• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAUNCHING BUKU PEDOMAN TATALAKSANA COVID-19 EDISI 3 UPDATE PEDOMAN TATALAKSANA COVID-19 ERLINA BURHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAUNCHING BUKU PEDOMAN TATALAKSANA COVID-19 EDISI 3 UPDATE PEDOMAN TATALAKSANA COVID-19 ERLINA BURHAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

LAUNCHING BUKU PEDOMAN TATALAKSANA COVID-19 EDISI 3

UPDATE PEDOMAN

TATALAKSANA COVID-19”

ERLINA BURHAN

DEPARTEMEN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

FKUI-RSUP PERSAHABATAN / PERHIMPUNAN DOKTER PARU INDONESIA

(2)

DEFINISI KASUS

SUSPEK

PROBABLE

KONFIRMASI

KONTAK

ERAT

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI),

Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(3)

KASUS SUSPEK

Kriteria Klinis

• Demam

akut (≥ 38

0

C)/riwayat demam DAN

batuk

;

ATAU

• > 3 atau lebih gejala/tanda akut

berikut: demam/riwayat demam, batuk, kelelahan (fatigue),

sakit kepala, myalgia, nyeri tenggorokan, coryza/ pilek/ hidung tersumbat, sesak nafas,

anoreksia/mual/muntah, diare, penurunan kesadaran

Kriteria Epidemiologis; dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala

• Riwayat

tinggal

atau

bekerja

di

tempat

berisiko

tinggi

penularan

ATAU

• Riwayat

tinggal

atau

bepergian

di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan

transmisi lokal

ATAU

• Bekerja di

fasilitas pelayanan kesehatan

, baik melakukan pelayanan medis, dan non-medis,

serta petugas yang melaksanakan kegiatan investigasi, pemantauan kasus dan kontak

Kriteria A

Memenuhi > 1 kriteria klinis DAN > 1 kriteria epidemiologis

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI),

Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(4)

KASUS SUSPEK

Kriteria B

• Seseorang dengan

ISPA

Berat

Kriteria C

• Seseorang yang

• Asimtomatik

• Tidak memenuhi kriteria

epidemiologis

• Rapid antigen

SARS-CoV-2 (+)

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI),

Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(5)

KASUS PROBABLE

SALAH SATU DARI:

Kriteria A

• Seseorang yang

memenuhi

kriteria klinis

• Memiliki riwayat

kontak erat

dengan kasus

probable; atau

terkonfirmasi;

atau berkaitan

dengan

cluster

COVID-19

Kriteria B

• Kasus

suspek

• Gambaran

radiologis

sugestif

ke arah

COVID-19

Kriteria C

• Seseorang dengan

gejala

akut

anosmia

(hilangnya

kemampuan indra

penciuman) atau

ageusia

(hilangnya

kemampuan indra

perasa) dengan

tidak ada

penyebab lain

yang dapat

diidentifikasi

Kriteria D

• Orang dewasa

yang

meninggal

dengan

distress

pernapasan

• Riwayat

kontak

erat

dengan kasus

probable atau

terkonfirmasi, atau

berkaitan dengan

cluster

COVID-19

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI),

Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(6)

KASUS KONFIRMASI

SALAH SATU DARI:

Seseorang dengan

hasil

RT-PCR

positif

Seseorang tanpa gejala

(

asimtomatik

) + hasil

rapid antigen

SARS-CoV-2 positif

Seseorang dengan hasil

rapid antigen

SARS-CoV-2 positif

Memenuhi

kriteria

definisi

kasus probable

ATAU

kasus suspek

(kriteria A atau B)

Memiliki

riwayat

kontak erat

dengan

kasus probable ATAU

terkonfirmasi

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI),

Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(7)

KONTAK ERAT

Riwayat kontak dengan kasus probable / konfirmasi COVID-19

Kontak

tatap muka/berdekatan

dalam radius

1 meter

+ jangka waktu

> 15 menit

Sentuhan fisik langsung

(bersalaman, berpegangan tangan, dll)

Orang yang memberikan

perawatan langsung, tanpa menggunakan

APD sesuai standar

Situasi lainnya yang

mengindikasikan adanya kontak

berdasarkan

penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan

epidemiologi setempat

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI),

Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(8)

PEMERIKSAAN RT-PCR

Untuk diagnosis: hari ke-1 dan 2

Hari ke-1 (+)→ tidak perlu swab hari ke-2

Hari ke-1 (-) → swab ulang hari ke-2

Untuk pasien rawat inap, PCR swab hanya dilakukan

3 kali

PCR untuk follow-up

hanya dilakukan pada

pasien dengan

gejala berat & kritis

(10 hari setelah pengambilan swab yang

positif)

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI),

Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(9)

RAPID ANTIGEN SARS-COV-2

REKOMENDASI WORLD HEALTH ORGANIZATION (WHO)

1.

