STRATEGI DISPLAY PRODUK KARITA MUSLIM SQUARE DI SURABAYA
SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar
Sarjana Sosial (S. Sos)
Oleh :
AYU MULYANTI PUTRI B74212076
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN DAKWAH
▸ Baca selengkapnya: mengapa display produk diperlukan adanya perawatan
(2)(3)(4)(5)(6)
ABSTRAK
Ayu Mulyanti Putri. 2016. Strategi display Produk Karita Muslim Square di Surabaya
Latar Belakang Dengan perkembangan usaha yang tidak pernah lepas dari persaingan, perusahaan dituntut utuk selalu kreatif untuk dapat bertahan. Menarik perhatian konsumen untuk melakukan pembelian dapat dilakukan dengan membuat ketertarikan pada menampilkan menata produk di toko. Penataan produk yang menarik merupakan cara yang digunakan oleh perusahaan dalam melaksanakan promosi penjualan dan memperkenalkan produk baru. penataan produk yang baik akan memudahkan konsumen dalam mencari barang yang dibutuhkan. penataan produk juga berpengaruh dalam timbulnya minat beli konsumen. Minat konsumen merupakan perilaku yang menunjukkan sejauh mana komitmennya untuk melakukan tindakan pembelian. Untuk menarik konsumen dengan mendorong perhatian dan minat konsumen pada toko Karita Muslim Square Surabaya serta mendorong keinginan membeli melalui daya tarik penglihatan.
Penataan produk dikenal juga dengan display. Penataan yang diterapkan oleh Karita Muslim
Square di JL Ngagel jaya selatan surabaya tertentu dengan tujuan untuk menarik minat konsumen. memajang barang di dalam toko dan diluar mempunyai pengaruh sangat besar terhadap penjualan Kesempatan terbesar untuk mempengaruhi konsumen adalah saat konsumen berada dalam toko, sehingga konsumen melakukan pembelian.
Dalam penelitian pertama Bagaimana Strategi Display Produk Karita Muslim Square di
Surabaya. Kedua Apa saja hambatan display produk Karita Muslim Square di Surabaya. Ketiga
Apa Saja Solusi hambatan display poduk di Surabaya. Dalam menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus yang berguna untuk
mendeskripsikan dan memberikan data mengenai strategi Display Produk. Dalam penelitian ini,
penelitian menggunakan jenis data primer dan sekunder yang diperoleh dari informan serta dokumen mengenai jenis data-data yang dibutuhkan. Dalam menggali data penelitian menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk menguji keabsahan data peneliti menggunakan triangulasi. Adapun teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa strategi Karita Muslim Square Surabaya dalam display produk memperhatikan bagian-bagian display produk, Macam-Macam display produk, Teknik Pemajangan Display produk, dan Memperhatikan Layout yang berguna untuk konsumen Merasa nyaman dalam belanja dan membuat konsumen merasa betah dalam belanja.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ...i
PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ...ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ...iii
MOTTO ...iv
PERSEMBAHAN ...v
PERNYATAAN PERTANGGUNGJAWABAN ORIENTASI SKRIPSI ...vii
ABSTRAK ...viii
KATA PENGANTAR ...ix
DAFTAR ISI ...xi
DAFTAR TABEL ...xiv
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ...1
B.Rumusan Masalah ...5
C.Tujuan Penelitian ...6
D.Manfaat Penelitian ...6
E. Devinisi Konsep ...7
F. Sistematika Pembahasan ...8
BAB II KAJIAN TEORITIK A.Penelitian Terdahulu yang Relevan...10
1. Pengertian Penataan Produk ...14
2. Tujuan Display Produk ...15
3. Bagian- Bagian Display Produk ...18
4. Macam- Macam Pemajangan ...24
5. Sop (Standart Operating Procedure) ...27
6. Alat Bantu display produk……….33
BAB III METODE PENELITIAN A.Pendekatan dan Jenis Penelitian ...35
B.Lokasi Penelitian ...36
C.Jenis dan Sumber Data ...37
D.Teknik Pengumpulan data………38
E. Teknik Validasi Data………41
F. Teknik Analisis Data………43
G.Tahap-tahap Penelitian ...45
BAB IV HASIL PENELITIAN A.Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Berdirinya Karita Muslim Square ...50
2. Visi dan Misi Karita Muslim Square...52
3. Struktur Pengurusan………53
4. Struktur Organisasi Karita Muslim Square ...54
5. Job description...62
7. Fasilitas………57
B. Penyajian Data 1. Strategi display produk di Krita Mulis Square ...71
2. Bagian-bagian display produk ...61
3. Teknik Pemajangan display produk ...69
C. Pembahasan Hasil Penelitian (Analisis Data) ...78
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan...90
B.Saran dan Rekomendasi ...90
C.Keterbatasan Peneliti………..90
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi saat ini promosi merupakan faktor terpenting dalam
meningkatkan volume penjualan dan memperkenalakan produk kita kepada konsumen.
banyak perusahaan yang menginginkan produknya di kenal luas dengan cara promosi,
khususnya display produk. Promosi juga merupakan media komunikasi antara perusahaan
dengan konsumen. Promosi juga merupakan suatu wadah untuk mengetahui kekuatan
volume penjualan dan meningkatakan penjualan. Dengan perkembangan usaha yang
tidak pernah lepas dari persaingan, perusahaan dituntut utuk selalu kreatif untuk dapat
bertahan. saat melakukan promosi dengan memberikan intensif untuk produk tertentu
diperlukan tujuan, tujuan awal saat melakkukan promosi adalah untuk menarik minat
konsumen.1
Melihat kondisi persaingan yang semakin ketat dalam bidang promosi perusahaan
perlu meningkatkan kekuatan yang ada dalam perusahaan dengan cara memunculkan
perbedaan atau keunikan. Meningkatkan penjualan produk dengan menarik perhatain
konsumen melakukan pembelian tidak hanya dapat dilakukan dengan memberikan
diskon, door prize, atau promosi lainnya. Menarik perhatian konsumen untuk melakukan
pembelian dapat dilakukan dengan membuat ketertarikan pada menampilkan menata
produk di toko. konsumen merasa nyaman dan tertarik penataan produk akan melakuakan
pembelian. Menata produk yang dipromosikan dan dipajang sangat penting agar tujuan
1
Christina Widya Utami, 2008, Manajemen barang dagang dalam bisnis ritel, (Penerbit BayumediaPublishing :
pomosi bisa sukses.2 Salah satu aspek yang menjadi perhatian ketika berada di tempat
penjualan ialah penataan produk. Barang yang dipajang harus ditata sedemikian rupa agar
dapat terlihat rapi, indah, dan menarik calon pembeli. Penataan produk yang menaarik
merupakan cara yang digunakan oleh perusahaan dalam melaksanakan promosi
penjualan, dan memperkenalkan produk baru. penataan produk yang baik akan
memudahkan konsumen dalam mencari barang yang dibutuhkan. Penataan produk
berkaitan dengan jenis produk, ukuran, warna, lampu, jenis dan sejenisnya. Penataan
produk sanagt penting, karena menyangkut masalah kenyamanaan pelanggan dalam
belanja. Suatu perencanaan visual juga sangat mempengaruhi perkembangan sebuah toko
dan ditekankan pada kesan tampilan luar toko, tampilan dalam toko, tampilan produk
yang di jual.3
Promosi merupakan sarana untuk memperkenalkan produk maupun membentuk
rasa ketertarikan pada produk yang di display. Bentuk promosi penjualan
bermacam-macam yang paling dikenal adalah POP atau point-of-purchase. POP meliputi segala
bentuk visual yang dibuat oleh pemilik merek, mulai dari pemasangan hanging display
dengan bentuk atau urutan yang menarik.4 promosi display produk di toko-toko
diharapkan dapat menimbulkan keingginan konsumen untuk membeli produk. penataan
produk juga berpengaruh dalam timbulnya minat beli konsumen. Minat konsumen
merupakan perilaku yang menunjukkan sejauh mana komitmennya untuk melakukan
tindakan pembelian. Untuk menarik konsumen dengan mendorong perhatian dan minat
konsumen pada toko Karita Muslim Square Surabaya serta mendorong keinginan
2
Christina Widya Utami, 2008, Manajemen barang dagang dalam bisnis ritel, (Penerbit BayumediaPublishing :
Malang ), Hal 35 3
Widianingsih dan Samsul Rizal, 2012, Modul Menata Produk, (Penerbit Erlangga : Bandung ), Hal 8
4
Fandy tjiptono dan Gregorius Chandra, 2012, pemasaran strategic edisi 2, (Penerbit C.V Andi Offset :
membeli melalui daya tarik penglihatan. Memajang dan menata barang didalam toko dan
di etalase mempunyai pengaruh besar terhadap peningkatan penjualan. cara untuk
menjual barang ialah dengan membiarkan calon pembeli melihat, meraba, mengendarai,
dan sebagainya.5
Mengembangkan toko yang sudah terkenal seperti Karita Muslim Squre bukan
pekerjaan mudah karena majunya suatu usaha sangat berhubungan dengan manajemen
bisnis. mengembangan usaha bisnis tersebut dipengaruhi oleh banyak hal seperti kegiatan
display produk merupakan promosi barang secara langsung untuk menarik calon pembeli
terhadap produk yang dipromosikan. penataan produk merupakan kegiatan perusahaan
memajangkan barang dagangan baik dalam ruangan maupun diluar luar ruangan.
