisa diperlakukan untuk Negara dalam rangka kepailitan, begitu. Bahwa dalam rangka Negara digugat, itu bisa saja. Saya kira itu. Oleh karena itu menurut saya ini tidak perlu ditambah. Kecuali kita mau mengatur sendiri ya Negara Indonesia sendiri. Menurut saya tidak bisa. Mengenai sanksi kan tergantung dari gugatan kita. Landasan hukumnya gugatan kita mengenai apa, ya kan. Di situ nanti akan menentukan sanksinya.
KETUA RAPAT : Oke, silahkan Pak Kardjo.
ANGGOTA F-PDIP ( SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, S.H): Sayajadi pengikutnya Pak Mitro kan. Terima kasih.
KETUA RAPAT : Silahkan Pemerintah.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) :
Jadi memang sebetulnya mengenai one prestasi ini, sampai kemarin sebetulnya posisi yang kami sampaikan itu persis dengan yang disampaikan Pak Soemitro. Kalau urusan dengan Pemerintah ya gugatlah Pemerintah kalau one prestasi. Hanya kemudian pagi ini saya diberi lihat, memang oleh ternan-ternan RULJ Perbendaharaan Negara ini. Sehingga waktu saya lihat saya memahami ICW sebetulnya tidak ... di ICW itu dikatakan Pemerintah itu tidak bisa digugat kalau ada keterlambatan-keterlambatan. Nah tetapi kalau ini nanti jalan, itu berarti ini akan menganulir ICW, akan mencabut ICW. Ini yang jalan. Itu sebabnya kami usulkan biarlah di RUU Perbendaharaan Negara ini Pak. Isinya adalah "kelambatan pembayaran atas tagihan yang berkaitan dengan pelaksanaan anggaran Negara dapat mengakibatkan pengenaan denda dan atau bunga". Tetapi ini harus mencabut dulu ICWPak. Jadi itu sebabnya Pak Aly, saya akan mengusulkan, biarlah diatur di sini. Rasanya ini kalau menganulir ICW agak repot juga, karena dia mengatur banyak hal itu ICW
itu. Begitu Pak.
KETUA RAPAT :
Baik, terima kasih. Silahkan PakAly.
ANGGOTA F -PKB ( DRS. H. ALY AS' AD ) :
Terima kasih. catatan saya begini Pak, saya apresiasi ke Bapak-bapak ya dan kita sekarang sudah sadar bahwa memang kita harus kembangkan satu paradigma baru ya. Kalau kemarin memang kita punya Republik rasa Kerajaan, sehingga Pemerintah tidak bisa dipersalahkan. Sekarang kita benar-benar Republik rasa Republik. Kemudian yang kedua, kalau itu diatur di sana di RUU Perbendaharaan Negara, itu karena itu juga belum disinggung ya, belum kita ulik-ulik, belum kita coba kita buka, kita baru RUU Keuangan Negara yaitu mesti menjadi konsensus kita. Komitmen kita di forum ini bahwa itu harus tercantum nanti. Dan yang ketiga begini Pak, <saya ingin itu diluruskan Pak Darmin, supaya nanti tidak bertentangan dengan PakAberson. Dulu kan kita diskusi panjang Iebar di Hotel Horison itu bahwa tidak ada Undang-Undang induk maupun Undang-Undang-Undang-Undang anak. ltu sementara itu kita singkirkanlah Undang induk. Pokoknya itu nanti akan diatur di Undang-Undang Perbendaharaan Negara. Itu yang akan menganulir hal-hal yang bersifat ICW. Dengan demikian ya yang untuk itu kami Msa menerima dengan komitmen-komitmen ini. Tetapi untuk Pasal20 belum ya. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
J adi terima kasih atas kebersamaan kita bersama dan yang ini memang kita perlukan. Jadi biar semuanya itu jelas. Tidak ada yang pulang dari rapat ini kita masih ada yang punya unek-unek dan lain sebagainya. Baik, kalau begitu ini ya kalau kami kata Sumateranya ini sudah dicabut, begitu. Saya ketok ya? Terima kasih.
( RAPAT SETUJU )
Baiklah. Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian yang kami hormati.
Tugas kita masih tinggal Pasal 20 dan 21. Ini kita harapkan nanti kita setelah makan siangjam 14.00 WIB. berarti Tim Perumus, Tim Kecil, belum bisa bekerja karena masih ada dua Pasallagi yang terpending. Tetapi mudah-mudahan nanti bisa cair, sehingga Tim Perumus, Tim Singkronisasi bisa bekerja. Ini setelah kami baca-baca malam tadi, ini ada yang mengganjal di
hati kami Pak yaitu Pasal 18. Dimana Panja memutuskan bahwasanya Tata Cara Penata-usahaan, pertanggung-jawab dan publikasi informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal12, Pasall6 dan Pasal17 ditetapkan oleh Pemerintah. Sedangkan hila kita kern bali ke Pasal12 itu bunyinya, "Kegiatan pelaksanaan mencakup pencatatan pemilikan Wiring, seattlement serta agen pembayaran bunga dan pokok Surat Utang Negara dilaksanakan oleh Bank Indonesia". Pasal 16, "Menteri wajib menjalankan penata-usahaan dan membuat pertanggung-jawaban atas pengelolaan Surat Utang Negara dana yang dikelola". Pasal 17, "Kebijaksanaan pelola penerbitan Surat Utang Negara yang meliputi perkiraanjumlah danjadwal penerbitan dan lain sebagainya", ini dalam Bah kewenangan daripada Menteri Keuangan.
