Hasil penelitian
ANALISIS STRUKTURAL DAN MAKNA
MITOS DEWI SARASWATI DAN MITOS DEW DURGA PADA ORANG BALI
Oteh:
Dr. I Wayan Suwena, M.Hum.
NtP. 1 95809021 98601 I 001
UNIVERSITAS UDAYANA FAKULTAS ILMU BUDAYA PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI
DENPASAR 2 0 1 6
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa I lda Sang Hyang WdiWasa, karena atas rahmat-Nya sehingga karya tulis ini yang bersifat ilmiah ini dapat diwujudkan. Adapun judul karya ilmiah ini, yaitu ANALISIS STRUKTURAL DAN MAKNA MITOS DEWI SARASWATI DAN MITOS DEWI DURGA PADA ORANG BALI.
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempuma. Dengan demikian, pada kesempatan ini penulis mengharapkan masukan berupa sanan-saran maupun kritik yang bersifat membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan karya tulis ini.
Terwujudnya karya tulis ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu, penulis tidak lupa menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan- nya.
Akhimya, penulis mengharapkan semoga karya tulis ini ada manfaatnya bagi pana pembaca. Semoga...
Denpasar, 23 Desember 2016 Penulis,
DAFTAR ISI
IGTA PENGANTAR DAFTAR ISI
ABSTRAK
A, PENGANTAR
, l | ^ a - - - A
' .
i .L-atar Befakang permasafan", ...
2. Kerangka Teori
^ r . . .
Halaman ii iii iv
. . . 1 . . . 1 ' ' . ' , . ' ' ' . z6
3. MetodeAnalisis ...
DAFTAR PUSTAKA
B. PEMBAHASAN D E W D U R G A MITOS DEWI SARASWATI DAN MITOS
. . . s 1. Teks a. Mitos b . M i t o s Mitos D e w i Dewi Dewi Saraswati D u r g a . . . Saraswati ... dan Mitos Dewi Durga ... ... . . . 6ss
2' Miteme dan ceriteme Mitos Dewi saraswatidan Mitos
D e w i D u r g a . . . . . . 1 0 a. Miteme dan Ceriteme Mitos Dewi Saraswati ... 10 b. Miteme dan Ceriteme Mitos Dewi Durga ... 1S 3. Struktur Mitos Dewi Saraswati dan Mitos Dewi Durga ... .... 21
a. Agama Hindu Bersifat Monotheisme ...-.... ... 21 b. umat Hindu sebagai pemuja dan penyembah Dewa-Dewi
sebagai Manifestasi Tuhan ...24 c. Umat Hindu penganutAnimisme dan Dinamisme ... 26 d. Umat Hindu di Bati Bersifat Retigius ... ZT c ' K E S f M P U L A N
. . . z B
il
ABSTRAK
Dari perspektif strukturat Levi-strauss terungkap adanya struktur tersembunyi (struktur daram) pada mitos oewi sarairl' o"n Mitos Dewi Durga. Dari hasir. anarisis oan inteaoretasi kedua mitos tersebut dapat di_
pahami mengenai kepercaya"n or"ng gari van;'ffi",n" Hindu, yaitu pertama, umat Hindu di sini bersifat monotheisme. Ini terungkap dari mi_
teme dan ceriteme kedua mitos tersebut ,"ng ,"ngindikasikan adanya kemiripan, baik Dewi s_araswati r"uprn oewi6urg;'llr"-r"ra sebagai sak/i para dewa yang disebut sang uy"rg rrinurti. xeJra, umat Hindu di Bari menganut animisme dan oinairisme. Har ini ditandai terjadinya jarinan hubungan bersifat harmonis antara umat Hindu dan kaki_tanga n (bhuta- bhuti) Dewi Durga yang ditempuhnya dengan
""r" *"r"kukan kegiatan_
kegiatan rituar di tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat persema- nyamannya. Ketiga, umat Hindu di Bafi bersilet o,,i,r". flar Inr s*aReral dengan peraksanaan pengorbanan suci, yaitu upacara keagamaan yang terakumurasi daram pana yadnya yang terah menyatu dengan adat_isti_
adat di Pulau Dewata (Bali).
lv
ANALISIS STRUKTURAL DAN MAKNA MITOS DEWI SARASWATI DAN MITOS DEWI DURGA PADA ORANG BALI
A. PENGANTAR
1. Latar Belakang Permasalahan
orang Bali secam mayoritas beragama Hindu. Komponen-komponen ajaran agama Hindu yang dianut di kalangan orang Bali terakumulasi pada sebuah sistem yang disebut kerangka agama Hindu, yang terdiri atas tatwa (filsafat), etika, dan ritual (upacara). Daram penerapan ajaran tersebut yang terakumulasi pada sistem kerangka agama Hindu, orang Bali dituntun untuk mempelajari dan memahami filsafat ketuhanan, bertingkah laku dan bertindak yang beretika, dan melaksanakan ritual (upacara) untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Dalam sistem kepercayaan orang Bali yang beragama Hindu, menyebutkan bahwa Tuhan itu satu, tetapi orang bijaksana menyebut dengan berbagai nama (Mas, 2008 : 1). Pemberian nama kepada Tuhan berdasarkan atas manifestasi-Nya atau fungsi-Nya bagi umat manusia. Dalam konsep agama Hindu, dewa adalah manifestasi dari ruhan, yang kehadiran-Nya dirasakan di mana-mana.
Dalam teologi Hindu, manifestasi Tuhan dibedakan menjadi tiga nama yang disebut Sang Hyang Trimurti(trinitas) yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa siwa (Maswinara,200T'.16). Sesuai dengan manifestasi-Nya, Dewa Brahma berfungsi sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya, Dewa Wbnu sebagai pelindung dan pemelihara segala ciptaan Tuhan, sedangkan Dewa Siwa sebagai pemusnah atau pelebur.
Tuhan sebagai pemegang kekuasaan yang mahatinggi (supreme powell mempunyai kekuatan yang bersifat dinamis dan kreatif serta memelihara yang berbudi luhur berada pada aspek femare (perempuan) yang disebut shadi.
Shaffiijuga diasosiasikan sebagai yang bertuah tinggi. Pada sha6imempunyai nama berbeda-beda (Pidada, 1997: 3g). Misalnya sebagai contoh, shakti Brahma disebut Dewi Saraswati; shaktiWisnu bernama Dewi Sri, Dewi Laksmi, Pertiwi; shaffiiSiwa bernama Dewi Durga, Dewi parvati.
Umat Hindu di Bali secara intensif memuja dan menyembah para dewi untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan, baik lahir maupun batin.
Pemuiaan terhadap para dewi itu dilegatimasi oleh mitosnya masing-masing.
Dalam tulisan irii hanya dianatisis mitos Dewi Saraswati dan rriitos Dewi Durga yang masih hidup di kalargan orang Bali. Bagaimana struktur dan makna yang ada dalarn mtrss Dewi Saraswati dan Dewi Durga merupakan pennasalalran yang dijawab dalam tulisan ini.
Tulisan ini ingin mencoba untuk mengungkap mengenai makna dan stuktur yarlg tersembunyi pada dua buah mitos tersebut yang masih suruive di kalangan orang Bali dengan menggunakan paradigma str.ukturalisrne Levi- Strauss. Dengan menerapkan analisis struktural yang dikembangkan oleh Levis-Strauss diharapkan dapat diketahui mengenai sistem kepercayaan orang Bali sebagai pemilik mitos Dewi Saraswati dan Dewi Durga. Dengan kata lain, pemilihan jenis analisis struktural yang dikembangkan oleh Levi-Strauss untuk nrenganalisis kedua mitos ini, atas dasar pertimbangan bahwa di balik tindakan orang Bali (Hindu) melakukan ritual untuk memuja dan menyembah Dewi Sarasrrati dan Dewi Durga diasumsikan ada kekangan struktur dari dalam yang udak tampak secara empiris. Struktur yeng tersembunyi yang melegatimasi lfrlengesahkan) kepercayaan dan tindakan ritual untuk pemujaan dan oerryembahan kepada Dewi Saraswati dan Dewi Durga tersebut dapat diungkap dalam mitosnya masing-masing.
Levi'Strauss menegaskan lebih jauh bahwa struktur tidak bisa begitu sala diamati seperti yang dikemukakan oleh Radcliffe-Brown, tetapi struktur itu harus ditenrukan dengan studi dan analisis. Berbiear.a tentang struktur, hanya rnengenai objek )rang telah menjadi kenyataan, sebab struktur itu baru muncul clengan studi dan analisis. Karena itulah maka rasionalisasi dari objek itu taten.
la ada, tetapitidak dapat dilihat secara langsung (Baal, 19gg: 120).
2- Kenangka Teori
Levi-strauss dalam bukunya yang beriudut Mythotogique mengatakan Dahwa strukturalisme adalah suatu teologi, dan mitos adalah pemikiran religius ,Baal, 1988). Menurut Baseom, eeritera datam mitos diterima dengan
keyakinan, dipercaya dapat rnenjawab atas ketidaktahuan atau kesangsian.
Mitos adalah pengeiawantahan dogma yang disakralkan dan sering diasosiakan dengan teologi dan ritual (Dundes, 1gg4). Mitos,pada umumnya mengisahkan terjadinya atam sernesta, duriia, nianusia pertarna, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya.
Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah pereintaan, hubungan kekerabatan, kisah perang mereka, dan sebagainya (Bascom, 1g65b: 4-5;
dalam Dananjaya, '1992: 5l). Dafam konteks ini, mitos Dewi Saraswati dan Dari Durga adalah mengisahkan tentang turunnya para dewa ke bumi dalam ma n ffestasinya sebagai dewi.
