• Tidak ada hasil yang ditemukan

SLHD 2014 Bab III Tekanan Terhadap Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SLHD 2014 Bab III Tekanan Terhadap Lingkungan"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-1 A. Kependudukan

Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Kulonprogo berdasarkan registrasi pada tahun

2014 sebesar 417.473jiwa, meningkat dibanding jumlah penduduk tahun 2013

sejumlah 416.209 jiwa, sehingga pertumbuhan penduduk sebesar 0,30 %.

Keadaan kependudukan di Kabupaten Kulonprogo selama 5 (lima) tahun

terakhir dapat dilihat pada tabel berikut :

TabeI 3.1

Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Kulonprogo Tahun 2010 - 2014

No Tahun Penduduk (jiwa) Pertumbuhan

(%)

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kulonprogo, 2014

Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk rata-rata di Kabupaten Kulonprogo adalah 712,11

jiwa /km2. Wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi pada tahun 2014 adalah

(2)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-2

Tabel 3.2

Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten Kulonprogo Tahun 2013 – 2014

No. Kecamatan Kepadatan Penduduk

2013 2014

1. Temon 737,92 726,32

2. Wates 1.420 1.426,16

3. Panjatan 812,54 807,16

4. Galur 952,10 958,16

5. Lendah 1.084,2 1.104,92

6. Sentolo 887,98 892,16

7. Pengasih 778,38 782,02

8. Kokap 461,91 463,77

9. Girimulyo 430,20 434,15

10. Nanggulan 733,99 740,71

11. Samigaluh 392,13 391,50

12. Kalibawang 550 545,88

Gambar 3.1.

(3)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-3 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Komposisi penduduk menurut jenis kelamin, terdiri dari laki-laki 206.494 jiwa (49,46%)

dan perempuan 210.979 jiwa (50,54%). Secara rinci menurut kecamatan sebagai berikut :

Tabel 3.3

Jumlah 206.494 210.979 417.473

Perbandingan komposisi menurut jenis kelamin tahun 2013-2014 sebagai berikut :

(4)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-4

Komposisi Penduduk Menurut Umur

Keadaan penduduk berdasarkan kelompok umur tahun 2014 didominasi

kelompok usia produktif dengan usai 20 sd. 59 tahun yakni sebesar 230.461 jiwa

atau 55,20 %, sedangkan usia muda umur 0 sd. 19 tahun sebanyak 114.952 jiwa

(27,54 %), dan yang minoritas adalah kelompok usia tua 60 tahun keatas

sebanyak 72.060 jiwa (17,26 %). Selengkapnya dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 3.4.

Komposisi Penduduk berdasarkan Struktur Usia (Kelompok Umur) Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

No. Umur Penduduk (jiwa) Prosentase

(%)

Sumber data : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab Kulonprogo, 2014

Komposisi penduduk ini menunjukkan mobilitas yang tinggi, dengan

(5)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-5

produktif yang menunjukkan efektivitas penduduk yang tinggi. Selanjutnya

komposisi penduduk digambarkan dalam grafik sebagai berikut :

Gambar 3.3.

Grafik Komposisi Penduduk menurut Usia Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Jumlah penduduk menurut pendidikan didominasi berpendidikan dasar

(SD dan SLTP/Sederajat) 167.513 orang (40,13%) dan berpendidikan

menengah 104.860 orang (25,12%). Selanjutnya berpendidikan tinggi

(Diploma/Strata I/Pasca Sarjana) sebesar 24.202 orang (5,8%). Secara rinci

(6)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-6

Tabel 3.5. Data Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Sumber data : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kulonprogo

Data penduduk menurut tingkat pendidikan tahun 2013 dibandingkan dengan data

tahun 2014 dapat digambarkan dengan grafik sebagai berikut :

(7)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-7 Jumlah Rumah Tangga / KK

Jumlah Rumah Tangga /Kepala Keluarga di Kabupaten Kulonprogo pada Tahun

2013 sejumlah 135.155 KK, sedangkan tahun 2014 sejumlah 138.984 atau

bertambah 3.829 (28,33%), dan dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 3.6. Jumlah Rumah Tangga/ Kepala Keluarga Menurut Kecamatan Kabupaten Kulonprogo Tahun 2013 - 2014

No Kecamatan Kepala Keluarga

2013 2014

desa dengan jumlah penduduk 139.511 jiwa (46.849 KK). Hampir sepertiga (33,42%)

jumlah penduduk Kabupaten Kulonprogo bertempat tinggal di wilayah pesisir dan laut.

Tabel 3.7. Penduduk Wilayah Pesisir dan Laut Kulonprogo Tahun 2014

No Kecamatan Jumlah Desa Jumlah Penduduk Kepala Keluarga ( KK )

(8)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-8 B. Permukiman

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo telah melaksanaan program dan kegiatan

di bidang permukiman untuk meningkatkan pelayanan infrastruktur wilayah. Untuk

itu dilaksanakan penanganan lingkungan sehat permukiman, pemberdayaan

komunitas perumahan dan penanganan sampah.

Program pengembangan perumahan dilaksanakan pembangunan Rusunawa

(Rumah Susun Sewa) di Desa Triharjo, Kecamatan Wates yang ditujukan pada

masyarakat dengan tingkat perekonomian menengah kebawah, hal ini sebagai

upaya Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam rangka meningkatkan pelayanan

bidang pemukiman.

Program Lingkungan Sehat Permukiman telah berhasil mengurangi jumlah

rumah tidak layak huni, dari jumlah semula 19.276 menjadi 14.971 rumah. Untuk

penanganan rumah tidak layak huni ini dilaksanakan program lintas sektoral yang

melibatkan juga Kementerian Perumahan Rakyat, Dinas Sosial, Badan Amal Zakat,

Infaq dan Shodaqoh Kulonprogo dan Kecamatan, program corporate social

responsibility (CSR) perusahaan swasta dan pihak lainnya. Untuk itu perlu

keperdulian lapisan masyarakat yang mempunyai strata lebih sejahtera. Kebijakan

stimulan bedah rumah dari dana non APBD dan pengembangan kegotongroyongan

yang melandasi kegiatan tersebut dapat mempercepat terhadap pengurangan

jumlah rumah tidak layak huni. Selain itu dilakukan juga terobosan-terobosan

mencari sumber pendanaan bagi ketersediaan prasarana umum perumahan di luar

APBD, yaitu dengan mengembangkan jaringan program di berbagai kementerian

(9)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-9

Gambar 3.5. Grafik Peningkatan Jumlah Rumah dan Rumah Layak Huni Tahun 2013-2014

Kelayakan sebuah bangunan rumah untuk dihuni tentu tidak hanya dari sisi fisik

bangunan rumah inti saja, tetapi juga kelayakan lingkungan permukiman rumah,

harus tersedia instalasi pengolahan air limbah rumah tangga, ketersediaan sarana

air bersih dan juga sarana dan prasarana pengelolaan sampah;

