3 TINJAUAN PUSTAKA
Asal Usul Ternak Kambing
Kambing merupakan hasil domestikasi dari hewan liar. Penjinakan kambing diperkirakan terjadi di daerah pegunungan Asia Barat selama abad ke-7 sampai ke-9 sebelum masehi. Awalnya kambing yang dijinakkan untuk diperoleh dagingnya. Kambing dimanfaatkan sebagai sumber daging pada awalnya. Kambing sebagai hewan perah juga dianggap hewan yang tertua, jika dipandang dari kemudahannya diperah. Berbagai metode telah digunakan oleh para peneliti terdahulu untuk menggolongkan kambing sebagai hewan peliharaan, dengan mendasarkannya pada berbagai sifat seperti fungsi, daerah asal geografis, serta sikap kepala dan tubuh ketika berjalan (Devendra dan Burns, 1994).
Kambing adalah hewan yang sangat penting dalam pertanian subsistem karena kemampuannya yang unik untuk mengadaptasikan dan mempertahankan dirinya dalam lingkungan yang keras. Asal-usul kambing masih ditentukan dengan jelas meskipun bukti-bukti yang tersedia menunjukkan bahwa bezoar Asia Barat daya adalah nenek moyang kambing yang utama. Ada empat cara pengklasifikasian kambing yaitu berdasarkan asal-usulnya, kegunaannya, besar tubuhnya, dan bentuk serta panjang telinganya (Williamson dan Payne, 1993).
Kambing Etawah, masuk ke Indonesia pertama oleh orang Belanda pada tahun 1920-an, orang Belanda tersebut membawa banyak kambing Etawah pertama kali ke Pulau Jawa, tepatnya di Jogyakarta. Kambing ini lebih terkenal sebagai kambing perah atau penghasil susu, dimana saat itu kambing ini disebut dengan kambing Benggala atau kambing Jamnapari sesuai dengan asalnya di India. Selanjutnya kambing Etawah ini dikembangbiakkan di daerah perbukitan Menoreh sebelah barat Jogyakarta dan di Kaligesing, Purworejo. Seiring dengan perjalanan waktu terjadilah perkawinan silang antara kambing Etawah dengan kambing lokal (seperti kambing Jawarandu atau kambing Kacang,) dan ternyata keturunan yang dihasilkan lebih bagus daripada kambing lokal (Dinas Kesehatan Hewan, 2010).
4 Gambar 1. Kambing PE
Kambing Etawah atau kambing Jamnapari berasal dari distrik Etawah daerah antara Sungai Yamuma dan Chambal Provinsi Utara Pradesh, India. Kambing Etawah yang didatangkan ke Indonesia bertujuan untuk memperbaiki kambing-kambing lokal yang memiliki tubuh kecil, karena kambing-kambing Etawah adalah bangsa kambing tipe besar sehingga diharapkan melalui persilangan antara kambing Etawah dan kambing Kacang akan muncul bangsa kambing baru yang lebih besar dari kambing Kacang dan mampu menghasilkan susu dengan baik (Heriyadi, 2004). Kambing Jamnapari atau Etawah sangat baik sebagai hewan perah dan sebagai penghasil daging. Ciri-ciri dari kambing Etawah adalah telinganya menggantung dengan panjang kurang lebih 30 cm, mempunyai berbagai warna (putih, merah coklat, dan hitam), ambingnya berkembang baik, bentuk muka cembung, dan biasanya bertanduk pendek yang berbentuk pedang lengkung (Devendra dan Burns, 1994).
Potensi Ternak Kambing Faktor Lingkungan
Adaptasi fisiologi didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku ternak. Kemampuan seekor ternak untuk mengatasi pengaruh lingkungan yang baru berasal dari kapasitasnya untuk menanggapi peubah lingkungan sambil tetap mempertahankan keseimbangan tubuh. Perubahan lingkungan yang secara serius cukup menantang bagi satu individu mungkin kurang menghasilkan respon yang dapat diukur pada individu yang lain. Adaptasi kambing lokal meliputi: anatomis,
5 respon morfologis dan fisiologis, perubahan tingkah laku makan, metabolisme, dan penampilan (Mastika, 1993).
Semua ternak domestik mempertahankan suhu tubuhnya pada kisaran yang paling cocok untuk terjadinya aktivitas biologis yang optimum. Kisaran yang paling normal pada jenis mamalia adalah 370C-390C, sedangkan pada burung adalah 400 C-440C. Produksi panas yang bervariasi tergantung pada cara ternak mengeluarkan panasnya. Penguapan merupakan cara ternak domestik mengeluarkan panasnya. Pengaruh iklim tidak langsung terhadap ternak terutama pada kuantitas dan kualitas makanan yang tersedia bagi ternak. Pengaruh tersebut tidak langsung dari iklim karena ada faktor lain yaitu penyakit dan parasit (Williamson dan Payne, 1993).
Kambing PE dapat beradaptasi dengan baik terhadap kondisi alam Indonesia, mudah dipelihara dan merupakan ternak jenis unggul penghasil daging serta susu. Produksi daging kambing PE lebih tinggi dibanding kambing Lokal (Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011). Daerah tropis memiliki iklim yang tidak seragam dan sering terdapat perbedaan iklim yang tajam yang disebabkan oleh berbagai faktor geografi, seperti ketinggian daerah dan tekanan udara sehingga beberapa daerah tropis dapat mempunyai iklim subtropis, disamping kisaran utama iklimnya panas-kering sampai panas-lembab. Oleh karena itu, tatalaksana pemeliharaan dan bangsa kambing yang dikembangkan di daerah beriklim subtropis dapat diterima dengan baik dibeberapa tempat (Devendra dan Burns, 1994).
