• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Ajar Pidana KULIAH HUKUM PIDANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahan Ajar Pidana KULIAH HUKUM PIDANA"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

Pengertian Hukum Pidana:

aturan hukum yang mengikatkan kepada suatu perbuatan

yang memenuhi syarat-syarat tertentu suatu akibat yang

berupa pidana ( Mezger – Sudarto)

Unsur: perbuatan yang Memenuhi syarat-syarat Tertentu= perbuatan

Jahat, crime, perbuatan Yang dilarang. Yang di-Lakukan oleh seseorang

Unsur: pidana, yaitu Penderitaan yang se-Ngaja dibebankan kpd. Orang yang melakukan Perbuatan yang meme-Nuhi syarat-syarat

Tertentu tsb. Berupa :

(2)
(3)
(4)

Ada 2 Pengertian Hukum Pidana

1. Ius Poenale:

Sama dengan di atas

2. Ius Puniendi:

Dalam arti luas: hak dari negara atau alat-alat perleng-\ Kapan negara untuk mengenakan atau mengancam

Pidana terhadap perbuatan tertentu

(5)

Jenis-jenis Hukum Pidana

1. Hukum Pidana Materiel; 2. Hukum Pidana Formiel;

3. Hukum pidana umum dan hukum pidana khusus; 4. Hukum pidana yang dikodifikasikan;

5. Hukum pidana tak dikodifikasikan;

6. Hukum pidana internasional, nasional, lokal; 7. Hukum pidana tertulis dan hukum pidana tak

(6)

FUNGSI HUKUM PIDANA

1. Fungsi Hukum Pidana yang Umum:

sama seperti fungsi hukum lainnya, mengatur hidup kemasyarakatan atau

menyelenggarakan

tata dalam masyarakat.

Hukum pidana mengatur perilaku lahir, bukan dalam batin.

Hukum pidana mengatur masyarakat secara patut dan bermanfaat, sehingga hukum

pidana

(7)

Sambungan:

2. Fungsi Hukum Pidana yang Khusus:

(8)

Sambungan fungsi hk. pidana

3. Theorie des psychischen zwanges (ajaran fungsi paksaan psikhis);

4. Fungsi subsider; fungsi Ultimum dium;

5. Fungsi hukum pidana sebagai “pedang bermata dua” yang “sebagai mengiris dagingnya sendiri”.

(9)

Ilmu Hukum Pidana dan Kriminologi

1. Ilmu Hukum pidana

objeknya : Ilmu tentang Hukum yang berlaku. mempelajari norma-norma (aturan-aturan hk.), Tujuan mempelajari hukum pidana: agar

paya petugas-petugas hukum dapat kan aturan hukum pidana secara tepat dan

(10)

Tugas Ilmu Hukum Pidana:

1. Menganalisis dan menyusun secara sistematis 2. Mencari asas-asas yang menjadi dasar dari peraturan undang2 pidana;

3. Memberi penilaian terhadap asas-asas itu diri, apakah asas itu sesuai dengan nilai sa yang bersangkutan;

(11)

Kriminologi

1. Mempelajari kejahatan sebagai fenomena syarakat, mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan;

2. Mempelajari bagaimana pemberantasan hatan;

3. Arti kejahatan di sini adalah perbuatan yang bertentangan dengan tata yang ada dalam

(12)

Sumber-sumber Hukum Pidana

1. Sumber Hukum Pidama Tertulis:

a. KUHP ( WvS) – UU No. 1 / 1946 jo. UU No. 73 / 1958;

b. MvT;

c. Peraturan-peraturan Pidana di luar KUHP.

2. Sumber Hukum Pidana yang tidak tertulis. a. Hukum pidana adat

(13)

Pembaharuan KUHP (WvS) Antara lain dengan UU:

1. UU No. 1 /1946; 2. UU No.20/ 1946; 3. UU No. 73 / 1958; 4. UU no. 1/ 1960;

5. Perpu No. 16/ 1960; 6. Perpu No. 18 / 1960; 7.UU No. 1 PNPS 1965; 8. UU No. 7 / 1974;

(14)

Bagian Umum dan bagian Khusus KUHP

1.Buku I KUHP sebagai bagian umum: artinya Buku I KUHP berlaku bagi seluruh lapangan hukum pidana ( dalam KUHP dan di luar

KUHP), kecuali ada ketentuan di luar KUHP yang menentukan lain. Dasarnya Pasal 103 KUHP ( sebagai Pasal jembatan). Jadi

ketentuan tentang:

- percobaan, penyertaan, daluarsa, daya

paksa, pembelaan terpaksa/darurat, berlaku juga bagi uu di luar KUHP.

(15)

Dasar hukum berlakunya Hukum Pidana Adat

1. Hukum pidana adat untuk beberapa daerah masih harus diperhitungkan. 2. Dasar hukum berlakunya Hk pidana

adat:

- Pasal 131 I.S. jo. Algemene Bepalingen van Wetgeving

- UUD Sementara 1950 juga mengatur; - UU Darurat No. 1 / 1951, pada Pasal 5

ayat (3) sub b, untuk daerah swapraja dan orang-orang yang diadili oleh

(16)

Ketentuan Pidana Adat dalam UU Darurat no. 1/1951

1. Dipidana maksimal 3 bulan penjara dan/denda Rp 500,- sebagai hukuman pengganti 2. Bila oleh hakim dirasa kurang

adil maka dapat dipidana penjara mak. 10 th.

1. Maka hakim akan

memidana dengan Pasal KUHP yang paling mirip

dengan perbuatan tersebut. 2. Contoh kejahatan

kesusilaan dan zinah.

Tindak pidana adat

Yang tidak ada Bandingnya/tidak mirip

Dalam KUHP

(17)
(18)
(19)

ASAS-ASAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT WAKTU (ASAS LEGALITAS)

Diatur dalam Pasal 1ayat (1) KUHP

Tindak pidana harus Dirumuskan dalam s Suatu peraturan UU

Konsekuensinya: 1. Hukum tidak tertulis tidak

berkekuatan untuk diterapkan

2. Larangan Analogi

Peraturan undang-undang Harus ada sebelum terja-Dinya tindak pidana

(lex temporis delictie)

Peraturan undang-undang pidana tidak Boleh retro- aktif (berlaku surut).

