• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK PADA ANAK AUTIS.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK PADA ANAK AUTIS."

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK

PADA ANAK AUTIS

Tesis

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister (S2) Pendidikan pada

Program Studi Pendidikan Khusus

Oleh :

Christina Ratna Widiastuti NIM. 1302954

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS SEKOLAH PASCASARJANA

(2)

CHRISTINA RATNA WIDIASTUTI

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK

PADA ANAK AUTIS

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:

Pembimbing

Juang Sunanto, M.A, Ph.D NIP.19610515 198703 1 002

Mengetahui

Ketua Program Studi Pendidikan Khusus

(3)
(4)

Christina Ratna Widiastuti, 2015

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE

ABSTRAK

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA

DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK

PADA ANAK AUTIS

Oleh:

Christina Ratna Widiastuti, S.Pd. (1302954), PKH-SPS UPI

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang setiap anak. Anak autis sebagai salah satu jenis anak berkebutuhan khusus mengalami gangguan perkembangan yang kompleks. Hal itu sangat mempengaruhi perkembangan sosial, komunikasi, emosi, dan perilakunya, seperti tidak melakukan pekerjaan (off-task), oleh karena itu mereka membutuhkan pendampingan dan penanganan yang terus menerus dan optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan program son-rise untuk keluarga dalam mengurangi perilaku off-task pada anak autis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan kasus tunggal atau Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B. Subyek penelitian ini berjumlah dua anak autis dengan jenis kelamin laki-laki usia enam tahun dan delapan tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan arah pada fase baseline meningkat dan setelah diberi intervensi dengan menggunakan program son-rise, kecenderungan arah perilaku off-task menurun.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program son-rise yang digunakan orangtua dapat mengurangi perilaku off-task anak autis. Dari hasil penelitian ini diharapkan keluarga yang mempunyai anak autis dapat menggunakan program son-rise untuk mengurangi perilaku off-task.

(5)

ABSTRACT

EMPLOYING EFFECTIVITY OF SON - RISE PROGRAMME OF FAMILY IN REDUCING BEHAVIORAL OFF-TASK OF AUTISM

CHILDREN by

Christina Ratna Widiastuti S.Pd. (1302954), PKH-SPS UPI

The family is the first domain and primary of every children growing. The Children with special needs as one who had derangement difficulties growing where this have had effect on social growth, communication, emotional and behavior such as off task, they are needs special care and assist continually. Aim of this research is for knowing how does effective of using the son-rise programmed for parent in reducing off-task of autism children. The method that use in this research is experiment with the Single Subject Research (SSR) by A-B design. Research subject in this research have two quantities child autism with male gender at age six years and eigh years . The result of research says that the inclination shows on baseline phase was interesting after given intervention by using son-rise programmed, the inclination shows that behavior off-task has decreased. The summary of son-rise programmed which use by the parent be able to reduce behavioral off-task on autism children.

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN ...

LEMBAR PERNYATAAN ...

KATA PENGANTAR ...

UCAPAN TERIMAKASIH ...

ABSTRAK ...

DAFTAR ISI ...

DAFTAR TABEL ...

DAFTAR GAMBAR ...

DAFTAR LAMPIRAN ... i ii iii v vii viii x xi xii BAB I BAB II BAB III

PENDAHULUAN ...

A. Latar belakang Masalah ...

B. Rumusan Masalah ...

C. Tujuan ...

D. Manfaat Penelitian ...

KAJIAN TEORI ...

A. Tinjauan tentang Autisme ...

B. Peran keluarga dalam mendampingi anak autis ...

C. Pendekatan Son-Rise ...

D. Kerangka Berpikir ...

METODE PENELITIAN ...

A. Subyek dan Lokasi Penelitian ...

B. Jenis dan Desai Penelitian ...

C. Definisi Operasional Variabel ...

D. Prosedur Penelitian ...

E. Instrumen Penelitian ...

F. Validitas Data ...

(7)

BAB IV

BAB V

H. Teknik Analisis Data ...

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...

A. Hasil Penelitian ...

1.Subyek P ...

2.Subyek G ...

B. Pembahasan ...

SIMPULAN DAN SARAN ...

A. Simpulan ...

B. Rekomendasi ... 34

40

40

40

43

46

49

49

49

DAFTAR PUSTAKA ...

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 51

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Autis bukan sesuatu hal yang baru lagi bagi dunia, pun di

Indonesia, melainkan suatu permasalahan gangguan perkembangan yang

mendalam di seluruh dunia termasuk di Indonesia, karena dari waktu ke

waktu ada kemungkinan penyandang autisme di seluruh dunia terus

mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian, pada 1990-an,

jumlah penyandang autisme diperkirakan mencapai 4-6 orang dalam setiap

10 ribu kelahiran. Sedangkan pada 2000-an jumlah ini meningkat menjadi

15-10 dalam setiap 10 ribu kelahiran. Pada tahun 2010, berdasarkan data

yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, di Indonesia, jumlah

penyandang autisme diperkirakan mencapai 2,4 juta orang. Pada tahun

tersebut jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,5 juta orang dengan

laju pertumbuhan 1,14 persen. Jumlah penyandang autisme di Indonesia

diperkirakan mengalami penambahan sekitar 500 orang setiap tahun.

Syahrir, A. (2012 )

Berdasarkan data di atas maka hal ini perlu diwaspadai dan

diusahakan penanganan anak autis sedini mungkin. Dalam penanganan

tersebut dibutuhkan kerjasama berbagai pihak yaitu dokter, psikolog, guru,

terapis, masyarakat dan orang tua/keluarga penyandang autisme itu sendiri.

Tanpa keikutsertaan orang tua/keluarga maka penanganan untuk

penyandang autisme itu sendiri akan banyak mengalami hambatan.