mempengaruhi konsumen secara langsung maupun tak langsung terhadap barang yang
dijual dengan penataan produk. Penataan produk yaitu suatu peragaan untuk
mempengaruhi konsumen melalui teknik pemajangan sehingga memperoleh kesan
tersendiri bagi konsumen. keberhasilan dalam bisnis ritel adalah cara display produk
dengan benar. Sistem display berkaitan erat dengan jenis barang, ukuran, warna, rasa,
kemasan, bentuk penataan produk, dan seterusnya.
Agar display produk menarik perlu perancanaan yang optimal untuk
memeperoleh hasil yang baik. memerlukan desainer penataan produk yang prefesional
dan menguasai tentang display. Penataan produk dikenal juga dengan display. Penataan
yang diterapkan oleh Karita Muslim Square di jl. Ngagel jaya selatan surabaya tertentu
dengan tujuan untuk menarik minat konsumen. memajang barang di dalam toko dan
dietalase mempunyai pengaruh sangat besar terhadap penjualan Kesempatan terbesar
5
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi, 2010, Modul Menata Produk Bisnis & Manajemen, (Penerbit Yudhistira :
untuk mempengaruhi konsumen adalah saat konsumen berada dalam toko, sehingga
konsumen melakukan pembelian. Pimpinan karita harus menetapkan strategi display
produk yang baik agar dapat mempengaruhi konsumen, walaupun konsumen
merencanakan apa yang dibeli, tapi pihak Karita Muslim Square harus bisa menarik
konsumen untuk membeli barang-barang yang lain yang tidak ada dalam rencananya.
Karita Muslim Square di Jl. Ngagel jaya selatan no. 129 – 131 Surabaya
merupakan satu diantara tiga cabang utama butik karita yang bertempat di indonesia.
Karita membuat produk dengan mode yang selalu mengikuti trend dan varian produk
yang beragam dengan kualitas yang baik. Dalam Karita terdapat space tersendiri yang
digunakan untuk memajang produk rancangan desainer Karita, serta menyediakan
berbagai perlengkapan pernikahan.6Karita juga memprioritaskan karyawatinya untuk
bersikap ramah kepada konsumen yang datang, melayani dengan sigap serta memberikan
pengawasan yang tidak ketat kepada konsumen. Karita muslim square di jl. Ngagel Jaya
Selatan Surabaya juga memadai dan penataan yang Rapi dan Bersih bertujuan membuat
konsumen yang berkunjung merasa nyaman dalam berbelanja.
B. Rumusan Masalah
Karita Muslim Square di Surabaya mempunyai display produk yang unik dan kratif
dan mampu menarik konsumen untuk membeli produknya. Oleh karena itu penulis ingin
memfokuskan penelitian pada rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Strategi Display Produk Karita Muslim Square di Surabaya?
2. Apa saja hambatan display produk Karita Muslim Square di Surabaya?
3. Apa saja solusi hambatan display produk Karita Muslim Square di Surabaya?
C. Tujuan Penelitian
6
Dari rumusan masalah diatas, maka Peneliti bisa mengkatagorikan tujuan dari
Penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Stategi Display Produk pada Karita Muslim Square di
Surabaya.
2. Untuk mengetahui hambatan display produk pada Karita Muslim Square di
Surabaya.
3. Untuk mengetahui solusi hambatan display produk pada karita muslim Square
di Surabaya.
D. Manfaat Penelitian
Selain tujuan diatas, Peneliti juga mengharapkan Penelitian ini memiliki Kegunaan,
diantaranya:
1. Manfaat Teoritik
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut bagi para
peneliti lain maupun masyarakat umum serta diharapkan dapat memberikan
maanfaat guna menambah pengetahuan khususnya promosi bidang display
produk.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini bermanfaat bagi Karita Muslim Square di Surabaya dapat
memberikan sumbangan pikiran dalam menangani masalah promosi
display produk.
b. Sebagai kajian bagi para peneliti dapat mengambil poin-poin pembelajaran
dari penelitian ini dan diharapkan wacana tentang display produk ini
E. Definisi Konsep
Untuk memperoleh gambaran yang lebih mudah, jelas singkat dan mudah
dimengerti mengenai judul proposal ini, maka penulis perlu menjelaskan
istilah-istilah yang terdapat dalam judul tersebut sebagai berikut:
1. Display produk
Menurut William J. Shultz, display adalah : “display adalah suatu cara
mendorong perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang dan mendorong
keinginan membeli melalui daya tarik penglihatan langsung”.7
Menurut Christina Widya Utami, display adalah : “barang-barang dipamerkan
dan disimpan dan menyiapkan area-area khusus di dalam toko yang dirancang untuk
mendapatkan perhatian pelanggan.8
Menurut R. Cox & P. Brittain display adalah : “tindakan untuk mengatur dan
mengalokasikan perabotan gondola, perabotan sementara, perlengkapan, barang
dagangan, gang, area barang yang tidak dijual seperti area penyimpanan barang dan ruang
ganti”.9
Jadi Display merupakan salah satu aspek penting untuk menarik konsumen pada
toko dan barang dan dapat mendorong keinginan konsumen yang pada saat datang ke
toko untuk membeli suatu produk melalui daya tarik penglihatan langsung pada suatu
produk. Toko harus melakukan menciptakan daya tarik penataan ruang dan penyusunan
produk sehingga konsumen atau pelanggan merasakan betah dan nyaman dalam
7
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi, 2010, Modul Menata Produk Bisnis & Manajemen, (Penerbit Yudhistira :
jakarta ), Hal 12 8
Christina Widya Utami, 2008, Manajemen barang dagang dalam bisnis ritel, (Penerbit BayumediaPublishing :
Malang ), Hal 167 9
Luh Nisa ditriami dan I Ketut Kirya dan I Wayan Suwendra,2014, pengaruh tata ruang dan minat beli konsumen
berbelanja, pelaksanaan display (penataan) yang efektif akan meningkatkan penjualan
dan dapat merangsang keputusan pembelian konsumen secara seketika display dapat
merubah suasana toko lebih menarik.
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan urutan sekaligus kerangka berfikir dalam
penulisan skripsi. Untuk lebih mudah memahami penulisan skripsi ini, maka disusunlah
sistematika pembahasan, sebagai berikut:
Bab satu menjelaskan tentang pendahuluan yang memaparkan promosi penjualan
dan display produk dalam meningkatkan volume penjualan dalam perusahaan, yang
meliputi latar belakang, lalu permasalahan display produk laditemukan fokus dari
permasalahan apa saja dalam pendisplyan produk penelitian yang dijawab dalam tujuan
penelitian. Dalam bab ini dipaparkan juga solusi bagaimana untuk mengatasi
pendisplayan penelitian yang selanjutnya diakhiri dengan sistematika pembahasan.
