Pengertian Hukum Pidana:
aturan hukum yang mengikatkan kepada suatu perbuatan
yang memenuhi syarat-syarat tertentu suatu akibat yang
berupa pidana ( Mezger – Sudarto)
Unsur: perbuatan yang Memenuhi syarat-syarat Tertentu= perbuatan
Jahat, crime, perbuatan Yang dilarang. Yang di-Lakukan oleh seseorang
Unsur: pidana, yaitu Penderitaan yang se-Ngaja dibebankan kpd. Orang yang melakukan Perbuatan yang meme-Nuhi syarat-syarat
Tertentu tsb. Berupa :
Ada 2 Pengertian Hukum Pidana
1. Ius Poenale:
Sama dengan di atas
2. Ius Puniendi:
Dalam arti luas: hak dari negara atau alat-alat perleng-\ Kapan negara untuk mengenakan atau mengancam
Pidana terhadap perbuatan tertentu
Jenis-jenis Hukum Pidana
1. Hukum Pidana Materiel; 2. Hukum Pidana Formiel;
3. Hukum pidana umum dan hukum pidana khusus; 4. Hukum pidana yang dikodifikasikan;
5. Hukum pidana tak dikodifikasikan;
6. Hukum pidana internasional, nasional, lokal; 7. Hukum pidana tertulis dan hukum pidana tak
FUNGSI HUKUM PIDANA
1. Fungsi Hukum Pidana yang Umum:
sama seperti fungsi hukum lainnya, mengatur hidup kemasyarakatan atau
menyelenggarakan
tata dalam masyarakat.
Hukum pidana mengatur perilaku lahir, bukan dalam batin.
Hukum pidana mengatur masyarakat secara patut dan bermanfaat, sehingga hukum
pidana
Sambungan:
2. Fungsi Hukum Pidana yang Khusus:
Sambungan fungsi hk. pidana
3. Theorie des psychischen zwanges (ajaran fungsi paksaan psikhis);
4. Fungsi subsider; fungsi Ultimum dium;
5. Fungsi hukum pidana sebagai “pedang bermata dua” yang “sebagai mengiris dagingnya sendiri”.
Ilmu Hukum Pidana dan Kriminologi
1. Ilmu Hukum pidana
objeknya : Ilmu tentang Hukum yang berlaku. mempelajari norma-norma (aturan-aturan hk.), Tujuan mempelajari hukum pidana: agar
paya petugas-petugas hukum dapat kan aturan hukum pidana secara tepat dan
Tugas Ilmu Hukum Pidana:
1. Menganalisis dan menyusun secara sistematis 2. Mencari asas-asas yang menjadi dasar dari peraturan undang2 pidana;
3. Memberi penilaian terhadap asas-asas itu diri, apakah asas itu sesuai dengan nilai sa yang bersangkutan;
Kriminologi
1. Mempelajari kejahatan sebagai fenomena syarakat, mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan;
2. Mempelajari bagaimana pemberantasan hatan;
3. Arti kejahatan di sini adalah perbuatan yang bertentangan dengan tata yang ada dalam
Sumber-sumber Hukum Pidana
1. Sumber Hukum Pidama Tertulis:
a. KUHP ( WvS) – UU No. 1 / 1946 jo. UU No. 73 / 1958;
b. MvT;
c. Peraturan-peraturan Pidana di luar KUHP.
2. Sumber Hukum Pidana yang tidak tertulis. a. Hukum pidana adat
Pembaharuan KUHP (WvS) Antara lain dengan UU:
1. UU No. 1 /1946; 2. UU No.20/ 1946; 3. UU No. 73 / 1958; 4. UU no. 1/ 1960;
5. Perpu No. 16/ 1960; 6. Perpu No. 18 / 1960; 7.UU No. 1 PNPS 1965; 8. UU No. 7 / 1974;
Bagian Umum dan bagian Khusus KUHP
1.Buku I KUHP sebagai bagian umum: artinya Buku I KUHP berlaku bagi seluruh lapangan hukum pidana ( dalam KUHP dan di luar
KUHP), kecuali ada ketentuan di luar KUHP yang menentukan lain. Dasarnya Pasal 103 KUHP ( sebagai Pasal jembatan). Jadi
ketentuan tentang:
- percobaan, penyertaan, daluarsa, daya
paksa, pembelaan terpaksa/darurat, berlaku juga bagi uu di luar KUHP.
Dasar hukum berlakunya Hukum Pidana Adat
1. Hukum pidana adat untuk beberapa daerah masih harus diperhitungkan. 2. Dasar hukum berlakunya Hk pidana
adat:
- Pasal 131 I.S. jo. Algemene Bepalingen van Wetgeving
- UUD Sementara 1950 juga mengatur; - UU Darurat No. 1 / 1951, pada Pasal 5
ayat (3) sub b, untuk daerah swapraja dan orang-orang yang diadili oleh
Ketentuan Pidana Adat dalam UU Darurat no. 1/1951
1. Dipidana maksimal 3 bulan penjara dan/denda Rp 500,- sebagai hukuman pengganti 2. Bila oleh hakim dirasa kurang
adil maka dapat dipidana penjara mak. 10 th.
1. Maka hakim akan
memidana dengan Pasal KUHP yang paling mirip
dengan perbuatan tersebut. 2. Contoh kejahatan
kesusilaan dan zinah.
Tindak pidana adat
Yang tidak ada Bandingnya/tidak mirip
Dalam KUHP
ASAS-ASAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT WAKTU (ASAS LEGALITAS)
Diatur dalam Pasal 1ayat (1) KUHP
Tindak pidana harus Dirumuskan dalam s Suatu peraturan UU
Konsekuensinya: 1. Hukum tidak tertulis tidak
berkekuatan untuk diterapkan
2. Larangan Analogi
Peraturan undang-undang Harus ada sebelum terja-Dinya tindak pidana
(lex temporis delictie)
Peraturan undang-undang pidana tidak Boleh retro- aktif (berlaku surut).