Untuk : 1. menjamin kebebasan individu; 2. Adanya ajaran paksaan psikhis

3. Tidak berlaku surut dapat diterobos

(20)

Mengapa ada larangan analogi dalam hukum pidana

Analogi memperluas suatu Peraturan

Pelarangan sudah ada Dengan adanya ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUHP

Analogi memberi kesempatan Tindakan sewenang-wenang Penguasa.

Tokoh yang melarang Analogi: Simons,

Van Hattum

Tokoh yang memboleh-Kan analogi: Pompe Jonkers, Taverne

(21)

Macam-macam penafsiran

1. Penafsiran menurut tata bahasa 2. Penafsiran sistematis

(22)

4. FUNGSI ASAS LEGALITAS (NICO KEIJZER

)

1. Fungsi asas legalitas berhubungan dengan sifat hukum pidana untuk melindungi rakyat terhadap

kekuasaan pemerintah.

(23)

5. ADA 7 ASPEK ASAS LEGALITAS MENURUT NICO KEIJZER

1. Tidak dapat dipidana, kecuali menurut uu

2. Tidak ada penerapan uu pidana secara analogis; 3. Tidak dapat dipidana hanya berdasar kebiasaan; 4. Tidak ada kekuatan surut dari ketentuan pidana; 5. Tidak ada pidana lain,kecuali ditentukan dalam

UU

6. Penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan dalam UU;

(24)

PENGECUALIAN:

boleh retroaktif, apabila :

Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat 2 KUHP:

“jika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan Dalam perundang-undangan, maka dipakai aturan Yang paling ringan bagi terdakwa”.

Di Inggris, yang Diterapkan adalah

Uu pada waktu Delik dilakukan

Di Swedia, yang Diterapkan adalah

(25)

Kapan dikatakan ada perubahan ?

1. Menurut Ajaran Formiel: “ada perubahan apabila ada perubahan teks dari undang-undang pidana.

2. Menurut ajaran Materiel Terbatas: “ada

peru-bahan apabila ada peruperu-bahan keyakinan dalam hukum pidana;

3. Menurut ajaran Materiel tak terbatas:” setiap perubahan dalam perundang-undangan nakan untuk keuntungan terdakwa.

(26)

Kapan peraturan dikatakan menguntungkan terdakwa?

1.Menguntungkan dilihat tentang pidananya ( jenis pidana dan tinggi rendahnya jumlah sanksi pidana);

2.Menguntungkan dilihat pula dari segala sesuatu yang mempunyai pengaruh

(27)

Asas- Asas Ruang Lingkup

berlakunya Hukum Pidana

menurut tempat

Asas ini membahas masalah tentang “ dimana saja hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan ?

Asas Teritorial;

(28)

1. Asas Teritorial

a. Dasar Ketentuan: Pasal 2 KUHP

“ aturan pidana dalam undang-undang Indonesia berlaku bagi setiap orang

yang melakukan suatu tindak pidana di wilayah Indonesia”.

b. Setiap Orang:

1) WNI, 2) WNA c. Wilayah Indonesia:

(29)

Asas teritorial dalam RUU KUHP

Pasal 3 RUU:

“Ketentuan pidana Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan :

a. t.p. di wilayah Negara RI;

b. T.p. dalam kapal atau pesawat undara RI

c. T.p. di bidang teknologi informasi yang akibatnya dirasakan atau terjadi di

(30)

4. Asas Universal

1. Hukum pidana berlaku: a. siapa saja

b. di dalam atau diluar negeri;

c. melakukan TP yang menyangkut pentingan internasional

2. Masalah Locus delicti

a. Ajaran perbuatan Materiel

(31)

2. Asas Personalitas (Nasional Aktif)

a. Pengertian : Pasal 5 KUHP

“ aturan hukum pidana Indonesia berlaku bagi setiap warga negara Indonesia yang melakukan tindak pidana di luar negeri”. b. Tindak pidana tersebut: keamanan

ra; martabat presiden; penghasutan, bigami dan perampokan; dan t.p. sebagai kejahatan, yang di negara asing diancam pidana.

c. Setiap WNI, yang melakukan TP tersebut, di luar negeri, maka berlaku KUHP Indonesia. d. Tidak boleh dijatuhi pidana mati, jika di

(32)

Asas Personalitas

(Nasional Aktif) dalam RUU KUHP

Sama dengan di atas, hanya ada ketentuan:

“Ketentuan asas personalitas ini tidak berlaku untuk tindak pidana

yang hanya diancam dengan denda kategori I dan kategori II”

(33)

7.500.000,-3. Asas Perlindungan (asas nasional pasif)

a. Pasal 4 KUHP” secara singkat: “hukum

pidana Indonesia berlaku bagi siapa

saja, yang menyerang kepentingan

umum (Indonesia), baik yang

dilakukan oleh WNI, maupun WNA, di

luar negeri.

b. Tindak pidana yang menyerang kepentingan Indonsia: kejahatan

(34)

Asas Nasional pasif dalam RUU KUHP

Sama dengan KUHP, hanya ditambah dengan jenis tindak pidana:

a. T.p keselamatan/keamanan

bangunan,peralatan, aset nasional; b. t.p keselamatan /keamanan

peralatan komunikasi elektronik; c. Tindak pidana korupsi; dan / atau d. Tindak pidana pencucian uang.