Memiliki

sensitivitas

>

80%

dan

spesifisitas > 97%

jika dibandingkan dengan

RT-PCR

2.

Hanya digunakan dalam

kondisi RT-PCR

tidak tersedia

atau

membutuhkan hasil

diagnosis

yang

cepat

berdasarkan

pertimbangan klinis

3.

Hanya dilakukan oleh

petugas terlatih

dalam

5-7 hari pertama onset gejala

WHO. Antigen-detection in the diagnosis of SARS-CoV-2 infection using rapid immunoassays. 2020

Izin Edar oleh Kemenkes (>37 jenis)

• SD BioSensor Inc

• Abbot

• Indec

• GenBody

• Dan lain lain

Rekomendasi WHO

• SD BioSensor Inc → Standard Q COVID-19 Ag

Test

• Abbot → Panbio COVID-19 Ag Rapid Test Device

(Nasal & Nasopharyngeal)

(10)

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(11)

Vitamin C

Vitamin C non-acidic 3-4x500mg (14 hari)

Tablet hisap vitamin C 2x500mg (30 hari)

Multivitamin dengan kandungan viamin C 1-2 tabler perhari (30 hari)

Vitamin D

Suplemen:400 – 1000 IU/hari

Obat:1000-5000IU/hari

Komorbid (+) → lanjutkan pengobatan

Bila rutin meminum ACE-inhibitor dan ARB → konsultasi ke SpPD / SpJP

Obar dengan sifat antioksidan dan Obat suportif lainnya

Isoman dan protokol Kesehatan

TATALAKSANA PASIEN TERKONFIRMASI

COVID-19: TANPA GEJALA

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(12)

TATALAKSANA PASIEN TERKONFIRMASI

COVID-19: GEJALA RINGAN (FARMAKOLOGI)

Vitamin C

Vitamin C non-acidic 3-4x500mg (14

hari)

Tablet hisap vitamin C 2x500mg (30

hari)

Multivitamin dengan kandungan viamin

C 1-2 tabler perhari (30 hari)

Dianjurkan vit komposisi C-B-E-Zink

Vitamin D

Suplemen: 400 – 1000 IU/hari

Obat: 1000-5000IU/hari

Azitromisin

1x 500mg selama 5 hari

Antivirus

Oseltamivir (Tamiflu) 2x75mg 5-7

hari

ATAU

Favipiravir (Avigan) 2x600mg 5 hari

Terapi simptomatik

Pengobatan komorbid/komplikasi

Obat suportif

Isoman dan protokol Kesehatan

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(13)

TATALAKSANA PASIEN TERKONFIRMASI

COVID-19: GEJALA SEDANG (FARMAKOLOGI)

Vitamin C

3x200-400mg

dalam 100cc NaCl 0.9%

habis dalam 1 jam IV

Antikoagulan

LMWH/UFH

sesuai

pertimbangan DPJP

Pengobatan simptomatis

Pengobatan

komorbid/komplikasi

Azitromisin

1x500mg IV/oral

(5-7 hari)

ATAU

Levofloksasin

(curiga infeksi bakteri)

1x750mg IV/oral (5-7 hari)

Favipiravir (Avigan)

Hari 1: Loading dose 2x1600mg

Hari 2-5: 2x600mg

ATAU

Remdesivir

200mg IV drip (hari I)

1x100mg IV drip (hari ke 2-5 ATAU ke 2-10)

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(14)

TATALAKSANA PASIEN TERKONFIRMASI COVID-19:

GEJALA BERAT/KRITIS (FARMAKOLOGI)

Azitromisin

1x500mg IV/oral

(5-7 hari)

ATAU

Levofloksasin

(curiga infeksi bakteri)

1x750mg IV/oral

(5-7 hari)

Favipiravir (Avigan)

Hari 1: Loading dose 2x1600mg

Hari 2-5: 2x600mg

ATAU

Remdesivir

200mg IV drip (hari I)

1x100mg IV drip

(hari ke 2-5 ATAU ke 2-10)

