PETUNJUK TEKNIS
LAYANAN REHIDRASI ORAL AKTIF
Kementerian Kesehatan RI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas ijinNya
akhirnya tersusun buku Petunjuk Teknis Layanan Rehidrasi Oral
(LRO). Dalam proses penyusunan buku ini terlibat para ahli,
akademisi, lintas program dan lintas sector terkait.
Petunjuk Tekni ini merupakan acuan petugas dalam melaksanakan Layanan Rehidrasi Oral Aktif. Dengan adanya petunjuk teknis ini diharapkan petugas dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatanh kabupaten/kota, dan puskesmas mampu melakukan manajemen dan melaksanakan kegiatan Layanan Rehidrasi Oral sesuai dengan ketentuan, sekaligus meningkatkan pengetahuan, serta membangun sikap dan perilaku positif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan diare.
Kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam Penyusunan Petunjuk Teknis Layanan Rehidrasi Oral ini, semoga Allah SWT meridhoi usaha kita semua dalam pengendalian diare di Indonesia.
Jakarta, Juli 2015
Direktur Jenderal PP dan PL,
TIM PENYUSUN
Pengarah : dr. Sigit Priohutomo, MPH (Direktur PPML, Ditjen
PP dan PL)
Editor : dr. Toni Wandra, M.Kes, Ph.D
Naning Nugrahini, SKM, MKM
Kontributor : 1. Naning Nugrahini, SKM, MKM (Kasubdit
Diare dan ISP, Direktorat PPML)
2. Eli Winardi, SKM, MKM (Kasi Standarisasi, Subdit Diare dan ISP)
3. dr. Yullita Evarini Y, MARS (Kasi Bimbingan dan Evaluasi, Subdit Diare dan ISP)
4. Dr. dr. Badriul Hegar, SPA (K), FK UI - RSCM 5. dr. Laila Mahmudah (Subdit Bina
Kelangsungan Hidup Anak Balita dan Pra Sekolah)
6. dr. Yunita Rina Sari (Subdit Bina Kelangsungan Hidup Bayi)
7. dr. Zakiah Dianah (Subdit Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar)
8. Reniwita Sinaga, AMK (Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih)
9. Yunas Tarama (Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih)
10. dr. Toni Wandra, M.Kes, Ph.D (Ketua Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Direktorat Pascasarjana, Universitas Sari Mutiara Indonesia)
11. Ananta Rahayu, SKM, MKM (Subdit Diare dan ISP)
13. Lasmaria Marpaung, SKM (Subdit Diare dan ISP)
14. Muh Purwanto, SKM, MKM (Subdit Diare dan ISP)
15. dr. Nurindah Sri Lestari (Subdit Diare dan ISP)
16. dr. Pratono (Subdit Diare dan ISP)
17. Retno Trisari, SKM (Subdit Diare dan ISP) 18. dr. Sondang Maryutka Sirait, Sp.PK (BBLK
Jakarta)
19. Windy Oktavina, SKM, M.Kes (Subdit Diare dan ISP)
20. Yulistin Ismayati, SKM (Subdit Diare dan ISP) 21. Yusmariami, SKM (Subdit Diare dan ISP)
Sekretariat : Arman Zubair, SAP
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ……… i
Tim Penyusun ……….. iii
Daftar Isi ……… v
BAB I. PENDAHULUAN……….. 1
A. Latar Belakang ……….. 1
B. Tujuan ………. 3
C. Sasaran ……….. 3
D. Dasar Hukum ………. 3
BAB II. PENANGANAN DIARE……… 5
A. Klasifikasi Diare ………. 5
B. Prinsip Penanganan Diare pada Anak ……….. 9
C. Prosedur Penanganan Diare ……….. 13
D. Rujukan Diare ……… 17
E. Perencanaan Obat Program ………... 18
BAB III. LAYANAN REHIDRASI ORAL AKTIF……… 21
A. Pengertian Layanan Rehidrasi Oral Aktif …………. 21
B. Kebijakan Layanan Rehidrasi Oral Aktif ……… 21
C. Strategi Layanan Rehidrasi Oral Aktif ……… 21
D. Fungsi Layanan Rehidrasi Oral Aktif ………. 22
E. Sarana dan Prasarana Layanan Rehidrasi Oral Aktif 22 F. Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif ………. 24
G. Pencatatan dan Pelaporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif……….. 26
H. Evaluasi Layanan Rehidrasi Oral Aktif ………. 28
DAFTAR PUSTAKA……… 29
LAMPIRAN Contoh Tanya Jawab Seputar Rehidrasi Oral ……… 30
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sampai dengan saat ini, Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia khususnya pada bayi dan balita. Menurut WHO dan UNICEF, setiap tahunnya terjadi sekitar 2 milyar kasus diare di dunia, dan sekitar 1,9 juta anak balita diantaranya meninggal. Sebagian besar kasus diare terjadi di negara berkembang. Dari semua kematian anak balita karena diare, 78% terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Indonesia, diare merupakan penyebab nomor satu (proporsi) kematian bayi (31,4%) dan kematian balita (25,2%) serta penyebab kematian nomor 4 (13,2%) pada semua umur dalam kelompok penyakit menular (Riskesdas 2007).
Pada tahun 2013, period prevalen diare untuk seluruh kelompok
umur di Indonesia sebesar 7.0%. Lima provinsi dengan period prevalen dan insiden diare tertinggi, yaitu Papua (14,7% dan 6,3%), Nusa Tenggara Timur (10,9% dan 4,3%), Sulawesi Selatan (10,2% dan 5,2%), Sulawesi Barat (10,1% dan 4,7%), dan Sulawesi Tengah (8,8% dan 4,4%). Semakin rendah kuartil indeks kepemilikan, semakin tinggi proporsi diare pada penduduk. Petani/nelayan/buruh mempunyai proporsi tertinggi (7,1%), jenis kelamin dan tempat tinggal menunjukkan proporsi yang tidak jauh berbeda.
Berdasarkan laporan Ditjen PP dan PL, Kemenkes RI tahun
2014, angka kematian diare (Case Fatality Rate=CFR) diare
pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB) tahun 2013 sebesar 1,11%,
dan tahun 2014 sebesar 1,14%. Case Fatality Rate ini masih di
atas target nasional yang telah ditetapkan (<1%). Tingginya angka kematian diare ini menunjukkan bahwa Sistem Kewaspadaan Dini KLB (SKD-KLB) belum terlaksana dengan baik.
