109
KAJIAN CAMPURAN PELARUT AKUADES-ASETON PADA
PEMBUATAN MEMBRAN SELULOSA PROPIONAT
Study of Solvent Mixture of Aqua destillata – Acetone in the Making of
Cellulose Propionate Membrane
Budi Kamulyan*, Uswatun Hasanah, dan Febrian Matulesi
Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas BrawijayaJl. Veteran, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia *Keperluan Korespondensi, email: [email protected]
Received: August 06, 2018 Accepted: August 29, 2018 Online Published: August 31, 2018 DOI : 10.20961/jkpk.v3i2.22740
ABSTRAK
Pada penelitian ini akan menguji kelarutan selulosa propionat pada berbagai variasi campuran akuades:aseton. Sebelumnya selulosa propionat didispersikan ke dalam campuran pelarut akuades-aseton. Variasi perbandingan volume akuades-aseton 4:1; 3:1; 2:1; 1:2; 1:3;dan 1:4. Campuran diaduk selama 48 jam dan disaring. Padatan kemudian dimasukkan dalam alat cetakan dengan teknik sintering pada suhu 100 selama 5-10 menit. Karakterisasi membran meliputi parameter kelarutan δmix, Densitas menggunakan piknometer dan perhitungan dimensi sampel, dan Indeks Swelling. Hasil perhitungan parameter kelarutan δmix campuran pelarut akuades-aseton (1:4) mendekati δ selulosa asetat (12.47). Perbedaan densitas membran menggunakan piknometer dan perhitungan secara dimensi mengindikasikan adanya rongga atau pori di dalam membran tersebut. Selisih harga densitas kedua perhitungan terjadi pada membran dengan campuran akuades:aseton (1:3). Sifat hidrofobisitas terbesar didapatkan pada perbandingan pelarut akuades:aseton (1:4) dengan Indeks Swelling terkecil (48,14%).
Kata Kunci: selulosa propionat, sintering, kelarutan
ABSTRACT
In this article we will discuss the solubility test of cellulose propionate on various ratio variations of aqua destillata–acetone. Previously cellulose propionate was dispersed into a solvent mixture of aqua destillata-acetone. Variation in volume ratio of aqua destillata–acetone was 4: 1; 3: 1; 2: 1; 1: 2; 1: 3, and 1: 4. The mixture is stirred for 48 h and filtered. The solid was then put into a mold with a sintering technique at a temperature of 100oC for 5-10 minutes. Membrane characterization includes solubility parameters (δmix), density using picno meter and calculation of sample dimensions, and swelling index. The results of the calculation of solubility parameters (δmix) solvent mixture of aqua destillata–acetone (1: 4) close to δ cellulose acetate (12.47). Differences in membrane density using picno meter and calculations in dimensions indicate the presence of cavities or pores in the membrane. Difference in density value of both calculations occurs in the membrane with a mixture of aqua destillata–acetone (1: 3). The highest hydrophobicity properties were obtained in the ratio of solvents of destillata–acetone (1: 4) with the smallest swelling index (48,14%).
PENDAHULUAN
Nata de coco merupakan selulosa bakterial yang dihasilkan oleh bakteri Acetobacter xylinum pada proses fermentasi air kelapa. Selulosa bakterial mempunyai beberapa keunggulan antara lain kemurnian tinggi, derajat kristalinitas tinggi, kerapatan antara 300 dan 900 kg/m3, kekuatan tarik tinggi, elastis dan terbiodegradasi [1]. Selulosa bakterial juga memiliki kekuatan tarik yang tinggi yaitu 200-300 Mpa dan modulus Young yang besar yaitu 15-35 Gpa. Modifikasi selulosa menjadi selulosa ester mengakibatkan hidrofilisitas material menjadi berkurang sehingga jika dimanfaat-kan sebagai bahan baku membran mencegah terjadinya akumulasi air dalam struktur polimer. Jika selulosa ester digunakan sebagai adsorben maka senyawa yang bersifat kurang polar akan lebih terserap [2]. Esterifikasi tersebut bertujuan untuk merubah sifat fisik dari selulosa nata agar didapat suatu material dengan sifat mekanik yang lebih tinggi dan sifat porositas tinggi.
