HUBUNGAN USIA PERNIKAHAN (16 – 20 TAHUN) DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA WANITA DI DESA LANGENSARI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS BLANAKAN KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG
Juju Juhaeriah
1, Imaningrum Syaharani
11
STIKES Jenderal Achmad Yani Cimahi
ABSTRAK
Indonesia termasuk negara dengan persentase pernikahan usia muda tinggi di dunia (ranking 37). Tingkat pernikahan remaja wanita di Jawa Barat (7,5%) masih tergolong tinggi, yakni sekitar 9 juta pasangan. Jumlah Pasangan Usia Perkawinan (PUP) di bawah usia 20 tahun, sebagian besar di antaranya terdapat di daerah pantai utara (pantura) daerah Subang. Berdasarkan survei di desa Langensari terdapat 465 remaja yang gagal dalam tahap perkembangannya. Remaja yang memutuskan untuk menikah pada tahap perkembangan akan berdampak pada psikologis remaja yang merasa dirinya tidak mampu menjalankan perannya sebagai seorang istri, belum mampu menjalankan peran sosialnya sebagai orang dewasa, ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah, perasaan merendah, tidak dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kurang adanya kesiapan fisik, mental dan emosional ( BKKBN, 2012 ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia pernikahan (16-20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari. Metode penelitian yang digunakan adalah Analitik dengan crossectional. Sampel penelitian adalah remaja wanita yang sudah menikah umur 16–20 tahun sebanyak 82 responden. Alat pengumpulan data adalah kuesioner selanjutnya data diolah dengan Analisis Univariat dan Bivariat dengan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki umur kurang dari 20 tahun memiliki konsep diri rendah (57,3%). Terdapat hubungan antara usia pernikahan (16-20 tahun) dengan konsep diri remaja wanita di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang (P=0,002). Saran bagi Tenaga kesehatan agar mengadakan promosi kesehatan yang ditujukan pada orang tua dan remaja, sebagai solusi untuk mencegah maraknya pernikahan dini.
Kata Kunci : Konsep diri, Usia Pernikahan, Remaja
A. Pendahuluan
Indonesia termasuk negara dengan persentase pernikahan usia muda tinggi di dunia (ranking 37) tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja ( BKKBN, 2012 ). Perempuan muda di Indonesia dengan usia 10-14 tahun menikah sebanyak 0,2% atau lebih dari 22.000 wanita muda berusia 10 – 14 tahun di Indonesia sudah menikah, jumlah dari perempuan muda berusia 15 – 19 yang
menikah lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki muda berusia 15 – 19 tahun (11,7% P : 1,6%L) diantara kelompok umur perempuan 20 – 24 tahun lebih dari 56,2% sudah menikah (BKKBN, 2012). Provinsi dengan persentase perkawinan dini (<15 th) tertinggi adalah Kalimantan Selatan (9%), Jawa Barat (7,5%), serta Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah masing-masing 7% dan Banten 6,5%, provinsi dengan persentase
perkawinan dini (15-19 th) tertinggi adalah Kalimantan Tengah (52,1%), Jawa Barat (50,2%), Kalimantan Selatan (48,4%), Bangka Belitung (47,9%) dan Sulawesi Tengah (46,3%) (BKKBN, 2012).
Tingkat pernikahan remaja wanita di Jawa Barat hingga kini masih tergolong tinggi, jumlah Pasangan Usia Perkawinan (PUP) di bawah usia 20 tahun mencapai 50 persen dari total Pasangan Usia Subur (PUS) di Jawa Barat, yakni sekitar 9 juta pasangan sebagian besar di antaranya terdapat di daerah pantai utara (pantura) Pulau Jawa (BKKBN, 2012).
Fathonah (2011) menyatakan bahwa pasangan menikah di bawah usia 19 tahun masih banyak ditemukan di Subang, Karawang, Indramayu, dan daerah pantura lainnya, bahkan di daerah lainnya masih banyak yang menikah pada usia 14-15 tahun (BKKBN, 2012).
Perkawinan yang masih muda banyak mengundang masalah yang tidak diharapkan karena segi psikologisnya belum matang khususnya bagi perempuan (Walgito 2000).
