• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIV AIDS Tren Isu Gay Fix(1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HIV AIDS Tren Isu Gay Fix(1)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

HIV AIDS HIV AIDS

TREND DAN ISSUEHOMOSEKSUAL BERESIKO TINGGI TERINFEKSI TREND DAN ISSUEHOMOSEKSUAL BERESIKO TINGGI TERINFEKSI

HIV AIDS HIV AIDS

Ners. Herman, M. Kep Ners. Herman, M. Kep Disusun Oleh Kelompok 1 : Disusun Oleh Kelompok 1 : 1.

1. Fitri Fitri Ratnawati Ratnawati I103214100I10321410066 2.

2. Deska Deska Kurnia Kurnia Sari Sari I1032141018I1032141018 3.

3. Destura Destura I1032141030I1032141030 4.

4. Yolanda Yolanda Yuniarti Yuniarti I103214103I10321410355 5.

5. Annisa Annisa Rosalita Rosalita I103214103I10321410311 6.

6. Ananda Ananda Maharani Maharani Putri Putri I103214103I10321410377 7.

7. Eka Eka Putri Putri Fajriani Fajriani I1032141042I1032141042 8.

8. Riri Riri Fitri Fitri Sari Sari I103214104I10321410488

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK

2017 2017

(2)

KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Puji syukur

Puji syukur kehadirat Tuhan Ykehadirat Tuhan YME, atas berkat dan ME, atas berkat dan rahmat-nya penyusunrahmat-nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang bertemakan tentang Trend dan Issue HIV dapat menyelesaikan makalah yang bertemakan tentang Trend dan Issue HIV AIDS.

AIDS.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan, yaitu sebagai Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan, yaitu sebagai tugas terstruktur mata kuliah HI

tugas terstruktur mata kuliah HIV AIDS V AIDS tahun akademik 2tahun akademik 2017/2018 di 017/2018 di fakultasfakultas kedokteran, Universitas Tanjungpura.

kedokteran, Universitas Tanjungpura.

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun banyak mendapatkan bantuan Dalam penyusunan makalah ini, penyusun banyak mendapatkan bantuan dan dorongan dari pihak

dan dorongan dari pihak  –  –   pihak luar sehingga makalah ini terselesaikan sesuai  pihak luar sehingga makalah ini terselesaikan sesuai dengan yang diharapkan.

dengan yang diharapkan.

Ucapan terima kasih tidak lupa diucapkan kepada : Ucapan terima kasih tidak lupa diucapkan kepada : 1.

1. Bapak Ns. Herman, M. Kep selaku dosen mata kuliah HIV AIDS Prodi IlmuBapak Ns. Herman, M. Kep selaku dosen mata kuliah HIV AIDS Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.

Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. 2.

2. TemanTeman –  – teman teman program program studi studi ilmu ilmu keperawatan keperawatan angkatan angkatan 2014 2014 FakultasFakultas KedokteranUniversitas Tanjungpura

KedokteranUniversitas Tanjungpura 3.

3. Pihak yang membantu baik secara Pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung.langsung maupun tidak langsung.

Segala sesuatu di dunia ini tiada yang sempurna, begitu pula dengan Segala sesuatu di dunia ini tiada yang sempurna, begitu pula dengan makalah ini. Saran dan kritik sangatlah penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Saran dan kritik sangatlah penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya. Penyusun harapkan semoga makalah ini dapat memberikan makalah berikutnya. Penyusun harapkan semoga makalah ini dapat memberikan suatu manfaat bagi kita semua dan memilki nilai ilmu pengetahuan.

suatu manfaat bagi kita semua dan memilki nilai ilmu pengetahuan.

Pontianak,25 September 2017 Pontianak,25 September 2017

Penyusun Penyusun

(3)

DAFTARISI KATA PENGANTAR ... i DAFTARISI ... ii BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 2 1.3 Tujuan ... 2 BAB II PEMBAHASAN ... 3 2.1 HIV AIDS ... 3

