• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

P U T U S A N

Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus perselisihan hubungan industrial pada tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

PT SURYA MADISTRINDO, yang diwakili oleh Direktur Daniel

Bahar, berkedudukan Pusat di Makassar, cq PT Surya Madistrindo Cabang Ambon, Jalan Leo Wattimena, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, dalam hal ini memberi kuasa kepada Astrid Monika S. Meliala, Legal Junior Manager PT Surya Madistrindo, dan kawan-kawan, berkantor di Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 79, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 31 Agustus 2016;

Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; L a w a n

JOHANES J.G. PATTINASARY, bertempat tinggal di Unit V

Sektor Efrata, Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, dalam hal ini memberi kuasa kepada Jopie S. Nasarany, S.H., dan kawan-kawan, Para Advokat, berkantor di Jalan Wem Reawaru Nomor 114 (Hotel Beta) Lantai 3, Belakang Kantor Gubernur Maluku, Kelurahan Uritetu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 16 Mei 2016;

Termohon Kasasi dahulu Penggugat; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Termohon Kasasi dahulu Penggugat telah mengajukan gugatan terhadap Pemohon Kasasi dahulu Tergugat di depan persidangan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon, pada pokoknya sebagai berikut: 1. Bahwa Penggugat adalah mantan karyawan pada PT Surya Madistrindo

Cabang Ambon (Tergugat), yang mulai bekerja pada tanggal 22 Juni 2009, dengan Surat Keputusan Nomor 0006/SK-PKT SMP/ABN/VII/2009 sebagai karyawan tetap, dan kemudian diberhentikan atau di PHK secara sepihak oleh Tergugat pada tanggal 1 Juni 2015 dengan Surat Keputusan Nomor 001/SK/SM/HRD/PHK/VI/2015, dengan demikian masa kerja dari

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Penggugat adalah 5 tahun 11 bulan, dengan jabatan sebagai Operation Staff (Mechandiser Kawasan Non Stategis) dan diberi gaji atau Upah terakhir sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah), terhitung dari bulan Maret 2014 sampai dengan sebelum Penggugat di PHK oleh Tergugat;

2. Bahwa pemberhentian yang dilakukan oleh Tergugat kepada Penggugat pada alinea memutuskan: “Pasal 1 sampai dengan Pasal 4 tidaklah disampaikan kesalahan yang dilakukan oleh Penggugat”, Penggugat baru mengetahui kesalahannya setelah proses Mediasi berlangsung pada Kantor Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Provinsi Maluku,dimana menurut Tergugat, Pemutusan Hubungan Kerja dilakukan karena Penggugat melakukan pengancaman terhadap Tergugat;

3. Bahwa selain alasan Penggugat melakukan ancaman terhadap Tergugat sehingga Penggugat di PHK secara sepihak oleh Tergugat, Tergugat juga dituduh melakukan manipulasi data (all sheet) terkait penjualan di outlet, namun sampai saat ini tuduhan tersebut tidak dapat dibuktikan secara hukum oleh Tergugat;

4. Bahwa selain tuduhan di atas, Tergugat juga menuduh Penggugat tidak patuh pada Peraturan Perusahaan terkait Mutasi Penggugat ke AO (Area Office) Wamena, Provinsi Papua, padahal sesuai Peraturan Perusahaan yang bisa dimutasikan ke AO (Area Office) lainnya hanya untuk jabatan Supervisor, sedangkan Penggugat hanyalah sebagai Operation Staff (Mechandiser Kawasan Non Stategis);

5. Bahwa kalaupun Penggugat melakukan kesalahan atau melanggar peraturan perusahaan, seharusnya Tergugat memberikan sanksi sesuai peraturan yang berlaku, yakni mulai dari peringatan lisan, tulisan sebanyak 3 (tiga) kali berturut- turut, di rumahkan/skorsing barulah di PHK, namun pentahapan tersebut tidaklah dilakukan oleh Tergugat tetapi Penggugat langsung di PHK secara sepihak oleh Terggugat;

6. Bahwa PHK yang dilakukan oleh Tergugat kepada Penggugat sangatlah bertentangan dengan peraturan perundang-Undangan yang berlaku, karena yang dapat menetapkan seseorang diberhentikan hanyalah melalui penetapan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon dengan melalui pentahapan yang berlaku. Namun Tergugat dengan otoriternya memberhentikan Penggugat secara sepihak dan tidak mau lagi mempekerjakan Penggugat meskipun Penggugat ingin terus bekerja; 7. Bahwa sesuai Pasal 164 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

tentang Ketenagakerjaan, apabila Tergugat tetap melakukan tindakan PHK terhadap Penggugat, maka Tergugat berkewajiban membayar hak-hak Penggugat, berupa Uang Pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), Uang Penghargaan Masa Kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan Uang Penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

8. Bahwa mengacu pada gugatan Penggugat dan disesuaikan dengan masa kerja Penggugat ± 5 (lima) tahun 11 (sebelas) bulan, maka hak-hak yang harus diterima oleh Penggugat akibat dari PHK sepihak yang dilakukan oleh Tergugat, adalah sebagai berikut:

a. Uang Pesangon berdasarkan Pasal 156 ayat (2) huruf f Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan, adalah: 6 x 2 x Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah) = Rp52.560.000,00 (lima puluh dua juta lima ratus enam puluh ribu rupiah);

b. Uang Penghargaan berdasarkan Pasal 156 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan adalah: 2 x Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah) = Rp8.760.000,00 (delapan juta tujuh ratus enam puluh ribu rupiah); c. Uang Pergantian hak berdasarkan Pasal 156 ayat (4) huruf c

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan, adalah: Rp52.560.000,00 (lima puluh dua juta lima ratus enam puluh ribu rupiah) + Rp8.760.000,00 (delapan juta tujuh ratus enam puluh ribu rupiah) x 15% = Rp9.198.000,00 (sembilan juta seratus sembilan puluh delapan ribu rupiah);

Dengan demikian hak-hak yang harus diterima oleh Penggugat adalah: a. Uang Pesangon sebesar Rp52.560.000,00

b. Uang Penghargaan sebesar Rp 8.760.000,00 c. Uang Pergantian hak sebesar Rp 9.198.000,00 Jumlah seluruhnya (Total) Rp70.518.000,00

Sehingga Tergugat harus dihukum untuk membayar hak-hak Penggugat, yang terdiri dari Uang Pesangon, Uang Penghargaan dan Uang Penggantian Hak yang adalah sebesar Rp70.518.000,00 (tujuh puluh juta lima ratus delapan belas ribu rupiah);

