BAB II BAB II
TINJAUAN TEORI TINJAUAN TEORI
A.
A. Konsep kekerKonsep kekerasan dalam asan dalam Rumah TangRumah Tanggaga
Menurut undang-undang kekerasan dalam rumah tangga tahun Menurut undang-undang kekerasan dalam rumah tangga tahun 2004, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan 2004, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
lingkup rumah tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga juga diistilahkan dalam kekerasan Kekerasan dalam rumah tangga juga diistilahkan dalam kekerasan domestik. Dengan pengertian domestik ini diharapkan memang konotasinya domestik. Dengan pengertian domestik ini diharapkan memang konotasinya tidak hanya terjadi dalam hubungan suami istri saja, tetapi juga pada setiap tidak hanya terjadi dalam hubungan suami istri saja, tetapi juga pada setiap pihak yang ada di dalam keluarga tersebut (masih memiliki hubungan darah) pihak yang ada di dalam keluarga tersebut (masih memiliki hubungan darah) atau bahkan
atau bahkan pada seorang pekpada seorang pekerja rumah erja rumah tangga selaku tangga selaku pihak yang pihak yang turutturut dilindungi. Kasus kekerasan terhadap pembantu rumah tangga sering kali dilindungi. Kasus kekerasan terhadap pembantu rumah tangga sering kali diselesaikan dengan menggunakan pasal-pasal dalam kitab Undang-Undang diselesaikan dengan menggunakan pasal-pasal dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), namun pada praktiknya hal ini menjadi tidak terlihat Hukum Pidana (KUHP), namun pada praktiknya hal ini menjadi tidak terlihat karena status mereka yang rentan mendapatkan perlakuan kekerasan.
Persoalan KDRT merupakan fenomena gunung es yang hanya kelihatan puncaknya sedikit tetapi sebetulnya tidak menunjukkan fakta yang valid. Persoalan KDRT banyak terjadi di keluarga , namun umumnya keluarga korban tidak mempunyai ruang atau informasi yang jelas apakah persoalan keluarga mereka layak untuk dibawa ke pengadilan, karena selama ini masyarakat menganggap bahwa persoalan-persoalan KDRT adalah persoalan yang sifatnya sangat pribadi dan hanya dapat diselesaikan dalam lingkup rumah tangga saja.
Salah satu konsekuensi meningkatnya jumlah korban KDRT sebenarnya sangat berakibat terhadap persoalan rumah tangga mereka sendiri. Jika kasus-kasus KDRT pada akhirnya menimbulkan dampak traumatik pada anggota keluarga yang lain dan meningkatkan angka kriminaliktas, maka hal itu akan semakin menguatkan perlunya intervensi negara melalui produk UU agar kelompok korban bisa mendapatkan keadilan dan pelaku ataupun calon pelaku tidak merajalela. Ketidak beranian korban sangat berkaitan erat dengan budaya yang berlaku di Indonesia, yaitu budaya patriarki yang sangat kental dan sering kali melihat bahwa maalah KDRT bisa diselesaikan tanpa harus melalui jalur hukum. Ironisnya pilihan untuk menyelesaikan persoalan KDRT tanpa melaui jalur hukum selalu disampaikan oleh aparat penegak hukum itu sendiri. Padahal aparat penegak hukum sebetulnya sangat mengetahui bahwa persoalan KDRT adalah kejahatan yang harus direspons dengan hukum.
Kekerasan dalam rumah tangga memang tidak bisa dilepaskan secara murni sebagai satu bentuk kejahatan tanpa harus disandingkan dengan satu bentuk hubungan keluarga. Hal ini merupakan hal yang sangat dilematis tetapi juga disadari oleh korban, khususnya oleh korban yang melaporkan. Mereka yang menjadi korban KDRT pada umumnya memang tidak bisa kemudian secara gagah berani mengatakan bahwa dirinya akan melaporkan anggota keluarganya . Hal ini mungkin membutuhkan satu proses konseling yang cukup lama.