Penanganan dan pendidikan setiap pribadi diawali dalam sebuah

keluarga, seorang bayi yang baru lahir, pertama-tama berkomunikasi

dengan Ibu. Selanjutnya bayi mulai berkomunikasi dengan orang-orang

disekitarnya dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga adalah

lingkungan pertama dan utama yang sangat penting bagi tumbuh kembang

(9)

pribadi, kondisi objektif keluarga baik psikologis, sosial ekonomi,

penerimaan, pendidikan juga sangat mempengaruhi tumbuh kembang

seorang pribadi.

Baik tidaknya perkembangan dan pertumbuhan pribadi seseorang

ditentukan bagaimana peranan keluarga bagi setiap pribadi dalam keluarga

tersebut. Permasalahan yang ada, berapa persen dari sekian banyak

keluarga yang sadar dan mampu akan perannya dalam mendampingi

anak-anaknya secara khusus anak penyandang autisme?

Individu dengan gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum

Disorder ( ASD ) menunjukkan penurunan yang signifikan dalam interaksi sosial dan komunikasi , dan mereka dibatasi berbagai kepentingan dan

perhatian . Defisit ini mengganggu belajar dan mengganggu kehidupan

keluarga . Ada cukup kesepakatan di bidang ASD yang intensif , intervensi

dini pada anak-anak mengarah keperbaikan yang signifikan pada fungsi

dan hasil jangka panjang. Ingersoll. (2009)

Anak autis termasuk salah satu jenis anak yang mengalami

gangguan perkembangan yang kompleks dan terjadi sebelum usia tiga

tahun, yang berdampak pada perkembangan sosial, komunikasi, perilaku

dan emosi yang tidak berkembang secara optimal. Akibat dari gangguan

perkembangan tersebut anak menjadi kurang memperhatikan lingkungan

sekitarnya dan asyik dengan dunianya sendiri. Jika seseorang mengalami

hambatan dalam interaksi dan komunikasi, diyakini orang tersebut akan

mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Anak autis sebagai salah

satu bagian dari anak berkebutuhan khusus mengalami hambatan pada

keterampilan interaksi dan komunikasi. Sugiarmin (dalam Astati, 2013,

hlm. 164) mengemukakan bahwa:

Keadaan ini diperburuk oleh adanya gangguan tingkah laku yang menyertainya, bahkan hambatan inilah yang paling mengganggu pada anak autis dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan lingkungannya.

(10)

3

Pada dasarnya hampir semua anak berkebutuhan khusus mengalami problema perilaku, hanya intensitas dan keluasannya yang berbeda. Diantara mereka ada yang karena proses perkembangan mampu mengatasi problema tersebut tetapi ada sebagian dari mereka yang mengalami kesulitan untuk mengatasi problema perilaku sehingga mereka cenderung memerlukan bantuan diantaranya anak autis.

Problema perilaku pada anak autis ada dua jenis yaitu perilaku yang

berlebihan (excessive) dan perilaku yang berkekurangan (deficient)

menurut Rudi Sutadi (dalam Purwanta, 2012, hlm. 116)

a. Perilaku berlebihan (excessive) ditandai dengan :

1) Tantrum seperti menjerit, menangis dan sejenisnya

2) Stimulasi diri, seperti mengepak-ngepak tangannya,

membanting-banting tubuhnya.

3) Self-abuse, seperti memukul kepalanya, menggigit tangannya.

4) Agresif, seperti menendang, memukul.

b. Perilaku yang berkekurangan (deficient) ditandai dengan:

1) Mengalami gangguan bicara, sedikit kata dan suara, membeo

seperti bicara sendiri.

2) Menganggap orang lain seperti suatu benda.

3) Mengalami defisit sensasi, tampak seperti tuli, buta.

4) Apabila ia bermain satu permainan, ia akan bermain terus.

5) Tidak dapat bermain dengan benar.

6) Ekspresi yang diberikan tidak sesuai.

7) Pandangannya sering kosong.

Kondisi anak autis dengan gangguan perilakunya ini tidak hanya

mempengaruhi kehidupan anak itu sendiri melainkan juga berdampak pada

orang tua dan anggota keluarga serta lingkungan sosial di mana anak itu

berada.

Akibat dari kompleksnya masalah yang dialami anak autis maka anak

mengalami hambatan dalam belajar dan kehidupan sosialnya.

Kelainannya sangat mempengaruhi diri anak dalam berbagai aspek

(11)

dengan sindrome autistik sebagai Pervasive Developmental Disorder

(PDD). Delphie, (2009, hlm. 2). Disebut developmental disorder karena anak autis merupakan anak dengan hambatan perkembangan. Filipek, P.

A. dkk (1999).

Berkenaan dengan hambatan tersebut banyak para ahli membuat

penelitian-penelitian untuk mengurangi hambatan tersebut, namun sampai

saat ini, sangat sedikit penelitian yang difokuskan pada perilaku yang

merugikan diri sendiri dalam individu dengan autisme, Weiss, (tanpa

tahun).

Anak autis dengan kompleksitas hambatan perkembangannya

membutuhkan bantuan orang lain, maka begitu banyak para ahli ingin

membantu perkembangan anak autis ke arah lebih baik, dengan begitu,

banyak metode maupun program-program serta intervensi yang diberikan

pada anak autis namun intervensi tersebut masih membutuhkan penelitian

untuk keefektifannya.

Ada berbagai cara atau metode untuk membantu perkembangan

kemampuan anak autis baik untuk perkembangan bahasa, interaksi sosial

maupun perkembangan perilaku. Mulai tahun 1997, Dr. Rudy Sutadi, SpA

menyebarluaskan penggunaan metode Applied Behavior Analysis (ABA) di

Indonesia. Metode ABA lebih dikenal dengan metode Lovaas merupakan

pendekatan behavioristik yang menekankan kegiatan terstruktur dan

mekanistik. Cerita Sosial dengan komponen baru yang menggunakan

jadwal visual sebagai strategi manajemen diri akan lebih meningkatkan

atau mempertahankan peningkatan perilaku adaptif. Schneider N. and

Goldstein H. (2009).

