EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK
PADA ANAK AUTIS
Tesis
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister (S2) Pendidikan pada
Program Studi Pendidikan Khusus
Oleh :
Christina Ratna Widiastuti NIM. 1302954
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS SEKOLAH PASCASARJANA
CHRISTINA RATNA WIDIASTUTI
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK
PADA ANAK AUTIS
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:
Pembimbing
Juang Sunanto, M.A, Ph.D NIP.19610515 198703 1 002
Mengetahui
Ketua Program Studi Pendidikan Khusus
Christina Ratna Widiastuti, 2015
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE
ABSTRAK
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PROGRAM SON-RISE PADA KELUARGA
DALAM MENGURANGI PERILAKU OFF-TASK
PADA ANAK AUTIS
Oleh:
Christina Ratna Widiastuti, S.Pd. (1302954), PKH-SPS UPI
Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang setiap anak. Anak autis sebagai salah satu jenis anak berkebutuhan khusus mengalami gangguan perkembangan yang kompleks. Hal itu sangat mempengaruhi perkembangan sosial, komunikasi, emosi, dan perilakunya, seperti tidak melakukan pekerjaan (off-task), oleh karena itu mereka membutuhkan pendampingan dan penanganan yang terus menerus dan optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan program son-rise untuk keluarga dalam mengurangi perilaku off-task pada anak autis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan kasus tunggal atau Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B. Subyek penelitian ini berjumlah dua anak autis dengan jenis kelamin laki-laki usia enam tahun dan delapan tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan arah pada fase baseline meningkat dan setelah diberi intervensi dengan menggunakan program son-rise, kecenderungan arah perilaku off-task menurun.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program son-rise yang digunakan orangtua dapat mengurangi perilaku off-task anak autis. Dari hasil penelitian ini diharapkan keluarga yang mempunyai anak autis dapat menggunakan program son-rise untuk mengurangi perilaku off-task.
ABSTRACT
EMPLOYING EFFECTIVITY OF SON - RISE PROGRAMME OF FAMILY IN REDUCING BEHAVIORAL OFF-TASK OF AUTISM
CHILDREN by
Christina Ratna Widiastuti S.Pd. (1302954), PKH-SPS UPI
The family is the first domain and primary of every children growing. The Children with special needs as one who had derangement difficulties growing where this have had effect on social growth, communication, emotional and behavior such as off task, they are needs special care and assist continually. Aim of this research is for knowing how does effective of using the son-rise programmed for parent in reducing off-task of autism children. The method that use in this research is experiment with the Single Subject Research (SSR) by A-B design. Research subject in this research have two quantities child autism with male gender at age six years and eigh years . The result of research says that the inclination shows on baseline phase was interesting after given intervention by using son-rise programmed, the inclination shows that behavior off-task has decreased. The summary of son-rise programmed which use by the parent be able to reduce behavioral off-task on autism children.
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN ...
LEMBAR PERNYATAAN ...
KATA PENGANTAR ...
UCAPAN TERIMAKASIH ...
ABSTRAK ...
DAFTAR ISI ...
DAFTAR TABEL ...
DAFTAR GAMBAR ...
DAFTAR LAMPIRAN ... i ii iii v vii viii x xi xii BAB I BAB II BAB III
PENDAHULUAN ...
A. Latar belakang Masalah ...
B. Rumusan Masalah ...
C. Tujuan ...
D. Manfaat Penelitian ...
KAJIAN TEORI ...
A. Tinjauan tentang Autisme ...
B. Peran keluarga dalam mendampingi anak autis ...
C. Pendekatan Son-Rise ...
D. Kerangka Berpikir ...
METODE PENELITIAN ...
A. Subyek dan Lokasi Penelitian ...
B. Jenis dan Desai Penelitian ...
C. Definisi Operasional Variabel ...
D. Prosedur Penelitian ...
E. Instrumen Penelitian ...
F. Validitas Data ...
BAB IV
BAB V
H. Teknik Analisis Data ...
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...
A. Hasil Penelitian ...
1.Subyek P ...
2.Subyek G ...
B. Pembahasan ...
SIMPULAN DAN SARAN ...
A. Simpulan ...
B. Rekomendasi ... 34
40
40
40
43
46
49
49
49
DAFTAR PUSTAKA ...
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 51
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Autis bukan sesuatu hal yang baru lagi bagi dunia, pun di
Indonesia, melainkan suatu permasalahan gangguan perkembangan yang
mendalam di seluruh dunia termasuk di Indonesia, karena dari waktu ke
waktu ada kemungkinan penyandang autisme di seluruh dunia terus
mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian, pada 1990-an,
jumlah penyandang autisme diperkirakan mencapai 4-6 orang dalam setiap
10 ribu kelahiran. Sedangkan pada 2000-an jumlah ini meningkat menjadi
15-10 dalam setiap 10 ribu kelahiran. Pada tahun 2010, berdasarkan data
yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, di Indonesia, jumlah
penyandang autisme diperkirakan mencapai 2,4 juta orang. Pada tahun
tersebut jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,5 juta orang dengan
laju pertumbuhan 1,14 persen. Jumlah penyandang autisme di Indonesia
diperkirakan mengalami penambahan sekitar 500 orang setiap tahun.
Syahrir, A. (2012 )
Berdasarkan data di atas maka hal ini perlu diwaspadai dan
diusahakan penanganan anak autis sedini mungkin. Dalam penanganan
tersebut dibutuhkan kerjasama berbagai pihak yaitu dokter, psikolog, guru,
terapis, masyarakat dan orang tua/keluarga penyandang autisme itu sendiri.
Tanpa keikutsertaan orang tua/keluarga maka penanganan untuk
penyandang autisme itu sendiri akan banyak mengalami hambatan.