2.2 Trend Dan Issue HIV AIDS ... 7

BAB III PENUTUP ... 17

3.1 Kesimpulan ... 17

3.2 Saran ... 17

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Berdasarkan data Dirjen PP & PL Kemenkes RI tahun 2016, masalah HIVAIDS Triwulan IV (Oktober sampai Desember) jumlah penderita HIV sebanyak 13.287 orang. Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus HIV tahun 2016 didapatkan tertinggi pada usia 25  –   49tahun (68%), diikuti kelompok umur 20 – 24tahun (18,1%), dan kelompok umur50 tahun (6,6%). Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (53%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (35%), lain-lain (11%) dan  penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (1%).Sedangkan jumlah  penderita AIDS sebanyak 3.812 orang. Berdasarkan kelompok umur,  persentase kasus AIDS tahun 2016 didapatkan tertinggi pada usia 30-39 tahun (35,3%), diikuti kelompok umur 20-29 tahun (32,3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (16,2%). Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (71,9%), homoseksual (Lelaki Saks Lelaki) (21,3%), perinatal (3,6%), dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (2,5%). Rasio HIV dan AIDS antara laki laki dan  perempuan adalah 2:1 (Kemenkes, 2016).

Kasus HIV/AIDS di Indonesia ditemukan pertama kali pada tahun 1987 sampai Desember 2016, kasus HIV/AIDS tersebar di 407 (80%) dari 507 kabupaten/kota di seluruh provinsi Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya HIV-AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Baret pada Tahun 2012.Prevelensi HIV/AIDS pada tahun 2016 cenderung meningkat dari tahun sebelumnya. Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 67,9% dan perempuan 31,5%. Sementara itu 0,6% tidak melaporkan jenis kelamin. Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Timur (16.911), Papua (13.398), DKI Jakarta (8.648), Bali (6.803), Jawa Tengah (6.444), Jawa Barat (5.251), Sumatera Utara (3.897), Sulawesi Selatan (2.812), Kalimantan Barat

(5)

heteroseksual (67,8%), penasun (10,5%), diikuti homoseksuai (4,1%), dan  penularan melalui peninatal (3%)(Kemenkes RI, 2016). Pada tahun 2016

trend penyebaran kasus HIV/AIDS yang paling banyak yaitu LSL (lelaki suka lelaki) (Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2016).

Berdasarkan masalah yang muncul di atas maka kelompok sepakat untuk mendiskusikan Trend dan Issue HIV AIDS dengan judul resiko tinggi terjadinya infeksi HIV/ AIDS pada homoseksual.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep teori dari HIV/AIDS ?

2. Bagaimana trend issue pada pasien HIV/AIDS ? 1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep teori dari HIV/AIDS. 2. Untuk mengetahui trend issue dari HIV/AIDS.

(6)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 HIV AIDS

1. Definisi

 HIV ( Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat menyebabkan AIDS . HIV termasuk keluarga virus retro yaitu virus yang memasukan materi genetiknya ke dalam sel tuan rumah ketika melakukan cara infeksi dengan cara yang berbeda (retro), yaitu dari RNA menjadi DNA, yang kemudian menyatu dalam DNA sel tuan rumah, membentuk pro virus dan kemudian melakukan replikasi.  AIDS  ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk hidup.Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya.Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV (Widoyono, 2005).

Human Immunodefisiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan kerusakan sistem imun dan mneghancurkannya. HIV menginfeksi tubuh dengan periode inkubasi yang panjang sehingga menyebabkan timbulnya tanda & gejala AIDS (Nursalam, 2011).

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome ) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immunodefisiency Virus) yang termasuk famili retroviridae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV (Setiati, 2015).

2. Etiologi

Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis (1983) dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di

(7)

Amerika Serikat (1984) mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional (1986) nama virus dirubah menjadi HIV.Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD 4. Didalam sel limposit T, virus dapat  berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dalam keadaan inaktif. Walaupun demikian, virus dalam tubuh  pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan

dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut (Nursalam, 2011).

Bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan berbagai desinfektan seperti eter, aseton, alkohol, dll, tetapi relatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak (Nursalam, 2011).

3. Manifestasi klinis

Menurut Setianti (2015) tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada  penderita AIDS umumnya sulit dibedakan karena bermula dari gejala klinis umum yang didapati pada penderita penyakit lainnya. Secara umum dapat dikemukakan sebagai berikut:

 Rasa lelah dan lesu

 Berat badan menurun secara drastis

 Demam yang sering dan berkeringat waktu malam  Mencret dan kurang nafsu makan

 Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut  Pembengkakan leher dan lipatan paha

 Radang paru  Kanker kulit

(8)

4. Cara Penularan HIV AIDS

Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu penyakit yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang rentan, tempat keluar kuman dan tempat masuk kuman (port’d entrée). Virus HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T dan sel otak sebagai organ sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh. Sebagai vehikulum yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan kepada orang lain adalah berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan diantaranya cairan sperma, cairan vagina atau servik dan darah penderita. Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun hingga kini cara  penularan HIV yang diketahui adalah melalui :

a. Transmisi Seksual

Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang  paling sering terjadi. Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serik. Infeksi dapat ditularkan dari setiap  pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya. Resiko  penularan HIV tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah  pasangan seks dan jenis hubungan seks. Orang yang sering  berhubungan seksual dengan berganti pasangan merupakan

kelompok manusia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.

