1
ANALISIS YURIDIS PEMBATALAN PERATURAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF JUDICIAL REVIEW DAN
EXECUTIVE REVIEW
JURIDICAL ANALYSIS CANCELLATION OF LOCAL
REGULATIONS IN THE PERSPECTIVES OF JUDICIAL REVIEW AND EXECUTIVE REVIEW
Khelda Ayunita, Abdul Razak, Aminuddin Ilmar
Konsentrasi Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin
Alamat Korespondensi: Khelda Ayunita, S.H Fakultas Hukum Program Pascasarjana (S2) Universitas Hasanuddin Makassar, 90245 Hp:085299610706 Email : [email protected]
2 Abstrak
Pandangan ideal tentang Perda tersebut seolah-olah “diciderai” oleh ketentuan Pasal 185 ayat (5) Undang-Undang Pemerintahan Daerah, yang memberikan kewenangan kepada Menteri Dalam Negeri (selanjutnya disingkat Mendagri) untuk membatalkan Perda tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pertanyaan yuridis yang mengemuka dari persoalan ini adalah berkenaan dengan validitas atau kekuatan hukum kewenangan Mendagri tersebut dan pengaruhnya terhadap kedudukan Perda sebagai suatu produk hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengkaji mengenai pengujian pembatalan peraturan daerah dalam praktik ketatanegaraan di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian hukum normative yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan melakukan penelusuran dokumen yang berkaitan dengan fokus masalah yang diteliti. Hasil penelitian Pengujian terhadap Peraturan Daerah telah melahirkan dualiasme pengujian yaitu executive review oleh pemerintah pusat dan judicial review oleh Mahkamah Agung. Standar pengujian peraturan daerah oleh pemerintah pusat berbeda dengan standar pengujian peraturan daerah oleh Mahkamah Agung. Mahkamah agung menguji suatu peraturan daerah atas dasar ada tidaknya pertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan ada tidaknya ketidaksesuaian prosedur pembuatan peraturan daerah dengan peraturan perundang-undangan sedangkan kewenangan pemerintah pusat melakukan pengujian peraturan daerah tidak hanya didasarkan pada aturan hukum yang lebih tinggi daripada peraturan daerah tetapi juga didasarkan pada standar kepentingan umum. Pembatalan perda oleh menteri dalam negeri ditanggapi oleh pemerintah daerah dengan beragam cara, ada yang segera mencabut perda dimaksud dan dinyatakan tidak berlaku, akan tetapi ada juga pemerintah daerah yang tetap saja memberlakukan perda-perda yang sudah dibatalkan oleh pemerintah pusat tersebut tanpa menghiraukan pembatalan tersebut sehingga menimbulkan kondisi dimana peraturan daerah ini tidak memiliki keberlakuan. Implikasi hukum timbul sebagai akibat dari pembatalan peraturan daerah tersebut yaitu lahirnya ketidakpastian hukum terhadap status peraturan daerah Ketidakpastian hukum ini disebabkan tidak adanya kejelasan apakah peraturan daerah tersebut masih memiliki kekuatan hukum ataukah sudah tidak memiliki kekuatan hukum.