Sumber Air Minum

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo tahun 2014

yang telah diolah oleh Tim Penyusun SLHD, bahwa rumah tangga Kabupaten Kulon

Progo yang menggunakan sumber air minum ledeng sejumlah 60.626 KK

(43,62%); sumber dari sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan sejumlah

86.557 KK (62,28%), untuk pengguna dua sumber air minum ini jumlahnya melebihi

100%, karena pada umumnya rumah tangga yang menggunakan air ledeng

(pelanggan PDAM) juga mempunyai sumur gali sebagai sumber air minumnya.

Sedangkan untuk pengguna air sungai, dan air kemasan tidak tersedia data dan

(10)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-10

Untuk 2 rumah tangga yang masih menggunakan air hujan ini, karena pada

musim kemarau panjang sumur mereka benar-benar kering dan menggunakan PAH

untuk menampung air hujan. Tahun 2014, PPEJ Kementerian Lingkungan Hidup

membangun Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) sejumlah 28 unit untuk wilayah

rawan kekeringan di Desa Banjarharjo Kalibawang dengan sasaran masyarakat

miskin, agar mereka bisa mengakses air bersih disaat musim kemarau panjang.

Berikut contoh IPAH dibawah ini :

Gambar 3.6 Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) di Kalibawang Tahun 2014

Menurut data capaian MDGs tahun 2014 dari Bappeda Kulonprogo, penduduk

yang memiliki akses terhadap air minum di Kabupaten Kulonprogo sebesar 90,04

%. Tetapi jika mengacu pada jumlah rumah tangga dengan sumber air minumnya

dapat dikatakan bahwa seluruh penduduk di Kabupaten Kulonprogo sudah dapat

mengakses air bersih sebagai sumber air minumnya. Data tersebut dapat disajikan

(11)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-11

Gambar 3.7. Grafik Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Sampah

Program Pengembangan kinerja persampahan dilakukan untuk

meningkatkan daya tampung tempat pembuangan sampah. Tempat pembuangan

sampah sementara yang dilayani adalah di sentra-sentra permukiman di wilayah

Kota Wates dan di pasar-pasar negeri yang tersebar di dua belas kecamatan.

Dengan berubahnya paradigma pengelolaan sampah dari pengangkutan sampah

ke TPA menjadi penanganan sampah pada sumbernya, maka sampah diolah

dahulu, dipilah dibantu oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) pada TPST

3R dan sisanya baru di angkut ke TPA, tentunya dengan semakin sedikit sampah

yang diangkut ke TPA artinya semakin banyak sampah yang diolah oleh KSM

dengan demikian pemberdayaan masyarakat melalui KSM optimal. Data TPA dan

(12)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-12

Tabel 3.8. TPA dan TPST 3R di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

No. Jenis Prasarana Lokasi Luasan (m2)

1. TPA 3R Banyuroto Banyuroto,Nanggulan 25.000

2. TPST 3R Sampurno Asih Tobanan, Pengasih 1.000

3. TPST 3R Melati Beji, Wates 1.000

4. TPST 3R Asri Mulyo Bendungan, Wates 1.000

5. TPST 3R Asri Sentolo Lor 1.000

Sumber data : DPU Kab Kulonprogo, 2014

Untuk TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) yang berada di Desa Banyuroto

Kecamatan Nanggulan seluas ± 2,5 Ha, dengan sistem Control Landfill. TPA baru

mengolah sampah yang diangkut oleh DPU sejumlah ± 70-80 m3/hari, sedangkan

perkiraan timbulan sampah per hari dihitung berdasarkan literatur jumlah sampah

yang dihasilkan untuk kategori kota kecil adalah 0,003 m3/orang/hari, sehingga

dengan jumlah penduduk 417.473 jiwa, untuk Kabupaten Kulonprogo diperoleh

jumlah sampah 1.252,419 m3/hari. Timbulan sampah akan semakin besar seiring

dengan kenaikan jumlah penduduk. Perbandingan timbulan sampah tahun 2013

dan 2014 sebagai berikut :

Gambar 3.8.

(13)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-13

Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk mengelola sampah yang

dihasilkan. Ada yang sudah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku,

namun masih ada juga masyarakat yang membakar sampah dan membuang ke

sungai. Untuk tahun 2014 di Kabupaten Kulonprogo telah tumbuh dan berkembang

dengan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat selain TPST 3R yaitu

dengan Bank Sampah. Tentu sistem ini sangat membantu untuk mengurangi

perilaku membakar dan membuang sampah di sungai. Data bank sampah di

Kabupaten Kulonprogo dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.9. Data Bank Sampah di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

No. Nama Bank Sampah Alamat

1 2 3

1. Sadidu 29 Wonosidi Lor RW 29, Wates 2. Melati Kembang, Margosari, Pengasih 3. Maju Sehati Wonosidi Lor RW 30 dan 31, Wates 4. Uwuh Harjo Ngrajun, Banjarharjo, Kalibawang 5. Uwuh Mulyo Segajih, Hargotirto, Kokap 6. Wijaya Kusuma Karangwuluh Kidul, Temon

7. Skansa SMKN 1 Pengasih

8. Bunda Mandiri Banyunganti Kidul, Kaliagung, Sentolo 9. Ngudi Resik Mejing, Banjararum, Kalibawang 10. Bumi Arum Lestari Sayangan, Banjararum, Kalibawang 11. Arum Berseri Kagongan, Banjararum, Kalibawang 12. Kuncup Asri Kepiton, Banjarasri, Kalibawang 13. Banjar Lestari Banjaran, Banjaroya, Kalibawang 14. Resik Manfaat Tulangan, Ngargosari, Samigaluh 15. Pulung Sari Tegalsari, Ngargosari, Samigaluh 16. Lestari Pucung, Ngargosari, Samigaluh 17. Rejeki Nguntukuntuk, Ngargosari, Samigaluh 18. Sumber Rejeki Ngaran III, Banjarsari, Samigaluh 19. Sido Asri Pengos A, Gerbosari, Samigaluh 20. Legowo Dukuh, Gerbosari, Samigaluh 21. Tinalah Asri Pagutan, Purwoharjo, Samigaluh 22. Ngudi Resik Kalirejo Lor, Pagerharjo, Samigaluh

