ISBN: 979-95999-3-8
PUBLIKASI ILMIAH
PERENCANAAN ENERGI PROVINSI GORONTALO
2000 – 2015
EDITOR:
Drs. Abubakar Lubis, MSc, APU Ir. Cecilya L.M. Sastrohartono, M.Sc
Jakarta, April 2004
PUSAT PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI KONVERSI DAN KONSERVASI ENERGI
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
ISBN 979 – 95999 – 3 – 8
PUBLIKASI ILMIAH
PERENCANAAN ENERGI
PROVINSI GORONTALO 2000 – 2015
EDITOR:
Drs. Abubakar Lubis, MSc, APU Ir. Cecilya L.M. Sastrohartono, M.Sc
Jakarta, April 2004
PUSAT PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI KONVERSI DAN KONSERVASI ENERGI
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Publikasi Ilmiah:
Perancanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 – 2015 Editor:
Lubis, Abubakar, Drs, MSc, APU.
Sastrohartono, LM, Cecilya, Ir.,MSc - Jakarta
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Konversi dan Konservasi Energi, BPPT, 2004
vi, 82 halaman, 29 cm
ISBN 979 – 95999 – 3 – 8
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 – 2015
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun tanpa izin sah dari penerbit.
Disain cover oleh: M. Sidik Boedoyo
Diterbitkan oleh:
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Konversi dan Konservasi Energi, BPPT Jl. M.H. Thamrin No.8, Jakarta 10340, Telp. +62 (21) 316-9754
Fax. +62 (21) 316-9765
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Pada tahun 2001, diresmikan Provinsi Gorontalo yang merupakan pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara, yang terdiri dari dua Kabupaten yaitu kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo dan 1 Kota Madya yaitu Kodya Gorontalo. Dua tahun kemudian yaitu pada awal tahun 2003, provinsi tersebut mengalami pemekaran, dimana kabupaten Gorontalo dimekarkan menjadi kabupaten Gorontalo dan Bonebolango serta kabupaten Boalemo dimekarkan menjadi Boalemo dan Pahuwato. Sebagai provinsi yang baru berkembang, disadari bahwa kegiatan ekonomi dan pemanfaatan sumberdaya alam belum diselenggarakan secara optimal. Oleh karena itu dalam meningkatkan pembangunan serta pendapatan daerah perlu dilaksanakan pemacuan aktivitas di semua sektor penggerak ekonomi yang selanjutnya akan berakibat pada peningkatan kebutuhan energinya, terutama dengan digulirkannya otonomi daerah.
Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, sumberdaya alam yang terkandung di wilayah Gorontalo perlu untuk dikengbangkan dan dimanfaatkan secara berkesinambungan, oleh karena itu perencanaan energi Provinsi Gorontalo jangka panjang secara terintegrasi dan berkesinambungan sangat diperlukan. Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo Jangka Panjang sendiri bertujuan untuk memberikan gambaran tentang strategi penyediaan energi Provinsi Gorontalo secara menyeluruh, terintegrasi, ramah lingkungan dan berkesinambungan. Selanjutnya strategi serta hasil analisis lainnya dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dalam menganalisis prioritas pengembangan energi berdasarkan kebutuhan dan penyediaan energi dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya energi setempat. Prioritas pengembangan energi tersebut diharapkan dapat memberikan sumbangan yang positif bagi pelaksanaan otonomi di daerah. Selain itu, hasil perencanaan energi ini juga dapat dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan dalam pemilihan jenis energi dan teknologi serta membantu para investor di bidang energi dan industri yang berkeinginan untuk menanamkan modalnya di wilayah Provinsi Gorontalo.
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Konversi dan Konservasi Energi (P3TKKE), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang merupakan salah satu institusi yang telah berpengalaman dalam bidang perencanaan energi nasional dan daerah jangka panjang sejak tahun 1980, pada tahun 2003 telah membuat penelitian tentang Perencanan Energi Provinsi Gorontalo jangka panjang (2000 – 2015). P3TKKE- BPPT mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo yang sangat mendukung pada proses pencarian data, sehingga penelitian ini dapat terlaksana.
Hasil penelitian ini dipublikasi dalam bentuk buku oleh P3TKKE-BPPT dengan judul “Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015”. Penulisan dalam publikasi ilmiah ini terdiri dari beberapa makalah yang meliputi berbagai topik penelitian yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menentukan sistem penyediaan energi Provinsi Gorontalo.
Tujuan dari Publikasi Ilmiah ini adalah untuk menampung dan mengkomunikasikan hasil penelitian serta menyebarluaskan ke berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan masyarakat energi lainnya agar dapat digunakan sebagai acuan bagi pengambil keputusan, peneliti, akademis dan bagi semua pihak yang berkepentingan.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
ii Dengan segala keterbatasan, kami menyadari bahwa publikasi ilmiah ini masih belum sempurna dan diharapkan sumbang saran berupa masukan dan informasi yang dapat mendukung dan menyempurnakan penelitian selanjutnya.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Jakarta, April 2004
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Konversi dan Konservasi Energi, BPPT Direktur,
Drs. Agus Salim Dasuki, M.Eng
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iii
RINGKASAN EKSEKUTIF v
TOPIK PENELITIAN
1. Analisis Potensi Sumber Daya Energi Di Provinsi Gorontalo 1 Indyah Nurdyastuti
2. Analisis Energy Balance Provinsi Gorontalo Tahun 2000 sampai dengan 2015 9 Erwin Siregar
9. Analisis Kebutuhan dan Penyediaan Listrik Di Provinsi Gorontalo 17 La Ode M. Abdul Wahid
3. Analisis Penyediaan dan Kebutuhan Energi Sektor Rumah Tangga Di Provinsi Gorontalo 30 Nona Niode
4. Analisis Kebutuhan dan Penyediaan Energi Sektor Komersial Provinsi Gorontalo 38 Much. Muchlis
5. Analisis Kebutuhan dan Penyediaan Bahan Bakar Minyak Di Sektor Transportasi 45 Di Provinsi Gorontalo
M. Sidik Boedoyo
6. Analisis Proyeksi Kebutuhan Energi Sektor Industri Di Provinsi Gorontalo 53 Irawan Rahardjo
7. Analisis Kebutuhan Energi pada Sektor Pertanian Di Provinsi Gorontalo 64 Endang Suarna
8. Analisis Kebutuhan Energi untuk Sektor Perikanan Di Provinsi Gorontalo 73 Hari Suharyono
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
v
RINGKASAN EKSEKUTIF
Gorontalo merupakan provinsi termuda di Pulau Sulawesi. Sebagai provinsi termuda fasilitas yang ada dapat dirasakan belum mencukupi sehingga masih diperlukan pembangunan di segala sektor.
Pembangunan di Gorontalo ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan perekonomian yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan daerah.
Peningkatan perekonomian secara tidak langsung akan memacu aktivitas di semua sektor penggerak ekonomi. seperti sektor pertanian, kelautan, pertambangan&energi, kehutanan & perkebunan, serta perindustrian & perdagangan yang berakibat akan meningkatkan kebutuhan energi.
Peningkatan kebutuhan energi harus diimbangi dengan ketersediaan energi secara berkesinambungan dan terintegrasi agar aktivitas di semua sektor penggerak ekonomi dapat tumbuh sesuai yang diharapkan.
Dalam merencanakan kebutuhan dan penyediaan energi Provinsi Gorontalo. digunakan Model LEAP (Long-range Energy Planning System) dengan masukan data kebutuhan energi per sektor dan laju pertumbuhannya, potensi energi yang tersedia, serta teknologi transformasi dan konversi yang digunakan serta akan digunakan di kemudian hari.
Berbagai masukan diperlukan dalam melaksanakan penelitian perencanaan energi Provinsi Gorontalo, dimana masukan serta hasil perencanaan tersebut diteliti dan dianalisis oleh peneliti- peneliti di P3TKKE, BPPT secara mendalam dan dituangkan dalam tulisan, sebagai berikut:
- Potensi energi dilaksanakan Ir. Indyah Nurdyastuti, APU.
- Neraca energi dilaksanakan oleh Ir. Erwin Siregar
- Penyediaan Listrik dilaksanakan oleh Ir. La Ode M Abdul Wahid.
