• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekspresi Gen Maturation Promoting Factors (MPF) serta Kompetensinya dalam Maturasi Oosit dan Perkembangan Embrio In Vitro pada Kambing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ekspresi Gen Maturation Promoting Factors (MPF) serta Kompetensinya dalam Maturasi Oosit dan Perkembangan Embrio In Vitro pada Kambing"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASlL

PEWELlTlAN FUNDAMENTAL

II

EKSPRESI

GEN MATURA TlON PROMOTilNG FACTORS

(MPF) SERTA KOMPETENSINYA DALAM MATUKASI

OOSlT DAN PERKEMBANGAN EMBRIO

IN

WTRO PADA KAMBING

Oleh:

Dr. lr. Nurul Isnaini, MP

Dr.

Ir Sri Wahjuningsih, MSi

Dibiayai oleh Dtrektorat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Oengan Surat Perjanl~an Pelaksanaan Hibah Penugasan Peneltian Desenlralisasi

Nomor: OI?/SP2WP/DP2M/llI~2007 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Departernen Pendidikan Nasional

UNWERSITAS BRAWIJAYA

Nogem ber 2007

(2)

HAIAMAN PENGESAHAN

W O R A N HASlL PENELITIAN FUNDAMENTAL

I. Judul Penelitian

2. M u % Peneliti

a. Narna Lengkap dan Gelar

b.

Jenii Kdamh c. NIP. d. Panakat I Golaman e. ~aba-tan ~un$sic%al f, FakuItaslJwusan g. Perguruan Tiriggi h.

Pusat Penelitian

3. Juml'ah Tim Penelfti 4. Lokasi Wneliian

5,.

'Ke

jasama dengan institusit lain a. Ntima lnstansi

: Ekspresi Gen

Mafuration Pramofing

Factors (MPF)

Serb

Kompetensinya Dalam Maturasi

Oosit dan Perkembangan E m W

In

V h Pada Karnbing

: Dr. Ir. Nurul Isnaini, MP. : Perempuan

: 131 879 042 : Penata Tk IIIV-A : Lektar Kepala

: Peternakan I Produksi Ternak : Univmitas Brawijaya Malang : 2 (dua) orang

: Kodya Malang

: Rumah SaMt Bersalin 'Mutiara Bunda'

: JI. Ciujung 19 Malang : 8 (delapan) bulan

: Rp 24.a00.000,- (Dua

p ~ h h

mpat juta rupiah)

b. Alamat 6. Masa PeneI'Etian 7. Biaya yang dfpedukan

Mengetahui: ,Mafang, I 2 Nopember

m a

PeneIiti.

h.

lr. ' N d

lsnaini, M'P. NIP. $31 87Q042

(3)

RINGKASAN OAN SUMMNtY

Nurul lsnaini dan Sri Wahjuningsih. Fakultas Peternakan Universltas

Brawijaya Malang. Nopember 2007. Ekspresi

Oen

Matumffor Pmmtfng

Factors

(MPF)

serta

Kompebnsinya dalam Maturasi Oosit

dan

Perkembangan Embrio In Vitro padn Kambing.

RINGKASAN

Maturation-Promoting Factors (MPF) diketahui sebagai kunci pengatur siklus sel. Maturation-Promoting Factors mempakan senyawa kompleks yang krsusurc atas cydin B dan cyciin-dependent kionase cdkl (p34cdc2). Maturasi oosit diatur oleh perubahan aktivitas MPF. Penelitian inli bertujuan untuk memperoleh inforrnasi tentang ekspresi gen MPF melalui keberadaan protein p34cdc2 dan protein cycfin B pada embrio dmgan kuantas berbeda (tidak mernbelah, membelah tidak simetris dan membelah simeis). Dari

penelitian ihi diharapkan akan didapatkan informasi mengenai ekspresi gen

MPF pada kualitas embrio dengan kualitas yang bwbeda. M a t d yang digunakan da)arn penelitian ini adalah ovarl kambing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental labomtoris. Hasil penelian menunjukkan bahwa kualitas embfio hasil parfhenogenesis pada kambing, tidak berpengaruh terhadap keberadaan MPF. Dari penelitian ini rtapat

disimpulken bahwa gen MPF dalarn ha1 ini p34cdc2 dart cyclin B sama-sama

terekspresi baik pada embrio yang tidak membelah, membelah tidak simehis maupun embrio yang membelah simetris. U n M mendapatkan kit MPF dalam cfpaya meingkatkan keberhasilan IVM dan IVD untuk kepentingan mbrio

transfer, bisa dilakukan isokasi dari embrio hasil parthenogenesis pada

semua kualitas (tidak membelah, membelah sirnetris maupun membelah tidak simetris).

(4)

SUMMARY

Maturation-Promoting Factors

(MPF)

is known to be a key regdator of

cell cycles. Maturation-Promoting Factors is a complex of a

B

cyclin and the

cyclin-dependent kinase cdkl (p34cdc.2). Oocyte maturation are regulated by

changes in

MPF

activity. The objective research was to study the wcyte

competence for in vitro maturation and the expression of bofh of p34cdc2

and B cyclin in the different time of IVM. This study was designed as an experimental laboratory study. The results showed that goat perthenote

embryo quality wasn't influenced appearence of MPF (p34odc2 and Cyclin 8).

In conclusion, both p34cdc2 (small subunit MPF) and cyciin B (large

subunit

MRF) proteins present in goat parthenot embryo ( uncleavage, Lhnsimetris

cleavage

and

simetris cleavage embryo). In suggestion, to get MPF kit to

increase succesfull of IVM alnd IVD programe can be reached by isolation cdc2 and cyclin B En embryo parthenote with defferent quality (.undeavage,

unsimetris cleavage and sirnetris deavage embryo).

(5)

Puji syukUr penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya adas perkenan-Nya pembuatan laporan semenlara penelitian yang bejudul "Ekspresi Gen Maturation Promoting Factors (MPF) serta Kampetensinya dalam Maturasi Oosit dan Perkembarigan Embrio In Vjtm padat Kambing "ini

bisa disusun, meskipun penelltian

ini

masih helurn selesai.

Pada kesempatan ini kami rnenyampaikan terimakasih kwada:

1. Kepala Proyek Peningkatan Benelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DP4M), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atas dana yan@ diberikan untuk pelaksanaan penelitian ini.

2. Prof. Dr. Ir. Hartutik, MP selaku Dekan Fakultas Peternakan Unlversitas Brawijaya Malang yang mengijinkan kami rnelakukan penelifrap ini.

3. Hdly Nurul Karima, SRMP. dan ifah Kholil, SPt.MP. yang telah membantu in VIBU Maturasi di Laboratarium Rumah Bersalin Mutiara Bunda jl. Ciujung 19 Malang dan lna, S.Si serta Novi, S.Si. yam

sedang mmbantu elektroforesis dan lmmunoblotting di Lab~$abrilJm Biokimia Fakuiltas MlPA Unibraw, sehingga penelitian ini bisa berjalan. 4. Semua pihak yang telah berpattisipasi dalam membantu pelaksanaan

ini.

Semoga laporan penelitian ini bernaanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Malang. Nopember 2007 Penulis,

(6)

DAFTAR IS1

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN

...,...,...-..,...

+. *.,.,. ...-.. %. i RINGKASAN DAN SUMMARY

....,...,...

-.,d.

...

...-...

*. ...

...

ii

PRAKATA ...+....t...>-.-....

...

..,..

..<....c...

...

....

,s. ..-...*b..s.=.... &; IDAFTAR IS1 .........,l.....,,l....

...

;

...,.

...-

;

.

.

...

...

v

...

...

.

DAFTAR TABEL

....

:2>

...!....

..: j \fi'

DAFTAR GAMBAR

...;...

.... ...

-

..F...i....,.A.

...

.+.

wii

...

DAFTAR 8UMPIRAN ...,...!...t.i,

...

,.--.

...

$>....

...

..-..

viii

I1

.

TINJAUAN PUSTAKA

...

..,...

i....z.-.

....

*h r...

2.1. Maturation Promoting Factor (MPF) dan Fungsinya

...

2.2. Parthenogenesis

2.3. Ekspresi gen MPF

sesta

kompetensinya dalam maturasi

oosit kambing secara in vi&o

...,...

..

..

...

Ill. TLJJUAN DAN MANFAAT PENELITIAH. , :. i.6

3.1. Tujwn Pemlitian

...+...

~ ~~

...

...

...

3.2. Manfaat Benelitian ...+.*...-. ~

-...

.y.x.

....

...

...

1%'. METODE PEUELlTlAN ....r...--..7... ....-

...

