• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH Perbedaan Hukum Konsumen Indonesia & Amerika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH Perbedaan Hukum Konsumen Indonesia & Amerika"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN MAKALAH HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

Dosen Pembimbing : Zainal Arifin Dosen Pembimbing : Zainal Arifin

Di

Disusususun on olele :: Ronggo

(2)

u'um (erlin)ungan 'onsumen u'um (erlin)ungan 'onsumen

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

A.

A. Latar Latar BelakangBelakang

Perlindungan konsumen merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis yang Perlindungan konsumen merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis yang sehat. Dalam

sehat. Dalam kegiakegiatan tan bisnis yang bisnis yang sehat terdapat keseimbangsehat terdapat keseimbangan an perlinperlindungdungan an hukum antarahukum antara kon

konsumsumen en dendengan gan proprodusdusen. en. TiTidak dak adaadanya nya perperlinlindundungan gan yanyang g seimbanseimbang g menmenyebyebabkabkanan konsumen pada posisi yang lemah. erugian!kerugian yang dialami oleh konsumen dapat konsumen pada posisi yang lemah. erugian!kerugian yang dialami oleh konsumen dapat tim

timbul bul sebsebagaagai i akiakibat bat dari dari adaadanynya a hubhubungungan an hukhukum um perper"an"an"ia"ian n antantara ara proprodusdusen en dendengangan konsumen# maupun akibat dari adanya perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh konsumen# maupun akibat dari adanya perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh  produsen.

 produsen.

Per"an"ian!per"an"ian yang dilakukan antara para pihak tidak selamanya dapat ber"alan Per"an"ian!per"an"ian yang dilakukan antara para pihak tidak selamanya dapat ber"alan mulus dalam arti masing!masing pihak puas# karena kadang!kadang pihak penerima tidak  mulus dalam arti masing!masing pihak puas# karena kadang!kadang pihak penerima tidak  menerima barang atau "asa sesuai dengan harapannya. $anprestasi salah satu pihak dalam menerima barang atau "asa sesuai dengan harapannya. $anprestasi salah satu pihak dalam  per"an"ian

 per"an"ian merupakan merupakan kelalaian kelalaian untuk untuk memenuhi memenuhi syarat syarat yang yang ter%antum ter%antum dalam dalam per"an"ian.per"an"ian. Disamping &anprestasi# kerugian dapat pula ter"adi di luar hubungan per"an"ian# yaitu "ika Disamping &anprestasi# kerugian dapat pula ter"adi di luar hubungan per"an"ian# yaitu "ika  perbuatan

 perbuatan melanggar melanggar hukum# hukum# yang yang dapat dapat berupa berupa adanya adanya %a%at %a%at pada pada barang barang atau atau "asa "asa yangyang mengakibatkan kerugian pada konsumen# baik itu karena rusaknya atau musnahnya barang mengakibatkan kerugian pada konsumen# baik itu karena rusaknya atau musnahnya barang itu sendiri# maupun kerusakan atau musnahnya barang akibat %a%at pada barang itu.

itu sendiri# maupun kerusakan atau musnahnya barang akibat %a%at pada barang itu. Huk

Hukum um perperlinlindundungan gan konkonsumsumen en de&de&asa asa ini ini menmendapdapat at %uk%ukup up perperhathatian ian karkarenaena menyangkut aturan!aturan guna mense"ahterakan masyarakat# bukan sa"a masyarakat selaku menyangkut aturan!aturan guna mense"ahterakan masyarakat# bukan sa"a masyarakat selaku konsumen sa"a yang mendapat perlindungan# namun pelaku usaha "uga mempunyai hak yang konsumen sa"a yang mendapat perlindungan# namun pelaku usaha "uga mempunyai hak yang sam

sama a untuntuk uk menmendapdapat at perperlinlindundungangan# # masmasing!maing!masinsing g ada ada hak hak dan dan ke&ke&a"iba"iban an PemPemerierintahntah  berperan

 berperan mangatur# mangatur# menga&asi# menga&asi# dan dan mengontrol# mengontrol# sehingga sehingga ter%ipta ter%ipta sistem sistem yang yang kondusi' kondusi'   berkaitan satu

 berkaitan satu dengan yang ladengan yang lain dengan in dengan demikian tu"uan demikian tu"uan menye"ahterakan masyarakat menye"ahterakan masyarakat se%arase%ara luas dapat ter%apai.

(3)

Di Indonesia# gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika (erikat. )LI yang se%ara populer dipandang sebagai perintis ad*okasi konsumen di Indonesia berdiri pada kurun &aktu itu# yakni ++ ,ei +-/. 0erakan di Indonesia ini termasuk %ukup responsi*e terhadap keadaan# bahkan mendahului 1esolusi De&an Ekonomi dan (osial PBB 2E34(435 No. 6+++ Tahun +-7 tentang Perlindungan onsumen.

Perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih# karena in*estasi asing telah men"adi bagian pembangunan ekonomi Indonesia# di mana ekonomi Indonesia "uga telah berkait dengan ekonomi dunia. Persaingan perdagangan internasional dapat memba&a implikasi negati*e bagi perlindungan konsumen.

Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor!impor dan penanaman modal. ini transaksi men"adi beraneka ragam dan rumit# seperti kontrak pembuatan barang# &aralaba# imbal beli# turnkey pro"e%t# alih teknologi# aliansi strategis internasional# akti*itas 'inansial# dan lain!lain.