23. Sulur Permai Samigaluh

24. Pulung Rejeki Pundak Lor, Kembang, Nanggulan 25. Sapu Jagad Plugon, Donomulyo, Nanggulan

26. Tanjung Berkah Tanjung Gunung, Tanjungharjo, Nanggulan 27. Rizki Mulia Ngrojo, Kembang, Nanggulan

28. Pelopor Kebersihan Cepitan, Wijimulyo, Nanggulan 29. Sekar Sekawan Pundak Tegal, Kembang, Nanggulan 30. Utama Jonggrangan, Jatimulyo, Girimulyo 31. Menoreh Sukomoyo 12, Jatimulyo

32. Mekar Asri Sukomoyo 10, Jatimulyo 33. Pemuda Jonggrangan 95, Jatimulyo 34. Wanita Jonggrangan 96, Jatimulyo

(14)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-14

1 2 3

36. Mugi Makmur Garang, Tawangsari, Pengasih 37. Gemah Ripah Nabin, Sidomulyo, Pengasih 38. Widodaren Parakan, Sidomulyo, Pengasih 39. Hijau Daun Klegen, Sendangsari, Pengasih 40. Kompak Kutogiri, Sidomulyo, Pengasih 41. Bakung Asri Cemetuk, Kedungsari, Pengasih 42. Obika Karangasem, Sidomulyo, Pengasih 43. Ngudi Resik Kopok Kulon, Tawangsari, Pengasih 44. Karya Muda Kepek, Pengasih

45. Tambah Rejeki Gedangan, Sentolo 46. Dadi Migunani Gedangan, Sentolo

47. Harapan Makmur Banyunganti Lor, Kaliagung, Sentolo 48. Berokah Wora-wari, Sukoreno, Sentolo 49. Rahayu Banggan, Sukoreno, Sentolo 50. Berkah Kuncen, Bendungan, Wates 51. Mawar Mekar Durungan, Wates

52. Flamboyan Sebokarang, Wates

53. Migunani Kedungdowo, Wates

54. Sehat Sideman, Giripeni, Wates 55. Teratai Putih Graulan, Giripeni, Wates 56. Sido Mulyo Sambong, Hargorejo, Kokap 57. Sarwo Guno Selo Timur, Hargorejo, Kokap 58. Ngudi Rejeki Tegalrejo, Hargowilis, Kokap 59. Ngudi Makmur Bibis, Hargowilis, Kokap 60. Berkah Tirto, Hargotirto,Kokap 61. Sekar Mandiri Plumbon, Temon

62. QT. A Panginan, Sindutan, Temon 63. Mestiti Nagung, Kedundang, Temon 64. Melati 2 Kledekan, Jangkaran, Temon 65. Asri Lestari Salam 3, Plumbon, Temon 66. Migunani Bangeran, Bumirejo, Lendah 67. Resik Geden, Sidorejo, Lendah 68. Mapan Bonosoro, Bumirejo, Lendah 69. Ngugemi Kepek, Jatirejo, Lendah 70. Uwuh Berkah Tubin, Sidorejo, Lendah 71. Bangun Lestari Panjatan

72. Sekar Mandiri Panjatan

73. Bina Sejahtera Depok XI, Panjatan

74. Guyup Rukun Panjatan

(15)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-15 Tempat Buang Air Besar

Sistem pembuangan kotoran manusia erat kaitannya dengan kondisi

lingkungan dan resiko penularan penyakit, khususnya penyakit pada saluran

pencernaan. Berdasarkan data tahun 2014 Dinas Kesehatan Kabupaten

Kulonprogo, sebagian besar rumah tangga 108.924 KK (78,37%) telah mempunyai

tempat buang air besar sendiri (jamban keluarga). Sedangkan yang menggunakan

tempat buang air besar bersama yakni sejumlah 156 KK (0,1%) dan pengguna

fasilitas tempat buang air besar umum atau MCK komunal sejumlah serta yang

tidak ada data tempat buang air besarnya tidak tersedia data. Dibandingkan dengan

data tahun 2013 adalah sebagai berikut :

Gambar 3.9. Grafik Tempat BAB di Kab Kulonprogo Tahun 2013-2014

Menurut data capaian MDGs dari Bappeda Kulonprogo, bahwa prosentase

capaian penduduk yang memiliki jamban sehat pada tahun 2014 adalah 81,8%.

Tempat pembuangan air besar kebanyakan menggunakan model leher angsa,

cemplung/cubluk dan plengsengan.

Sarana sanitasi lingkungan di Kabupaten Kulonprogo secara kuantitas dan

(16)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-16

kurang memenuhi ditinjau dari aspek kesehatan lingkungan terutama di wilayah

pedesaan seperti masih menggunakan jamban cemplung (cubluk) terbuka. Secara

umum penanganan air limbah rumah tangga di Kabupaten Kulonprogo adalah

mempergunakan sistem setempat (onsite system) berupa : jamban tuang siram

pribadi yang dihubungkan dengan tangki septik; jamban tuang siram pribadi yang

dihubungkan dengan cubluk tunggal (cemplung tertutup); jamban cubluk pribadi

(cemplung terbuka).

Secara umum kondisi permukiman yang meliputi sumber air minum, sarana

pembuangan sampah serta sarana pembuangan kotoran/ buang air besar di

wilayah Kabupaten Kulonprogo tahun 2014 sudah ada peningkatan ke arah yang

lebih baik dibandingkan dengan tahun 2012 dan 2013. Dari data capaian MDGs

tahun 2014, bahwa desa yang telah melaksanakan STBM (Sanitasi Total Berbasis

Masyarakat) di Kabupaten Kulonprogo mencapai 73,86% atau 65 dari 88

desa/kelurahan.

C. Kesehatan

Angka Harapan Hidup Kabupaten Kulonprogo untuk tahun 2014 sebesar

75,20 meningkat dibanding angka tahun 2013 sebesar 75,03 tahun Angka

harapan hidup penduduk Kabupaten Kulonprogo ini juga berada di atas rata-rata

angka harapan hidup provinsi tercatat sebesar 73,62 tahun. Hal ini menunjukkan

keberhasilan capaian pembangunan manusia bidang peningkatan derajat

kesehatan masyarakat di Kabupaten Kulonprogo. Perhitungan Usia Harapan

Hidup (UHH) dalam lima tahun terakhir dapat disajikan dalam gambar sebagai

(17)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-17

Gambar 3.10.