Tingginya angka kematian diare merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian semua pihak. Teknologi sederhana dan tepat guna dalam penanggulangan diare, yaitu dengan pemberian cairan (rehidrasi) dan tablet zinc pada balita sangat diperlukan dalam menurunkan angka kematian. Pada tahun 2014, WHO-UNICEF merekomendasikan bahwa pemberian oralit dan tablet zinc, pemberian ASI dan makanan serta antibiotika selektif merupakan bagian utama dari manajemen diare.
Penyediaan fasilitas “Pojok Oralit” di puskesmas merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian diare, dan sarana bagi petugas kesehatan dalam melakukan kegiatan konseling atau Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) untuk meningkatkan pengetahuan, serta membangun sikap dan perilaku positif masyarakat untuk berperan aktif dalam penanggulangan diare pada bayi dan balita.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya upaya peningkatan layanan rehidrasi oral di fasyankes khususnya puskesmas. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengganti istilah “Pojok Oralit” menjadi “Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA)”. Mengingat LROA juga merupakan salah satu indikator kegiatan pengendalian diare, maka buku ini perlu disusun sebagai petunjuk teknis dalam pelaksanaan LROA di Indonesia. Indikator pengendalian diare di Indonesia adalah sebesar 90% kabupaten/kota yang mempunyai layanan rehidrasi oral aktif pada tahun 2019.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Terlaksananya kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif di Puskesmas sesuai dengan ketentuan.
2. Tujuan khusus
a. Penanggung jawab/pengelola program/kegiatan pengendalian diare di dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota mampu melakukan manajemen dan meningkatkan jumlah LROA di Puskesmas minimal sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
b. Petugas puskesmas mampu melaksanakan kegiatan LROA di puskesmas sesuai dengan ketentuan (petunjuk teknis).
C. Sasaran
Penanggung jawab/pengelola program/kegiatan pengendalian diare di dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/kota, dan petugas puskesmas.
D. Dasar Hukum
1. UU. No.4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular
2. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
3. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
4. Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
5. Permenkes No. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB).
6. Permenkes No. 741/Menkes/per.VII/2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kab/Kota.
7. Kepmenkes No. 828/Menkes.SK/IX/2008 tentang Petunjuk
Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kab/Kota.
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2014 tentang
Penanggulangan Penyakit Menular (Berita Negara Republik Indonesia tahun 2010 Nomor 1755)
9. Kepmenkes No. HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang
BAB II
PENANGANAN DIARE
A. Klasifikasi Diare
1. Diare akut
Buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) perhari dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 7 hari.
a. Etiologi
Secara klinis penyebab diare akut dibagi dalam 4 kelompok yaitu infeksi, malabsorbsi, keracunan makanan, dan diare terkait penggunaan antibiotika. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, fungi, parasit (protozoa, cacing). Dari berbagai penyebab tersebut, yang sering ditemukan adalah diare yang disebabkan oleh infeksi virus (Bagan 1).
b. Patofisiologi
1) Diare sekretorik
Disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus yang terjadi akibat gangguan absorpsi natrium oleh vilus saluran cerna, sedangkan sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini menyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair.
Diare sekretorik ditemukan pada diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri akibat rangsangan pada mukosa usus oleh toksin, misalnya toksin
Escherichia coliatau Vibrio cholerae01. 2) Diare osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus dan cairan intrasel. Oleh karena itu, bila di lumen usus terdapat bahan yang secara osmotik aktif dan sulit diserap akan menyebabkan diare.
2. Diare bermasalah
Diare bermasalah terdiri dari disentri, diare berkepanjangan (prolonged diarrhea), diare persisten/kronik, diare dengan gizi buruk (malnutrisi), dan diare dengan penyakit penyerta.
a. Disentri
1) Batasan
Diare berdarah tidak selalu disentri, tidak selalu karena
infeksi, bisa alergi pada bayi, IBD (Inflammatory Bowel
2) Etiologi dan Epidemiologi
Di Indonesia penyebab Disentri adalah Shigella sp,
Salmonella sp, Campylobacter jejuni, E.coli, dan
Entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya
disebakan oleh Shigella dysentriae, Shigella flexneri,
SalmonelladanEntero Invasive E.Coli(EIEC). 3) Patogenesis
Faktor risiko kejadian beratnya disentri antara lain gizi kurang, usia sangat muda, tidak mendapat ASI, menderita campak dalam 6 bulan terakhir, mengalami dehidrasi, serta penyebab disentrinya, misalnya
Shigella sp yang menghasilkan toksin dan/atau
multiple drug resistent.
Pemberian spasmolitik memperbesar kemungkinan terjadinya megakolon toksik. Pemberian antibiotika pada disentri yang disebabkan oleh kuman yang telah
resisten terhadap antibiotika akan memperberat
manifestasi klinis dan memperlambat sekresi kuman dalam feses penderita.
4) Gambaran klinis
diare cair akut. Komplikasi disentri dapat terjadi lokal di saluran cerna, maupun sistemik.
b. Kolera
Gejala/tanda kolera, yaitu diare terus menerus, tinja cair seperti air cucian beras, tanpa sakit perut, disertai mual dan muntah pada awal penyakit.
Seseorang dicurigai kolera apabila:
1) Berumur >5 tahun menjadi dehidrasi berat karena
diare akut secara tiba-tiba (biasanya disertai mual dan muntah), tinjanya cair seperti air cucian beras, tanpa rasa sakit perut/mulas.
2) Diare akut pada umur >2 tahun di daerah yang
terjangkit KLB kolera.
Diagnosis kolera ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium.
c. Diare berkepanjangan (prolonged diarrhea)
Diare yang berlangsung lebih dari 7 hari dan kurang dari 14 hari. Penyebab berbeda dengan diare akut. Pada keadaan ini kita tidak lagi memikirkan infeksi virus melainkan infeksi bakteri, parasit, malabsorpsi, dan beberapa penyebab lain dari diare persisten.
d. Diare persisten/diare kronik
1) Batasan
Diare persisten atau diare kronik adalah diare dengan atau tanpa disertai darah, dan berlangsung selama 14 hari atau lebih. Bila sudah terbukti disebabkan oleh infeksi disebut sebagai diare persisten.