B. 1U,U(AN ,A(ALAH

+. Perkembangan se"arah hukum konsumen Indonesia dan Amerika 6. Pengertian hukum konsumen dan Hukum Perlindungan onsumen /. Pengertian aspek produ%t liability 8

/. Lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat 8 9. Penyelesaian sengketa 8

 3. ,A(UD DAN TU:UAN

Adapun tu"uan dalam makalah ini adalah ;

+. Utuk mengetahui perkembangan se"arah hukum konsumen

6. Pengertian Hukum onsumen dan Hukum Perlindungan onsumen /. Pengertian aspek produ%t liability

9. Untuk mengetahui Lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat <. untuk mengetahui Penyelesaian sengketa

+. ,an'aat Teoritis

a. Dapat menambah ilmu pengetahuan dalam bidang hukum bisnis khususnya tentang  perlindungan konsumen.

 b. Dapat memberikan masukan dalam bidang hukum bisnis kepada masyarakat# pemerintah dan aparat penegak hukum tentang perlindungan konsumen.

(4)

Dapat di"adikan pedoman dan bahan ru"ukan bagi peneliti lain# masyarakat ataupun  pihak lainnya yang "uga membahas tentang perlindungan konsumen.

BAB II TIN:AUAN PU(TAA Tin"auan Pustaka

• onsumen

Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata %onsumer 2Inggris!Amerika5# atau %onsument=konsument 2Belanda5. Pengertian dari %onsumer atau %onsument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. (e%ara hara'iah arti kata %onsumer adalah 2la&an dari produsen5 setiap orang yang menggunakan barang+>+?.

Pengertian konsumen dalam 1an%angan Undang!Undang Perlindungan onsumen yang dia"ukan oleh )ayasan Lembaga onsumen Indonesia# yaitu6>6?

@ onsumen adalah pemakai barang atau "asa yang tersedia dalam masyarakat# bagi kepentingan diri sendiri atau keluarganya atau orang lain yang tidak untuk diperdagangkan kembali.

(edangkan konsumen menurut naskah 'inal 1an%angan Akademik Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen yang disusun oleh akultas Hukum Uni*ersitas Indonesia# konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan/>/?.

(ebagai akhir dari usaha pembentukan Undang!Undang Perlindungan onsumen# adalah dengan lahirnya UUP# yang di dalamnya dikemukakan pengertian konsumen# sebagai berikut;

1[1] Celina Tri Siwi Kristiyanti, SH, M.Hum,  Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm 22

2[2] Yayasan Lema!a K"nsumen, #erlin$un!an K"nsumen %n$"nesia, Suatu Suman!an #emikiran tentan! &an'an!an (n$an!)(n$an! #erlin$un!an K"nsumen, Jakarta* Yayasan lema!a K"nsumen, +9+, hlm 2.

3[3] #r"f. -r. hma$i Miru, SH, MH,  Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Indonesia,  #T. &a/a Grafin$" #ersa$a, Jakarta, 20++, hlm 20

(5)

@onsumen adalah setiap orang pemakai barang=atau "asa yang tersedia dalam masyarakat# baik bagi kepentingan diri sendiri# keluarga# orang lain# maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan9>9?.

• Produsen

Istilah produsen berasal dari bahasa Belanda yakni produ%ent# dalam bahasa inggris#  produ%er yang artinya adalah penghasil. Pengertian yang luas mengenai produsen terdapat dalam UUP# namun istilah produsen sebagai la&an dari istilah konsumen# melainkan pelaku usaha. Pengertian pelaku usaha dalam UUP adalah sebagai berikut;

@Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha# baik yang berbentuk   bdan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan

kegiatan dalam &ilayah hukum Negara 1epublik Indonesia# baik sendiri maupun bersama! sama melalui per"an"ian penyelenggaraan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi<><?.

(ementara Pasal + butir < memberikan batasan yang hampir tidak ada perbedaan  berarti dari pengertian yang dikandung UUP. Adapun pengertian tersebut dapat dilihat

seperti berikut;

@Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha# baik yang berbentuk   badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan

kegiatan dalam &ilayah hukum 1epublik Indonesia# baik sendiri maupun bersama!sama melalui per"an"ian# menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.

Pasal / ayat 265 Directive menyebutkan bah&a; siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan adalah produsen. etentuan ini senga"a di%antumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing 2yang pusat kegiatannya5 di luar lingkunganC>C?.

4[4] ((#K ". Tahun +999 1asal + ayat 2.

5[5] #asal + ayat  ((#K.

(6)

*A* III PEN+ELASAN

PEM*AHASAN

!,! Se-ara )an Per'embangan Hu'um Konsumen Ameri'a )an In)onesia

Perkembangan hukum konsumen di dunia bera&al dari adanya gerakan perlindungan konsumen pada abad ke!+-# terutama ditandai dengan mun%ulnya gerakan konsumen yang ter"adi di Amerika (erikat 2A(5. 0elombang pertama ter"adi pada tahun +7-+# yaitu ditandai dengan terbentuknya Liga onsumen di Ne& )ork dan yang pertama kali di dunia. Baru tahun +7-7# di tingkat nasional A( terbentuk Liga onsumen Nasional 2The National  Consumer’s League5. Ada banyak hambatan yang dihadapi oleh organisasi ini# meski demikian# pada tahun +-C lahirlah Undang!Undang tentang perlindungan konsumen# yaitu The Meat Inspection Act   dan The Food and Drugs  Act 2pada tahun +-/7# UU ini diamandemen men"adi The Food, Drug and Cosmetics Act karena adanya tragedi  Elixir  ul!anilamide yang mene&askan -/ konsumen di A( tahun +-/5.

Hukum konsumen berkembang lagi pada tahun +-+9# yang ditandai sebagai gelombang kedua dan terbentuk komisi yang bergerak dalam bidang perlindungan konsumen# yaitu  Federal Trade Comission 2T35. eberadaan program pendidikan konsumen mulai dirasakan  perlu sekali untuk menumbuhkan kesadaran kritis bagi para konsumen. ,aka pada dekade +-/!an mulai gen%ar dilakukan penulisan buku! buku tentang konsumen dan perlindungan konsumen# yang "uga dilengkapi dengan riset!riset yang mendukungnya.