- Kebutuhan energi Rumah tangga dilaksanakan oleh Dra. Nona Niode - Kebutuhan energi Komersial dilaksanakan oleh Ir. Mochamad Muchlis.
- Kebutuhan energi Transportasi dilaksanakan oleh Ir. M. Sidik Boedoyo, M.Eng, - Kebutuhan energi Industri dilaksanakan oleh Ir. Irawan Rahardjo, M.Eng,.
- Kebutuhan energi Pertanian dilaksanakan oleh Ir. Endang Suarna.
- Kebutuhan energi Perikanan dilaksanakan oleh Dr. Hari Suharyono
Konsumsi energi sektor rumah tangga dapat dibagi menjadi memasak, penerangan dan penggunaan peralatan lain, Yang dimaksud peralatan lain adalah pendingin ruang (AC), lemari pendingin, rice cooker, kipas angin dan lain-lain.
Gambaran konsumsi energi di sektor rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 1.
TABEL1. KONSUMSI ENERGI RUMAH TANGGA MEMASAK DAN PENERANGAN 2000
Setara Barel Minyak (BOE) Jenis Energi Memasak Penerangan Peralatan Lain Total R.T Kayu (arang. sekam. batok
kelapa dll)
1.169.300
1.169.300
Listrik 16.000 17.498 11.000 44.498
LPG 525 525
Minyak Tanah 60.200 90.703 150.903 Total 1.246.025 108.201 11.000 1.365.226 Pada tahun 2000, konsumsi energi sektor transportasi yang terdiri dari bensin dan minyak solar mencapai berturut-turut 52.180 Kiloliter dan 30.360 Kiloliter. Bahan bakar premium dipakai oleh semua jenis kendaraan sedan, 70% wagon, 60% pick up, mikrolet, opelet, ambulan, bentor (bendi motor) dan sepeda motor. Sedangkan sisa persentase dari jumlah wagon dan pick up, yaitu 30%
wagon dan 40% pick up memanfaatkan bahan bakar minyak solar. Jenis kendaraan lain yang menggunakan bahan bakar minyak solar adalah truk, bus, pemadam kebakaran dan angkutan berat.
Dari semua jenis kendaraan yang terdapat di Provinsi Gorontalo yang berfungsi sebagai angkutan umum utama, khususnya di Kota dan Kabupaten Gorontalo adalah bentor dan mikrolet.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
vi Pada sektor industri di Provinsi Gorontalo, industri menengah – kecil menggunakan energi jauh lebih besar dibanding dengan konsumsi energi industri besar dan sedang.
Industri besar dan sedang terdiri dari industri makanan-minuman, tekstil, kayu serta bahan galian logam maupun bukan logam, sedangkan industri kecil menengah terdiri dari kerajinan, gula aren, aneka industri, meubel, pandai besi, gerabah, batubata dan lain-lain. Konsumsi sektor industri untuk kedua ketegori industri tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.
TABEL 2 KEBUTUHAN ENERGI SEKTOR INDUSTRI TAHUN 2000PER KELOMPOK
Setara Barel Minyak (BOE)
Kelompok Industri Premium
Minyak Tanah
Minyak
Solar LPG Kayu Sekam Batok
Kelapa Listrik Industri Besar dan Sedang 43,2 204,9 10.258,0 211,82 14.462,0 --- 30.907,0 554,8 Industri Kecil dan Menengah 450,1 3.130,2 39.105,0 30.785,0 22.320.0 57.652,0 5.321,0 Sumber: Hasil Olahan berdasarkan data dari Pertamina. PLN dan BPS
Sektor perikanan laut menunjukkan bahwa dengan luas total perairan laut adalah sekitar 50.500 km2 dimana kira-kira seluas 10.500 km2 berupa perairan teritorial (12 mil dari pantai) dan seluas 40.000 km2 berupa perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan potensi ikan sebesar 82.200 ton ikan per tahun dan berupa rumput laut, ikan karang, teripang dan mutiara, terdapat potensi sebesar kira-kira 57.400 ton per tahun. Sedangkan dari budidaya perikanan darat terdapat potensi sebesar 12.200 ton ikan per tahun.
Pemakaian energi pada sektor perikanan dapat dikelompokkan atas dua jenis, yaitu untuk mesin penggerak dan untuk penerangan. Pada mesin penggerak digunakan premium dan minyak solar.
sedangkan untuk penerangan pada sarana dan peralatan penangkapan ikan digunakan minyak tanah.
Konsumsi energi pada tahun 2000 diperhitungkan sebagai berikut: Premium sebesar 3885 Kilo liter.
Solar sebesar 206 Kilo Liter dan minyak tanah sebeser 1281 Kilo Liter.
Sektor komersial secara langsung maupun tidak langsung, memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan daerah. Sektor komersial terdiri dari perbankan. perhotelan. restoran dan perdagangan. Kebutuhan bahan bakar minyak pada sektor ini berkembang dengan laju yang relatif moderat yaitu 7,4% per tahun.
Konsumsi energi dalam tahun 2000, berupa minyak solar sebesar 6 BOE, listrik sebesar 9063 BOE, minyak tanah sebesar 3261 BOE dan LPG sebesar 5 BOE.
Sektor pertanian merupakan sektor yang paling penting dalam pembangunan ekonomi Provinsi Gorontalo. karena sektor tersebut mempunyai sumbangan yang paling besar terhadap struktur ekonomi yang direpresentasikan dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB).
Berdasarkan harga konstan pada tahun 2000 lebih dari 30% PDRB Provinsi Gorontalo disumbang oleh sektor pertanian.
Penggunaan energi di sektor ini adalah untuk traktor, RMU, Power Thresher, dan pompa air. Pada tahun 2000 diperkirakan konsumsi energi sektor pertanian adalah minyak solar sebagai bahan bakar traktor dan pengering; bensin untuk power sprayer dan minyak tanah juga dipakai untuk pengering.
Konsumsi solar pada sektor pertanian tahun 2000 adalah sebesar 1196 KL, Minyak tanah sebesar 36 KL dan Premium sebesar 62 KL.
Dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 1,7% pertahun, dimana sektor pertanian mempunyai pertumbuhan terbesar yaitu 26% pertahun selama 10 tahun, sektor transportasi 7,6%, komersian 7,4%, Perikanan 1,7% sedangkan rumah-tangga mempunyai pertumbuhan terendah yaitu 0.2%
pertahun. Rendahnya pertumbuhan kebutuhan energi ini disebabkan meningkatnya efisiensi penggunaan energi, antara laian untuk memasak beralihnya penggunaan kayu bakar yang mempunyai efisiensi 12,5% dengan minyak tanah dengan efisiensi 30%, serta LPG dengan efisiensi 50% akan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan kebutuhan.
Proyeksi kebutuhan energi di Provinsi Gorentalo untuk setiap sektor pemakai di Provinsi Gorontalo dapat dilihat pada Tabel 3.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
vii TABEL 3. PROYEKSI KEBUTUHAN ENERGI DI PROVINSI GORONTALO.
Setara Barel Minyak (BOE)
Sektor 2005 2007 2009 2011 2013 2015
Rumah-tangga 3.312.400,0 3.327.200,0 3.340.300,0 3.351.900,0 3.361.800,0 3.378.400,0
Komersial 37,3 42,7 49,6 58,1 66,4 76,5
Transport 339.355,4 390.405,7 450.615,8 521.864,5 606.447,7 707.174,8 Industri 305.579,1 348.053,0 391.012,0 434.656,7 478.886,3 523.701,9 Pertanian 9573,2 9.740,0 9.894.2 10.102,2 10.165.2 10.282.0 Perikanan 32.657,1 33.548.1 34.463.4 35.403.7 36.369.6 37.361.9 Total Kebutuhan 4.293.516,0 4.410.922,4 4.625.553,4 4.672.618,5 4.912.548,4 5.085.792,2
Sumber: Perhitungan sektoral
Energy balance atau neraca energi adalah suatu tabel yang menunjukkan seluruh aliran energi mulai dari produksi, ekspor, impor energi sampai dengan penggunaan sektoral. Dalam energy balance seluruh konsumsi energi harus dapat dipenuhi oleh penyediaan energi, baik berasal dari produksi sendiri maupun dari impor.
