• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Kondisi Umum Desa Bakaran Wetan

Bakaran Wetan merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Juwana merupakan kota di pesisir utara pulau Jawa yang terletak di jalur pantura yang menghubungkan kota Pati dan kota Rembang. Juwana merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Pati setelah Pati, dan setiap malamnya tidak pernah ada kata sepi. Hal ini terjadi karena setiap malam warga banyak yang berjualan di alun-alun sebagai pedagang kaki lima. Banyak makanan dan permainan anak-anak dijumpai di sana yang setiap hari selalu ramai pengunjung apalagi pada malam minggu.

Kecamatan Juwana terdiri atas 29 desa, salah satunya adalah Desa Bakaran Wetan. Kecamatan Juwana memiliki banyak lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai Sekolah Menengah Atas baik sekolah negeri maupun swasta.

Desa Bakaran Wetan hanya berada lebih kurang 2 km ke sebelah barat dari pusat ibu kota Kecamatan Juwana, 14 km dari ibu kota Kabupaten Pati, 90 km dari ibu kota propinsi Jawa Tengah, dan sekitar 570 km dari ibu kota negara. Jalan yang menghubungkan antara desa dengan kecamatan, kabupaten, dan propinsi merupakan jalan yang sudah beraspal serta mudah dilalui berbagai alat transportasi seperti sepeda motor, mobil, bus, angkutan umum, dan truk.

Sebagaimana desa-desa lainnya di Kecamatan Juwana, mayoritas penduduk desa ini bermata pencarian sebagai petani tambak, baik tambak udang windu maupun tambak bandeng atau juga sebagai petani garam. Namun tidak sedikit masyarakatnya yang terjun di bidang niaga dan industri rumah tangga. Bersama Desa Bakaran Kulon yang bersebelahan, Desa Bakaran Wetan ini mempunyai para pengrajin batik Bakaran yang masih tetap bertahan. Batik Bakaran merupakan batik tulis yang dikerjakan secara tradisional dan telah menjadi salah satu ikon Kota Juwana dan Kabupaten Pati. Dari sektor industri, di desa ini terdapat aneka industri rumah tangga utamanya industri pengrajin kuningan yang

(2)

commit to user

44

banyak menyerap tenaga kerja dari daerah sekitarnya bahkan dari kecamatan tetangga seperti Kecamatan Jakenan.

Luas wilayah Desa Bakaran Wetan adalah 589,5 Ha, dengan ketinggian tanah dari permukaan air laut 2,5 m. Secara geografis, desa ini mempunyai batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara adalah Laut Jawa

b. Sebelah Selatan adalah Desa Mintomulyo c. Sebelah Barat adalah Desa Bakaran Kulon d. Sebelah Timur adalah Desa Dukutalit

Keberadaan pemerintahan desa sangat penting bagi keberlangsungan hidup masyarakatnya, karena pemerintahan ini bertugas untuk menata suatu desa. Maju atau tidaknya suatu desa bergantung pada pemimpin beserta stafnya. Sehingga antara pemimpin dan staf harus terjalin kerjasama yang baik. Desa Bakaran Wetan terdiri dari 12 RT (Rukun Tetangga) dan 3 RW (Rukun Warga). Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa dengan dibantu oleh lima orang kepala urusan dan tiga orang staf.

2. Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Desa Bakaran Wetan menurut data monografi Desa Bakaran Wetan tahun 2013, secara keseluruhan terdiri dari 5.674 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 2.854 orang laki-laki dan 2.820 orang perempuan. Sedangkan jumlah kepala keluarga di desa tersebut ada 1.826 KK. Seluruh warga Desa Bakaran Wetan adalah kewarganegaraan Indonesia. Berdasarkan jumlah penduduk tersebut, dapat diketahui bahwa komposisi jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama besarnya.

Jumlah penduduk menurut agama dapat diketahui dari tabel berikut ini:

(3)

commit to user

45

Tabel 4.1.

Jumlah Penduduk Desa Bakaran Wetan Tahun 2013 Menurut Agama

Agama Jumlah

Islam Kristen Hindu Budha

4.961 orang 89 orang 1 orang 32 orang

Sumber: Data Monografi Desa Bakaran Wetan Tahun 2013

Berdasarkan tabel tersebut, dapat terlihat bahwa jumlah terbesar distribusi penduduk Desa Bakaran Wetan adalah beragama Islam yaitu sebesar 4.961 orang atau 97,6%. Sedangkan sisanya beragama Kristen sebanyak 89 atau 1,75%, Hindu sebanyak 1 orang atau 0,02%, dan Budha sebanyak 32 orang atau 0,63%. Agama Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat setempat adalah Islam abangan, yaitu mempraktikkan Islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan golongan santri yang lebih ortodoks. Meskipun beragama Islam, mereka masih mengikuti sistem kepercayaan lokal atau adat masyarakat setempat daripada hukum Islam murni (syariah).

Di Desa Bakaran Wetan terdapat beberapa tempat ibadah seperti masjid sebanyak 1 buah, mushola sebanyak 4 buah, gereja sebanyak 2 buah, dan wihara sebanyak 1 buah. Meskipun umat beragama di Desa Bakaran Wetan sangat beragam, tetapi masyarakat tetap memelihara kerukunan antar umat beragama.

Adapun jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia pendidikan adalah sebagai berikut:

a. Usia 04 - 06 tahun adalah sebanyak 105 orang b. Usia 07 12 tahun adalah sebanyak 517 orang c. Usia 13 15 tahun adalah sebanyak 381 orang

Jumlah penduduk Desa Bakaran Wetan berdasarkan usia tenaga kerja, yang mempunyai usia 20 26 tahun adalah sebanyak 861 orang, dan 27 40 tahun sebanyak 1.231 orang. Sedangkan jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan

(4)

commit to user

46

yang dimilikinya, ada sebanyak 471 orang berpendidikan umum dan 67 orang berpendidikan khusus. Jumlah penduduk menurut mata pencahariannya dapat dilihat pada tabel 4.2. berikut ini:

Tabel 4.2.

Jumlah Penduduk Desa Bakaran Wetan Tahun 2013 Berdasarkan Mata Pencaharian

Jenis Pekerjaan Jumlah a. Karyawan

b. Wiraswasta c. Tani

d. Pertukangan e. Buruh Tani f. Pensiunan g. Nelayan

368 orang 241 orang 587 orang 498 orang 592 orang 6 orang 17 orang Jumlah 2.309 orang

Sumber: Data Monografi Desa Bakaran Wetan Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.2, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk Desa Bakaran Wetan pada tahun 2013 paling banyak bermata pencaharian sebagai buruh tani sebanyak 592 orang atau 25,64% dari 2.309 jumlah keseluruhan penduduk desa tersebut. Sedangkan sisanya bermata pencaharian sebagai karyawan sebanyak 368 orang atau 15,94%, wiraswasta sebanyak 241 orang atau 10,44%, tani sebanyak 587 orang atau 25,4%, pertukangan yaitu sebanyak 498 orang atau 21,57%, nelayan sebanyak 17 orang atau 0,74%, dan yang paling sedikit sebagai pensiunan yaitu sebanyak 6 orang atau 0,26%.

Wiraswasta yang digeluti penduduk Bakaran Wetan kebanyakan adalah membatik. Batik tulis yang mereka geluti merupakan warisan dari nenek moyang.

Batik ini mulai sangat terkenal pada masa pemerintahan Bupati Tasiman karena Beliau warga asli Juwana. Ketika itu, seluruh PNS di Kabupaten Pati diwajibkan memakai batik Bakaran di hari tertentu. Sedangan petani dan buruh tani yang

(5)

commit to user

47

paling banyak digeluti masyarakat Bakaran Wetan adalah petani tambak, dan garam, meskipun juga ada yang bekerja sebagai buruh tani padi. Karena masyarakat banyak yang bekerja sebagai petani dan buruh tani inilah yang dapat menyebabkan masyarakat Bakaran Wetan masih melestarikan budaya setempat dan percaya adanya walat dari nenek moyang mereka.