0elombang ketiga ter"adi pada dekade +-C!an# yang melahirkan era hukum perlindungan konsumen dengan lahirnya suatu %abang hukum baru# yaitu hukum konsumen 2 consumers la"5. Hal ini ditandai dengan pidato Presiden A( ketika itu# :ohn . ennedy# di depan onggres A( pada tanggal +< ,aret +-C6 tentang @ A pecial Message !or the #rotection o!  Consumer Interest  atau yang lebih dikenal dengan istilah @Deklarasi Hak onsumen 2 Declaration o! Consumer $ight 5.

:ika diamati# se"arah gerakan perlindungan konsumen bermula dari kondisi di Amerika (erikat. Perlindungan hak!hak konsumen dapat ber"alan seiring dengan perkembangan demokrasi yang ter"adi dalam suatu negara. Negara demokrasi mengamanatkan bah&a hak! hak &arga negara# termasuk hak!hak konsumen harus dihormati. Ada posisi yang berimbang

(7)

antara produsen dan konsumen# karena keduanya mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum.

Beberapa negara mulai membentuk sema%am Undang!Undang perlindungan konsumen# yaitu sebagai berikut;

+. Amerika (erikat; The %ni!orm Trade #ractices and Consumer   #rotection Act  2UTP3P5 tahun +-C# yang kemudian diamandemen pada tahun +-C- dan +- %n!air Trade #ractices and Consumer #rotection &Lousiana' La"# tahun +-/.

6. :epang; The Consumer #rotection Fundamental Act  2tahun +-C75.

/. Inggris; The Consumer #rotection Act # tahun +-# yang diamandemen pada tahun +-+.

9. anada; The Consumer #rotection Act  dan The Consumer #rotection Amandment Act  2tahun +-+5.

<. (ingapura; The Consumer #rotection &Trade Description and  a!et( $e)uirement   Act'# tahun +-<.

C. inlandia; The Consumer #rotection Act  2tahun +-75.

. Irlandia; The Consumer In!ormation Act  2tahun +-75.

7. Australia; The Consumer A!!airs Act  2tahun +-75.

-. Thailand; The Consumer Act  2tahun +--5.

,asalah perlindungan konsumen di Indonesia baru mulai ter"adi pada dekade +-!an. Hal ini ditandai dengan berdirinya )ayasan Lembaga onsumen Indonesia 2)LI5 pada bulan ,ei +-/. etika itu gagasan perlindungan konsumen disampaikan se%ara luas kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan ad*okasi konsumen# seperti pendidikan# penelitian#  pengu"ian# pengaduan# dan publikasi media konsumen.

)LI berdiri ketika kondisi politik bangsa Indonesia saat itu masih dibayang!bayangi dengan kampanye penggunaan produk dalam negeri# namun seiring perkembangan &aktu# gerakan

(8)

 perlindungan konsumen dilakukan melalui koridor hukum yang resmi# yaitu bagaimana memberikan bantuan kepada masyarakat atau konsumen.

$aktu se"ak dekade +-7!an# gerakan atau per"uangan untuk me&u"udkan sebuah Undang! Undang tentang perlindungan konsumen dilakukan selama bertahun!tahun. ,asa 4rde Baru# Pemerintah dan De&an Per&akilan 1akyat 2DP15 tidak memiliki greget besar untuk  me&u"udkannya karena terbukti pengesahan 1an%angan Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen 21UUP5 selalu ditunda. Baru pada era re'ormasi# keinginan ter&u"udnya UU tentang Perlindungan onsumen bisa terpenuhi. Pada masa pemerintahan B: Habibie# tepatnya tanggal 6 April +---# 1UUP se%ara resmi disahkan sebagai UU tentang Perlindungan onsumen# dan dengan adanya UU tentang Perlindungan onsumen  "aminan atas perlindungan hak!hak konsumen di Indonesia diharapkan bisa terpenuhi dengan  baik. ,asalah perlindungan konsumen kemudian ditempatkan kedalam koridor suatu sistem

hukum perlindungan konsumen# yang merupakan bagian dari sistem hukum nasional.

Tanggal 6 April +--- Pemerintah Indonesia telah mensahkan dan mengundangkan Undang! Undang Nomor 7 Tahun +--- tentang Perlindungan onsumen. Undang!Undang Perlindungan onsumen ini diharapkan dapat mendidik masyarakat Indonesia untuk lebih menyadari akan segala hak!hak dan ke&a"iban!ke&a"ibannya yang dimiliki terhadap pelaku usaha. (ebagaimana tertera dalam konsiderans Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen# yang menyatakan bah&a untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen  perlu meningkatkan kesadaran# pengetahuan# kepedulian# kemampuan# dan kemandirian

konsumen untuk melindungi dirinya# serta menumbuh!kembangkan sikap pelaku usaha yang  bertanggung"a&ab.

Urusan perlindungan konsumen ternyata sangat beragam dan begitu pelik. onsumen tidak  hanya dihadapkan pada suatu keadaan untuk memilih yang terbaik bagi dirinya# melainkan  "uga pada keadaan tidak dapat memilih karena adanya praktek @monopoli oleh satu atau

lebih pelaku usaha atas kebutuhan utama=*ital konsumen dalam men"alani kehidupannya sehari!hari. Berbagai penguasaan atau monopoli atas kepentingan!kepentingan yang meliputi ha"at hidup orang banyak oleh Badan Usaha ,ilik Negara 2BU,N5 maupun Badan Usaha ,ilik Daerah 2BU,D5 sedikit banyak turut memperburuk penge"a&antahan hak!hak  konsumen dalam praktek.

