i
HUBUNGAN LINGKUNGAN SEKOLAH DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
SISWA-SISWI DI SMA N 1 CANGKRINGAN, SMA GAMA
(TIGA MARET), SMA ISLAM 3 PAKEM DI KABUPATEN SLEMAN
YOGYAKARTA SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuh Salah Satu Syarat Mmemperoleh Gelar Sarjana Penddikan
Prrogram Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akutansi
O
leh : G. Roy Gantang AnantaNIM : 131334110
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN AKUNTASI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2018
iv
PERSEMBAHAN
Dengan penuh syukur dan terima kasih, saya persembahkan karya ini untuk :
Tuhan Yesus dan Bunda Maria
Ayah saya Bapak Cinesius Sulistyo Wardoyo yang telah menjadi motivasi bagi saya
Ibu Agustina Sutrami yang mendukung baik dalam segi Moral maupun materi
Pakde dan bude saya, Pak Basyanto dan budeTinah yang terus mendorong dan memberi nasehat
Adik saya Geofani Septa Putri Dinanti yang selalu memberi semangat
Mega, Shella, Nikki, Uju dan teman teman semua yang belum tertulis namanya, yang telah membantu, menemani, memberikan dukungan kepada saya selama proses penyelesaian skripsi
Teman-teman seperjuangan PAK 2013, yang telah berdinamika bersama dalam proses perkuliahan
Teman teman diluar program studi yang selalu mendukung dan memberi semangat bagi saya.
Untuk almamater tercinta Universitas Sanata Dharma
Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku : Universitas Sanata Dharma
v
Kepuasan terbesar adalah ketika aku dapat melakukan apa yang orang lain katakan tidak dapat aku lakukan
(Nicolas Saputra)
Tak Semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar, namun kita dapat melakukan hal kecil dengan cinta yang besar
(Bunda Teresa)
Jangan menunggu dari para pemimpin, lakukan sendiri dari orang ke orang (Bunda Teresa)
Jangan benarkan kebiasaan tetapi biasakan kebenaran
Jangan berhenti sebelum malas, jangan malas sebelum berhasil (Dhanik Carelina)
Bekerjalah 2/3 lebih banyak dari orang lain, karena usaha tidak pernah membohongi hasil
Kesuksesan bukanlah suatu tujuan melainkan sebuah perjalanan untuk masa depan
Untuk SUKSES kamu perlu mempercayai dirimu sendiri, terutama disaat tidak ada seorangpun yang percaya padamu
Hal yang kelihatannya mudah bisa memjadi bagian tersulit bila kita menunda untuk mengerjakannya
Berpeganglah pada hidup anda dan buatlah hal tersebut menjadi kejujuran dan keberanian
( Eiji Yoshikawa)
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 23 April 2018 Penulis,
G. Roy Gantang Ananta
vii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : G Roy Gantang Ananta
Nomor Mahasiswa : 131334110
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepala Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul:
” HUBUNGAN LINGKUNGAN SEKOLAH DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT DENGAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA SISWA-SISWI DI SMA N 1 CANGKRINGAN, SMA GAMA 3 MARET, SMA ISLAM 3 PAKEM DI KABUPATEN SLEMAN
YOGYAKARTA”
Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 23 April 2018 Yang menyatakan,
G Roy Gantang Ananta
viii
ABSTRAK
HUBUNGAN LINGKUNGAN SEKOLAH DAN LINGKUNGAN MASYARAKAT DENGAN HASIL BELAJAR SISWA
DI SMA N 1 CANGKRINGAN, SMA GAMA (TIGA MARET), DAN SMA ISLAM 3 PAKEM DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA
G Roy Gantang Ananta Universitas Sanata Dharma
2018
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif antara lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat dengan hasil belajar siswa.
Jenis penelitian ini termasuk penelitian studi kasus.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI di SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), dan SMA Islam 3 Pakem di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 sampai dengan bulan Mei 2017. Dari populasi sebanyak 339 siswa, diambil sampel 184 dengan teknik proportional random sampling. Hipotesis diuji dengan menggunakan korelasi Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tidak terdapat hubungan antara lingkungan sekolah dengan hasil belajar siswa ranah afektif (Spearman’s rho = -0,131; nilai sig (2-tailed) = 0,077 > α = 0,05); 2) terdapat hubungan antara lingkungan masyarakat dengan hasil belajar siswa ranah afektif (Spearman’s rho
= -0,186; nilai sig (2-tailed) = 0,012 > α = 0,05).
ix
ABSTRACT
THE RELATIONSHIP SCHOOL ENVIRONMENT AND COMMUNITY NEIGHBORHOOD AND THE STUDENTS’ LEARNING RESULTS IN
SMA N 1 CANGKRINGAN, SMA GAMA (TIGA MARET), DAN SMA ISLAM 3 PAKEM, SLEMAN REGENCY, YOGYAKARTA
G Roy Gantang Ananta Sanata Dharma University
2018
The study aims to identify whether there is positive relationship between school environment and the community neighborhood and the students’ learning results. This study is to a case study.
The subjects of this study were the tenth and eleventh Grade students of SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), and SMA Islam 3 Pakem, Sleman Regency, Yogyakarta. The study was conducted from March to May 2017. The population were 339 students. the samples were 184 students taken by using a proportional random sampling technique. The hypotheses were tested by using the Spearman correlation.
The results of the study show that: 1) there is not any relationship between the school environment and the students’ learning results on the affective domain (Spearman’s rho = -0.131; value sig (2-tailed) = 0.;077 > α = 0.05); 2) there is relationship between the community neighborhood and the students’ learning results on the affective domain (Spearman’s rho = -0,186; value sig (2-tailed) = 0,012 > α = 0,05).
x
KATA PENGANTAR
Puji Syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, karena berkat dan kasih-Nya yang luar biasa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Lingkungan Sekolah Dan Lingkungan Masyarakat Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Siswa-Siswi SMA di SMA N 1 Cangkringan, SMAS Islam 3 Pakem, SMA GAMA (Tiga Maret) dapat penulis selesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan dukungan dan motivasi dari berbagai pihak yang berperan penting dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;
2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;
3. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi, Bidang Keahlian Pendidikan Akunatnsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;
xi
4. Bapak Drs. Bambang Purnomo S.E., M. Si. Selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan waktu, bimbingn dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
5. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi, Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan berbagai pengetahuan dan pengalamannya selama proses perkuliahan;
6. Ibu Theresia Aris Sudarsilah selaku staf sekretariat Program Studi Pendidikan Ekonomi, Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi yang telah membantu dalam kelancaran proses belajar dan administrasi kemahasiswaan;
7. Ibu tercinta Agustina Sutrami, tiada lelah memberikan semangat, kasih sayang, doa, nasihat, perhatiannya yang sangat luar biasa dan dukungan secara moral maupun materil;
