MAKALAH HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN MAKALAH HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN
Dosen Pembimbing : Zainal Arifin Dosen Pembimbing : Zainal Arifin
Di
Disusususun on olele :: Ronggo
u'um (erlin)ungan 'onsumen u'um (erlin)ungan 'onsumen
BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
A.
A. Latar Latar BelakangBelakang
Perlindungan konsumen merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis yang Perlindungan konsumen merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis yang sehat. Dalam
sehat. Dalam kegiakegiatan tan bisnis yang bisnis yang sehat terdapat keseimbangsehat terdapat keseimbangan an perlinperlindungdungan an hukum antarahukum antara kon
konsumsumen en dendengan gan proprodusdusen. en. TiTidak dak adaadanya nya perperlinlindundungan gan yanyang g seimbanseimbang g menmenyebyebabkabkanan konsumen pada posisi yang lemah. erugian!kerugian yang dialami oleh konsumen dapat konsumen pada posisi yang lemah. erugian!kerugian yang dialami oleh konsumen dapat tim
timbul bul sebsebagaagai i akiakibat bat dari dari adaadanynya a hubhubungungan an hukhukum um perper"an"an"ia"ian n antantara ara proprodusdusen en dendengangan konsumen# maupun akibat dari adanya perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh konsumen# maupun akibat dari adanya perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh produsen.
produsen.
Per"an"ian!per"an"ian yang dilakukan antara para pihak tidak selamanya dapat ber"alan Per"an"ian!per"an"ian yang dilakukan antara para pihak tidak selamanya dapat ber"alan mulus dalam arti masing!masing pihak puas# karena kadang!kadang pihak penerima tidak mulus dalam arti masing!masing pihak puas# karena kadang!kadang pihak penerima tidak menerima barang atau "asa sesuai dengan harapannya. $anprestasi salah satu pihak dalam menerima barang atau "asa sesuai dengan harapannya. $anprestasi salah satu pihak dalam per"an"ian
per"an"ian merupakan merupakan kelalaian kelalaian untuk untuk memenuhi memenuhi syarat syarat yang yang ter%antum ter%antum dalam dalam per"an"ian.per"an"ian. Disamping &anprestasi# kerugian dapat pula ter"adi di luar hubungan per"an"ian# yaitu "ika Disamping &anprestasi# kerugian dapat pula ter"adi di luar hubungan per"an"ian# yaitu "ika perbuatan
perbuatan melanggar melanggar hukum# hukum# yang yang dapat dapat berupa berupa adanya adanya %a%at %a%at pada pada barang barang atau atau "asa "asa yangyang mengakibatkan kerugian pada konsumen# baik itu karena rusaknya atau musnahnya barang mengakibatkan kerugian pada konsumen# baik itu karena rusaknya atau musnahnya barang itu sendiri# maupun kerusakan atau musnahnya barang akibat %a%at pada barang itu.
itu sendiri# maupun kerusakan atau musnahnya barang akibat %a%at pada barang itu. Huk
Hukum um perperlinlindundungan gan konkonsumsumen en de&de&asa asa ini ini menmendapdapat at %uk%ukup up perperhathatian ian karkarenaena menyangkut aturan!aturan guna mense"ahterakan masyarakat# bukan sa"a masyarakat selaku menyangkut aturan!aturan guna mense"ahterakan masyarakat# bukan sa"a masyarakat selaku konsumen sa"a yang mendapat perlindungan# namun pelaku usaha "uga mempunyai hak yang konsumen sa"a yang mendapat perlindungan# namun pelaku usaha "uga mempunyai hak yang sam
sama a untuntuk uk menmendapdapat at perperlinlindundungangan# # masmasing!maing!masinsing g ada ada hak hak dan dan ke&ke&a"iba"iban an PemPemerierintahntah berperan
berperan mangatur# mangatur# menga&asi# menga&asi# dan dan mengontrol# mengontrol# sehingga sehingga ter%ipta ter%ipta sistem sistem yang yang kondusi' kondusi' berkaitan satu
berkaitan satu dengan yang ladengan yang lain dengan in dengan demikian tu"uan demikian tu"uan menye"ahterakan masyarakat menye"ahterakan masyarakat se%arase%ara luas dapat ter%apai.
Di Indonesia# gerakan perlindungan konsumen menggema dari gerakan serupa di Amerika (erikat. )LI yang se%ara populer dipandang sebagai perintis ad*okasi konsumen di Indonesia berdiri pada kurun &aktu itu# yakni ++ ,ei +-/. 0erakan di Indonesia ini termasuk %ukup responsi*e terhadap keadaan# bahkan mendahului 1esolusi De&an Ekonomi dan (osial PBB 2E34(435 No. 6+++ Tahun +-7 tentang Perlindungan onsumen.
Perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih# karena in*estasi asing telah men"adi bagian pembangunan ekonomi Indonesia# di mana ekonomi Indonesia "uga telah berkait dengan ekonomi dunia. Persaingan perdagangan internasional dapat memba&a implikasi negati*e bagi perlindungan konsumen.
Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor!impor dan penanaman modal. ini transaksi men"adi beraneka ragam dan rumit# seperti kontrak pembuatan barang# &aralaba# imbal beli# turnkey pro"e%t# alih teknologi# aliansi strategis internasional# akti*itas 'inansial# dan lain!lain.