 Homoseksual

Didunia barat, Amerika Serikat dan Eropa tingkat  promiskuitas homoseksual menderita AIDS, berumur antara 20-40 tahun dari semua golongan rusial. Cara hubungan seksual anogenetal merupakan perilaku seksual dengan resikotinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi cairan sperma dari seseorang pengidap HIV. Hal ini sehubungan dengan mukosa

(9)

rektum yang sangat tipis dan mudah sekali mengalami  pertukaran pada saat berhubungan secara anogenital.

 Heteroseksual

Cara penularan utama melalui hubungan heteroseksual  pada promiskuitas dan penderita terbanyak adalah kelompokumur seksual aktif baik pria maupun wanita yang mempunyai banyak pasangan dan berganti-ganti.

 b. Transmisi Non Seksual

 Transmisi Parental

Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang telah terkontaminasi, misalnya pada  penyalah gunaan narkotik suntik yang menggunakan jarum suntik yang tercemar secara bersama-sama. Disamping dapat  juga terjadi melaui jarum suntik yang dipakai oleh petugas

kesehatan tanpa disterilkan terlebih dahulu.

 Darah/Produk Darah

Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara  –   negara barat dan di negara  –   negara lainnya. Misalnya pada saat donor darah, darah tidak di periksa terlebih dahulu dan ternyata darah terinfeksi HIV maka akan mudah terinfeksi HIV. Resiko tertular infeksi/HIV lewat trasfusi darah adalah lebih dari 90%.

 Transmisi Transplasental

Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan sewaktu menyusui. Penularan melalui air susu ibu termasuk penularan dengan resiko rendah (Nursalam, 2011).

(10)

2.2 Trend Dan Issue HIV AIDS

Sejak tahun 2002 terjadi fenomena baru penyebaran HIV AIDS di Indonesia, yakni melalui prilaku seksual. Kondisi tersebut sesuai dengan survey yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan RI, sebanyak 55 % dari keseluruhan infeksi baru disebabkan oleh hubungan seks heteroseksual maupun homoseksual. Data estimasi populasi rawan tertular HIV pada kaum homoseksual di Indonesia tahun 2009 adalah 696.026 dari sekitar 800 ribu kaum homoseksual (Kemenkes RI, 2011). Hal tersebut mencerminkan bahwa  penggerak utama epidemi HIV-AIDS di Indonesia saat ini adalah melalui transmisi seksual beresiko terutama pada kalangan homoseksual tersembunyi (Pohan, 2017).

Penularan HIV secara umum terjadi akibat prilaku manusia yang  beresiko, sehingga menyababkan individu dalam situasi yang rentan terhadap infeksi. Penularan penyakit ini samakin cepat seiring perubahan moral dan hubungan yang tidak terbatas di masyarakat. Trend penyebaran HIV-AIDS kini mulai bergeser. Jika sebelumya tingkat prevalensi atau penyabaran infeksi baru HIV-AIDS lebih didominasi oleh pelaku narkoba dengan  pemakaian jarum suntik secara bergantian, kini pola penyebarannya beralih

melalui prilaku seks beresiko (Hutapea, 2011). 1. Definisi Homoseksual

Secara sosiologis, homoseksual (Soekanto, 2004) adalah seseorang yang cenderung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual.

Homoseksualitas merupakan masalah yang kompleks, menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia baik sosial maupun agama.homoseksual mengacu kepada salah satu bentuk perilaku seks yang menyimpang, yang ditandai adanya ketertarikan (kasih sayang, hubungan emosional, dan secara erotik) dengan jenis kelamin yang sama. (Hanwari, 2009).

