materi fiqih kelas 8 semester gasal lengkap

29  6094  153 

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Materi Fiqih Kelas VIII Untuk MTs

Semester Gasal

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho

(2)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Bab 1

SUJUD DI LUAR SHALA

Standar Kompetensi :

1. Melaksanakan tata cara sujud diluar shalat

Kompetensi Dasar

1.1 Menjelaskan ketentuan sujud syukur dan tilawah 1.1 Mempraktekkan sujud syukur dan tilawah

Materi: Sujud Syukur Sujud Tilawah

Indikator:

Siswa dapat menjelaskan pengertian Sujud syukur dan dalilnya Siswa dapat menyebutkan tata cara Sujud syukur

Siswa dapat menyebutkan sebab-sebab sujud syukur Siswa dapat menyebutkan sebab-sebab sujud tilawah Siswa dapat menyebutkan do‟a Sujud syukur

Siswa dapat mempraktekkan sujud syukur dan Sujud tilawah

SUJUD DI LUAR SHOLAT SHALAT

A. Sujud Syukur

1. Pengertian syukur dan Sujud Syukur

Syukur secara bahasa artinya adalah terimakasih. Bersyukur bisa dilakukan dengan banyak cara, bisa dengan ucapan atau perbuatan. Seseorang yang diberikan nikmat berupa kesehatan bisa menyukurinya dengan cara menggunakan kesehatan tersebut untuk melakukan amal kebaikan. Seseorang yang ingin bersyukur karena sudah dianugrahi sepasang mata maka ia sudah semestinya mensyukurinya dengan menggunakan mata itu melihat yang baik-baik. Kita juga bisa mewujudkan syukur atas semua nikmat yang diberikan Allah Swt serta terhindarnya kita dari suatu musibah dengan sujud syukur.

Jadi, sujud syukur ialah sujud yang dikerjakan seseorang manakala memperoleh kenikmatan atau terhindar dari suatu bahaya yang mengancam dirinya. Sujud syukur ini merupakan tanda terima kasih seorang hamba kepada Allah SWT. atas nikmat yang telah diterimanya.

2. Hukum Bersyukur dan Sujud Syukur

(3)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Sementara itu hukum bersyukur dengan cara melakukan sujud syukur adalah

sunnah. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

"Dari Abi Bakrah, bahwa Nabi SAW apabila mendapatkan sesuatu yang

disenangi atau diberi kabar gembira, segeralah tunduk dan bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah Ta'ala". (HR. Abu Daud, Ibnu Majjah dan Tirmidzi)

3. Sebab-sebab Melakukan sujud Syukur a. Karena mendapatkan nikmat dari Allah Swt

b. Karena terhindar dari bahaya (kesusahan yang besar)

4. Cara Sujud Syukur

Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan secara spontan. Artinya, ketika seseorang mendapatkan nikmat, atau baru saja mendapatkan kabar yang menggembirakan, maka seketika itu juga ia melakukan sujud syukur tanpa menunda-nundanya. Meskipun boleh-boleh saja seseorang melakukan sujud syukur setiap hari, setiap ba’da shalat, atau kapan pun ia mau. Tetapi sujud syukur lebih dianjurkan dilakukan oleh seseorang yang baru saja mendapat kenikmatan-kenikmatan yang spesial. Misal lulus Ujian, naik kelas, memenangi lomba tingkat nasional, dan lain sebagainya. Kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak terjadi belum tentu kita dapatkan setahun sekali.

Adapun cara melakukannya adalah dengan satu kali sujud dan dilakukan di luar shalat. Meskipun syarat sujud syukur boleh tidak suci tetapi tentunya lebih baik bila

melakukan selagi suci (berwudhu).

5. Do’a Sujud Syukur

Bacaan do’a sujud syukur juga sama dengan sujud tilawah, yaitu:

هت ّ ق هل حب هرصب هعمس ّقش هق خ ىذّ ل ى ج دجس

ي قل خل يسح ّ ر بت

Artinya:

"Aku sujud kepada Allah Swt. Yang telah menciptakan dan membentuk diriku serta

telah membukakan pendengaran dan penglihatanku dengan kekuasaan dan

kekuatanNya. Maha berkah Allah, Dialah sebaik Pencipta."

Atau boleh juga sujud syukur dengan membaca doa berikut:

قر دّبعت ّبر ل تدجس ، ّقح ّقح يّبر تن ّ ّ ل ن حبس

.

يل ع ضف عض ي مع ّي ّ ّ ل

.

(4)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

"Maha Suci Engkau. Ya Allah, Engkaulah Tuhaku yang sebenarnya, aku sujud

kepada-Mu ya Rabbi sebagai pengabdian dan penghambaan. Ya Allah, sungguh

amalku lemah, maka lipat gandakan pahalanya bagiku. Ya Allah, selamatkan aku

dari siksa-Mu pada hari hamba-hamba-Mu dibangkitkan, terimalah taubatku,

sesunguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang."

Selain dua doa di atas, doa sujud syukur bisa juga menggunakan bacaan yang lain, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Naml : 19, dimulai dari Ya Rabbi…dan seterusnya sampai akhir.

Artinya:

"….Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah

Engkau anugerahkan kepadaku dan dua orang ibu bapakku dan untuk

mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai : dan masukkanlah aku dengan

rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh". (QS. An-Naml [27] : 19)

6. Beberapa peristiwa yang menyebabkan Rasul dan para sahabat melakukan sujud syukur.

a. Rasulullah SAW. sujud syukur ketika menerima surat tentang masuk Islamnya Hamadzan.

b. Ketika mendengar kematian Musailamah AI-Kadzab (Nabi pi:lIsu), Abu Bakar As-Shidiq melakukan sujud syukur.

c. Ali ra. sujud syukur ketika menemukan mayat Dzats Tsudaiyah di antara orang-orang Khawarij yang tewas terbunuh.

d. Ka'ab bin Malik sujud syukur ketika mendengar berita bahwa taubatnya diterima oleh Allah SWT.