Pada pembuatan selulosa asetat kebanyakan dipakai asetat anhidrit dengan katalis asam asetat. Penelitian sebelumnya menunjukan asetilasi selulosa menggunakan katalis Iodindan asam sitrat sebagai cross-link sellulossa dari pati menggunakan katalis NaH2PO2 [3,4]. Pembuatan selulosa ester propionat telah dilakukan oleh seorang peneliti asal Indonesia menggunakan katalis dibutil timah oksida dengan kondisi reaksi pada suhu 500C, 700C, 800C dan 90 0C dengan waktu 3 jam. Membran diperoleh dari produk selulosa ester dengan melarutkan pada campuran akuades aseton 1:1. Produk
ester propionate paling hidrofob diperoleh pada kondisi reaksi 700C [5]. Produk ester secara enzimatis selama 18 jam dilakukan menggunakan Lipase amobil [6]. Atas dasar produk selulosa ester yang telah diperoleh, maka dalam penelitian ini akan menguji kelarutan dengan variasi ratio campuran akuades: aseton. Adanya fenomena swelling pada selulosa propionate memungkinkan dapat dibentuk film tipis atau membran.
Pada tahun 1936, Joel H. Hildebrand [7] mengusulkan definisi sederhana "parameter kelarutan" yang akan memberikan deskripsi sistemik perilaku dapat campur pelarut. Parameter kelarutan δ ini, didefinisikan sebagai akar kuadrat dari densitas energi kohesif, panas penguapan dibagi dengan volume molar. Hansen mengusulkan pengembangan metode parameter Hildebrand untuk memper-kirakan kelayakan relatif dari sistem polar dan ikatan hidrogen. Dalam pendekatan Hansen parameter kelarutan Hildebrand dibagi menjadi tiga komponen: polar, dispersi, dan ikatan hidrogen; sehingga dinamakan parameter kelarutan 3D. Tiga komponen secara empiris disesuaikan untuk menentukan karakteristik dapat larut dari pelarut.
Parameter kelarutan δ merupakan hasil akar dari densitas energi kohesif, yang dirumuskan sebagai berikut [2] :
𝛿 = (
∆𝐸𝑉)
1/2 ………..(1)Untuk parameter kelarutan dari pelarut campuran (δmix) dihitung dengan rumus:
𝛿
𝑚𝑖𝑥=
𝑥1𝑉𝑥1𝛿1+𝑥2𝑉2𝛿21𝑉1+𝑥2𝑉2 ……..(2) Dimana :
x1dan x2 = fraksi mol komponen 1 dan 2 V1 dan V2 = volume molar komponen 1 dan 2 δ1dan δ2 = parameter kelarutan komponen 1 dan 2
Perkembangan parameter system kelarutan 3 dimensi didasarkan pada asumsi bahwa energy penguapan yakni energy kohesif Et yang mengikat cairan berasal dari sumbangan gaya disperse London Ed, gaya Polar Ep, dan gaya ikatan hydrogen Eh [8]:
Et = Ed + Ep + Eh ………..…(3) Persamaan ini dibagi dengan volume molar menjadi:
Et/V= Ed/V + Ep/V + Eh/V ………(4) atau
𝛿 = √(𝛿𝑑2+ 𝛿ℎ2+ 𝛿𝑝2) ………..(5)
Tabel 1. Parameter Hansena,b untuk pelarut pada 25 oC [8]
Liquid δd (cal/cm3)1/2 δp (cal/cm3)1/2 δh (cal/cm3)1/2 Acetic Acid Acetone Benzene 1-Butanol Chloroform Cyclohexane 1,4-Dioxane Dioctyl phthalate Ethyl acetate Ethylene Glycol Glycerol n-Hexane
Methyl Ethyl ketone Methanol Nitrobenzene Tetrahydrofuran Toluene Water m-Xylene 6.8 6.3 7.9 7.8 5.4 8.0 8.0 8.1 6.5 4.9 4.5 7.3 7.8 7.4 8.6 8.2 8.0 5.9 8.1 6.0 4.8 4.2 2.8 6.7 1.5 4.9 3.4 4.2 7.4 7.5 0.0 4.4 6.0 6.8 2.8 3.9 11.1 3.5 9.2 5.4 2.0 7.7 3.1 0.0 3.9 1.5 4.3 14.6 15.3 0.0 2.5 10.9 0.0 3.9 0.8 19.7 1.2
aSource: “Table of Solubility Parameters”, 3rd Ed., Chemicals and Plastics Research and Development Dept., Union Carbide Corporation, N.Y., 1975.
