• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1

Ikhtisar

Secara umum, perkembangan ekonomi dan moneter sampai dengan akhir

Juli 2004 ditandai oleh peningkatan kegiatan ekonomi. Di sisi permintaan,

peningkatan tersebut terutama didorong oleh kegiatan konsumsi seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tersedianya alternatif sumber pembiayaan, dan suku bunga yang relatif rendah. Peningkatan kegiatan ekonomi tersebut mulai mendorong tekanan terhadap tingkat harga. Peningkatan inflasi juga disebabkan oleh depresiasi nilai tukar dan kenaikan administered prices yang juga telah mendorong meningkatnya ekspektasi inflasi masyarakat. Mengantisipasi perkembangan tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia akan tetap melanjutkan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) agar sasaran inflasi jangka menengah sebesar 6-7% tetap dapat dipertahankan. Dalam kerangka kebijakan tersebut, Bank Indonesia akan berupaya menyerap kelebihan likuiditas secara optimal, dengan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga.

Secara umum, perkembangan harga pada bulan Juli mencatat inflasi. Indeks

Harga Konsumen (IHK) pada bulan Juli 2004 mengalami kenaikan (inflasi)

sebesar 0,39% (m-t-m). Inflasi pada Juli 2004 tersebut tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya (0,48%), namun jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi pada bulan Juli 2003 (0,03%). Semua kelompok barang dan jasa mengalami kenaikan harga utamanya disebabkan oleh inflasi pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (1,00%), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,51%), dan kelompok bahan makanan (0,43%).

Nilai tukar rupiah pada bulan Juli menguat walaupun volatilitasnya sedikit meningkat. Secara point-to-point, rupiah menguat 2,87% dibandingkan posisi akhir Juni menjadi Rp9.130/USD sedangkan secara rata-rata, rupiah menguat 3,7% menjadi Rp9.032/USD. Sementara itu, volatilitas nilai tukar rupiah mengalami peningkatan mencapai 1,1% dibandingkan 0,18% pada bulan Juni. Faktor positif yang mendorong penguatan rupiah di bulan Juli antara lain faktor eksternal yaitu melemahnya dolar AS terhadap Yen dan terhadap mata uang regional serta faktor kepercayaan investor terhadap Indonesia yang mulai pulih.

Suku bunga instrumen moneter dalam bulan Juli relatif stabil. Suku bunga

SBI 1 bulan tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu masih tetap sebesar 7,34%, sedangkan suku bunga 3 bulan hanya meningkat sebesar 4 bps dibandingkan bulan sebelumnya sehingga menjadi 7,29%. Kondisi tersebut juga diikuti oleh tidak berubahnya suku bunga FASBI dan relatif stabilnya suku bunga simpanan seperti tercermin dari relatif tetapnya suku bunga tabungan yaitu 4,45% atau hanya turun sebesar 2 bps dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, suku bunga kredit mengalami penurunan dimana penurunan terbesar terjadi pada kredit konsumsi dan modal kerja.

..., sementara nilai tukar rupiah menguat.

Suku bunga instrumen moneter relatif stabil.

Laju inflasi Juli lebih rendah dari Juni...

(2)

2

Posisi uang primer pada akhir Juli 2004 meningkat sebesar Rp8 triliun

dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp174,5 triliun. Berdasarkan

pergerakan harian uang primer, posisi sementara test date rata-rata uang primer mencapai Rp168 triliun (tumbuh 29,6%, y-o-y). Dilihat dari sisi komponennya, kenaikan uang primer tersebut utamanya bersumber dari meningkatnya saldo positif bank di Bank Indonesia sebesar Rp19,7 triliun dan hal ini sesuai dengan pola musimannya.

Sejalan dengan itu, M2 pada bulan Juni menunjukkan peningkatan sebesar Rp22,2 triliun menjadi Rp975,16 triliun yang terutama disebabkan oleh

meningkatnya simpanan rupiah (deposito dan tabungan rupiah). Hal ini

disinyalir merupakan pola musiman uang beredar paska kenaikan uang kartal untuk kebutuhan liburan sekolah dan tahun ajaran baru. Sementara itu, M1 juga relatif meningkat dari bulan sebelumnya menjadi Rp233,7 triliun.

Secara umum beberapa indikator kinerja perbankan pada bulan Juni

menunjukkan perbaikan daripada bulan sebelumnya. Fungsi intermediasi

perbankan nasional secara bertahap terus menunjukkan perbaikan. Posisi kredit perbankan meningkat sebesar Rp15,3 triliun menjadi Rp528,7 triliun. dan secara kumulatif, sampai dengan Juni 2004, total kredit baru perbankan mencapai Rp31,9 triliun. Di sisi penawaran, kenaikan ini disebabkan oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sedangkan di sisi permintaan, kenaikan ini didorong oleh relatif rendahnya tingkat suku kredit perbankan. Selain itu, kualitas kredit perbankan menunjukkan perbaikan, sebagaimana terlihat dari penurunan rasio non performing loan (NPL) gross maupun NPL net masing-masing menjadi 7,6% dan 2,4% dan aspek permodalan industri perbankan yang masih memadai.

Uang primer meningkat...

Kinerja

perbankan terus mengalami perbaikan. ...diikuti pula dengan

(3)

3

Perkembangan Ekonomi, Moneter, dan Perbankan

Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang, dan Pasar Modal

Perkembangan harga selama Juli 2004 mencatat inflasi sebesar 0,39% (m-t-m), lebih rendah dibandingkan inflasi Juni sebesar 0,48% (m-t-m). Sementara itu, inflasi secara tahunan pada bulan Juli tercatat sebesar 7,20% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya (6,83%/y-o-y). Kenaikan harga ini terutama disebabkan oleh meningkatnya permintaan domestik disamping pengaruh masih lemahnya nilai tukar serta kenaikan administered price (tarif telepon dan gas elpiji). Faktor nilai tukar dan administered price tersebut selain memberikan tekanan terhadap inflasi, secara langsung juga mendorong kenaikan ekspektasi inflasi masyarakat.

Inflasi bulan Juli lebih rendah dari bulan Juni...

