commit to user
TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN SISWA-SISWI KELAS III SMA N 8 SOLO DALAM MENGHADAPI UJIAN
NASIONAL TAHUN 2012
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
FRANCINE ROSELIND G0009088
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta 2012
commit to user iv
ABSTRAK
Francine Roselind, G0009088, 2012. Pengaruh Bimbingan Belajar di Luar Sekolah terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Siswa-Siswi Kelas III SMA N 8 Solo dalam Menghadapi Ujian Nasional Tahun 2012. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Latar Belakang: Siswa-siswi kelas III SMA dihadapkan pada salah satu masalah yaitu Ujian Nasional (UN). Tidak jarang dalam menghadapi UN, siswa dapat mengalami kecemasan dan memilih untuk mengikuti bimbingan belajar supaya menjadi lebih siap dan mantap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bimbingan belajar di luar sekolah terhadap tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) tahun 2012.
Metode Penelitian: Desain penelitian ini cross-sectional dilakukan bulan Maret 2012 pada siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo. Teknik sampling pada penelitian menggunakan purposive random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan pembagian kuesioner selama 10-15 menit sebelum jam pulang sekolah kepada siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo. Analisis data menggunakan uji t-independent.
Hasil Penelitian: Penelitian ini menunjukkan kelompok siswa bimbingan belajar dengan kelompok tidak bimbingan belajar memiliki perbedaan yang signifikan terhadap kecemasan (p = 0,000). Diperoleh nilai r = 0,668 yang artinya kelompok siswa tidak mengikuti bimbingan belajar memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan sebaliknya.
Simpulan Penelitian: Hubungan antara tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo dengan keikutsertaan bimbingan belajar secara statistik menunjukkan hasil yang signifikan. Berdasarkan nilai r yang menunjukkan korelasi, dapat disimpulkan kelompok bimbingan belajar tidak erat kaitannya dengan tingkat kecemasan.
commit to user iv
ABSTRACT
Francine Roselind, G0009088, 2012. The Influence of Intensive Course Beyond the School to Decrease Anxiety Degree among Thirth Grade Students of SMA N 8 Solo Who Will Undergo in the National Exam 2012. Mini Thesis, Faculty of Medicine, Sebelas Maret University, Surakarta.
Background: Thirth grade students of SMA N 8 Solo faced one problem that is National Exam. Not infrequently in the face of National Exam, students can experience anxiety and choose to follow the guidance of learning to become well-prepared and steady. This study aims to find out is there any influence of intensive course beyond the school to anxiety degree among thirth grade students of SMA N 8 Solo who will undergo in the National Exam 2012.
Methods: This cross sectional study was conducted on March 2012 at the third grade students of SMA N 8 Solo. Sampling techniques to study using purposive random sampling. Data is collected by division questionnaire for 10-15 minutes before the hour after school to thirth grade students of SMA N 8 Solo. Data were analyzed using t-independent test.
Results: This study showed intensive course group and no intensive course group have significant real difference to anxiety. Obtained values of r = 0,668, which means the student does not attend intensive course had higher levels of anxiety and vice versa.
Conclusion: The relationship between anxiety level of thirth grade students of SMA N 8 Solo with intensive course participation showed a statistically significant result. Based on the value of r indicates correlation, it can be concluded that intensive course groups are not closely related to the level of anxiety.
commit to user
vi
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus yang telah memberi ide, inspirasi, kasih karunia, dan penyertaan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: “Pengaruh Bimbingan Belajar di Luar Sekolah terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Siswa-Siswi Kelas III SMA N 8 Solo dalam Menghadapi Ujian Nasional Tahun 2012”.
Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu tugas yang harus diselesaikan untuk memenuhi kurikulum di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta dan memenuhi syarat-syarat kesarjanaan pendidikan dokter di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan skripsi ini tidaklah dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu:
1. Prof. Dr. Zainal Arifin Adnan, dr., Sp.PD-KR-FINASIM, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
2. Muthmainah, dr., M.Kes, selaku Ketua Tim Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
3. Istar Yuliadi, dr., M. Si, selaku Pembimbing Utama yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan saran mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini.
4. Dr. Diffah Hanim, M. Si, selaku Pembimbing Pendamping yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan saran mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini.
5. Mardiatmi Susilohati, dr., Sp. KJ (K), selaku Penguji Utama yang telah memberi saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.
6. Enny Ratna Setyowati, drg., selaku Anggota Penguji yang telah memberi saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.
7. Kepala Sekolah beserta segenap staf yang telah membantu penulis dalam pengambilan data dan siswa-siswi SMA Negeri 8 Solo yang telah bersedia menjadi subjek penelitian.
8. Papa, Mama, kakak, dan adik-adik yang telah memberikan doa dan dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini.
9. Ruben Stevanus yang telah memberi semangat dan doa demi terselesaikannya skripsi ini.
10. Para sahabat dan teman-teman yang telah membantu dalam pengambilan data dan selalu memberikan motivasi kepada penulis. 11. Seluruh rekan seperjuangan Pendidikan Dokter 2009 dan semua pihak
atas segala bantuan dan kerjasamanya dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu, tenaga, pengetahuan, dan fasilitas yang dimiliki penulis sehingga dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Surakarta, 2012
commit to user
vii
PRAKATA vi
DAFTAR ISI vii
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN x
GLOSSARY ……… xi
BAB I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Perumusan Masalah 3
C. Tujuan Penelitian 3
D. Manfaat Penelitian 3
BAB II. LANDASAN TEORI 5
A. Tinjauan Pustaka 5
1.Kecemasan 5
2.Stres 16
3.Bimbingan Belajar luar sekolah……… 17
B. Kerangka Pemikiran 19
C. Hipotesis 20
BAB III. METODE PENELITIAN 21
A. Jenis Penelitian 21
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 21
C. Subjek Penelitian 21
D. Teknik Sampling 23
E. Rancangan Penelitian 24
F. Identifikasi Variabel Penelitian 25
G. Definisi Operasional Variabel Penelitian 25
H. Instrumen Penelitian 26
I. Cara Kerja 29
commit to user
viii
A. Deskripsi Sampel 31
B. Hasil Distribusi Sampel 31
C. Hasil Analisis Data 33
BAB V. PEMBAHASAN 35
BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN 39
A. Simpulan 39
B. Saran 39
DAFTAR PUSTAKA 40
commit to user
ix
Tabel 1. Distribusi Sampel Berdasarkan Identitas 31
Tabel 2. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin 32
Tabel 3. Analisis Pengaruh 33
Tabel 4. Hasil Analisis Data Penelitian 58
Gambar 1. Pengaruh Bimbingan Belajar di Luar Sekolah terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Siswa-Siswi Kelas III SMA N 8 Solo dalam Menghadapi Ujian Nasional
commit to user
x
Lampiran 1. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Kedokteran 44
Lampiran 2. Identitas Sampel dan Informed Consent 45
Lampiran 3. Kuesioner IPSP 47
Lampiran 4. Kuesioner L-MMPI 49
Lampiran 5. Kuesioner TMAS 51
Lampiran 6. Data Mentah Hasil Penelitian 55
Lampiran 7. Distribusi Jumlah Sampel Cemas dan Tidak Cemas
antara Kelompok Mengikuti Bimbingan Belajar dan
Kelompok Tidak Mengikuti Bimbingan Belajar 57
commit to user
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah Adolescence atau remaja berasal dari kata adolescere (kata Belanda,
adolescentia yang berarti remaja), artinya berarti tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa (Hurlock,1999). Istilah adolescence, seperti yang dipergunakan saat ini mempunyai arti yang luas mencakup kematangan mental, emosional, spasial dan fisik. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dimulai saat anak secara seksual matang dan berakhir saat anak mencapai usia matang secara hukum.
Menurut Monks (1999), remaja adalah individu yang berusia antara 12-21 tahun yang sedang mengalami masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, dengan pembagian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun masa remaja akhir.
Remaja juga didefinisikan sebagai suatu periode perkembangan dari transisi antara masa anak-anak dan dewasa, yang diikuti oleh perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional (Santrock, 1998)
Menurut definisi World Health Organization (WHO), remaja adalah anak yang berusia antara 10 hingga 19 tahun. Remaja adalah suatu masa di mana individu mengalami perubahan perkembangan psikologik yang ditandai dengan percepatan perkembangan kognitif dan konsolidasi pembentukan kepribadian (Kaplan dan Sadock, 2005).