(9)

onsumen seringkali dihadapkan pada persoalan ketidak!mengertian dirinya ataupun ketidak!"elasan akan peman'aatan# penggunaan maupun pemakaian barang dan=atau "asa yang disediakan oleh pelaku usaha# karena kurang atau terbatasnya in'ormasi yang disediakan. (elain itu# konsumen "uga seringkali dihadapkan pada *argaining position yang sangat tidak  seimbang 2posisi konsumen sangat lemah dibanding pelaku usaha5. Hal tersebut ter%ermin dalam per"an"ian baku yang sudah disiapkan se%ara sepihak oleh pelaku usaha dan konsumen harus menerima serta menandatanganinya tanpa bisa dita&ar!ta&ar lagi atau +Tae it or leave it-.

Berdasarkan kondisi tersebut# upaya pemberdayaan konsumen men"adi sangat penting# namun pemberdayaan konsumen akan sulit ter&u"ud "ika kita mengharapkan kesadaran  pelaku usaha terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan pelaku usaha dalam men"alankan usahanya menggunakan prinsip ekonomi# yaitu mendapatkan keuntungan sebesar!besarnya dengan modal seke%il!ke%ilnya. Artinya# dengan pemikiran umum seperti itu sangat mingkin konsumen akan dirugikan# baik se%ara langsung maupun tidak langsung. Adanya UU tentang Perlindungan onsumen yang mengatur perlindungan konsumen tidak dimaksudkan untuk  mematikan usaha para pelaku usaha. UU tentang Perlindungan onsumen "ustru bisa mendorong iklim usaha yang sehat serta mendorong lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan yang ada dengan menyediakan barang="asa yang berkualitas. Pen"elasan umum UU tentang Perlindungan onsumen menyebutkan bah&a dalam  pelaksanaannya akan tetap memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha ke%il dan

menengah.

!,# Perbe)aan Hu'um Konsumen )an Hu'um Perlin)ungan Konsumen

Umumnya# sampai sekarang ini orang bertumpu pada kata segenap bangsa sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia 2asa  persatuan bangsa5. Tetapi disamping itu# dari kata melindungi terkandung pula asas  perlindungan 2hukum5 pada segenap bangsa tanpa ada ke%ualinya# ini artinya baik 

laki!laki maupun perempuan# orang kaya atau orang miskin# orang kota atau orang desa# orang asli atau keturunan# dan pengusaha atu konsumen. Landasan hukum lainnya adalah yang termuat dalam pasal 6 Ayat 265 Undang!Undang Dasar +-9< yang menyebutkan bah&a tiap &arga negara berhak atas penghidupan yang layak  bagi kemanusiaan.

(10)

Dalam berbagai literatur ditemukan sekurang!kurangnya dua istilah mengenai hukum yang mempersoalkan konsumen# yaitu hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen. 4leh AF. Nasution men"elaskan bah&a kedua istilah itu berbeda# yaitu  bah&a hukum perlindungan konsumen adalah bagian dari hukum konsumen. ,enurut  beliau hukum konsumen adalah ;

keseluruhan asas!asas dan kaidah!kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan atau "asa konsumen# di dalam pergaulan hidup.

Dan sedangkan hukum perlindungan konsumen adalah ;

keseluruhan asas!asas dan kaidah!kaidah hukum yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan masalahnya dengan para penyedia barang dan atau  "asa konsumen.

Pada dasarnya# baik hukum konsumen maupun hukum perlindungan konsumen membi%arakanhal yang sama# yaitu kepentingan hukum konsumen# dengan demikian# hukum perlindungan konsumen atau hukum konsumen dapat diartikan sebagai seluruh peraturan hukum yang mengatur hak!hak dan ke&a"iban!ke&a"iban konsumen dan produsen yang timbul dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam perlindungan konsumen terdapat atau terkandung se"umlah asas# perlindungan konsumen ini diselenggarakan sebagai usaha bersama seluruh pihak yang terkait# masyarakat# pelaku usaha# dan pemerintah yang bertumpu pada lima asas seperti yang terdapat dalam pasal 6 Undang!Undang Perlindungan onsumen Nomor 7 Tahun +--- yaitu ;

+. asas man'aat# dimaksud untuk mengamanatkan bah&a segala upaya dalam  penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan man'aat sebesar!  besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha se%ara keseluruhan. 6. Asas keadilan# dimaksudkan agar partisipasi seluruh masyarakat dapat di&u"udkan se%ara maksimal dan memberikan kesempatan pada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan ke&a"iban!ke&a"ibannya se%ara adil. /. Asas keseimbangan# dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen# pelaku usaha# dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual.

(11)

9. Asas keamanan dan keselamatan konsumen# dimaksudkan untuk memberikan  "aminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan#  pemakaian# dan peman'aatan barang dan=atau "asa yang digunakan. <. Asas kepastian hukum# dimaksudkan agar baik pelaku maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen# serta negara men"amin kepastian hukum.

!," Penger.ian Pro)u/. Liabili.0

 Istilah dan de'enisi product lia*ilit( di kalangan para pakar dan se"umlah peraturan diartikan se%ara berbeda!beda. #roduct lia*ilit( sering diistilahkan dengan tanggung gugat  produk# tanggung "a&ab produk# atau tanggung "a&ab produsen. ,engenai pengertiannya#  para pakar memberikan penekanan dan lingkup yang ber*ariasi sebagaimana dapat dilihat

dalam berbagai de'inisi di ba&ah ini.

de'inisi product lia*ilit( sebagai berikut; tanggung "a&ab pemilik pabrik untuk   barang!barang yang dihasilkannya# misalnya yang berhubungan dengan kesehatan pembeli#  pemakai 2konsumen5 atau keamanan produk.

 sebagai tanggung "a&ab produsen untuk produk yang diba&anya ke dalam peradaran# yang menimbulkan kerugian karena %a%at yang melekat pada produk tersebut. Dalam  produk sebagai barang# baik yang bergerak maupun tidak bergerak >?.

 memperluas %akupan dari yang disebut dengan pengertiannya sebagai berikut;

@produ%t liability adalah tanggung "a&ab se%ara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk 2produ%er# manu'a%ture5 atau dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari orang atau badan yang men"ual atau mendistribusikan  produk tersebut.

