• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP TEOLOGI HINDU (BRAHMAWIDYA) DALAM LONTAR BUDHA KECAPI CEMENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSEP TEOLOGI HINDU (BRAHMAWIDYA) DALAM LONTAR BUDHA KECAPI CEMENG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Page 74

KONSEP TEOLOGI HINDU (BRAHMAWIDYA)

DALAM LONTAR BUDHA KECAPI CEMENG

Oleh

Ni Kade Seri Andayani1 & Kadek Devi Wismayani2

(1)Universitas Tabanan & (2)STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja [email protected] & wismayantidevi@gmailcom2

Abstract

Literary texts are a source of literature a good source of knowledge in the field of social sciences, medical sciences and various sciences about the universe or even some literary sources explaining the science of the godhead. Lontar as a source of teachings of balinese people explain various things as a reference to behave and live the life of balinese people. As one of the medical lontar, BudhaKecapiCemeng discusses the treatment that emphasizes the involvement of other forces as a means of doing treatment. Based on this is studied about the theological concept in LontarBudhaKecapiCemeng. Through qualitative approach and relevant theories as a method of problem review. The theology ofbhuana agung contained in LontarBudhaKecapiCemeng explains about the element that makes up the universe, namely pancamahabhuta involves the concept of Tri Murti and the concept of DewataNawaSangga as a counterweight to the universe, while inbhuana alit that is small nature / human nature is also formed by the element pancamahabhuta and there are gods in man. The involvement of the gods then as a synchronization between small nature and large nature to form and explore health so as to create harmony.

Keywords: Teologi Hindu, Healhty, LontarBudha Kecapi Cemeng I. PENDAHULUAN

Implementasi ajaran Teologi Hindu dalam ajaran teologi lokal masyarakat Bali didominasi oleh ajaran Siwa terbukti dari sumber sastra berupa lontar cenderung menyebutkan bahwa Siwa sebagai sumber kehidupan, termasuk juga Lontar Budha Kecapi Cemeng menganut ajaran Siwa, menjelaskan bahwa Sang Budha Kecapi mendapatkan penugrahan dari Dewi Durga dan dewa-dewa lainnya yang menyebutkan Siwa sebagai dewa tertinggi.

Berdasarkan hal tersebut dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng merupakan lontar yang menjelaskan mengenai konsep usadha atau pengobatan dan termasuk ke dalam

salah satu lontar tutur. Secara singkat penjelasan yang terdapat dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng adalah konsep pemanfaatan ilmu kediyatmikan untuk melakukan pengobatan kepada pasien, dalam implementasi tersebut melibatkan nama-nama dewa termasuk ke dalam kepercayaan lokal masyarakat Hindu Bali. Melalui pengobatan yang dilaksanakan sesuai dengan Lontar Budha Kecapi Cemeng peneliti cenderung mengkaji mengenai konsep teologi yang diterapkan dalam Lontar Budha Kecapi tersebut, khususnya mengkaji mengenai struktur teologi Hindu yang dibahas dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng. Lontar tersebut merupakan susastra masyarakat Bali. Selain aspek struktur teologi pengkajian mengenai fungsi lontar yang dimiiki oleh masyarakat Bali belum di lakukan

(2)

Page 75 secara keseluruhan, sehingga

masyarakat tidak mengetahui fungsi dari lontar yang mereka miliki. Persepsi masyarakat secara umum bahwa lontar adalah pustaka suci yang mesti di bantenin bukan untuk dibaca untuk mengetahui fungsi yang terkandung di dalamnya.

II. METODE

Karya tulis kualitatif mempergunakan metode kualitatif sebagai dasar pelaksanaan dan prosesn penelitian melalui pendekatan menggunakan teori-teori yang relevan. Pendekatan teori dipergunakan sebagai pembanding hasil penelitian yang dilaksanakan. Metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan kepustakaan sebagai pendukung hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk deskrifsi.

III. PEMBAHASAN

3.1 Teologi Saguna Brahman

Teologi Saguna Brahma merupakan golongan teologi tingkat dasar hingga tingkat menengah yang diterapkan oleh para ilmuan. Saguna Brahma sendiri merupakan salah satu jalan atau cara untuk menghayati dan memahami Tuhan dari aspek manifestasi-Nya berupa deva-deva atau sebagai avatara (Donder, 2006: 233-234). Konsep ini yang kemudian berkembang menjadi konsep polytheisme yang nantinya menjadi konsep dasar dalam munculnya Tri Murti yang sering diwujudkan kedalam wujud tiga pribadi Tuhan yang berbeda dan memiliki sifat. Konsep tersebut kemudian berkembang dan menjadi konsep deva-deva dalam agama Hindu.