Mitos Dewi Saraswati dan Dewi Durga yang dijumpai di kalangan orang Eali mempunyai sifat retigius bahkan disakralkan karena kedua mitos ini rnelegatimasi kepercayaan umat Hindu untuk melaksanakan ritual pemujaan terhadap Dewi Saraswati dan Dewf Durga. Menurut Durkheim, hal-hal yang sakraf selalu dianggap superior, sangat kuasa, terlarang dari hubungan normal, dan pantas mendapat penghormatan tinggi. Perhatian bagi umat beragama tertuju kepada hal'hal yang bersifat sakral, bukan kepada haphal yang bersifat orofan (Pals, 2001: 1671.
Ditinjau dari dimensi waktu, Levi-Strauss menjelaskan bahwa mitos berada dalarn dua waktu sekaligus, yakni wakfu yang bisa berbalik, dan wakfu png tidak bisa bebalik. Fakta mernbuktikan bahwa mitos senantiasa merujuk pada fenomena-fenomena yang terjadi pada masa lalu. Di samping itu, pola- pola khas dari mitos merupakan ciri yang membuat mitos dapat tetap relevan dafl operasisnal dalam konteks yang ada pada masa kini. psla4o6 tertentu yang diungkap mitos menjelaskan apa yang teriadi di masa lampau, tetapi sekaligus juga dapat menjelaskan apa yang tengah terjadi sekarang, dan apa yang akan terjadi di masa mendatang (Levi-strauss, 1g63: 20og; dalam AhirnsaPutra, 2009: 81). Sebaggimana eedte,'e nrengenei keberadaen Dg;,yi Saraswati dan Dewi Durga di kalangan orang Bali dipercayai sebagai suatu penstiwa yang pernah terjadi pada masa lampau, kare.na kisah itu nnasih dapat dgunakan untuk memahami dan menjelaskan apa yang diyakini dan yang brladi pada masa kini dan masa mendatang. Misalnya, seorang dukun di Bali
4
seringkali terlebih dahufu rnenyuruh pasiennya untuk mefaksanakan ritual di Pura Kahyangan karena roh pasien itu, rnenurut sang dukun sudalr berada dalam "genggaman" Dewi Durga yang bersemanyam di pura tersebut. Upacara yang dilaksanakaR oteh anggote pasien tersebut bernama uBeeara nehusin.
t'lebusin artinya menukar yaitu menukar roh orang yang sakit itu dengan sesaii (bebantenl agar terlepas dan "genggatr{an', Dewi Durgn. Setelah dilaksanakan upactra nebusin (penukaran) barulah sang dukun mengobati kembali orang yang sakit (pasien) itu.
Fenomena di atas nrenuniukkan bahwa mitos dapat berftrngsi untuk melegatimasi atau rpengesafrkan tindakan ritual yang dilakukan oleh warga masyarakat pendukung mitos tersebut. Sehubungan dengan hal ini, Levi- strauss mengatakan bahwa mitos bukan lagi hanya dongeng pengantar tidur, tetapi merupakan kisah yang memuat sejumlah pesan. pesan_pesan ini tersimpan dalam keseluruhan mitos. Akan tetapi si pengirim Be6an tidak jelas, yang jelas hanyalah penerima pesan tersebut (Ahimsa-putra, 200g: g2).
3. tfetode Analisis
Prosedur yang clitempuh untuk menganalisis kedua mitos ini adelah terlebih dahulu mencari miteme.miteme yang terdapat datam mitos Dewi Saraswati dan Dewi Durga. Jenis analisis mitss yang diterapkan di sini mengikuti analisis struktural sebagaimana yang dikembangkan oleh Levi- Strauss (1963). Apabila miteme yang diperoleh dipandang tidak bermakna maka diteruskan untuk dicari ceriteme-ceriteme. Dalam upaya memahami struKur yang tersembunyi yang ada pada kedua mitos tersebut akan die.sba miteme dan ceritemenya disususn secara diakronis (sintagmatis) dan sinkronis (paradigmatis). Selanjutnya, juga akan dicari refasi-relasi yang terkecit agar dapat menjelaskan mengenai makna dan struktur yang ada dalam kedua mitos telsebut.
Sumber data utama sebagai bahan analisis diperoleh melalui penelitian kepustakaan. Ketika merakukan penetitian kepustakaan, penulis rnengumpulkan informasi atau data yang bersumber dari beberapa buku yang relevaR dengan masafah karya tulis ini. Selain itu, juga dilengkapi dengan data
pnmer yang diperoleh melalui pengamat dan wawancara terhadap beberapa informan. Infonnasi yang telah terkurnpul, selanjutnya dianalisis secara struktural dan simbolik.
B. PEMBAHASAN MITOS DEWI SARASWATI DAN MITOS DEWI DURGA 1. Teks Mitos Dewi Saraswati dan Mitos Dewi Durga
a. Mitos Dewi Saraswati
Mitos Dewi Saraswati dan mitos Dewi Durga ini diperoleh mefalui penelitian kepustakaan. Teks mitos Dewi Saraswati menceriterakan bahwa Dewi Saraswati merupakan personifikasi Tuhan dalam manifestasinya dan fungsinya sebagai Devi llmu Pengetahuan. Dewi Saraswati, yang turun ke dunia untuk menganugrahi kesempurnaan bathin (ilmu pengetahuan suci).
Sebagai saktinya Dewa Brahma yakni dewa yang mempunyai kekuatan di dalam ilmu pengetahuan, Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat yang masing-masing memegang : genitri, akepan/lontar, winalrebab, dan bunga padmalteratai. Geniti, mefambangkan behwa ilmu pengetahuan tidak habis-habisan dipelajari, Juga sebagai larnbang dau alat untuk melakukan aktivitas ritual yang sering disebut japa mantra.
Dengan mengucapkan japa mantra Eecara berulang-ulang memiliki makna bahwa menuntut ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia mendekatkan Cfh'i kepada TuhaR, yang senantiasa mengajarkan untuk berbuat baik untuk dunia; cakepanflontar merupakan lambang sumber ilmu pengetahuan itu be{'sifat estetik; bunga padma / teratai melambangkan alam semesta (bhuana alung) yakni istana lda Sanghyang Widhi Wasa. Sedangkan, angsa trnggangan De\,,i Sarasv.fat!) mefambangkdn sifat-sifat b'rjaksana. lni berarti bafnra orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan akan mampu untuk Er-wiwek-a vakni sua*r-r J - ' . . ' . . . r - - . kemamouen untuk membedakan a#.ara baik-burrlk dan benar-salah.
Ha:'i Raya !-laji Sarasr.;at! dirayakan setiap 210 hari, jiakn! pada Sabtu Umanis Watugunung. Dalam wujud hari raya atau rerahinan. Menurut kisahnya,
Se+tar! SebelUnr Snloer rhta|tlr'aaerrr,.rgg dikalahkaR, dan keesOkan harir.rta ilmU
pengetahuan diturunkan. Demikian berlangsung secara tradisional, setiap Hari Aji Saraswati dirayakan sebagai pernr.rjaan De$/i Saraswsti dengnn istan penyucian buku dan pustaka suci, serta menyucikan pikiran.
Seluruh urfiet Hiridu merrghaturtan sesaji sebagai ucapari terirna kasih atas segala rakmat-Nya. Semua pustaka sebagai wahana Ebrvi Saraswati dkumpulkan dan ditsta rapi pada waktu Biodalan Sang Hyang Haji Sar:asr,vati.
b. titos Derri Durga
Str*Rber dari segata penyakit adelah Dewi Durga. Menurut eeritera, Dewi Durga adalah perwuiudan dari dua dewi yang datang ke bumi untuk membuat mala pdaka, karena telah mendapdkan krfukan dari suami rnasing-rnasing, yakni yang pertama bernama Dewi Uma, yang bersuamikan Dennra Siwa. Dia diberi hukuman oleh Dewa Siwa karena dianggap terlafu kejam terhadap anak sendiri yang bernama sang Hyang Kumara sehingga Dewa siwa sangat marah melthat kelakuan istrinya, lafu mengusir Dewi Uma dari sorga dan hams tinggaldi bumi, dikuburan umat manusia.
Dewi Uma tak mampu melawan kutukan Dewa Siwa. Karena itu, dalam waktu sekejap, dia terbmpar dari sorga, tubuhnya melayang turun ke bumi. Dia melayang dafam posisi suflgsaflg, kepala di bawah dan kaki di atas sehingga ketika sampai di bumi, di kuburan, kepalanya yang terlebih-dahulu menyentuh tanah dan berubah menjadi Bhatan Durga. wajahnya yang semula cantik berseri, seketika berubah menjadi raksasa seram dan menakutkan. Di sini dia disamhfr oleh seorang raksasi berRama Sang Kalika Maya. Raksasi lni rnengalami nasib yang serupa dengannya, yakni sama-sama mendapat kutukan dari suaminya. Dia sebenarnya seorang bidadari, tetapi karena telah berani berselingkuh, akhimya diusir dari sorga. Karena memifiki waiah dan tJbuh yarig hampir sarRa, niereka akhirnya disebr.fr sebagai Dewi Durga, yang harus hidup dari mayat yang baru ditanam diarealkuburan.
Oleh karena iumlah srang yagg meninggal semakin hari semakin sedikit, sebagai akibat dari meningkatnya kesadaran manusia memuja Tuhan (lda sang Hyang vvidhi wasal, Dewi Durga menjadi bingung. .lumtah makanan mereka semakin hari semakin berkurang. Tidak tahan menghadapi
7
penderitaan seperti itu, rnereka kemudian rnenghadap Dewa Brahma, sebagai Dewa utpafti (kerahiran atau pencipta) dan menjabat juga sebagai Dewa penerima atma orang mati. Maksud dan tujuan mereka memohon kekuatan agar terus-ffieneius tersedia niakanan. Devva Brahma bersedid memberikan bantuan, tetapi dengan syarat mereka harus bersedia tinggal di pura Dalem, dekat kubursn- Dewi uma menyanggupr persyaratan tersebd. untuk ilu Devna Brahma memberikan tiga kesaktian kepada mereka, yakni mampu menguasai bhuta'bftufirtnakhfuk harus, dapat mengubah manusia menjadi reak, dan mampu rnenyebaftan segafa jenis penyakit.