Faktor Pakan
Setiap hari kambing membutuhkan pakan hijauan sebanyak 10% berat badannya. Berhubung kambing mempunyai sifat memilih pakan yang disajikan, maka hijauan perlu diberikan dua kali lipat dari kebutuhan yang disediakan pada pagi dan sore. Selain hijauan, idealnya kambing diberi konsentrat (dedak padi, dedak jagung, dan ketela), khususnya bagi kambing yang sedang tumbuh, bunting, menyusui dan ternak jantan yang sedang aktif memacek. Jumlah konsentrat yang diberikan 1% berat badan, disajikan pagi hari. Selain itu juga, kambing perlu diberi garam dapur untuk meningkatkan palatabilitas terhadap pakan yang diberikan. Sebaiknya garam disediakan dalam wadah tersendiri yang dipasang di dalam kandang sehingga kambing bisa menjilat garam sesuai kebutuhan (Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011).
6 Novita et al. (2006), melaporkan bahwa jerami padi yang difermentasi dengan urea dan probiotik baik yang dipotong maupun digiling dan dikombinasikan dengan konsentrat mempengaruhi reproduksi, pertumbuhan induk kambing selama bunting dan laktasi, pertumbuhan anak kambing, produksi susu dan kualitas susu, sehingga dapat menggantikan rumput gajah sebagai sumber serat dalam ransum. Namun penggunaannya dalam jangka panjang perlu dipertimbangkan karena pemberian dalam bentuk potongan atau cacah dapat menurunkan kondisi tubuh induk. Kambing memiliki kebiasaan makan yang berbeda dengan ruminansia lainnya dan bila tidak dikontrol dapat mengakibatkan kerusakan. Kambing mampu merumput pada bagian rumput yang sangat pendek dan meragut dedauanan yang biasanya tidak dimakan oleh ternak lainnya (Devendra dan Burns, 1994).
Pemberian pakan yang sangat tinggi (200% maintenance) pada periode sebelum implantasi dapat mempengaruhi daya hidup embrio. Pakan yang terlalu tinggi selama akhir kebuntingan dapat mengakibatkan distokia, akibatnya induk dan anak menjadi lemah dan mati oleh lamanya proses kelahiran. Kekurangan pakan juga berakibatkan menurunkan bobot lahir lahir anak yang lahir, sehingga ternak menjadi lemah (Feradis, 2010).
Kambing memiliki kebiasaan makan yang unik yaitu kambing akan menolak makanan yang telah dikotori hewan lain. Kambing menyukai pakan beragam dan tidak bisa tumbuh dengan baik bila terus diberi pakan yang sama dalam jangka waktu lama. Kambing memiliki indera pengecap yang baik, sehingga dapat membedakan rasa pahit, manis, asin, dan asam. Kambing mempunyai toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa pahit dibandingkan sapi (Devendra dan Burns, 1994). Berdasarkan hasil penelitian Mathius, et al. (2002), Kambing PE muda yang mendapat pakan perlakuan dengan kandungan protein kasar dan energi sebanyak 14,4% BK dan 2,63 Mkal EM/kg BK memberikan respon terbaik dengan pertambahan bobot hidup harian 123 gram. Kebutuhan hidup pokok kambing PE muda dibutuhkan energi metabolis dan protein kasar adalah 0,106 Mkal EM/kg BH0,75 dan 4,40 g/kg BH 0,75. Sementara untuk setiap gram pertambahan bobot hidup dibutuhkan protein kasar sejumlah 0,315 gram dan energi metabolis sejumlah 7,59 kkal. Munier (2006) melaporkan bahwa pemberian pakan tambahan gamal (Gliricidia sepium) pada
7 kambing meskipun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap PBHH tetapi masih dapat meningkatkan PBHH kambing betina.
Potensi Pakan
Leguminosa Indigofera sp. cukup potensial dimanfaatkan sebagai pakan kambing karena menujukkan pertumbuhan yang baik dengan produksi yang tinggi (51 ton segar/ha/panen) serta nilai nutrisi yang tinggi (protein kasar 24,17% dan energi bruto 4,038 Kkal/kg). Palatabilitas Indigofera sp. tidak berbeda nyata dengan Leucaena leucocephala (konsumsi bahan kering masing-masing sebesar 187,38±29,69 dan 193,85±21,83 g/ekor/hari) (Sirait, et al., 2012). Program pengembangan pakan alternatif berbasis limbah pertanian dan industri agro yang telah dilaksanakan menunjukkan potensi beberapa tanaman hortikultura sebagai sumber bahan baku pakan. Pakan alternatif yang digunakan adalah limbah hasil pengolahan buah markisa dan buah nnenas, keduanya digunakan sebagai penyusun konsentrat (sumber energi atau protein) maupun sebagai pakan dasar. Potensi ini menyebabkan ketergantungan yang minimal akan hijauan pakan yang pada dasarnya sangat terbatas pada agroekosistem hortikultura, sehingga produksi kambing sepenuhnya didukung oleh limbah hortikultura.(Simon et al., 2003). Rumput S. secundatum atau B. Humidicola yang memiliki toleransi yang baik terhadap naungan, secara kualitatif juga memiliki potensi yang baik sebagai hijauan pakan untuk ternak kambing. Walaupun kandungan protein termasuk sedang, namun berada diatas ambang batas yang dapat menyebabkan rendahnya konsumsi pada ternak, hal ini terlihat pada taraf konsumsi ternak pada kisaran standar. Koefisien cerna beberapa unsur nutrisi yang penting bagi ternak berada pada kisaran sedang sampai tinggi, sehingga sebagai hijauan pakan dapat menyediakan nutrisi bagi kebutuhan hidup pokok maupun produksi. Kedua jenis rumput dapat direkomendasikan sebagai alternatif tanaman pakan ternak pada sistem integrasi tanaman-ternak, khususnya tanaman perkebunan dengan ternak kambing. (Simon et al., 2006).