Bab dua diuraikan penelitian terdahulu dalam rangka pemikiran konseptual. Dan
juga membahas tentang perpektif teori yang mengkaji tentang konsep display produk,
bagian-bagian display produk seperti windows display , interior display yang di dalam
nya ada macam- macam interior ,solari display, dan ada juga macam-macam pemajangan
dan SOP (standart operating procedure) dan juga diuraikan penataan produk dalam
prefektif islam.
Bab tiga menjelaskan tentang metode penelitian yang didalamnya menjelaskan
tentang lokasi penelitian, desain dan jalur penelitian, sumber instrument pemilihan,
proses pemilihan, jejaring dan hubungan penelitian, teknik pengumpukan data , teknik
untuk mencocokkan data atau informasi yang telah didapat.Sehingga mempermudah
peneliti dalam menyusun skripsi dengan persetujuan dosen pembimbing.
Bab empat menjelaskan tentang hasil penelitian, dimana hasil penelitia ini adalah
yang terpenting dalam penulisan skripsi.
Bab lima menjelaskan tentang penutup yang berisi kesimpulan dari hasil
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu yang Relavan
Dalam proses penulusuran karya-karya ilmiah yang sama atau mirip dengan
penyusunan karya ilmiah ini, maka penulis menelusuri untuk mencari beberapa kerangka
karya ilmiah diantaranya sebagai berikut:
Tabel Persamaan dan Perbedaan
Dengan Penelitian terdahulu
Tabel 1
Tabel 1
No Judul Obyek Penelitian Hasil
Kesimpulan: D gari tabel di atas maka dapat disimpulkan perbedaan atara penelitian yang
saat ini peneliti lakukan:
Pertama, Achmad Thoriqul Jannah melakukan penelitian terhadap Supermarket
Sakinah Surabaya pada tahun 2013 yang berjudul “Pengaruh Faktor Layout, Kemasan
Produk, Display dan Promosi Terhadap pembelian yang tidak direncanakan (Impulse
pengaruh terhadap pembelian yang tidak direncanakan pelanggan melalui faktor layout,
kemasan produk, display dan promosi perusahaan. Metode ini menggunakan metode
kuantitatif kemudian yang membedakan penelitian milik Achamad Thoriqul jannah
dengan penelitian ini adalah dari segi teori dan lokasi penelitian. Acmad thoriqul jannah
melakukan penelitian faktor pengaruh layout, kemasan produk, display dan promosi.
Sedangkan penelitian ini menggunakan teori manajemen display produk. Lokasi yang di
ambil penelitian acmad thoriqul jannah adalah supermarket sakinah Surabaya, sedangkan
penelitian ini mengambil lokasi di karita muslim square di Surabaya. 1
Kedua, Dicky F meneliti terhadap PT.Bhentoel internasional pada tahun 2012
yang berjudul “pengaruh display produk dan tata letak produk terhadap beli konsumen
produk PT.Bhentoel internasional”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
tehadap display produk dan tata letak produk terhadap beli konsumen produk. Metode ini
menggunakan metode kuantitatif kemudian yang membedakan penelitian milik Dicky F
dengan penelitian ini adalah dari segi teori dan lokasi penelitian. Dicky F mengunakan
teori pengaruh display produk dan tata letak produk terhadap minat konsumen.
Sedangkan penelitian ini mengguankaan teori manajemen display produk. Lokasi yang di
ambil peneliti Dicky F adalah PT. Bhentoel internasional, sedangakan penelitian ini
mengambil lokasi karita muslim square di Surabaya.2
Ketiga, Abdul Rokhim meneliti terhadap toko Reny Swalayan-ku Pada tahun
2015 yang berjudul “ Strategi Bauran Pemasaran Ritel Reny Swalayan-ku di Sidoarjo” .
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stategi terhadap bauran pemasaran dan ritel
1
Ahmad thoriqul jannah, 2013,pengaruh faktor layout kemasan produk display dan promosi terhadap pembelian yang tidak direncanakan (impulse buying di supermarket sakinah), STIESIA Manajemen
2
juga atmosfer toko. Metode ini menggunakan metode kualitatif kemudian membedakan
penelitian milik abdul rokhim dengan penelitihan saya adalah dari segi teori abdul rokhim
menggunakan teori atmosfer sdangkan saya menggunakan teori display produk. Lokasi
yang d ambil abdul rokhim bauran pemasaran ritel di kota sidoarjo sedangkan saya di
kota karita muslim square Surabaya.3
B. Penataan Produk (Display) 1. Pengertian Display
Display adalah suatu cara pemajangan produk dan penataan produk yang
diterapkan oleh perusahaan, dengan tujuan untuk menarik minat pelanggan agar melihat
dan membeli produk yang ditawarkan.4
Menurut William J. Shultz, display adalah : “display adalah suatu cara
mendorong perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang dan mendorong
keinginan membeli melalui daya tarik penglihatanlangsung”.5
Menurut Christina Widya Utami, display adalah : Suatu produk yang dirancang
sedemikian rupa agar menarik konsumen.”
3
Abdul Rokhim, 2015,strategi bauran pemasaran ritel reny swalanyan-ku di sdoarjo,manajemen Uinsa 4
Widianingsih dan Samsul Rizal, 2012, Modul Menata Produk, (Penerbit Erlangga : Bandung ), Hal 29
5
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi, 2010, Modul Menata Produk Bisnis & Manajemen, (Penerbit Yudhistira :
Menurut Shultz dalam Buchari : “display berarti usaha mendorong perhatian dan
minat konsumen pada toko atau barang dan mendorong keinginan membeli dalam daya
tarik penglihatan langsung.”6
Fungsi utama display adalah memperlihatkan barang-barang yang dijual kepada
konsumen dan dapat mengingatkan tentang apa yang akan mereka putuskan untuk dibeli.
Selain itu display harus menimbulkan dayat tarik bagi konsumen dan menimbulkan
keinginan untuk emngetahui lebih banyak lagi tentang barang-barang tersebut . dan
akhirnya dengan penataan display yang menarik perhatian dan mudah dimengeti dapat
membuat konsumen terdorong untuk membeli.
produk yang di pajang harus memiliki kejelasan barang, kejelasan ukuran, tidak
rusak jika barang itu rusak katakanlah rusak jangan engkau menyembunyikan. Jika
barang itu murah jangan engkau katakan mahal. Jika barang itu jelek katakana jelek,
jangan kau katakan bagus.” (HR. Tirmidzi).
Hadist tersebut juga didukung hadist riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hambal. “
Tidak dihalalkan bagi seseorang muslim menjual barang yang cacat kecuali ia
memberitahukannya.” Pernyataan lebih tegas disebutkan dalam Al-Quran sebagai
berikut:
“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang ,
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain
mereka minta di penuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang
untuk orang lain, mereka mengurangi (QS. Surat Al Muthaffifiin
(1-3)”.7
Menjual produk cacat dan di sembunyikan adalah haram. Artinya produk meliputi
barang dan jasa yang ditawarkan pada calon pembeli haruslah yang berkualitas sesuai
dengan yang dijanjikan.
2. Tujuan Display
Tujuan Display merupakan upaya untuk menarik perhatian konsumen agar
konsumen tertarik dengan penataan produk.
a. perhatian para pembeli dilakukan dengan cara menggunakan warna-warna,
lampu-lampu, dan sebagainya.
b. Desire dan action customer Untuk menimbulkan keingginan memiliki barang
yang dipamerkan ditoko lalu konsumen melakukan pembelian terhadap barang
display.8
Menurut Kotler yang dialih bahasakan oleh Hendra Teguh dan Ronny A Rusli
akan dijelaskan mengenai model AIDA, yaitu :
a. Perhatian
Perhatian sasarannya adalah perusahaan harus menarik, mungkin dengan
penggunaan warna, bentuk kemasan, dan huruf terbaca.