8. Mega dan Shella, niki, uju, monel yang setia memberikan semangat, perhatian dan nasihat nasihat
9. Teman teman delta fotocopy mas nico, mbak bar bar, mas andre yang selalu saya repotkan untuk mengeprin skripsi.
10. Teman-teman Pendidikan Akuntasi 2013 atas kebersamaannya;
11. Teman-teman satu dosen bimbingan; Pondel, Pater, Leo, dan Yani semangat mengejar cita-cita kalian;
12. Teman-teman disekitar saya yang telah memotivasi;
13. Seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih untuk bantuan dan dukungannya selama ini.
xii
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena masih ada keterbatasan dan kekurangannya. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Akhirnya penulis mengucapkan selamat membaca, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Yogyakarta,23 April 2018
G Roy Gantang Ananta . 131334110
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
xiv
D. Batasan Masalah... 8
E. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II LANDASAN TEORI ... 10
A. Pengertian Belajar ... 10
B. Hasil Belajar ... 11
C. Lingkungan Sekolah... 17
D. Lingkungan Masyarakat ... 24
E. Kerangka Berfikir... 27
F. Kerangka Konseptual ... 29
G. Hipotesis ... 30
BAB III METODE PENELITIAN ... 31
A. Jenis Penelitian ... 31
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 31
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 32
D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel ... 33
E. Variabel Penelitian ... 36
F. Teknik Pengumpulan Data ... 37
G. Pengujian Instrumen Penelitian... 42
H. Teknik Analisis Data ... 51
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 58
A. Deskripsi Data ... 58
xv
B. Analisis Data ... 63
C. Pembahasan ... 66
BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Keterbatasan ... 72
C. Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 75
LAMPIRAN 1 ... 77
LAMPIRAN 2 DATA INDUK PENELITIAN ... 83
LAMPIRAN 3 DAFTAR TABEL STATISTIK ... 94
LAMPIRAN 4 UJI VALIDITAS ... 96
LAMPIRAN 5 HASIL UJI HIPOTESIS ... 101
LAMPIRAN 6 SURAT IJIN PENELITIAN ... 104
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha pembinaan kepribadian dan kemajuan manusia baik jasmani maupun rohani. Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Hasil pendidikan dianggap tinggi kualitasnya apabila kemampuannya baik dalam lembaga pendidikan yang lebih tinggi maupun dalam masyarakat. Dengan demikian bidang pendidikan menduduki posisi penting untuk menuju perkembangan dan kemajuan suatu bangsa, sehingga tujuan pendidikan nasional di atas akan dapat tercapai apabila ada tanggung jawab yang baik dari semua pihak, baik murid, orang tua, guru, pemerintah, lembaga pendidikan (sekolah) serta masyarakat. Sehingga pendidikan bukan hanya tanggung jawab dari salah satu pihak saja melainkan semua pihak juga harus terlibat.
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka (Muhibbin Syah, 1999:1). Pendidikan menjadi sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap pembentukan kualitas sumber daya manusia disuatu negara. Sumber daya manusia yang berkualitas akan membangun negara sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh negara tersebut. Menurut Sudarwan Danim (2010: 3) pemerintah Republik Indonesia telah bertekad
1
untuk memberikan kesempatan kepada seluruh warga negara Indonesia menikmati pendikan yang bermutu, tetapi sayangnya di Indonesia kualitas pendidikan masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Kenyataannya itu menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.
Penilaian pendidikan juga dapat dilihat dari hasil belajar siswa itu sendiri, karena hasil belajar merupakan keseluruhan dari proses yang telah dilalui siswa selama menempuh pendidikan. Menurut Tirtonegoro (2001: 43) hasil belajar adalah pemberian nilai hasil belajar atas kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat sesuai periode tertentu yang sesuai hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa. Hasil belajar dinyatakan dalam bentuk nilai yang didapat dari proses belajar siswa, yang kemudian dapat menjadi pengukur tingkat keberhasilan belajar siswa.
Menurut Slameto (2003: 54) keberhasilan belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal atau dari dalam diri siswa (seperti jasmaniah, psikologis) dan faktor ekternal atau dari luar siswa (seperti keluarga, ingkungan sekolah, lingkungan masyarakat).
Dalam mencapai tingkat keberhasilan belajar siswa yang baik dibutuhkan jasmani yang sehat. Karena orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlaian belajarnya dengan orang yang dalam keadaan kelelahan (Mubiar Agustin, 2011: 12).
Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 pasal 25 ayat 1 menyatakan, pada dasarnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah yang berlaku juga dalam hal biaya penyelenggaraan pendidikan. (ichsan, 1996: 45).
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dimana status remaja tidaklah jelas dan menimbulkan keraguan akan peran yang dilakukan. Karena pada masa transisi ini, remaja tidak mau lagi diperlakukan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat sebagian anak-anak.
Namun dilihat dari pertumbuhan fisik, perkembangan psikis (kejiwaan), dan mentalnya belum menunjukkan tanda-tanda dewasa. Dalam masa tersebut banyak perubahan yang terjadi diantaranya adalah perubahan fisik, perubahan emosi dan perubahan sosial (Hurlock, 1981). Havighurst (dalam Hurlock, 1981) mengungkapkan beberapa tugas perkembangan sosial yang harus dicapai pada masa remaja, yaitu:
a. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman sebaya, baik dengan teman sejenis maupun dengan lawan jenis.
b. Dapat menjalankan peran sosial menurut jenis kelamin masing-masing.
Artinya mempelajari dan menerima peranan masing-masing sesuai dengan ketentuan atau norma yang berlaku dimasyarakat.
c. Memperlihatkan tingkah laku secara sosial dan dapat dipertanggung jawabkan, artinya ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai seorang dewasa yang bertanggung jawab, menghormati serta menaati nlai-nilai sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
Usia remaja rawan dengan kenakalan remaja yang dapat membuat terjatuh dan terjerumus dalam hal-hal yang membuat masa depan mereka suram. Mereka cenderung terbawa pergaulan dengan lingkungan sekitar, yang dapat menyebabkan perilaku untuk tidak disiplin layaknya seorang pelajar.
Lingkungan keluarga yaitu ayah dan ibu memiliki tanggung jawab dan berperan sebagai pendidik paling utama bagi anak-anaknya. Namun menyadari bahwa orang tua tidak mungkin sanggup mendidik dengan segala ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk bekal hidup anaknya, maka usaha pendidikan dalam keluarga perlu dibantu. Berkaitan dengan hal ini, perlu adanya suatu lembaga yang membantu orang tuanya dalam usaha mendidik anak-anaknya. Usaha untuk membantu pendidikan tersebut yaitu dengan membentuk lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan (sekolah) ada dua macam yaitu yang diusahakan oleh pemerintah dan ada juga yang diusahakan oleh swasta. Kegiatan-kegiatan disuatu lembaga pendidikan (sekolah) ditujukan untuk mendidik dan membekali anak dengan berbagai ilmu pengetahuan, sehingga dapat bermanfaat untuk masa depannya.