9. Bahwa selain hak-hak yang harus diterima oleh Penggugat sesuai posita gugatan Penggugat pada poin 8 (delapan), Penggugat juga berhak atas

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

selisih Upah pada bulan Mei 2015 sebesar Rp3.980.000,00 (tiga juta sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah), dikarenakan upah yang diterima Penggugat pada bulan Mei 2015 hanya sebesar Rp400.000,00 (empat ratus ribu rupiah) dari upah pokok yang biasanya diterima Penggugat sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah), sehingga Tergugat harus dihukum untuk membayar selisih Upah Penggugat di bulan Mei 2015 adalah sebesarRp3.980.000,00 (tiga juta sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah);

10. Bahwa Penggugat juga berhak atas Uang Tunjangan Hari Raya Keagamaan tahun 2015, yang biasa diterima Penggugat setiap tahunnya sebesar Rp6.563.575,00 (enam juta lima ratus enam puluh tiga ribu lima ratus tujuh puluh lima ripiah) dan Upah Proses selama proses hukum berjalan, terhitung tanggal 1 Juni 2015 pada saat Penggugat di PHK sampai dengan mendapatkan putusan hukum tetap, dengan rincian adalah: 15 bulan x Upah Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah) = Rp65.700.000,00 (enam puluh lima juta tujuh ratus ribu rupiah); 11. Bahwa oleh karena gugatan ini mengenai Perselisihan Hak dan

Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), maka mengacu pada Pasal 86 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Penggugat mohon kepada yang terhormat Bapak Ketua Pengadilan Hubungan Industrial Pada Pengadilan Negeri Ambon cq yang terhormat Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial Pada Pengadilan Negeri Ambon yang memeriksa dan mengadili perkara ini, untuk berkenan memutuskan terlebih dahulu mengenai Perselisihan Hak, berupa Selisih upah bulan Mei tahun 2015, Uang Tunjangan Hari Raya Keagamaan tahun 2015 dan Upah Proses, yaitu dengan menghukum Tergugat untuk membayar terlebih dahulu kepada Penggugat hak-haknya berupa Selisih Upah bulan Mei tahun 2015 sebesar Rp3.980.000,00 (tiga juta sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah), Uang Tunjangan Hari Raya Keagamaan tahun 2015 sebesar Rp6.563.575,00 (enam juta lima ratus enam puluh tiga ribu lima ratus tujuh puluh lima ripiah) dan Upah Proses sebesar Rp65.700.000,00 (enam puluh lima juta tujuh ratus ribu rupiah);

Bahwa berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon agar memberikan putusan sebagai berikut:

Primair:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat sebagai pekerja dan Tergugat sebagai pengusaha berakhir karena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan oleh Tergugat kepada Penggugat;

3. Menghukum Tergugat untuk membayar terlebih dahulu hak-hak Penggugat berupa Selisih Upah bulan Mei tahun 2015 sebesar Rp3.980.000,00 (tiga juta sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah), Uang Tunjangan Hari Raya Keagamaan tahun 2015 sebesar Rp6.563.575,00 (enam juta lima ratus enam puluh tiga ribu lima ratus tujuh puluh lima ripiah) dan Upah Proses sebesar Rp65.700.000,00 (enam puluh lima juta tujuh ratus ribu rupiah); 4. Menghukum Tergugat untuk membayar hak-hak Penggugat, berupa Uang

Pesangon, Uang Penghargaan dan Uang Pengganti Hak, yang adalah sebesar Rp70.518.000,00 (tujuh puluh juta lima ratus delapan belas ribu rupiah);

Subsidair:

Apabila Pengadilan berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex a quo etboono);

Bahwa, terhadap gugatan tersebut, Tergugat mengajukan eksepsi yang pada pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa gugatan Penggugat adalah obscuur libel, dimana gugatan Penggugat kabur, tidak jelas apa yang menjadi dasar gugatan yang diajukan Penggugat;

2. Bahwa Penggugat dalam posita (fundamentum petendi) mendalilkan Penggugat mempunyai masa kerja selama 5 ( lima) tahun 11 ( sebelas ) bulan, dan mendapatkan Upah sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah), sedangkan faktanya Penggugat mendapatkan Upah sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah), dengan demikian tidak ada sinkronisasi antara petitum dan posita (fundamentum petendi) yang didalilkan Penggugat;

3. Bahwa oleh karena terbukti dalil-dalil gugatan Penggugat tidak konsisten dan bertentangan antara dalil yang satu dengan dalil lainnya, selain itu antara posita (fundamentum petendi) dengan petitum tidak ada sinkronisasi satu sama lainnya, dan fakta tersebut mengakibatkan gugatan Penggugat menjadi kabur dan tidak jelas (obscur libel);

4. Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka terbukti dengan sah dan meyakinkan bahwa gugatan Pengugat kabur, tidak jelas atau obscur libel,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

oleh karena itu Tergugat mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini agar berkenan untuk menolak gugatan Penggugat atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard);

Bahwa terhadap gugatan tersebut Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon telah memberi putusan Nomor 6/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Amb., tanggal 29 Agustus 2016 yang amarnya sebagai berikut: Dalam Eksepsi:

- Menolak eksepsi Tergugat untuk seluruhnya; Dalam Pokok Perkara:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

2. Menyatakan putus hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat terhitung sejak tanggal 30 Juni 2016;

3. Menghukum Tergugat untuk membayar secara tunai dan sekaligus kepada Penggugat Uang Tunjangan Hari Raya Keagamaan tahun 2015, Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja, Uang Penggantian Hak, Upah Proses 13 (tiga belas) bulan selama Penggugat tidak dipekerjakan, sebesar Rp146.949.000,00 (seratus empat puluh enam juta sembilan ratus empat puluh sembilan ribu rupiah) dengan perincian sebagai berikut:

Uang Tunjangan hari Raya Keagamaan 2015 = Rp 4.380.000,00 Uang Pesangon: 2 x 7 x Rp4.380.000,00 = Rp 61.320.000,00 Uang Penghargaan: 3 x Rp4.380.000,00 = Rp 13.140.000,00 Uang Penggantian hak: 15% x 74.460.000,00 = Rp 11.169.000,00 Upah Proses (Juni 2015 s/d Juni 2016) = Rp 56.940.000,00

Jumlah seluruhnya (Total) = Rp146.949.000,00

4. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan atas harta benda milik Tergugat pada tanggal 25 Agustus 2015 terhadap 1 (satu) unit mobil Avanza Nomor Polisi DE 446 AG dan 1 (satu) unit mobil Avanza Nomor Polisi DE 1754 AD; 5. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya;