7
Al-Qur’an, Al-Mutaffifin: 1-3 8
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi, 2010, Modul Menata Produk Bisnis & Manajemen, (Penerbit Yudhistira :
b. Minat
Bagaimana agar mereka berminat dan ingin tahu secara lebih rinci mengenai
calon pembeli, untuk itu mereka rangsang agar mau membeli.9
c. Keinginan
Kemasan yang dimodifikasi oleh perusahaan harus mampu menimbulkan
keinginan para pembeli sasaran untuk memilikinya.serta mampu menjawab
setiap pertanyaan pada akhirnya menjadi pelanggan merasa yakin dan merasa
bahwa pilihan untuk membeli produk. Untuk itu pengetahuan tentang produk
sangat penting.10
d. Tindakan
Produk yang ditawarkan harus mampu mendorong para pembeli sasaran
mungkin mempunyai tindakan namun tidak cukup bergerak unruk membeli.
Komunikator harus juga mengarah ke konsumen agar mengambil tindakan
untuk berfikir/ berbuat sesuatu yang positif terhadap produk yang ditawarkan
dengan harga murah atau membiarkan konsumen mencoba produk.11
e. Satisfaction
Setelah pelanggan melakukan pemesanan maka tenaga penjualan harus
kembali meyakinkan pelanggan bahwa keputusan yang mereka lakukan adalah
keputusan yang tepat.setiap perusahaan selalu menerima keluhan pelanggan,
9
Luh Nisa Ditriami dan I Ketut Kirya dan I Wayan Suwendra,2014, pengaruh tata ruang dan minat beli konsumen
produk butik IO/CO, journal bisma universitas pendidikan ganesa jurusan manajemen, volume 2 10
Agus hermawan, 2012, komunikasi pemasaran, (penerbit : Erlangga : jakarta), Hal : 115 11
perbedaannya terletak pada intesitasi dan frekuansinya. Jadi walaupun
penjualan sudah terjadi hubungan dengfan ppelanggan harus tetap dijaga.12
3. Bagian – bagian display
Dalam mendisplay produk pasti ada bagia-bagian yang harus di ketahui agar
pendisplyan produk berjalan sukses dan membuat konsumen nyaman dalam belanja.
Bagian-bagian tersebut diantaranya adalah :
1) Windows Display
Pemajangan barang dagang di etalase atau jenddela toko. Windows display
ditata semenarik mungkin agar pegunjung berminat terhadap barang yang
dipajang, dan dapat dilihat dari kejauhan. Windows display hanya
memperlihatkan barang dagangan, tanpa disentuh oleh pengunjung. Bila
pengujung ingin mengetahui lebih lanjut, ia dipersilahkan masuk agar dapat
,melakukan pengamatan lebih jelas. Tujuan windows display adalah utuk menarik
minat pengunjung sekaligus menjaga keamanan barang.13
Fungsi Windows display :
1) Untuk menarik perhatian pengunjung atau orang yang lewat.
2) Untuk menimbulkan minat beli pada barang yang dipajang.
3) Menonjolakan jenis dan merek barang tertentu.
4) Untuk memperkenalkan barang baru.
12
Agus hermawan, 2012, komunikasi pemasaran, (penerbit : Erlangga : jakarta), Hal : 116 13
5) Mencipatakan store image, dan menimbulakan daya tarik terhadap
keseluruhan suasana toko.
6) Menyatakan kualitas yang baik atau harga yang murah.
2) Interior Display
Pemanajangan barang dagangan yang dilakukan didalam toko. Interior display
Diklasifikas ikan Menjadi 2 kategori :\
1) Mercandise display
Menurut Dunne,Lusch dan Griffith Mercandis display adalah Produk
yang sangat berhubungan satu sama lain yang di tujukan untuk kegunaan
akhir yang di jual kepada grub konsumen yang sama atau dengan kisaran
harga yang hamper sama.14
Pengertian Merchandise adalah produk yang di tampilkan sangat
menentukan suksesnya suatu promosi. Display produk tidak hanya meletakan
dalam rak. Hal ini juga meliputi perencanaan sehingga anda dapat meletakan
produk dimana akan mendapatkan respons yang paling bagus bagi konsumen.
Produk yang di pajang di dalam toko dan ada 3 bentuk pemajangannya :15
a) Open display adalah barang yang dipajangkan pada suatu tempat
terbuka sehingga dapat dihampiri dan dipegang, dilihat dan diteliti
oleh calon pembeli tanpa bantuan karyawan.16
b) Close display, yaitu barang dagangan diletakkan dalam tempat
tertentu, sehingga pengunjung hanya dapat mengamati saja.
14
Dr. Ir.Bob Foster, MM, 2008, Manajemen Ritel, (penerbit Alfabeta : Bandung), Hal 54 15
Dr. Buchari alma, 2000, manajemen pemasaran dan pemasaran jasa, (Penerbit Elfabeta : Bandung), Hal 147
16
barang tersebut tidak dapat dipegang oleh calon pembeli. Bisa bila
harus minta bantuan pramuniaga untuk mengambilkannya. close
display bertujuan melindungi barang dari kerusakan atau pencurian.
c) Artchitectural display yaitu, barang dagangan ditata dengan
memperlihatkan cara penggunaan baran-barang tersebut. Misalnya
krudung yang di pajang di model kepala boneka, baju yang d pajang di
badan boneka. Tujuannya untuk dapat memperbesar daya tarik
pembeli terhadap produk, karena produk tersebut ditunjukan secara
realitis.17
b. Point of Purchase
Menurut Shimp komunikasi POP adalah : “Komunikasi POP elemen
promosi seperti pajangan, poster, petunjuk, billboard, dan berbagai promosi
lainya di dalam toko yang dirancang untuk mempengaruhi pilihan pelanggan
pada momen pembelian.”18
Menurut Bearden, Ingram dan Laforge komunikasi POP adalah
“Suatu bentuk Promosi penjualan, kerapkali disediakan secara
gratis oleh pemanuktur kepada pengecer, untuk menarik perhatian
pelanggan pada produk yang ditonjolkan.” 19
Tipe periklanan semacam ini dirancang untuk mempenaruhi konsumen
agar membeli sebuah produk ketika konsumen masuk dalam toko. Barang
tersebut secara berkelanjutan disuplai oleh perusahaan itu sendiri.Penggunaan
17
Widianingsih dan Samsul Rizal, 2012, Modul Menata Produk, (Penerbit Erlangga : Bandung), Hal 31
18
Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra, 2012, Pemasaran Strategik, (Penerbit C.V Andi Offset : Yogyakarta), Hal : 383
19
Point of Purchase display di berbagai toko dan pasar dapat mempengaruhi
konsumen, karena bentuknya yang beraneka ragam dan didesain semenarik
mungkin untuk menarik perhatian konsumen. Setiap jenis point of purchase
display menyediakan informasi kepada pelanggan untuk mempengaruhi
suasana lingkungan toko.20
Point of Purchase, memberikan peluang akhir bagi para pemasar untuk
mempengaruhi perilaku konsumen. Point of Purchase Display merupkan
Display yang mendukung penjualan, dengaan tujuan memberi informasi,
mengingatkan, membujuk konsumen untuk membeli secara langsung bahkan
menimbulkan keinginan untuk dapat memiliki produk yang dipromosikan.
Suatu produk yang didukung oleh Point of Purchase Display mempunyai
posisi yang lebih kuat dalam mempengaruhi konsumen didalam memilih
produk yang akan dibeli. Bila seorang konsumen tertarik untuk melihat suatu
produk, maka terbuka kemungkinan terbentuk keinginannya untuk melakukan
pembelian atas produk yang dipromosikan.21
Display produk bisa mempengaruhi konsumen untuk melakukan
pembelian yang tidak direncanakan saat konsumen melihat suatu produk.
Penataan toko sangatlah penting dalam mempengaruhi konsumen melakukan
penelitian yang tidak direncanakan. Setiap produsen yang melakukan bentuk
promosi apapun di perusahaan tentu berusaha untuk dapat menarik perhatian
konsumen. Produsen dapat mengkomunikasikan produknya melalui retailer
kepada konsumen dalam bentuk POP. POP yang menarik dapat menggugah
20
Christina Widya Utami, 2008, Manajemen barang dagang dalam bisnis ritel, (Penerbit BayumediaPublishing :
Malang ), Hal 132 21
rasa ingintahu konsumen akan suatu produk, menggoda konsumen untuk
mencoba suatu produk, bahkan menimbulkan keinginan untuk dapat memiliki
produk yang dipromosikan.22
a. Exterior display
Penataan yang dilaksanakan dengan pemajangan barang-barang di luar toko,
misalnya diskon, pameran, undangan kampus. Display semacam ini berfungsi
sebagai : memperkenalkan produk baru secara cepat dan diskon dan membangun
hubungan yang baik dengan masyarakat.23
b. Solari display
penataan barang dagang di toko untuk menambah daya tarik pengunjung
setelah masuk ke dalam toko, misalnya pakaian yang digunakan oleh boneka
model.24
4. Macam - macam display
Setiap perusahaan Melakukan pemajangan produk dengan teknik yang berbeda.