bSI value of parameter in MPa1/2 is obtained by multiplying the value in (cal/cm3)1/2by 2.045
Jarak suatu koordinat (d) pelarut i dari titik pusat kelarutan polimer bola j dinyatakan dengan rumus [8]:
𝑑 = [4(𝛿𝑑𝑖 − 𝛿𝑑𝑗)2+ (𝛿𝑝𝑖 − 𝛿𝑝𝑗)2+ (𝛿ℎ𝑖 − 𝛿ℎ𝑗)2]1/2(6)
Jika d< R, dimana R jari-jari polimer bola maka pelarut i melarutkan polimer j dengan sangat tinggi.
Tabel 2. Parameter Hansen dan Antaraksi jari-jari (R) Beberapa Polimer dan Resina,b [8]. Polymer δd (cal/cm3)1/2 δp (cal/cm3)1/2 δh (cal/cm3)1/2 R (cal/cm3)1/2 Acrylonitrile-buta-diene elastomer Cellulose acetate Epoxy resin Nitrocellulose Polyamide Polyisoprene PMMA Polystyrene Poly(vinyl acetate) Poly(vinyl chloride) SBR 9.1 9.1 10.0 7.5 8.5 8.1 9.1 10.4 10.2 8.9 8.6 4.3 6.2 5.9 7.2 -0.9 0.7 5.1 2.8 5.5 3.7 1.7 2.0 5.4 5.6 4.3 7.3 -0.4 3.7 2.1 4.7 4.0 1.3 4.7 3.7 6.2 5.6 4.7 4.7 4.2 6.2 6.7 1.7 3.2
aData from Hansen and Beerbower, 1971. bSI value of parameter in MPa1/2 is obtained by multiplying the value in (cal/cm3)1/2by 2.045
Swelling terjadi ketika polimer berikatan silang diletakkan dalam cairan yang merupakan pelarut dari polimer yang tidak berikatan silang sampai mencapai batas kesetimbangan antara pelarut dan polimer. Kesetimbangan tercapai ketika dua potensi yang bertindak secara berlawanan mempunyai nilai sama [9]. Derajat penggelembungan
(swelling) merupakan salah satu parameter
sifat fisik membran. Semakin rapat struktur dari film, menyebabkan proses difusi air ke dalam film lebih sulit. Uji Indeks swelling dilakukan dengan merendam film dalam air pada suhu ruang hingga tercapai kesetimbangan penyerapan air. Film kemudian diangkat dari air dan Indeks swelling dapat dihitung dengan persamaan [10]:
𝑖𝑛𝑑𝑒𝑘𝑠 𝑠𝑤𝑒𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 =𝐵𝐾−𝐵𝐴
𝐵𝐴 𝑥 100% ………...(7)
Dimana, :
BA = berat awal sampel
BK = berat kesetimbangan sampel (akhir)
Berdasarkan permasalahan yang ada pada artikel ini akan ditentukan komposisi campuran pelarut (akuades: aseton) yang sesuai pada selulosa propionat dan mengetahui dapatkah campuran selulosa propionat dengan komposisi pelarut yang diperoleh dibuat membran.
