i
SKRIPSI
Ditulis Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
(S.I)
Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Oleh:
AISYAH ULANDARI
15 300 9000 02
JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
BATUSANGKAR
v
Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar 2019.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kecerdasan verbal linguistik pada anak, penyebabnya kurang inovasi pembelajaran yang diberikan guru. Hal ini terlihat pada saat anak bermain di area permainan masih ada anak yang hanya diam tanpa berkomunikasi dengan teman disekitarnya, anak tidak senang berbicara, anak yang terbata-bata dalam berbicara, anak hanya diam diberi kesempatan untuk berbicara, masih ada anak yang belum mengucapkan kata-kata dengn tepat dan masih ada anak yang susah mengingat kosa kata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode bermain peran terhadap kecerdasan verbal linguistik anak di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar.
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen, desain penelitian pre-eksperimental dengan tipe one group pretest-postest design. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh anak di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar yang terdiri dari 3 lokal dengan jumlah anak 40 orang, yang mana sampelnya rombel 4,5-5 tahun yang berjumlah 14 orang anak. Hasil rata-rata pre test adalah 8,5. Setelah pretest dilakukan kemudian diberikan perlakuan berupa metode bermain peran, selama melaksanakan treatment terjadi suatu peningkatan yang terlihat dari hasil posttest yang mana rata-ratanya yaitu 18,57. Hal ini dapat diketahui bahwa N-Gain berada pada kategori sedang.
Untuk menguji signifikansi dengan cara membandingkan t0 (‟t‟ hitung) dengan tt (‟t‟ table). Pada taraf signifikansi 5% diperoleh tt sebesar 2,16, kemudian dibandingkan dengan t0=3,74 maka dapat diketahui bahwa t0 lebih besar dari tt yaitu 3,74>2,16. Dengan demikian berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest dan pada kelompok sampel. Maka hipotesisi alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nihil (Ho) ditolak, artinya metode bermain peran berpengaruh tehadap kecerdasan verbal linguistik anak.
vi
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan Verbal Linguistik Anak di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar”. Selanjutnya shalawat beserta salam dimohonkan kepada Allah SWT semoga selalu tercurah pada junjungan umat, pelita dikala malam dan pelipur lara dikala duka yaitu Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan sampai berilmu pengetahuan seperti saat sekarang. Skripsi ini disusun sebagai tanda bukti penyelesaian Strata Satu (S.1) pada Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Dalam membahas dan menyelesaikan skripsi ini penulis menemui berbagai bentuk kesulitan, namun berkat bantuan, bimbingan serta motivasi dari berbagai pihak baik secara moril maupun materil sehingga semua kendala dan kesulitan yang penulis temui tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar Bapak Dr. H. Kasmuri, MA yang telah memberikan izin dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan perkuliahan dan penyusunan skripsi ini.
2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Bapak Dr. Sirajul Munir, M. Pd yang selalu memberikan kemudahan dalam hal menyelesaikan skripsi ini. 3. Ketua Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Ibunda Elis
Komalasari, M. Pd yang selalu memberikan kemudahan pada penulis.
4. Dosen Penasehat Akademik ibu Dra. Desmita, M. S.i yang selalu membimbing penulis dengan tanpa mengenal lelah dan letih untuk meluangkan waktunya.
vii
6. Ibu Dra. Desmita, M. Si selaku penguji seminar yang telah meluangkan waktu untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu LPPM yang telah memberikan kemudahan bagi penulis untuk melakukan penelitian ini.
8. Bapak dan Ibu perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.
9. Ibu Lina Angela S. Pd selaku kepala Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin yang telah memberikan izin, kesempatan dan waktu bagi penulis untuk melakukan penelitian.
10. Guru-guru selaku pendidik Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin yang telah membantu penulis dalam pengambilan data serta membantu penulis dalam melaksanakna penelitian.
11. Peserta didik kelompok cerdas usia 4,5-5 tahun yang telah menjadi objek penulis untuk melakukan penelitian.
12. Ayahanda Muhammad dan Ibunda Jusninar tercinta, kakanda Romi Yanti, Jafrizal dan Ramon Syaputra yang berkat kerja keras dan motivasi serta ribuan doa yang beliau curahkan pada setiap hembusan nafas yang membuat peneliti bisa seperti saat sekarang ini dan bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
13. Teman-teman Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) angkatan 2015 yang senasib dan seperjuangan yang telah memberikan motivasi serta semangatnya dalam penyusunan skripsi ini, serta berbagai keceriaan dan kebersamaan baik suka maupun duka selama menjalani masa perkuliahan. 14. Teman-teman serta adik-adik kos yang telah memberikan motivasi serta
semangatnya dalam penyusunan skripsi ini.
15. Dan semua pihak yang telah membantu dalam proses perkuliahan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
ix
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI ... vi
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR BAGAN ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GRAFIK ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6 C. Batasan Masalah ... 6 D. Perumusan Masalah ... 6 E. Tujuan Penelitian ... 7 F. Manfaat Penelitian ... 7 G. Defenisi Operasional ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 9
1. Kecerdasan Verbal Linguistik ... 9
a. Pengertian Kecerdasan Verbal Linguistik ... 9
b. Ciri-ciri Kecerdasan Verbal Linguistik ... 11
c. Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Verbal Linguisti. 14 d. Indikator Kecerdasan Verbal Linguistik ... 16
e. Cara Meningkatkan Kecerdasan Verbal Linguistik ... 18
f. Penting Kecerdasan Verbal Linguistik... 19
g. Aktifitas yang Mendukung Kemampuan Kecerdasan Verbal Linguistik... 20
x
c. Manfaat Metode Bermain Peran (Role Playing)... 24
d. Aspek-Aspek yang Dikembangkan Melalui Metode Bermain Peran (Role Playing)... 25
e. Keunggulan dan Kelemahan Metode Bermain Peran (Role Playing) ... 26
f. Langkah-langka Metode Bermain Peran (Role Playing)... 27
g. Pelaksanaan Pembelajaran Metode Bermain Peran (Role Playing) ... 29
h. Pengaruh Metode Bermain Peran terhadap Kecerdasan Verbal Linguistik... 34
B. Kajian Penelitian yang Relevan ... 34
C. Kerangka Pikir ... 36
D. Hipotesis ... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 39
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 41
C. Populasi dan Sampel ... 42
1. Populasi ... 42
2. Sampel ... 42
D. Pengembangan Instrumen ... 43
E. Validitas ... 45
F. Teknik Pengumpulan Data ... 45
G. Teknik Analisis Data ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian ... 48
1. Deskripsi Data Hasil Pre-Test ... 48
2. Pelaksanaan Eksperiment... 51
xi
3. Deskripsi Data Hasil Post-Test ... 64
B. Pengujian Hipotesis ... 67 1. Uji N-Gein... 68 2. Pengujian hipotesis ... 70 C. Pembahasan ... 75 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 78 B. Implikasi ... 78 C. Saran ... 79 DAFTAR PUSTAKA ... 80 LAMPIRAN ... 81
xiii
Tabel 3.1 Desain Penelitian ... 42
Tabel 3.2 Populasi Penelitian ... 42
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 44
Tabel 3.4 Penilaian Kecerdasan Verbal Linguistik ... 46
Tabel 3.5 Klasifikasi Skor Alternatif Kecerdasan Verbal Linguistik... 48
Tabel 4.1 Hasil Pre-Test ... 49
Tabel 4.2 Klasifikasi Skor Pre-Test ... 50
Tabel 4.3 Jadwal Pelaksanaan Treatment ... 51
Tabel 4.4 Hasil Treatment 1 ... 54
Tabel 4.5 Hasil Treatment 2... 57
Tabel 4.6 Hasil Treatment 3... 60
Tabel 4.7 Hasil Treatment 4... 63
Tabel 4.8 Hasil Post Test ... 64
Tabel 4.9 Klasifikasi Skor Post-Test ... 66
Tabel 4.10 Hasil Perolehan Nilai Pre-Test dan PostTest... 66
Tabel 4.11 Hasil N-Gain ... 67
Tabel 4.12 Klasifikasi Skor N-Gain ... 69
Tabel 4.13 Perbandingan Data Kecerdasan Verbal Linguistik Anak Antara Pretest dan Posttest Secara Keseluruhan... 70
xiv
Grafik 4.2 Hasil Treatment 1 ... 55
Grafik 4.3 Hasil Treatment 2 ... 58
Grafik 4.4 Hasil Treatment 3 ... 61
Grafik 4.5 Hasil Treatment 4 ... 64
Grafik 4.6 Hasil Post-Test... 65
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Kecerdasan adalah segala kemampuan yang dimiliki seseorang yang digunakan untuk menyesuaikan masalah yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kecerdasan seseorang akan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di dalam kehidupan nyata, karena jika seseorang anak memiliki kecerdasan maka ia akan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan masalah dan menciptakan sesuatu di dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya untuk keterampilan berkomunikasi tetapi juga untuk mengemukakan pendapat, pemikiran dan gagasan diatas di dalam kehidupan nyata.