Dari berbagai program dan studi terbukti bahwa intervensi dini

mengarah ke hasil yang lebih baik. Seperti yang telah kita lihat bahwa

sejumlah studi telah menunjukkan bahwa anak-anak membuat

keberhasilan/ perkembangan besar ketika mereka memasuki sebuah

(12)

5

Dalam perkembangannya untuk membantu perkembangan anak

autis, muncul pendekatan baru yang disebut model DIR, singkatan dari

Developmental Individual-difference, Relationship-based. Model ini juga sering disebut Floortime. Greenspan. (2006, hlm. xiii)

Selain Floortime ada pendekatan lain yang menggunakan pendekatan

humanistik, salah satunya ialah Model Pengembangan Son - Rise Program

yang dikembangkan oleh suami istri Barry dan Samahria Kaufman.

Program ini pertama kali digunakan untuk membantu perkembangan anak

lelakinya yang berumur 18 bulan yang didiagnosis autis. Kemajuan yang

dicapai oleh anaknya yang autis tersebut ditulis dalam buku Son-Rise dan

A Miracle to Believe In. Supartini. (2009).

Program Son-Rise sudah ada beberapa tahun namun kenyataan di

lapangan khususnya di lingkungan Sekolah Khusus Sang Timur, masih

banyak orang tua yang belum mengetahui program ini, apakah program

ini sungguh efektif membantu perkembangan perilaku anak autis. Oleh

karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti keefektifan program son-rise ini

.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan dalam latar belakang

masalah di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini dinyatakan

dalam pertanyaan sebagai berikut : Apakah penggunaan program son-rise

oleh keluarga dapat mengurangi perilaku tidak melakukan pekerjaan

(off-task) pada anak Autis?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

Mengetahui penggunaan program son-rise oleh keluarga dalam

mengurangi perilaku tidak melakukan pekerjaan (off-task) pada anak

Autis.

(13)

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap

pengayaan disiplin ilmu pendidikan kebutuhan khusus dan mendorong

peneliti lainnya untuk mengadakan dan mengembangkan penelitian

lebih lanjut.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini :

Sebagai alternatif bagi guru dan keluarga dalam menangani dan

mendampingi anaknya yang mengalami autis agar dapat

(14)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

eksperimen. Menurut Sugiyono (2011, hlm. 72) “metode eksperimen dapat

diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh

perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.”

Sedangkan disain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan

subyek tunggal (single subject).

A. Subyek Penelitian dan Lokasi Penelitian

1. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini dua anak laki-laki autis yaitu

pertama berinisial P berusia 8 dan kedua berinisial tahun G yang

berusia 6 dan Ibu mereka. Subyek ini dipilih berdasarkan hasil studi

pendahuluan melalui kegiatan observasi yang dilakukan untuk

mengetahui kondisi obyektif mereka. Kedua subyek ini bersekolah di

Sekolah Khusus Sang Timur Tangerang di Jenjang Taman

Kanak-kanak. Berikut secara rinci disampaikan informasi mengenai subyek

penelitian tersebut baik kemampuan – kemampuan maupun perilaku

yang dimiliki:

a. Subyek 1

Nama / Inisial : P

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat/Tgl lahir : Yogyakarta, 12 Agustus 2007

Anak ke : pertama

Nama Ortu : A H / VDA

Kemampuan dan Perilaku :

P sudah mulai paham perintah sederhana seperti membuang

(15)

orang lain, sudah dapat memegang pensil dengan benar, mampu

menebalkan titik-titik, mewarnai gambar sudah mulai di dalam

garis, memasangkan benda yang sama, sedangkan perilaku yang

perlu dikurangi frekuensinya adalah emosi yang meletup-letup,

masih sering geregetan dengan memilin baju dengan kedua

tangannya entah bajunya sendiri atau baju orang yang dekat

dengannya, mengepak-ngepakan kedua tangannya (handflaping),

kurang bisa duduk diam, terus bergerak dan berjalan/loncat-loncat,

berlari, tiba-tiba meninggalkan tempat duduk (sitting/walking),

mengetuk-ketukan jari di atas meja maupun di setiap tempat,

menarik-narik teman, sembunyi dalam almari, kontak mata masih

kurang juga kalau memandang miring-miring serta komunikasi

belum lancar.

b. Subyek 2

Nama / Inisial : G

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat/Tgl lahir : Jakarta, 14 Januari 2009

Anak ke : 2 dari 3 bersaudara.

Nama Ortu : D B/ M

Kemampuan dan Perilaku :

G sudah mulai paham perintah sederhana seperti ambil benda,

membuang sampah pada tempatnya juga memakai sepatu, dan

meletakkan sepatu dengan rapi, membilang dan menulis angka

hingga ratusan, menjodohkan banyaknya gambar benda dengan

angka, mampu memegang pensil dengan benar, mulai mengenal

huruf, mulai berkomunikasi mengungkapkan keinginannya.

Sedangkan perilaku yang ada dan perlu dikurangi frekuensinya

adalah suka melamun, pandangan kosong, mengantuk, malas

(16)

25

2. Lokasi Penelitian

Pelaksanaan program Son-Rise dianjurkan untuk menggunakan

tempat belajar/bermain khusus untuk menghindari gangguan-gangguan

dari TV dan musik yang keras dan juga agar anak dapat cepat

termotivasi untuk berinteraksi dengan keluarga dalam hal ini Ibu, oleh

karena itu maka penelitian ini dilakukan di salah satu ruang belajar

Sekolah Khusus Sang Timur Jl. Barata Pahala 37, Karang Tengah,

Tangerang.

B. Jenis dan Desain Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian

eksperimen. Melalui penelitian eksperimen ini peneliti ingin melihat

efektivitas penggunaan program Son-Rise pada keluarga dalam

mengurangi perilaku tidak melakukan pekerjaan (off-task) pada anak

autis.

2. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Single Subject Research

(SSR) atau disebut juga penelitian subjek tunggal. Desain penelitian subjek tunggal yang digunakan adalah A-B, yaitu merupakan desain

dasar dari penelitian eksperimen subyek tunggal yang bertujuan untuk

melihat besarnya pengaruh dari suatu perlakuan yang diberikan pada

subyek dengan cara membandingkan kondisi baseline sebelum dan

sesudah intervensi.

Desain A-B digunakan dalam penelitian ini karena peneliti ingin

mengetahui apakah penggunaan program Son-Rise pada keluarga

dapat mengurangi perilaku off-task anak autis. Selain itu dalam

penggunaan Program Son-Rise sudah tampak interaksi antara orang

tua dan subyek serta intervensi orang tua terhadap subyek. Sehingga

dalam pengukuran tidak perlu ada pengulangan, baik fase baseline dan

(17)

Menurut Hasselt dan Hersen 1981 (dalam Sunanto, dkk. 2006,

hlm. 42) dikatakan: dalam penelitian dengan desain kasus tunggal

akan selalu ada pengukuran target behavior pada fase Baseline dan

pengulangannya pada sekurang-kurangnya satu fase Intervensi.

Desain A-B meliputi 2 tahap yaitu A (fase Baseline) dan B

(Intervensi).

a. Baseline (A) yaitu kemampuan subyek sebelum mendapat

perlakuan dengan target tidak mengerjakan tugas / melakukan

pekerjaan (off-task). Subyek P dan G diperlakukan secara alami

tanpa intervensi atau pemberian perlakuan. Hal tersebut sejalan

dengan pernyataan Sunanto, dkk (2006, hlm. 41) bahwa “Baseline

adalah kondisi di mana pengukuran perilaku sasaran (target

behavior) dilakukan pada keadaan natural sebelum diberikan

intervensi apapun.”

b. Intervensi (B) menurut Sunanto, dkk

(2006, hlm. 41) yaitu “Kondisi intervensi adalah kondisi ketika

suatu intervensi telah diberikan dan perilaku sasaran (target

behavior) diukur di bawah kondisi tersebut.” Dalam hal ini kondisi

subyek (P dan G) dalam penelitian selama diberi perlakuan,

perlakuan yang dimaksud adalah pendampingan oleh Ibu mereka

masing-masing dengan perlakuan kasih sayang serta pemberian

reward (ganjaran/ hadiah) dipeluk, tepuk tangan, dan

reinforcement (penguatan) ‘bagus’, ‘pintar’ secara berulang-ulang

dengan tujuan agar anak mau mengerjakan tugas / on task selama

perlakuan diberikan. Berikut ini adalah desain A-B

A B

(18)

27

Keterangan :

: Observasi

X : Perlakuan

A : Merupakan kondisi awal (baseline), fase ini bertujuan untuk

mengetahui kondisi awal subyek sebelum diberi perlakuan

(intervensi). Kondisi awal yang dimaksud terkait dengan target

behavior sekaligus sebagai variabel terikat dalam penelitian.

B : Merupakan kondisi intervensi. Berdasarkan data yang diperoleh

sebagaimana tergambar pada fase baseline, maka dalam fase ini,

subyek diberi perlakuan (intervensi).

C. Definisi Operasional Variabel

Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel yaitu variabel bebas

dan variabel terikat. “Penggunaan program son rise pada keluarga dalam

hal ini ibu” sebagai variabel bebas dan perilaku tidak melakukan pekerjaan (off-task) sebagai variabel terikat.

1. Variabel Bebas

Variabel Bebas (independent) adalah variabel yang

mempengaruhi variabel terikat (dependent). Variabel bebas dalam

penelitian ini adalah penggunaan program son-rise pada keluarga.

Program Son-Rise adalah salah satu program dengan pendekatan

humanistik yang dikembangkan untuk membantu perkembangan

hubungan sosial anak autis. Pendekatan ini diciptakan oleh orang tua,

untuk orang tua dan membantu tumbuh kembang anak-anak autis

yang berdasarkan pada sikap menerima dan menjalin hubungan yang

baik antara anak dan orang tua untuk mengembangkan kemampuan

anak sesuai dengan irama pertumbuhan dan perkembangannya

sehingga anak dapat semakin fokus dalam mengerjakan tugas.

Pelatihan program Son-Rise diberikan pada keluarga dalam hal

(19)

yang menjadi target perubahan adalah subyek dapat melakukan

pekerjaan (on-task).

Prosedur pelaksanaan program Son-Rise menurut Kaufman

(2007, hlm. 42) ini berfokus pada empat dasar dalam interaksi Sosial

yaitu:

a. Kontak Mata dan Komunikasi Non verbal

b. Komunikasi Verbal

c. Rentang Perhatian Interaktif

d. Fleksibilitas

Dari keempat dasar tersebut dibuat langkah-langkah sebagai berikut:

1) Langkah 1: membuat dasar ukuran, 2) langkah 2: membuat

kurikulum sosial dan 3) langkah 3: menulis program tujuan. Dari

setiap dasar ada lima tahapan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui

efektivitas penggunaan program son-rise pada keluarga dalam

mengurangi perilaku off-task. Berhubung penelitian ini dilakukan

dalam waktu yang singkat, maka peneliti mengambil sebagian kecil

dari program tersebut diatas yaitu tahap 1. (lihat lampiran halaman

75). Adapun langkah – langkah pelaksanaannya adalah sebagai

berikut:

a. Membuat format daftar kemajuan dan perkembangan anak. (

contoh format, lampiran halaman 66-71).

b. Menyiapkan ruang untuk proses pelaksanaan program son-rise.

c. Menyiapkan materi yang digunakan untuk kegiatan.

d. Orang tua menerapkan program son-rise pada subyek.