2) Etiologi
e. Diare dengan gizi buruk
Gizi buruk yang dimaksud adalah gizi buruk tipe marasmus atau kwarsiorkor, yang secara nyata mempengaruhi perjalanan penyakit dan tatalaksana (penanganan) diare yang muncul. Diare yang terjadi pada gizi buruk cenderung lebih berat, lebih lama dan dengan angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan diare pada anak dengan gizi baik. Walaupun pada dasarnya penanganan diare pada gizi buruk sama dengan pada anak dengan status gizi baik, tetapi ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.
f. Diare dengan penyakit penyerta
Anak yang menderita diare (diare akut atau diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain. Penanganan pada penderita selain berdasarkan acuan baku penanganan diare juga tergantung dari penyakit yang menyertai.
Penyakit yang sering terjadi bersamaan dengan diare:
Infeksi saluran pernapasan (bronkhopneumonia,
bronkhiolitis, dan lain-lain)
Infeksi sistem saraf pusat (meningitis, ensefalitis, dan
lain-lain)
Infeksi saluran kemih
Infeksi sistem lain (sepsis, campak, dan lain-lain)
Kurang gizi (gizi buruk, kurang vitamin A, dan lain-lain)
B. Prinsip Penanganan Diare pada Anak
Prinsip penanganan diare pada anak adalah Lintas Diare (Lima
Langkah Tuntaskan Diare), yaitu: Langkah 1. Pemberian oralit
1. Pemberian oralit osmolaritas rendah
Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan oralit. Bila tidak tersedia, berikan lebih banyak cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, kuah sup, sari buah, air teh, dan air matang.
Jenis cairan yang digunakan tergantung pada:
Kebiasaan masyarakat setempat dalam mengobati diare
Tersedianya cairan/sari makanan yang cocok
Jangkauan pelayanan kesehatan
Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak), penderita harus segera dibawa ke petugas/fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pengobatan rehidrasi yang cepat dan tepat.
2. Zinc
Di negara berkembang, umumnya anak sudah mengalami defisiensi Zinc. Bila anak diare, akan kehilangan zinc bersama tinja, menyebabkan defisiensi menjadi lebih berat.
Cara Menyiapkan Oralit:
Cuci tangan sebelum menyiapkan.
Lihat kemasan dan masa berlaku oralit.
Siapkan 1 gelas (200 cc) air matang.
Gunting ujung pembungkus oralit.
Masukkan seluruh isi oralit kedalam gelas yang berisi air
tersebut
Aduk hingga bubuk oralit larut.
Siap untuk diminum.
Cara Memberikan Oralit:
Anak umur <1 tahun diberikan 50-100 cc cairan oralit setiap
kali buang air besar (BAB).
Anak umur >1 tahun diberikan 100-200 cc cairan oralit setiap
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Lebih dari 300 macam enzim dalam tubuh memerlukan zinc sebagai ko-faktornya, termasuk enzim
superoksida dismutase.
Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, dan menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa zinc mempunyai efek protektif terhadap diare dan menurunkan kekambuhan diare sebanyak 11%. Berdasarkan hasil salah satu pilot studi menunjukkan bahwa zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67%. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, maka semua anak dengan diare diberikan zinc segera mungkin.
3. Pemberian ASI/Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat
Cara Memberikan Zinc:
Pastikan semua anak yang diare mendapatkan obat zinc
selama 10 hari berturut-turut.
Dosis obat zinc (1 tablet=20mg)
- Umur <6 bulan, diberikan 10mg (½ tablet) zinc per hari.
- Umur >6 bulan, diberikan 20 mg (1 tablet) zinc per hari.
Larutkan tablet dalam satu sendok air matang atau ASI
(tablet mudah larut, ± 30 detik) segera berikan kepada anak.
Bila anak muntah ±10 menit setelah pemberian obat zinc,
ulangi pemberian dengan cara memberikan potongan lebih kecil yang dilarutkan beberapa kali hingga satu dosis penuh.
Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan
diberi ASI. Anak yang minum susu formula diberikan lebih sering daripada biasanya.
Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapat makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit demi sedikit tetapi sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan anak.
4. Pemberian antibiotik hanya atas indikasi
Antibiotik tidak boleh digunakan secara rutin, karena kecilnya kejadian diare yang memerlukannya (8,4%). Antibiotik hanya bermanfaat pada anak dengan diare
berdarah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera,
dan infeksi-infeksi di luar saluran pencernaan yang berat,
seperti pneumonia. Obat-obatan “anti-diare” tidak boleh
diberikan pada anak yang menderita diare, karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak dianjurkan kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak. Obat anti-protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba, giardia).
5. Pemberian nasehat
Ibu atau keluarga yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasihat tentang:
a. Cairan (oralit) dan obat zinc di rumah.
b. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan:
Diare lebih sering
Muntah berulang
Sangat haus
Makan atau minum sedikit
3) Prosedur Penanganan Diare
1. Menilai derajat dehidrasi (Tabel)
Catatan: Hati-hati dalam mengartikan cubitan kulit, karena: 1) Pada penderita yang gizinya buruk, kulitnya mungkin saja kembali dengan lambat walaupun tidak dehidrasi; dan 2) Pada penderita yang obesitas (terlalu gemuk), kulitnya mungkin saja kembali dengan cepat walaupun penderita mengalami dehidrasi.
2. Menentukan rencana pengobatan
a. Rencana Terapi (pengobatan) A untuk penderita diare
tanpa dehidrasidi rumah.
b. Rencana Terapi B untuk penderita diare dengan dehidrasi
ringan/sedang (tidak berat) di fasyankes untuk diberikan
pengobatan dan pemantauan selama 3 jam.
c. Rencana Terapi C untuk penderita diare dengandehidrasi
berat di fasyankes untuk pemberian cairan rehidrasi Intra
TABEL PENILAIAN DERAJAT DEHIDRASI
PENILAIAN
1. Lihat Keadaan Umum Mata
Rasa Haus (beri air minum)
2. Raba/Periksa Turgor Kulit
3. Tentukan Derajat Dehidrasi
4. Rencana Pengobatan
Baik, Sadar Normal
Minum Biasa, Tidak Haus
Kembali Cepat
Haus, Ingin Minum Banyak
Kembali Lambat
Dehidrasi Ringan - Sedang (Dehidrasi Tidak Berat)
Rencana Terapi B
Lesu, Lunglai atau Tidak Sadar Cekung
Malas Minum atau Tidak Bisa Minum
Kembali Sangat Lambat (lebih dari 2 detik)
Dehidrasi Berat
10
RENCANA TERAPI A
UNTUK TERAPI DIARE TANPA DEHIDRASI
MENERANGKAN 5 LANGKAH TERAPI DIARE DIRUMAH
1. BERI CAIRAN LEBIH BANYAK DARI BIASANYA
Teruskan ASI lebih sering dan lebih lama.