Saguna Brahma menjadi cara umat untuk memahami Tuhan secara mendasar, perwujudan atau simbol deva-deva menjadi sarana untuk menunjukan rasa Bhakti kepada Tuhan,

dalam hal ini perwujudan dalam bentuk gambar atau patung, dan bahkan dalam bentuk nama saja merupakan konsep Saguna Brahma. Konsep tersebut ditujukan kepada mereka yang tidak mampu mengendalikan pikiran untuk dapat mencapai Tuhan dalam bentuk tidak bersifat, sehingga tuhan diwujudkan untuk mempermudah umat mewujudkan Bhakti kepada Tuhan dalam wujud manipestasi-Nya (Dewi, 2020).

Teologi Saguna Brahma dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng meliputi manifestasi Tuhan dalam bentuk nama-nama deva dari setiap bait lontar tersebut. Konsep yang menjelaskan perwujudan Tuhan dalam manifestasi-Nya tersebut tertuang dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng yang menjadi salah satu susastra tattwa. Kutipan teks berikut salah satu Teologi Saguna Brahma yang terkandung dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng:

iki anggén ngamantrain ademé. Ma. Om Sang Dorakala, Sang Dorakali, inebana bahbahan sanga. Sang Hyang Urip, Sang Hyang Pramana, Sang Hyang Katimang, tan palawan sun atakon pati-uripé si anu. Lah ta poma sira angwarahana poma 3.

Samangkana pratitah siramitengerin pati-urip tan kasor pwa sirangusadanin. Dadia mojar ta Sang Kalimosada, Sang Kalimosadi: “Yan samangkana, sami wus karegep déningsun masisian, guruwaktra nga”.

Dadi ta mojar sang Budakacapi: “Saiki malih patengerania “Pati-urip”. Yan sira wus angawas sang agring, yania metu “pringetniadres maring karna kalih, tur ya nyangket, pejah “kang sadina pwa sira wong agring, aywa sirangusadanin. “yan ring bunbunanira metu kang kringet tur katon makukus ika ta kukus ambara nga., matengah-tengahan gring ika. Yan samangkana

(3)

Page 76 gring wong ika, watesnia pitung dina

gring ika, metu ya pejah. Liwar pitung dina gring ika, urip ika. Yan ana samangkana gringnia. Bhatara Iswara mayun pageh. Bhatara sira mayun lumaris. Samangkana titah igring Bayu kukus ambara nga.

“malih yan wong agring swé kabaya-baya, sahananing tamba tan ana amangan, dadia ta gring mangental nga. Yan samangkana, gegemen karnania kalih. Yan kaku karnania, aywangusadanin pejah makapwan wong ika, apan Sang Hyang Bayu Pramana, Sang Hyang Adnyana “Sidi, sami wus atinggal nga.

Yania metu wong agring tur ya katon panas adem ironing weteng, pejah pwa kita tan kawasa tulung, apan sang Sakula, Sadéwa wus atinggal. Apan Sang Hyang Mretiujiwa wus pejah maring dalem nga. Aywa sirangusadanin.

Yan wong lara baya tur kawas ibah mwahnia, tur ya menge cangkemnia, pejah pwarania wong agring tan kawasa tulung, sang atma wus atinggal olih Bhatara Yama. (Budha Kecapi Cemeng, 2a)

Terjemahan:

ini lah mantra untuk ampas sirih itu. Mantra. Om Sang Dorakala, Sang Dorakali, inebana bahbahan sanga. Sang Hyang Urip, Sang Hyang Pramana, Sang Hyang Katimang, tan palawan sun atakon pati-uripé si anu (nama yang sakit). Lah ta poma sira angwarahana poma 3.

Demikianlah tata cara menandai mati hidup tidak akan kalahlah kamu mengobati. Jadi berkatalah Sang Kalimosada, Sang Kalimosadi : “Jika demikian, semua sudah aku kuasai, Guru Waktra”.

Lalu berkata Sang Budakacapi : ”sekarang lagi pertanda mati hidup. Jika

kamu telah memperhatikan yang sakit, jika keluar keringatnya deras dari kedua telinganya, lagi lengket, mati dalam seharilah orang sakit itu, jangan kamu mengobati (Gunawijaya, 2019). Jika dari ubun-ubunnya keluar keringat dan terlihat berasap itu Kukus Ambara namanya., dalam pertengahan sakit itu, jika demikian sakit orang itu, batasnya tujuh hari sakit itu, lalu dia meninggal. Jika lewat dari tujuh hari sakit itu, orang itu akan tetap hidup. Jika demikian keadaan sakitnya. Bhatara Iswara berkenan tinggal. Jika meninggal Bhatara Iswara tidak berkenan tinggal pada orang yang sakit. Demikian perintah penyakit Bayu Kukus Ambara namanya

Lagi jika orang yang telah lama sakitnya, segala macam obat tidak ada yang mempan, jadilah itu penyakit Mangental namanya. Jika demikian, pegang kedua daun telinganya. Jika kaku telinganya, jangan mengobati orang sakit itu akan segera meninggal, karena Sang Hyang Bayu Pramana, Sang Hyang Adnyana Sidi, semua telah meninggalkan orang yang sakit.