Mendukung pernyataan diatas Gardner (Kurniasih, 2009:89), menyatakan bahwa ada sembilan macam kecerdasan majemuk yaitu:
“Kecerdasan matematis, kecerdasan verbal linguistik, kecerdasan ruang (spatial intellegence), kecerdasan musikal (musical intellegence), kecerdasan interpesonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis dan kecerdasan eksitensial”.
Kecerdasan verbal linguistik merupakan salah satu dari kesembilan kecerdasan majemuk untuk menyelesaikan masalah dan menciptakan sesuatu dengan menggunakan bahasa secara efektif baik lisan maupun tulisan. Kecerdasan verbal linguistik ini mengacu pada kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan tersebut secara nyata melalui kata-kata untuk menyampaikan gagasan dalam berbicara, membaca dan menulis. Menurut Dahlia dan Suyadi (2015:84) :
Kecerdasan verbal linguistik merupakan kemampuan menggunakan bahasa termasuk bahasa ibu dan bahasa asing untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan memahami orang lain. Kecerdasan verbal linguistik juga disebut dengan kecerdasan verbal karena berkaitan dengan kemampuan
mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis, secara penguasaan bahasa asing.
Sejalan dengan pendapat diatas Menurut Gardner (dalam Armstrong (2013:6) verbal linguistik merupakan “Kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik lisanmaupun tulisan”. Berdasakan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan verbal linguistik merupakan kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa termaksud bahasa ibu atau bahasa asing untuk mengetahui pengetahuan baru dalam menggunakan kata-kata secara efektif baik secara lisan maupun tulisan untuk mengekspresikan apa yang ada didalam pikiran. Menurut Tarigan (Srihayati, 2016: 116) :
Kecerdasan verbal linguistik adalah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran atau suatu ungkapan dalam bentuk bunyi ujaran. Verbal linguistik merupakan alat komunikasi dan interaksi yang sangat penting bagi manusia. Melalui verbal linguistik kita mendapatkan beberapa informasi penting. Kecerdasan verbal linguistik sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan. Oleh karena itu, kecedasan verbal linguistik sangat penting perannya bagi kehidupan manusia.
Menurut Depdiknas (Srihayati, 2016: 117), pengertian kecerdasan verbal linguistik yaitu :
Kecerdasan verbal linguistik adalah alat komunikasi utama bagi seseorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan verbal linguistik yang baik umumnya memiliki kemampuan dalam mengungkapkan pikiran, perasaan serta tindakan interaktif dalam lingkungannya.
Berdasakan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan verbal linguistik merupakan suatu alat komunikasi dan interaksi yang sangat penting untuk mendapatkan informasi dan mengungkapkan berbagai keinginan dan kebutuhan. Menurut Nurani Yuliani (2009: 185), tujuan mengembangkan kecerdasan verbal linguistik anak sejak dini
adalah “Agar anak mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan baik, memiliki kemampuan bahasa untuk meyakinkan orang lain,
mampu mengingat dan menghafal informasi, mampu memberikan penjelasan dan mampu untuk membahas bahasa itu sendiri”.
Menurut Gunadi (Wulandari, Mahfud, Matsuri, 2014:2), manfaat kecerdasan verbal linguistik yaitu: “Mudah bergaul, ukuran intelegensi dan pendidikan, menguasai bidang bahasa verbal dan non verbal”. Tujuan mengembangkan kecerdasan verbal linguistik anak menurut Kemendiknas, (2014: 311), yaitu: “Agar anak mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan baik, memiliki kemampuan bahasa untuk menyakinkan orang lain, mampu mengingat dan menghafal informasi, mampu memberikan penjelasan dan mampu untuk membahas bahasa itu sendiri”.
Kecerdasan verbal linguistik ini memiliki ciri khusus, hal ini ditunjukkan dengan kepekaan seseorang terhadap bunyo, struktuk, makna, fungsi kata dan bahasa. Mendukung pernyataan tersebut Prasetyo dan Andriani (2009: 44), menyatakan bahwa indikator kecerdasan verbal linguistik yaitu:
1. Menghafal dan mengingat nama, kata, dan istilah barusepanjang waktu.
2. Mempelajari bahasa asing dengan sangat mudah.
3. Memahami informasi dan petunjuk atau instruksi baru yang didengarnya.
4. Memiliki kepekaan terhadap arti kata dan urutannya yang baru didengar.
5. Menyampaikan suatu pesan lisan dengan jelas dan runtut. 6. Menulis suatu karya tulis.
7. Melakukan persuasi dan negosiasi dengan orang lain.
8. Belajar melalui kata yang didengarnya dan tulisan yang dibacanya.
9. Menggunakan kata dan bahasa secara efektif untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari.
10. Menyukai dan mahir dalam berdiskusi, berpidato dan berdebat.
Menurut Srihayati (Depdiknas,2016:118), metode bermain peran merupakan “Cara memberikan pengalaman pada anak melalui bermain peran, yakni akan diminta memainkan peran tertentu dalam suatu permainan peran”. Menurut Srihayati (Sanjaya,2016:118), “Metode bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai simulasi yang
diarahkan untuk mengkreasikan peristiwa sejarah, mengekspresikan peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang”.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan metode bermain peran adalah metode pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman pada anak. Dengan melalui bermain peran anak diminta memainkan peran tertentu dalam suatu permainan peran. Anak dapat mengekspresikan kejadian- kejadian yang muncul dalam bermain peran.
Melalui bermain peran, anak mencoba mengeksplorasi hubungan antarmanusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi model ini berusaha membantu anak-anak menentukan makna dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya. Melalui model ini anak diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sekelas.
Karakteristiknya adalah adanya kecendrungan memecahkan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret dan dapat diamati. Dapat dikatakan bahwa bermain peran dapat ditujukkan untuk memecahkan masalah-masalah yang menyangkut hubungan antarmanusia terutama yang berkaitan dengan kehidupan anak didik. Menurut Mulyasa (2012: 173), tujuan metode bermain perandalam pendidikan anak usia dini merupakan “Usaha untuk memecahkan masalah melalui, peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi”.
Untuk kepentingan tersebut, sejumlah anak bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui peran, anak-anak berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.
Untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman tentang peran sendiri mencakup apa yang tampak dalam tindakan yang tersembunyi dalam perasaan, persepsi dan sikap. Untuk itu pemahaman terhadap peran bukanlah pekerjaan mudah untuk memulai kegiatan kecerdasan verbal linguistik anak akan dilatih sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Metode pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan verbal linguistik pada anak. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kecerdasan verbal linguistik adalah kegiatan bermain peran (Role Playing). Menurut Yuliani Nurani (2009: 187), salah satu kiat untuk mengembangkan kecerdasan verbal linguistik adalah bermain peran.