(35)

4. Asas Universal

a. Hukum pidana Indonesia berlaku: 1) siapa saja

2) di dalam dan di luar negeri;

3) melakukan tindak pidana yang nyangkut kepentingan internasional. misal: pemalsuan uang, narkotika. pembajakan kapal

b. Asas Universal berhubungan dengan

(36)

5. Kekecualian berlakunya asas-asas

a. Ketentuan Pasal 9 KUHP: “ berlakunya Pasal 2-5, 7, 8 dibatasi oleh

pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum internasional.”

b. Yaitu kepada: Kepala Negara asing, duta-duta besar; anak kapal perang asing,

mereka mempunyai kekebalan

(37)

6. Tempat terjadinya Tindak Pidana (Locus delicti)

“ Penentuan tempat terjadinya tindak pidana ini untuk menentukan

pengadilan negeri mana yang berwenang mengadili.”

Ada 3 teori untuk menentukan lokasi terjadinya tindak pidana, yaitu:

1. Teori Perbuatan materiel (jasmaniah); 2. Teori instrumen (alat)

(38)

Locus delicti menurut RUU KUHP

Pasal 10 RUU:

Tempat tindak pidana adalah:

a. Tempat pembuat melakukan perbuatan yang dilarang oleh

peraturan perundang-undangan; b. Tempat terjadinya akibat yang

dimaksud dalam per-uu-an atau tempat yang menurut perkiraan

(39)

TINDAK PIDANA (STRAFBAARFEIT)

1. Istilah terjemahan Strafbaarfeit: a. peristiwa pidana;’

b. perbuatan pidana;

c. perbuatan yang dapat dihukum; d. tindak pidana.

2. Pengertian dan Unsur Tindak Pidana: a. Pengertian menurut pandangan Monistis;

(40)

1. M

enurut pandangan Monistis

a. Tokoh : Simons, van Hamel, Mezger, Karni, Bauman, Wirjono Pradjodikoro. b. Strafbaarfeit adalah :

perbuatan, yang diancam pidana, bersifat melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.

c. Pandangan monistis tidak

(41)

2. Menurut D Simons

a. Unsur Objektif dan Unsur Subjektif dari strafbaarfeit, yaitu:

1) Perbuatan manusia (yang positif atau negatif, atau membiarkan);

2) diancam dengan pidana; 3) Melawan hukum;’

4) dilakukan dengan kesalahan;

5) oleh orang yang mampu bertanggung jawab.

(42)

3. D. Hazewinkel-Suringa

Unsur Tindak Pidana, meliputi:

a. Tiap delik terdapat unsur tindak seseorang;

b. Ada yang menyebut akibat; c. Unsur psychis (dolus, culpa);

d. Keadaan objektif, keadaan subjektif; e. Syarat tambahan;

(43)

4. Unsur TP menurut RUU KUHP

Pasal 11 RUU:

(1) Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh peraturan per-uu-an nyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan

diancam

dengan pidana.

(2) Untuk dinyatakan sebagai tindak pidana selain perbuata

tersebut dilarang dan diancam pidana, harus juga bersifat melawan hukum atau bertentangan dengan

kesadaran hukum masyarakat.

(44)

5. Pandangan Dualistis

a. Tokoh:Vos, Pompe, Moejatno, b. Pengertian menurut Dualistis: Strafbaarfeit adalah:

“ Perbuatan, yang memenuhi

rumusan undang-undang pidana, dan bersifat melawan hukum.”

(45)

6. Pandangan Sudarto

Syarat Pemidanaan

Ada perbuatan: 1. Memenuhi rumusan 2. Bersifat melawan hukum

Ada orang yang Melakukan perbuatan 1. Mampu bertanggung

Jawab

2. Bersifat dolus atau culpa 3. Tidak ada alasan

(46)

Rumusan Tindak Pidana

1. Rumusan tp penting karena sesuai dengan prinsip kepastian, sehingga masyarakat

tahu mana yang dilarang.

2. Peristiwa yang terjadi secara nyata harus masuk dalam rumusan, artinya perbuatan itu mencocoki rumusan delik dalam

undang-undang.

3. Agar peristiwa itu masuk dalam rumusan maka perbuatan itu harus mempunyai

sifat-sifat atau ciri-ciri dari delik dalam uu. 4. Kalau semua unsur dalam rumusan itu

(47)

sambungan

5. Ada 3 macam perumusan norma dalam uu: a. menyebutkan satu persatu unsur

perbuatan;

b. hanya menyebut kualifikasi dari delik. c. penggabungan a dan b.

6. Cara penempatan norma dan sanksi:

a. penempatan norma dan sanksi sekaligus

b. penempatan terpisah;

c. sanksi dicantumkan lebih dulu, normanya

(48)

Jenis –jenis tindak pidana

1. Kejahatan – Pelanggaran;

2. Delik formil – delik materiel;

3. Delik commissiones, delik omissiones; 4. Delik dolus, delik culpa;

5. Delik tunggal, delik berganda; 6. Delik aduan, delik bukan aduan: 7. Delik sederhana, delik ada

(49)

SUBJEK TINDAK PIDANA

1. ORANG

(50)

HUBUNGAN SEBAB AKIBAT

(KAUSALITAS)

1. TEORI EKIVALENSI

2. TEORI INDIVIDUALISASI 3. TEORI GENERALISASI

4. TEORI YANG DIGUNAKAN DALAM YURISPRUDENSI

5. KAUSALITAS DALAM HAL TIDAK BERBUAT: A. TEORI BERBUAT LAIN

B. TEORI BERBUAT SEBELUMNYA

(51)

SIFAT MELAWAN HUKUM

1. SIFAT MELAWAN HUKUM FORMIL

(52)

Hukum pidana

HUKUM YANG MENGATUR

SYARAT-SYARAT/ASAS PEMIDANAAN

TINDAK PIDANA DAAD

(UNSUR OBJEKTIF)

ORANG YANG MELAKUKAN

(DADER)

UNSUR SUBJEKTIF

TUJUAN PIDANA

PERAN KORBAN

(53)

KESALAHAN,

Tiada Pidana Tanpa kesalahan, Geen staf zonder schuld

UNTUK MENJATUHKAN PIDANA, SELAIN MELIHAT PERBUATAN JUGA MELIHAT ORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN ITU, DIMANA ORANG

(54)

PENGERTIAN

KESALAHAN

PENGERTIAN KESALAHAN

SECARA PSIKOLOGIS:

Yaitu kesalahan hanya

dipandang sebagai hubungan psikologis (batin) antara pembuat dan perbuatannya.