Penanganan dan pendidikan setiap pribadi diawali dalam sebuah
keluarga, seorang bayi yang baru lahir, pertama-tama berkomunikasi
dengan Ibu. Selanjutnya bayi mulai berkomunikasi dengan orang-orang
disekitarnya dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga adalah
lingkungan pertama dan utama yang sangat penting bagi tumbuh kembang
pribadi, kondisi objektif keluarga baik psikologis, sosial ekonomi,
penerimaan, pendidikan juga sangat mempengaruhi tumbuh kembang
seorang pribadi.
Baik tidaknya perkembangan dan pertumbuhan pribadi seseorang
ditentukan bagaimana peranan keluarga bagi setiap pribadi dalam keluarga
tersebut. Permasalahan yang ada, berapa persen dari sekian banyak
keluarga yang sadar dan mampu akan perannya dalam mendampingi
anak-anaknya secara khusus anak penyandang autisme?
Individu dengan gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum
Disorder ( ASD ) menunjukkan penurunan yang signifikan dalam interaksi sosial dan komunikasi , dan mereka dibatasi berbagai kepentingan dan
perhatian . Defisit ini mengganggu belajar dan mengganggu kehidupan
keluarga . Ada cukup kesepakatan di bidang ASD yang intensif , intervensi
dini pada anak-anak mengarah keperbaikan yang signifikan pada fungsi
dan hasil jangka panjang. Ingersoll. (2009)
Anak autis termasuk salah satu jenis anak yang mengalami
gangguan perkembangan yang kompleks dan terjadi sebelum usia tiga
tahun, yang berdampak pada perkembangan sosial, komunikasi, perilaku
dan emosi yang tidak berkembang secara optimal. Akibat dari gangguan
perkembangan tersebut anak menjadi kurang memperhatikan lingkungan
sekitarnya dan asyik dengan dunianya sendiri. Jika seseorang mengalami
hambatan dalam interaksi dan komunikasi, diyakini orang tersebut akan
mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Anak autis sebagai salah
satu bagian dari anak berkebutuhan khusus mengalami hambatan pada
keterampilan interaksi dan komunikasi. Sugiarmin (dalam Astati, 2013,
hlm. 164) mengemukakan bahwa:
Keadaan ini diperburuk oleh adanya gangguan tingkah laku yang menyertainya, bahkan hambatan inilah yang paling mengganggu pada anak autis dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan lingkungannya.
3
Pada dasarnya hampir semua anak berkebutuhan khusus mengalami problema perilaku, hanya intensitas dan keluasannya yang berbeda. Diantara mereka ada yang karena proses perkembangan mampu mengatasi problema tersebut tetapi ada sebagian dari mereka yang mengalami kesulitan untuk mengatasi problema perilaku sehingga mereka cenderung memerlukan bantuan diantaranya anak autis.
Problema perilaku pada anak autis ada dua jenis yaitu perilaku yang
berlebihan (excessive) dan perilaku yang berkekurangan (deficient)
menurut Rudi Sutadi (dalam Purwanta, 2012, hlm. 116)
a. Perilaku berlebihan (excessive) ditandai dengan :
1) Tantrum seperti menjerit, menangis dan sejenisnya
2) Stimulasi diri, seperti mengepak-ngepak tangannya,
membanting-banting tubuhnya.
3) Self-abuse, seperti memukul kepalanya, menggigit tangannya.
4) Agresif, seperti menendang, memukul.
b. Perilaku yang berkekurangan (deficient) ditandai dengan:
1) Mengalami gangguan bicara, sedikit kata dan suara, membeo
seperti bicara sendiri.
2) Menganggap orang lain seperti suatu benda.
3) Mengalami defisit sensasi, tampak seperti tuli, buta.
4) Apabila ia bermain satu permainan, ia akan bermain terus.
5) Tidak dapat bermain dengan benar.
6) Ekspresi yang diberikan tidak sesuai.
7) Pandangannya sering kosong.
Kondisi anak autis dengan gangguan perilakunya ini tidak hanya
mempengaruhi kehidupan anak itu sendiri melainkan juga berdampak pada
orang tua dan anggota keluarga serta lingkungan sosial di mana anak itu
berada.
Akibat dari kompleksnya masalah yang dialami anak autis maka anak
mengalami hambatan dalam belajar dan kehidupan sosialnya.
Kelainannya sangat mempengaruhi diri anak dalam berbagai aspek
dengan sindrome autistik sebagai Pervasive Developmental Disorder
(PDD). Delphie, (2009, hlm. 2). Disebut developmental disorder karena anak autis merupakan anak dengan hambatan perkembangan. Filipek, P.
A. dkk (1999).
Berkenaan dengan hambatan tersebut banyak para ahli membuat
penelitian-penelitian untuk mengurangi hambatan tersebut, namun sampai
saat ini, sangat sedikit penelitian yang difokuskan pada perilaku yang
merugikan diri sendiri dalam individu dengan autisme, Weiss, (tanpa
tahun).
Anak autis dengan kompleksitas hambatan perkembangannya
membutuhkan bantuan orang lain, maka begitu banyak para ahli ingin
membantu perkembangan anak autis ke arah lebih baik, dengan begitu,
banyak metode maupun program-program serta intervensi yang diberikan
pada anak autis namun intervensi tersebut masih membutuhkan penelitian
untuk keefektifannya.
Ada berbagai cara atau metode untuk membantu perkembangan
kemampuan anak autis baik untuk perkembangan bahasa, interaksi sosial
maupun perkembangan perilaku. Mulai tahun 1997, Dr. Rudy Sutadi, SpA
menyebarluaskan penggunaan metode Applied Behavior Analysis (ABA) di
Indonesia. Metode ABA lebih dikenal dengan metode Lovaas merupakan
pendekatan behavioristik yang menekankan kegiatan terstruktur dan
mekanistik. Cerita Sosial dengan komponen baru yang menggunakan
jadwal visual sebagai strategi manajemen diri akan lebih meningkatkan
atau mempertahankan peningkatan perilaku adaptif. Schneider N. and
Goldstein H. (2009).