Selain itu, Dewe Brahma mernberikan pula eiri manikyar{g berisi alaran pangiwa, ilmu hitam atau ajaran kiri dan ajaran ugig padengenan atau kemampuan membencanai orang dengan kejahatan . Kesaktiantersebut hanya dapat digunakan pada saat-saat tertenfu saja. Karena sudah memiliki kemampuan dan beberapa tempat tinggal, maka mereka disebut BhatariDurga Dewi, kalau tinggar di pura Darem; Bhatari Ragawati karau tinggar di pura Kahyangan rainnya, dan Bhuta Berawi katau di kuburan. untuk dapat menjalankan tugas membuat kejahilan dan kejahatan, mereka kemudian memanggil kelima saudaranya yarlg mssih berada di kahyangan sehingga cti bumi ini ada tujuh raksasa.
Dari ketujuh raksasa tersebut, dua di antar.anya menjadi pemimBin, rima menjadi pembanfu pelaksana, mereka disebut panca Durga, di mana kelimanya dlkirim ke berbagai penjuru mata angin dan menjadi penguasa di brnpatnya masing-masing. Raksasa sri Durga Dewi, berkuasa diwilayah timur, t'tbuhnya benrama putih. Memiliki kemampuaf, mengubah diri menjadi angin bennama putih. Menyusup ke seluruh makanan dan minuman yang dibufuhkan obh manusia dan kehidupannya sehari-hari. Di wilayah selatan, ada raksasa Dedari Durga, tubuhnya merah, dan mampu mengubah diri menjadi angin benrama rRerah. Dengan kesaktian-aya yaf,g amattinggi dia dapat ffienyusup ke sembilan lubang )rang ada ditubuh manusia.
Di bagian barat, ditugaskan raksasa sukra Dewi, tubuhnya bemrama h,rning, mampu mengubah diri menjadi angin berwarna kuning. setiap akan ffielaksanekan tugasnya dia melekat pada debu, kemudian masuk ke dalam
tubuh manusia melalui makanan, minuman, dan udara yang dlhirup saat bemafas. Raksasa yang bernarna Raji dengan warnanya, dia mampu mengubah diri menjadi angin hitam, menyusup ke dalam air minum dan air rnandi. Di bawah, ditugaskan Raksasa Dewi Durga, memiliki lirRa werna, nrcrnpunyai kekuatan seperti pertiwi. Kalau ingin membunuh manusia dia akan ntuneul se€ara tibatiba dari balik taRah, dengan mengubah dirinya rnenjadi ils€rp gunung atau embun beku.
Bhatari Durga, yang paling sakti dari ketujuh raksasa tersebut, bertugas di atas. Setiap saat melayang-layang di udara mencari-cari kelengahan rmnusia. Kalau sudgh melihat maRusia yar{g tidak kuat imannya, yang tidak pemah menyembah para dewi, dia akan melayang turun, lalu membunuh dengan menggunakan kesaktian-nya. Masuk melafui ubun-ubun, seteJah rnengubah dirinya menjadi angin. Tidak ada manusia yang dapat lolos darinya, kerena dia juga mendapat bantuan dari Raksasa sang Kalika Tiga yang lrnemang ditugaskan untuk mengintip kelemahan-kelemahan manusia dari sermukaan bumi.
Semua Raksasa Durga tersebut membawa pasukan yang disebut bhuta- bttuti, dengan wr.rjud beraneka ragaiR, yaflg ju'mlahnya paling {idak eda {ui{.rh ftentuk bhuta-bhutil berwujud manusia yang diyakini bergentayangan di oerbagai tempat. Pertama disebut bake, dengan eiri-ciri bertubuh hitam, tempat mggalnya di semak-semak. Dia akan muncul mencari mangsa di malam hari, Erutama tengah nialam. Kedua, bakis-botong, tubuhnya kate (kerdil), berkepala gundul, kulitnya putih pucat pasi. Dia selalu muncul pada siang hari, Eflrtaffia tengai teBet, tengah hari. Memilih tempat tinggal di rumah-rumah kmong tanpa penghuni. Ketiga, memedi, rambut dan kulitnya berwama merah, rnuncul tengah hari, dan bertempat tinggal di tanah kosong, di tegatan.
l(eempat, disebut papengkah, perutnya besar, gendut, dan buncit. Dia tinggaldi sembarang tempat, muneul pada siang ffiaupun malam hari. Kelima, raregek- frnggek, berwujud gadis cardik dengan tulang punggung terbuka, tanpa tulang belakang dan tulang iga, bertempat tinggal di semak belukar, air terjun, dekat danau, sumur, payau, kuburan, dan muncul pada malam hari. Keenam, sffflara, b,entuknya persis rf,afiusia tetapi tanpa lekukan pada bibir atas,
berdiam di semak-semak dan muncul pada sore hari; dan ketujuh tonya, berwujud manusia tinggi besar, berdiam di pohon rindang dan besar, seperti beringin, bunut, randu, dan sejenisnya.
Ada juga hhufa-bttuti b*wujud bagian dafi tubuh manusie, yeng jumlahnya sekitar lima. Pertama, disebut kumangmang, benbentuk kepala manusia dengan rarnbut seperti api senjata. Tempat tinggalnya di lapangan terbuka, di tegalan, dan semak-semak. Sepintas tampak seperti kelapa terbakar yang menggelindung dari satu tempat ke tempat lain. Kemunculannya pada tengah atau malam hari. Kedua, lawean, berwujud badan manusia, tetapi tanpa lengaR, tungkai, dan kepala. Memilih tempat di rumah-rumah dan semak belukar. Makhluk ini senantiasa memunculkan diri pada siang hari, tetapi juga sering pada malam hari. Ketiga, tangan-tangan, berbentuk sebifah tangan yang terbang melayang di udara. Tempat tinggalnya di rumah kosong atau semak- semak. Keempat, enjek-pupa, berbentuk potongan paha *ringga kaki, hanya sebelah tungkai saja, tanpa badan. Kalau sedang berjalan, injakan tapak kakinya menimbulkan suara atau bunyi halus dan berirama, muncul pada malam hari, mengitari rumah, menyusuri tembok, bertempat tinggal pada rumah-rumah kosong; dan kelima disebut katugtug, berbentuk tutut tce bawah, nnuncul pada malam hari, pada waktu terang bulan maupun bula mati.
Bhuta-bhuti berwujud rangka rnanusia disebut jerangkong. Walaupun hanya terdiri atas tulang belulang, tetapi dia dapat bergerak. Dia akan muncul pada malam hari terutama pada bulan mati. Hidup di tempat-tempat sepi atau rumah kosong. Selain itu, ada juga bhuta-bhuti berwujud binatang. Anja-anja adalah salah satu di antara mereka. Binatang ini berkaki empat, kepalanya seperti raksasa, matanya besar dan terus melotot, mulutnya lebar bertaring panjang, dan rarnbutnya panjang terurai. Tempat tinggatnya di hutan lebat, bbah senang memunculkan diri pada siang hari. Ada juga binatang yang drseb'ut banasBati-raja, wujudnya tidak jauh berbeda dengan ffiaean. Dari- tbuhnya sering keluar api, sehingga tampak seperti macam terbakar. Muncul mda tengah malam, tempat tinggalnya ditengah hutan yang lebat.
1 0
2. Miteme dan Ceriteme ltiitos Dewi Saraswati dan Dewi Durga : Analisis dan lnterpretasi
a. illiteme dan Geriteme Mitos Dewi Saraswati
1 . Miterlle ; " ...Dewi Samswati mezuBakan Bersoniftkasi Tuhan elalam manifestasf dan fungsinya sebagal Dewi llmu Pengetahuan.."
Miteme ini dapat ditafsirkan bahwa Dewi Saraswati tiada lain wujud manifestasi dari Tuhan yang fungsinya sebagai dewi yang menjadi sumber dari ilmu pengetahuan. llmu pengetahuan itu kemudian diturunkan kepada umat manusia.
Ditinjau dari segi diakrenis, pada jaman Rgveda, Saraswati diasosiakan dengan sungai yang mengalir di dataran Sindhu. Sungai itu juga disebut sungai Saraswati. Sungai selafu diartikan sebagai arus yang terus menerus mengalir menuju ke lautan lepas. Arus atau aliran sungai adalah kontinyuitas yang tak pemah terputus, demikianlah kehidupan ini tidak akan pernah b,erhenti. Di samping itu, aliran sungai membawa kekuatan membasuh atau mencuci, serta mendaur dan menghanyutkan sampah dan limbah. Sungai Saraswati menjadi satah satu sungaisuci di India tempat mensucikan diri.
Pada janlan berikutnya, Sareswati memperoleh arti yeng lebiti fuas, Saraswati diidentifikasikan dengan ucapan, juga suara, tentunya suara suci, yang dikenal dalam kerflunitas Hindu sebagai OM. Om itu sendiri adalah vibrasi yang keluar dari dalam badan, dari situ kemudian Saraswati juga disebut bertana difidah.
Sebagai ucapan, Saraswati adalah perlambang intelegensia, karena dari ucapan maRusia bisa mengekspresikan buah pikirannya, dan lahirlah bahasa.