Macam-macam pemajangan produk sebagai berikut :
a. Pemajangan menurut kelompok barang
Pemajangan barang-barang yang dikelompokan menurut jenisnya misalnya
dress, blazer, blouse, kaos, rajut, juba, rok.
b. Pemajangan menurut jenis dan ukuran yang di bedakan menjadi dua, yaitu :
22
Widianingsih dan Samsul Rizal, 2012, Modul Menata Produk, (Penerbit Erlangga : Bandung), Hal 30
23
Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi, 2010, Modul Menata Produk Bisnis & Manajemen, (Penerbit Yudhistira : jakarta ), Hal 14
24
1) Vertikal, Menempatkan produk secara vertikal dapat menata barang
dagangan lebih banyak, sehingga hemat biaya, pemakaina ruangan, serta
pelanggan tidak bolak- balik mencari barang yang diinginkan.
2) Horizontal, Pemajangan produk dengan posisi paling kiri untuk barang-
barang yang paling besar semakin ke kanan semakin kecil. Jika barang
disusun secara horizontal belanja semakin dsulit karena pelanggan tidak dapat
melihat braang dengan lengkap. Pemajangan horizontal jarang digunakan
karena dianggap kurangefisien.25
c. Pemajangan menurut desain produk
pemajangan produk dengan posisi terbalik dari setiap barang, karena setiap
barang yang di produksi sudah di desain sedemikian rupa sehingga. jelas
posisinya ketika dipajang di toko. Pemajangan menurut harga produk
d. Pemajangan menurut harga barang sangat penting untuk diperhatikan,
mengingat harga merupakan salah satu penyebab laku tidaknya barang dan jasa
yang ditawarkan. Banyak anggapan bahwa produk yang berkualitas adalah produk
uyang harga tinggi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemajangan produk
menurut harga barang yaitu:
1) Produk yang mahal diletakan di rak paling atas.
2) Produk yang cepat terjual diletakan di rak bagian tengah, setinggi
pandangan mata rata-rata orang.
25
3) Produk yang murah dan kurang laku diletakkan di posisi paling bawah.26
5. Faktor-faktor Display
Di dalam pelaksanaan display produk ada faktor-faktor yang menjadi pegangan
pola kerja. Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Dampak visual ( visual impact)
Visual impact meliputi pusat perhatian, cahaya, serta kebersihan dan kerapian
dalam pengaturan cahaya yang harus diperhatikan adalah warna lampu warna
yang digunakan harus natural,cahayannya tidak mengubah warna barang dan tidak
membohongi pelanggan. Jenis lampu yang baik adalah helogen Karena warnanya
tidak menyebar dengan demikian barang yang dipajang dapat yang dapat terlihat
dengan jelas, menjadi pusat perhatian serta membangkitkan minat membeli.
b. Keseimbangan visual (visual balance)
Visual balance sangat dipengaruhi oleh warna, latar belakang, dan keseimbangan,
ukuran produk. Ketentuannya adalah sebagai berikut :
1) Susunan warna tua ke warna terang disimpan diujung.
2) Latarbelakang ini tidak boleh mendominasi warna barang yang
ditampilkan.
26
3) Produk yang sama dengan ukuran berbeda disussun dirak atas maupun
di rak bawah serta pengelompokan vertikal .
4) Produk yang sama dengan ukuran berbeda disusun bersebelahan pada
suatu rak, dengan ukuran lebih kecil kearah kiri sedangkan ukuran
lebih besar kearah kanan.
c. Posisi (produck facing)
Letak barang harus menghadap ke pelanggan dengan persediaan yang ada disusun
dibeakangnya. Lebel harga harus termasuk produk facing. peletakan label harga
harus dilakukan secara seragam Pada tiap produk, dengan ditempel pada ujung
kanan atau di atas produk.
6. SOP ( Standart Operating Procedure )
Untuk dapat memonitor penataan display produk, penjualan harus memiliki
kemampuan pengetahuan tentang SOP penataan produk. Sop dalam produk fashion untuk
langkah- langkahnya adalah prinsip penataan, pelabelan, pendisplayan.27
a. Prinsip penataan
27
Prinsip penataan barang fashion meliputipenataan barang baru, penataan
barang tidak lengkap, wagon display, penggunakan fixture kombinasi antara rak-
rak t-stand, pengguns brscket, dsn hook khusus di pilar apabila stok barang sedang
dalam keadaan menurun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut :
1) Penataan barang baru
a) Pentaan sesuai dengan koleksi
b) Odari koleksi ditata menurut style
c) Barang ditata menurut warna
d) Barang ditata menurut size atau ukuran
Langkah-langkah merchandise (penataan berkelompok)
a) Kelompok berdasarkan motif : polos, bunga-bunga, kotak-kota,
bulat-bulat, garis-garis, motif gamabar
b) Barang baru di display di depan yang agak lam ditempatkan di tengah
sedangkan barang yang paling lama di tempatkan di blakang.
c) Dari masing- masing kelompok dirapikan berdasarkan warna dan motif.
d) Perlu diingat hitam dan putih sebagai aksen.
e) Stok barang yang didisplay di vocal point harus diletakan di vocal
point.
f) Barang sale, clearance atau broken size dan broken colour tidak bole
dipasang dipatung.
2) Penataan barang-barang yang lengkap (ukuran, model, warna)
a) Penataan menurut koleksi
b) Penataan menurut style
c) Pentaan menurut warna
d) Pentaan menurut size
3) Penggunakan wagon display
Untuk wagon display harus didampingi dengan T-stand untuk memajang
sebagai besar isi wagon dengan tujuan agar image konsumen terhadap wagon
tidak terlalu murah.
4) Penggunaan fixture kombinasi atara rak-rak dan T-stand berdasarkan
sebagi berikut :
a) Usahakan barang dapat tampil tampak jelas model, warna, dan
ukurannya.
b) Apabila stok pertama masih banyak, susunlah display yang tampak dari
samping.
c) Apabila stok pertama dan kedua masih banyak maka susunlah display
dengan rak (barang yang di lipat
5) Penggunakan braket dan hook khusus dipilar
Usahakan braket dan hook dipasang tujuan agar semua barang pada
display tampak depan apabila dilihat dari semua sisi pilar.
a) Braket dan hook yang beada di fixture dilepas, digati dengan
menggunakan gantungana susun atau ditmabah dengan body display.
b) Fixture yang dileas kemudian ditata ulang dengan jarak penataan yang
lebih lebar atau renggang.
c) Rak atau hambalan digantikan dengan t-stand. Apabila stok barang
kembali normal atau stok datang lagi kembali kepenataan posisi
semula.28
b. Labelling
Langkah pertama dalam melalukan visual merchandising dengan pendisplayan
barang fasion adalah pelabelan. Setiap barang yang amsuk harus melalui proses
pelabelan. Sebagai contoh akan diambil pelabelan pada produk fasion sebagai
berikut:
a. Sebelum label ditempatkan, periksa produk dengan labelnya.
1) merek
2) tipe
3) ukuran
b. Penempelan label secara umum adalah bagian sebelah kanan atas fasion
suatu produk sebagai berikut ;
28
1) Tidak menutup merek
2) Tidak menutup artikel barang
3) Tidak menutup ukuran
4) Letak mendatar ( horizontal
5) Label denga keadaan bersih ( tidak boleh kotar dan terlipat
c. Untuk barang yang menggunakan hangtang atau gantungan yang harus
dilalukan sebagai berikut :
1) Apabila barng tidak memiliki hangtang tempelkan label pada tempat
yang sudah disediakan.