Jika orang yang sakit terasa panas dingin di dalam perutnya, kamu tidak memiliki kuasa untuk menolong, karena Sang Sakula, Sahadewa telah meninggalkan orang yang sakit. Karena Sang Hyang Mretiujiwa sudah menghilang dari orang yang sakit. Jangan kamu mengobatinya.

Jika orang yang sedang sakit terlihat pucat dan juga kaku, mulutnya juga telah menganga, orang sakit tersebut telah meninggal tidak dapat ditolong lagi, karena Sang Atma sudah diambil oleh Bhatara Yama.

Dari kutipan tersebut di atas dapat dicermati bahwa ada beberapa nama dari manipestasi Tuhan yang terdapat dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng, meliputi Dewa Iswara, Sang Hyang Bayu Pramana, Sang Hyang

(4)

Page 77 Adnyana Sidi, dan Bhatara Yama.

Menurut Ida Nak Lingsir Kubayan Putus menyatakan Sang Hyang Bayu Pramana merupakan manifestasi Tuhan yang berada dalam tubuh manusia, Sang Hyang Bayu Pramana merupakan sang atma, manifestasi Tuhan yang telah memiliki sifat dan berstana dalam diri manusia, sedangkan Sang Hyang Adnyana Sidi merupakan manifestasi Tuhan yang berkaitan dengan konsep Cadu Sakti, yaitu empat kekuasaan Tuhan yang memiliki sifat-Nya masing-masing. Sesuai dengan konsep Cadu Sakti, Sang Hyang Adnyana Sidi yang berada dalam diri manusia memiliki sifat maha mengetahui segala yang ada di alam semesta. Pikiran merupakan perwujudan pisik dari Sang Hyang Adnyana Sidi yang apabila di manfaatkan dengan semaksimal mungkin akan mengetahui masa depan, masa sekarang, dan masa mendatang. Akan tetapi setiap manusia tidak sepenuhnya menguasai pikiran. Sang Hyang Adnyana Sidi dan Sang Hyang Bayu Pramana merupakan manifestasi Tuhan yang memiliki sifat dan memiliki tugas dalam tubuh manusia. (Marselinawati, 2020)

Salah satu manifestasi Tuhan dalam kutipan Lontar tersebut adalah Bhatara Yama atau Dewa Yama. Dewa Yama sendiri memiliki sifat sebagai hakim agung raja dari alam pitra (akhirat), putra dari Vivasvat dengan istrinya Saranya. Yama lahir kembar dampit adiknya bernama Yami yang kemudian dikawininya. Menurut Max Muller, Vivasvat adalah penguasa langit, Saranya lambang fajar, Yama lambang siang hari, Yami lambang malam hari. Yama adalah dewa yang pertama kali masuk ke alam pitra, sebagai raja alam baka, yang kejam terhadap orang jahat (Titib, 2011; 167).

Sesuai dengan kutipan lontar di atas atma yang telah di ambil oleh

Dewa Yama tentunya dapat dinyatakan orang tersebut telah meninggal. Sehingga jelas manifestasi Tuhan dalam wujud-wujud tertentu memiliki sifat masing-masing beserta tugasnya. Selain itu terdapat pula beberapa kutipan terkait konsep Teologi Saguna Brahma yang terdapat dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng sebagai berikut:

malih yan wong agring wus katon di selagan alisnia kurem tan patéja, dak tinanya wong agring. Yan karasa masriyeng tur klatag-klutug maring jroning karna, aywa sirangusadanin, pejah palania wong agring, apan Sang Hyang Mandiswara wus matinggal nga. Malih yan ana wong agring swé larania maganti-ganti, ika pitengerin maring karna wenang sire manyelek karnania kalih olih tujuh sira makakalih. Yan karasa tan paBayu tur ya sepi, nora nganti patang wengi uripnia: aywangusadanin, apan Sang Hyang Pramana wus asepi maring dalem, anrus lacana karnania, yan karasa nu mengredek, wenang usadanin.