Jadi yang mengganjalnya di sini karena ini akan diatur Pasal 18 ini mengatur yang mengatur itu adalah Pemerintah, maka yang lebih tepat itu membuang Pasal 18 ini, cukup Pasal 16 dan 17 saja. Jadi PP itu hanya mengatur ketentuan Pasal 16 yaitu memang kewenangan Menteri Keuangan, Pasal 17 memang untuk kewenangan Menteri Keuangan dan mengeluarkan di sini kata Pasal 12 karena itu kewenangan di Bank Indonesia. Ini sangat mengganjal sekali. Ya kita semuanya itu agak lupa atau biasalah dalam hal ini. Jadi ini mengganjal. Jadi ini kalau tidak keberatan substansi tidak berubah, bah tidak berubah, hanya kalau ini diteruskan begini, ini mengganjal, bertentangan. Nah ini kami mengharapkan Panja dapat memutus ini, sehingga semuanya clear pekerjaan kita. Tidak ada ganjalan-ganjalan. Untuk itu sebelumnya, saya minta Pemerintah. Silahkan Pemerintah.
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION) :
Terima kasih Bapak Ketua. Bapak-bapak yang terhormat. Tampaknya benar seperti yang dijelaskan oleh Pak Ketua. Memang Pasal 18 ini sebetulnya bukan sekedar penata-usahaan, tetapijuga pertanggung-jawaban dan publikasi. Tetapi kalau dicantumkan Pasal12, itu maka penata-usahaan dari back office yang dahulu kita sudah rumuskan Undang-Undang mengatakan itu BI yang berwenang melaksanakan itu, maka memang akan ada kerancuan Pak. Oleh karena itu Pemerintah dapat menerima kalau kalimat di Pasal 18 itu kata Pasal 12 dihilangkan. Itu Pemerintah dapat menerima Pak.
KETUA RAPAT :
ANGGOTA F-PDIP (DRS. POLTAK SITORUS):
Pimpinan, kita mengetahui dalam rangka penjelasan ini kan itu kan dalam pengelolaan Surat Utang Negara ini yang berkaitan hubungannya dengan BI itukan dalam rangka penunjukan Pemerintah. Artinya di situ adalah bahwa itu di luar daripada independensi tugas-tugas BI. Karena khusus dalam rangka pengelolaan Surat Utang Negara ini yang terkait dengan penata-usahaannya atau pembelian kliring, seattlement serta tagihan pembayaran, inikan kaitannya dengan Surat Utang Negara yang oleh Menteri Keuangan menunjuk Bank Indonesia. Nah oleh karena itu Pak Ketua, saya pikir itu tidak akan mengganggu kalau pada Pasal 18 itu termasuk dicantumkan diatur mengenai pelaksanaan Pasall2 tersebut dengan Peraturan Pemerintah. Jadi saya pik;r itu tidak akan mengganggu ketentuan tersebut. Terima kasih.
KETUA RAPAT : Ya, silahkan Fraksi Golkar.
ANGGOTA F-PG (H. AZHAR MUCHLIS):
Terima kasih. Kami kira apa yang disampaikan Pak Dirman dengan Pemerintah tepat sekali. Memang hal ini adalah haknya Bank Indonesia. Kalau Bank Indonesia dikaitkan di Pasal18lagi, itu akan menjadi berbeda. Yang di Pasal16 dan 17 itu memang hanya Pemerintah. Jadi harus beda-beda di situ. Mungkin kalau tidak salah kemarin itu sebenarnya ada yang mengusulkan sudah tidak perlu Pasal 12 waktu itu. N ah o leh karena itu, ini menurut say a coba kita cermati di Pasal itu, kaitannya berbeda. Itu masalahnya. Jadi dengan demikian saya sepakat dengan usulan Pak Dirman dan Pemerintah. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih. Pak Nu'man dad Fraksi PPP, silahkan.
ANGGOTA F-PPP (DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM): Ya kalau Pak Darmin tidak keberatan, saya kira sudah selesai. Masalahnya kan masalah BI. Apakah kewenangannya itu dirampas atau tidak, barangkali personalnya itu. Tetapi kalau Pak Darmin menganggap itu persoalannya itu tidak ada masalah, saya kira sudah selesai.