PENGARUH MODAL DAN OMSET TERHADAP PENDAPATAN BADAN USAHA MILIK (BUM) DESA DI KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP
Rahmat Alhakim
Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali [email protected]
*Penulis Korespondensi
ABSTRAK
BUM Desa dipercaya oleh pemerintah mampu meningkatkan perekonomian desa. Tahun 2021 Kabupaten Cilacap telah berdiri 269 BUM Desa, terdiri dari 59 BUMDesa Tahap Dasar, 179 Tumbuh, 27 Berkembang dan 4 Maju. Dalam menjalankan usaha, BUM Desa dapat bermitra dengan perorangan maupun kelompok. Maka, untuk menjaga kepercayaan mitra, BUM Desa harus mampu mengelola modal menjadi pendapatan serta meningkatkan skala usaha. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda, dengan data primer berupa modal, omset dan pendapatan 16 BUM Desa di Kecamatan Adipala tahun 2018 sampai dengan 2020, bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh modal dan omset usaha terhadap pendapatan di BUM Desa. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kesimpulan bahwa modal dan omset secara parsial dan simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan BUM Desa. Oleh karena permodalan BUM Desa didominasi oleh penyertaan modal pemerintahan desa, maka penelitian ini merekomendasikan agar BUM Desa dapat mengembangkan skala usaha berbasis potensi lokal guna menarik minat masyarakat untuk bermitra.
Kata Kunci: Pendapatan, Modal, Omset, BUM Desa
THE EFFECT OF CAPITAL AND TURNOVER ON VILLAGE OWNED ENTREPRISESS INCOME IN ADIPALA SUB-DISTRICT, CILACAP DISTRICT
ABSTRACT
BUM Desa is trusted by the Government to be able to improve the rural economy. In 2021 Cilacap Regency has established 269 BUM Desa, consisting of 59 Basic Stage, 179 Growing, 27 Developing and 4 Advanced. In running a business, BUM Desa can partner with individuals or groups. So, to maintain the trust of partners, BUM Desa must be able to manage capital into income and increase business scale. This quantitative study uses multiple linear regression analysis method, with primary data in the form of capital, turnover and income of 16 BUM Desa in Adipala District from 2018 to 2020, aiming to find out how much influence capital and business turnover have on income in BUM Desa. Based on the results of the analysis, it was concluded that Capital and Turnover partially and simultaneously had a positive and significant effect on BUM Desa revenue. Because the BUM Desa capital is dominated by the capital participation of the village government, this study recommends that BUM Desa can develop a business scale based on local potential to attract the community's interest to partner.
Keywords: Income, Capital, Turnover, BUM Desa
pp.58-67
PENDAHULUAN
Agenda dari salah satu NAWACITA Presiden Indonesia Periode 2019 – 2024 adalah
“Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”. Melihat peran aktif Pemerintah Desa dalam pengembangan potensi desa dan menciptakan desa sebagai pusat perekonomian sehingga mengurangi kesenjangan antara desa dan kota. Akan tetapi peran masyarakat desa dalam memanfaatkan potensi perekonomian didesa yang berorientasi pada keunggulan geografis dan sumberdaya lokal masih belum terealisasi secara menyeluruh (Diah, 2020)
BUM Desa adalah salah satu cara yang dipakai pemerintah untuk membangkitkan perekonomian desa, yang dilakukan oleh rakyat dan untuk rakyat serta difasilitasi oleh Pemerintah Desa. BUM Desa memiliki tujuan beberapa diantaranya adalah meningkatkan perekonomian desa, menumbuhkan potensi pasar yang mendukung pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat desa secara umum, serta mengurangi angka pengangguran warga desa. Adanya usaha mikro yang tecipta di desa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat dan desa. Adanya pandemi covid-19 membuat perekonomian tidak stabil, akan tetapi adanya usaha mikro yang ada di desa cukup membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Urgensi peran BUM Desa terdisrupsi oleh pandemic Covid-19 maka diperlukan upaya-upaya optimalisasi yang bekerjasama dengan berbagai pihak baik eksternal maupun internal (Zakariya, 2020)
Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, “BUM Desa dapat menggalang permodalan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari anggaran Desa melalui skema penyertaan langsung dari kekayaan Desa yang dipisahkan dan diperuntukkan mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar- besarnya kesejahteraan masyarakat Desa”.(Yustisia, 2015). Menurut Zeni et.al.,(2019) Penyertaan Modal artinya dari sebagian alokasi dana desa disertakan untuk modal BUM Desa baik berupa uang ataupun berupa aset lainnya dengan skema perjanjian kerjasama yang mengatur tentang masa Kerjasama serta skema pembagian hasil dari penyertaan tersebut. Pemerintah Desa juga bisa memberikan bantuan atau pinjaman ke BUM Desa.
