TINDAK TUTUR ILOKUSI PADA INTERAKSI JUAL BELI DI PASAR TRADISIONAL BENGKEL DALAM BAHASA JAWA KAJIAN
PRAGMATIK
SKRIPSI
SUCI RAMA SINTA
NIM 140701041
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TINDAK TUTUR ILOKUSI PADA INTERAKSI JUAL BELI DI PASAR TRADISIONAL BENGKEL DALAM BAHASA JAWA KAJIAN PRAGMATIK
KAJIAN PRAGMATIK SKRIPSI
OLEH
SUCI RAMA SINTA 140701041
Pembimbing,
Dr. Dardanila, M.Hum.
NIP 19610331 198702 2 001
Program Studi Ketua,
Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P NIP 19590907 198702 1 002
Lembaran Pernyataan
TINDAK TUTUR ILOKSI PADA INTERAKSI JUAL BELI DI PASAR TRADISIONAL BENGKEL DALAM BAHASA JAWA KAJIAN PRAGMATIK
OLEH
SUCI RAMA SINTA
NIM 140701041
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar keserjanaan pada suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar yang saya peroleh.
Medan, 8 Agustus 2018
Peneliti,
Suci Rama Sinta
Nim 140701041
TINDAK TUTUR ILOKUSI PADA INTERAKSI JUAL BELI DI PASAR TRADISIONAL BENGKEL DALAM BAHASA JAWA KAJIAN PRAGMATIK
OLEH
SUCI RAMA SINTA NIM 140701041
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang Tindak Tutur Ilokusi pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Bengkel dalam Bahasa Jawa berdasarkan kajian pragmatik. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik sadap, teknik simak libat cakap yang dilanjutkan dengan teknik rekam. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode padan dengan teknik lanjutan teknik pilah unsur penentu (PUP). Data dianalisis dengan menerepkan teori pragmatik tentang tindak tutur yang dikemukakan oleh Austin dan pola pasangan Berdampingan/Bersesuaian oleh Coulthard.
Temuan penelitian ini menunjukan bahwa interaksi tawar-menawar di pasar tradisional Bengkel adalah tindak ilokusi (Represeentatif/asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi) dan tindak perlokusi. Tindak tutur yang paling dominan adalah tindak direktif (pertanyaan, memohon, memerintah, dan lain-lain). Suatu percakapan juga mempunyai struktur yang dibatasi dengan pola pasangan berdampingan/ bersesuaian. Ditemukan ada delapan pola pasangan berdampingan/bersesuaian yang terdapat dalam interaksi tawar-menawar di pasar tradisional Bengkel, antara lain (1) pola sapaan-sapaan, (2) pola panggilan-jawaban, (3) pola permintaan informasi-pemberian, (4) pola keluhan-mengakui, (5) pola permintaan-pemersilakan, (6) pola penawaran-penerimaan, (7) pola penawaran-penolakan (8) pola pertanyaan-jawaban. Struktur percakapan yang dijumpai di pasar tradisional Bengkel memiliki gangguan. Pemakaian bahasa dalam percakapan di pasar tradisional Bengkel adalah nonformal.
Kata kunci: Tindak tutur, Struktur percakapan.
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi ini dari awal hingga akhir tepat pada waktunya.
Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah Tindak Tutur Ilokusi pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Bengkel dalam Bahasa Jawa: Kajian Pragmatik.
Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan baik berupa doa, dukungan, perhatian, bimbingan, dan nasihat. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini tidak akan seelesai tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum. terima kasih atas kesempatan dan fasilitas-fasilitas yang telah penulis gunakan dalam kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, USU, Medan.
2. Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, Drs. Budi Agustono, M.S., terima kasih atas arahan dan bimbingan yang bapak berikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU, Medan.
3. Ketua Program Studi Sastra Indonesia Drs. Haris Sutan Lubis, M.SP., dan Sektretaris Program Studi Sastra Indonesia Drs. Amhar Kudadiri, M. Hum., Fakultas Ilmu Budaya,
penulis dapat menyelesaikan semua urusan administrasi di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU, Medan.
4. Dosen pembimbing Dra. Dardanila M.Hum., yang telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis dengan penuh tanggung jawab.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan bekal dan pengetahuan baik dalam bidang linguistik, serta bidang-bidang umum lainya, memberikan bimbingan dan pengajaran selama penulis mengikuti perkuliahan. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pak Joko dan pak Selamet yang telah membantu penulis dalam hal administrasi di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
6. Dosen penguji Dra. Salliyanti, M.Hum dan Dr. Mulyadi, M.Hum. terima kasih kaarenaa telah memberikan nasehat, kritik, saran yang baik untuk penulis ketika ujian proposal.
7. Teristimewa kepada orang tua saya, Suriadi dan Masnah terima kasih telah membesarkanku, menyemangati, mendukung, mendoakan dengan penuh kesabaran dalam mendidik saya selama ini.
8. Terima kasih juga buat abang-abang saya Yudi Hartono, Heriono, dan kakak saya Melli Lidya Wati, serta adik saya Yudha Ramadani untuk doa, dukungan, dan semangat yang diberikan.
9. Kepala desa Abdan Nasution, sekertaris kepala desa serta seluruh pedagang dan masyarakat yang ada di desa Bengkel, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai terima kasih telah memberikan izin dan membantu penulis selama melakukan penelitian.