7. Hikmah Sujud Syukur

Hikmah melakukan sujud syukur, yaitu:

a. Memperoleh kepuasan batin berkaitan dengan anugrah yang diterima dari Allah Swt.

b. Merasa dekat dengan Allah sehingga memperoleh bimbingan dan hidayahNya. c. Memperoleh tambahan nikmat dari Allah Swt dan selamat dari siksanya.

B. Sujud Tilawah

(5)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Menurut bahasa tilawah berarti bacaan. Sedangkan menurut istilah sujud tilawah

ialah sujud yang dikerjakan pada saat membaca atau mendengar ayat-ayat "sajdah" dalam AI-Qur'an. Berbeda dengan sujud syukur, sujud tilawah boleh dikerjakan di

dalam maupun di luar shalat.

2. Hukum Melaksanakan Sujud Tiawah

Hukum melakukannya adalah sunnah.Dasarnya adalah adalah hadist berikut, yang artinya:

“Rasulullah membacakan al-Qur‟an untuk kami, jika melalui ayat sajdah beliau

bertakbir lalu sujud dan kami pun ikut semua.” (H.R Abu Dawud, Baihaqi, Hakim) 3. Syarat-syarat Sujud Tilawah

a. Suci dari hadats dan najis, baik badan, pakaian maupun tempat b. Menutup aurat

c. Menghadap ke arah kiblat

d. Setelah mendengar atau membaca ayat sajdah

4. Rukun Sujud Tilawah

Rukun sujud tilawah sama dengan rukun sujud syukur, yaitu:

a. Niat (di dalam hati)

b. Takbiratullhram

c. Sujud

d. Duduk sesudah sujud (tanpa membaca tasyahud)

e. Salam

5. Cara Melaksanakan sujud Tilawah a. Sujud tilawah di saat shalat

Jika mendengar atau membaca ayat sajdah dalam shalat, hendaklahsujud sekali, kemudian kembali berdiri meneruskan bacaan ayat tersebut dan meneruskan shalat. Namun apabila dalam shalat jama'ah makmum wajib mengikuti imam. Artinya jika imam membaca ayat sajdah lalu bersujud, maka makmum wajib ikut sujud. Tetapi jika imam tidak sujud, maka makmumpun tidak boleh sujud sendirian.

b. Sujud tilawah di luar shalat 1) Menghadap kiblat

(6)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo 3) Sujud (Hanya sekali)

4) Duduk setelah sujud 5) Salam

6. Doa Sujud Tilawah

Doa sujud tilawah adalah sebagai berikut:

ي قل خل يسح ّ ر بت هت ّ ق هل حب هرصب هعمس ّقش هق خ ىذّ ل ى ج دجس

Artinya:

"Aku sujud kepada Allah Swt. Yang telah menciptakan dan membentuk diriku serta

telah membukakan pendengaran dan penglihatanku dengan kekuasaan dan

kekuatanNya. Maha berkah Allah, Dialah sebaik Pencipta."

7. Keutamaan Sujud Tilawah

Keutamaan sujud tilawah ialah akan terhindar dari gangguan syetan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya:

“Dari Abu Hurairah RA, Nabi Saw. bersabda: „Apabila seorang membaca ayat sajdah lalu ia sujud, maka setan menghindar dan menangis serta berkata: “hai

celakalah aku, ia diperintah bersujud lalu sujud, maka untuknya surga.

Sedangkan saya diperintah bersujud tetapi saya menolak, maka bagi saya

neraka.” (H.R. Muslim)

8. Ayat-ayat Sajdah:

Di dalam AI-Our'an terdapat 15 ayat sajadah, yaitu :

a. Akhir Surat Al-A’raf [7] : 206

b. Akhir Surat Ar-Ra’du [13] : 15

c. Akhir Surat An-Nahl [16] : 49

d. Akhir Surat Isra [17] : 109

e. Akhir Surat Maryam [19] : 58

f. Akhir Surat Al-Hajj [22]: 18

(7)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo h. Akhir Surat Al-Furqan [25] : 60

i. Akhir Surat An-Naml [27] : 26

j. Akhir Surat As-Sajdah [32] : 15

k. Akhir Surat Shaad [38] : 24

l. Akhir Surat Fushilat [41] : 38

m. Akhir Surat An-Najm [53] : 62

n. Akhir Surat Al-Insyiqaq [84] : 21

o. Akhir Surat Al-Alaq [96] : 19

Biasanya di mushaf Al-Qur’an terdapat tulisan

دجس

di sebelah ayat-ayat sajdah

tersebut.

C

.

Persamaan dan Perbedaan Sujud Tilawah dengan Sujud Syukur

1. Persamaannya

a. Baik sujud tilawah maupun sujud syukur hanya dilakukan sekali sujud saja. b. Hukumnya sama-sama sunnah.

2. Perbedaannya

a. Sujud tilawah dapat dikerjakan di saat shalat maupun di luar shalat, sedangkan sujud syukur hanya boleh dikerjakan di luar shalat dan tidak boleh melakukan

sujud syukur di saat shalat.