Pada bulan Juli, semua kelompok barang dan jasa mencatat inflasi. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga mencatat kenaikan harga tertinggi sebesar 1% (m-t-m) diikuti oleh kelompok perumahan sebesar 0,53% (m-t-m) dan bahan makanan sebesa 0,43% (m-t-m). Kenaikan inflasi pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga diperkirakan terkait dengan liburan sekolah dan tahun ajaran baru.

... terutama berasal dari kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga.

Sumber : BPS

Bahan Makanan Kesehatan

Pendidikan, Rekreasi & Olahraga Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau Perumahan Transportasi & Komunikasi

Sandang

-1,00 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00

Sumbangan Inflasi

Sumber : BPS 4,0

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul

2002 2003 2004

-1,0

Grafik 1. Tingkat Inflasi Grafik 2. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang

Sumber : Bloomberg 7.000

Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul

2003 8.4398.5018.487

8.386

Grafik 3. Inflasi Inti Tahunan Grafik 4. Rata-rata Nilai Tukar Rupiah

4,0

2002 2003 2004

Headline

Exclusion

(4)

4 Inflasi inti meningkat.

Inflasi inti pada bulan Juli meningkat dari 6,95 (y-o-y) pada bulan Juni menjadi 7,21% (y-o-y). Peningkatan inflasi inti tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya permintaan dalam negeri. Kenaikan permintaan dalam negeri khususnya terjadi untuk komoditi non makanan sebagaimana dikonfirmasi oleh meningkatnya inflasi harga aset. Peningkatan ini, antara lain terkait dengan relatif rendahnya suku bunga simpanan (deposito) sehingga mendorong penyesuaian portfolio aset masyarakat termasuk dalam bentuk aset properti.

Nilai tukar rupiah pada bulan Juli secara point-to-point menguat 2,87% menjadi Rp9.130/USD dibandingkan posisi akhir Juni. Demikian pula secara rata-rata, nilai tukar rupiah menguat 3,7% menjadi Rp9.032/USD dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, volatilitas nilai tukar rupiah mengalami peningkatan mencapai 1,1% dibandingkan 0,18% pada bulan Juni (Grafik 5).

Nilai tukar rupiah di bulan Juli sempat menguat dari awal bulan hingga pekan ketiga bulan Juli yang didorong oleh faktor eksternal yaitu melemahnya dolar AS terhadap Yen Jepang serta mata uang regional sebagai akibat memburuknya data ekonomi Amerika. Selain itu, kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia juga semakin membaik sebagaimana ditunjukkan oleh ketertarikan investor untuk membeli obligasi pemerintah juga mendorong penguatan tersebut. Hal ini tercermin dari menurunnya premi swap (1 dan 3 bulan) dan menurunnya Yield Spread antara Yankee Bond dengan US T-Notes (Grafik 6 dan 7) .

Grafik 5. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Grafik 6. Premi SWAP

...terutama disebabkan oleh faktor eksternal...

Namun setelah itu, rupiah terkoreksi sebagai akibat cukup tingginya permintaan valas dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan impor seiring dengan masih tingginya harga minyak dunia. Sementara itu, supply valas dalam negeri masih terbatas. Selain itu, adanya ekspektasi kenaikan kembali suku bunga Fed Fund

dan optimisme perbaikan ekonomi Amerika1 mampu memberi keyakinan kepada

pasar sehingga akhirnya mendorong penjualan rupiah.

1 Seiring dengan pernyataan Gubernur Bank Sentral AS soal keyakinannya terhadap proyeksi ekonomi AS.

...namun tertahan oleh permintaan valas domestik. Rupiah menguat...

0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0

Sep Okt NovDes Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt NovDes Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

Sumber : Bloomberg, diolah

2003 2004

2002

Volatilitas Kurs Rp

Rata-rata Volatilitas Persen

5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 10,0 11,0 12,0

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2003 2004

1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan

(5)

5

Jan Jan Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Yield Spread

IDR/USD

Premi Resiko (bp) Rp/USD

Source : Bloomberg

2003 2004

Indeks

Sumber : CIEC dan blomber (diolah) 50

Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul

2002 2003

2001 2004

87,45

Grafik 7. Premi Resiko dan Kurs Rupiah Grafik 8. Real Effective Exchange Rate

Grafik 9. Bilateral Real Exchange Rate Grafik 10. Suku Bunga Instrumen

Moneter dan Pasar Uang

Penguatan yang terjadi pada nilai tukar rupiah, ditengarai sebagai penyebab utama meningkatnya indeks Real Effective Exchange Rate (REER) pada bulan Juli. Indeks REER meningkat dari 79,79 pada bulan Juni menjadi 87,45 atau naik sebesar 5,34 point (Grafik 8). Hal tersebut juga diikuti oleh kenaikan indeks Bilateral Real Exchange Rate (BRER) dimana indeks BRER meningkat dari 63,36 pada bulan Juni menjadi 65,29 pada bulan Juli (Grafik 9). Namun demikian, hal ini masih menjadikan Indonesia secara riil masih kompetitif dibandingkan dengan beberapa negara pesaing ekspor Indonesia.

Indeks REER dan BRER meningkat.

Untuk tetap menjaga momen pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai terutama menjaga kestabilan moneter maka suku bunga instrumen moneter dalam bulan Juli belum banyak berubah atau relatif tetap. Suku bunga SBI 1 bulan relatif tetap 7,34% sedangkan suku bunga SBI 3 bulan hanya meningkat sebesar 4 bps menjadi 7,29% dibandingkan 7,25% pada bulan sebelumnya. Hal ini juga diikuti oleh tidak berubahnya suku bunga FASBI bulan Juni yaitu pada level 7,0% (Grafik 10).

Suku bunga

Jan Feb Mar Apr Jun Jul Ags Sep Okt Des Jan Feb Mar Mei Jun Jul FASBI O/N

SBI 1 Bulan

JIBOR 1 Bulan

2003 2004

Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul

2002 2003 2004

Sumber : CEIC dan Bloomber (diolah)

(6)

6

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul

2001 2002 2003 2004

SBI 1 Bulan Jam Dep. 1

Dep 1 WA

Grafik 11. Rata-rata Suku Bunga PUAB Pagi dan Sore

Grafik 12. Perkembangan Suku Bunga SBI, Deposito, dan Penjaminan

..., suku bunga kredit menurun sementara suku bunga simpanan meningkat. ...diikuti turunnya suku bunga PUAB O/N pagi

sedangkan PUAB O/N sore

meningkat...