Dari berbagai program dan studi terbukti bahwa intervensi dini
mengarah ke hasil yang lebih baik. Seperti yang telah kita lihat bahwa
sejumlah studi telah menunjukkan bahwa anak-anak membuat
keberhasilan/ perkembangan besar ketika mereka memasuki sebuah
5
Dalam perkembangannya untuk membantu perkembangan anak
autis, muncul pendekatan baru yang disebut model DIR, singkatan dari
Developmental Individual-difference, Relationship-based. Model ini juga sering disebut Floortime. Greenspan. (2006, hlm. xiii)
Selain Floortime ada pendekatan lain yang menggunakan pendekatan
humanistik, salah satunya ialah Model Pengembangan Son - Rise Program
yang dikembangkan oleh suami istri Barry dan Samahria Kaufman.
Program ini pertama kali digunakan untuk membantu perkembangan anak
lelakinya yang berumur 18 bulan yang didiagnosis autis. Kemajuan yang
dicapai oleh anaknya yang autis tersebut ditulis dalam buku Son-Rise dan
A Miracle to Believe In. Supartini. (2009).
Program Son-Rise sudah ada beberapa tahun namun kenyataan di
lapangan khususnya di lingkungan Sekolah Khusus Sang Timur, masih
banyak orang tua yang belum mengetahui program ini, apakah program
ini sungguh efektif membantu perkembangan perilaku anak autis. Oleh
karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti keefektifan program son-rise ini
.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan dalam latar belakang
masalah di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini dinyatakan
dalam pertanyaan sebagai berikut : Apakah penggunaan program son-rise
oleh keluarga dapat mengurangi perilaku tidak melakukan pekerjaan
(off-task) pada anak Autis?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
Mengetahui penggunaan program son-rise oleh keluarga dalam
mengurangi perilaku tidak melakukan pekerjaan (off-task) pada anak
Autis.
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap
pengayaan disiplin ilmu pendidikan kebutuhan khusus dan mendorong
peneliti lainnya untuk mengadakan dan mengembangkan penelitian
lebih lanjut.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini :
Sebagai alternatif bagi guru dan keluarga dalam menangani dan
mendampingi anaknya yang mengalami autis agar dapat
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen. Menurut Sugiyono (2011, hlm. 72) “metode eksperimen dapat
diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh
perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.”
Sedangkan disain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan
subyek tunggal (single subject).
A. Subyek Penelitian dan Lokasi Penelitian
1. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini dua anak laki-laki autis yaitu
pertama berinisial P berusia 8 dan kedua berinisial tahun G yang
berusia 6 dan Ibu mereka. Subyek ini dipilih berdasarkan hasil studi
pendahuluan melalui kegiatan observasi yang dilakukan untuk
mengetahui kondisi obyektif mereka. Kedua subyek ini bersekolah di
Sekolah Khusus Sang Timur Tangerang di Jenjang Taman
Kanak-kanak. Berikut secara rinci disampaikan informasi mengenai subyek
penelitian tersebut baik kemampuan – kemampuan maupun perilaku
yang dimiliki:
a. Subyek 1
Nama / Inisial : P
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/Tgl lahir : Yogyakarta, 12 Agustus 2007
Anak ke : pertama
Nama Ortu : A H / VDA
Kemampuan dan Perilaku :
P sudah mulai paham perintah sederhana seperti membuang
orang lain, sudah dapat memegang pensil dengan benar, mampu
menebalkan titik-titik, mewarnai gambar sudah mulai di dalam
garis, memasangkan benda yang sama, sedangkan perilaku yang
perlu dikurangi frekuensinya adalah emosi yang meletup-letup,
masih sering geregetan dengan memilin baju dengan kedua
tangannya entah bajunya sendiri atau baju orang yang dekat
dengannya, mengepak-ngepakan kedua tangannya (handflaping),
kurang bisa duduk diam, terus bergerak dan berjalan/loncat-loncat,
berlari, tiba-tiba meninggalkan tempat duduk (sitting/walking),
mengetuk-ketukan jari di atas meja maupun di setiap tempat,
menarik-narik teman, sembunyi dalam almari, kontak mata masih
kurang juga kalau memandang miring-miring serta komunikasi
belum lancar.
b. Subyek 2
Nama / Inisial : G
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/Tgl lahir : Jakarta, 14 Januari 2009
Anak ke : 2 dari 3 bersaudara.
Nama Ortu : D B/ M
Kemampuan dan Perilaku :
G sudah mulai paham perintah sederhana seperti ambil benda,
membuang sampah pada tempatnya juga memakai sepatu, dan
meletakkan sepatu dengan rapi, membilang dan menulis angka
hingga ratusan, menjodohkan banyaknya gambar benda dengan
angka, mampu memegang pensil dengan benar, mulai mengenal
huruf, mulai berkomunikasi mengungkapkan keinginannya.
Sedangkan perilaku yang ada dan perlu dikurangi frekuensinya
adalah suka melamun, pandangan kosong, mengantuk, malas
25
2. Lokasi Penelitian
Pelaksanaan program Son-Rise dianjurkan untuk menggunakan
tempat belajar/bermain khusus untuk menghindari gangguan-gangguan
dari TV dan musik yang keras dan juga agar anak dapat cepat
termotivasi untuk berinteraksi dengan keluarga dalam hal ini Ibu, oleh
karena itu maka penelitian ini dilakukan di salah satu ruang belajar
Sekolah Khusus Sang Timur Jl. Barata Pahala 37, Karang Tengah,
Tangerang.