4.1. iempat dan Lokaei ~Pegelitian

...-...

4.2. Metode Penelitiao

...,..

...

...,...,

;;-;:

...

...-....-...-,-..

4.3. Bahan dan Alat

..

...,..

>.... .,

...

.,.,..

...

...

:

...:...

...

...

..

4.4. Tahapan Penelit&

...

...

j .> . . .

...

a

.

Pembuatan medrum

...-...

.

b

.

In Vitro ~Waturetion (IVM) ..i..i...-... ..-

...-...,....

c . Evaluasi oosit hasil matwasi

...

d

.

Piktivasi Parthenogenesis oosit yang telah

mengalami rntpturasi

...

e

.

hraluasi Kualltas Embrio Hasil Aktivasi

Parthenogenesis

...

f

.

Analisis MPF Gel EleMrophoresis dan /mmunabloffing

4.5. Analisis Data

...

V . HASlL DAN PEMBAMASAN

...

5.1. Kualitaa Ornit Hasil Maturasi secara In Vitro

...

...

5.2. Kualitas Embrio Hasil Aktivasi Parthenogenesis

5.3. Ekspresi Gan MPF sefta Kompetensinya &lam Embrio

~ ~~

...

.

VI KESIMPULAN DAM SARAN ...,.,..,..,.., i..~...b..z...+<a..

~ -

6.1. Kesimpulan

...

,;i

...

.-

...

..,.

....

-- 6.2. Saran

...

....,...,

...

*a:

...

..,...

DAFTAR PUSTAKA

..

..

...

....,...

...

....

.-

...

i.i

...-

...-...

....

(7)

RAFTAR TABEL

Tabel Teks

...

1

.

Evaluad

ekspansi kumulus pada berbagai lama IVbll

...

(8)

DAFTPvR GAMBAR

Gambar Teks Halaman

1. Gambaran skematis dari molekul inti dan mekanisme penga~hnya dalam proses pengawalan dan pengakhiran mitosis

...

6

2.

Protein p34cdc2 diekspresikam oleh oosit dengan lama IVM 24

dan 30 jam

...

8

3.

Protein Cyclin B diekspresikan oleh oosit dengan lama IVM

24 jam

...

4. Protein p34cdc2 dieksoresikalcao oleh oosit yana telah di 1VM

24 jam, bmbrio tidak membalah, embrio

&emklifh

iidak simetris dan embrio membelah sirnebis, sedangkan pada oosit

dengan lama IVM 0 jam protein p34odc2 tidak t;,rekspresi

....

24

5. Cyclin B diekspresikan oleh oosit dertgan lama IVM 24 jam, ernbrio tidak msmbelah, embrio membelah tidak simetris dan embrio membelah simetris, sedangkan pada oosit dengan lama lVM 0 jam cyclin B tidak terekspresi

...

(9)

Lampiran

Tek8

Halaman

.

.

(10)

Transfer embrio rnerupakan salah satu teknologi di bidang reproduksi yang sangat bemanfaat dan efisien untuk penyebaran bibit unggul dart kedua belah pihak tetua yaltu induk dan pejantan dalam ratlgka peningkatan muhf g~netik dan produksi keturunan yang dihasilkan. Untuk pelaksanaan program ini dipedukan embrio yang berkualitas bagus secara ~wkup dan tersedia setiap saat. Produksi embrio secara in viva dengan melakukan superovulasi menggunakan preparat homon dan kernudian di lrrkukan flushing dirasa sangat mahal ditinjau dari beberapa aspek seperti ketersediaan t m a k induk, preparat horrnon, tenaga dan waktu yang diperlukan (Suyadi, 2002b). Produksi ernbrio secara in v i h sampai saat

ini

difasa rnasih menunjukkan tingkat efisiensi yang rendah. Mat ini karena diduga banyak proten yang berpengawh terhadap rnaturasi oosit dan pembelahan sel embrio, yang sampai saat ini bdurn dikaji secara rnendalarn terutama dari aspek motekuler.

Produksi embrio sapi secara in vlEro sampai saat ini belum rnenunjukkan hasil yang optimal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 6ngkat efisiensi produksi ernbrio sapi in vitro sampai rnenghasilkan ernbrio fase blastods berkisar 32

-

33% (Furnus dkk., 1997: Zhang

dkk.,

1997). pada domba efisiensi ini rnencapai 36% sedangkan pada kambing hanya 11% (Boediono dkk., 1999).

Tingkat fertillsasi dan perkembangan ernbrio sangat dipengalluhi oleh tingkat matura~i oosit yang digranahan untuk program fe~tilisasi in vitro (IVF). Omit yang siap dikrtiiisasi adalah yang sudah mengalami lmahfrasi yang diindikasikan dengan fase Metafase II. Hasil penelitian sebelwmnya mnunjukkan bahwa tingkat rnaturasi oosit sapi dan kambing dipengaruhi oleh komposisi medium dan ukuran folikel asal oosit. Tingkat rnaturasi oosit kambing bervariasi antara 15

-

66% (lsnaini dkk., 2000) dan antara 61

-

66% pada sapi (Ciptadi dkk., 2000; Wahjwningsih dkk., 2000).

Proses rnaturasi oosl dipengaruhi oleh berbagei macam siklus sel,

salah satu taktor yang sangat diperlukan dietnbaranya adalah kebaradaan Maturatjon Promoting Factor (MPF) yang merupakan siklus kinase sel yang

(11)

utama. Maturetion Promoting

Factor

bisa juga disebut sebagai mStosis promoting factor.

Menurut Ledda, Bogliola, Leonia dan Naitana (2001)

MPF

adalah suatu protein heteridimwic yang tersusun atas sebuah sub unit catalyfic yaitu cyolin-dependent kinase (CDK I) dan sebuah sub

unit

regulasi yaitu cyalin (cyclin 8, rnerupakan sebuah cyclin mitosis), sedangkan menurut Dunphy et. aL(1998) dan Draetta et. ab(1989) dalarn Goudet

dkk.

(1998) W F rnerupakan sebuah kornpleks heterodimeric dari dua sub unit yaitu sebuah serine dan thwonin protein kinase, p34cdc2 d m sebuah sub unit regulasi cyclin B.

Pada penelitian tahap I (Tahwn I) blah dianalisis ekspresi gen untuk komponen

MPF

yang terdiri dari protein pMcdc2 dan cyciin B pada oosit dengan lama maturasi yang berbda secara in vitro terhadap kompetensinya di dalarn rnaturasi oosit. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa gen MPF dalarn ha1 ini protein p34cdc2 terekspresi pada lama matwrasi oosit 24 dan 30 jam, sadangkan cyclm B tarekspresi psda lama maturasi oosit 24 jam saja.

Pada penelitian tahap I1 (lahlrn 11) ini ingin diketahui Bagaimanakah ekspresi gen MPF (p34cdc2 dan Cyclin B) pada embrio dengan kuatitas yang beFbeda, dalam ha1 ini digunakan embrio hasil parthenogenesis, akan tetapi sampai saat ini hasil belurn bisa ditaporkan karena penelitian masih sedang bwlangsung.

(12)

2.18. MatuWon Promoting Factor (MPF) den Fungsinya

Maturation Promoting Factor (MPF) adalah suatu protein heteridimeric yang tersusun atas sebuah sub unit catalytic yaitu cyclin-dependent kinase

(CDK

1) den sebuah sub unit reguEasi yaitu cyclin (cyclin B, merupakan sebuah cyclin mitosis) [Ledda, Bogliola, Leonia dan Naifana (2001) , sedangkan menurut Dunphy et. ab(1998) dan Draetta et. a1.(1989) dalam Gwdet dkk. (1998) MPF rnerupakan sebuah kompldks hetemdimetic dari dua sub unit yaitu sebuah serine dan threonin protein kinasq p34cdc2 dan sebuah sub unit regulasi cyclin 6.

Aktifasi MPF sangal tergantung dari kumpulan p34cdc2, cyclin B dan senbuah perubahan berikutnya dalam status fosforilasi sisa dan tirosin dan treonin dalam pMcdc2. Cjclln adalah sebuah protein yang krdapat dalam pengaturan siklus sel, jumlah cyclin dalam sebuah sel bervariasi tergantung dari siklus sel. Cyolin mengatur siklus sel dengan

care

mengaktifkan cyclin- dependent kina$@, sedangkan M#F secara urnurn brfungsi mengaktifasi ode2 dengan eara fosforilasi membongkar lapisan inti (Anonimus. 2004).