Dengan adanya bahasa yang mengekspresikan intelegensia, lalu manusia fredakan dengan binatang. Saraswati adafah juga intelek itu sendiri.
Saraswati adalah sumber inspirasi penciptaan d1n kekuatan penciptaan, dari f€kat yang febih rendah sampai ke tingkat Beneiptaan yang paling tinggi, yarg temasuk di dalam ilmu pengetahuan tentang spritualitas.
Dalam kepustakaan Hindu yang febih mutahir, Saraswati disebut terlahir sebagai belahan dari Dewa Brahma. Brahma sebagai aspek Tuhan terbelah rrenjadi dua sisi, yaitu sisi wanlta adalah Saraswati, dan sisi laki-laki adalah
#
t 1
Brahma' Keduanya melakukan pertemuan yang kemudian menciptakan dunia dan manu, manusia pertama di bumi.
2. Miteme ,'...D?y! saraswati, yang turun ke dunia untuk menganugft,hi itmu pengetahuan suci (kesempumaan bdthin1..,,
Miteme ini rnenunjukkan irmu pengetahuan memiriki peranan yang sangat penting bagi hidup manusia. llmu pengetahuan adalah jalan untuk menuju kebenaran absofut, yaitu Tuhan. tlmu pengetahuan adalah jatan untuk menemukakan kebenaran retative, yaitu pengetahuan berdasarkan hasil penelitian empiris atrtu hasil pemikiran manusia. ltmu pengetahuan membuat manusia mampu mengubah alam (nature) menjadibudaya (cutture).
Hadirnya Dewi saraswati daram agama Hindu, umat Hindu diajarkan iintuk terus menerus merakukan pendakian rokhani untut< mencapai kesempurnaan dan kesucian hidup. saraswati menjadi penuntun nrenuju peda kesucian rokhani. selain itu, juga memahami hakikat perubahan, dan hakikat yang abadi' saraswati menjadi sirnbof penyadaran dan pencerahan dafam agama Hindu.
3. Miteme : mempunyai kekuatan di datam itmu pengetanuiii..""..-.setagai shakti Dewa Bnhma yakni Dewi sanasurafi
Miteme ini menunjukkan bahwa shaktisendiri berarti kekuatan. Dari kata
$aktiitulah datangnya kata kesa ktian dalam bahasa Indonesia. walaupun kata ctakft itu berarti kekuatan, shaktiselatu diidentikkan sebagai bersifat wanita.
Tuhan daram manifestasinya sebagai Dewa Brahma yaitu sebagai pencipta saktinya bemama Dewi saraswati. Dewi saraswati sebagai pencipta dan menurunkan irmu pengetahuan ke dunia. Di sekorah_sekorah, patung Dewi sarasurati didudukkan di altar sekolah, sedangkan di tembok nrmah atau di knar belajar atau perpustakaan ditempelkan lukisan Dewi Saraswati sebagai peiindung proses belajar.
Konsep mengenai kehadiran Shaktiberasal dari kosmologi (teori asal-
|Gul semesta), bahwa tidak ada penciptaan tanpa penyatuan unsur raki-taki
12
dergan unsur perernpuan. Dalam kepercayaan umat Hindu, bapak primordial dan ibu primordial dilambangkan sebagai lingga dan yoni. Dengan demikian, bu didudukkan sebagrai ibu semesta, karena ibu bukan saia mempunyai peranan regeneratif, akan tetapi juga sebagai produsen kehidupan. Bumi ttasosiakan sebagai perempuan yang kemudian menjadi pertiwi (ibu pertiwi) sebagai sumber kesuburan, pemberi dan pelindung kehidupan kepada manusia.
perkembangan ilmu pengetahuan dari masa yang lalu hingga sekarang, nrelalui satu generasi ke generasi berikutnya terus mengalir tiada henti-hentinya dalah bersumber dari Dewi Saraswati yaknisakti Dewa Brahma.
4" Miteme : "...Dewi Sara:swati digambafuan sebagai seorang wanita cantik Eftangan empat yang masing'masing memegang : genitri, cakepan/lontar,
*inairebab, dan bunga Padma.."
Dewi Saraswati yang dilambangkan sebagai seorang wanita cantik +abila disimak makna filosofisnya ternyata mengandung nilai-nilaiyang sangat rrendalam. Dewi yang cantik dan berwibawa dimaknai bahwa ilmu pengetahuan menuniukkan sesuatu yang sangat menarik dan mengagumkan.
Bukan berarti bahwa kecantikan Dewi Saraswati yang molek itu hanyalah mengandung nafsu birahi, melainkan kecantikan yang penuh wibawa (berprestise), suci, mulai sehingga diburu oleh setiap orang.
Dewi Saraswati yang bertangan empat, yang masing-masing memegang
" genitri, cakepan/lontar, wina/rebab, dan bunga padma. Genitri melambangkan bahwa ilmu pengetahuan tak habis-habisan dipelajari. Juga sebagai lambang atau alat untuk melakukan aktivitas ritual yang bermakna bahwa menuntut ilmu pengetahuan merupakan usaha manusia mendekatkan diri kepada Tuhan (Ida Sanghyang Wdhi Wasa'1, yang selalu mengajarkan kepada manusia berbuat bak untuk dunia. Cakepan/lontar merupakan lambing sumber ilmu pengetahuan. Wna/rebab melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat c#tik. Bunga padmafteratai melambangkan alam semesta (bfiuana agung ilau makrokosmos) yaitu istana Tuhan Yang Mahaesa. Sedangkan, angsa sebagai kendaraan Dewi Saraswati melambangkan sifat-sifat bijaksana.
t 3 5. Miteme : "--.orang yang mampu menguasai itmu pe,ngetahuan akan mampu
untuk ber-wiweka yakni iuatu k"^"^iiiiiiiix membedakan antara baik-
buruk dan benar-salah.."
Mit"t" ini untuk mengingatkan umat manusia bahwa ilmu pengetahuan dapat memperingan dan mempermudah hidup di dunia. Daram pandangan komunitas Hindu di Bali dengan ielas ditegaskan bahwa persembahan berupa lmu pengetahuan tebih muria dari pada persembahan materi, daram keseluruhannya semua kerja ini berpusat pada ilmu pengetahuan. Bahkan ada satu istilah dalam agama Hindu yaitu vidyadana,yang artinya kalahkan musuh anda dengan memberikan ilmu pengetahuan. Jadi, dafam hal ini, peranan ilmu pengetahuan itu sangat mulia sekali. Dalam pengetahuan umat Hindu di Bali i{a meyakini bahwa tiada sesuatu dalam dunia ini dapat menyamai ilmu pengetahuan.
Daram Bagawad Gita juga ditegaskan tagi bahwa bagi yang memifiki kepercayaan dan menguasai panca indriyanya, mencapai ilmu pengetahuan, setelah memiriki ilmu pengetahuan dengan segera akan menemui kedamaian abadi. Dalam konteks ini, proses belajar dan peranan ilmu pengetahuan
menjadi sangat penting untuk sefafu didasari dengan keyakinan hepada kebenaran.
Kepada setiap orang yang terah memperoreh itmu pengetahuan patut menyadari untuk bersedia mengembangkan dan menyumbangkan pengetahuannya pada orang lain, guna mewujudkan kerahayuan dan bdamaian bersama, memperbaiki sumber daya manusia unfuk dapat reningkatkan kualitas penghidupan dan kehidupan lahir serta batin di dunia.
renyumbangkan ifmu pengetahuan, merupakan sedekah yang tak dapat dinilai dan lebih muria dari persembahan materi, merupakan hutang budi bagi yang trenerimanlm karena akan dibawa sampaimati.
o- ceriteme: "-. u.11i
fara Haji saraswatidirayakan setiap 21a hai, yakni pada sabfu umanis
lv7tyg:unund menuyt .kisahnya, sehari seberum Datem Jthtu rc n g g o n g d i ka t a hka n, di n kees o ka n n i rii ii' ii* u p e n g et a h u a n d itu ru n ka n.
hnkian bertangsung secara tndisionat, ;;i;; 'iiri
Aji samswati dimyakan
#agai pemujaan Dewisanaswafi src{ serta menyucikan pikiran..,, aerg"r-iih firyr"i", buku dan pustaka
T4
Pada ceriteme ini dapat dipahami bahwa hari raya adalah hari-hari yang dirayakan oleh masing-masing penganut agama untuk mendekatkan diri, memanjatkan puji syukur, memohon tuntunan keselamatan, berdoa, bersembahyang, dan memohon maaf. Pada perayaan hari raya Saraswati mengambildua wuku yakni wuku Watugunung (wuku terakhir) dan wuku Sintha (wuku pertama). Menarik untuk dimaknai di balik mitologi runtuhnya Watugunung, karena setelah kehancuran Watugunung, justru diikuti dengan turunnya ilmu pengetahuan, dan bukan diperingati sebagai kemenangan atau peleburan atas kebathilan. Watugunung adalah tokoh yang memiliki kesaktian luar biasa serta merniliki "ilmu" tidak mudah untuk dikalahkan. Dalam konteks mitologi tersebut dapat diinterpretasi bahwa kebiadaban harus diatasi dengan proses belajar lewat ilmu pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan sudah dimiliki, bila tidak didasari dengan tingkah laku dan perbuatan yang baik kepada Tuhan maka akan menjerumuskan manusia kembali kepada kebiadaban dan kehinaan.
7. Miterne : "...seluruh umat Hindu menghatu*an sesaii sebagai ucapan terima kasih afas segala rakmat-Nya.."
Hal ini mengingatkan manusia untuk menopang hidupnya dengan itmu pengetahuan yang dimohon dari Dewi Saraswati. Dalam konteks tradisi beragama, Dewi Saraswati adalah obyek pemujaan datam kaitannya dengan proses belajar. Saraswati dimaknai sebagai pelindung proses belajar-mengajar, ilmu pengetahuan dan kesenian. Pelaksanaan upacaranya dilaksanakan sebelum matahari condong ke barat karena berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan yang diperolah.