Ada beberapa tanaman hortikultura dan perkebunan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk kambing yaitu anakan tanaman pisang dapat digunakan sebagai pakan dasar sebanyak 20% total ransum pada kambing dewasa. pemberian kulit nenas dalam bentuk tepung ad libitum pada kambing menghasilkan
8 pertambahan bobot badan yang baik (60,0 g/h) dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Lumpur minyak sawit (decanter) dapat digunakan sebagai suplemen tunggal pada taraf 1,0% bobot badan dan menghasilkan pertambahan bobot badan 50-60 g/h. Daun kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan dasar pengganti rumput, walaupun palatabilitasnya. rendah, sehingga membutuhkan waktu adaptasi panjang (>1 bulan) sebelum kambing mampu mengkonsumsi dalam jumlah cukup. Untuk meningkatkan konsumsi daun kelapa sawit pemberiannya dapat digunakan sebagai sumber serat dalam pakan komplit. Penggunaan daun kakao sebagai suplemen tunggal (20%) dengan pakan dasar gamal (80%) menghasilkan pertuymbuhan yang sangat baik pada kambing (78 g/h). Penggunaan tepung limbah kopi disarankan tidak melebihi 20% total ransum. Penggunaan 40% dalam ransum menurunkan konsumsi sebesar 22% dan menekan pertumbuhan, sedang penggunaan 60% dalam ransum bahkan menggangu kesehatan kambing, walaupun kecernaan bahan organik ampas kopi cukup tinggi. Pucuk tebu (Saccharum officinarum) dapat digunakan sebagai suplemen tunggal, dan konsumsi dapat ditingkatkan bila pucuk tebu dicacah menjadi potongan ukuran kecil 1-3 cm dibandingkan dengan potongan lebih panjang, misalnya 20 cm. Ampas teh dapat digunakan baik sebagai pakan dasr pengganti rumput (20%) maupun sebagai suplemen, terutama sebagai sumber protein pada kambing (Simon dan Ginting, 2005).
Faktor Ekonomi
Beternak kambing PE lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan memelihara kambing lokal atau domba. Beberapa nilai ekonomis dari berternak kambing PE antara lain: (a) Penghasil susu ,di Indonesia susu kambing dikonsumsi sebagai obat alternatif, bukan sebagai pelengkap gizi. Umumnya, orang mengkonsumsi susu ini untuk membantu penyembuhan penyakit asma, tuberkolosis (TBC), eksim, membantu penyehatan kulit, mencegah penuaan dini dan mencegah osteoporosis. (b) Kambing ketika masa laktasi mampu menghasilkan 0,8 l - 2,5 l susu perhari, dengan harga jual antara Rp15.00 - 20.000/l. (c) Penghasil pupuk dan kulit, kotoran kambing PE dapat digunakan sebagai pupuk organik sedangkan kulitnya karena mempunyai ukuran yang lebih besar daripada kulit kambing lokal, maka kulit kambing PE banyak dicari orang untuk digunakan sebagai bahan kerajinan kulit. (d) Sebagai sumber pendapatan beternak kambing PE, dapat
9 digunakan sebagai sumber pendapatan alternatif di pedesaan yang sangat menjanjikan bila ditekuni secara serius, biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan kandang dan biaya perawatan relatif sama bila dibandingkan dengan biaya memelihara kambing lokal (Dinas Kesehatan Hewan, 2010).
Manfaat utama berternak kambing dan domba adalah bisa dimiliki oleh petani miskin dan petani penggarap dimana pemilihan ternak tersebut sering dijadikan sebagai sumber mata pencaharian utama. Ternak ruminansia kecil merupakan satu-satunya sumber pendapatan bagi mereka yang tidak mempunyai lahan pertanian bagi petani tersebut (Mastika, 1993). Menurut Sutama (2008), diilihat dari prospek ekonomi, permintaan akan susu di Indonesia semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Dengan demikian, produksi susu kambing dapat menjadi bagian dari usaha peningkatan produksi susu dalam negeri. Ukuran tubuh yang kecil, berarti untuk mengembangkan usaha peternakan kambing diperlukan investasi awal yang relatif lebih rendah dan kerugian karena kematian atau kehilangan juga lebih kecil. Hal ini sangat sesuai dan menarik bagi petani miskin di pedesaan.
Permintaan Terhadap Kambing dan Susu
Menurut Siregar (1996), bahan baku pakan yang dapat diberikan untuk kambing terdiri atas dua jenis yaitu pakan hijauan dan pakan konsentrat. Pakan hijauan merupakan pakan kasar yang dapat berupa rumput lapang, rumput jenis unggul dan jenis kacang-kacangan. Pakan konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung, bekatul, dedak gandum dan bungkil. Konsentrat untuk kambing laktasi disarankan 0,5-1 kg/hari. Menurut Atabany (2002), tipe dan jumlah pakan harus disesuaikan dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan. Kambing jantan yang tidak aktif dan induk kering dibedakan pakannya dengan induk laktasi dan kambing jantan aktif. Pemberian konsentrat diperlukan, akan tetapi jangan terlalu banyak karena akan menyebabkan kegemukan. Seekor kambing dengan berat badan 40 kg dan berproduksi 2 liter per hari diberikan 5 kg hijauan dan 0,5 – 1,0 kg konsentrat. Kadang – kadang kambing sedang laktasi diberikan hijauan secara ad libitum dan konsentrat yang mengandung protein kasar 16% sebanyak 0,5 kg per ekor per hari. Persentase pakan hijauan dan
10 konsentrat agar diperoleh ransum yang murah dan koefisien cerna yang tinggi digunakan perbandingan pakan hijauan 60% dan konsentrat 40%. Atabany (2001) mengungkapkan bahwa persentase pakan untuk kambing laktasi di Peternakan Barokah adalah 60,9% konsentrat dan 39,1% rumput. anak kambing yang baru lahir perlu diberikan kolostrum. Anak kambing minum susu sampai 35 hari sebanyak 1,2 liter/hari. Umur 35 – 70 hari, anak kambing yang menyusu pada induknya minum 1,6 liter/hari dan yang dibesarkan dengan susu pengganti minum sebanyak 2 liter/hari. Anak kambing mulai mencicipi makanan padat ketika berumur sekitar 2–3 minggu.