Kegiatan bermain peran ini anak diajarkan melakukan suatu adegan seperti yang pernah anak alami. Dalam bermain peran ini anak melakukan dialog atau berkomunikasi dengan lawan mainnya, hal ini dapat mengembangkan kemampuannya dalam penggunaan kosa kata menjadi suatu kalimat dan berkomunikasi dengan orang lain.
Berdasarkan observasi awal pada bulan Agustus yang telah peneliti lakukan di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar bahwa dalam mengembangkan kecerdasan verbal linguistik anak masih cenderung berpusat pada guru, dimana guru menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab yang diiringi dengan penjelasan dari guru, serta pemberian tugas kepada peserta didik. Pada saat penulis melakukan observasi ditemukan bahwa guru belum memiliki upaya meningkatkan kecerdasan verbal linguistik anak.
Hal ini terlihat pada saat anak bermain di area permainan masih ada anak yang hanya diam tanpa berkomunikasi dengan teman disekitarnya, anak tidak senang berbicara karena masih ada anak yang terbata-bata dalam berbicara ada juga anak yang hanya diam diberi kesempatan untuk berbicara, masih ada anak yang belum mengucapkan kata-kata dengan tepat, masih ada anak yang susah mengingat kosa kata. Hal tersebut karena belum adanya upaya guru untuk meningkatkan
kecerdasan verbal linguistik, metode bermain peran digunakan sebagai kegiatan pembiasaan saja, anak tidak diberikan kesempatan untuk berbicara mengungkapkan pendapatnya. Selain itu guru masih belum paham mengenai kecerdasan majemuk sehingga perkembangan kecerdasan verbal linguistik anak menjadi kurang optimal.
Dari hasil observasi terkait kecerdasan verbal linguistik dan metode bermain peran maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang
“Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan Verbal Linguistik di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis uraikan diatas, maka penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Anak yang hanya diam tanpa berkomunikasi dengan teman disekitarnya.
2. Anak tidak senang berbicara karena masih ada anak yang terbata-bata dalam berbicara, anak yang hanya diam diberi kesempatan untuk berbicara.
3. Masih ada anak yang belum mengucapkan kata-kata dengan tepat. 4. Masih ada anak yang susah mengingat kosa kata.
5. Metode bermain peran digunakan sebagai kegiatan pembiasaan saja.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka peneliti memberikan batasan masalah yang akan dibahas yaitu pengaruh metode bermain peran terhadap kecerdasan verbal linguistik di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu “Bagaimana pengaruh metode bermain peran terhadap kecerdasan verbal linguistik anak usia dini di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar?.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang di harapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode bermain peran terhadap kecerdasan verbal linguistik anak di Kelompok Bermain Anak-Ku Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar.
F. Manfaat dan Luaran Penelitian 1. Manfaat penelitian
a. Manfaat Teoritis
1) Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan kepada sekolah tentang kecerdasan verbal linguistik
2) Dapat menerapkan wawasan dalam pengaruh metode bermain peran terhadap kecerdasan verbal linguistik karna dapat menimbulkanrasa senang dan gembira serta dapat melatih perkembangan bahasa dalambermain peran.
b. Manfaat Praktis a. Bagi peserta didik
1. Berkembangnya kecerdasan verbal linguistik anak. 2. Menerapkan kecerdasan verbal linguistik anak. b. Manfaat bagi guru
1. Diperolehnya inovasi baru dalam mengembangkan kecerdasan verbal linguistik anak usia dini.
2. Menambah wawasan guru tentang pentingnya kecerdasan linguistik.
c. Manfaat bagi peneliti
1. Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana dalam bidang pendidikan islam anak usia dini.
2. Menambah wawasan peneliti tentang kecerdasan linguistik. 3. Menambah wawasan peneliti tentang metode bermain peran.
2. luaran Penelitian
Sebagai karya ilmiah untuk mengembangkan kompetensi dan pemenuhan salah satu syarat dalam menyelesaikan studi di program sarjana (S1) fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).
G. Definisi Operasional
Adapun kecerdasan verbal lingustik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan anak usia 4,5-5 tahun dalam mengucapkan atau menggunakan kata-kata dengan tepat dan efektif. Meliputi indikator yaitu anak dapat menghafal dan mengingat nama, kata, dan istilah baru sepanjang waktu, anak dapat memahami informasi dan petunjuk atau instruksi baru yang didengarnya, anak dapat melakukan persuasi dan negosiasi dengan orang lain, anak dapat belajar melalui kata yang didengar oleh anak, anak dapat menggunakan kata dan bahasa secara efektif untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari.
Metode bermain peran yang peneliti maksud adalah suatu metode yang berdasarkan langkah-langkah dan tahap-tahap pembelajaran untukmemerankantokoh-tokoh atau benda-benda disekitar anak dengan tujuan mengembangkan imajinasi dan penghayatan terhadap tujuan pengembangan yang dilaksanakan.
9 1. Kecerdasan Verbal Linguistik
a. Pengertian Kecerdasan Verbal Linguistik
Menurut Gardner(dalam Musfiroh, 2008:36), pengertian Kecerdasan yaitu:
Kecerdasan adalah potensi biopsikologi. Kecerdasan (inteligensi) berbeda dengan bidang pekerjaan dan bidang ilmu yang dikenal masyarakat seperti seni, pertanian, dan kedokteran. Kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau produk yang dibuat dalam satu atau beberapa budaya secara terperinci, kecerdasan dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata, kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang. Sejalan dengan pendapat diatas Gardner (dalam Dewi, 2017:3):
Kecerdasan didefinisikan sebagai kemampuan yang mempunyai tiga komponen yang terdiri dari kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata sehari- hari, kemampuan untuk menghasilkan persoalan- persoalan baru yang dihadapi untuk diselesaikan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan adalah segala kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan menghasilkan persoalan yang baru untuk diselesaikandan menciptakan sesuatu atau menawarkanjasa yang menimbulkan penghargaan.Menurut Gardner (dalam Musfiroh, 2008: 47) :
Kecerdasan linguistik meledak pada awal masa kanak-kanak dan tetap bertahan hingga usia lanjut. Kaitannya dengan sistem neurologis, kecerdasan ini terletak pada otak bagian kiri dan lobus bagian depan. Kecerdasan linguistik dilambangkan dengan kata-kata, baik lambang primer (kata-kata lisan) maupun sekunder (tulisan).
Menurut Gardner (dalam Arsyad, 2017: 22) kecerdasan verbal linguistik merupakan “Kemampuan mengenali kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan termasuk di dalamnya kemampuan mengingat informasi dan membicarakan tentang bahasa itu sendiri”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menghasilkan persoalan baru dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari dan kemampuan seseorang dalam menggunakan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan.
Menurut Suyadi (2014: 126), kecerdasan linguistik adalah
“Kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakannya secara kompeten melalui kata-kata, seperti bicara, membaca dan menulis”. Sejalan dengan pendapat di atas menurut Suyadi dan Dahlia (2015: 84) yaitu :
Kecerdasa linguistik merupakan kemampuan menggunakan bahasa termasuk bahasa ibu dan bahasa asing untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan memahami orang lain. Kecerdasan linguistik juga disebut dengan kecerdasan verbal karena berkaitan dengan kemampuan mengekspresikan diri secara lisan dan tulisan, serta penguasaan bahasa asing.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan verbal linguistik adalah kemampuan menggunakan bahasa termasuk bahasa ibu atau bahasa asing dengan kemampuan mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran seseorang baik secara lisan maupun tulisan.
Menurut Musfiroh (2008: 46), kecerdasan linguistik berkaitan erat dengan kata-kata, baik lisan maupun tulisan beserta dengan aturan-aturannya. Seorang anak yang cerdas dalam verbal linguistik memiliki kemampuan berbicara yang baik dan efektif. Ia juga cenderung dapat mempengaruhi orang lain melalui kata-kata.