Pada hari raya saraswati, umat Hindu merayakan pada tempat-tempat suci. Adapun tempat-tempat yang dipilih antara lain sanggah/pemerajan (tempat pemujaan Tuhan dan leluhur di kalangan keruarga) dan pura, dan disertai dengan persernbahan berupa sarana upacara yaitu sesaji sebagai ucapan terima kasih.
1 5
Menurut tradisi yang diwarisi secara turun-temurun, pada Hari Raya Haji saraswati dilaksanakan suatu pantangan yaitu tidak diperkenankan membaca dan menufis sastra dan kesusastraan. Apabita difanggar niscaya hasilnya tidak memperoleh anugerah dari Dewi Saraswati. Bagi umat yang melaksanakan pantangan tersebut secara utuh, tkJak diperkenankan membaca dan menulis selama dua puluh empat jam. Makna dari melakukan pantangan tidak membaca dan menulis pada Hari Raya Saraswati agar pemujaan diikuti dengan merenungkan Beliau sehingga yang dipuja dapat dihadirkan dalam pikiran dan sanubari.
Besoknya (Mi4ggu Paing Sinta) disebut hari Banyu pinaruh berarti air suci (tirtha) yang menjadikan tahu. Dilanjutkan dengan pembacaan pustaka/lontar
atau buku hingga malam suntuk dan didiskusikan untuk menyingkap kandungan isinya.
b. lfliteme dan Ceriteme Mitos Dewi Durga
1. Miteme : "...sumber dari segala penyakit adatah Dewi Durga..,,
Miteme ini dapat ditafsirkan bahwa Dewi Durga turun ke dunia mempunyai peran untuk menyebarkan penyakit kepada umat manusia. Secara kodrati, penyakit sudah menjadi bagian hidup manusia. Hidup sehat dan sakit mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi. Apabila derajat kesehatan manusia yang tinggi maka derajat kesakitannya yang rendah. sebaliknya, apabila derajat kesakitannya yang tinggi maka derajat kesehatannya yang rendah' Penyakit yang diderita oleh umat manusia di dunia disebarkan oleh Dewi Durga.
2. Miteme ; "-.. Dewi Durga adatah perwujudan dari dua dewi yang datang ke bumi untuk membu.at mala petakal karena tetah mendapatkan kutukan dari suami masing-masing, yakni yang peftama bemama Dewi (Jma, yang bersuamikan Dewi Siwa..D
Dalam konteks ini dapat ditafsirkan bahwa Dewi Uma turun ke bumi berubah nama menjadi Dewa Durga atas kutukan suaminya yang bernama Dewa siwa, demikian pura raksasi yang bernama sang Karika Maya juga atas
t 6
kutukan suaminya kemudian turun ke dunia. Oleh karena itu, sifat-sifatnya setelah sampai di dunia juga tetap sama yaitu ke arah yang negatif.
Penggabungan dua orang dewi menjadi satu mengandung makna supaya Denti Durga mampu menyebarkan mala petaka ke peniuru arah matahari.
3. Miteme : "...Dia diberi hukuman oleh Dewi Siwa karcna dianggap terlalu kejam terhadap anak sendiri yang bemama Sang Hyang Kumaru sehingga
Dewa Srwa sangat marah melihat kelakuan istrinya, lalu mengusir Dewi Uma dari sorga dan harus tinggal di bumi, di kubunn umat mantlsia.."
Sesuai dengan derajat kesalahannya, maka Dewi Uma turun ke bumi bertempat tinggal di 'lokasi yang pada umumnya tidak disenangi oleh umat manusia yaitu di kuburan. Di kuburan ini, Dewi Durga berkuasa. Keberhasilan Dewi Durga menyebarkan penyakit di bumi dapat dideteksi dari banyak- sedikitnya orang yang meninggal dunia. Miteme ini dapat juga ditafsirkan yaitu tempat tinggal Dewi Durga shakti Dewa Siwa sangat tepat karena Dewa Siwa berperan sebagai pelebur atau penghancur. Salah satu tempat pemujaan Dewa Siwa adalah di Pura Kahyangan yang lokasinya dekat dengan kuburan. Dengan demikian, suasana kuburan di Bali terkesan angker.
4. Ceriteme: "...Dewi Uma tak mampu melawan kutukan Dewi Siwa. Karena itu, dalam waktu sekejap, dia tedempar dari sorga, tubuhnya melayang turun ke bumi. Dia melayang dalam posisi sungsang, kepala di bawah dan kaki di afas sehrngga ketika sampaidi bumi, di kubunn, kepalanya yang lebih dahulu menyentuh tanah dan berubah meniadi Bhatari Dutga.."
Ceriteme ini dapat menunjukkan bahwa Dewi Uma yang dikutuk oleh suaminya (Dewa Siwa) untuk menjadi seorang dewi yang mempunyai tabiatnya jahat maka bentuk rupanyapun menyesuaikan yaitu bodi dan tabiatnya bersifat keraksasaan atau seperti raksasa. Wujud Dewi Durga berupa seorang raksasa yang matanya melotot, mulut besar dan bertaring, lidah panjang, dahinya halus, kukunya panjang, serta rambutnya gimbal dan panjang-panjang. Perwujudan Dewi Durga sebagai seorang raksasa sangat menakutkan umat manusia.
5. Miteme : "---Waiahnya Wng semula cantik berse4 seketika berubah rnenjadi naksasa seram dan menakutkan.."
Miteme ini memberikan pemahaman kepada umat manusia bahwa Dewi Uma sebelum turun ke bumiwajahnya cantik berseri, kemudian karena kutukan itu ia berubah wuiud menjadi raksasa yang menyeramkan dan menakutkan.
Pernyataan ini mengimplikasikan bahwa bagi seseorang yang telah meninggal dunia apabila pada saat hidup di dunia berbuat penuh dengan kebajikan dan senang memuja dan mendekati diri dengan Tuhan maka setelah dia meninggal dunia akan nrelihat waiah Deni Uma itu tetap cantik berseri. Sebaliknya, apabila seseorang ketika hidup di dunia perbuatannya penuh dengan dosa dan tidak senang memuja Tuhan maka setelah meninggal dunia akan metihat dewi Durga sebagai sosok yang seram dan menakutkan.
6. ceriteme: "..Dewa Bruhma membeikan tiga kesaktian kepada mereka, yakni mampu menguasai bhuta-bhuli, dapat mengubah manusia menjadi leak, dan mampu menyebabkan segala jenis penyaki Dewa Brahma membeikan pula Cii Manik yang berisi aiara7 pangiwa, ilmu hitam atau ajaran kiri dan ajarcn ugig padengenan atau kemampuan membencanai orng dengan kejahilan dan kejahatan.."
sesuai dengan permintaan Dewi Durga, Dewa Brahma bersedia memenuhi permintaannya. Dewa Brahma memberikan kesaktian kepada Dewi Durga. Dengan kesaktian inilah Dewi Durga menyebarkan wabah penyakit kepada umat manusia.
Orang-orang Bali masih mempunyai keyakinan kalau ingin belajar ilmu hitam dan bisa berubah wujud menjadi /eak (berupa binatang, raksasa, bola api, kain putih, dan lain-lain) maka pujalah dan mintalah "kesaktian" pada Dewi Durga- Tempat pemujaan Dewi Durga dengan maksud untuk memohon 'kesaktian" adalah di tanah kuburan dan pura kahyangan yang dilakukan pada mafam-mafam hari keramat (seperti menjebng hari Kajeng Kiwon). orang yang berhasil memuja Dewi Durga maka akan mendapat "kesaktian" yaitu mampu berubah wujud menjadi leak, mampu rnembencanai orang, marnpu membuat penyakit dan menyakiti orang sampai orang yang disakiti itu meninggal dunia.
7. Ceriteme .'"... Karena sudah memitiki kemampuan dan bebenpa tempat tinggal, maka mercka disebut (1) Bhatari Durya Dewi, kalau tinggal di Pura Oi6m; Q) Bhatara Ragawati katau tinggat di Pura Kahyangan lainnya, dan (3) Bhuta Berawi katau di kuburan. IJntuk dapat menjalankan tugas membuat kejahitan dan kejahatan, mereka kemudian memanggil kelima saudarcnya yang masih beruda di kahyangan sehingga dibumiiniada tuiuh raksasa.."
Ceriteme ini mempertegas lagi bahwa umat Hindu menyebut manifestasi Tuhan secara berbeda-beda sesuai dengan tempat bersemanyam dan tungsinya. Penyebutan yang berbeda-beda ini dapat dilihat pada nama-nama yang diberikan kepada Dewi Uma setelah turun ke bumi. Dewi Uma sampai di bumi yang berperan sebagai pelebur isi alam semesta berubah nama menjadi Dewi Durga. Ketika tinggal di Pura Dalem bernama Bhatari Durga Dewi, di Pura Kahyangan lainnya bernama Bhatara Ragawati, sedangkan tinggal di kuburan bemama Bhuta Berawi. Kalau kita perhatikan lokasi ke tiga tempat itu yang menjadi tempat tinggal Dewi Durga, selalu berdekatan. Maksudnya, letak Pura Dalem, Pura Kahyangan lainnya, dan kuburan orang Bali adalah berdekatan dan menjadi suatu kesatuan, yang dikoordinasikan oleh lembaga tradisional yang disebut desa adat atau desa pekraman.