Pada tahun 2000, semua pembangkitan listrik di Provinsi Gorontalo dihasilkan dari PLTD dengan bahan bakar minyak solar dan belum ada diversifikasi sumberdaya energi. Tahun 2005, merupakan tahun awal dimanfaatkannya tenaga hidro sebagai pembangkit listrik , sedangkan tahun 2009 merupakan tahun awal beroperasinya PLTU Batubara di provinsi ini. Batubara tersebut diimpor dari Kalimantan Timur yang relatif dekat dari Provinsi Gorontalo. Hal yang perlu diperhitungkan adalah belum adanya fasilitas penerimaan dan penyimpanan batubara.
Sumberdaya panas bumi ada di bumi Gorontalo, tetapi baru dimanfaatkan pada akhir periode, hal ini karena teknologi panas bumi relatif cukup tinggi dan memerlukan investasi yang cukup besar pula.
Hasil Model LEAP menunjukkan bahwa listrik panas bumi dapat memasuki jaringan kelistrikan di Provinsi Gorontalo pada tahun 2015.
Neraca energi Provinsi Gorontalo tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel. 4 dibawah ini.
TABEL 4. ENERGY BALANCE TABLE PROV. GORONTALO TAHUN 2015
Setara RibuBarel Minyak (Ribu BOE) Listrik Prem Mnyk
Tanah Solar LPG Btbra Kayu Hidro Panas
Bumi Batok Klp Sekam Total Produksi 0 0 0 0 0 0 1.346 10 23 218 50 1.647
Import 0 385 241 713 6 298 0 0 44 0 0 1.686
Eksport 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Tot Pri Sup 0 385 241 713 6 298 1.346 10 67 218 50 3.333 Listrik 221 0 0 -254 0 -298 0 -10 -67 0 0 -408
Distribusi -27 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -27
Tot Transf 195 0 0 -254 0 -298 0 -10 -67 0 0 -435
Industri 43 2 3 98 0 0 110 0 0 218 50 524
Transport 0 358 0 350 0 0 0 0 0 0 0 707
R-tangga 122 0 215 0 5 0 1.236 0 0 0 0 1.578
Pertanian 0 0 1 9 0 0 0 0 0 0 0 10
Komersial 30 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 42
Perikanan 0 25 11 2 0 0 0 0 0 0 0 37
Tot Dmd 195 385 241 458 6 0 1.346 0 0 218 50 2.898 Sumber: Keluaran Model LEAP
Hal-hal yang dapat disimpulkan dari hasil perencanaan energi Provinso Gorontalo ialah:
- Terdapat potensi energi yang cukup bervariasi di Provisnsi Gorontalo, baik berupa mini dan mikro hidro, panas bumi, kayu, dan berbagai energi terbarukan lainnya.
- Sampai tahun 2004 jenis pembangkit listrik di Gorontalo masih tetap PLTD, sedangkan menginjak tahun 2005, minihidro mulai dikembangkan, dan sejak tahun 2009 batubara juga mulai memasuki jaringan dan pada tahun 2015 panasbumi akan dapat bersaing dengan jenis pembangkit lainnya.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 1
ANALISIS POTENSI SUMBER DAYA ENERGI
Indyah Nurdyastuti
Abstract
Gorontalo Province has many energy resources, however the energy resources are not utilized optimally. In addition, the fossil fuels and renewable energy potential in the province is not researched yet.
The energy resources potential can be developed, if the local government is willing to explore the potential intensively. The energy resources exploration has to be parallel with local government planning on energy potential development from source to market. Therefore, the energy resources development in Gorontalo Province has to be supported by local government Policy.
1 PENDAHULUAN
Provinsi Gorontalo terbentuk dari hasil pemekaran wilayah Sulawesi Utara, sehingga Provinsi Gorontalo merupakan provinsi termuda di Pulau Sulawesi. Sebagai provinsi termuda fasilitas yang ada dapat dirasakan belum mencukupi, sehingga masih diperlukan pembangunan disegala sektor.
Pembangunan disegala sektor di Provinsi Gorontalo ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan perekonomiannya yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan daerah.
Peningkatan perekonomian secara tidak langsung akan memacu aktivitas di semua sektor penggerak ekonomi, seperti sektor pertanian, kelautan, pertambangan&energi, kehutanan&perkebunan, serta perindustrian&perdagangan, yang berakibat akan meningkatkan kebutuhan energin. Peningkatan kebutuhan energi harus diimbangi dengan ketersediaan energi secara berkesinambungan dan terintegrasi agar aktivitas di semua sektor penggerak ekonomi dapat tumbuh sesuai yang diharapkan.
Ketersediaan energi secara berkesinambungan dan terintegrasi dapat terlaksana apabila didukung dengan adanya Perencanan Energi Provinsi Gorontalo Jangka Panjang. Dengan adanya perencanaan energi jangka panjang di Provinsi Gorontalo tersebut, gambaran strategi penyediaan energi dalam memenuhi kebutuhan energi dapat diperoleh. Dengan demikian permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan konsumsi energi dan penyediaan energinya terbatas dapat dijawab.
Selain itu perencanaan energi jangka panjang tersebut juga dapat menjawab permasalahan dampak lingkungan yang diakibatkan dari peningkatan pemakaian energi fosil dan kompetisi penyediaan energi impor dengan sumber daya energi setempat. Oleh karenanya dalam membuat strategi penyediaan energi tersebut harus didasarkan pada beberapa pertimbangan seperti aspek ekonomi, sumber daya energi, dan alternatif penggunaan teknologi energi (kilang minyak, kilang gas, pembangkit listrik dan peralatan yang mengkonsumsi energi).
Ketersediaan data potensi sumber daya energi setempat dan alternatif penggunaan teknologi energi sangat diperlukan guna mendukung keberhasilan dari hasil strategi penyediaan energi jangka panjang tersebut. Dengan adanya data potensi sumber daya energi setempat dapat diperkirakan apakah sumber daya energi setempat dapat dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan energi Gorontalo jangka panjang secara berkesinambungan tanpa diperlukan impor energi dari daerah lain atau bahkan dapat mengekspor energi ke daerah lain.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 2
Berdasarkan ulasan ini ternyata secara tidak langsung agar aktivitas di semua sektor penggerak ekonomi dapat tumbuh sesuai yang diharapkan, ketersediaan data potensi sumber daya energi setempat sangat diperlukan guna menentukan penyediaan energi jangka panjang secara berkesinambungan.
2 SUMBER DAYA ENERGI
Gorontalo memiliki berbagai jenis energi, baik berupa energi fosil maupun energi terbarukan. Energi fosil dan energi terbarukan yang dimiliki Gorontalo adalah minyak bumi, gas bumi, biomasa (kayu, batok kelapa dan sekam), tenaga air, panas bumi, tenaga surya, dan tenaga angin.
2.1 Potensi Sumber Daya Minyak Bumi dan Gas Bumi
Gorontalo merupakan provinsi yang diduga memiliki potensi sumber daya minyak bumi dan gas bumi yang tersebar hampir di seluruh cekungan sebelah utara Kwandang di Kabupaten Gorontalo dengan kedalaman laut kurang lebih 200 sampai 1000 meter4. Sayangnya hingga saat ini belum pernah dilakukan usaha pencarian cadangan minyak bumi dan gas bumi tersebut, sehingga belum diketahui dengan pasti besarnya cadangan sumber daya minyak bumi dan gas bumi yang terdapat di Provinsi Gorontalo. Provinsi Gorontalo terletak di Indonesia bagian Timur yang selama ini pengembangan cadangan minyak buminya belum diperhatikan. Dengan ditemukannya cadangan minyak bumi yang potensial sebesar 40 juta Barrel di Papua membuat pemerintah lebih mengkonsentrasikan melakukan pencarian minyak bumi di Indonesia bagian Timur termasuk di Gorontalo. Usaha pencarian sumber daya migas di propinsi ini harus lebih intensif agar dapat meningkatkan jumlah cadangan minyak bumi, mengingat selama ini produksi minyak bumi Indonesia selalu lebih besar dari jumlah cadangan yang baru ditemukan.