3. Karakteristik Informan

Pada penelitian ini, peneliti mengambil sampel sebanyak 15 orang terdiri dari satu orang juru kunci punden Bakaran Wetan yang dianggap mengetahui sejarah Bakaran Wetan dan tradisi keliling punden, 12 orang informan yang melakukan tradisi keliling punden, dan 2 orang informan yang tidak melakukan tradisi keliling punden. Adapun kelima belas informan tersebut adalah:

a. Informan pertama adalah juru kunci punden Bakaran Wetan yang bernama Bsr, seorang lelaki berusia 56 tahun dengan pendidikan terakhir SD. Ia beragama Islam, tetapi masih sangat kental dengan budaya dan kepercayaan Jawa. Profesi lain yang digelutinya adalah sebagai petani tambak di Desa Bakaran. Lama pernikahannya sampai saat ini sudah 35 tahun.

b. Informan kedua bernama Nis, seorang perempuan berusia 22 tahun dengan pendidikan terakhir SMP. Ia berprofesi sebagai karyawan kuningan di Dukutalit, Juwana, beragama Islam, dan sudah menikah selama 3 tahun.

c. Informan ketiga bernama Slmt, seorang lelaki berusia 25 tahun yang mengaku beragama Islam dan bekerja sebagai nelayan. Pendidikan terakhirnya adalah SMA dan sudah menikah selama 3 tahun.

d. Informan keempat bernama Why, seorang perempuan berusia 31 tahun, beragama Islam dan bekerja di salah satu SMA di Juwana. Why sudah menikah selama 6 tahun dan dikaruniai 2 orang anak. Pendidikan terakhirnya adalah sarjana pendidikan fisika dari salah satu universitas negeri di Semarang.

e. Informan kelima bernama Shw, yang merupakan suami dari Why. Dulunya ia bekerja di pelayaran, tetapi kemudian memutuskan untuk keluar dan bekerja

(6)

commit to user

48

sebagai petani tambak di Juwana. Pendidikan terakhirnya adalah D3 dan beragama Islam.

f. Informan keenam adalah Jhr, seorang perangkat desa di Bakaran Wetan. Ia mengaku telah menikah selama 11 tahun, dan beragama Islam. Usianya saat ini adalah 43 tahun dan sudah dikaruniai seorang anak. Dulu ia juga pernah mengajar di salah satu SMA di Juwana, tetapi kemudian memutuskan keluar dan memilih bekerja sebagai perangkat desa di Bakaran Wetan.

g. Informan ketujuh bernama Pjs yang saat ini berusia 45 tahun. Dia dulu menikah pada usia 35 tahun, sehingga saat ini lama pernikahannya sudah menginjak 10 tahun. Ia adalah lulusan SMA dan bekerja sebagai karyawan bank di Juwana.

h. Informan kedelapan bernama Nym, seorang perempuan dengan usia 39 tahun.

Dia sudah menikah dengan suaminya selama 10 tahun, beragama Islam dan bekerja sebagai buruh toko di Juwana. Pendidikan terakhirnya adalah SMA.

i. Informan kesembilan adalah Ssi, seorang laki-laki dengan pendidikan terakhir sarjana fisika. Saat ini dia bekerja sebagai guru fisika di salah satu SMA di Juwana, dan sudah menikah selama 15 tahun dengan istrinya yang bekerja di Puskesmas Juwana, serta dikaruniai 2 orang putra. Agama yang dianutnya adalah agama Islam.

j. Informan kesepuluh bernama Srs, dengan lama pernikahan 60 tahun. Dalam usianya yang ke 82 tahun ini, dia masih sering dimintai tolong warga Bakaran Wetan untuk memasak nasi kenduren dan mengantar pengantin ketika mengelilingi punden. Ia mengaku menikah pada usia 13 tahun dan beragama Islam. Saat ini ia tinggal bersama anaknya yang ada di Bakaran Wetan.

k. Informan kesebelas bernama Bsk, dengan lama pernikahan 30 tahun. Saat ini ia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di salah satu SMA di Juwana.

Selain sebagai guru, ia juga bekerja sebagai petani tambak di Desa Bakaran.

Laki-laki berusia 56 tahun dan beragama Islam ini juga aktif dalam setiap kegiatan di desanya. Setiap kamis sore melakukan kegiatan di punden Bakaran Wetan, dan malam harinya juga melakukan di punden tersebut bersama warga sekitar.

(7)

commit to user

49

l. Informan kedua belas bernama Ksr yang bekerja sebagai buruh tani padi di Juwana. Laki-laki lulusan sekolah dasar (SD) dan beragama Islam ini usianya sudah 64 tahun dan telah menikah selama 40 tahun dengan istri tercinta.

m. Informan ketiga belas bernama Nyt dengan lama pernikahan 40 tahun.

Pendidikan terakhirnya juga sekolah dasar (SD) dan beragama Islam. Selama ini Nyt tidak bekerja, tetapi hanya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak-anaknya.

n. Informan keempat belas bernama Htm dengan lama pernikahan 13 tahun.

Perempuan lulusan sarjana, beragama Islam dan bekerja sebagai guru SMA ini sudah dikaruniai 2 orang anak perempuan. Ketika menikah dulu ia tidak melakukan tradisi keliling punden.

o. Informan kelima belas bernama Aan dengan lama pernikahan 30 tahun. Laki- laki lulusan sarjana dan bekerja sebagai guru SMA ini ketika menikah tidak melakukan tradisi keliling punden. Dia menjadi guru ngaji dan merupakan seorang pendiri pondok pesantren di Desa Bakaran Wetan.

Karakteristik 12 informan yang melakukan tradisi keliling punden dikategorikan menjadi empat berdasarkan atas lama pernikahan, gender, tingkat pendidikan, dan profesi.

a. Berdasarkan Lama Pernikahan

Peneliti menggolongkan informan menjadi tiga karakteristik, yaitu:

1) Pelaku tradisi keliling punden dengan lama pernikahan kurang dari 10 tahun sebanyak empat orang, terdiri dari 2 orang dengan lama pernikahan 3 tahun, dan 2 orang dengan lama pernikahan 6 tahun.

2) Lama pernikahan 10 hingga 20 tahun sebanyak empat orang, yang terdiri dari pelaku tradisi keliling punden dengan lama pernikahan 10 tahun sebanyak 2 orang, 11 tahun sebanyak 1 orang, dan 15 tahun sebanyak 1 orang.

3) Lama pernikahan lebih dari 20 tahun sebanyak empat orang pelaku tradisi keliling punden. Karakteristiknya adalah lama pernikahan 30 tahun sebanyak 1 orang, 40 tahun sebanyak 2 orang, dan 60 tahun sebanyak 1 orang.

(8)

commit to user

50

b. Berdasarkan Gender

Peneliti mengambil 7 orang informan laki-laki, dan perempuan sebanyak 5 orang. Tujuannya untuk mengetahui alasan dan makna tindakan mengelilingi punden dari para pelaku dari sudut pandang gender yang berbeda.

c. Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Karakteristik pendidikan informan dalam penelitian ini adalah 1 orang yang tidak bersekolah, 2 orang lulusan SD, 1 orang lulusan SMP, 3 orang lulusan SMA, 1 orang lulusan D3, dan 4 orang lulusan Sarjana (S1). Adanya variasi tingkat pendidikan untuk mengetahui apakah ada perbedaan alasan dan makna tradisi keliling punden bagi para pelaku.

d. Berdasarkan Profesi

Profesi beberapa informan antara lain adalah sebagai guru SMA sebanyak 3 orang, petani tambak sebanyak 1 orang, karyawan bank sebanyak 1 orang, karyawan kuningan sebanyak 1 orang, nelayan sebanyak 1 orang, perangkat desa sebanyak 1 orang, buruh toko sebanyak 1 orang, buruh tani padi sebanyak 1 orang, ibu rumah tangga sebanyak 1 orang, dan 1 orang ibu rumah tangga tetapi sering diminta warga untuk memasak nasi kenduren dan mengantar pengantin ketika mengelilingi punden.

Secara sederhana karakteristik informan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.3.

Karakteristik Informan

No Nama Lama

Pernikahan Gender Tingkat

Pendidikan Profesi

1. Nis

(22 tahun) 03 tahun Perempuan SMP Karyawan kuningan

2. Slmt

(25 tahun) 03 tahun Laki-laki SMA Nelayan

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

(9)

commit to user

51

Tabel 4.3.

Karakteristik Informan (Lanjutan)

No Nama Lama

Pernikahan Gender Tingkat

Pendidikan Profesi

3. Why

(31 tahun) 06 tahun Perempuan S1 Guru SMA

4. Shw

(33 tahun) 06 tahun Laki-laki D3 Petani tambak

5. Jhr

(43 tahun) 11 tahun Laki-laki S1 Perangkat desa Bakaran Wetan

6. Pjs

(45 tahun) 10 tahun Laki-laki SMA Karyawan bank

7. Nym

(39 tahun) 10 tahun Perempuan SMA Buruh toko

8. Ssi

(43 tahun) 15 tahun Laki-laki S1 Guru SMA

9. Bsk

(56 tahun) 30 tahun Laki-laki S1 Guru SMA

10. Ksr

(64 tahun) 40 tahun Laki-laki SD Buruh tani padi

11. Srs

(82 tahun) 60 tahun Perempuan -

Ibu rumah tangga, sering diminta warga untuk memasak nasi kenduren &

mengantar pengantin mengelilingi punden

12. Nyt

(56 tahun) 40 tahun Perempuan SD Ibu rumah tangga

13. Bsr

(56 tahun) 35 tahun Laki-laki SD Juru kunci dan petani tambak

14. Htm

(40 tahun) 13 tahun Perempuan S1 Guru SMA

15. Aan

(55 tahun) 30 tahun Laki-laki S1 Guru SMA

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

(10)

commit to user

52

Adanya pelaku tradisi keliling punden dengan karakteristik berdasarkan lama pernikahan, gender, tingkat pendidikan, dan profesi yang berbeda bertujuan agar dapat menemukan adanya variasi jawaban, membandingkan makna bagi para pelaku, dan memberikan informasi mengenai tradisi keliling punden dengan cara saling silang menyilang. Sedangkan dua orang informan yang tidak melakukan tradisi keliling punden merupakan informan tambahan yang dapat digunakan peneliti sebagai triangulasi sumber untuk mengecek keabsahan data. Beberapa informan dipilih dengan alasan dapat memberikan informasi yang lebih detail tentang tradisi keliling punden.