(11)

2. Penyebab Timbulnya Perilaku Homoseksual a. Faktor Internal : Zygot

Faktor bawaan dari awal pembentukan  zygot atau pertemuan sel sperma dan sel telur, sampai pada saat kehamilan dan kelahiran. Anak yang lahir dengan kelainan genetik dan hormonal, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang menjadi remaja dan dewasa  berdasarkan kelainan yang dimilikinya.Misalnya anak perempuan yang lahir dengan kelainan genetik dan hormonal, maka anak  perempuan bisa tumbuh dan berkembang dengan fisik dan

kepribadian cenderung seperti anak laki –  laki, begitupun sebaliknya (Dermawan, 2015).

 b. Faktor Eksternal : faktor –  faktor yang disebabkan diluar situasi dan kondisi diluar diri anak

- Pendidikan orang tua

Pendidikan yang salah pada anak dapat menyebabkan  perubahan kepribadian pada diri anak, misalnya anak perempuan dididik ala laki-laki, maka anak perempuan cenderung akan menjadi anak laki-laki, demikian pula sebaliknya anak laki-laki dididik ala anak perempuan, maka anak laki-laki cenderung menjadi anak perempuan. Ditambah lagi dengan pergaulan yang salah akan memperkuat jadi diri seorang homo. Anak perempuan  banyak bergaul dengan anak laki  –   laki, sebaliknya anak laki-laki banyak bergaul dengan anak perempuan (Dermawan, 2015). - Kekerasan fisik dan psikis

Kekerasan fisik dan psikis yang dialami oleh anak akan menyebabkan kebencian dan dendam pada status diri seseorang. Anak perempuan yang sering kali mengalami kekerasan fisik dan psikis dari seorang ayah dan kemudian berlanjut mendapat kekerasan lainnya dari pacarnya, maka kemungkinan dalam diri anak perempuan tumbuh kebencian dan dendam pada sosok laki-laki, sebaliknya ketika dia merasa aman dan nyaman berada

(12)

didekat para perempuan, maka lambat laun dia akan menyukai dan tertarik pada kaum sejenisnya (Dermawan, 2015).

Penelitian Raja Parlindungan & Amalia Roza Brilianty (2014) menyatakan subjek Z atau responden penelitian, memiliki riwayat kehidupan sebagai Gay karena adanya trauma masa lalu umur 10 tahun mendapatkan pengalaman seksual pertama kali  bersama seorang laki –  laki.

- Stres dan depresi

Pengaruh stres dan depresi yang dialami seseorang juga dapat menjadi penyebab terjadi perilaku homoseksual. Seseorang yang kurang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt, ketika mengalami stres dan depresi (banyak faktor penyebabnya) akan cenderung mudah terpengaruh dan terbawa pada kehidupan bebas dan menyimpang dari aturan dan ajaran agama. Kehidupan hura-hura, hedonisme sebebas- bebasnya sampai kepada kehidupan malam, alkohol, narkoba

dan seks bebas (Dermawan, 2015). - Pengaruh media cetak dan elektronik

Pengaruh media cetak maupun elektronik yang menyimpang dapat mempengaruhi orientasi seks pada anak. Pada awalnya anak hanya iseng membaca atau menonton hal-hal yang berbau porno (kegiatan seks para laki-laki homo atau kegiatan seks perempuan lesbian), lambat laun akan muncul  perasaan hobi dan menyenangi kegiatan membaca atau menonton kegiatan seks homo atau lesbi, maka lambat laun ada keinginan mencoba dan mencari pasangan (Dermawan, 2015). - Trend dan gaya homodeksual

Trend dan gaya homoseksual pada zaman ini bukan hanya sekedar ikut-ikutan saja, akan tetapi sudah berorientasi  pada rasa solider dan toleransi terhadap teman, sehingga ikut

(13)

Disamping itu kebutuhan akan pekerjaan (yang biasanya dilakukan oleh perempuan salon, panti pijat) menyebabkan seorang laki-laki normal terjerumus pada pergaulan homoseksual dalam lingkungan pekerjaannya (Dermawan, 2015).

Penelitian Raja Parlindungan & Amalia Roza Brilianty (2014) menyatakan subjek K atau responden dari penelitian, memiliki riwayat kehidupan sebagai Gay ketika duduk di semester dua bangku perkuliahan, K mendapatkan contoh modeling sebagai Gay dan mendapatkan pengalaman seksual sebagai gay dari junior dibangku kuliah.

3. Resiko Penularan HIV AIDS Homoseksual a. Seks anal

Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dari penetrasi vagina.Jaringan dan lubrikan alamiah pada anus dan vagina sangat berbeda.Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja.Selain itu, anus juga tidak memproduksi lubrikan alami seperti vagina sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika penetrasi anal dilakukan pun lebih tinggi.Luka inilah yang bisa menyebarkan infeksi HIV.Infeksi HIV  juga bisa terjadi jika ada kontak dengan cairan rektal pada anus. Cairan rektal sangat kaya akan sel imun, sehingga virus HIV mudah melakukan replikasi atau penggandaan diri. Cairan rektal pun menjadi sarang bagi HIV. Maka, jika pasangan yang melakukan penetrasi telah  positif mengidap HIV, virus ini akan dengan cepat berpindah pada  pasangannya lewat cairan rektal pada anus. Tak seperti vagina, anus tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh (Herlani, Riyanti, & Widjanarko, 2016).