METODE PENELITIAN
1. Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nata Propionat
(Selulosa propionate), Aseton, Akuades.
2. Prosedur Kerja
a. Pelarutan dan Pembuatan Film Tipis Selulosa propionat dalam pelarut Akuades Aseton
Selulosa propionat sebanyak 0,5 g dimasukkan dalam Erlenmeyer 25 mL kemudian ditambahkan campuran pelarut akuades:aseton pada berbagai ratio (4:1,3:1,2:1, 1:2,1:3:1:4), diaduk dengan
magnetic stirrer selama 48 jam dan diamati
perubahan yang terjadi.. Jika terbentuk gel/ mengembang selanjutnya dilakukan pengepresan menggunakan hydraulic press pada suhu 100o C dengan waktu 5-10 menit sampai terbentuk film tipis. Film tipis yang terbentuk kemudian dikarakterisasi meliputi Indeks Swelling dan densitas membran secara dimensional dan piknometer.
b. Karakterisasi Film Tipis Selulosa Propionat
1) Penentuan indeks swelling
Dalam menentukan indeks swelling langkah pertama yaitu film tipis dibuat ukuran 1x1 cm kemudian ditimbang (BA) kemudian direndam dengan akuades selama 30 menit dalam cawan petri. Setelah 30 menit produk diangkat dikeringkan permukaannya dengan kertas saring untuk menghilangkan air yang terdapat pada permukaan, kemudian di-timbang massanya (Bk). Setelah didi-timbang pada 30 menit kemudian dimasukkan lagi pada cawan petri disk untuk 30 menit kedua dan seterusnya menit ke 210. Indeks swelling dapat dihitung dengan menggunakan per-samaan (7).
2) Penentuan berat jenis dengan pikno-meter
Piknometer (5mL) kosong ditimbang, piknometer diisi dengan akuades dan ditutup hingga tidak terdapat gelembung. Kemudian piknometer yang berisi akuades ditimbang. Data tersebut digunakan untuk kalibarasi volume piknometer dengan mengetahui berat jenis akuades pada 250C. Selanjutnya ke dalam piknometer yang telah berisi aqudes dimasukkan sampel nata propionat dan akuades sampai penuh dan ditimbang sebagai massa total. Hal yang perlu diperhatikan dalam uji berat jenis dengan menggunakan piknometer yaitu tidak boleh terdapat gelembung pada saat ditutup. Berat jenis suatu bahan dapat dihitung berdasar-kan persamaan: ρ akuades = 𝑚𝐵−𝑚𝐴 𝑉𝑝 ρ sampel = 𝑚𝐶 (𝑉𝑝−(𝜌𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑚𝐷−𝑚𝐸) Keterangan:
mA : massa piknometer kosong mB : massa akuades+piknometer mC : massa sampel
mD :massa total (massa piknometer +sampel +akuades)
mE : massa piknometer+sampel Vp : Volume piknometer
3) Penentuan berat jenis secara dimensional
Film tipis dibuat lingkaran dengan diameter sekitar 2 cm dan diukur ketebalan menggunakan mikromer pada 5 posisi. Kemudian bulatan film tipis tersebut ditimbang. Dengan menghitung volume film tipis hasil pengukuran tersebut maka dapat diperoleh berat jenis secara dimensional.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pembentukan Membran Selulosa propionat
Nata de coco sebagai sumber selulosa murni dapat disintesis menjadi selulosa ester dengan pereaksi asam karboksilat menggunakan katalis. Dalam penelitan ini hasil reaksi esterifikasi selulosa propionat berupa serbuk.