10. Sepupuku tercinta Wulan Dari, Yeni Fadillah S.H, terima kasih atas dukungan, semangat, dan motivasi kalian.
11. Muhammad Irfan terima kasih karna telah memberikan dukungan, semangat, dan doanya untuk penulis selama ini.
12. Sahabat saya Eva Oktaviani, Remsi Manalu S.S, Rabbiul Awallia, Intan Puspa Dewi Hasibuan, dan teman-teman seperjuangan stambuk 2014 terima kasih atas semua yang kalian berikan kepada penulis serta kenangan terindah yang kita alami bersama-sama
Sebagai manusia, penulis menyadari kekurangan yang ada dalam diri penulis.
Kekurangan-kekurangan tersebut mungkin saja tercermin dalam skripsi ini sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun sehingga kekurangan yang ada dapat disempurnakan di masa mendatang.
Akhirnya penulis berharap, skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membaca.
Medan, Juli 2018
Penulis,
Suci Rama Sinta
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK
PRAKATA
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Batasan Masalah ... 4
1.4 Tujuan Penelitian ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 5
1.5.1 Manfaat Teoritis ... 5
1.5.2 Manfaat Praktis ... 5
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep ... 6
2.1.1 Tindak Tutur ... 6
2.1.2 Pasar Tradisional ... 7
2.1.3 Bahasa Jawa ... 7
2.1.4 Struktur Percakapan ... 8
2.1.5 Ilokusi ... 8
2.2 Landasan Teori ... 8
2.2.1 Pragmatik ... 9
2.2.2 Tindak Tutur ... 9
2.2.3 Pasangan Bersesuaian (Adjacency Pair)………12
2.2.4 Konteks………..15
2.3 Tinjauan Pustaka………19
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21
3.1.1 Lokasi Penelitian ... 21
3.1.2 Waktu Penelitian ... 21
3.2 Sumber Data ... 21
3.3 Metode Penelitian ... 22
3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data... 22
3.5 Metode dan Teknik Analisis Data ... 23
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Bentuk-Bentuk Tindak Tutur Ilokusi pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Bengkel dalam Baahasa Jawa ... 27
4.1.1 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Asertif/Representatif pada Tawar- Menawar di Pasar Tradisional Bengkel... 27
4.1.2 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Direktif pada Tawar-Menawar
4.1.3 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Ekspresif pada Tawar-Menawar
di Pasar Tradisional Bengkel ... 34
4.1.4 Penggunakan Tindak Tutur Ilokusi Komisif pada Tawar-Menawar di Pasar Tradisional Bengkel ... 37
4.1.5 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Deklarasi pada Tawar-Menawar di Pasar Tradisional Bengkel ... 40
4.2 Data Pasangan Berdampingan dalam Percakapan di Pasar Tradisional Bengkel ... 44
4.2.1 Pola Sapaan-Sapaan ... 44
4.2.2 Pola Panggilan-Jawaban ... 45
4.2.3 Pola Permintaan Informasi-Pemberian ... 45
4.2.4 Pola Keluhan-Mengakui ... 46
4.2.5 Pola Permintaan-Pemersilahkan ... 47
4.2.6 Pola Penawaran-Penerimaan ... 47
4.2.7 Pola Penawaran-Penolakan... 48
4.2.8 Pola Pertanyaan-Jawaban ... 49
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 51
5.2 Saran ... 52
DAFTAR PUSTAKA ... 53
LAMPIRAN I DATA INFORMAN ... 55
LAMPIRAN II BUKTI PENELITIAN ... 59
LAMPIRAN III SURAT KETERANGAN PENELITIAN ... 62
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa memiliki arti dan memegang peranan penting bagi manusia ketika melakukan komunikasi dengan sesamanya. Komunikasi tersebut dalam bentuk lisan maupun tulisan.
Bahasa memiliki fungsi komunikatif dalam kehidupan manusia. Bahasa digunakan untuk menyampaikan satu maksud tertentu misalnya ide, gagasan, dan keinginannya kepada manusia lain sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik.
Komunikasi dalam pergaulan sering dilakukan oleh manusia, baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok. Dalam berinteraksi, manusia pasti menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan sesamanya yang akan menimbulkan tindak tutur antara penutur dan mitra tutur. Fungsi bahasa dalam hal ini jelas sebagai alat komunikasi, maka penulis mengaitkan penelitian ini pada ranah bidang pragmatik. Pragmatik merupakan bagian dari linguistik yang menelaah bahasa yang berkaitan dengana fungsi dan bentuk tuturan. (Wijana, 1996:2).
Bahasa tumbuh dan dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan masyarakat yang meliputi kegiatan bermasyarakat seperti perdagangan, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, keagamaan, dan sebagainya. Kridalaksana menguraikan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Jadi, bahasa pada prinsipnya dapat diartikan sebagai alat untuk menunjukan jati diri (Nurhayati, 2009:5-6).
Ketika seseorang berkomunikasi, harus melihat situasi dan kondisi saat berbicara, serta unsur-unsur yang terdapat di dalam situasi tutur. (Subyakto dalam nugraha1992:1)
mendefinisikan unsur-unsur yang terdapat dalam tindak tutur dan kaitannya dengan bentuk dan pemilihan ragam bahasa, antara lain siapa yang berbicara, dengan siapa berbicara, tentang apa, dengan jalur apa, dan ragam bahasa yang mana. Bahasa biasa digunakan oleh siapa saja dan di mana saja, dari situasi formal maupun nonformal dan dari tempat menuntut ilmu sampai tempat mencari nafkah. Sebagai contoh bahasa digunakan di sekolah, pasar, kantor, dan lain-lain. Tindak tutur merupakan kegiatan bermakna yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk berbahasa dengan mempertimbangkan aspek pemakaian aktualnya.