Menurut Basri (1996) dalam bukunya yang berjudul Merawat Cinta Kasih mengatakan secara fisik biologis yang normal seorang pemuda atau pemudi telah mampu mendapatkan keturunan, tetapi dari segi psikologisnya remaja masih sangat hijau dan kurang mampu mengendalikan batera rumah tangga nasib yang kurang beruntung dan bahkan tidak berlangsung lama karena usia terlalu muda dari para pelakunya, baik salah satu atau keduanya. Berdasarkan hasil penelitian Malehah (2010) pernikahan dini tersebut dapat berdampak pada perilaku, di antaranya cemas dan stres.
Usia remaja menimbulkan berbagai persoalan dari berbagai sisi seperti masa remaja yang selalu ingin coba – coba, pendidikan rendah, pengetahuan yang minim, pekerjaan semakin sulit di dapat yang berpengaruh pad
pendapatan ekonomi keluarga. Terlebih jika mereka menikah di usia muda karena keterlanjuran berhubungan seksual yang menyebabkan suatu kehamilan. Adanya penolakan keluarga yang terjadi akibat malu, hal ini dapat menimbulkan stres berat ( Manuaba, 2008 ). Pada tahap perkembangan remaja memiliki tugas yang berfokus pada bagaimana melalui sikap dan pola perilaku bertanggung jawab secara sosial, mempersiapkan karir untuk memperoleh ekonomi yang cukup. Seorang remaja harus mencapai kemandirian secara emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya serta mempersiapkan diri untuk menikah dan berkeluarga (Sumiati dkk, 2009).
Berdasarkan survei di desa Langensari terdapat 465 remaja yang gagal dalam tahap perkembangannya. Remaja yang memutuskan untuk menikah pada tahap perkembangan akan berdampak pada psikologis remaja yang merasa dirinya tidak mampu menjalankan perannya sebagai seorang istri, belum mampu menjalankan peran sosialnya sebagai orang dewasa, ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah, perasaan merendah, tidak dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kurang adanya kesiapan fisik, mental dan emosional ( BKKBN, 2012 ).
Masalah tersebut akan menyebabkan ketidakpuasan terhadap konsep dirinya.
Konsep diri merupakan bagian yang penting dari kepribadian seseorang dalam membina suatu rumah tangga sebagai penentu bagaimana seseorang bersikap dan bertingkah laku. Dengan kata lain jika remaja memandang dirinya tidak mampu, tidak berdaya dan hal-hal negatif lainnya, ini akan mempengaruhi remaja dalam berusaha (Wahyurini dan Mashum, 2003).
Brooks (dalam Rakhmat, 2002) mengatakan bahwa orang dengan konsep diri negatif sangat peka terhadap kritik, ia mempersepsi kritik sebagai usaha untuk menjatuhkan dirinya, sangat senang menerima pujian dan menjadi pusat perhatian, selalu mengeluh, mencela, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, bersikap pesimis dan menganggap dirinya tidak berdaya. Sebaliknya orang dengan konsep diri positif mempunyai keyakinan mampu mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, mampu memperbaiki dirinya.
Konsep diri dikembangkan melalui proses yang sangat kompleks dan melibatkan banyak variable, diantaranya citra diri, ideal diri, harga diri, peran dan identitas diri. Konsep diri memberikan rasa kontinuitas, keutuhan, dan konsistensi pada seseorang yang merupakan representasi fisik seorang individu, pusat inti dari “Aku” di mana semua persepsi dan pengalaman terorganisasi ( Perry & Potter, 2005 ).
Setiap kehidupan rumah tangga pasti tidak luput dari permasalahan-permasalahan. Salah satu penyebab utama permasalahan dalam rumah tangga adalah pasangan–pasangan yang belum dewasa. Faktor ketidakdewasaan ini lebih nyata terdapat dalam pernikahan usia remaja. Dilihat dari segi psikologi perubahan perkembangan tampak pada keadaan emosional remaja yang mudah tersinggung dan labil. Perkembangan sosial terlihat mulai tertariknya remaja pada aktivitas yang melibatkan orang – orang di luar lingkungan keluarga terutama teman sebaya.