Pada sapi, selama penode neonatal, ovarium sapi menunjukkan penlbahan morfobgi yaitu rneningkatnya berat ovarim 7

-

11 kali berat semula saet antara lahir sampai menjelang pubertas. Pada saat

ini oosit

betistirahat dan memasuki tahap diMiate stage pmfase meiosis I, ji b terdapat rangsangan dari gonadotropin baru akan meneruskan tahap germinal vesicle breakdown (GVBD), fomasi awal spindel meiosis dan pengeluaran polar body I, istirahat pada metafase meiosis I1 sampai selanjutnya terpenetrasi oleh spermatozoa. Maturasi meiosis yang sernpurna bisa terjadi setelah oosit dikultur secara

in vitm bemamaan dengan sel-sel kqmulus yang berfungsi

sebagai suplai nutrisi dan hnspor rnofekul-rnolekul msenger dari folikel ke oosit, kejadian pada peristiwa ini diikuti dengan adanya pembahen fosforilasi berbagai rnacam protein seluler dan modiflkasi struktur. Perkernbangan meiosis diatw oleh aktifitas MPF, yang sekaligus sebagai pengatur

ser

secara

(13)

umurn pada meiosls dan mitosis. Aktifitas MPF dikontrol oleh sekurnpulan CDKl dam cyclin 8 untuk membentuk pre MPF, seknjutnya diaktifasi oleh defosforitasi CDKl spesifik yang homolog dengan yeast phosphatase, cdc26. Aktifitas MPF biasanya diterjemahkan secara in vrtm melalu fosforilasi eksogenus histon H I yang digunakan sebagai substfat, selain itu MPF berperan penting dalam pernbongkaran membran inti, kondensasi kromosom, penyusunan kembali mikrofilarnen dan reorganisasi jaringan filamen intermidiate.

Extmcelluler regulated kinese (EK) adalah sebwah anggota dari mitogen activated protein (MAP) kinase yaitu sebuah kelompok protein serinttreonin kEnase yang diaktifkan untuk dapat merespon bemawm-macam rangsangan ekstraseluler dan sekaligus sebagai mediatot signal trarlsduction dari permukaan sel ke dalam sel itu sendiri. Selarna maturasi wsit, ERKI MPK dan MPF krgabung dalarn mengontrd siklus s d dalam berbagai peristiwa, gabungan antara ERKI dan MPF sebagai kinase yang menyebabkan meiosis pertama tanpa terkecuali dalam peristiwa rnengaktifkan MPF yang berfungsi untuk rnenghilangkan daya hambat fosfm.lasi yang dihasilkan oleh

Wee1 farnili protein kinase sedangkan ERKIR wK sendiri berfungsi dalam

menghapus pengmh penghambatan tenebut.

Pada permulaan meiosis setelah istirahat p d a profase I kemudian diaktifkan oleh MPF di dalam oosit dan rnenyebabkan tejadimya GVBD serta kondensasi kromosom.

Pada oosit tikus pengaktifan MPF mendahului pengaktifan ERK112 MAPK keadaan ini memberi kesan bahwa ERK112 wK tidak secara langsung berpengaruh pada pengaktifan MPF pada tiDk-titik spesifik di &lam siklus mawpun pa& saat GVBD tapi lebih dari ltw ERKIR wK pada akhir maturasi

GVBD, eetelah masuk ke datarn tahap GVBD dan selarna tahap mturasi meiosis, mikrokhuli dan mikrofitamen akan tertutup temasuk petkernbangan kromosomnya, dan ha1 inE berperan penting dalam prrtses pembdahan meiosis (Viliadiaz dan Miyano, 2003).

Skema model pengaturen dalam pembelahan sel seperti pada Garnbar 1. menunjukkan bahwa selam interfase, cyclin mengalami kenaikan konsentrasi dalam sel karena laju sintesis lebih tinggi dari pada laj~u pembongkaran dan molekul-molekul cyclin bergabung dengm protein cdc2

(14)

membentuk tahap awal protein kunci yang rnasih inaMif yaifu prs-MPF @ r e

maturatron promoting factor). Pre-MPF akan diakMasi melalui bagian cdc2 yang terfosforilasi dan melalui juga suatu langkah defosforilasi, dimana pads saat yang sama melalui fosforilasi mengakibatkan aktivasi bagian dari pre- MPF. Dengan dernikian akan terbentvk

MPF

aktif yam merupakan fqktor kunci senbra1 yang dapat menQaktifasi suatu kaskade ensirn berikutnya dalam hubungannya dengan kegiatan mitosis. Disamping ensim yang diaktifasi oleh MPF juga ditemukan ensirn yang membongkar cyclin, dengan demikian dengan dimulsinya fase mitosis pada saat yang m a akan terjadi inieiasi inaktifasi MPF melelwi penlngkatan pembongkaran cyclin. h l a l u i sistam ini sel dapat meninggalkan fase mitosis dan kemudian berubah kepada interfase berikutnya (Suyadi, 2002a).

(15)

I

Fosforilasi cyclin Defosforiiasi p34

-

M

Pergantian fase d a l m siklus sel (masuk ke mitosis)

C'yclin

I

Pemkntukancydiri

M

- T Pergantian fase dalam sildus sel (mninggalkan mitosis)

Gambar 1. Gambaran skematis dari mofekul inti dan rnekanisme

pengaruhnya dalam proses pengawalan dan pn@akhiran mitosis. Meskipun sampai saat ini belum mungkin digambarkan secara detail mengenai regutasi dari pmbelahan sel maka dapat dianggap h h w a bebeapa faktor dan inleraksi se* mitosis dan meiosis selalu terjadi pada proses pembelahan sel , termasuk sel embrio (Suyadi, 2002a).

(16)

2.2. Parthenogenesis

Pafihenogenesfs adalah model yang tepat yaw dapat digunakan untuk rnenjelaskan kornpetensi meiosis pada oosit. Dengan metalui parthenogenesis maka proses biokirnia dan rnorfdogi yang terjadi pada perkernbangan awal embrio dapat dipelaiari. Parthenogenesis adalerh proses perkernbangan ernbrio dari garnet betina tanpa melalui proses feftilisasi (tanpa peran dari gamet jantah). Parthenogenesis dapal dialktifkan dengan rnenggunakan Wbagai agen selain dari spermatozoa yang pFimip dasernya mwpakap upaya meniru rnekanisme yang diiakukan oleh sperma dalam rnenginduksi penyediaan signal kalsiurn intraseluler pada proses fertilisasi. Dengan tersed'inya kalsium intraseluler yang cukup bagi oosit rnaka akan rnernungkinkan oosit mtuk rnenginaktivasi MPF, mitogen-activafed protein ldnase (WPK) dan cytostatic factor (CSF) sehingga nantinya oosit akan bemeiosis secara penuh

dan

pa& akhirnya dihasilkan ernbaio sepedi pada pmses fertilisasi (Kaufrnan (1979) dalam Aiberio et.al. ;2002).

Salah satu agen kirnia yang umum digunakan wntuk keperluan aktivasi parthenogenesis adalah penggunaan ethanol 7% (Presicce dan Yang, 2994; Liu et.al.. 1998: Awery d m Greve, 2000) selarna 5 7 menit. Patmicce dan Yang (1994) rnengernukakan bahwa ethanol 7% rnampu rnernacu pernbentukan pronuclear rnelalui prornosi dalarn pembsntukan IP3 dan influx C d * ekstraseluler.

Bdberapa peneltan yang ad8 mefgporkan bahwa penggunaan etanol sebagai agen penginduksi kenaikan kalsiurn intrasaluler merighasilkan

efisiensi yam9 berbedtl-beda. Presiw &n Yang (1994) melapo#an bahwa

aktivasi oosit sapi dengan menggunakar~ ethanol 7% setarna 5-7 rnenit mampu menghasilkan cleavage

rate

sebesar 27-3386. Ongeri et. al. (2000) yang rnelakukan aktivasi pada oosit dornba dengan menggunskan agen yang sama selarna 5 menit rnarnpu rnenghasilkan cleavage

rate

sebesar 5546, dan Liu et. al. (2002) yang melakukran aMivasi pa& oosit kelinci dengan

menggunakan ethanol 7% selarna 7 menit rnarnpu menghasilkan cleavage rafe sebesar 37%. Sedangkan Ciptadi (2005) yang rnelakukan aktivasi pada

(17)

w i t kambing dengan rnenggunakan ethanol 7% selama 7 menit mampu rnenghasilkan cleavage rete sebesar 32,97%.

2.3.