Secara pragmatigs ada tiga bentuk tindak tutur yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur yakni tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.
Dalam hal ini, peneliti memilih pasar sebagai lokasi pengambilan data. Pasar merupakan tempat berkumpulnya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Sarana yang digunakan dalam melakukan transaksi adalah bahasa. Bahasa yang digunakan pun cukup beragam dan biasanya menggunakan bahasa daerah yang dominan mendiami lokasi tersebut.
Tuturan yang banyak dijumpai pada sekitar pasar tradisional Bengkel adalah bahasa Jawa, karena penutur bahasa Jawa lebih banyak dari penutur bahsa lainya. Dengan menggunakan bahasa itu pula penjual dan pembeli dapat melakukan interaksi berupa tawar-menawar saat membeli barang.
Peristiwa tindak tutur dalam wacana jual-beli di pasar mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu menyampaikan maksud dan tujuan berbagai pihak. Penjual dan pembeli sama- sama menggunakan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan maksud agar tercapai kesepakatan. Interaksi antara penjual dan pembeli di pasar tradisional bengkel pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya disebut dengan peristiwa
berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur dalam satu pokok tuturan di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan mengakaji tindak tutur ilokusi pada interaksi jual beli di pasar tradisional Bengkel dengan mengunakan kajian pragmatik. Penelitian akan dilakukan di pasar tradisional Bengkel karena sepanjang pengetahuan penulis belum ada yang meneliti di lokasi tersebut. pasar tradisional Bengkel juga berlokasi strategis dekat dengan jalan lintas Medan Tebing. Pasar ini merupakan pasar yang ramai dikunjungi oleh masyarakat pada saat pekan saja, karena pasar ini tidak beroprasi setiap hari melainkan hanya dua hari dalam seminggu yaitu hari selasa dan hari jum’at. Bukan hanya hari saja, waktu bukanya pun ditentukan yaitu pada pukul 06.00-13.00 siang. Pasar ini juga salah satu pasar terdekat dari desa-desa. Oleh karena itu, pasar ini selalu ramai dikunjungi. Di pasar bengkel menjual berbagai macam barang seperti, tas, baju, sembako, sayur, ikan, jilbab, dan juga salon.
Menalaah harus benar-benar disadari betapa pentingnya konteks ungkapan atau ucapan.
Teori tindak tutur adalah bagian dari pragmatik, dan pragmatik itu sendiri merupakan bagian dari performansi linguistik. Selain tindak tutur, dalam suatu percakapan umumnya dilakukan oleh dua partisipan yang dimiliki dua fungsi yaitu sebagai pembicara dan pendengar. Oleh karena itu, dapat dikatakan dalam sebuah percakapan kedua partisipan itu disebut dengan pasangan berdampingan atau bersesuaian. Suatu percakapan dapat diketahui kejelasanya atau dapat dimengerti apabila pembaca mengetahui konteks dari situasi pembicaraan tersebut karena makna kata atau makna suatu kalimat berhubungan dengan konteks.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi pada interaksi jual beli di Pasar Tradisional Bengkel?
2. Bagaimanakah struktur percakapan di Pasar Tradisional Bengkel dengan menggunakan bahasa Jawa?
1.3 Batasan Masalah
Sebuah penelitian sangat membutuhkan batasan masalah agar penelitian tersebut terarah dan tidak terlalu meluas sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi hanya pada bentuk tindak tutur ilokusi serta struktur percakapan pasangan berdampingan atau besesuaian yang terdapat pada setiap tuturan interaksi tawar menawar jual-beli di pasar tradisional Bengkel dengan menggunakan bahasa Jawa.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Bengkel dengan menggunakan bahasa Jawa.
2. Mendeskripsikan struktur percakapan (berinteraksi) yang terdapat di Pasar Tradisional Bengkel.
1.5 Manfaat penelitian.
1.5.1 Manfaat Teoritis
Adapun manfaat teoritis dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut :
1. Untuk memahami bidang kajian pragmatik khususnya pengetahuan dalam bidang kebahasaan mengenai tindak tutur dalam interaksi jual beli dalam bahasa Jawa.
2. Khasanah kepustakaan dalam menambah bahan bacaan dalam bidang linguistik.
1.5.2 Manfaat Praktis
Adapun manfaat praktis dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut :
1. Dapat bermanfaat bagi pembaca dan peneliti untuk memahami struktur percakapan yang dipakai di pasar tradisional Bengkel.
2. Menjadi rujukan bagi penelitiaan lain yang berminat menganalisis bahasa khususnya bahasa Jawa di pasar tradisional Bengkel.
BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Dalam penelitian, ada beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan topik penelitian yang pada intinya dibangun untuk menunjang teori yang diterapkan. Beberapa konsep tersebut diantaranya mengacu pada judul atau topik penelitian. Dalam penelitian ini ada beberapa konsep dasar yang dijadikan sebagai acuan yaitu:
2.1.1 Tindak Tutur
Menurut Chaer dan Agustina (1995:50) mendefinisikan tindak tutur sebagai gejala individual yang bersifat psikolinguistik dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa tindak tutur adalah kemampuan seseorang individu melakukan tindak ujaran yang mempunyai maksud tertentu sesuai dengan situasi tertentu. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa tindak tutur yang lebih ditekankan adalah arti tindakan dalam tuturannya.