Grafik Usia Harapan Hidup di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2010 - 2014

. Angka kematian Ibu tahun 2014 tercapai 94,25/100.000 KH dan secara

absolut jumlah kematian Ibu tahun 2014 sudah menurun yaitu dari 7 kasus pada

tahun 2013 menjadi 5 kasus pada tahun 2014, sedang untuk angka kematian bayi

sudah dapat diturunkan yaitu dari 18,23/1.000 KH pada tahun 2013 menjadi

11,49/1.000 KH pada tahun 2014. Data tersebut dapat disajikan dalam tabel

berikut :

Tabel 3.10. Indikator Pembangunan Kesehatan Kabupaten Kulonprogo Tahun 2012 - 2014

No. Uraian

Tahun

2012 2013 2014

1. Angka Kematian Ibu (AKI) 52,67/100.000 KH

132/100.000 KH

94,25/100.000 KH

2. Angka Kematian Bayi (AKB) 12,1/ 1000 KH 18,23/ 1000 KH 11,49/1000 KH

(18)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-18

Jenis-jenis penyakit utama yang diderita penduduk Kabupaten Kulon Progo

Tahun 2014 dibandingkan dengan tahun 2012 dan 2013, ada beberapa yang

bergeser peringkat jumlah penderitanya. Data tersebut dapat disajikan dalam

gambar berikut :

Gambar 3.11.

(19)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-19 D. Pertanian

Kabupaten Kulonprogo mempunyai dua kawasan pertanian yaitu kawasan

pertanian lahan basah dan kawasan pertanian lahan kering. Untuk tahun 2014, luas

lahan pertanian/sawah di Kabupaten Kulonprogo adalah 10.297 Ha masih tetap

sama dengan tahun 2013.

Kawasan pertanian lahan basah merupakan kawasan pertanian yang tersedia

air terus menerus sepanjang tahun dan cocok untuk komoditas tanaman padi

dengan ciri pengolahan tanah sawah. Kawasan ini digunakan tidak hanya sebagai

lahan produksi tetapi juga digunakan sebagai daerah resapan air. Berdasarkan

kriteria tersebut maka persebaran lahan pertanian basah meliputi sebagian wilayah

Kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur, Lendah, Sentolo, Pengasih, Girimulyo,

Nanggulan, Kalibawang dan Samigaluh.

Sedangkan untuk kawasan pertanian lahan kering adalah areal pertanian

yang tidak tersedia air secara baik dan cocok untuk tanaman serta sistem

pengolahan lahan kering. Tanaman yang dimaksud meliputi tanaman pangan dan

holtikultura dengan tujuan pengelolaan untuk memanfaatkan potensi lahan yang

sesuai untuk kegiatan pertanian lahan kering dalam meningkatkan produksi pangan

dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Lahan sawah merupakan lahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat

sebagai lahan tanaman pangan, mengingat kehidupan manusia tergantung bidang

pertanian sehingga tidak mengherankan jika sektor pertanian mempunyai peran

penting dalam pembangunan khususnya di Kabupaten Kulonprogo. Lahan sawah di

Kabupaten Kulonprogo meliputi sawah irigasi teknis, sawah irigasi semi teknis,

sawah irigasi sederhana, dan sawah tadah hujan.

Penggunaan lahan untuk sawah di Kabupaten Kulonprogo bervariasi, ada

(20)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-20

penanaman 90 hari/periode. Perkiraan sumbangan emisi gas metan (CH4) dari

lahan sawah terbesar terjadi pada lahan dengan musim tanam 2 kali/tahun, karena

yang menggunakan frekuensi penananam ini paling banyak yaitu seluas 9.281 Ha.

Penggunaan Pupuk

Kenyataan di lapangan, petani sudah mengurangi pemakaian pupuk kimia,

dan kembali menggunakan kompos, karena lebih ekonomis dan petani juga sudah

mulai sadar dan peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup. Kompos ini

diproduksi oleh kelompok-kelompok masyarakat/petani setempat. Penggunaan

pupuk untuk padi dan palawija tahun 2013 dan 2014 dapat dilihat pada gambar

berikut :

Gambar 3.12. Grafik Penggunaan Pupuk Tahun 2013-2014

Dari grafik dapat dilihat bahwa penggunaan pupuk kimia meningkat, dan

pupuk petroganik menurun, hal tersebut disebabkan perubahan kuota pupuk

bersubsidi. Sedangkan data penggunaan pupuk non subsidi tidak tersedia,

sehingga tidak dapat diperbandingkan penggunaannya. Untuk tanaman

perkebunan, penggunaan pupuk urea : 155 ton, SP 36 : 5 ton, ZA : 253 ton, NPK :

(21)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Populasi Terbesar Hewan Ternak di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2013 -2014

No Jenis Ternak Populasi

Tahun 2013 Tahun 2014 Perubahan (%)

I Ternak Besar 53.643 49.522 (7,68)

Sumber : Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kulonprogo, 2014

Hewan ternak besar yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat

Kulonprogo adalah jenis kambing dengan jumlah populasi 90.010 ekor, kemudian

sapi potong 49.370 ekor dan domba 21.214 ekor. Dan untuk hewan unggas adalah

ayam ras/pedaging dengan jumlah populasi 1.728.226 ekor, ayam petelur 882.797

ekor dan kemudian ayam buras/kampung 771.638 ekor. Sedangkan untuk perkiraan

(22)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-22

potong kemudian baru kambing, sedangkan untuk perkiraan emisi gas metan (CH4)

dari fermentasi pencernaan terbesar adalah sapi potong, kemudian kambing dan

domba. Untuk unggas perkiraan emisi gas metan (CH4) terbesar adalah dari pupuk

kandang kotoran ayam ras/pedaging, kemudian ayam petelur, dan ayam

buras/kampung.

Sedangkan untuk mengetahui ternak besar, kecil maupun unggas yang

mempunyai populasi besar disajikan dalam gambar sebagai berikut :

Gambar 3.13.