B. 1U,U(AN ,A(ALAH
+. Perkembangan se"arah hukum konsumen Indonesia dan Amerika 6. Pengertian hukum konsumen dan Hukum Perlindungan onsumen /. Pengertian aspek produ%t liability 8
/. Lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat 8 9. Penyelesaian sengketa 8
3. ,A(UD DAN TU:UAN
Adapun tu"uan dalam makalah ini adalah ;
+. Utuk mengetahui perkembangan se"arah hukum konsumen
6. Pengertian Hukum onsumen dan Hukum Perlindungan onsumen /. Pengertian aspek produ%t liability
9. Untuk mengetahui Lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat <. untuk mengetahui Penyelesaian sengketa
+. ,an'aat Teoritis
a. Dapat menambah ilmu pengetahuan dalam bidang hukum bisnis khususnya tentang perlindungan konsumen.
b. Dapat memberikan masukan dalam bidang hukum bisnis kepada masyarakat# pemerintah dan aparat penegak hukum tentang perlindungan konsumen.
Dapat di"adikan pedoman dan bahan ru"ukan bagi peneliti lain# masyarakat ataupun pihak lainnya yang "uga membahas tentang perlindungan konsumen.
BAB II TIN:AUAN PU(TAA Tin"auan Pustaka
• onsumen
Istilah konsumen berasal dari alih bahasa dari kata %onsumer 2Inggris!Amerika5# atau %onsument=konsument 2Belanda5. Pengertian dari %onsumer atau %onsument itu tergantung dalam posisi mana ia berada. (e%ara hara'iah arti kata %onsumer adalah 2la&an dari produsen5 setiap orang yang menggunakan barang+>+?.
Pengertian konsumen dalam 1an%angan Undang!Undang Perlindungan onsumen yang dia"ukan oleh )ayasan Lembaga onsumen Indonesia# yaitu6>6?
@ onsumen adalah pemakai barang atau "asa yang tersedia dalam masyarakat# bagi kepentingan diri sendiri atau keluarganya atau orang lain yang tidak untuk diperdagangkan kembali.
(edangkan konsumen menurut naskah 'inal 1an%angan Akademik Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen yang disusun oleh akultas Hukum Uni*ersitas Indonesia# konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan/>/?.
(ebagai akhir dari usaha pembentukan Undang!Undang Perlindungan onsumen# adalah dengan lahirnya UUP# yang di dalamnya dikemukakan pengertian konsumen# sebagai berikut;
1[1] Celina Tri Siwi Kristiyanti, SH, M.Hum, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm 22
2[2] Yayasan Lema!a K"nsumen, #erlin$un!an K"nsumen %n$"nesia, Suatu Suman!an #emikiran tentan! &an'an!an (n$an!)(n$an! #erlin$un!an K"nsumen, Jakarta* Yayasan lema!a K"nsumen, +9+, hlm 2.
3[3] #r"f. -r. hma$i Miru, SH, MH, Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Indonesia, #T. &a/a Grafin$" #ersa$a, Jakarta, 20++, hlm 20
@onsumen adalah setiap orang pemakai barang=atau "asa yang tersedia dalam masyarakat# baik bagi kepentingan diri sendiri# keluarga# orang lain# maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan9>9?.
• Produsen
Istilah produsen berasal dari bahasa Belanda yakni produ%ent# dalam bahasa inggris# produ%er yang artinya adalah penghasil. Pengertian yang luas mengenai produsen terdapat dalam UUP# namun istilah produsen sebagai la&an dari istilah konsumen# melainkan pelaku usaha. Pengertian pelaku usaha dalam UUP adalah sebagai berikut;
@Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha# baik yang berbentuk bdan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan
kegiatan dalam &ilayah hukum Negara 1epublik Indonesia# baik sendiri maupun bersama! sama melalui per"an"ian penyelenggaraan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi<><?.
(ementara Pasal + butir < memberikan batasan yang hampir tidak ada perbedaan berarti dari pengertian yang dikandung UUP. Adapun pengertian tersebut dapat dilihat
seperti berikut;
@Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha# baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan
kegiatan dalam &ilayah hukum 1epublik Indonesia# baik sendiri maupun bersama!sama melalui per"an"ian# menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.
Pasal / ayat 265 Directive menyebutkan bah&a; siapa pun yang mengimpor suatu produk ke lingkungan adalah produsen. etentuan ini senga"a di%antumkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan harus menggugat produsen asing 2yang pusat kegiatannya5 di luar lingkunganC>C?.
4[4] ((#K ". Tahun +999 1asal + ayat 2.
5[5] #asal + ayat ((#K.
*A* III PEN+ELASAN
PEM*AHASAN
!,! Se-ara )an Per'embangan Hu'um Konsumen Ameri'a )an In)onesia
Perkembangan hukum konsumen di dunia bera&al dari adanya gerakan perlindungan konsumen pada abad ke!+-# terutama ditandai dengan mun%ulnya gerakan konsumen yang ter"adi di Amerika (erikat 2A(5. 0elombang pertama ter"adi pada tahun +7-+# yaitu ditandai dengan terbentuknya Liga onsumen di Ne& )ork dan yang pertama kali di dunia. Baru tahun +7-7# di tingkat nasional A( terbentuk Liga onsumen Nasional 2The National Consumer’s League5. Ada banyak hambatan yang dihadapi oleh organisasi ini# meski demikian# pada tahun +-C lahirlah Undang!Undang tentang perlindungan konsumen# yaitu The Meat Inspection Act dan The Food and Drugs Act 2pada tahun +-/7# UU ini diamandemen men"adi The Food, Drug and Cosmetics Act karena adanya tragedi Elixir ul!anilamide yang mene&askan -/ konsumen di A( tahun +-/5.
Hukum konsumen berkembang lagi pada tahun +-+9# yang ditandai sebagai gelombang kedua dan terbentuk komisi yang bergerak dalam bidang perlindungan konsumen# yaitu Federal Trade Comission 2T35. eberadaan program pendidikan konsumen mulai dirasakan perlu sekali untuk menumbuhkan kesadaran kritis bagi para konsumen. ,aka pada dekade +-/!an mulai gen%ar dilakukan penulisan buku! buku tentang konsumen dan perlindungan konsumen# yang "uga dilengkapi dengan riset!riset yang mendukungnya.