2) Apabila hangtang sudah disediakan maka label ditempelkan pada
tempat yang sudah disediakan diblanag ahangtang secara mendatar.29
c. Display
Pendisplay produk fasion diantaranya penentuan krikteria, teknik pemajangan,
penggunakan lemari kaca.Krikteria display barang fasion
1) Sederhana, dapat menarik pembeli untuk masuk ketoko.
2) Mempunyai dampak yang dirasakan serasi dengan keadaan ditoko.
3) Mempunyai kemmpuan untuk membujuk pembeli dan mempengarui
mereka untuk membeli.
29
4) Pemajangan VM yang baik 2-3 minggu bertujuan untuk menghindari
kebosanan.
Teknik pemajangan memperhatikan warna, penggunaan rak dan gantunagan
atau hanger dan penggukana lemari kaca.
1) Berdasarkan warna menemptkan posisi sesuai warna misalnay sebeleh kiri
warna terang dan kanan warna gelap, atas warna terang, bawah warna
gelap, depan warna terang, balakang warna gelap.
2) Penggunaan rak penataan barang dengan mengikuti posisi rak. Pengisian
barang di dalam rak tidak lebih tinggi disusun dengan cara ukuran terbesar
di bawah dan terkecil di atas. Jika pososisi menyamping ukuran terkecil
sebelah kiri ukuran terbesar sebelah kanan. Dan apabila di dalam rak
bermacam jenis sebaiknya dilakukan pemisah barang dilakukan atas dasar
warna dan ukuran
3) Penggunakan gantunganatau hanger.
a) Apabila dalam satu counter hanya terdapat satu jenis hanger maka
dalam satu jenis henger hanya ada satu item saja.
b) Apabila hanger tidak cukup lakukan kombinasi, setelah itu lakukan
pemisah berdasarkan ukuran untuk mempermudah pemilihan
konsumen.
c) Motif dan warna terbaik ditampilkan dimuka.
d) Kepala gantungan harus emnghadap ke dalam dan bagian muka baju
4) Penggunaan kaca lemari teknik pemajangan fashion dengan menggunakan
lemari kaca Sebaiknya tidak terlalu menyita ruang pandang calon pembeli.
Dan tumpukan tinggi barang tidak terlalu tinggi sebaiknya sama tinggi.30
30
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Menurut Bog dan Taylor penelitian kualitatif sebagai berikut :
“metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif:
ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu
sendiri. Pendekatan ini langsung menunjukkan latar dan individu-individu dalam
latar itu secara keseluruhan; subjek penyelidik, baik berupa organisasi ataupun
individu, tidak dipersempit menajadi variable yang terpisah atau menjadi
hipotesis, tetapi dipandang sebagai bagian dari keseluruha”.
Metode ini dapat digunakan untuk menggungkap dan memahami apa yang
terletak dibalik fenomena apa saja yang sedikit belum diketahui. Metode kualitatif dapat
memberikan secara detail fenomena yang ruwet yang sulit untuk disampaikan dengan
metode kuantitatif.
Dengan lain kata, metode kuantitatif lebih menekankan pada usaha
mengidentifikasi hubungan-hubungan kasual yang biasanya diproses melalui
rumus-rumus statistic (angka). Sementara metode kualitatif cocok untuk mendeskripsikan
fenomena, yang datanya berupa kata-kata (ucapan), perilaku, atau dokumen, dan tidak
itu peneliti ingin menggambarkan atau menguraikan bagaimana Strategi Display Produk
Karita Muslim Square di Surabaya.1
B. Lokasi Penelitian
Dalam sasaran penelitian ini, ada dua hal yang akan dijelaskan yaitu mengenai objek
penelitian dan wilayah penelitian. Objek yang akan dituju dalam penelitian ini adalah
masalah yang berkaitan dengan Startegi Display Produk Karita Muslim Square di
Surabaya. Sedangkan, lokasi yang dijadikan objek atau sasaran dalam penelitian ini
adalah Jalan Ngagel Jaya Selatan Surabaya, Jawa Timur.
C. Jenis dan Sumber Data
Data untuk suatu penelitian dapat dikumpulkan dari berbagai sumber. Sumber
data dibedakan atas sumber data primer dan sekunder. Mampu memahami dan
mengidentifikasi sumber data akan dapat memudahkan peneliti untuk memilih
metode pengumpulan data yang tepat guna dan hasil guna dan memudahkan
melakukan pengumpulan data.2 Untuk itu jenis dan sumber data dalam penelitian ini,
sebagai berikut:
1. Jenis Data
a. Primer
Data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dari subjek peneliti
dengan menggunakan alat pengukur atau alat pengambilan data langsung pada
1
Rulam Ahmadi, 2014, Metodologi Penelitian Kualitatif, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta. Hal 12-14 2
subjek sebagai sumber informasi yang dicari.3 Yang termasuk di dalam data
primer yaitu subyek atau orang dan tempat. Adapun yang menjadi data primer
dalam penelitian ini adalah pimpinan Karita Muslim Square Serta Karyawan
Karita
Muslim Square yang datanya didapat dengan melalui wawancara secara
langsung.
b. Sekunder
Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau
sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan.4 Data
yang diambil dan diperoleh dari bahan pustaka yaitu mencari data atau
informasi, yang berupa benda-benda tertulis seperti buku-buku, internet,
dokumen dan karya tulis ilmiah. Data sekunder ini merupakan data
pendukung atau sebagai data pelengkap dari data primer. Data yang termasuk
ke dalam data sekunder yaitu, data yang diperoleh dari bahan-bahan literatur
yang berkaitan dengan Strategi Display Produk Karita Muslim Square di
Surabaya dalam promosi yang bisa menarik konsumen.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengambilan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah medapatkan data. Tanpa
mengetahui teknik pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang
3
Syaifuddin. 2010.Metode Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. hal. 91 4
memenuhi standard yang ditetapkan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan
beberapa teknik pengumpulan data, yakni :
1. Observasi
Yang dimaksud observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia
dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya selain panca
indra lainnya seperti telinga,penciuman, mulut dan kulit5 teknik ini digunakan untuk
mengetahui dan mencatat secara langsung tentang:
Strategi Display Produk Karita Muslim Square di Surabaya Marketing Produk
Sayuran organik yang digunakan oleh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Pacet
Mojokerto.
Sehingga dengan menggunakan metode ini akan diperoleh data mengenai
strategi Strategi Display Produk Karita Muslim Square di Surabaya dalam upaya
menarik minat konsumen.
2. Wawancara
Wawancara atau interview adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk
tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dengan dengan sambil bertatap muka
antara pewawancara dengan responden, dengan atau menggunakan pedoman
wawancara teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang:
a) Bentuk-bentuk Strategi Display Produk Karita Muslim Square di Surabaya
dalam upaya menarik minat konsumen.
5
Burhan Bungin. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif Komunikasi, Ekonomi dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-ilmu
b) Resiko atau kendala apa yang sering di hadapi Karita Muslim Square di
Surabaya dalam upaya Display Produk untik menarik minat konsumen .
c) Solusi hambatan Display Produk Karita Muslim Square di Surabaya dalam
Menarik minat konsumen.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui
dokumen-dokumen dan cenderung menjadi data sekunder. Pemakaian dokumentasi
adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip,
buku, surat kabar, majalah, notulen rapat,agenda dan lain sebagainya.
a) Kegiatan yang berlangsung dalam mengamati kegiatan Startegi Display
Produk dalam upaya menarik Minat Konsumen.
b) Benda mati yang bisa dijadikan bukti atau media penunjang pengamatan di
Karita Muslim Square di Surabaya
Tabel Data, Sumber Data, dan
Teknik Pengumpulan Data
Tabel 2
No Obyek Data Sumber Data Teknik Pengumpulan Data
Surabaya
3 Proses display produk
yang berbeda dan unik
Pegawai yang
berperan dalam
proses display
produk
Wawancara, observasi
4. Triangulasi
Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara menggabungkan
dari berbagai teknik dan sumber data yang telah diperoleh. Triangulasi teknik, berarti
peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi untuk
mendapatkan data dari sumber yang sama. Sedangkan, triangulasi sumber berarti
peneliti mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.6
Peneliti menggabungkan semua hasil penelitian, baik dari wawancara, observasi
dan dokumentasi. Lalu, peneliti mencocokkan diantara wawancara, observasi dan
dokumentasi apakah sudah sesuai atau masih terdapat keganjalan.Jika masih terdapat
keganjalan dalam triangulasi, maka peneliti perlu melakukan penggalian data guna
memperjelas data.