Ekspresi

gen MPF serta

kompesensinya

dalam

mmmsi oosit kambing

secara

in vim

Hasil penelitian fahun I (Tahap I) telah dbteliti tentang akspresil gem MPF terhadap lama maturasi yang berbeda. Sejumlah masing-masing 60

ornit

(mtuk P@rl&uan 0. 12, 18, 24 dan 30

jam

lama maturasi) diafvalisa dengan elektroforesis dan dilonjutkan dengan imrnunoblatting untuk mengetahui keberadaan protein p W c 2 dan cyclin

B

setelah dilakukan IVM. Gambar 2 mewnjukkan hasil immunoblotting menggunakan antibodi primer

Gambaf

2. Protein p&xic2 diekspresikan deh oosit dengan lama I'IIM 24 dan 30 jam

Dari Gambar 2 rnenunjukkan bahwa protein p34cdc2 dengan

5M

34

kDa diekspresikan oleh omit yang di IVM selama 24 jam dan 30 jam

(18)

sedangkan pada lama IVM yang lain (0, 6, 12 dan 18 jam) pmn tenebut tidak nampak. Pada lama IVM 24 jam menunjukkan band yang leblh jetas.

Gambar 3 menunjukkan hasil immunoMotting menggunakan antibodi ptimer cyclin8.

Gmbar

3. Cy~!in B diekspresikan oteh oosi4 dengan lama IVM 24 jam

Dari Gambar 3. nampak bahwa cyclin

6

diekspresikan oleh oosit yang di IVM dams 24 jam, sedangkan pgda lama IVM yang lain (0, 6, 12 $8 dan

30 jam) ~ y c l h

B lid& terekspresi.

Menurut Goudet Qkk. (1998) oosit yang dimaturasi Selma 0 dan 6 jam

bra&

pada fase GV, I 2 jam pada fase GVBD, 18 jam pada

bse

Meaifase I

(MI), 24 $an 30 jam pada fase Metafase II (MII). Aktiiitas

MPF

pada sapi rneningkat secara Wtahap, dan mencapai punoak pertama pada oosit yang dimaturasi selama 12-14

jam,

tuaun

pada lama maturasi 16-1 8 jam, kemudian naik dagi dan stabil pada lama m a m i 20-24 jam.

Level

MPF yang ting~i hi bertahan Selma beberapa jam dan kemudian mengalami penunrnan secara bertahap setelah lama maturasi 30 jam dan sudah tidak terdekksi lagi pada lama rnaturasi 48 jam.

Kebethasilan lW dipenganrhi oleh berbagai macam siklus sel, salah

(19)

adalah MPF. Aktifasi MPF sangat tergantung terhadap keberadaan protein pSlcdc2 dan cyclin B (Anonimus, 2004). Hasil immunoblotting pada penelitian tersebut nampak b a h profein p34cdc2 ada pada oosit yang di IVM s e h a 24 jam dan 30 jam, sedangkan cyclin B ada pada oosit yang di IVM selama 24 jam, ha1 ini ditunjang obh data hasil lVM selama 24 jam dan 30 jam masing-masing menghasilkan angka maturasi 74.67% dan

72.56%

(menrpakan pehngkat keberhasilen IVM ke 1 dan ke 2) ha1

ini

terjadi karena pada lama IVM tersebut terdapal MPF yang meiupakan slklus kinase utarna yang berupa sebuah kompleks heterodimerik dari dua sub unit yaitu setin dan treonin kinase yaitu protein p34cdc2 dan sebuah sub unit regwlasi yaitu cyclin B. Dalarn ha1 ini cycln B akan mengatur siklus sel dengan cera mengaktifkan cyclin-dependent kinase sedangkan p34cdc2 akan bekerja dengan cara membongkar rnembran inti, kondenaasi kromsorn, penyvsunan kambali mikrofilamen dan reorganisasi jaringan filamen intermediate yang kesemua ini mendukung terjadinya kematangan oosit (Goudet dkk. ,1999). Maturasi oosit yang sempuma bisa terjadi satelah oosit di IVM bersama-sarna dengan sel- sel kumulus rang berfungsi sebagai penyedia nutrisi dan melakukan transport molekul-malekul mesenger dari folikel ke oosit, dan peristiwa ini akan d i s k a n dengan te~jadinya foslorilasi berbagai macam protein seluler yang ada serta terjadi perubahan struktur. Menurut (Suyadi, 2002a) selama interfase, cyclin

B. mengalami kenaikan konsentrasi dalam sel karena laju

sintesis lebih tinggi daripada laju pembongkaran dan molekul-molekul cyclin B bergabung dengan p34cdc2 mernbentuk &hap awal protein kunci yang rnasih in aktif yaitu pre-MPF (pre-Maturation Promoting Factor). Pre-MPF akan diaktifasi melalui bagian p34cdc2 yang terfosforilasi dan juga melalui tahap defosforilasi, dirnana pada seat yang sama tosforilasi ini akan mengakibatkan aMivasi bagian dari pre-MPF, sehingga terbentuk MPF akti? yang dapat mengaktifasi suatu kaskade ensim bertikutnya dalam hubungannya dengan k e g k n mitosis. Disamping enoim yang diaktifasi oleh MPF juga ditemukan ensim yang membongkar cyclin B, dengan demikian dengan dimulainya fase m~tosis pada saat yang same akan tejadi juga diawalinya inaktifasi MPF melalui peningkatan pembnongkaran cyclin B. Melalui sistem ini sel dapat meninggalkan fase mibsis dan kemudian memasuki imrfase berikutnya.

(20)

Dan

hasil

penelitian yang sama peda lama

IVM

yang lain (0, 6, 12 den 18

jam) angka maturasi menunjukkan persentase yang lebih rendah, rnasing- rnasing adalah 0%; 1,5396; 6,7494 dan 33,15% karena tidak didapatkan adanya protein p34cdc2 dan cycljn

B

yang rnendukung terjadinya proses malurasi oosit.

(21)

Ill. TUJUAN DAN MAN'FAAT PENELITPAN

3.1.

Tujuan PepelitIan

Tujuan urnurn uangka panjang) penelitian ini addah rnenghasilkan MPF (protein p34cdc2 dan cyclin B) rnelalui isolasi dan karaterisasl yang dapat dikembangkan sebagai kit yang sangat berrnanfaat dalam rneningkatkan keberhasilan rnaturasi oosit

dan

perkembangan ernbrio rnamalia secara in vitro; dan meningkatkan kemarnpuan produksi ernbrio dalarn rangka rnendukung keberhasilan program transfer embrio di Indonesia.

Tujuan jangka pendek (khusus) adalah mernperalen lnfonasi tentang ekspresi gen

MPF

rnelalui keberadaan protein p34cdc2 dan pcotein cyolin B pada embrio hasil parthenogenesis dengan ,kualitas yang berbeda (tidak mernbeiah, fnembelah tidak sirnebis dan rnernbelah sinietris).

3.2. Manfaat

Pehelitian

Dari

penelitian ini akan didapatkan inforrnasi rnengenai fikspresi gen

MPF

pada ernbrio dengan kualitas yaw berbeda.

(22)

4.1. Tempat dan Lokasi Penelltian

Penelitian dilslkukan mulai awal Juli 2006 sampai dengan Uopembe~

2007.

Pelaksanaan in vEtro maturasi dilakukan di laboratorium RS Bersalin

Mutiara Bunda jl. Ciujung 19 Malang sedangkan untuk elektroforesis dan immunoblotting dilakukan di laboratorium Biokimia Fakultas MbPA Universitas Brawijaya Wtalang.

4.2. M e W e Penelitian

Dalam pwlalitian ini digunakan metode percobaan laboratorium

4.3. Bahan dau Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah oosit kambing immature yang diperoleh dengan

cara

mengaspirasi folikel ovarium kambing yang diambil dwi Rumah Potong Hewan (RPH) Sukun Maiang, Tissue C u & e Medium (TCM) 199 (Gibco-BRL), NaHC03 (Merck), HEPES (USB. Ohio), Setal Bovine Serum (FBS) (Gibco-BRL), penicillin (Meiji Seika, Tokyo), streptamycin (Meiji Seika, Tokyo), MaCl Fisiologis 0.9% (Merck), ethanol (Merck), parafin oil (Merck), enzim hyaluronidase (Sigma chemical) dan parafilm.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah falcon (fwaki diameter 35 mm), disposible syringe 10 ml dengan jarum 216 x l?/2n, petri dish, blue tips, yellow tips, rak tabung dan tabung reaksi, bunsen, mEIEipore, hemrtokrit

(Assistent), stereo mikroskop, autoklaf, oven den inkubetor.