Anak yang mendapat ASI eksklusif, beri oralit atau air matang sebagai tambahan.
Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri susu yang biasa diminumkan dan oralit atau cairan rumah tangga sebagai tambahan (kuah sayur, air tajin, air matang dsb).
Beri oralit sampai diare berhenti. Bila muntah, tunggu 10 menit dan dilanjutkan sedikit demi sedikit.
Untuk mencegah dehidrasi, beri cairan rehidrasi oral (ORALIT) sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap BAB cair.
Anak harus diberi 6 bungkus oralit (200 ml) di rumah bila : - Telah diobati dengan Rencana Terapi B atau C.
- Tidak dapat kembali kepada petugas kesehatan jika diare memburuk. Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit.
2. BERI OBAT ZINC
Beri Zinc 10 hari berturut-turut walaupun diare sudah berhenti.
Dapat diberikan dengan cara dikunyah atau dilarutkan dalam 1 sendok air matang atau ASI. - Umur < 6 bulan diberi 10 mg (½tablet) per hari.
- Umur > 6 bulan diberi 20 mg (1 tablet) per hari.
3. BERI ANAK MAKAN UNTUK MENCEGAH KURANG GIZI Beri makan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat. Tambahkan 1-2 sendok teh minyak sayur setiap porsi makan.
Beri makanan kaya Kalium seperti sari buah segar, pisang, air kelapa hijau. Beri makan lebih sering dari biasanya dengan porsi lebih kecil (setiap 3-4 jam).
Setelah diare berhenti, beri makanan yang sama dan makanan tambahan selama 2 minggu.
4. ANTIBIOTIK HANYA DIBERIKAN SESUAI INDIKASI (MISAL: DISENTERI, KOLERA dll)
5. NASIHAT IBU / PENGASUH
Untuk membawa anak kembali ke petugas kesehatan bila : Berak cair lebih sering.
Muntah berulang. Sangat haus.
Makan dan minum sangat sedikit. Timbul demam.
Berak berdarah.
Tidak membaik dalam 3 hari.
11
RENCANA TERAPI B
UNTUK TERAPI DIARE DEHIDRASI RINGAN – SEDANG (DEHIDRASI TIDAK BERAT)
JUMLAH ORALIT YANG DIBERIKAN 4 JAM PERTAMA DI SARANA KESEHATAN
ORALIT Yang Diberikan 75 ml x BERAT BADAN anak
Bila BB tidak diketahui, berikan oralit sesuai tabel di bawah ini : UMUR Sampai 4
Bila anak menginginkan lebih banyak oralit berikanlah. Bujuk ibu untuk meneruskan ASI.
Untuk bayi < 6 bulan yang tidak mendapatkan ASI berikan juga 100 – 200 ml air masak selama masa ini. Untuk anak > 6 bulan, tunda pemberian makan selama 4 jam kecuali ASI dan oralit.
Beri obat Zinc selama 10 hari berturut-turut.
AMATI ANAK DENGAN SEKSAMA DAN BANTU IBU MEMBERIKAN ORALIT Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan.
Berikan sedikit demi sedikit tapi sering dari gelas.
Bila kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian oralit dan berikan air masak atau ASI. Beri oralit sesuai Rencana Terapi A bila pembekakan telah hilang.
SETELAH 3-4 JAM, NILAI KEMBALI ANAK MENGGUNAKAN BAGAN PENILAIAN KEMUDIAN PILIH RENCANA TERAPI A, B ATAU C UNTUK MELANJUTKAN
TERAPI Bila tidak ada dehidrasi, ganti ke Rencana Terapi A.
Bila dehidrasi telah hilang, anak biasanya kencing kemudian mengantuk dan tidur.
Bila tanda menunjukkan Dehidrasi Ringan – Sedang (Dehidrasi Tidak Berat), ulangi Rencana Terapi B. Anak mulai diberi makanan, susu dan sari buah.
Bila tanda menunjukkan Dehidrasi Berat, ganti dengan Rencana Terapi C
BILA IBU HARUS PULANG SEBELUM SELESAI RENCANA TERAPI B
Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di rumah. Berikan Oralit 6 bungkus untuk persediaan di rumah.
Jelaskan 5 langkah Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah.
12 RENCANA TERAPI C
UNTUK TERAPI DIARE DEHIDRASI BERAT DI SARANA KESEHATAN
Ikuti arah anak panah.
Bila jawaban dari pertanyaan YAteruskan ke KANAN, bila TIDAKteruskan ke BAWAH
Beri cairan Intravena segera. Ringer Laktat atau NaCl 0,9% (bila RL tidak tersedia) 100 ml/kg, dibagi sebagai berikut:
UMUR PEMBERIAN
PERTAMA
KEMUDIAN
Bayi < 1 tahun 1 jam * 5 jam
Anak > 1 tahun 30 menit * 2 ½ jam
*Diulangi lagi bila denyut nadi masih lemah atau tidak teraba.
Nilai kembali tiap 15 – 30 menit. Bila nadi belum teraba, beri tetesan lebih cepat. Juga beri oralit (5 ml/kg/jam) bila penderita bisa minum; biasanya setelah 3 – 4
jam (bayi) atau 1 – 2 jam (anak).
Berikan obat Zinc selama 10 hari berturut-turut.
Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi derajat dehidrasi.
Kemudian pilihlah Rencana Terapi yang sesuai (A, B atau C) untuk melanjutkan terapi.
▪Rujuk penderita untuk terapi Intravena.
Bila penderita bisa minum, sediakan oralit dan tunjukkan cara memberikannya selama di perjalanan.
▪Mulai rehidrasi dengan oralit melalui Nasogastrik/Orogastrik. Berikan sedikit demi sedikit, 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam.