Perbedaan antara penyertaan dengan pinjaman, kalau pinjaman ada batas waktu untuk pengembalian pokok dan perhitungan bunga/bagi hasil. Bantuan atau hibah biasanya berupa perlengkapan, pelatihan dan fasilitas lainnya.
Pendirian BUM Desa dilakukan sebagai upaya bersama antara masyarakat dan Pemerintah Desa untuk mengembangkan potensi ekonomi Desa dan kebutuhan masyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat dan berkontribusi bagi pendapatan desa. Tidak ada klasifikasi khusus dalam pendirian BUM Desa hanya saja perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan sosial budaya masyarakat serta sosialisasi ide atau inisiatif pendirian BUM Desa kepada masyarakat. Akan tetapi dalam perkembanganya masih banyak desa yang belum mampu
mengelola BUM Desa dengan baik sehingga belum secara signifikan mendorong pertumbuhan perekonomian desa, bahkan beberapa BUM Desa yang terbentuk dalam kondisi mati suri (Rahmawati, 2020).
Pembentukan BUM Desa SEJAHTERA oleh Pemerintah Desa Dayeuhluhur pada tahun 2011 menjadi awal Sejarah pembentukan BUM Desa di Kabupaten Cilacap, selanjutnya pada periode tahun 2012 sampai dengan 2014 beberapa desa juga merintis pembentukan BUM Desa, akan tetapi puncak pertumbuhan terbentuknya BUM Desa di Kabupaten Cilacap yaitu diawalai pada Tahun 2016 dengan pembentukan BUM Desa mencapai 74 dan puncaknya terjadi pada tahun 2017 dengan adanya penambahan 83 BUM Desa baru, hal ini tidak lepas dari imbas penetapan UU Desa pada tahun 2014 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No. 4 Tahun 2015, bahwa dalam upaya peningkatan PAD dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa maka pembentukan BUM Desa didorong oleh semua pihak baik pemerintah pusat maupun daerah dan dorongan Pemerintah Kabupaten Cilacap kepada Pemerintah Desa dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Tabel 1: Pertumbuhan BUM Desa di Kabupaten Cilacap 2011-2021
No Kecamatan Tahun Berdiri Jml
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
1 Adipala 10 5 1 16
2 Bantarsari 2 4 2 8
3 Binangun 10 1 4 2 17
4 Cimanggu 1 2 8 4 15
5 Cipari 1 3 7 11
6 Dayeuhluhur 1 3 2 8 14
7 Gandrungmangu 1 1 8 3 1 14
8 Jeruklegi 1 1 3 3 5 13
9 Kampung Laut 2 1 1 4
10 Karangpucung 1 1 11 1 14
11 Kawunganten 2 7 2 1 12
12 Kedungreja 3 6 1 1 11
13 Kesugihan 2 4 4 2 2 1 15
14 Kroya 1 4 6 3 1 2 17
15 Majenang 1 4 6 4 2 17
16 Maos 5 4 1 10
17 Nusawungu 2 6 6 3 17
18 Patimuan 2 4 6
19 Sampang 1 1 6 1 1 10
20 Sidareja 3 1 6 10
21 Wanareja 1 1 4 2 2 3 1 14
Total 1 3 1 2 15 74 83 48 23 14 1 265
Berdasarkan pada Tabel 1, hasil penilaian BUM Desa di Kabupaten Cilacap pada tahun 2019 terdapat 142 BUM Desa aktif yang terdiri dari 72 BUM Desa tahap “Dasar”, 67 BUM Desa “Tumbuh” dan 3 BUM Desa “Berkembang”. Selanjutnya pada akhir tahun 2020 berkembang menjadi 241 Desa yang sudah mendirikan BUM Desa dan mendapatkan bantuan permodalan dari Pemerintah Desa. Perkembangan terakhir pada tahun 2021
menjadi 269 BUM Desa yang sudah berdiri dan 4 diantaranya sudah dikategorikan “Maju”.