Relatif stabilnya suku bunga instrumen moneter di atas menyebabkan rata-rata suku bunga PUAB O/N pagi pada bulan Juli menurun dari 7,05% pada bulan Juni menjadi 6,84%. Sementara itu, PUAB O/N sore meningkat dari 4,64% di bulan Juni menjadi 4,97% (Grafik 11). Perkembangan ini diikuti pula oleh relatif rendahnya rata-rata volume transaksi perdagangan PUAB O/N pagi yang hanya mencatat kenaikan sebesar Rp0,5 triliun dari Rp1,7 triliun pada bulan Juni menjadi Rp2,2 triliun. Sementara itu, rata-rata volume transaksi perdagangan PUAB O/N sore relatif tidak berubah yaitu hanya menurun Rp0,1 triliun dari Rp2,1 triliun pada bulan Juni menjadi Rp2 triliun.

Relatif stabilnya suku bunga instrumen moneter pada bulan Juni pada bulan Juli masih diikuti oleh penurunan suku bunga kredit, sedangkan suku bunga simpanan perbankan (deposito 1 dan 3 bulan) sedikit meningkat. Selama bulan Juni, suku bunga kredit konsumsi dan modal kerja menurun sebesar 17 bps menjadi masing-masing sebesar 17,51% dan 14,10% sementara suku bunga kredit investasi juga menurun 14 bps menjadi 14,64% (Grafik 13). Suku bunga tabungan relatif tetap atau hanya menurun 2 bps menjadi 4,47%. Sementara itu, suku bunga deposito 1 bulan dan 3 bulan sedikit meningkat yaitu masing-sebesar 5 bps dan 14 bps hingga menjadi 6,23% dan 6,31% (Grafik 12). Penurunan yang terjadi pada suku bunga kredit yang diiringi kenaikan suku bunga deposito menyebabkan spread antara suku bunga simpanan dan suku bunga kredit menyempit.

1678,2

1566,621471,061483,621557,31 1667,69

Volume PUAB (Miliar Rp) Suku Bunga (%)

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 0,0

(7)

7

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul

2002 2003 2004

Covered Interest Rate Parity Trend (Covered Interest Rate Parity)

14

Kredit Investasi Kredit Konsumsi Kredit Modal Kerja

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun

Persen

2001 2002 2003 2004

Grafik 13. Perkembangan Suku Bunga Kredit Grafik 14. Covered Interest Rate Parity

Sumber : BEJ 330

Jan Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2004

Kapitalisasi (Rp miliar)

IHSG

Kapitalisasi

IHSG

Grafik 15. IHSG dan Kapitalisasi

Penurunan premi swap sebagai akibat dari membaiknya ekspektasi pelaku pasar terhadap rupiah dan masih cenderung naiknya suku bunga SIBOR sebagai dampak faktor eksternal yang lebih besar dari penurunan suku bunga domestik (JIBOR) pada posisi 7,38%, menyebabkan covered interest parity (CIP) pada bulan Juli semakin membaik dari negatif 0,33% pada bulan Juni menjadi negatif 0,23% (Grafik 14)2.

Kinerja pasar modal mengalami peningkatan pada bulan Juli, sebagaimana terlihat dari meningkatnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan tingkat kapitalisasi pasar (Grafik 15). Indeks harga saham gabungan (IHSG) meningkat sebesar 25, 18 point dari level 729,81 pada akhir bulan Juni menjadi 756,98 pada akhir Juli. Hal yang sama juga terlihat dari kenaikan kapitalisasi pasar sebesar Rp18,8 triliun dari Rp495,8 triliun pada bulan Juni menjadi Rp514,6 triliun pada akhir bulan Juli. Meningkatnya aktivitas di pasar modal tersebut, disinyalir oleh semakin pulihnya kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia sebagaimana tercermin dari meningkatnya net beli investor asing di bulan Juli yang relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Net beli asing pada bulan Juli meningkat sebesar Rp36 miliar dari Rp108 miliar pada bulan Juni menjadi Rp144 miliar pada bulan Juli.

IHSG membaik...

(8)

8

Namun demikian, rata-rata volume transaksi harian menurun sebesar 0,7 miliar lembar dari 1,9 miliar lembar saham pada bulan Juni menjadi 1,1 miliar saham di bulan Juli. Kondisi tersebut diikuti pula oleh rata-rata nilai transaksi harian yang mencatat penurunan sebesar Rp7 triliun dari Rp1,3 triliun pada bulan Juni menjadi Rp0,6 triliun pada bulan Juli.

Uang Primer

Posisi uang primer pada akhir Juli 2004 meningkat sebesar Rp8 triliun dibandingkan bulan sebelumnya menjadi Rp174,5 triliun. Berdasarkan pergerakan harian uang primer, posisi sementara test date rata-rata uang primer mencapai Rp168 triliun (tumbuh 29,6%, y-o-y) (Grafik 16). Dilihat dari sisi komponennya, kenaikan uang primer tersebut utamanya bersumber dari meningkatnya saldo positif bank di Bank Indonesia sebesar Rp19,7 triliun sesuai dengan pola musimannya (Grafik 17).

estimasi (2) = estimasi (1) + error

Aktual

estimasi (1) = trend+seasonal

2002 2003 2004

miliar Rp

2002 2003 2004

115,0

Aktual Test Date

Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Jul

Grafik 16. Uang primer Grafik 17. Pergerakan Harian Uang Kartal

...namun volume dan nilai

perdagangan belum meningkat.

Apabila dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, peningkatan uang primer terutama bersumber dari ekspansi OPT sebesar Rp19,8 triliun (Tabel 1). Ekspansi tersebut berasal dari ekspansi SBI sebesar Rp6,3 triliun demikian pula FASBI mengalami ekspansi sebesar Rp10,5 triliun.

...terutama karena ekspansi OPT...