Menurut Sefrina (dalam Aisyah, 2014: 2), kecerdasan verbal linguistik yaitu:
Kecerdasan yang berhubungan dengan penggunaan bahasa dan kosakata, baik yang tertulis maupun yang diucapkan. Kecerdasan verbal linguistik memungkinkan individu untuk menyusun kalimat dari beberapa kosakata dan menyampaikan pikiran atau perasaannya dari kalimat-kalimat tersebut.
Sejalan dengan pendapat diatas menurut Tarigan (dalam Srihayati, 2016: 116), yaitu kecerdasan verbal linguistik merupakan“Suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran atau suatu ungkapan dalam bentuk bunyi ujaran”.
Kecerdasan verbal linguistik sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan. Oleh karena itu, verbal linguistik sangat penting perannya bagi kehidupan manusia. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kecerdasan verbal linguistik adalah sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan baik yang tertulis maupun yang diucapkan.
b. Ciri- Ciri Kecerdasan Verbal Linguistik
Kecerdasan verbal linguistik mempunyai beberapa ciri-ciri khusus. Kecerdasan ini menunjukkan dengan kepekaan seseorang pada bunyi, struktur, makna, fungsi, kata dan bahasa. Berikut ini ciri-ciri dari kecerdasan verbal linguistik. Menurut (Wulandari, 2014: 2), ciri-ciri kecerdasan verbal linguistik yaitu:
Kemampuan anak dalam berfikir kemudian mengekspresikan dengan bahasa, peka terhadap kata-kata, maupun mengekspresikan bahasa dalam kehidupan
sehari-hari, maupun mamahami apa yang disampaikan, senang membaca, senang mencoret-coret dan menulis, maupun berbicara di depan orang banyak dan mampu mempelajari bahasa asing.
Sedangkan menurut Suyadi dan Dahlia (2015: 85), ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan verbal linguistik yang tinggi berdasarkan tahapan usia meliputi:
1. Usia lahir -1 tahun, selalu merespon jika namanya dipanggil, berceloteh atau mengucapkan sepatah dua patah kata.
2. 1-2 tahun, pada usia ini anak mengenal suara orang-orang terdekat, maupun menyebutkan nama benda, mengerti perintah sederhana.
3. 2-3 tahun, mampu mengenal suara benda, binatang atau orang lain, mampu mengatakan dalam kalimat pendek, mampu mengajukan pertanyaan sederhana, tertarik pada gambar, warna dan buku.
4. 3-4 tahun, mampu mengenali dan hampir bisa menirukan barbagai suara, tertarik untuk dibacakan buku cerita, mampu mengenali nama benda dan fungsinya.
5. 4-5 tahun, mampu mengenal masing-masing bunyi huruf, senang belajar membaca, mampu diajak berdialog sederhana.
6. 5-6 tahun, mampu berbicara dengan lancar, mampu bertanya lebih banyak dan menjawab lebih tepat, mampu mengenal bilangan dan berhitung sederhana.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa individu yang cerdas secara verbal linguistik menonjol dalam berkata-kata baik lisan maupun tulisan serta mampu mengekspresikan proposional. Ciri kecerdasan manusia salah satunya adalah penggunaan bahasa.
Kemampuan bahasa mempunyai faedah yang besar terhadap perkembangan pribadi, dengan bahasa manusia dapat menyatakan isi jiwanya yang berupa fantasi, pendapat, perasaan dan sebagainya. Dengan bahasa manusia berinteraksi dengan sesamanya mampu memberikan, menceritakan masa lalu atau sekarang baik yang kongkrit maupun yang abstrak. Dengan bahasa pula manusia dapat membangun kehidupannya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan verbal linguistik yaitu mampu mengekspresikan pikiran dan pendapat melalui gagasan-gagasan dalam kata-kata menggunakan bahasa secara efektif, senang berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan.
Anak yang memiliki kecerdasan verbal linguistik yang tinggi tidak hanya akan memperhatikan suatu penguasaan bahasa yang sesuai, tepat juga dapat menceritakan kisah, berdebat, berdiskusi, menafsirkan, menyampaikan pendapat, melaksanakan berbagai tugas dalam membaca dan menulis. Kecerdasan verbal linguistik ini memiliki ciri khusus atau indikator, hal ini ditujukan dengan kepekaan seseorang terhadap bunyi, struktur, makna, fungsi kata dan bahasa.
Seiring dengan terus bertambahnya usia anak, secara alamiah maupun melalui stimulasi dari lingkungannya perkembangan kemampuan berbahasa anak akan semakin meningkat. Sejalan dengan pendapat di atas menurut Kurniasih (2009: 91), ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan verbal linguistik sebagai berikut:
a. Menaruh minat pada anak yang berbicara dengannya di usia 3 bulan
b. Mengucapkan kata ma, pa pada usia sekitar 6 bulan c. Mampu mengikuti perintah sederhana pada usia 6 bulan,
misalnya: “ayo, tunjukkan mana hidungmu pada mama”.
d. Punya lebih dari 200 pependaharaan kata di usia 1 tahun. e. Menggunakan 2 kata kombinasi yang diucapkan dengan
jelas.
f. Orang tua mengerti apa yang dibicarakan anaknya pada usia 2 tahun dengan artikulasi yang jelas.
g. Pada usia 4 tahun, anak sudah mampu membuat kalimat lengkap dengan penempatan subjek, predikat, dan objek yang sempurna.
h. Pada usia 5 tahun, anak mampu merangkai cerita sederhana, bahkan beberapa anak mampu menuliskannya i. Pada usia 6 tahun, biasanya anak menyenangi kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti
membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata mutiara dan sebagainya.
j. Anak dengan kecerdasan linguistik sangat pandai dalam mengelolah kata-kata
k. Menyenangi cerita-cerita. l. Senang membaca dan menulis.
m. Mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, baik lisan maupun tulisan
n. Punya ingatan tajam tentang hal-hal sepele.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Verbal Linguistik
Dalam kecerdasan verbal linguistik terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan verbal linguistik pada diri seseorang, seorang dapat mengalami berbagai hambatan, kendala atau rintangan yang dapat merusak dan bahkan dapat mematikan peningkatan kecerdasan verbal linguistiknya. Menurut Wahyuningsih (2012: 125), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kecerdasan verbal linguistik:
a. Faktor kesehatan
Kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada awal masa kehidupannya.
b. Intelegensi
Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi normal atau diatas normal. c. Status sosial
d. Jenis kelamin e. Hubungan keluarga
Selain itu, Menurut Petty dan jensen (dalam Arsyad, 2017: 22), menyatakan bahwa perkembangan bahasa merupakan suatu proses yang kompleks, yang dipengaruhi oleh empat faktor:
a. Berbedanya cara bagaimana si anak mempelajari bahasa tersebut.
b. Berbedanya bahasa yang dipelajari si anak. c. Berbedanya karakteristik si anak.
d. Berbedanya tempat proses pembelajaran bahasa itu terjadi.
Sejalan dengan pendapat diatas Wahyuningsih (2012: 35) menyatakan kecerdasan verbal linguistik dipengaruhi oleh dua faktor:
a. Faktor internal, terdiri dari kesehatan anak, intelgensi, bakat, minat dan motivasi prestasi.
b. Faktor eksternal, terdiri dari faktor keluarga, sekolah, dan lingkungan.