Kata kunci : Peraturan daerah, keabsahan dan mekanisme pembatalan Abstract
Ideal view of the law is as if "diciderai" by the provisions of Article 185 paragraph (5) Local Government Act, which authorizes the Secretary of the Interior (hereinafter referred to as Minister of Home Affairs) to overturn the law on Regional Budget. Juridical questions which arise from this issue is regarding the validity or force of law the authority of the Minister of Home Affairs and its influence on the position of law as a legal product. This study aims to analyze and assess the cancellation testing regulations in the practice of administrative regions in Indonesia. This research is a normative legal research is research done by doing a search of documents related to the focus of the problems examined. Testing The results of local regulation has given rise to the testing dualiasme review by the central executive and the judicial review by the Supreme Court. Testing standards of local regulations by the central government in contrast to standard regulatory testing by the Supreme Court. Supreme test of a local regulation on the basis of presence or absence of conflict with higher laws, and presence or absence of a mismatch with the rulemaking procedures of legislation, while the central government to local regulations testing is not only based on the rule of law that is higher than local regulation but also based on the standard of public interest. Cancellation regulation by the minister of the interior taken by local governments with a variety of ways, there is an immediate repeal regulations in question and declared void, but there are still governments that enact local regulations that have been canceled by the central government, regardless of the cancellation so that create conditions where local legislation does not have validity. Legal implications arising as a result of the cancellation of local regulation that is the birth of legal uncertainty on the regulatory status of this legal uncertainty due to the lack of clarity whether the local regulation still has the force of law or is unenforceable. Key words : Regulation of the region, the validity and revocation mechanism
3 PENDAHULUAN
Adanya pengujian terhadap peraturan daerah yang dilakukan oleh pemerintah tidak sepenuhnya diterima baik oleh daerah-daerah, pada kenyataannya banyak daerah yang merasa keberatan jika peraturan daerah yang telah dibuat dengan susah payah, membutuhkan biaya yang banyak dan waktu yang lama dan melibatkan waki l rakyat pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada akhirnya dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri,sehinga mereka berpendapat oleh karena peraturan daerah yang sudah disahkan dan dibuat dengan cara yang benar untuk kepentingan rakyat, tidak begitu saja dapat dibatalkan dan seandainya dibatalkan pun harus melalui prosedur hukum yang sesuai dengan hierarki pembentukan peraturan perundang-undangan dalam Pasal 7 UU No.12 Tahun 2011 yaitu:
1. Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang 4. Peraturan Pemerintah
5. Peraturan Presiden 6. Peraturan daerah Provinsi
7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
Prosedur yang dimaksud adalah melalui Mahkamah Agung RI karena Mahkamah Agung RI dapat melakukan judicial review terhadap peraturan daerah yang dinilai bermasalah untuk membuktikan apakah peraturan daerah-peraturan daerah itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi derajatnya atau tidak.( Kompas tanggal 28 November 2001)
Perdebatan mengenai berlakunya pengujian pembatalan terhadap Perda menjadi pertanyaan tersendiri di era otonomi daerahini, mengingat Perda adalah produk kepala daerah dan DPRD di suatudaerah yang bersifat otonom sedangkan salah satu dampak positifberkembangnya ide otonomi daerah adalah menguatnya eksistensi Perdasebagai produk legislatif daerah yang memungkinkan pengembangan segala potensi kekhasan daerah mendapat payung yuridis yang jelas.Sebagian kalangan memandang Perda merupakan Local Wet, yang
4 mempunyai prototipe yang sebangun dengan Undang-Undang (Wet) di tingkat pusat. Dilihat dari ruang lingkup materi muatan, cara perumusan, pembentukan dan pengundangannya, kedudukannya dalam tata urutan (hirarkis) peraturan perundang-undangan pembentukan dan pengundangannya, kedudukannya dalam tata urutan serta daya berlakunya sebagai norma hukum, sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan memang pandangan yang melihat hal ini sebagai produk hukum yang mandiri tidak berlebihan. (Ni’matul Huda,S.H.,M.Hum,.2010. Problematika Pembatalan Peraturan Daerah)
Pandangan ideal tentang Perda tersebut seolah-olah “diciderai” oleh ketentuan Pasal 185 ayat (5) Undang-Undang Pemerintahan Daerah, yang memberikan kewenangan kepada Menteri Dalam Negeri (selanjutnya disingkat Mendagri) untuk membatalkan Perda tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pertanyaan yuridis yang mengemuka dari persoalan ini adalah berkenaan dengan validitas atau kekuatan hukum kewenangan Mendagri tersebut dan pengaruhnya terhadap kedudukan Perda sebagai suatu produk hukum. Dalam hal ini penulis menilai adanya aturan yang tidak sinkron yang mengatur tentang kewenangan pembatalan peraturan daerah. Dengan dasar pertimbangan tersebut dibutuhkan suatu kajian yuridis normatif untuk mengkaji dan menganalisis mengenai pengujian pembatalan peraturan daerah dalam praktik ketatanegaraan di Indonesia.