Pengobatan simptomatis | Pengobatan komorbid/komplikasi | Tatalaksana Syok

Vit C

3x200-400mg dalam 100cc NaCl 0.9%

habis dalam 1 jam IV

Vit B1

1 amp/24 jam IV

Vit D

1000-5000 IU/hari

Antikoagulan

LMWH/UFH

sesuai

pertimbangan DPJP

Dexametason

6 mg/24 jam IV (10

hari)

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(15)

Klasifikasi

(WHO)

Pemeriksaan

Antiviral

Anti-inflamasi

Vitamin & Suplemen

Pengobatan Lain

Ringan

DPL, Swab PCR

Oseltamivir

1

ATAU

Favipiravir

2

Vitamin C

Vitamin D

Vitamin E

Terapi O

2

: arus

rendah

Sedang

DPL, PCR, AGD,

GDS, SGOT/SGPT,

Ureum, Kreatinin,

D-Dimer, Ferritin,

Troponin, IL-6, k/p

NT proBNP, XRay

Thorax (k/p CT

scan)

Favipiravir

2

ATAU

Remdesivir

Kortikosteroid,

antiinterleukin-6

(jika sangat dipertimbangkan)

Vitamin C

Vitamin D3

Vitamin E

Plasma

konvalesens, sel

punca

Terapi O

2

:

Noninvasif: arus

sedang-tinggi

(HFNC)

Berat

DPL, PCR, seri AGD,

GDS, SGOT/SGPT,

Ureum, Kreatinin,

D-Dimer, Ferritin,

Troponin, IL-6, k/p

NT proBNP, k/p

CK-CKMB, CT scan

Favipiravir

2

ATAU

Remdesivir

Kortikosteroid,

antiinterleukin-6

Vitamin C

Vitamin D

Vitamin E

Plasma

konvalesens, sel

punca

IVIG

HFNC/

Ventilator

Kritis

Favipiravir

ATAU

Remdesivir

Kortikosteroid,

antiinterleukin-6

Vitamin C

Vitamin D

Vitamin E

Sel punca

IVIG

Ventilator/

ECMO

1

Oseltamivir diberikan terutama bila diduga ada infeksi influenza

(16)

Tanpa Gejala

Gejala Ringan

Gejala Sedang

Gejala Berat

Isolasi Mandiri

di Rumah

Isolasi Mandiri

di Rumah

Rujuk ke RS

Darurat

Rujuk ke RS

Rujukan

Selesai

Lanjut isolasi

mandiri 7 hari

Klasifikasi Gejala

Tindak Lanjut

Pemantauan

Lanjutan

10 hari tanpa

gejala

10 sejak timbul

gejala + 3 hari

bebas gejala

10 sejak timbul

gejala + 3 hari

bebas gejala

1x PCR negatif + 3

hari bebas gejala

Durasi Isolasi

Berdasararkan rekomendasiWHO:

Bila

KAPASITAS

LABORATORIUM

memungkinkan, tetap lebih baik evaluasi

pemeriksaan PCR

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(17)

KRITERIA SELESAI ISOLASI

Derajat Awal

Keparahan

Dilakukan RT-PCR?

Kriteria Selesai Isolasi

Asimptomatik

Tidak perlu

Isolasi mandiri 10 hari sejak pengambilan

specimen diagnosis konfirmasi

Ringan –

Sedang

Tidak perlu

(pada kasus sedang +

komorbid atau yang

berpotensi peruburukan,

evaluasi RT-PCR dapat

dilakukan)

10 hari setelah onset gejala DAN > 3 hari

bebas gejala demam & gangguan pernapasan

Berat/Kritis +

dirawat di RS

Ya

Follow up RT-PCR 1x negatif DAN > 3 hari

bebas gejala demam & gangguan pernapasan

Bila tidak bisa dilakukan

Isolasi di RS 10 hari setelah onset gajala + > 3

hari bebas gejala demam/gangguan pernapasan

alih rawat non isolasi / pulang

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(18)

KRITERIA SEMBUH

Tanpa Gejala

Gejala Ringan

Gejala Sedang

Gejala Berat / Kritis

Kriteria Selesai

Isolasi

Surat Selesai

Pemantauan dari

Fasyankes / DPJP

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(19)

KRITERIA PEMULANGAN

Kriteria

Selesai Isolasi

+

Kriteria Klinis

Hasil kajian klinis menyeluruh

(radiologi, pemeriksaan darah >>

perbaikan)

oleh DPJP

menyatakan pasien diperbolehkan untuk pulang.