Sedangkan menurut Amstrong (dalam Rahmawati, 2016: 33), perkembangan kecerdasan verbal linguistik bergantung kepada tiga faktor yaitu:
a. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari individu. Sumbangan dari biologis maksudnya yaitu tingkat kecerdasan verbal linguistik seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik atau keturunan, selain faktor keturunan juga bisa dipengaruhi oleh cedera otak sebelum, selama dan sesudah kelahiran.
b. Sejarah kehidupan
Kecerdasan verbal linguistik seseorang dapat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi orang tua, guru, teman dan orang lain yang membangkitkan kecerdasannya. Orang tua memahami betul tentang kecerdasan verbal linguistik anaknya saat dalam kandungan akan diperdengarkan cerita-cerita yang bangus. Hal tersebut akan merangsang perkembangan kecerdasan verbal linguistik sejak dalam kandungan.
c. Latar belakang budaya dan historis
Tingkat kecerdasan seseorang dapat dipengaruhi oleh tempat dan waktu dimana ia dilahirkan dan dibesarkan serta sifat dan keadaan budaya serta sejarah wilayah yang berbeda-beda.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa adanya faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan verbal linguistik seperti: faktor yang berasal dari diri anak disebut faktor internal yang terdiri dari kesehatan, bakat, minat dan motivasi belajar, sedangkan faktor eksternal dari luar terdiri dari keluarga sekolah dan lingkungan.
d. Indikator Kecerdasan Verbal Linguistik Anak
Seiring dengan terus bertambahnya usia anak, secara alamiah maupun melalui stimulasi dari lingkungannya perkembangan kemampuan berbahasa anak akan semakin meningkat. Menurut Musfiroh (dalam Masrurah, 2014: 314), indikator kecerdasan verbal linguistik pada anak usia dini akan tampak melalui berbagai aktivitas antara lain:
Pertama, anak senang berkomunikasih dengan orang lain, baik dengan sebaya maupun orang dewasa (usia 2-6 tahun), kedua, anak senang bercerita panjang lebar tentang pengalaman sehari-hari, apa yang dilihat dan diketahui (usia 3-6 tahun), ketiga, anak mudah mengingat nama teman dan keluarga (usia 2-6 tahun), tempat, atau hal-hal sepele yang pernah didengar atau diketahui, termasuk jingle iklan (usia 3-6 tahun), keempat, anak suka membawa-bawa buku dan pura-pura membaca (2-4 tahun dan KB), suka buku dan cepat mengeja melebihi anak-anak seusianya (usia 4-6 tahun), kelima, anak mudah mengucapkan kata-kata, menyukai permainan kata-kata, suka melucu (usia 3-6 tahun), keenam, anak suka dan memperhatikan cerita atau pembacaan cerita dari pendidik (usia 2-6 tahun) dan dapat menceritakan kembali dengan baik (usia 4-6 tahun).
Mendukung pernyataan tersebut Prasetyo dan Andriani (2009: 44), menyatakan bahwa indikator kecerdasan verbal linguistik yaitu:
1. Menghafal dan mengingat nama, kata, dan istilah baru sepanjang waktu.
2. Mempelajari bahasa asing dengan sangat mudah. 3. Memahami informasi dan petunjuk atau instruksi baru
4. Memiliki kepekaan terhadap arti kata dan urutannya yang baru didengar.
5. Menyampaikan suatu pesan lisan dengan jelas dan runtut.
6. Menulis suatu karya tulis.
7. Melakukan persuasi dan negosiasi dengan orang lain 8. Belajar melalui kata yang didengarnya dan tulisan yang
dibacanya.
9. Menggunakan kata dan bahasa secara efektif untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari.
10. Menyukai dan mahir dalam berdiskusi, berpidato dan berdebat.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan verbal linguistik ada 10 indikator. Penulis mengambil 5 indikator untuk dijadikan sebagai kisi-kisi instrument dan 8 sub indikator karena menurut penulis kecerdasan verbal linguistik dapat dikembangkan melalui metode bermain peran. Dalam kegiatan bermain peran ini anak diajarkan melakukan suatu adegan seperti yang pernah anak alami. Dengan bermain peran anak melakukan dialog dan berkomunikasi dengan lawan mainnya dapat mengembangkan kemampuan dalam penggunaan kosa kata menjadi suatu kalimat dan berkomunikasi dengan orang lain.
Indikator yang di ambil oleh penulis yaitu anak dapat menghafal dan mengingat nama, kata, dan istilah baru sepanjang waktu, anak dapat memahami informasi dan petunjuk atau instruksi baru yang didengarnya, anak dapat melakukan persuasi dan negoisasi dengan orang lain, belajar melalui kata yang didengar oleh anak, anak dapat menggunakan kata dan bahasa secara efektif untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari.
e. Cara Meningkatkan Kecerdasan Verbal Linguistik
Menurut Suyadi dan Dahlia (2015:85), “Kecerdasan verbal linguistik dapat dikembangkan melalui implementasi kurikulum PAUD 2013 secara implisit dan inovatif, misalnya dengan tema
langsung dapat mengembangkan kecardasan verbal linguistik anak caranya adalah melatih anak untuk meniruhkan suara binatang yang pernah didengar seperti kucing, kambing, ayam dan lain sebagainya, termasuk dalam hal ini adalah menirukan bahasa tubuh (gerakkan) binatang, misalnya harimau, suara meraung, gerakan merangkak dan seterusnya.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kecerdasan verbal linguistik adalah kegiatan bermain peran (role playing). Menurut Yuliani Nurani (2009: 187), “Salah satu kiat untuk mengembangkan kecerdasan verbal linguistik adalah bermain peran. Kegiatan bermain peran ini anak diajarkan untuk memerankan sebuah peran dan melakukan percakapan”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan verbal linguistik dapat ditingkatkan melalui metode bermain peran karena saat bermain peran anak dikenalkan untuk memerankan sebuah peranan dengan melakukan percakapan dan melalui percakapan tersebut bahasa anak menjadi berkembang terhadap bahasa anak, pembendaharaan bahasa kreativitas serta kemampuan anak berimajinasi dan bereksplorasi dapat mengembangkan daya pikir anak sehingga perkembangan intelegensi anak terarah dengan baik.
f. Pentingnya Kecerdasan Verbal Linguistik
Menurut Gardnerd (dalam Musfiroh, 2008:4 7),
“Kecerdasan verbal linguistik meledak pada masa awal kanak-kanak dan tetap bertahan hingga usia lanjut. Kaitannya dengan sistem neurologis, kecerdasan ini terletak pada otak bagian kiri dan lobus bagian depan. Kecerdasan verbal linguistik ini dilambangkan dengan kata-kata, baik lambang primer maupun lambang sekunder”.
Menurut Yusuf Syamsu dan Juntika Nurihsan (dalam Farhatin Masrurah, 2014: 311), yaitu “Verbal linguistik memang intelligensi manusia pertama yang sangat diperlukan untuk bermasyarakat, baik dalam bentuk berbicara, membaca dan menulis. Berbicara, memungkinkan seseorang untuk memberi nama objek yang nyata dan berbicara tentang objek yang tidak terlihat. Membaca, membuat seseorang mengenal objek, tempat, proses dan konsep yang tidak langsung dialami. Sedangkan menulis dapat membuat komunikasih dengan seseorang tampa harus saling bertemu”. Glenn Doman (dalam Farhatin Masrurah, 2014: 311), mengatakan bahwa verbal linguistik adalah
Alat terpenting yang tersedia bagi manusia. Betapapun maju pemikirannya, tidak akan berarti bila ia tidak memiliki cukup bahasa untuk mengungkapkannya. Bila ia membutuhkan tambahan kata-kata, ia harus menciptakannya untuk digunakan sebagai alat berfikir dan mengkomunikasikan pemikiran barunya.
g. Aktifitas yang Mendukung Kemampuan Verbal Linguistik Menurut Musfiroh (dalam Farhatin Masrurah, 2014: 315), yaitu “Pengembangan kemampuan verbal linguistik pada anak usia dini yang mencakup kemampuan berbicara, menyimak, membaca, dan menulis harus dilakukan melalui pengenalan dengan cara-cara informal”. Pengembangan kemampuan kebahasaan lebih diorientasikan pada permainan yang menyenangkan bagi anak, yang dalam permainan tersebut anak belajar tentang huruf, kosa kata, baca tulis dan komunikasih, tanpa instruksi akademik. Pengenalan yang dimaksud adalah:
a. Pengenalan baca tulis
Pengenalan baca tulis harus dilakukan melalui cara-cara yang menyenangkan. Tujuannya adalah agar dapat merangsang kepekaan anak terhadap simbol tulis dan merangsang minat membaca dan menulis.
b. Pengembangan kemampuan berbicara dan kosakata
Bercakap-cakap, bermain peran, permainan susun kata, cerita bersambung-sambung, bercerita, pembaca buku, permainan kata mirip, pengembangan kemampuan menyimak.