Samangkana patengerania pati kalawan urip, kéng etakena sira. Marmaning olih kasor angusadanin, apan sira durung awas maring patengeraning pati-urip. Tur sira sumbar-sumbar angusadanin. Ika ta marmaning siragelis campah maring Sang Hyang Aksaraniti, idep Sang Hyang Saraswati mawastu maring sira. Yén makapatutnia wong/ ngusada. (Budha Kecapi Cemeng, 3b)

Terjemahan:

lagi jika orang sakit sudah terlihat di antara alisnya gelap tanpa cahaya, sejatinya orang sakit. Jika terasa merinding dan berdenyut-denyut di dalam telinga, jangan kamu mengobati, orang sakit itu akan meninggal, karena Sang Hyang Mandiswara sudah meninggalkan orang sakit tersebut.

(5)

Page 78 Lagi jika ada orang sakit lama

penyakitnya berganti-ganti, itu pertanda kedua telinganya boleh ditekan bersamaan dengan kedua telunjukmu. Jika tidak terasa ada denyut nadi, tidak sampai empat hari hidupnya: jangan diobati, karena Sang Hyang Pramana sudah meninggalkan orang yang sakit, teruslah rasakan telinganya, jika terasa masih bergejolak, boleh diobati.

Demikian pertandanya mati atau hidup, ingat-ingatlah kamu. Penyebabnya beroleh kalah mengobati, karena kamu belum waspada dengan pertanda mati hidup. Juga kamu sesumbar mengobati. Itulah penyebabnya kamu cepat lalai dengan Sang Hyang Aksaraniti, pengetahuan Sang Hyang Saraswati tidak nampak olehmu. Jika kehakikian orang mengobati. (Anggraini, 2020)

Sesuai kutipan lontar tersebut menjelaskan Tuhan dalam wujud tertentu dan memiliki sifat tertentu pula. Perwujudan Tuhan dalam Saguna Brahma dalam kutipan lontar di atas meliputi manifestasi dalam Sang Hyang Pramana, Sang Hyang Aksaraniti, dan Dewi Pengetahuan Sang Hyang Saraswati. Beberapa sastra menjelaskan Sang Hyang Saraswati atau Dewi Saraswati adalah dewa ilmu pengetahuan, kata Saraswati berasal dari urat kata “sṛ” yang berarti mengalir, sedangkan dalam Veda, Saraswati merupakan nama Dewi Sungai. Dalam kitab-kitab Purana Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan dan Dewi Sungai adalah juga saktinya Dewa Brahma, yang digambarkan sebagai wanita cantik berkulit putih bersih, dan berprilaku lemah lembut. Berbusana putih gemerlapan dan duduk di atas sekuntum bunga teratai, dan memiliki empat tangan yang masing-masing memegang: vina (kecapi), aksamala (tasbih), Tamaru (kendang kecil), dan pustaka

(buku). Disamping itu pula terdapat Burung Merak dan Angsa yang melengkapi laksana/ atribut Dewi Saraswati (Titib, 2003:98).

3.2 Teologi Bhuana Agung

Bhuana Agung berasal dari kata bhuana dan agung. Bhuana berarti dunia, jagat, benua, sedangkan kata agung berarti besar, mulia luhur (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1995: 12,147). bhuana agung merupakan salah satu dari berbagai istilah yang digunakan dalam agama Hindu untuk menyebutkan alam semesta. bhuana agung juga disebut makrokosmos, jagat raya, alam besar, dan Brahmanda. Alam semesta mencangkup seluruh ciptaan, baik yang ada di bumi maupun seluruh benda-benda angkasa yang milyaran jumlahnya, sedangkan apabila lebih menekankan kepada tata surya mencangkup gugusan planet yang dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari matahari dan Sembilan planet lainnya. Di duga terdapat di tempat lain yang tak terkira jauhnya terdapat juga susunan Tata Surya yang sama seperti ini (Donder, 2007:40). Semua gugusan tersebut menjadi isi alam semesta ini disebut bhuana agung. Konsep bhuana agung tercantum dalam berbagai susastra yang menegaskan mengenai ajaran tersebut. Dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng juga di bahas mengenai konsep bhuana agung sesuai dengan petikan berikut: Wekasan lamun sira mati iki sabdania, sabda tunggal nga. Bayunta. Iki genah Sang Hyang Tiga, kawruhakena sapanira. Tiga ring luhur, nga. Surya ulan. Lintang tiga ring sor nga, Brahma Wisnu Iswara. Tiga ring tengah nga. Bhatara Guru roro tunggl. Tiga ring bhuana agung nga. Pretiwi Akasa. Muah ring madia nga. Nista, madia, utama. Kawruhakena menek tuhune,

(6)

Page 79 apang puput sagahania, kang windu

tiga.

Malih ungguhan Sang Hyang Tri windu ring sarira, nga. Luirnia: Brahma Wisnu Iswara, sira ta awaking windu tiga nga. Genahnia windu daksina, Brahma nga. Windu ring tengah, Iswara nga. Windubama Wisnu nga. Ya awaking triPurusa nga. Ganti dadi lanang, dadi wadon. Kalanira aganti esuk, tengah nga, sore, tengah latri. Mangkana gantinira.