Rustono (1999: 31) menyatakan bahwa tindak tutur merupakan hal penting dalam kajian pragmatik. Mengujarkan atau mengungkapkan sebuah tuturan tertenttu dipandang sebagai tindakan untuk mempengaruhi atau menyuruh. Kegiatan melakukan tindakan pengujaran atau tuturan yang disebut dengan tindak tutur atau tindak ujar. Ungkapan tersebut menyatakan bahwa seseorang melakukan tindak tutur tidak hanya sekedar bertuturan saja tetapi juga dapat mempengaruhi atau menyuruh mitra tutur melakukan sebuah tindakan yang berkaitan erat dengan tuturan seseorang sampaikan. Jadi, seorang
penutur menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur dengan melalui ucapan dapat mempengaruhi atau menyuruh melakukan sesuatu tindakan tertentu.
2.1.2 Pasar Tradisional
Pasar tradisional adalah pasar yang dalam pelaksanaanya bersifat tradisional dan ditandai dengan pembeli serta penjual yang bertemu secara langsung. Proses jual beli biasaanya melalui proses tawar menawar harga, dan harga yang diberikan. Umumnya, pasar tradisional menyediakan bahan-bahan pokok serta keperluan rumah tangga. Lokasi pasar tradisional pun berada di tempat yang terbuka atau bahkan di pinggir jalan.
2.1.3 Bahasa Jawa
Bahasa jawa adalah salah satu bahasa komunikasi yang digunakan secara khusus di lingkungan etnis jawa. Bahasa ini juga digunakan untuk berinteraksi antarindividu dan memungkinkan terjadinya komunikasi. Bahasa jawa merupakan bahasa asli masyarakat jawa di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Tengah Yogyakarta, Jawa Timur, dan daerah disekitarnya. Kuntjaraningrat dalam Chaer (1995:51) membagi masyarakat Jawa atas empat tingkat, yaitu (1) wong cilik,(2) wong sudagar,(3) priyayi,dan (4) ndara. Sedangkan Clifford Geertz dalam Chaer (1995:51) membagi masyarakat Jawa menjadi tiga tingkatan yaitu (1) priyayi, (2) bukan priyayi tetapi berpendidikan dan bertempat tinggal di kota, (3) petani dan orang kota yang tidak berpendidikan. Dari kedua penggolongan itu, jelas adanya perbedaan tingkat dalam masyarakat tutur bahasa Jawa. Berdasarkan tingkat-tingkat itu juga terdapat berbagai variasi bahasa yang digunakan penutur bahasa Jawa.
2.1.4 Struktur Percakakapan
Dalam kamus linguistik, struktur adalah perangkat unsur yang diantaranya terdapat hubungan yang bersifat ekstrinsik, unsur dan hubungan itu bersifat abstrak dan bebas dari isi yang bersifat intuitif, sedangkan percakapan adalah suatu interaksi bahasa antara dua pembicara atau lebih (Kridalaksana, 1983: 130). Struktur percakapan dapat juga disebut organisasi percakapan merupakan suatu bentuk pemakaian bahasa yang mempunyai organisasi atau perangkat unsur dalam percakapan. Struktur percakapan ini diperoleh dari pengamatan situasi-situasi ketika percakapan sedang terjadi. Yule (2006:
121) menambahkan bahwa struktur percakapan ialah apa saja yang sudah kita asumsikan sebagai suatu yang sudah dikenal baik melalui diskusi sebelumnya. Struktur itu secara lebih dekat adalah sebagai suatu aspek pragmatik yang krusial.
2.1.5 Ilokusi
Ilokusi (illocutionary acts) merupakan tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya. Tindak tutur ilokusi dapat dinyatakan dengan ungkapan the act of doing something (tindakan yang melakukan sesuatu). Jadi, ada semacam daya didalamnya yang dicuatkan oleh makna dari sebuah tuturan (dalam Rahardi 2009:17).
2.2 Landasan Teori
Teori yang dipakai dalam kajian ini adalah teori tindak tutur yang dikemukakan Austin yaitu lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Untuk lebih rinci Searle menggolongkan ilokusi dalam lima macam bentuk dan teori Coulthard yaitu pasangan berdampingan atau bersesuian.
2.2.1 Pragmatik
Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa yang memiliki berbagai cabang. Cabang- cabang itu antara lain adalah Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik, dan Pragmatik.
Keempat cabang linguistik yang pertama mempelajari strukur bahasa secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana kesatuan bahasa itu digunakan dalam berkomunikasi.
(Wijana, 1996:1)
Para pakar pragmatik mendefenisikan istilah Pragmatik ini secara berbeda-beda.
Yule (1996:3), misalnya menyebutkan empat defenisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji bidang pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya, (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara, dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlihat dalam percakapan tertentu. Leech (1983:6 dalam gunarwan 2004:2)). Pragmatik adalah ilmu yang mengkaji bahasa untuk menentukan makna-makna ujaran yang sesuai dengan situasi.
2.2.2 Tindak Tutur
Teori tindak tutur sendiri (speech acts) berawal dari ceramah yang disampaikan oleh filsuf berkembangsaan inggris yaitu Jhon L. Austin, pada tahun 1955 di Universitas Harvard yang kemudian diterbitkan pada tahun 1962 dengan judul How To Do Things With Word. Kemudian dikembangkan oleh Searle secara mantap dalam bukunya yang berjudul Speech Acts : An Easy in the Philosophy of Language. Menurutnya dalam semua interaksi lingual terdapat tindak tutur. interaksi lingual bukan hanya lambang, kata atau
kalimat, melainkan lebih tepatnya bila disebut produk atau hasil dari lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur. (dalam Rahardi 2009:17)
Berdasarkan ilmu pragmatik ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur yaitu lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Ketiga jenis tindak tutur dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tindak tutur lokusi (locutionary acts) adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat, sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri. Adapun tindak tutur lokusi itu dapat dinyatakan dengan ungkapan, the act of saying something (tindakan yang mengatakan sesuatu).