Maka kesalahan disini bisa

berupa kesengajaan atau kealpaan.

Kesengajaan berarti

menghendaki

perbuatannya dan segala akibatnya, sedang pada kealpaan tidak

menghendaki akibatnya.

PENGERTIAN KESALAHAN

SECARA NORMATIF

Yaitu untuk menentukan

kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin tetapi harus ada unsur

penilaian normatif.

Penilaian normatif yaitu

penilaian dari luar dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam

masyarakat, ialah apa

yang seharusnya diperbuat oleh masyarakat.

Jadi kesalahan berada

(55)

Berbagai pengertian kesalahan menurut doktrin / sarjana

1. Mezger : kesalahan adalah keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pembuat tindak pidana.

2. Simons : kesalahan sebagai dasar untuk pertanggung

jawaban dalam hukum pidana ia berupa keadaan psikhis dari si pembuat dan hubungannya terhadap perbuatannya, jadi keadaan jiwanya dapat dicelakan kepada si pembuat.

3. Pompe : sifat melawan hukum adalah segi luar dari

pelanggaran norma, dan kesalahan adalah segi dalam dari pelanggaran norma. Kesalahan berarti akibatnya dapat dicelakan

4. Sudarto : bersalah dalam arti patut dicela menurut hukum, tidak secara etis.

5. Moeljatno: adanya kesalahan terdakwa harus: melakukan perbuatan pidana (s.m.h); mampu bertanggung jawab,

(56)

KEMAMPUAN BERTANGGUNG JAWAB

1. Simons : kemampuan bertanggung jawab dapat diartikan sebagai suatu keadaan psikhis sedemikian yang

membenarkan adanya penerapan suatu upaya pemidanaan, dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya. Dan jika

jiwanya sehat yaitu: mampu mengetahui atau menyadari

bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum, dan dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. 2. Van hamel: suatu keadaan normalitas psichis dan

kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan: ia mampu mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya

sendiri; mampu menyadari, bahwa perbuatannya tidak

diperbolehkan; mampu untuk menentukan kehendak sesuai dengan kesadaran tersebut.

3. MvT: tidak ada kemampuan apabila: tidak ada kebebasan memilih antara berbuat dan tidak berbuat; tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannnya bertentangan dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya.

(57)

4. Moeljatno: adanya kemampuan bertanggung jawab harus ada: a. kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baikdan yang buruk, yang sesuai dengan hukum dan yang melawan

hukum

b. kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik buruknya perbuatan tadi.

1. Diatur dalam Pasal 44 KUHP: “ Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya, karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana. 2. Isi Pasal 44 KUHP: penentuan keadaan jiwa si pembuat

oleh psikhiater,dan penentuan hubungan kausal antara keadaan jiwa dengan perbuatannya oleh hakim.

3. Pasal 44 bersifat Deskriptif – Normatif.

Ketentuan kemampuan Bertanggung jawab

(58)

1. Kleptomanie, ialah penyakit jiwa yang berujud doronga kuat dan tak tertahan untuk mengambil barang milik

orang lain., tetapi tak sadar bahwa perbuatannya dilarang. 2. Pyromanie, penyakit jiwa yang berupa kesukaan

membakar tanpa ada alasan yang jelas sama sekali.

3. Claustrophobie, penyakit jiwa ketakutan untuk berada di ruang sempit, maka ia akan memecah barang-barang didekatnya.

4. Penyakit yang merasa dikejar-kejar oleh musuhnya.

Keadaan Mabok ?

1. Dibuat mabok oleh orang lain; 2. Mabok sendiri.

3. Di Indonesia, meminum minuman keras / alkohol bukan sebagai kebiasaan yang dapat diterima.

kekurang mampuan Bertanggung jawab

(59)

Ada dua pendapat:

Si pembuat tetap dapat dipidana, dengan dasar pemikiran bahwa kemampuan bertanggung jawab adalah dianggap ada selama tidak dibuktikan sebaliknya;

Si pembuat tidak dipidana, dasar pemikiran dalam hal

adanya keragu-raguan maka harus diambil keputusan yang menguntungkan tersangka. (In dubiu pro reo).

Tidak mudah untuk menentukan batas yang tegas antara

mampu dan tak mampu bertanggung jawab. Orang yang dinyatakan sakit maka diputus untuk dimasukkan RS jiwa., untuk diobati.

Apabila ada keragu-raguan Tentang

(60)

2.Kesengajaan

(

dolus, intent. Opzet.)

Pengertian Kesengajaan Sebagai

Menghendaki Dan mengetahui (willens en

Wettens)

1. Teori kehendak (wills theorie) 2.Teori pengetahuan

(membayangkan) (voorstellings

Theorie)

3. Teori Apa boleh buat

(61)

Teori Kesengajaan

1. Teori Kehendak (wills theorie) a. Kehendak adalah untuk

mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang2

b. Akibat –akibat yang timbul yang tidak dikehendaki diang-gap dikehendaki.

c. Tokoh :

Von Hippel, Simons, Zevenbergen

2. Teori membayangkan

(Voorstelings- theorie)

a. Sengaja berarti membayangkan akan timbulnya akibat perbua-atannya;

b. Orang tak bisa menghendaki akibat, hanya dapat memba-yangkan apa yang akan terjadi pada waktu ia berbuat.

c. Akibat lain yang menyertai akan dibayangkan akan terjadi.