8. Miteme :o... Dai ketuiuh raksasa tersebut, dua di antaranya meniadi pemimpin, lima menjadi pembantu pelaksana, mereka disebut Panca Durga, 'di maia kelimanyi dikirim ke befuagai penjuru mata angin dan meniadi
penguasa di tempatnya masing-masing""
Miteme ini memberikan penjelasan kembali bahwa saudara Dewi Durga yang disebut jumlahnya lima orang itu, juga merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Mahaesa (lda Sang Hyang Wdi Wasal. Masing-masing juga diberi nama berbeda-beda dan diperintahkan oleh Dewi Durga tinggal di berbagai penjuru mata angin. Mereka ini diberikan kekuasaan oleh Dewi Durga untuk menguasai arah mata angin dan menyebarkan bibit-bibit penyakit kepada umat manusia.
Miteme ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa di berbagai penjuru mata angin di Bali dipercayai diuni oleh Panca Durga. Masing-masing raksasa itu mendapat kekuasaan Dari Dewi Durga. Mereka menyerang umat manusia dari segala peniuru mata angin. Dengan menggunakan media angin
T9
mereka menyebarkan penyakit untuk menbencanai manusia. Apabila seuraktu- waktu wabah penyakit muncul di Bali yang ditandai dengan relative banyaknya umat manusia yang sakit atau sakit-sakitan dan seringkali ditandai dengan beruntunnya orang yang meninggal dunia maka pihak desa adat akan rnelakukan suatu upacara untuk mempersembahkan sesaji (bebanten) kepada raksasa-raksasa tersebut. Upacaranya disebut mecaru (penyucian). Upacara mecaru dipusatkan pelaksanaannya di pura dalem dan pura kahyangan yang letaknya dekat kuburan.
Miteme ini juga memberikan penjelasan bahwa di segala penjuru mata angina yaitu delapan*arah mata angina dan tengah sebagai pusat dihuni oleh raksasa yang selalu siap mencelakakan umat manusia yang tidak kuat imannya. Miteme ini juga mengandung makna supaya umat manusia selalu memuja para dewi dengan melaksanakan suatu upacara sehingga imannya tiCak lemah.
Dengan demikian, orang Bali berkeyakinan di defapan penjuru mata angin di Bali bersemanyam para dewa dan para bhuta (raksasa). Di delapan penjuru mata angin dan tengah sebagai pusat berdiri Pura Kahyangan Jagnt sebagai tempat suci untuk menyemanyamkan dan memuja Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa yang menguasai mata angin).
9. ceriteme :",.. Di bawah, ditugaskan Raksasa Dewi Durga, memiliki tima wama, mempunyai kekuatan seperti pertiwi. Kalau ingin membunuh manusia dia akan muncul secarc tiba-tiba dari balik tanah, dengan mengubah dirinya menjadiasap gunung atau embun beku.."
Ceriteme ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa gunung meletus yang terjadi di muka bumi ini diyakini oleh umat Hindu di Bali sebagai suatu fenomena alam yang disebabkan oleh amarah Dewi Durga. Asap gunung atau embun beku akan muncul secara tiba-tiba "mengeja/r umat manusia yang berlokasi di sekitar gunung yang rneletus tersebut. Musibah seperti ini, terakhir terjadi pada tahun 1963 di Bali. Pada tahun 1963 Gunung Agung meletus yang banyak memakan korban penduduk di sekitar gunung tersebut. Kejadian ini sebagai faktor pendorong penduduk yang tempat pemukiman dan lahan
20
pertaniannya luluh lantah diterjang oleh lahar panas dan bebatuan untuk bertransmigrasi. Sekarang ini transmigran asal Bali menyebar di luas di seluruh daerah transmigrasi di kepulauan Indonesia.
10. Ceriteme : "...Bhatari Durga, yang pating sakff dari ketujuh naksasa tercebut, bertugas di afas. Sefiap saat melayang-layang di udara-mencari-cari kelengahan manusia. Kalau sudah melihat manusia yang tidak kuat imannya, yang tidak pemah menyembah parc dewi, dia akan melayang turun, ialu membunuh dengan menggunakan kesaktiannya. Masuk metatui ubun-ubun.
setelah mengubah dirinya menjadi angin.."
Ceriteme ini d_apat ditafsirkan yaitu memberikan peringatan kepada umat Hindu bahwa Bhatara Durga akan marah dan mencelakakan umat manusia yang tidak memuja dan menyembah para dewi. Dalam hubungan ini, para dewi yang merupakan manifestasi Tuhan, berfungsi sebagai penghancur dan pelebur adalah sakti dari Dewa siwa. Kekuatan Dewa siwa supaya dapat berfungsi sebagai pelebur dan penghancur yang bertempat tinggal di pura Dalem, pura kahyangan, dan di kuburan melalui manifestasi Dewi Durga.
Melalui mre-me ini umat manusia dinasehati untuk selalu memperkuat iman agar terhindar dari kemarahan dan mala petaka yang disebarluaskan oleh Bhatara Durga yang setiap saat melayang-melayang di udara mencari manusia yang tidak kuat imannya. Umat Hindu dihimbau untuk selafu memuja dan menyembah para dewi. Dalam konteks ini, umat Hindu di Bali pada hari-hari keagamaan (rcrahinan) akan menghaturkan sesaji (bebanten) dan bersembahyang ke pura kahyangan tiga (pura desa, pura puseh, dan pura dalem) sebagaiwujud bakti kepada para dewidan Tuhan (tda Sang Hyang Widi Wasa).
11. Miteme '. "... semua Raksasa Durga tercebut membawa pasukan yang disebut bhuta-bhuti, dengan wujud beraneka ragam, yang jumtahnya iatin-g Hak ada tujuh (bentuk bhuta-bhuti) berwujud manisia yand diyakiii bergentayangan di befuagai tempat.."
Miteme ini lebih memperjelas lagi bahwa raksasa durga ini memiliki pasukan yang disebut bhuta-bhufi dengan wujud beraneka ragam (wujud manusia) yang sewaktu-waktu dan di tempat-tempat tertenfu bisa mengganggu
atau rnenbencanai umat manusia dan kadang-kadang dapat dilihat dengan mata sendiri. Bagi seseorang yang imannya lemah dan tidak senang sembahyang memuja-Nya maka akan mendapat gangguan dari tujuh raksasa dan pasukan Dewi Durga yang berupa bhuta-bhuti. Bertatar belakang dari inilah, di Bali relatif banyak dijumpai tempat-tempat angker dan di tempat- tempat itu diaturkan sesaji (sesalen) untuk dipersembahkan kepada penghuninya yang berupa makhluk halus.
3. Struktur Mitos Da,vi Sarasunti dan illitos Dtri Durga a. Agama Hindu Bersifat Monotheisme
Dengan @ra menguraikan mitos Dewi Sarasrrvati dan Dewi Durga menjadi beberapa miteme dan ceriteme serta melakukan anatisis dan penafsiran maka dapat dipahami mengenai makna yang ada dalam kedua mitos tersebut. Selanjutnya, dicoba untuk menguraikan manifestasi dari tokoh- tokoh dewa yang ada dalam kedua mitos tersebut dengan menempatkannya secara diakronis (sintagmatis) dan sinkronis (paradigamatis). Dari sudut pandang diakronis, para tokoh dewa tersebut dipahami dari urutan riwayat dan manifestasinya.
Secara diakronis Dewi Saraswati adalah menjadi sakti atau istri Dewa Brahma, sedangkan Dewi Durga adalah sakti atau istri Dewa Siwa. yang menarik di sini, adalah Dewi Durga turun ke bumi karena mendapat kutukan dari suaminya yang bernama Dewa Siwa, sedangkan Dewi Saraswati bisa berada berdampingan dengan suaminya yang bernama Dewa Brahma. Di sini hmpak bahwa ada yang diposisikan istri atau sakti (para dewi) dan dirrtentangkan dengan suami (para dewa), atau dengan bahasa )rang sederhana yaitu ada dewa yang berposisi laki-laki dan perempuan, yang ceritemenya dapat disusun sebagai berikut.
D s: fstri/Perempuan - sakti/suaminya bemama Dewa Brahma - Tuhan D D: lstri/Perempuan - sakti/suaminya bernama Dewa siwa - Tuhan
Catatan:
DS = DewiSaraswai DD = DewiDurga
22
Susunan ceriteme seperti di atas menampakkan oposisi pasangan (binary opposition) yaitu dewi adalah dewa perempuan atau disebut saHi yang dipertentangkan dengan dewa (dewa laki-laki). Sakti dalam hal ini bisa dilerjemahkan dengan energi. Untuk lebih memperjelas susunan ceriteme di atas akan dijelaskan terlebih dahulu rnengenai posisi dan peranan para dewa yang dipuja di kalangan orang Bali (Hindu). Walaupun riwayat tokoh-tokoh dewa itu dapat diidentifikasi dengan nama devrra (mempunyai sifat laki-laki) dan dewi (mempunyai sifat perempuan) sesuai dengan manifestasinya masing- masing, pada dasamya mereka tiada lain adalah tunggal (satu) yaitu Tuhan.
Di Bafi para dewa dan dewisering pula disebut dengan bhatara dan bhatari.
lstifah dewa yang berarti sinar. Kata bhatara dan bhatari dari bahasa Sansekerta (bhatr), yang bermakna dewa, raja, yang dipertuan, pelindung, dan pengayom.
Di kalangan orang Bali (Hindu), menyebut nama Tuhan se€ra lengkap yakni tda Sang Hyang Widi Wasa. Tuhan ini dalam manifestasi-Nya sebagai
Timurti(dari sudut pandang klasifikasi tiga / trinitas), ada yang dikenal dengan nama Denra Brahma, D€ryva Wist'tu, Dewa Siwa. Masing-rnasing devrra ini memiliki sakti atau istri sebagai sumber energi atau kekuatan untuk berkuasa.