0elombang ketiga ter"adi pada dekade +-C!an# yang melahirkan era hukum perlindungan konsumen dengan lahirnya suatu %abang hukum baru# yaitu hukum konsumen 2 consumers la"5. Hal ini ditandai dengan pidato Presiden A( ketika itu# :ohn . ennedy# di depan onggres A( pada tanggal +< ,aret +-C6 tentang @ A pecial Message !or the #rotection o! Consumer Interest atau yang lebih dikenal dengan istilah @Deklarasi Hak onsumen 2 Declaration o! Consumer $ight 5.
:ika diamati# se"arah gerakan perlindungan konsumen bermula dari kondisi di Amerika (erikat. Perlindungan hak!hak konsumen dapat ber"alan seiring dengan perkembangan demokrasi yang ter"adi dalam suatu negara. Negara demokrasi mengamanatkan bah&a hak! hak &arga negara# termasuk hak!hak konsumen harus dihormati. Ada posisi yang berimbang
antara produsen dan konsumen# karena keduanya mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum.
Beberapa negara mulai membentuk sema%am Undang!Undang perlindungan konsumen# yaitu sebagai berikut;
+. Amerika (erikat; The %ni!orm Trade #ractices and Consumer #rotection Act 2UTP3P5 tahun +-C# yang kemudian diamandemen pada tahun +-C- dan +- %n!air Trade #ractices and Consumer #rotection &Lousiana' La"# tahun +-/.
6. :epang; The Consumer #rotection Fundamental Act 2tahun +-C75.
/. Inggris; The Consumer #rotection Act # tahun +-# yang diamandemen pada tahun +-+.
9. anada; The Consumer #rotection Act dan The Consumer #rotection Amandment Act 2tahun +-+5.
<. (ingapura; The Consumer #rotection &Trade Description and a!et( $e)uirement Act'# tahun +-<.
C. inlandia; The Consumer #rotection Act 2tahun +-75.
. Irlandia; The Consumer In!ormation Act 2tahun +-75.
7. Australia; The Consumer A!!airs Act 2tahun +-75.
-. Thailand; The Consumer Act 2tahun +--5.
,asalah perlindungan konsumen di Indonesia baru mulai ter"adi pada dekade +-!an. Hal ini ditandai dengan berdirinya )ayasan Lembaga onsumen Indonesia 2)LI5 pada bulan ,ei +-/. etika itu gagasan perlindungan konsumen disampaikan se%ara luas kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan ad*okasi konsumen# seperti pendidikan# penelitian# pengu"ian# pengaduan# dan publikasi media konsumen.
)LI berdiri ketika kondisi politik bangsa Indonesia saat itu masih dibayang!bayangi dengan kampanye penggunaan produk dalam negeri# namun seiring perkembangan &aktu# gerakan
perlindungan konsumen dilakukan melalui koridor hukum yang resmi# yaitu bagaimana memberikan bantuan kepada masyarakat atau konsumen.
$aktu se"ak dekade +-7!an# gerakan atau per"uangan untuk me&u"udkan sebuah Undang! Undang tentang perlindungan konsumen dilakukan selama bertahun!tahun. ,asa 4rde Baru# Pemerintah dan De&an Per&akilan 1akyat 2DP15 tidak memiliki greget besar untuk me&u"udkannya karena terbukti pengesahan 1an%angan Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen 21UUP5 selalu ditunda. Baru pada era re'ormasi# keinginan ter&u"udnya UU tentang Perlindungan onsumen bisa terpenuhi. Pada masa pemerintahan B: Habibie# tepatnya tanggal 6 April +---# 1UUP se%ara resmi disahkan sebagai UU tentang Perlindungan onsumen# dan dengan adanya UU tentang Perlindungan onsumen "aminan atas perlindungan hak!hak konsumen di Indonesia diharapkan bisa terpenuhi dengan baik. ,asalah perlindungan konsumen kemudian ditempatkan kedalam koridor suatu sistem
hukum perlindungan konsumen# yang merupakan bagian dari sistem hukum nasional.
Tanggal 6 April +--- Pemerintah Indonesia telah mensahkan dan mengundangkan Undang! Undang Nomor 7 Tahun +--- tentang Perlindungan onsumen. Undang!Undang Perlindungan onsumen ini diharapkan dapat mendidik masyarakat Indonesia untuk lebih menyadari akan segala hak!hak dan ke&a"iban!ke&a"ibannya yang dimiliki terhadap pelaku usaha. (ebagaimana tertera dalam konsiderans Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen# yang menyatakan bah&a untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu meningkatkan kesadaran# pengetahuan# kepedulian# kemampuan# dan kemandirian
konsumen untuk melindungi dirinya# serta menumbuh!kembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung"a&ab.