Mencermati perkembangan BUM Desa di Kabupaten Cilacap secara kuantitatif cukup signifikan dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2021, akan tetapi berdasarkan kualitas masih belum optimal. BUM Desa merupakan sebuah Lembaga ekonomi yang berorientasi tidak hanya keuntungan finansial (finansial profit) akan tetapi juga mengemban tugas sebagai lembaga yang berorientasi sosial (social bussines) sehingga untuk mendapatkan penilaian kinerja yang baik pengelola harus mampu mengintegrasikan kedua fungsi tersebut dalam sebuah konsep social enterpreunership. (Saifuddin, 2019)
Zeni,et.al., (2019)dalam penelitianya menyampaikan bahwa penyertaan modal pada Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) berpengaruh positif sebesar 47,2% terhadap peningkatan pendapatan asli kampung, senada dengan penelitian tersebut hasil penelitian dari (Herman, 2021) bahwa faktor modal dan lama usaha berpengaruh positif terhadap omzet penjualan pada pedagang kios di pasar tradisional Tarowang, Kabupten Jeneponto.
Menurut Zahrosa, et.al., (2021) Standar Operasional Prosedur yang dimiliki oleh unit usaha merupakan faktor pendorong pertumbuhan sedangkan keterbatasan modal membatasi optimalisasi pengembangan potensi wilayah pada BUM Desa Lestari di Kabupaten Lumajang. Hal tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh (Filya, 2017) yang menyatakan bahwa belum optimalnya kinerja BUM Desa di Sukorejo Kec.
Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro yaitu Modal, Pangsa Pasar dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan.
Berdasarkan uraian tersebut maka penelitiian mengusulkan sebuah analisis terkait dengan faktor yang mempengaruhi pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala dan memaksimalkan potensi desa sehingga unit usaha yang dipilih menjadi tepat.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2017) Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel umumnya, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cilacap khususnya pada BUM Desa yang ada di Kecamatan Adipala. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni-Desember 2021, penentuan objek penelitian di Kecamatan Adipala didasarkan pada studi pendahuluan berdasarkan laporan keuangan yang paling lengkap dan dilaporkan pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Cilacap.
Sementara pengambilan sampel, penelitian menggunakan metode Sampling Jenuh yaitu dengan pertimbangan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini dilakukan bila jumlah populasi relative kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
Berdasarkan populasi untuk menentukan sampel. Sampel yang digunakan adalah BUM Desa di Kecamatan Adipala yang berjumlah 16 BUM Desa.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data pendapatan, Omset dan Modal BUM Desa di Kecamatan Adipala dengan periode pengamatan tahun 2019 s.d. 2021. Pengambilan data disesuaikan dengan variable Independen (X1 dan X2) serta variable dependent (Y) yang akan diteliti yaitu:
a. Variabel (Xₗ) berupa Modal, yaitu besarnya dana yang diserahkan Pemdes ataupun Mitra lain untuk pengembangan BUM Desa per tahun. Satuan modal ini dalam rupiah.
b. Variabel (X₂) berupa Omset, yaitu keseluruhan jumlah penjualan barang/jasa BUM Desa dalam kurun waktu satu tahun, yang dihitung berdasarkan uang yang diperoleh.
c. Variabel (Y) berupa Pendapatan BUM Desa, yakni jumlah uang yang diterima oleh BUM Desa dari kegiatan aktivitasnya seperti penjualan produk dan/atau jasa kepada pelanggan setelah dikurangi biaya-biaya yang timbul akibat aktivitas tersebut.