Untuk : 1. menjamin kebebasan individu; 2. Adanya ajaran paksaan psikhis
3. Tidak berlaku surut dapat diterobos
Mengapa ada larangan analogi dalam hukum pidana
Analogi memperluas suatu Peraturan
Pelarangan sudah ada Dengan adanya ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUHP
Analogi memberi kesempatan Tindakan sewenang-wenang Penguasa.
Tokoh yang melarang Analogi: Simons,
Van Hattum
Tokoh yang memboleh-Kan analogi: Pompe Jonkers, Taverne
Macam-macam penafsiran
1. Penafsiran menurut tata bahasa 2. Penafsiran sistematis
4. FUNGSI ASAS LEGALITAS (NICO KEIJZER
)
1. Fungsi asas legalitas berhubungan dengan sifat hukum pidana untuk melindungi rakyat terhadap
kekuasaan pemerintah.
5. ADA 7 ASPEK ASAS LEGALITAS MENURUT NICO KEIJZER
1. Tidak dapat dipidana, kecuali menurut uu
2. Tidak ada penerapan uu pidana secara analogis; 3. Tidak dapat dipidana hanya berdasar kebiasaan; 4. Tidak ada kekuatan surut dari ketentuan pidana; 5. Tidak ada pidana lain,kecuali ditentukan dalam
UU
6. Penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan dalam UU;
PENGECUALIAN:
boleh retroaktif, apabila :
Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat 2 KUHP:
“jika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan Dalam perundang-undangan, maka dipakai aturan Yang paling ringan bagi terdakwa”.
Di Inggris, yang Diterapkan adalah
Uu pada waktu Delik dilakukan
Di Swedia, yang Diterapkan adalah
Kapan dikatakan ada perubahan ?
1. Menurut Ajaran Formiel: “ada perubahan apabila ada perubahan teks dari undang-undang pidana.
2. Menurut ajaran Materiel Terbatas: “ada
peru-bahan apabila ada peruperu-bahan keyakinan dalam hukum pidana;
3. Menurut ajaran Materiel tak terbatas:” setiap perubahan dalam perundang-undangan nakan untuk keuntungan terdakwa.
Kapan peraturan dikatakan menguntungkan terdakwa?
1.Menguntungkan dilihat tentang pidananya ( jenis pidana dan tinggi rendahnya jumlah sanksi pidana);
2.Menguntungkan dilihat pula dari segala sesuatu yang mempunyai pengaruh
Asas- Asas Ruang Lingkup
berlakunya Hukum Pidana
menurut tempat
Asas ini membahas masalah tentang “ dimana saja hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan ?
• Asas Teritorial;
1. Asas Teritorial
a. Dasar Ketentuan: Pasal 2 KUHP
“ aturan pidana dalam undang-undang Indonesia berlaku bagi setiap orang
yang melakukan suatu tindak pidana di wilayah Indonesia”.
b. Setiap Orang:
1) WNI, 2) WNA c. Wilayah Indonesia:
Asas teritorial dalam RUU KUHP
Pasal 3 RUU:
“Ketentuan pidana Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan :
a. t.p. di wilayah Negara RI;
b. T.p. dalam kapal atau pesawat undara RI
c. T.p. di bidang teknologi informasi yang akibatnya dirasakan atau terjadi di
4. Asas Universal
1. Hukum pidana berlaku: a. siapa saja
b. di dalam atau diluar negeri;
c. melakukan TP yang menyangkut pentingan internasional
2. Masalah Locus delicti
a. Ajaran perbuatan Materiel
2. Asas Personalitas (Nasional Aktif)
a. Pengertian : Pasal 5 KUHP
“ aturan hukum pidana Indonesia berlaku bagi setiap warga negara Indonesia yang melakukan tindak pidana di luar negeri”. b. Tindak pidana tersebut: keamanan
ra; martabat presiden; penghasutan, bigami dan perampokan; dan t.p. sebagai kejahatan, yang di negara asing diancam pidana.
c. Setiap WNI, yang melakukan TP tersebut, di luar negeri, maka berlaku KUHP Indonesia. d. Tidak boleh dijatuhi pidana mati, jika di
Asas Personalitas
(Nasional Aktif) dalam RUU KUHP
Sama dengan di atas, hanya ada ketentuan:
“Ketentuan asas personalitas ini tidak berlaku untuk tindak pidana
yang hanya diancam dengan denda kategori I dan kategori II”
7.500.000,-3. Asas Perlindungan (asas nasional pasif)
a. Pasal 4 KUHP” secara singkat: “hukum
pidana Indonesia berlaku bagi siapa
saja, yang menyerang kepentingan
umum (Indonesia), baik yang
dilakukan oleh WNI, maupun WNA, di
luar negeri.
b. Tindak pidana yang menyerang kepentingan Indonsia: kejahatan
Asas Nasional pasif dalam RUU KUHP
Sama dengan KUHP, hanya ditambah dengan jenis tindak pidana:
a. T.p keselamatan/keamanan
bangunan,peralatan, aset nasional; b. t.p keselamatan /keamanan
peralatan komunikasi elektronik; c. Tindak pidana korupsi; dan / atau d. Tindak pidana pencucian uang.
