ISOLASI & PEMBIAKAN
ISOLASI & PEMBIAKAN
VIRUS
VIRUS
Oleh:
Oleh:
Drh
Is
Isol
olas
asii vi
viru
russ
DDiiaaggnnoossaa kklliinniiss ppeennggaammbbiillaann ssppeessiimmeenn
MMaterial Otopsiaterial Otopsi
R
Reessppiirraassii : : PPaarruu--ppaarruu & & TThhrraakkeeaa Si
Sisstetemm sasarrafaf: : ototakak & & susum2 m2 tutulalangng belbelakakanangg JJaannttuunngg : : jjaannttuunngg
P
Feses : Rectal swab
Darah
Cairan tubuh: Cerebrospinal, pericard,
peritoneum & synovial serta eksudat yang keluar dari mata, hidung maupun mulut (swab)
PEMBIAKAN VIRUS
Virus merupakan mikroorganisme yang bersifat parasit obligat dan hanya bisa hidup pada media yang hidup.
Berkaitan dengan sifatnya tersebut, virus hanya dapat dibiakan pada sel hidup.
Pemilihan media yang digunakan
tergantung dari jenis virusnya dan organ target dari virus tersebut.
Untuk menumbuhkan virus dalam rangka mengisolasi suatu virus dapat dilakukan secara :
1. in ovo yaitu metode menumbuhkan pada media telur berembrio (telur yang sudah dibuahi)
2. in vivo adalah metode menumbuhkan pada hewan percobaan sebagai model
3. in vitro yaitu menumbuhkan virus di dalam gelas- gelas atau tabung menggunakn
media biakan jaringan (tissue culture) atau biakan sel (cell culture).
Virus Isolation:
Virus Isolation: Telur
Telur Embrio
Embrio Tunas
Tunas
(TET)
(TET)
Telur berembrio telah
lama dan paling
sering digunakan
sebagai media isolasi
dan propagasi atau
Telur berembrio atau sering disebut
dengan telur embrio tertunas (TET) atau telur ayam berembrio (TAB) sangat
penting dalam perkembangan virologi karena pada telur tertunas dapat
ditemukan bermacam-macam tipe sel yang mampu ditumbuhi/menjadi media tumbuhnya berbagai jenis virus.
Macam-macam sel tersebut adalah : 1. Sel epitel khorion yang berada pada
membran khorion
2. Sel epitel alantois yang merupakan sel
penyusun pada membran khorioalantaois. 3. Sel epitel amnion yang melapisi ruang
amnion
4. sel pada kantong kuning telur ( Yolk sac) dan sel endotel pada pembuluh darah
5. Sel dari embrionya itu sendiri yang umumnya adalah sel fibroblast.
Keberhasilan isolasi dan propagasi virus pada telur dipengaruhi oleh :
Rute inokulasi
Umur embrio pada telur
Temperatur/suhu inkubasi
Lamanya waktu inkubasi setelah inokulasi
Volume dan pengenceran inokulum yang digunakan
Status kekebalan flok dari induk tempat telur berasal
Dalam membiakan virus menggunakan telur, sebaiknya digunakan telur yang berasal dari breeding flock yang bebas
patogen tertentu (SPF/spesific pathogen free).
Telur yang digunakan diinkubasikan pada suhu 37o-3 o Celcius dan kelembaban
Sebelum diinokulasi telur diperiksa
dengan teropong (candling), pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah
telur dalam kondisi normal, sesuai dengan umurnya atau ada kelainan. Kelainan
yang terjadi misalnya tidak adanya
kantung udara, infertile (tidak dibuahi), embrio lemah atau mati. Telur-telur yang tidak normal tidak bisa digunakan.
Inokulasi virus kedalam telur dapat
dilakukan dibeberapa tempat tergantung jenis virusnya, misalnya pada virus yang lebih menyukai sel epitel sebagai tempat berkembang biaknya dapat diinokulasikan pada membran khorioalantois.