Kelima belas informan, 6 orang diantaranya adalah lulusan sarjana atau sebesar 40 %, 1 orang lulusan D3 atau sebesar 6,67 %, 3 orang lulusan SMA atau sebesar 20 %, 1 orang lulusan SMP atau sebesar 6,67 %, 3 orang lulusan SD atau sebesar 20 %, dan 1 orang yang tidak bersekolah atau sebesar 6,67 %.

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa informan paling banyak berpendidikan sarjana yaitu sebanyak 6 orang atau sebesar 40 % dari 15 orang informan yang diambil. Sedangkan profesi yang paling banyak dimiliki informan adalah sebagai guru SMA yaitu sebanyak 5 orang atau sebesar 33,33 % dari 15 informan.

Pengambilan informan paling banyak berpendidikan sarjana dan berprofesi sebagai guru SMA ini bertujuan untuk mengetahui alasan informan tetap melakukan tradisi keliling punden meskipun mereka telah memperoleh pendidikan tinggi, dan membandingkan jawaban mereka dengan beberapa jawaban informan yang berpendidikan SD, SMP, SMA maupun yang tidak bersekolah, serta informan lain dengan pendidikan sarjana pula yang tidak melakukan tradisi keliling punden.

4. Sejarah Desa Bakaran dan Tradisi Keliling Punden, serta Profil Juru Kunci Pada penelitian ini, tidak semua informan mengetahui sejarah Desa Bakaran dan tradisi keliling punden di desa tersebut. Peneliti memperoleh informasi ini dari internet, tulisan Dendra yang tidak dipublikasikan, informasi dari juru kunci, dan salah satu informan dengan lama pernikahan lebih dari 20 tahun yang

(11)

commit to user

53

bernama Bsk. Sejarah Desa Bakaran Wetan berawal dari runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad XIV oleh pasukan Demak (Agus, ukmpati.com). Para pengikut kerajaan Majapahit melarikan diri, diantara para pelarian tersebut adalah Nyi Danowati (Nyai Ageng Siti Sabirah), Ki Joko, Ki Dhukut, dan Ki Joyo Truno.

Rombongan itu menyamar sebagai rakyat biasa dan berjalan menuju ke arah utara.

Karena kelelahan, Nyai Sabirah beristirahat di suatu tempat (mekuwon) bersama Ki Joko yang akhirnya tempat itu dinamakan Pekuwon.

Sedangkan Ki Dhukut melanjutkan perjalanan dan menemukan hutan yang dipenuhi tanaman druju, sehingga tempat itu dinamakan druju wana atau hutan druju. Wana adalah bahasa Jawa Krama Inggil dari alas atau hutan, dan sekarang tempat tersebut disebut Juwana. Suatu ketika sang adik menyusul Ki Dhukut ke wilayah tersebut. Karena merasa wilayah Juwana lebih baik, Sabirah akhirnya ikut kakaknya dan mulai babat alas (membuka hutan) bersama. Merasa sebagai perempuan hasilnya sedikit, maka Sabirah meminta kakaknya untuk mencari kayu bakar dan ia akan membakarnya. Kemudian ada perjanjian dengan Ki Dhukut jika abu hasil bakaran yang terkena angin tersebut jatuh ke tanah, maka daerah itu menjadi milik Nyai Sabirah. Lantas daerah tersebut disebut Bakaran.

Desa Bakaran kian ramai. Nyai Sabirah mendirikan bangunan mirip Langgar (mushala). Masyarakat setempat menyebutnya sigit, dan membuat sumur agar dikira sebagai tempat berwudlu. Seperti yang diungkapkan Bsr berikut ini:

langgar, orang sini menyebutnya sigit. Tujuannya agar Nyai dikira sudah (Wawancara, 03 Nopember 2013).

Suatu saat Joko yang berasal dari Pekuwon datang dan bermaksud melamar Nyai Sabirah, namun Nyai Sabirah memberikan persyaratan agar Joko membuat sumur sejumlah tujuh dalam waktu semalam. Karena merasa sakti, Joko menyanggupi permintaan tersebut. Persetujuan ini membuat Nyai Sabirah merasa bingung, tidak percaya kalau Joko menyanggupi persyaratan yang diajukannya.

jin untuk membuatkan sumur. Namun tindakannya ini diketahui oleh Nyai Sabirah, dan Nyai Sabirah membuat rencana untuk menggagalkan usahanya tersebut. Nyai Sabirah kemudian

(12)

commit to user

54

pergi ke sawah untuk mengumpulkan jerami dan membakarnya di tengah sawah.

Ia juga menyuruh warga desa untuk memukul lesung agar ayam mau berkokok sebagai tanda sudah pagi. Akhirnya para jin menghentikan usahanya membuat sumur meskipun jumlahnya belum tujuh karena mengira hari sudah pagi.

Esok harinya, Nyai Sabirah menanyakan sumur tersebut. Kemudian Joko pun mengatakan kalau sumur tersebut sudah jadi dan berjumlah tujuh buah. Nyai Sabirah tidak percaya dengan perkataannya, lalu ia pun mengajak Nyai Sabirah untuk menghitung jumlah sumur yang ada di Desa Bakaran. Joko berjalan di depan dan diikuti oleh Nyai Sabirah. Setelah dihitung, ternyata sumur benar berjumlah tujuh, namun yang satu sumur terakhir merupakan sumur buatan Nyai sendiri. Hal ini membuat Nyai menjadi marah dan menyuruh Joko untuk bersumpah dengan meminum air sumur tersebut. Mereka pun meminum air sumur itu bersama-sama, tetapi karena Ki Joko salah, maka ia pun meninggal.

Sumur tersebut sampai sekarang disebut dengan sumur sumpah. Karena sering dijadikan untuk bersumpah oleh para warga setempat, dan banyak menelan korban, akhirnya oleh pemerintah setempat sumur itu di tutup. Konon katanya, Nyai Sabirah tidak meninggal. Siapapun yang ingin bertemu dengan beliau harus Seperti yang diceritakan oleh Bsk berikut ini:

tradisi keliling punden berawal dari mbah buyut (Nyai Sabirah) dicintai oleh Joko dari Pekuwon, kemudian Nyai mengajukan syarat untuk nikah, tapi syaratnya dalam satu malam kamu harus membuatkan aku sumur sanggup. Tetapi karena Nyai tidak mencintai Joko, ia berusaha menggagalkannya, kisahnya itu seperti cerita Bandung Bondowoso. Esok harinya, Nyai dan Joko menghitung punden. Ternyata sumur yang dibuat Joko hanya 6 buah, yang satu buah sumur buatan Nyai sendiri tetapi diakui oleh Joko Pekuwon. Lha sumur buatan Joko itu dari batu bata putih atau batako, sedangkan sumur buatan Nyai dari batu bata merah. Akhirnya Joko diminta untuk bersumpah di depan sumur buatan Nyai itu. Maka sumur itu sekarang disebut dengan sumur sumpah.

Masyarakat Bakaran juga sering menggunakannya untuk bersumpah.

Misalnya, saya menuduh kamu mencuri, kamu memang mencuri tapi tidak mengaku. Maka saya ngajak kamu untuk bersumpah di depan sumur dan meminum air sumur itu. Atau kalau tidak di depan sumur, ya saya bawakan air dari sumur itu kemudian kamu bersumpah. Jika sumpahmu sumpah palsu, maka kamu bisa sakit ataupun meninggal. Sumpah ini seolah-olah

(13)

commit to user

55

seperti sumpah pocong. Kalau saya yang salah, saya yang sakit atau meninggal. Sumur ini sangat terkenal sampai dimana-mana. Sampai sekarang, kalau ada orang yang diajak bersumpah dengan menggunakan air sumur itu, banyak yang tidak berani. Dulu ada kejadian orang bersumpah dengan menggunakan air sumur itu, orang itu mati. Akhirnya sumur itu

(Wawancara, 09 Januari 2014).

Nyai Sabirah juga meninggalkan petuah untuk anak cucunya, antara lain:

a. Tidak boleh berjualan nasi

Menjual nasi dianggap sebagai perbuatan yang kurang baik karena nasi adalah kebutuhan pokok yang dikonsumsi setiap hari, sehingga jika ada orang yang berjualan nasi berarti menjual rejekinya sendiri. Nasi tersebut lebih baik diberikan secara ikhlas, bukan dijual. Jika ingin menjual nasi, sebaiknya diolah menjadi bubur, lontong, atau jenis makanan lain. Seperti yang diungkapkan oleh Bsr berikut ini:

itu kebutuhan pokok manusia. Menjual nasi berarti menjual rejakinya sendiri. Jika ingin berjualan, maka harus diolah menjadi lontong, bubur atau ketupat. Pernah orang sini ada yang berjualan nasi kemudian sakit tidak sembuh-sembuh. Diobatkan ke beberapa dokter juga tidak sembuh.

Akhirnya minta tolong saya untuk minta maaf dengan Nyai, saya ambilkan air sumur sigit alhamdulillah (Wawancara, 03 Nopember 2013).

b. Tidak boleh mewarnai kain batik (medel)

Ada anggapan bahwa menggunakan wenter mempunyai banyak resiko, karena setiap hari harus berada di dekat api yang mendidih, dan menyelupkan kain ke dalamnya.

c. Tidak boleh main bakar-bakaran

Maksudnya adalah masyarakat Desa Bakaran Wetan jangan sampai membuat batu bata merah, karena pembakaran batu bata merah beresiko tinggi terhadap terjadinya kebakaran. Sehingga sampai saat ini masyarakat Bakaran Wetan tidak ada yang membuat batu bata merah. Seperti yang diungkapkan oleh Bsk sebagai berikut:

menggunakan batu bata merah untuk suatu bangunan. Nyai melarang adanya bakar-bakaran karena berbahaya untuk keselamatan

(Wawancara, 09 Januari 2014).