(9)

9

NIR pada bulan Juli relatif stabil pada posisi Rp23,6 triliun (Grafik 18). Sementara itu, NDA mencatat ekspansi dari negatif Rp10,4 triliun pada bulan Juni menjadi positif Rp9,1 triliun pada bulan Juli yang utamanya disebabkan oleh ekspansi OPT (Grafik 19).

...,sementara NIR stabil dan NDA ekspansif.

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2004

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Feb Mar Apr Mei Jun Jul

2003 2004

NIR (aktual)

NIR (adjusted target)

Grafik 18. Posisi NDA Grafik 19. Posisi NIR

Juni Juli

Mg I Mg II Mg III Mg IV

Perubahan Bulanan

166.474 175.220 171.369 167.141 174.538 8.064

155.466 175.220 171.369 167.141 174.538 19.072

113.563 116.402 111.201 108.052 113.002 -561

97.565 102.396 97.580 94.176 97.187 -378

15.998 14.006 13.621 13.876 15.815 -183

41.010 58.026 59.389 58.277 60.757 19.747

186 186 186 186 186 0

893 792 779 812 779 -114

165.874 166.273 164.176 165.153 165.425 -449

-17.335 8.947 7.192 1.988 9.112

9.829 9.371 8.187 9.571 11.537 1.708

216.303 223.205 223.207 226.136 226.069 9.766

5.942 12.844 12.846 12.848 12.781 6.839

-13.991 -13.991 -13.991 -13.991 -13.991 0

3.728 3.728 3.728 3.728 3.728 0

213.382 213.382 213.382 216.309 216.309 2.927

7.242 7.242 7.242 7.242 7.242 0

35.234 35.157 35.157 35.153 35.174 -60

-152.803 -131.741 -131.854 -139.292 -135.869 16.934

-116.774 -116.619 -70.858 -110.116 -110.410 6.364

-36.029 -15.122 -60.996 -29.176 -25.459 10.570

-125.898 -127.045 -127.505 -129.580 -127.799 -1.901

38.683 56.826 57.255 56.982 56.812 18.129

2.327 1.200 2.134 1.295 3.945 1.618

Tabel 1. Uang Primer dan Faktor yang Mempengaruhinya*

(Miliar Rp)

Base Money

Statutory reserves shortfall Reserve Money Currency

- Currency outside banks - Cash in vaults

Comercial Banks Positive Balance at BI of which frozen banks & banks without TPL Private sector Demand Deposits

Net International reserves

Net Domestic Assets

1. Net Claims on Central Government 2. Claims to Commercial Bank

a. Liquidity Credit

b. Claims to IBRA and IBRA bank c. Other loans

d. Giv’t bond to cover banks’ restructure e. Special SBPU discount

3. Other Claims 4. Open Market Operations

- SBI - Deposit Facility 5. Net Other Items

Memorandum item

GWM Excess GWM

(10)

10

Likuiditas domestik

M2 pada bulan Juni menunjukkan peningkatan sebesar Rp22,2 triliun menjadi Rp975,16 triliun dibandingkan Rp952,96 triliun pada Mei yang terutama disebabkan oleh meningkatnya simpanan rupiah (deposito dan tabungan rupiah) sebesar masing-masing Rp6 triliun dan Rp6,7 triliun (Tabel 2). Kenaikan M2 yang dimotori oleh simpanan rupiah tersebut disinyalir merupakan pola musiman uang beredar paska kenaikan uang kartal untuk kebutuhan liburan sekolah dan tahun ajaran baru. Sementara itu, pada bulan Juni, M1 juga relatif meningkat dari bulan sebelumnya yaitu dari posisi Rp223,7 triliun menjadi Rp233,7 triliun. Peningkatan komponen M2 yang lebih besar daripada komponen M1 dengan tingkat inflasi Juni sebesar 0,48% (m-t-m) menyebabkan pertumbuhan M1 riil dan M2 riil mengalami kenaikan (Grafik 20).

M2 dan M1 menunjukkan peningkatan…

Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, peningkatan M2 lebih disebabkan meningkatnya posisi kredit rupiah sebesar 3,7% menjadi menjadi Rp376 triliun dari Rp362,5 triliun (Tabel 2). Sementara itu kredit valas relatif tidak berubah dari posisi bulan sebelumnya.

...sejalan dengan meningkatnya kredit rupiah.

%, y-o-y

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun (10)

(5) 0 5 10 15 20

2002 2003 2004

M1 Riil M2 Riil

Grafik 20.Pertumbuhan M1 & M2 Riil Grafik 21. Pertumbuhan Divisia dan M2

-5,0 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0

Growth Divisia M2 Growth M2 Poly. (Growth Divisia M2)

Persen

2001 2002 2003 2004

(11)

11 Indeks money

divisia meningkat.

Grafik 22. APU 1, APU 2, dan rasio C/DPK

KOMPONEN

M2 M2 Rupiah M1 - Uang Kartal - Uang Giral Uang Kuasi

- Uang Kuasi Rupiah = Deposito Rupiah = Tabungan Rupiah - Simpanan Valas (dalam miliar USD)

FAKTOR

NFA NCG

Claims on Business Sector Kredit

- Kredit Rupiah - Kredit Valas Lainnya NOI

Memorandum Item

Nilai Tukar (posisi neraca)

Tabel 2. Perkembangan Uang Beredar Dalam Arti Luas

Des 2002

Jun Sep Des Jan Apr Mei Jun (%,y-o-y)

(dalam miliar Rp, posisi)