Undang-Undang KDRT membagi ruang lingkup KDRT menjadi tiga bagian hubungan, yaitu hubungan garis keturunan darah (misalnya anak), hubungan suami istri, hubungan orang yang bekerja di dalam lingkup dalam keluarga tersebut atau tidak punya hubungan sama sekali.Dari beberapa beberapa pengamatan, ditemukan bahwa KDRT dapat terjadi di segala tingkat ekonomi. Kelompok yang rentan menjadi korban KDRT adalah istri, anak, dan pembantu rumah tangga, secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa siapa saja bisa sangat rentan mendapatkan kekerasa asalkan ia berjenis kelamin perempuan, namum tidak menutup kemungkinan suami mendapatkan perlakuan kekerasa dari istrinya. Kekerasan dalam rumah tangga juga mungkin saja dilakukan oleh ibu kandung terhadap anak kandungnya sendiri. Hal ini juga telah diantisipasi dalam UU KDRT, bahwa ruang lingkup KDRT adalah kekerasan domestik, artinya hubungan perkawinan tidak hanya dilihat dari segi hukum negara, tetapi juga dari
hukum adat atau agama, oleh karena itu, yang dilindungi tidak hanya istri tetapi juga anak, pasangan hidup dan pembantu rumah tangga.
B. Jenis Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT Tahun 2004
Jenis kekerasan dalam rumah tangga menurut UU KDRT tahun 2004 adalah sebagai berikut :
1. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Memukul dengan menggunakan alat tubuh atau alat bantu dan bisa dideteksi dengan mudah dari hasil visum.
2. Kekerasan Psikis
Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang.
3. Kekerasan Ekonomi
Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.
4. Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual adalah pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut.
Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersil dan atau tujuan tertentu. Dalam KUHP disebut delik kesusilaan, namun di KUHP tidak dikenal kekerasan seksual terhadap istri.
Undang-Undang KDRT mengenal kekerasan seksual terhadap istri (marital rape). Hal ini akan terlihat janggal karena kerangka yang dipakai adalah perkawinan sebagai satu bentuk yang melegitimasi apapun bentuk interaksi antara suami dan istri. Sebagai contoh, anggapan yang menyatakan bahwa dalam suatu hubungan suami-istri tidak ada perkosaan, karena seorang istri hukumnya wajib untuk melayani suami, jadi tidak ada yang namanya kekerasan ataupun paksaan. Pembuktian dalam UU KDRT tidak hanya melihat pembuktian dalam kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), oleh karena itu UU KDRT tidak hanya mengatur hukum materielnya saja, tapi juga mengatur hukum acaranya kecuali jika ada hal-hal tertentu yang tidak diatur dalam UU KDRT maka akan menggunakan KUHAP.
Undang-Undang KDRT memungkinkan satu alat bukti sebagai pembuktian yang dirasa cukup. Namun hal ini perlu didiskusikan lebih lanjut karena masih mengundang perdebatan, terutama dari pihak aparat penegak hukum untuk itu perlu segera dicari jalan keluar terhadap masalah pembuktian ini di tengah keterbatasan alat bukti dengan tidak menghilangkan kaidah-kaidah hukum yang ada. Selain itu perlu dipikirkan
keselamatan korban (terutama jika korban tinggal satu rumah degan pelaku), mungkin perlu disediakan rumah aman (shelter ) kepada korban KDRT sehingga memungkinkan si korban atau saksi untuk sementara waktu tinggal di situ sambil melakukan konseling terus-menerus. Pendirian rumah aman ini didasarkan pada pertimbangan bahwa ketika kasus tersebut dilaporkan dan kemudian ditindaklanjuti sampai diputus oleh pengadilan bagi korban umumnya akan tetap meninggalkan persoalan-persoalan yang menyangkut psikis yang harus diselesaikan. Selain rumah aman yang didirikan seorang perawat juga perlu membuka unit untuk kelompok perempuan dan anak korban kekerasan berupa Ruang Pelayanan Khusus (RPK) yang berada di tingkatan kepolisian daerah.