(14)

 b. Seks bebas tanpa alat kontrasepsi

Dalam penelitian Cempaka & Kardiwinata (2012) menyatakan  bahwa pola seksual yang dilakukan gay lebih dominan ke arah concurrent partnership yaitu hubungan seksual dimana seorang individu mempunyai hubungan seksual secara bersama dengan lebih dari satu orang namun sebagian besar gay tidak menggunakan kondom secara konsisten. Penelitian ini didukung oleh penelitian Hartono (2009) yang menyatakan memiliki pasangan seksual rata-rata lebih dari 5 pasangan dan tanpa menggunakan kondom, sangat berisiko tinggi dalam penyebaran IMS.

Didalam jurnal ini juga menyatakan, penelitian Maurice Kwong-Lai et al. (2011) menunjukan 43% pria yang sering melakukan seksual secara anal sama sekali tidak pernah menggunakan kondom, ini karena mereka mengira pasangan seksual mereka sehat dan bebas dari  penyakit. Selain itu, dalam hasil perilaku populasi paling berisiko dan kepuasan layanan bali yang dilakukan oleh KPA tahun 2010, dari 266 gay, yang menggunakan kondom secara konsisten baru sebanyak 97 orang atau sebesar 36%, padahal penggunaan kondom merupakan salah satu cara pencegahan. Sangat sedikit sekali kampanye  –  kampanye yang dilakukan pemerintah mengenai homoseksualitas,  padahal gay memiliki faktor risiko yang tinggi dalam penyebaran IMS

(KPA, 2011).

c. Tidak memeriksakan diri

Stigma sosial yang mengecam kaum LGBT dan kasus HIV sebagai  penyakit kaum gay , banyak yang merasa takut untuk memeriksakan

diri ke fasilitas kesehatan. Padahal, beberapa hari atau minggu setelah terinfeksi HIV, pasien akan masuk  tahap infeksi akutdi mana virus ini dengan mudah menyebar. Sementara pada tahap infeksi akut ini  biasanya gejala-gejala yang dialami disalahpahami sebagai gejala flu  biasa.Dengan perawatan intensif yang diberikan tenaga kesehatan,

(15)

 perawatan akan semakin membuat kaum gay berisiko HIV (WHO, 2013).

4. Pencegahan a. Kontrol Diri

Dalam jurnal penelitian Dwilaksono (2013) dijelaskan bahwa bahwa pria gay yang memiliki kontrol diri seksual yang baik melaporkan lebih jarang melakukan seks oral pada pasangannya, dan lebih jarang pula melakukan aktivitas seksual tanpa kondom. Hal ini memperlihatkan bahwa saat subjek memiliki kontrol diri yang baik maka perilaku seksnya cenderung lebih rendah. pria gay yang memiliki kontrol diri seksual yang baik juga dilaporkan lebih  jarang menelan cairan  semen  partnernya. Sedangkan dari sisi anal

seks, mereka yang memiliki control diri terhadap seks yang rendah lebih sering melakukan seks anal dan melakukan ejakulasi di dalam rectum pasangannya tanpa menggunakan kondom, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kontrol yang lebih baik.

Menurut Ghufron & Risnawati dalam Dwilaksono (2013) mengatakan bahwa kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan  –   dorongan dari dalam dirinya. Seperti yang diungkap oleh Kumala dalam Dwilaksono (2013) mengatakan bahwa resiko penularan HIV dari  pasangan yang terinfeksi melalui seks oral jauh lebih kecil

dibandingkan melalui seks anal.

 b. VCT (Voluntary Counseling and Testing )

VCT merupakan proses konseling pra testing, konseling post testing dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu untuk mengetahui status HIV. Tujuan VCT yaitu sebagai upaya pencegahan HIV AIDS, upaya mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi / pengetahuan tentang faktor risiko penyebab seseorang terinfeksi HIV, upaya  pengembangan perubahan perilaku (Silvia dkk., 2017).