Keyakinan dan kepercayaan remajapada dirinya bahwa ia adalah seorang yang mampu, seseorang yang berarti, dan seseorang yang bisa meraih apa yang ia inginkan,
pada akhirnya melahirkan suatu penilaian terhadap diri sendiri (Soetjiningsih, 2004).
Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosial yang baru sebagai orang dewasa. Selain itu remaja juga berubah secara kognitif dan mulai mampu berpikir abstrak seperti orang dewasa, mulai mengenal dirinya sendiri dan menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Perubahan juga tampak jelas pada perubahan fisik dimana tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula dengan berkembangnya kapasitas reproduksi (Walgito, 2000).
Berdasarkan studi pendahuluan di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang, remaja wanita yang melakukan pernikahan pada periode 2011 – 2013 sebanyak 2.686 jiwa. Salah satu desa atau kecamatan yang paling banyak yaitu di desa Langensari sebanyak 465 jiwa. Pada tahun 2011 usia pernikahan antara 16-20 tahun sebanyak 146 jiwa, pada tahun 2012 usia pernikahan antara 16-20 tahun sebanyak 161 jiwa, pada tahun 2013 usia pernikahan antara 16-20 tahun sebanyak 158 jiwa, (Profil BP4 Kab. Subang, 2013).
Hasil wawancara tanggal 15 Februari 2014 kepada 10 responden dengan rentang usia 16 – 20 tahun, 6 diantaranya mengatakan terjadi perubahan peran terhadap dirinya dan lingkungan sosial yang berdampak pada tugas sebagai seorang ibu tidak optimal dalam mengurus anak dan mengatur ekonomi keluarga, 4 diantaranya mengatakan malu terhadap perubahan fisik dengan bertambahnya berat badan dan kurang proporsionalnya kondisi fisik dibandingkan dengan teman sebaya. Dari 10 responden tersebut mengatakan mudah stres dengan keadaan emosional yang masih labil
dan mudah tersinggung jika merasa tidak puas dengan keadaan.
Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad (2011) tentang
“Dampak pernikahan usia dini studi kasus di desa gunung sindur – Bogor” didapatkan bahwa dampak dari pernikahan dini yang mereka lakukan tidak terlalu serius, hanya mudah stres dan marah-marah, bertengkar, hal tersebut karena kurangnya pengetahuan dalam pengaturan keuangan untuk kebutuhan rumah tangga dan menjaga kesehatan menjadi terabaikan.
Berdasarkan data tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang
“Hubungan usia pernikahan (16 – 20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan usia pernikahan (16 – 20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang”. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
a. Mengetahui gambaran usia pernikahan (16 – 20) pada remaja wanita di Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang.
b. Mengetahui gambaran konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang.
Mengetahui hubungan antara usia pernikahan (16 – 20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita di
c. Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang.
B. Metode
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Analitik dengan crossectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah remaja wanita yang sudah menikah yang ada di desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang pada tahun 2011 – 2013 tercatat sebanyak 465 jiwa.
Pengambilan sampel melalui proportional random sampling yang dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel dengan mengambil masing-masing perwakilan sub populasi dengan mengundi anggota populasi (Lottery technique) (Riduwan, 2012)
Dalam pengambilan sampelnya, peneliti menggunakan beberapa kriteria, diantaranya adalah kriteria inklusi dan eksklusi.
Yang termasuk kriteria inklusi antara lain adalah :
a. Perempuan yang sudah menikah secara sah tercatat di KUA Desa Langensari
b. Bersedia menjadi responden
c. Warga pindahan dari desa atau kecamatan lainnya
d. Sudah cerai sudah menikah lagi Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah perempuan yang sudah berstatus janda atau telah bercerai.
Sampel yang diambil tersebar di 8 RT Desa Langensari, jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu 82 remaja wanita menikah
170
Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Adapun Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H0 : Tidak terdapat hubungan antara usia pernikahan (16-20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita.