Data yang telah diperoleh, selanjutnya dianalisis menggunakan teknik analisis Regresi Linier Berganda, untuk mengetahui apakah ada hubungan antara penyertaan modal dan omset terhadap Pendapatan BUM Desa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kecamatan Adipala merupakan salah satu kecamatan dengan jumlah desa yang banyak. Terdapat 16 Desa di Kecamatan Adipala, yaitu: Adipala; Adireja Kulon; Adireja Wetan; Adiraja; Karangbenda; Glempangpasir; Pedasong; Welahan Wetan; Karanganyar;
Bunton; Wlahar; Penggalang Karangsari; Kalikudi; Doplang; dan Gombolharjo. Data BUM Desa di Kecamatan Adipala diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 2: Data BUM Desa di Kecamatan Adipala
No Desa Nama Bumdesa Alamat Tahun Berdiri
1 Gombolharjo MARGIHARJO Desa Gombolharjo 2016
2 Wlahar MARGI RAHAYU Desa Wlahar 2016
3 Karanganyar MITRA USAHA Desa Karanganyar 2016
4 Karangbenda BANGKIT USAHA BERSAMA Desa Karangbenda 2016
5 Welahan Wetan MITRA USAHA MAJU Desa Welahanwetan 2016
6 Adireja Wetan SUMBER MAKMUR Jl. Srandil 188, Adirejawetan 2016
7 Adipala MEKAR JAYA Desa Adipala 2016
8 Penggalang PUTRA KUSUMA Desa Penggalang 2016
9 Kalikudi UTAMA Dsa Kalikudi 2016
10 Doplang BERBUDI JAYA Desa Doplang 2016
11 Bunton BUNTON Desa Bunton 2017
12 Pedasong ADHARMA UTAMA Desa Pedasong 2017
13 Glempangpasir MITRA USAHA MANDIRI Desa Glempangpasir 2017
14 Adireja Kulon BERKAH MAKMUR Desa Adirejakulon 2017
15 Karangsari BINA KARYA Desa Karangsari 2017
16 Adiraja LANGGENG MAKMUR ADIRAJA Desa Adiraja 2018
Jumlah penduduk Kecamatan Adipala berdasarkan Laporan Monografi semester II per tanggal 31 Desember 2019 mencapai 102.078 jiwa yang terdiri dari laki-laki 51.811 jiwa dan perempuan 50.267 jiwa. Sebagaimana telah ditetapkan dalam metode, bahwa penelitian ini memiliki sasaran berupa BUMDesa, dan dengan metode sampling jenuh, maka seluruh BUMDesa yang ada di Kecamatan Adipala dijadikan sampel penelitian.
Sampel yang direncanakan pada tahap awal penelitian ini berjumlah 16 (enam belas) BUM Desa yang didasarkan pada jumlah desa yang ada di wilayah Kecamatan Adipala, akan tetapi pada saat dilaksanakan observasi lapangan, terdapat BUM Desa yang menolak untuk dijadikan sampel dengan alasan kondisi BUM Desa yang baru dalam tahap berjalan dan sedang mengalami perubahan dasar hukum yang mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 11 /PP 11/2021 Tentang Badan Usaha Milik Desa. Dengan kondisi demikian, maka penelitian ini dilangsungkan hanya dengan 15 (lima belas) BUM Desa.
1. Pengaruh Modal terhadap Pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala
Modal usaha setiap BUM Desa jumlahnya bervariasi, tergantung pada kemampuan dan regulasi masing-masing desa. Selain itu, ada pula yang mendapatkan tambahan bantuan modal yang bersumber dari Bantuan Provinsi. Bantuan tersebut disalurkan melalui APBDes untuk penambahan modal usaha BUM Desa. Modal tersebut berkisar antara Rp20.000.000,- sampai dengan Rp 50.000.000,- dan diakumulasikan dalam tiga tahun terakhir.
Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh modal terhadap pendapatan BUM Desa. Hal tersebut terlihat dari hasil analisis dan diperoleh pada Tabell 3, dimana nilai t hitung sebesar 2,186 (> T tabel, 2,018) dan nilai sig 0.038 (< 0.05). Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukan bahwa terdapat pengaruh modal terhadap pendapatan BUM Desa (Dewi & Utari, 2014) (AN-NISA RIZQIKA, 2021). Adapun besaran pengaruh variable modal terhadap pendapatan BUMDesa hanya sebesar 0,144 atau 14%.
Unit usaha BUM Desa selain bergantung pada penyaluran modal yang diterima, juga bergantung pada SDM yang ditugaskan untuk mengelola lembaga BUM Desa ini. Semakin besar modal yang diterima akan semakin meningkatkan jumlah pendapatannya. Modal merupakan bagian penting yang harus dimiliki oleh BUM Desa. Dalam hal ini diperoleh hasil analisis bahwa setiap penambahan modal sebesar 1 %, maka berakibat pada peningkatan pendapatan sebesar 14,4 %. Penyertaan modal yang baik juga harus disertai dengan penyusunan rencana kerja, rencana anggaran, pengorganisasian, pengelolaan dan laporan keuangan yang baik. (Madiarsa, 2018)
Tabel 3: Hasil Uji Regresi Linier Berganda
2. Pengaruh Omset terhadap Pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh omset terhadap pendapatan BUM Desa. Hal tersebut terlihat dari hasil analisis diperoleh nilai t hitung 6.655 > T tabel 2.018 dan nilai sig 0.000 < 0.05. Hal ini menunjukan bahwa variabel omset secara parsial berpengaruh terhadap pendapatan BUM Desa. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Wardiningsih, 2022) (Febrianto et al., 2020) yang menyatakan bahwa omset berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan.
dalam hal ini maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar omset yang didapatkan maka semakin besar pula pendapatan yang diperoleh BUM Desa di Kecamatan Adipala.
Berdasarkan hasil analisis regresi yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa omset berpengaruh terhadap pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala. Omset merupakan jumlah penjualan barang/jasa dalam satu periode yang dihitung berdasarkan uang yang diperoleh. Setiap kenaikan omset sebesar 1 % maka akan menambah jumlah pendapatan sebesar 4.3 %.
3. Pengaruh Modal dan Omset terhadap Pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala
Secara simultan modal dan omset memiliki pengaruh terhadap pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji statistik F yang dilakukan seperti diperlihatkan pada Tabel 4, dan diperoleh nilai F hitung sebesar 11,550 (> F table, 3,214) dan nilai sig 0,000 ( < 0,05). Dengan demikian dapat diartikan bahwa secara simultan variabel modal (X1) dan omset (X2) berpengaruh terhadap variable pendapatan BUM Desa (Y).
Tabel 4: Hasil Uji F (Anova)
Besarnya pengaruh modal dan omset terhadap pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala, berdasarkan alat ukur koefisien determinasi R², adalah sebesar 0,889.
Hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel independen di dalam model ini mampu menjelaskan variabel dependen sebesar 88,9 %, dan sisanya (11,1 %) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini, seperti SDM, kelembagaan, unit usaha dan lain sebagainya.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat di disimpulkan modal merupakan unsur pokok dalam sebuah usaha dan bisa dikatakan sebagai variabel penting dalam meningkatkan suatu pendapatan. Akan tetapi, kaitannya dengan pendapatan tidak bisa bertambah hanya dengan menambahkan jumlah modal yang disalurkan jika tidak dibarengi dengan memaksimalkan pengelolaan kelembagaan. Sebaiknya pengelola BUM Desa meningkatkan inovasi usahanya dengan tujuan mengoptimalkan modal yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan omset yang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan. Selain itu Pemerintah Desa juga sebaiknya mendukung melalui berbagai kebijakan yang dapat mendorong peran serta masyarakat baik sebagai konsumen ataupun mendorong untuk ikut bermitra dengan BUM Desa yang ada.