Tu"uan utama dari dunia hukum memperkenalkan product lia*ilit( adalah ;

a. ,emberikan perlindungan kepada konsumen

 b. Agar terdapat pembebanan risiko yang adil antara produsen dan konsumen.

7[7] .H.T. Siahaan, Hukum Konsumen Perlindungan Konsumen dan Tanggung Jawab Produk, #anta &ei, Jakarta, 2003, hlm +00

(12)

¬ Dari e&a"iban kepada Tanggung"a&ab

a. e&a"iban karena UU

Berbi%ara tentang tanggung "a&ab pelaku usaha# maka terlabih dahulu harus dibi%arakan mengenai ke&a"ibannya. Dari ke&a"iban 2dut(, o*ligation5 akan lahir tanggung  "a&ab. Tanggung "a&ab timbul karena seseorang atau suatu pihak mempunyai suatu

ke&a"iban# termasuk ke&a"iban karena undang!undang dan hukum7>7?.

Dalam kaitan UUP# produsen berke&a"iban untuk beritikad baik dalam akti*itas  produksinya 2Pasal  butir a UUP5. 1umusnya mengandung suatu keharusan atau ke&a"iban yang tidak boleh tidak harus dilaksanakan. Dari sudut hukum perikatan# terdapat suatu unsur ke&a"iban yang harus dipenuhi untuk melaksanakan suatu prestasi. Pasal +6/9 UHPerdata menetukan# tiap!tiap perikatan bertu"uan;

+. ,emberikan sesuatu# 6. Berbuat sesuatu#

/. Tidak berbuat sesuatu.

Prestasi dalam tiga bentuk di atas# merupakan ke&a"iban yang harus dilaksanakan  penyandang per"an"ian. e&a"iban melaksanakan ma%am!ma%am prestasi di atas# tidak hanya karena adanya perikatan bagi pihak!pihak yang melakukan per"an"ian. Lebih dari itu#  perikatan "uga lahir dari undang!undang atau hukum 2Pasal +6// UHPerdata5. (etiap orang yang mengalami kerugian# berhak menga"ukan tuntutan kompensasi=ganti rugi kepada pihak  yang melakukan perbuatan itu. ompensasi tersebut# menurut pasal +- ayat 6 meliputi;

! Pengembalian se"umlah uang#

! Penggantian barang atau "asa yang se"enis atau yang setara# ! Pera&atan kesehatan#

! Pemberina santunan sesuai ketentuan perundang!undangan.  b. e&a"iban Produk 

,eru"uk UUP# "ika suatu produk merugikan konsumen# maka produsen bertanggung  "a&ab untuk mengganti kerugian yang diderita konsumen. e&a"iban itu tetap melekat pada  produsen meskipun antara pelaku dan korban tidak terdapat perseru"uan terlebih dahulu.

Pen"ual berke&a"iban menenggung penderitaan korban berdasarkan perbuatan mela&an hukum# sebagaimana ditentukan di dalam Pasal +/C< UHPerdata. e&a"iban lebih merupakan rumusan abstarak yang melahirkan tanggung "a&ab sementara tanggung "a&ab

8[8] #r"f. -r. hma$i Miru SH, MH.,  Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Indonesia, #T. &a/a Grafin$" #ersa$a, Jakrta, 20++4 hal 55

(13)

merupakan sikap konkret. Harus diingat pula# tidak selamanya rumusan tentang ke&a"iban dan tanggung "a&ab se%ara eksplisit menggunakan kata ke&a"iban ataupun tanggung "a&ab.

¬ e&a"iban mengenai Persyaratan Produk 

Dalam UUP aturan mengenai hak dan ke&a"iban konsumen dan hak produsen selaku pelaku usaha dirumuskan dalam Bab III# butir!butir ke&a"iban pelaku usaha yang ter%antum dalam Pasal  di atas mengatur ke&a"iban produk dari pelaku usaha. (ebelum UUP berlaku# sudah dibuat beberapa ketentuan mengenai ke&a"iban pelaku usaha untuk  mentaati persyaratan atas produk!produk 2barang dan "asa5 yang dibuatnya. Hal itu bisa kita lihat dalam UU No 6 Tahun +-CC tentang Hygiene# UU No 6/ Tahun +--6 tentang esehatan# UU No  Tahun +--C tentang Pangan atau dalam PP No. C- Tahun +--- tentang Label dan Iklan Pangan.

II, Lembaga Perlin)ungan Konsumen S1a)a0a Mas0ara'a.

Pen"elasan tentang syarat lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat 2LP(,5 tersebut# sesungguhnya telah dapat diketaui dari pengertian yang tersebut pada  pasal - UUP.

$alaupun lembaga perlindungan s&adaya masyarakat dikatakan sebagai lembaga non  pemerintah# tetapi bukanlah lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat yang selama ini diketahui Gindependen# mengingat LP(, yang dimaksud dalam undang   undang ini harus dida'tarkan dan mendapat pengakuan dari pemerintah# dengan tugas yang masih harus di atur dengan peraturan pemerintah->-?.

(etelah diundangkan peraturan pemerintah No <- tahun 6+ tentang lembaga  perlindungan konsumen s&adaya masyarakat# maka dalam# pasal 6 menentukan bah&a ;

+. Pemerintah mengikuti LP(, yang memenuhi syarat# yakni terda'tar pada pemerintah kabupaten=kota dan bergerak di bidang perklindungan konsumen sebagaimana ter%antum dalam anggaran dasarnya. Penda'taran tersebut hanya dimaksudkan sebagai pen%atatan dan  bukan merupakan periFinan. Demikian pula# bagi LP(, yang membuka kantor per&akilan

atau %abang tersebut kepada pemerintah kabupaten= kota setempat.