Nilai setiap 1 – 2 jam :
- Bila muntah atau perut kembung berikan cairan lebih lambat.
- Bila rehidrasi tidak tercapai setelah 3 jam rujuk untuk terapi Intravena. Setelah 6 jam nilai kembali dan pilih Rencana Terapi yang sesuai (A, B atau C).
▪Mulai rehidrasi dengan oralit melalui mulut. Berikan sedikit demi sedikit, 20 ml/kg BB/jam selama 6 jam.
Nilai setiap 1 – 2 jam :
- Bila muntah atau perut kembung berikan cairan lebih lambat.
- Bila rehidrasi tidak tercapai setelah 3 jam rujuk untuk terapi Intravena. Setelah 6 jam nilai kembali dan pilih Rencana Terapi yang sesuai.
Catatan :
▪Bila mungkin amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan bahwa ibu dapat menjaga mengembalikan cairan yang hilang dengan memberi oralit.
Bila umur anak diatas 2 tahun dan kolera baru saja berjangkit di daerah Saudara, pikirkan kemungkinan kolera dan beri antibiotika yang tepat secara oral begitu anak sadar.
Adakah terapi ter dekat (dalam 30 menit)?
YA
Apakah Saudara dapat menggunakan pipa Nasogastrik / Orogastrik untuk
4) Rujukan Diare
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik, baik vertikal maupun horizontal (Permenkes No. 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan).
Mekanisme rujukan pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas maka tenaga kesehatan harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui. Sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk. Yang perlu diperhatikan dalam merujuk:
1. Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai kewenangan terdekat, termasuk fasilitas pelayanan swasta dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.
2. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarganya perlu diberikan informasi tentang perlunya penderita segera dirujuk mendapatkan pertolongan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
3. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju melalui telepon atau radio komunikasi pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
4. Persiapan penderita
Sebelum dikirim keadaan umum penderita harus diperbaiki terlebih dahulu. Keadaan umum ini perlu dipertahankan selama dalam perjalanan, Surat rujukan harus dipersiapkan sesuai dengan format rujukan dan seorang tenaga kesehatan harus mendampingi penderita dalam perjalanan sampai ke tempat rujukan.
mengangkut penderita. Untuk penderita yang telah dikembalikan dan memerlukan tindak lanjut, dilakukan tindakan sesuai dengan saran yang diberikan. Bagi penderita yang memerlukan tindak lanjut tapi tidak melapor, maka dilakukan kunjungan rumah.
Pada diare, rujukan dilakukan pada:
1. Dehidrasi ringan, tetapi muntah yang sering dengan mengeluarkan yang ada di dalam perut.
2. Diare akut dengan dehidrasi berat.
3. Disentri dengan faktor risiko menjadi berat merupakan indikasi rawat inap antara lain dengan gangguan gizi berat, umur kurang dari satu tahun, menderita campak pada enam bulan terakhir, disentri disertai dehidrasi berat dan disentri dengan komplikasi.
4. Diare persisten pada bayi muda yang berumur kurang dari 2 bulan, mengalami dehidrasi, menderita infeksi berat, penderita diperkirakan tidak akan dapat mengkonsumsi makanan sesuai dengan jenis, bentuk dan jumlah yang direkomendasikan. 5. Diare bermasalah lainnya seperti diare dengan gizi buruk, dan
diare dengan penyakit penyerta.
5) Perencanaan Obat Program
1. Oralit
Perhitungan oralit:
2.
Obat zinc
Perhitungan obat zi
Kebutuhan Oralit:
Target penemuan penderita diare x 6 bungkus + cadangan*) - stok
*)Cadangan = 10% x target penemuan
penderita x 6 bungkus.
Target penemuan penderita diare = 10 % x angka kesakitan**) x jumlah
penduduk
*) Angka Kesakitan Diare dapat berubah sesuai hasil terakhir
**) Angka kesakitan diare diperoleh dari hasil kajian morbiditas diare nasional (2012) = 214/1000 penduduk.
Stok: sisa obat akhir tahun
Kebutuhan Obat Zinc:
Target penemuan penderita diare Balita x 10 tablet + cadangan*) - stok
*)Cadangan = 10% x target
penemuan penderita x 10 tablet.
Target penemuan penderita diare Balita = 20 % x angka kesakitan Balita**) x jumlah penduduk
**)angka kesakitan diare Balita diperoleh dari
hasil kajian morbiditas diare nasional
Contoh
Perhitungan Kebutuhan Oralit:
Penduduk Kabupaten A = 300.000
jiwa
Angka kesakitan diare tahun 2012
= *214/1000 penduduk
Target penemuan penderita diare
= 10% x 214/1000 x 300.000 = 6.420 penderita diare
Misal diketahui sisa oralit (akhir tahun 2012) = 10.000 bungkus
Maka Usulan Kebutuhan Oralit: 6.420 x 6 bungkus + 10% (6.420 x 6)-10.000 bungkus
= 38.520 + 3.852-10.000 bungkus = 32.372 bungkus
= 323,7 kotak = 324 kotak (1 kotak = 100 bungkus).
Contoh
Perhitungan Kebutuhan Zinc: Penduduk Kabupaten A = 300.000
jiwa
Perkiraan jumlah Balita Kabupaten A=10%x300.000 = 30.000 Balita
Apabila tersedia data jumlah Balita di masing-masing daerah, agar menggunakan data tersebut.
Angka kesakitan diare pada Balita tahun 2012=900/1000
Misalnya di akhir tahun sisa zinc (stok) = 20.000 tablet.
Maka Kebutuhan Zinc:
= 5.400 x 10 tablet + 10% (5.400 x10) - 20.000 tablet
BAB III
LAYANAN REHIDRASI ORAL AKTIF
A. Pengertian Layanan Rehidrasi Oral Aktif
Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) merupakan salah satu bentuk layanan di puskesmas yang didirikan sebagai upaya dalam meningkatkan pengetahuan, serta membangun sikap dan perilaku positif masyarakat (orang tua, pengasuh anak, kader, anggota PKK, karang taruna, dan lain-lain) tentang diare, pecegahan dan penanggulangannya. Sedangkan Aktif, yaitu aktif memberikan layanan kepada orang tua/pengasuh Balita yang berkunjung ke puskesmas.