Omset merupakan variabel yang berpengaruh terhadap pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala. Unit usaha perdagangan masih mendominasi jenis usaha yang dimiliki BUM Desa di wilayah Kecamatan Adipala, ketergantungan terhadap program
pemerintah berupa penyaluran BPNT juga masih cukup tinggi walaupun hal ini dapat mendorong pertumbuhan omset akan tetapi dari sisi kemandirian dalam mengoptimalkan pasar masih kurang. Modal dan omset secara bersama-sama dapat mempengaruhi pendapatan BUM Desa di Kecamatan Adipala. Sehingga sebaiknya Pemerintah Desa dan BUM Desa melakukan evaluasi terkait dengan hal tersebut berupa pengukuran kinerja keuangan secara lebih detil, hal ini bertujuan supaya dapat modal yang diberikan benar- benar tepat sasaran dan harapanya dapat meningkatkan peran serta masyarakat untuk turut serta berinvestasi pada BUM Desa tersebut.
PERNYATAAN RESMI
Penulis menyampaikan terima kasih kepada segenap pihak sehingga artikel ini dapat tersusun, khususnya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap.
REFERENSI
An-Nisa Rizqika, F. (2021). Pengaruh Modal, Lama Usaha, Dan Pemberian Kredit Terhadap Pendapatan Umkm Di Desa Pageraji Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Iain Purwokerto.
Dewi, N. P. M., & Utari, T. (2014). Pengaruh Modal, Tingkat Pendidikan Dan Teknologi Terhadap Pendapatan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (Umkm) Di Kawasan Imam Bonjol Denpasar Barat. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, 3(12), 44496.
Diah, M. P. (2020). Embangunan Pedesaan Untuk Mengurangi Kesenjangan Antara Desa Dan Kota Di Indonesia: Peluang Dan Tantangan. Public Administration Journal Of Research, 2(2), 165–173.
Febrianto, R., Indrawan, A., & Nurodin, I. (2020). Pengaruh Omzet Penjualan Terhadap Laba Sebelum Pajak Umkm Pada Kios Rista Cell Periode 2017-2019. Jurnal Syntax Transformation, 1(8), 522–530.
Filya, A. R. (2017). Optimalisasi Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Dalam Meningkatkan Pades Di Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa Timur (Studi Kasus Di Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro). Je & Kp (Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Publik), 19–39.
Herman, H. (2021). Pengaruh Modal, Lama Usaha, Dan Jam Kerja Terhadap Omzet Penjualan Pedagang Kios Di Pasar Tradisional Tarowang Kabupaten Jeneponto.
Universitas Negeri Makassar.
Madiarsa, I. M. (2018). Regulasi Dan Manajemen Badan Usaha Milik Desa (Bum Desa) Di Kabupaten Buleleng. Widya Amerta, 5(1).
Rahmawati, E. (2020). Analisis Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bum Desa) Di Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Ilmiah Ekonomi Bisnis, 25(1).
Https://Doi.Org/10.35760/Eb.2020.V25i1.2386
Saifuddin, R. (2019). Bum Desa; Antara Fungsi Profit Dan Sosial (Studi Kasus Bum Desa Swadesa Arta Mandiri, Lampung Selatan. Inovasi Pembangunan : Jurnal Kelitbangan, 7(1). Https://Doi.Org/10.35450/Jip.V7i1.124
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D (Alfabeta (Ed.); 26th Ed.).
Wardiningsih, R. (2022). Analisis Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Kecamatan Pujut. Yasin, 2(3), 383–392.
Yustisia, T. V. (2015). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Dan Peraturan Terkait. Visimedia.
Zahrosa, D. B., Maharani, A. D., & Amam, A. (2021). Performa Badan Usaha Milik Desa (Bum Desa) Di Kabupaten Lumajang. Jurnal Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis, 5(3), 935–
949.
Zakariya, R. (2020). Optimalisasi Peran Bum Desa Dalam Pengembangan Ekonomi Perdesaan Di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Ekonomi Indonesia, 9(3).
Https://Doi.Org/10.52813/Jei.V9i3.56
Zeni, A., Barusman, A. R. P., & Defrizal, D. (2019). Analisis Pengaruh Kompetensi Pengurus Bumkam Dan Penyertaan Modal Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Kampung.
Visionist, 8(2).