Dari beberapa definisi di atas, penulis menggunakan definisi remaja menurut WHO dikarenakan definisi tersebut merupakan standar internasional yang memudahkan untuk penentuan kriteria.
Pada masa remaja inilah, siswa kelas III SMA dihadapkan pada salah satu masalah yaitu Ujian Nasional (UN). Penilaian hasil belajar oleh pemerintah
commit to user
dalam bentuk Ujian Nasional bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu. Tidak jarang dalam menghadapi Ujian Nasional, siswa dapat mengalami kecemasan terutama ketika hari menjelang ujian semakin dekat. Hal ini disebabkan hasil Ujian Nasional akan digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan dan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya seperti diamanatkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2007 pasal 3 tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTs/SMPLB), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMA/MA/SMALB), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2007/2008 (PERMENDIKNAS RI, 2007).
Setiap menjelang pelaksanaan UN, para siswa mulai mengalami stres yang luar biasa. Tidak hanya karena aktivitas belajar yang meningkat, tetapi yang paling berat adalah beban psikologis mengenai ambisi untuk lulus dari satuan pendidikan tertentu dan bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kekhawatiran ini nampaknya tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga terjadi pada orang tua siswa. Salah satu bentuk respon dari kekhawatiran tersebut adalah dengan mengikutsertakan anak dalam program bimbingan belajar. Dengan mengikuti bimbingan belajar, terkesan bahwa anak menjadi lebih siap dan mantap dalam menghadapi UN. Bagi siswa dari kalangan ekonomi menengah ke atas, hal ini bukan menjadi suatu masalah, tetapi bagi siswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, kenyataan tersebut akan menimbulkan kecemasan, bila anak tidak ikut bimbingan belajar, dirinya akan merasa berat untuk menghadapi persaingan dengan lingkungannya. Apalagi ketika anak berada di sekolah unggulan dimana lingkungan sekitarnya rata-rata mengikuti bimbingan belajar.
commit to user
Kecemasan dalam menghadapi UN dapat berdampak besar bagi psikologis siswa, siswa yang penyesuaian dirinya kurang baik terhadap stres akan jatuh ke dalam keadaan cemas patologis. Kecemasan merupakan gejala normal pada manusia dan disebut patologis bila gejalanya menetap dalam jangka waktu tertentu dan menganggu ketentraman individu. Kecemasan sangat menganggu homeostasis dan fungsi individu, karena itu perlu segera dihilangkan dengan berbagai macam cara penyesuaian (Maramis, 2005). Orang dengan gangguan kecemasan akan susah berkonsentrasi dan bersosialisasi sehingga menjadi kendala dalam menjalankan fungsi sosial, pekerjaan, dan perannya (Ibrahim, 2002).
Penelitian mengenai kecemasan ini dilakukan di SMAN 8 Solo karena pada sekolah tersebut belum pernah diadakan penelitian yang serupa, sehingga diharapkan hasil data yang didapatkan dari penelitian bermanfaat serta dapat menjadi referensi informasi dan pengetahuan.
B. Perumusan Masalah
Adakah pengaruh bimbingan belajar di luar sekolah terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMAN 8 Solo dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) Tahun 2012?
C. Tujuan Penelitian
Menganalisis pengaruh bimbingan belajar di luar sekolah terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi Kelas III SMA N 8 Solo dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) Tahun 2012
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bukti empiris adanya pengaruh bimbingan belajar di luar sekolah terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA dalam menghadapi Ujian Nasional
commit to user
belajar di luar sekolah terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA dalam menghadapi Ujian Nasional
2. Manfaat Praktis
Manfaat Praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
a. Diharapkan dapat digunakan sebagai pembanding atau pustaka bagi para peminat masalah yang berhubungan dengan kecemasan pada siswa-siswi kelas III SMA
b. Memberikan manfaat bagi siswa-siswi kelas III SMA sebagai persiapan menghadapi Ujian Nasional dengan baik
commit to user BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Kecemasan a. Pengertian
Istilah anxietas mulai diperbincangkan pada permulaan abad ke-20. Kata dasar anxietas dalam bahasa Indo Jerman adalah ”angh” yang dalam bahasa latin berhubungan dengan kata ”angustus, ango,
angor,anxius,anxietas, angina”. Kesemuanya mengandung arti ”sempit”
atau ”konstriksi” (Idrus, 2006).
Kecemasan atau anxietas adalah status perasaan tidak menyenangkan yang terdiri atas respons-respons patofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang tidak riil atau yang terbayangkan, secara nyata disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak diketahui. Penyerta fisiologis mencakup denyut jantung bertambah cepat, kecepatan pernapasan tidak teratur, berkeringat, gemetar, lemas, dan lelah; penyerta psikologis meliputi perasaan-perasaan akan ada bahaya, tidak berdaya, terancam, dan takut (Dorland, 2002).
Maramis (2005) mengartikan kecemasan sebagai ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya tidak diketahui. Nevid (2003) juga menjelaskan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Banyak hal yang dicemaskan, misalnya : kesehatan, relasi sekolah, ujian, dan kondisi lingkungan adalah beberapa hal yang dapat menjadi sumber kekhawatiran.
commit to user
manifestasi dari berbagai emosi yang bercampur aduk yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami tekanan perasaan dan tekanan batin. Keadaan ini membutuhkan penyelesaian secara tepat dan memuaskan sehingga individu akan merasa aman, namun pada kenyataannya tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan baik oleh individu bahkan ada yang cenderung dihindari oleh individu tersebut. Situasi ini menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan dalam bentuk perasaan gelisah, takut atau merasa bersalah. Keadaan inilah yang biasanya disebut dengan kecemasan (Daradjat, 1998).
Pada manusia, kecemasan bisa terlihat seperti perasaan gelisah yang bersifat subjektif, sejumlah perilaku (tampak khawatir, gelisah dan resah) maupun respon-respon fisiologis tertentu. Kecemasan bersifat kompleks dan merupakan keadaan suasana hati yang berorientasi pada masa yang akan datang dengan ditandai dengan adanya kekhawatiran karena tidak dapat memprediksi atau mengontrol kejadian yang akan datang (Durand dan Barlow, 2007).
Kecemasan merupakan salah satu bagian dari respon yang penting dalam mempertahankan diri. Kecemasan merupakan suatu sinyal yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam sehingga memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Saddock, 2005). Menurut Maramis (2005) kecemasan dapat bersifat normal maupun patologis. Kecemasan normal terjadi ketika seorang individu mendapatkan suatu stressor, dirinya dapat segera melakukan penyesuaian diri. Tetapi, terkadang sistem kecemasan individu tidak berfungsi dengan baik atau terlalu berlebihan sehingga terjadilah kecemasan yang patologis.
Kecemasan yang patologis menurut DSM-IV dan PPDGJ-III dapat dipahami sebagai : gangguan kecemasan, gangguan kecemasan
commit to user
akibat gangguan mental lain atau penyakit medis, atau gangguan kecemasan yang berkormobiditas dengan penyakit lain.
b. Epidemiologi
Prevalensi (angka kesakitan) gangguan kecemasan berkisar 6-7% dari populasi umum. Rasio perempuan dibandingkan laki-laki untuk gangguan kecemasan seumur hidup adalah 3:2 (Yates, 2007). Kecemasan terjadi pada 40 juta penduduk Amerika berumur 18 tahun dan sekitar 18% pada orangtua (National Institutes of Mental Health USA, 2007). c. Etiologi
Etiologi dari gangguan kecemasan belum diketahui secara pasti, namun diduga dua faktor yang berperan terjadi dalam gangguan ini yaitu faktor psikologis dan faktor biologis.