4.4. Tahapan PeneliUan

Penelirian dllakukm dengan beberapa tahapan kegiatan pemlitian yaitu pernbuatan medium, in vitro maturasi, aktivaai partnertogenesis dan analisis profil MPF.

(23)

a. Pembuatan medium

Medium stock: menimbang 1,s g TCM 199 kemudian ditambah dengan 0.44 g NaHC03; 0,476 g Hepes, antibiotik (0,012 g penicillin dan 0.2 g streptomycin), dan deionized water (Dl) steril sebanyak 200

mi.

SeJanjutnya stock medium difllter dengan menggunakan millipore 0,33 Urn dan medium siap digunakan.

Washing medium : 9,s ml stock medium dan 0,s ml FBS difilter menggunakan millipore 0,22 Urn.

Medium Koleksi Ovari: NaCl fisiologis ditambah penicillin G 1000 IU per ml dan streprtomisin sulfat 0.2 Ug per liter

Medium IVM: 9 ml stock medium ditambah 1 mi FBS diilter menggunakan millipore 0,22 Um.

Medium ak(ivwf: 9 ml medium stock dkambah I ml

FRS,

dan selanjutnya digunakan sebagai pengenw untuk aktivasi. 1860 U1 medium pengsnoer ditanlbah dengan 140 UI ethanol stoek.

b.

In

V i m Mutufation (IVM)

Metode IVM yang digunakan dalam penelitian hi mengacu pada metode Gordon (1994).

Koleksj ovari dan oosit: Ovari diperoleh dari Rumah Potong Hewan Kambing di Sukun Malang. Ovari yang didapatkan, dlbeffiihkan dari jaringan lemak yang

melekat

dan kemudian disimpan dalam termos yang berisi medium koleksi ovari

rn

(NaCI fisiologis yang mengandung penicillin G f 000 IU per

ml

dan streprtomisin sulfat 0,2 Ug per liter) pada suhu

30-3S°C.

Ovarium hasil koleksi disimpan dalam waterbath suhu 38 C.Oosit diambil secsra aspirasi dengan menggunakan jarum ukuran G 21 yang dihuhungkan dengan spuit 6 ml berisi washing medium

. Aspirasi dilakukan pada folikel

berukurm 6-8 mm.

(24)

Washing Oosit: Sebelum dilakukan maturasi in vitro oosit hasil aspirasi di washing (dicuci) dengan beberapa tahap. Pencucian oasit ini bertujuan untuk menghilangkan debris-debris dan cairan folikel yang ikut pada saat aspirasi w i t , selain

itu

juga memberikan kesempatan bagi oosit untuk beradaptasi dengan medium in viho maturasi yang akan digunakan untuk IVM nantinya. Tahapan-tahapan yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

I. Mula-mula disiapkan medium TCM stock tanpa Fetal Bovine Serum (FBS) sebanyak 5 ml dalam tabung reaksi berkapasitas 10 ml.

2. Oosit hasil aspirasi dimasukkan ke dalam tabung (point I), kemudian dilakukan pengendapan dalam water bath suhu

37

C selama 10 menit. 3. Supernatan dibuang dan dalam tabung disisakan kira-kira 1 rnl (oosit dan

komponen lain yang mengendap)

4. Dilakukan pencucian ke due dengan menggunakon medium yang mengandung 5% FBS, dilakukan dengan cara menambahkan W u r n berserurn ini (sebanyak kira-kira 5 ml) ke dalam tabung yang berisi omit.

5. Dilakukan pengendapan pada water bath suhu

37

C selama 10 menilt

6. Supematan dibuang dan dalarn tabung disisakan kira-kira I ml (wit dan komponen lain yang mengendap).

7.

Dilakukan pencucian ke tiga dengan mehggunakan medium yang mengandung 5% FBS lagi (medium berserum yang ke dua), dilakukan dengan ogra menambatdran medium beaserum ini (sebanyak kira-kira 5

ml) ke dalam tabung yang berisi oosit.

8. Dilakukan pengendapan pada water bath suhu

37

C selama 10 menit 9. Supematan dibuang dan dalam tabung disisakan kira-kira 1 ml (oasit dan

kornponen lain yang rnengendap).

Seleksi Omit: Setelah pmcucian selesai tahap sclanjutnya adalah seleksi oosit dangan kualitas bagus untuk dE IVM. Seleksi -it dilakukan sebanyak 4 tahap. Tahap :

1. Disiapkan medium TCM stock yang mengandung FBS 5Oh dalam cawan petri, kernudhn omit hasil penoucian dimasukkan dalam cawan petrl ini

2. Diambil oosit dengan kualitas A (oosit cumulus compleks/terdapat mmlnlti layer kumulus yang menyelimuti oosit) unhrk dipindahkan dalam Cawan

(25)

petri yang berisi TCM stock

+

$0 % FBS. Pemindahan dilakukan dengan menggunakan pipet hematMrt steril menggunakan stereo mikroskop.

3. Pemindahan oosilt dalam TCM + 10%

FBS

ini dilakukan aebanyak 3 kali, b r u setelah itu dilakukan pemindahan oosit daiam drop medium IVM, masing-masing drop berisi 100 UI dan di atas drap d i ~ t u p dengan mineral oil. b l a m sebuah cewan petri b o i l biasenya dibuat 3 buah drop, masing-masing drop diisi Is15 wsit

Maturaci Omit: Dsngan menggunakan hematokrist make oosit hesil

seeksi dipindahkan ka dalam medium meturasi yang &)ah diinkubasi minimal 2 jam sebelum digunakan. Maturasi oosit dilakukan pada suhu 38,5OC

ddam

inkubator yang rnengandung 5% COZ selama 24 jam.

c. Evaluasi o m i t hasil rnaturasi

Setelah dilakukan in vifro maturasi selama 27 jam, dilakukan pengarnetan terhadap tingkat maturasi oosit melalui ekspansi kurnulus yang tejadi dan keberadaan

first

polar body yang dimilikinya untuk selanjutnya dilakukan aktivasi parthenogenesis dan analisis profil MPF. Menurut Shamsudin dkk. (1993) kualitas rnaturasi oosit secara in vitro dapat dilihat dari tingkat ekspansi kumulus ooforwnya. Adapun morfologi ekspansi kumulus ouforus terdiri dari tiga tingkat, yaitu tingkat

0

dengan kualitas icumulus ooforus lidak mengembang sama sekali, tingkat 1 dengan kwlitas kumulus ooforus mengembang sebagian (ada yang menumpuk), dan tingkat 2 a w n kualitas kumulus mfanrs mengembang ~ e l u ~ h n y a . Wangkan keberadaan first polar body dapat diamati setelah sel-sel kumulus yang mengelilingi wsit dihihngkan dengan cara diinkubasikan dalam 0.2% enzim hyaluranidase selama 5 menit diikuti dengan pipetting pada suhu ruang. Selanjutnya hanya oosit dengan fisrt polar body dan oosit dengan pelkernbangan sel-sel kumulus tingkat 2 saja yang dimaturasi kembali sampai ja ke-30 IVM.

d. Akjivali Parthenogenesis oosit yang telah mengalmi rnaturasi

Metode aktivasi parthenogenesis didasarkan pada metode yang dilakukan oleh Meo et.al. (2003) yang telah dimodifikasi. Oosit yang telah

(26)

dimaturasi (jam ke-30) secara in vitro dan berhasil matang dengan kualitas

2

(kurnulus ooforus berkernbany sernpurna) selanjutnya dilakukan dktivasi

parthenogenesis rnenggunakan etanol7%. Aktivasi parthenogenesis

dilakukan dengan tahapan sebagai berikut

1. Oosit hasil maturasl (kuaktas baik) dicuci dengan rnenggunakan

medium TCM + 10%

FBS.

2. b i t dicuci dalam medium aktivasi (TCM stock + FBS 10% + 7%

ethanol) bentuk drop, sebanyak 2 kali.