4. Asas Universal
a. Hukum pidana Indonesia berlaku: 1) siapa saja
2) di dalam dan di luar negeri;
3) melakukan tindak pidana yang nyangkut kepentingan internasional. misal: pemalsuan uang, narkotika. pembajakan kapal
b. Asas Universal berhubungan dengan
5. Kekecualian berlakunya asas-asas
a. Ketentuan Pasal 9 KUHP: “ berlakunya Pasal 2-5, 7, 8 dibatasi oleh
pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum internasional.”
b. Yaitu kepada: Kepala Negara asing, duta-duta besar; anak kapal perang asing,
mereka mempunyai kekebalan
6. Tempat terjadinya Tindak Pidana (Locus delicti)
“ Penentuan tempat terjadinya tindak pidana ini untuk menentukan
pengadilan negeri mana yang berwenang mengadili.”
Ada 3 teori untuk menentukan lokasi terjadinya tindak pidana, yaitu:
1. Teori Perbuatan materiel (jasmaniah); 2. Teori instrumen (alat)
Locus delicti menurut RUU KUHP
Pasal 10 RUU:
Tempat tindak pidana adalah:
a. Tempat pembuat melakukan perbuatan yang dilarang oleh
peraturan perundang-undangan; b. Tempat terjadinya akibat yang
dimaksud dalam per-uu-an atau tempat yang menurut perkiraan
TINDAK PIDANA (STRAFBAARFEIT)
1. Istilah terjemahan Strafbaarfeit: a. peristiwa pidana;’
b. perbuatan pidana;
c. perbuatan yang dapat dihukum; d. tindak pidana.
2. Pengertian dan Unsur Tindak Pidana: a. Pengertian menurut pandangan Monistis;
1. M
enurut pandangan Monistisa. Tokoh : Simons, van Hamel, Mezger, Karni, Bauman, Wirjono Pradjodikoro. b. Strafbaarfeit adalah :
perbuatan, yang diancam pidana, bersifat melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.
c. Pandangan monistis tidak
2. Menurut D Simons
a. Unsur Objektif dan Unsur Subjektif dari strafbaarfeit, yaitu:
1) Perbuatan manusia (yang positif atau negatif, atau membiarkan);
2) diancam dengan pidana; 3) Melawan hukum;’
4) dilakukan dengan kesalahan;
5) oleh orang yang mampu bertanggung jawab.
3. D. Hazewinkel-Suringa
Unsur Tindak Pidana, meliputi:
a. Tiap delik terdapat unsur tindak seseorang;
b. Ada yang menyebut akibat; c. Unsur psychis (dolus, culpa);
d. Keadaan objektif, keadaan subjektif; e. Syarat tambahan;
4. Unsur TP menurut RUU KUHP
Pasal 11 RUU:
(1) Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh peraturan per-uu-an nyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan
diancam
dengan pidana.
(2) Untuk dinyatakan sebagai tindak pidana selain perbuata
tersebut dilarang dan diancam pidana, harus juga bersifat melawan hukum atau bertentangan dengan
kesadaran hukum masyarakat.
5. Pandangan Dualistis
a. Tokoh:Vos, Pompe, Moejatno, b. Pengertian menurut Dualistis: Strafbaarfeit adalah:
“ Perbuatan, yang memenuhi
rumusan undang-undang pidana, dan bersifat melawan hukum.”
6. Pandangan Sudarto
Syarat Pemidanaan
Ada perbuatan: 1. Memenuhi rumusan 2. Bersifat melawan hukum
Ada orang yang Melakukan perbuatan 1. Mampu bertanggung
Jawab
2. Bersifat dolus atau culpa 3. Tidak ada alasan
Rumusan Tindak Pidana
1. Rumusan tp penting karena sesuai dengan prinsip kepastian, sehingga masyarakat
tahu mana yang dilarang.
2. Peristiwa yang terjadi secara nyata harus masuk dalam rumusan, artinya perbuatan itu mencocoki rumusan delik dalam
undang-undang.
3. Agar peristiwa itu masuk dalam rumusan maka perbuatan itu harus mempunyai
sifat-sifat atau ciri-ciri dari delik dalam uu. 4. Kalau semua unsur dalam rumusan itu
sambungan
5. Ada 3 macam perumusan norma dalam uu: a. menyebutkan satu persatu unsur
perbuatan;
b. hanya menyebut kualifikasi dari delik. c. penggabungan a dan b.
6. Cara penempatan norma dan sanksi:
a. penempatan norma dan sanksi sekaligus
b. penempatan terpisah;
c. sanksi dicantumkan lebih dulu, normanya
Jenis –jenis tindak pidana
1. Kejahatan – Pelanggaran;
2. Delik formil – delik materiel;
3. Delik commissiones, delik omissiones; 4. Delik dolus, delik culpa;
5. Delik tunggal, delik berganda; 6. Delik aduan, delik bukan aduan: 7. Delik sederhana, delik ada
SUBJEK TINDAK PIDANA
1. ORANG
HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
(KAUSALITAS)
1. TEORI EKIVALENSI
2. TEORI INDIVIDUALISASI 3. TEORI GENERALISASI
4. TEORI YANG DIGUNAKAN DALAM YURISPRUDENSI
5. KAUSALITAS DALAM HAL TIDAK BERBUAT: A. TEORI BERBUAT LAIN
B. TEORI BERBUAT SEBELUMNYA
SIFAT MELAWAN HUKUM
1. SIFAT MELAWAN HUKUM FORMIL
Hukum pidana
HUKUM YANG MENGATUR
SYARAT-SYARAT/ASAS PEMIDANAAN
TINDAK PIDANA DAAD
(UNSUR OBJEKTIF)
ORANG YANG MELAKUKAN
(DADER)
UNSUR SUBJEKTIF
TUJUAN PIDANA
PERAN KORBAN
KESALAHAN,
Tiada Pidana Tanpa kesalahan, Geen staf zonder schuld
UNTUK MENJATUHKAN PIDANA, SELAIN MELIHAT PERBUATAN JUGA MELIHAT ORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN ITU, DIMANA ORANG
PENGERTIAN
KESALAHAN
• PENGERTIAN KESALAHAN
SECARA PSIKOLOGIS:
• Yaitu kesalahan hanya
dipandang sebagai hubungan psikologis (batin) antara pembuat dan perbuatannya.