B. Jenis dan Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian
eksperimen. Melalui penelitian eksperimen ini peneliti ingin melihat
efektivitas penggunaan program Son-Rise pada keluarga dalam
mengurangi perilaku tidak melakukan pekerjaan (off-task) pada anak
autis.
2. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Single Subject Research
(SSR) atau disebut juga penelitian subjek tunggal. Desain penelitian subjek tunggal yang digunakan adalah A-B, yaitu merupakan desain
dasar dari penelitian eksperimen subyek tunggal yang bertujuan untuk
melihat besarnya pengaruh dari suatu perlakuan yang diberikan pada
subyek dengan cara membandingkan kondisi baseline sebelum dan
sesudah intervensi.
Desain A-B digunakan dalam penelitian ini karena peneliti ingin
mengetahui apakah penggunaan program Son-Rise pada keluarga
dapat mengurangi perilaku off-task anak autis. Selain itu dalam
penggunaan Program Son-Rise sudah tampak interaksi antara orang
tua dan subyek serta intervensi orang tua terhadap subyek. Sehingga
dalam pengukuran tidak perlu ada pengulangan, baik fase baseline dan
Menurut Hasselt dan Hersen 1981 (dalam Sunanto, dkk. 2006,
hlm. 42) dikatakan: dalam penelitian dengan desain kasus tunggal
akan selalu ada pengukuran target behavior pada fase Baseline dan
pengulangannya pada sekurang-kurangnya satu fase Intervensi.
Desain A-B meliputi 2 tahap yaitu A (fase Baseline) dan B
(Intervensi).
a. Baseline (A) yaitu kemampuan subyek sebelum mendapat
perlakuan dengan target tidak mengerjakan tugas / melakukan
pekerjaan (off-task). Subyek P dan G diperlakukan secara alami
tanpa intervensi atau pemberian perlakuan. Hal tersebut sejalan
dengan pernyataan Sunanto, dkk (2006, hlm. 41) bahwa “Baseline
adalah kondisi di mana pengukuran perilaku sasaran (target
behavior) dilakukan pada keadaan natural sebelum diberikan
intervensi apapun.”
b. Intervensi (B) menurut Sunanto, dkk
(2006, hlm. 41) yaitu “Kondisi intervensi adalah kondisi ketika
suatu intervensi telah diberikan dan perilaku sasaran (target
behavior) diukur di bawah kondisi tersebut.” Dalam hal ini kondisi
subyek (P dan G) dalam penelitian selama diberi perlakuan,
perlakuan yang dimaksud adalah pendampingan oleh Ibu mereka
masing-masing dengan perlakuan kasih sayang serta pemberian
reward (ganjaran/ hadiah) dipeluk, tepuk tangan, dan
reinforcement (penguatan) ‘bagus’, ‘pintar’ secara berulang-ulang
dengan tujuan agar anak mau mengerjakan tugas / on task selama
perlakuan diberikan. Berikut ini adalah desain A-B
A B
27
Keterangan :
: Observasi
X : Perlakuan
A : Merupakan kondisi awal (baseline), fase ini bertujuan untuk
mengetahui kondisi awal subyek sebelum diberi perlakuan
(intervensi). Kondisi awal yang dimaksud terkait dengan target
behavior sekaligus sebagai variabel terikat dalam penelitian.
B : Merupakan kondisi intervensi. Berdasarkan data yang diperoleh
sebagaimana tergambar pada fase baseline, maka dalam fase ini,
subyek diberi perlakuan (intervensi).
C. Definisi Operasional Variabel
Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel yaitu variabel bebas
dan variabel terikat. “Penggunaan program son rise pada keluarga dalam
hal ini ibu” sebagai variabel bebas dan perilaku tidak melakukan pekerjaan (off-task) sebagai variabel terikat.
1. Variabel Bebas
Variabel Bebas (independent) adalah variabel yang
mempengaruhi variabel terikat (dependent). Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah penggunaan program son-rise pada keluarga.
Program Son-Rise adalah salah satu program dengan pendekatan
humanistik yang dikembangkan untuk membantu perkembangan
hubungan sosial anak autis. Pendekatan ini diciptakan oleh orang tua,
untuk orang tua dan membantu tumbuh kembang anak-anak autis
yang berdasarkan pada sikap menerima dan menjalin hubungan yang
baik antara anak dan orang tua untuk mengembangkan kemampuan
anak sesuai dengan irama pertumbuhan dan perkembangannya
sehingga anak dapat semakin fokus dalam mengerjakan tugas.
Pelatihan program Son-Rise diberikan pada keluarga dalam hal
yang menjadi target perubahan adalah subyek dapat melakukan
pekerjaan (on-task).
Prosedur pelaksanaan program Son-Rise menurut Kaufman
(2007, hlm. 42) ini berfokus pada empat dasar dalam interaksi Sosial
yaitu:
a. Kontak Mata dan Komunikasi Non verbal
b. Komunikasi Verbal
c. Rentang Perhatian Interaktif
d. Fleksibilitas
Dari keempat dasar tersebut dibuat langkah-langkah sebagai berikut:
1) Langkah 1: membuat dasar ukuran, 2) langkah 2: membuat
kurikulum sosial dan 3) langkah 3: menulis program tujuan. Dari
setiap dasar ada lima tahapan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
efektivitas penggunaan program son-rise pada keluarga dalam
mengurangi perilaku off-task. Berhubung penelitian ini dilakukan
dalam waktu yang singkat, maka peneliti mengambil sebagian kecil
dari program tersebut diatas yaitu tahap 1. (lihat lampiran halaman
75). Adapun langkah – langkah pelaksanaannya adalah sebagai
berikut:
a. Membuat format daftar kemajuan dan perkembangan anak. (
contoh format, lampiran halaman 66-71).
b. Menyiapkan ruang untuk proses pelaksanaan program son-rise.
c. Menyiapkan materi yang digunakan untuk kegiatan.
d. Orang tua menerapkan program son-rise pada subyek.