2. Metode Bermain Peran (Role Playing)
a. Pengertian Metode Bermain Peran (Role Playing)
Menurut Yamin (dalam Novi Wulandari, Hasan Mahfud, Matsuri 2014: 2), “Metode secara harfiah berasal dari bahasa yunani methodos, yang artinya jalan/cara. Metode pembelajaran diartikan sebagai cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, khususnya kegiatan penyajian materi pembelajaran kepada siswa”.
Menurut Ali (dalam Mulyono, 2011: 44-45), metode bermain peran merupakan “Salah satu strategi pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia intrapersonal relationship, terutama yang menyangkut kehidupan sekolah, keluarga maupun perilaku masyarakat sekitar peserta didik”. Menurut Mulyono (2011: 45) :
Metode bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam metode simulasi, pembelajaran yang diarahkan kepada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia, menyangkut sekolah, keluarga, maupun perilaku masyarakat sekitar anak.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode bermain peran adalah salah satu pembelajaran yang diarahkan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia terutama menyangkut dalam kehidupan sekolah, keluarga maupun prilaku masyarakat disekitar anak.Menurut Sanjaya (dalam Srihayati, 2016: 118), bahwa metode bermain peran yaitu :
Metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasikan peristiwa sejarah, mengkreasikan peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang muncul pada masa mendatang .
Srihayati (Depdiknas, 2016: 118), metode bermain peran
yaitu “Cara memberikan pengalaman pada anak melalui bermain peran, yakni akan diminta memainkan peran tertentu dalam suatu permainan peran misalnya bermain jual beli sayur, bermain menolong anak yang jatuh, bermain menyayangi keluarga, dan lain-lain”.
Sejalan dengan pendapat di atas Ahmadi dan Prasetyo (dalam Srihayati, 2016: 118), mengemukakan bahwa “metode
bermain peran disebut juga sosiodrama maupun bermain peranan yaitu suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada para anak untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang, seperti yang dilakukan dalam hubungan sosial sehari-hari dalammasyarakat”.D alam proses bermain peran peserta diminta untuk :
1) Mengandaikan suatu peran khusus, apakah sebagai mereka sendiri atau sebagai orang lain.
2) Masuk dalam situasi yang bersifat skenario, yang dipilih berdasarkan relevansi dengan pengetahuan yang sedang dipelajari oleh peserta atau kurukulum.
3) Bertindak persisi sebagaimana pandangan mereka terhadap orang yang dipermainkan dalam situasi-situasi tertentu,
dengan menyepakati untuk bertindak “seolah-olah peran-peran tersebut adalah peran-peran-peran-peran mereka sendiri dan bertindak berdasar asumsi tersebut.
4) Menggunakan pengalaman-pengalaman peran yang sama pada masa lalu untuk mengisi batas yang hilang dalam suatu peran singkat yang ditentukan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bermain peran adalah suatu cara memberikan pengalaman kepada anak untuk memainkan peran, tingkah laku atau penghayatan seseorang dan mengekspresikan peristiwa-peristiwa yang aktual. Suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada para anak untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang.
b. Tujuan Metode Bermain Peran (Role Playing)
Menurut Sudjana (dalam Srihayati, 2016: 118), tujuan
metode bermain peran yaitu “Agar anak dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab, dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan dan merangsang kelas untuk berfikir dan memecahkan masalah”.
Sedangkan menurut Mulyasa (2012: 173), bermain peran dalam pendidikan anak usia dini merupakan “Usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi”.
Untuk kepentingan tersebut, sejumlah anak bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Melalui peran, anak-anak berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih.
Selama pembelajaran berlangsung, setiap pemeran dapat melatih sikap empati, simpati, rasa benci, marah, senang dan peran-peran lainnya. Pemeran tenggelam dalam peran yang dimainkannya, sedangkan pengamat melibatkan diri secara emosional dan berusaha mengidentifikasikan perasaan-perasaan dengan perasaan yang tengah bergejolak dan menguasai pemeran.
Dalam pembelajaran dengan bermain peran, pemeranan tidak dilakukan secara tuntas sampai masalah dapat dipecahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa penasaran anak-anak yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan ke luar. Dengan demikian, diskusi setelah bermain peran akan berlangsung hidup dan menggairahkan.
Menurut Mulyasa, (2012: 174), hakikat bermain peran dalam pembelajaran PAUD terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Melalui barmain peran dalam pembelajaran, diharapkan anak-anak mampu:
1) Mengeksplorasi perasaan-perasaannya.
2) Memperoleh wawasan tentang sikap, nilai, dan persepsinya.
3) Mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan;
4) Mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.
Menurut Sudjana (dalam Srihayati, 2016:118), bahwa tujuan bermain peran antara lain:
a) Agar anak dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
b) Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab. c) Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam
situasi kelompok secara spontan dan
d) Merangsang kelas untuk berfikir dan memecahkan masalah.
c. Manfaat Metode Bermain Peran (Role Playing)
Menurut Dhieni (2007: 32), berikut ini adalah beberapa manfaat metode bermain peran yaitu:
1) Diupayakan untuk membantu anak didik menemukan makna dari lingkungnnya yang bermanfaat.
2) Dapat memecahkan problem yang tengah dihadapi dengan bantuan kelompok sebayanya.
4) Dapat memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi-situasi sosial terutama hubungan antara pribadi mereka.
Sedangkan menurut Mulyasa (2012: 173), manfaat metode
bermain peran yaitu “Membantu anak-anak menentukan makna dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya dan anak-anak diajak belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok soaial yang beranggotakan teman-teman sekelas”.
Dari pendapat di atas bahwa manfaat metode bermain peran yaitu anak dapat membantu anak mengembangkan kemampuan sosial emosional. Seseorang anak dapat mengekspresikan dan memainkan tokoh-tokoh yang pemarah, baik hati, takut, penyayang dan sebagainya secsra sendiri tanpa campur tangan dan bantuan dari orang lain. Oleh sebab itu bermain peran dapat menjadi wahana bagi pengembangan sosial, emosional dan kemandirian anak.
d. Aspek-Aspek yang Dikembangkan Melalui Metode Bermain Peran (Role Playing)
Aspek-aspek yang dapat dikembangkan melalui metode bermain peran ada beberapa macam. Menurut wiwid D Wijaya (dalam Rahmalina, 2017: 29), melalui bermain peran diharapkan dapat mengembangkan aspek-aspek berikut:
1) Kemampuan sosial emosional, ketika main peran anak-anak mendiskusikan peran-perannya atau naskah cerita, yang memungkinkan anak untuk belajar saling menghargai pendapat teman, bekerjasama dan mengendalikan keiginan-keinginannya sendiri karena harus saling berbagi dengan teman.
2) Kemampuan motorik, Ketika main peran anak-anak belajar mengembangkan keterampilan otot-otot kecilnya, misalnya ketika anak mengancingkan baju boneka.
3) Kemampuan kognisi, ketika bermain peran anak membuat gambar atau coretan di dalam otaknya tentang pengalaman-pengalaman masalalunya dan gambar atau coretan tentang keadaan yang anak bayangkan.
4) Kemampuan bahasa, ketika bermain peran anak-anak menggunakan bahasa untuk menjelaskan suatu yang sedang mereka kerjakan dan mendiskusikan peran-perannya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang dikembangkan melalui metode bermain peran kemampuan sosial emosional yaitu ketika bermian peran anak-anak mendiskusikan perannya untuk belajar saling menghargai pendapat teman, kemampuan motorik yaitu ketika anak bermain peran mengembangkan otot- otot kecil, kemampuan kognisi yaitu coretan di dalam otaknya tentang pengalaman-pengalaman anak dan kemampuan bahasa yaitu ketika bermain peran anak menggunakan bahasa untuk menjelaskan yang akan diperankan.
e. Keunggulan dan Kelemahan Metode Bermain Peran (Role
Playing)
Menurut Djamarah (dalam Srihayati, 2016: 118), keunggulan metode bermain peran:
1) Anak melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan didramakan sebagai pemain harus memahami, mengingat isi bahan yang akan didramakan sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya.