2. Variabel Terikat (target behavior)

Variabel Terikat atau perilaku sasaran (target behavior) penelitian

ini adalah tidak melakukan pekerjaan (off-task). Tidak melakukan

pekerjaan (off-task) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

(20)

29

D. Prosedur Penelitian

1. Persiapan

Penelitian ini diawali dengan observasi di sekolah Khusus Sang

Timur untuk mencari subyek penelitian, ditemukan dua subyek yang

orang tuanya belum tahu tentang program son-rise, namun sudah

menerima kondisi anaknya dan mau belajar. Kemudian menghubungi

orang tua subyek dalam hal ini diwakili oleh ibu, selanjutnya

mengadakan pertemuan dan dijelaskan tentang program son-rise

beserta manfaatnya serta membuat kesepakatan bahwa kegiatan

penelitian diadakan di sekolah satu minggu sekali, namun juga

dilakukan di rumah setiap hari sekurang-kurangnya satu jam. Setelah

ada kesepakatan bersama selain melihat video tentang pelaksanaan

son-rise, orang tua juga dilatih cara mendampingi subyek dengan

menggunakan program son-rise, yaitu terlebih dulu menyiapkan

tempat untuk proses pelaksanaan son-rise, kemudian menyiapkan

bahan yang akan dikerjakan oleh subyek, kemudian ibu dengan arahan

dari penulis mencoba mendampingi subyek, dengan mengikuti

perilaku subyek dan pelan-pelan ibu mengalihkan perilaku subyek

pada pekerjaan yang sudah disiapkan. Setiap kali subyek mau

mengerjakan tugas, ibu selalu memberi reward atau reinforcement

yang sesuai kondisi subyek seperti di peluk, dicium, tepuk tangan atau

ungkapan bagus, pintar dan lain-lain. Latihan dilaksanakan di Sekolah

Khusus Sang Timur, Karang Tengah, Tangerang pada bulan Juni

2015. Selanjutnya pada pelaksanaan penelitian, penulis tidak lagi

mendampingi ibu dan berada di luar ruangan.

2. Pelaksanaan Eksperimen

a. Kondisi Awal (Baseline)

Baseline adalah kondisi atau fase pengukuran variabel terikat

atau target behavior dimana anak belum mendapat intervensi.

(21)

Pertama-tama peneliti bersama guru kelas mengatur ruang kelas,

termasuk meja dan kursi belajar siswa. Peneliti memasang

handycam (kamera) di atas diarahkan pada meja dan kursi siswa agar proses belajar siswa dan perilaku subyek terekam dengan

baik. Selanjutnya peneliti mempersiapkan instrumen pengumpul

data. Instrumen yang dimaksud berupa format pencatat kejadian

yang digunakan dengan mengamati hasil rekaman.

Setelah subyek dan teman-teman sekelasnya berada dalam

ruang kelas, guru kelas melaksanakan proses belajar mengajar

seperti biasa dengan memberi tugas pada subyek tanpa memberi

intervensi. Pada saat proses pembelajaran tersebut peneliti tidak

berada di dalam kelas karena dapat mengganggu konsentrasi

mereka.

Perekaman dilakukan selama 1 jam pelajaran yaitu 30

menit. Setelah proses belajar selesai, peneliti memutar ulang video

rekaman untuk mengamati frekuensi terjadinya perilaku sasaran

(target behavior) dan diambil 10 menit dari 30 menit durasi

rekaman. Pengamatan dilakukan oleh tiga orang pengamat yaitu

peneliti sendiri, guru kelas dan guru yang lain. Masing-masing

pengamat mencatat hasil pengamatnnya pada format yang sudah

disediakan.

b. Prosedur Intervensi

Pada fase intervensi, pengukuran terhadap variabel terikat

dilakukan pada saat intervensi diberikan. Pada tahap intervensi ini

prosedur pelaksanaannya hampir sama dengan tahap baseline.

Pertama-tama peneliti mengatur ruang kelas, termasuk meja dan

kursi belajar siswa. Peneliti memasang handycam (kamera) di atas

diarahkan pada meja dan kursi siswa agar proses belajar siswa dan

(22)

31

dimaksud berupa format pencatat kejadian yang digunakan dengan

mengamati hasil rekaman.

Perbedaannya pada tahap ini pelaksanaannya bukan lagi dilakukan

oleh guru melainkan oleh ibu masing-masing subyek dimana

sebelumnya ibu subyek sudah diberi penjelasan dan dilatih program

son rise.

Prosedur yang ditempuh pada tahap intervensi ini

pelaksanaannya secara individu antara subyek dan ibunya di kelas

yang sama dan peneliti tidak berada di dalam kelas. Peneliti

menyiapkan bahan tugas untuk subyek dan di kelas dikerjakan

dengan didampingi oleh ibu subyek, apabila subyek melakukan

tugas sampai selesai akan diberi reward ( dipeluk, dicium, tepuk

tangan) atau reinforcement ( bagus, pintar) namun apabila subyek

tidak mau mengerjakan tugas maka ibu akan mengikuti gerakan,

tingkah laku subyek sambil mengajak, merayu memberi intervensi

pada subyek sehingga subyek mau mengerjakan tugas.

E. Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono (2011, hlm. 102) pada prinsipnya meneliti

adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat

ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Data

dalam penelitian ini adalah banyaknya subyek tidak melakukan pekerjaan.

Satuan ukuran yang digunakan untuk menghitung data tersebut adalah

frekuensi. Maka intrumen dalam penelitian ini berupa format pencatat

kejadian. Adapun format tersebut adalah sebagai berikut :

FORMAT PENCATAT KEJADIAN

Nama Subyek : Tanggal :

Pengamat: Perilaku : Tidak melakukan

pekerjaan (off-task)

(23)

Kode : ( ) terjadi (×) tidak terjadi

FORMAT RESUME TIGA PENGAMAT Nama Subyek :

Perilaku : Tidak melakukan pekerjaan (off-task)

Waktu : 10 menit

[image:23.595.128.449.123.239.2]

Pengamat Pertama Kedua Ketiga Tgl Sesi Juml % Juml % Juml %

Gambar 3.3 Format resume tiga pengamat

Nama Subyek :

Perilaku : Tidak melakukan pekerjaan (off-task)

Waktu : 10 menit

Tanggal Sesi Jumlah Prosentasi Detik

Menit

10 20 30 40 50 60

1

2

3

[image:23.595.141.501.420.505.2]
(24)

33

Gambar 3.4 Format resume tiga pengamat

F. Validitas Data

Sunanto (2006, hlm. 43 ) mengungkapkan bahwa : untuk

meningkatkan validitas penelitian yang baik pada saat melakukan

eksperimen dengan menggunakan disain A – B, ada beberapa hal yang

perlu mendapat perhatian yaitu :

1. Mendefinisikan target behavior sebagai perilaku yang dapat diukur

secara akurat. Target behavior dalam penelitian ini yakni tidak

melakukan pekerjaan (off-task). Target behavior ini diambil dari

perilaku-perilaku yang ditemukan saat observasi pendahuluan.