Lingkungan sekolah memberi kontribusi besar terhadap pencapaian prestasi belajar siswa. Keadaan lingkungan sekolah yang kondusif akan menciptakan ketenangan dan kenyamanan dalam belajar sehingga akan berjalan dengan baik, mudah dalam menguasai materi pelajaran secara maksimal. Lingkungan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang sangat dekat dengan aktivitas anak, rasa nyaman untuk belajar disekolah akan timbul ketika caa mengajar guru yang menyenangkan, kurikulum yang dapat
diterima para siswa, relasi guru dengan siswa yang sangat dekat, fasilitas siswa yang tercukupi, sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang kegiatan pembelajaran serta suasana lingkungan sekolah yang tidak ramai.
Semua berperan penting dalam perkembangan prestasi belajar siswa.
Penyediaan fasilitas belajar di sekolah sangat diperlukan dalam setiap proses belajar untuk mambantu siswa dalam belajar sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Keadaan lingkungan sekolah yang kondusif akan menciptakan ketenangan dan kenyamanan dalam belajar sehingga akan berjalan dengan baik, mudah dalam menguasai materi pelajaran secara maksimal. Di dalam lingkungan sekolah juga tidak kalah pentingya peran guru terhadap siswa- siswanya, karena guru sebagai pendidik yang berpengaruh dalam proses penilaian belajar demi keberhasilan siswa-siswanya dalam belajar.
Guru diharapkan memiliki keterampilan dalam mengajar, karena keterampilan dalam mengajar dianggap sangat penting untuk dimiliki oleh seorang guru (Raflis Kosasi, 1984: 3-4). Sedankan kesiapan belajar yaitu keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon/jawaban di dalam proses belajar. Faktor yang mempengaruhi kesiapan psikis untuk belajar meliputi senang belajar, belajar sepanjang hayat, konsep diri, pemahaman diri, toleransi ambiguitas dalam pengalaman belajar, tanggung jawab dalam belajar, inisiatif untuk mengatur kegiatan belajar dan pendekatan kreatif dalam kehiatan belajar (Lori Rice-Spreaman 2010: 11).
Dewasa ini tidak sedikit orang dikatakan berprestasi hanya melalui kehidupan dari bermasyarakat. Pendidikan dan pembelajaran tidak seterusnya
diterima di dunia pendidikan yang bersifat formal akan tetapi pendidikan dan pembelajaran dapat dilaksanakan di dalam lingkungan masyarakat.
Masyarakat merupakan faktor dari luar siswa sebagai faktor pengaruh lingkungan bagi perkembangan jiwa siswa. Dalam lingkungan masyarakat siswa menerima berbagai macam pengaruh, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif dari lingkungan masyarakat, misalnya jika dalam suatu masyarakat tersebut kebanyakan anak-anak yang terpelajar, maka siswa tersebut juga akan terpengaruh menjadi anak yang terpelajar dan selalu melakukan hal-hal yang baik, sebaliknya jika dalam suatu masyarakat tersebut kebanyakan anak tidak terpelajar, maka siswa tersebut juga akan terpengaruh menjadi anak yang tidak terpelajar, dan selalu melakukan hal-hal yang tidak baik, akibatnya belajar terganggu (Slameto, 2010: 71).
Faktor lingkungan masyarakat meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat seperti, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat yang berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Selain itu masyarakat juga ikut terlibat dalam kegiatan proses pendidikan sisiwa disekolah.
Lingkungan masyarakat yang baik dapat menjadi salah satu faktor motivasi bagi siswa untuk mempeoleh hasil belajar yang baik, sedangkan lingkungan masyarakat yang buruk dapat menjadi salah satu faktor penghambat bagi siswa dalam memperoleh hasil belajar yang optimal. Siswa yang tinggal di lingkungan masyarakat yang cenderung memiliki latar belakang ekonomi yang lemah, tingkat pendidikan masyarat relatif rendah, norma yang ada didalam masyarakat sudah mulai memudar, sikap individu yang tinggi,
pergaulan didalam masyarakat yang cenderung bebas, dapat menjadi penghambat bagi siswa dalam proses belajar. Tetapi jika didalam lingkungan masyarakat yang latar belakang ekonominya menengah keatas, tingkat pedidikan masyarakat tinggi, masih menjunjung tinggi nilai dan norma yang berlaku, interaksi sosial antar masyarakat yang baik maka akan memberikan dampak yang baik pula bagi siswa dalam proses belajarnya sehingga dapat memperoleh hasil yang optimal dalam proses belajarnya disekolah. Selain keluarga, didalam kehidupan bermasyarakat karakter siswa juga akan dibentuk melalui interaksi sosial dan pergaulan. Kerja sama antara sekolah dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan siswa sagat perlu dilakukan supaya tujuan yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Masyarakat dapat membantu agar kondisi pembelajaran disekolah dapat berjalan dengan baik sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif, membatu memperbaiki fasilitas sekolah agar dapat menunjang proses belajar siswa disekolah dan ikut menjaga, sarana dan prasarana yang ada disekolah.
Selain itu masyarakat juga dapat membatu dalam pengawasan siswa baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan pergaulan siswa. Didalam lingkungan masyarakat siswa yang pandai akan dipuji hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang dapat memotivasi siswa agar memperoleh hasil belajar yang baik
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Lingkungan Sekolah Dan Lingkungan Masyarakat Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Siswa-Siswi Di Sma N 1 Cangkringan, Sma
Gama (Tiga Maret), Sma Islam 3 Pakem Di Kabupaten Sleman Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis menuliskan rumusan masalah:
1. Apakah ada hubungan lingkungan sekolah dengan hasil belajar siswa ? 2. Apakah ada hubungan lingkungan masyarakat dengan hasil belajar siswa ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh jawaban dari rumusan masalah yang disebutkan diatas. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Hubungan lingkungan sekolah dengan hasil belajar
2. Hubungan lingkungan masyarakat dengan hasil belajar siswa D. Batasan Masalah
Untuk memudahkan penelitian, masalah dibatasi pada faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar pada: lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Sedangkan untuk hasilnya, peneliti mengambil nilai kenaikan kelas.
E. Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian ini, diharapkan ada manfaat, antara lain bagi:
1. Sekolah.
Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi yang berguna bagi sekolah dan bahan pertimbangan dalam meningkatkan mutu pendidikan sehubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruh hasil belajar siswa.
2. Guru
Penelitian ini bermanfaat bagi guru untuk mengetahui hal-hal yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Guru dapat mengubah atau merancang suatu pembelajaran yang baru bagi siswa yang menarik dan tidak membosankan. Sehingga siswa tidak lagi mengalami kesulitan dalam belajar.
3. Orang tua siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi para orang tua untuk menentukan langkah-langkah dalam membimbing anaknya agar dapat meningkatkan hasil belajar.