6. Membebankan biaya perkara kepada Negara sebesar Rp2.150.000,00 (dua juta seratus lima puluh ribu rupiah);

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon diucapkan dengan hadirnya Kuasa Penggugat dan Kuasa Tergugat pada tanggal 29 Agustus 2016, terhadap putusan tersebut, Tergugat melalui kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 31 Agustus 2016 mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 8 September

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

2016, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 02/Kas/2016/PHI.Amb., yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon, permohonan tersebut disertai dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon pada tanggal 22 September 2016;

Bahwa memori kasasi dari Pemohon Kasasi/Tergugat tersebut telah disampaikan kepada Termohon Kasasi/Penggugat pada tanggal 3 Oktober 2016, kemudian Penggugat mengajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ambon pada tanggal 11 Oktober 2016;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, sehingga permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam memori kasasinya adalah:

Dalam Eksepsi

1. Bahwa Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon telah salah menerapkan hukum dalam tertib beracara atau lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan;

2. Bahwa Pemohon Kasasi/Tergugat tidak sependapat dengan pertimbangan hukum Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon perkara Nomor 06/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Amb., tanggal 29 Agustus 2016, sebagaimana pertimbangan pada halaman 16 putusan Pengadilan Hubungan Industrial a quo yang menyatakan: “Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim meneliti eksepsi Tergugat tersebut bukan menyangkut masalah eksepsi tentang kompetensi absolut maupun kompetensi relative, sehingga dengan demikian eksepsi tersebut akan diputus bersama-sama dengan pokok perkara”;

Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 142 Rbg dan Pasal I BRv serta praktek peradilan mengenai syarat-syarat formil yang harus dipenuhi oleh Penggugat dalam merumuskan surat gugatan adalah sebagai berikut:

a) ldentitas para pihak;

b) Dasar atau dalil gugatan posita fundamentum petendi berisi tentang peristiwa dan hubungan hukum;

c) Tuntutan/petitum terdiri dari tuntutan primair dan tuntutan subsidair/

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

tambahan;

“Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim membaca, memeriksa dan meneliti seluruh berkas perkara a quo gugatan Penggugat telah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud Pasal 142 Rbg dan Pasal I BRv tersebut, sehingga Majelis Hakim berkesimpulan eksepsi Tergugat tidak beralasan hukum dan ditolak”;

“Menimbang, bahwa dali-dalil eksepsi Tergugat sudah masuk dalam pokok perkara yang harus dibuktikan, sehingga Majelis Hakim berkesimpulan eksepsi Tergugat tidak beralasan hukum dan ditolak”;

Pertimbangan hukum Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon menyesatkan, karena secara nyata dalam gugatan yang didaftarkan Termohon Kasasi/Penggugat Nomor 06/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Amb., tanggal 29 Agustus 2016, karena eksepsi yang didalilkan Pemohon Kasasi mengenai gugatan yang kabur dan tidak jelas (obscur libel), bukan menyangkut masalah eksepsi tentang kompetensi absolute maupun kompetensi relatif, karena gugatan yang kabur dan tidak jelas akan mempengaruhi isi dari putusan gugatan tersebut. Hal ini terbukti dengan jelas Judex Facti menggunakan dasar perhitungan konpensasi yang harus dibayarkan Pemohon kasasi didasarkan pada Upah yang didalilkan Termohon Kasasi/Penggugat yaitu sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah), sedangkan faktanya Penggugat mendapatkan Upah sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah), sebagaimana dibuktikan oleh Pemohon Kasasi/Tergugat dalam pembuktian juga dikuatkan dengan perhitungan pesangon atas Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kota Ambon Nomor 565/128/2016, tanggal 16 Pebruari 2016 , namun hal tersebut dianggap bukan merupakan alasan yang utama sebagaimana dalam pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon yang menyatakan tuntutan tersebut bukan menjadi alasan utama gugatan Penggugat;

3. Bahwa oleh karena pertimbangan hukum Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon yang hanya menunjukkan kekuasaan dan kewenangan-wenangan yang dimilikinya dapat dinyatakan suatu pertimbangan yang tidak adil dan memihak tanpa mempertimbangkan dasar-dasar dan landasan hukum dan bukti-bukti yang diajukan Pemohon Kasasi/Tergugat, pertimbangan yang demikian tidak cukup dan sepatutnya dibatalkan. Hal ini sesuai dengan Putusan Mahkamah Agung Republik

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Indonesia Nomor 638 K/Sip/1969, tanggal 22 Juli 1970 yang menyatakan putusan-putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang kurang cukup dipertimbangkan (“onvoldoende gemotiveerd”) harus dibatalkan; 4. Bahwa dengan demikian terbukti Judex Facti/Pengadilan Hubungan

Industrial Ambon tidak menerapkan atau salah dalam menerapkan hukum atau lalai dalam memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan dalam peraturan perundang-undangan, sehingga layak dan patut apabila Mahkamah Agung Republik Indonesia membatalkan putusan yang dimaksud;

Dalam Pokok Perkara:

1. Pemohon Kasasi tidak sependapat dengan pertimbangan dalam putusan Pengadilan Hubungan Industrial Ambon yang dalam pertimbangan hukumnya hanya melihat dari sisi Penggugat/Termohon Kasasi dan mengabaikan dalil-dalil dan atau bantahan atau sanggahan yang diberikan oleh Pemohon Kasasi/Tergugat terutama terkait sebab-sebab dilakukanya Pemutusan Hubungan Kerja atas diri Termohon Kasasi/Penggugat, juga dalil-dalil yang berkaitan dengan masalah Upah yang menjadi dasar perhitungan konpensasi yang salah dan sangat merugikan kepentingan Pemohon Kasasi/Tergugat; Bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial Ambon yang demikian tidak cukup mencerminkan rasa keadilan hukum dan patut serta beralasan hukum untuk dibatalkan. Pendapat demikian adalah sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung R.I. terhadap perkara-perkara perdata lainnya. Pemohon Kasasi sependapat dengan Putusan Mahkamah Agung R.I. Nomor 638 K/Sip/1969, tanggal 22 Juli 1970 yang menyatakan: “Putusan-putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang kurang cukup dipertimbangkan (“onvoldoende gemotiveerd”) harus dibatalkan, Pengadilan Negeri yang putusannya dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi setelah menguraikan saksi-saksi, barang-barang bukti yang diajukan terus saja menyimpulkan “bahwa oleh karena itu gugat Penggugat dapat dikabulkan sebagian dengan tidak ada penilaian sama sekali terhadap penyangkalan (tegenbewijs) dari pihak Tergugat; Bahwa oleh karena itu, Putusan Pengadilan Hubungan Industrial Ambon dengan Nomor 06/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Amb., tanggal 29 Agustus 2016, yang sekedar hanya mengambil alih dalil-dalil yang dikemukakan oleh Termohon Kasasi/Penggugat tanpa melihat fakta hukum dan tanpa memberikan dasar dan alasan hukum yang dapat dipertanggung jawabkan dan memenuhi rasa keadilan, maka sudah sepatutnyalah putusan dibatalkan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

2. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial Ambon telah mengabaikan fakta peristiwa yang menjadi penyebab terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja. Hal ini dibuktikan dari Majelis Hakim mengabaikan bukti-bukti yang diajukan Pemohon Kasasi dan penolakan Majelis Hakim atas saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi, sebagaimana disampaikan dalam pertimbangan halaman 14 yang menyatakan: “Menimbang, bahwa Tergugat telah diberikan kesempatan cukup untuk mengajukan bukti saksi namun tidak mempergunakan kesempatan yang diberikan”;

“Menimbang, bahwa selanjutnya Penggugat telah mengajukan kesimpulannya secara tertulis dalam persidangan tanggal 18 Agustus 2016 yang kesimpulannya terlampir dalam berkas perkara ini, yang untuk menyingkat uraian putusan ini dianggap telah termuat pula dalam putusan ini”;

“Menimbang, sebelum kesimpulan dibacakan, Kuasa Penggugat mengajukan Surat Permohonan Sita Jaminan tanggal 15 Agustus 2016 kepada Majelis Hakim Pengadilan Hubungan lndustrial pada Pengadilan Negeri Ambon yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk melakukan sita jaminan (conservatoir beslag) terhadap harta benda atau aset milik Tergugat, yaitu l (satu) unit mobil Avanza dengan nomor Polisi DE 446 AG dan 1 (satu) unit mobil Avanza dengan Nomor Polisi DE 1754 AD;

Menimbang, bahwa dengan belum adanya unifikasi hukum acara dalam pemeriksaan pada Pengadilan Hubungan lndustrial, maka disamping diberlakukan hukum acara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004, diberlakukan pula ketentuan-ketentuan hukum acara yang terdapat dalam lingkungan Umum (HlR/Rbg) dan ketentuan lainnya ditentukan dalam Pasal 57 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2004;

Atas pertimbangan tersebut dapat Pemohon Kasasi sampaikan:

- Bahwa di dalam persidangan Judex Facti menolak saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi, padahal saksi tersebut adalah yang mengalami langsung proses peristiwa pengancaman yang dilakukan oleh Termohon Kasasi. Di dalam persidangan Judex Facti memerintahkan kepada Pemohon Kasasi untuk menghadirkan saksi yang mengetahui secara langsung proses pengancaman yang dilakukan oleh Termohon Kasasi, dengan demikian Judex Facti mengingkari permintaanya sendiri, dengan demikian terbukti bukan Pemohon Kasasi yang tidak menghadirkan saksi tetapi saksi tersebut ditolak dan tidak diperiksa sebagai saksi;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 145 HIR, yang tidak dapat didengar sebagai saksi adalah:

1. Keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak menurut keturunan yang lulus, kecuali dalam perkara perselisihan kedua belah pihak tentang keadaan menurut hukum perdata atau tentang sesuatu perjanjian pekerjaan;

2. Istri atau laki dari salah satu pihak, meskipun sudah ada perceraian; 3. Anak-anak yang tidak diketahui benar apa sudah cukup umurnya 15

tahun;

4. Orang gila, meskipun ia terkadang-kadang mempunyai ingatan terang; Selain orang-orang di atas, ada juga orang-orang yang boleh mengundurkan diri dari kewajiban sebagai saksi (Pasal 146 HIR):

1. Saudara laki dan saudara perempuan dan ipar laki-laki dan perempuan dari salah satu pihak;

2. Keluarga sedarah menurut keturunan yang lurus dan saudara laki-laki dan perempuan dari laki atau isteri salah satu pihak;

3. Semua orang yang karena kedudukan pekerjaan atau jabatannya yang sah, diwajibkan menyimpan rahasia, tetapi semata-mata hanya mengenai hal demikian yang dipercayakan padanya;

Dengan demikian karyawan yang masih bekerja di perusahaan yang menjadi salah satu pihak dalam Pengadilan dapat didengar keterangannya sebagai saksi dalam perkara tersebut, karena tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 145 HIR dan Pasal 146 HIR. Seharusnya Judex Facti dapat meminta keterangan saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Tergugat, sebatas karyawan tersebut merupakan pihak yang mendengar, melihat dan menyaksikan langsung suatu perbuatan itu terjadi. Jika karyawan yang masih aktif tidak dapat didengar keterangannya sebagai saksi lantas bagaimana Pemohon Kasasi membuktikan dalam memberikan keterangan atas perbuatan yang dilakukan oleh Termohon Kasasi/Penggugat atas perbuatan yang dilakukan, padahal saksi yang diajukan adalah saksi yang mengalami secara langsung proses perbuatan yang dilakukan oleh Termohon Kasasi;

Disini terlihat dengan jelas bahwa Judex Facti memakai kekuasaan untuk membela kepentingan Termohon Kasasi, karena saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi adalah saksi yang sama dalam proses pidana dengan terdakwa Termohon Kasasi, dengan ketua Majelis yang sama yaitu sebagai Ketua Majelis dalam perkara PHI;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

- Bahwa keterpihakan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon nyata dan jelas karena dapat dilihat dalam proses hukum acara yang tidak memberikan kesempatan yang sama kepada Pemohon Kasasi untuk menyampaikan kesimpulan atau melakukan penundaan sidang, bahkan dengan kewenangannya yang dimiliki langsung membacakan putusan walau ada keberatan dari Pemohon Kasasi. Hal ini tidak berlaku pada kasus pidana yang diperiksanya dengan melakukan penundaan sidang sebanyak 3 kali dengan alasan yang terkesan dibuat-buat, sehingga prosesnya akan berjalan lambat dan merugikan kepentingan Pemohon Kasasi;