Ha : Terdapat hubungan antara usia pernikahan (16-20 tahun)
Analisa dilakukan dengan cara analisa univariat dan anlisa bivariat. Analisis univariat merupakan suatu analisis yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel, dimana disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel (
Notoatmodjo, 2010 ). Tujuan dari analisis ini adalah mengetahui gambaran distribusi dan frekuensi dari usia pernikahan (16 – 20 tahun) dan konsep diri pada remaja wanita di Desa langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang.
Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variable yang diduga berhubungan atau berkorelasi, yaitu veriabel bebas atau independen (usia pernikahan) dengan variable terikat atau dependen (konsep diri remaja wanita yang melakukan pernikahan). Analisis bivariat yang digunakan adalah analisis Chi Square.
171 1. Faktor Predisposisi
a. Perubahan fungsi tubuh b. Perasaan cemas c. Perkembangan
individu 2. Faktor Presipitasi
a. Trauma b. Ketegangn
peran
c. Transisi peran perkembangan d. Transisi peran
situasi : e. Transisi peran
sehat sakit Usia pernikahan
Konsep diri:
1. Citra tubuh 2. Ideal diri 3. Harga diri 4. Peran 5. Identitas
positif
negatif
C. Hasil
Tabel 1
Distribusi frekuensi usia pernikahan (116-20 tahun) pada remaja wanita di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang tahun 2014
Usia Pernikahan Frekuensi (F)
Prosentase (%)
≤ 20 tahun 47 57,3
>20 tahun 35 42,7
Total 82 100
Sumber : data primer penelitian
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa dari 82 responden hampir setengahnya (42,7%) memiliki umur
lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 35 orang.
Tabel 2
Distribusi frekuensi konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang tahun 2014
Konsep Diri Frekuensi (F)
Persentase (%) Kosep diri
rendah 31 37,8
Konsep diri
tinggi 51 62,2
Total 82 100
Sumber : data primer penelitian
Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa dari 82 responden hampir
setengahnya (37,8%) memiliki konsep diri rendah yaitu sebanyak 31 orang.
Tabel 3
Hubungan antara usia pernikahan dengan konsep diri wanita di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang tahun 2014
Usia Pernikahan
Konsep Diri
Total
P value OR (95% CI) Rendah Tinggi
N % N % N %
≤ 20 tahun 25 53,2 22 46,8 47 100
0,002 3,103 (1,428-6,743)
>20 tahun 6 17,1 29 82,9 35 100 Jumlah 31 37,8 51 62,2 82 100 Sumber : data primer
172
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 47 remaja wanita yang sudah menikah yang memiliki umur kurang dari sama dengan 20 tahun sebagian besar (53,2%) memiliki konsep diri rendah, sedangkan dari 35 remaja wanita yang sudah menikah yang memiliki umur lebih dari dari 20 tahun hanya sebagian kecil (17,1%) memiliki konsep diri rendah.
Hasil uji statistik didapatkan nilai P value sebesar 0,002 yang berarti Ho ditolak atau terdapat hubungan antara usia pernikahan (16- 20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang.
Berdasarkan hasil penelitin dari hasil uji statistik terdapat hubungan antara usia pernikahan (16 – 20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang (Pvalue = 0,002). Hasil penelitian diperoleh nilai POR sebesar 3,103, artinya responden yang usia pernikahannya kurang dari sama dengan 20 tahun mempunyai peluang untuk memiliki konsep diri rendah dibanding responden yang usia pernikahnnya lebih dari 20 tahun.
D. Pembahasan
Masih banyaknya remaja wanita yang menikah usia dini (< 20tahun) di Desa Langensari akan berdampak pada konsep diri yang berhubungan dengan peran, identitas, harga diri, gambaran tentang dirinya dan tugas yang dijalankan, fakta dilapangan membuktikan bahwa pasangan usia muda belum mampu dibebani suatu pekerjaan rumah tangga, tidak mampu untuk menjalankan perannya sebagai seorang istri dalam mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga.
Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad (2011) tentang
“Dampak pernikahan usia dini studi kasus di desa gunung sindur – Bogor” didapatkan bahwa dampak dari pernikahan dini yang mereka lakukan tidak terlalu serius, hanya mudah stres dan marah-marah, bertengkar, hal tersebut karena kurangnya pengetahuan dalam pengaturan keuangan untuk kebutuhan rumah tangga dan menjaga kesehatan menjadi terabaikan.