(14)

commit to user

56

d. Tidak boleh membuat rumah dari batu bata merah

Rumah Nyai Ageng Siti Sabirah terbuat dari batu bata merah dan menjadi punden untuk saat ini. Sehingga muncul larangan membuat rumah dari batu bata merah, karena Nyai Ageng tidak menghendaki ada yang mengembari rumahnya. Hal ini menyebabkan semua rumah di Desa Bakaran Wetan tidak ada yang menggunakan batu bata merah, melainkan menggunakan batako (batu bata putih). Jika ada yang merasa ragu, masyarakat ada yang menggunakan batu bata merah dan batu bata putih.

Petuah tersebut sampai sekarang masih dipercaya dan ditaati oleh sebagian besar masyarakat Bakaran Wetan. Ada anggapan bahwa jika melanggar pantangan tersebut, maka akan menuai sial dalam kehidupannya atau sakit, bahkan sampai meninggal. Selain beberapa larangan yang sudah tersebut di atas, ada juga larangan bagi masyarakat Desa Bakaran Wetan untuk naik haji. Hal ini disebabkan karena dulu Nyai Ageng datang ke Desa Bakaran untuk bersembunyi dari kejaran orang-orang Demak yang akan memaksa beliau untuk masuk agama Islam, tetapi beliau tidak mau sehingga bersembunyi di desa tersebut dan mendirikan bangunan seperti mushola untuk mengecoh musuh. Beberapa orang di Desa Bakaran masih ada yang percaya bahwa jika masyarakat setempat naik haji, maka pulangnya pasti meninggal atau gila. Dan orang yang ahli wirid dianggap akan menjadi stres (Dendra, TT).

Punden petilasan Nyai Ageng Siti Sabirah sampai sekarang masih digunakan sebagai adat istiadat masyarakat setempat. Tempat tersebut terletak di sebelah timur Balai Desa Bakaran Wetan, dan dijaga oleh seorang juru kunci.

Adat istiadat masyarakat setempat yang berkaitan dengan petilasan Nyai Ageng antara lain adalah:

a. Pagelaran wayang kulit setahun sekali

Pementasan wayang ini dilakukan selama sehari di punden, dan malamnya diadakan di kantor kepala desa. Dalangnya tidak boleh dalang sembarangan. Hanya dalang yang masih murni pada tempo dulu, seperti Ki Anom Suroto, dan Ki Mantep Sudarsono.

(15)

commit to user

57

b. Sumur yang disebut dengan

mengatasi masalah seperti sumpah pocong. Bila ada orang yang mencurigai seseorang tetapi orang yang dicurigai tersebut tidak mengaku, maka keduanya meminum air sumur sumpah. Bila terbukti benar kecurigaan itu, maka orang yang dicurigai akan meninggal. Dulunya sumur tersebut digunakan untuk proses pencucian batik, tetapi kemudian beralih fungsi sebagai sumur sumpah. Sehingga pada tahun 1977 oleh Kepala Desa Bakaran Wetan sumur tersebut ditutup dan tidak dapat digunakan lagi sebagaimana mitos masyarakat yang telah beredar.

c. Kelahiran bayi dan nikahan

Jika masyarakat asli Bakaran Wetan melahirkan bayi, maka bayi tersebut harus di atau diajak mengelilingi punden. Begitu juga bagi pasangan yang baru menikah, kedua mempelai diwajibkan mengelilingi punden yang berupa sumur dengan tujuan untuk mengingat kisah Nyai Sabirah sebagai cikal bakal (Dendra, TT).

Sumur petilasan terbuat dari batu bata merah, dan di desa tersebut hanya sumur milik Nyai Sabirah yang terbuat dari batu bata merah. Adapun bentuk sumur yang dikelilingi oleh warga Desa Bakaran Wetan setelah mereka menikah adalah sebagai berikut:

Gb. 4.1. Bentuk sumur yang dijadikan punden di Desa Bakaran Wetan

Sumber: Dokumentasi Peneliti Bulan Nopember 2013

(16)

commit to user

58

Gb. 4.2. Atas sumur ditutupi karpet plastik dan ditaburi bunga sebagai sesaji

Sumber: Dokumentasi Peneliti Bulan Nopember 2013

Gb. 4.3. Bentuk sumur di dalam ruang yang tertutup dan juru kuncinya

Sumber: Dokumentasi Peneliti Bulan Nopember 2013

(17)

commit to user

59

Gb. 4.4. Bentuk Sumur di dalam ruangan yang tertutup

Sumber: Dokumentasi Peneliti Bulan Nopember 2013

Punden tersebut dikelilingi tembok dan jaga oleh seorang juru kunci yang bernama Bsr beserta istrinya. Bsr dijadikan juru kunci sejak tahun 1995 atas permintaan para warga karena beliau dianggap mempunyai pengetahuan mengenai sejarah Bakaran Wetan dan masih keturunan juru kunci sebelumnya.

Penetapan sebagai juru kunci tidak harus memenuhi persyaratan tertentu, tetapi dilakukan berdasarkan hasil musyawarah para tokoh masyarakat setempat. Seperti yang dikatakan oleh Jhr sebagai salah seorang perangkat Desa Bakaran Wetan:

Bsr kami tunjuk sebagai juru kunci karena kami anggap dia orang pinter dan tahu mengenai sejarah Bakaran Wetan. Selain itu juga karena

be (Wawancara, 08 Nopember

2013).

Alasan Bsr menerima jabatan sebagai juru kunci punden Bakaran Wetan adalah karena menganggap tugas tersebut sebagai suatu amanah yang harus dijalankannya. Beliau adalah juru kunci ketujuh, dan tiga diantaranya merupakan saudara Bsr. Juru kunci tidak menerima imbalan atau gaji dari pemerintahan desa setempat, tetapi mendapatkan upah dari masyarakat yang minta bantuan juru Seperti yang dikatakan oleh Bsr sebagai berikut:

(18)

commit to user

60

ngalap berkah di punden. Jumlahnya tergantung dari keikhlasan orang yang memberi. Selain itu, saya juga dapat uang dari kotak amal yang ada ketika malam satu suro. Tahun kemarin saya

dapat Wawancara, 03

Nopember 2013).

Peran juru kunci adalah menjaga punden

yang sakit tak kunjung sembuh meskipun sudah dibawa ke beberapa dokter, dan beberapa orang agar keinginannya terkabul (ngalap berkah) di punden Bakaran Wetan. Kemudian juru kunci ini mengambilkan air dari sumur yang dikeramatkan untuk diserahkan kepada orang yang meminta berkah dari sumur tersebut. Orang yang di punden Bakaran Wetan berasal dari beberapa daerah, bahkan ada pula yang berasal dari luar kota seperti Kudus, Demak, dan Purwodadi. Seperti yang dikatakan oleh Bsr sebagai berikut:

-anak ketika mereka menjelang Ujian Nasional maupun orang dewasa, agar usahanya berhasil. Mereka berasal dari daerah setempat dan yang dari luar kota juga banyak, seperti dari Purwodadi, Kudus, Demak. Menjelang CPNS seperti saat ini juga banyak yang datang sanya lewat Nyai Sabirah. Sebab Nyai Sabirah itu tidak mati, tetapi moksa. Jadi bisa dimintai pertolongan (Wawancara, 03 Nopember 2013).

Tugas Bsr sebagai juru kunci dibantu oleh istrinya, sehingga ketika beliau tidak dapat menjalankan tugas, maka diambil alih oleh sang istri. Tugas sebagai juru kunci tidak mempunyai batas waktu. Selama orang tersebut mampu menjalankannya, maka dia masih tetap diberi kepercayaan untuk mengemban tugas itu. Selain bekerja sebagai juru kunci, Bsr juga bekerja sebagai petani tambak di Desa Bakaran. Hal ini ia lakukan karena sebagai juru kunci ia tidak boleh mengharapkan upah besar dari orang yang datang di punden untuk ngalap berkah. Adapun gambar punden Bakaran Wetan yang dijaga oleh juru kunci tampak dari luar adalah sebagai berikut:

(19)

commit to user

61

Gb. 4.5. Punden Bakaran Wetan tampak dari luar

Sumber: Dokumentasi Peneliti Bulan Nopember 2013

Di luar punden inilah para pasangan pengantin baru mengelilingi punden.

Juru kunci tidak mempunyai peran dalam tradisi keliling punden bagi pasangan pengantin baru. Umumnya para pengantin mengelilingi punden beserta keluarganya tanpa ijin terlebih dahulu kepada juru kunci. Hal ini karena tradisi keliling punden dilakukan di luar sumur, sehingga tidak perlu bantuan juru kunci.

Mereka pun tidak perlu membayar juru kunci ketika mengelilingi punden. Secara singkat, sejarah Bakaran Wetan dan profil juru kunci dapat dilihat pada tabel berikut ini:

(20)

commit to user

62

Tabel 4.4.