Dalam tindak lokusi tidak dipermasalahkan ihwal maksud tuturan yang disampaikan oleh penutur. Jadi tindak tutur lokusi adalah tindak penyampaian informasi yang disampaikan oleh penutur.
2. Tindak tutur ilokusi (illocutionary acts) merupakan tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya. Tindak tutur ilokusi dapat dinyatakan dengan ungkapan the act of doing something (tindakan yang melakukan sesuatu). Jadi, ada semacam daya didalamnya yang dicuatkan oleh makna dari sebuah tuturan.
3. Tindak tutur perlokusi (perlocutionary acts) ini merupakan tindak menumbuhkan atau menimbulkan pengaruh kepada sang mitra tutur oleh penutur. Tindak tutur perlokusi dapat dinyatakan dengan ungkapan the act of affecting someone (tindakan yang mempengaruhi seseorang). (dalam Rahardi 2009:17)
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. Searle (1969) menggolongkan tindak tutur ilokusi itu ke dalam lima macam bentuk tuturan yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif, menurut Searle (1975) ilokusi dibedakan atas:
a. Asertif (kadang-kadang disebut representatif) adalah bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang sedang diungkapkannya dalam tuturan itu. Adapun bentuk tutur asertif itu adalah menyatakan, memberitahu, melaporkan, mengeluh, meyakini, dan menyarankan. Contoh:
yang ini ada warna birunya kak, harganya sama ( menyarankan )
b. Direktif (directive) adalah bentuk tuturan yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk membuat pengaruh agar sang mitra tutur melakukan tindakaan-tindakan yang dikehendakinya seperti berikut ini: memesan, memerintah, memohon, menyuruh, menasehati, pertanyaan, dan meminta. Contoh: kak kasih bawangnya setengah sama cabenya seperempat ya, (memerintah).
c. Ekspresif (ekspressive) adalah bentuk tuturan yang berfungsi menyatakan menunjukan sikap psikologis isi penutur terhadap keadaan tertentu seperti yang disebutkan berikut ini: berterima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, mengkritik, mengejek, dan berbela sungkawa. Contoh:
makasih ya kak, langganan (terima kasih).
d. Komisif (commissive) adalah bentuk tuturan yang digunakan untuk menyatakan janji atau penawaran tertentu seperti berikut ini: berjanji, menyetujui, menawarkan sesuatu, bersumpah. Contoh: cari apa kak, bajunya, dasternya! Sini masuklah. (menawarkan sesuatu)
e. Deklarasi (declaration) adalah yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataanya seperti: menghukum, memberi nama, memecat, memutuskan, mengizinkan, membatalkan, mengucilkan. Contoh: yaudah lima puluh ribulah biar jadi. (memutuskan).
2.2.3 Pasangan Bersesuaian (Adjacency Pair)
Levison dalam purba (2002:107) mengemukakan bahwa untuk mengenali organisasi atau percakapan dapat dilakukan dengan menggunakan tigaa model analisis, yaitu (1) model turn talking, (2) model adjacency pair, (3) model overall organization. Ketiga mode l ini dianalisis.
Adjacency pair (Pasangan bersesuaian) adalah pasangan dari bentuk peristiwa berbahasa lisan yang selalu bersamaan, misalnya pertanyaan dan jawaban. Sebuah rangsangan dengan jawabannya adalah pasangan bersesuaian yang diucapkan oleh si pembicara dan si pendengar pada permulaan komunikasi, pertengahannya atau pada akhirnya. Pasangan bersesuaian ini adalah sebuah unit yang penting dalam berkomunikasi walaupun kelihatannya sangat sederhana dan ringkas (Lubis, dalam Tina 1996: 109). Contoh:
Permulaan : “Selamat Pagi.”
(bertemu) : “Selamat Pagi Juga.”
“Apa Kabar”
“Baik”
Peretngahan : “Jadi Kamu Setuju?”
“ Setuju”
“Kapan Kita Berjumpa Lagi?”
“Minggu”
Akhir : “Nah, Sampai Jumpa Lagi”
“Oke”
Coulthard (dalam Purba, 2002: 108) memberikan pasangan bersesuaian sebagai unit struktur percakapan, yaitu:
1. Pola Sapaan-Sapaan
Merupakan pola yang paling umum dijumpai dalam percakapan. Contoh:
A: “Halo”
B: “Ha”
2. Pola Panggilan- Jawaban.
Merupakan pola yang biasa kita jumpai dan biasanya pola panggilan jawaban ini sering dilakukan apabila percakapan tersebut dilakukan secara lisan.
Contoh:
A: “Dek mau cari apa ya! Masuk dek, masuk!”
B: “Ga, lihat-lihat aja.
3. Pola Permintaan Informasi-Pemberian
Dalam percakapkan juga ditemukan adanya pola permintaan informasi yang dibalas dengan pemberian informasi oleh masing-masing mitra bicaranya.
Contoh: A: “Pak, ada minyak bimoli?”