2. Variabel Terikat (target behavior)
Variabel Terikat atau perilaku sasaran (target behavior) penelitian
ini adalah tidak melakukan pekerjaan (off-task). Tidak melakukan
pekerjaan (off-task) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
29
D. Prosedur Penelitian
1. Persiapan
Penelitian ini diawali dengan observasi di sekolah Khusus Sang
Timur untuk mencari subyek penelitian, ditemukan dua subyek yang
orang tuanya belum tahu tentang program son-rise, namun sudah
menerima kondisi anaknya dan mau belajar. Kemudian menghubungi
orang tua subyek dalam hal ini diwakili oleh ibu, selanjutnya
mengadakan pertemuan dan dijelaskan tentang program son-rise
beserta manfaatnya serta membuat kesepakatan bahwa kegiatan
penelitian diadakan di sekolah satu minggu sekali, namun juga
dilakukan di rumah setiap hari sekurang-kurangnya satu jam. Setelah
ada kesepakatan bersama selain melihat video tentang pelaksanaan
son-rise, orang tua juga dilatih cara mendampingi subyek dengan
menggunakan program son-rise, yaitu terlebih dulu menyiapkan
tempat untuk proses pelaksanaan son-rise, kemudian menyiapkan
bahan yang akan dikerjakan oleh subyek, kemudian ibu dengan arahan
dari penulis mencoba mendampingi subyek, dengan mengikuti
perilaku subyek dan pelan-pelan ibu mengalihkan perilaku subyek
pada pekerjaan yang sudah disiapkan. Setiap kali subyek mau
mengerjakan tugas, ibu selalu memberi reward atau reinforcement
yang sesuai kondisi subyek seperti di peluk, dicium, tepuk tangan atau
ungkapan bagus, pintar dan lain-lain. Latihan dilaksanakan di Sekolah
Khusus Sang Timur, Karang Tengah, Tangerang pada bulan Juni
2015. Selanjutnya pada pelaksanaan penelitian, penulis tidak lagi
mendampingi ibu dan berada di luar ruangan.
2. Pelaksanaan Eksperimen
a. Kondisi Awal (Baseline)
Baseline adalah kondisi atau fase pengukuran variabel terikat
atau target behavior dimana anak belum mendapat intervensi.
Pertama-tama peneliti bersama guru kelas mengatur ruang kelas,
termasuk meja dan kursi belajar siswa. Peneliti memasang
handycam (kamera) di atas diarahkan pada meja dan kursi siswa agar proses belajar siswa dan perilaku subyek terekam dengan
baik. Selanjutnya peneliti mempersiapkan instrumen pengumpul
data. Instrumen yang dimaksud berupa format pencatat kejadian
yang digunakan dengan mengamati hasil rekaman.
Setelah subyek dan teman-teman sekelasnya berada dalam
ruang kelas, guru kelas melaksanakan proses belajar mengajar
seperti biasa dengan memberi tugas pada subyek tanpa memberi
intervensi. Pada saat proses pembelajaran tersebut peneliti tidak
berada di dalam kelas karena dapat mengganggu konsentrasi
mereka.
Perekaman dilakukan selama 1 jam pelajaran yaitu 30
menit. Setelah proses belajar selesai, peneliti memutar ulang video
rekaman untuk mengamati frekuensi terjadinya perilaku sasaran
(target behavior) dan diambil 10 menit dari 30 menit durasi
rekaman. Pengamatan dilakukan oleh tiga orang pengamat yaitu
peneliti sendiri, guru kelas dan guru yang lain. Masing-masing
pengamat mencatat hasil pengamatnnya pada format yang sudah
disediakan.
b. Prosedur Intervensi
Pada fase intervensi, pengukuran terhadap variabel terikat
dilakukan pada saat intervensi diberikan. Pada tahap intervensi ini
prosedur pelaksanaannya hampir sama dengan tahap baseline.
Pertama-tama peneliti mengatur ruang kelas, termasuk meja dan
kursi belajar siswa. Peneliti memasang handycam (kamera) di atas
diarahkan pada meja dan kursi siswa agar proses belajar siswa dan
31
dimaksud berupa format pencatat kejadian yang digunakan dengan
mengamati hasil rekaman.
Perbedaannya pada tahap ini pelaksanaannya bukan lagi dilakukan
oleh guru melainkan oleh ibu masing-masing subyek dimana
sebelumnya ibu subyek sudah diberi penjelasan dan dilatih program
son rise.
Prosedur yang ditempuh pada tahap intervensi ini
pelaksanaannya secara individu antara subyek dan ibunya di kelas
yang sama dan peneliti tidak berada di dalam kelas. Peneliti
menyiapkan bahan tugas untuk subyek dan di kelas dikerjakan
dengan didampingi oleh ibu subyek, apabila subyek melakukan
tugas sampai selesai akan diberi reward ( dipeluk, dicium, tepuk
tangan) atau reinforcement ( bagus, pintar) namun apabila subyek
tidak mau mengerjakan tugas maka ibu akan mengikuti gerakan,
tingkah laku subyek sambil mengajak, merayu memberi intervensi
pada subyek sehingga subyek mau mengerjakan tugas.
E. Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2011, hlm. 102) pada prinsipnya meneliti
adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat
ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Data
dalam penelitian ini adalah banyaknya subyek tidak melakukan pekerjaan.