(8)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

BAB 2

PUASA

Standar Kompetensi:

2. Melaksanakan Tata Cara Puasa

Kompetensi Dasar:

2.1. Memahami Ketentuan Puasa

2.2. menjelaskan macam-macam puasa (menurut hukumnya)

Indikator:

2.1.1. Menjelaskan pengertian puasa dan dalilnya

2.1.2. Menjelaskan syarat dan rukun puasa.

2.1.3. Menjelaskan amalan sunah pada waktu berpuasa

2.1.4. Menjelaskan makruh puasa

2.1.5. Menjelaskan hal-hal yang membatalkan puasa

2.1.6. Melafalkan do'a berbuka puasa

2.2.1. Menjelaskan pengertian puasa Ramadlon dan dalilnya

2.2.2. Menjelaskan cara menentukan awal dan akhir Ramadlon dan dalilnya.

2.2.3. Menjelaskan amalan sunah pada bulan ramadlon.

2.2.4. Menjelaskan hal-hal yang membolehkan tidak puasa dan dalilnya.

2.2.5.Menjelaskan hal-hal yang dilarang bagi orang yang berpuasa Ramadlon

2.2.6. Menjelaskan kafarat bagi orang yang melanggar larangan puasa Ramadlon dan dalilnya

2.2.7. Menjelaskan pengertian puasa sunah dan dalilnya

2.2.8. Menyebutkan macam-macam puasa sunah.

2.2.9. Menyebutkan hikmah puasa sunnah

2.2.9. Menyebutkan pengertian puasa nadzar dan dalilnya.

(9)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

A. Ketentuan puasa

1. Pengertian puasa

Puasa merupakan terjemah dari shoum yang menurut bahasa berarti menahan

diri dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah puasa adalah menahan diri dari segala

sesuatu yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar (subuh) sampai terbenam

matahari (maghrib).

Pengertian puasa ini telah diterangkan dalam firman Allah:

fajar. ..(Q.S Al-Baqarah/2: 187)

Dalam Islam ada beberapa macam puasa, yang paling kita kenal adalah puasa

Ramadhan. Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi yang memenuhi syarat wajib.

Kewajiban ini beradasarkan firman Allah:



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana

diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah/2:

183)

Dalam ayat tersebut terkandung tujuan utama dari ibadah puasa, yakni supapa

(10)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

2. Rukun Puasa

Puasa merupakan ibadah mahdhah yang pelaksanaannya harus sesuai dengan

apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Oleh karena itu, kita tidak boleh

semaunya sendiri dalam mengerjakan puasa agar ibadah puasa kita diterima oleh

Allah Swt.

Rukun puasa sendiri hanya ada 2, yakni niat dan imsak.

a. Niat

Niat puasa yaitu adanya suatu keinginan di dalam hati untk menjalankan puasa

semata-mata mengharap ridha Allah swt, karena menjalankan perintahNya.

Semua puasa, tanpa adanya niat maka tidak bisa dikatakan sebagai puasa.

Kapankah kita berniat berpuasa?

Untuk puasa wajib, maka kita harus berniat sebelum datang fajar, sebagaimana

disabdakan oleh Rasulullah saw:

Barang siapa tidak berniat puasa sejak makam, maka ia tidak mempunya puasa (H.R. an-Nasa i

Sementara itu untuk puasa sunnah, kita di bolehkan berniat setelah terbit fajar,

dengan syarat kita belum melakukan perbuatan-perbuatan yang membatalkan

puasa, seperti makan, minum, berhubungan suami istri, dan lain-lain. Hal ini

didasarkan pada Hadist dari Aisyah r.a yang artinya: Pada suatu hari, Rasulullah sa masuk ke rumah, kemudian bersabda, apakah enkau mempunyai makanan? Aku enjawab, Tidak . Rasulullah saw, bersabda Kalau begitu, aku

puasa. (H.R. An-Nasa i

b. Imsak

Kita sudah terlampau akrab dengan kata imsak, lebih-lebih ketika bulan

Ramadhan. Banyak orang memahami Imsak sebagai waktu menjelang fajar

(subuh) dimana seorang muslim yang akan berpuasa berhenti makan sahur.

Padahal makna dari imsak tidaklah sesempit itu. Imsak yaitu menahan diri dari

hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan lain-lain dari

mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Jadi, waktu dimulainya puasa

bukanlah pada saat sirine atau pengumuman imsak disuarakan, tetapi dimulai

ketika fajar. Tentang kenapa diperlukan sirine dan jadwal waktu imsak itu

supaya kita berhati-hati dan bersiap-siap karena sebentar lagi (sekitar 10 menit

(11)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

3. Syarat wajib puasa

Syarat wajib puasa adalah segala sesuatu yang menyebabkan seseorang diwajibkan

melakukan puasa. Muslim yang belum memenuhi syarat wajib puasa maka dia

belum dikenai kewajiban untuk mengerjakan puasa wajib. Tetapi tetap

mendapatkan pahala apabila mau mengerjakan ibadah puasa. Syarat wajib puasa

adalah sebagai beriktu:

a. Beragama Islam

b. Berakal sehat

c. Baligh

d. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi kaum wanita)

e. Bermukim (tidak sedang bepergian jauh)

f. Mampu (tidak sedang sakit)

Apabila salah satu dari hal-hal di atas tidak ada pada seorang muslim, maka ia

belum/tidak wajib mengerjakan puasa wajib.

4. Perbuatan yang disunnahkan ketika puasa

Puasa merupakan ibadah yang langsung untuk Allah swt. Oleh karena itu, sudah

semestinya kita mengisi waktu puasa kita dengan amalan-amalan tertentu agar

upaya kita mendengatkan diri kepada Allah dapat tercapai. Dalam sebuah hadist

Qudsi, Allah swt. Berfirman, yang artinya:

Semua amal anak adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya. Puasa itu ibarat perisai. Pada

hari kalian puasa, janganlah mengucapkan hata-kata kotor (tidak enak didengar)

dan jangan (pla) bertengkar. Jika seseorang encaimu atau mengajakmu bertengkar,

maka katakan kepadanya: aku sedang puasa siam . (H.R. Muslim)

Adapun amalan sunnah saat berpuasa adalah sebagai berikut:

a. Menyegerakan berbuka

Dari annas r.a., ia berkata: Rasulullah saw. Berbuka sebelum shalat (maghrib)

dengan kurma, kalau tidak ada kurma beliau minu ari beberapa teguk. (H.R.