4. Peneliti
Penelitian ini bisa menjadi acuan bagi peneliti, kelak apabila sudah menjadi guru, peneliti akan merancang suatu metode pembelajaran yang cocok bagi siswa.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Belajar.
Menurut Suryabrata (dalam Nyayu Khodijah, 2014: 47), belajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Belajar dapat membuat pribadi memiliki kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran, dan membentuk sikap yang berkembang.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2011: 13), hasil belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang menyangkut nilai kognitif, afektif, dan psikomotor.
Menurut Muhibbin Syah (1999: 68), belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku, sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Menurut W.S. Winkel (dalam Purwanto, 2009: 39), belajar adalah suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu kreatifitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan
10
sadar untuk memperoleh suatu pengetahuan atau pemahaman baru yang membuat perubahan perilaku maupun tindakan seseorang.
B. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Menurut K. Brahim (dalam Ahmad Susanto, 2015: 5), belajar adalah suatu proses usaha seseorang untuk perubahan perilaku.
Perubahan tersebut berkaitan dengan diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar. Tinggi rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Dimyati dan Mudjono (1999: 3), hasil belajar merupakan suatu hal yang diperoleh dari interaksi belajar mengajar.
Melalui hasil belajar, guru mengevaluasi proses pembelajaran.
1) Pengetahuan dikategorikan dalam:
a. Pengetahuan tentang fakta b. Pengetahuan tentang prosedural c. Pengetahuan tentang konsep d. Pengetahuan tentang prinsip 2) Keterampilan dikategorikan dalam:
a. Keterampilan untuk berfikir atau keterampilan kognitif b. Keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik c. Keterampilan bereaksi atau bersikap
d. Keterampilan berinteraksi
Untuk memperoleh hasil belajar, guru melakukan evaluasi sebagai tindak lanjut untuk mengukur tingkat penguasaan siswa.
Evaluasi belajar siswa tidak diukur melalui tingkat penguasaan ilmu pengetahuan melainkan dari sikap dan keterampilan. Oleh karena itu, penilaian hasil belajar siswa mencakup berbagai aspek yang dipelajari di sekolah, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Siswa memperoleh hasil belajar, Setelah melalui proses belajar.
Dengan demikian hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan proses belajar.
2. Kategori Hasil Belajar
Menurut Benyamin Bloom (dalam Nana Sudjana, 2016:22-31), hasil belajar kemampuan-kemampuan yang diimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Secara garis besar hasil belajar dibagi menjadi 3 ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotoris.
a. Ranah Kognitif (Pengetahuan)
Hasil belajar intelektual terdiri dari enam aspek, yaitu:
1) Pengetahuan (Knowledge)
Jenjang yang paling rendah dalam kemampuan kognitif meliputi pengetahuan tentang hal – hal yang bersifat khusus atau universal, mengetahui metode dan proses, pengingatan terhadap suatu pola, struktur atau seting. Dalam hal ini,
Pengetahuan merupakan tekanan utama pada pengenalan kembali fakta dan prinsip.
2) Pemahaman ( Comprehension)
Jenjang lebih tinggi dari pengetahuan ini akan meliputi penerimaan dalam komunikasi secara akurat, menempatkan hasil komunikasi dalam bentuk penyajian yang berbeda, mengreorganisasikannya secara setingkat tanpa merubah pengertian dan dapat mengeksporasikan.
3) Aplikasi
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus.
4) Analisa
Jenjang keempat ini menyangkut terutama kemampuan anak dalam memisah-misahkan (breakdown) suatu materi menjadi bagian yang membentuk, mendeteksi hubungan di antara bagian – bagian yang terorganisir.
5) Sintesa
Jenjang ini satu tingkat lebih sulit dari analisa. Pada jenjang ini meliputi anak untuk menaruh atau menempatkan bagian–bagian atau elemen satu atau bersama sehingga membentuk suatu keseluruhan yang koheren.
6) Evaluasi
Jenjang ini paling atas atau yang dianggap paling sulit dalam kemampuan pengetahuan anak didik. Meliputi kemampuan peserta didik dalam pengambilan keputusan atau dalam menyatakan pendapat tentang nilai sesuatu tujuan, ide, pekerjaan, pemecahan masalah, metoda, materi dan lain–lain.
Dalam pengambilan keputusan ataupun dalam menyatakan pendapat, termasuk juga kriteria yang dipergunakan, sehingga menjadi akurat dan menjadi standar penilaian atau penghargaan.
b. Ranah Afektif (Kemampuan Sikap) 1) Menerima atau memperhatikan
Jenjang pertama ini akan meliputi sifat sintesis terhadap adanya eksistensi suatu fenomena tertentu atau suatu stimulus dan kesadaran yang merupakan perilaku kognitif. Termasuk di dalamnya juga keinginan untuk menerima atau memperhatikan.
2) Merespon
Dalam jenjang ini anak didik dilibatkan secara puas dalam suatu subjek tertentu, fenomena atau suatu keinginan sehingga ia akan mencari–cari dan menambah kepuasan dari bekerja dengannya atau terlibat di dalamnya.
3) Penghargaan
Pada level ini perilaku anak didik adalah konsisten dan stabil, tidak hanya dalam persetujuan terhadap suatu nilai tetapi juga pemilihan terhadapnya dan ketertarikannya pada suatu pandangan atau ide tertentu.
4) Mengorganisasikan
Dalam jenjang ini anak didik membentuk suatu sistem nilai yang dapat menuntun perilaku. Ini meliputi konseptualisasi dan mengorganisasikan.
5) Mempribadi
Pada tingkat akhir sudah ada internalisasi, nilai – nilai telah mendapatkan tempat pada diri individu, diorganisir ke dalam suatu sistem yang bersifat internal, memiliki kontrol perilaku.
c. Ranah Psikomotoris (Keterampilan) 1) Menirukan
Apabila ditunjukkan kepada anak didik suatu action yang dapat diamati (observable), maka ia akan mulai membuat suatu tiruan terhadap action itu sampai pada tingkat sistem otot–ototnya dan dituntun oleh dorongan kata hati untuk menirukan.
2) Manipulasi
Pada tingkat ini anak didik dapat menampilkan suatu action seperti yang diajarkan dan juga tidak hanya yang diamati.
3) Keseksamaan (precission)
Pada keseksamaan Ini meliputi kemampuan anak didik dalam penampilan yang telah sampai pada tingkat perbaikan yang lebih tinggi dalam mereproduksi suatu kegiatan tertentu.
4) Artikulasi (articulation)
Pada tingkat ini yang utama di sini anak didik telah dapat mengkoordinasikan serentetan action dengan menetapkan urutan/sikuen secara tepat di antara action yang berbeda – beda.