• Maka kesalahan disini bisa
berupa kesengajaan atau kealpaan.
• Kesengajaan berarti
menghendaki
perbuatannya dan segala akibatnya, sedang pada kealpaan tidak
menghendaki akibatnya.
• PENGERTIAN KESALAHAN
SECARA NORMATIF
• Yaitu untuk menentukan
kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin tetapi harus ada unsur
penilaian normatif.
• Penilaian normatif yaitu
penilaian dari luar dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam
masyarakat, ialah apa
yang seharusnya diperbuat oleh masyarakat.
• Jadi kesalahan berada
Berbagai pengertian kesalahan menurut doktrin / sarjana
1. Mezger : kesalahan adalah keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pembuat tindak pidana.
2. Simons : kesalahan sebagai dasar untuk pertanggung
jawaban dalam hukum pidana ia berupa keadaan psikhis dari si pembuat dan hubungannya terhadap perbuatannya, jadi keadaan jiwanya dapat dicelakan kepada si pembuat.
3. Pompe : sifat melawan hukum adalah segi luar dari
pelanggaran norma, dan kesalahan adalah segi dalam dari pelanggaran norma. Kesalahan berarti akibatnya dapat dicelakan
4. Sudarto : bersalah dalam arti patut dicela menurut hukum, tidak secara etis.
5. Moeljatno: adanya kesalahan terdakwa harus: melakukan perbuatan pidana (s.m.h); mampu bertanggung jawab,
KEMAMPUAN BERTANGGUNG JAWAB
1. Simons : kemampuan bertanggung jawab dapat diartikan sebagai suatu keadaan psikhis sedemikian yang
membenarkan adanya penerapan suatu upaya pemidanaan, dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya. Dan jika
jiwanya sehat yaitu: mampu mengetahui atau menyadari
bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum, dan dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. 2. Van hamel: suatu keadaan normalitas psichis dan
kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan: ia mampu mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya
sendiri; mampu menyadari, bahwa perbuatannya tidak
diperbolehkan; mampu untuk menentukan kehendak sesuai dengan kesadaran tersebut.
3. MvT: tidak ada kemampuan apabila: tidak ada kebebasan memilih antara berbuat dan tidak berbuat; tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannnya bertentangan dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya.
4. Moeljatno: adanya kemampuan bertanggung jawab harus ada: a. kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baikdan yang buruk, yang sesuai dengan hukum dan yang melawan
hukum
b. kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik buruknya perbuatan tadi.
1. Diatur dalam Pasal 44 KUHP: “ Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya, karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana. 2. Isi Pasal 44 KUHP: penentuan keadaan jiwa si pembuat
oleh psikhiater,dan penentuan hubungan kausal antara keadaan jiwa dengan perbuatannya oleh hakim.
3. Pasal 44 bersifat Deskriptif – Normatif.
Ketentuan kemampuan Bertanggung jawab
1. Kleptomanie, ialah penyakit jiwa yang berujud doronga kuat dan tak tertahan untuk mengambil barang milik
orang lain., tetapi tak sadar bahwa perbuatannya dilarang. 2. Pyromanie, penyakit jiwa yang berupa kesukaan
membakar tanpa ada alasan yang jelas sama sekali.
3. Claustrophobie, penyakit jiwa ketakutan untuk berada di ruang sempit, maka ia akan memecah barang-barang didekatnya.
4. Penyakit yang merasa dikejar-kejar oleh musuhnya.
Keadaan Mabok ?
1. Dibuat mabok oleh orang lain; 2. Mabok sendiri.
3. Di Indonesia, meminum minuman keras / alkohol bukan sebagai kebiasaan yang dapat diterima.
kekurang mampuan Bertanggung jawab
Ada dua pendapat:
• Si pembuat tetap dapat dipidana, dengan dasar pemikiran bahwa kemampuan bertanggung jawab adalah dianggap ada selama tidak dibuktikan sebaliknya;
• Si pembuat tidak dipidana, dasar pemikiran dalam hal
adanya keragu-raguan maka harus diambil keputusan yang menguntungkan tersangka. (In dubiu pro reo).
Tidak mudah untuk menentukan batas yang tegas antara
mampu dan tak mampu bertanggung jawab. Orang yang dinyatakan sakit maka diputus untuk dimasukkan RS jiwa., untuk diobati.
Apabila ada keragu-raguan Tentang
2.Kesengajaan
(
dolus, intent. Opzet.)Pengertian Kesengajaan Sebagai
Menghendaki Dan mengetahui (willens en
Wettens)
1. Teori kehendak (wills theorie) 2.Teori pengetahuan
(membayangkan) (voorstellings
Theorie)
3. Teori Apa boleh buat
Teori Kesengajaan
1. Teori Kehendak (wills theorie) a. Kehendak adalah untuk
mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang2
b. Akibat –akibat yang timbul yang tidak dikehendaki diang-gap dikehendaki.
c. Tokoh :
Von Hippel, Simons, Zevenbergen
2. Teori membayangkan
(Voorstelings- theorie)
a. Sengaja berarti membayangkan akan timbulnya akibat perbua-atannya;
b. Orang tak bisa menghendaki akibat, hanya dapat memba-yangkan apa yang akan terjadi pada waktu ia berbuat.
c. Akibat lain yang menyertai akan dibayangkan akan terjadi.