C. Tujuan Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT Tahun 2004
Tujuan penghapuasan kekerasan dalam rumah tangga menurut UU KDRT tahun 2004 adalah sebagai berikut :
1. Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga 2. Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga
3. Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga
D. Siklus KDRT
Ciciek (1999, hal.29) menjelaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu perilaku yang berulang dan membentuk suatu pola yang khas.Untuk memahami masalah kekerasan dalam rumah tangga, kita harus memahami siklus atau lingkaran kekerasan tersebut. Pemahaman tersebut akan sangat membantu kita untuk mengetahui mengapa perempuan atau istri yang dianiya tetap mencoba bertahan dalam situasi yang bu ruk. Adapun siklus atau tahap-tahap tersebut sebagai berikut: tahap awal atau tahap munculnya ketegangan, tahap pemukulan akut, dan tahap bulan madu semu. Berikut ini adalah penjabaran tentang siklus kekerasan:
E. Faktor Resiko Terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Beberapa faktor pencetus terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut : 1. Faktor Masyarakat Kemiskinan Konflik Cinta Harapan Teror Minta maaf
Urbanisasi yang terjadi keenjangan pendapatan di antara penduduk kota.
Masyarakat keluarga ketergantungan obat
Lingkungan dengan frekuensi dan kriminalitas yang tinggi 2. Faktor Keluarga
Adanya anggota keluarga yang sakit dan membutuhkan bantuan terus-menerus, misalnya anak dengan kelainan mental dan orang lanjut usia (lansia).
Kehidupan keluarga yang kacau, tidak saling mencintai dan menghargai serta tidak menghargai peran wanita.
Kurang adanya keakraban dan hubungan jaringan sosial pada keluarga Sifat kehidupan keluarga inti bukan keluarga luas.
3. Faktor Individu
Di Amerika Serikat, mereka yang mempunyai resiko lebih besar mengalami kekerasan dalam rumah tangga ialah sebagai berikut :
Wanita yang lajang, bercerai, atau ingin bercerai Berumur 17-28 tahun
Ketergantungan obat atau alkohol atau riwayat ketergantungan kedua zat tersebut
Sedang hamil
F. Penangganan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Dalam kaitan kekerasan dalam rumah tangga, selama ini yang banyak dilakukan di Indonesia adalah upaya pedampingan korban. Hal ini dilakukan oleh organisasi non pemerintah seperti Kayanamitra, Rumah ibu, Rifka anisa dan lain-lain. Kegiatan tersebut terutama pada pedampinga korban kekerasan yang dari segi kesehatan masyarakat termasuk pencegahan sekunder khususnya pada pencegahan cacat. Kegiatan lainnya yang dapat dilakukan secara singkat dapat dilihat pada bagan ( Stark Flitcraft, 1998;WHO, 1997:Surjadi dan Handayani, 1999).
Bagan Lima tingkat pencegahan masalah kekerasan dalam rumah tangga
Kemitraan Harmonis di Keluarga Individu
Keluarga Lingkungan
Dikutip dari Keperawatan Kesehatan Komunitas, Teori dan praktik dalam Keperawatan Promosi Kesehatan Peningkatan kesadaran masyarakat akan kesetaraan gender pada kehidupan keluarga dan masyarakat Perlindungan Khusus Perlindungan kesadaran gender dan bahaya KDRT : Pasangan yang mau menikah Orang tua Anak sekolah Guru Tokoh Agama Masyarakat Dokter Mahasiswa Psikolog Ahli Hukum Diagnosa Dini dan Pengobatan Segera Screening kelompok resiko tinggi Screeningdi klinik gawat darurat/kebid anan Umum Konsultasi keluarga Klinik kesehatan Jiwa Pencegahan Cacat Pendampingan : - Psikologis - Medis - Sosial - Ekonomi - Hukum Peningkatan kepercayaan diri korban Krisiscenter Rehabilitasi Rehabilitasi korban anak pelaku
Kegiatan yang dilakukan dapat dibedakan atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
Pencegahan primer, terdiri atas promosi kesehatan dan pencegahan khusus
Pencegahan sekunder, terdiri atas diagnosis dini, pengobatan segera, dan pembatasan cacat.