METODE PENELITIAN Bentuk dan Jenis Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini adalah suatu penelitian hukum yang akan mengkaji dan menganalisis mengenai pengujian pembatalan peraturan daerah dalam praktik ketatanegaraan di Indonesia. Bentuk penelitian hukum ini adalah penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan melakukan penelusuran dokumen yang berkaitan dengan fokus masalah yang diteliti.
5 Pendekatan Penelitian
1. Pendekatan perundang-undangan (statute approach) dengan tidak melupakan pengungkapan ratio legis dan dasar onthologis lahirnya perundang-undangan khususnya peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pengujian peraturan daerah yang menjadi objek dalam penelitian ini.
2. Pendekatan konseptual (conceptual approach) dengan beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum yaitu :
a. Teori Otonomi Daerah. b. Teori Perundang-undangan. c. Teori Pengujian.
Jenis dan Sumber Bahan Hukum
1. Bahan hukum primer yaitu data yang diperoleh dari norma atau kaidah-kaidah dasar, yakni UUD NRI Tahun 1945, dan peraturan perundang-undangan.
2. Badan hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang tidak termasuk peraturan perundang-undangan, akan tetapi dapat memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer.
3. Badan hukum tertier (penunjang) Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan menelaah bahan-bahan pustaka yang relevan dengan penelitian yaitu literatur-literatur, karya ilmiah (hasil penelitian), peraturan perundang-undangan, majalah, surat kabar, jurnal ilmiah, dokumentasi dari berbagai instansi yang terkait dengan penelitian ini, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan kerangka teori dari hasil pemikiran para ahli kemudian dilihat relevansinya dengan fakta yang terjadi di lapangan.
Analisis Bahan Hukum
Bahan hukum yang telah terkumpul baik sekunder maupun primer, selanjutnya akan disusun dalam suatu susunan yang komprehensif, untuk selanjutnya akan dibuat deskripsi dan kemudian akan dianalisis secara yuridis
6 kualitatif dengan berpedoman pada norma-norma (aturan-aturan) hukum yang ada. Analisis akan dilakukan baik terhadap bahan hukum primer , sekunder dan tertier, agar hasil analisis ini merupakan suatu deskripsi analitis yang komprehensif.
HASIL
Sistem Pengujian Peraturan Daerah yang Sejalan dengan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia dan implikasi pembatalan peraturan daerah yang dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri
Terkait dengan pelaksanaan tugas pengujian yang dijalankan oleh Mahkamah Agung. Berdasarkan data dari tahun 2003 hingga 2008 telah ada 175 permohonan pengujian terhadap peraturan perundang-undangan, yang dari jumlah tersebut sebanyak 28 buah adalah permohonan yang terkait dengan pengujian peraturan daerah ( Imam Soebechi, “Hak uji Materiil”, hal 3) dari jumlah tersebut 3 buah permohonan pengujian peraturan daerah yakni peraturan daerah DKI Jakarta No.13,14, dan 15 tahun 2004 tentang privatisasi rumah sakit daerah yang diajukan oleh yayasan lembaga konsumen dikabulkan artinya ke 3 peraturan daerah dimaksud dibatalkan oleh Mahkamah Agung.