INDIKATOR BESARAN MONETER

883.908 894.213 911.224 955.692 947.277 930.832 952.962 975.166 9,01

743.443 759.191 773.712 816.514 805.289 793.150 804.442 827.176 8,91

191.939 194.878 207.587 223.799 216.343 215.448 223.691 233.726 19,73

80.686 77.091 81.118 94.542 90.619 90.528 90.650 97.574 26,57

111.253 117.787 126.469 129.257 125.724 124.920 133.041 136.152 15,26

691.969 699.335 703.637 731.893 730.934 715.384 729.271 741.440 6,02

551.504 564.313 566.125 592.715 588.946 577.702 580.751 593.450 5,16

359.847 363.460 354.362 350.885 346.347 328.549 328.356 334.336 -8,01

191.657 200.853 211.763 241.830 242.599 249.153 252.395 259.114 29,01

140.465 135.022 137.512 139.178 141.988 137.682 148.520 147.990 9,60

15.71 16.30 16.39 16.44 16.82 15.90 16.13 16 -3,55

250.696 236.660 240.781 271.820 269.714 270.734 302.573 280.070 18.34

510.351 506.218 481.552 479.885 486.229 441.646 442.009 468.907 -7,44

389.296 417.875 441.205 466.826 461.827 487.071 504.899 549.966 31,61

365.410 390.563 411.696 437.942 432.738 454.859 471.076 486.067 24,45

271.851 299.665 318.820 342.027 335.129 353.548 362.517 376.034 25,48

93.559 90.899 92.877 95.917 97.610 101.311 108.559 110.033 21,05

23.886 27.312 29.509 28.884 29.089 32.212 33.823 63.899 133,96

-266.434 -266.199 -252.483 -262.839 -270.493 -268.619 -296.519 -323.777 21,45

8.940 8.285 8.389 8.465 8.441 8.661 9.210 9.415

2004 2003

Seperti bulan sebelumnya, simpanan jangka pendek masih diminati masyarakat seperti yang nampak dari naiknya indeks money divisia selama bulan Juni dan trend yang cenderung meningkat. Meningkatnya pertumbuhan money divisia yang diikuti pula dengan naiknya M2 membuat spread di antara keduanya relatif tidak berubah dibanding periode sebelumnya (Grafik 21). Kenaikan pada base money yang lebih tinggi daripada M2 dan M1 menyebabkan proses penciptaan uang mengalami penurunan seperti yang nampak dari penurunan M1 (APU 1) dan M2 (APU 2) (Grafik 22).

4,0 APU1 (M1/M0) Skala Kanan C/DPK (%)

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun

(12)

12

Sektor Eksternal

Ekspor Indonesia pada bulan Juni mencapai USD5,6 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspor bulan sebelumnya sebesar USD5,5 miliar (Tabel 3). Kenaikan ini utamanya bersumber dari meningkatnya ekspor non migas dan migas masing-masing sebesar 4,5% dan 0,6% menjadi USD4,3 miliar dan Rp1,35 miliar. Kenaikan ekspor non migas tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan ekspor kertas/ karton sebesar USD0,9 miliar sementara ekspor mesin-mesin/pesawat mekanik menurun sebesar USD0,17 miliar. Sementara itu, kenaikan ekspor migas utamanya disumbangkan oleh ekspor gas yang meningkat menjadi USD0,63 miliar dari bulan sebelumnya sebesar USD0,56 miliar.

Total ekspor meningkat...

Sementara itu, impor pada bulan Juni meningkat 10% (m-t-m) menjadi USD3,5 miliar, utamanya bersumber dari naiknya impor non migas sebesar 12,3% (m-t-m) mencapai USD2,7 miliar sedangkan impor migas meningkat 2,9% (m-t-m) mencapai USD0,82 miliar. Kenaikan impor non migas ini utamanya berasal dari naiknya impor mesin dan pesawat mekanik senilai USD2,6 miliar atau 17,18% dari total impor. Sementara itu, impor migas terutama disumbangkan oleh impor hasil minyak senilai USD0,42 miliar.

Keterangan

Nilai CIF % Perubahan % Perubahan % Peran Thd

Jun 2004 Thd Semester I total Semester

Mei 2004 2004 thd 2003 I-2004

3.222,1 3.544,7 16.019,8 20.377,5 10,01 27,20 100,00

800,3 823,6 3,617,1 4,936,4 2,91 36,47 24,22

404,8 397,4 1,867,3 2,763,5 -1,83 47,99 13,56

395,5 425,8 1,747,5 2,169,6 7,66 24,15 10,65

0,0 0,4 2,3 3,3 0,00 43,5 0,01

2.421,8 2.721,1 12.402,7 15.441,1 12,36 24,50 75,78

Tabel 4. Impor Indonesia

(Juta USD)

Mei Juni Semester I Semester II

2004 2004 2003 2004

Sumber : BPS Total Impor

Migas

Minyak Mentah Hasil Minyak Gas

Non Migas Keterangan

Nilai FOB % Perubahan % Peran thd % Perubahan

Jun 2004 thd total Semester I Semester I

Mei 2004 2004 2004 thd 2003

Total Ekspor

Migas

Minyak Mentah Hasil Minyak Gas

Non Migas

Tabel 3. Ekspor Indonesia

(Juta USD)

Mei Juni Semester I Semester II

2004 2004 2004 2004

Sumber : BPS

5.496,9 5.693,4 30.453,0 31.409,8 3,57 100,00 3,14

1.344,7 1.352,5 6.976,8 7.415,9 0,58 23,61 6,29

597,5 548,5 2,804,6 3,090,4 -8,20 9,84 10,19

179,1 170,2 872,6 816,9 -4,97 2,60 -6,38

568,1 633,8 3,299,6 3,508,6 11,56 11,17 6,33

4.152,2 4.340,9 23.476,2 23.993,9 4,54 76,39 2,21

(13)

13

Posisi pinjaman luar negeri Indonesia pada bulan Juni mencapai USD133,1 miliar, menurun dibandingkan posisi bulan Juni USD134 miliar (Tabel 5). Penurunan ini disebabkan oleh turunnya pinjaman LN swasta sebesar USD0,33 miliar menjadi USD52 miliar demikian pula pinjaman LN pemerintah mengalami penurunan USD0,38 miliar menjadi USD78,6 miliar. Penurunan pinjaman LN swasta tersebut utamanya bersumber dari penurunan pinjaman lembaga keuangan khususnya bank sebesar USD0,16 miliar menjadi USD3,7 miliar. Sedangkan penurunan pinjaman LN pemerintah lebih disebabkan karena adjustment nilai tukar.

...sementara pembayaran pinjaman LN meningkat. Posisi pinjaman luar negeri turun USD0,9 miliar...