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 47 remaja wanita yang sudah menikah yang memiliki umur kurang dari sama dengan 20 tahun
sebagian besar (53,2%) memiliki konsep diri rendah, sedangkan dari 35 remaja wanita yang sudah menikah yang memiliki umur lebih dari dari 20
tahun hanya sebagian kecil (17,1%) memiliki konsep diri rendah.
Pernikahan pada remaja wanita di Desa Langensari umumnya dipengaruhi oleh keinginan bebas pada remaja, lingkungan sekitar dan dorongan dari orang tua meskipun dalam segi psikologis remaja masih kurang mampu menjalankan tugasnya. Perkawinan yang masih muda banyak mengundang masalah yang tidak diharapkan karena segi psikologisnya belum matang khususnya bagi perempuan (Walgito 2000). Menurut Basri ( 1996) dalam bukunya yang berjudul Merawat Cinta Kasih mengatakan secara fisik biologis yang normal seorang pemuda atau pemudi telah mampu mendapatkan keturunan, tetapi dari segi psikologisnya remaja masih sangat hijau dan kurang mampu mengendalikan batera rumah tangga nasib yang kurang beruntung dan bahkan tidak berlangsung lama karena usia terlalu muda dari para pelakunya, baik salah satu atau keduanya.
Pernikahan yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh pengaruh lingkungan
dan dorongan dari orang tua. Hal tersebut berdampak pada kesiapan remaja wanita dalam menjalankan tugas dan perannya baik di lingkungan keluarga atau lingkungan masyarakat. Secara emosional remaja wanita yang melakukan pernikahan dini cenderung susah mengontrol emosinya dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang ia miliki dibandingkan dengan teman – teman sebayanya. Selain itu juga remaja wanita yang melakukan pernikahan dalam segi fisik merasa dirinya tidak seperti dulu sebelum menikah, terjadinya perubahan pada penampilan fisik mereka sehubungan dengan perubahan peran menjadi orang tua/ibu.
Sehingga membuat remaja merasa dirinya tidak berharga dan kurangnya percaya diri yang membuat remaja tidak yakin untuk mewujudkan cita – cita dan harapan hidupnya, merasa dirinya bukan orang yang beruntung.
Fakta di lapangan tidak banyak remaja yang melakukan pernikahan dini merasa bangga dengan dirinya sendiri. Mereka menganggap setelah menikah mereka mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya menjadi orang tua/ibu. Di lingkungan masyarakat remaja yang menikah dini kurang mampu untuk bisa bersosialisasi atau menjalankan perannya.
Sebagian besar dari meraka masih bergantung pada orang tua masing – masing khususnya dalam hal ekonomi. Kurangnya pengetahuan orang tua yang menganggap dengan menikahkan anaknya akan mengurangi beban ekonomi keluarga, namun kenyataannya masih banyak anak yang menikah di bawah umur belum mampu memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri.
Seharusnya pada tahap perkembangan remaja dimana remaja memiliki tugas untuk mempersiapkan diri dalam pola perilaku bertanggung jawab secara sosial, mempersiapkan karir untuk memperoleh ekonomi yang cukup serta mempersiapkan diri untuk menikah dan berkeluarga. Tugas remaja
tersebut masih kerap di abaikan oleh orang tua yang menikahkan anaknya di usia dini.
Menurut Dariyo (2003) menikah harus memiliki kasiapan mental yang mengandung pengertian kondisi psikologis emosional untuk siap menanggung resiko yang timbul selama hidup dalam pernikahan. Pernikahan merupakan perjanjian perikatan antara pihak seorang laki – laki dan seorang perempuan untuk melaksanakan kehidupan suami istri dalam hidup berumah tangga sebagai bagian dari pengalaman perilaku sosial, identitas yang jelas, ideal diri yang realistis, kepuasan penampilan peran, harga diri yang tinggi, sehingga menunjukkan konsep diri yang positif. Konsep diri yang positif dalam remaja timbul dari remaja yang memiliki penampilan fisik yang sehat, energik dan bentuk tubuh menawan, hubungan yang harmonis baik itu di lingkungan keluarga atau teman sebaya.