5) Naturalisasi
Tingkat terakhir dari kemampuan psikomotis adalah apabila anak telah dapat melakukan secara alami satu action atau sejumlah action yang urut. Keterampilan penampilan ini telah sampai pada kemampuan yang paling tinggi dan action tersebut ditampilkan dengan pengeluaran energi yang minimum.
Perubahan salah satu atau ketiga ranah yang disebabkan oleh proses belajar dinamakan hasil belajar. Hasil belajar dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan ketiga ranah tersebut yang dialami siswa setelah menjalani proses belajar.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan pencapaian perubahan perilaku yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris. Hasil belajar diperoleh melalui pengukuran nilai (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) yang dicapai oleh siswa dari proses evaluasi kegiatan pembelajaran.
C. Lingkungan Sekolah.
1. Pengertian Lingkungan Sekolah
Menurut Imam Supardi (2003:2) menyatakan “lingkungan adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam ruang yang kita tempati”.
Menurut Syamsu Yusuf (2001:54) menyatakan sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyngkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan sekolah adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada didalam lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pendidikan dan membantu siswa mengembangkan potensinya.
1.1 Unsur-unsur Lingkungan Sekolah
Sebagaimana halnya dengan institusi sosial lainnya, sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Sekolah merupakan suatu sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial diantara para anggotanya yang disebut sebagai kebudayaan sekolah. Menurut Abu Ahmadi (1991:187) menyatakan sebagai berikut,
Kebudayaan sekolah itu mempunyai beberapa unsur penting, yaitu :
1) Letak lingkungan dan prasarana fisik sekolah (gedung sekolah dan perlengkapan lainnya).
2) Kurikulum sekolah yang memuat gagasan gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
3) Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru dan tenaga administrasi.
4) Nilai-nilai norma, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
Sedangkan Slameto (2003:64) menyatakan “faktor faktor sekolah yang mempengaruhi belajar yang mencangkup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah,
standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah”. Untuk lebih lanjut diuraikan sebagai berikut :
a. Metode Mengajar
Metode mengajar itu mempengaruhi belajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang meguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap mata pelajaran atau denga gurunya, akibatnya siswa malas untuk belajar.
b. Kurikulum
Diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagaian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu.
Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa.
Begitu pula mengenai pengaturan waktu sekolah dan standar pelajaran yang harus ditetapkan secara jelas dan tepat.
c. Relasi Guru dengan Siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasinya dengan gurunya.
Didalam relasi guru dengan siswa yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebbaik-baiknya. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya, maka ia segan mempelajari mata pelajaran yang diberikannya, akibatnya pelajarannya tidak maju.
d. Relasi Siswa dengan Siswa
Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin, akan diasingkan dari kelompok. Akibatnya makin parah masalahnya dan akan mengganggu belajarnya. Lebih lagi ia menjadi malas untuik masuk sekolah dengan alasan yang tidak-tidak karena disekolah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman temannya. Jika hal ini terjadi, segeralah siswa diberi layanan bimbingan dan penyuluhan agar ia dapat diterima kembali dalam kelompoknya.
e. Disiplin Sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar.
Kedisiplinan sekolah mencangkup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaan administrasi dan kebersihan/keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain, kedisiplinan kepala sekolah dalam mengelola seluruh staf beserta siswa-siswanya, dan kedisiplinan tim BP dalam pelayanan kepada siswa.
Dengan demikian agar hasil belajar siswa lebih baik, siswa harus disiplin di dalam belajar baik disekolah, dirumah dan di perpustakaan. Agar siswa menjadi disiplin haruslah guru beserta staf lainnya diharapkan dapat memberikan contoh yang mencerminkan sikap disiplin.
1.2 Fasilitas Sekolah a. Pengertian Fasilitas
Menurut Sanjaya (2008: 200) menyatakan bahwa, fasilitas belajar di sekolah merupakan sarana dan prasarana untuk mencapai suatu keberhasilan. Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung proses
pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pelajaran, kelengkapan sekolah dan lain sebagainya. Prasarana adalah segala sesuau yang secara tidak langsung dapat mendukung proses keberhasilan dalam proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan, kamar mandi, tempat parkir dan lain-lain.
b. Dalam keputusan Menteri P dan K No. 079/1975 Fasilitas belajar terdiri dari 3 kelompok besar:
1) Bangunan dan perabotan sekolah, pada dasarnya harus sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan harus layak ditempati siswa pada proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Bangunan sekolah terdiri atas berbagai macam ruangan. Secara umum jenis ruangan ditinjau dari fungsi dapat dikelompokkan dalam ruang pendidikan untuk menampung proses kegiatan belajar mengajar baik teori maupun praktik, ruang administrasi untuk proses administrasi sekolah dan berbagai kegiatan kantor, ruang unit kesehatan siswa (UKS) dan ruang penunjang untuk kegiatan yang mendukung proses belajar mengajar seperti laboratorium pembelajaran. Perabot sekolah yang pada umumnya terdiri dari berbagai jenis mebel, harus dapat mendukung semua kegiatan yang berlangsung disekolah,
baik kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan administrasi sekolah.
2) Alat pelajaran, yang dimaksud disini adalah alat peraga dan buku-buku bahan ajar. Alat peraga berfungsi untuk memperlancar dan memperjelas komunikasi dalam proses belajar mengajar antara guru dan siswa. Buku pelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, biasanya terdiri dari buku pegangan, buku pelengkap dan buku bacaan.
3) Media pengajaran, merupakan sarana non personal yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar yang memegang peranan dalam proses belajar untuk mencapai tujuan instruksional. Media pengajaran dapat dikategorikan dalam media visual yang menggunakan proyeksi, media audit, media kombinasi.
4) Fasilitas merupakan sarana dan prasarana dalam menunjang proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik. Fasilitas juga harus sesuai dengan peraturan sekolah dan sesuai dengan standar pemerintah. Apabila fasilitas sekolah sudah memenuhi standarnya maka citra sekolah akan semakin baik dan dapat memunculkan siswa yang berprestasi tinggi dan baik serta dapat
dipercaya dalam mengelola peserta didik agar berprestasi tinggi dan menjadi manusia dewasa.
D. Lingkungan Masyarakat.
Masyarakat merupakan lingkungan alami yang kedua yang di kenal anak - anak. Anak remaja telah banyak mengenal karateristik masyarakat dengan berbagai norma dan keragamannya. Kondisi sosial sangat beragam, tentu banyak hal yang harus di perhatikan dan diikuti oleh anggota masyarakat, dan dengan demikian para remaja perlu memahami hal itu.
Tidak jarang para remaja berbeda dengan para orang tua, sehingga norma dan perilaku remaja dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat yang sedang berlaku. Hal itu tentu saja akan berdampak pada pembentukan pribadi remaja. Perbedaan ini dapat mendorong para remaja untuk membentuk kelompok kelompok sebaya yang memiliki kesamaan pandangan.