Urusan perlindungan konsumen ternyata sangat beragam dan begitu pelik. onsumen tidak hanya dihadapkan pada suatu keadaan untuk memilih yang terbaik bagi dirinya# melainkan "uga pada keadaan tidak dapat memilih karena adanya praktek @monopoli oleh satu atau
lebih pelaku usaha atas kebutuhan utama=*ital konsumen dalam men"alani kehidupannya sehari!hari. Berbagai penguasaan atau monopoli atas kepentingan!kepentingan yang meliputi ha"at hidup orang banyak oleh Badan Usaha ,ilik Negara 2BU,N5 maupun Badan Usaha ,ilik Daerah 2BU,D5 sedikit banyak turut memperburuk penge"a&antahan hak!hak konsumen dalam praktek.
onsumen seringkali dihadapkan pada persoalan ketidak!mengertian dirinya ataupun ketidak!"elasan akan peman'aatan# penggunaan maupun pemakaian barang dan=atau "asa yang disediakan oleh pelaku usaha# karena kurang atau terbatasnya in'ormasi yang disediakan. (elain itu# konsumen "uga seringkali dihadapkan pada *argaining position yang sangat tidak seimbang 2posisi konsumen sangat lemah dibanding pelaku usaha5. Hal tersebut ter%ermin dalam per"an"ian baku yang sudah disiapkan se%ara sepihak oleh pelaku usaha dan konsumen harus menerima serta menandatanganinya tanpa bisa dita&ar!ta&ar lagi atau +Tae it or leave it-.
Berdasarkan kondisi tersebut# upaya pemberdayaan konsumen men"adi sangat penting# namun pemberdayaan konsumen akan sulit ter&u"ud "ika kita mengharapkan kesadaran pelaku usaha terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan pelaku usaha dalam men"alankan usahanya menggunakan prinsip ekonomi# yaitu mendapatkan keuntungan sebesar!besarnya dengan modal seke%il!ke%ilnya. Artinya# dengan pemikiran umum seperti itu sangat mingkin konsumen akan dirugikan# baik se%ara langsung maupun tidak langsung. Adanya UU tentang Perlindungan onsumen yang mengatur perlindungan konsumen tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para pelaku usaha. UU tentang Perlindungan onsumen "ustru bisa mendorong iklim usaha yang sehat serta mendorong lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan yang ada dengan menyediakan barang="asa yang berkualitas. Pen"elasan umum UU tentang Perlindungan onsumen menyebutkan bah&a dalam pelaksanaannya akan tetap memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha ke%il dan
menengah.
!,# Perbe)aan Hu'um Konsumen )an Hu'um Perlin)ungan Konsumen
Umumnya# sampai sekarang ini orang bertumpu pada kata segenap bangsa sehingga ia diambil sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia 2asa persatuan bangsa5. Tetapi disamping itu# dari kata melindungi terkandung pula asas perlindungan 2hukum5 pada segenap bangsa tanpa ada ke%ualinya# ini artinya baik
laki!laki maupun perempuan# orang kaya atau orang miskin# orang kota atau orang desa# orang asli atau keturunan# dan pengusaha atu konsumen. Landasan hukum lainnya adalah yang termuat dalam pasal 6 Ayat 265 Undang!Undang Dasar +-9< yang menyebutkan bah&a tiap &arga negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Dalam berbagai literatur ditemukan sekurang!kurangnya dua istilah mengenai hukum yang mempersoalkan konsumen# yaitu hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen. 4leh AF. Nasution men"elaskan bah&a kedua istilah itu berbeda# yaitu bah&a hukum perlindungan konsumen adalah bagian dari hukum konsumen. ,enurut beliau hukum konsumen adalah ;
keseluruhan asas!asas dan kaidah!kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan atau "asa konsumen# di dalam pergaulan hidup.
Dan sedangkan hukum perlindungan konsumen adalah ;
keseluruhan asas!asas dan kaidah!kaidah hukum yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan masalahnya dengan para penyedia barang dan atau "asa konsumen.
Pada dasarnya# baik hukum konsumen maupun hukum perlindungan konsumen membi%arakanhal yang sama# yaitu kepentingan hukum konsumen# dengan demikian# hukum perlindungan konsumen atau hukum konsumen dapat diartikan sebagai seluruh peraturan hukum yang mengatur hak!hak dan ke&a"iban!ke&a"iban konsumen dan produsen yang timbul dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam perlindungan konsumen terdapat atau terkandung se"umlah asas# perlindungan konsumen ini diselenggarakan sebagai usaha bersama seluruh pihak yang terkait# masyarakat# pelaku usaha# dan pemerintah yang bertumpu pada lima asas seperti yang terdapat dalam pasal 6 Undang!Undang Perlindungan onsumen Nomor 7 Tahun +--- yaitu ;
+. asas man'aat# dimaksud untuk mengamanatkan bah&a segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan man'aat sebesar! besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha se%ara keseluruhan. 6. Asas keadilan# dimaksudkan agar partisipasi seluruh masyarakat dapat di&u"udkan se%ara maksimal dan memberikan kesempatan pada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan ke&a"iban!ke&a"ibannya se%ara adil. /. Asas keseimbangan# dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen# pelaku usaha# dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual.
9. Asas keamanan dan keselamatan konsumen# dimaksudkan untuk memberikan "aminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan# pemakaian# dan peman'aatan barang dan=atau "asa yang digunakan. <. Asas kepastian hukum# dimaksudkan agar baik pelaku maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen# serta negara men"amin kepastian hukum.
!," Penger.ian Pro)u/. Liabili.0
Istilah dan de'enisi product lia*ilit( di kalangan para pakar dan se"umlah peraturan diartikan se%ara berbeda!beda. #roduct lia*ilit( sering diistilahkan dengan tanggung gugat produk# tanggung "a&ab produk# atau tanggung "a&ab produsen. ,engenai pengertiannya# para pakar memberikan penekanan dan lingkup yang ber*ariasi sebagaimana dapat dilihat
dalam berbagai de'inisi di ba&ah ini.
de'inisi product lia*ilit( sebagai berikut; tanggung "a&ab pemilik pabrik untuk barang!barang yang dihasilkannya# misalnya yang berhubungan dengan kesehatan pembeli# pemakai 2konsumen5 atau keamanan produk.
sebagai tanggung "a&ab produsen untuk produk yang diba&anya ke dalam peradaran# yang menimbulkan kerugian karena %a%at yang melekat pada produk tersebut. Dalam produk sebagai barang# baik yang bergerak maupun tidak bergerak >?.
memperluas %akupan dari yang disebut dengan pengertiannya sebagai berikut;
@produ%t liability adalah tanggung "a&ab se%ara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk 2produ%er# manu'a%ture5 atau dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk atau dari orang atau badan yang men"ual atau mendistribusikan produk tersebut.