3. Oosit diaktivasi dalam medium aktivasi bentuk drop Salama 7 menit

4. Oosit dicuci dalam medium TCM + 10% FBS sebanyak 2 kali.

5. Oosit diinkubasi dalam drop kultur yang berisi medium TCM stock +

10% FBS, daiarn C02 inkubator dengan kadar C02 5%, suhu 3 , 5 C selama 24 jam.

e. Ewaluasi Kualitas Ernbrio

HaW

Aktivasi Parthenogenesis

Setelah oosit diinkubasi dalarn C02 inkubator dengan kadar COZ 5%,

suhu

38,s

C selame 24 jam, tahap selanjutnya adalah mengevaluasi kualitas

ernbrio yang dihasilkan. Embrio hasil parthenogenesis dil;elarnpokkan

menjadi 3, yaitu: embrio tidak rnmbelah, embrio rnembelah tidak sirnetris dan

embrio rnembelah sirnetris.

f. Analisis W F

Gd

Electropharesia Uan lmmunoblottln(g

Ekspresi gen MPF dianalisis menggunakan metode gel electrophoresis

dm

immunobtotting (Goudet, dkk., 1998) terhadap oosit beJum mengalami

maturasi, oosll yang dimaturasi selama 24 jam, emMo tidak rnembelah,

embrio rnembelah tidak sjmatris dan embsio membelah simekris. Secara

singkat

wntuk

rnernpetsiapkan gel electrophoresis adalah sebagai berikut 2 ul

buffer yang mengandung 6% wlv sodium dodecilsUlfate (SDS), 62,5 Mrn Tris-

HCI pH 6,8 ; 10% vlv gliserol. 15% vlv 2-Mircaptoethanot dan Bromophenol

blue dan dimasak selama 4 menit. Sebanyak 60 oosif dan atsu embrio per

kelompok perlakuan dirnasukkan dilakukan sonikasi untuk memecah zona peilusidanya kemudian dimukkan dalam surnur gel dektroforesis. Pada akhir migrasi protein dari sdution dan fraksi mernbmn nitro sellulose dan

(27)

mengandung 34 kd dan 63-65 kd protein. Sebelum dan sesudah dipoiong band dicuci dengan PBS 0,1% Tween 20 dan diinkubasi 1 jam dalarn PBS 0,1% Tween 20 yang rnengandung 5% dry milk: s&hh pencucian kedua dalarn PBS 0,1% Tween 20 diinkubasi 3 jam dengan antibodl primer p W c 2 den antibodi primer cyclin

B.

Setelah 3 kali pencucian dalarn PBS 0,1%

Tween 20 rnernbran diinkubasi 1 jam dengan peroksidasiconjugated rabM antimouse irnmunogEobulin (kg) G sampai rnenjadi jernih. Sampel yang sudah jernih dicarnpur dengan lg anti MPF dan diinkubasi pada swhu 4 C

selanjutnya dilakukan irnrnunoblotting (Goudet, dkk. 1998).

Protein-protein yang telah difraksionasi dipisahkan wcara eiektrik ke rnernbran imrnobilon den dilakukan irnrnunodeteksi dengan menggunakan antibodi spesifik-reseptor yang sarna dan ensirn chernituminescence (Robyt den White, 1987).

4.5. Analisis Data

(28)

V. HASIL DAN PEMBAHASAM

Oosit muda yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari ovarium

kambing yang belum diovulasikan. Seleksi dilakukan dengan mmggunakan mikroskop inverted terhadap oosit muda yang lengkap struktur rnorfaloginya, yakni dengan adanya korona radiata, zona pelusida maupun sel kumulus

oofanrs. Oosit yang demikian dalam media yang cocok dan wakto yang cukup

akan mampu melanjutkan ke tahap perkembangan selanjutnya. Mahrasi

w i t s w r a in w'fm diusahakan menyamai keadaan

in

wivo, yakni dllakukan

dalam media TCM (Tissue Culture Medium) 199

+

10% FBS (Fetal Bovine

Serum), karena bahan-bahan tersebut menWati komponen cairan folikel.

lnkubasi dilakwkan dalam suhu 38,s- dan 5% GO2 agar sesuai dengan kondisi in vivo (Greve dkk., 1993).

Menurut Shamsudin dkk. (1993) kualitas maturasi oosit secara h vitro dapat Uilihat dafi tingkat ekspansi kumulus ooforusnya. Adapun moffdofogi ekspansi kumulus ooforus terdiri dari tiga tingkat, yaitu; tingkat 0 dengan kualitas kumulus oofows tidak mengembang sarna sekali, tingkat 1 dengan kualitas kumulus ooforus mengemhang sebagian (ada y a w m u n p u k ) dan

tiwkat 2 dengan kualitas kumulus ooforus mengembang seluruhnya. Hasil

penelitian menwnjultkan adanya 3 tingkatan perkembangan yang dapat dilihat

dari

ekspanai sel kumulus ooforus. Oosit tingkat 0 dan 1 meyakan oosit rang belurn masak karena pernasakan srtoplasmanya kurang sempuma.

Sehingga pembelahan inti tidak berlanjut sampai metafase 11. -it tingkat 0 pembelahan sel hilnya sampai pada tahap genninal vesicle (GV). Pada

tingkat 1 pembelahan sel hanya sampai pada tahap Germinal Vesicle Bleak

Down (GVBD) atau pecahnya membran nukleus, metafase I dan anafase- telofase meiosis I. Hal tersebut diduga juga berlraitan erat dengan ekspansi

sel kumulus ooforus yang tidak

sempwna.

Semakin balk ekspansi kumulus

ooforus, sernakin tinggi tingkat maturasi oosit den tingkat fertilisasi. Brackett dan Zuelke (1993) rnenyatakan bahwa sel kumulus oofarus meinyedjakan

(29)

pengaruh aktivitas metabotis yang bemanfaat selam maturasi in dtro. Apabila sel kumulus ooforus tersebut tidak berkembang dengan baik (bertumpukan) maka akan menghambat masuknya hom~on dan senyawa tertentu yang dipeflukan untuk pembelahan sel ke Ualam oosit yang dapat mengakibatkan terhambatnya pembalahan inti Uan pamatangan sibplasma. Oosit yang telah masak, sel kumulus ooforwsnya akan mengembang sempurna den ikatan sesame sel kumulus oaforus melonggar, serta menghasilkan asam hyaluronik. Asam hyaluronik dapat

larut

oleh enzim hialuronidase yang terkandung dalam spermatozoa. Pelarutan asam Ryaluronik

ini

akan memudahkan spermatozoa melakukan penetrasi melalui

zona pelusida dan membran viSelJin oosit (Hafez, 2000).

Proses maturasi oosit secara in vitro sangat menentukan keberhasilan pipfthenogenesis. Oosit yang mengalami proses penasahan yang kurang sentpurna fidak akan mampu melaksanakan parthenogenesis dengan baik karena aosht yang dihasilkan belurn sarnpai pada tahap metafase II. Menurut Sosilawati dkk. (1997) ~bahwa omit masak (kualifas 2) telah moncapai tahapan rnetafase II, yang merupakan suatu tahapan oosit yang telah siap untuk dibuahi spermatozoa. Salah satu faktor yang berpengaruh pada rnaturasi oosit secara in vitro adalah lama maturasi in vitro. Qosit yang sudah dimaturasi secara in vitro selama 24 jam diamati morfoiqi ekspansi (perkembangan) kumulus ooforusnya. Hasil maturasi in vibo oosit ditampilkanlpada Tabel 1.

(30)

Tabel I. Evaluasi ekspansi kumulus setelah IVM

Keterangan:

Kualitas 0 : kumulus ootms tidak berkernbmg

Kualitas 1 : kumulus ooforus berkembang fidak sempuma Kualitas 2 : kumulus ooforus berkembang sempurna

Dari Tabel 1. dapat dilihat bahwa jumlah oosit setelah IVM adalah 4,84%; 38,7096 dan 56.47% masing-masimg untuk kualitas 0, 1 dan

2.

Dari tabel tetsebut juga dapat dilihat bahwa oosit kualitas 2 menduduki angka tertlnggi dbandingkan dengan kualitas rnaturasi yang lain (kualitas 1 dan 0). Hasil penelltian sabelumnya menunjukkan bahwa

tingkat

matloasi oosit sapi dan karnbing dipengaruhi oleh kompmisi medium dan ukuran folikel asal oosit. Tingkat malurasi oosit kambing bewariasi antara 15

-

66% (Isnaini dkk.. 2000) dan antara 61

-

66% pada sap1 (Ciptadi dkk.. 2000; Wahjuningsih dkk.,

(31)

5.2. Kualitas Embrio

Hasil

Aktivasi Fa&henogen&

Aktivasi patthenogenesis pada oasit kambing hasil

IVM

dilakukan dengan imenggunakan ethanol 7% selama 7 menit, dalam ha1 ini ethanol akan berperan untuk menstimulasi kenaikan kalsium Enbaseluler.