Abu Dawud)

b. Makan Sahur

Meskipun misalkan kita kuat berpuasa tanpa diawali dengan makan sahur,

tetapi karena makan sahur telah dicontohkan oleh Rasulullah, semestinya kita

tidak meremehkan/meninggalkan bersantap sahur.

(12)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Makan sahurlah kamu, karena sesungguhnya pada makan sahur itu terdapat

berkah. (H.R. al-Bukhari)

c. Menggosok gigi pada waktu pagi.

Rasulullah bersabda, yang artinya:

Jika kamu berpuasa, bersiwaklah pada waktu pagi dan jangan bersiwak pada

waktu sore (H.R. at-Thabrani)

d. Membaca dan Mengkhatamkan Al-Qur’an

Membaca al-Qur an memang semestinya kita biasakan, lebih-lebih saat kita

berpuasa sunnah atau bahkan di bulan Ramadhan, dimana al-Qur an diturunkan

pada bulan ini. Allah berfirman:



sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu

dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)….(Q.S. al-Baqarah/2: 185)

2. Shalat Lail

Shalat tarawih merupakan bagian dari shalat lail, yakni shalat yang waktu pelaksanaannya ba da shalat isya sampai sebelum fajar. Ada sebagian orang menganggap bahwa shalat tarawih itu wajib, padahal hukumnya adalah sunnah,

sebagaimana shalat lail yang lain, seperti witir, dan tahajut. Meski begitu,

sunnah shalat tarawih dan shalat lail yang lain adalah sunnah muakaddah,

termasuk amalan yang jarang sekali ditinggalkan oleh Rasulullah saw.

3.Memperbanyakdoa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya

mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa

terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga,

bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

4. Memberi buka puasa (tafthir shaim)

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka

yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma

(13)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

"Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa

maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun".

(H.R. Bukhari Muslim)

5. Memperbanyakbersedekah

Rasulullah Saw. Bersabda, yang artinya: Sebaik-baik sedekah adalah sedekah

pada bulan Ramadhan (HR. Tirmizi).

6. ) tikaf

) tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. Rasulullah Saw. selalu beri tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut ) tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan ) tikaf

memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur an, berdoa, shalat sunnah dan

lain-lain.

7. Umroh

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh

pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji

bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda, yang artinya:

Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.

8. Memperbanyak amal kebaikan

Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi dikatakan bahwa

amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan

wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Oleh karena itu, raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya sekedar tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat

kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.

5. Hal-hal yang dapat membatalkan puasa

a. Makan dan minum dengan sengaja. Apabila makan dan minumnya karena lupa

atau paksaan maka hal itu tidak membatalkan puasa.

b. Muntah dengan sengaja. Apabila muntahnya tidak sengaja maka hal itu tidak

membatalkan puasa.

c. Berniat berbuka puasa. Sekali berniat berbuka puasa meskipun buka puasa itu

(14)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo d. Megalami haid atu nifas.

e. Keluar air mani karena memeluk atau mencium isteri/suami atau

bermasturbasi.

f. Bersenggama.

g. Hilang akal.

h. Merubah niat.

6. Perbuatan makruh ketika berpuasa.

Perbuatan makruh tidak membatalkan puasa, tetapi sepatutnya untuk dihindari,

yaitu:

a. Mandi dengan mengguyur atau berendam. Kalau dalam mandi tersebut secara

tidak sengaja tertelan air, hal itu tidak membatalkan puasa.

b. Melakukan suntikan baik suntikan itu berupa obat atau makanan.

c. Bekam

d. Berkumur-kumur, sikat gigi setelah matahari tergelincir.

e. Memakai parfum

7. Orang yang diperbolehkan tidak berpuasa ramadhan dan cara menggantinya

Agama Islam adalah agama yang mudah. Demikian juga dalam ketentuan kewajiban

puasa. Dalam Islam ada rukhsah (keringanan) bagi orang-orang yang dalam

tertentu diperbolehkan tidak mengerjakan puasa Ramadhan. Hal ini telah

dijelaskan dalam Al-Qur an:

…Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu

pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya

(jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang

(15)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S.

Al-Baqarah/ 84

Ayat tersebut telah menerangkan orang-orang yang diperbolehkan tidak

mengerjakan puasa ramadhan dan bagaimana cara menggantinya, yakni sebagai

berikut:

a. Orang sakit. Sakit di sini adalah sakit yang apabila dia berpuasa akan

mengakibatkan sakitnya tambah parah. Ia dibolehkan untuk tidak berpuasa

Ramadhan dan wajib mengqadha di hari lain di luar Ramadhan sejumlah puasa yang telah ditinggalkan. Mengqadha mengganti puasa wajib dilakukan setelah ia sembuh sebelum Ramadhan tahun berikutnya datang. Apabila belum bisa mengqadha hingga Ramadhan berikutnya datang tanpa alasan yang bisa dimaklumi maka orang tersebut selain telah berdosa, sebagian Ulama

memerintahkannya untuk membayar kafarat dengan tetap mengqadha puasa

yang ditinggalkan.

b. Wanita yang menyusui dan hamil karena alasan kekhawatiran pada diri sendiri.

Mereka dibolehkan tidak berpuasa karena dapat digolongkan sebagai orang sakit.