- Bahwa Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon telah melakukan pelanggaran hukum dan berlaku sewenang-wenang melampui wewenang yang diberikan, dengan mengabulkan permohonan Penggugat atas Sita Jaminan berdasarkan Surat Permohonan tanggal 15 Agustus 2016, terhadap harta benda atau aset milik Tergugat yaitu l (satu) unit mobil Avanza dengan nomor Polisi DE 446 AG dan 1 (satu) unit mobil Avanza dengan nomor Polisi DE 1754 AD berdasarkan surat pemberitahuan Sita Jaminan Nomor W27-UI/009/HT.01.10/VIII/2016, tanggal 24 Agustus 2016, yang diajukan tanpa sepengetahuan dan/atau pemberitahuan adanya permohonan sita kepada Pemohon Kasasi pada saat persidangan, seharusnya Judex Facti memberitahukan kepada Pemohon Kasasi atas permohonan sita jaminan dari Termohon Kasasi/Penggugat;

Buku II Mahkamah Agung mengenai Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan mencoba mendifisikan secara lebih konkrit. Untuk mengabulkan sita conservatoir harus ada sangka yang beralasan bahwa Tergugat sedang berdaya upaya untuk menghilangkan barang-barangnya, untuk menghindari gugatan Penggugat. Disini dapat disimpulkan bahwa permohonan pengajuan sita jaminan seharusnya lebih diarahkan kepada bahwa sedang terjadinya proses pengasingan barang atau potensi yang dapat menghilangkan barang bukti;

Bahwa seharusnya sebelum menetapkan permohonan sita jaminan, Ketua Pengadilan/Majelis wajib terlebih dahulu mendengar pihak Tergugat, penyitaan hanya dapat dilakukan terhadap barang milik Tergugat (atau dalam hal sita revindicatoir terhadap barang bergerak tertentu milik Penggugat yang ada di tangan Tergugat yang dimaksud dalam surat gugat), setelah terlebih dahulu mendengar keterangan pihak Tergugat (lihat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Pasal 227 ayat (2) HIR/Pasal 261 ayat (2) RBg.);

Bahwa dalam gugatan Termohon Kasasi/Penggugat jelas-jelas tidak mengajukan permohonan sita, hal demikian dapat dilihat dalam posita maupun petitum dalam gugatan Penggugat, akan tetapi dengan pertimbangan apa Judex Facti mengabulkan permohon atas apa yang tidak dimohonkan dalam gugatan, terlebih penetapan sita tersebut telah melanggar ketentuan Pasal 197 ayat (8) HIR yang menjelaskan: “Sita revindicatoir tidak diperkenankan atas alat-alat yang diperlukan oleh tersita untuk menjalankan perusahaannya”, dengan demikian Judex Facti telah melawan hukum dengan meletakkan sita atas barang berupa kendaraan yang digunakan sehari-hari oleh Pemohon Kasasi untuk melakukan kegiatan perdagangan, Putusan Mahkamah Agung tanggal 19-1-1957 Nomor 206 K/Sip/1955;

Bahwa penetapan sita yang dilakukan oleh Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon terlalu premature dengan mengabulkan permohonan sita jaminan yang diajukan Termohon Kasasi/Penggugat. Dalam Perselisihan Hubungan Industrial, permohonan sita dapat dikabulkan apabila nyata-nyata Pemohon Kasasi/Tergugat tidak memenuhi ketentuan Pasal 96 ayat (1) yaitu: “Apabila dalam persidangan pertama, secara nyata-nyata pihak pengusaha terbukti tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Hakim Ketua sidang harus segera menjatuhkan Putusan Sela berupa perintah kepada pengusaha untuk membayar Upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima pekerja/buruh yang bersangkutan”, oleh karena Pemohon Kasasi/Tergugat tidak ada kewajiban untuk melaksanakan Putusan Sela atas kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155 ayat (3) UU Nomor 13 Tahun 2003, maka layak dan patut jika permohonan sita jaminan Penggugat ditolak, hal isi sesuai dengan ketentuan Pasal 96 ayat (3) UU Nomor 2 Tahun 2004 yang menyatakan: “Dalam hal selama pemeriksaan sengketa masih berlangsung dan Putusan Sela sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak juga dilaksanakan oleh pengusaha, Hakim Ketua Sidang memerintahkan sita jaminan dalam sebuah Penetapan Pengadilan Hubungan Industrial”;

Bahwa oleh karena dalam penetapan Sita Jaminan yang dilakukan oleh Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon, dilakukan hanya untuk memenuhi permohonan dari Termohon Kasasi dan bertentangan dengan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

ketentuan yang mengatur terkait tatacara dan syarat permohonan sita jaminan, maka layak dan patut bila sita jaminan tersebut dicabut karena tidak memenuhi syarat formil dalam proses pengajuan sita jaminan;

3. Bahwa Pemohon Kasasi keberatan atas peritimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon dalam pertimbangan halaman 19 yang menyatakan: “Bahwa dalam jawaban Tergugat poin (5), (6) dan (7) mendalilkan bahwa alasan Penggugat diputus hubungan kerjanya oleh Tergugat karena Penggugat telah melakukan tindak pidana pengancaman kepada atasan Penggugat sebagaimana alat bukti surat T.7, T.8-a, T.8-b, T.8-c dan T.8-d, maka menurut Majelis Hakim setelah memeriksa alat bukti surat tersebut sama sekali tidak terdapat adanya ketetapan hukum pidana terhadap Penggugat telah melakukan tindak pidana pengancaman kepada atasan Penggugat, mengingat alat bukti surat T.7, T.8-a, T.8-b, T.8-c dan T.8-j yang diajukan Tergugat merupakan fakta bahwa proses pelaporan tindak pidana terhadap Penggugat dilakukan setelah adanya Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja oleh Tergugat, maka berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi R.l. Nomor UAPUU 2003, tanggal 28 Oktober 2004 serta Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor SE-13/MEN/SJ-HK/I/2005, tanggal 7 Januari 2005 mengatur bahwa Pemutusan Hubungan Kerja dapat dilakukan setelah ada putusan Hakim pidana mempunyai kekuatan hukum tetap, dan memperhatikan tindakan Pemutusan Hubungan Kerja oleh Tergugat kepada Penggugat dilakukan sebelum pelaporan tindak pidana pengancaman sebagaimana dalil Penggugat dalam gugatan Penggugat poin (2), yang dalam jawaban Tergugat poin (5) menyatakan tetah menyampaikan kepada Penggugat mengenai kesalahannya yang tidak dapat ditolelir lagi oleh Tergugat sehingga harus di PHK, namun selanjutnya Tergugat tidak mampu membuktikan dalilnya terebut maka alasan dilakukannya Pemutusan Hubungan Kerja terhadap Penggugat oleh Tergugat atas adanya tindak pidana pengancaman yang belum berkekuatan hukum tetap menurut Majelis Hakim tidak dapat diterima;