Tabel 2. Evaluasi kualitas embrio hasil aktivasi parthmogenesis

Dari Tabel 2, di atas menunjukkan bahwa penggman ethanol 7% mampu

menghasilkan cleavage

rate

pada embrio parthenogenetik kambing sebesar

60,87% (32,17% embrio s i M s dan 28,70% embrio tidak simetris). Hasil

penelitian ini lebih balk jika dibandingkan dengan yang telah dilakukan oleh

Presicce dan Yang (1994) yaitu nenghasilkan cleavage mte sebesar 41%

dan (Ongeri st al., 2000) sebesar 55%. Nurse (1990) menyatakan bahwa penggunaan agen aktivasi ekan menyebabkan oosit keluar dari MI! untdk

berkembang labih lanjut, kareha agen tersebut mempengarwhi aktivitas dari

MPF

dsn

CSF serta

mitogen

activated protein kinese (MAPK). Maturntion Promoting Factor tersuwn atas regulatory subunit (cyclin 6) dan catalytic k c t o r ( ~ 3 4 9 . Pada M11, penshhan kadar MPF tergantung pada kinerja dari cyclin B dalaw fosforilasi ataupun dalam defosforilasi

P34-

dan ketmadaan

CSF (protein kompleks yang tesusun dari babefapa protein saperti C-mos

proto-oncogen, cyclin-dependent &base 2 (cdW), mitogen -activated protein

kEnase (MAPK) dan ~90") dalam mencegah degradasi cyclin B. Ketika

CSF

inaktif maka yang terjadi adalah degradasi cyclin 8

dan

ini menyehbkan

(32)

Proses inaktifnya MPF dapat diinduksi oleh spenna pada proses fertilisasi maupun oleh agen kimia seperti ethanol pada proses akiifasi pafthenogenesis. Pada proses ini kalsium intraseluler akan meningkat dan menyebabkan terjadinya ikatan antara ion kalsium dengan protein dalam sitosol, misalnya dengan kalrnodulin yang rnenrpakan protein pengikat kalsium yang bekerja pada protein efektor seperti catmodulin-dependent protein kinase (CaMK) dan fosfatase (Williams, 2002). Selanjutnya CaMK inileh yang akan menginduksi cyclin 6 dan mendegradasinya naelalui proteasom menghasilkan

MPF

yang inaktif. Terdegradasinya cycfin B hanya bemifat sernentara dan akan kembali pada kondisi sm~rla. Histon H I kinase &an menjaga agar tidak terjadi reakumulasi MPF.

5.3.

Ekspresl

Gen MPF swta Kompetensinya dalam Ernbdo dewan kualitas berbeda

Ekspresi gen MPF dttandai dengan keberadaan protein p34cdc2 dan cyclin 6. Sejurnlah masing-masing 60 oosit belum matang, 60 oosit telah di- IVM 24 jam, 60 ernbrio tildak membelah, 60 embrio membelah tidak simetns dan 60 ernbrio mernbelah simetirs dianalisa dengan elektroforesis dan dilanjutkan dengan immunoblotting uMuk mengetahui kebwadaan protein p34cdc2 dap~ cyclin B

.

Gambar 4 msnunjukkan hasil irnmunoblotting lnenggunakan antibodi primer p34cdc2.

(33)

4. Protein p34cdc2 diekspresikan oleh oosit yang Wah di IVM 24 jam (24JU2), embrio tidak membelah (KWOU2), embrio memhelah tidak simetris (2JU2) dan embrio mernbelah sirnebis (2BU2), sedangkan pada oosit dengan l a m IVM O jam (0) protein p34cdc2 ffdak

terekspresi.

Dari

Gambar 4. metiunjukk&n bhwa protein p34odc2 dengan BM 34

kOa diekspresikan oleh w i t yang di IVM selama 24

jam,

embrio tidak men$elah, embrio membelah tidak simetris dan embrio membelah simetris, sedangkan pada lama IVM 0 jam pmtein tersebut tidak nampak. Hasil penelitian yang menyjukkan bahwa pada oosit yang dhnaturasi selama

0

jam pratein

p34cdc2

tidak nampak senada dengan hasil penelitian tahun I (Insaini dkk, 2006). Hal ini menunjukkqn

bahwa

pada oosit yeng b e l m matang tiekik mengandung protein p W c 2 .

Gambar 5 menunjukkan hasil immunoblotWa oosit den embrio menggunakan adbodi primer cyclin B.

(34)

Gambar 5. Cyclin €4 diispresikan oleh owit dengan lama rVM 24 jam (24), embrio tidak membelah (W), embrio membhh tidak s i M s 2SJ) dan embfio membelah simetris (2SB), sedangkan pada oosit dengan lama IVM 0 jam (0) w i n

B

tidak terelrspaesi.

Keberhasilan pembelahan embrio dipengaruhi oleh berbagai macam siklus sel,

salah

saw faktor dalam menentukan kebrhasitan pembelahan embrio tersebut adalah MPF. Maturation

Promffm

Factor memiliki sub unit

kecil yang berupa cdc2

(CyclinDependent

Kinas. CDK) dan sub unit besar

b e ~ p a cyclin

8.

Sub unit kecil MPF adalah protein b a s e yang apabila

diaktivasi akan dapat memfosforilasi berbagai pmtein. Fosfohilasi dari protein ini akan menyebabkan kramosom mengalami kondensasi. Target yang lain adslah membungkus atau menyelimuti inti. Setelah penarnbahan MPF,

Protein utama pembungkus inti (protein lamin) akan mengalami hyperfosforitasi, depolimerlsasi~ dan pecah (Miake-Lye and KiFschner, 1985;

Ario et al., 1988). Target ke tiga adalah memunwlkan RNA polymerase

(Cisek and Corden, 1989) dan fosforilasi

RNA

polymerase untuk inhibisi transldtripsi selarna mitosis. Targe ke empat adalah memunwlkan kinas8

(35)

yang mengatur sub unit cytoplasmic myoain. Pada mat protein ini difosforilasi, protein akan menjadi inaktif tidak dapat bwfungsi sebagai ATPase untuk menggerakkan Rkamin aktin dalam pembelahan sel (Samrwhite et al., 1992) lnhibisi myosin selama fase awal mitosis &pat rnencegah pembelahan set sampai kromosom krseparasi. Protein p34 dapat eksie dalarn bentwk terfosforilasi rnaupun tidak terfosforilasi. Bentuk aktif terfosfotilasi ada pada threonine-161 (T-161) dan tidak twfosforilasi ada pada tyrosine-15 (Y-15). Kedua bndisi hi penting untuk aktivitas kinase (Gould and Nurse, 1989; Solomon, 1993).

Protein cyclin B pada fase pembelahan sel (cleavage stage) bersikt periodik, berakermulasi selama S phase dan terdegradasi selama mitosis (Evans et.at.. 1983; Swenson et.al., 1986). Cyclin memungkinkan subunit cdc2 kinase terfosforilasi pada residu thraonine-I 4 (T-14). tyrosine .I5 pl-15) dan Wreonine-161. Fosforilasi pada T-161 penting untuk aktivitas MPF, tetapl fosfarilasi pada T-14 dan Y-15 menmgah ha1 tersebut. Pada posisi terfosforilasi kinase menjadi tidak aktif tetapi

tetap

punya potensi untuk berfungsi (potentially functional). Persediaan mofekul MPF potensieil

(pre-

MPF) berakumulasi selama fase S.

(36)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat disirnpulkan bahwa gen

MPF

dalam ha1 ini p34cdc2 den CYclln B sama-sama terekspresi baik pada enrbrio yang tidak membelah, rnembelah tidak sirnetris maupun embrio yang rnembelah simetris.

6.2. Saran

Untuk mendspatkan kit

MPF

dalam upaya mdapatkan embrio

denaan kualitas dan kuantitas tinggi untuk kepentingan embrio transfer, bisa dilakukan diisolasi dari oosit yang telah mangalami IVM selarna 24 jam maupun ernbrio hasil

parthenogenesis

pada sernua kualitas (Mak rnernbefah, membelah sirnettis maupun membelah tidak simetils).

(37)

DAFTAR

PUSTAKA

Anonymous.

2004.

Maturation promoting factor. http:llwww.wikirnedia.org Arion, D., L. Meijer, L. Brizueta and 0. Beach. 1988. cdc2 is a cwnponent of

the M-phase-spesific histone kinase: Evidence for idefitity with MPF. Cell 55: 371-378.

Avery,

B.,

and T. Greeve. 2000. Effect of ethanol and dimethylsulphoxide on nuclear and cytoplasmic maturation of bovine cumulus-aocyte complexes. Abstracts Mol Reprod Dev. 55 (4): 438-45.

Boediano, A., S. Saha, C. SUmantri and T. Suzuki. 1999. Development In Vitro and In Vivo of Aggregated Parthenogenetic Bovine Embrios. Journal of Reproduction, Fertility and Devetopment. 107: 1073- 1079.