(23)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-23 Kebutuhan Air

Kegiatan sektor pertanian yang meliputi : pertanian, perikanan dan peternakan

membutuhkan air untuk keberlangsungan kegiatannya. Adapun data kebutuhan air

untuk sektor tersebut adalah :

Tabel 3.12

Kebutuhan Air Sektor Pertanian Kabupaten Kulon Progo

No. Kecamatan Kebutuhan Air (juta m

3)

Peternakan Pertanian Perikanan Total

1. Samigaluh 0,0879 18,8262 0,0867 19,8115

(24)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-24 E. Industri

Industri Kecil

Industri kecil di Kabupaten Kulonprogo dikelompokkan menjadi 5 kelompok

besar yaitu :

1. Industri pengolahan pangan : tahu, tempe, emping, krimpying, jenang,

minyak kelapa, gula, jamu, slondok, growol, dll;

2. Industri sandang dan kulit : batik tulis konveksi, bordir dan kerajinan kulit;

3. Industri kimia dan bahan bangunan : gamping, genteng, gerabah, bata

merah dan minyak atsiri;

4. Industri Logam dan Jasa : pande besi, kaleng dan las

5. Kerajinan dan umum : meubel, kerajinan enceng gondok, kerajinan sabut

kelapa, anyaman bambu, imitasi, serat tumbuhan dan wayang golek.

Industri yang beroperasi di Kabupaten Kulonprogo, didominasi oleh industri

kecil. Data industri kecil disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 3.13.

Industri Kecil di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2012 - 2014

No. Uraian

Kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan pencemaran air di Kulonprogo

tersebar pada dua belas kecamatan Adapun data sumber pencemar air di Kabupaten

(25)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-25

Tabel 3.14.

Jumlah Sumber Pencemar Air berdasarkan Jenisnya di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

No. Nama Kegiatan Jumlah Persentase (%)

1 Pelayanan Kesehatan 31 17,42

2 Industri 123 69,10

3 Jasa Pariwisata 6 3,37

4 Lain-lain 18 10,11

Total 178 100

Sumber : Data Sumber Pencemar DIY Tahun 2013

Pada tabel 45 terlihat bahwa kegiatan industri masih merupakan kegiatan

dominan (69,10%) yang menjadi sumber pencemar air disusul kegiatan pelayanan

kesehatan (17,42%) dan jasa pariwisata (3,37%).

Data sebaran sumber pencemar air tersebut disajikan juga dalam bentuk

(26)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-26

Gambar 3.14.

Peta Persebaran Sumber Pencemar Air di Kabupaten Kulonprogo

Tahun 2014, pemeriksaan sampel air terkait upaya pencegahan pencemaran air

dari limbah usaha dan / atau kegiatan dilakukan pada sebanyak 5 titik lokasi usaha

yaitu : pelayanan kesehatan, industri wig dan UMKM batik. Adapun hasil uji

(27)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-27

Tabel 3.15. Hasil Uji Kualitas Limbah Cair Industri Tahun 2014

Hasil Uji Limbah Cair pada Sarana Pelayanan Kesehatan :

Parameter Satuan

Parameter Satuan Hasil Uji

(28)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-28

Hasil Uji Limbah Cair pada Industri Wig “PT. Sunchang Indonesia” :

Parameter Satuan Hasil Uji BMAL DIY

Pergub DIY 7/2010

TSS mg/L 21,3 50

TDS mg/L 452 1000

Temperatur °C 24,2 Deviasi 3°C

DHL µmhos/cm 1973,07 15625

pH -- 8 6,0 – 9,0

DO mg/L 7,43 -

BOD mg/L 60,49 50

COD mg/L 101,4 125

Detergen sbg MBAS mg/L 0,1843 5

Minyak dan lemak mg/L 8 5

Sumber : Data primer KLH Kulon Progo, 2014

Dari hasil pengujian kualitas limbah cair industri tersebut, diperoleh data bahwa

ada beberapa parameter yang masih melebihi baku mutu yang ditentukan (Pergub

DIY No. 7/2010), terutama untuk UMKM industri batik. Hal ini karena sistem

pengolahan limbah cair yang ada belum sempurna. Untuk tahun 2014 ini telah

dibangun Ipal Komunal limbah batik dan diharapkan tahun 2015 sudah bisa

dioperasionalkan, sehingga sumber pencemar dari industri batik ini dapat

(29)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-29 Industri Sumber Pencemar Udara

Kegiatan dan atau usaha yang berpotensi untuk menimbulkan pencemaran

udara di Kulonprogo antara lain :

1. Usaha Peternakan (ayam, unggas, sapi dan kambing), pencemaran yang ditimbulkan

adalah bau;

2. Industri AMP dan Stone Chruser serta SPBE yang berpotensi menimbulkan bau gas;

3. Industri Arang Briket, di Kabupaten Kulonprogo ada dua industri kategori menengah

untuk arang briket, yaitu PT. Kurnia Bumi Pertiwi dan PT. Aneka Sinendo.

(30)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-30

Dari hasil survey lapangan tahun 2012, ada beberapa sumber pencemar udara

yang sudah tidak sesuai (berhenti beroperasi, dll). Untuk tahun 2014, dilakukan survey

lapangan untuk dilakukan uji kualitas emisi udara dari sumber tidak bergerak. Industri

tersebut antara lain :

Tabel 3.15. Data Sumber Pencemar Udara Tidak Bergerak Kabupaten Kulonprogo

No. Nama Industri Jenis Industri Sumber Emisi Jumlah

1. PT. Aneka Sinendo Arang Briket Oven kayu (tungku

Sumber data : Hasil survey lapangan, 2014

Tabel 3.16. Hasil Uji Emisi Sumber Tidak Bergerak Tahun 2014

No.

Sumber data : Hasil uji laboratorium, 2014

(31)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-31

Dari hasil uji laboratorium, bahwa untuk parameter NO2, SO2 dan Opasitas,

dengan sumber emisi tungku pembakaran, genset maupun dryer, semuanya masih

dalam keadaan baik dibawah baku mutu yang diperuntukkan. Sedangkan untuk

parameter partikel debu, ada satu sumber emisi yang melebihi baku mutu, yaitu pada

(32)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-32 F. Pertambangan

Kegiatan penambangan di Kabupaten Kulonprogo telah berlangsung cukup lama, dan

dikenal dengan tambang tradisional yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk

keperluan hidup mereka sendiri seperti penambangan batu dan pasir di sekitar Sungai

Progo. Akan tetapi sekarang telah berkembang dengan cepat dan ditemukannya

beragam jenis cadangan bahan mineral di seluruh wilayah Kabupaten Kulonprogo.