Definisi operasional LROA adalah salah satu ruangan (tempat) di puskesmas yang melakukan paling tidak dua dari beberapa kegiatan Layanan Rehidrasi Oral (LRO) secara terus menerus 3 bulan terakhir dalam periode pelaporan tahun berjalan, yang dibuktikan dengan adanya data/laporan hasil pelaksanaan kegiatan.
B. Kebijakan Layanan Rehidrasi Oral Aktif
Kebijakan Layanan Rehidrasi Oral Aktif dalam tatalaksana Diare:
1. Layanan Rehidrasi Oral Aktif merupakan salah satu indikator kinerja pengendalian diare di kabupaten/kota.
2. Layanan Rehidrasi Oral Aktif di laksanakan di puskesmas sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan diare.
3. Layanan Rehidrasi Oral Aktif dilakukan dengan cara observasi penderita diare.
C. Strategi Layanan Rehidrasi Oral Aktif
2. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan potensi dan peran serta masyarakat dalam penyebarluasan informasi kepada masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan diare.
3. Meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dalam melaksanakan Layanan Rehidrasi Oral Aktif.
4. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui peningkatan sumber daya manusia, penguatan institusi, dan standarisasi pelayanan.
D. Fungsi Layanan Rehidrasi Oral Aktif
Layanan Rehidrasi Oral Aktif berfungsi:
1. Peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat
tentang diare, dan upaya pencegahan dan penanggulangannya.
2. Promosi upaya rehidrasi oral dan pemberian zinc
3. Pemberian pelayanan bagi penderita diare (yang mengalami
dehidrasi ringan- sedang), diobservasi di Layanan Rehidrasi Oral Aktif paling sedikit selama 3 jam; orang tua/pengasuh/keluarganya akan diajarkan bagaimana cara penyiapan oralit dan berapa banyak oralit yang harus diminum oleh penderita.
4. Sosialisasi dan peningkatan kapasitas masyarakat tentang
diare dan upaya pencegahan dan penanggulangannya.
E. Sarana dan Prasarana Layanan Rehidrasi Oral Aktif
1. Sarana pendukung
a. Tenaga pelaksana: dokter atau paramedis terlatih b. Prasarana :
1. Tempat pendaftaran 2. Ruangan
sarana penyuluhan lainnya tentang diare dan penanganannya (tatalaksana).
3. Lokasi
Pilihan lokasi LRO:
a) Dekat ruang tunggu, ruang periksa, serambi/lobby
yang tidak terlalu berdesakan dengan pengunjung puskesmas
b) Dekat dengan toilet/kamar mandi
c) Nyaman dan mempunyai ventilasi yang baik
d) Di ruangan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) atau lainnya sesuai kondisi puskesmas.
4. Desain Desain LRO:
a) Sebuah meja untuk menyiapkan larutan oralit.
b) Kursi atau bangku dengan sandaran, sehingga
ibu/pengasuh dapat duduk dengan nyaman saat memangku anaknya.
c) Sebuah meja kecil dimana ibu/pengasuh dapat
menempatkan gelas yang berisi larutan oralit.
d) Oralit paling sedikit 1 kotak (100 bungkus).
e) Gelas ukur
f) Gelas.
g) Sendok.
h) Lembar balik yang dapat digunakan sebagai
sarana penyuluhan, untuk menjelaskan kepada ibu/pengasuh bagaimana mengenali/mencegah dan menanggulangi anak dengan diare.
i) Leafletuntuk dibawa pulang ke rumah.
j) Selain itu, LRO sangat bermanfaat bagi
imunisasi dan gizi, sehingga poster dan media KIE lainnya juga diperlukan di LROA.
F. Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif
1. Manajemen Layanan Rehidrasi Oral Aktif
Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA), mencakup:
1) Advokasi dan sosialisasi kepada pemangku kepentingan dan organisasi terkait dalam masyarakat; 2) Penyuluhan (KIE) tentang LROA kepada masyarakat; 3) Pelatihan petugas kesehatan dan kader; 4) Penyusunan petunjuk teknis LROA; 5) Pengadaan logistik LROA; dan 6) Monitoring dan evaluasi secara berkala dan berkesinambungan.
2. Pelaksanaan kegiatan LROA di puskesmas
Di puskesmas, kegiatan sosialisasi dan KIE LROA dapat diintegrasikan dengan program/kegiatan lain, seperti MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). MTBS adalah suatu manajemen untuk balita yang datang di pelayanan kesehatan, dilaksanakan secara terpadu mengenai klasifikasi, status gizi, status imun maupun penanganan dan konseling yang diberikan. MTBS juga merupakan program pemerintah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian balita.
Petugas yang melakukan sosialisasi/penyuluhan adalah dokter atau petugas kesehatan terlatih. Di Puskesmas sosialisasi/penyuluhan dapat dilaksanakan bersama-sama dengan petugas kesehatan lainnya seperti bidan dan petugas kesehatan lingkungan.
Penyuluhan (KIE) LROA, mencakup:
Tentang diare, pencegahan dan penanggulangannya,
perilaku hidup bersih dan sehat, air yang memenuhi syarat kesehatan, jamban sehat, dan rumah sehat.
Memberikan demonstrasi tentang bagaimana mencampur
larutan oralit dan bagaimana cara memberikannya.
Memberikan demonstrasi dan menjelaskan tentang pemberian zinc dan cara mengatasi kesulitan
Memberikan dorongan pada ibu untuk memulai
memberikan makanan pada anak atau ASI pada bayi (puskesmas perlu memberikan makanan pada anak yang tinggal sementara di fasilitas pelayanan).
Mengajari ibu/pengasuh tentang bagaimana melanjutkan
pengobatan selama anaknya di rumah dan menentukan indikasi kapan anaknya dibawa kembali ke fasyankes.
Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan pada
pengunjung puskesmas tentang pencegahan dan penanggulangan diare di rumah, dan kapan harus di bawa ke fasyankes.
Pelayanan penderita
Setelah penderita diperiksa, tentukan diagnosis dan derajat dehidrasi diruang pengobatan, tentukan jumlah cairan yang diberikan dalam 3 jam berikutnya dan bawa ibu/pengasuh ke LROA untuk menunggu selama diobservasi, serta:
Jelaskan manfaat oralit dan zinc, ajari ibu cara
memberikan oralit dan zinc apabila diare, dan cara membuat larutan pengganti oralit apabila tidak mempunyai oralit kemasan.