2) Anak akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. 3) Bakat yang terdapat pada anak dapat dipupuk sehingga
dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah.
4) Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
5) Anak memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya.
6) Bahasa lisan anak dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami oleh orang lain.
Bermain peran memiliki kelemahan masing-masing menurut Abdorrakhman (2010: 57), berikut ini adalah beberapa kelemahan utama dari penggunaan metode bermain peran:
1) Tidak semua guru menguasai kompetensi yang akan disimulasikan sehingga jika dipaksakan menerapkan bermain peran, maka dimulasi tidak mewakili kondisi nyata.
2) Tidak semua guru memiliki kompetensi merancang kegiatan simulasi.
3) Memerlukan persiapan dan penyiapsn yang matang serta membutuhkan banyak waktu dan sumber daya lainnya. 4) Jika skenario pembelajaran tidak direncanakan dengan
cermat dan tidak dilaksanakan dengan serius justru akan menjadi kegiatan yang sia-sia dan perubahan dalam ketiga ranah perilaku tidak akan tercapai.
5) Bisa terjadi demotivasi dalam diri anak yang kurang berperan dalam kegiatan tersebut atau memainkan peran yang kurang disukainya.
6) Jika waktu terbatas, tidak seluruh skenario pembelajaran dapat dituntaskan sehingga tidak semua kompetensi yang diharapkan dikuasai anak dapat tercapai.
7) Terdapat kemungkinan hanya menguasai kompetensi dari peran yang dimainkan saja sehingga tidak utuh. 8) Terdapat kemungkinan anak tidak serius dalam
memainkan peranannya sehingga kegiatan simulasi menjadi ajang saling mencemooh diantara mereka.
f. Langkah-langka Metode Bermain Peran (Role Playing)
Menurut Djamroh (dalam Srihayati, 2016:119), bahwa jenis kegiatan bermain peran di TK adalah “Jenis bermain peran sebagai seorang pemberi jasa, seperti dokter, tukang pos, tukang sayur dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya dapat menggungkapkan alat-alat atau sarana yang diperlukan antara lain, ruang tamu, ruang makan, tempat tidur boneka, ruang dapur dan perlengkapannya”.
Kegiatan bermain peran di TK disamping fantasi dan emosi yang menyertai permainan itu, anak belajar berbicara sesuai dengan peran yang dimainkan, belajar mendengarkan dengan baik, dan melihat hubungan antara berbagai peran yang dimainkan di drama. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, setiap metode pembelajaran memiliki langkah-langkah tertentu yang memberikan kekhasan terhadap metode itu sendiri. Demikian juga halnya dengan metode role playing.
Menurut Sanjaya (dalam Srihayati, 2016: 119), bahwa langkah-langkah metode bermain peran sebagai berikut:
1) Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai role playing.
2) Guru memberikan gambaran maslah dalam situasi yang akan dimainkan.
3) Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam role playing, peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disediakan.
4) Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya khususnya kepada anak yang terlibat dalam pemeranan.
5) Role playing mulai dimainkan oleh kelompok pemeran. 6) Guru menarik perhatian anak.
7) Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan.
8) Role palying hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong anak berfikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang dimainkan. 9) Melakukan diskusi tentang peran yang dimainkan.
Sedangkan menurut Kurniyat, Sutarjo, dan Wulan (2016: 5), berikut ini langkah-langkah bermain peran yakni:
Langkah pertama mengumpulkan anak-anak untuk diberikan pengarahan dan aturan serta tata tertib dalam bermain peran, guru memberikan alat-alat permainan yang akan digunakan oleh anak-anak untuk bermain, guru memberikan pengarahan sebelum bermain dan mengabsen anak-anak serta menghitung jumlah anak bersama-sama, mengatur ruangan di sekolah, menetapkan peran anak, guru memberi tugas kepada anak sebelum kegiatan, anak bermain sesuai dengan perannya, anak bebas memilih
permainan yang ada sesuai dengan kebutuhan anak, guru mengawasi dan mendampingi anak, guru tidak banyak membantu anak, guru mengobservasi kegiatan anak, guru menyiapkan buku cerita sebagai refleksi bagi anak, guru menanyakan kegiatan bermain peran, guru menanyakan perasaan saat bermain.
g. Pelaksanaan Pembelajaran Metode Bermain Peran (Role
Playing)
Menurut Mulyasa (2012:176), “terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni kualitas pemeranan, analisis dalam diskusi dan pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan”.
1) Tahap Pembelajaran
Shaftel dan Shaftel (dalam Mulyasa, 2012: 176-180), mengungkapkan sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran, yaitu menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, memilih partisipan/ peran, menyusun tahap-tahap peran, menyiapkan pengamat, pemeranan, diskusi dan evaluasi, pemeranan ulang, diskusi dan evaluasi tahap dua, membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Kesembilan tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut.
a) Menghangatkan suasana dan motivasi anak
Pada tahap ini guru mengemukakan masalah. Masalah dapat diangkat dari kehidupan anak-anak, agar dapat merasakan masalah itu hadir di hadapan mereka, dan memiliki hasrat untuk mengetahui bagaimana masalah itu sebaiknya dipecahkan.
Pada tahap ini anak-anak dan guru mendeskripsikan berbagai watak dan karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian anak-anak diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran.
c) Menyusun tahap-tahap peran
Pada tahap ini para pemeran menyusun garis- garis besar adegan yang akan dimainkan. Guru membantu anak-anak menyediakan adegan-adengan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, misalnya dimana pemeranan dilakukan, apakah tempat sudah dipersiapkan, dan sebagainya.
d) Menyiapkan pengamat
Sebaikanya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlihat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua anak turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya.
e) Tahap pemeranan
Pada tahap ini, anak-anak mulai beraksi spontan, sesuai dengan peran masing-masing.pemeranan cukup dilakukan secara singkat, sesuai tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah peserta didik yang melibatkan, tak perlu memakan waktu yang lama. Pemeranan dapat berhenti ketika anak-anak telah merasa cukup, dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dilakukan. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan.
f) Diskusi dan evaluasi pembelajaran
Diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara emosional maupun secara intelektual. Dengan
melontarkan sebuah pertanyaan, anak-anak akan segera terpancing untuk diskusi. Diskusi mungkin dimulai dengan tafsiran mengenai baik tidaknya peran yang dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang ditampilkan, apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
g) Pemeranan ulang
Pemeranan ulang dapat dilakulan berdasarkan evaluasi dan diskusi mengenai alternatif pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut, demikian halnya dengan Para pelakunya. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah, dan setiap perubahan peran akan memengaruhi peran-peran yang lainnya.
h) Diskusi dan evaluasi tahap dua
Diskusi evaluasi pada tahap ini sama seperti pada atahap enam, hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin lebih jelas, anak-anak menyetujui cara tertentu untuk memecahkan masalah meskipun mungkinkan anak yang belum menyetujuinya. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara pasti dalam mengahadapi masalah kehidupan
i) Berbagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan Tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran adalah membantu anak-anak untuk memperoleh pengalaman- pengalaman berharga dalam kehidupannya memlalui kegiatan interaksional dengan teman-temannya. Pada tahap ini, anak-anak saling
mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman-teman dan sebagainya.
Keberhasilan bermain peran bergantung pada kemampuan dalam mengungkap pengalaman pribadi anak-anak, disamping terdapat aneka ragam pengalaman, dalam hal tertentu dimungkinkan ada kesamaan pengalaman di antara anak. Berdasarkan kesamaan pengalaman ini di tarik suatu generalisasi.