Corak Kesengajaan
1.Dalam hal ini ada 2 akibat, yaitu akibat yang dikehendaki dan akibat yang pasti jadi ,
2. Akibat yang lain tetap dipertanggung kan kepada pelaku. 3. kasus :Periustiwa pal Thomas dari
Bremerhaven
Kesengajaan dengan Sadar kemungkinan
1. Ada hal-hal yang mungkin akan terjadi maka hal itu menjadi tanggung jawab laku.
2. Contoh : kasus riman roti beracun dari
Apakah untuk adanya kesengajaan si pembuat harus menyadari bahwa perbuatannya itu
dilarang (bersifat melawan hukum) ?
Ada 2 pendapat
Sifat kesengajaan Itu berwarna
Kesengajaan Tidak berwarna
Bahwa kesengajaan mencakup Pengetahuan si pembuat bahwa Perbuatannya itu dilarang maka harus ada Hubungan batin antara Keadaan batin dengan Sifat melawan hukumnya perbuatan
Bahwa untuk adanya Kesengajaan cukuplah Bahwa si pembuat itu Menghendaki perbuatan Yang dilarang itu.
Pelaku tak perlu tahu
Kesesatan/ kekeliruan,
error in objecto, error in persona, aberatio ictus
1. Kesesatan mengenai Peristiwanya;
2kesesatan mengenai hukumnya
1. Error in objecto: Objek sama tidak
menguntungkan pelaku Objek lain, maka nguntungkan pelaku
2. Error in persona: tak tak ada artinya, tetap dipidana.
Aberatio Ictus:
A menembak B, tapi Mengelak maka kena C. Jadi :
1. Percobaan pembu-nuhan terhadap B 2. Menyebabkan
Macam-macam Kesengajaan
1. Dolus Premoditatus; 2. Dolus determinatus, indeterminatus;
3. Dolus alternativus;’ 4. Dolus indirektus, versari in re illicita; 5. Dolus directus;
1. Dolus premeditatus: kesengajaan dengan rencana lebih dahulu;
2. Dolus determinatus : kesengajaan dengan tertuju yang sudah pasti;
3. Dolus indeterminatus: kesengajaan yang tidak tertuju pada hal tertentu: misal : menembak segerombolan orang;
4. Dolus alternativus: sengaja tertuju pada A atau B .
5. Dolus indirectus , Versari in re illicita : akibat-akibat lain termasuk yang dikehendaki pula;
6. Dolus generalis: sengaja berbuat serangkaian perbuatan (mencekik, memukul, melempar ke sungai).
KEALPAAN
(CULPA, NALATIGHEID, RECKLENESS,NEGLIGENCE, SEMBRONO, TELEDOR)
1. Pengertian :
a. Hazewinkel – Suringa: kealpaan sebagai: kekurang penduga-duga atau kekurangan penghati-hati; b. Van Hamel: kealpaan mengandung dua syarat:
tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum. Tidak nengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukm c. simons: kealpaan mengandung dua unsur: tidak
2. Menetapkan adanya kealpaan?
a. ditetapkan secara normatic, dan tuidak secara psikologis
b. Haruslah ditetapkan dari luar bagaimana seharusnya ia berbuat dengan mengambil
ukuran sikap batin orang lain pada umumnya apabila dalam situasi yg
sama apabila ada situasi dan kondisi baik yang sama. Hakimlah yang harus menilai sesuatu pertbuatan in concreto”, dengan ukuran norma penghati atau penduga-duga, seraja
memperhitungkan keadaan pribagi si pelaku, c. dapat menggunakan ukuran apakah ia
JENIS-JENIS KEALPAAN
Si Pembuat dapat Menyadari tentang Tidak akan
terjadi
PERSOALAN KEALPAAN
PADA TP PELANGGARAN
1. Pada pelanggaran apakah diperlukan sikap batin si pembuat, karena pelanggaran berlaku ajaran fait materiel.
2. Pada pelanggaran dengan adanya arrest Air dan Susu ( 1916), ada perkembangan:
a. ajaran fait materiel pada pelanggaran ditinggalkan b. Diakuinya pertama kali ajaran tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld);
(Simons sejak 1884 sudah menentang ajaran fait materiel).
3. Menurut Sudarto ajaran tiada pidana tanpa
kesalahan adalah mutlak, kecuali dinyatakan tegas – tegas dalam
ALASAN PENGHAPUS PIDANA
1Alasan dlmDiri pelaku 2. Alasan di luar diri
pelaku
1. Alasan penghapus Pidana umum (KUHP) 2. Alasan Penghapus
Yang khusus (diluar KUHP)
Pembagian menurut Doktrin
1. Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena penyakit (Pasal 44 KUHP) 2. Umur yang masih muda
1. Daya paksa (overmach –Pasal 48 KUHP) 2. Pembelaan terpaksa (Pasal 49)
3. Melaksanakan UU (Pasal 50)
4. Melaksanakan Perintah Jabatan ( Pasal 51)
Alasan-alasan penghapus pidana Di dalam diri orang
Alasan penghapus pidana Yang umum
Yaitu alasan penghapus pidana yang berlaku bagi semua tindak pidana (delik)
1. Pasal 44
2. Pasal 48 s/d pasal 51 KUHP
1. Pasal 166 KUHP
2. Pasal 221 ayat (2) KUHP
1. Pasal 49 ayat (1)
2. Pasal 50;
3. Pasal 51 ayat (1) KUHP
1. Pasal 44 KUHP 2. Pasal 48 KUHP
3. Pasal 49 ayat (2) KUHP 4. Pasal 51 ayat (2) KUHP
Alasan Pembenar
ALASAN PENGHAPUS PIDANA
DALAM KUHP
PASAL 44 KUHP
• PASAL 44 KUHP: alasan-alasan seseorang tidak
dipidana dengan alasan :
1) kurang sempurna akal/jiwanya; 2) terganggu karena penyakit.