B: “Ada”
4. Pola Keluhan-Mengakui
Keluhan permintaan maaf adalah percakapan yang terjadi yang penutur pertama mengeluh akan suatu perbuatan atau sikap, benda ataupun tentang manusia, dan penutur selanjutnya mengakui dan meminta maaf. Contoh:
A: “Satu harian hujan terus, orang yang belanja pun sepi.”
B: “Ya bu, orang malas belanja ke pasar.
5. Pola Permintaan-Pemersilakan
Pola permintaan pemersilakan adalah percakapan terjadi yang penutur pertama meminta sesuatu misalnya kegiatan untuk melakukan suatu perbuatan atau sikap, benda ataupun barang sedangkan penutur selanjutnya mempersilahkan atau melakukan apa yang diminta penutur pertama.
Contoh:
A: “Boleh dicoba jeruknya dek?”
B: “Boleh”
6. Pola Penawaran- Penerimaan.
Pola pernawaran penerimaan mengindikasikan adanya pihak yang menawarkan sesuatu, dan penawaran yang diajukan diterima. Contoh:
A: “Buk, jeruk madu harganya sekilo lima ribu.”
B: “ Kasih sekilo aja”
7. Pola Penawaran -Penolakan
Pola penawaran penolakan mengindikasikan adanya pihak yang menawarkan sesuatu, hanya saja penawaran yang diajukan sama sekali tidak diterima
A: “ Cabenya Bu… ini cabe gunung, ambil seperempat ya.
B: “ Masih ada”
8. Pola Pertnyaan-Jawaban
Pola pertanyaan jawaban adalah percakapan yang sering dijumpai salah satu penutur mengutarakan pertanyaan dan penutur yang menjadi lawan tuturnya berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut. Contoh:
A: “ Ada minyak goring putih pak?”
B: “Ada”
2.2.4 Konteks
Parera (dalam Tina 1990:120) mengemukakan tiga ciri yang harus dipenuhi untuk terciptanya suatu konteks, yaitu 1.) Setting, 2.) Kegiatan, 3.) Hubungan (relasi). Interaksi ketiganya membentuk konteks.
1.) Setting meliputi: a) unsur-unsur material yang ada disekitar peristiwa interaksi berbehasa, b) tempat, c) waktu.
2.) Kegiatan: semua tingkah laku yang terjadi dalam interaksi, seperti berbahasa itu sendiri, juga termasuk kesan, perasaan, tanggapan, dan persepsi Pn dan Pt.
3.) Hubungan (relasi) meliputi hubungan antara Pn dan Pt yang ditentukan oleh a) jenis kelamin, b) umur, c) kedudukan; status, peran, prestise, d) hubungan kekeluargaan, e) hubungan kedinasan, setting, kegiatan dan hubungan ditentukan secara kultural.
Dell Hymes (1972) merumuskan faktor-faktor penetu peristiwa tutur tersebut melalui akronim SPEAKING yaitu :
S : Setting and Scane P : Participants
E: Ends (Purpose and Goal) A: Act sequences
K: Key (tone or spirit of act) I : Instrumentalities
N: Noms of interaction and interpretation G : Genre.
Setting and Scane.
Di sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan Scane mengacu pada situasi, tempat, dan waktu atau situasi psikologis pembicaraan.
Waktu dan tempat atau situasi tuturan yang berbeda dan menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara di lapangan sepak bola pada waktu pertandingan sepak bola dalam situasi yang ramai tentu berbeda dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan dalam keadaan sunyi. Jika kita bisa berbicara atau berteriak sekeras mungkin di lapangan sepak bola, maka sebaliknya jika kita berada dalam perpustakaan.
Participants
Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim atau penerima (pesan). Dua orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara dan pendengar, tetapi jika di dalam khotbah di masjid, khotib sebagai pembicara dan Jemaah sebagai pendengar
yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda dalam berbicara dengan orang tuanya atau gurunya bila dibandingkan kalau dia berbicara dengan teman-teman sebayanya.
Ends
Ends merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara. Namun, para participants di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin membuktikan kesalahan terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil. Dalam peristiwa tutur diruang kuliah linguistik, dosen yang cantik itu berusaha menjelaskan materi kuliah agar dipahami mahasiswanya. Namun, barangkali di antara para mahasiswa itu ada yang datang hanya untuk memandang wajah ibu dosen yang cantik itu.
Act Squence
Act sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaanya, dan hubungan antara apa yang dikatakan dengan topic pembicaraan. Bentuk ujaran dalam kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda begitu juga dengan isi yang dibicarakan.
Key
Key mengacu pada nada, cara dan semangat dimana suatu pesan disampaikan dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditujukan dengan gerak tubuh dan isyarat.
Instrumentalities
Instrumentalities mengacu pada jalur bahasa yang digunakan seperti jalur lisan, tertulis, melalui telegraf, atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan seperti bahasa ragam dialek atau register.
Norms of Interaction and Interpretation
Norm of Interaction and Interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berintruksi bertanya, dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.
Genre
Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian seperti narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainya. Dari yang dikemukakan Hymes itu dapat kita lihat betapa komplesnya terjadinya peristiwa tutur.