Satuan ukuran yang digunakan untuk menghitung data tersebut adalah
frekuensi. Maka intrumen dalam penelitian ini berupa format pencatat
kejadian. Adapun format tersebut adalah sebagai berikut :
FORMAT PENCATAT KEJADIAN
Nama Subyek : Tanggal :
Pengamat: Perilaku : Tidak melakukan
pekerjaan (off-task)
Kode : ( ) terjadi (×) tidak terjadi
FORMAT RESUME TIGA PENGAMAT Nama Subyek :
Perilaku : Tidak melakukan pekerjaan (off-task)
Waktu : 10 menit
[image:23.595.128.449.123.239.2]Pengamat Pertama Kedua Ketiga Tgl Sesi Juml % Juml % Juml %
Gambar 3.3 Format resume tiga pengamat
Nama Subyek :
Perilaku : Tidak melakukan pekerjaan (off-task)
Waktu : 10 menit
Tanggal Sesi Jumlah Prosentasi Detik
Menit
10 20 30 40 50 60
1
2
3
[image:23.595.141.501.420.505.2]
33
Gambar 3.4 Format resume tiga pengamat
F. Validitas Data
Sunanto (2006, hlm. 43 ) mengungkapkan bahwa : untuk
meningkatkan validitas penelitian yang baik pada saat melakukan
eksperimen dengan menggunakan disain A – B, ada beberapa hal yang
perlu mendapat perhatian yaitu :
1. Mendefinisikan target behavior sebagai perilaku yang dapat diukur
secara akurat. Target behavior dalam penelitian ini yakni tidak
melakukan pekerjaan (off-task). Target behavior ini diambil dari
perilaku-perilaku yang ditemukan saat observasi pendahuluan.
2. Mengukur dan melakukan pencatatan data pada kondisi baseline (A)
secara kontinyu sekurang-kurangnya 3 atau 5 kali atau sampai trend
dan level data menjadi stabil. Dalam penelitian ini pada fase baseline,
pengukuran akan dilakukan sebanyak 3-5 kali tergantung tingkat
kestabilan data. Bila sudah diperoleh kestabilan data maka pengukuran
dihentikan dan langsung dilanjutkan ke kondisi intervensi.
3. Memberikan intervensi (B) setelah kondisi baseline stabil. Dengan
acuan inilah maka peneliti memberikan intervensi pada subyek lewat
ibu mereka.
4. Mengukur dan mengumpulkan data target behavior pada kondisi
intervensi (B) selama periode waktu tertentu sampai trend dan level
data stabil.
5. Menghindari mengambil kesimpulan adanya hubungan fungsional
(sebab-akibat) antara variabel terikat dengan variabel bebas (Tawney
dan Gast, 1984).
Dalam validitas data ini, peneliti menggunakan cara observasi yang
dibantu dengan video.
G. Reliabilitas Data
Dalam suatu penelitian, reliabilitas data sangatlah perlu dilakukan
tepat dan ajeg. Oleh karena itu peneliti menggunakan alat ukur dengan
melibatkan tiga orang untuk mencatat dan mengukur frekuensi off-task
subyek dalam kegiatan belajar. Adapun kriteria pengukuran berupa tingkat
frekuensi. Pengukuran dilakukan dengan mengamati video rekaman
kegiatan subyek di kelas. Format ukur yang digunakan untuk mengukur
frekuensi kejadian dalam sesi dapat dilihat dalam instrumen penelitian.
Adapun rumus dalam pengukuran yaitu :
Banyaknya kejadian X100% = n
60 detik
Setelah dilakukan pencatatan banyaknya kejadian setiap sesinya
oleh setiap pengamat selanjutnya hasil pencatatan frekuensi dari tiga
pengamat diolah disatukan dalam satu tabel sebagai hasil akhir dari
banyak frekuensi kejadian. Sehingga diperoleh hasil pengukuran
banyaknya kejadian pada fase baseline dan fase intervensi yang reliabel.
H. Teknik Analisis Data
Setelah data hasil penelitian terkumpul, selanjutnya peneliti
melakukan pengolahan dan analisis data. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan statistik deskriptif. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan
oleh Sunanto, dkk (2006, hlm. 65 ) bahwa: “Dalam penelitian
eksperimen, analisis data pada umumnya menggunakan teknik statistik
inferensial sedangkan pada penelitian eksperimen dengan subyek tunggal
menggunakan statistik deskriptif yang sederhana.”
Dalam penelitian subyek tunggal, analisis data bertujuan untuk
mengetahui pengaruh intervensi terhadap perilaku sasaran (target
behavior). Tentang hal tersebut Sunanto, dkk (2006, hlm. 65 )
mengemukakan :
35
Karena pengamatan dalam metode inspeksi visual dilakukan secara
langsung terhadap data yang ditampilkan dalam grafik, maka peneliti perlu
mengetahui komponen-komponen dasar yang harus dipenuhi dalam
membuat grafik. Sunanto, dkk (2006, hlm. 30 ) mengungkapkan :
beberapa komponen penting dalam membuat grafik adalah : Absis adalah
sumbu X yang merupakan sumbu mendatar yang menunjukkan satuan
untuk waktu (misalnya sesi, hari,tanggal).
Ordinat adalah sumbu Y merupakan sumbu vertikal yang
menunjukkan satuan untuk variabel terikat atau perilaku sasaran (misalnya
: persen, frekuensi, dan durasi).
Titik awal merupakan pertemuan antara sumbu X dengan sumbu Y sebagai
titik awal skala.
Skala garis-garis pendek padavsumbu X dan sumbu Y yang menunjukkan
ukuran (misalnya : 0 %, 25 %, 50 %, dan 75 %).
Label kondisi yaitu keterangan yang menggambarkan kondisi
eksperimen misalnya baseline atau intervensi.
Garis perubahan kondisi yaitu garis vertikal yang menunjukkan
adanya perubahan kondisi ke kondisi lainnya.
Judul grafik, judul yang mengarahkan perhatian pembaca agar
segera diketahui hubungan antara variabel bebas dan terikat.