Pembayaran pinjaman luar negeri Indonesia pada bulan Juni meningkat USD0,55 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi USD2,7 miliar. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran pokok pinjaman LN sebesar USD0,2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi USD2,1 miliar demikian pula pembayaran bunga meningkat sebesar USD0,3 miliar menjadi USD0,57 miliar. Berdasarkan pemiliknya, peningkatan tersebut disebabkan karena meningkatnya pembayaran pinjaman LN pemerintah sebesar USD0,57 miliar menjadi USD1,14 sementara pembayaran pinjaman LN swasta relatif tidak berubah dari bulan sebelumnya (Tabel 6).

2 0 0 3

Pemerintah Swasta

Lembaga Keuangan Bank

Non Bank

Bukan Lembaga Keuangan

Surat-Surat Berharga

Total

Tabel 5. Posisi Pinjaman Luar Negeri

(Juta USD)

* Angka Sementara

Mar Jun Sep Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun*)

74.513 76.008 77.709 81.666 81.480 80.509 81.217 78.843 78.978 78.591 53.750 53.288 52.991 51.942 52.839 52.560 52.776 52.957 52.413 52.080 7.806 7.056 7.571 7.537 7.726 7.718 7.968 8.080 7.706 7.587

4.850 4.059 4.414 4.316 4.385 4.320 4.479 4.559 3.933 3.766

2.956 2.997 3.157 3.221 3.341 3.398 3.489 3.521 3.773 3.821

45.944 46.232 45.420 44.405 45.113 44.842 44.808 44.877 44.707 44.493 1.203 1.290 1.253 1.794 1.759 1.620 2.626 2.729 2.677 2.466

(14)

14

Pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh sektor konsumsi. Hal ini ditandai oleh peningkatan utilisasi kapasitas di sektor-sektor yang terkait dengan konsumsi domestik. Sementara itu, pertumbuhan investasi dan ekspor terus tumbuh walaupun masih relatif terbatas. Secara sektoral, pertumbuhan positif terjadi di seluruh sektor. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor bangunan.

Indikasi peningkatan konsumsi ditunjukkan oleh naiknya indeks keyakinan konsumen dari 92,4 pada bulan Juni menjadi 98,4 pada bulan Juli (Grafik 23). Selain itu, indeks ekspektasi konsumen juga meningkat dari 110,2 pada bulan Juni menjadi 118 pada bulan Juli. Hal ini juga dikonfirmasi oleh hasil survei JETRO yang menunjukkan peningkatan permintaan domestik sejalan dengan meningkatnya permintaan inventori (Grafik 24).

Tabel 6. Realisasi Pembayaran Pinjaman Luar Negeri Indonesia

Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total External Debt Servicing

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

A. Pemerintah / Government

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

B. Swasta / Private

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

B.1. Lembaga Keuangan

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

1. Bank

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

2. Bukan Bank / Non Bank Institutions

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

B.2. Bukan Lembaga Keuangan

- Pokok / Principal - Bunga / Interest

(Miliar USD)

* Angka Sementara

Mar Sep Des

20.983 1.293 1.717 1.966 18.900 1.464 2.007 1.990 1.563 2.142

16.950 1.135 1.524 1.471 15.669 1.216 1.709 1.788 1.326 1.900

4.033 158 193 496 3.231 248 298 203 237 241

7.374 358 498 781 6.450 680 686 697 586 569

5.009 248 355 398 4.000 456 505 539 397 397

2.365 110 143 383 2.451 224 181 158 189 173

13.609 935 1.219 1.186 12.449 784 1.321 1.294 978 1.572

11.941 886 1.170 1.073 11.669 760 1.205 1.249 930 1.503

1.668 48 50 113 780 24 116 45 48 69

5.808 398 440 423 5.656 382 531 772 718 1.195

5.323 391 435 395 5.521 379 520 768 700 1.173

485 7 4 28 136 3 11 5 18 22

4.825 308 381 372 5.078 351 511 701 659 1.184

4.372 307 379 345 4.965 349 500 699 648 1.163

453 1 1 27 113 2 11 1 11 21

983 90 59 51 579 31 19 72 58 11

951 84 56 50 556 30 19 68 52 10

32 6 3 1 23 1 0 3 7 1

7.801 537 780 762 6.793 402 790 521 260 377

6.617 496 735 677 6.148 381 685 481 230 331

Jan Feb Mar Apr* Mei* Jun*

(15)

15

Grafik 25. Indeks Produksi Grafik 26. Utilisasi Kapasitas Produksi

Indeks produksi pada bulan Juni 2004 terlihat stabil sebagaimana terlihat dari indeks kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau (yang memiliki bobot terbesar) masih relatif stabil dari 112,1 di bulan Mei menjadi 112,47 di bulan Juni. Namun demikian, peningkatan indeks produksi tersebut belum memanfaatkan kapasitas produksi secara optimal sebagaimana terlihat dari menurunnya total indeks utilisasi kapasitas produksi (Grafik 25 dan 26).

Grafik 23. Survei Konsumen Grafik 24. Survei JETRO

Indeks produksi sedikit meningkat.

Difussion Index

-50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40

Permintaan:ekspor Permintaan: domestik

Inventory Harga jual:domestik

2003

2001 2002 2004

Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Jul-Sep

2002 2003 2004

optimis pesimis

Indeks

40,0 60,0 80,0 100,0 120,0

Indeks Keyakinan Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini Ekspektasi Konsumen

Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul

0 20 40 60 80

Total Makanan Tekstil Kimia

2002 2003 2004

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun

Persen indeks

40 60 80 100 120 140 160 180 200

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun

2002 2003 2004

(16)

16

Kinerja perbankan membaik.

Kondisi Perbankan

Secara umum beberapa indikator kinerja perbankan pada bulan Juni menunjukkan perbaikan daripada bulan sebelumnya, seperti yang tercermin dari total aset, DPK dan kredit. Total aset perbankan mengalami peningkatan sebesar Rp6,3 triliun dari Rp1179 triliun pada bulan Mei menjadi Rp1185 triliun pada bulan Juni. Hal yang sama terjadi pada DPK perbankan yang pada bulan Juni meningkat sebesar Rp17,7 triliun dari Rp895 triliun di bulan Mei menjadi Rp912,8 triliun pada bulan Juni. Selain itu, total kredit perbankan juga menunjukkan peningkatan sebesar Rp15,3 triliun dari Rp513,4 triliun di bulan Mei menjadi Rp528,7 triliun di bulan Juni (Tabel 7).