Tidak ada tindakan/perawatan yang dibutuhkan oleh pasien

, baik

terkait sakit COVID-19 ataupun masalah kesehatan lain yang dialami

pasien

Pasien berat/kritis yang dipulangkan: lanjut isoman > 7 hari

[untuk pemulihan / monitoring muncul kembali gejala] + protokol kesehatan

Protokol Tatalaksana COVID-19 Edisi 3. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta; 2020.

(20)

REINFEKSI SARS-CO-V 2

Mekanisme utama

belum diketahui secara pasti

, namun sudah ada laporan reinfeksi terjadi

karena dua virus dengan tipe yang berbeda yang telah dibuktikan dengan analisis genome.

Hal tersebut tidak menutup kemungkinan reinfeksi terjadi karena

satu virus dengan tipe

yang sama

dan mengalami

reaktivasi

Antibodi yg terbentuk menghilang setelah 3- 12 bulan

Perkiraan mekanisme yang dapat menjelaskan mengapa infeksi sekunder lebih berat, adalah:.

Kadar virus yang sangat tinggi

pada infeksi kedua

Kemungkinan

bahwa infeksi ulang disebabkan oleh virus yang lebih ganas

Peningkatan respon imun terkait antibodi

, yaitu di mana sel-sel imunitas yang memiliki

reseptor Fc,terinfeksi virus yang mengikat antibodi tertentu.

Mekanisme ini telah terlihat sebelumnya pada betacoronavirus yang menyebabkan sindrom

pernafasan akut yang parah

(21)

POSITIF PERSISTEN

Pasien yang sudah perbaikan kondisi pasca terdiagnosis COVID-19,

namun hasil RT-PCR tidak konversi menjadi (-) → virus masih

“terdeteksi”

Alat RT-PCR masih dapat mendeteksi komponen virus yang sudah

inaktif

Beberapa penelitian menemukan pasien yang sudah tidak menunjukkan

gejala masih dapat memperlihatkan hasil (+) pada RT-PCR

(22)

POSITIF PERSISTEN

Penelitian di Korea ditemukan bahwa walaupun sudah tidak ditemukan

virus yang dapat bereplikasi 3 minggu setelah onset gejala pertama di

tubuh pasien,

SARS-CoV-2 RNA masih terdeteksi di spesimen

pemeriksaan RT-PCR hingga 12 Minggu

(Korea CDC, 2020; Li et

al., 2020;Xiao et al, 2020)

Spesimens dari pasien yang sudah dinyatakan recovered namun memiliki

RT-PCR positif karena muncul gejala lagi (reinfeksi)

tidak terdeteksi

replication-competent virus

(Korea CDC, 2020;Lu et al., 2020).

(23)

FENOMENA LONG COVID-19

Sebagian besar pasien tergolong ke dalam gejala yang ringan hingga moderate.

10-15% ➔ berprogresi menjadi gejala yang berat dan sekitar 5% menjadi critical illness.

Pasien Covid-19 seharusnya mengalami recovery setelah 2-6 minggu.

Pada beberapa orang, beberapa gejala dapat bertahan atau muncul Kembali setelah

berminggu- minggu hingga berbulan- bulan setelah pulih.

(24)

Fatigue

kongesti,

Batuk,

sesak napas

Anosmia,

ageusia

Sakit kepala,

nyeri-nyeri

badan

Diare, mual

abdomen dan

Nyeri

nyeri dada

Confusion

World Health Organization. Long-term Effects of Covid-19. Geneva:

World Health Organization; 2020

Yü`q65

Berdasarkan survey telepon, orang dewasa dengan

gejala dengan hasil pemeriksaan SARS-COV-2 positif,

35% belum kembali ke kondisi Kesehatan

biasanya atau recovery saat di wawancara 2-3

minggu setelah dilakukan pemeriksaan.

Diantara usia 18-34 tahun dengan kesehatan yang

baik,

sekitar

20%

dilaporkan

mengalami

prolonged symptoms.

Faktor

risiko:

hipertensi,

obesitas,

kondisi

(25)

TERAPITAMBAHAN PADA COVID-19

Anti il-6

(TOCILIZUMAB)

(Anakinra)

Anti IL-1

IVIG

(Intravenous

Immunoglobulin)

Plasma

Konvalesens

Stem Cell (MSC)

Mesenchymal

Spironolakton

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Mahasiswa mampu menjelaskan ilmu dasar, patogenesis, dan pengelolaan penyakit glaukoma sudut terbuka sesuai Standar Kompetensi Dokter Spesialis Mata Indonesia Mahasiswa