2. Pada umumnya orang dianggap normal, kecuali kalau ada tanda-tanda tidak normal, maka baru diperiksa. 3. Orang yang jiwanya tidak sehat, tidak berarti tidak
berbahaya bagi orang lain, maka hakim diberi wewenang agar orang tersebut diperintahkan dimasukkan ke RS jiwa, dan yang menyatakan
PASAL 48 KUHP
(DAYA PAKSA, OVERMACHT)
“TIDAK DIPIDANA SESEORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN YANG DIDORONG OLEH DAYA PAKSA”
1. Arti Daya Paksa: setiap kekuatan, setiap paksaan atau tekanan yang tidak dapat ditahan.
2. Daya Paksa dibedakan :
a. vis absolut (paksaan absolut); b. vis compulsiva (paksaan relatif).
3. Contoh paksaan absolut: tangan dipaksa
4. Vis compulsiva: yaitu paksaan relatif, paksaan itu sebenarnya dapat ditahan, tetapi dari orang tadi di dalam paksaan tidak dapat diharapkan bahwa ia akan mengadakan perlawanan ( karena pengaruh daya
paksa). Contoh : kasir ditodong penjahat dengan pistol, maka kasir terpaksa menyerahkan uang pada
penjahat.maka kasir dalam keadaan daya paksa.
5. Antara sifat paksaan dari pihak lain dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak
DAYA PAKSA DALAM BENTUK
KEADAAN DARURAT
Keadaan Darurat adalah daya paksa yang datang dari luar perbuatan orang.
1. Jenis Keadaan Darurat :
a. perbenturan antara dua kepentingan;
b. perbenturan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum;
c. perbenturan antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum.
2. KUHP tidak mengatur Keadaan Darurat
Jenis Keadaan Darurat Perbenturan dua Kepentingan Hukum
• Contoh: “Papan dari Carneades” . Ada dua orang yang karena kapalnya karam dan hanya
berpegangan papan yang hanya dapat dimuati satu orang. Maka orang yang satu mendorong temannya sehingga tenggelam dan mati. Orang yang
mendorong tersebut tidak dapat dipidana, karena dalam keadaan darurat. Naluri orang itu untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
• Jenis Keadaan Darurat Perbenturan kewajban Hukum Dengan Kepentingan Hukum
• Contoh: Kasus Toko Kacamata ( Arrest Opticien).
Jenis Keadaan Darurat Perbenturan antara kewajiban Hukum dengan
Kewajiban Hukum
• Contoh : *Kasus Dokter Angkatan Laut;
Seseorang yang dipanggil menjadi saksi dua
tempat dengan waktu yang bersamaan *Seseorang Mencuri karena lapar.
• Keadaan Darurat sebagai alasan Pembenar,
Pasal 49 (1) KUHP Pembelaan Darurat (Noodweer)
• Isi Pasal 49 (1) KUHP “ Barang siapa terpaksa
melakukan perbuatan untuk pembelaan, karena ada serangan atau ancaman serangan ketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sndiri atau orang lain, terhadap kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri atau orang lain, tidak dipidana.”
• Syarat-syarat Pembelaan Darurat:
a. ada serangan ( seketika, yang langsung
mengancam, melawan hukum, sengaja ditujukan pada badan, kesopanan dan harta benda.
b. Ada Tindakan Pembelaan: pembelaan perlu diadakan; serangan terhadap : badan; peri
Pembelaan Darurat yang melampauan batas pembelaam darurat (Noodweer
Exces)
• Diatur dalam Pasal 49 (2): “Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh kegoncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak pidana.
• Syarat- syarat Pembelaan darurat:
a. kelampauan batas pembelaan yg diperlukan. b. pembelaan dilakukan sebagai akibat yang
langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat. (hati yang panas)
c. Kegoncangan jiwa sehat itu disebabkan karena adanya serangan, jadi antara kegocangan jiwa
Pasal 50 KUHP
menjalankan peraturan undang-undang.
• Pasal 50 mengatur:
“‘Tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan undang-undang;
1. peraturan perundang-undangan dalam arti materiel, jadi semua perraturan yang dibuat oleh lembaga yang berwenang.
Melaksanakan Perintah Jabatan (Pasal 51 ayat (1) KUHP
• Isi Pasal 51 ayat (1) KUHP: “Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh
penguasa yang wenang, tidak dipidana.
• Ukuran perintah itu sah: ialah bila perintah itu berdasarkan tugas, wewenang, atau kewajiban yang didasarkan pada suatu
peraturan.
• Antara orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub –ordinasi.
• Dilakukan dengan cara melaksanakan perintah itu harus wajar, patut dan seimbang dan tidak boleh melampaui batas kepatutan.
Melakukan Perintah Jabatan yang
tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP)
• Isi Pasal 51 ayat (2): “Perintah jabatan tanpa
wenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali jika yang diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan
wenang dan pelaksanaannya termasuk dalam lingkungannya”.
• Syarat-syarat:
1. Jika ia mengira dengan itikad baik /jujur bahwa perintah itu sah;
2. perintah itu terletak dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah.
Alasan Penghapus Pidana di luar
undang-undang.