Gambaran mengenai cadangan sumberdaya mineral dan batubara yang terdapat di

Kabupaten Kulonprogo, adalah sebagai berikut :

Tabel 3.17. Potensi Bahan Mineral di Kabupaten Kulonprogo (m3)

No Bahan Galian Potensi (m3)

6 Batupasir Tufan Kuarsaan 111.020.000

8 Bentonit / Abu Bumi 583.125

9 Breksi Andesit 153.020.630

10 Breksi Batuapung 3.773

11 Breksi Polemik 698.250.000

12 Emas Tak Terukur

Selanjutnya untuk peta potensi sumber daya mineral di Kabupaten Kulon Progo

(33)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-33

(34)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-34

Di Kabupaten Kulonprogo terdapat 19 jenis bahan galian seperti disajikan pada

Tabel diatas. Dari kesembilan belas jenis bahan galian tersebut ada 4 jenis yang

diproduksi secara kontinyu sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2014 yaitu andesit,

batugamping, bentonit/abu bumi dan pasir.

Program Pengawasan dan Penertiban Kegiatan Rakyat yang Berpotensi

Merusak Lingkungan pada tahun 2014, diimplementasikan melalui kegiatan

Pengawasan dan Penertiban Usaha Pertambangan dan Energi. Kegiatan ini dapat

terealisasi berupa pengawasan pertambangan sejumlah 60 kali dengan sasaran

kegiatan pertambangan berijin dan tanpa ijin, pelaksanaan reklamasi dan koordinasi

penyelesaian permasalahan pertambangan di lokasi pertambangan. Selain itu, juga

dapat diterbitkan surat perintah untuk menghentikan kegiatan penambangan bagi

pelaku kegiatan penambangan tanpa ijin (Peti) sejumlah 17 buah dan surat teguran

bagi kegiatan pertambangan berijin sejumlah 23 buah serta surat pembinaan dan

arahan teknis penambangan dan lingkungan tambang sebanyak 16 buah.

Pertambangan di Kulonprogo sebagian besar merupakan kegiatan

pertambangan rakyat, sebagian kecil lainnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh

pengusaha. Usaha pertambangan saat ini banyak dilakukan di sektor hulu yaitu

penambangan atau penggalian. Kegiatan di sektor pengolahan melalui industri

pertambangan yang dilakukan oleh dunia usaha masih terbatas pada penggilingan

batu.

Dalam rangka mengatur usaha pertambangan pemerintah daerah telah

menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pengelolaan

Pertambangan Mineral dan Batubara.

Untuk kegiatan pelayanan dan penyuluhan perijinan pertambangan tahun

(35)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-35

produksi batuan (andesit dan pasir) sejumlah 53 buah, IUJP sejumlah 4 buah dan

surat keterangan terdaftar 7 buah.

Data tentang luas areal dan produksi pertambangan menurut jenis bahan

galian tahun 2014 dibandingkan dengan tahun 2013 adalah sebagai berikut :

Gambar 3.18. Grafik Luas Areal dan Produksi Pertambangan Menurut Jenis Bahan Galian Tahun 2013 - 2014

(36)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-36 G.Energi

Program Diversifikasi, Intensifikasi dan Konservasi Energi direalisasikan

dengan kegiatan penelitian dan pengembangan sumber energi alternatif di

Kabupaten Kulonprogo. Penelitian ini telah memberikan data dan informasi mengenai

jenis, klasifikasi serta kapasitas dan potensi energy primer (listrik, BBM, elpiji) serta

energi alternatif berupa energi air, angin, matahari, biogas dan biomassa.

Sumber energi yang paling banyak digunakan untuk mendukung kegiatan

sosial ekonomi masyarakat Kulonprogo adalah sumber energi konvensional seperti,

kayu bakar/arang/biomassa, minyak tanah, solar, bensin, LPG serta energi listrik,

yang penggunaannya paling besar untuk rumah tangga. Pelayanan kelistrikan hampir

seluruhnya bersumber dari PLN yaitu sejumlah 101.135 rumah tangga atau

meningkat 2.738 dari tahun 2013 yang berjumlah 98.397 dan sebagian kecil yang

tidak bersumber dari PLN seperti unit-unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

yang dimanfaatkan di Kokap sejumlah 314 KK yang belum terjangkau layanan PLN.

Berdasar data olahan tim penyusun SLHD Kab. Kulonprogo, bahwa jumlah

konsumsi energi untuk keperluan rumah tangga di Kabupaten Kulonprogo adalah

LPG sebesar 3.301.973 kg; minyak tanah sebesar 72.864 liter, sedangkan yang

menggunakan biomassa seperti kayu bakar sebesar 22.099.305 kg. Dilihat dari data

tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsumsi energi/bahan bakar untuk kebutuhan

rumah tangga masyarakat untuk minyak tanah dan kayu bakar menurun kuantitasnya

jika dibandingkan dengan tahun 2013. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat

beralih menggunakan bahan bakar LPG. Meskipun pengguna bahan bakar kayu

bakar /biomassa masih cukup banyak karena sebagian besar masyarakat masih

tinggal di wilayah pedesaan dan di wilayah tersebut potensi biomassa sangat

melimpah, antara lain : kayu bakar, ranting, daun, dll. Data perbandingan

(37)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-37

Gambar 3.19. Grafik Penggunaan Bahan Bakar

untuk Keperluan Rumah Tangga di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2013-2014

Energi Alternatif (Energi Baru dan Terbarukan)

Pengembangan sumber energi alternatif seperti angin, air, matahari, gelombang

air laut dan biogas dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi yang besar.

Di wilayah Kabupaten Kulonprogo pada mulai tahun 2007 sampai dengan tahun

2014 telah dibangun beberapa unit biodigester untuk menghasilkan bio gas dengan

memanfaatkan limbah kotoran ternak (sapi, kambing), limbah industri tahu. Data

pembangunan biogas sebagai berikut :

Tabel 3.18. Data Biogas di Kulonprogo

No. Tahun Jumlah Biogas Terbangun (unit)

1. 2007 12

2. 2008 28

3. 2009 35

4. 2010 44

5. 2011 21

6. 2012 26

7. 2013 30

8. 2014 11

(38)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-38

Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH) juga sudah dikembangkan antara lain :

- Semawung, Banjarharjo, Kalibawang;

- Kedungrong, Purwoharjo, Samigaluh

Selain itu, pemerintah daerah memfasilitasi masyarakat untuk memanfaatkan

energy surya/ matahari sebagai sumber energy alternative pada tahun 2008 sejumlah

130 unit, tahun 2009 sejumlah 172 unit, tahun 2011 sejumlah 17 unit, tahun 2012

sejumlah 25 unit, dan 2013 sejumlah 37 unit sedangkan untuk tahun 2014 tidak ada

pembangunan lagi

.