Sejarah Desa Bakaran dan Tradisi Keliling Punden

Indikator Keterangan

Asal mula nama Desa Bakaran

Abu hasil pembakaran hutan druju yang jatuh ke tanah.

Asal mula tradisi keliling punden

Nyai Sabirah (nenek moyang warga Bakaran Wetan) dan jejaka dari Desa Pekowon yang mencintainya bersama- sama menghitung tujuh sumur yang dibuat oleh jejaka sebagai prasyarat untuk menikah dengan Nyai.

Petuah dari Nyai Sabirah

Tidak boleh jualan nasi, mewarnai kain batik (medel), main bakar-bakaran, membuat rumah dari batu bata merah.

Alasan tidak boleh jualan nasi

Nasi adalah kebutuhan pokok manusia yang dikonsumsi setiap hari, jika dijual dianggap menjual rejekinya sendiri.

Jika ingin jualan, sebaiknya nasi diolah menjadi bubur atau lontong terlebih dahulu.

Alasan tidak boleh mewarnai batik (medel)

Menggunakan wenter mempunyai banyak resiko, karena harus berdekatan dengan api dan air yang mendidih.

Alasan tidak boleh main bakar-bakaran (membuat batu bata merah)

Pembakaran batu bata merah beresiko tinggi terhadap terjadinya kebakaran.

Alasan tidak boleh membuat rumah dari batu bata merah

Nyai Sabirah tidak menghendaki ada yang mengembari rumahnya yang terbuat dari batu bata merah.

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

(21)

commit to user

63

Tabel 4.5.

Profil Juru Kunci

Indikator Keterangan

Awal mula sebagai juru kunci

Tahun 1995 ditunjuk oleh beberapa tokoh masyarakat di Desa Bakaran Wetan sebagai juru kunci.

Alasan penunjukkan Dianggap mengetahui tentang punden Bakaran Wetan, dan merupakan keturunan dari juru kunci sebelumnya.

Tugas

datang untuk ngalap berkah di punden Bakaran Wetan.

Upah juru kunci Pemberian masyarakat yang ngalap berkah di punden, dan kotak amal setiap malam satu suro.

Masa kerja Tidak terbatas, sampai juru kunci tidak sanggup lagi menjalankan tugas.

Pekerjaan sampingan Sebagai petani tambak, karena juru kunci tidak boleh mengandalkan uang dari masyarakat yang ngalap berkah di punden.

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

Berdasarkan dari tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa nama Bakaran berasal dari membakar hutan dan tradisi keliling punden berawal dari menghitung sumur yang dilakukan oleh sesepuh Bakaran. Larangan-larangan yang ada di Desa Bakaran Wetan ditujukan untuk keselamatan para warga sendiri. Sumur yang dianggap sebagai petilasan dari Nyai Sabirah dijadikan punden oleh warga setempat dan dijaga oleh juru kunci.

Status juru kunci diberikan oleh para tokoh masyarakat kepada seseorang yang dianggap mengetahui sejarah punden Bakaran Wetan. Juru kunci mempunyai tugas untuk menjaga punden, dan

yang datang untuk ngalap berkah. Gaji diperoleh dari pemberian warga masyarakat yang ngalap berkah di punden dan dari kotak amal setiap malam satu suro. Karena upah tersebut tidak dapat diandalkan, maka ia juga bekerja sebagai

(22)

commit to user

64

petani tambak. Jabatan sebagai juru kunci adalah seumur hidup selama dia mampu menjalankan tugasnya.

5. Tata Cara Mengelilingi Punden

Semua informan baik yang mempunyai lama pernikahan kurang dari 10 tahun, antara 10 hingga 20 tahun, dan lebih dari 20 tahun dengan kriteria gender, tingkat pendidikan, dan profesi yang berbeda-beda mempunyai pengertian yang sama tentang tradisi keliling punden. Tradisi keliling punden menurut mereka adalah suatu adat masyarakat Bakaran Wetan yang dilakukan oleh pasangan pengantin baru setelah mereka menikah. Berikut ini adalah pernyataan beberapa informan yang mempunyai lama pernikahannya kurang dari 10 tahun, dengan gender, tingkat pendidikan dan profesi yang berbeda:

Why dengan lama pernikahan 6 tahun, seorang perempuan yang mempunyai tingkat pendidikan sarjana, dan berprofesi sebagai guru SMA menyatakan bahwa tradisi keliling punden adalah tradisi mengelilingi punden Bakaran Wetan yang dilakukan oleh sepasang pengantin setelah mereka menikah. Berikut pernyataannya:

Nopember 2013).

Sedangkan Nis dengan lama pernikahan 3 tahun, seorang perempuan lulusan SMP, dan berprofesi sebagai karyawan kuningan memberikan penjelasan yang singkat mengenai tradisi keliling punden. Berikut ini adalah penjelasannya:

gi punden Bakaran Wetan ketika mereka menikah (Wawancara, 26 Desember 2013I.

Shw dengan lama pernikahan 6 tahun, seorang laki-laki yang merupakan lulusan D3 palayaran, dan berprofesi sebagai petani tambak memberikan pernyataan yang sama dengan Why. Berikut ini adalah pernyataannya:

masyarakat Bakaran Wetan pada saat menjadi penganten atau acara mantenan (Wawancara, 23 Desember 2013).

(23)

commit to user

65

Sedangkan Slmt, seorang laki-laki lulusan SMA, dan berprofesi sebagai nelayan dengan lama pernikahan 3 tahun mendefinisikan tradisi keliling punden sebagai berikut:

yang dilakukan setelah mereka menikah (Wawancara, 19 Desember 2013).

Pengertian tradisi keliling punden bagi pelaku yang lama pernikahannya 10 hingga 20 tahun, dengan gender, tingkat pendidikan dan profesi yang berbeda adalah sebagai berikut: Jhr dengan lama pernikahan 11 tahun, seorang laki-laki lulusan sarjana dan bekerja sebagai perangkat Desa Bakaran Wetan menyatakan bahwa tradisi keliling punden adalah tradisi masyarakat Bakaran Wetan mengelilingi punden di desa setempat setelah mereka menikah. Berikut ini adalah pernyataannya:

n Wetan (Wawancara, 08 Nopember 2013).

Pjs dengan lama pernikahan 10 tahun, seorang laki-laki lulusan SMA dengan profesi sebagai karyawan bank mendefinisikan tradisi keliling punden sebagai tradisi memutari punden satu kali bersama pasangan dan keluarga. Berikut pernyataannya:

(Wawancara, 21 Desember 2013).

Nym dengan lama pernikahan yang sama dengan Pjs yaitu 10 tahun, perempuan lulusan SMA dan berprofesi sebagai buruh toko mengungkapkan bahwa tradisi keliling punden adalah tradisi yang dilakukan pasangan menikah mengelilingi punden satu kali yang sudah ada sejak jaman dahulu. Seperti yang diungkapkannya berikut ini:

mengelilingi punden satu kali yang sudah ada sejak jaman dahulu (Wawancara, 21 Desember 2013).

Begitu juga dengan Ssi yang lama pernikahannya 15 tahun, laki-laki lulusan sarjana, dan berprofesi sebagai guru SMA ini mendefinisikan tradisi keliling

(24)

commit to user

66

punden sebagai tradisi Bakaran Wetan yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Berikut ini pernyataannya:

Tradisi keliling punden adalah tradisi Bakaran Wetan yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru (Wawancara, 09 Januari 2014).

Pengertian tradisi keliling punden bagi pelaku yang lama pernikahannya lebih dari 20 tahun dengan gender, tingkat pendidikan dan profesi yang berbeda- beda adalah sebagai berikut: Srs dengan lama pernikahan 60 tahun, seorang perempuan yang mengaku tidak pernah sekolah, dan menjadi ibu rumah tangga tetapi oleh masyarakat sekitar dia sering dimintai tolong untuk memasak nasi kenduren dan mengantar pengantin ketika mengelilingi punden mendefinisikan tradisi keliling punden sebagai tradisi masyarakat Bakaran Wetan mengelilingi sumur keramat yang disebut sebagai punden di Desa Bakaran Wetan oleh sepasang suami istri. Seperti yang diungkapkannya berikut ini:

Tradisi keliling punden adalah tradisi masyarakat Bakaran Wetan yang mengelilingi sumur yang dikeramatkan dan menjadi punden di Desa Bakaran Wetan oleh sepasang suami istri (Wawancara, 25 Desember 2013).

Bsk dengan lama pernikahan 30 tahun, laki-laki berpendidikan sarjana dan berprofesi sebagai guru SMA menyatakan bahwa tradisi keliling punden adalah tradisi masyarakat Bakaran Wetan ketika mereka punya anak dan menjadi pengantin. Ketika punya anak disebut ledangan. Berikut ini pernyataannya:

an Wetan ketika mereka punya anak dan menjadi pengantin

Ksr dengan lama pernikahan 40 tahun, laki-laki lulusan SD dan perprofesi sebagai buruh tani padi menyebutkan bahwa tradisi keliling punden adalah tradisi mengelilingi punden oleh pengantin ketika menikah. Berikut ini adalah pernyataannya:

(Wawancara, 19 Desember 2013).

Nyt dengan lama pernikahan yang sama dengan Ksr yaitu 40 tahun, perempuan lulusan SD, dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga menyebutkan

(25)

commit to user

67

bahwa tradisi keliling punden adalah seseorang mengelilingi tempat yang disebut punden satu kali saat menikah. Berikut pernyataannya:

elilingi tempat yang disebut (Wawancara, 19 Desember 2013).