1. Hak dari guru. Orang tua untuk menertibkan anak-anak , anak didiknya ;
2. Hak yang timbul dari pekerjaan (beroeprecht) seorang dokter, bidan, penyelidik ilmiah;
3. Ijin atau persutujuan dengan orang yang dirugikan (consent of the victim);
4. Mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming); 5. Tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang
materiel (arrest dokter hewan);
Alasan Penghapus Penuntutan
1. Yang dimaksud dengan alasan penghapus penuntutan yaitu suatu keadaan dimana ketentuan pidana tidak boleh diterapkan,
sehingga jaksa tidak boleh menuntut si pembuat.
2. Dalam KUHP alasan penghapus penuntutan yaitu :
dengan adanya ketentuan dalam Pasal 2 sampai
pasal 8 KUHP yang berkaitan dengan Ruang Lingkup berlakunya KUHP Indonesia;
Tidak aduan pada delik aduan;
Ne bis indem (Pasal 76); Matinya terdakwa (Pasal
77); Daluarsa ( Pasal 78 KUHP).
PERCOBAAN KEJAHATAN/POGING
Menurut pasal 53 ayat 1 KUHP ada
3 syarat dari Poging
• 1. adanya niat diartikan, berupa sikap
batin yang memberi arah kepada apa yang akan diperbuat.
• 2. adanya permulaan pelaksanaan adalah
wujud perbuatan yang dilakukan telah nampak secara jelas niat atau
kehendaknya untuk melakukan suatu tindak pidana
• 3. Pelaksanaan tidak selesai bukan kerena
Ada 3 syarat dalam perbuatan
pelaksanaan :
• 1. secara objektif apa yang telah dilakukan
pembuat harus mendekatkan kepada delik yang dituju.
• 2. secara sabjektif, dipandang dari sudut
niat , apa yang telah dilakukan sipembuat ditujukan/ diarahkan kepada delik tertentu.
• 3. apa yang telah dilakukan sipembuat
TEORI-TEORI PERCOBAAN
• 1. Teori Sabjektif, dasar patut
dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang
berbahaya dari sipembuat
• 2. Teori objektif,dasar patut
dipidananya terletak pada sifat perbuatan si pelaku telah
SANKSI TERHADAP
PERCOBAAN
• Diatur dalam pasal 53 ayat 2 dan 3 : • Maksimum hukuman pokok dalam
percobaan dikurangi sepertiga
• Kalau diancam dengan hukuman
penjara seumur hidup/ hukuman mati maka dijatuhkan hukuman penjara
Percobaan yang tidak diancam
dengan sanksi
• Percobaan melakukan perkelahian
tanding
Perbuatan-perbuatan yang
seolah-olah atau mirip Percobaan
• Percobaan tidak mampu, suatu perbuatan seseorang yang tidak dapat menyelesaikan kejahatan karena alat dan objeknya tidak sempurna
• Contoh : seseorang yang menusuk musuhnya yang sedang tidur untuk membunuhnya,
terbukti sebelum ia menikam musuhnya
tersebut sudah mati karena serangan jantung • Putatief delict, terjadinya kesesatan hukum
HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PERCOBAAN
• Jika memenuhi syarat pasal 53 ayat 1
dapat dipidana
• Jika tidak memenuhi salah satu syarat
tidak dapat dihukum
• Percobaan kejahatan dapat di pidana
hanya pada delik dolus
• Tidak dapat terjadi pada delik omisionis • Percobaan pada kejahatan makar sama
Percobaan selesai
Contoh Kasus
• A berkehendak membunuh B musuhnya. Untuk hal itu ,A melakukan rangkaian tingkah laku sebagai berikut :
• 1. suatu hari ia pergi naik taksi menuju pasar
• 2. masuk kesebuah toko
• 3. di toko ia membeli sebuah peda
• 4. ia kembali kerumah
• 5. kemudian disimpannya dialmari
• 6. pada malam hari dengan membawa pedang dia berjalan menuju rumah calon korban yaitu B
• 7. dimuka pintu ia mengetuk pintu dan dibukakan oleh isteri B , dan A dipersilahkan masuk dia masuk dan duduk disalah satu kursi
• 8. ketika B masuk keruang tamu dan duduk dikursi , dengan A mencabut pedangnya dari balik bajunya
KORPORASI
• Dalam hukum pidana pada umumnya yang
dapat di pertanggungjawakan adalah orang/pembuat
• Dalam perkembangan
pertanggungjawaban pidana di Indonesia, ternyata yang dapat
dipertanggungjawabkan tidak hanya manusia tapi juga korporasi
PENGERTIAN
KORPORASI
KORPORASI MENURUT UU KORUPSI
ADALAH KUMPULAN ORANG ATAU KEKAYAAN YAN G TERORGANISASI , BAIK YANG MERUAPAKAN BADAN
PERUMUSAN KORPORASI
• 1. Ada yang merumuskan bahwa yang dapat
melakukan tindak pidana dan yang dapat dipertanggungjawbkan adalah orang
• 2. ada yang merumuskan yang dapat melakukan
tindak pidana adalah orang dan atau badan
hukum/korporasi, dalam hal korporasi melakukan tindak pidana , maka yang dapat
dipertanggungjawbkan adalah pengurus korporasi 3. yang dapat melakukan tindak pidana dan yang
Kedudukan Korporasi sebagai Pembuat dan Pertanggungjawban Korporasi dalam hukum
Pidana
• 1. Pengurus korporasi sebagai
pembuat dan pengurus yang bertanggungjawab
• 2. korporasi sebagai pembuat dan
pengurus yang bertanggung jawab
• 3. korporasi sebagai pembuat dan
Dalam Rancangan KUHP
• Pasal 45 , korporasi merpakan sabjek
tindak pidana
• Pasal 46, jika suatu tindak pidana
dilakukan oleh atau untuk suatu korporasi maka penuntutan dapat
dilakukan dan pidananya dijatuhkan terhadap korporasi itu sendiri, atau korporasi dan pengurusnya atau
Peraturan perundang-undang Pidana diluar KUHP yang mengakui pertanggungjawban
pidana korporasi
Dasar Pembenaran Pertanggungjawban korporasi
• Atas dasar falsafah integralistik/ atas
dasar keseimbanga. Keserasian dan keselarasan
• Atas dasar asas kekeluargaan • Perlindungan konsumen
DEELNEMING
DASAR HUKUM BUKU I BAB V
ISTILAH
• PENYERTAAN
• DEELNEMING
• TURUT SERTA
• BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TINDAK
PIDANA
PERSOALAN POKOK
PENYERTAAN
• Mengenai diri orangnya, orang yang
bagaimanakah atau yang bersikap batin
bagaimnakah yang dapat dipertimbangkan
sebagai yang terlibat dalam mewujudkan tindak pidana yang dilakukan bersama-sama
• Mengenai tanggungnjawab pidana, apakah
semua yang berperan serta /yang terlibat dapat dipertanggungjawabkan sama atau berbeda
PERLUNYA PENYERTAAN DI
PIDANA
• Menurut Utrecht,pelajaran umum turut
serta ini justru dibuat untuk menuntut pertanggungjawaban mereka yang
memungkinkan melakukan peristiwa
pidana/tindak pidana walaupun perbuatan mereka tersebut tidak memuat semua
unsur tindak pidana.