2. Mengukur dan melakukan pencatatan data pada kondisi baseline (A)

secara kontinyu sekurang-kurangnya 3 atau 5 kali atau sampai trend

dan level data menjadi stabil. Dalam penelitian ini pada fase baseline,

pengukuran akan dilakukan sebanyak 3-5 kali tergantung tingkat

kestabilan data. Bila sudah diperoleh kestabilan data maka pengukuran

dihentikan dan langsung dilanjutkan ke kondisi intervensi.

3. Memberikan intervensi (B) setelah kondisi baseline stabil. Dengan

acuan inilah maka peneliti memberikan intervensi pada subyek lewat

ibu mereka.

4. Mengukur dan mengumpulkan data target behavior pada kondisi

intervensi (B) selama periode waktu tertentu sampai trend dan level

data stabil.

5. Menghindari mengambil kesimpulan adanya hubungan fungsional

(sebab-akibat) antara variabel terikat dengan variabel bebas (Tawney

dan Gast, 1984).

Dalam validitas data ini, peneliti menggunakan cara observasi yang

dibantu dengan video.

G. Reliabilitas Data

Dalam suatu penelitian, reliabilitas data sangatlah perlu dilakukan

(25)

tepat dan ajeg. Oleh karena itu peneliti menggunakan alat ukur dengan

melibatkan tiga orang untuk mencatat dan mengukur frekuensi off-task

subyek dalam kegiatan belajar. Adapun kriteria pengukuran berupa tingkat

frekuensi. Pengukuran dilakukan dengan mengamati video rekaman

kegiatan subyek di kelas. Format ukur yang digunakan untuk mengukur

frekuensi kejadian dalam sesi dapat dilihat dalam instrumen penelitian.

Adapun rumus dalam pengukuran yaitu :

Banyaknya kejadian X100% = n

60 detik

Setelah dilakukan pencatatan banyaknya kejadian setiap sesinya

oleh setiap pengamat selanjutnya hasil pencatatan frekuensi dari tiga

pengamat diolah disatukan dalam satu tabel sebagai hasil akhir dari

banyak frekuensi kejadian. Sehingga diperoleh hasil pengukuran

banyaknya kejadian pada fase baseline dan fase intervensi yang reliabel.

H. Teknik Analisis Data

Setelah data hasil penelitian terkumpul, selanjutnya peneliti

melakukan pengolahan dan analisis data. Analisis data dilakukan dengan

menggunakan statistik deskriptif. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan

oleh Sunanto, dkk (2006, hlm. 65 ) bahwa: “Dalam penelitian

eksperimen, analisis data pada umumnya menggunakan teknik statistik

inferensial sedangkan pada penelitian eksperimen dengan subyek tunggal

menggunakan statistik deskriptif yang sederhana.”

Dalam penelitian subyek tunggal, analisis data bertujuan untuk

mengetahui pengaruh intervensi terhadap perilaku sasaran (target

behavior). Tentang hal tersebut Sunanto, dkk (2006, hlm. 65 )

mengemukakan :

(26)

35

Karena pengamatan dalam metode inspeksi visual dilakukan secara

langsung terhadap data yang ditampilkan dalam grafik, maka peneliti perlu

mengetahui komponen-komponen dasar yang harus dipenuhi dalam

membuat grafik. Sunanto, dkk (2006, hlm. 30 ) mengungkapkan :

beberapa komponen penting dalam membuat grafik adalah : Absis adalah

sumbu X yang merupakan sumbu mendatar yang menunjukkan satuan

untuk waktu (misalnya sesi, hari,tanggal).

Ordinat adalah sumbu Y merupakan sumbu vertikal yang

menunjukkan satuan untuk variabel terikat atau perilaku sasaran (misalnya

: persen, frekuensi, dan durasi).

Titik awal merupakan pertemuan antara sumbu X dengan sumbu Y sebagai

titik awal skala.

Skala garis-garis pendek padavsumbu X dan sumbu Y yang menunjukkan

ukuran (misalnya : 0 %, 25 %, 50 %, dan 75 %).

Label kondisi yaitu keterangan yang menggambarkan kondisi

eksperimen misalnya baseline atau intervensi.

Garis perubahan kondisi yaitu garis vertikal yang menunjukkan

adanya perubahan kondisi ke kondisi lainnya.

Judul grafik, judul yang mengarahkan perhatian pembaca agar

segera diketahui hubungan antara variabel bebas dan terikat.