E. Teknik Validitas Data
Pada bagian ini ditekankan adalah validitas dari interpretasi.Kemampuan
menggambarkan temuan kebenaran. Hal ini bisa tidak tepat jika peneliti menerima
pentingnya keadaan dan kebenaran dengan begitu saja. Adanya, validitas akan dinilai
6
dengan keadaan yang terlihat secara baik dan penggambaran secara tepat data yang
dikumpilkan. Dalam validitas dipresentasikan analisis, kemudian cerminan yang
diperlukan adalah:
1. Pengaruh yang kuat dari desain penelitian dan pendekatan analisis pada
hasil yang dipresentasikan.
2. Konsistensi temuan, untuk contoh, hasil analisis dapat digunakan oleh lebih
dari satu peneliti.
3. Hasil yang dipresentasikan luasannya mewakili secara keseluruhan dan
berkaitan.
4. Menggunakan data asli yang memadai dan sistematik (contoh penggunaan
kutipan bukan hanya berasal dari orang yang sama) yang dipresentasikan
dari analisis, dengan demikian pembaca yakin bahwa intrepretasi data
terkait dengan data yang dikumpulkan.
Cara lain menggambarkan reliabilitas dan validitas:
1. Triangulasi data, data yang dikumpulkan melalui sumber majemuk untuk
memasukkan data pengamat, wawancara, dan diskusi kelompok terfokus.
2. Pemeriksaan anggota, informan akan berperan sebagai pemeriksa sepanjang
proses analisis.
3. Pengamatan jangka panjang dan berulang di lokasi penelitian, pengamatan
tetap dan terus berulang.
4. Klarifikasi prasangka peneliti.
6. Menyediakan alas an untuk keputusan mereka untuk menyediakan masukan
atau tidak.
7. Menjelaskan bagaiman mereka mengetahui tentang masukan, jenis masukan,
dan mengapa.
8. Menjelaskan bagaimana masukan dari informan telah digunakan dalam
analisis dan interpretasi data.7
F. Teknik Analisis Data
Dalam pendekatan kualitatif sangat berbeda dengan pendekatan kuantitatif, terutama
dalam penyajian data atau analisis data. Menurut Matthew B. Miles, psikologi dan
pengembangan dan Michel Huberman ahli pendidikan dari University of Geneva,
Switzerland, (Miles dan Huberman, 1992:15-21) analisis kualitatif, data yang berwujud
kata-kata dan bukan rangkaian angka. Data itu mungkin telah dikumpulkan dalam aneka
macam cara yaitu pengamatan terlibat, wawancara semi terstruktur, dan selanjutnya
diproses melalui perekaman, pencatatan, pengetikan, tetapi analisis kualitatif tetap
menggunakan kata-kata yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperluas.
Analisis, menurut Matthew dan Michael dibagi dalam tiga alur kegiatan yang terjadi
secara bersamaan. Ketiga alur yang dimaksud adalah:
1. Reduksi data, alur ini diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan tranformasi data yang muncul dari
catatan-catatan lapangan. Reduksi data merupakan bagian dari analisis yang
7
menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga
kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan diverefikasi.
2. Penyajian data, penyajian yang dimaksud adalah sekumpulan informasi tersusun
yang member kemungkian adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan
3. Penarikan kesimpulan, dari permulaan pengumpulan data, peneliti mulai mencari
arti benda-benda, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin,
alur sebab akibat, dan proposisi. Kesimpulan akhir tergantung pada besarnya
kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodean, penyimpanan, dan metode
pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti, dan tuntutan sponsor.
8
G. Tahap-tahap Penelitian
1) Tahap Pralapangan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan peneliti adalah:
1) Menyusun rencana penelitian secara fleksibel (Penyususnan rancangan
penelitian adalah berupa usulan penelitian yang diajukan kepada ketua Prodi
8
Manajemen Dakwah, yang berisi tentang latar belakang masalah, fenomena
yang terjadi dilapangan, problematika yang berisi tentang permasalahan yang
diangkat dalam penelitian).
2) Memilih lapangan penelitian (Adapun lapangan penelitian yang dipilih oleh
peneliti adalah Karita Muslim Square Surabaya. Sebelum melakukan
penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan penggalian data atau informasi
tentang objek penelitian yang akan diteliti. Kemudian, ada ketertarikan yang
timbul dalam diri peneliti untuk menjadikan sebagai objek penelitian, karena
dirasa sesuai dengan disiplin ilmu peneliti selama ini.)
3) Mengurus perizinan untuk melakukan penelitian kepada pihak-pihak yang
terkait dengan penelitian yang akan dilakukan.
4) Menjajaki dan menilai lapangan (melakukan studi pendahuluan).
a) Pemahaman atas petunjuk dan cara hidup peserta penelitian.
b) Memahami pandangan hidup peserta penelitian.
c) Penyesuaian diri dengan keadaan lingkungan tempat atau latar penelitian.
5) Memilih dan memanfaatkan peserta penelitian (Usaha untuk memilih dan
memanfaatkan informan adalah dengan cara melalui keterangan orang yang
berwenang, yaitu responden 1 selaku pimpinan Karita Muslim Square
Surabaya dan responden 2 selaku SPV karita Muslim Square Surabaya.
6) Menyiapkan perlengkapan penelitian seperti alat-alat tulis, kamera, tape
recorder, bahkan jas hujan dan payung jika diperlukan serta peralatan-peralatan
lain yang dapat mendukung kelancaran penelitian di lapangan (menentukan dan
7) Memerhatikan etika penelitian. Peneliti harus dapat menjaga etika penelitian.
Kehadiran peneliti, meskipun sedang melakukan penelitian secara partisipatif,
jangan sampai merusak suasana.
a. Tahap pekerjaan lapangan
pada tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah:
1) Memehami latar penelitian di mana peneliti harus:
a) Membatasi latar penelitiannya.
b) Menjaga penampilan. Peneliti kualitatif selalu tampil
sederhana, paling tidak menyesuaikan diri dengan lapangan
dan informan.
2) Pengenalan hubungan peneliti di lapangan. Meskipun peneliti harus
akrab dengan informan atau anggota penelitian yang lain, peneliti
harus mengetahui batas-batas hubungan antara dirinya dengan
informan. Ini penting untuk menghindari subjektivitas data atau
hasil penelitiannya.
3) Jangka waktu penelitian. Peneliti harus menjelaskan kepada
informan atau anggota penelitian berapa lama penelitiannya akan
dilakukan.
4) Memasuki lapangan (melakukan penelitian di lapangan dengan
memperhatikan etika penelitian).
5) Keakraban hubungan. Peneliti harus bisa menjalin hubungan secara
Apabila kehadiran peneliti masih dianggap tamu atau orang asing
ditempat penelitian yang dilakukan, ia akan sulit menemukan data
secara holistik (terperinci dan mendalam).
6) Mempelajari bahasa yang digunakan oleh anggota penelitian.
Untuk memudahkan komunikasi di lapangan selama penelitian
berlangsung, peneliti harus mempelajari bahasa yang digunakan
oleh informan.
7) Peranan peneliti. Apabila data dikumpulkan dengan cara observasi
secara terlibat atau penelitian secara partisipatif, maka peneliti
dituntut untuk berperan sambil mengumpulkan data.
8) Pengarahan batas penelitian. Peneliti harus menjelaskan kepada
anggota penelitian atau informan tentang batas-batas penelitian
yang akan dilakukan.
9) Mencatat data. Ini dilakukan selama peneliti melakukan penelitian
di lapangan, sambil berperan serta atau apa saja yang dilihat
(ditemukan) berkenaan dengan latar penelitian.