Berlainan dengan minyak bumi, cadangan gas bumi di Indonesia masih melimpah, tetapi biasanya dalam pencarian minyak bumi sering ditemukan gas bumi (associated). Dengan diintensifkannya usaha pencarian sumber daya minyak baru di Provinsi Gorontalo, khususnya di cekungan sebelah utara Kwandang di Kabupaten Gorontalo kemungkinan besar akan dapat menambah besarnya cadangan gas bumi Indonesia.
2.2 Potensi Sumberdaya Energi Terbarukan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Provinsi Gorontalo mempunyai sumber daya energi terbarukan yang beraneka ragam jenisnya, seperti tenaga air (hidro dan minihidro), panasbumi, tenaga surya, tenaga angin, dan biomasa yang terdiri dari kayu, limbah pertanian (sekam), dan limbah hutan (batok Kelapa).
2.2.1 Tenaga Air
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertambangan dan Energi, Provinsi Gorontalo, Juni 2003, total potensi tenaga air yang tersebar di wilayah Gorontalo adalah 32134 kW optimum dan 61114 kW maksimum2. Potensi tenaga air tersebut belum dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
Secara keseluruhan Gorontalo mempunyai potensi tenaga air (hidro dan minihidro) yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal, apabila tenaga air tersebut dimanfaatkan melalui PLTA diperkirakan dapat menghasilkan listrik sebesar 166,96 GWh.
Besarnya potensi tenaga air dan prakiraan energi listrik yang dapat diproduksi oleh PLTA ditunjukkan dalam Tabel 1.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 3
TABEL 1 POTENSI TENAGA AIR DAN LISTRIK YANG DIBANGKITKAN PLTA2 Lokasi Tenaga Air di sekitar
Sungai Bone Potensi (MW)
Prakiraan produksi Listrik PLTA
Optimum Maksimum GwH
1. Bulawa 6,94 9,74 22,55
2. Bone-1 14,9 24,74 68,98
3. Bone-2 2,71 9,91 17,15
4. Bone-3 4,93 13,67 46,47
5. Bolango 2,52 2,99 11,81
Total 32,00 61,05 166,96
Hanya tenaga air yang berlokasi di sekitar Sungai Bone yang mempunyai potensi besar, yaitu maksimum 61,05 MW, sedangkan untuk tenaga air yang berlokasi di Kecamatan Tilamuta, Lemito, Paguat dan Suwawa potensinya hanya kecil, yaitu maksimum 264 kW sehingga hanya berpotensi untuk PLTM. Besarnya potensi dan lokasi tenaga air untuk PLTM ditunjukkan pada Tabel 2.
TABEL 2 TENAGA AIR YANG BERPOTENSI UNTUK PLTM2 Lokasi Tenaga Air Potensi Minimum
kW
Potensi Maksimum kW Kec Tilamuta Kab Boalemo
Ayuhulalo I Ayuhulalo
5 31
12 39 Kec Lemito Kab Pohuwato
Panca Karsa Sarambu Lembah Permai I Lembah Permai II
12 5 6 6
31 9 17 14 Kec Paguat Kab Pohuwato
Karya baru I Karya baru II
16 10
22 14 Kec Suwawa Kab Bone Bolango
Lombongo Lombongo I Dumbaya Bulan
15 22 6
40 56 10
Total 134 264
Belum dimanfaatkannya potensi tenaga air di provinsi ini, disebabkan pembangunan PLTA membutuhkan pembukaan lahan yang sangat besar dan kuranganya dukungan pemerintah daerah, sedangkan untuk PLTM belum menarik pemanfaatannya, karena kalah bersaing dengan PLTD.
Besarnya total biaya untuk PLTA 30 MW dengan umur teknis lebih dari 50 tahun adalah US$ 0,024 per kWh dengan perincian biaya kapital sebesar 1700- 2300 US$ per kW, biaya operasi sebesar 0,004 US$ per kWh dan biaya perawatan sebesar 0,003 US$ per kWh. Sedangkan untuk instalasi minihidro diperlukan biaya sebesar 1500 - 2500 US$ per kW (PT Parikesit-BPPT)
.
Dengan terjadinya krisis listrik di Indonesia, provinsi yang mempunyai potensi tenaga air (hidro dan minihidro) seperti Gorontalo, khususnya yang berdomisili di daerah pedesaan dapat membangkitkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Minihydro (PLTM).
2.2.2 Panas Bumi
Di pulau Sulawesi karena sulitnya akses dari lapangan panas bumi ke konsumen menyebabkan potensi panas bumi yang telah dimanfaatkan hanya di daerah Lahendong sebesar 2,5 Mwe, sedangkan lapangan panas bumi yang berlokasi di Provinsi Gorontalo sama sekali belum diproduksi dan masih dalam tahap studi awal.
Lapangan panas bumi di Provinsi Gorontalo tersebar di Lombongo Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango (25 MW), Pentadio Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo (15 MW) dan Mootilango Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo dengan total potensi panas bumi lebih dari
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 4
40 MW. Dari total tersebut hampir 62% berlokasi di Lombongo Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango (Dinas Pertambangan dan Energi).
Agar dapat memaksimalkan pemanfaatan potensi panas bumi, pemerintah daerah Provinsi Gorontalo sebaiknya memberlakukan kebijakan pemanfaatan potensi energi setempat untuk pembangunan pembangkit listrik di masa datang, sehingga pemanfaatan energi terbarukan dapat maksimal.
2.2.3 Biomasa
Di Provinsi Gorontalo biomasa (kayu bakar, sekam dan batok kelapa) dimanfatkan sebagai sumber energi di sektor industri dan rumah tangga. Mengingat tidak adanya data yang mendukung besarnya potensi limbah biomasa di Gorontalo, perkiraan besarnya limbah dihitung berdasarkan luas dan produksi panen serta faktor konversi biomasa.
Luas dan produksi panen dihitung berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2001 tentang “Angka-Angka Luas Panen dan Produksi”, sedangkan faktor konversi biomasa dihitung berdasarkan asumsi dari masing-masing jenis biomasa.
Potensi sekam dihitung dengan menggunakan angka konversi yang ditetapkan oleh Badan Urusan Logistik (BULOG) dengan memperhatikan produksi padi yang ada di Provinsi Gorontalo. Pada tahun 2001 berdasarkan data BPS dan hasil perhitungan, Provinsi Gorontalo dapat menghasilkan padi sebesar 158.871 ton, beras sebesar 0,082 juta ton, merang sebesar 0,037 juta ton dan sekam sebesar 0,039 juta ton(PT Parikesit-BPPT)
.
Pada tahun 1999/2000 data BPS menyebutkan bahwa Indonesia memproduksi kayu bulat sekitar 12,7 juta ton (20,6 juta m3) dan sekitar 18% dari produksi kayu bulat (ton) tersebut berupa Limbah kayu. Limbah kayu yang dihasilkan tersebut diperkirakan sebesar 2.2 juta ton. Sedangkan untuk Provinsi Gorontalo, khususnya sektor industri pada tahun tersebut data BPS menyebutkan output total biomasa sebesar Rp 10194 Juta, apabila diambil harga rata-rata biomasa sebesar Rp 141,67 per kg, besarnya konsumsi biomasa di sektor industri menjadi sebesar 71957,65 ton. Harga rata-rata biomasa sebesar Rp 141,67 per kg dihitung berdasarkan asumsi harga bahan bakar kayu sebesar Rp 125 per kg; harga sekam sebesar Rp 100 per kg dan harga batok kelapa sebesar Rp 250 per kg.
Berdasarkan pangsa dari harga tersebut dan total konsumsi biomasa, konsumsi masing-masing biomasa dapat diperkirakan, yaitu limbah kayu sebesar 21164,01 ton, sekam sebesar 16931,21 ton dan batok kelapa sebesar 33862,42 ton.