Yang ring esuk bhatara Iswara sira lanang, bhatara Brahma dadi dewi gayatri, bhatara Wisnu dadi dewi Gayatri. Yaning tengah nge bhatara Brahma lanang,

(Lontar Budha Kecapi Cemeng, 14.a) Terjemahan:

Nanti jika kamu mati ini suaranya, sabda tunggal namanya. Bayunta. Ini tempat Sang Hyang Tiga, ketahuilah beliau itu. Tiga di atas, namanya. Matahari bulan. Bintang tiga di bawah namanya, Brahma Wisnu Iswara. Tiga di dalam namanya. Batara Guru roro tunggal. Tiga di bhuana agung namanya. Pertiwi Akasa. Juga di tengah namanya. Nista, madia, utama. Ketahuilah naik turunnya, agar selesai pengetahuannya, yang windu tiga. Lagi dudukan Sang Hyang Tri Windu di badan, namanya. Dintaranya: Brahma Wisnu Iswara, beliaulah berbadan windu tiga namanya. Tempatnya windu daksina, Brahma namanya. Windu di tengah, Iswara namanya. Windubama Wisnu namanya. Itu dia berbadan tri Purusa namanya. Berganti-ganti menjadi laki-laki, menjadi perempuan. Ketika dia berganti pagi, siang namanya, sore, tengah malam. Demikianlah berganti-ganti dia.

Jika di pagi hari Bhatara Iswara beliau laki-laki, Bhatara Brahma menjadi Dewi Gayatri, Bhatara Wisnu menjadi

Dewi Gayatri. Jika siang hari namanya Bhatara Brahma laki-laki,

Memahami konsep bhuana agung dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng tercermin dari kutipan lontar di atas, dijelaskan mengenai unsur yang terdapat dalam bhuana agung adalah matahari, bulan, dan bintang. Dijelaskan pula unsur lain adalah pertiwi dan Akasa, yang mana unsur tersebut adalah bagian dari Panca Mahabhuta. Dalam beberapa keterangan kerap ditemukan uraian bahwa Panca Mahabhuta merupakan penyusun dari alam semesta atau bhuana agung, lima unsur tersebut sejati adalah; 1). Tanah, 2). Air, 3). Api, 4). Udara, 5). Ether (Donder, 2007:115). Kelima unsur tersebut yang membentuk alam semesta dengan berbagai teori yang melandasinya.

Pikiran, budi, dan ego adalah tiga unsur yang termasuk dalam Asta Prakerti atau delapan kelompok unsur yang disetarakan dengan unsur tanah, air, api, udara, dan ether. Kedelapan unsur ini merupakan cikal bakal unsur yang secara bersama-sama membangun alam semesta atau bhuana agung. Dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng konsep bhuana agung hanya menjelasakan unsur pertiwi/ tanah, dan Akasa/ udara. Meskipun hanya di jelaskan dua unsur hal tersebut merupakan bagian dari Panca Mahabhuta yang merupakan unsur pembentuk bhuana agung. (Made, 2020)

Sistematika terbentuknya alam semesta atau bhuana agung juga dijelaskan dalam samkya darsana. Samkya darsana merupakan filsafat yang percaya akan adanya Purusa dan Prakerti. Purusa merupakan kesadaran abadi dan tidak terikat/ asanga, purusa tidak berawal/anadi dan tidak berakhir/Ananta (Maswinara, 2006:156). Purusa merupakan unsur bersifat kejiwaan sedangkan prakerti

(7)

Page 80 merupakan unsur yang bersifat

kebendaan atau material (Gunawijaya, Konsep Teologi Hindu Dalam Geguritan Gunatama (Tattwa, Susila, dan Acara), 2020). Dalam proses penciptaan prakerti berevolusi menjadi pancatanmatra merupakan lima benih yang tidak berukuran, setelah mengalami evolusi yang panjang menjadi Pancamahabhuta yakni lima unsur pembentuk alam semesta yang dijelaskan pula dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng. Kelima unsur materi kemudian membentuk anggota alam semesta atau bhuana agung seperti: Matahari, Bumi, Bulan, Bintang, Planet, dan lain sebagainya. (Gata, 2020) 3.3 Teologi Bhuana Alit

Bhuana Alit adalah dunia kecil yang unsur-unsurnya sama dengan bhuana agung. bhuana alit sama dengan diri manusia. bhuana alit disebut juga dengan Mikrokosmos. Unsur-unsur bhuana alit pada diri manusia terdiri atas unsur Purusa menjadi Jiwatman, sedangkan unsur Prakerti menjadi bahan manusia, baik itu badan halus atau suksma sarira maupun badan kasar atau stula sarira. Antara bhuana agung dan bhuana alit merupakan sama akan tetapi dalam ruang yang berbeda. Dalam bhuana agung terdapat dewa begitu juga dalam bhuana alit (Putra, Tari Barong: Pergulatan Sakral dan Profan (Tinjauan Teologis, Estetis, dan Etis), 2020).