Beberapa macam teori penyebab kecemasan, yaitu : 1) Teori Psikologis
Sehubungan dengan faktor-faktor psikologis yang berperan dalam terjadinya kecemasan ada tiga teori yang berhubungan dengan hal ini, yaitu :
a) Teori psikoanalitik
Stuart (2006) mengemukakan bahwa penyebab kecemasan dapat dipahami melalui berbagai teori yaitu teori psikoanalitik dimana Sigud Freud menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego yang memberitahukan adanya suatu dorongan yang tidak dapat diterima dan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam tersebut. Misal dengan menggunakan mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa adanya gejala
commit to user
maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya konversi, pengalihan, dan regresi.
b) Teori perilaku
Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan disebabkan oleh stimuli lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan internal dengan meniru respon kecemasan orang tuanya (Kaplan dan Sadock, 2005).
Kecemasan juga dapat dipengaruhi oleh faktor ”sense
of control” atau perasaan mampu mengontrol. Penderita
gangguan cemas cenderung menilai lebih terhadap derajat bahaya dalam situasi tertentu dan menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman yang datang. Sense of control pada tiap individu tampaknya berhubungan dengan tindakan orang tua pada masa anak-anak awal (Durand dan Barlow, 2007).
c) Teori eksistensial
Teori eksistensial berpendapat bahwa terjadinya kecemasan adalah akibat tidak adanya rangsang yang dapat diidentifikasi secara spesifik. Ketiadaan ini membuat seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang menonjol di dalam dirinya (Kaplan dan Sadock, 2005). Perasaan ini lebih menganggu daripada penerimaan tentang kenyataan kehilangan/kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. 2) Teori Biologis
a) Faktor biologi yang berperan penting adalah “neurotransmitter”. Tiga neurotransmiter utama yang
commit to user
berhubungan dengan kecemasan adalah norepinefrin, serotonin, dan Gamma-aminobutyric acid (GABA).
(1) Norepinefrin
Pasien yang menderita gangguan kecemasan mungkin memiliki sistem noradrenergik yang teregulasi secara buruk. Badan sel system noradrenergik terutama berlokasi di lokus sereleus di pons rostral dan aksonnya keluar ke korteks serebral, sistem limbik, batang otak, dan medula spinalis. Percobaan pada primata menunjukkan bahwa stimulasi lokus sereleus menghasilkan suatu respon ketakutan dan ablasi lokus sereleus menghambat kemampuan binatang untuk membentuk respon ketakutan. Pada pasien dengan gangguan kecemasan, khususnya gangguan panik, memiliki kadar metabolit noradrenergik yaitu 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol
(MHPG) yang meninggi dalam cairan serebrospinalis dan urin. (2) Serotonin
Badan sel pada sebagian besar neuron serotonergik berlokasi di nukleus raphe di batang otak rostral dan berjalan ke korteks serebral, sistem limbik, dan hipotalamus. Pemberian obat serotonergik pada binatang menyebabkan perilaku yang mengarah pada kecemasan. Beberapa laporan menyatakan obat-obatan yang menyebabkan pelepasan serotonin, menyebabkan peningkatan kecemasan pada pasien dengan gangguan kecemasan.
(3) Gamma-aminobutyric acid (GABA)
Peranan GABA dalam gangguan kecemasan telah dibuktikan oleh manfaat benzodiazepine sebagai salah satu obat beberapa jenis gangguan kecemasan. Benzodiazepine
commit to user
yang bekerja meningkatkan aktivitas GABA pada reseptor GABA terbukti dapat mengatasi gejala gangguan kecemasan umum bahkan gangguan panik. Beberapa pasien dengan gangguan kecemasan diduga memiliki fungsi reseptor GABA yang abnormal (Kaplan dan Sadock, 2005).
b) Faktor genetik
Penelitian genetika semakin menunjukkan banyak bukti bahwa tiap individu mewarisi kecenderungan untuk tegang dan gelisah. Tidak ada sebuah gen tunggal pun yang menjadi penyebab kecemasan. Sebaliknya, kontribusi-kontribusi kecil dari banyak gen di wilayah-wilayah kromosom yang berbeda secara kolektif membuat tiap individu rentan terhadap kecemasan (Durand dan Barlow, 2006; Tambs dkk, 2009). Hasil penelitian menunjukkan hampir separuh dari semua pasien dengan gangguan panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang menderita gangguan (Kaplan dan Sadock, 2005).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan
Gangguan kecemasan disebabkan oleh adanya interaksi faktor-faktor biopsikososial, termasuk faktor-faktor genetik yang berinteraksi dengan situasi, stres, atau trauma yang kemudian menghasilkan gejala-gejala klinis (Yates, 2008). Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecemasan adalah sebagai berikut :
1) Faktor keluarga
Orangtua yang menderita gangguan jiwa (neurotik) cenderung akan mewariskan sifat tersebut pada anaknya dengan gejala berupa kecemasan dan keyakinan yang tidak berdasarkan kenyataan atau prasangka. Hal ini dapat menghambat
commit to user
perkembangan kepribadian anak (Maramis, 2005; Fricchione, 2004).
2) Pengalaman hidup (life experiences)
Ketika seorang anak hidup dalam sebuah lingkungan yang tingkat stresnya tinggi, anak akan tumbuh sebagai individu yang mudah sekali cemas, misalnya kekerasan, kejahatan, kemiskinan, hinaan atau stres (Fricchione, 2004). Faktor sosial yang berperan dalam perkembangan gangguan kecemasan adalah riwayat perceraian atau perpisahan yang belum lama. Hal ini sejalan dengan Maramis (2005) yang menyebutkan bahwa perceraian akan menimbulkan perasaan terasing, gelisah, dan cemas pada anak.
3) Kepribadian (personality)
Kepribadian ini telah terbentuk dari hasil proses belajar yang diterima sejak awal kehidupan dan pengalaman yang membentuk pola kepribadian khas individu (Nevid et al., 2005). 4) Jenis kelamin
Perempuan lebih mudah dipengaruhi oleh tekanan-tekanan lingkungan daripada laki-laki (James dalam Trismiati, 2004). Perempuan juga lebih cemas, kurang sabar, dan mudah mengeluarkan air mata (Cattel dalam Trismiati, 2004).
5) Pemakaian obat-obatan
Obat simpatomimetik (amfetamin, kokain, kafein), obat serotonergik (LSD, MDMA), kortikosteroid, obat herbal (ginseng), rokok, dan alkohol dapat menyebabkan sindroma kecemasan akut maupun kronis. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa risiko terjadinya kecemasan pada remaja perokok lima kali
commit to user
lebih besar daripada yang bukan perokok (Kaplan dan Sadock, 1997; Fricchione, 2004).
6) Keadaan medis umum
Gangguan neurologis, gangguan endokrin, gangguan kardiovaskular dan respirasi, gangguan inflamasi, defisiensi vitamin B12, kondisi toksik karena obat-obatan, keadaan hipoglikemi, serta gangguan psikiatri idiopatik, khususnya depresi seringkali disertai gejala kecemasan (Kaplan dan Sadock, 1997). Menurut Fricchione (2004), gangguan kecemasan yang disebabkan oleh keadaan medis ini biasanya dialami oleh pasien berusia 35 tahun ke atas tanpa adanya riwayat keluarga maupun situasi atau stresor psikologi lain yang memicu kecemasan.
7) Pasca trauma
Perpisahan traumatik selama masa anak-anak dapat mempengaruhi sistem saraf yang sedang berkembang dalam cara tertentu sehingga anak menjadi rentan terhadap kecemasan pada masa dewasanya, misalnya kematian maupun riwayat perpisahan orang tua. Selain itu, kejadian traumatik yang dialami seseorang, seperti peperangan, bencana alam, pemerkosaan, dan kecelakaan serius juga dapat menyebabkan gangguan stres dan gejala kecemasan (Kaplan dan Sadock, 1997).
8) Faktor lain
Selain itu, faktor ekonomi keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan sosial budaya semuanya dapat menjadi konflik yang menyebabkan kecemasan (Solomon, 1974).
commit to user e. Gejala Klinik dan Diagnosis
Keluhan dan gejala umum yang berkaitan dengan kecemasan dapat dibagi menjadi keluhan somatik (fisik) maupun psikologik dan kognitif serta tanda-tanda objektif kecemasan.