Tradisi keliling punden umumnya dilakukan oleh warga Desa Bakaran Wetan. Berikut ini adalah pernyataan para pelaku yang mempunyai lama pernikahan kurang dari 10 tahun dengan gender, tingkat pendidikan, dan profesi yang berbeda-beda: Slmt, seorang laki-laki lulusan SMA, dan berprofesi sebagai nelayan dengan lama pernikahan 3 tahun menyatakan bahwa tradisi keliling punden wajib dilakukan oleh seluruh warga Bakaran Wetan berikut ini adalah pernyataannya:

19 Desember 2013).

Nis dengan lama pernikahan 3 tahun, seorang perempuan lulusan SMP, dan berprofesi sebagai karyawan kuningan juga memberikan pernyataan yang sama dengan Slmt bahwa tradisi keliling punden wajib dilakukan oleh seluruh warga asli Bakaran Wetan. Berikut ini adalah pernyataannya:

melakukan tradisi keliling 26

Desember 2013).

Shw dengan lama pernikahan 6 tahun, seorang laki-laki yang merupakan lulusan D3 palayaran, dan berprofesi sebagai petani tambak juga menyatakan hal yang sama bahwa tradisi keliling punden wajib dilakukan oleh warga asli Bakaran Wetan. Berikut ini adalah pernyataannya:

23 Desember 2013).

Why dengan lama pernikahan 6 tahun, seorang perempuan yang mempunyai tingkat pendidikan sarjana, dan berprofesi sebagai guru SMA menyatakan bahwa tradisi keliling punden dilakukan oleh seluruh warga asli Bakaran Wetan baik yang tinggal di desa tersebut ataupun tinggal di luar daerah, dan masih mempercayai adanya walat dari Nyai Sabirah, nenek moyang mereka. Seperti yang dinyatakan berikut ini:

(26)

commit to user

68

asli Bakaran Wetan baik yang tinggal di desa ini ataupun di luar kota, dan masih mempercayai

, 03 November 2013).

Pelaku yang mempunyai lama pernikahan antara 10 - 20 tahun dengan tingkat pendidikan, gender, dan profesi yang berbeda-beda menyatakan tradisi keliling punden sebagai berikut: Ssi yang lama pernikahannya 15 tahun, laki-laki lulusan sarjana, dan berprofesi sebagai guru SMA menyatakan bahwa tradisi keliling punden dilakukan oleh seluruh warga asli Bakaran Wetan baik yang masih tinggal di desa setempat ataupun yang tinggal di luar daerah. Berikut ini pernyataannya:

ukan oleh warga asli Bakaran Wetan baik yang masih tinggal di desa ini ataupun yang sudah tinggal di luar desa, asal masih ada keturunan orang Bakaran Wetan, maka mereka mempunyai

09 Januari 2014).

Jhr dengan lama pernikahan 11 tahun, seorang laki-laki lulusan sarjana dan bekerja sebagai perangkat Desa Bakaran Wetan mempunyai pendapat yang sama dengan Ssi bahwa tradisi keliling punden wajib dilaksanakan oleh seluruh warga asli Bakaran Wetan yang tinggal dimana saja. Mereka yang tinggal di desa setempat biasa melakukan tradisi tersebut setelah melakukan akad nikah, sedangkan warga keturunan Bakaran Wetan yang tinggal di luar daerah dapat melakukannya ketika mereka pulang ke Desa Bakaran Wetan. Berikut ini pernyataannya:

Semua warga asli Desa Bakaran Wetan wajib melakukan tradisi keliling punden ketika mereka menikah. Mereka yang tinggal di desa setempat biasa melakukan tradisi tersebut setelah melakukan akad nikah, sedangkan warga keturunan Bakaran Wetan yang tinggal di luar daerah dapat melakukannya 08 Nopember 2013).

Berbeda dengan pendapat Ssi dan Jhr, Nym yang mempunyai lama pernikahan 10 tahun, perempuan lulusan SMA dan berprofesi sebagai buruh toko menyatakan bahwa tradisi keliling punden dilakukan oleh seluruh warga Desa Bakaran Wetan yang menikah dan yang mau melaksanakannya, sehingga di desa tersebut juga terdapat warga yang tidak melakukan tradisi keliling punden.

Berikut ini penjelasannya:

(27)

commit to user

69

Bakaran Wetan yang menikah dan mau melaksanakannya. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk melakukan tradisi setempat. Ada beberapa orang Bakaran Wetan yang ketika menikah mereka tidak melaksanakan

(Wawancara, 21 Desember 2013).

Pjs dengan lama pernikahan 10 tahun, seorang laki-laki lulusan SMA dengan profesi sebagai karyawan bank juga mememberikan pernyataan sama bahwa tidak semua warga Bakaran Wetan melakukan tradisi keliling punden.

Berikut ini adalah pernyataannya:

Wetan yang sudah menikah. Namun tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengelilinginya. Biasanya yang mengelilingi adalah mereka yang bersedia melakukannya saja. Yang tidak mau melakukannya juga tidak apa-apa.

Masyarakat sini juga ada beberapa orang yang tidak melakukan tradisi tersebut (Wawancara, 21 Desember 2013).

Pelaku yang mempunyai lama pernikahan lebih dari 20 tahun menyatakan orang-orang yang melakukan tradisi keliling punden adalah sebagai berikut:

menurut Ksr dengan lama pernikahan 40 tahun, laki-laki lulusan SD dan perprofesi sebagai buruh tani padi menyatakan bahwa semua warga Desa Bakaran Wetan mempunyai kewajiban mengelilingi punden ketika mereka menikah.

Berikut ini pernyataannya:

punde 19 Desember 2013).

Nyt dengan lama pernikahan yang sama dengan Ksr yaitu 40 tahun, perempuan lulusan SD, dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga menyatakan bahwa seluruh warga Desa Bakaran Wetan atau orang kelahiran Bakaran Wetan baik yang tinggal di desa setempat ataupun tinggal di desa lain mempunyai kewajiban untuk mengelilingi punden ketika menikah. Berikut ini pernyataannya:

Seluruh warga Desa Bakaran Wetan atau orang kelahiran Bakaran Wetan yang akan menikah mempunyai kewajiban untuk mengelilingi punden (Wawancara, 19 Desember 2013).

Bsk dengan lama pernikahan 30 tahun, laki-laki berpendidikan sarjana dan berprofesi sebagai guru SMA menyatakan bahwa seluruh warga asli Bakaran

(28)

commit to user

70

Wetan baik yang tinggal di desa setempat ataupun di luar desa mempunyai kewajiban untuk mengelilingi punden ketika mereka menikah. Berikut ini adalah pernyataannya:

Seluruh warga Desa Bakaran Wetan baik yang tinggal di desa setempat ataupun di luar desa mempunyai kewajiban untuk melakukan tradisi keliling

09 Januari 2014).

Srs dengan lama pernikahan 60 tahun, seorang perempuan yang mengaku tidak pernah sekolah, dan menjadi ibu rumah tangga tetapi oleh masyarakat sekitar dia sering dimintai tolong untuk memasak nasi kenduren dan mengantar pengantin ketika mengelilingi punden menyatakan bahwa seluruh warga Desa Bakaran Wetan wajib mengelilingi punden ketika mereka menikah untuk mengingat buyut (nenek moyang) mereka. Berikut ini pernyataannya:

eluruh warga Desa Bakaran Wetan wajib mengelilingi punden ketika mereka menikah untuk mengingat buyut (nenek moyang) mereka (Wawancara, 25 Desember 2013).

Berdasarkan peryataan para pelaku tersebut, hampir semua informan menyatakan bahwa tradisi keliling punden wajib dilaksanakan oleh seluruh warga asli Bakaran Wetan baik yang tinggal di desa tersebut ataupun di luar kota. Bagi warga asli Bakaran Wetan yang tinggal di luar kota dan menikah di luar kota dapat mengelilingi punden ketika mereka sudah kembali ke daerah asal.

Sedangkan bagi warga yang tinggal di desa setempat, mereka dapat melakukan tradisi keliling punden ketika sudah melakukan akad nikah atau resepsi pernikahan. Mereka dapat melakukan tindakan tersebut pada waktu pagi, siang, sore ataupun malam hari tergantung dari pasangan pengantin dan keluarganya.

Berikut ini adalah contoh gambar tradisi keliling punden yang dilakukan setelah resepsi pernikahan:

(29)

commit to user

71

Gb. 4.6. Foto pasangan pengantin yang sedang melakukan tradisi keliling punden

Sumber: Dokumen Peneliti Bulan Januari 2014

Tindakan mengelilingi punden ini dilakukan di luar punden yang merupakan sumur petilasan yang dibuat oleh cikal bakal masyarakat setempat yaitu Nyai Sabirah. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak perlu melibatkan juru kunci atau pemerintah desa setempat. Tidak semua informan mengetahui tata cara tradisi keliling punden pada tahap persiapannya. Informasi tentang persiapan diperoleh dari sesepuh yang sering dimintai tolong untuk mempersiapkan segala keperluan dan mengantar pengantin ketika mengelilingi punden seperti Ssr, serta pelaku dengan lama pernikahan lebih dari 20 tahun.