(62)

Corak Kesengajaan

1.Dalam hal ini ada 2 akibat, yaitu akibat yang dikehendaki dan akibat yang pasti jadi ,

2. Akibat yang lain tetap dipertanggung kan kepada pelaku. 3. kasus :Periustiwa pal Thomas dari

Bremerhaven

Kesengajaan dengan Sadar kemungkinan

1. Ada hal-hal yang mungkin akan terjadi maka hal itu menjadi tanggung jawab laku.

2. Contoh : kasus riman roti beracun dari

(63)

Apakah untuk adanya kesengajaan si pembuat harus menyadari bahwa perbuatannya itu

dilarang (bersifat melawan hukum) ?

Ada 2 pendapat

Sifat kesengajaan Itu berwarna

Kesengajaan Tidak berwarna

Bahwa kesengajaan mencakup Pengetahuan si pembuat bahwa Perbuatannya itu dilarang maka harus ada Hubungan batin antara Keadaan batin dengan Sifat melawan hukumnya perbuatan

Bahwa untuk adanya Kesengajaan cukuplah Bahwa si pembuat itu Menghendaki perbuatan Yang dilarang itu.

Pelaku tak perlu tahu

(64)

Kesesatan/ kekeliruan,

error in objecto, error in persona, aberatio ictus

1. Kesesatan mengenai Peristiwanya;

2kesesatan mengenai hukumnya

1. Error in objecto: Objek sama tidak

menguntungkan pelaku Objek lain, maka nguntungkan pelaku

2. Error in persona: tak tak ada artinya, tetap dipidana.

Aberatio Ictus:

A menembak B, tapi Mengelak maka kena C. Jadi :

1. Percobaan pembu-nuhan terhadap B 2. Menyebabkan

(65)

Macam-macam Kesengajaan

1. Dolus Premoditatus; 2. Dolus determinatus, indeterminatus;

3. Dolus alternativus;’ 4. Dolus indirektus, versari in re illicita; 5. Dolus directus;

(66)

1. Dolus premeditatus: kesengajaan dengan rencana lebih dahulu;

2. Dolus determinatus : kesengajaan dengan tertuju yang sudah pasti;

3. Dolus indeterminatus: kesengajaan yang tidak tertuju pada hal tertentu: misal : menembak segerombolan orang;

4. Dolus alternativus: sengaja tertuju pada A atau B .

5. Dolus indirectus , Versari in re illicita : akibat-akibat lain termasuk yang dikehendaki pula;

6. Dolus generalis: sengaja berbuat serangkaian perbuatan (mencekik, memukul, melempar ke sungai).

(67)

KEALPAAN

(CULPA, NALATIGHEID, RECKLENESS,NEGLIGENCE, SEMBRONO, TELEDOR)

1. Pengertian :

a. Hazewinkel – Suringa: kealpaan sebagai: kekurang penduga-duga atau kekurangan penghati-hati; b. Van Hamel: kealpaan mengandung dua syarat:

tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum. Tidak nengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukm c. simons: kealpaan mengandung dua unsur: tidak

(68)

2. Menetapkan adanya kealpaan?

a. ditetapkan secara normatic, dan tuidak secara psikologis

b. Haruslah ditetapkan dari luar bagaimana seharusnya ia berbuat dengan mengambil

ukuran sikap batin orang lain pada umumnya apabila dalam situasi yg

sama apabila ada situasi dan kondisi baik yang sama. Hakimlah yang harus menilai sesuatu pertbuatan in concreto”, dengan ukuran norma penghati atau penduga-duga, seraja

memperhitungkan keadaan pribagi si pelaku, c. dapat menggunakan ukuran apakah ia

(69)

JENIS-JENIS KEALPAAN

Si Pembuat dapat Menyadari tentang Tidak akan

terjadi

(70)

PERSOALAN KEALPAAN

PADA TP PELANGGARAN

1. Pada pelanggaran apakah diperlukan sikap batin si pembuat, karena pelanggaran berlaku ajaran fait materiel.

2. Pada pelanggaran dengan adanya arrest Air dan Susu ( 1916), ada perkembangan:

a. ajaran fait materiel pada pelanggaran ditinggalkan b. Diakuinya pertama kali ajaran tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld);

(Simons sejak 1884 sudah menentang ajaran fait materiel).

3. Menurut Sudarto ajaran tiada pidana tanpa

kesalahan adalah mutlak, kecuali dinyatakan tegas – tegas dalam

(71)

ALASAN PENGHAPUS PIDANA

1Alasan dlmDiri pelaku 2. Alasan di luar diri

pelaku

1. Alasan penghapus Pidana umum (KUHP) 2. Alasan Penghapus

Yang khusus (diluar KUHP)

Pembagian menurut Doktrin

(72)

1. Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena penyakit (Pasal 44 KUHP) 2. Umur yang masih muda

1. Daya paksa (overmach –Pasal 48 KUHP) 2. Pembelaan terpaksa (Pasal 49)

3. Melaksanakan UU (Pasal 50)

4. Melaksanakan Perintah Jabatan ( Pasal 51)

Alasan-alasan penghapus pidana Di dalam diri orang

(73)

Alasan penghapus pidana Yang umum

Yaitu alasan penghapus pidana yang berlaku bagi semua tindak pidana (delik)

1. Pasal 44

2. Pasal 48 s/d pasal 51 KUHP

1. Pasal 166 KUHP

2. Pasal 221 ayat (2) KUHP

(74)

1. Pasal 49 ayat (1)

2. Pasal 50;

3. Pasal 51 ayat (1) KUHP

1. Pasal 44 KUHP 2. Pasal 48 KUHP

3. Pasal 49 ayat (2) KUHP 4. Pasal 51 ayat (2) KUHP

Alasan Pembenar

(75)

ALASAN PENGHAPUS PIDANA

DALAM KUHP

PASAL 44 KUHP

PASAL 44 KUHP: alasan-alasan seseorang tidak

dipidana dengan alasan :

1) kurang sempurna akal/jiwanya; 2) terganggu karena penyakit.