1) Keluhan Kognitif dan Psikologis
a) Perasaan cemas, khawatir dan was-was.
b) Ragu-ragu untuk bertindak, atau memutuskan sesuatu, takut salah.
c) Perasaan takut pada situasi, objek atau keadaan tertentu d) Perasaan tidak enak dan gelisah.
e) Takut mati, takut menjadi gila, pikiran negatif terhadap diri sendiri atau lingkungan sekitar.
f) Merasa tegang.
g) Insomnia, sulit untuk memulai jatuh tidur (early insomnia) h) Mudah terkejut dan terlalu waspada.
i) Mudah marah (iritable).
j) Perasaan cemas tersebut mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan penderita, sehingga fungsi pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilakunya terpengaruhi.
2) Keluhan fisik
a) Neurologik dan vaskuler : sakit kepala, pusing (dizzines), vertigo, tremor, pandangan kabur, rasa baal atau kesemutan.
b) Kardiovaskuler : palpitasi dan nyeri dada.
c) Respirasi : nafas pendek, dipsneu, hiperventilasi.
d) Gastrointestinal : mulut dan tenggorokan kering, nausea, vomitus dan diare.
commit to user
ejakulasi prematur, impotensia.
f) Sistem muskuloskeltal : sakit dan nyeri otot terutama otot leher
g) Kulit : keringat berlebihan, kulit telapak tangan dan kaki teraba dingin.
3) Tanda objektif
a) Penderita tampak gugup, gelisah, dan tidak dapat duduk santai b) Suara bergetar, gagap
c) Palpitasi d) Hiperventilasi
e) Berkeringat banyak atau telapak tangan dan kaki lembab (Romadhon, 2002)
Diagnosis kecemasan dapat ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang muncul sesuai dengan kriteria Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi III atau dengan menggunakan
Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRSA), The Taylor Minnesota Anxiety Scale (TMAS) dan instrumen lainnya (Hawari, 2006).
f. Patofisiologi kecemasan
Kecemasan merupakan respon dari persepsi ancaman yang diterima oleh sistem saraf pusat. Persepsi ini timbul akibat adanya rangsangan dari luar serta dari dalam yang berupa pengalaman masa lalu dan faktor genetik. Rangsangan tersebut dipersepsi oleh panca indera, diteruskan, dan direspon oleh sistem saraf pusat sesuai pola hidup tiap individu. Di dalam saraf pusat, proses tersebut melibatkan jalur Cortex
Cerebri-Limbic System-Reticular Activating System-Hypothalamus yang
memberikan impuls kepada kelenjar hipofise untuk mensekresi mediator hormonal terhadap target organ yaitu kelenjar adrenal, yang kemudian memacu sistem saraf otonom melalui mediator hormonal yang lain
commit to user
(catecolamin). Hiperaktivitas sistem saraf otonom menyebabkan timbulnya kecemasan. Keluhannya sangat beraneka ragam seperti sakit kepala, pusing, serasa mabuk, cenderung untuk pingsan, banyak berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak napas, dan lain sebagainya (Mudjadid, 2006).
Yates (2008) menyebutkan bahwa di dalam sistem saraf pusat yang merupakan mediator-mediator utama dari gejala-gejala kecemasan ialah norepinephrin dan serotonin. Neurotransmitter dan peptida lain,
corticotropin-releasing factor, juga ikut terlibat. Sistem saraf otonom
yang berada di perifer, terutama sistem saraf simpatis juga memperantarai banyak gejala kecemasan.
g. Skala Penilaian
Dalam penelitian ini digunakan instrumen pengukur kecemasan
Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) dari Janet Taylor. Tingkat
kecemasan akan diketahui dari tinggi rendahnya skor yang didapatkan. Makin besar skor maka tingkat kecemasan akan semakin tinggi, dan makin kecil skor makan tingkat kecemasan akan semakin rendah.
Kuesioner TMAS berisi 50 butir pertanyaan, dengan pilihan “ya” dan “tidak”. Responden menjawab sesuai dengan keadaan dirinya dengan memberi tanda (X) pada kolom jawaban ya atau tidak. Pada pertanyaan
favorable jika diisi jawaban ”ya” maka diberi nilai 1, sedangkan pada
pertanyaan unfavorable jika diisi jawaban ”tidak” maka diberi nilai 1. TMAS mempunyai derajat validitas yang cukup tinggi, akan tetapi dipengaruhi juga oleh kejujuran dan ketelitian responden dalam mengisinya (Azwar, 2007). Karena itu peneliti menggunakan tes L-MMPI untuk menghindari terjadinya perhitungan hasil yang mungkin
commit to user
2. Stres
a. Pengertian
Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres; semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003).
b. Sumber stres
Sumber stres atau penyebab stres dikenali sebagai stresor. Antara lain penyebabnya adalah, fisik, psikologis, dan sosial. Stresor fisik berasal dari luar diri individu, seperti suara, polusi, radiasi, suhu udara, makanan, zat kimia, trauma, dan latihan fisik yang terpaksa. Pada
stresor psikologis tekanan dari dalam diri individu biasanya yang
bersifat negatif seperti frustasi, kecemasan (anxiety), rasa bersalah, kuatir berlebihan, marah, benci, sedih, cemburu, rasa kasihan pada diri sendiri, serta rasa rendah diri, sedangkan stresor sosial yaitu tekanan dari luar disebabkan oleh interaksi individu dengan lingkungannya. Banyak
stresor sosial yang bersifat traumatic yang tak dapat dihindari, seperti
kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pensiun, perceraian, masalah keuangan, pindah rumah dan lain-lain. (Nasution, 2007).
c. Mekanisme stres
Secara fisiologi, situasi stres mengaktivasi hipotalamus yang selanjutnya mengendalikan dua sistem neuroendokrin, yaitu sistem simpatis dan sistem korteks adrenal. Sistem saraf simpatik berespons terhadap impuls saraf dari hipotalamus yaitu dengan mengaktivasi
commit to user
berbagai organ dan otot polos yang berada di bawah pengendaliannya, sebagai contohnya, stres meningkatkan kecepatan denyut jantung dan mendilatasi pupil. Sistem saraf simpatis juga memberi sinyal ke medula adrenal untuk melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah. Sistem korteks adrenal diaktivasi jika hipotalamus mensekresikan
Corticotropin Releasing Factor (CRF), suatu zat kimia yang bekerja
pada kelenjar hipofisis yang terletak tepat di bawah hipotalamus. Kelenjar hipofisis selanjutnya mensekresikan hormon
Adrenocorticotropic Hormone (ACTH), yang dibawa melalui aliran
darah ke korteks adrenal. Dimana, zat kimia menstimulasi pelepasan sekelompok hormon, termasuk kortisol, yang meregulasi kadar gula darah. ACTH juga memberi sinyal ke kelenjar endokrin lain untuk melepaskan sekitar 30 hormon. Efek kombinasi berbagai hormon stres yang dibawa melalui aliran darah ditambah aktivitas neural cabang simpatik dari sistem saraf otonomik berperan dalam respons fight or
flight (Nasution, 2007).
3. Bimbingan Belajar luar sekolah a. Pengertian
Bimbingan tes adalah jalur pendidikan non formal, yang diselenggarakan di luar sekolah, melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Pendidikannya bersifat lebih efektif dan efisien untuk bidang-bidang pelajaran tertentu oleh karena program pendidikan dapat spesifik sesuai dengan kebutuhan dan tidak memerlukan syarat-syarat yang ketat (Paidi, 1994)
b. Tujuan Bimbingan Tes
1) Mempersiapkan siswa kelas 3 SMA dan lulusannya secara intensif dengan meningkatkan prestasi akademik di sekolah, meningkatkan penguasaan materi dan kemampuan analisis
commit to user
2) Mempersiapkan strategi yang tepat dan cepat
3) Memperdalam materi-materi yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN)
4) Membekali siswa baik dari segi akademis maupun mental spiritual. (Paidi, 1994)
commit to user B. Kerangka Pemikiran ---► : menurunkan ► : memacu/merangsang : mengirim sinyal
Ujian Nasional (UN)
CEMAS
1. Usia
2. Faktor keluarga
3. Faktor sosial ekonomi keluarga
4. Pengalaman hidup (life
experiences)
5. Tipe kepribadian 6. Jenis kelamin
7. Pemakaian obat-obatan 8. Keadaan medis umum 9. Pasca trauma
10. Faktor sosial budaya 11. Faktor pekerjaan 12. Faktor pendidikan STRESOR BIMBINGAN BELAJAR ↑ Penguasaan materi ↑ Kesiapan mental Siswa-Siswi kelas III SMA
Hipotalamus Sistem simpatis Hormon CRF Medula Adrenal Epinefrin Norepinefrin Hipofisis ACTH
commit to user
C. Hipotesis
Ho : Terdapat pengaruh bimbingan belajar di luar sekolah terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).