9[9] Santoso, undang-undang perlindungan konsumen masih an!ak olongn!a"", media indonesia, tanggal 7 #uli 1999 hal 68

(14)

6. LP(, sebagaimana dimaksud dalam ayat 2+5 dapat melakukan kegiatan perlindungan konsumen di seluruh indonesia.

/. Tata %ara penda'taran LP(, sebagaimana dimaksud dalam ayat 2+5 huru' a diatur lebih lan"ut dalam keputusan menteri.

Demikian pula dalam pen"elasan umum peraturan pemerintah No <- tahun 6+# yang menentukan bah&a untuk men"amin ketertiban# kepastian# dan keterbukaan dalam  penyelengaraan perlindungan konsumen# maka LP(, dipandang perlu untuk melakukan  penda'taran pada pemerintah kabupaten= kota

Pasal + peraturan pemerintah no <- tahun 6+# menentukan bah&a ; +. Pemerintah membatalkan penda'taran LP(,. Apabila LP(, tersebut ; a. Tidak lagi men"alankan kegiatan perlindungan konsumen

 b. Terbukti melakukan kegiatan pelangaran ketentuan undang undang No 7 tahun +---tentang  perlindungan konsumen dan peraturan pelaksanaanya.

6. etentuan mengenai tata %ara pembatalan penda'taran sebagaimana dimaksud dalam ayat 2+5 diatur lebih lan"ut dalam keputusan mentri+>+?.

Tugas lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat sebagaimana ditentukan dalam pasal 99 ayat 2/5 huru' a UUP yaitu# menyebar in'ormasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan ke&a"iban dan kehati!hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan "asa. (edangkan dalam pasal 9 peraturan pemerintah No <- tahun 6+. Adapun in'ormasi yang dimaksud misalnya hal  hal yang berkaitan dengan  pengetahuan mengenai proses prodksi# standar# label# dan lain!lain. (edangkan penyebaran in'ormasi yang dilakukan LP(, dapat dapat dilaksanakan melalui kegiatan ; pendidikan#  pelatihan# penyuluhan in'ormasi pelayanan# dan lain!lain.

Di indonesia# gerakan perlindungan konsumen ditandai dengan berdirinya yayasan lembaga konsumen konsumen 2)LI5 pada tanggal ++ mei +-/. )LI ini didirikan dengan tu"uan unuk membantu konsumen indonesia agar tidak dirugikan dalam mengkonsumsi  barang dan "asa.++>++?

1$[1$] -r. hma$i Miru, SH, MH, Hukumperlindungan Konsumen , &a/awali #ers, Jakarta, 200, hlm 2+6

11[11] %& 'antri (& dan sulastri, gerakan organisasi konsumen, seri panduan )*+,  #akarta, 1995,hal 9-1$

(15)

ehadiran lembaga konsumen# terutama )LI# merupakan langkah ma"u dalam  perlindungan konsumen# karena dalam upaya men%apai tu"uan )LI melaksanakan berbagai

kegiatan# yang dilakukan melalui beberapa bidang yaitu; a. Bidang penelitian

 b. Bidang pendidikan

%. Bidang penerbitan# &arta konsumen dan perpustakaan

III, PEN2ELESAIAN SENGKE3A

,elalui ketentuan pasal 9< ayat 2+5 dapat diketahui bah&a untuk menyelesaikan sengketa konsumen# terdapat dua pilihan yaitu;

a. ,elalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha#

 b. ,elalui peradilan yang berada di pengadilan umum.

,en"adi persoalan dengan ketentuan pasal 9< ayat + tersebut di atas# adalah penun"ukan Glembaga yang bertugas menyelesaiakn sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. etentuan ini kurang "elas Glembaga penyelesaian sengketa mana yang dimaksud. Apabila yang dimaksud adalah khusus tertu"u pada badan penyelesaian sengketa konsumen yang diatur UUP# maka mengapa undang!undang tidak menun"uk langsung kepada badan ini.+6 >+6?

Agar ketentuan tersebut tidak membingungkan# maka sebaiknya disebut se%ara langsung  bah&a setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui badan  penyelesaian sengketa konsumen 2BP(5 atau melalui pengadilan dalam lingkungan  peradilan umum.

(ehubungan dengan eksistensi BA,UI tersebut# bah&a praktek pada PT. Bank ,uamalat indonesia sendiri telah men%antumkan standar klausula arbitrase BANUI yaitu+/>+/? ;

GA1BIT1A(E# suatu sengketa yang timbul dari dan atau dengan %ara apapun yang ada hubungannya dengan per"an"ian ini yang tidak dapat diselesaikan se%ara damai# ke%uali sebagaimana ditetapkan di dalam per"an"ian ini.

12[12] -r. hma$i Miru, SH, MH, Hukumperlindungan Konsumen , &a/awali #ers, Jakarta, 200, hlm 227

13[13] dul rahman saleh, .atatan tentang aritrase muamalat indonesia, tanggal 23 april 1994, hal 15

(16)

Dengan demikian# hal ini didasarkan karena kesimpulan yang diambil dari ketentuan  pasal 9< ayat + UUP tersebut# bah&a sengketa ini sudah akan men"adi ke&enangan badan  penyelesaian sengketa konsumen 2BP(5 yang diatur dalam UUP# sebagai konsekkuensinya# BP( harus menyelesaiakan sengketa yang ter"adi berdasarkan syariat islam.+9>+9?