2. Pada umumnya orang dianggap normal, kecuali kalau ada tanda-tanda tidak normal, maka baru diperiksa. 3. Orang yang jiwanya tidak sehat, tidak berarti tidak

berbahaya bagi orang lain, maka hakim diberi wewenang agar orang tersebut diperintahkan dimasukkan ke RS jiwa, dan yang menyatakan

(76)

PASAL 48 KUHP

(DAYA PAKSA, OVERMACHT)

“TIDAK DIPIDANA SESEORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN YANG DIDORONG OLEH DAYA PAKSA”

1. Arti Daya Paksa: setiap kekuatan, setiap paksaan atau tekanan yang tidak dapat ditahan.

2. Daya Paksa dibedakan :

a. vis absolut (paksaan absolut); b. vis compulsiva (paksaan relatif).

3. Contoh paksaan absolut: tangan dipaksa

(77)

4. Vis compulsiva: yaitu paksaan relatif, paksaan itu sebenarnya dapat ditahan, tetapi dari orang tadi di dalam paksaan tidak dapat diharapkan bahwa ia akan mengadakan perlawanan ( karena pengaruh daya

paksa). Contoh : kasir ditodong penjahat dengan pistol, maka kasir terpaksa menyerahkan uang pada

penjahat.maka kasir dalam keadaan daya paksa.

5. Antara sifat paksaan dari pihak lain dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak

(78)

DAYA PAKSA DALAM BENTUK

KEADAAN DARURAT

Keadaan Darurat adalah daya paksa yang datang dari luar perbuatan orang.

1. Jenis Keadaan Darurat :

a. perbenturan antara dua kepentingan;

b. perbenturan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum;

c. perbenturan antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum.

2. KUHP tidak mengatur Keadaan Darurat

(79)

Jenis Keadaan Darurat Perbenturan dua Kepentingan Hukum

Contoh: “Papan dari Carneades” . Ada dua orang yang karena kapalnya karam dan hanya

berpegangan papan yang hanya dapat dimuati satu orang. Maka orang yang satu mendorong temannya sehingga tenggelam dan mati. Orang yang

mendorong tersebut tidak dapat dipidana, karena dalam keadaan darurat. Naluri orang itu untuk

mempertahankan kelangsungan hidupnya.

• Jenis Keadaan Darurat Perbenturan kewajban Hukum Dengan Kepentingan Hukum

Contoh: Kasus Toko Kacamata ( Arrest Opticien).

(80)

Jenis Keadaan Darurat Perbenturan antara kewajiban Hukum dengan

Kewajiban Hukum

Contoh : *Kasus Dokter Angkatan Laut;

Seseorang yang dipanggil menjadi saksi dua

tempat dengan waktu yang bersamaan *Seseorang Mencuri karena lapar.

Keadaan Darurat sebagai alasan Pembenar,

(81)

Pasal 49 (1) KUHP Pembelaan Darurat (Noodweer)

Isi Pasal 49 (1) KUHP “ Barang siapa terpaksa

melakukan perbuatan untuk pembelaan, karena ada serangan atau ancaman serangan ketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sndiri atau orang lain, terhadap kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri atau orang lain, tidak dipidana.”

Syarat-syarat Pembelaan Darurat:

a. ada serangan ( seketika, yang langsung

mengancam, melawan hukum, sengaja ditujukan pada badan, kesopanan dan harta benda.

b. Ada Tindakan Pembelaan: pembelaan perlu diadakan; serangan terhadap : badan; peri

(82)

Pembelaan Darurat yang melampauan batas pembelaam darurat (Noodweer

Exces)

Diatur dalam Pasal 49 (2): “Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh kegoncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak pidana.

Syarat- syarat Pembelaan darurat:

a. kelampauan batas pembelaan yg diperlukan. b. pembelaan dilakukan sebagai akibat yang

langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat. (hati yang panas)

c. Kegoncangan jiwa sehat itu disebabkan karena adanya serangan, jadi antara kegocangan jiwa

(83)

Pasal 50 KUHP

menjalankan peraturan undang-undang.

Pasal 50 mengatur:

“‘Tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan undang-undang;

1. peraturan perundang-undangan dalam arti materiel, jadi semua perraturan yang dibuat oleh lembaga yang berwenang.

(84)

Melaksanakan Perintah Jabatan (Pasal 51 ayat (1) KUHP

Isi Pasal 51 ayat (1) KUHP: “Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh

penguasa yang wenang, tidak dipidana.

Ukuran perintah itu sah: ialah bila perintah itu berdasarkan tugas, wewenang, atau kewajiban yang didasarkan pada suatu

peraturan.

Antara orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub –ordinasi.

Dilakukan dengan cara melaksanakan perintah itu harus wajar, patut dan seimbang dan tidak boleh melampaui batas kepatutan.

(85)

Melakukan Perintah Jabatan yang

tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP)

Isi Pasal 51 ayat (2): “Perintah jabatan tanpa

wenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali jika yang diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan

wenang dan pelaksanaannya termasuk dalam lingkungannya”.

Syarat-syarat:

1. Jika ia mengira dengan itikad baik /jujur bahwa perintah itu sah;

2. perintah itu terletak dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah.

(86)

Alasan Penghapus Pidana di luar

undang-undang.

1. Hak dari guru. Orang tua untuk menertibkan anak-anak , anak didiknya ;

2. Hak yang timbul dari pekerjaan (beroeprecht) seorang dokter, bidan, penyelidik ilmiah;

3. Ijin atau persutujuan dengan orang yang dirugikan (consent of the victim);

4. Mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming); 5. Tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang

materiel (arrest dokter hewan);

(87)

Alasan Penghapus Penuntutan

1. Yang dimaksud dengan alasan penghapus penuntutan yaitu suatu keadaan dimana ketentuan pidana tidak boleh diterapkan,

sehingga jaksa tidak boleh menuntut si pembuat.

2. Dalam KUHP alasan penghapus penuntutan yaitu :

dengan adanya ketentuan dalam Pasal 2 sampai

pasal 8 KUHP yang berkaitan dengan Ruang Lingkup berlakunya KUHP Indonesia;

Tidak aduan pada delik aduan;

Ne bis indem (Pasal 76); Matinya terdakwa (Pasal

77); Daluarsa ( Pasal 78 KUHP).