Rute inokulasi yang dapat dilakukan
antara lain adalah kedalam ruang amnion (amnionic cavity), ruang alantois (allantoic cavity), membran khorio alantois, kantong kuning telur (yolk sac), intravena
Dalam menginokulasi virus ke telur selain rute, umur telur juga harus diperhatikan, sebab pada umur tertentu, pada daerah tertentu kondisinya optimal.
Bila akan menginokulasi kedaerah ruang amnion , pembuluh darah (intra vena) dan kantong kuning telur sebaiknya digunakan telur yang berumur 5-7 hari karena pada umur tersebut embrio masih muda dan kecil sehingga kuning telur masih cukup besar ukurannya demikian juga ruang amnionnya.
Untuk menginokulasi ke daerah ruang alantois dilakukan pada tekur yang
berumur 9-12 hari karena pada saat itu luas ruang alantois yang optimal dan bila akan menginokulasi ke membran khorio alantois sebaiknya pada telur yang
berumur 12-14 hari sebab pada umur
tersebut mambran cukup kuat untuk ditarik dan dibuat kantung udara buatan.
contoh pemanfaatan TET misanya untuk memperbanyak virus ND ataupun Pox.
Pembiakan virus pada kultur sel
Virus dapat diperbanyak dengan melakukan kultur sel yaitu menumbuhkan sel yangterinfeksi virus secara invitro. Why do we need Cell culture? Research
± Reduce animal use
Commercial or large-scale production
CELL LINE* CELL TYPE AND ORIGIN 3T3 Fibroblast (mouse)
293 Kidney epithelium (human) BHK21 fibroblast (Syrian hamster) MDCK epithelial cell (dog)
HeLa cancer epithelial cell (human) PtK1 epithelial cell (rat kangaroo) L6 myoblast (rat)
PC12 chromaffin cell (rat) (neuroblastoma cell) SP2 plasma cell (mouse)
COS kidney (monkey)
CHO ovary (chinese hamster)
DT40 (chick) lymphoma cell for efficient targeted recombination R1 embryonic stem cells (mouse)
E14.1 embryonic stem cells (mouse) H1, H9 embryonic stem cells (human)
S2 macrophage-like cells (Drosophila)
BY2 undifferentiated meristematic cells (tobacco)
Jenis
Pembiakan virus pada kultur sel
Kelebihan :
Dapat memproduksi dalam jumlah banyak
Semua jenis virus dapat dibiakan pada kultur sel( tergantung jenis selnya)
Kekurangannya :
Biaya lebih mahal
Pengerjaan harus aseptis
Perlu peralatan yang lebih kompleks dibanding pembiakan pada telur
Pembiakan virus pada hewan
percobaan
Sudah jarang dilakukan terkait dengan kesejahteraan hewan
Penelitian sudah demikian maju, sudah banyak jenis kultur sel yang dapat
REAKSI VIRUS TERHADAP
AGEN
FISIK & KI
MIA
1. Suhu dan Temperatur
Sebagian besar virus sangat labil dan dapat hidup diluar tubuh induk semang.
Di dalam laboratorium harus diusahakan agar suspensi virus dan jaringan tubuh yang
mengandung virus secepatnya disimpan pada suhu 40°C atau akan lebih bagus pada suhu -70°C. Beberapa virus ada yang stabil pada
temperatur kamar serta dapat hidup dalam waktu yang cukup lama. Misalnya virus Pox.
Pengawetan virus yang terbaik adalah melalui proses pengeringan dalam keadaan beku,
yang disebut dengan freeze drying.
Kebanyakan virus dapat disimpan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun pada ampul gelas hampa udara dalam nitrogen cair (-196°C) atau pada suhu -70°C sampai -90°C (untuk virus beramplop).