(16)

Tahapan VCT :

1. Sebelum deteksi HIV (Pra-konseling)

Pra-konseling adalah tahap awal dalam VCT. Dalam tahap ini klien diberi pengetahuan mengenai HIV AIDS. Apabila klien merasa tidak pernah melakukan perilaku beresiko, klien  biasanya membatalkan untuk melakukan pemeriksaan. Pada klien yang beresiko tinggi, seorang konselor harus lebih menjelaskan lebih rinci tentang akibat yang akan timbul apabila hasil tes sudah keluar. Hal lain yang perlu ditanyakan apakah klien ada dukungan atau tidak. Karena saat menunggu hasil tes adalah hal yang paling berat bagi klien.

2. Deteksi HIV (Sesuai keinginan klien dan setelah klien menandatangani lembar persetujuan-inform concent).

Pada tahap ini adalah tahap tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang positif trinfeksi HIV atau tidak. Tes ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya HIV dalam sampel darahnya. Tes ini harus bersifat :

- Sukarela : sukarela berarti memeriksakan dirinya tanpa harus ada paksaan, melainkan harus berasal dari kesadarannya sendiri.

- Rahasia : Setelah melakukan tes, apapun hasilnya, seorang konselor harus merahasiakan hasil tes baik  positif maupun negatif. Hasil ini hanya boleh

diberitahukan kepada orang yang bersangkutan.

- Tidak boleh diwakilkan kepada orang lain, baik orangtua atau pasangan, atasan, atau siapa pun.

3. Pascakonseling: Konseling setelah Deteksi HIV

Pascakonseling merupakan kegiatan yang harus diberikan konselor kepada klien. Baik hasilnya negatif ataupun positif konseling setelah tes sangat penting agar tidak menularkan HIV

(17)

kepada orang lain dan dapat mencegah penularan mencegah HIV dimasa mendatang (Nursalam dkk, 2008).

Strategi komunikasi dalam sosialisasi layanan VCT dikalangan gay ialah sebagai berikut :

1. Mengenal khalayak

Menghadapi keadaan khalayak yang cenderung tertutup dapat dilakukan pendekatan melalui media sosial khusus kaum gay, mengenal khalayak dibutuhkan untuk mempersiapkan kegiatan dan pesan  –   pesan yang akan disampaikan dalam sosialisasi agar menarik minat kalangan sehati sesuai situasi dan kondisi khalayak

2. Menyusun pesan

Konselor merupakan divisi yang menentukan pesan –  pesan yang akan disampaikan dalam sosialisasi VCT dengan memperhatikan bahasa dan kalimat yang akan disampaikan. Penggunaan bahasa nonformal digunakan agar lebih mudah dimengerti, kalimat yang di sampaikan bersifat ajakan, yakni mengajak melakukan VCT. Penyampaian pesan-pesan tersebut  juga ditunjang dengan foto-foto serta video terkait dengan tema

gay, HIV, dan VCT. 3. Menetapkan metode

Menurut cara penyampaiannya menggunakan dua metode yakni, metode redundancy (pengulangan) dan canalizing. Sedangkan menurut bentuk isinya, metode yang dipergunakan adalah metode informatif, edukatif, dan juga persuasif.

4. Menyeleksi penggunaan media

Media yang yang dipergunakan dalam penyampaian pesan sosialisasi layanan VCT adalah dengan menggunakan brosur,  personal selling, media online yakni Blackberry Messanger,

(18)

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa kepatuhan gay untuk melakukan pemeriksaan VCT dipengaruhi oleh tingkat kesadarannya terhadap kesehatan dirinya, gay yang sadar dirinya merupakan resiko tinggi terkena HIV/AIDS atau PMS dan merasa kesehatan itu sangat penting akan rutin melakukan pemeriksaan VCT sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Saat ini istilah VCT diganti menjadi HCT (HIV Conseling and Test) (Silvia dkk., 2017). 5. Penanganan Psikologi HIV AIDS homoseksual