Tingkat permintaan daging kambing tidak terlalu fluktuatif sepanjang tahun, namun permintaan akan meningkat dengan cepat pada saat Hari raya Idul Adha. Pada hari raya tersebut, biasanya permintaan daging akan meningkat dan harga akan meningkat pula. Pada Hari raya Idul Adha, dijual kambing hidup yang sehat untuk digunakan pada kegiatan keagamaan. Laju peningkatan populasi yang tidak seimbang dengan laju permintaan kambing tersbut akan menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan produksi tersebut. Jika diperkirakan seekor kambing dapat menghasilkan daging seberat 10 kg, laju permintaan daging kambing 6% per tahun dan laju peningkatan populasi kambing sebesar 3% per tahun (Dhican, 2006). Kebutuhan daging termasuk daging kambing yang semakin meningkat belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi di dalam negeri sehingga jumlah impor komoditi tersebut cenderung meningkat. Hal ini menjadi peluang bagi produsen di dalam negeri untuk meningkatkan produksinya sehingga kebutuhan di dalam negeri terpenuhi dan kelebihan produksi dapat diekspor (Makka, 2004).
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2006), permintaan susu sapi maupun kambing di Jawa Barat terus meningkat dari 176.650 di tahun 2005 menjadi 208.698 ton pada tahun 2006. Adapun produksi riil susu secara nasional tahun 2006 adalah 0,577 juta ton sehingga masih perlu 2,493 juta ton lagi untuk memenuhi kebutuhan susu nasional. Konsumsi susu dari tahun ke tahun terus meningkat.
Harga Susu dan Kambing
Harga yang sangat menarik karena harga susu kambing jika dibandingkan harga susu sapi yang dapat mencapai 10 kali lipat. Harga susu kambing Etawah segar adalah Rp 12.000/liter di Jakarta, sebaliknya harga susu sapi Rp 2000–3000,-/liter (Dhican, 2006). Menurut Asmoro ( 2012), susu kambing murni dijual seharga Rp
11 39.000 / liter. Sedangkan susu kambing kolostrum atau susu yang baru pertama kali keluar dijual lebih mahal. Yaitu Rp 300.000 / liter.
Harga kambing kontes jauh lebih mahal dibanding dengan harga kambing perah. Kambingkontes menjapai harga Rp 10 juta, sedangkan kambing perah Rp 1,5– 2,5 juta. Kambing perah ini tidak butuh perawatan khusus. Setiap ekor kambing butuh biaya hidup Rp 5.000 / hari, seudah termasuk biaya tenaga perawat (Asmoro, 2012). Berikut adalah hasil penjualan kambing di Sukabumi dan Lampung pada tahun 2001.
Tabel 1. Penjualan Kambing Selama Setahun Terakhir yang Dilakukan Peternak Di Sukabumi dan Lampung
Status Sukabumi Lampung
Fisiologis Ekor total (RP) rataan (Rp) Ekor total (RP) rataan (Rp) Jantan dewasa 23 5.800.000 252.000 9 5.940.000 660.000 Betina dewasa 9 1.880.000 208.900 4 675.000 168.750 Jantan muda 4 800.000 200.000 8 1.075.000 134.475 Betina muda 7 255.000 65.000 10 1.210.000 121.000 Jantan anak - - - 2 150.000 75.000 Betina anak - - - 3 250.000 83.333 Total 43 8.935.000 - 36 10.650.000 - Rata/peternak 1,59 330.925 - 1,89 560.526 - Sumber: Priyanto et al., 2001
Sosial Budaya Masyarakat
Masyarakat Indonesia mengenal produk kambing berupa daging, kulit, dan susu kambing. Ternak dapat dijual saat dibutuhkan karenanya penjualan terjadi setiap saat dengan harga cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan permintaan akan daging kambing meningkat, akan tetapi untuk pemasaran susu kambing masih memerlukan proses yang cukup lama. Peran kambing bagi petani dalam sistem usahatani umumnya masih sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dijual untuk memenuhi kebutuhan dana yang relatif besar dan mendesak seperti pembayaran biaya sekolah, biaya pernikahan anak, kelahiran, biaya kesehatan, pembangunan/perbaikan rumah, dan lain sebagainya. Permintaan akan kambing untuk Idul Adha cukup besar dengan meningkatnya kondisi ekonomi masyarakat, dikaitkan dengan kewajiban sebagai umat beragama. Dalam konteks sosial-budaya masyarakat Indonesia maka bagi petani ketersediaan pangan dari tanaman pangan umumnya cukup, dan selama empat dekade lalu tidak ada laporan kejadian kelaparan (honger oedeem = HO). Sebagai
12 suatu usaha integrasi tanaman pangan-kambing, kesenangan petani akan kambing dikaitkan dengan kemudahan dan harga yang relatif terjangkau petani disamping ketersediaanya, maka usaha ternak kambing cukup menarik. Masyarakat Indonesia mengenal produk kambing berupa daging, kulit dan susu kambing. Ternak dapat dijual saat membutuhkan karenanya penjualan terjadi setiap saat dengan harga cukup tinggi. Karena kondisi ini maka permintaan akan daging kambing bukan masalah, akan tetapi untuk pemasaran susu kambing masih memerlukan proses yang cukup lama (Djajanegara dan Misniwaty, 2003).
Nilai positif ternak kambing bagi kepentingan petani di pedesaan, antara lain: (1) Ternak kambing dapat dipotong sewaktu-waktu untuk keperluan sendiri, pesta adat, atau menjamu tamu yang datang. (2) Kambing merupakan sumber penghasilan dan tabungan. (3) Kambing mudah dirawat, karena hampir semua jenis tanaman dapat digunakan sebagai sumber pakan. (4) Kambing dapat berkembang biak dengan cepat. (5) Kotoran kambing yang terkumpul dapat digunakan untuk pupuk sehingga dapat menyuburkan tanaman dan memperbaiki mutu tanah pertanian. (6) Modal yang diperlukan untuk memulai beternak kambing tidak besar (Sitepu, 2008).