(88)
(89)

PERCOBAAN KEJAHATAN/POGING

(90)

Menurut pasal 53 ayat 1 KUHP ada

3 syarat dari Poging

1. adanya niat diartikan, berupa sikap

batin yang memberi arah kepada apa yang akan diperbuat.

2. adanya permulaan pelaksanaan adalah

wujud perbuatan yang dilakukan telah nampak secara jelas niat atau

kehendaknya untuk melakukan suatu tindak pidana

3. Pelaksanaan tidak selesai bukan kerena

(91)

Ada 3 syarat dalam perbuatan

pelaksanaan :

1. secara objektif apa yang telah dilakukan

pembuat harus mendekatkan kepada delik yang dituju.

2. secara sabjektif, dipandang dari sudut

niat , apa yang telah dilakukan sipembuat ditujukan/ diarahkan kepada delik tertentu.

3. apa yang telah dilakukan sipembuat

(92)

TEORI-TEORI PERCOBAAN

1. Teori Sabjektif, dasar patut

dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang

berbahaya dari sipembuat

2. Teori objektif,dasar patut

dipidananya terletak pada sifat perbuatan si pelaku telah

(93)

SANKSI TERHADAP

PERCOBAAN

Diatur dalam pasal 53 ayat 2 dan 3 :Maksimum hukuman pokok dalam

percobaan dikurangi sepertiga

Kalau diancam dengan hukuman

penjara seumur hidup/ hukuman mati maka dijatuhkan hukuman penjara

(94)

Percobaan yang tidak diancam

dengan sanksi

Percobaan melakukan perkelahian

tanding

(95)

Perbuatan-perbuatan yang

seolah-olah atau mirip Percobaan

Percobaan tidak mampu, suatu perbuatan seseorang yang tidak dapat menyelesaikan kejahatan karena alat dan objeknya tidak sempurna

Contoh : seseorang yang menusuk musuhnya yang sedang tidur untuk membunuhnya,

terbukti sebelum ia menikam musuhnya

tersebut sudah mati karena serangan jantung • Putatief delict, terjadinya kesesatan hukum

(96)

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PERCOBAAN

Jika memenuhi syarat pasal 53 ayat 1

dapat dipidana

Jika tidak memenuhi salah satu syarat

tidak dapat dihukum

Percobaan kejahatan dapat di pidana

hanya pada delik dolus

Tidak dapat terjadi pada delik omisionisPercobaan pada kejahatan makar sama

(97)

Percobaan selesai

(98)

Contoh Kasus

• A berkehendak membunuh B musuhnya. Untuk hal itu ,A melakukan rangkaian tingkah laku sebagai berikut :

• 1. suatu hari ia pergi naik taksi menuju pasar

• 2. masuk kesebuah toko

• 3. di toko ia membeli sebuah peda

• 4. ia kembali kerumah

• 5. kemudian disimpannya dialmari

• 6. pada malam hari dengan membawa pedang dia berjalan menuju rumah calon korban yaitu B

• 7. dimuka pintu ia mengetuk pintu dan dibukakan oleh isteri B , dan A dipersilahkan masuk dia masuk dan duduk disalah satu kursi

• 8. ketika B masuk keruang tamu dan duduk dikursi , dengan A mencabut pedangnya dari balik bajunya

(99)

KORPORASI

Dalam hukum pidana pada umumnya yang

dapat di pertanggungjawakan adalah orang/pembuat

Dalam perkembangan

pertanggungjawaban pidana di Indonesia, ternyata yang dapat

dipertanggungjawabkan tidak hanya manusia tapi juga korporasi

(100)

PENGERTIAN

KORPORASI

KORPORASI MENURUT UU KORUPSI

ADALAH KUMPULAN ORANG ATAU KEKAYAAN YAN G TERORGANISASI , BAIK YANG MERUAPAKAN BADAN

(101)

PERUMUSAN KORPORASI

1. Ada yang merumuskan bahwa yang dapat

melakukan tindak pidana dan yang dapat dipertanggungjawbkan adalah orang

2. ada yang merumuskan yang dapat melakukan

tindak pidana adalah orang dan atau badan

hukum/korporasi, dalam hal korporasi melakukan tindak pidana , maka yang dapat

dipertanggungjawbkan adalah pengurus korporasi 3. yang dapat melakukan tindak pidana dan yang

(102)

Kedudukan Korporasi sebagai Pembuat dan Pertanggungjawban Korporasi dalam hukum

Pidana

1. Pengurus korporasi sebagai

pembuat dan pengurus yang bertanggungjawab

2. korporasi sebagai pembuat dan

pengurus yang bertanggung jawab

3. korporasi sebagai pembuat dan

(103)

Dalam Rancangan KUHP

Pasal 45 , korporasi merpakan sabjek

tindak pidana

Pasal 46, jika suatu tindak pidana

dilakukan oleh atau untuk suatu korporasi maka penuntutan dapat

dilakukan dan pidananya dijatuhkan terhadap korporasi itu sendiri, atau korporasi dan pengurusnya atau

(104)

Peraturan perundang-undang Pidana diluar KUHP yang mengakui pertanggungjawban

pidana korporasi

(105)

Dasar Pembenaran Pertanggungjawban korporasi

Atas dasar falsafah integralistik/ atas

dasar keseimbanga. Keserasian dan keselarasan

Atas dasar asas kekeluargaanPerlindungan konsumen

(106)

DEELNEMING

DASAR HUKUM BUKU I BAB V

(107)

ISTILAH

PENYERTAAN

DEELNEMING

TURUT SERTA

BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TINDAK

PIDANA

(108)

PERSOALAN POKOK

PENYERTAAN

Mengenai diri orangnya, orang yang

bagaimanakah atau yang bersikap batin

bagaimnakah yang dapat dipertimbangkan

sebagai yang terlibat dalam mewujudkan tindak pidana yang dilakukan bersama-sama

Mengenai tanggungnjawab pidana, apakah

semua yang berperan serta /yang terlibat dapat dipertanggungjawabkan sama atau berbeda

(109)

PERLUNYA PENYERTAAN DI

PIDANA

Menurut Utrecht,pelajaran umum turut

serta ini justru dibuat untuk menuntut pertanggungjawaban mereka yang

memungkinkan melakukan peristiwa

pidana/tindak pidana walaupun perbuatan mereka tersebut tidak memuat semua

unsur tindak pidana.