Bahwa dalil Tergugat dalam jawabannya poin (5) dan (8) selain pengancaman terhadap atasan Penggugat, Penggugat juga telah memalsukan data penjualan dan sudah diberikan Surat Peringatan 2 (dua), maka menurut Majelis Hakim setelah meneliti alat bukti surat T-3 dan P.l, antara Surat Peringatan dengan Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja tidak terdapat hubungan atau rangkaian yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

berkesinambungan, karena berdasarkan Surat Peringatan tanggal 23 Januari 2015 Tergugat dalam alinea 2 menyatakan tegas bahwa: "Bilamana dalam waktu ditentukan masih melakukan kesalahan/pelanggaran yang sama, maka kepada anda akan diberikan sanksi kembali maksimal berupa Pemutusan Hubungan Kerja", sehingga atas kesalahan/pelanggaran tersebut sudah dilakukan pembinaan dengan diberikan sanksi, kecuali Penggugat melakukan kesalahan/pelanggaran yang sama maka akan diberikan sanksi kembali hingga Pemutusan Hubungan Kerja, tetapi secara fakta tidak terjadi lagi. Sedangkan atas tuduhan telah melakukan pengancaman terhadap atasan Penggugat dan Penggugat menolak mutasi kerja, secara fakta Penggugat tidak pernah diberikan Surat Peringatan oleh Tergugat. Begitu juga di dalam Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja, Penggugat sama sekali tidak menjelaskan atau menerangkan alasan serta dasar keputusan dilakukan tindakan Pemutusan Hubungan Kerja sebagaimana dalil dan tuduhan Tergugat, sehingga dalil Penggugat dalam posita gugatannya poin (5) yaitu seharusnya Tergugat melakukan pembinaan terlebih dahulu kepada Penggugat dengan memberikan “Surat peringatan" pertama, kedua dan ketiga secara berturut turut adalah sesuai dengan ketenluan Pasal 161 ayat (1) Undang -Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebelum melakukan Pemutusan Hubungan Kerja;

Bahwa pertimbangan hukum Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon yang menyatakan Tergugat melakukan Pemutusan Hubungan Kerja sebelum Penggugat melakukan perbuatan pidana, hal ini sangat menyesatkan dan memutarbalikkan fakta. Hal jelas dan nyata PHK yang dilakukan Pemohon Kasasi adalah pada tanggal 1 Juni 2015, sedang perbuatan yang dilakukan Termohon Kasasi adalah tanggal 16 Mei 2015, hal ini membuktikan Majelis Hakim benar-benar lalai dan tidak mengindahkan segala bukti dan fakta yang ada dan hanya mementingkan kepentingan Termohon Kasasi yang jelas-jelas telah membuat kesalahan fatal;

Bahwa pertimbangan hukum yang menyatakan perkara pidana belum mempunyai kekuatan hukum tetap sehingga Pemohon Kasasi tidak dapat di PHK dengan alasan tersebut, seharusnya Majelis berfikir secara nyata karena saat ini nyata-nyata Ketua Majelis Hakim PHI juga merupakan Hakim dalam perkara pidana seharusnya memaknai permasalahan secara jernih dan tidak berpihak, keterpihakan Ketua Majelis Hakim dapat kita lihat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

yang selalu menunda-nunda proses pidana yang sedang berjalan, padahal secara hukum putusan tersebut dapat dijadikan sebagai fakta hukum dalam proses permohonan kasasi ini;

Bahwa keterpihakan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon sangat nyata yang hanya mempertimbangkan dasar dilakukannya PHK hanya didasarkan pada perkara pidana. Padahal selain perkara pidana yang sedang dalam proses persidangan, penyebab PHK adalah dilakukan karena Termohon Kasasi/Penggugat adalah telah melakukan banyak kesalahan, selain melakukan manipulasi data Penggugat juga menolak dilakukan mutasi walaupun secara pembinaan telah dilakukan oleh Pemohon Kasasi dengan memberikan Surat Peringatan. Pemutusan Hubungan Kerja tidak harus didasarkan pada permasalahan yang sama atas Surat Peringatan yang telah diberikan oleh Pemohon Kasasi, tapi juga dapat dilakukan apabila karyawan tersebut melakukan kesalahan dan atau perbuatan lain yang merugikan perusahaan dan bahkan dapat mengganggu operasional serta mengancam keselamatan pekerja yang lain, apakah permasalahan tersebut tidak menjadi pertimbangan Majelis Hakim walau telah disampaikan oleh Pemohon Kasasi;

4. Bahwa Pemohon Kasasi keberatan atas pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon dengan pertimbangan halaman 20-21, dimana putusan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon memberikan pertimbangan: “Bahwa dalam posita gugatan Penggugat poin (4) Penggugat mendalilkan Tergugat menuduh Penggugat tidak patuh pada Peraturan Perusahaan terkait Penggugat dari Ambon Provinsi Maluku untuk direlokasi ke Wamena Papua dan tersebut sesuai dengan dalil Tergugat dalam jawaban Tergugat poin (5) dan (9), maka menurut Majelis Hakim berdasarkan alat bukti surat T.2 bahwa Tergugat memiliki wewenang dan hak untuk memindahkan pekerja menurut kebutuhan dan kepentingan operasional perusahan, namun atas perkara a quo tidak ditemukan bukti tentang adanya Surat Perintah Mutasi Kerja yang dibuat Tergugat dan kemudian ditolak oleh Penggugat. Memperhatikan alat bukti surat T-4 adalah tentang form perubahan status lokasi kerja Penggugat pada area Jayapura dan akan berlaku aktif terhitung pada tanggal 1 Juni 2015, yang pada tanggal bersamaaan yaitu 1 Juni 2015 Tergugat telah memberikan Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja kepada Penggugat, sehingga dalil Tergugat bahwa Penggugat menolak mutasi kerja yang diperintahkan Tergugat tidak bersesuaian

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

dengan alat bukti surat yang diajukan, karena tidak terdapat adanya Surat Mutasi Kerja bukti penolakan mutasi, dan pada tanggal mutasi dilaksanakan Penggugat telah diberikan Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja, sehingga dalil Penggugat menolak mutasi kerja dari Tergugat menjadi tidak beralasan dan tidak perlu dipertimbangkan;