Manibstasi Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Murti dipuja di pura kahyangan tiga yang terdapat di masing-masing desa adat (desa pekraman) di Bali. Kata sang adafah partikel penghormatan, kata funiuk, sedangkan kata hyang berarti dewa, bhatara atau yang dipuja, yang dihormati (Pekandelan, 2009: 16).
Pura kahyangan figa tersebut terdiri atas tiga nama pura yaitu pura desa, pura puseh, dan pura dalem. Dewa Brahma dipuja di Pura Desa, Dewa Wisnu dipuja di Pura Puseh, dan Dewa Siwa di Pura Dalem atau Pura Kahyangan lainnya. Puta kahyangan figa inilah yang melegatimasi keberadaan desa adat (desa pekrcmanl di Bali. Jadi, setiap desa adat (desa pehraman) rnemiliki pura kahyangan figa tempat bersemanyam dan memuja Sang Hyang Trimufti.
Apabila orang laki-laki di Bati telah melaksanakan upacara perkawinan secar€l sah menurut adat dan agama akan mulai masuk sebagai anggota desa dinas dan anggota desa adat (desa pekraman) yang ada di desanya. Pada satu wilayah desa dinas di Bali seringkali terdapat lebih dari satu desa adat (desa
23
pekaman). Peranan desa dinas adalah menangani hal-hal yang berkaitan dengan kedinasan. Sebaliknya, desa adat menangani hal'halyang menyangkut keadatan (adat dan agama), terutama bertanggung jawab terhadap keberadaan pura kahyangan tiga (pura desa, pura puseh, dan pura dalem) yang ada di wilayah desanya masing+nasing.
Trimurti Temoat Pemuiaan
- Dewa Brahma dan Sakti-Nya Tuhan :- Dewa Wisnu dan Sakti-Nya
- Dewa Siwa dan Sakti-Nya
bersemanyam ldipuja di Pura Desa bercemanyam / dipuja di Pura Puseh bersemanyam ldipuja di Pura Dalem
Ceriteme-ceriteme di atas menunjukkan bahwa struktur dalam ber- warga desa adat (desa pekraman) adalah pemujaan terhadap Sang Hyang Tdmufti. Nilai-nilai budaya dalam benrarga desa adat ini sebagai media pemersatu umat Hindu di Bali pada masing-masing desa adat (desa pekramanl.
Dalam lingkup yang lebih luas dapat dilacak mengenai manifestasi Tuhan sebagai dewata nawa sanga. Dewata nawa sanga merupakan sembilan dewa utama dalam agama Hindu. Dewata nawa sanga terdiri atas tiga kata yaitu dewa yang berarti sinar suci Tuhan, nawa yang berarti sembilan dan sangga yang berarti kumpulan. Sebagai tempat menyemanyamkan dan perrn{aan para dewa yang tergabung dalam dewata nawa sanga, para letuhur terutama para maharsi, para Mpu, maka di Pulau Bali dibangunlah pura di delapan arah mata angin dan di tengah sebagai pusat. Adapun nama-nama manifestasi Tuhan sebagai dewata nawa sanga yaitu : (1) Dewa lswara bersemanyam di Pura Lempuyang, penguasa arah timur ; (2) Dewa Brahma bersemanyam di Pura Andakasa, penguasa arah selatan; (3) Dewa Mahadewa bersemanyam di Pura Batukaru, penguasa arah barat; (4) Dewa Wisnu bersemanyam di Pura Ulun Danu Batur, penguasa arah utara; (5) Desa Sambu bersernanlam di Pura Besakih, penguasa arah tinrur faut; (6) Dewa Mahaswara bersemanyam di Pura Goa Lawah, penguasa arah Tenggara; (7) Dewa Rudra bersemanyam di Pura Uluwatu, penguasa arah barat daya; (8) Dewa Sangkara,
24
bersemanyam di Pura Pucak Mangu, penguasa arah barat laut; (9) D€wa Siwa, di tengah yaitu bersemanyam di pura Pusering Jagat' Para dewa yang disebut Deytrata Nawa Nanga inilah yang menjaga kesucian pulau Balidan menjadi "benteng pertahanan' di Bali sehingga Bali mendapat beberapa julukan, antara lain Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, Pulau Kahyangan, dan
Pulau Sorga.
Kesembilan pura ini termasuk pura kahyangan iagat. Semua lapisan masyarakat, tanpa memandang adanya perbedaan klen, kasta, atau golongan wajib rnemuja dan bersembahyang di pura trempat pemujaan Dewata Nawa
Sanga. Masing-masing pura tersebut memiliki hari-hari piodalan (hari ulang tahun) sendiri-sendiri yang biasanya dirayakan setiap 210 hari sekali. Pada waktu hari-hari piodatan di pura-pura tersebut, umat Hindu dari berbagai desa di Bali menghaturkan "sembah-bakti" ke pura yang bersangkutan sebagaiwuiud bakti kepada Tuhan {tda sang Hyang Wdi wasa) untuk memohon keselamatan dan keseiahteraan, baik lahir maupun batin.
b. urnat ttindu sebagai Pemuia dan Penyernbah flewa-Ilewi sebagai Manifestasi Tuhan
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa manifestasi Tuhan dalam bentuk trimufti (trinitas) yang terdiri atas Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Devra Siwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada ceriteme sebagai
berikut.
DB Sakfinya DS PenciPta Tuhan : - DW Saktinya DSri, DL - Pemelihara Orimurti) - DSw Saktinya DD - Pelebur
Catatan: DB = Deura Brahma. DSri= Dartrisri DW = DewaWisnu. DL = Dewi Laksmi DSw= Dewa Siwa
Datam ceriteme ini tarnpak jelas bahwa supaya manifestasi Tuhan itu bisa produktif maka diperlukan kekuatan, tenaga, atau energi' Kekuatan, tenaga, atau energi yang dimaksud dalam hal ini adalah saffii. Tanpa
didampingi oleh salrfi-nya masing-masing para dewa yang termasuk trimurti rtu tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya. Dengan demikian, ceriteme- ceriteme yang ada dalam mitos Dewi Saraswati dan mitos Dewi Durga dapat disusun sebagai berikut.
- DB -Sakti DS - Pencipta llmu pengetahuan - Kesejateraan Tuhan :
- DSw -Sakti DD - Pencipta wabah penyakit - Kemelaratan Di kalangan orang Bali (Hindu) tidak pernah inti-intinya memohon ilmu pengetahuan ke hada"pan Dewi Saraswati. Pemujaan terhadap Dewi Saraswati dilakukan secara khusus setiap 210 hari sekali yang disebut dengan nama Hari Raya Saraswati. Sebagai tampak dalam ceriteme di atas bahwa Dewi Saraswati sebagai sakfi Dewa Brahma yang merupakan salah satu manifestasi Tuhan yang berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, dengan huruf (aksara) sebagai tempat bersemanyamnya. Pada hari raya inilah merupakan hari beryoganya Dewi Saraswati untuk dipuja, guna memohon tuntunan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, sumber bahasa, sastra, ilrnu dan seni.
Walaupun Dewi Durga diyakini mempunyai "kesaktian', yang dapat menyebarkan penyakit pada manusia, tetapi umat Hindu di Bali tidak mengutuk keberadaan Dewi Durga. Mereka yakin, bahwa Dewi Durga itu akan mencelakakan seseorang yang tidak mau berbakti kepada-Nya. Dengan demikian, sebagai umat Hindu, mereka mengafurkan sembah bakti dan memohon keselamatan supaya terhindar dari segala penyakit yang disebarkan oleh Dewi Durga. Umat Hindu di Bali pada waktu hari-hari raya keagafilaan, seperti hari raya Galungan, hari Pagenresi, hari-hari piodalan di pura-pura yang termasuk Dewata Nawa sanga, dan hari-hari piodalan di pura dalem, purc
puseh, dan pura kahyangan berduyun-duyun bersembahyang untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan, baik lahir m€rupun batin. Dengan rajin sembahyang di pemerajan/sanggah dan di pura diyakini iman akan menjadi
kuat sehingga tidak diganggu oleh Dewi Durga yang memiliki kaki-tangan berupa bhuta-bhufi begitu banyak yang menyebar di muka bumi ini.
Pada dasamya pemujaan terhadap Dewi Saraswati dan Dewi Durga sekaligus merupakan pemujaan terhadap Dewa Brahma dan Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan. Dengan demikian, berarti iuga secara tidak fangsung pemujaan terhadap Tuhan (tda sang Hyang wdiwasa).
secara diakronis, rrlemang sejak awar perkembangan Hindu sudah dikenal banyak pemujaan dalam wujud dewi. Dalam sejarah peradaban dan kebudayaan Hindu pemuiaan ke pada figur wanita sudah lazim dan makin popufar. Menurut buktl lhe Principte of Shaktiyang mengutip Skanda punna di India ada empat puluh delapan pemuiaan kepada dewi yang berbeda-beda dan masing-masing berdiri sendiri. Masing-masing mempunyai makna tersendiri dan hari suci yang berbeda dan mempunyai penganut yang rnendukungnya (Pidada, 1997: 39). Seperti hari suci untuk memuja Dewi Saraswati dan Dew!
Durga yang secara intensif di taksanakan di Bali. selain itu, di katangan masyarakat petani memuja Dewi sri, dan di kalangan pedagang rnemuja Dewi laksmi 'sebagai surnber rejeki. Setiap 210 hari dilaksanakan upacara untuk pemujaan Dewi sedana yang "berstana" pada kekayaan (biasanya pada uang) yang dimilikioleh umat Hindu di Bati.
c. Unmt Hindu Penganut Animisrne dan Dinamisme
sesuai dengan ceriteme-ceriteme yang ada daram mitos Dewi Durga menyebabkan umat Hindu di Bali sampai saat ini masih percaya terhadap kekuatan animisme. Animisme adalah suatu sistem kepercayaan yang berdasarkan kepada berbagai maqtm roh/jiwa dan makhluk halus berada di alam sekeliling tempat tinggal manusia (suyono, 26: lggs; Tylor dan Frazer, 2001: ).