Feb Apr Jun Ags Okt Des

200

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Persetujuan Realisasi Proporsi

Miliar Rp Proporsi (%)

Grafik 27. Dana Pihak Ketiga Grafik 28. Persetujuan dan Realisasi Kredit Baru Berdasarkan jumlah kredit yang disalurkan, kredit modal kerja menempati urutan pertama yaitu Rp257,5 triliun, disusul kredit investasi Rp111 triliun, sedangkan kredit konsumsi menurun menjadi Rp122,9 triliun (Grafik 29). Sektor perbankan selama beberapa bulan terakhir cenderung meningkatkan jumlah penyaluran kredit modal kerja dan investasi dan menurunkan kredit konsumsi.

Kredit masih didominasi kredit modal kerja.

Keterangan

1.112,2 1.117,8 1.100,0 1.102,9 1.113,6 1.130,4 1.141,0 1.068,4 1.157,2 1.150,0 1145,2 1179,4 1185,7

835,8 834,3 838,7 844,1 856,2 866,3 877,8 902,3 889,1 881,6 875,3 895,1 912,8

410,3 402,6 420,5 428,0 441,1 454,2 475,7 477,2 475,0 485,9 496,1 513,4 528,7

38,4 37,5 39,7 39,9 40,3 42,0 43,7 43,2 40,1 43,7 44,9 45,6 46,4

23,0 23,5 24,6 22,8 22,9 19,6 20,5 19,3 23,8 23,5 22,5 21,4 20,9

8,1 8,4 8,2 8,3 8,3 7,9 8,1 8,2 8,2 7,8 7,7 7,8 7,60

2,1 2,1 0,6 1,0 1,3 1,3 1,8 3,0 2,8 2,7 2,1 2,4 2,1

4,0 3,8 4,0 3,9 4,4 4,7 4,9 3,2 5,2 5,7 5,9 5,3 5,4

93,0 95,5 98,1 98,4 100,0 106,3 110,5 110,8 117,9 120,9 120,7 119,8 108,6

(Triliun Rp)

Des-02 Jan-03 Mar-03 Mei-03 Jul-03 Sep-03 Nov-03 Des-03 Jan-04 Mar-04 Apr-04 Mei-04 Jun-04

Tabel 7. Kondisi Umum Perbankan

B a n k

Triliun Rp Total DPK (Triliun Rp)

Giro Tabungan Deposito Total

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun

(17)

17

Kredit Per jenis (Triliun Rp) Total Kredit (Triliun Rp)

Channeling Total Kredit Total Adjst Investasi Konsumsi Modal Kerja

Mar Jun Sep Des Jan Feb Mar Jun Sep Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun

2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4

Grafik 29. Kredit Rupiah Perbankan

3,30

3,663,823,71 3,85 4,01

Feb Apr Jun Ags Oct Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun 2,0 3,213,423,383,35

3,55 3,96

2002 2003 2004

0,0

kredit (kanan) NPLs (%) (kiri) NPLs Net (%) (kiri)

Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun

2002 2003 2004

Persen trilion Rp

Grafik 30. Perkembangan NPL Grafik 31. Perkembangan Posisi NIM Perbankan

Pada bulan Juni 2004, NPL-gross dan NPL-net sedikit menurun masing-masing

sebesar 0,2% dan 0,3% menjadi 7,6% dan 2,1% (Grafik 30). Sementara itu, NIM (Net Interest Margin) perbankan meningkat seiring dengan mulai melebarnya spread antara suku bunga dana dan suku bunga kredit (Grafik 31).

Selanjutnya, kondisi permodalan yang ditunjukkan oleh capital adequacy ratio (CAR) pada bulan Juni juga sedikit menurun sebesar 0,5% menjadi 20,9% dari posisi bulan sebelumnya di 21,4%. Demikian pula posisi permodalan menurun dari bulan sebelumnya menjadi Rp108,6 triliun.

NPL-gross dan net sedikit menurun.

(18)

18

Prospek

Proyeksi PDB tahun 20043 diperkirakan akan mencapai batas atas pada

kisaran 4,5%-5% (y-o-y). Sumber utama petumbuhan PDB masih pada konsumsi,

namun demikian peranan investasi diperkirakan akan semakin meningkat sehingga meningkatkan kontribusinya dalam PDB. Hal ini diindikasikan oleh mulai meningkatnya nilai persetujuan PMDN dan leading indikator investasi serta didukung pula oleh kredit perbankan dan pembiayaan dari pasar modal. Di sisi penawaran, seluruh sektor ekonomi diprakirakan masih tumbuh membaik, dimana pertumbuhan tertinggi diperkirakan masih terjadi pada sektor pengangkutan, perdagangan dan bangunan. Namun demikian kontributor utama masih besumber dari sektor industri pengolahan dan pertanian.

Tekanan terhadap inflasi IHK dan inflasi inti pada 2004 diperkirakan meningkat, namun dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan pemerintah, inflasi pada tahun 2004 diperkirakan akan berada pada batas atas proyeksi awal tahun. Peningkatan ini sebagai dampak dari masih relatif melemahnya rupiah, meningkatnya ekspektasi inflasi dan adanya kebijakan pembatasan impor pemerintah untuk komoditi bahan makanan seperti beras dan gula serta masih tingginya harga minyak untuk bahan baku industri. Sementara itu, tekana inflasi yang bersumber dari administered price diprakirakan minimal.

Nilai tukar rupiah pada 2004 masih akan berada pada kisaran proyeksi awal tahun. Dari sisi fundamental, diperkirakan masih terdapat demand valas khususnya seiring dengan meningkatnya kinerja ekspor dan impor namun demand ini diprakirakan masih dapat dipenuhi oleh sisi supply. Dari sisi non-fundamental, terdapat pengaruh dari ekspektasi penguatan dolar AS serta masih tingginya risiko ketidakpastian berkaitan dengan situasi politik di dalam negeri. Namun demikian, langkah kebijakan BI untuk menjaga pergerakan nilai rupiah diperkirakan dapat mengarahkan ekspektasi pasar terhadap nilai tukar ke depan.