Bahwa pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon menyesatkan dan memutarbalikkan fakta demi untuk memenuhi dan membenarkan pertimbangan-pertimbangan hukum lainnya, tanpa melihat fakta-fakta yang telah disampaikan oleh Pemohon Kasasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan Surat Keputusan Pemutusan Hubungan Kerja yang diberikan pada tanggal 1 Juni 2015, hal ini disebabkan oleh karena pada saat diinfokan oleh Pemohon Kasasi kepada Termohon kasasi perihal mutasi, Termohon Kasasi langsung marah dan melakukan pengancaman serta menolak mutasi yang dilakukan oleh Pemohon Kasasi. Hal ini perlu dipahami dan bukan berarti dimaknai oleh Judex Facti sebelum efektif tanggal mutasi sudah dilakukan mutasi, SK PHK tidak akan dikeluarkan oleh Pemohon Kasasi jika saat diinfokan Termohon Kasasi menerima, dengan demikian Judex Facti tidak dapat memahami dan memaknai permasalahan riil yang terjadi. Hal ini dikarenakan Judex Facti dari awal sudah tidak ada iktikad untuk menjadi penengah yang baik dalam perselisihan ini, karena sudah ada unsure keterpihakan sejak gugatan pertama kali didaftarkan sebelum dicabut dan didaftarkan kembali oleh Termohon Kasasi;

Bahwa atas perbedaan besaran Upah yang diterima Penggugat sebagaimana maksud dalam posita Penggugat poin (1) sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah) yang berbeda dengan dalil Tergugat dalam jawaban Tergugat poin (4) yang berpendirian Upah Penggugat sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah), maka setelah diteliti secara seksama tekait alat bukti surat P.3-a, P.3-b, P.3-c tentang slip gaji Penggugat bulan Agustus, September, Oktober 2014 bahwa komponen Upah yang dimaksud Penggugat adalah Gaji Pokok Rp3.380.000,00 ditambah Tunjangan Penempatan Rp1.000.000,00 sehingga menjadi total Rp4.380.000.00, sedangkan berdasarkan alat bukti surat T.6-b tentang slip gaji Penggugat pada bulan Mei 2015 sebelum diputus hubungan kerjanya oleh Tergugat adalah sebesar Rp5.011.242,00 (lima juta sebelas ribu dua ratus empat puluh dua rupiah) dengan incian

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Gaji Pokok Rp.3.797.768,- ditambah Uang Makan Rp425.000,00 di tambah Uang SPD, PS, EK, Trans, Komunikasi Rp1.000.000,00 di tambah Uang Penempatan Rp0,00, maka dalil Tergugat tentang Upah Penggugat Tergugat sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah) adalah tidak sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan (PP 78/2015): “Bahwa upah terdiri atas komponen (a) Upah tanpa tunjangan, (b) Upah pokok dan tunjangan tetap, atau (c) Upah pokok, tunjangan tetap, dan tunjangan tidak tetap, karena berdasarkan alat buki surat T.6-a, T.6-b, dan T.6-c diketahui fakta bahwa Upah Penggugat sebagaimana dalil Tergugat bukan masuk komponen Upah tanpa tunjangan, karena apabila terdapat komponen Upah maka harus disertai dengan adanya tunjangan tetap dan atau tunjangan, dan di dalam persidangan Tergugat tidak pernah memberikan uraian komponen Upah Penggugat selain hanya mempertegas Upah Penggugat adalah sebesar Gaji Pokok, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa dalil Tergugat bahwa Upah Penggugat yang dihitung hanya berdasarkan Gaji Pokok sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah) sebagaimana diakui dan didalilkan Tergugat harus ditolak, karena tidak sesuai dengan PP 78/2015 Pasal 5 ayat (1), dan karena Upah Penggugat yang didalilkan Penggugat dalam posita poin (1) sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah) dan dibuktikan dengan alat bukti surat P.3-a, P.3-b, P.c memiliki dasar perhitungan komponen upah sesuai ketentuan yang berlaku, yaitu selain Gaji pokok juga terdapat tunjangan, maka dalil Penggugat yang menyatakan gaji terakhir Penggugat sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan puluh ribu rupiah) dapat dikabulkan;

Bahwa pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon menyesatkan berdasarkan bukti yang diajukan Pemohon Kasasi, jelas gaji terakhir pada saat dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja adalah sebesar Termohon Kasasi Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah), sedangkan dasar perhitungan Upah yang dilakukan oleh Judex Facti adalah gaji pokok pada bulan Agustus, September dan Oktober 2014 ditambah tunjangan penempatan Termohon Kasasi sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), dengan demikian dasar perhitungan yang dibuat dasar Judex Facti adalah salah karena didasarkan pada gaji pokok pada tahun 2014, sedangkan gaji

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

pokok Termohon Kasasi saat dilakukan PHK sudah mengalami perubahan sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah), karena perhitungan konpensasi adalah dihitung dari gaji terakhir karyawan tersebut;

Bahwa ketentuan Upah tersebut sudah memenuhi ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, khususnya Bab III Pasal 4 dan Pasal 5 dalam Peraturan Pemerintah jelas dinyatakan:

Pasal 4 menyebutkan:

(1) Penghasilan yang layak merupakan jumlah penerimaan atau pendapatan pekerja/buruh dari hasil pekerjaannya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja/buruh dan keluarganya secara wajar;

(2) Penghasilan yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk:

a. Upah, dan

b. Pendapatan non Upah; Pasal 5 menyebutkan:

(1) Upah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a terdiri atas komponen:

a. Upah tanpa tunjangan;

b. Upah pokok dan tunjangan tetap, atau

c. Upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap;

(2) Dalam hal komponen Upah terdiri dari Upah pokok dan tunjangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, besarnya Upah pokok paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Upah pokok dan tunjangan tetap;

(3) Dalam hal komponen Upah terdiri dari Upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, besarnya Upah pokok paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Upah pokok dan tunjangan tetap;

(4) Upah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama;

Dengan demikian jelas dan nyata penghasilan yang layak sebagaimana dimaksud Pasal 4 tersebut apabila sudah memenuhi ketentuan Pasal 4 ayat (1) dan tidak harus memenuhi seluruh komponen Pasal 5 ayat (1), artinya jika pengasilan yang layak yang didapat karyawan dalam bentuk Upah sudah memenuhi ketentuan Pasal 4 ayat (1), walaupun hanya terdiri dari

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

satu komponen Pasal 5 ayat (1) tidak dapat dikatakan melanggar ketentuan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud Judex Facti, perhitungan UMR/UMP/UMK sudah dihitung oleh Dewan Pengupahan berdasarkan kebutuhan hidup pekerja/buruh dan keluarganya secara wajar, sedangkan gaji pokok Termohon Kasasi sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah) telah melebihi dari Upah Provinsi dimana Termohon Kasasi ditugaskan;