Menurut Diwyanto el al. (2001), memelihara ternak dengan alasan menabung ternyata memperoleh banyak keuntungan, antara lain: ternak akan tumbuh atau berkembang sehingga nilainya bertambah; resiko kematiannya ternak relatif kecil; serta untuk beberapa peternak menggunakan pendekatan ini untuk tujuan tertentu. Oleh karena itu mengkombinasikan budaya menabung, bekerja, dan menerapkan teknologi tepat guna dalam memelihara ternak dapat menjadi salah satu pilihan untuk menciptakan kondisi agar petani mau memelihara ternak. Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, produk-produk yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan bagi umat muslim sangat berpotensi untuk dikembangkan. Salah satu produk peternakan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan adalah ternak kambing. Kebutuhan akan hewan kurban di Provinsi Jawa Barat mencapai 40 ribu ekor per tahun, sementara kemampuan suplai hanyalah setengah dari permintaan. Kondisi ini mengidentifikasi bahwa permintaan akan daging kambing sangat tinggi. Selain itu, susu kambing banyak diyakini orang memiliki khasiat dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti penyakit kuning, asma, kulit, bronchitis, TBC, asam urat, impotensi dan darah tinggi. Hal ini
13 menyebabkan permintaan susu kambing terus meningkat. oleh karena itu kedua hal tersebut dapat menjadi peluang bagi peternak kambing PE (Prihatini, 2008).
Karakteristik Produksi Bobot Badan Ternak Kambing
Rataan berat lahir anak kambing PE yang diamati 3,84 kg (kisaran 2,O-6,0 kg). Berat lahir anak jantan 3,97 kg dan anak betina 3,73kg. Berat lahir anak tunggal 4,26 kg, kembar dua 4,08 kg dan kembar tiga 3,17 kg dan kembar empat 2,63 kg (Atabany et al., 2004). Berdasarkan hasil penelitian Mahmilia et al. (2008), bobot lahir dipengaruhi oleh jenis kelamin dan tipe kelahiran. Bobot lahir jantan (2,21±0,51 kg) lebih tinggi dibandingkan dengan betina (2,01±0,52 kg) dan tipe kelahiran tunggal (2,30±0,48 kg) lebih tinggi dibandingkan kelahiran kembar (1,84±0,46 kg).
Tinggi rendahnya bobot lahir (birth weight) anak kambing sangat dipengaruhi oleh kondisi induknya saat masa kebuntingan. Faktor utama yang paling menentukan adalah pakan yang berkaitan dengan jumlah dan mutu pakan yang dikonsumsi kambing. Kebutuhan pakan bagi kambing yang sedang bunting melebihi porsi pada kambing yang tidak bunting karena kebutuhan untuk hidup pokok calon induk untuk pertumbuhan calon anak yang dikandungnya. Kekurangan pakan (unsur nutrisi) umumnya mengakibatkan lemahnya fisik calon induk, produksi air susu rendah menjelang kelahiran, kondisi fisik anak lemah dan bobot lahir rendah (Munier, 2008). Rataan bobot lahir anak kambing PE jantan dan betina setelah diberikan perlakuan pakan kulit buah kakao (KBK) dapat dilihat pada Tabel 2 :
Tabel 2. Rataan Bobot Lahir Anak Kambing PE Jantan dan Betina
Perlakuan Bobot lahir jantan (kg) Bobot lahir betina (kg) Rataan
P0 2,70a 2,40a 2,55
P1 3,05b 2,60b 2,83
P2 3,15b 2,90c 3,03
Keterangan: Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,01). P0:pemberian pakan tanpa KBK (kebisaan peternak), P1: 1000 gr/ekor/hari, dan P2: 1500 gr/ekor/hari.
Sumber: Munier, 2008
Bobot badan kambing PE dewasa jantan 65–90 kg dan betina 45–70 kg, sedangkan kambing lokal jantan dewasa 30–40 kg dan betina 20–30 kg. Kambing PE dapat memproduksi susu 1-3 l/hari, sedangkan kambing Lokal 0,5 l/hari. Kambing
14 PE sangat prospektif untuk usaha pembibitan untuk memproduksi anak. Harga anak kambing PE bisa mencapai 3–5 kali harga anak kambing lokal. Kambing PE dapat beranak pertama pada umur 16–18 bulan, dalam 2 tahun dapat beranak 3 kali dengan masa produktif 5 tahun. Anak kambing PE bisa kembar 2 atau 3 (Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo, 2011). Menurut Devendra dan Burn (1994), bobot badan kambing PE jantan 68-91 kg dan betina 36-63 kg. Bobot badan hidup kambing PE jantan sekitar 40 kg dan betina 35 kg (Mulyono, 1999).