Orang hamil dan menyusui wajib mengqadha atau membayar fidyah untuk

mengganti puasa yang ditinggalkan.

d. Orang yang bepergian (musafir). Orang yang bepergian mendapat keringanan

untuk tidak berpuasa, tetapi juga harus mengganti di hari lain ketika tidak dalam

perjalanan.

e. Orang yang sudah tua dan tidak mampu lagi berpuasa juga diberi keringanan tidak

mengerjakan puasa Ramadhan, dan ia diwajibkan menggantinya dengan

membayar fidyah, yaitu memberi makan sepuluh orang miskin.

Lalu, berapa besar ukuran fidyah itu?

Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi`i dan Imam Malik menetapkan bahwa

ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah

satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW. Sebagian lagi seperti Abu

Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau

setara dengan setengah sha` kurma/tepung atau setara dengan memberi makan

siang dan makan malam hingga kenyang.

(16)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

1. Puasa wajib

a. Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah puasa wajib yang dikerjakan bagi setiap muslim pada bulan

Ramadhan selama sebulan penuh.

(ai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana

diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agara kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2:

183)

Puasa Ramadhan juga termasuk dalam rukun Islam, sebagaimana tersebut dalam

hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a: Didirikan agama )slam itu atas lima dasar yaitu bersaksi bahwa tiada sesembahan melainkan Allah dan Nabi Muhammada adalah utusan Allah, mendirikan shalat lima

waktu, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah

bagi yang mampu jalannya (H.R. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, belum sempurna keislaman seseorang apabila dia belum mengerjakan

puasa Ramadhan dengan penuh ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah swt.

Keutaman puasa bulan Ramadhan:

Ramadhan adalah bulan mulia, bulan penuh ampunan, bulan di mana al-Qur an

diturunkan, bulan yang memiliki banyak sekali keutamaan. Berikut adalah beberapa

keutamaan bulan Ramadhan yang tidak terdapat pada bulan lain:

1) Barangsiapa berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, maka ia akan

diampuni dosa-dosanya dan kembali menjadi manusia yang fitri (suci).

2) Dibebaskan dari siksa api neraka.

3) Setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup

rapat.

4) Pada bulan Ramadhan terdapat Lailah Al-Qadar yang lebih baik daripada seribu

bulan. Rasulullah bersabda: Barang siapa yang salah malam di bulan

Ramadhan lantaran iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), maka

(17)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo Cara menentukan awal dan akhir Ramadhan:

Untuk menentukan awal Ramadhan, di antara kalangan muslim terjadi

perbedaan pendapat. Tetapi paling tidak, tiga cara berikut ini adalah cara-cara

yang biasa digunakan, yakni:

1) Dengan melihat bulan (ru`yatul hilal).

Yaitu dengan cara memperhatikan terbitnya bulan di hari ke 29 bulan

Sya`ban. Pada sore hari saat matahari terbenam di ufuk barat. Apabila saat

itu nampak bulan sabit meski sangat kecil dan hanya dalam waktu yang

singkat, maka ditetapkan bahwa mulai malam itu, umat Islam sudah

memasuki tanggal 1 bulan Ramadhan. Jadi bulan Sya`ban umurnya hanya 29

hari bukan 30 hari. Maka ditetapkan untuk melakukan ibadah Ramadhan

seperti shalat tarawih, makan sahur dan mulai berpuasa.

2) Menggunakan metode hisab.

Yaitu dengan cara menghitung peredaran bulan dan matahari menggunakan

rumus-rumus ilmu falaq.

3) Istikmal.

Yaitu menggenapkan umur bulan Sya`ban menjadi 30 hari. Ikmal /istikmal

ditempuh apabila pada tanggal 29 Ramadhan bulan sabit tidak tampak

karena tertutup awan atau karena memang belum muncul.

Perintah untuk melakukan ru`yatul hilal dan ikmal ini didasari atas perintah

Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Hurairah r.a.:

Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat

bulan, bila tidak nampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya`ban

menjadi 30 hari.(HR. Bukhari dan Muslim).

b. Puasa Nadzar

Nadzar secara bahasa berarti janji. Puasa nadzar adalah puasa yang

disebabkan karena janji seseorang untuk mengerjakan puasa. Misalkan, Rudi

berjanji jika nanti naik kelas 9 ia akan berpuasa 3 hari berturut-turut, maka

apabila Rudi benar-benar naik kelas ia wajib mengerjakan puasa 3 hari

berturut-turut yang ia janjikan itu.

Berkaitan dengan puasa nadzar, Rasulullah saw pernah bersabda:

Barangsiapa bernadzar akan mentaati Allah (mengerjakan perintahnya), maka

hendaklah ia kerjakan. (H.R. Bukhari)

(18)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Kafarat berasal dari kata dasar kafara yang artinya menutupi sesuatu. Puasa

kafarat secara istilah artinya adalah puasa untuk mengganti denda yang wajib

ditunaikan yang disebabkan oleh suatu perbuatan dosa, yang bertujuan menutup

dosa tersebut sehingga tidak ada lagi pengaruh dosa yang diperbuat tersebut, baik

di dunia maupun di akhirat.

Ada beberapa macam puasa kaffarat, yakni sebagai berikut:

1)Puasa kafarat dalam ibadah haji

Orang yang melakukan haji tamattuk dan qiran wajib membayar denda

menyembelih seekor kambing yang sah untuk berkurban. Tetapi jika ia tidak

mampu maka bisa diganti dengan melakukan puasa kafarat selama tiga hari di

tanah suci dan tujuh hari di tanah asalnya.

2)Kafarat karena meanggar sumpah.

Apabila seseorang berjanji maka wajib baginya untuk memenuhi janji itu.

apabila janji itu dilanggar maka ia akan berdosa dan karenanya diwajibkan

membayar kafarat di antara tiga pilihan berikut:

a) Memberi amkan sepuluh orang miskin seperti yang biasa dimakan setiap

harinya;

b) Memberi pakaian kepada orang miskin;

c) Memerdekakan budak; atau,

d) Puasa kafarat selama tiga hari.