Akan tetapi# upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan selain BP( masih tetap  berlaku= dapat dipergunakan untuk menyelesaikan sengketa "ika bertolak pada pasal 9< ayat 6

dan pen"elasannya# dalam pasal ini hanya disebut penyelesaian sengketa di luar pengadilan. UUP No 7 Tahun +--- sudah diatur dalam berbagai peraturan perundang!undangan. Indonesia merdeka# melalui Undang!Undang No. + Tahun +-9C# kitab undang!undang itu lalu diadopsi se%ara total. arena perkembangan politik# adopsi undang!undang yang semula  bertu"uan untuk uni'ikasi itu# tidak men%apai tu"uannya.

I4, ASPEK5ASPEK KEPERDA3AAN

)ang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas# termasuk hukum perdata# hukum dagang serta kaidah!kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan  perundang!undangan lainnya. esemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum  perdata tidak tertulis 2hukum adat5.

aidah!kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan=atau penyelenggara "asa dengan konsumennya masing!masing termuat dalam;

+5 UH Perdata# terutama dalam Buku kedua# ketiga# dan keempat# 65 UHD# Buku kesatu dan Buku kedua#

/5 Berbagai peraturan perundang!undangan lain yang memuat kaidah!kaidah hukum bersi'at  perdata tentang sub"ek!sub"ek hukum# hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang

atau penyelenggara "asa tertentu dan konsumen.

Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan=atau penyelenggara "asa 2pelaku usaha5 antara lain sebagai berikut;

+. Hal!Hal yang Berkaitan dengan In'ormasi

(17)

Bagi konsumen# in'ormasi tentang barang dan=atau "asa merupakan kebutuhan pokok# sebelum ia menggunakan sumber dananya 2ga"i# upah# honor atau apa pun nama lainnya5 untuk mengadakan transaksi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hukum 2"ual  beli# beli!se&a# se&a!menye&a# pin"am!memin"am# dan sebagainya5 tentang produk 

konsumen dengan pelaku usaha itu.

In'ormasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai pen"elasan# siaran# keterangan# penyusun peraturan perundang!undangan se%ara umum atau dalam rangka deregulasi# dan=atau tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang suatu produk  konsumen. Dari sudut penyusunan peraturan perundang!undangan terlihat in'ormasi itu termuat sebagai suatu keharusan. Beberapa diantranya# ditetapkan harus dibuat# baik se%ara di%antumkan pada maupun dimuat di dalam &adah atau pembungkusnya 2antara lain label dari produk makanan dalam kemasan5. (edang untuk produk hasil industri lainnya# in'ormasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah# standar  internasional# atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang ber&enang.

6. Beberapa Bentuk In'ormasi

Di antara berbagai in'ormasi tentang barang atau "asa konsumen yang diperlukan konsumen# tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah in'ormasi yang  bersumber dari kalangan pelaku usaha. Terutama dalam bentuk in'ormasi pengusaha lainnya.

Iklan adalah bentuk in'ormasi yang umumnya bersi'at sukarela# sekalipun pada akhir! akhir ini termasuk "uga yang diatur di dalam Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen 2pasal -# +# +6# +/# +# dan pasal 65.

a. Tentang Iklan

UHPerdata 2itab Undang!Undang Hukum Perdata5 dan=atau UHD 2itab Undang!Undang Hukum Dagang5# keduanya diumumkan pada tanggal / April +79 dalam (taasblad no. 6/ dengan segala tambahan dan=atau perubahannya# tidak memberikan  pengertian dan=atau memuat kaidah!kaidah tentang periklan.

,enurut ketentuan dari UU No. 7 Tahun +--- tentang Perlindungan onsumen# Pasal - ayat 2+5 berbunyi;

 #elau usaha dilarang mena"aran, mempromosian, meng/ilanan suatu *arang  dan0atau 1asa secara tida *enar dan0atau seolah/olah2 dan seter usn(a.

(18)

(ayangnya dalam undang!undang ini tidak di%antumkan apa yang dimaksud dengan ikaln. )ang terdapat dalam perundang!undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan  berkaitan dengan periklanan sa"a. Departemen esehatan menetapkan sebagai @iklan adalah

usaha dengan %ara apa pun untuk meningkatkan pen"ualan# baik se%ara langsung maupun tidak langsung.+<>+<?

Adapun sistem penyiaran nasional pasal + butir 2<5 merumuskan siaran iklan adalah siaran in'ormasi yang bersi'at komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya "asa#  barang# dan gagasan yang dapat diman'aatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan

kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. Pasal + butir 2C5 menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau tele*isi dengan tu"uan memperkenalkan# memasyarakatkan# dan=atau mempromosikan barang atau  "asa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang

dita&arkan .

,engenai perilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal + Undang!Undang  No. 7 Tahun +--- tentang Perlindungan onsumen# adalah sebagai berikut;

+5 Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang;

a. ,engelabui konsumen mengenai kualitas# kuantitas# bahan# kegunaan# dan harga barang dan=atau tari'' "asa serta ketepatan &aktu penerimaan barang dan=atau "asa#

 b. ,engelabui "aminan=garansi terhadap barang dan=atau "asa#

%. ,emuat in'ormasi yang keliru# salah# atau tidak tepat mengenai barang dan=atau "asa# d. Tidak memuat in'ormasi mengenai risiko pemakaian barang dan=atau "asa#

65 Pelaku usaha periklanan dilarang melan"utkan peradaran iklan yang telah melanggar  ketentuan pada ayat 2+5.

 b. Tentang Label

In'ormasi produk konsumen yang bersi'at &a"ib ini# ditetapkan dalam berbagai  peraturan perundang!undangan. Pengaturan tentang in'ormasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan# label# atau etiket. ,engenai Pasal / ayat 265 e dalam pen"elasan Undang!Undang Pangandisebutkan bah&a keterangan halal untuk suatu produk pangan sangat penting bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk agama islam. etentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang!undangan. Namun pen%antumannya  pada label pangan baru merupakan ke&a"iban apabila setiap orang yang memproduksi