Bentuk dasar grafik garis yang sering digunakan dalam penelitian
eksperimen dengan subyek tunggal sebagaimana diuraikan di atas, tampak
pada gambar berikut :
[image:26.595.170.443.560.697.2]
Komponen analisis visual terdiri dari :
1. Analisis dalam kondisi
Analisis perubahan dalam kondisi maksudnya adalah menganalisis
perubahan data dalam satu kondisi misalnya kondisi baseline atau
kondisi intervensi. Adapun yang akan dianalisis dalam kondisi tersebut
meliputi enam komponen sebagai berikut :
a. Panjang kondisi
Panjang kondisi atau panjang interval menunjukkan banyaknya
data dalam kondisi tersebut yang juga menggambarkan banyaknya
sesi yang dilakukan dalam suatu kondisi. Untuk menentukan
jumlah sesi pada kondisi baseline tidak ada ketentuan yang pasti,
namun demikian pengumpulan data dilakukan sampai diperoleh
data yang stabil dan menunjukkan arah yang jelas.
b. Kecenderungan arah
Kecenderungan arah dapat dilihat dari arah garis yang melintasi
semua data dalam suatu kondisi. Dalam kecenderungan arah ini
ada tiga kemungkinan arah garis dalam suatu kondisi yaitu
mendatar, naik, dan turun. Untuk membuat garis dapat ditempuh
dengan dua metode yaitu metode tangan bebas (freehand) adalah
membuat garis secara langsung pada suatu kondisi sehingga
membelah data sama banyak yang terletak di atas dan di bawah
garis tersebut, dan metode belah tengah (split-middle) yaitu
membuat garis lurus yang membelah data dalam suatu kondisi
berdasarkan median.
c. Tingkat stabilitas (level stability)
Tingkat stabilitas menunjukkan homogenitas data dalam suatu
kondisi. Tingkat stabilitas data ditentukan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
37
Skor tertinggi X kriteria stabilitas = rentang stabilitas
20 X 0,15 = 3,0
Menghitung mean leven dengan cara :
Misalnya terdapat data dalam baseline sebagai berikut:
18+20+16+14+18+18+16+19=139
139 : 8 = 17,35 (mean level)
Menentukan batas atas dengan cara:
17,35 (mean level) + setengah dari rentang stabilitas (1,5)
diperoleh 18,85
Menentukan batas bawah dengan cara:
17,35 (mean level) - setengah dari rentang stabilitas (1,5) diperoleh
15,85
Menghitung persentase data point pada kondisi baseline (A) yang
berada dalam rentang stabilitas dengan cara:
Banyaknya data point : banyaknya data = Persentase stabilitas
yang ada dalam rentang
5 : 6 = 62,5%
Persentase stabilitas sebesar 85% - 90% dikatakan stabil. Sunanto,
(2006 : 80)
d. Jejak data (data path)
Kecenderungan jejak data pada dasarnya sama dengan
kecenderungan arah, dimana data memiliki tiga kemungkinan yaitu
e. Rentang
Memberikan informasi tentang jarak antaradata pertama dan
terakhir.
f. Level perubahan (level change)
Level perubahan data merupakan besarnya perubahan antara dua
data. Baik dalam kondisi maupun antar kondisi. Perubahan data
dalam kondisi adalah selisih antara data pertama dengan data
terakhir sedangkan perubahan data antar kondisi adalah selisih
antara data terakhir pada kondisi pertama dengan data pertama
pada kondisi berikutnya.
2. Analisis antar kondisi
Analisis antar kondisi merupakan analisis perubahan yang terjadi antara
dua kondisi, misalnya dalam kondisi baseline atau kondisi intervensi.
Komponen-komponen yang akan dianalisis dalam kondisi tersebut
meliputi :
a. Variabel yang diubah
Dalam bagian ini variabel terikat atau perilaku sasaran difokuskan
pada satu perilaku. Artinya analisis ditekankan pada efek atau
pengaruh intervensi terhadap perilaku sasaran.
b. Perubahan kecenderungan arah dan efeknya
Dalam analisis data antar kondisi, makna kecenderungan arah
menunjukkan perubahan perilaku sasaran, dimana perubahan
tersebut akibat diberikannya intervensi.
c. Perubahan stabilitas dan efeknya
Stabilitas data menunjukkan tingkat kestabilan perubahan dari
sederetan data. Dikatakan stabil apabila data tersebut menunjukkan
arah yang konsisten yaitu menunjukkan arah mendatar, menaik, dan
menurun secara meyakinkan. Kestabilan data memegang peranan
39
d. Perubahan level data
Perubahan level data dalam analisis antar kondisi ditunjukkan
selisih antara data terakhir pada kondisi baseline dan data pertama
pada kondisi intervensi. Dan nilai selisih ini menggambarkan
seberapa besar terjadi perubahan perilaku akibat intervensi.
e. Data yang tumpang tindih (overlap)
Data yang tumpang tindih antara dua kondisi misalnya kondisi
baseline dan kondisi intervensi terdapat data yang sama. Semakin
kecil persentase overlap makin baik pengaruh intervensi terhadap
target behavior.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab terakhir ini, disampaikan simpulan penelitian dan saran.
Saran-saran ini diberikan sesuai dan atas dasar simpulan penelitian.
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab empat,
dapat disimpulkan bahwa :
Kedua subyek walaupun dalam kondisi yang berbeda yaitu aktif dan
pasif, namun keduanya setelah diintervensi ibu dengan pelukan,
kata-kata bagus, pintar, bernyanyi dan bermain maka perilaku off-tasknya
menurun.
Dengan demikian, bagi penyandang autis dalam penelitian ini
Program Son-Rise efektif digunakan oleh keluarga dalam mengurangi
perilaku tidak mengerjakan tugas (off-task).