Produksi Susu dan Daging
Produksi susu kambing yang dikandangkan kurang lebih dua kali lipat hasil susu kambing yang digembalakan, tetapi tidak beda nyata dalam persentase lemak atau kasein meskipun keduanya lebih tinggi sedikit pada kambing yang digembalakan. Tiga perempat protein susu kambing adalah kasein, selebihnya adalah gamma globulin 0,19%, beta laktoglobulin 0,48%, alfa laktalbumin 0,25%, dan serum albumin 0,08% (Devendra dan Burns, 1994). Komposisi susu kambing dari beberapa penelitian dapat disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Susu Kambing dari Beberapa Penelitian
Sumber BK Lemak PK Laktosa Abu
(%) (%) (%) (%) (%) Edelsten (1988) dan Tilman et al. (1991) 13,50 – 14,80 4,00 - 5,60 3,60 – 3,80 - - Katipana (1986) 14,8 5,05 4,33 2,57 - Berg (1990) - 4,5 - 4,4 - Devendra (1990) 12,1 3,9 3,4 3,8 - Ernawati (1989) 13,99 4,92 4,36 4,73 - Subhagiana (1998) 13,70 – 14,30 4,22 – 4,44 3,55 – 4,03 4,63 – 5,46 0,62 – 0,80 Sumber: Atabany, 2001
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi susu adalah jumlah kambing laktasi, penggunaan tenaga kerja, jumlah pakan hijauan, dan jumlah pakan konsentrat. Produksi susu dapat ditingkatkan dengan cara menambah pemilikan jumlah kambing laktasi oleh peternak, karena rataan pemilikan kambing laktasi saat
15 dilakukan survey hanya 3,45 ekor (0,49 Satuan Ternak) dengan kisaran antara satu sampai sembilan ekor setiap peternak. Dengan pemilikan jumlah kambing laktasi harus diimbangi pula pemberian pakan konsentrat yang lebih baik kuantitas maupun kualitasnya (Astuti et al., 2002).
Berdasarkan hasil penelitian Novita et al. (2006), produksi susu selama 3 bulan laktasi tidak dipengaruhi jenis ransum. Rataan produksi susu mencapai 754 g/hari dengan kisaran 585-970 g/ekor/hari. Rataan yang tertinggi terdapat pada perlakuan KRG (konsentrat + jerami pada fermentasi giling) dan yang terendah pada perlakuan KJP ( konsentrat + jerami padi fermentasi potong), dan puncak produksi susu pada penelitian ini dicapai rata-rata pada minggu ke lima laktasi.
Ada tiga jenis daging kambing yang dihasilkan dan dikonsumsi di daerah tropis, yaitu: (a) daging anak kambing (umur 8-12 minggu), (b) daging kambing muda (umur 1-2 tahun), dan (c) daging kambing tua (2-6 tahun). Anak kambing biasanya disembelih pada umur kurang lebih 8-12 minggu, ketika berat hidupnya sekitar 6-8 kg. Kambing muda disembelih pada berat hidupnya berkisar 12,9-24,7 kg pada jantan dan antara 11,2-19,7 kg pada betina. Kambing yang disembelih pada umur 2-6 tahun dapat berupa kambing tipe pedaging atau perah (Devendra dan Burn,1994).
Karakteristik Reproduksi Kambing PE Produktivitas Kambing PE
Libido dan kemampuan kawin ternak jantan berhubungan erat dengan efisiensi pejantan dalam melakukan perkawinan. Libido ditandai dengan beberapa kali ternak jantan menaiki betina birahi, sedangkan kemampuan kawin ditandai dengan jumlah ejakulasi. Semakin kecil perbandingan antar jumlah menaiki dengan jumlah ejakulasi, maka semakin efisien ternak jantan dalam melakukan perkawinan. Sistem perkawinan secara alami yang terbaik adalah menggunakan kambing PE jantan yang berumur 54 bulan yang ditempatkan dalam kelompok betina seluruhnya (Hatono et al., 1997).
Berdasarkan hasil penelitian Atabany (2001), umur kawin pertama dipengaruhi oleh pencapaian dewasa kelamin, pencapaian dewasa tubuh pada kambing dara, dan kandungan nutrisi pada pakan yang dikonsumsi. Umur pertama
16 kawin kambing ketika berumur 403,32 hari (13,44 bulan) dan pada peternakan kambing Saanen 446,87 hari (14,89 bulan). Kambing Peranakan Etawah (PE) betina mencapai pubertas (birahi pertama) pada umur 10-12 bulan dan pada berat badan sekitar 13,5-22,5 kg (rataan 18,5 kg) atau sekitar 55-60% dari berat badan dewasa. Umumnya birahi pertama diikuti oleh ovulasi (Sutama et al., 1995), sehingga perkawinan pertama dapat menghasilkan kebuntingan. Walaupun demikian, penundaan umur perkawinan pertama perlu dilakukan untuk memberi kesempatan ternak untuk mencapai kondisi dan berat badan yang cukup untuk mempertahankan kebuntingan dan kinerja produksi dan reproduksi selanjutnya (Sutama dan Budiarsana, 1997). Data pada Tabel 4 menunjukkan rataan bobot kambing PE masa pubertas berdasarkan jenis kelamin dan umur.
Tabel 4. Umur dan Berat Badan Pubertas Kambing Peranakan Etawah
Jenis Kelamin Umur (bulan) Berat Badan (kg)
Jantan 6-8 12,9-18,7
Betina 10-12 13,5-22,5
Sumber: Sutama dan Budiarsana, 1997
Pubertas dapat didefinisikan sebagai umur atau waktu dimana organ-organ reproduksi sudah mulai berfungsi dan perkembangbiakkan dapat terjadi. Pubertas pada ternak jantan ditandai dengan kesanggupannya menghasilkan sperma dan berkopulasi disamping perubahan-perubahan kelamin sekunder lain. Pertumbuhan organ reproduksi ternak jantan dimulai dari sempurnanya pertumbuhan testis sampai perkembangan penis secara sempurna, yang kemudian diikuti dengan pubertas di mana ternak mencapai dewasa kelamin dan telah mampu melakukan aktivitas reproduksi, yang ditandai dengan adanya sel-sel sperma hidup dalam ejakulat (Adiati, 2008). Umur pubertas ternak jantan termasuk kambing sangat bervariasi, tergantung dari parameter yang dipakai untuk menentukan pubertas tersebut. Pubertas pada ternak jantan terjadi bila ternak tersebut sudah mencapai dan mempunyai kemampuan untuk memproduksi spermatozoa hidup, mengekspresikan tingkah laku seksual, dan perkembangan penis. Jadi dengan tercapainya pubertas menandakan bahwa ternak tersebut sudah siap untuk bereproduksi, namun untuk mencapai hasil yang lebih baik, khususnya untuk tujuan breeding, perkawinan
17 hendaknya dilakukan saat ternak tersebut telah mencapai dewasa tubuh dan dewasa kelamin (Foote, 1969 dalam Sutama et al., 2006).