Peyimpangan seksual yang dilakukan oleh kaum homoseksual secepat mungkin harus segera ditangani dan tdk boleh dibiarkan. Tujuan  penanganan terhadap penyimpangan homoseksual adalah untuk

mengembalikannya pada kehidupan seks yang normal. Penanganan dapat dilakukan oleh ahli psikolog maupun pendekatan secara keagamaan. Pendekatan yang dilakukan oleh psokolog biasanya berupa terapi kejiwaan yang berusaha mengembalikan kesadaran dan perasaan seorang homoseksual akan jati dirinya sesungguhnya dan masa depannya yang akan datang. Sedangkan pendekatan agama adalah menyadarkan dirinya akan perilaku homoseksual yang dilarang oleh agama, dikutuk oleh AllahSwt, dan berbagai akibat yang akan dialami, baik dari sisi kesehatan, hubungansosialnya, depresi dan stres dan hilangnya masa depan bersama keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Ada beberapa cara yang ditempuh oleh para konselor atau psikolog untuk mengembalikan seorang homoseksual menjadi individu yang normal, yaitu :

a. Self mengacu kepada diri seseorang yang berkaitan dengan seluruh identitas yang ada pada dirinya, contoh konkritnya adalah nama, alamat, nama orangtua, lingkungan keluarga dan pengaruhnya terhadap konseli dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan konseli. Melalui  self ini bagaimana konseli mampu menyadari identitas asli diri mereka dengan segala aspek bawaan yang ada  pada dirinya.

(19)

 b.  Relationship mengacu pada diri seseorang untuk mampu memahami setiap hubungan yang ia jalin dan merujuk pada hubungan sosial. Hubungan sosial ini berkaitan dengan kisaran  jumlah teman laki-laki dan perempuan, bagaimana hubungan konseli dengan teman-teman dekatnya, dan berkaitan dengan karakteristik teman-teman dan lingkungan yang menjadi tempat untuk berhubungan secara sosial.

c.  Differential of feeling yaitu mengidentifikasian konselig terhadap  perbedaan perasaan terhadap teman-teman dan lingkungan sekitar. Aspek perasaan atau afektif berkaitan dengan beberapa hal, seperti gender dan problematika yang menyertainya, bagaimana perasaan konseli terhadap teman-teman dekatnya, baik dengan lawan jenis maupun dengan teman sejenis, eksplorasi masalah yang berkaitan dengan perasaan yang menyertai konseli dan pemberian sebuah label terhadap konseli dengan berbagai pertimbangan yang mengacu pada perasaan.

d.  Identify yaitu mengacu pada identitas baru yang melekat pada diri konseli/klien (pelaku homoeksual) dimana konseli diajak mengkonstruk kembali pikiran, perasaan, dan tindakan. Identifikasi diri ini akan menghasilkan sebuah deklarasi pribadi bahwa konseli telah mengaku sebagai orang yang normal atau menjadi seorang yang lesbian, gay, biseksual, atau transgender. Jika konseli tetap teridentifikasi sebagai lesbian, gay, biseksual atau transgender maka selanjutnya masuk pada kontinum spritual.

e. Spiritual Intervensi adalah upaya konselor/psikolog untuk memberikan kesadaran kepada konseli dalam perspektif agama. f.  Acceptane of environtmental yaitu penerimaan diri terhadap

lingkungan mengacu pada masalah-masalah yang mungkin dihadapi konseli dalam proses penyesuaian diri terhadap lingkungan barunya. (Dermawan, 2011)

(20)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Adanya penghayatan pengalaman homoseksual yang menggairahkan  pada masa remaja atau semasa kecil pernah mengalami pengalaman traumatis

yang menimbulkan perasaan benci/antipati terhadap salahsatu sosok dari kedua orang tuanya yang memunculkan dorongan homoseks yang menetap.Kedua hal tersebut menjadi alasan yang kuatdalam melatarbelakangi  perilaku seksual berisiko yang terus terjadi di kalangan homoseksual. Di sisi lain pemahaman akan konsep HIV-AIDS yang sangat kurang juga dapat mempengaruhi komunitas ini untuk jarang memproteksi diri saat  berhubungan intim dengan sesama komunitas. Sehingga berdampak pada  peningkatan prevalensi HIV-AIDS.

3.2 Saran

 Untuk Mahasiswa

Sebaiknya kita sebagai generasi penerus dapat menjaga diri, dan menghindari perbuatan yang nantinya kita menjadi orang yang beresiko terserang virus HIV.

 Untuk tenaga kesehatan

Diharapkan dapat peka mengenali jenis penyakit ini dan merencanakan tindakan yang tepat untuk menangani penyakit ini.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Andryani, Gita & Yohanis F. La Kahija. 2016. “Pengalaman Terinfeksi Hiv Pada Pria Homoseksual: Sebuah Studi Dengan Pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis”. Jur nal Empati. Vol 5(2) Hal: 396-401.

Cempaka., Kardiwinata. 2012. “Pola Hubungan Seksual dan Riwayat IMS Pada Gay Di Bali”. Jurnal Arc. Com. Health.vol 1 (2): 84 –  89.