Untuk mengetahui hak menguji yang dimiliki oleh Mahkamah Agung terlebih dahulu penulis uraikan mengenai peraturan yang terkait dengan peraturan perundang-undangan yaitu Undang-Nndang Dasar Negara Republik Indonesia, Undang-undang Nomor : UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, serta peraturan yang terkait dengan Mahkamah Agung yang diatur dalam Undang-undang Nomor : 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (telah diganti dengan UU No. 48 tahun 2009) dan Undang-Undang Nomor : 14 tahun 1985 jo Undang-undang Nomor : 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung (telah diganti dengan UU No. 3 tahun 2009)
Dari hasil pembahasan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa hak menguji yang dimiliki oleh Mahkamah Agung terhadap suatu perda bukanlah hak menguji formil, karena dalam tahapan setiap pembentukan perda yang diatur dalam UU No.32 tahun 2004, tidak ada dikatakan bahwa Mahkamah Agung berwenang menilai setiap pembentukan perda yang telah dibuat atau ditetapkan oleh pemerintah daerah, sebagai suatu kewajiban dalam pembentukan perda.
7 Kewenangan Mahkamah Agung berdasarkan UUD 1945 dan UU No.4 Tahun 2004 adalah untuk menguji isi dari setiap peraturan perundang-undangan di bawah Undang-undang (termasuk perda) terhadap Undang-undang. Jika peraturan perundang-undangan di bawah Undang-undang tersebut bertentangan dengan Undang-undang atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, maka Mahkamah Agung dapat mengeluarkan Putusan peraturan daerah tidak sah dan tidak berlaku untuk umum, serta memerintahkan kepada instansi yang bersangkutan segera melakukan pencabutannya, sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat (3) UU No.4 Tahun 2004 dan Pasal 6 ayat (2) Perma No.1 Tahun 2011.
Pembatalan peraturan daerah tersebut oleh menteri dalam negeri bias memancing terjadinya pergulatan politik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Jika hal ini dibiarkan maka bukan tidak mungkin dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan keresahan pada masyarakat luas. Dimana tidak adanya kejelasan mengenai status dari peraturan daerah tersebut, antara mempunyai kekuatan hokum ataukah sudah tidak mempunyai kekuatan hukum. Hal ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum bagi masyarakat.
Selain implikasi di bidang politik dan social, pembatalan peraturan daerah oleh menteri dalam negeri tentunya berimbas pula pada ranah hokum. Implikasinya sangat nyata dan signifikan. Seperti telah diketahui bahwa didalam undang-undang Dasar Republik Indonesia Pasal 24 A dijelaskan bahwa Mahkamah Agung berwenang melakukan uji materil terhadap peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang. Namun, dalam praktiknya penulis mencatat dari tahun 2002 hingga 2010 terdapat 2221 peraturan daerah yang dibatalkan oleh menteri dalam negeri dengan keputusan menteri dalam negeri. Meskipun sejak 2004 telah terjadi pergantian undang-undang pemerintahan daerah dari undang-undang nomor 22 tahun 1999 menjadi undang-undang nomor 32 tahun 2004, tidak ada satu pun peraturan daerah dalam kurun waktu tersebut yang dibatalkan dengan peraturan presiden atau pun oleh Mahkamah Agung.
Pembatalan-pembatalan peraturan daerah tersebut tentunya cukup membingungkan karena tidak memiliki dasar yang kuat. Terlebih lagi, berdasarkan uraian yang penulis jelaskan sebelumnya bahwa secara atributif dan
8 delegasi, menteri dalam negeri tidak memiliki wewenang untuk membatalkan peraturan daerah.
Dari kenyataan tersebut tentunya kita bisa melihat dengan jelas tidak relevannya aturan yang mengatur mengenai kewenangan pembatalan peraturan daerah dengan kenyataan yang ada di lapangan. Hal tersebut sesungguhnya merupakan titik balik munculnya kewenangan yang tidak sesuai dengan prosedur. Kewenangan yang tidak sesuai dengan prosedur tersebut bermuara pada ketidakpastian hukum dan dalam sebuah Negara, ketidakpastian hukum adalah sebuah kegagalan dalam menegakkan konstitusi. Ini adalah implikasi hukum paling fatal yang bias terjadi apabila keadaan ini terus berlanjut.