Siklus birahi pada kambing PE bervariasi 18-22 hari (rataan 19 hari), dengan lama birahi adalah 25-40 jam. Namun sering juga dijumpai ternak mempunyai siklus yang agak panjang. Tingkat konsepsi pada birahi pertama adalah rendah (45-60%), sebagian disebabkan adanya ternak (5-10%) yang birahi tanpa diikuti dengan ovulasi (Sutama et al., 1994). Masa birahi terjadi hanya beberapa saat, yaitu sewaktu hormon esterogen mencapai puncaknya. Masa birahi kambing terjadi 24-48 jam, sedangkan masa birahi domba hanya 24-36 jam. Satu siklus esterus pada kambing memerlukan waktu 20-21 hari, sedangkan siklus esterus domba lebih pendek yaitu 16-18 hari (Mulyono, 1999).
Menurut Devendra dan Burns (1994), lama kebuntingan kambing berkisar dari 147 hingga 155 hari. Induk harus dipelihara pada kondisi yang baik selama bunting untuk perkembangan normal anaknya yang dikandungnya (Blakely dan Bade, 1991). Berdasarkan penelitian Sutama dan Budiarsana (1997), bahwa lama kebuntingan 144-156 hari (rataan 149 hari) dan jumlah anak sekelahiran 1-3 ekor, tergantung umur dan paritas induk. Lama bunting pada kambing ditemukan agak konstan pada sekitar 146 hari, meskipun kisaran yang dilaporkan antara 143 sampai 153 hari. Berdasakan hasil penelitian Mahmilia et al. (2008), lama bunting berdasarkan jenis kelamin relatif sama (p>0,05). Rataan lama bunting untuk anak jantan adalah 148,32±3,05 dan anak betina 147,53±2,95 hari. Partus kelahiran tunggal terjadi dengan rentang waktu yang lebih panjang (144-158 hari), di mana persentase tertinggi 16,90% terjadi pada lama bunting 150 hari, sedangkan partus pada kelahiran kembar dua terjadi dengan rentang waktu yang lebih singkat (142-151 hari), dan persentase terbanyak 29,62% terjadi pada lama bunting 148 hari.
Aktivitas seksual setelah beranak pada kambing PE terjadi relatif cepat (semasa ternak masih menyusui anaknya), sehingga interval beranak 7-8 bulan bisa terjadi. Kambing PE dengan produksi susu rendah cenderung menunjukkan aktivitas seksual lebih awal dari pada kambing PE dengan produksi susu sedang dan tinggi. Interval beranak adalah periode antara dua beranak yang berurutan dan terdiri atas periode perkawinan (periode dari beranak sampai konsepsi) dan periode bunting (Sutama et al ., 1997).
18 Tingkat Kelahiran dan Mortalitas
Angka kelahiran anak jantan 52,35% dan anak betina 47,45%. Kelahiran jantan menunjukkan berat lahir, berat sapih, dan berat dewasa yang lebih berat dibandingkan kelahiran betina. Hal ini dapat dimaklumi bahwasanya secara alamiah berat lahir suatu individu akan dipengaruhi oleh tipe kelahirannya dan status kelamin dari indvidu yang bersangkutan atau yang kita kenal dengan istilah sexual dimorphism (Mulyadi, 1992). Salah satu sumber kerugian yang cukup besar terjadi pada kambing PE adalah tingginya kematian anak pra-sapih (36-71%) pada umur 0-4 bulan. Upaya untuk mengurangi tingkat kematian anak sangat diperlukan. Manajemen pemeliharaan sekitar waktu beranak adalah sangat penting mengingat sebagian besar kematian anak terjadi segera setelah lahir. Kambing sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan, perubahan pakan dan pemeliharaan lainnya (Sutama et al ., 1997).
Atabany et al. (2004) melaporkan hasil penelitiannya bahwa angka kelahiran anak selama setahun disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Angka Kelahiran Kambing PE
Uraian Kambing PE
Angka Kelahiran Setahun 1,89
Angka Kelahiran Seinduk 1,77
Persentase Kelahiran (%)
Anak Jantan 51,96
Anak Betina 48,04
Anak Tunggal 14,54
Anak Kembar Dua 57,52
Anak Kembar Tiga 24,35
Anak Kembar Empat 3,59
Sumber: (Atabany et al., 2004)
Persentase kematian dari lahir sampai umur 3 bulan adalah 55%, setelah itu turun dengan cepat dengan meningkatnya umur. Kematian yang paling besar terjadi selama 14 hari pertama setelah lahir. Kematian sampai umur enam bulan lebih tinggi pada musim yang lebih dingin, dan pada kambing dewasa gangguan parasit paling berat terjadi antara umur enam bulan dan dua tahun. Angka kematian tahunan pada
19 induk dewasa adalah 13-17%, menunjukkan bahwa angka kematian anak kambing paling tidak dua kali lipat dari kematian kambing dewasa. Kematian anak yang baru lahir selalu merupakan proporsi yang tinggi dari kematian total dan dengan mudah disebabkan oleh kedinginan, kekurangan makanan, dan penyakit serta kesulitan beranak (distokia). Kematian sebelum lahir (kematian janin dan keguguran) memberi proporsi kematian anak total yang beragam dan angka kematian setelah lahir biasanya mulai menurun dari kurang lebih seminggu setelah lahir. Embrio dini sangat rentan terhadap cekaman panas (Devendra dan Burns, 1994).