Di balik itu didalam masyarakat terdapat tokoh tokoh yang memiki pengaruh kuat terhadap pola hidup masyarakatnya. Namun hal itu terkadang tidak mampu mempengaruhi kehidupan remaja, akibatnya para remaja kadang kadang melakukan tidakan yang tidak sesuai dengan ketentuan masyarakat, atau para remaja dengan sengaja menghindar dari aturan dan ketentuan masyarakat.
Dalam menjalankan fungsi pendidikan, masyarakat banyak membentuk atau mendirikan kelompok kelompok atau atau kursus yang
secara sengaja di sediakan untuk anak remaja dalam upaya mempersiapkan hidupnya di kemudian hari. Kursus-kursus yang di maksud pada umumnya berorientasi kepada dunia kerja. Namun, sekali lagi, banyak kelompok kegiatan atau kursus kursus yang di bangun oleh masyarakat tersebut kurang menarik remaja, oleh para remaja apa yang di sediakan itu di nilai tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Kondisi semacam ini banyak merangsang berpikir remaja, yang responnya belum tentu positif.
Banyak kelompok yang membayangkan masa depannya suram, dan mereka membentuk kelompok yang di beri nama madesu.
Dalam pandangan hidup siswa akan terbentuk karena lingkungan.
Pengetahuan pandangan hidup tampak pada pendirian seseorang, terutama dalam menyatakan cita cita hidupnya. Seseorang dalam memilih lembaga pendidikan di pengaruhi oleh kondisi latar belakang keluarga. Remaja yang berasal dari keluarga yang kurang, umumya bercita cita untuk di kemudian hari menjadi orang yang berkecukupan (kaya), dan dengan demikian dalam memilih jenis pendidikan berorientasi kepada jenis pendidikan yang dapat banyak uang, misalnyanya kedokteran, ekonomi dan ahli teknik.
Menurut Eveline Siregar & Hartini Nara (2010: 179) hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat yaitu:
a. Teman bergaul.
Pergaulan dan teman-teman sepermainan sangat dibutuhkan dalam membuat, membentuk kepribadian dan sosialisasi anak. Orang
tua harus memperhatikan agar anak-anaknya jangan sampai mendapat teman bergaul yang memiliki tingkah laku yang tidak baik. Karena perilaku yang tidak baik, akan mudah sekali menular kepada anak yang lain.
b. Pola hidup lingkungan
Pola hidup lingkungan masyarakat yang berada disekitar rumah dimana anak itu berada, mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika anak berada di kondisi masyarakat kumuh yang serba kekurangan, dan anak-anak pengangguran, akan sangat mempengaruhi kondisi belajar anak, karena ia akan mengalami kesulitan ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi dan meminjam alat-alat belajar.
c. Kegiatan dalam masyarakat.
Kegiatan dalam masyarakat dapat berupa karang taruna, menari, olah raga, dan lain sebagainya. Bila kegiatan tersebut dilakukan secara berlebihan, tentu akan menghambat kegiatan belajar.
Jadi, orang tua perlu memperhatikan kegiatan anak-anaknya.
d. Media massa.
Media massa adalah sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar seperti, novel, majalah, dan lain-lain dapat mempengaruhi siswa dalam belajar. Banyak anak yang terlalu lama menonton TV, membaca novel, majalah yang tidak dibertanggung jawabkan dari segi pendidikan, sehingga mereka lupa akan tugas
belajarnya. Media massa yang baik memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya media massa yang buruk juga berpengaruh buruk terhadap siswa. Sebagai contoh, siswa yang suka nonton film atau membaca cerita-cerita fiktif, pergaulan bebas, dan percabulan, akan kecenderungan untuk berbuat seperti tokoh yang dikaguminya dalam cerita itu. Jika tidak ada kontrol dan pembinaan dari orang tua, pastilah semangat belajarnya menurun dan bahkan mundur sama sekali.
E. Kerangka Berfikir.
Hasil belajar siswa merupakan indikator keberhasilan siswa dalam usaha belajar yang dilakukan di sekolah. Hasil belajar yang tinggi menggambarkan bahwa siswa telah mampu mencapai tujuan yang diinginkan secara sukses. Sedangkan prestasi belajar yang rendah menggambarkan bahwa siswa tidak dapat mencapai tujuan belajar seperti yang diharapkan.
1. Hubungan lingkungan Sekolah dengan Hasil Belajar Siswa Sekolah memiliki peran yang penting dalam mementukan prestasi belajar siswa. Sekolah hendaknya memiliki fasilitas atau sarana prasarana yang mendukung aktifitas belajar siswa demi tercapainya pretasi belajar yang diharapkan. Seperti media pembelajaran yang lengkap agar siswa diharapkan dapat menerima materi yang diberikan
oleh guru dengan baik dan siswa dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran dikelas, guru yang berkompeten sesuai dengan mata pelajaran yang diampu karena hal itu sangat berpengaruh kepada bagaimana guru itu menggunakan metode yang terbaik untuk mengajar siswa-siswinya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Selain itu, fasilitas belajar di sekolah merupakan sarana dan prasarana untuk mencapai suatu keberhasilan. Secara langsung maupun tidak langsung fasilitas sekolah dapat menentukan kelancaran kegiatan pendidikan sekaligus mempermudah tercapainya tujuan pendidikan di lembaga pendidikan. Fasilitas sekolah yang kurang mendukung, maka penyelenggaraan atau pelaksanaan proses pendidikan tidak dapat berjalan dengan baik. Begitu pula sebaiknya, fasilitas sekolah yang mendukung dan lengkap akan mempermudah proses pendidikan, karena dengan mendukungnya fasilitas belajar di sekolah dapat dilakukan proses pembelajaran secara maksimal dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam keputusan Menteri P dan K No. 079/1975, Fasilitas belajar terdiri dari 3 kelompok besar yaitu bangunan, alat peraga, media pengajaran. Misalnya jalan menuju sekolah, penerangan, kamar mandi, tempat parkir dan lain-lain.
Suasana kelas yang nyaman ditunjang dengan fasilitas yang lengkap seperti laboratorium, lapangan, media yang digunakan guru sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik.
2. Hubungan Lingkungan Masyarakat terhadap Hasil Belajar Siswa Masyarakat adalah lingkungan yang dapat mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan dan perkembangan anak, selain itu masyarakat juga memberikan peran pada pendidikan seseorang.
Pergaulan yang ada dalam lingkungan masyarakat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam memilih dan melakukan tindakan sesuai dengan kebiasaan yang ada di masyarakat.
Pergaulan yang ada dalam lingkungan masyarakat tersebut akan menciptakan pola belajar pada diri seseorang sebagai contohnya berdasarkan atas jam belajar dan tata tertib masyarakat yang ada.