Pembatalan Perda yang dilakukan khususnya Perda yang terkait dengan pembayaran atau retribusi, tidak memberikan konsekunesi pada pembayaran yang dilakukan pada saat sebelum Perda diberlakukan, seluruh dana yang diperoleh sebelum dibatalkannya perda tetap merupakan dana yang sah karena dipungut ketika Perda masih berlaku, kecuali pemungutan dilakukan setelah Perda dinyatakan batal maka dana tersebut tidak lagi merupakan dana yang sah karena Perda tersebut telah di batalkan seperti Perda No. 14 tahun 2002 kota Makassar telah dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri namun, tetap di berlakukan sehingga dana yang di pungut tersebut tidak jelas statusnya apa legal atau ilegal dana yang dipungut oleh Pemerintah Daerah Kota Makassar. Perda yang dibatalkan oleh pemerintah pusat dan oleh Mahkamah Agung dalam implikasinya ternyata tidak selamanya diikuti dengan pencabutan oleh pemerintah daerah. Berikut adalah data jumlah Perda yang dibatalkan namun tetap diberlakukan oleh Pemerintah daerah.
PEMBAHASAN
Dengan adanya Putusan Mahkamah Agung Nomor 05/HUM/2005 timbul permasalahan hukum mengenai lembaga mana sebenarnya yang berwenang menguji. Pada 21 Februari 2006, Majelis hakim agung yang diketuai Muchsan memutuskan pembatalan tiga Perda DKI Jakarta (No. 13, 14 dan 15 Tahun 2004). Dalam amarnya, majelis juga memerintahkan kepada Gubernur dan DPRD DKI untuk mencabut ketiga Perda tersebut.Jika dalam waktu 90 hari tidak
9 dilaksanakan, maka ketiga Perda tentang privatisasi rumah sakit daerah itu demi hukum dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.Putusan itu sendiri berawal dari permohonan uji materiil, yang dilakukan sejumlah elemen pemerhati hak-hak konsumen, termasuk Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)( www. Hokum online. “Pembatalan Perda” diakses pada tanggal 27 Februari 2012).
Wewenang MA melakukan pengujian terhadap peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang selama ini diatur dalam UU No. 14 Tahun 1970 Pasal 26 ayat (1) yang berbunyi: "Mahkamah Agung berwenang untuk menyatakan tidak sah semua peraturan perundang-undangan dari tingkat yang lebih rendah dari undang-undang alas alasan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi". Wewenang tersebut dipertegas kembali dalaiu Ketetapan MPR No. IV/MPR/ I973 atau Ketetapan MPR No. lll/ MPR/1978, Pasal 11 ayat (4) menyatakan : “Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji secara materiil hanya terhadap peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang” ( Krishna D. Darumurti dan Umbu Rauta, halaman 65)
Dalam Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001, melalui Ketetapan MPR RI No. X/MPR/2001 MPR memberikan rekomendasi kepada MA untuk melakukan uji material (judicial review) terhadap semua peraturan daerah yang bertentangan dengan aturan perundang-undangan yang lebih tinggi tanpa melalui proses peradilan kasasi. Rekomendasi MPR dikeluarkan untuk mendukung pelaksanaan otonomi aerah, yang belakangan nampak mengkhawatirkan karena beberapa peraturan daerah (Perda) yang dikeluarkan oleh daerah dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dipandang “bermasalah” karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (Martin Jimung,2008:65)
Untuk mengurus dan mengatur urusannya sendiri, pemerintahan daerah berhak untuk membuat peraturan daerah sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi daerahnya. Peraturan daerah dapat berfungsi sebagai alat untuk memperlancar jalannya pemerintahan di daerah dan juga dapat memberi petunjuk terhadap hal-hal yang telah diatur dan dilaksanakan. Pemerintah daerah sebagai penyelenggara pemerintahan daerah tidak terlepas dari tugas untuk