Penyakit dan Penanganan
Penyakit kudis disebabkan oleh Sarcoptes scabei, Psoroptes communis var ovis, Choriopteso ovis. Penyebabnya dipindahkan lewat kontak dengan domba yang terinfeksi. Kuman penyakit kudis dapat menular ke manusia bila ada kontak dengan ternaknya. Pembentukan kudis pada minggu ke-12 setelah ternak terinfeksi. Pencegahan penyakit kudis dilakukan dengan sanitasi kandang dan lingkungannya, memandikan ternak secara rutin (semiggu sekali) dengan air bersih dan sabun karbol. Penyakit kudis dapat diobati dengan beberapa cara diantaranya: (1) diolesi salep Asuntol 2% dalam vaselin pada bagian yang terserang. (2) dioelesi Benzoas bensilikus 10% pada luka kudis. (3) merendam domba (deeping) dengan larutan Coumaphos 0,5 - 1%. (4) bulu dicukur, kulit yang terserang dikerok lalu diolesi dengan campuran creolin dan spritus dengan perbandingan 1:10.
Penyakit cacat mulut cukup berbahaya bagi anak kambing sebelum sapih. Pada serangan yang serius, anak domba tidak dapat menyusu induknya karena adanya luka pada bibir dan lidah. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian pada anak domba. Penyebab dari penyakit ini adalah bakteri Actynomices necrophorus. Gejala penyakit ini, kambing dan domba mendadak demam tinggi, sulit bernapas, lidah terjulur, dan mulut banyak air liur yang berbau asam. Pengobatannya diolesi dengan yodium atau permanganate 10% diberi obat-obatan sulfa, misalnya: Sulfapyradine, Sulfamerozine, Trypiron, atau Pinicilin (Mulyono, 1999).
Dinamika Populasi
Populasi terbentuk dari kelompok individu dengan spesies yang sama atau kelompok yang berkembangbiak antar kandang. Spesies yang sama bisa saja
20 mempunyai lebih dari satu populasi setempat yang masing-masing telah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan setempatnya. Perbedaan yang kecil-kecil dalam menyesuikan setempat antara populasi merupakan dasar untuk seleksi alam. Kelompok populasi memiliki ciri khas tertentu, ciri kelompok populasi mencakup berbagai corak seperti angka kelahiran atau laju berbiak, angka kematian atau laju kematian, susunan kelamin atau sistem reproduksi, struktur umur, sebaran, dan struktur sosial (Ewusie, 1990).
Meningkatnya permintaan untuk produksi ternak di negara berkembang, sebuah program yang bertujuan meningkatkan produksi daging telah dimulai. Namun, pembentukan program-program pembangunan untuk mencapai efisien target spesifik membutuhkan pengetahuan tentang dinamika populasi dari target populasi. Aspek yang penting dari dinamika populasi adalah: seks rasio jenis kelamin, sebaran umur, nilai dari input dan output dari populasi dan faktor-faktor yang mengubah angka ini (Sinclair dan Grimsdell, 1982). Potensi perubahan dalam ukuran populasi umumnya diukur dengan tingkat reproduksi bersih dan panjang generasi betina (Turner dan Young, 1969; Winantea et al., 1989).
Studi perubahan populasi domba dan kambing di selatan-barat Kenya oleh Wilson dan Maki (1989) menunjukkan bahwa setelah jangka waktu 8 tahun dari survey awal, ada perubahan signifikan dalam jumlah populasi dan struktur dalam hal gender, jenis fisik, tubuh dan berat badan rata-rata, dan usia. Aspek sosial ekonomi, perubahan tersebut, penggunaan bibit eksotis dan sikap terhadap kembar dianggap penting dengan membuat perubahan dalam populasi. Perubahan populasi dapat diestimasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
rm = Keterangan:
rm : tingkat penambahan ternak per tahun
R0 : jumlah induk pengganti yang dihasilkan induk selama hidupnya. Lf : rata-rata umur betina produktif dalam kelompok ternak
Potensi jumlah ternak yang akan berkembang biak (N) dalam populasi setelah waktu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
21 Nt =
Keterangan:
Nt : jumlah induk yang siap berproduksi pada waktu “t” N0 : jumlah betina pada waktu awal
rm : tingkat penambahan ternak per tahun t : waktu
Potensi Ternak Kambing di Jawa Barat
Pengembangan usahatani ternak ruminansia kecil yaitu ternak domba dan kambing di provinsi Jawa Barat cukup strategis dan perlu lebih ditingkatkan karena usahatani ternak tersebut cukup menguntungkan dan efisien, sumber hijauan pakan ternak masih dapat tersedia di sekitar lingkungan peternak (di kebun/tegalan, ladang dan lahan pengembalaan), serta potensi pemasaran ternak masih cukup terbuka baik bersumber pada pasar lokal maupun ekspor (Agustian dan Nurmanaf, 2001).
Perspektif pengembangan ke depan, pembangunan usaha ternak ruminansia kecil seyogyanya tidak hanya terbatas sebagai usaha peternakan saja (on farm), namun agar usaha tersebut lebih berorientasi pasar maka perlu lebih ditata kembali sehingga kegiatan ekonomi usaha berbasis ternak ruminansia kecil tersebut sebagai suatu sistem agribisnis. Pengembangan usahatani ternak domba dan kambing dalam suatu sistem agribisnis perlu memperhatikan: (a) memiliki kondisi agroekosistem yang memungkinkan untuk pengembangan komoditi pertanian, sehingga memudahkan untuk memperoleh pakan hijauan dan limbah pertanian untuk ternak; (b) tersedianya prasarana transportasi yang memadai lahan untuk penyediaan pakan dan areal untuk mendirikan kandang serta pasar tempat membeli sarana produksi dan menjual hasil ternak; (c) tersedia lembaga penunjang seperti koperasi untuk kelancaran usaha; (d) perbaikkan dalam kegiatan manajemen teknis maupun pemasaran ternak; (e) dan lingkungan sosial mendukung untuk pengembangan ternak domba dan kambing (Sehabudin dan Agustian, 2001).