10) Petunjuk tentang cara mengingat data. Buatlah catatan secepatnya,
jangan menunda-nunda pekerjaan. Untuk lebih memudahkan
peneliti mengingat data, peneliti harus membuat kode-kode tertentu
berkenaan data yang akan dikumpulkan. Hal ini mengingat data
yang dikumpulkan dari lapangan.Apalagi data hasil wawancara
merupakan data yang luas dean banyak. Bahkan kadang-kadang
Lebih jelas tentang pengkodean dibahas pada bab tentang penyajian
data.
11) Kejenuhan, keletihan, dan istirahat. Oleh karena penelitian
kualitatif menuntut keberadaan peneliti di lapangan yang relatif
lama, apalagi jika selalu berhadapan dengan situasi yang monoton
dan frekuensi penelitian yang intensif, terkadang menimbulkan
keletihan dan kejenuhan. Untuk itu peneliti harus mengatur waktu
penelitiannya dan mengatur waktu untuk istirahat. Artinya peneliti
harus menentukan waktunya melakukan penelitian dan kapan
waktunya istirahat.
12) Meneliti suatu latar yang didalamnya terdapat pertentangan.
Terkadang fenomena yang diteliti menunjukkan pertentangan satu
sama lain. Dalam kondisi seperti itu, peneliti harus bisa
menentukan benang merah yang mempertemukan antara konteks
yang diteliti dengan fenomena yang muncul di lapangan.
13) Analisis di lapangan. Seperti telah disebutkan dalam perbedaan
penelitian kualitatif dan kuantitatif diatas, bahwa analisis data
penelitian kualitatif dilakukan semenjak peneliti masih
mengumpulkan data di lapangan.Data yang telah dikumpulkan dan
dituangklan dalam bentuk laporan lapangan, harus segera
dianalisis. Hal ini akan dapat mengungkapkan : (a) data apa yang
masih perlu dicari atau belum dikumpulkan, (b) hipotesis apa yang
metode apa yang harus digunakan untuk mencari informasi baru,
dan (e) kesalahan apa yang harus diperbaiki. Analisis ini juga perlu
dilakukan untuk mendorong peneliti menulis laporan secara berkala
(Nasution, 1996).9
9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambar Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Karita Muslim Square
Surabaya sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. Dengan jumlah pendatang
yang kiat bertambah tiap tahunnya, menghadirkan ragam dinamika kehidupan yang
semakin berkembang karena pengaruh dari budaya, gaya hidup, serta penampilan.
Dengan semakin berkembang pengaruh mode atau gaya busana dari luar, maka dari itu
berdirilah butik Karita Muslim Square.
Karita Muslim Square merupakan salah satu toko yang masuk kedalam holding
Company Margaria Group, nama Margaria Group sudah dirintis sejak tahun 1984.
Seiring dengan berjalannya waktu, nama Margaria Group makin dikenal luas dan
diterima oleh kalangan masyarakat.
Toko Karita Muslim Square di Surabaya berdiri sejak tanggal 8 bulan Mei tahun
2010. Yang terletak di Jl. Ngagel Jaya Selatan No.129- 131 Surabaya. Dan sampai saat
ini ada 40 orang Sumber Daya Manusia yang bekerja di Karita Muslim Square. Karita
sangat mudah dijangkau dikarenakan lokasinya terletak ditengah kota. Bangunan tokonya
yang sangat mudah dikenali dengan tampilan logo yang eye catching berwarna pink.
Bangunan Karita terdiri dari tiga lantai. Warna pink yang mendominasi warna interior
dari Karita, membuat tampilan toko Karita terlihat sangat fresh dan sangat teenagers.
Warna pink yang mencerminkan feminisme seorang wanita yang anggun, beranjak
dewasa, percaya diri dan dinamis. Warna kuning yang mencerminkan aman, nyaman,
Ruangan toko yang nyaman ditunjang adanya AC (air conditioner) dan fasilitas
musholla serta tempat parker yang cukup luas bagi para customer atau pembeli. Lantai
satu toko terdiri dari stand busana, butik karita, dan stand perhiasan imitasi. Yang unik
didalam toko Karita ada space butiknya. Space butik Karita terletak dilantai satu menyatu
dengan toko Karita. Butikarita sengaja dimunculkan didalam toko Karita terutama
ditujukan bagi customer yang menyukai koleksi yang lebih eksklusif.
Busana yang terpajang di butik Karita Muslim Square didesain khusus oleh
desainer Karita dengan produksi yang terbatas atau limited edition. Space butik Karita di
lantai satu toko Karita, memiliki nuansa ekslusif yang berbeda. Untuk lantai dua,
standnya lebih banyak. Ada stand perlengkapan ibadah pria, perlengkapan haji, stand
mukena, stand sajadah, stand Al-Qur’an, dan buku, serta stand jilbab. Karita juga
melayani penukaran produk untuk kategori ukuran, penukaran dilayani hingga tiga hari
setelah pembelian dengan membawa copy nota dan label produk belum dilepas. Selain itu
Karita juga menyediakan layanan hantaran mahar dan parcel lebaran.
Sementara ini toko Karita sudah mempunyai cabang yaitu di Surabaya Jl. Ngagel
Jaya Selatan No.129 – 131 (031) 5013213 dan Purwokerto Jl. H. Bunyamin No.39 (
0281) 636936. Karita Muslim Square berharap dapat terus mengembangkan sayapnya ke
berbagai daerah di Indonesia, karena banyak customer Karita berasal dari daerah-daerah
luar Surabaya. Dengan kemajuan teknologi, customer sekarang juga bisa dilayani melalui
website Karita Muslim Square, dan juga media social. Hal ini memudahkan
customer-customer yang berada diluar kota dapat memesan baju melalui online shop dan juga terus
menjangkau pasar yang lebih luas lagi.1
1
2. Visi dan Misi Karita Muslim Square
Karita Muslim Square mempunyai visi yang bertujuan menjadikan Karita sebagai
sebuah perusahaan yang berkualitas, bercitra tinggi dan inovatif untuk bidang penyediaan
perlengkapan busana muslim atau produk yang berwawasan Islami bagi remaja atau anak
muda.2
3. Struktur Organisasi Kepengurusan
Guna menjalankan program kerja, Karita Moslem Square Surabaya menyusun
kepengurusan sebagaimana berikut: 3
Tabel 3
Struktur Pengurusan
Tabel 3
Tabel 3
No Pengurus Nama
1 Pemimpin Toko Rosabela Harmonitus
2 Supervisor Munawaroh
3 PJ SPV Luluk dan Nevika
4 Administrasi Fitri, Masita, dan Nur Asiyah
2
Hasil dokumentasi , Sabtu 11 juli 2016, Pukul 11.00 WIB, di Kantor Karita Muslim Square Surabaya 3
5 Admin Stok Kiki, Arta Nurmala, Ainur Rizkiya, dan Nia.
6 Duta Niaga Hanif, Puput, Lamia, Retno, Astin, Dwi Kusrini,
Fifin Jihan, Ingarsudo, Yeni, Indartiningsih,
Erlis, Qolbiya, Ayu Nur, Intan, Lina dan Afrida.
7 Bagian Umum Bambang, Beny, Gio dan Yahya
8 Permak Ika Yulia, dan Juwita.
9 Kasir Elma
10 Petugas Gudang Syifaul Ummah, dan Thea
Job Description
Struktur karita Muslim Square Surabaya dalam menjalankan kegiatan sehari-hari memiliki fungsi
sebagai berikut :
Job Description Fungsi
Assisten Manager Manajer umum ritel bertanggung jawab untuk
menjalankan toko ritel. Mereka memeriksa persediaan
untuk mendisiplinkan dan melatih karyawan untuk
memutuskan produk yang untuk persediaan di rak-rak.
Mereka memastikan toko berkinerja baik, bahwa
pelanggan puas, dan bawahan yang produktif.
SPVtoko Bertanggung jawab hasil atas orang-orang yang
diawasi terutama mutu dari jumblah produk dan
pelayanan.
Petugas gudang Mempunyai tanggung jawab menjamin ketersediaan
barang serta kualitasnya, sehingga tugas utamanya
adalah merencanakan kebutuhan, melakukan
penyimpangan dengan baik.
Security Bertanggung jawab penuh terhadap keamanan dan