Selanjutnya pergaulan tersebut akan berpengaruh pada hasil belajar seseorang melalui kebiasaan yang ada di dalam lingkungan masyarakat tersebut, dengan kemungkinan lingkungan masyarakat yang kurang memperhatikan pendidikan akan menghasilkan seseorang dengan tingkat kepedulian belajar yang kurang dan tidak tercapainya hasil belajar yang tinggi, sedangkan pada lingkungan masyarakat yang memperhatikan pendidikan akan menghasilkan seseorang dengan tingkat kepedulian belajar yang baik dan akan tercapainya hasil belajar yang tinggi.
F. Kerangka Konseptual
Berdasarkan hal tersebut, kerangka konseptual dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut :
G. Hipotesis
Berdasarkan tinjuan pustaka dan kerangka berpikir di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
Ho1 = Tidak terdapat hubungan lingkungan sekolah dengan hasil belajar siswa
Ha1 = Terdapat hubungan lingkungan sekolah dengan hasil belajar siswa
Ho2 = Tidak terdapat hubungan lingkungan masyarakat dengan hasil belajar siswa
Ha2 = Terdapat hubungan lingkungan masyarakat dengan hasil belajar siswa
Hasil Belajar Siswa Lingkungan
Sekolah.
Lingkungan Masyarakat
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Menurut Sangaji dan Shopian (2010:35) studi kasus adalah penelitian yang melakukan penyelidikan secara mendalam mengenai subjek tertentu untuk memberikan gambaran lengkap mengenai subjek tertentu. Dalam penelitian ini siswa akan berperan sebagai responden. Penelitian ini akan dilakukan di SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), SMA ISLAM 3 PAKEM dan hasil atau kesimpulan ini tidak bisa direalisasikan pada SMA-SMA lainnya di Kabupaten Sleman, DIY. Sebab penelitian studi kasus merupakan jenis penelitian dengan karakteristik serta masalah yang mempunyai kaitan antara latar belakang dan kondisi nyata saat ini dari subyek yang diteliti.
B. Tempat dan waktu penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di SMA SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), SMA ISLAM 3 PAKEM di Kabupaten Sleman, DIY.
31
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Maret 2017 – Mei 2017.
C. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah siswa-siswi di SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret ), SMA Islam 3 Pakem
2. Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Siswa yang dipilih oleh peneliti adalah siswa yang berada di kelas X dan XI karena peneliti berpendapat siswa yang berada dikelas X masih dalam proses transisi dari SMP ke SMA untuk mencari jati diri dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sedangkan kelas XI mereka adalah siswa yang berada pada masa remaja memiliki emosi yang tidak stabil dan dapat mempengaruhi bagaimana mereka berperan.
Menurut Sugiono (2012: 81) sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan menurut Yusuf (2014: 150), sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi sesuai dengan karateristik yang dimilikinya. Jadi
sampel adalah sebagian besar dari populasi yang sesuai dengan karakter yang telah ditentukan.
Penelitian yang ideal mensyaratkan pengambilan sampel yang random untuk mendapatkan sampel yang representative. Namun keterbatasan yang dimiliki peneliti dalam hal tenaga, waktu, dan biaya menyebabkan peneliti memilih menggunakan teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Teknik ini memilih sekelompok subjek yang
berdasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2004).
D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiono (2012: 80), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan menurut Margono (2010: 118), populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi adalah keseluruhan dari subjek yang memiliki karakteristik untuk diteliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang telah ditentukan.
Awalnya peneliti akan melakukan penelitian di SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), SMA ISLAM 3 PAKEM, SMA N 1 Seyegan, SMA N Kalasan, SMA N 1 Pakem, SMA Kolombo. Tetapi karena SMA N 1 Seyegan tidak mengijinkan dilakukannya penelitian dan SMA N 1 Pakem dan SMA Kolombo yang tidak mengizinkan memberikan data hasil belajar siswa.
Oleh sebab itu dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah siswa/i kelas X dan XI di SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), SMA Islam 3 Pakem Kabupaten Sleman, DIY pada tahun ajaran 2016/2017. Adapun jumlah populasi penelitian ini sebanyak 339 responden. Nama sekolah dan jumlah siswa sebagai berikut :
Tabel 3.1.
Data Populasi Siswa SMA di di SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), SMAS ISLAM 3 PAKEM .
No. Nama Sekolah
Jumlah Siswa
1. SMAN 1 Cangkringan 187
2. SMA Islam 3 Pakem 66
3. SMAS GAMA Depok Yogyakarta 86
Total 339
2. Sampel
Menurut Sugiono (2012: 81) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sedangkan menurut Yusuf (2014:
150), sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Jadi sampel adalah sebagian besar dari populasi yang sesuai dengan karakter yang telah ditentukan.
Dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan rumus slovin (umar, 2007 :78) adalah :
n = 𝑁
1 + 𝑁𝑒2 Keterangan:
n = Jumlah sampel N = jumlah populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, misalnya 5%
Jadi sample dalam penelitian ini adalah:
n = 𝑁
1 + 𝑁𝑒2
=
1+339.0,05339 2=
184 (pembulatan dari 183,4912042)3. Teknik Penarikan Sampel
Pada penelitian ini akan menggunakan teknik penarikan sampel jenis Proportional Random Sampling, teknik ini digunakan karena populasinya tidak homogen, mengacu pada pendapat sugiyono (2011: 82) bahwa, “proportionate stratified random sampling digunakan bila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proposional”. Strata yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kelas X dan kelas XI.
E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya 1 Variabel Penelitian
Variabel Penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 64). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel pokok yaitu variabel bebas atau independent variable dan variabel terikat atau dependent variable.
a. Variabel Terikat.
Variabel terikat adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas dan variabel terikat apabila dihubungkan dengan dua variabel (atau lebih) yang berbeda. Variabel
terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
b. Variabel Bebas.
Varibel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab adanya perubahan atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel bebas yang terdiri dari lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
F. Teknik Pengumpulan Data
1. kuesioner
Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan/pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011:192). Dipandang dari cara menjawabnya, angket dibedakan menjadi dua yaitu angket bentuk terbuka dan angket bentuk tertutup. Dipandang dari jawaban yang diberikan, angket dibagi dua, yaitu angket yang bersifat langsung dan angket yang bersifat tidak langsung.
Untuk memperoleh data lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat digunakan instrumen penelitian berupa angket (kuesioner).
Pengembangan instrumen ini didasarkan pada kerangka teori yang telah disusun dan selanjutnya dikembangkan dalam indikator. Indikator
kemudian dijabarkan dalam bentuk item angket. Angket yang digunakan adalah angket yang tertutup, yaitu telah dilengkapi dengan pilihan jawaban sehingga siswa tinggal memilihnya. Jawaban setiap instrumen penelitian ini menggunakan skala Likert yang telah dimodifikasi dengan 4 alternatif jawaban.