H1 : Tidak terdapat pengaruh bimbingan belajar di luar sekolah terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).
commit to user
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan desain cross sectional dan menggunakan data primer.
B. Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMA N 8 Solo pada tanggal 24 Maret 2012. C. Subjek penelitian
1. Populasi sumber
Siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo pada tahun ajaran 2011/2012. 2. Sampel
Sampel yang diteliti terdiri dari siswa siswi kelas III SMA N 8 Solo pada tahun ajaran 2011/2012 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. 3. Besar sampel
Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 22-25 siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo pada tahun ajaran 2011/2012 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Rumus untuk menghitung besar sampel untuk rancangan cross sectional adalah :
n= Za2 pq / d2 Keterangan:
p : perkiraan prevalensi penyakit yang diteliti atau paparan pada populasi q : 1 – p
Za : nilai statistik Za pada kurve normal standart pada tingkat kemaknaan d : presisi absolut yang dikehendaki pada kedua sisi proporsi populasi (Taufiqurrahman, 2008)
commit to user n= (1,96)2(0,06)(0,94) / (0,1)2
= 21,67 = 22 orang
Jadi jumlah sampel minimal yang dibutuhkan adalah 22 orang
Dari hasil penghitungan di atas, besar sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini sebanyak 22-25 siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo pada tahun ajaran 2011/2012 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Namun, besar sampel tersebut dimungkinkan memiliki distribusi data tidak normal. Oleh karena itu, penentuan besar sampel pada analisis bivariat yang melibatkan sebuah variabel dependen dan sebuah variabel independen, diambil berdasarkan teori “rule of thumb” menggunakan ukuran sampel sebesar minimal 30 subjek penelitian (Murti, 2010). a. Kriteria Inklusi
1) Siswa dan siswi kelas III SMA N 8 Solo 2) Siswa dengan skor L-MMPI < 10
3) Siswa atau siswi minimal sudah 3 bulan terakhir mengikuti bimbingan belajar luar sekolah
b. Kriteria Eksklusi
1) Siswa dengan pengisian kuesioner tidak lengkap 2) Siswa yang mengikuti bimbingan belajar privat 3) Siswa dengan skor IPSP ≥ 53
4) Siswa yang kurang sehat 5) Siswa yang pasca trauma
commit to user
D. Teknik sampling
Teknik pengambilan sampling yang digunakan adalah purposive
random sampling yaitu teknik pengambilan sampel secara acak setelah sampel
tersebut diseleksi yang memenuhi beberapa kriteria agar tujuan penelitian tercapai dan sampel yang diperoleh valid. Purposive karena pemilihan subjek berdasarkan atas ciri-ciri atau sifat tertentu yang berkaitan dengan karakteristik populasi (Arief, 2009).
commit to user
E. Rancangan Penelitian
Gambar 1. Pengaruh bimbingan belajar di luar sekolah terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo dalam menghadapi Ujian Nasional tahun 2012
Populasi Sumber
Sampel
Mengikuti Bimbingan Belajar luar sekolah
Tidak mengikuti Bimbingan Belajar luar sekolah
IPSP L-MMPI TMAS IPSP L-MMPI TMAS
Memenuhi syarat Memenuhi syarat
Hasil Hasil
Analisis Statistik uji t-independent
Ada pengaruh/tidak bimbingan belajar di luar sekolah terhadap kecemasan Formulir
biodata
Formulir biodata
commit to user
F. Identifikasi variabel
1. Variabel bebas : Bimbingan Belajar luar sekolah 2. Variabel tergantung : Kecemasan
3. Variabel perancu
a. Terkendali : usia, kondisi fisik
b. Tidak terkendali : jenis kelamin, faktor genetik, tipe kepribadian G. Definisi operasional variabel
1. Variabel Bebas : Bimbingan Belajar luar sekolah a. Definisi
Jalur non formal yang dilaksanakan di luar sekolah yaitu di lembaga bimbingan belajar. Proses pelaksanaannya melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.
b. Alat Ukur : kuesioner c. Cara pengukuran :
Pengisian kuesioner bimbingan belajar diisi sendiri oleh responden. Responden menjawab ya atau tidak sesuai dengan keikutsertaan bimbingan belajar.
d. Kategori : Bimbingan belajar dan tidak bimbingan belajar e. Skala : Kategorikal
2. Variabel Terikat : a. Tingkat Kecemasan
1) Definisi
Kecemasan (ansietas/anxiety) adalah status perasaan tidak menyenangkan yang terdiri atas respons-respons patofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang tidak riil atau yang terbayangkan, secara nyata disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak diketahui. Penyerta fisiologis mencakup denyut jantung bertambah cepat, kecepatan pernapasan tidak teratur, berkeringat, gemetar,
commit to user
lemas, dan lelah; penyerta psikologis meliputi perasaan-perasaan akan ada bahaya, tidak berdaya, terancam, dan takut.
2) Alat ukur : Kuesioner 3) Cara pengukuran
Pengisian TMAS diisi sendiri oleh responden. Responden menjawab sesuai dengan keadaan dirinya dengan memberi tanda (X) pada kolom jawaban ya atau tidak. Pada pertanyaan favorable jika diisi jawaban ”ya” maka diberi nilai 1, sedangkan pada pertanyaan unfavorable jika diisi jawaban ”tidak” maka diberi nilai 1. Tiap nilai dari masing-masing pertanyaan dijumlah.
Sebagai cut off point adalah sebagai berikut : a) Nilai total < 21 berarti tidak cemas, b) Nilai total ≥ 21 menunjukkan cemas 4) Skala : Numerik
3. Variabel Perancu
a. Terkendali : usia, kondisi fisik
b. Tidak terkendali : jenis kelamin, faktor genetik, tipe kepribadian H. Instrumen penelitian
1. Data diri dan Informed Consent
Data diri adalah data yang berisi tentang informasi identitas sampel, meliputi:
a. Nama b. Umur
c. Tempat dan tgl lahir d. Alamat
e. Jenis kelamin f. Kelas
commit to user
h. Pernah masuk ranking 10 besar di kelas semasa SMA i. Jumlah saudara
j. Jumlah keluarga k. Anak ke-berapa
l. Orang tua kandung atau angkat m. Pendidikan terakhir orang tua n. Penghasilan orang tua
o. Orang tua bercerai atau tidak p. Tinggal di Solo kost atau rumah
q. Mengikuti bimbingan tambahan di luar sekolah
Informed consent dalam penelitian ini adalah untuk menyatakan
persetujuan responden sebagai sampel penelitian.
2. Kuesioner Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) L-MMPI adalah skala validitas yang berfungsi untuk mengidentifikasi hasil yang mungkin invalid karena kesalahan atau ketidakjujuran subjek penelitian. Tes ini bertujuan untuk menguji kejujuran responden. Skala L-MMPI berisi 15 butir pernyataan untuk dijawab oleh responden dengan “ya” bila butir pernyataan sesuai dengan perasaan dan “tidak” bila sebaliknya. Nilai batas skala adalah 10, artinya apabila jawaban “tidak” responden berjumlah sama atau lebih dari 10, maka data hasil penelitian responden dinyatakan invalid dan tidak diolah atau diikutkan dalam penelitian.