..., inflasi IHK tahun 2004 diprakirakan akan berada pada proyeksi batas atas awal tahun...

..., dan nilai tukar rupiah

diprakirakan masih sesuai dengan proyeksi awal tahun.

3 Sejak akhir Mei 2004, BPS mengubah tahun dasar PDB dari tahun 1993 menjadi 2000.

(19)

19

* angka BPS berdasarkan tahun dasar 2000 r) revisi

1) minggu terakhir 2) rata2 tertimbang

3) penutupan pada akhir periode 4) closed file

Sumber : Bank Indonesia, kecuali data pasar modal (BAPEPAM), IHK, ekspor/impor dan PDBdari BPSw. I 2004*)

Jan Mar Jun Des Feb Mar Apr Mei Jun Jul

SEKTOR KEUANGAN

Indikator Terkini

12,69 11,40 9,53 8,31 7,48 7,42 7,33 7,32 7,34 7,34

12,94 11,97 10,18 8,34 7,70 7,33 7,25 7,24 7,25 7,29

12,64 11,90 10,31 6,62 5,99 5,86 5,86 6,16 6,23 na

13,49 12,90 11,55 7,14 6,38 6,11 6,01 6,17 6,31 na

12,71 11,72 9,81 8,35 7,55 7,38 7,2 7,18 7,15 7,14

425 398 505 692 761 736 783 732 730 7,38

127.407 125.211 132.403 166.474 142.518 142.730 146.341 147.532 166.474 174.538

180.111 181.239 195.219 223.799 219.033 218.821 215.447 223.691 233.717 na

75.908 72.323 77.091 94.542 86.846 86.616 90.527 90.650 97.565 97.187

104.203 108.916 118.128 129.257 132.187 132.205 124.920 133.041 136.152 na

873.683 877.776 894.554 955.692 935.745 934.983 930.832 952.962 975.157 na

693.572 696.537 699.335 731.893 716.712 716.162 715.385 729.271 741.440 na

550.357 558.977 564.313 592.715 575.282 574.104 577.703 580.751 593.450 na

362.553 370.692 363.460 350.885 332.373 327.722 328.550 328.356 334.336 na

187.804 188.285 200.853 241.830 242.909 246.382 249.153 252.395 259.114 na

143.215 137.560 135.022 139.178 141.430 142.058 137.682 148.520 147.990 na

730.468 740.216 759.532 816.514 794.315 792.925 793.150 804.442 827.176 na

382.536 400.353 417.875 466.826 465.114 477.504 487.071 504.899 549.966 na

358.084 376.141 390.563 437.942 437.040 446.593 454.857 471.075 486.067 na

0,80 -0,23 0,09 0,94 -0,02 0,36 0,97 0,88 0,48 0,39

8,74 7,12 6,62 5,06 4,60 5,11 5,92 6,47 6,83 7,2

8.940 8.908 8.285 8.465 8.447 8.587 8.661 9.268 9.400 9.130

3.936 4.008 4.197 3.717 3.763 3.871 4.024 4152,20 4340,00 na

2.322 2.267 1.862 2.335 2.117 2183,1 2593,8 2421,80 2721,00 na

21,81 22,68 23,66 24,20 24,10 25,70 25,00 25,00 23,70 23,63

3,65 4,35 4,46

4,64 5,01 6,43

1,09 0,68 4,24

4,04 6,48 0,85

0,01 1,78 6,54

2 0 0 3 2 0 0 4

2003

Tw. II Tw. IV Tw. I

SUKU BUNGA & SAHAM

Suku bunga SBI 1 bln 1)

Suku bunga SBI 3 bln 1)

Suku bunga deposito 1 bln 2)

Suku bunga deposito 3 bln 2)

JIBOR satu minggu 2)

BEJ Indeks 3)

BESARAN MONETER (miliar Rp) Base Money

M1(C+D)

Uang Kartal (C) Uang giral (D)

Broad Money (M2 = C+D+T)

Uang kuasi (T) Uang kuasi (Rupiah)

Deposito Tabungan Deposito (Valas) M2 - Rupiah

Tagihan pada Dunia Usaha Kredit-Bank Umum

Inflasi bulanan (%) y-y %

Rp/USD (akhir periode, nilai tengah) Barang Non migas (f.o.b, juta USD) 4)

Impor Barang Non migas (c & f, juta USD) 4)

Net International Reserve (juta USD)

Pertumbuhan PDB (% yoy)

Konsumsi Investasi Ekspor Impor

HARGA

SEKTOR EKSTERNAL

INDIKATOR KUARTALAN

Gambar

Grafik 3. Inflasi Inti Tahunan
Grafik 5. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah
Grafik 7. Premi Resiko dan Kurs Rupiah
Grafik 11. Rata-rata Suku Bunga
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keefektifan aktivitas siswa selama proses pembelajaran pada pertemuan KD 1 dan KD 2 dengan menggunakan media CR- DET telah memenuhi waktu

Data yang dikumpulkan pada tahap ini yaitu data aspek fisik, aspek biofisik, daya dukung, aspek sosial, dan aspek regulasi dalam desain lanskap pertanian (Tabel 3).. Aspek fisik

Torsi maksimum yang motor dapat dikembangkan tanpa menarik keluar langkah atau sinkron disebut mengeluarkan torsi biasanya, ketika beban pada motor meningkat, rotor yang

Kyai sebagai pimpinan merupakan sosok yang kuat dan sangat disegani baik oleh Ustadz maupun santri sesuai dengan pendapat Ziemek 1 bahwa kepemimpinan kyai juga dapat

a. Tuliskan semua solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi mitra secara sistematis sesuai dengan prioritas permasalahan. Solusi harus terkait

The HSSL supports various LWRS initiatives, including control roo m modernization, digital upgrades, alarm management, computerized procedures, advanced human-system

Penggunaan kemasan organik yang terbuat dari kombinasi serat eceng gondok dan pelepah pisang sebagai pengemas buah apel dapat menjaga nilai susut bobot buah apel 0,8%

a) Primary wave-Periode, untuk menentukan banyaknya tingkat efek lengkung objek. b) Primary wave-Amplitude, untuk menentukan ketajaman tingkat efek lengkung objek. c)