Tu"uan utama dari dunia hukum memperkenalkan product lia*ilit( adalah ;
a. ,emberikan perlindungan kepada konsumen
b. Agar terdapat pembebanan risiko yang adil antara produsen dan konsumen.
7[7] .H.T. Siahaan, Hukum Konsumen Perlindungan Konsumen dan Tanggung Jawab Produk, #anta &ei, Jakarta, 2003, hlm +00
¬ Dari e&a"iban kepada Tanggung"a&ab
a. e&a"iban karena UU
Berbi%ara tentang tanggung "a&ab pelaku usaha# maka terlabih dahulu harus dibi%arakan mengenai ke&a"ibannya. Dari ke&a"iban 2dut(, o*ligation5 akan lahir tanggung "a&ab. Tanggung "a&ab timbul karena seseorang atau suatu pihak mempunyai suatu
ke&a"iban# termasuk ke&a"iban karena undang!undang dan hukum7>7?.
Dalam kaitan UUP# produsen berke&a"iban untuk beritikad baik dalam akti*itas produksinya 2Pasal butir a UUP5. 1umusnya mengandung suatu keharusan atau ke&a"iban yang tidak boleh tidak harus dilaksanakan. Dari sudut hukum perikatan# terdapat suatu unsur ke&a"iban yang harus dipenuhi untuk melaksanakan suatu prestasi. Pasal +6/9 UHPerdata menetukan# tiap!tiap perikatan bertu"uan;
+. ,emberikan sesuatu# 6. Berbuat sesuatu#
/. Tidak berbuat sesuatu.
Prestasi dalam tiga bentuk di atas# merupakan ke&a"iban yang harus dilaksanakan penyandang per"an"ian. e&a"iban melaksanakan ma%am!ma%am prestasi di atas# tidak hanya karena adanya perikatan bagi pihak!pihak yang melakukan per"an"ian. Lebih dari itu# perikatan "uga lahir dari undang!undang atau hukum 2Pasal +6// UHPerdata5. (etiap orang yang mengalami kerugian# berhak menga"ukan tuntutan kompensasi=ganti rugi kepada pihak yang melakukan perbuatan itu. ompensasi tersebut# menurut pasal +- ayat 6 meliputi;
! Pengembalian se"umlah uang#
! Penggantian barang atau "asa yang se"enis atau yang setara# ! Pera&atan kesehatan#
! Pemberina santunan sesuai ketentuan perundang!undangan. b. e&a"iban Produk
,eru"uk UUP# "ika suatu produk merugikan konsumen# maka produsen bertanggung "a&ab untuk mengganti kerugian yang diderita konsumen. e&a"iban itu tetap melekat pada produsen meskipun antara pelaku dan korban tidak terdapat perseru"uan terlebih dahulu.
Pen"ual berke&a"iban menenggung penderitaan korban berdasarkan perbuatan mela&an hukum# sebagaimana ditentukan di dalam Pasal +/C< UHPerdata. e&a"iban lebih merupakan rumusan abstarak yang melahirkan tanggung "a&ab sementara tanggung "a&ab
8[8] #r"f. -r. hma$i Miru SH, MH., Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Indonesia, #T. &a/a Grafin$" #ersa$a, Jakrta, 20++4 hal 55
merupakan sikap konkret. Harus diingat pula# tidak selamanya rumusan tentang ke&a"iban dan tanggung "a&ab se%ara eksplisit menggunakan kata ke&a"iban ataupun tanggung "a&ab.
¬ e&a"iban mengenai Persyaratan Produk
Dalam UUP aturan mengenai hak dan ke&a"iban konsumen dan hak produsen selaku pelaku usaha dirumuskan dalam Bab III# butir!butir ke&a"iban pelaku usaha yang ter%antum dalam Pasal di atas mengatur ke&a"iban produk dari pelaku usaha. (ebelum UUP berlaku# sudah dibuat beberapa ketentuan mengenai ke&a"iban pelaku usaha untuk mentaati persyaratan atas produk!produk 2barang dan "asa5 yang dibuatnya. Hal itu bisa kita lihat dalam UU No 6 Tahun +-CC tentang Hygiene# UU No 6/ Tahun +--6 tentang esehatan# UU No Tahun +--C tentang Pangan atau dalam PP No. C- Tahun +--- tentang Label dan Iklan Pangan.
II, Lembaga Perlin)ungan Konsumen S1a)a0a Mas0ara'a.
Pen"elasan tentang syarat lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat 2LP(,5 tersebut# sesungguhnya telah dapat diketaui dari pengertian yang tersebut pada pasal - UUP.
$alaupun lembaga perlindungan s&adaya masyarakat dikatakan sebagai lembaga non pemerintah# tetapi bukanlah lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat yang selama ini diketahui Gindependen# mengingat LP(, yang dimaksud dalam undang undang ini harus dida'tarkan dan mendapat pengakuan dari pemerintah# dengan tugas yang masih harus di atur dengan peraturan pemerintah->-?.