2.2.4 Tenaga Surya
Tenaga surya yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik di Provinsi Gorontalo tersebar di Kecamatan Batudaa pantai Kabupaten Gorontalo, Kecamatan Lemito Kabupaten Pohuwato, Kecamatan Marisa Kabupaten Pohuwato dan Marisa Kabupaten Pohuwato Popayato Kabupaten Pohuwato. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengukur besarnya potensi tenaga surya di provinsi ini. Berdasarkan pengukuran yang pernah dilakukan pada posisi geografis 1o32’ LU; 124o55’ BT, intensitas radiasi energi surya di provinsi ini pada kurun waktu 1991-1995 adalah sebesar 4911 kWh/m2. (PT Parikesit-BPPT)
.
Tenaga surya dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik melalui penggunaan modul photovoltaic (PV), yang dimanfaatkan untuk penerangan rumah tangga, khususnya di daerah terpencil. Selain itu tenaga surya juga dapat dimanfaatkan sebagai pemanas air (Solar water Heater) untuk memenuhi kebutuhan sektor rumah tangga, komersial dan pemerintahan di Provinsi Gorontalo. Peningkatan pemanfaatan energi surya sangat ditunjang adanya kebijakan pemerintah yang mencanangkan untuk melistriki rumah di daerah yang terpencil dan terisolasi.
Walaupun sebagian kecil tenaga surya sudah dimanfaatkan di provinsi ini, akan tetapi belum ada data pasti yang memberikan informasi tentang lokasi desa yang memanfaatkan tenaga surya serta besar listrik yang dibangkitkan. Biaya pembangkitan listrik tenaga surya masih lebih mahal dibandingkan tenaga lainnya. Walaupun biaya pembangkitannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan biaya pembangkitan dari energi lainnya berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan PV, besarnya biaya pembangkitan saat ini telah turun dibandingkan dengan biaya pembangkitan sebelumnya. Biaya instalasi PV 50 Wp berkisar 300-500 US$ (Rp 3-5 juta) 6. Sedangkan untuk solar
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 5
thermal biaya yang diperlukan dengan menggunakan Parabolic through adalah sekitar 0,11-0,17 US$
per kWh(PT Parikesit-BPPT)
. 2.2.5 Tenaga Angin
Dibandingkan dengan tenaga surya, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLT Angin) di Indonesia tidak begitu pesat. Hal ini disebabkan potensi yang ada sebagian besar hanya untuk skala kecil atau menengah. Hanya di lokasi-lokasi tertentu saja terutama daerah pantai di Indonesia yang bisa dikembangkan untuk PLT Angin dengan skala besar. Baru ada beberapa PLT Angin yang sudah terpasang di Indonesia, salah satunya adalah di pantai selatan Gunung Kidul, DI Yogyakarta.
Potensi tenaga Angin di Provinsi Gorontalo tersebar di kecamatan Bone pantai Kabupaten Gorontalo, kecamatan Batudaa pantai Kabupaten Gorontalo, kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo, dan kecamatan Paguat Kabupaten Pohuwato yang sampai saat ini belum teridentifikasi.
3 ANALISIS PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI DI PROVINSI GORONTALO
Gorontalo merupakan provinsi yang memiliki sumber daya energi fosil (minyak bumi dan gas bumi) dan energi terbarukan (renewable), sayangnya potensi sumber daya tersebut sampai saat ini belum ada yang dimanfaatkan bahkan terhadap cadangan sumber daya energi fosil belum ada pencarian yang intensif. Sebaiknya dalam waktu dekat, pemerintah daerah mau mengintensifkan pencarian minyak bumi dan gas bumi agar dapat mengurangi impor.
Seiring dengan semakin meningkatnya perekonomian di Provinsi Gorontalo, kebutuhan energinyapun akan meningkat, secara langsung akan meningkatkan pemakaian BBM dan listrik. Padahal hingga kini Provinsi Gorontalo mendapat pasokan BBM dari daerah lain (impor) dan pasokan listrik dari PLN Cabang Gorontalo serta impor dari PLN Wilayah Sulawesi Utara. PLN Cabang Gorontalo membangkitkan listrik dari PLTD, sehingga secara tidak langsung peningkatan produksi listrik PLN akan meningkatkan pasokan BBM impor.
Untuk menekan laju pertumbuhan pasokan BBM impor, subsitusi pemakaian BBM dengan jenis energi lainnya merupakan pilihan yang paling tepat. Selain itu pasokan BBM impor dapat dikurangi apabila pemanfaatan BBM pada semua sektor dapat ditekan dengan jalan memanfaatkan peralatan yang efisien dan merubah pola pemakaian energi ke arah tidak boros energi.
Subsitusi BBM dengan sumber energi lainnya harus didukung dengan adanya kebijakan pemerintah daerah. Selain itu untuk mendukung kebijaksanaan di bidang energi, pemerintah daerah diharapkan secara konsekuen membangun segala fasilitas yang diperlukan secara memadahi dari lokasi sumber energi sampai ke konsumen. Dengan demikian akan meningkatkan keyakinan dan minat masyarakat untuk memanfaatkannya tanpa takut akan terjadi resiko.
Di sektor transportasi (kendaraan bermotor) misalnya, pemakaian BBM (premium dan minyak solar) dapat disubsitusi dengan jenis energi lainnya, seperti fuel cell, CNG dan LPG, sehingga akan dapat mengurangi impor premium dan minyak solar.
Pemakaian BBM (minyak tanah) di sektor rumah tangga di Provinsi Gorontalo tidak begitu dominan, sehingga apabila di kemudian hari subsidi minyak tanah untuk sektor rumah tangga secara bertahap dihapuskan, tidak dapat diragukan rumah tangga yang bermukim di pedesaan atau di daerah terpencil di Provinsi Gorontalo akan lebih memilih biomasa, sedangkan rumah tangga perkotaan selain memilih biomasa juga dapat memilih LPG sebagai bahan bakar kompor.
Berlainan dengan ke dua sektor tersebut, pemakaian energi di sektor industri sudah beranekaragam tergantung jenis produksi dan lokasi industri tersebut. Kebanyakan BBM yang dimanfaatkan di industri sudah disubsitusi dengan sumber energi lainnya, seperti biomasa dan gas. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan masih ada beberapa industri yang tetap memanfaatkan BBM dalam jumlah yang besar dengan catatan apabila pemanfaatan BBM masih dianggap lebih menguntungkan dari pada sumber energi lainnya.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 6
Listrik yang dipasok PLN Cabang Gorontalo berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) dengan bahan bakar minyak solar (disel). Dengan diberlakukannya kebijakan pemerintah untuk menghilangkan subsidi BBM, tidak dapat diragukan pembangunan PLTD tidak akan menarik karena harga minyak solar menjadi mahal, sehingga pemerintah daerah perlu mengembangkan pembangkit lainnya yang lebih murah dengan tetap memperhatikan keandalan dan keamanan. Sayangnya untuk mensubsitusi PLTD dengan pembangkit lainnya, PLN masih menemui beberapa kendala, seperti ketidak tersedianya jaringan distribusi yang tersambung dengan grid PLN. Selain itu, kurangnya pemanfaatan energi renewable di pembangkit listrik PLN, karena pembangunan diesel generator untuk PLTD sangat mudah dan tidak side specific seperti pemanfaatan energi renewable yang sangat bergantung dari lokasi potensinya dan biasanya terletak jauh dari kebutuhan listriknya.
Sampai dengan Mei 2003, jumlah desa yang terlistriki di Provinsi Gorontalo mencapai 379 desa, sedangkan total desa di provinsi ini adalah 403 (PLN Cabang Gorontalo)
. Berarti sekitar 94% desa di provinsi ini telah mendapatkan aliran listrik, sisanya sebesar 24 desa sama sekali belum mendapatkan suplai listrik PLN. 24 desa yang sama sekali belum mendapatkan suplai listrik PLN apabila mempunyai potensi sumber daya energi terbarukan, kebutuhan listriknya dapat dipasok dari pembangkit listrik berbahan bakar sumber daya energi terbarukan setempat.
Pembangunan PLTA, PLTM dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di daerah yang memiliki potensi sumber daya energi terbarukan akan menjadi menarik seiring dengan dihapusnya subsidi BBM yang mempengaruhi terhadap besarnya biaya pembangkitan. Dengan dihapusnya subsidi BBM, biaya pembangkitan PLTA, PLTM dan PLTP akan dapat bersaing dengan PLTD.