(110)

TEORI-TEORI PENYERTAAN

Teori sabjektif, sikap batin pembuat,

siapa yang mempunyai kehendak yang paling berat/kuat

Teori objektif, wujud perbuatan

(111)

PENGERTIAN PENYERTAAN

Meliputi semua bentuk turut serta/

terlibatnya orang/orang-orang baik secara psikis maupun fisik dengan dengan

melakukan masing-masing perbuatan

sehingga melahirkan suatu tindak pidana

Adanya keinsyafan bekerja sama/

(112)

SYARAT- SYARAT

PENYERTAAN

Adanya niat/ adanya hub. Batin

/kesengajaan dengan tindak pidana yang hendak diwujudkan

Adanya kesepakatan

(113)

BENTUK-BENTUK PENYERTAAN

1. Para pembuat/ mededader adalah :

a. -Yang melakukan (plegen)

- orangnya disebut pembuat pelaksana( pleger)

b. -Yang menyuruh melakukan ( doen plegen)

• - orangya disebut pembuat penyuruh ( doen pleger)

C. – yang turut serta melakukan ( mede plegen)

• - orangnya disebut pembuat peserta( mede pleger)

D. – yang menganjurkan (uitlokken)

• - orangnya disebut pembuat penganjur ( uitlokker)

(114)

A. Mereka Yang melakukan/pembuat pelaksana/ pleger

Seorang pleger adalah orang yang karena perbuatannyalah

yang melahirkan tindak pidana itu tanpa ada perbuatan pembuat pelaksana tindak pidana itu tidak akan terwujud, maka syarat

seorang pleger harus sama dengan sorang dader

(115)

B.Mereka yang meyuruh

melakukan/ pembuat

penyuruh/ doen pleger

• Melakukan tindak pidana sebagai alat didalam tangannya

• Orang lain itu berbuat: a. tanpa kesengajaan b. tanpa kealpaan

c. tanpa tanggung jawab , oleh sebab keadaan : -yang tidak diketahuinya

- karena disesatkan dan - karena kekerasan

Jelaslah bahwa orang yang disuruh melakukan ( monus ministra) tidak dapat dipidana sedangkan orang yang menyuruh

(116)

C.Mereka yang turut serta

melakukan /pembuat peserta/

medepleger

Adalah setiap orang yang sengaja

berbuat dalam melakukan tindak pidana

Antara peserta ada kerjasama yang

diinsyafi

Para peserta `telah sama- sama

(117)

D. Orang yang sengaja

menganjurkan /pembuat

penganjur/uitlokker

Adalah mereka yang dengan

memberi atau menjanjikan sesuatu , dengan menyalahgunakan

kekuasaan atau martabat, memberi kesempatan , sarana atau

keterangan sengaja menganjurkan orang lain suapaya melakuakn

(118)

Syarat dari pembuat

penganjur

1. adanya kesengajaan pembuat mengajur

2. dalam melakukan perbuatan menganjurkan harus

mengunakan cara-cara dalam pasal 55 KUHP ayat 1 angka 2

3.Terbentuknya kehendak yang dianjurkan untuk

melakukan tindak pidana sesuai dengan apa yang

dianjurkan adalah disebabkan langsung oleh digunakannya upaya-upaya penganjuran oleh sipembuat penganjur

4.orang dianjurkan telah melaksanakan tindak pidanasesuai

dengan yang dianjurkan

5. orang yang dianjurkan adalah yang memiliki kemampuan

(119)

Membantu melakukan tindak

pidana

Dasar hukum : pasal 56 KUHP

Menurut simons membantu merupakan

suatu keturutsertaan yang tidak berdiri sendiri

Ini berarti bahwa apakah seorang yang

membantu dapat dihukum atau tidak ?

Hal ini tergantung apakah pelekunya

(120)

Bentuk –bentuk membantu

melakukan tindak pidana

1. kesengajaan membantu orang lain sebelum

tindak pidana dilakukan

Bantuan berupa : keterangan. informasi

2 kesengajaan membantu orang lain pada waktu

orang lain itu sedang/saat melakukan tindak pidana.

Bantuan yang diberikan itu dapat berupa: materil,

moral maupun intelektual

3. kesengajan membantu orang lain sesudah

melakukan orang lain tersebut melakukan kejahatan

(121)

Referensi

Dokumen terkait

Perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan, dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut, lazim disebut sebagai

Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia dipandang sebagai kejahatan, sedangkan menurut perundang-undangan Negara

Dalam buku II dan III KUHP Indonesia terdapat berbagai cara atau teknik perumusan perbuatan pidana (delik), yang menguraikan perbuatan melawan hukum yang dilarang

Terangnya, dari kajian keilmuan adanya teori/doktrin/ajaran “SMH (sifat melawan hukum) Materiel, teori “perbuatan fungsional” atau pengertian perbuatan dari sudut

Perbuatan yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan I terhadap orang lain atau memberikan Narkotika Golongan I untuk digunakan orang

perbuatan melawan hukum atau tindak pidana atau tidak, maka dapat dilihat dari.. unsur-unsur

Hal tersebut dapat dilihat dari tindakan kelompok Ddos4Bc yang termasuk dalam perbuatan pidana atau melawan hukum, dengan melakukan serangan Ddos sehingga situs milik orang

2) Perbuatan tersebut melawan hukum manakala pelaku tidak melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Undang-undang, ketertiban umum dan/atau kesusilaan, maka perbuatan pelaku dalam