Pencegahan tersier, merupakan kegiatan rehabilitasi terhadap korban, anak, dan pelaku
G. Kendala Penanganan Kasus Kekerasa dalam Rumah tangga
Kendala-kendala dalam penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga adala sebagai berikut :
Kendala yang berhubungan dengan budaya atau tradisi yang meliputi : - Tradisi pemingikitan (seclusion)
- Tradisi pengucilan dalm bidang tertentu (Exlusion)
- Feminisme wanita (rendah hati-modest, taat-submissive).
Korban kurang faham bahwa perbuatan pelaku merupakan tindak pidana
Tenggang waktu antara kejadian dengan saat pelaporan korban ke polisi cukup lama, sehingga bekas luka atau hasil visum et repertum tidak dapat mendukung
Korban merasa pelaku adalah tulang punggung keluarga, sehingga apabila dilaporkan maka tidak akan ada yang membiayai diri dan anak-anaknya.
H. Hak-Hak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Hak-hak korban kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut :
1. Hak mendapatkan perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, dan lembaga sosial
2. Hak mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan midisnya
3. Hak mendapatkan penanganan secara khusus berkaitan dengan kerasiaan dan privasi korban.
4. Hak mendapatkan pedampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum. 5. Hak mendapatkan pelayanan bimbingan rohani.
I. Kewajiban Pemerintah Pada Penanganan Kekerasan Dalam Rumah tangga
Kewajiban pemerintah pada penanganan kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.
2. Menyelenggarakan komnikasi, informasi, dan edukasi tentang kekerasa dalam rumah tangga.
3. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif gender dan isu kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standar dan akreditasi pelayanan yang sensitif gender.
J. Peran Perawat Pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Berdasarkan berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia , patut diakuai seorang perawat baik dalam praktik perorangan yang dilaksanakan maupun sebagai perawat yang bekerja di pusat kesehatan masyarakat mempunyai kesempatan dan dituntut untuk memberikan pelayanan yang berkualitas bagi kliennya. Seorang perawat diharapkan mampu menerapkan pendekatan keperawatan dengan melakukan tindakan pencegahan dan kesehatan masyarakat pada praktik yang dilakukannya terhadap klien dan keluarganya. Untuk itu perilaku perawat sebagai perawat yang bertanggung jawab dengan mendampingi keluarga agar menjadi keluarga yang sehat merupakan salah satu upaya yang dapat dipandang ikut memberikan kontribusi pada upaya kesehatan bagi keluarga dan masyarakat.
Perawat puskesmas yang jumlahnya cukup besar di daerah perkotaan dapat memberikan bantuan yang bermakna bagi kesehatan keluarga dan masyarakat yang dilayaninya dan lebih jauh lagi dapat diharapkan ikut mengatasi masalah kesehatan perkotaan di tingkat keluarga dan perorangan. Selain itu bagi perawat puskesmas prinsip pencegahan dan upaya perumusan masalah, identifikasi faktor resiko dan protektif, serta melakukan intervensi dan
perluasan intervensi merupakan siklus kegiatan yang mencakup dan mengisi program kesehatan masyarakat yang dikelolanya. Secara umum peran perawat dalam kasus KDRT di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesi
2. Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban
3. Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
4. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif (ruang pelayanan khusus).
5. Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban dengan pihak kepolisian, dinas sosial, serta lembaga sosial yang dibutuhkan korban.