Sedangkan untuk konsumsi energi untuk industri kecil di Kabupaten Kulonprogo,

data yang tersedia dari Dinas Perindag ESDM sebagai berikut : LPG 278.342 kg,

solar 209.080 liter, minyak tanah 18.700 liter, dan biomassa 549.533 kg sesuai

(39)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-39 H. Transportasi

Sistem transportasi di Kabupaten Kulonprogo sebagian besar memanfaatkan

jalan raya sebagai jalur utama pergerakan lalu lintas, baik untuk pergerakan lokal

maupun regional yang menghubungkan kota-kota besar seperti Yogyakarta,

Purworejo, Magelang, Bantul; sedang sistem angkutan umum yang melayani terbagi

atas pelayanan regional (Antar Kota Antar Provinsi/AKAP) dan Antar Kota Dalam

Provinsi (AKDP) serta lokal (pedesaan).

Kondisi lalu lintas jalan raya di wilayah Kabupaten Kulonprogo pada umumnya

masih lancar. Jenis kendaraan yang melintas di wilayah Kabupaten Kulonprogo

didominasi oleh kendaraan pribadi khususnya sepeda motor. Arus lalu lintas yang

tinggi pada umumnya terletak pada ruas-ruas jalan utama, sedangkan waktu kegiatan

arus lalu lintas masyarakat yang tinggi terjadi pagi hingga sore hari.

Adapun panjang jalan yang ada di Kabupaten Kulonprogo seluruhnya sepanjang

1.112.373 Km dengan rincian dari status dan kewenangan terdiri atas : Jalan Nasional

sepanjang 28,570 Km yang berfungsi sebagai arteri primer seluruhnya dengan

permukaan aspal; Jalan Provinsi yang berfungsi sebagai kolektor primer sepanjang

159,900 Km semuanya dengan permukaan aspal; dan Jalan Kabupaten yang

berfungsi sebagai lokal primer dan sebagian kecil kolektor primer dengan total

panjang 925,303 Km, kesemuanya dalam kondisi baik 49,95%, sedang 37,64%, rusak

9,97% dan rusak berat 2,44%. Kondisi geografis Kabupaten Kulon Progo yang

sebagian besar merupakan perbukitan sehingga geometris jalan daerah tersebut

berupa tanjakan dan turunan tajam serta tikungan tajam, disertai dengan kondisi

tanah yang labil dan mudah longsor.

Disamping jaringan jalan raya juga terdapat jalan Kereta Api (KA) sepanjang 25

km yang merupakan bagian dari jaringan jalan KA di Pulau Jawa lintas selatan.

(40)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-40

Jumlah kendaraan menurut jenis kendaraan dan bahan bakar yang digunakan

tahun 2014 disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 3.19. Jumlah Kendaraan menurut Jenis Bahan Bakar yang Digunakan di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

No. Jenis Kendaraan Bensin Bahan Bakar Solar Total

1. Beban 2.546 540 3.086

Sumber : Dishubkominfo Kab Kulonprogo, 2014

Sedangkan untuk perkembangan jumlah kendaraan baik yang berbahan bakar

bensin maupun solar tahun 2013 dan 2014 dalam berbagai jenis kendaraan dapat

digambarkan dalam grafik berikut :

(41)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-41

Mengingat perkembangan transportasi yang akan datang dan kondisi geografis

yang ada, demi kenyamanan masyarakat diperlukan sarana dan prasarana

transportasi yang memadai. Saat ini di Kabupaten Kulonprogo baru tersedia sarana

terminal kendaraan penumpang umum sejumlah 1 buah terminal type B dan 6 buah

sub terminal type C, sedangkan untuk angkutan kereta api terdapat 2 buah stasiun

yaitu stasiun Wates dan Sentolo. Perkiraan volume limbah padat/sampah dari

sejumlah sarana prasarana transportasi tersebut tersedia data 5,25 m3/hari masih

sama dengan data tahun 2013.

Untuk sarana pelabuhan laut-sungai dan danau di Kabupaten Kulonprogo belum

ada, sedangkan yang ada adalah dermaga pelabuhan ikan di Pantai

Karangwuni-Glagah. Perkembangan pembangunan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarta sampai

dengan akhir tahun 2014 mencapai sekitar 86%. Pada tahun 2015 akan dilakukan

pengerukan alur dan pendalaman kolam pelabuhan, sehingga pada akhir tahun 2015

direncanakan pelabuhan sudah dapat dioperasionalkan.

Sarana perhubungan udara juga belum ada di Kabupaten Kulonprogo, namun

keberadaan pengembangan bandara baru Yogyakarta di Kulonprogo juga sesuai

dengan indikasi program dalam RTRW sebagaimana Peraturan Daerah DIY Nomor 2

Tahun 2010 dan RPJMD sebagaimana Peraturan Daerah DIY Nomor 6 Tahun 2013.

Studi kelayakan dan Rencana Induk Pembangunan Bandara Baru telah disusun,

selanjutnya telah dikeluarkan ijin lokasi dari Kementerian Perhubungan dengan lokasi

di Desa Glagah, Palihan, Sindutan, dan Jangkaran Kecamatan Temon Kabupaten

(42)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-42 I. Pariwisata

Kabupaten Kulonprogo memiliki beraneka ragam obyek dan daya tarik wisata

yang meliputi pantai, pegunungan, goa, waduk, dan pemandian. Pengembangan

pariwisata sudah dilakukan dan diarahkan pada peningkatan daya tarik serta promosi

potensi pariwisata secara lokal, regional maupun nasional.

Sampai saat ini penataan dan pengelolaan obyek wisata relatif sudah berhasil

menyediakan fasilitas dasar, terutama di obyek wisata Pantai Glagah, Pantai Trisik,

Pantai Congot, Waduk Sermo, dan Pemandian Clereng. Namun demikian masih juga

terdapat beberapa tantangan dalam pembangunan pariwisata di Kabupaten

Kulonprogo, yakni kurangnya prasarana pendukung, antara lain aksesibilitas, jaringan

listrik, air bersih, dan juga sarana untuk penanganan limbah padat (sampah).

Disamping itu untuk daya tarik wisata rekreatif terutama di obyek wisata pantai masih

kurang didukung penghijauan, sehingga lokasi pantai masih sangat panas dan terlihat

gersang (kurang tutupan vegetasi).