2.3 Tinjauan Pustaka
Alwi (2003:1998) mengatakan bahwa tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, pendapat (sesudah menyelidiki atau mempelajari). Sedangkan pustaka adalah kitab, buku, buku primbon (Alwi, 2003:912). Berdasarkan tinjauan pustaka yang dilakukan, maka ada sejumlah sumber yang relevan untuk ditinjau dalam penelitian ini, adapun sumber tersebut adalah sebagai berikut:
Dalam penelitian Nasution (2001) yang berjudul “Pasangan Bersesuaian dalam Wacana Persidangan Analisis Implikatur Percakapan” mengungkapkan terdapat lima pola
pemersilakan, permintaan informasi – pemberian, penawaran – penerimaan, dan penawaran – penolakan. Selain itu, Ia menyimpulkan bahwa tidak semua pasangan bersesuaian tersebut yang bermakna implikatur.
Sedangkan penelitian yang dilakukan Arianto (2003) dalam skripsinya “Pasangan Bersesuaian dalam Wacana Wawancara Kerja Analisis Implikatur Percakapan”. Ia membahas tentang pola pasangan bersesuaian dan mengemukakan bahwa ada empat pola pasangan bersesuaian yang terdapat pada percakapan wawancara kerja yaitu pola permintaan-pemersilahkan, pola permintaan informasi-pemberian, penawaran-penolakan, dan pola penawaran-penerimaan.
Hasibuan (2005) dalam jurnalnya “Perngkat Tindak Tutur Dan Siasat Kesantunan Berbahasa Dalam Bahasa Mandailing”. Ia mengemukakan jenis-jenis tindak tutur versi Searle yaitu representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Juga dibahas jenis tindak tutur langsung dan tidak langsung. Ia juga mengaitkan tindak tutur dengan kesantunan berbahasa.
Maharani (2007) dalam skripsinya “Tindak Tutur Percakapan pada Komik Asterix”.
penelitian ini menunjukan bahwa percakapan yang terdapat dalam komik Asterix mempunyai tiga jenis tindak tutur yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Selain itu terdapat juga 10 pola pasangan berdampingan yaitu: (1) pola sapaan-sapaan,(2) pola panggilan-jawaban,(3) pola permintaan informasi-pemberian,(4) pola penawaran- penolakan, (5) pola keluhan-bantahan, (6) pola pertanyaan-jawaban, (7) pola pemberian informasi-jawaban, (8) pola perintah-jawaban/menuruti, (9) pola perintah-bantahan, (10) pola sindiran-sindiran.
Rostina (2008) dalam tesisnya “Tindak Tutur Dalam Interaksi Sosial Di Pasar Tradisional Aksara”. Ia membahas tentang jenis-jenis tindak tutur yaitu tindak ilokusi (representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif) dan tindak perlokusi. serta terdapat delapan pasangan bersesuain yaitu pola sapaan-sapaan, pola panggilan-jawaban, pola permintaan informasi-pemberian, pola keluhan-mengakui, pola permintaan- pemersilahkan, pola penawaran-penerimaan, pola penawaran penolakan, dan pola pertanyaan-jawaban.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Pasar Bengkel, Kecematan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Pasar ini merupakan pasar yang masih ramai dikunjungi sampai sekarang dan merupakan tempat bertemunya pedagang dan pembeli yang penutur bahasa Jawanya masih banyak dijumpai. Oleh karena itu, peneliti memilih tempat ini untuk dijadikan objek penelitian tindak tutur pada interaksi jual beli di pasar tradisional Bengkel dalam bahasa Jawa.
3.1.2 Waktu Penelitian
Waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau kegiatan berada atau berlangsung (Alwi, 2003: 1627). Penelitian dimulai pada tanggal 15 Mei sampai tanggal 19 Juni 2018.
3.2 Sumber Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini bersumber dari bahasa lisan yang dituturkan oleh pedagang atau penjual dan pembeli yang sedang melakukaan transaksi jual beli di pasar tradisional Bengkel dalam tuturan bahasa Jawa. Penulis mengambil empat informan penjual dan empat informan pembeli untuk dijadikan narasumber, yaitu pedagang jilbab dan pembeli, pedagang baju dan pembeli, pedagang sayur dan pembeli, serta pedagang tas dan pembeli. Para pedagang ini merupakan penduduk yang menggunakan bahasa Jawa di pasar tradisional Bengkel.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian secara holistik, dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai bentuk metode alamiah.
Istilah deskriptif, maksudnya adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, kalimat- kalimat, dan bukan angka-angka. Dalam hal ini, peneliti mencatat dengan teliti dan cermat data-data yang berwujud tuturan yang terdapat dalam interaksi tawar-menawar di pasar Bengkel. (Meloeng, 1998: 3).
3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam tahap metode pengumpulan data, metode yang digunakan adalah metode simak. Disebut “metode simak” atau “penyimakan” karena memang berupa penyimakan:
metode yang dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133).
Metode dilakukan dengan menyimak tuturan yang disampaikan oleh pedagang dan pembeli berupa tawar menawar.
Adapun teknik dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sadap. Pada praktiknya, penyimakan atau metode simak itu diwujudkan dengan penyadapan, maksudnya penyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang (Sudaryanto, 1993: 133). Metode simak memiliki teknik lanjutan yaitu teknik simak libat cakap (Sudaryanto, 1993: 134). Peneliti terlibat langsung dalam dialog atau ikut serta dalam proses interaksi jual beli di pasar Bengkel. kemudian dilanjutkan dengan teknik rekam dan teknik catat sebagai teknik lanjutan akhir dari metode simak. Dalam hal ini penulis akan
nantinya akan dipilih mana yang bisa dijadikan data untuk dianalisi atau tidak, dengan melakukan pencatatan terhadap data relevan yang sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitian. Teknik pencatatan dilakukan dengan mencatat kata-kata yang diucapkan oleh informan.