Skala likert menurut Sugiyono (2010:93) adalah sebagai berikut :
“Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.” Untuk setiap pilihan jawaban diberi skor, maka responden harus menggambarkan, mendukung pernyataan. Untuk digunakan jawaban yang dipilih. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak ukur menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.
Tabel Skor alternatif jawaban untuk variabel Lingkungan Sekolah dan Lingkungan Mayarakat.
Tabel 3.2.
Tabel Skor Alternatif Jawaban
Alternatif jawaban
Skor untuk setiap alternatif jawaban.
a. 4
b. 3
c. 2
d. 1
2. Penyusunan Kuesioner
Kisi-kisi kuesioner dibuat agar kuesioner yang dibagikan kepada responden dapat memberikan gambaran mengenai hasil belajar siswa.
Penyusunan kisi-kisi dilakukan untuk memperoleh kuesioner yang memiliki validitas konstruk. Berikut ini kisi-kisi instrumen masing-masing variabel.
1. Kisi – Kisi Variabel Lingkungan Sekolah.
Tabel 3.3.
Tabel Kisi – Kisi Variabel Lingkungan Sekolah.
No Aspek yang diukur
Indikator No. Butir Soal
Jumlah
1. Suasana sekolah.
Kondisi gedung dan keamanan bangunan.
Kebesihan ruangan.
Penataan ruangan.
Kenyamanan ruangan.
Bangunan dan perabotan
sekolah.
1,2,3,4,5 5
2. Media yang digunakan guru.
Media pengajaran.
6 1
3. Kondisi fasilitas pembelajaran.
Kelengkapan buku
perpusatakaan.
Kelengkapan peralatan laboratorium.
Sarana prasarana.
7,8,9 3
Jumlah no. item 9
2. Kisi-Kisi Instrumen Variabel Lingkungan Masyarakat
Tabel 3.4.
Tabel Kisi – Kisi Variabel Lingkungan Masyarakat.
No Aspek Indikator No. Item Jumlah
1. Kegiatan yang diikuti.
Komunikasi dengan teman .sebaya
Aktivitas yang dilakukan
Pergaulan 1,2,3 3
3. Peraturan jam belajar masyarakat
Jam pulang bergaul.
Tata Tertib 4, 5 2
4.
Kegiatanmasyaraka
Bentuk kehidupan di dalammasyarakat.
Perilaku Masyarakat
6, 7 2
5.
Penggunaan fasilitas belajar.Fasilitas Dalam Masyarakat
8 1
Jumlah no. Item 8
3. Dokumentasi
Dokumentasi artinya barang-barang tertulis. Menurut Suparno (2014:62), dokumentasi adalah pengumpulan data data lewat pengumpulan benda benda tertulis seperti buku, majalah, dokumen, notulen catatan harian, daftar nilai, foto foto dan lain lain. Data yang dikumpulkan dengan metode dokumentasi adalah data berupa daftar nilai hasil ulangan harian semester gasal siswa kelas X dan XI SMA N 1 Cangkringan, SMA Islam 3 Pakem dan SMA GAMA (TIGA MARET).
Instrumen hasil belajar berupa hasil belajar siswa selama satu semester gasal yang dilihat dari raport siswa.
G. Pengujian Instrumen Penelitian 1. Uji Validitas Instrumen
Menurut Sugiyono (2013:203) instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.
Pengujian validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment, sebagai berikut Sugiyono (2013:286):
𝑟𝑥𝑦= 𝑛 ∑ 𝑥1𝑦1− (∑ 𝑥1)(∑ 𝑦1)
√{𝑛 ∑ 𝑥𝑖2− (∑ 𝑥𝑖2}{𝑛 ∑ 𝑦𝑖2− (∑ 𝑦12)}
Keterangan:
r = koefisien korelasi validitas butir Y = skor total setiap siswa
X = skor tiap butir soal untuk setiap siswa N =jumlah responden
Jika nilai koefisien r hitung lebih besar dari r tabel, maka butir soal tersebut dikatakan valid. Jika r hitung lebih kecil dari r tabel, maka butir soal tersebut dapat dikatakan tidak valid.
Nilai 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 dapat di hitung dengan menggunakan sampel sebanyak 184 responden dengan taraf signifikansi 5%, dari responden sebanyak 184 siswa tersebut dapat dilihat di tabel dengan cara menghitung.
Df= n-2 Keterangan:
Df = degree of freedom (derajat bebas) n = jumlah responden
Perhitungan adalah sebagai berikut : Df = 184 – 2 = 182
Tabel 3.5 Sebagai dari r tabel
Df = n – 2 Taraf Signifikansi sebesar 0,05 (5%)
182 0,1447
Jika nilai-nilai corrected item-total correlation setiap item lebih besar dari nilai 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka item pertanyaan/pernyataan dapat dikatakan valid. Sebaliknya, jika nilai-nilai corrected item-total correlation setiap item lebih kecil 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka item pertanyaan/pernyataan dikatakan tidak valid.
Pengujian validitas dilakukan secara serentak dengan jumlah responden sebanyak 184 siswa. Penelitian dilakukan di SMA N 1 Cangkringan, SMA GAMA (Tiga Maret), dan SMA Islam 3 Pakem di Kabupaten Sleman sesuai dengan sampel yang telah didapat. Berikut ini disajikan hasil validitas item penelitian ini:
a. Variabel Lingkungan Sekolah
Tabel 3.6
Hasil Pengujian Validitas Instrumen Lingkungan Sekolah
No item R Hitung R Tabel keterangan
butir_1 .190 0,1447 Valid
butir_2 .350 0,1447 Valid
butir_3 .389 0,1447 valid
butir_4 .456 0,1447 Valid
butir_5 .311 0,1447 Valid
butir_6 .232 0,1447 Valid
butir_7 .420 0,1447 Valid
butir_8 .333 0,1447 Valid
butir_9 .080 0,1447 Tidak Valid
Tabel 3.6 menunjukkan bahwa ada satu butir pertanyaan/pernyataan tentang lingkungan sekolah adalah tidak valid karena nilai corrected item- total correlation (=0,1447). maka dilakukan pengujian validitas ulang dengan menghapus butir yang tidak valid tersebut.
Tabel 3.7
Hasil Pengujian Validitas Ulang Instrumen Lingkungan Sekolah
No item R Hitung R Tabel Keterangan
butir_1 .190 0,1447 Valid
butir_2 .321 0,1447 Valid
butir_3 .389 0,1447 Valid
butir_4 .472 0,1447 Valid
butir_5 .330 0,1447 Valid
butir_6 .232 0,1447 Valid
butir_7 .437 0,1447 Valid
butir_8 .330 0,1447 Valid
Tabel 3.7 setelah menghapus butir pertanyaan/pernyataan yang tidak valid dan melakukan pengujian validitas ulang maka semua butir pertanyaan/pernyataan tentang lingkungan sekolah adalah valid karena nilai corrected item-total correlation (=0,1447)