Fakta di lapangan remaja yang melakukan pernikahan mempunyai konsep diri yang rendah.
Dilihat dari persepsi setiap remaja tentang dirinya, yang merasa bahwa dirinya berbeda dengan teman sebaya lainnya, selalu merasa tidak puas dan membanding – bandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga remaja merasa malu dan tidak berharga sebagai remaja wanita yang sudah menikah. Dalam hal hubungan sosial remaja dominan mengatakan kurang mampu bersosialisasi dengan keadaan lingkungan. Tidak mampu berkomunikasi dengan baik di lingkungan keluarga atau masyarakat. Persepsi remaja yang menikah dini mengenai keadaan fisiknya yang merasa berbeda dari sebelum mempunyai anak, setelah menikah dan mempunyai anak mereka mengatakan kurang merawat kesehatan tubuhnya. Perubahan penampilan fisik tersebut membuat remaja menjadi kurang
174
percaya diri dan tidak pernah merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Peneliti memandang bahwa adanya dampak terhadap konsep diri bagi remaja yang menikah pada usia dini yaitu < 20 tahun.
Dimana faktor psikologis dapat berpengaruh dalam pembentukan konsep diri yang positif.
Remaja yang menikah dini selalu menilai dirinya negatif, tidak dapat menerima keadaan dirinya sendiri, merasa dirinya tidak berarti, remaja tidak dapat memerankan perannya di lingkungan sosial, tidak mampu melakukan tugas – tugas atau tanggung jawab serta kewajiban sebagai seorang istri.
Dalam konteks pendidikan, penelitian Landung dkk (2009) dan menjelaskan bahwa rendahnya tingkat pendidikan orang tua, menyebabkan adanya kecenderungan menikahkan anaknya yang masih di bawah umur. Hal tersebut berkaitan dengan rendahnya tingkat pemahaman dan pengetahuan orangtua terkait konsep remaja gadis. Pada masyarakat Desa Langensari umumnya terdapat suatu nilai dan norma yang menganggap bahwa jika suatu keluarga memiliki seorang remaja gadis yang sudah dewasa namun belum juga menikah dianggap sebagai aib keluarga, sehingga orang tua lebih memilih untuk mempercepat pernikahan anak perempuannya. Jannah (2012) menambahkan bahwa rendahnya pendidikan merupakan salah satu pendorong terjadinya pernikahan dini.
Para orang tua yang hanya bersekolah hingga tamat SD merasa senang jika anaknya sudah ada yang menyukai, dan orang tua tidak mengetahui adanya akibat dari pernikahan muda ini.
Keberadaan budaya lokal (Parampo Kampung) memberi pengaruh besar terhadap pelaksanaan pernikahan dini, sehingga masyarakat tidak memberikan pandangan negatif terhadap pasangan yang melangsungkan pernikahan
meskipun pada usia yang masih remaja. Hal ini yang menyebabkan kaum pemuka adat tidak merniliki kemampuan untuk dapat mengatur sistem budaya yang mengikat bagi warganya dalam melangsungkan perkawinan karena batasan tentang seseorang yang dikatakan dewasa masih belum jelas (Landung dkk, 2009).
Sejalan dengan Landung dkk (2009), Syafiq Hasyim dalam Jannah (2012) menyebutkan bahwa dalam konteks Indonesia pernikahan lebih condong diartikan sebagai kewajiban sosial dari pada manifestasi kehendak bebas setiap individu. Secara umum, dalam masyarakat yang pola hubungannya bersifat tradisional, pernikahan dipersepsikan sebagai suatu “keharusan sosial” yang merupakan bagian dari warisan tradisi dan dianggap sakral. Sedangkan dalam masyarakat rasional modern, perkawinan lebih dianggap sebagai kontrak sosial, dan karenanya pernikahan sering merupakan sebuah pilihan. Cara pandang tradisional terhadap perkawinan sebagai kewajiban sosial ini, tampaknya memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap fenomena kawin muda yang terjadi di Desa Langensari Kec. Blanakan Kab.
Subang tersebut.