2. Puasa sunnah

a. Puasa enam hari di bulan Syawal.

Baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Rasulullah saw bersabda, yang artinya:

Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang

berpuasa selama setahun (HR. Muslim).

b. Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

Yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari yang ke-10. Karena hari ke-10 adalah hari raya kurban dan diharamkan untuk berpuasa.

c. Puasa hari Arafah

Yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaannya, akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.

(19)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Yaitu puasa pada bulan Muharram terutama pada hari Assyuro . Keutamaannya adalah bahwa puasa di bulan ini adalah puasa yang paling utama setelah puasa bulan Romadhon (HR. Bukhori)

e. Puasa Assyuro

(ari Assyuro adalah hari ke- dari bulan Muharram. Nabi shalallahu alaihi

wasssalam memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro ini dan

mengiringinya dengan puasa 1 hari sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR. Muslim).

f. Puasa Sya ban.

Yang dimaksud puasa Sya ban adalah memperbanyak puasa pada bulan Syaban.

Keutamaan: Bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Rabb semesta alam (HR. An-Nasa i & Abu Daud, hasan .

g. Puasa Senin dan Kamis.

Nabi telah menyuruh ummatnya untuk puasa pada hari Senin dan Kamis. Hari Senin adalah hari kelahiran Nabi Muhammad sedangkan hari Kamis adalah hari

di mana ayat Al-Qur an untuk pertama kalinya diturunkan. Perihal hari Senin dan

Kamis, Rasulullah juga telah bersabda:

Amal perbuatan itu diperiksa pada setiap hari Senin dan Kamis, maka saya senang

diperiksa amal perbuatanku, sedangkan saya sedang berpuasa.(HR Tirmidzi)

h. Puasa Tengah Bulan (tiga hari setiap bulan Qamariyah).

Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan qamariyah.

i. Puasa Dawud

Cara mengerjakan puasa nabi Dawud adalah dengan sehari puasa sehari tidak puasa, atau selang-seling. Puasa nabi Dawud adalah puasa yang paling disukali oleh Allah swt. (HR. Bukhari-Muslim).

3. Puasa Makruh

Kapan puasa hukumnya makruh? Puasa yang makruh dilakukan adalah puasa pada hari Jumat dan Sabtu yang tidak bermaksud mengqadha Ramadhan, membayar nadzar atau kafarat, atau tidak diniatkan untuk puasa sunnah tertentu. Jadi seseorang yang puasa pada hari Jumat atau Sabtu dengan niat mengqadha puasa Ramadhan tidak termasuk puasa makruh. Misal tanggal 9 Dzulhijjah jatuh pada

hari Sabtu maka puasa hari Sabtu pada waktu itu menjadi puasa sunnah bukan

(20)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

pada hari Jumat tergolong puasa haram jika dilakukan tanpa didahului hari

sebelum atau sesudahya.

4. Puasa Haram

Ada puasa pada waktu tertentu yang hukumnya haram dilakukan, baik karena

waktunya atau karena kondisi pelakukanya.

a. Hari Raya Idul Fitri

Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya sakral umat Islam. Hari

itu adalah hari kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena

itu syariat telah mengatur bahwa di hari itu tidak diperkenankan seseorang

untuk berpuasa sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa dimakan,

paling tidak harus membatalkan puasanya atau tidak berniat untuk puasa.

b. Hari Raya Idul Adha

Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai Hari Raya kedua bagi

umat Islam. Hari itu diharamkan untuk berpuasa dan umat Islam disunnahkan

untuk menyembelih hewan Qurban dan membagikannya kepada fakir msikin

dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan kegembiraan

dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.

c. Hari Tasyrik

Hari tasyrik adalah tanggal 11, 12 dan 13 bulan Zulhijjah. Pada tiga hari itu

umat Islam masih dalam suasana perayaan hari Raya Idul Adha sehingga masih

diharamkan untuk berpuasa. Pada tiga hari itu masih dibolehkan utnuk

menyembelih hewan qurban sebagai ibadah yang disunnahkan sejak zaman

nabi Ibrahim as.

d. Puasa sepanjang tahun / selamanya

Diharamkan bagi seseorang untuk berpuasa terus setiap hari. Meski dia

sanggup untuk mengerjakannya karena memang tubuhnya kuat. Tetapi secara

syar`i puasa seperti itu dilarang oleh Islam. Bagi mereka yang ingin banyak

puasa, Rasulullah SAW menyarankan untuk berpuasa seperti puasa Nabi Daud

(21)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

C. Mempraktekkan puasa

Setelah kita tahu ilmu perihal puasa maka yang harus kita lakukan kemudian adalah

mengamalkan ilmu tersebut. Berpuasa pada hakikatnya tak sekadar menahan lapar dan

haus, tetapi merupakan latihan kita dalam menundukkan hawa nafsu.

Barangkali untuk tahap awal kita hanya bisa mengerjakan puasa Ramadhan saja. Tetapi

amal ibadah kita harus kita tingkatkan. Kita sudah sepatutnya mengupayakan untuk juga

mengerjakan puasa-puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, atau puasa setahun sekali

pada tanggal 9 dzulhijjah, syukur-syukur bisa mengerjakan puasa nabi Dawud yang

tergolong puasa yang paling disukai Allah swt.

REFERENSI:

Sulaiman Rashid, Fiqih Islam, PT Sinar Baru, Bandung 1987

Sayyid SAbiq, Fiqh Sunnah, PT Al-Ma arif, Bandung .