Tata cara mengelilingi punden diawali dengan kenduri di punden Bakaran Wetan yang dilakukan seminggu atau beberapa hari sebelum prosesi pernikahan.

Jika pengantin merupakan anak pertama, maka orang tua harus membeli perlengkapan untuk mengelilingi punden seperti bantal dan tikar, serta bahan untuk memasak makanan yang akan disajikan bagi tamu undangan ataupun sesaji dari pasar wage yang ada di Desa Tluwah, Kecamatan Juwana.

Sehari sebelum pernikahan keluarga membuat sesaji yang berupa sego buceng yaitu nasi yang dibuat kerucut dan bentuknya kecil. Ketika memasak, nasi ini tidak boleh dicicipi dan harus dimasak oleh orang yang dianggap dalam keadaan suci yaitu orang yang tidak menstruasi atau sedang nifas. Sebelum memasak, juru masak harus mandi keramas dulu untuk mensucikan diri. Sego

(30)

commit to user

72

buceng dibuat sebanyak tiga buah sebagai sesaji di tiga tempat, yaitu di punden Bakaran Wetan, di Desa Dukutalit sebagai batas wilayah sebelah timur, dan Desa Bakaran Kulon sebagai batas wilayah sebelah barat.

Diatas sego buceng diberi satu buah cabe merah, sedikit terasi, satu siung bawang merah dibuat sate atau diletakkan di dekat nasi. Sesaji juga terdapat satu butir telur ayam kampung yang masih mentah, pisang hijau atau pisang susu sebanyak 6 buah, dan satu buah kue jipang atau berondong beras ditaruh dipinggir nasi. Nasi buceng ini ditaruh di atas daun pisang yang di sebut takir. Bungkus daun pisang yang kedua berisi sedikit gula merah, sedikit kencur, satu siung bawang putih, dan bahan untuk menginang. Bahan untuk menginang ini terdiri dari beberapa helai daun sirih, sedikit tembakau, kapur (injet) dan gambir.

Bungkus yang ketiga berisi kembang telon (tiga macam bunga).

Selain menyediakan sesaji, juga harus menyediakan menyan dan merang sebanyak tiga ikat untuk di bakar di tiga tempat yang sudah di sebutkan di atas.

Setelah semua sesaji dan merang tersedia, maka si pengiring pengantin terlebih dahulu meletakkan sesaji disertai dengan membakar merang dan menyan di tiga tempat. Pertama di punden Desa Bakaran Wetan di dekat sumur, kedua di perbatasan desa sebelah timur, yaitu Desa Dukutalit, dan terakhir di perbatasan desa sebelah barat, yaitu Desa Bakaran Kulon. Berikut ini adalah tempat membakar merang di dekat punden Bakaran Wetan:

(31)

commit to user

73

Gb. 4.7. Tempat meletakkan sesaji dan membakar merang sebelum prosesi mengelilingi punden dimulai

Sumber: Dokumentasi Peneliti Bulan Nopember 2013

Peletakan sesaji, membakar merang dan menyan biasanya dilakukan sehari sebelum prosesi pernikahan. Apabila pernikahannya berlangsung sore hari, maka tindakan tersebut dapat dilakukan pagi hari sebelum calon pengantin menikah.

Ketika mengelilingi punden, pengantin diikuti oleh keluarga atau siapa saja yang ingin mengiringi pengantin dari belakang, dan satu orang sesepuh yang membawa bantal dan tikar yang berjalan di depan pasangan pengantin. Orang yang membawa bantal dan tikar boleh orang yang memasak sesaji atau orang tua lainnya yang sudah ditunjuk oleh keluarga.

Prosesi mengelilingi punden dilakukan dengan berjalan kaki dari gerbang punden Bakaran Wetan dengan tidak menggunakan alas kaki. Sesepuh yang membakar merang berjalan berada di depan pengantin dengan membawa tikar dan bantal yang masih baru, diikuti pengantin beserta rombongan keluarganya.

Punden dikelilingi sebanyak satu kali searah jarum jam, yaitu dari timur ke arah barat, kemudian keluar melewati gerbang pertama kali masuk punden. Setelah mengelilingi punden Bakaran Wetan, pasangan pengantin beserta rombongan naik mobil menuju ke perbatasan desa bagian timur yaitu Desa Dukutalit, dan batas desa bagian Barat yaitu Desa Bakaran Kulon, kemudian pulang ke rumah.

(32)

commit to user

74

Semua informan memberikan informasi yang sama mengenai pelaksanaan tradisi keliling punden. Berikut ini pernyataan beberapa informan dengan lama pernikahan lebih dari 20 tahun yang mempunyai tingkat pendidikan, profesi, dan gender yang berbeda-beda:

Srs dengan lama pernikahan 60 tahun, seorang perempuan yang mengaku tidak pernah sekolah, dan menjadi ibu rumah tangga tetapi oleh masyarakat sekitar dia sering dimintai tolong untuk memasak nasi kenduren dan mengantar pengantin ketika mengelilingi punden menyatakan bahwa:

cara melepas alas kaki kemudian mengitari punden satu kali dan kembali lagi ke pintu masuk terus menuju tapal batas timur dan barat Bakaran Wetan. Batas timur yaitu Desa Dukutalit, dan batas barat yaitu Desa Bakaran Kulon. Sebelum pengantin mengelilingi punden, ada prosesi bakar- bakaran terlebih dahulu. Sehingga dibutuhkan merang,

satu buah cabe merah, terasi sedikit, satu siung bawang merah, satu butir telur ayam kampung yang masih mentah yang dibungkus jadi satu dengan daun, bungkus daun kedua berupa sedikit gula merah, sedikit kencur, satu siung bawang putih, daun suruh, dan sedikit gambir. Bungkus yang ketiga berisi kembang telon (tiga macam bunga). Masing-masing tempat melakukan bakar-bakaran dan diberi sesaji. Sehingga dibutuhkan tiga ikat merang dan tiga sesaji. Setelah melakukan bakar-bakaran baru sepasang pengantin yang suci beserta rombongan juga dalam kondisi suci mengelilingi p

2013).

Bsk dengan lama pernikahan 30 tahun, laki-laki berpendidikan sarjana dan berprofesi sebagai guru SMA menyatakan bahwa:

Cara mengelilingi punden adalah pengantin beserta rombongan masuk dari gapura punden dengan melepas alas kaki, mengelilingi satu kali, searah jarum jam, kemudian keluar menuju batas Desa Bakaran Wetan sebelah timur yaitu Desa Dukutalit, dan menuju batas desa sebelah barat yaitu Bakaran Kulon dengan menggunakan mobil. Jika yang jadi temanten adalah anak pertama, maka harus membeli segala perlengkapan untuk mengelilingi punden seperti bantal dan tikar, serta bahan untuk memasak makanan yang akan disajikan bagi tamu undangan ataupun sesaji dari pasar wage yang ada di Desa Tluwah (Wawancara, 09 Januari 2014).

Ksr dengan lama pernikahan 40 tahun, laki-laki lulusan SD dan perprofesi sebagai buruh tani padi menyatakan tata cara mengelilingi punden sebagai berikut:

(33)

commit to user

75

ncara, 19 Desember 2013).

Nyt dengan lama pernikahan yang sama dengan Ksr yaitu 40 tahun, perempuan lulusan SD, dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga menyatakan bahwa:

(Wawancara, 19 Desember 2013).

Informan dengan lama pernikahan 10 20 tahun yang mempunyai gender, tingkat pendidikan, dan profesi yang berbeda-beda menyatakan hal yang sama dengan pernyataan beberapa informan di atas. Berikut ini adalah beberapa pernyataannya: Ssi yang lama pernikahannya 15 tahun, laki-laki lulusan sarjana, dan berprofesi sebagai guru SMA menyatakan bahwa:

mengelilingi satu kali tanpa menggunakan alas kaki. Kemudian keluar menuju batas desa bagian timur dan barat dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Waktu mengelilingi terserah pengantin, waktunya tidak harus bersamaan dengan resepsi pernikahan. Sehari sebelumnya ada prosesi bakar-bakaran di punden dan batas desa. Seminggu sebelum punya hajat ada kenduri di punden. Sebetulnya kenduri tidak hanya untuk acara temanten,

tetapi tiap mau Wawancara, 09 Januari 2014).

Nym dengan lama pernikahan 10 tahun, perempuan lulusan SMA dan berprofesi sebagai buruh toko menyatakan tata cara mengelilingi punden sebagai berikut:

Pengantin memasuki gerbang punden Bakaran Wetan dengan melepas alas kaki, kemudian mengelilingi satu kali, trus keluar menuju ke batas desa

(Wawancara, 21 Desember 2013).

Pjs dengan lama pernikahan 10 tahun, seorang laki-laki lulusan SMA dengan profesi sebagai karyawan bank menjelaskan tata cara mengelilingi puden sebagai berikut:

Berikut ini penjelasan Jhr dengan lama pernikahan 11 tahun, seorang laki- laki lulusan sarjana dan bekerja sebagai perangkat Desa Bakaran Wetan tentang tata cara mengelilingi punden:

(34)

commit to user

76

ke pintu masuk tanpa memakai alas kaki, kemudian ke tapal batas desa sebelah timur dan barat. Ke tapal batasnya menggun

Nopember 2013).