Amati ibu/pengasuh saat memberikan oralit dan zinc
Pantau penderita secara periodik dan catat keadaannya
(pada catatan klinik penderita diare rawat jalan) setiap 1-2 jam sampai dehidrai pada penderita teratasi (3-6 jam)
Catat/hitung jumlah oralit yang diberikan
Berikan zinc dengan dosis sesuai usia anak
Bila diperlukan berikan obat lainnya, seperti penurun panas
Alur kegiatan LROA sebagaimana terlihat pada Bagan 2.
Bagan 2. Alur Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif
G. Pencatatan dan Pelaporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif
Pencatatan dan pelaporan adalah salah satu indikator keberhasilan suatu kegiatan, tanpa ada pencatatan dan pelaporan kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak akan terlihat wujudnya.
PUSKESMAS
Poli
Umum/MTBS
LROA
-Sosialisasi
-Penyuluhan (KIE)/demo cara
pemberian oralit, zinc dan lain-lain
-Observasi penderita
- Lintas sektor terkait
- Toga
- Toma
Manfaat Pencatatan dan Pelaporan adalah :
1. Memudahkan dalam mengelola informasi kegiatan di tingkat pusat, provinsi,dan kab/kota.
2. Memudahkan dalam memperoleh data untuk perencanaan dalam rangka pengembangan tenaga kesehatan.
3. Memudahkan dalam melakukan pembinaan tenaga kesehatan 4. Memudahkan dalam melakukan evaluasi hasil.
Pencatatan dan pelaporan sebagaimana tecantum dalam Buku Pedoman Manajemen Pengendalian Hepatitis, Diare, dan Infeksi Saluran Pencernaan, meliputi:
1. Puskesmas:
Petugas puskesmas merekap hasil kegiatan LROA, kemudian mengirim laporan tersebut ke dinas kesehatan kabupaten/kota setempat setiap bulan :
a. Form 13A Register Harian Kunjungan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA).
b. Form 13B Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA). c. Form 13F Rekapitulasi Kasus Diare Di Puskesmas.
2. Kabupaten/kota
Dinas kesehatan kabupaten/kota merekap hasil laporan puskesmas dan mengirimkan laporan LROA dan diare ke dinas kesehatan provinsi setiap triwulan menggunakan Form 13C Rekapitulasi Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) Per Puskesmas dan 13G Rekapitulasi Kasus Diare di Kabupaten.
3. Provinsi
4. Nasional
Subdit Diare dan ISP, Direktorat PPML merekap laporan LROA dari dinas kesehatan provinsi menggunakan Form 13F Rekapitulasi Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) dan 13 I Rekapitulasi Kasus Diare setiap triwulan. Mengirimkan umpan balik laporan ke dinas kesehatan provinsi setiap triwulan.
H. Evaluasi Layanan Rehidrasi Oral Aktif
Evaluasi LROA bertujuan untuk mengetahui pencapaian tujuan program yang telah dilaksanakan. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan tindak lanjut atau untuk melakukan pengambilan keputusan berikutnya.
Dalam evaluasi, indikator merupakan petunjuk untuk mengetahui keberhasilan atau ketidakberhasilan suatu kegiatan. Indikator yang digunakan adalah (Tabel) di bawah ini:
Tabel. Indikator Kegiatan LROA
Indikator
2015
2016
2017
2018
2019
Kabupaten/Kota
dengan Layanan
Rehidrasi Oral Aktif
20 %
40 %
70 %
90 %
90 %
Cara perhitungan capaian Indikator:
Jumlah LROA di Puskesmas di kabupaten/kota (dalam 1 tahun)
--- X100% Jumlah puskesmas di kabupaten/kota (dalam 1 tahun)
Pembilang: Jumlah LROA di puskesmas di suatu kabupaten/kota
dalam 1 tahun
Penyebut: Jumlah puskesmas di kabupaten/kota dalam 1 tahun
terakhir.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta 2010.
Kementerian Kesehatan RI. Kajian Morbiditas Diare tahun 2012. Jakarta (Indonesia). 2012.
Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman Tatalaksana Diare Tahun 2014. Jakarta 2014.
Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal PP dan PL. Rencana Aksi Kegiatan Pengendalian Diare Tahun 2015-2019. Jakarta 2014.
Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal PP dan PL. Pedoman Manajemen Pengendalian Hepatitis, Diare, dan Infeksi Saluran Pencernaan. Kemeterian Kesehatan RI. Jakarta 2014.
Lampiran
CONTOH TANYA JAWAB SEPUTAR REHIDRASI ORAL
1. Apa itu oralit?
Oralit merupakan campuran garam elektrolit, terdiri dari Natrium Chlorida (NaCl), Kalium Chlorida, Trisodium Citrat Hidrat, dan Glucose Anhidrat.
2. Apa manfaat oralit?
Oralit yang diberikan pada penderita diare bermanfaat untuk mengganti cairan tubuh yang hilang pada saat diare (mencegah dehidrasi) disamping itu oralit juga bermanfaat untuk :
a. Mengurangi volume tinja hingga 25% b. Mengurangi mual muntah hingga 30%
c. Mengurangi secara bermakna pemberian cairan intravena
3. Kapan oralit perlu diberikan?
Segera bila anak diare sampai diare berhenti
4. Bagaimana cara menyiapkan cairan oralit (Gambar 1)?
a. Cuci tangan sebelum menyiapkan.
b. Lihat kemasan dan masa berlaku oralit.
c. Siapkan 1 gelas (200 cc) air matang.
d. Gunting ujung pembungkus oralit
e. Masukkan seluruh isi oralit kedalam gelas yang berisi air
tersebut.
f. Aduk hingga bubuk oralit.
g. Siap untuk diminum
5. Bagaimana cara memberikan oralit?
a. Anak umur <1 tahun, diberikan 50-100 cc cairan oralit setiap kali Buang Air Besar (BAB).
b. Anak umur >1 tahun, diberikan 100-200 cc cairan oralit setiap kali BAB.
6. Dimana oralit bisa didapatkan?
Di apotik, toko obat, rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, polindes, posyandu/kader kesehatan dan tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya.
7. Apa itu zinc?
Zinc merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak.