Jumlah kunjungan wisata mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yang

tentu saja juga diikuti jumlah limbah padat dan cair yang dihasilkan. Perkembangan

jumlah pengunjung obyek wisata tahun 2010 sampai dengan 2014 dapat disajikan

(43)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-43

Tabel 3.20. Perkembangan Kunjungan Wisatawan Tahun 2010 - 2014

No Obyek Wisata Jumlah Pengunjung

2010 2011 2012 2013 2014

Jumlah 359.702 345.889 377.442 416.998 427.554

Bertambah/ Berkurang

48.827

35.014 31.553 39.556 10.556 Prosentase Kenaikan 15,71% 11,26% 9,12% 11,00% 2,47%

Sumber data : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kulonprogo, 2014 (diolah).

(44)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-44

Sedangkan untuk jumlah pengunjung per obyek wisata tahun 2014 disajikan

dalam gambar sebagai berikut :

Gambar 3.21.

Grafik Prosentase Wisatawan per Obyek Wisata Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Sedangkan untuk volume sampah yang dihasilkan per obyek wisata disajikan

dalam gambar berikut :

(45)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-45

Usaha dan kegiatan masyarakat dalam bidang pariwisata mengalami

perkembangan yang positif, pada tahun 2014 tercatat 35 sarana akomodasi termasuk

penginapan dan homestay (pondok wisata) yang dikelola masyarakat (bertambah 2

unit penginapan dibanding tahun 2013 dan 2012). Tumbuhnya desa/dusun wisata

menunjukan perkembangan yang positif. Desa/dusun wisata mengandalkan budaya

dan wisata alam, disana terdapat kegiatan konservasi lingkungan baik lahan/hutan,

air maupun hewan langka. Desa Wisata yang ada di Kabupaten Kulonprogo, meliputi :

1) Desa Wisata Sermo, Hargowilis Kokap

2) Desa Wisata Banjaroyo, Kalibawang

3) Desa Wisata Banjarasri. Kalibawang

4) Desa Wisata Jatimulyo, Girimulyo

5) Desa Wisata Glagah,Temon

6) Desa Wisata Kalibiru,Kokap

7) Desa Wisata Sidorejo,Lendah

8) Desa Wisata Nglinggo,Samigaluh

9) Desa Wisata Pendoworejo,Girimulyo

10) Desa Wisata Purwoharjo, Samigaluh

11) Desa Wisata Sendangsari,Pengasih

12) Desa Wisata Trisik,Galur

Tahun 2014 hotel/penginapan semua masih dalam kelas melati berjumlah 35

buah dengan jumlah kamar 498 kamar dan rata-rata tingkat hunian 60%. Dari

keadaan tersebut dapat dihitung limbah padat yang dihasilkan adalah 1,8 m3/hari,

sedangkan hasil perhitungan beban limbah cair hotel untuk BOD : 2,4 ton/tahun dan

COD : 3,3 ton/tahun. Untuk melihat perkembangan hotel/penginapan beserta potensi

(46)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-46

(47)

Laporan SLHD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014

Bab III-47 J. Limbah B3

Di Kabupaten Kulonprogo belum ada industri yang menghasilkan limbah kategori

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), tetapi untuk kategori usaha/kegiatan yang

dilakukan oleh masyarakat dan potensi untuk menghasilkan limbah B3 ada yaitu

bengkel motor/mobil dan bengkel AC. Terdapat 8 (delapan) unit bengkel AC di wilayah

Kabupaten Kulonprogo. Dan juga kegiatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit

Umum (RSU) maupun RS Khusus Bedah yang menghasilkan limbah B3 dari unit

radiologinya dan tentunya limbah medis dari kegiatan pelayanan kesehatan.

Pengelolaan Limbah medis dari rumah sakit di Kulonprogo bekerjasama dengan pihak

ketiga antara lain PT. Arah dan PT. Medivest.

Disamping itu juga belum ada perusahaan yang mendapat izin mengelola

(penyimpanan, pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan dan pemusnahan) limbah B3

dan perusahaan yang mendapat izin mengangkut limbah B3 di Kabupaten Kulonprogo.

Sumber limbah B3 yang ada di wilayah Kabupaten Kulonprogo selain dari limbah yang

dihasilkan oleh bengkel AC, bengkel mobil/motor adalah limbah rumah tangga yang

dapat dikategorikan B3, misal : lampu neon, baterai dll. Masyarakat juga belum

mengetahui bagaimana pengelolaan limbah tersebut dan pada umumnya hanya

disimpan di dalam rumah atau dibuang begitu saja di lingkungan.

Kantor Lingkungan Hidup bersama dengan Badan Lingkungan Hidup DIY telah

melakukan kegiatan inventarisasi maupun pembinaan dan pengawasan terhadap

bengkel AC sebagai penghasil BPO dan juga pada instansi pemerintah yang notabene

pengguna dan penyimpan bahan B3 seperti Gudang Pestisida pada Dinas Pertanian

Gambar

Gambar 3.1.
Tabel 3.5. Data Penduduk menurut Tingkat Pendidikan  Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014
Gambar 3.7. Grafik Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum      di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2014
Gambar 3.8. Grafik Jumlah Timbulan Sampah di Kabupaten Kulonprogo Tahun 2013-2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kontrol positif yang digunakan adalah minyak atsiri murni dari hasil destilasi yaitu minyak atsiri dengan konsentrasi 100% karena minyak atsiri kulit batang kayu manis

Filtrasi darah terjadi di glomerulus, dimana jaringan kapiler dengan struktur spesifik dibuat untuk menahan komponen selular dan medium-molekular-protein  besar ke

(Ivana Haryanto, 2015) Pengaruh Country Of Origin Image Terhadap Brand Equity Melalui Mediasi Elemen Brand Associations, Brand Loyalty, Dan Brand Awareness Pada Air

Poin di bawah ini merupakan jawaban atas pertanyaan penelitian, yaitu wujud tindak tutur yang digunakan penulis berita, bentuk presuposisi yang digunakan untuk membangun

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di Rumah Riset Jamu Hortus Medicus B2P2TOOT sekaligus institusi Balitbangkes yang

Posisi awal berdiri tegak, kemudian angkat kedua tangan ke atas kepala dengan cepat dan lakukan gerakan melompat secara bersamaan dengan membuka kedua kaki,

[13] Gunawan ; Dedy Agung Prabowo, "Sistem Ujian Online Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru dengan Pengacakan Soal Menggunakan Linear Congruent Method," Sistem Ujian

Faktor keamanan (FK) merupakan nilai banding antara beban layan dengan kekuatan bahan. Namun kedua besaran nilai banding ini tidak diketahui secara pasti,