(etelah diundangkan peraturan pemerintah No <- tahun 6+ tentang lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat# maka dalam# pasal 6 menentukan bah&a ;
+. Pemerintah mengikuti LP(, yang memenuhi syarat# yakni terda'tar pada pemerintah kabupaten=kota dan bergerak di bidang perklindungan konsumen sebagaimana ter%antum dalam anggaran dasarnya. Penda'taran tersebut hanya dimaksudkan sebagai pen%atatan dan bukan merupakan periFinan. Demikian pula# bagi LP(, yang membuka kantor per&akilan
atau %abang tersebut kepada pemerintah kabupaten= kota setempat.
9[9] Santoso, undang-undang perlindungan konsumen masih an!ak olongn!a"", media indonesia, tanggal 7 #uli 1999 hal 68
6. LP(, sebagaimana dimaksud dalam ayat 2+5 dapat melakukan kegiatan perlindungan konsumen di seluruh indonesia.
/. Tata %ara penda'taran LP(, sebagaimana dimaksud dalam ayat 2+5 huru' a diatur lebih lan"ut dalam keputusan menteri.
Demikian pula dalam pen"elasan umum peraturan pemerintah No <- tahun 6+# yang menentukan bah&a untuk men"amin ketertiban# kepastian# dan keterbukaan dalam penyelengaraan perlindungan konsumen# maka LP(, dipandang perlu untuk melakukan penda'taran pada pemerintah kabupaten= kota
Pasal + peraturan pemerintah no <- tahun 6+# menentukan bah&a ; +. Pemerintah membatalkan penda'taran LP(,. Apabila LP(, tersebut ; a. Tidak lagi men"alankan kegiatan perlindungan konsumen
b. Terbukti melakukan kegiatan pelangaran ketentuan undang undang No 7 tahun +---tentang perlindungan konsumen dan peraturan pelaksanaanya.
6. etentuan mengenai tata %ara pembatalan penda'taran sebagaimana dimaksud dalam ayat 2+5 diatur lebih lan"ut dalam keputusan mentri+>+?.
Tugas lembaga perlindungan konsumen s&adaya masyarakat sebagaimana ditentukan dalam pasal 99 ayat 2/5 huru' a UUP yaitu# menyebar in'ormasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan ke&a"iban dan kehati!hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan "asa. (edangkan dalam pasal 9 peraturan pemerintah No <- tahun 6+. Adapun in'ormasi yang dimaksud misalnya hal hal yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai proses prodksi# standar# label# dan lain!lain. (edangkan penyebaran in'ormasi yang dilakukan LP(, dapat dapat dilaksanakan melalui kegiatan ; pendidikan# pelatihan# penyuluhan in'ormasi pelayanan# dan lain!lain.
Di indonesia# gerakan perlindungan konsumen ditandai dengan berdirinya yayasan lembaga konsumen konsumen 2)LI5 pada tanggal ++ mei +-/. )LI ini didirikan dengan tu"uan unuk membantu konsumen indonesia agar tidak dirugikan dalam mengkonsumsi barang dan "asa.++>++?
1$[1$] -r. hma$i Miru, SH, MH, Hukumperlindungan Konsumen , &a/awali #ers, Jakarta, 200, hlm 2+6
11[11] %& 'antri (& dan sulastri, gerakan organisasi konsumen, seri panduan )*+, #akarta, 1995,hal 9-1$
ehadiran lembaga konsumen# terutama )LI# merupakan langkah ma"u dalam perlindungan konsumen# karena dalam upaya men%apai tu"uan )LI melaksanakan berbagai
kegiatan# yang dilakukan melalui beberapa bidang yaitu; a. Bidang penelitian
b. Bidang pendidikan
%. Bidang penerbitan# &arta konsumen dan perpustakaan
III, PEN2ELESAIAN SENGKE3A
,elalui ketentuan pasal 9< ayat 2+5 dapat diketahui bah&a untuk menyelesaikan sengketa konsumen# terdapat dua pilihan yaitu;
a. ,elalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha#
b. ,elalui peradilan yang berada di pengadilan umum.
,en"adi persoalan dengan ketentuan pasal 9< ayat + tersebut di atas# adalah penun"ukan Glembaga yang bertugas menyelesaiakn sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. etentuan ini kurang "elas Glembaga penyelesaian sengketa mana yang dimaksud. Apabila yang dimaksud adalah khusus tertu"u pada badan penyelesaian sengketa konsumen yang diatur UUP# maka mengapa undang!undang tidak menun"uk langsung kepada badan ini.+6 >+6?
Agar ketentuan tersebut tidak membingungkan# maka sebaiknya disebut se%ara langsung bah&a setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui badan penyelesaian sengketa konsumen 2BP(5 atau melalui pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.
(ehubungan dengan eksistensi BA,UI tersebut# bah&a praktek pada PT. Bank ,uamalat indonesia sendiri telah men%antumkan standar klausula arbitrase BANUI yaitu+/>+/? ;
GA1BIT1A(E# suatu sengketa yang timbul dari dan atau dengan %ara apapun yang ada hubungannya dengan per"an"ian ini yang tidak dapat diselesaikan se%ara damai# ke%uali sebagaimana ditetapkan di dalam per"an"ian ini.
12[12] -r. hma$i Miru, SH, MH, Hukumperlindungan Konsumen , &a/awali #ers, Jakarta, 200, hlm 227
13[13] dul rahman saleh, .atatan tentang aritrase muamalat indonesia, tanggal 23 april 1994, hal 15
Dengan demikian# hal ini didasarkan karena kesimpulan yang diambil dari ketentuan pasal 9< ayat + UUP tersebut# bah&a sengketa ini sudah akan men"adi ke&enangan badan penyelesaian sengketa konsumen 2BP(5 yang diatur dalam UUP# sebagai konsekkuensinya# BP( harus menyelesaiakan sengketa yang ter"adi berdasarkan syariat islam.+9>+9?