Membran selulosa propionat dibuat dari 0.5 g serbuk selulosa propionate dan campuran pelarut akuades aseton pada berbagai ratio (4:1,3:1,2:1, 1:2,1:3:1:4). Serbuk selulosa propionat di dalam campuran pelarut akan mengalami swelling setelah dilakukan pengadukan selama 48 jam. Berikutnya campuran disaring dan dimasukkan ke dalam cetakan untuk dilakukan tahap sintering dengan bantuan hydraulic press pada suhu 100 0C selama 5-10 menit. Membran atau film tipis yang terbentuk selanjutnya dilakukan uji kelarutan, indeks swelling, dan densitas membran.
2. Parameter kelarutan nata propionat dalam campuran akuades: aseton
Salah satu kriteria material agar dapat digunakan sebagai bahan baku membran adalah mudah dibentuk menjadi film tipis, melalui berbagai teknik pembuatan membran. Pada percobaan ini selulosa propionat diharapkan dapat dibuat membran melalui teknik sintering. Campuran pelarut yang digunakan adalah akuades dan aseton pada berbagai perbandingan. Parameter kelarutan δmix menggunakana persamaan (2) disajikan dalam Tabel 3. Polimer akan larut apabila harga δ sama dengan δmix pelarutnya.
Parameter kelarutan juga dihitung menurut persamaan Hansen untuk meng-hitung jarak d. Oleh karena parameter R selulosa propinat tidak diketahui maka sebagai analogi dipakai parameter R dari selulosa Asetat. Hasil perhitungan selulosa
asetat untuk parameter δ menggunakan persamaan (5) sedangkan parameter d menggunakan persamaan (6) disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 3. Parameter Kelarutan δmix Campuran Akuades Aseton
No Sampel Volume Akuades(mL) Volume Aseton (mL) δmix 1 Akuades : Aseton (4:1) 20 5 20.68 2 Akuades : Aseton (3:1) 15 5 20.00 3 Akuades : Aseton (2:1) 10 5 18.85 4 Akuades : Aseton (1:2) 5 10 14.29 5 Akuades : Aseton (1:3) 5 15 13.16 6 Akuades : Aseton (1:4) 5 20 12.47
Hasil perhitungan parameter δ untuk selulosa asetat 12.28 (kal/cm-3)1/2 dan δmix campuran pelarut yang mendekati pada komposisi akuades aseton (1:4).
Tabel 4 Perhitungan parameter kelarutan selulosa propionate dalam campuran akuades: aseton.
Campuran pelarut d(kal/cm-3)1/2 Akuades : Aseton (4:1) 13.65 Akuades : Aseton (3:1) 12.94 Akuades : Aseton (2:1) 11.71 Akuades : Aseton (1:2) 7.73 Akuades : Aseton (1:3) 6.92 Akuades : Aseton (1:4) 6.53
Harga R untuk selulosa asetat sebesar 3,7(kal/cm-3)1/2 terlihat pada campuran akuades aseton (1:4) yang paling mendekati sehingga pada pelarut ini selulosa propinat memiliki kelarutan paling besar.
Dari Tabel 3 dan Tabel 4 terlihat bahwa pada sampel selulosa propionate yang dilarutkan dalam campuran pelarut
akuades aseton makin meningkat ratio perbandingan aseton akuades maka para-meter kelarutan makin menurun. Hal ini menunjukkan makin dekat harga δ polimer dengan δ pelarutnya akan meningkat ke-larutan polimer tersebut.
3. Penentuan indeks swelling
Pada penelitian ini dilakukan penentuan sifat hidrofobisitas berdasarkan indeks swelling dengan perbandingan komposisi pelarut yang berbeda. Penentuan indeks swelling dilakukan dengan cara merendam specimen film tipis selulosa propionat dalam pelarut (akuades:aseton) dengan perbandingan komposisi pelarut yang berbeda pada waktu perendaman tertentu (30,60,90,120,150,180,210 menit). Semakin kecil nilai indeks swelling menunjukkan sifat hidrofobisitas semakin menonjol. Hasil penentuan indeks swelling terhadap komposisi pelarut dibuat kurva pada Gambar 1.