3. Instrumen Penilaian Stresor Psikososial (IPSP)
IPSP berisi 36 butir pertanyaan untuk menilai faktor-faktor stresor psikososial yang terjadi dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Penentuan beratnya stresor dengan mempergunakan instrumen mempertimbangkan unsur objektivitas pemeriksa dan unsur penghayatan responden dengan memberi bobot 0 untuk perasaan yang tidak
commit to user
terganggu, 1 untuk perasaan yang terganggu, dan 2 untuk perasaan sangat terganggu. Penilaian secara objektif dilakukan dengan memberi bobot nilai yang berbeda untuk masing-masing daftar peristiwa. Untuk pertanyaan nomor 1-5 bernilai 1, nomor soal 6-10 bernilai 2, nomor soal 11-15 bernilai 3, nomor soal 16-20 bernilai 4, nomor soal 21-30 bernilai 5, dan nomor soal 31-35 bernilai 6. Bila total nilai lebih dari atau sama dengan nilai tengah dari total nilai IPSP subjek penelitian maka responden dinyatakan gugur atau dikeluarkan dari perhitungan sampel.
Skor untuk masing – masing butir adalah dengan mengalikan bobot butir dengan bobot perasaan responden atas peristiwa tersebut, dan akhirnya taraf beratnya stres ditentukan dengan menjumlah skor semua butir peristiwa yang ada. Interpretasi dari hasil penjumlahan skor IPSP adalah sebagai berikut :
a. Skor 0 : tidak ada stresor psikososial b. Skor 1 - 8 : taraf stresor sedikit
c. Skor 9 – 16 : taraf stresor ringan d. Skor 17 – 24 : taraf stesor sedang e. Skor 25 – 32 : taraf stresor berat f. Skor 32 – 40 : taraf stresor sangat berat g. Skor > 40 : malapetaka
Nilai batas IPSP adalah 16, sehingga respon dikatakan mengalami stresor psikososial tinggi apabila memperoleh skor IPSP lebih dari 16 (Sudiyanto, 1998).
4. Kuesioner Taylor Manifest Anxiety Scale (T-MAS)
Kuesioner T-MAS adalah instrumen pengukur kecemasan. T-MAS berisi 50 butir pernyataan, di mana responden menjawab keadaan “ya” atau “tidak” sesuai dengan keadaan dirinya, dengan memberi tanda (√) pada kolom jawaban “ya” atau tanda (X) pada kolom jawaban “tidak”. Kuisioner
commit to user
T-MAS terdiri atas 13 pernyataan unfavorable (pernyataan nomor 3, 4, 9, 12, 15, 18, 20,25, 29, 38, 43, 44, 50) dan 37 pernyataan favorable (pernyataan nomor 1, 2, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 13, 14, 16, 17, 19, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 30, 31, 32, 33,34, 35, 36, 37, 39, 40, 41, 42, 45, 46, 47, 48, 49). Setiap jawaban dari pernyataan favorable bernilai 1 untuk jawaban “ya” dan 0 untuk jawaban “tidak”. Pada pernyataan unfavorable bernilai 1 untuk jawaban “tidak” dan bernilai 0 untuk jawaban “ya”.
Sebagai cut off point adalah sebagai berikut : a) Skor < 21 berarti tidak cemas
b) Skor ≥ 21 menunjukkan cemas
Suatu skala atau instrumen dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud pengukuran tersebut. TMAS mempunyai derajat validitas yang cukup tinggi akan tetapi dipengaruhi juga oleh kejujuran dan ketelitian responden dalam mengisinya (Azwar, 2007).
I. Cara Kerja
1. Peneliti mengajukan surat permohonan izin penelitian dan pengambilan data kepada Kepala SMA N 8 Solo.
2. Setelah mendapakan izin, peneliti kemudian melakukan pembagian kuesioner IPSP, L-MMPI, T-MAS kepada seluruh siswa kelas III SMA N 8 Solo.
3. Peneliti membagi seluruh siswa tersebut menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan bimbingan belajar minimal 3 bulan dan kelompok tanpa bimbingan belajar.
4. Peneliti melakukan restriksi terhadap masing-masing kelompok dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi pada hasil pengisian kuesioner sehingga didapatkan jumlah total akhir sampel yang memenuhi kriteria
commit to user tersebut.
5. Selanjutnya data derajat kecemasan yang diperoleh pada pengisian kuesioner terakhir akan dianalisis menggunakan teknik analisa data yang telah dipilih.
J. Teknik analisis data
Ada atau tidaknya pengaruh yang signifikan bimbingan belajar terhadap tingkat kecemasan siswa/i kelas III SMA dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) akan diuji menggunakan uji t-independen. Alasan dipilihnya uji t-independen karena skala variabel bebas dalam penelitian ini adalah nominal, sedangkan skala variabel terikatnya numerik, sehingga akan diperoleh hasil yang pada akhirnya dapat digunakan untuk melihat pengaruh yang bermakna atau tidak bermakna.
commit to user
BAB IV
HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SMA N 8 Solo jurusan
IPA pada tahun ajaran 2011/2012. Pada awal penelitian didapatkan sampel
sebanyak 94 siswa. Setelah melalui proses restriksi berdasarkan kriteria eksklusi
dan inklusi, didapatkan total sampel yang valid adalah 60 siswa sedangkan total
sampel yang tidak valid adalah 34 siswa. Dari jumlah sampel yang valid
tersebut, sebanyak 30 siswa mengikuti bimbingan belajar dan 30 siswa tidak
mengikuti bimbingan belajar.
B. Hasil Distribusi Sampel
Tabel 1. Distribusi sampel berdasarkan identitas
No Variabel N Persentase (%) 1 2 3 4 Siswa laki-laki Siswi Perempuan
Peserta bimbingan belajar Peserta tidak bimbingan belajar
14 46 30 30 23,3 76,7 50 50 Sumber : Data Primer, 2012
Dari Tabel 1 didapatkan jumlah sampel laki-laki yang lebih sedikit
daripada perempuan, dimana laki-laki berjumlah 14 siswa (23,3%) dan
perempuan berjumlah 46 siswa (76,7%) dari keseluruhan jumlah sampel
commit to user
Dari Tabel 1 diketahui bahwa jumlah sampel kelas XII jurusan IPA yang
valid adalah sebanyak 60 siswa-siswi. Jumlah sampel yang mengikuti bimbingan
belajar sebanyak 30 siswa-siswi (50%), sedangkan sampel yang tidak mengikuti
bimbingan belajar berjumlah 30 siswa-siswi (50%). Jumlah sampel ini telah
memenuhi kriteria minimal sampel berdasarkan rule of thumb.
Tabel 2. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin
No Kelompok Jenis Kelamin Total Persentase
(%) Total (%) L P L P 1 2 Bimbingan Belajar Tidak Bimbingan Belajar 10 4 20 26 30 30 16,7 6,7 33,3 43,3 50 50
Sumber : Data Primer, 2012
Tabel 2 menunjukkan bahwa jenis kelamin perempuan pada kedua
kelompok memiliki persentase yang lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.
Kelompok bimbingan belajar memiliki jumlah sampel perempuan sebanyak 20
siswi (33,3%) dari 30 siswa-siswi. Pada kelompok tidak bimbingan belajar
sampel perempuan berjumlah 26 siswi (43,3%) dari keseluruhan sampel
commit to user
Tabel 3. Analisis pengaruh
No Variabel N p R CEMAS TDK CEMAS 1 2 3
Peserta bimbingan belajar Peserta tidak bimbingan belajar Total 27 28 55 3 2 5 0,000 0,000 0,668 0,668
Sumber: Data primer, 2012
Dari Tabel 3 dapat dilihat, 3 siswa dari total 30 siswa bimbingan belajar
(5 %) tidak mengalami cemas, dan 27 siswa (45 %) mengalami cemas. Pada
siswa tidak mengikuti bimbingan belajar, ada 2 siswa (3,3 %) tidak mengalami
cemas dan 28 siswa (70 %) mengalami cemas. Hal ini berdasarkan kuesioner
The Taylor Minnesota Anxiety Scale (T-MAS), dengan skor < 21 menunjukkan
tidak cemas dan > 21 menunjukkan cemas. Selain itu, dari Tabel 3 juga dapat
dilihat nilai p = 0,000 dan nilai r = 0,668.
C. Hasil Analisis Data
Data penelitian yang diperoleh kemudian dianalisis dengan uji
t-independent yang merupakan uji parametrik. Uji ini digunakan bila skor kedua
kelompok tidak berhubungan satu sama lain. Adapun syarat uji t-independent
adalah data berskala numerik, terdistribusi secara normal dan variansi kedua
commit to user
Dari Tabel 3 dapat dilihat nilai p = 0,000 sehingga disimpulkan antara
kelompok bimbingan belajar dengan kelompok tidak bimbingan belajar memiliki
perbedaan nyata yang signifikan terhadap kecemasan.