Akan tetapi# upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan selain BP( masih tetap berlaku= dapat dipergunakan untuk menyelesaikan sengketa "ika bertolak pada pasal 9< ayat 6
dan pen"elasannya# dalam pasal ini hanya disebut penyelesaian sengketa di luar pengadilan. UUP No 7 Tahun +--- sudah diatur dalam berbagai peraturan perundang!undangan. Indonesia merdeka# melalui Undang!Undang No. + Tahun +-9C# kitab undang!undang itu lalu diadopsi se%ara total. arena perkembangan politik# adopsi undang!undang yang semula bertu"uan untuk uni'ikasi itu# tidak men%apai tu"uannya.
I4, ASPEK5ASPEK KEPERDA3AAN
)ang dimaksudkan hukum perdata yakni dalam arti luas# termasuk hukum perdata# hukum dagang serta kaidah!kaidah keperdataan yang termuat dalam berbagai peraturan perundang!undangan lainnya. esemuanya itu baik hukum perdata tertulis maupun hukum perdata tidak tertulis 2hukum adat5.
aidah!kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah hukum antara pelaku usaha penyedia barang dan=atau penyelenggara "asa dengan konsumennya masing!masing termuat dalam;
+5 UH Perdata# terutama dalam Buku kedua# ketiga# dan keempat# 65 UHD# Buku kesatu dan Buku kedua#
/5 Berbagai peraturan perundang!undangan lain yang memuat kaidah!kaidah hukum bersi'at perdata tentang sub"ek!sub"ek hukum# hubungan hukum dan masalah antara penyedia barang
atau penyelenggara "asa tertentu dan konsumen.
Beberapa hal yang dinilai penting dalam hubungan konsumen dan penyedia barang dan=atau penyelenggara "asa 2pelaku usaha5 antara lain sebagai berikut;
+. Hal!Hal yang Berkaitan dengan In'ormasi
Bagi konsumen# in'ormasi tentang barang dan=atau "asa merupakan kebutuhan pokok# sebelum ia menggunakan sumber dananya 2ga"i# upah# honor atau apa pun nama lainnya5 untuk mengadakan transaksi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hukum 2"ual beli# beli!se&a# se&a!menye&a# pin"am!memin"am# dan sebagainya5 tentang produk
konsumen dengan pelaku usaha itu.
In'ormasi dari kalangan pemerintah dapat diserap dari berbagai pen"elasan# siaran# keterangan# penyusun peraturan perundang!undangan se%ara umum atau dalam rangka deregulasi# dan=atau tindakan pemerintah pada umumnya atau tentang suatu produk konsumen. Dari sudut penyusunan peraturan perundang!undangan terlihat in'ormasi itu termuat sebagai suatu keharusan. Beberapa diantranya# ditetapkan harus dibuat# baik se%ara di%antumkan pada maupun dimuat di dalam &adah atau pembungkusnya 2antara lain label dari produk makanan dalam kemasan5. (edang untuk produk hasil industri lainnya# in'ormasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh pemerintah# standar internasional# atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang ber&enang.
6. Beberapa Bentuk In'ormasi
Di antara berbagai in'ormasi tentang barang atau "asa konsumen yang diperlukan konsumen# tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah in'ormasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. Terutama dalam bentuk in'ormasi pengusaha lainnya.
Iklan adalah bentuk in'ormasi yang umumnya bersi'at sukarela# sekalipun pada akhir! akhir ini termasuk "uga yang diatur di dalam Undang!Undang tentang Perlindungan onsumen 2pasal -# +# +6# +/# +# dan pasal 65.
a. Tentang Iklan
UHPerdata 2itab Undang!Undang Hukum Perdata5 dan=atau UHD 2itab Undang!Undang Hukum Dagang5# keduanya diumumkan pada tanggal / April +79 dalam (taasblad no. 6/ dengan segala tambahan dan=atau perubahannya# tidak memberikan pengertian dan=atau memuat kaidah!kaidah tentang periklan.
,enurut ketentuan dari UU No. 7 Tahun +--- tentang Perlindungan onsumen# Pasal - ayat 2+5 berbunyi;
#elau usaha dilarang mena"aran, mempromosian, meng/ilanan suatu *arang dan0atau 1asa secara tida *enar dan0atau seolah/olah2 dan seter usn(a.
(ayangnya dalam undang!undang ini tidak di%antumkan apa yang dimaksud dengan ikaln. )ang terdapat dalam perundang!undangan ini hanyalah berbagai larangan dan suruhan berkaitan dengan periklanan sa"a. Departemen esehatan menetapkan sebagai @iklan adalah
usaha dengan %ara apa pun untuk meningkatkan pen"ualan# baik se%ara langsung maupun tidak langsung.+<>+<?
Adapun sistem penyiaran nasional pasal + butir 2<5 merumuskan siaran iklan adalah siaran in'ormasi yang bersi'at komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya "asa# barang# dan gagasan yang dapat diman'aatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan
kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan. Pasal + butir 2C5 menyatakan siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau tele*isi dengan tu"uan memperkenalkan# memasyarakatkan# dan=atau mempromosikan barang atau "asa kepada khalayak sasaran untuk memengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang
dita&arkan .