2) Sistem sosial
Sistem sosial dari model ini disusun secara sederhana. Guru bertanggung jawab minimal pada tahap permulaan. Selanjutnya guru membimbing para peserta didik untuk melanjutkan kegiatan sesuai langkah-langkah yang telah ditetapkan. Meskipun ada pembatasan terhadap peran guru dalam berrmain peran, sesungguhnya dialah yang menjadi penggerak utama. Guru yang mula-mula melontarkan masalah, memimpin diskusi, memilih peran, memutuskan kapan bermain peran harus dimulai dan diakhiri, membantu merancang pemeranan, serta yang lebih penting, guru menentukan aspek-aspek masalah yang diperankan yang akan dieksplorasi lebih jauh.
3) Prinsip reaksi
Sedikitnya terdapat lima prinsip reaksi penting dari model pembelajaran bermain peran. Pertama, guru selayaknya menerima respon anak-anak terutama yang berkaitan dengan pendapat dan perasaannya tanpa penilaian terhadap baik atau buruknya reaksi yang diberikan. Kedua, guru seyogianya membantu anak-anak mengeksplorasi situasi masalah dari berbagai segi, berusaha membantu mencari titik temu dan perbedaan dari pandangan-pandangan yang
dikemukakan anak-anak. Ketiga dengan cara merefleksikan, menganalisis dan menangkap respon anak-anak, guru berupaya meningkatkan kesadaran mereka akan pandangan-pandangan dan perasaan-perasaannya sendiri. Keempat, guru perlu menekankan kepada anak-anak bahwa terdapat banyak cara untuk memainkan suatu peran; setiap cara memiliki konsekuensi yang berbeda dan beraneka ragam; yang harus dieksplorasi oleh anak-anak. Kelima, guru perlu menekankan kepada anak-anak bahwa terdapat berbagai cara untuk memecahkan suatu masalah; tidak ada satu cara pun yang paling tepat. Anak-anak perlu mengkaji hasil dari suatu pemecahan yang ditawarkan untuk mengetahui tepat atau tidaknya pemecahan masalah yang dilakukan.
4) Sistem penunjang
Sistem penunjang dalam pembelajaran bermain peran cukup sederhana, tetapi sangat penting. Hal yang sangat penting dalam bermain peran adalah situasi masalah, yang biasanya disampaikan secara lisan, tetapi dapat juga dikemukakan melalui lembaran-lembaran yang dibagikan kepada anak-anak. Dalam lembaran tersebut dikemukakan perincian langkah-langkah yang akan diperankan lengkap dengan watak pemeran masing-masing.
Model bermain peran sangat fleksibel, serbaguna dan dapat diterapkan untuk mencapai sejumlah tujuan pembelajaran yang mungkin tidak dapat atau sulit untuk direalisasikan dengan model lain. Bermain peran sebagian besar peserta didik mampu secara bebas mengungkapkan perasaan-perasaannya, nilai-nilai, sikap-sikap, dan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi.
Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan guru dalam memilih topik dalam bermain peran agar memadai
bagi diri peserta didik adalah usia anak, latar belakang sosial budaya, kerumitan masalah, kepekaan topik yang diangkat sebagai masalah, dan pengalaman anak dalam bermain paran.
h. Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan Verbal Linguistik
Menurut Yuliani Nurani (2009: 187), hubungan metode bermain peran memberi penerapan terhadap kecerdasan verbal linguistik. Salah satu kiat untuk mengembangkan kecerdasan verbal linguistik adalah bermain peran.
Kegiatan bermain peran ini anak diajarkan melakukan suatu adegan seperti yang pernah anak alami. Dalam bermain peran ini anak melakukan dialog atau berkomunikasi dengan lawan mainnya, hal ini dapat mengembangkan kemampuan dalam penggunaan kosa kata menjadi suatu kalimat dan berkomunikasi dengan orang lain.
Sebelumnya menurut Emmy Anggarini (2015: 2), metode bermain peran merupakan metode yang menarik dan menyenangkan bagi anak usia dini yang akan belajar berbahasa dan berkomunikasi dengan lawan berbicaranya. Metode yang menyenangkan dan mengajak anak untuk ikut aktif dalam kegiatan berbahasa, berkomunikasi pada anak misalnya metode bermain peran.
Dari pendapat di atas bahwa penerapan metode bermain peranterhadap kecerdasan verbal linguistik karena dengan bermain peran anak diajarkan melakukan suatu peran atau adegan yang pernah di alami oleh anak. Dalam bermain peran ini anak melakukan dialog atau berkomunikasi dengan lawan mainnya, hal ini dapat mengembangkan kemampuan dalam penggunaan kosa kata menjadi suatu kalimat dan berkomunikasi dengan orang lain.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Berdasarkan tinjauan karya tulis relevan, dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis jurnal yaitu tentang “Pengaruh
Penerapan Metode Bermain Peran Terhadap Kecerdasan Verbal Linguistik anak kelompok A di TK Aisyiyah 3 Surabaya (Menurut Nilam Sari Luvira dan Satiningsih). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis pre-experimentaldan desain penelitian one group pretest-posttest. Kesimpulan dari penelitian ini adanya pengaruh metode bermain peran terhadap kecerdasan verbal linguistik anak.Terbukti bahwa pada anak kelompok A mampu memahami dan mengikuti perintah, berusaha untuk menulis abjad dasar, mulai membaca kata sederhana, mengenal abjad dengan baik dan memperlihatkan minat terhadap buku-buku lebih baik pada saat pembelajaran terakhir yaitu pada kegiatan observasi terakhir setelah diberikan perlakuan. Perbedaan penelitian yang dilakukan Nilam Sari Luvira dan Satiningsih ini menggunakan statistika non-prarametrik, dimana data yang akan di dianalisis tidak harus berdistribusi normal sedangkan peneliti tidak menggunakan statistik non-parametrik.
Selanjutnya penelitian Emmy Angraini tentang “Meningkatkan
Kecerdasan Verbal Linguistik Melalui Metode Bermain Peran pada anak kelompok B TK Pertiwi Mencil Surakarta”. Penulis dan Emmy Anggraini
sama-sama membahas tentang kecerdasan verbal linguistik dan metode bermain peran. Dimana Emmy Anggraini (2015) menggunakan metode penelitian tindakan kelas atau PTK untuk meningkatkan kecerdasan verbal linguistik. Hasil penerapan melalui metode bermain peran meningkat menjadi 84,21 % setelah tindakan kelas siklus kedua dilakukan, di mana sebelum tindakan kelas dilakukan anak yang memiliki kreativitas hanya 66,25 % dari 30 anak. Penelitian tersebut memiliki ruang lingkup dan sasaran yang hampir sama dengan penelitian yang peneliti lakukan, yaitu sama-sama meningkatkan kecerdasan verbal linguistik anak usia dini. Namuan penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian yang ada sebelumnya, karena peneliti ingin meningkatkan kecerdasan verbal linguistik melalui metode bermain peran.
Selanjutnya penelitian Wulandari (2014) “Meningkatkan
Kecerdasan Verbal Linguistik Melalui Metode Bernyanyi TK Shandhy Putra Surakarta tahun tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian yang dilakukan Wulandari adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian adalah terjadi peningkatan pada siklus I (58,33%) dan pada siklus II meningkat menjadi (83,33%). Sedangkan yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah kalau penelitian Wulandari menggunakan Siklus sedangkan penelitian yang peneliti lakukan dengan metode eksperimental dengan tipe one group pretest-postest, analisis data yang digunakan yaitu menggunakan uji statistik uji-t sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan Interaktif dan Huberman.
C. Kerangka Berpikir
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori yang dikemukakan diatas, penulis menyimpulkan bahwa untuk penerapan kecerdasan verbal linguistik anak di Kelompok Bermain Anak-Ku, salah satunya dengan memulai metode bermain peran akan dilihat dari bagan berikut ini.