Selain itu, dari Tabel 3 diperoleh nilai r = 0,668 artinya kelompok yang
tidak mengikuti bimbingan belajar memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan
sebaliknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelompok bimbingan
belajar tidak erat kaitannya dengan tingkat kecemasan.
Dari Tabel 4 dapat dilihat hubungan korelasi yang negatif sebesar -0,56
(56%) tidak cemas pada kelompok bimbingan belajar dibandingkan 44 % untuk
commit to user
BAB V PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24 Maret 2012 dengan
menggunakan sampel siswa-siswi kelas III SMA jurusan IPA di Sekolah
Menengah Atas Negeri 8 Solo. Pengambilan sampel ini mundur dari jadwal
pengambilan yang seharusnya yaitu tanggal 16 Maret 2012. Hal ini dikarenakan
adanya jadwal ujian sekolah selama 1 minggu yang tidak dapat diganggu gugat.
Menurut hasil penghitungan dengan rumus cross sectional, seharusnya
total sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 22-25 siswa-siswi
kelas III SMA N 8 Solo pada tahun ajaran 2011/2012 yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi. Namun, sampel tersebut dimungkinkan memiliki distribusi
data yang tidak normal. Oleh karena itu, untuk mempermudah penghitungan
analisis dan pembahasan, peneliti kemudian menggunakan teori “rule of thumb”
dimana ukuran sampel minimal sebesar 30 subjek penelitian.
Tabel 2 menunjukkan distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin,
kelompok bimbingan belajar dan kelompok tidak bimbingan belajar keduanya
memiliki sampel perempuan yang lebih banyak. Meskipun berdasarkan
penelitian sebelumnya, jenis kelamin perempuan memiliki risiko lebih besar
untuk mengalami gangguan kecemasan (Ibrahim, 2002 ; Kaplan dan Sadock,
2005; Sullivan, 2000), tetapi pada penelitian ini, peneliti tidak mengkategorikan
commit to user
dilakukan dengan tujuan mengantisipasi kekurangan jumlah sampel, mengingat
mayoritas siswa di SMA N 8 Solo berjenis kelamin perempuan.
Dari Tabel 3 diketahui jumlah sampel cemas dan tidak cemas antara
kelompok mengikuti bimbingan belajar dan tidak mengikuti bimbingan belajar.
Kelompok mengikuti bimbingan belajar memiliki jumlah sampel cemas
sebanyak 27 siswa dan tidak cemas sebanyak 3 siswa. Sedangkan, kelompok
tidak mengikuti bimbingan belajar memiliki jumlah sampel cemas sebanyak 28
siswa dan tidak cemas sebanyak 2 siswa. Sesuai dengan analisis perhitungan
statistik menggunakan uji t-independent, dapat disimpulkan bahwa pengaruh
bimbingan belajar terhadap penurunan tingkat kecemasan antara kelompok siswa
bimbingan belajar dan tidak bimbingan belajar signifikan berbeda nyata (p =
0,000).
Selain itu, dari Tabel 3 didapatkan nilai r = 0,668 artinya kelompok yang
tidak mengikuti bimbingan belajar memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan
sebaliknya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelompok bimbingan
belajar tidak erat kaitannya dengan tingkat kecemasan.
Dari Tabel 4 dapat dilihat hubungan korelasi yang negatif sebesar -0,56
(56%) tidak cemas pada kelompok bimbingan belajar dibandingkan 44 % untuk
cemas pada kelompok tidak bimbingan belajar. Hasil ini mengartikan bahwa
kelompok bimbingan belajar belum tentu tidak mengalami kecemasan, begitu
commit to user
kecemasan disebabkan adanya faktor-faktor internal maupun eksternal yang bisa
mendukung seseorang mengalami kecemasan.
Pada penelitian ini, peneliti tidak meneliti lingkungan sosial dari tiap-tiap
siswa-siswi yang menjadi subjek penelitian. Lingkungan sosial meliputi faktor
keluarga, faktor sosial budaya, faktor pekerjaan, faktor pendidikan, faktor
ekonomi keluarga, pengalaman hidup (life experiences), pemakaian obat-obatan,
keadaan medis umum, dan pasca trauma. Padahal lingkungan sosial seseorang
mempunyai pengaruh dalam menimbulkan gangguan kecemasan pada seseorang
(Kaplan dan Saddock, 2010).
Diperoleh salah satu faktor penting yang mempengaruhi kecemasan
adalah dukungan orang tua. Pada siswa-siswi kelas XII IPA SMA N 8 Solo, ada
beberapa dari siswa-siswi cenderung mengalami kecemasan dikarenakan adanya
masalah di dalam keluarga. Masalah perceraian dan pertengkaran orang tua,
menjadi penyebab kecemasan menjelang Ujian Nasional. Walaupun bimbingan
belajar yang diikuti memberikan dukungan sepenuhnya kepada siswa-siswi
tersebut, namun peran serta orang tua dalam memberi dukungan pada anaknya
sangat penting dalam menentukan keadaan mental anak (Dewi, 2007). Selain
itu, penelitian ini juga didukung hasil uji korelasi yang dilakukan oleh Zuhdi
(2008) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara peran keluarga dengan
commit to user
Jumlah sampel cemas dan tidak cemas antara kelompok mengikuti
bimbingan belajar dan tidak mengikuti bimbingan belajar dalam menghadapi
UN diharapkan terjadi karena faktor intervensi dari bimbingan belajar.
Bimbingan belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jalur pendidikan
non formal, yang diselenggarakan di luar sekolah, melalui kegiatan
belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.
Keterbatasan pada penelitian ini adalah sampel yang digunakan terbatas
pada satu lokasi tertentu dengan jumlah subjek yang terbatas pula yaitu seluruh
siswa-siswi kelas XII IPA SMA N 8 Solo sehingga hasil penelitian ini hanya
commit to user
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
hubungan antara tingkat kecemasan siswa-siswi kelas III SMA N 8 Solo
dengan keikutsertaan bimbingan belajar secara statistik signifikan (r =
0,668).
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka saran-saran penulis
adalah sebagai berikut :
1. Dibutuhkan komunikasi dan perhatian yang lebih baik antara pihak
sekolah, orang tua dan siswa di dalam proses belajar mengajar,
khususnya dalam rangka menghadapi Ujian Nasional.
2. Siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional dapat mengikuti
bimbingan belajar guna mempersiapkan ujian dengan lebih baik
sehingga dapat terhindar dari perasaan cemas yang berlebihan.
3. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh
bimbingan belajar terhadap penurunan tingkat kecemasan siswa-siswi
kelas III SMA dengan mengendalikan faktor-faktor luar yang turut
mempengaruhi, seperti jenis kelamin, faktor genetik, dan tipe
commit to user
DAFTAR PUSTAKA
Arief Tq (2009). Pengantar Metodologi Penelitian Untuk Ilmu Kesehatan. Surakarta : Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press).
Azwar (2007). Konsep Pengukuran Validitas. Jakarta : Gunadharma Press.
Daradjat Z (1998). Kesehatan Mental Jiwa. Jakarta : CV. Haji Masagung.
Dewi ENI (2007). Perbedaan Kecemasan Mennghadapi SPMB antara Siswa Kelas Akselerasi dengan Kelas Reguler. Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia. Skripsi.
Dorland WA (2002). Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC.
Durand VM, Barlow DH (2007). Intisari Psikologi Abnormal. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Fricchione G, el-Chemali Z, Weilburg JB, Murray GB. Neurology and Microsurgery. Dalam: Wise MG, Rundell JR, (eds). Textbook of Consultation-Liaison Psychiatry, Psychiatry in the Medically Ill. American Psychiatric Publ., Inc, Washington DC, London, England, 2nd ed., 2004; hal. 679-700.
Hawari D (2006). Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi, Jakarta : BP FK UI.