Material penyakit yang mengandung virus harus
ditempatkan dalam tabung tertutup kedap udara bila didinginkan dengan CO2 padat (es kering)
untuk menghindari perusakan virus oleh gas CO2. Sejumlah virus dapat diinaktifkan oleh proses
pembekuan pencairan (feezing-thawing).
Sebagian besar virus dapat diinaktifkan pada suhu 56°C selama 30 menit atau 100°C selama beberapa detik karena terjadi proses denaturasi virus.
2. Perubahan pH
Secara umum sebagian besar virus tetap hidup pada pH 5-9 akan tetapi virus akan
cepat rusak atau inaktif pada pH yang terlalu asam atau terlalu basa.
Asam kuat dan basa kuat menyebabkan denaturasi protein virus, oleh karena itu sangat efektif untuk membasmi virus.
Misalnya Natrium hidroksida 2% (caustic soda)
digunakan untuk desinfeksi virus Penyakit
3. Radiasi Ultraviolet
Sinar matahari langsung mematikan
mikroorganisme karena mengandung sinar
ultraviolet. Berdasarkan panjang gelombangnya sinar ultraviolet dapat dikelompokkan menjadi: 3150-4000A, 2800-3150A, dan kurang dari
2800A.
Sinar ultraviolet yang kurang dari 2800A, mempunyai efek fermisidal (merusak
mikroorganisme) dan dapat menyebabkan
peradangan kulit (erythema) dan peradangan mata (conjunctivis).
4. Formaldehid
Larutan formaldehid, yaitu formalin yang banyak digunakan untuk pembuatan vaksin inaktif.
Hanya RNA yang dapat diinaktifkan dengan formalin
5. Pelarut Lemak
Virus-virus yang mengandung lemak pada amplopnya dapat diinaktifkan oleh : ether,
kloloform, natrium deoksikolat, fosfolifase, dan bahan pelarut lemak lainnya.
6. Deterjen
Untuk melarutkan virus beramplop dan sebagai pembersih alat-alat laboratorium. Untuk
meningkatkan daya penetrasi deterjen dapat dicampur dengan formalin atau glutaraldehid.
Metode dan bahan kimia yang berbeda
digunakan untuk keperluan inaktivasi yaitu: A. Sterilisasi : Tekanan uap,pemanasan
kering,oksidasi ethylene,irradiasi sinar g.
B. Disinfeksi permukaan : natrium hipoklorin, gluataraldehid, formaldehid,asam pirasetik.
C. Disinfeksi kulit : Klorheksidin, ethanol 70%, iodophore
CARA
MENGAWETKAN VIRUS
1.TemperaturKebanyakan virus tahan hidup selama beberapa hari dalam temperatur 4 C . keuntungan
penyimpanan virus dalam suhu ini ialah dapat menghindari proses pembekuan dan pencairan
(freeze thawing) suspensi virus yang dapat merusak partikel virus. Untuk menyimpan virus dalam waktu lama ( berbulan-bulan atau sampai
bertahun-tahun) digunakan temperatur -70 C (dalam freezer) atau -196 C (dalam tabung berisi nitrogen cair).
2. Bahan Kimia
a. Jika virus disimpan pada temperatur -70 C, bahan kimia yang dapat dipakai untuk mengurangi
kerusakan virus adalah DMSO dengan konsentrasi
10%
b. Bila virus tersebut Cell associated, disamping DMSO 10%, pada media penyimpanan virus
ditambahkan pula serum sampai 10% untuk menjaga keutuhan sel.
c. Gliserol sebagai alkohol polihidrat dapat
menstabilkan dinding sel dan partikel virus. Pada konsentrasi 50% gliserol digunakan untuk
mengawetkan virus pox dan sel epitel yang mengandung virus PMK.
3. Proses Kering Beku
Cara ini juga disebut liofilisasi dan merupakan yang terbaik dalam mengawetkan virus. Virus yang sudah kering beku dapat disimpan dalam temperatur 4 C selama berbulan-bulan. Metode