Bhuana Alit atau mikrokosmos merupakan diri manusia, dimana manusia merupakan pengejawantahan Tuhan sehingga manusia juga dikatakan sebagai citra atau gambaran mini dari Tuhan. Karena manusia merupakan gambaran Tuhan, maka manusia memiliki tugas khusus di dunia, yaitu manajemen, mengelola dan melaporkan hasil kepada Tuhan. Hal ini juga melahirkan bentuk upacara

persembahan. Manusia dapat mewujudkan Tuhan melalui simbol-simbol-Nya. Hanya manusia yang mampu mengekspresikan diri untuk mewujudkan rasa Bhakti kepada Tuhan. Manusia mendapatkan anugrah kemampuan untuk membuat catatan-catatan atas pedoman yang diberikan Tuhan untuk melakukan pemujaan, hal tersebut merupakan kelebihan manusia dibandingkan dengan mahluk lainnya (Donder, 2007:211).

Proses penciptaan alam semesta melewati beberapa siklus di antaranya setelah terciptanya alam semesta Tuhan mulai berpikir untuk menciptakan penghuni alam yang memiliki kesempurnaan seperti-Nya. Tuhan berpikir bahwa mahluk yang akan memelihara dunia ini adalah mahluk yang memiliki kecerdasan agar apa yang sudah ada tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Selanjutnya Tuhan berpikir dan melakukan pemusatan pikiran-Nya dan berkata dalam pikiran-Nya: Aku akan menjadikan diri-Ku. Maka muncullah manusia pertama yang disebut Sang Manu (Donder, 2007;253).

Melalui yajna tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya, dengan yajna juga sudah sepantasnya umat manusia untuk menjalankan kehidupan di dunia, dimana manusia telah dikaruniai kelebihan oleh Tuhan dari mahluk ciptaan-Nya lain lainnya, kelebihan tersebut adalah pikiran. Manusia di karunia pikiran oleh tuhan untuk dapat di manfaatkan menjaga dan merencanakan kehidupan di dunia. Kekuatan pikiran dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng dijelaskan sebagai berikut:

asepi tengah latri,. Aywa biapara reh angranasika 4,sanak.

(8)

Page 81 Nihan praya Siwatiga, mantrakena ring

ati. Ma. Ong Ung aikasamara laywaa Ung. Dén tutug ring ampru, palania sakaluwiring wigna bancana ring sarira purna ilang denia.

Nian pangesengan pangleburan ipian ala, ngalekas wahu matangi. Yan angipi amangan sega muah iwak. Sa. Sega sakepel pangan. Yaning lianan, sa. Tampinan pangan. Mantrakena, ma. Ong ang sira sang Hyang Brahma brajanala, sira sang Hyang mrajapati, sira sang Hyang kala Brahma, sira sang Hyang asta, sira sang Hyang tuataning Hyang angesenga ipen ala, angeseng papaklesa, gna, sarwa lara, geleh-gelehing sarira, tuhu ala, saprati ala, kang sarwa sastru si durbala, si durbali, si durtaya.

Malih tatulak ipian ala, lekasakena den prayatna. Ma. Ong tatulakira nini/kliha batu rajapati, anulakang sandi-sandi, ala-ala, marga kapanca sapa, panca Bayu, pancadewa, pancadewi, pancabuta, sakwehing pancabuta tuju teluh teranjana katulakang denira buta rajapati, tan tumamah ring awak sariraningulun, teka pugpug purna geseng, punah 3.

Iki sanak manusa panua, iki angraksa sanak manusa kabeh. Nini Siwagotra, nga. I Meme; kaki Siwagotra, nga. I Bapa, amarga ring tungtung irung. Palinggihanira ring tungtungin soca, dununganira ring sabda anrus ring kundarasia, ika kawruhakena. Yening manik aji, manik luih, ika ngaran sariranku angraksa sanak manusa kabeh, anta ring arep, preta ring bawu tengen, kala ring bawu kiwa, dengen ring uri, ika prasanakta 4.

Yan sira lunga saparanta nadian ring prang, awehan caru sega sawiji dokena ring puser. Yan nora sega, rehnianguapati sarira.