Masyfuq Zuhdi, Masail Fiqhiyah, CV. Haji Masagung, Jakarta, 1993

(22)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

BAB 3

ZAKAT

Standar Kompetensi :

3. Melaksanakan tatacara zakat

asaD isnetepmoKr:

3.1 Menjelaskan ketentuan zakat fitrah dan zakat maal 3.2 Menjelaskan orang yang berhak menerima zakat 3.3 Mempraktek-kan pelaksana-an zakat fitrah dan maal

Materi: Zakat

Indikator:

3.1.1. Mendiskusikan tentang Zakat fitrah sebagai zakat pembersih jiwa.

3.1.2. Mendiskusikan pengelolaan zakat Fitrah serta waktu yang paling utama dalam mengeeluarkan zakat fitrah .

3.1.3. Melakukan studi litertatur secara mandiri menemukan dalil tentang ukuran zakat 3.1.4. Mendiskusikan tentang Zakat fitrah sebagai zakat harta.

3.1.5. Mendiskusikan pengelolaan zakat harta serta waktu yang diharuskan dalam mengeluarkan zakat Maal

3.1.6. Melakukan studi litertatur secara mandiri menemukan dalil tentang ukuran zakat 3.1.7. Mengkaji kewajiban zakat maal dan yang berhak menerima zakat(mustahik). 3.2.1. Berdiskusi tentang muallaf yang mana yang berhak menerima zakat.

3.3.1. Praktek menghitung zakat harta

3.3.2. Mendemostrasikan menjadi panitia zakat

3.3.3. Terbiasa membayarkan zakat fitrah dan zakat harta

Sebelum membahas lebih jauh tentang macam-macam zakat dan tata caranya, marilah terlebih dulu kita ketahui apa itu zakat. Menurut bahasa(lughat), zakat berarti tumbuh; berkembang; kesuburan atau bertambah. Zakat dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan.

Sementara itu menurut Hukum Islam (syara'), zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu.

Selain hal zakat kita juga mengenal istilah shadaqah dan infaq. Sebagian ulama fiqh mengatakan bahwa sadaqah wajib dinamakan zakat, sedang sadaqah sunnah dinamakan infaq. Sebagian yang lain mengatakan infaq wajib dinamakan zakat,

sedangkan infaq sunnah dinamakan shadaqah.

A. Zakat Fitrah

(23)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Zakat fitrah adalah zakat terhadap jiwa yag wajib dikeluarkan oleh setiap muslim

untuk memberishkan drinya atau keluarganya yang menjadi tanggunannya pada hari raya Idul Fitri. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

“Zakat fitrah untuk membersihkan diri orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan perkataan yang kotor serta untuk memberi makan kepada

orang-orang miskin.”

Hukum Zakat fitra adalah wajib. Berdasarkan firman Allah: http://elazhar.com/quran/image/2_043.gif

Artinya:

“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'” (QS. Al Baqarah [2] : 43)

2. Syarat Wajib Zakat Fitrah a. Beragama Islam

b. Orang tersebut ada (hidup) pada waktu terbenam matahari pada malam Idul Fitri. Bagi setiap muslim yang melihat matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan atau mendapati awal bulan syawal, maka wajib baginya untuk membayar zakat fitrah untuk dirinya dan yang ditanggung.

c. Mempunyai kelebihan makanan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk

keluarganya pada malam Idul Fitri dan pada siang harinya.

d. Lahir sebelum matahari tenggelam di akhir Ramadhan. Seorang anak tersebut wajib dibayarkan zakat fitrahnya dan menjadi tanggungan orang tuanya, namun jika setelah matahari tenggelam, maka tidak ada kewajiban membayar zakat fitrah. Demikian juga apabila muslim meninggal setelah matahari terbenam di akhir Ramadhan maka ia tetap berkewajiban Zakat Fitrah.

3. Waktu Untuk Membayar Zakat Fitrah

Kapan waktu membayar zakat fitrah? Sebagian ulama’ berpendapat bahwa untuk membayar zakat fitrah ada 5 macam:

a. Waktu jawaz (boleh) : sejak awal Ramadhan

b. Waktu Wajib: bila matahari telah terbenam di akhir Ramadhan

c. Waktu Afdhal (utama): Sebelum kaum muslimin keluar untuk melaksanakan shalat hari raya Idul Fitri.

(24)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo 4. Orang yang Tidak Wajib Dibayarkan Zakat Fitrah

a. Istri yang durhaka; maka gugur kewajiban suaminya untuk menafkahinya b. Istri yang kaya

c. Anak yang kaya, karena mampu bayar sendiri, namun boleh juga orang tuanya mengeluarkan baginya zakat fitrah

d. Anak yang sudah besar (mampu menafkahi diri sendiru atau sudah berusaha) e. Budah yang kafir

f. Murtad (keluar dari Islam)

5. Mustahik Zakat Fitrah

Mustahik zakat adalah orang-orang yang berkah menerima zakat fitrah. Sebagian besar ulama (jumhur) berpendapat bahwa golongan yang berhak menerima zakat fitrah hanyalah fakir dan miskin.

Fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta untuk keperluan hidup sehari-hari dan tidak mampu berusaha. Miskin adalah orang yang berpenghasilan tetapi sehari-harinya tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.