Menariknya pembangunan PLTA, PLTM dan PLTP bukan hanya disebabkan dari biaya pembangkitannya, juga jenis pembangkit listrik ini tidak menghasilkan polutan.
Sebagai contoh untuk memperkirakan besarnya biaya pembangkitan dari berbagai jenis pembangkit listrik, perkiraan besarnya biaya investasi, biaya operasi dan biaya perawatan (FIXOM) serta biaya variable (Varom) untuk masing-masing pembangkit listrik diasumsikan sesuai dengan literature yang ada dan perhitungannya dengan mengambil discount rate sebesar 10% per tahun. Besarnya biaya pembangkitan dari masing-masing pembangkit listrik dengan harga minyak solar (disel) yang belum seluruhnya dihapuskan subsidinya ditunjukkan pada Tabel 3.
Contoh perkiraan besarnya biaya pembangkitan dari berbagai jenis pembangkit listrik ini sebagai gambaran bagi masyarakat yang membaca dan diharapkan akan bermanfaat bagi investor yang berminat untuk membangun pembangkit listrik di Provinsi Gorontalo. Perlu diketahui perhitungan ini belum mempertimbangkan besarnya biaya transmisi dan distribusi.
Berdasarkan hasil perkiraan tersebut (Tabel 3) ternyata untuk subsitusi PLTD di masa datang yang paling menguntungkan untuk dibangun secepatnya adalah PLTM, karena pembangunan PLTM tidak seperti PLTA yang memerlukan pembebasan tanah masyarakat yang sangat luas yang memungkinkan terjadinya keterlambatan ijin pembangunan serta adanya permintaan ganti rugi dari masyarakat yang sangat besar.
Pembangunan PLTM tersebut sedapat mungkin tidak merugikan baik di pihak investor/ pemerintah daerah maupun di pihak konsumen. Oleh karenanya pembangunan PLTM di desa-desa yang berpotensi juga diikuti dengan jaminan dari pemerintah daerah pada konsumen atas kesinambungan pasokan listrik dengan harga terjangkau. Agar hal tersebut dapat terlaksana, sebaiknya sebelum melakukan pembangunan atau memilih jenis pembangkit listrik yang akan dibangun terlebih dahulu melakukan kajian tekno-ekonomi secara detail dari berbagai jenis pembangkit listrik yang berpotensi untuk dikembangkan di wilayah tersebut, sehingga penetapan harga jual listrik dari investor/pemerintah daerah tidak memberatkan masyarakat karena dapat bersaing dengan harga jual listrik PLN Cabang Gorontalo.
Selain itu, sebelum pembangunan dilaksanakan sebaiknya ditentukan kontrak jual beli listrik yang harus disepakati bersama seperti besarnya penentuan harga yang berlaku dalam usaha penyediaan tenaga listrik yang mengacu pada perkiraan biaya modal pembangunan proyek secara sehat dan wajar, sehingga harga listrik yang terjual ke konsumen juga wajar atau paling tidak sama dan kalau memungkinkan dapat lebih murah dari harga jual listrik PLN.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 7
TABEL 3 BIAYA PEMBANGKITAN BERBAGAI JENIS PEMBANGKIT LISTRIK 6
Variabel PLTM PLTM PLTP PLTS PLTU
Biomas
PLTD
Discount rate (%) 10 10 10 10 10 10
Forced Outage (%) 9 9 5 7 9 7
Scheduled Outage (minggu/tahun) 6 6 6 4 6 4
Waktu Konstruksi (tahun) 2 2 5 3 5 2
Kapasitas Terpasang (kW) 15 15 15000-55000 0,05 50 100 Biaya investasi (US$/kW)
• Luar Negeri
• Dalam Negeri
700 484,9 215,1
2500 1731,8
768,2
1150 886,6 263,4
6000 4784,8 1215,2
600 415,6 184,4
550 220 330 Disbursment (%/tahun)
• Luar Negeri
• Dalam Negeri Faktor Disbursment
• Luar Negeri
• Dalam Negeri
70; 30 50; 50 1,122 1,101
70; 30 50; 50 1,122 1,101
24; 54; 14; 6; 2 27; 28; 36; 8; 1
1,390 1,365
20; 30; 50 40; 40; 20 1,124 1,179
70; 30 50; 50 1,494 1,466
40; 60 60; 40 1,091 1,112 Biaya investasi (US$/kW) 781,05 2789,45 1592,14 6812,21 891,06 606,84 Umur Peralatan (tahun) 50 50 25 20 20 20 Faktor kontrol biaya kapital 0,101 0,101 0,101 0,117 0,117 0,117
• Biaya Kapital/tahun (US$/kWy)
• Biaya FIXOM/tahun (US$/kWy)
• Biaya Varom/tahun (US$/kWy)
78,8 19,2 0,63
281,3 19,2 0,63
175,4 39,62 48,38
800,2 7,49
104,7 32,88 0,86
71,3 5,5 2,17 Harga bahan bakar (10-3 US$/kWh) 7,5 15 20 Effisiensi (%) 33 33 34,97 38,8 24,4 27 Availability 0,795 0,795 0,835 0,853 0,795 0,835
• Biaya kapital/tahun (10-3 US$/kWh)
• Biaya FIXOM/tahun (10-3 US$/kWh)
11,32 2,85
40,42 2,85
23,99 12,04
107,07 1,002
15,04 4,85
9,54 1,03 Biaya Pembangkitan (10-3US$/kWh) 14,16 43,26 43,48 108,08 34,88 30,57 Biaya Pembangkitan (Cent $/kWh) 1,42 4,33 4,35 10,81 3,49 3,06
4 KESIMPULAN
1. Potensi cadangan sumber daya minyak bumi dan gas bumi di Provinsi Gorontalo belum diketahui dengan pasti, karena belum adanya usaha pencarian cadangan minyak bumi dan gas bumi secara intensif. Dengan intensifnya usaha pencarian cadangan minyak bumi dan gas bumi kemungkinan besar dapat ditemukannya, sehingga cadangan tersebut dapat dikembangkan yang selanjutnya dapat menekan pasokan BBM impor.
2. Pasokan BBM impor dapat dikurangi dengan menganeragamkan pemakaian sumber energinya dan seyogyanya pelaksanaannnya didukung dengan kebijakan pemanfaatan potensi sumber daya energi setempat oleh pemerintah daerah.
3. Berlainan dengan cadangan sumber daya minyak bumi dan gas bumi, potensi tenaga air telah diketahui dengan pasti, sayangnya potensi tenaga air tersebut belum dimanfaatkan. Belum dimanfaatkannya potensi tenaga air tersebut, disebabkan pembangunan tenaga air membutuhkan pembukaan lahan yang sangat besar dan kuranganya dukungan pemerintah daerah, sedangkan untuk PLTM belum menarik pemanfaatannya, karena kalah bersaing dengan PLTD. Pembangunan diesel generator untuk PLTD sangat mudah dan tidak side specific seperti pemanfaatan energi terbarukan (renewable). Pemanfaatan energi terbarukan di pembangkit listrik memerlukan pembangunan yang lebih lama dan sangat bergantung dari lokasi potensinya yang biasanya terletak jauh dari kebutuhan listriknya. Untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan, pemerintah daerah Provinsi Gorontalo sebaiknya memberlakukan kebijakan pemanfaatan potensi daerah untuk pembangunan pembangkit listrik di masa datang, sehingga pemanfaatan energi terbarukan tersebut dapat maksimal.
4. Energi terbarukan, yang berupa panas bumi walaupun lokasi dan potensinya telah diketahui akan tetapi masih diperlukan studi lebih lanjut agar untuk dapat dimanfaatkan. Sedangkan untuk energi biomasa, walaupun sudah banyak dimanfaatkan di sektor industri dan rumah tangga, akan
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Potensi Sumber Daya Energi 8
tetapi belum diketahui secara pasti besarnya potensinya. Begitupula dengan tenaga surya walaupun sebagaian kecil tenaga surya ini sudah dimanfaatkan di Provinsi Gorontalo akan tetapi belum ada data pasti yang meberikan informasi tentang potensi, lokasi desa yang memanfaatkannya serta besarnya listrik yang dibangkitkan. Tenaga angin sampai saat ini belum teridentifikasi, sehingga potensi tenaga angin belum dapat diperkirakan untuk dimanfaatkan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo. Provinsi Gorontalo Dalam Angka 2001. Gorontalo, Juli 2002.