Yan wus karasa bek Bayunta, wetakena sari-sari, aywa karasa; tatakena

talapan/tanganta kalih ping. (Lontar Budha Kecapi Cemeng, 8b)

Terjemahan:

sepi pada tengah malam,. Jangan bekerja saat memusatkan pikiran 4, sanak. Begini penggunaan Siwa Tiga, bermantralah di dalam hati. Mantra. Ong Ung aikasamara laywaa Ung. Kemudian lanjutkan ke empedu, akibatnya semua halangan bencana di badan benar-benar hilang olehnya. Begini pembakaran peleburan mimpi buruk, segera lakukan ketika baru bangun. Jika bermimpi memakan nasi dan daging. Sarana. Makan nasi satu kepal. Yang lain, sarana. makan Tampinan (sirih, pinang, kapur jadikan satu). Dimantrai, mantra, Ong ang sira sang Hyang Brahma brajanala, sira sang Hyang mrajapati, sira sang Hyang kala Brahma, sira sang Hyang asta, sira sang Hyang tuataning Hyang angesenga ipen ala, angeseng papaklesa, gna, sarwa lara, geleh-gelehing sarira, tuhu ala, saprati ala, kang sarwa sastru si durbala, si durbali, si durtaya.

Lagi penolak mimpi buruk, segerakanlah dan juga waspada. Mantra. Ong tatulakira nini/kliha batu rajapati, anulakang sandi-sandi, ala-ala, marga kapanca sapa, panca Bayu, pancadewa, pancadewi, pancabuta, sakwehing pancabuta tuju teluh teranjana katulakang denira buta rajapati, tan tumamah ring awak sariraningulun, teka pugpug purna geseng, punah 3. Ini saudara manusia semua, ini yang melindungi saudara manusia semua. Nini Siwagotra, namanya. Ibu; Kaki Siwagotra, namanya. Bapak, berjalan ke pangkal hidung. Kendaraannya di pangkal mata, rumahnya pada suara hingga ke kundarasia, ketahuilah itu. Adapula manik aji, manik luih, itu nama badanku melindungi semua saudara manusia, anta di depan, preta di bahu

(9)

Page 82 kanan, kala di bahu kiri, dengen di

belakang, itulah saudaramu 4. Jika kamu pergi ke dalam peperangan, berikan caru nasi satu biji letakkan di puser (Windya, 2020). Jika tidak ada nasi, pikiranlah digunakan untuk menghidupkan badan.

Jika sudah terasa penuh nafasnya, dikarenakan sari-sari, janganlah dirasakan; tengadahkan kedua tangan sebanyak

Dari kutipan lontar di atas dapat disimak bahwa sebelum pergi berperang, hendaknya melaksanakan ritual berupa caru nasi satu biji yang diletakkan di pusar. Apabila hal tersebut tidak mungkin untuk dilaksanakan maka pikiran yang dipergunakan untuk menghidupkan badan sehingga memiliki kekuatan yang berlimpah. Pikiran berperan dalam memberikan kemampuan yang tak terbatas di luar kebiasaan. Melalui pikiran yang merupakan anugrah Tuhan manusia dapat menciptakan segala bentuk benda yang dapat berguna bagi kehidupan. Kekuatan pikiran dapat menciptakan dosa atau memupuk dosa lagi, sesungguhnya pikiran yang bertanggungjawab atas kelahiran badan manusia seperti mengirimkannya ke Bumi. Pikiran itu sendirilah yang menyebabkan keterikan atau kebebasan (Kasturi, 2008;3).

Melalui pikiran manusia dapat menyembuhkan diri sendiri dengan melakukan pemusatan pikiran, sesuai dengan kutipan lontar di atas menjelaskan bahwa manusia memusatkan pikiran kepada catur sanak yang merupakan sudara metafisik manusia yang menurut metologinya ikut terlahir ke dunia dengan perwujudan yang berbeda dan memiliki nama; 1). Anggapati, yang menghuni tubuh manusia, 2). Mrajapati, yang berada dalam alam khusnya di perempatan agung dan setra, 3). Banaspati,

menghuni sungai, atau batu besar, dan 4). Banaspatiraja, menghuni pohon besar seperti kepuh, beringin dan berbagai pohon yang dianggap angker. Semua saudara metafisik manusia tersebut menjadi sumber kekuatan metafisik bagi manusia, dengan memusatkan pikiran kepada catur sanak, kemudian memusatkan pikiran kepada Siwa tiga yang diterukan kepada organ hati, dilanjutkan ke dalam empedu. Hal tersebut akan menghilangkan segala bentuk racun dalam tubuh manusia sehingga terhidar dari serangan penyakit. Selain itu dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng menjelasakn pula mengenai keberadaan unsur Panca Mahabhuta dalam manusia. Pengetahuan akan unsur Panca Mahabhuta dalam bhuana agung menjadi lima unsur yaitu ;Tanah, Air, Api, Udara, dan Ether, begitu juga dalam diri manusia unsur Panca Mahabhuta bahan pembentuk tubuh meliputi: 1). pertiwi menjadi tulang, dagin. 2). Apah menjadi darah, air, dan mata. 3). Teja menjadi panas badan. 4). Bayu menjadi nafas. 5). Akasa menjadi rongga data dan mulut.