B. Saran
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program Son-Rise
dapat mengurangi perilaku off-task anak autis.
Maka berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan:
1. Untuk keluarga
Dalam rangka mendampingi dan mendidik anak autis, disarankan
orang tua ikut serta membantu sekolah dengan memakai program
son-rise di rumah, dengan cara memberikan reward sebanyak
mungkin dan reinforcement berupa pelukan, kasih sayang, tepuk
tangan, dan kata-kata positif dari ibu / keluarga seperti bagus, dan
pintar.
50
Mengingat program son-rise terdiri dari empat dasar dan perilaku
anak autis ada berbagai macam, sedangkan penelitian ini hanya
mengambil salah satu perilaku anak autis yaitu off-task dan off-task
dalam penelitian ini merupakan bagian kecil dari program son-rise
maka ada baiknya pada penelitian selanjutnya dapat meneliti
DAFTAR PUSTAKA
Astati, Hidayat, Sunanto, J. Juhaini, Tjasmini, M. Sutisna, N. Sugiarmin, Hernawati, T. dan Alimin, Z. (2013) Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Corsello, C. M. (2005) Early Intervention in Autism. Infants & Young Children Vol. 18, No. 2, pp. 74–85c Lippincott Williams & Wilkins, Inc.
Delphie, B. (2009) Pendidikan Anak Autis. Klaten: PT. Intan Sejati.
Filipek, P.A, dkk (1999) The Screening and Diagnosis of Autistic Spectrum Disorders1 Journal of Autism and Developmental Disorders Vol. 29, No.6.
Greenspan, S.I dan Wieder, S. (2010) Engaging Autism Melangkah Bersama Autisme. Jakarta: Yayasan Ayo Main.
Hadis, A. (2006) Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Austistik. Bandung: Alfabeta.
Ingersoll B. R. (2009). Teaching Social Communication: A Comparison of Naturalistic Behavioral and Development, Social Pragmatic Approaches for Children With Autism Spectrum Disorders. Journal of Positive Behavior Interventions 2010; 12; 33 originally published online Apr 14, 2009.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2011) Jakarta : Balai Pustaka.
Kaufman H. (2007). The Son-Rise Program Developmental Model Understanding the Importance of Social Development & Creating a
Curriculum for Your Child’s Social Growth. USA: Autism Treament Center
of America.
Kaufman R K. (2014). Autism Breakthrough The Groundbreaking Method That
Has Helped Families All Over The World. New York: St. Martin’s Press.
Klinik Autis. (2013) 5 Jenis Gangguan-gangguan Spektrum Autism-Autism Spectrum Disorders ASD. [Online].
Diakses dari http://klinikautis.com/2013/12/13/5-jenis-gangguan-gangguan-spektrum-autism-autism-spectrum-disorders-asd/.
Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta: Prenada Media Group.
52
Majalah Rumah Autis (2008) www.teraskreasi.com. [Online].
Diakses dari http://rumahautis.org/rumahautis/berita-misteri-autis-yang-tak-terungkap.html#ixzz3jMtVuKLj .
Prasetyono, D.S, (2008) Serba-serbi Anak Autis. Jogjakarta: Diva Press.
Pristiwaluyo, T dan Sodiq, (2005) Pendidikan Anak gangguan Emosi. Jakarta: DepDikNas Dirjend PT Dir.PPTK dan KPT.
Purwanta E, (2012) Modifikasi Perilaku Alternatif Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riadi, M. (2012) Fungsi dan Bentuk Keluarga [Online]
Diakses dari http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisi-fungsi-dan-bentuk-keluarga.html.
Rahmedina, C. (2014)Pengertian, Bentuk, Fungsi, Peranan, Dan Tugas Pokok Keluarga. [Online].
Diakses dari http://citrarhmdn.blogspot.co.id/2014/11/pengertian-bentuk-fungsi-peranan-dan.html.
Rudy, L. (2007) What Is the Son-Rise Treatment for Autism? [Online] Diakses dari http://www.autism-help.org/intervention-son-rise-program.htm.
Sastry A. and Aguirre B. (2012) Parenting Anak dengan Autisme, Solusi, Strategi, dan Saran Praktis untuk Membantu Keluarga Anda. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Schneider N. and Goldstein H. (2009) Using Social Stories and Visual Schedules to Improve Socially Appropriate Behaviors in Children With Autism. Journal of Positive Behavior Interventions, 12: 149 originally published online 2 April 2009.
Sugiyono (2011) Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Supartini, E. (2009). Program Son-Rise Untuk Pengembangan Bahasa Anak Autis. Jurnal Pendidikan Khusus Vol 5 No. 2 Nopember, hal 44-54.
Sunanto, J. Takeuchi, K., Nakata, H. (2006) Penelitian Dengan Subyek Tunggal. Bandung: UPI Press.
Syahrir, A. (2012) Laju Perkembangan Autisme. [Online].
Tanpa Nama. (2007) Son-Rise Program. [Online]
Diakses dari http://www.autism-help.org/intervention-son-rise-program.htm
Tanpa Nama. (2011) Autism, Sebuah Gangguan Perilaku Pada Anak. [Online]. Diakses dari
file:///D:/Autism,%20Sebuah%20Gangguan%20Perilaku%20Pada%20Anak %20_%20KLINIK%20AUTIS%20.htm.
Universitas Pendidikan Indonesia. (2014). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI Press.
Weiss, J.(tanpa tahun) Self-Injurious Behaviours in Autism: A Literature Review.
Widyawati, I (2002). Autisme Pada Masa Kanak-Kanak. Makalah Seminar Lokakarya Pola Layanan Pendidikan bagi Anak Autisme di Cipayung Bogor tgl 17-20 Juni 2002. Bogor: Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat PLB.