Bentuk dasar grafik garis yang sering digunakan dalam penelitian

eksperimen dengan subyek tunggal sebagaimana diuraikan di atas, tampak

pada gambar berikut :

[image:26.595.170.443.560.697.2]

(27)

Komponen analisis visual terdiri dari :

1. Analisis dalam kondisi

Analisis perubahan dalam kondisi maksudnya adalah menganalisis

perubahan data dalam satu kondisi misalnya kondisi baseline atau

kondisi intervensi. Adapun yang akan dianalisis dalam kondisi tersebut

meliputi enam komponen sebagai berikut :

a. Panjang kondisi

Panjang kondisi atau panjang interval menunjukkan banyaknya

data dalam kondisi tersebut yang juga menggambarkan banyaknya

sesi yang dilakukan dalam suatu kondisi. Untuk menentukan

jumlah sesi pada kondisi baseline tidak ada ketentuan yang pasti,

namun demikian pengumpulan data dilakukan sampai diperoleh

data yang stabil dan menunjukkan arah yang jelas.

b. Kecenderungan arah

Kecenderungan arah dapat dilihat dari arah garis yang melintasi

semua data dalam suatu kondisi. Dalam kecenderungan arah ini

ada tiga kemungkinan arah garis dalam suatu kondisi yaitu

mendatar, naik, dan turun. Untuk membuat garis dapat ditempuh

dengan dua metode yaitu metode tangan bebas (freehand) adalah

membuat garis secara langsung pada suatu kondisi sehingga

membelah data sama banyak yang terletak di atas dan di bawah

garis tersebut, dan metode belah tengah (split-middle) yaitu

membuat garis lurus yang membelah data dalam suatu kondisi

berdasarkan median.

c. Tingkat stabilitas (level stability)

Tingkat stabilitas menunjukkan homogenitas data dalam suatu

kondisi. Tingkat stabilitas data ditentukan dengan menggunakan

rumus sebagai berikut :

(28)

37

Skor tertinggi X kriteria stabilitas = rentang stabilitas

20 X 0,15 = 3,0

Menghitung mean leven dengan cara :

Misalnya terdapat data dalam baseline sebagai berikut:

18+20+16+14+18+18+16+19=139

139 : 8 = 17,35 (mean level)

Menentukan batas atas dengan cara:

17,35 (mean level) + setengah dari rentang stabilitas (1,5)

diperoleh 18,85

Menentukan batas bawah dengan cara:

17,35 (mean level) - setengah dari rentang stabilitas (1,5) diperoleh

15,85

Menghitung persentase data point pada kondisi baseline (A) yang

berada dalam rentang stabilitas dengan cara:

Banyaknya data point : banyaknya data = Persentase stabilitas

yang ada dalam rentang

5 : 6 = 62,5%

Persentase stabilitas sebesar 85% - 90% dikatakan stabil. Sunanto,

(2006 : 80)

d. Jejak data (data path)

Kecenderungan jejak data pada dasarnya sama dengan

kecenderungan arah, dimana data memiliki tiga kemungkinan yaitu

(29)

e. Rentang

Memberikan informasi tentang jarak antaradata pertama dan

terakhir.

f. Level perubahan (level change)

Level perubahan data merupakan besarnya perubahan antara dua

data. Baik dalam kondisi maupun antar kondisi. Perubahan data

dalam kondisi adalah selisih antara data pertama dengan data

terakhir sedangkan perubahan data antar kondisi adalah selisih

antara data terakhir pada kondisi pertama dengan data pertama

pada kondisi berikutnya.

2. Analisis antar kondisi

Analisis antar kondisi merupakan analisis perubahan yang terjadi antara

dua kondisi, misalnya dalam kondisi baseline atau kondisi intervensi.

Komponen-komponen yang akan dianalisis dalam kondisi tersebut

meliputi :

a. Variabel yang diubah

Dalam bagian ini variabel terikat atau perilaku sasaran difokuskan

pada satu perilaku. Artinya analisis ditekankan pada efek atau

pengaruh intervensi terhadap perilaku sasaran.

b. Perubahan kecenderungan arah dan efeknya

Dalam analisis data antar kondisi, makna kecenderungan arah

menunjukkan perubahan perilaku sasaran, dimana perubahan

tersebut akibat diberikannya intervensi.

c. Perubahan stabilitas dan efeknya

Stabilitas data menunjukkan tingkat kestabilan perubahan dari

sederetan data. Dikatakan stabil apabila data tersebut menunjukkan

arah yang konsisten yaitu menunjukkan arah mendatar, menaik, dan

menurun secara meyakinkan. Kestabilan data memegang peranan

(30)

39

d. Perubahan level data

Perubahan level data dalam analisis antar kondisi ditunjukkan

selisih antara data terakhir pada kondisi baseline dan data pertama

pada kondisi intervensi. Dan nilai selisih ini menggambarkan

seberapa besar terjadi perubahan perilaku akibat intervensi.

e. Data yang tumpang tindih (overlap)

Data yang tumpang tindih antara dua kondisi misalnya kondisi

baseline dan kondisi intervensi terdapat data yang sama. Semakin

kecil persentase overlap makin baik pengaruh intervensi terhadap

target behavior.

(31)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab terakhir ini, disampaikan simpulan penelitian dan saran.

Saran-saran ini diberikan sesuai dan atas dasar simpulan penelitian.

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab empat,

dapat disimpulkan bahwa :

Kedua subyek walaupun dalam kondisi yang berbeda yaitu aktif dan

pasif, namun keduanya setelah diintervensi ibu dengan pelukan,

kata-kata bagus, pintar, bernyanyi dan bermain maka perilaku off-tasknya

menurun.

Dengan demikian, bagi penyandang autis dalam penelitian ini

Program Son-Rise efektif digunakan oleh keluarga dalam mengurangi

perilaku tidak mengerjakan tugas (off-task).

B. Saran

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program Son-Rise

dapat mengurangi perilaku off-task anak autis.

Maka berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan:

1. Untuk keluarga

Dalam rangka mendampingi dan mendidik anak autis, disarankan

orang tua ikut serta membantu sekolah dengan memakai program

son-rise di rumah, dengan cara memberikan reward sebanyak

mungkin dan reinforcement berupa pelukan, kasih sayang, tepuk

tangan, dan kata-kata positif dari ibu / keluarga seperti bagus, dan

pintar.