8. Apa manfaat zinc pada anak penderita diare?
a. Zinc bermanfaat untuk mengganti zinc yang hilang pada saat diare.
b. Meningkatkan sistim kekebalan tubuh, sehingga dapat
mencegah risiko terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah anak sembuh.
c. Mempercepat durasi/lama diare.
d. Mengurangi frekuensi dan mengurangi volume tinja. e. Mengurangi kegagalan pengobatan.
9. Bagaimana mekanisme kerja zinc?
Zinc mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sistim kekebalan tubuh, lebih dari 300 macam zinc dalam tubuh memerlukan zinc sebagai co-faktornya. Zinc juga menghambat
enzim iNOS (Inducible Nitric Oxide Synthase) dimana eksresi
enzim ini meningkatkan selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi selama diare.
10. Zinc tersedia dalam bentuk sediaan apa?
Zinc yang disiapkan oleh pemerintah (Kementerian Kesehatan
11. Berapa dosis zinc dan bagaimana cara pemberiannya? Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut, dengan dosis : a. Anak umur <6 bulan: 10 mg (1/2 tablet)/hari.
b. Anak umur > 6 bulan: 20 mg (1 tablet)/hari.
Cara pemberian
Untuk yang bentuk tablet dilarutkan dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, untuk anak yang lebih besar tablet zinc dapat dikunyah.
12. Apa yang dilakukan bila anak memuntahkan zinc setelah pemberian?
Bila setelah pemberian zinc (±10 menit) anak muntah, berikan lagi tablet zinc dengan cara memberikan potongan lebih kecil dan diberikan beberapa kali sampai satu dosis penuh.
13. Apakah tablet zinc dapat dilarutkan dalam cairan oralit?
Pada prinsipnya obat zinc dapat dilarutkan dalam cairan oralit, namun yang dikhawatirkan adalah jika oralit tidak diminum habis, maka dosis zinc tidak akan cukup.
14. Apakah obat zinc harus diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti?
Ya, pemberian zinc harus diberikan selama 10 hari, karena sudah terbukti membantu memperbaiki mukosa usus yang rusak saat anak diare dan meningkatkan kekebalan tubuh secara kekebalan tubuh secara keseluruhan.
15. Apakah oralit dan zinc aman dikomsumsi bersamaan?
Ya, zinc aman dikomsumsi bersamaan dengan oralit. Zinc hanya diberikan satu kali sehari sedang oralit diberikan tiap kali anak BAB.
16. Apakah efek samping zinc?
Efek samping zinc sangat jarang dilaporkan, biasanya hanya berupa muntah.
17. Bagaimana bila anak meminum lebih dari satu tablet zinc?
memuntahkannya, sehingga zinc akan terbuang. Dianjurkan untuk menempatkan zinc yang jauh dari jangkauan anak untuk mencegah hal tersebut. Bila dikomsumsi zinc berlebihan dapat menganggu metabolisme tubuh dan bahkan akan mengurangi ketahanan tubuh anak.
18. Apakah anak dengan diare berdarah perlu diberikan zinc?
Ya, zinc tetap diberikan sesuai dosis, jika anak diare berdarah, anak ini juga memerlukan antibiotika.
19. Apakah tanda-tanda dehidrasi?
a. Tanda-tanda dehidrasi ringan hingga sedang:
- Haus
- Bibir kering dan lengket
- Lebih mudah mengantuk dan lelah (kurang aktif dibanding
biasa)
- Berkurangnya frekuensi dan kuantitas buang air kecil
- Untuk bayi tidak buang air lebih dari 3 jam
- Ketika menangis, air mata sedikit atau tidak keluar air mata
sama sekali
- Kulit kering
b. Tanda-tanda dehidrasi berat (segera ke fasyankes/UGD!)
- Sangat haus
- Lemas atau rewel berlebilan
- Warna buang air kecil lebih gelap/pekat dari normal, tidak
buang air kecil dalam jangka waktu lama (untuk bayi >6 jam, dan >12 jam untuk anak yang lebih besar) dengan jumlah sedikit.
- Mata cekung
- Kulit kering dan berkurang elastisitasnya, tidak kembali
ketika ditarik
- Pada bayi, ubun-ubunnya cekung (fontanel)
- Tekanan darah rendah
- Menangis tanpa air mata
- Demam
- Pada kasus yang sangat berat, dapat kehilangan
Petunjuk T
L P Tanpa dehidrasi Ringan/sedang Berat oralit Zinc A B C
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
REGISTER HARIAN KUNJUNGAN LAYANAN REHIDRASI ORAL (LRO)
No Nama Penderita Tanggal mulai Rencana Terapi Ket
sakit
Umur Derajat Dahidrasi
Petunjuk T
eknis Lay
anan R
ehidr
asi Or
al Aktif
36
FORM : 13 B
TRIWULAN :
AKTIF TDK AKTIF LENGKAP TDK LENGKAP
1 2 3 4 5 6 7 8
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Ket :
1 Tulis nomor urut fasyankes ... 2 Tulis jenis fasyankes pemerintah tdd : pustu, poskesdes,puskesmas KEPALA PUSKESMAS... 3Tulis contreng (√) jika LROA menjalankan kegiatan konseling dan
penyuluhan bagi ibu/pengasuhpenderita diare
LAPORAN LAYANAN REHIDRASI ORAL (LRO) DI PUSKESMAS...
KAB/KOTA... PROPINSI………..
KONDISI LRO KELENGKAPAN LOGISTIK LRO
JML KUNJUNGAN LRO KET JENIS FASYANKES
NO
Petunjuk T
REKAPITULASI LAPORAN LAYANAN REHIDRASI ORAL (LRO) PER PUSKESMAS
DI KABUPATEN/KOTA... PROPINSI……… TAHUN...
KELENGKAPAN LOGISTIK LRO
JML KUNJUNGAN LRO KET
JUMLAH LRO
AKTIF % LRO AKTIF
Petunjuk T
KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI...
KELENGKAPAN LOGISTIK LROA JML KUNJUNGAN
LROA KET
REKAPITULASI LAPORAN LAYANAN REHIDRASI ORAL (LRO)
DI KABUPATEN/KOTA... PROPINSI:……….. TAHUN...
NO KABUPATEN JUMLAH LRO JUMLAH LRO
Petunjuk T
REKAPITULASI LAPORAN LAYANAN REHIDRASI ORAL AKTIF (LROA)
NO PROVINSI JUMLAH LRO
JUMLAH LRO