Bahwa atas dasar tersebut Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon telah salah menerapkan hukum dalam menetapkan dasar perhitungan konpensasi yang dihitung dari gaji Pokok Termohon Kasasi pada tahun 2014, sedangkan Termohon Kasasi dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja pada tahun 2015, dimana Upah pokoknya sudah mengalami perubahan sebesar Rp3.797.768,00 (tiga juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam puluh delapan rupiah);

5. Bahwa Pemohon Kasasi/Tergugat keberatan atas pertimbangan hukum Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon yang memberikan pertimbangan hukum sebagaimana dimaksud dalam halaman 22-23 yang memberikan pertimbangan: “Bahwa dalam posita gugatan Penggugat poin (10) Penggugat masih mempunyai hak atas Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2015 sebesar Rp6.563.575,00 (enam juta lima ratus enam puluh tiga ribu lima ratus tujuh puluh lima rupiah), hal tersebut sesuai dengan ketentuan Permennaker Nomor Per-04/MEN/1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi pekerja di perusahaan, namun Tergugat dalam jawabannya pada poin (14) menyatakan bahwa Penggugat tidak berhak mendapatkan THR karena Penggugat telah diputus hubungan kerjanya dengan Tergugat sejak 47 hari sebelum hari raya, maka menurut Majelis Hakim oleh karena Pemutusan Hubungan Kerja atas diri Penggugat dalam perkara a quo belum memperoleh penetapan dari Lembaga Penyelesaian Perselisihan Industrial, maka demi hukum hubungan kerja masih terjalin sehingga demikian Tergugat masih mempunyai kewajiban selaku Pengusaha memberikan Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2015, tetapi karena Penggugat tidak dapat menjelaskan dan membuktikan dasar tuntutan besaran uang Tunjangan Hari Raya Keagamaan sebesar Rp6.563.575,00 (enam juta lima ratus enam puluh tiga ribu lima ratus tujuh puluh lima rupiah), maka Majelis Hakim berpendapat bahwa perhitungan uang THR Keagamaan Penggugat adalah sebesar 1 (satu) bulan gaji sebesar Rp4.380.000,00 (empat juta tiga ratus delapan putuh ribu rupiah),

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 27 hal. Put. Nomor 40 K/Pdt.Sus-PHI/2017

tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perusahan Tergugat Pasal 14 Bab Tunjangan Hari Raya Keagamaan sebagaimana alat bukti surat T.2“; Bahwa pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon tidak memenuhi rasa keadilan yang mewajibkan Pemohon Kasasi untuk membayar Tunjangan Hari Raya kepada Termohon Kasasi yang sudah bukan merupakan karyawan dari Termohon Kasasi setelah dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja, karena berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) Permenaker 4/1994 disebutkan: “Pekerja yang putus hubungan kerjanya terhitung sejak waktu 30 (tiga puluh) hari sebelum jatuh tempo Hari Raya Keagamaan, berhak atas THR”, sehingga Penggugat tidak berhak mendapatkan THR karena Penggugat telah putus hubungan kerjanya dengan Tergugat sejak 47 hari sebelum hari raya, dimana SK-PHK yang telah dikeluarkan oleh Tergugat adalah per tanggal 1 Juni 2015, sehingga layak dan patut apabila Pemohon Kasasi tidak melakukan pembayaran THR, karena dengan adanya Pemutusan Hubungan Kerja maka para pihak sudah tidak berkewajiban melaksanakan hak dan kewajibannya masing-masing;

6. Bahwa Pemohon Kasasi/Tergugat keberatan atas pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon dalam pertimbangannya, khususnya halaman 23-24 yang memberikan pertimbangan: “Menimbang, bahwa berdasakan Pasal 191 UU Nomor 13 Tahun 2003 juncto Pasal 1603 huruf (h) KUHPerdata yang mengatur Pemutusan Hubungan Kerja dilakukan tiap-tiap akhir bulan takwin, maka Majelis Hakim berkesimpulan putus hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat terhitung sejak 30 Juni 2016”;

Menimbang, bahwa Majelis Hakim berpendapat dengan putusnya hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat tentunya memberikan konsekwensi hukum kepada Tergugat, yaitu berkewajiban untuk memberikan hak-hak kepada Penggugat sebagaimana dimaksud dengan Pasal 191 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan juncto Pasal 1603 n juncto Pasal 1603 q“;

Bahwa pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Hubungan Industrial Ambon menyesatkan dan tidak memberikan keadilan, karena pertimbangan tersebut didasarkan pada ketentuan Pasal Pasal 191 UU Nomor 13 Tahun 2003 yang menyatakan: “Semua peraturan pelaksanaan yang mengatur ketenagakerjaan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan undang-undang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa Judex Facti putusan Pengadilan Tinggi Kupang tidak ikut mempertimbangkan “bermanfaat atau tidaknya pernyataan Banding oleh Para Pembanding” sebab ketika Para

- Bahwa alasan kasasi Penuntut Umum dan Terdakwa tidak dapat dibenarkan karena putusan judex facti/Pengadilan Tinggi Kupang yang menguatkan putusan judex facti/Pengadilan Negeri

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Negeri Palembang tersebut telah diucapkan dengan hadirnya Kuasa Pemohon Keberatan dan Kuasa Termohon Keberatan pada tanggal 31 Januari

Bahwa selain itu pertimbangan hukum Majelis Hakim Judex Facti pada halaman 11 alinea 4 dan halaman 18 alinea 1 sebagaimana tersebut di atas juga salah dalam menerapkan

Bahwa Judex Facti dalam pertimbangannya pada putusan halaman 25 paragraf 1 telah mempertimbangkan bukti T1,T2-2 sebagai Peraturan Kerja Karyawan Gereja Masehi Advent

- Bahwa, petimbangan hukum Judex Facti pada halaman 22 alinea ke 3 poin 4 yang manyatakan ”...surat perjanjian kerja waktu tertentu antara Penggugat/Termohon Kasasi dengan

Bahwa putusan Judex Facti yang tidak disertai dengan pertimbangan hukum adalah putusan yang bertentangan dengan Pasal 23 ayat (1) Undang Undang Nomor 14 Tahun 1970

Namun di lain pihak Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya (Judex Facti) dalam pertimbangannya pada halaman 70 paragraf 2 berpendapat sebagai berikut: “menimbang, bahwa