Informan dengan lama pernikahan kurang dari 10 tahun yang mempunyai gender, tingkat pendidikan, dan profesi yang berbeda-beda menyatakan tata cara tradisi keliling punden sebagai berikut: Slmt, seorang laki-laki lulusan SMA, dan berprofesi sebagai nelayan dengan lama pernikahan 3 tahun menyatakan tata cara tradisi keliling punden sebagai berikut:

batas desa sebelah timur (Wawancara, 19 Desember 2013).

Nis dengan lama pernikahan yang sama dengan Slmt yaitu 3 tahun, perempuan lulusan SMP, dan berprofesi sebagai karyawan kuningan ini memberikan penjelasan sebagai berikut:

pura depan kemudian mengitari punden satu kali dan kembali lagi ke pintu masuk tanpa memakai alas kaki, kemudian ke tapal batas desa sebelah timur dan barat. Ke tapal batasnya

(Wawancara, 26 Desember 2013).

Penjelasan Slmt dan Nis diperkuat oleh penjelasan Shw dengan lama pernikahan 6 tahun, seorang laki-laki yang merupakan lulusan D3 palayaran, dan berprofesi sebagai petani tambak sebagai berikut:

(Wawancara, 23 Desember 2013).

Why dengan lama pernikahan 6 tahun, seorang perempuan yang mempunyai tingkat pendidikan sarjana, dan berprofesi sebagai guru SMA juga memberikan penjelasan yang hampir sama dengan beberapa informan sebelumnya:

ari gapura depan kemudian mengitari punden satu kali dan kembali lagi ke pintu masuk terus ke tapal batas timur dan barat

Bakaran Wetan 03 November 2013).

Di bawah ini adalah gambar pertama kali pengantin memasuki gerbang punden Bakaran Wetan:

(35)

commit to user

77

Gb. 4.8. Pengantin beserta rombongan memasuki gerbang punden Bakaran Wetan dengan melepas alas kaki

Sumber: Dokumen Peneliti Bulan Januari 2014

Selama perjalanan menuju batas desa, pengantin beserta rombongan tidak diwajibkan melakukan kegiatan apa pun. Mereka sekedar mengelilingi desa, begitupun ketika mengelilingi punden. Pasangan pengantin beserta rombongan tidak diwajibkan melakukan kegiatan tertentu. Semua informan baik yang mempunyai lama pernikahan kurang dari 10 tahun, antara 10 hingga 20 tahun, dan yang lebih dari 20 tahun dengan kriteria gender, tingkat pendidikan, dan profesi yang berbeda-beda menyatakan bahwa setiap warga Desa Bakaran Wetan baik laki-laki maupun perempuan, berpendidikan tinggi maupun rendah, mempunyai jenis pekerjaan serta tingkat ekonomi yang berbeda-beda, melakukan tradisi keliling punden dengan tata cara yang sama. Adapun tata cara mengelilingi punden Bakaran Wetan bagi pasangan pengantin baru secara sederhana dapat dilihat pada tabel berikut ini:

(36)

commit to user

78

Tabel 4.6.

Tata Cara Mengelilingi Punden

Konsep

Pelaku Lama Pernikahan Kurang

10 Tahun dengan Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan 10-20

Tahun dengan Kriteria Gender,

Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan Lebih

dari 20 Tahun dengan Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda Pengertian

Tradisi Keliling Punden

Tradisi keliling punden adalah adat istiadat Bakaran Wetan yang dilakukan setelah menikah

Tradisi keliling punden adalah tradisi masyarakat Bakaran Wetan mengelilingi punden Bakaran Wetan setelah mereka menikah

Tradisi keliling punden adalah tradisi mengelilingi punden oleh pengantin ketika menikah

Pelaku Seluruh warga asli Bakaran Wetan baik yang tinggal di desa setempat ataupun di luar desa, dan masih mempercayai adanya walat

warga asli dan keturunan Bakaran Wetan baik yang masih tinggal di desa setempat ataupun di luar desa, serta bersedia

melaksanakan tradisi

Seluruh warga Desa Bakaran Wetan baik yang tinggal di desa setempat ataupun di luar desa

Waktu Pelaksanaan

Ketika menikah Ketika menikah Ketika menikah

Banyaknya Putaran

Satu kali Satu kali Satu kali

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

(37)

commit to user

79

Tabel 4.6.

Tata Cara Mengelilingi Punden (Lanjutan)

Konsep

Pelaku Lama Pernikahan Kurang

10 Tahun dengan Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan 10-20

Tahun dengan Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan Lebih dari 20 Tahun dengan

Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Tempat Punden Bakaran

Wetan, batas desa sebelah timur (Desa Dukutalit) dan batas desa sebelah barat (Desa Bakaran Kulon).

Punden Bakaran Wetan, batas desa sebelah timur (Desa Dukutalit) dan batas desa sebelah barat (Desa Bakaran Kulon).

Punden Bakaran Wetan, batas desa sebelah timur (Desa Dukutalit) dan batas desa sebelah barat (Desa Bakaran Kulon).

Perlengkapan yang di bawa

Bantal dan tikar yang baru.

Bantal dan tikar yang baru.

Bantal dan tikar yang baru.

Persiapan Tidak tahu Tidak tahu Melakukan kenduri di

Punden Bakaran Wetan seminggu sebelum pesta pernikahan. Jika pernikahan anak pertama, orang tua membeli bahan jamuan dan perlengkapan tradisi keliling punden di Pasar Wage Desa Tluwah, Juwana.

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

(38)

commit to user

80

Tabel 4.6.

Tata Cara Mengelilingi Punden (Lanjutan)

Konsep

Pelaku Lama Pernikahan Kurang

10 Tahun dengan Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan 10-20

Tahun dengan Kriteria Gender,

Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan Lebih dari

20 Tahun dengan Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Sesaji Tidak tahu Tidak tahu Takir pertama berisi sego

buceng dengan satu buah cabe merah, sedikit terasi, satu siung bawang merah, satu butir telur ayam kampung yang masih mentah, pisang hijau atau pisang susu sebanyak 6 buah, kue jipang atau berondong beras satu buah. Takir kedua berisi gula merah, sedikit kencur, satu siung bawang putih, dan bahan menginang (beberapa helai daun sirih, sedikit tembakau, injet, dan gambir. Takir ketiga berisi kembang telon (tiga macam bunga).

Menyan dan merang.

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

(39)

commit to user

81

Tabel 4.6.

Tata Cara Mengelilingi Punden (Lanjutan)

Konsep

Pelaku Lama Pernikahan Kurang 10 Tahun

dengan Kriteria Gender, Tingkat Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan 10-20

Tahun dengan Kriteria Gender,

Tingkat Pendidikan, dan

Profesi Berbeda

Pelaku Lama Pernikahan Lebih dari

20 Tahun dengan Kriteria Gender, Tingkat

Pendidikan, dan Profesi Berbeda

Syarat pembuatan sesaji

Tidak tahu Tidak tahu Yang memasak dalam

keadaan suci, harus mandi keramas terlebih dahulu, dan masakan tidak boleh dicicipi.

Tata Cara Pengantin beserta rombongan

mengelilingi punden dengan berjalan, tidak menggunakan alas kaki sebanyak satu kali.

pengantin beserta rombongan

mengelilingi punden dengan berjalan, tidak menggunakan alas kaki sebanyak satu kali searah jarum jam.

Sebelum pelaksanaan akad nikah, sesepuh yang ditunjuk terlebih dahulu membakar merang dan menyan serta meletakkan sesaji di tiga tempat yaitu di punden Bakaran Wetan, Desa Dukutalit dan Desa Bakaran Kulon. Setelah pengantin menikah, pengantin beserta rombongan mengelilingi punden dengan berjalan, tidak menggunakan alas kaki sebanyak satu kali searah jarum jam.

Sumber: Data Primer Diolah Bulan Nopember 2013 Januari 2014

Referensi

Dokumen terkait

1 23 aspek penilaian 20 48 4 0 72 Sangat Baik Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai keaktifan belajar siswa pada siklus II baik pada pertemuan 1 maupun pertemuan

Berdasarkan tabel 4.11 diketahui bahwa, nilai t hitung 2.843 dengan nilai t tabel 1.980 ini berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel (2.843 > 1.980) maka

Berdasarkan tabel 4.4 dan tabel 4.5 Descriptive Statistics, Paired Samples Statistic, dan Group Statistics dapat dilihat bahwa diketahui variabel dengan jumlah data

Berdasarkan tabel 4.3 hasil observasi dari kegiatan guru dapat diketahui melalui aspek yang diperoleh skor 3 sebanyak 5, dan aspek 4 sebanyak 10 item dan totalnya semuanya

Berdasarkan dasar pengambilan keputusan di atas bahwa nilai F hitung yang lebih besar dari F tabel yaitu 28,309>3,16 dan nilai signifikansi yang kurang dari 0,05

Berdasarkan jawaban responden dalam tabel tersebut di atas terdapat 2 orang (4 %) menjawab Tidak Setuju, 20 orang (40 %) menjawab Ragu-ragu, 22 orang (44 %)

Dari tabel di atas diketahui bahwa pada aspek penilaian kejelasan tujuan pembelajaran responden 2 mendapatkan skor 2, hal ini karena pada responden 2 rumusan masalah

54 Gambar 4.5 Grafik Tujuan Wisata Responden Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat dilihat bahwa berdasarkan tujuan wisata responden ke taman kota Bungkul Surabaya dapat