Depkes RI. 2006. Situasi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 1987-

2006.http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/lain-lain/situasi-hiv-aids-2006.pdf.Diunduh pada tanggal 25September 2017. Dermawan, Abdurraafi’ Maududi. 2015. Sebab, Akibat Dan Terapi Pelaku

 Homoseksual. jurnal Studi Gender dan Anak. Hal: 1 –  17.

Dwilaksono, Widiyanto & Wahyu Rahardjo.(2013). Kontrol Diri Dan Perilaku Seksual Permisif Pada Gay. Vol V. Bandung.  Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur& Teknik Sipil).

Friedman, M. 2010. Buku Ajar Keperawatan keluarga : Riset, Teori, dan Praktek . Edisi ke-5. Jakarta: EGC.

Hawari, Dadang. (2009).  Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual . Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Herlani, N., Riyanti, E., &Widjanarko, B. (2016). Gambaran Perilaku Seksual Berisiko Hiv Aids Pada Pasangan Gay ( Studi Kualitatif di Kota Semarang ), 4, 1059 – 1067.

Hutapea, R. (2011).  AIDS & PMS dan Perkosaan. (ed. Rev). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia. Tersedia pada: http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf (Diakses tanggal 27 September 2017).

Kementerian Kesehatan RI. 2015. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia. Tersedia pada: http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf (Diakses tanggal 25 September 2017).

(22)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2015. Jakarta : Ditjen P2P Kementerian Kesehatan RI. KPA Nasional, (2011). Laporan KPA Nasional Tahun 2010. Available:

aidsindonesia.or.id (Accessed: 26 September 2012).

 Nursalam., Kurniawati&Ninuk Dian. (2008). Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika.

 Nursalam., Kurniawati &Ninuk Dian. 2011. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika.

Parlindungan, Raja & Amalia Roza Brilianty. 2014. “Gam baran Religiusitas Pada Gay”. Jurnal RAP UNP. Vol 5 (1): 92 –  102.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Petofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC

Pohan, Atika. 2017. Persepsi Kaum Homoseksual Terhadap Aktifitas Seksual Yang Beresiko HIV/AIDS. Jurnal Ilmiah Kohesi Vol. 1 No. 1 April 2017,I(1), 59-62.

Setiati, Siti. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta: InternaPubishing.

Silvia, Dinna Rafika & I Dewa Ayu Sugiarica Joni& Ni Kadek Dewi Pascarani.(2017). “Strategi Komunikasi Yayasan Gaya Dewata Dalam

Sosialisasi Layanan VCT Di Kalangan

Gay”.https:/ojs.unud.ac.id>article>view. Di akses pada 30 september 2017 Widoyono.2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan

 pencegahandanpemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series

WHO. 2013. HIV/AIDS. http://www.who.int/topics/hiv_aids/en/.Diakses tanggal 25 September 2017.

Referensi

Dokumen terkait

Penularan HiV melalui transmisi seksual dapat dicegah secara efektif dengan menunda melakukan hubungan seks, setia pada pasangan dan menggunakan kondom. Penggunaan kondom

Penularan HIV melalui transmisi seksual dapat dicegah secara efektif dengan menunda melakukan hubungan seks, setia pada pasangan dan menggunakan kondom. Penggunaan kondom

Kajian mereka menunjukkan bahawa individu yang dijangkiti HIV/AIDS berpunca daripada hubungan seks bebas, perkongsian jarum suntikan dan jangkitan daripada ibu yang

Karena berdasarkan hasil uji realibilitas padaa SPSS menunjukan bahwa Orang yang berhubungan 'seks' sebelum menikah memiliki risiko tertular HIV/AIDS yang sama dengan

Pendapat negatif dari lingkungan sekitar terhadap seseorang yang terkena virus HIV, ketakutan akan penularan terhadap bayi, atau bagaimana hubungan seks yang

lensi HIV sangat tinggi pada penasun, perilaku seks yang bebas, dan pe- makaian kondom yang masih rendah, risiko terhadap pasangan tetap para penasun terinfeksi HIV/AIDS juga

Pengertiannya adalah melakukan kegiatan untuk menganalisis secara terus menerus untuk menurunkan risiko terjadinya peningkatan serta penularan HIV dengan menggunakan

Latar Belakang Strategi penanggulangan HIV-AIDS ditujukan untuk mencegah dan mengurangi risiko penularan HIV,meningkatkan kualitas hidup ODHA,serta mengurangi dampak social dan