Dari hasil analisis miteme dan ceriteme yang diidentifikasi dari mitos Dewi Durga dapat diketahuibahwa di semua penjuru mata angin dan apa yang ada di muka bumi ini dikuasai juga oleh para bhuta-bhutiyang menjadi kaki- tangan Dewi Durga untuk untuk mencelakakan umat manusia yang tidak kuat imannya. Dengan demikian, umat Hindu di Bali tetap menjaga keharmonisan
27
dengan para kaki-targan Dewi enga yang berupa raksasa, bhuta{huti, dan makhruk harus rainnya. Di Bari, reratif banyak dijumpai tempat_tempat yang herkesan angker atau keramat karcna di tempat itu dihaturkan sesaji/sesalbn secara kontinyu dan dihiasi dangan kain putih dengan motif wama hitam-putih berkotak*otak. Di beberapa tempat tertentu, juga dibangun sebuah bangrunan kecir (bernama tugu dan sanggar agungl untuk tempat menghaturkan sesaji alau canang yang dipersembahkan kepada makhfuk harus yang bercemanyam di tempat tersebut. Tujuannya menghaturkan sesaji itu adatah untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan agar terhindar dari penyakit dan gangggan dari makhluk harus kaki-tangan Dewi Durga. serain itu, juga memohon kesejahteraan supaya mudah mendapatkan rejeki.
d. Umat Hindu di Bati Bersifat Religius
Berdasarkan hasil anatisis dan interpretasi mltos Dewi Saraswati dan Dewi Durga dapat juga diketahui bahwa umat Hindu di Bali bersifat retigius.
Derajat religiusitas umat Hindu di Bali dapat diketahui dari frekuensi tindakan ritual yang dilakukan oreh umatnya, yaitu setiap 210 hari menyerenggarakan upacara untuk merayakan Hari Raya Saraswati. Selain itu, umat Hindu secara rutin (setiap hari) menghaturkan persembahan (berupa eanang atau sodan) di tempat-tempat belajar, ruangan penyimpanan buku dan perpustakaan yang tujuannya tiada lain sebagai wuiud bakti kepada Derrui saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan agar Beliau melimpahkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia.
Pemujaan terhadap Dewi Durga guna memohon keselamatan dan kesejahteraan dilakukan pada hari-hari raya keagamaan (Hindu) dan menghaturkan persembahan di tempat-tempat tertentu seperti telah disebutkan di atas' Hari-hari raya keagamaan ini datangnya setiap 210 hari (kecuali Hari Raya Nyepiyang dirayakan setahun sekali).
Melakukan persembahan kepada pana dewa dan dewi tennasuk jenis pengorbanan kepada para dewa yang disebut dewa yadnya. Dewa yadnya rnerupakan sarah satu pengorbanan yang termasuk daram panca yadnya(tima bentuk pengorbanan suci). panca yadnya yang merupakan lima bentuk
pengorbanan suci yaitu (a) dewa yadnra (pengorbanan kepada dewaldewi), (b) rsi yadnya (pengorbanan kepada para rsi/pendeta), (c) pitra yadnya (pengobanan kepada leluhur), (d) manusa yadnya (pengobanan kepada sesama manusia); (e) bhuta yadnya (pengorbanan kepada para butha- bhutilmakhtuk halus).
Setiap umat Hindu melakukan pengorbanan suci itu pada umumnya menggunakan sarana upacara yang disebut upakarc yang berupa sesaji (bebanten atau sesaien). Akhir-akhirnya ini, umat Hindu di Bali semakin intensif mefaksanakan persembahyangan pada setiap han piodatan di pura-pura yang termasuk pura kahyangan tiga (Desa, puseh, Dalem) dan Kahyangan Jagat (Pura Besakih, Pura bafur, pura ufuwatu, dan pura lainrrya) yang datangnya setiap 210 hari sekali.
Pemujaan yang dilakukan ketika melakukan persembahyangan ditujukan kepada roh leluhur dan para dewa/dewi sebagai manifestasi Tuhan (/da Sang Hyang Wdi Wasa). Pada intinya tuiuannya melaksanakan persembahyangan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan, baik lahir maupun batin.
C. KESIffiPULAN
Dari hasil analisis dan interpretasi tentang mitos Dewi Saraswati dan mitos Dewi Durga, ada beberapa hal yang perlu diungkapkan kembali sebagai kesimpulan yaitu berkaitan dengan adanya struktur yang tersembunyi dalam mitos tersebut. Sefain itu, daristrategi menganalisis kedua mitos tersebut dapat diketahui mengenai sistem kepercayaan orang Bali (Hindu). pertama, umat Hindu bersifat monotheisme. Hal ini dapat dipahami dari miteme dan ceriteme mitos-mitos itu yang menunjukkan adanya kemiripan. Kemiripan itu terungkap pada kedududkan Devvi Saraswati dan Devrri Durga sama-sama sebagai sakfi para dewa yang termasuk Sang Hyang Trimurti. Sang Hyang Trimurtiterdiri atas Dewa Brahma sebagai pncipta, Dewa wisnu sebagai pemelihara, dan Dewi Siwa sebagai pelebur. Baik Dewi Saraswati, Dewi Durga (sebagai saktfl, Dewi Brahma, Dewi Wismu maupun Dewa Siwa (sebagai Sang Hyang Trimurti) adafah semuanya termasuk manifestasi ruhan (/da sang Hyang wdi wasa) sesuai dengan fungsinya. Ini artinya, umat Hindu hanya mengenal satu Tuhan
tetapi diberi nama berbeda-beda sesuai dengan manifestasi-Nya atau fungsi- Nya.
Kedua, umat Hindu sebagai pemuja dan penyembah dewadewi sebagai manifestasi Tuhan. Dalam manifestasi-Nya, Dewa Brahma memerlukan energi atau kekuatan sebagai pencipta, demikian juga Dewa Siwa memerlukan energi atau kekuatan untuk melebur. Energi atau kekuatan yang ada pada Dewa Brahma dan Deryvi Siwa sebagai pencipta dan pelebur itutah disebut dengan sakti. Sakfi ini mengandung aspek kewanitaan sehingga disebut dewi.
Walaupun ada wuiud sakfi, keduanya tak terpisahkan karena sakfi adalah Tuhan itu sendiri. Dergan demikian, umat Hindu yang memuja dan menyembah dewa atau dewi tiada lain yang dipuja dan disembah itu adafah Tuhan sesuai dengan manifestasi-Nya.
Ketiga, umat Hindu penganut animisme dan dinamisme Hal ini dapat dijelaskan dari miteme dan ceriteme yang ada pada mitos Dewi Durga. Umat Hindu menjalin hubungan yang harmonis dengan kaki-tanga n (bhuta-bhuti) Dewi Durga dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan ritual di tempat-tempat bersemanyamnya kaki-tangan (bhuta-bhufi) Dewi Durga tersebut. tlmat Hindu percaya bahwa di tempat-tempat tertentu dihuni oleh berbagai makhluk halus dan makhlus halus itu mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi kehidupan manusia.
Keempat, umat Hindu bersifat religius. Umat Hindu melaksanakan pengorbanan suci dengan cara melaksanakan upacara keagamaan yang terakumulasi dalam panca yadnya. Pelaksanaan upacara keagamaan telah menyatu dengan adat di Bali.
nnimsa-putra, Heddy shri. t;f i::Ht:ffitrauss:,,Butir-butir pemikiran
Antropologi", Levr:sfrauss. Empu Antropologi struktural, octavio paz.
Yogyakarta : LKis. vii-xlvii.
Ahims+'Putra, Heddy Shri. 2009. Strukturctissme Leyr-Sfiauss. Mifos dan Karya Sasfna. Yogyakarta: Kepel press.
30
Baaf, J. van. 1988. sejanh dan furtumbuhan Teori Antrcpologi Bu*aya.
Jakarta: Gramedia.
Dananjaya, James. 1991. Folklor lndonesia. ltmu Gosif, Dongeng, dan Lain- lain. Jakarta : Temprini.
Dundes, A. 1984. Saczed Nanative: Reading in the Theory of Mith. Berkeley:
University of California Press.
Durkheim, Emile. 2001. "Masyarakat sebagai yang Sakral". Seyen Theories of Religion. Dari Animisme E.B. Tylor, Materiatisme Karl Maa Hingga Antropologi Budaya c. Geertz, Danier L. pars (ed.). yogyakarta : ealim:
149-206.
Levi-Strauss, claude. 2005. Antrcpologi Strukturct. yogyakarta : Kreasi Wacana.
Mas, Arbatna Tanjung. 2008. Memahami Konsep Siwa-Buda di Bati. Surabaya : Parimita.
Maswinara, I wayan, 2aa7. Dewa-Dewi Hindu. surabaya : paramita.
Pekandelan, Mangku Alit. 2009. Kanda Empat Dewa. Manusia Setengah Dewa Safrfr manderaguna. Surabaya : Paramita.
Pidada, lda Ayu Utami. 1997. saraswafi. Denpasar: warta Hindu Dhanna.
Suyono, Ariyono. 1985. Kamus Antropolqi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Tyfor, E.B. dan J.G. Frazer. "Animisme dan Magi". Seyen lheon'es of Retigion.
Dari Animisme E.B. Tylor, Materialisme Kart Mam Hingga Antropotogi Budaya c. Geertz, Daniel L. Pals (ed.). yogyakarta : ealam: zl-go.