Namun demikian ada pendapat lain yang menyatakan bahwa mustahik zakat fitrah terdiri dari delapan asnaf (golongan), berdasarkan Al-Qur’an Surat At-Taubah 60

Allah berfirman:

http://elazhar.com/quran/image/9_060.gif

“Hanya sedekah-sedekah itu (zakat) diberikan kepada fakir miskin, orang yang bekerja mengurus zakat (amil), orang-orang yang hatinya mulai terpau dengan islam

(muallaf), budak-budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang di jalan

Allah, serta kepada orang-orang yang dalam perjalanan.” (Q.S At-Taubah [9]:60)

6. Golongan yang Tidak Boleh Menerima Zakat Fitrah

1. Orang yang kaya harta benda dan uang

2. Budak (selain budak mukatab). Budak mukatab yaitu budak yang bisa merdeka dengan syarat tertentu, adapun budak qin adalah budak asli: seluruh hidup dan tubuhnya melekat nama budak; budak mudabbir: bisa merdeka setelah tuannya meninggal

(25)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo 5. Orang Kafir

6. Orang kuat untuk berusaha 7. Nabi Muhammad SAW

7. Hikmah Disyariatkannya Zakat Fitrah

a. Sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa yang jatuh ke dalam perbuatan sia-sia dan juga ucapan keji.

b. Sebagai bantuan kepada kaum fakir miskin dan kaum papa serta mencukupi mereka dari meminta-minta pada hari Idul Fitri.

B. Zakat Mal

1. Pengertian Mal (harta)

a. Menurut bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya

b. Menurut syar'a, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim). sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:

1) Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai

2) Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.

2. Syarat-syarat Kekayaan yang Wajib di Zakati

a. Milik Penuh (Almilkuttam)

Almilkuttam berarti harta yang berada dalam kontrol dan kekuasaa seseorang secara penuh, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.

b. Berkembang

Yaitu : harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.

c. Cukup Nishab

(26)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo d. Lebih Dari Kebutuhan Pokok (Alhajatul Ashliyah)

Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya

apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum (KHM), misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.

e. Bebas Dari hutang

Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.

f. Berlalu Satu Tahun (Al-Haul)

Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedang hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.

3. Harta yang Wajib di Zakati dan Nishabnya

a. Binatang Ternak

Hewan ternak meliputi hewan besar (unta, sapi, kerbau), hewan kecil

(27)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo

Emas dan perak merupakan logam mulia yang selain merupakan tambang

elok, juga sering dijadikan perhiasan. Emas dan perak juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu. Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang (potensial) berkembang. Oleh karena syara' mewajibkan zakat atas

keduanya, baik berupa uang, leburan logam, bejana, souvenir, ukiran atau yang lain.

Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk kedalam kategori emas dan perak. sehingga penentuan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.

Demikian juga pada harta kekayaan lainnya, seperti rumah, villa, kendaraan, tanah, dll. Yang melebihi keperluan menurut syara' atau dibeli/dibangun dengan tujuan menyimpan uang dan sewaktu-waktu dapat di uangkan. Pada emas dan perak atau lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan, maka tidak diwajibkan zakat atas barang-barang tersebut.

Jenis Harta Nishob Jumlah

Zakat

Keterangan

Emas 85 gr 2,5 % -

Perak 595 gr 2,5% -

c. Harta Perniagaan

Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan tersebut di usahakan secara perorangan atau perserikatan seperti CV, PT, Koperasi, dan lain sebagainya.

Jenis Harta Nishob Jumlah

Zakat

Keterangan

Harta Perniagaan 85 gr emas 25 % Setelah 1 tahun Nishibnya:jumlah barang yang ada +laba 1 tahun

d. Hasil Pertanian

(28)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu-bara, dll. Kekayaan laut adalah segala sesuatu yang dieksploitasi dari laut seperti mutiara, ambar, marjan, dll.

Jenis Harta Nishob Jumlah

Zakat

Keterangan

Hasil tambang Senilai

dengan 85 gr emas

2,5 % Setiap

mendapatkan

f. Rikaz

Rikaz adalah harta terpendam dari zaman dahulu atau biasa disebut dengan

harta karun. Termasuk didalamnya harta yang ditemukan dan tidak ada yang

g. Profesi, Saham, Benda-Benda Produktif

Selain harta di atas gaji dari profesi seseorang, saham, dan benda-benda produktif (yang menghasilkan uang) jika sudah mencapai nishab maka wajib dizakati. Berikut adalah rinciannya:

(29)

Disusun Oleh: M.Yusuf Amin Nugroho, Guru MTs Negeri Wonosobo Saham 85 gr emas 2,5 emas Harga

saham+keuntungan

Benda-benda produktif

653 kg 5 % atau 10%

Dari penghasilan

4. Mustahik zakat Mal

Mustahik zakat mal ada 8 golongan sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an Surat At-Taubah [9] ayat 60:

http://elazhar.com/quran/image/9_060.gif

“Hanya sedekah-sedekah itu (zakat) diberikan kepada fakir miskin, orang yang bekerja mengurus zakat (amil), orang-orang yang hatinya mulai terpau dengan islam

(muallaf), budak-budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang di jalan

Allah, serta kepada orang-orang yang dalam perjalanan.” (Q.S At-Taubah [9]:60)

Dari ayat di atas sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang berhak menerima zakat fitrah terdiri dari delapan golongan, yaitu:

a. Fakir b. Miskin

c. Amil, panitia yang mengurusi penerimaan dan pembagian zakat d. Mualaf, orang yang baru masuk Islam

e. Hamba sahaya atau budak

f. Gharim, orang-orang yang terlilit utang tapi untuk kemaslahatan g. Sabilillah, orang yang berjuang di jalan Allah

h. Ibn Sabil, Orang yang dalam perjalanan namun kehabisan bekal.

5. Hikmah Zakat Mal

Di antara hikmah zakat mal yaitu:

a. Sebagai rasa syukur kepada allah atas nikmat yang telah diberikannya.

b. Dapat meringankan beban fakir miskin dan mustahik zakat yang lainnya, sehingga dapat hidup lebih layak

c. Dapat menjadil hubungan kasih sayang antara si kaya dengan si miskin d. Dapat meningkatkan kesejahteraan umat Islam secara umum.

6. Akibat Orang yang Tidak Mengeluarkan Zakat Mal a. Hartanya tidak suci

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (29 Halaman)