E. Simpulan
1. Responden di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang yang memiliki umur kurang dari 20 tahun sebagian besar (57,3%) dan yang memiliki usia lebih dari 20 tahun hampir setengah responden (42,7%).
2. Responden di Desa Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang yang memiliki konsep diri tinggi sebagian besar (62,2%) dan yang memiliki konsep diri rendah hampir setengah responden (37,8%).
3. Terdapat hubungan antara usia pernikahan (16 – 20 tahun) dengan konsep diri pada remaja wanita di Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas Blanakan Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang (P = 0,002).
F. Saran
1. Bagi orang tua yang memiliki anak remaja hendaknya tidak terlalu cepat untuk menikahkan anaknya karena akan berdampak pada perkembangan psikologis anaknya dengan mempertimbangkan usia yang matang yaitu di atas 20 tahun.
2. Bagi Tokoh Masyarakat Desa Langensari yang bertugas menikahkan kelompok usia remaja agar memberi nasehat pada remaja dan orang tua yang memiliki anak remaja agar tidak terburu-buru dalam melakukan pernikahan sehingga kebahagiaan pada saat menjalankan rumah tangga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
3. Bagi Tenaga kesehatan agar mengadakan bimbingan penyuluhan yang ditujukan pada orang tua dan remaja, sebagai solusi untuk mencegah maraknya pernikahan dini.
Karena orang tua dianggap sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadap maraknya pernikahan anak usia remaja.
G. Referensi
Agustiani, H. (2009). Psikologi Perkembangan (Pendekatan Ekologi Kaitannya Dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri Pada Remaja). Bandung : Refika Aditama
Ali, Muhammad. (2005). Psikologi Remaja.
Jakarta : Bumi Aksara
BKKBN. (2011). 50 Persen Perempuan Jabar Menikah Muda. Diakses dalam www.jabar.bkkbn.go.id diperoleh tanggal 7 Februari 2014
BKKBN. (2012). Kajian Pernikahan DiniPada
Beberapa Provinsi Di
Indonesia:Dampak Overpopulation, AkarMasalah Dan Peran Kelembagaan DiDaerah. Diakses dalam www.bkkbn.go.id diperoleh tanggal 30 Januari 2014
Calhoun, J.F., dan Acocella, J.R. (2004).
Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Edisi Ketiga. Alih bahasa: Ny. RS.
Satmoko. Semarang: IKIP Semarang Press
Depkes RI. (2001). Pedoman Kesehatan Jiwa Remaja (Pegangan bagi Dokter
Puskesmas) Depkes dan
Kesejahteraan Sosial. Jakarta : RI Dirjen Kesmas Depkes
Dariyo, Agoes. (2003). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta : Salemba Medika
Harlock, E.B. (2006). Perkembangan Anak Jilid 2. Edisi Keenam. Alih bahasa oleh Meitasari Tjandarasa. Jakarta:
Erlangga
Keliat, Budi A. (2005). Gangguan Konsep Diri.
Jakarta : EGC
Kumalasari, Intan. (2012). Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Salemba Medika Manuaba, I. A., Manuaba, I. B dan Manuaba, I.B.G. (2009). Memahami Reproduksi Wanita. Jakarta : EGC
Mappiare, A. (2004). Psikologi Orang Dewasa Bagi Penyesuaian dan Pendidikan.
Surabaya: Usaha Nasional
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Poltekkes Depkes Jakarta I. (2010). Kesehatan Remaja: Problem dan
176
Solusinya. Jakarta : Salemba Medika
Potter & Perry. (2005). Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC Sarwono, W.S. (2011). Psikologi Remaja.
Edisi Revisi. Cet-14. Jakarta : Rahawali Pers
Sumiati,dkk. (2009). Kesehatan Jiwa Remaja dan Konseling. Jakarta : Trans Info Media
Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya.
Jakarta : Sagung Seto
Stuart & Sundeen. (2005). Buku Saku Keperawatan. Jakarta : EGC Walgito, Bimo. (2004). Bimbingan dan
Konseling Perkawinan.
Yogyakarta : Yayasan Penerbit fak. Psikologi UGM
Widyastuti, Y. Dkk. (2009). Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Fitramaya