Gambar 1. Kurva Indeks Swelling dari sampel selulosa propionat Kurva yang diperoleh dianalisis untuk
memperoleh titik stasioner, yaitu titik belok dari masing-masing trendline. Titik stasioner adalah waktu kesetimbangan swelling bagi seluruh sampel.
Untuk mendapatkan waktu kese-timbangan maka dari kurva pada Gambar 1 dibuat persamaan polinomial orde 3, selanjutnya dengan menurunkan persamaan
polinomial sampai turunan kedua yang sama dengan nol sehingga diperoleh titik belok kurva. Titik belok menunjukkan waktu kese-timbangan dan indeks swelling diperoleh dengan memasukkan waktu kesetimbangan pada persamaan polinomial [11]. Waktu Kesetimbangan dan Indeks Swelling disajikan dalam Tabel 5.
Tabel 5. Penentuan Waktu Kesetimbangan dan Indeks Swelling
Sampel Polinomial Waktu setimbang
(menit) Derajat swelling (%) Akuades : Aseton (4:1) y = 5x10-5x3 - 0,022x2 + 2,7965x 146.66 126.21 Akuades : Aseton (3:1) y = 3x10-5x3 - 0,0118x2 + 1,8249x 128.88 103.39 Akuades : Aseton (2:1) y = 6x10-5 x3 – 0,0223x2 + 2,7908x 123.88 117.56 Akuades : Aseton (1:2) y = 7x10-5x3 - 0,0256x2 + 3,0801x 121.9 121.85 Akuades : Aseton (1:3) y = 5x10-5x3 - 0,0208x2 + 2,5503x 138.88 87.29 Akuades : Aseton (1:4) y = 5x10-5x3 - 0,0198x2 + 2,4556x 132 48.14
Kesetimbangan swelling paling cepat terjadi pada pelarut dengan perbandingan komposisi akuades : aseton (1:2) dan paling lama terjadi pada perbandingan komposisi akuades : aseton (4:1). Waktu kesetimbangan yang lebih kecil menunjukkan interaksinya
terhadap molekul air adalah lebih kuat, sehingga laju difusi air kedalam struktur rantai polimer lebih mudah. Hasil pada penelitian menunjukkan adanya pola tertentu yang menghubungkan perbandingan komposisi pelarut terhadap indeks swelling.
0 20 40 60 80 100 120 140 0 50 100 150 200 250 In d e ks Swe lli n g (% ) Waktu (Menit)
Series1 aseton:aquades (3:1) aseton:aquades (2:1)
Pengaruh perbandingan komposisi terhadap indeks swelling menunjukkan semakin banyak perbandingan aseton yang digunakan maka semakin kecil Indeks
Swelling. Makin kecil indeks swelling membran
makin bersifat hidrofobis (48.14%). Sifat hidrofobisitas paling kecil didapatkan pada perbandingan pelarut akuades : aseton (4:1) dengan indeks swelling paling besar 126,21 %.
4. Penentuan berat jenis Film Tipis Nata Propionat
Densitas dapat menjadi acuan pengaruh perbedaan kualitas membran yang terbentuk. Hasil penelitian densitas membran menggunakan piknometer dan perhitungan dimensional disajikan dalam Tabel 6.
Tabel 6. Densitas Membran metode Dimensi dan Piknometer Aqua-des Ase-ton densitas dimensi densitas pikno selisih densitas 1 2 0.4063 1.3091 0.9029 1 3 0.3295 1.3205 0.9911 1 4 0.5041 1.1696 0.6655 2 1 0.4646 1.1839 0.7193 3 1 0.4817 1.0841 0.6024 4 1 0.5470 1.0711 0.5241
Gambar 2. Kurva Densitas terhadap Perbandingan aseton air
Densitas merupakan suatu parameter yang dapat memberikan informasi ukuran pori atau jumlah pori, semakin tinggi densitas maka jumlah pori atau ukuran pori semakin edikit [5].