10 membina ketentraman dan ketertiban masyarakat di daerahnya. Peraturan daerah harus sesuai dengan keadaan masyarakat di mana peraturan daerah tersebut diberlakukan(Himawan Estu Bagijo, 2007, op.cit, halaman 432)
Mahkamah agung menguji suatu peraturan daerah atas dasar ada tidaknya pertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan ada tidaknya ketidaksesuaian prosedur pembuatan peraturan daerah dengan peraturan perundang-undangan sedangkan kewenangan pemerintah pusat melakukan pengujian peraturan daerah tidak hanya didasarkan pada aturan hukum yang lebih tinggi daripada peraturan daerah tetapi juga didasarkan pada standar kepentingan umum. Kepentingan umum adalah aspek sosiologis sehingga pengujian terhadap kepentingan umum tergantung pada aspek keberlakuan berbagai macam jenis hukum dan norma sosial yang ada dalam masyarakat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pengujian terhadap Peraturan Daerah telah melahirkan dualiasme pengujian yaitu executive review oleh pemerintah pusat dan judicial review oleh Mahkamah Agung. Standar pengujian peraturan daerah oleh pemerintah pusat berbeda dengan standar pengujian peraturan daerah oleh Mahkamah Agung. Mahkamah agung menguji suatu peraturan daerah atas dasar ada tidaknya pertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan ada tidaknya ketidaksesuaian prosedur pembuatan peraturan daerah dengan peraturan perundang-undangan sedangkan kewenangan pemerintah pusat melakukan pengujian peraturan daerah tidak hanya didasarkan pada aturan hukum yang lebih tinggi daripada peraturan daerah tetapi juga didasarkan pada standar kepentingan umum. Kepentingan umum adalah aspek sosiologis sehingga pengujian terhadap kepentingan umum tergantung pada aspek keberlakuan berbagai macam jenis hukum dan norma sosial yang ada dalam masyarakat. Pembatalan perda oleh menteri dalam negeri ditanggapi oleh pemerintah daerah dengan beragam cara, ada yang segera mencabut perda dimaksud dan dinyatakan tidak berlaku, akan tetapi ada juga pemerintah daerah yang tetap saja memberlakukan perda-perda yang sudah dibatalkan oleh pemerintah pusat tersebut tanpa menghiraukan pembatalan
11 tersebut sehingga menimbulkan kondisi dimana peraturan daerah ini tidak memiliki keberlakuan. Implikasi hukum timbul sebagai akibat dari pembatalan peraturan daerah tersebut yaitu lahirnya ketidakpastian hukum terhadap status peraturan daerah yang sampai saat ini masih tetap berlaku. Ketidakpastian hukum ini disebabkan tidak adanya kejelasan apakah peraturan daerah tersebut masih memiliki kekuatan hukum ataukah sudah tidak memiliki kekuatan hukum. Di satu sisi peraturan daerah tersebut telah dibatalkan karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, sementara di sisi lain peraturan daerah tersebut tidak dicabut oleh pemerintah daerah dan diberlakukan. Hal ini dapat memicu pergulatan politik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Selain itu, hal ini juga dapat menimbulkan keresahan terhadap masyarakat daerah atas ketidakpastian hukum terhadap status peraturan daerah yang telah dibatalkan tapi masih diberlakukan.
12 DAFTAR PUSTAKA
Ni’matul Huda ( 2010). Problematika Pembatalan Peraturan Daerah.Jakarta: FH UII Press Imam Soebechi (2004). Hak uji Materiil yang disampaikan dalam seminar nasional “menuju tata
kelola pemerintahan yang baik (good governance) melalui peningkatan kompetensi aparatur pemerintahan daerah dalam tertib pemebntukan peraturan daerah. Jakarta. Krishna D. Darumurti dan Umbu Rauta(2003). Otonomi Daerah Perkembangan pemikiran,
pengaturan dan pelaksanaan, Citra Aditya:Bandung.
Himawan Estu Bagijo(2007). Pembentukan Peraturan Daerah. Universitas Airlangga: Surabaya. Martin Jimung (2008). Hukum Pemerintahan Daerah.Pustaka Nusatama: Yogyakarta.