TEORI-TEORI PENYERTAAN
• Teori sabjektif, sikap batin pembuat,
siapa yang mempunyai kehendak yang paling berat/kuat
• Teori objektif, wujud perbuatan
PENGERTIAN PENYERTAAN
• Meliputi semua bentuk turut serta/
terlibatnya orang/orang-orang baik secara psikis maupun fisik dengan dengan
melakukan masing-masing perbuatan
sehingga melahirkan suatu tindak pidana
• Adanya keinsyafan bekerja sama/
SYARAT- SYARAT
PENYERTAAN
• Adanya niat/ adanya hub. Batin
/kesengajaan dengan tindak pidana yang hendak diwujudkan
• Adanya kesepakatan
BENTUK-BENTUK PENYERTAAN
1. Para pembuat/ mededader adalah :
• a. -Yang melakukan (plegen)
• - orangnya disebut pembuat pelaksana( pleger)
• b. -Yang menyuruh melakukan ( doen plegen)
• - orangya disebut pembuat penyuruh ( doen pleger)
• C. – yang turut serta melakukan ( mede plegen)
• - orangnya disebut pembuat peserta( mede pleger)
• D. – yang menganjurkan (uitlokken)
• - orangnya disebut pembuat penganjur ( uitlokker)
A. Mereka Yang melakukan/pembuat pelaksana/ pleger
• Seorang pleger adalah orang yang karena perbuatannyalah
yang melahirkan tindak pidana itu tanpa ada perbuatan pembuat pelaksana tindak pidana itu tidak akan terwujud, maka syarat
seorang pleger harus sama dengan sorang dader
B.Mereka yang meyuruh
melakukan/ pembuat
penyuruh/ doen pleger
• Melakukan tindak pidana sebagai alat didalam tangannya• Orang lain itu berbuat: a. tanpa kesengajaan b. tanpa kealpaan
c. tanpa tanggung jawab , oleh sebab keadaan : -yang tidak diketahuinya
- karena disesatkan dan - karena kekerasan
Jelaslah bahwa orang yang disuruh melakukan ( monus ministra) tidak dapat dipidana sedangkan orang yang menyuruh
C.Mereka yang turut serta
melakukan /pembuat peserta/
medepleger
• Adalah setiap orang yang sengaja
berbuat dalam melakukan tindak pidana
• Antara peserta ada kerjasama yang
diinsyafi
• Para peserta `telah sama- sama
D. Orang yang sengaja
menganjurkan /pembuat
penganjur/uitlokker
• Adalah mereka yang dengan
memberi atau menjanjikan sesuatu , dengan menyalahgunakan
kekuasaan atau martabat, memberi kesempatan , sarana atau
keterangan sengaja menganjurkan orang lain suapaya melakuakn
Syarat dari pembuat
penganjur
• 1. adanya kesengajaan pembuat mengajur
• 2. dalam melakukan perbuatan menganjurkan harus
mengunakan cara-cara dalam pasal 55 KUHP ayat 1 angka 2
• 3.Terbentuknya kehendak yang dianjurkan untuk
melakukan tindak pidana sesuai dengan apa yang
dianjurkan adalah disebabkan langsung oleh digunakannya upaya-upaya penganjuran oleh sipembuat penganjur
• 4.orang dianjurkan telah melaksanakan tindak pidanasesuai
dengan yang dianjurkan
• 5. orang yang dianjurkan adalah yang memiliki kemampuan
Membantu melakukan tindak
pidana
Dasar hukum : pasal 56 KUHP
• Menurut simons membantu merupakan
suatu keturutsertaan yang tidak berdiri sendiri
• Ini berarti bahwa apakah seorang yang
membantu dapat dihukum atau tidak ?
• Hal ini tergantung apakah pelekunya
Bentuk –bentuk membantu
melakukan tindak pidana
• 1. kesengajaan membantu orang lain sebelum
tindak pidana dilakukan
• Bantuan berupa : keterangan. informasi
• 2 kesengajaan membantu orang lain pada waktu
orang lain itu sedang/saat melakukan tindak pidana.
• Bantuan yang diberikan itu dapat berupa: materil,
moral maupun intelektual
• 3. kesengajan membantu orang lain sesudah
melakukan orang lain tersebut melakukan kejahatan