2. Dinas Pertambangan dan Energi. Informasi Potensi Sumber Daya Energi Provinsi Gorontalo.
Juni 2003.
3. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Provinsi Gorontalo. Provinsi Gorontalo 2002, LAKIP-III.
4. Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Potensi Sumber Daya Mineral Dan Energi Kabupaten Gorontalo. Paparan Bupati Gorontalo Dalam Rangka Kunjungan Komisi VIII DPR RI Di Kabupaten Gorontalo, Nopember 2001.
5. PT Parikesit Indotama-BPPT. Laporan Hasil Studi Evaluasi dan Pengkajian Bidang Teknologi Energi. Tim Pelaksana studi PT Parikesit Indotama. Desember 2003.
6. Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL)-BPPT. Tinjauan Ekonomi Alternative Pemanfaatan Renewable pada Pembangkit Listrik Kabupaten Wonosobo. 2003. Tidak dipublikasi
7. P3T KKE-BPPT. Output model LEAP. Januari. 2004
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Energy Balance Tahun 2000 Sampai Dengan 2015 9
ANALISIS ENERGY BALANCE TAHUN 2000 SAMPAI DENGAN 2015
Erwin Siregar
Abstract
Energy Balance Table of Gorontalo Province that obtained from LEAP Model provides energy production, import, export and consumption by energy type in that province. From 2000 to 2015, Gorontalo does not have any refinery products; all of the refinery products consumption (gasoline, kerosene and diesel) and LPG are imported from other areas.
While, electricity consumption in the province besides obtained from import is also supplied from Local Electricity Company (PLN cabang Gorontalo). However, the electricity supplied is not only generated fromm diesel power plant but also generated from other sources, such as hydro, minihydro, coal steam and geothermal.
Biomass that consists of fire wood, coconut shell and paddy husk will be prioritized as energy source, because the biomass potential is big enough and cheap. Therefor biomass will be the main source of energy supply in Gorontalo.
1 PENDAHULUAN
Provinsi Gorontalo merupakan provinsi termuda dengan luas 12215,44 km2 atau 0,64% dari luas Indonesia. Provinsi ini, sebelumnya merupakan salah satu kabupaten di wilayah Provinsi Sulawesi Utara, baru pada tahun 2001 memisahkan diri. Dua tahun kemudian yaitu pada awal tahun 2003, provinsi tersebut mengalami pemekaran. Sebelum mengalami pemekaran provinsi ini terdiri dari dua kabupaten (Boalemo dan Gorontalo) dan satu kotamadya (Gorontalo), selanjutnya kabupaten Gorontalo menjadi kabupaten Gorontalo dan Bonebolango serta kabupaten Boalemo mengalami pemekaran menjadi Boalemo dan Pahuwato. Provinsi Gorontalo terletak antara Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Tengah disebelah timur dan barat, sedangkan disebelah utara dan selatan diapit oleh Laut Sulawesi dan Teluk Tomini. Secara geografis Provinsi Gorontalo terletak antara 0,19o– 1,15o LS dan 121,23o-123,43o BT dengan kondisi geografis berada pada ketinggian antara 0-1000 m dari permukaan laut. Suhu udara antara 20,8oC-34,0oC, kelembaban udara 78%- 85%, arah angin 90o-360o dan kecepatan angin 0,2knot-27knot. Pada bulan Maret, Mei dan Oktober Provinsi Gorontalo mempunyai curah hujan yang relatif tinggi yaitu antara 160 mm-296 mm.
Mengingat Provinsi Gorontalo terletak pada sebaran batuan gunung api yang berumur tersier menyebabkan provinsi ini kaya akan sumber alam seperti bahan balian mineral non logam, bahan galian mineral logam, panas bumi, minyak dan gas bumi.
Pada tahun 2000, Gorontalo mempunyai total penduduk sebesar 840.386 jiwa dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga berlaku sebesar Rp 1,622 trilyun. Kemudian pada tahun 2001, jumlah penduduknya mencapai sekitar 850.798 jiwa. Peningkatan penduduk tersebut diiringi dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi dari 4,89% pada tahun 2000 menjadi 5,8% pada tahun 2001. Kontribusi dari pertumbuhan ekonomi yang besar pada tahun 2001 tersebut berasal dari sektor pertanian sebesar 33,7%, jasa-jasa dan perdagangan sebesar 16,26% dan dari hotel&restoran sebesar 16,01%. Kontribusi sektor pertanian yang sangat besar dikarenakan sektor ini sangat dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan pokok manusia.
Peningkatan perekonomian secara tidak langsung akan memacu aktivitas di semua sektor penggerak ekonomi yang berakibat pada peningkatan kebutuhan energinya. Kebutuhan energi di Provinsi Gorontalo sampai saat ini sebagian besar dipenuhi dengan mengimpor dari daerah lain. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, khususnya untuk mengurangi ketergantungan pada
Analisis Energy Balance Tahun 2000 Sampai Dengan 2015 10
penyediaan energi dari daerah lain, pemerintah daerah perlu berupaya untuk mengembangkan potensi sumber daya energi yang dimiliki agar dapat mengurangi impor energi.
Dalam melakukan upaya pengembangan potensi sumber daya energi yang dimiliki, pemerintah daerah perlu mengkaji potensi sumber daya energi yang ada serta mengkaji penyediaan dan pemenuhan kebutuhan energi ke seluruh sektor pengguna energi secara terencana dan berkesinambungan. Dengan mengkaji potensi sumber daya energi yang dimiliki serta mengkaji penyediaan dan pemenuhan kebutuhan energi, akan memudahkan dalam pemilihan prioritas penerapan jenis energi setempat atau penggunaan energi impor serta teknologi energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi secara berkesinambungan dan efisien.
Pemenuhan kebutuhan energi harus diimbangi dengan ketersediaan energi secara tepat, terintegrasi, dan berkesinambungan agar dapat memperlancar aktivitas di semua sektor pengguna energi, seperti sektor rumah tangga, transportasi, industri, komersial, pertanian dan perikanan. Kesetimbangan antara penyediaan energi dan kebutuhan energi perlu dianalisa agar dapat memberikan gambaran jenis sumber energi yang paling dominan digunakan pada setiap sektor, sehingga ketersediaan dari sumber energi tersebut perlu diperhatikan. Sampai saat ini, energi listrik yang dijual di Provinsi Gorontalo berasal dari PLN wilayah Sulawesi Utara dan sebagian dari PLN cabang Gorontalo. Pada tahun 2002, produksi listrik PLN Cabang Gorontalo mencapai 101.546.895 kWh dengan total penjualan listrik sebesar 83.982.124 kWh. Selama krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, total penjualan listrik di provinsi ini terus meningkat. Agar dapat memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Gorontalo, PLN Cabang Gorontalo dapat membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan potensi sumber daya energi setempat. Hal tersebut mengingat Provinsi Gorontalo mempunyai sumber daya energi terbarukan yang beraneka ragam jenisnya, seperti tenaga air (hidro dan minihidro), panasbumi, tenaga surya, tenaga angin yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Energi listrik merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat dan akan terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi-sosial masyarakat. Tingkat pemakaian energi listrik per kapita dapat dijadikan indikator tingkat kesejahteraan masyarakat dan majunya suatu negara. Sampai dengan Mei 2003, jumlah desa yang telah mendapat aliran listrik di Provinsi Gorontalo mencapai 379 desa sedangkan desa yang belum terlistriki tercatat sebanyak 24 desa atau sekitar 6% terhadap total desa yang ada di Provinsi Gorontalo. Pelanggan PLN yang tercatat sampai dengan Mei 2003 mencapai 48.788 pelanggan dengan rasio elektirifikasi baru sekitar 33%.
2 METODOLOGI
Analisis Energy Balance Table di Provinsi Gorontalo dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2015 dilakukan dengan menggunakan Model LEAP. Model LEAP merupakan singkatan dari Long-range Energy Alternative Program merupakan suatu model suplai-demand energi dengan simulasi yang dikembangkan Stockholm Environment Institute (SEI), Boston Center, Tellus Institute, Boston, USA.