Hurlock EB (1999). Psikologi Perkembangan: “Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan” Terjemahan Istiwidayanti & Soedjarno). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Ibrahim AS (2002). Menyiasati Gangguan Cemas (1). http://www.pdpersi.
co.id/?show=detailnews&kode=902&tbl=artikel- Diakses Februari
2012.
Idrus F (2006). Anxietas dan Hipertensi. http://www.akademik.unsri.ac.id/ download/journal/files/medhas/CEMAS%20DAN%20HIPERTENS
commit to user
Isnaeni, YT (2005). Efektifitas Layanan Pembelajaran Bidang Bimbingan Belajar Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas II SMP Negeri 16 Semarang Tahun 2004/2005.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH419c.dir /doc.pdf - Diakses Juli 2012
Kaplan HI & Saddock BJ (1997). Synopsis of Psychiatry. 7th ed. Lange Medical Publication Maruzen, Co. Ltd., pp: 777-817.
Kaplan HI, Saddock BJ, Grebb JA (2005). Mood Disorder, Comprehensive Textbook Psychiatry, 8 th Ed. Lippicot Williams & Wilkins.
Maramis WF (2005). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya. Airlangga : University Press.
Maslim R (2001). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
Mendiknas Republik Indonesia (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2007 Pasal 3.
ftp://ftp.unm.ac.id/permendiknas2007/Nomor%2034%20Tahun%202007%20dan%20lampiran.pdf -Diakses Februari 2012.
Monks FJ & Knoers AMP, Haditono (1999). Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, (Terjemahan Siti Rahayu Haditono). Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Mudjaddid E (2006). Pemahaman dan Penanganan Psikosomatik Gangguan Ansietas dan Depresi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Ed 2. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Murti B. 2010. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gajah MadaUniversity Press, pp: 119-120
Nasution IK (2007). Stres Remaja. http://library.usu.ac.id- Diakses Februari 2012.
Nevid JS, Rathus SA and Greene B (2003). Abnormal Psychology in a Changing World Third Edition. Prentice-Hall, Inc.
commit to user
Nevid JS, Rathus SA, & Greene B (2005). Psikologi Abnormal Edisi 5 Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
National Institutes of Mental Health USA (2007). Anxiety Disorders.
http://www.nimh.nih.gov/health/publications/anxiety-disorders/complete-index.shtml- Diakses Februari 2012.
Paidi (1994). Cakrawala Pendidikan : Tantangan Keberadaan Lembaga Bimbingan Tes. Yogyakarta : IKIP Yogyakarta.
Romadhon YA (2002). Gambaran Klinik dan Psikofarmaka pada Penderita Gangguan Kecemasan. Cermin Dunia Kedokteran 135:24-26.
Santrock JW (1998). Adolescence (7nd ed). Washington, DC : Mc Graw-Hill.
Sherwood L (2001). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.
Solomon, Philip & Patch, Vernon D (1974). Handbook of Psychiatry. 3rd ed. Jepang, pp:50-53.\
Stuart (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi Lima. Jakarta : EGC.
Sudiyanto A (1998). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Jiwa Keluarga Terhadap Kekambuhan Penderita Gangguan Afektif Berat. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Disertasi
Sugiyono (2011). Statistika untuk Penelitian. Cetakan Ke-19. Bandung : Alfabeta.
Sullivan PF, Neale MC, Kendler KS. Genetic Epidemiology of Major Depression: Review and Meta-analysis. Am J Psychiatry 2000; 157 : 1552-62.
Tambs K, Czajkowsky N, Røysamb E, Neale MC, Kjennerud TR, Aggen SH, Harris JR, Ørstavik RE, Kendler KS (2009). Structure of Genetic and Environmental Risk Factors for Dimensional Representations of DSM–IV Anxiety Disorders. British Journal Of Psychiatry. 195:301–307.
commit to user
Taufiqurrahman MA (2008). Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu Kesehatan. Surakarta : Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS, pp 130-131.
Trismiati (2004). Perbedaan tingkat kecemasan antara pria dan wanita akseptor kontrasepsi mantap di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.
http://www.psikologi.binadarma.ac.id/jurnal/jurnal_trismiati.pdf-Diakses Februari 2012.
Yates RW (2007). Anxiety Disorders. http://www.emedicine.com
/emerg/topic152.htm- Diakses Februari 2012.
(2008). Anxiety Disorders. http://www.emedicine.com /emerg/topic152.htm-Diakses Februari 2012.
Zuhdi (2008). Hubungan antara Peran Keluarga terhadap Tingkat Kecemasan Injecting Drug User (IDU). Fakultas Psikologi. Universitas Airlangga. Skripsi.
commit to user
commit to user
Lampiran 2. Identitas Sampel dan Informed Consent KUESIONER PENELITIAN
MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
Pengaruh Bimbingan Belajar di Luar Sekolah terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Siswa-Siswi Kelas XII SMA N 8 Solo dalam Menghadapi Ujian Nasional Tahun 2012
PETUNJUK PENGISIAN :
1. Isi identitas responden terlebih dahulu, bila tidak menghendaki identitas diketahui, boleh memakai nama inisial.
2. Bacalah semua pertanyaan dengan seksama.
3. Mohon semua pertanyaan dijawab dengan jujur sesuai apa adanya.
4. Kuesioner ini terdiri atas 4 lampiran mohon isi sesuai petunjuk yang tertera. 5. Terima kasih atas kerjasamanya.
IDENTITAS RESPONDEN
Nama :………
Umur : ……Tahun, Kelas: ……
Tempat dan tgl lahir : ………..
Alamat : ………..
……… ………
Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan *
Asal SMA : 1. Negeri 2. Swasta *
Pernah masuk ranking 10 besar di kelas
semasa SMA : Pernah/Tidak *, Ranking : ....
commit to user
Jumlah keluarga : ………
Anak ke-berapa : ………
Orang tua kandung/angkat : ………
Pendidikan terakhir orang tua : ………
Penghasilan orang tua : 1. < 1 juta 2. < 2 juta 3. > 3 juta *
Orang tua bercerai atau tidak : ………
Tinggal di Solo kost atau rumah : 1. Kost 2. Rumah * Mengikuti bimbingan tambahan di luar sekolah : 1. Ya 2. Tidak *
: 1.Bimbel 2. Les privat 3. Lain-lain (………) * : Nama Bimbel :
……….. : Lokasi Bimbel (alamat
lengkap) :
………. ………. ………... : Sudah berapa lama mengikuti Bimbel :
………. Catatan * = lingkari salah satu
LEMBAR PERSETUJUAN
Dengan ini saya mengizinkan Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS untuk mengolah hasil kuesioner ini
commit to user
Lampiran 3. Kuesioner IPSP
INSTRUMEN PENILAIAN STRESOR PSIKOSOSIAL (IPSP)
PETUNJUK : Berilah tanda silang (x) pada kolom jawaban dan perasaan yang sesuai. Apakah Anda dalam waktu 6 bulan terakhir ini mengalami peristiwa sebagai berikut? Bagaimana perasaan Anda waktu mengalaminya?
No Daftar Peristiwa
Jawaban Perasaan Ya Tidak TT Tg Stg 1 Menghadapi ulangan/tes rutin di sekolah
2 Ketahuan melakukan pelanggaran lalu lintas ringan 3 Tuntutan pengembalian uang pinjaman (sedikit)
4 Mempunyai keingnan atau permintaan yang tidak terpenuhi 5 Menerima perlakuan tidak adil atau menjadi “kambing
hitam”
6 Akan mulai/ berhenti sekolah atau pekerjaan 7 Menghadapi ulangan umum atau ujian jabatan
8 Konflik dengan teman sekerja, sahabat atau tetanggga dekat 9 Tekanan/ tuntutan orang tua atau atasan yang sulit dipenuhi 10 Pindah rumah, pekerjaan atau sekolah
11 Alih profesi atau pindah jurusan studi
12 Konflik antar anggota keluarga yang berlarut-larut 13 Hamil/ menghamili, keguguran, atau problem seksual 14 Ketidakharmonisan perkawinan (sendiri atau orang tua) 15 Kelahiran anak atau adik
16 Ada anggota keluarga yang “lari” dari rumah
17 Menghadapi ujian akhir, skripsi atau promosi jabatan 18 Kematian sahabat dekat