(32)

50

Mengingat program son-rise terdiri dari empat dasar dan perilaku

anak autis ada berbagai macam, sedangkan penelitian ini hanya

mengambil salah satu perilaku anak autis yaitu off-task dan off-task

dalam penelitian ini merupakan bagian kecil dari program son-rise

maka ada baiknya pada penelitian selanjutnya dapat meneliti

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Astati, Hidayat, Sunanto, J. Juhaini, Tjasmini, M. Sutisna, N. Sugiarmin, Hernawati, T. dan Alimin, Z. (2013) Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Corsello, C. M. (2005) Early Intervention in Autism. Infants & Young Children Vol. 18, No. 2, pp. 74–85c Lippincott Williams & Wilkins, Inc.

Delphie, B. (2009) Pendidikan Anak Autis. Klaten: PT. Intan Sejati.

Filipek, P.A, dkk (1999) The Screening and Diagnosis of Autistic Spectrum Disorders1 Journal of Autism and Developmental Disorders Vol. 29, No.6.

Greenspan, S.I dan Wieder, S. (2010) Engaging Autism Melangkah Bersama Autisme. Jakarta: Yayasan Ayo Main.

Hadis, A. (2006) Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Austistik. Bandung: Alfabeta.

Ingersoll B. R. (2009). Teaching Social Communication: A Comparison of Naturalistic Behavioral and Development, Social Pragmatic Approaches for Children With Autism Spectrum Disorders. Journal of Positive Behavior Interventions 2010; 12; 33 originally published online Apr 14, 2009.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2011) Jakarta : Balai Pustaka.

Kaufman H. (2007). The Son-Rise Program Developmental Model Understanding the Importance of Social Development & Creating a

Curriculum for Your Child’s Social Growth. USA: Autism Treament Center

of America.

Kaufman R K. (2014). Autism Breakthrough The Groundbreaking Method That

Has Helped Families All Over The World. New York: St. Martin’s Press.

Klinik Autis. (2013) 5 Jenis Gangguan-gangguan Spektrum Autism-Autism Spectrum Disorders ASD. [Online].

Diakses dari http://klinikautis.com/2013/12/13/5-jenis-gangguan-gangguan-spektrum-autism-autism-spectrum-disorders-asd/.

Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta: Prenada Media Group.

(34)

52

Majalah Rumah Autis (2008) www.teraskreasi.com. [Online].

Diakses dari http://rumahautis.org/rumahautis/berita-misteri-autis-yang-tak-terungkap.html#ixzz3jMtVuKLj .

Prasetyono, D.S, (2008) Serba-serbi Anak Autis. Jogjakarta: Diva Press.

Pristiwaluyo, T dan Sodiq, (2005) Pendidikan Anak gangguan Emosi. Jakarta: DepDikNas Dirjend PT Dir.PPTK dan KPT.

Purwanta E, (2012) Modifikasi Perilaku Alternatif Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Riadi, M. (2012) Fungsi dan Bentuk Keluarga [Online]

Diakses dari http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisi-fungsi-dan-bentuk-keluarga.html.

Rahmedina, C. (2014)Pengertian, Bentuk, Fungsi, Peranan, Dan Tugas Pokok Keluarga. [Online].

Diakses dari http://citrarhmdn.blogspot.co.id/2014/11/pengertian-bentuk-fungsi-peranan-dan.html.

Rudy, L. (2007) What Is the Son-Rise Treatment for Autism? [Online] Diakses dari http://www.autism-help.org/intervention-son-rise-program.htm.

Sastry A. and Aguirre B. (2012) Parenting Anak dengan Autisme, Solusi, Strategi, dan Saran Praktis untuk Membantu Keluarga Anda. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Schneider N. and Goldstein H. (2009) Using Social Stories and Visual Schedules to Improve Socially Appropriate Behaviors in Children With Autism. Journal of Positive Behavior Interventions, 12: 149 originally published online 2 April 2009.

Sugiyono (2011) Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Supartini, E. (2009). Program Son-Rise Untuk Pengembangan Bahasa Anak Autis. Jurnal Pendidikan Khusus Vol 5 No. 2 Nopember, hal 44-54.

Sunanto, J. Takeuchi, K., Nakata, H. (2006) Penelitian Dengan Subyek Tunggal. Bandung: UPI Press.

Syahrir, A. (2012) Laju Perkembangan Autisme. [Online].

(35)

Tanpa Nama. (2007) Son-Rise Program. [Online]

Diakses dari http://www.autism-help.org/intervention-son-rise-program.htm

Tanpa Nama. (2011) Autism, Sebuah Gangguan Perilaku Pada Anak. [Online]. Diakses dari

file:///D:/Autism,%20Sebuah%20Gangguan%20Perilaku%20Pada%20Anak %20_%20KLINIK%20AUTIS%20.htm.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2014). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI Press.

Weiss, J.(tanpa tahun) Self-Injurious Behaviours in Autism: A Literature Review.

Widyawati, I (2002). Autisme Pada Masa Kanak-Kanak. Makalah Seminar Lokakarya Pola Layanan Pendidikan bagi Anak Autisme di Cipayung Bogor tgl 17-20 Juni 2002. Bogor: Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat PLB.

Gambar

Gambar 3.3 Format resume tiga pengamat
Gambar 3.5 Bentuk dasar grafik

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku ibu rumah tangga tentang keluarga sadar gizi (Kadarzi) dengan status gizi pada anak balita di Kelurahan Sindangrasa

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sindangrasa Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis dengan dasar pertimbangan penelitian ingin mengetahui pengetahuan dan perilaku ibu tentang

Tujuan Penelitian: 1) Mengetahui konseling analisis transaksional dalam membantu mengubah perilaku siswa yang susah diatur dan suka mengganggu teman di kelas; 2)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah intervensi video self- modeling dapat menurunkan perilaku mengabaikan tugas di kelas pada anak dengan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku belanja konsumen dalam pembelian mainan anak-anak pada Petra Toys di

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku dan status refraksi keluarga dengan kejadian miopia pada anak usia sekolah di Rumah Sakit Mata

Pada tujuan penelitian yang kedua yaitu dalam analisis faktor yang menggunakan metode Varimax dengan tujuan untuk mengetahui faktor penyebab perilaku penggunaan antibiotik tanpa resep