(19)

 pangan dan=atau memasukkan pengan ke dalam &ilayah Indonesia untuk diperdagangkan menyatakan bah&a pangan yang bersangkutan adalah halal bagi umat islam.

onsumsi daging bagi konsumen di Indonesia yang mayoritas beragama Islam# &alaupun se%ara ilmiah daging tersebut sehat dikonsumsi# namun konsumen yang beragama Islam masih memebutuhkan persyaratan lain yang dapat menentramkan hatinya. Hal ini harus diperhatikan# karena salah satu keharusan bagi importer dan=atau pengedar daging yang  berasal dari luar negeri adalah men%egah timbul dan men"alarnya penyekit he&an yang dapat ditularkan melalui daging yang diimpor dan=atau diedarkannya# serta ikut bertanggung "a&ab atas keamanan dan ketentram batin konsumen. Untuk men"aga ketentraman batin konsumen tersebut# maka pemasukan daging untuk konsumsi umum atau diperdagangkan harus berasal dari ternak yang pemotongannya dilakukan menurut syariat islam dan dinyatakan dalam serti'ikat halal.+C>+C?

BAB IJ PENUTUP

+. Kesim(ulan

esadaran konsumen bah&a mereka memiliki hak#ke&a"iban serta perlindungan hukum atas mereka harus diberdayakan dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang layak  atas mereka# mengingat 'aktor utama perlakuan yang semena!mena oleh produsen kepada konsumen adalah kurangnya kesadaran serta pengetahuan konsumen akan hak!hak serta ke&a"iban mereka.

Pemerintah sebagai peran%ang#pelaksana serta penga&as atas "alannya hukum dan UU tentang perlindungan konsumen harus benar!benar memperhatikan 'enomena!'enomena yang ter"adi pada kegiatan produksi dan konsumsi de&asa ini agar tu"uan para produsen untuk  men%ari laba ber"alan dengan lan%ar tanpa ada pihak yang dirugikan# demikian "uga dengan konsumen yang memiliki tu"uan untuk memaksimalkan kepuasan "angan sampai mereka dirugikan karena kesalahan yang diaibatkan dari proses produksi yang tidak sesuai dengan setandar berproduksi yang sudah tertera dalam hukum dan UU yang telah dibuat oleh  pemerintah.

(20)

esadaran produsen akan hak!hak konsumen "uga sangat dibutuhkan agar ter%ipta harmonisasi tu"uan antara produsen yang ingin memperoleh laba tanpa membahayakan konsumen yang ingin memiliki kepuasan maksimum#

Agar ketentuan tersebut tidak membingungkan# maka sebaiknya disebut se%ara langsung  bah&a setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui badan  penyelesaian sengketa konsumen 2BP(5 atau melalui pengadilan dalam lingkungan  peradilan umum.

6. Saran

A. Perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia# &alaupun telah mengalami kema"uan# terutama setelah lahirnya UUP# namun masih perlu adanya langkah peningkatan# terutama aspek!aspek yang diatur se%ara tegas dalam UUP# sehingga akan semakin mendekati  berbagai perinsip yang memberikan perlindungan konsumen di Negara ma"u.

B. Demikian pula kekurangan!kekurangan dalam UUP agar segera dire*isi# dengan tetap menga%u pada tiga prinsip perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia# serta melengkapi peraturan!peraturan pelaksanaan dari UUP# agar konsumen betul!betul dapat menikmati perlindungan hukum sebagaimana yang diharapkan.

DATA1 PU(TAA A. Buku

ristiyanti# 3ellina Tri (i&i. 3uum #erlindungan 4onsumen, (inar 0ra'ika# :akarta. 6-,iru# Ahmadi. #rinsip/prinsip #erlindungan 5agi 4onsumen Di Indonesia# PT. 1a"a 0ra'indo Persada# :akarta. 6++

(iahaan# N.H.T. 3uum 4onsumen #erlindungan 4onsumen Dan Tanggung 6a"a* #rodu # Penerbit Panta 1ei# :akarta. 6<

,iru# Ahmadi# 3uum #erlindungan 4onsumen, $a1a"ali pers, 1aarta 7889,

Abdul rahman saleh# %atatan tentang arbitrase muamalat indonesia#"akarta# tanggal 6/ april +--9#

B. Perundang!undangan

UU No. 7 Tahun +--- Tentang Perlindungan onsumen UUP No.7 Tahun +--- pasal + ayat 6

(21)

Peraturan ,enteri esehatan No. /6- Tahun +-C pasal + butir +/ Undang!undang No /6 Tahun 66 tentang Penyiaran

Undang!Undang Pangan adalah Undang!Undang nomor  tahun +--C  peraturan pemerintah No <- tahun 6+

3. :urnal

Referensi

Dokumen terkait

Dasar Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Terhadap Hasil Produksi Kain Batik... Pelaksanaan dan Faktor Penghambat Penegakkan Hukum Perlindungan Konsumen terhadap Hasil Produksi

34 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani. Hukum Tentang Perlindungan Konsumen. 35 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo. Hukum Perlindungan Konsumen.. perundang-undangan yang berhubungan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia telah memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi konsumen atas peredaran produk pangan rekayasa genetika baik

Asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen 

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/353511642 Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia Book · October 2004

Page | 86 berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan perlindungan

Seperti diketahui pasal 8 uu perlindungan konsumen menentukan sembilan hak konsumen, pasal 5 UUPK tentang Kewajibannya, Hambatan Dalam Penyelesaian Sengketa Perlindungan Hukum Bagi

Makalah ini membahas tentang hukum perlindungan konsumen dalam transaksi e-commerce di