IV. SIMPULAN

Bhuana agung dan bhuana alit sebagai konsep alam besar dan alam kecil dalam keyakinan agama Hindu, apapun yang ada di alam besar pasti terdapat di alam kecil yakni alam semesta sebagai alam besar dan manusia sebagai alam kecilnya. Konsep teologi hindu dalam Lontar Budha Kecapi Cemeng tertuang dalam bentuk pengobatan, setiap proses pengobatan yang dilakukan sesuai isi Lontar Budha Kecapi Cemeng selalu melibatkan aspek ketuhanan dalam prosesnya. Unsur panca maha bhuta sebagai unsur pembentuk diri manusia juga sekaligus pembentuk alam semesta merupakan

(10)

Page 83 inti dari pengobatan yang tertuang

dalam lontar terebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, P. M. R., & Mahardika, G. (2020). Pandangan Filsafat Perennial Terhadap Krisis Spritual Manusia Modern. Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, 3(1).

Dewi, N. M. E. K. (2020). Konsep Ketuhanan dalam Teks Tattwa Jnana. ŚRUTI: Jurnal Agama

Hindu, 1(1), 11-19.

Donder, I ketut. 2006. Brahmavidya Teologi Kasih Semesta. Surabaya : Paramita.

Gunawijaya, I. W. T. (2020). Konsep Teologi Hindu Dalam Geguritan Gunatama (Tattwa, Susila, dan Acara). Jñānasiddhânta: Jurnal

Teologi Hindu, 1(2).

Gunawijaya, I. W. T. (2019). Kelepasan dalam Pandangan Siwa Tattwa Purana. Jñānasiddhânta: Jurnal

Teologi Hindu, 1(1).

Gata, I. W. (2020). Filosofis Sampradaya Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Hindu di Bali (Studi Kasus di Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng). Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, 2(1).

Marselinawati, P. S., & Suparta, I. G. A. (2020). Samkhya Darsana dalam Wrspati Tattwa. ŚRUTI: Jurnal Agama Hindu, 1(1), 58-67. Made, Y. A. D. N. (2020). Karmaphala

Tattwa dalam Matsya Purana. ŚRUTI: Jurnal Agama Hindu, 1(1), 68-80.

Nala, Ngurah, 2006.Aksara Bali Dalam Usadha, Surabaya; Paramitha.

Putra, I. W. S. (2020). Tari Barong: Pergulatan Sakral dan Profan (Tinjauan Teologis, Estetis, dan

Etis). Jñānasiddhânta: Jurnal

Teologi Hindu, 2(1), 81-90.Sukantra, I Made. 1992. Kamus Bali-Indonesia: Bidang Istilah Pengobatan Tradisional Bali. Denpasar: Upada Sastra. Sumaryono, E. 1993. Hermeneutik

Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta:

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Dunia. Pustaka Jaya.

Titib, I Made. 2001. Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita. Wiana, I Ketut. 1995. Yajna dan Bhakti

dari sudut Pandangan Hindu. Surabaya: Paramita.

Ngarsa, I Ketut Mangku. 1988. Lontar Budhakecapi Putih. Singaraja. Gedung Kirtya.

Lontar Sang Hyang Budha Kecapi

Windya, I. M. (2020). Ajaran Agama Hindu Dalam Gaguritan Segara

Rupek. Purwadita: Jurnal

Agama dan Budaya, 4(2),

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa subyek mengalami permasalahan yang berkaitan dengan pikiran/pandangan yang irrasional terhadap diri sendiri dan orang lain, yaitu:

Konsep manusia ini tercermin pada rumusan tujuan pendidikan bahwa tujuan pendidikan itu manusia yang sempurna dengan cara melatih jiwa, akal, pikiran, perasaan dan

Mengajarkan bahwa kekristenan harus terlibat dalam aksi politik, bahkan tindakan kekerasan jikalau itu untuk menciptakan suatu masyarakat yang tidak berkelas, mengingat Yesus

Setiap hal yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan, menyenangkan hati diri sendiri, sesama manusia maupun mahluk lain, inilah yang pertama dan utama Kebenaran itu sama

Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswaa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang

Pemikiran Hassan Hanafi, h.. kemauan dan daya manusia sendiri dan tak turut campur dalam kemauan daya Tuhan. Oleh karena itu, perbuatan manusia adalah perbuatan manusia bukan

1. Manusia adalah makhluk sosial. Sifat sosial yang melekat dalam diri manusia berdasarkan pada rumusan kodrat itu sendiri. Manusia tak bisa memungkiri, tetapi hanya

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,