,engenai perilaku periklanan yang lengkap diatur dalam Pasal + Undang!Undang No. 7 Tahun +--- tentang Perlindungan onsumen# adalah sebagai berikut;
+5 Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang;
a. ,engelabui konsumen mengenai kualitas# kuantitas# bahan# kegunaan# dan harga barang dan=atau tari'' "asa serta ketepatan &aktu penerimaan barang dan=atau "asa#
b. ,engelabui "aminan=garansi terhadap barang dan=atau "asa#
%. ,emuat in'ormasi yang keliru# salah# atau tidak tepat mengenai barang dan=atau "asa# d. Tidak memuat in'ormasi mengenai risiko pemakaian barang dan=atau "asa#
65 Pelaku usaha periklanan dilarang melan"utkan peradaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat 2+5.
b. Tentang Label
In'ormasi produk konsumen yang bersi'at &a"ib ini# ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang!undangan. Pengaturan tentang in'ormasi yang disebut dengan berbagai istilah seperti penandaan# label# atau etiket. ,engenai Pasal / ayat 265 e dalam pen"elasan Undang!Undang Pangandisebutkan bah&a keterangan halal untuk suatu produk pangan sangat penting bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk agama islam. etentuan tersebut terdapat dalam berbagai peraturan perundang!undangan. Namun pen%antumannya pada label pangan baru merupakan ke&a"iban apabila setiap orang yang memproduksi
pangan dan=atau memasukkan pengan ke dalam &ilayah Indonesia untuk diperdagangkan menyatakan bah&a pangan yang bersangkutan adalah halal bagi umat islam.
onsumsi daging bagi konsumen di Indonesia yang mayoritas beragama Islam# &alaupun se%ara ilmiah daging tersebut sehat dikonsumsi# namun konsumen yang beragama Islam masih memebutuhkan persyaratan lain yang dapat menentramkan hatinya. Hal ini harus diperhatikan# karena salah satu keharusan bagi importer dan=atau pengedar daging yang berasal dari luar negeri adalah men%egah timbul dan men"alarnya penyekit he&an yang dapat ditularkan melalui daging yang diimpor dan=atau diedarkannya# serta ikut bertanggung "a&ab atas keamanan dan ketentram batin konsumen. Untuk men"aga ketentraman batin konsumen tersebut# maka pemasukan daging untuk konsumsi umum atau diperdagangkan harus berasal dari ternak yang pemotongannya dilakukan menurut syariat islam dan dinyatakan dalam serti'ikat halal.+C>+C?
BAB IJ PENUTUP
+. Kesim(ulan
esadaran konsumen bah&a mereka memiliki hak#ke&a"iban serta perlindungan hukum atas mereka harus diberdayakan dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang layak atas mereka# mengingat 'aktor utama perlakuan yang semena!mena oleh produsen kepada konsumen adalah kurangnya kesadaran serta pengetahuan konsumen akan hak!hak serta ke&a"iban mereka.
Pemerintah sebagai peran%ang#pelaksana serta penga&as atas "alannya hukum dan UU tentang perlindungan konsumen harus benar!benar memperhatikan 'enomena!'enomena yang ter"adi pada kegiatan produksi dan konsumsi de&asa ini agar tu"uan para produsen untuk men%ari laba ber"alan dengan lan%ar tanpa ada pihak yang dirugikan# demikian "uga dengan konsumen yang memiliki tu"uan untuk memaksimalkan kepuasan "angan sampai mereka dirugikan karena kesalahan yang diaibatkan dari proses produksi yang tidak sesuai dengan setandar berproduksi yang sudah tertera dalam hukum dan UU yang telah dibuat oleh pemerintah.
esadaran produsen akan hak!hak konsumen "uga sangat dibutuhkan agar ter%ipta harmonisasi tu"uan antara produsen yang ingin memperoleh laba tanpa membahayakan konsumen yang ingin memiliki kepuasan maksimum#
Agar ketentuan tersebut tidak membingungkan# maka sebaiknya disebut se%ara langsung bah&a setiap konsumen yang dirugikan dapat mengugat pelaku usaha melalui badan penyelesaian sengketa konsumen 2BP(5 atau melalui pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.
6. Saran
A. Perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia# &alaupun telah mengalami kema"uan# terutama setelah lahirnya UUP# namun masih perlu adanya langkah peningkatan# terutama aspek!aspek yang diatur se%ara tegas dalam UUP# sehingga akan semakin mendekati berbagai perinsip yang memberikan perlindungan konsumen di Negara ma"u.
B. Demikian pula kekurangan!kekurangan dalam UUP agar segera dire*isi# dengan tetap menga%u pada tiga prinsip perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia# serta melengkapi peraturan!peraturan pelaksanaan dari UUP# agar konsumen betul!betul dapat menikmati perlindungan hukum sebagaimana yang diharapkan.
DATA1 PU(TAA A. Buku
ristiyanti# 3ellina Tri (i&i. 3uum #erlindungan 4onsumen, (inar 0ra'ika# :akarta. 6-,iru# Ahmadi. #rinsip/prinsip #erlindungan 5agi 4onsumen Di Indonesia# PT. 1a"a 0ra'indo Persada# :akarta. 6++
(iahaan# N.H.T. 3uum 4onsumen #erlindungan 4onsumen Dan Tanggung 6a"a* #rodu # Penerbit Panta 1ei# :akarta. 6<
,iru# Ahmadi# 3uum #erlindungan 4onsumen, $a1a"ali pers, 1aarta 7889,
Abdul rahman saleh# %atatan tentang arbitrase muamalat indonesia#"akarta# tanggal 6/ april +--9#
B. Perundang!undangan
UU No. 7 Tahun +--- Tentang Perlindungan onsumen UUP No.7 Tahun +--- pasal + ayat 6
Peraturan ,enteri esehatan No. /6- Tahun +-C pasal + butir +/ Undang!undang No /6 Tahun 66 tentang Penyiaran
Undang!Undang Pangan adalah Undang!Undang nomor tahun +--C peraturan pemerintah No <- tahun 6+
3. :urnal