Ciptadi, G., S. Wahjuningsih, M.S. Djati, N. Isnaini, A. Pramana dan Suyadi.

2009.

Evaluasi in vitro maturasi dan viabilitas oosit sapi post

thawing menggunakan Hoechst 33258 setelah penghillangan krioprotektan. Agritek 8(3), 318-327

Ciptadi, G. 2005. Pengembangan metode aktivasi oosit rekonsbuksi hasii

transfer

nucleus intrasitoplasma untuk produksi embrio olonircg kambing. Disertasi. Program Pascasarjana. Univewitas Brawijaya Maleng. Malang.

Gisek, L.J. and J.L. Corden. 1989. Phosphorylation of RNA polymerase by murine homologue of

the

cell-cycle control protein cdc2. Nature 339: 679-684.

Furnus. C.C.,

D.G.

de Mat-, A.G. Martinez and M. Matkovic. 1997 Effect of

glucose on embryo quality and post-thaw viability of m vltro

produced bovine embryos. Tneriogemlogy 47 (21,481-490.

Greve. T., Madison, B. Avery, H. Callesen and

B.

Hyttel. 1993. Production of Bovine Embrios: A Progress Report and ConsequenGes on The

Genetic

Upgrading of Cattle Population. Journal Animal Reproduction Science. 33: 51-69.

Goudet,

G.,

F.

Belin, J. Bezard, N. Gerard. 1998. Maturation-promoting

factors IMPF) end tnitoaen adivated motein kinase (MAPIO

expression in relation to oxyte compete& fo in vitro maturation in the mare. Molecular Human Reproduction 4(6), 563-570.

Gould, K. and P. Nurse. 1989. Tyrosine phosphorylatiosr of the ftssion yeast

(38)

Hafez, E.S.E. 2000. Embrio Transfer, IVF and Genetic Enginwing. Reproduction in Farm Animals. 7th Edition. Lea and Febiger. Philadelphia.

Isnaini, N., S. Wahjuningsih, G. Ciptadi dan Suyadi. 2000. Suplemendasi ekstrak hipofise sapi dalam TCM199 untuk in vitro maturasi omit kmbing. Agritek 8(3), 213-218.

Liu, C.T., C.H. Chen, S.P. Cheng and J.C. Ju. 2002. Parthenogemis of rabbit oocytes activated by different stimuli. Animal Reproducbon Science. 70:267-276.

Liu, L., J.C. Ju and X. Yang. 1988. Differential inactivation of maturation- promoting factor and mitogen-activated protein kinase following parthenogenetic activation of bovine oocytes. Biology

o

f

Reproduction. 59: 537-545.

Liu, L., Y.C. Ju and X. Yang. 1998. Parthenogenetic development and protein patterns of newly matured bovine oocytes after ohemvcal activation. Molecular Reproduction and bevelopment 49: 298-307.

Liu, J.L.. L.Y. Sung, Fulian, M. Julian, S. Jiang, M. Barber. J. Xu. X.C. Tian and X. Yang. 2004. Different developrmt of rabbit embryos derived from parthenogenesis and nuclear transfer. Molecular Reproduction and Devefopment. 68: 58-64.

Miarke-Lye, R. and M. W. Kirschner. 1985. Induction of early mitotic events in

a

cell-free

system. Cell 41: 165-175.

Moses, R.M. and Y Masui. 1994. Enhancement of mouse egg activation by the kinase inhibitor, 6-dimethylaminopurine (6-DMAP). Abstracts Exp ZOO. 270

(2):

211-8.

Nlurse, P. 1990. Universal contrd mechanism regulating mset of M-phase. Abstracts Nature. 344: 503-508.

Ongeri,

E.M.

C.L. Bormann, R.E BuIter, D. Melican, W.G. Gavin, Y. Echrrkard, R.L. Krisher and E. Behboodi. 2001. Development

of

goat embryas after

in

vitro fertilizatfon and parthenogenetic activa8on by different methods. Thereogsnology. 5 5 1933-1945.

Presicce, G.A. and X. Yang. 1994. Parthenogenetic development of bovine aasytes matured in vitro lor 24 hr and activated

by

ethanol and cycloheximide. Abstracts Mol Reprod Dev. 38 (4): 380-5.

Robyt, J.F. and B.J. White. 1987. Biochemical tecniques: Theory and

Practice. Brooks I Colk Publishing company, CaliPnia, p 141. Saltterwhite, L.L, M.J. Lohka,

ICL.

Wilson, T.Y. Scherson, L.J.

CIsek

and

T.D.

(39)

p34cdc2: A mechanism for

t

b

timing of cytokinesis. J. Cell 6iol.

11 8: 595-605.

Shamsudin, M., B. Larsson and H.R. Martinez. 1993. Matwation-Related Changes in Bovine Oocytes Undet Different Culture Conditions. Journal Animal reproduction Science. 31: 49-58.

Solomon,

M.,

k.

Booher., M. Kirschner and D. Beach. 1988. Cyclin in hsion yeast. Cell 54: 738-739.

Suyadi. 2002a. Pmduksi Embrio Mtrmalia Secara in vitm. Penerbit CV.

Simefrika.

Malang.

Suyadi. 2002b. Manajemen dan Teknologi Reproduksi pada Sapi. Penerbit

FAJAR. Malang.

Villa-diaz, L.G. and T. Miyano. 2003.The extraoelluler regulated Konase, MAPK in pocine oocytes maturation. Animal Frotier Science 75-70. Japan.

Wahjuningsih, S., G. Ciptadi, M.S. Djati, N. isnaini dan Suyadi.

2000.

Suplementasi gonadotropin untuk maturasi oosit sapi in vitro.

Agritek 8(3), 310-317.

Williams, C.J. 2002. Signaling mechanisms of mammalian oocfie activation. Human Reproduction. 8: 31 3-321.

Zhang, B.R., B. Larsson, N. Lundeheim and W. Rodriqmz-Martinez. 1997.

Relationship

between

embryo development jn vitro and %-day nonreturn rates of cows inseminated with frozen-thawed semen 6rom dairy bulls. Theriogenology 48 (2), 221-222.

(40)

Lampiran 1. Personalla Peneliti

KeWa Peneliti

a.

Narna

dan Gelar :

Dr.

Ir. Nurul Isnaini, MP b. Jenis Kelamin :

Perempuan

c

N1P

: 131 879 042 d. Golongan : IVA

e. Jabatan Fungsional : Lektor Kepaia

f. F&ubslJurusan : PetemakanlProduksi Tenak g. Bidang Keahlian : Reproduksi Ternak

h. Alokasi Waktu Penelisan: 29 jam per minggu Anggota Peneliti I

a. Nama dan Gelar :

Dr.

Ir. Sri Wahjuningslh,

MSi

b. Jenis Kelamin

: Perempuan

c. NIP : 131 876 012

d. Golongan : IVA

e. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

f. FakultaslJurusan : PetemakanlProdukd Ternak

g. Bidang Keahlian : Biologi Reproduhsi

Gambar

Tabel  Teks
Gambar  Teks  Halaman
Gambar  1.  Gambaran skematis dari mofekul inti dan rnekanisme
Gambar 2 mewnjukkan hasil immunoblotting menggunakan antibodi primer
+5

Referensi

Dokumen terkait

Ilham : Munir, Rara, saat ini kalian memang masih muda dan segala sesuatu yang kalian butuhkan masih bisa dicukupi oleh ayah/ibu kalian, tapi kedepannya kan kalian harus bisa

Indonesia misalnya, tidak pernah menaruh kebijakan mengatasi pembajakan kapal di Selat Malaka sebagai prioritas, Jakarta lebih melihat isu penangkapan ikan ilegal

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Republik

Artinya : Katakanlah: &#34;Kesenangan di dunia ini hanya sebentar (sedikit) dan Artinya : Katakanlah: &#34;Kesenangan di dunia ini hanya sebentar (sedikit) dan akhirat itu lebih

kolesterol tinggi dapat memperoteksi terhadap terjadinya aterosklerosis. Orang yang terlatih daya tahannya mempunyai kadar HDL yang lebih tinggi. Pada kelompok

Parameter yang diukur adalah tahanan jenis dari batuan atau medium di baah permukaan dan bertujuan untuk mengetahui penyebaran mineral&amp; mineral konduktif, terutama

Poin standar meliputi Standar Penyelenggaraan, Standar Pelayanan, Standar Sarana Prasarana, Standar Koleksi, STandar Tenaga Perpustakaan, Standar Promosi &amp;

“Percaya, tetapi juga harus hati-hati. Kalau belanja di online shop terkadang apa yang dibeli bahannya tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi selama saya transaksi di