Keluaran model LEAP antara lain adalah Reference Energy System (Diagram Alir Energi), Energy Balance Table yang berisi total penyediaan energi yang terdiri dari produksi, impor dan ekspor energi, total transformasi energi yang terdiri dari energi yang diproduksi per jenis pembangkit listrik dan energi listrik yang dialirkan melalui jaringan transmisi dan distribusi serta total demand per sektor pengguna energi.
Berdasarkan Energy Balance Table yang dihasilkan dari keluaran model LEAP tersebut, selanjutnya dilakukan analisis penyediaan energi untuk memenuhi semua kebutuhan energi per sektor di Provinsi Gorontalo dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2015 guna mengetahui jenis energi yang dominan yang dimanfaatkan di setiap sektor. Hasil analisis tersebut, dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pengembangan potensi energi terbarukan dan tak terbarukan yang ada di Provinsi Gorontalo. Prioritas pengembangan energi tersebut diharapkan dapat memberikan sumbangan yang positif bagi pelaksanaan otonomi masing-masing daerah. Aliran sistem energi menurut Model LEAP ditunjukkan pada Gambar 1.
Perencanaan Energi Provinsi Gorontalo 2000 - 2015
Analisis Energy Balance Tahun 2000 Sampai Dengan 2015 11
Gambar 1. Aliran Energi Provinsi Gorontalo menurut Model LEAP.
3 ENERGY BALANCE PROVINSI GORONTALO
Dari hasil analisis Energy Balance Table Provinsi Gorontalo tahun 2000 sampai dengan 2004 memperlihatkan bahwa walaupun Provinsi Gorontalo sebetulnya kaya akan sumber daya energi, sayangnya sampai tahun 2004 belum ada realisasi pencarian sumber daya energi tersebut, sehingga hampir seluruh sumber daya energi yang dimanfaatkan di impor dari daerah lain.
3.1 Analisis Sektoral Energy Balance Table Saat Ini
Energy Balance Table dari Provinsi Gorontalo pada tahun 2000 ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1 memberikan gambaran produksi, impor dan ekspor serta konsumsi dari berbagai jenis energi yang dibutuhkan.
TABEL 1 GORONTALO ENERGY BALANCE TABLE TAHUN 2000
Setara Ribu Barel Minyak (1000 BOE) Listrik Premium M.Tanah M.Solar LPG Kayu Batok
Kelapa Sekam Total Produksi 0 0 0 0 0 1.214 89 22 1.325 Import 0 145 165 270 1 0 0 0 580
Eksport 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Total Primary
Supply 0 145 165 270 1 1.214 89 22 1.906
Listrik 51 0 0 -130 0 0 0 0 -79
Distribusi -6 0 0 0 0 0 0 0 -6
Total
Transformasi 45 0 0 -130 0 0 0 0 -85 Industri 6 0 3 48 0 45 89 22 214 Transportasi 0 123 0 83 0 0 0 0 206 Rumah-tangga 30 0 150 0 1 1.169 0 0 1.350
Pertanian 0 0 0 8 0 0 0 0 8
Komersial 9 0 3 0 0 0 0 0 12
Perikanan 0 21 8 1 0 0 0 0 30
Total Demand 45 145 165 140 1 1.214 89 22 1.821 Sumber: Keluaran Model LEAP
Pola penyediaan dan konsumsi energi di sektor rumah tangga, transportasi, industri, komersial, pertanian dan perikanan pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 berdasarkan Energy Balance Table sesuai keluaran model LEAP tetap sama. Hal tersebut disebabkan empat tahun merupakan waktu yang sangat singkat untuk merubah pemahaman masyarakat agar mau mengefisiensikan pemakaian energi dengan menerapkan teknologi yang efisien. Sumber daya energi biomasa (kayu bakar, batok kelapa, dan sekam) di provinsi ini mempunyai potensi yang cukup dan mudah didapat
Analisis Energy Balance Tahun 2000 Sampai Dengan 2015 12
dengan harga yang terjangkau, sehingga biomasa menjadi tumpuan dalam memenuhi keburuhan energi di Provinsi Gorontalo.
Pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, Provinsi Gorontalo belum memproduksi bahan bakar minyak (BBM), sehingga seluruh konsumsi BBM (premium, minyak tanah, dan minyak solar) serta LPG diimpor dari daerah lain. Tabel 2 menunjukkan gambaran kesetimbangan penyediaan dan kebutuhan energi di Provinsi Gorontalo pada tahun 2004.
TABEL 2 GORONTALO ENERGY BALANCE TABLE TAHUN 2004
Setara Ribu Barel Minyak (1000 BOE) Listrik Premium Minyak
Tanah
Minyak
Solar LPG Kayu Batok
Kelapa Sekam Total Produksi 0 0 0 0 0 1.231 123 28 1.383
Import 2 271 214 490 2 0 0 0 979
Eksport 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Total Primary
Supply 2 271 214 490 2 1.231 123 28 2.363
Listrik 81 0 0 -216 0 0 0 0 -135
Distribusi -13 0 0 0 0 0 0 0 -13
Total
Transformasi 67 0 0 -216 0 0 0 0 -149
Industri 13 1 2 55 0 62 123 28 285
Transportasi 0 247 0 209 0 0 0 0 457
Rumah-
tangga 45 0 198 0 2 1.169 0 0 1.414
Pertanian 0 0 1 9 0 0 0 0 9
Komersial 12 0 6 0 0 0 0 0 17
Perikanan 0 22 9 1 0 0 0 0 32
Total
Demand 69 271 214 275 2 1.231 123 28 2.214 Sumber: Keluaran Model LEAP
Berlainan dengan konsumsi BBM. listrik yang dikonsumsi di Provinsi Gorontalo. selain di impor dari daerah lain juga disuplai dari PLN cabang Gorontalo yang memproduksi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD). Pola pembangkitan tenaga listrik dari tahun 2001 sampai tahun 2004 di provinsi ini masih mengikuti pola tahun 2000. yaitu membangkitkan listrik hanya dari PLTD.
Sementara itu total konsumsi listrik setiap tahunnya meningkat. sehingga apabila pola penyediaannya tetap sama dikhawatirkan impor minyak solar menjadi makin banyak. padahal subsidi minyak solar oleh pemerintah pusat sudah dihapuskan. Oleh sebab itu pola penyediaan energi di pembangkit listrik harus diupayakan berubah dengan memanfaatkan sumber daya energi yang dimiliki. Akan tetapi mengingat potensi sumber daya energi yang dimiliki oleh provinsi belum dikembangkan dan untuk pengembangannya dibutuhkan waktu. sehingga sampai tahun 2004 belum ada pemanfaatan potensi sumber daya energi yang dimiliki.
Di sektor rumah tangga selain listrik. konsumsi minyak tanah dan kayu bakar juga sangat dominan.
Minyak tanah di sektor rumah tangga sangat berperan karena adanya kebudayaan dari masyarakat di Provinsi Gorontalo untuk memadamkan listrik pada saat tertentu. yaitu tiga hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. sehingga akan dibutuhkan suplai minyak tanah yang berlebih baik sebagai bahan bakar memasak maupun penerangan. Sedangkan kayu bakar khusus untuk sektor ini terdiri dari arang.
batok kelapa. sekam dan kayu yang sangat mudah diperoleh tanpa mengeluarkan biaya yang besar.
sehingga konsumsi kayu bakar untuk sektor ini menjadi sangat besar terutama untuk konsumsi kayu bakar di pedesaan.
Sebagian besar dari kendaraan yang beroperasi di Propinsi Gorontalo memanfaatkan premium dan hanya sebagian kecil kendaraan yang memanfaatkan minyak solar. karena sebagian besar dari jenis kendaraan yang dipertimbangkan beroperasi di provinsi ini adalah sedan. wagon. pick up. mikrolet.
opelet. ambulans. bentor (Bendi Motor) dan sepeda motor yang memanfaatkan premium sebagai bahan bakar. Mengingat hal tersebut. konsumsi bahan bakar premium akan menjadi lebih besar dibandingkan dengan konsumsi minyak solar.