Perbedaan densitas membran meng-gunakan piknometer dan perhitungan secara dimensi mengindikasikan adanya rongga atau pori di dalam membran tersebut. Makin besar perbedaan makin besar pula adanya rongga dalam membran. Membran dengan campuran pelarut akuades:aseton (1:3) memberikan selisih harga densitas terbesar. Oleh karena itu selisih harga ini secara deskriptif dapat menunjukkan porositasnya. (Gambar 2).
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan, yakni: 1. Pada komposisi pelarut akuades:aseton
(1:4) dengan δmix =12, 47 mendekati parameter kelarutan selulosa propionate 12,28 menghasilkan membran yang bersifat hidrofobis (indeks swelling = 48.14%).
2. Membran selulosa propionat dapat dibuat dengan teknik sintering pada suhu 100 0C menggunakan campuran pelarut akuades:aseton (1:4).
DAFTAR RUJUKAN
[1] Krystynowics, “Biosynthesis of Bacterial Cellulose and its Potential Aplication in the Different Imdustries”, 2001, http//www.biotecnology.pl.com/science/ krystynomcz, htm, diakses tanggal 9 Agustus 2011. 0,0 0,3 0,6 0,9 1,2 1,5 0 1 2 3 4 5 D e ns it as (g /m L)
Perbandingan aseton terhadap air
Densitas dimensi Densitas Pikno Selisih densitas
[2] Maskhuroh, N. A., Pengaruh Jenis Asam pada Modifikasi Nata de Coco sebagai Bahan Baku Material Fungsional Berbasis Selulosa, Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Brawijaya, Malang, 2015.
[3] Li, Jing, Li-Ping Zang, Feng Peng, Jing Bian, Tong-Qi Yuan, Feng Xu dan Rung-cang Sun, “Microwave-assisted Solvent –Free Acetylation of Cellulose with Acetic Anhydride in the Presence of Iodin as a Catlyst”, Molecules, 14, pp 3551-3566;
doi:10.3390/molecules14093551, 2009. [4] Reddy, N. dan Yang, Yiqi, “Citric acid cross-linking of starch film”, Food Chemistry 118:3, pp. 702-711; doi:
10.1016/j.foodchem.2009.05.050, 2010.
[5] Trisnawati, A. D., Studi Pengaruh Temperatur pada Esterifikasi Selulosa Nata de Coco dengan Asam Propionat, Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetauhan Alam, Universitas Brawijaya Malang, 2016.
[6] Yulianti, R.P., Esterifikasi Bakterial Selulosa dengan Asam Propionat Menggunakan Lipase Amobil dari Mucor
miehei, Skripsi, Jurusan Kimiaa
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetauhan Alam, Universitas Brawijaya Malang, 2015.
[7] Belmares, M., Blanco,M., Goddard, W.A., Ross, R.B., Caldwell, G., Chou, S.H., Pham,J., Olofson, P.M., Thomas C., “Hildebrand and Hansen Solubility Parameters from Molecular Dynamics with Applications to Electronic Nose Polymer Sensors”, J Comput Chem 25: 1814–1826, 2004.
[8] Chanda, M., Introduction Polymer Science and Chemistry, CRC Press Taylor and Francis Group, Florida, 2006. [9] Rabek, J. F., Experimental Methods in Polymer Chemistry, John Willey & Sons, New York, 1980.
[10] Puspawininingtyas, Endar dan Damajanti, Neni, “Kajian Sifat Fisik Film Tipis Nata de Soya sebagai Membran Ultrafiltrasi”, Techno, ISSN 1410 – 8607, Vol. 12 : 01-07, 2011.
[11] Mortimer, R.G. Mathematics for Physical Chemistry, 3rd Edition, Elsevier Academic Press, UK, 2005.