3.5 Metode dan Teknik Analisis Data
Setelah semua data terkumpul, kemudian diadakan analisis terhadap data untuk menyelesaikan masalah penelitian yang telah ditetapkan. Analisis data digunakan agar peneliti menangani secara langsung masalah yang terkandung di dalam data (Sudaryanto, 1993:6). Metode yang digunakan penulis untuk menganalisa data dalam penelitian ini adalah metode padan.
Metode padan ialah metode yang digunakan untuk menganalisis data dengan alat peneliti berasal dari luar terlepas dan tidak menjadi bagian bahasa (language) yang bersangkutan (Sudaryanto 1993:13). Dalam metode padan ini digunakan teknik dasar dan teknik lanjutan.
Teknik dasarnya adalah teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) yang menggunakan alat berupa daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitinya (Sudaryanto, 1993:21). Penggunaan metode ini didasarkan pendapat Sudaryanto (1993:21) yang mengatakan bahwa sesuai dengan jenis penentu yang akan di pisah-pisahkan atau dibagi menjadi berbagai unsur itu maka daya pilah itu dapat disebut sebagai daya pilah referensial, daya pila ortografis dan daya pilah pragmatis. Metode padan yang digunakan dalam menganalisis data ini adalah metode pada referensial yang alat penentunya adalah kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referent bahasa dan metode padan pragmatis yang alat penentunya adalah mitra wicara. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi,
misalnya, satuan kebahasaan menurut reaksi atau akibat yang terjadi atau timbul pada lawan atau mitra wicaranya ketika satuan kebahasaan itu dituturkan oleh pembicara. Pada penelitian ini metode ini digunakan untuk mengidentifikasi tindak tutur tawar-menawar di pasar tradisional Bengkel.
Contoh data:
(1) Tempat : Pasar tradisional bengkel di pedagang tas.
Waktu : Siang hari
Konteks : Tuturan ini terjadi pada seorang ibu yang menanyakan harga tas kepada penjual dan terjadilah interaksi berupa tawar menawar.
Pembeli : Piro rego tas iki yuk? (direktif/pertanyaan) Berapa harga tas ini kak?
Penjual : Satus ewu. (asertif/memberitahukan) Seratus ribu
Pembeli : Satus ewu, yo murah. (Ilokusi/perlokusi) Seratus ribu, murah ya
Penjual : Isih mbukak dasar iki lo buk. Tawarla, riko arek piro? (direktif) Tawar la buk masih buka dasar ini. Jadi, ibuk mau berapa?
Pembeli : Patang puluh ewu yo. (deklarasi/memutuskan) 40 ribu ya.
Penjual : Nambah la buk’e sethithik neh, men jadi iki. (perlokusi) Nambahla buk’e sedikit lagi, biar jadi ini
Pembeli : Yauweslah paske ae seket ewu. (deklarasi/memutuskan) Yasudahla paskan saja lima puluh ribu
Penjual : Matur nuwun, langganan yo buk. (ekspresif) Terima kasih, langganan ya buk.
Pada percakapan (1) di atas merupakan tindak tutur ilokusi direktif karena berupa pertanyaan dari seorang pembeli kepada penjual jeruk yang akan menimbulkan adanya efek pada lawan tutur. Hal ini terlihat pada tuturan “Isih mbukak dasar iki lo buk.
penjual agar si calon pembeli sipmpati serta meminta pembeli menaikan harga yang ditawarnya. Dengan tuturan tersebut penjual berharap dapat memberikan efek kepada pembeli memberikan harga yang lebih tinggi dari penawarannya. Pada tuturan “satus ewu, yo murah” merupakan tindak perlokusi karena si pendengar itu menjadi sedih dan fungsi ilokusi mempunyai maksud sindiran yang harganya terlalu mahal.
Contoh data lainya:
(2) Tempat : Pasar tradisional bengkel di pedagang tas.
Waktu : Siang hari
Konteks : Tuturan ini dituturkan oleh pembeli yang menanyakan harga jeruk.
Pembeli : Jeruk iki piro? (direktif/pertanyaan) Jeruk ini berapa?
Penjual : 1 kilo sepuluh ribu aja kek’e. (asertif/memberitahukan) Pembeli : Cilik-cilik ngene uwoh’e buk kok larang. (asertif/mengeluh)
Kecil-kecil gini buahnya buk kok mahal.
Penjual : Iyo, cilik uwohe yuk, tapi dijamin la roso’e manis. (asertif/memberitahu) Iya, kecil buahnya buk tapi dijamin rasanya manis.
Data (2) merupakan tindak ilokusi Asertif karena di dalam tuturan tersebut bertujuan untuk menginformasikan atau memberitahukan kebenaran proposisi yang diekspresikan kepada lawan tutur. Tuturan “Iyo, cilik uwohe yuk, tapi dijamin la roso’e manis.” merupakan suatu pemberitahuan kepada pembeli yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa jeruk itu rasanya manis walaupun buahnya kecil-kecil.
Adapun contoh analisis data dari masalah yang kedua adalah sebagai berikut:
1. Pola Sapaan-Sapaan.
Pola ini merupakan pola yang paling umum dijumpai dalam percakapan. Sapaan- sapaan adalah pola pasangan bersesuaian yang didalamnya terdapat ujaran antara penutur saling menyapa, menegur, atau mengucapkan salam.
Konteks: seorang pembeli sedang menyapa ke pedagang jilbab yang sudah menjadi langganannya untuk membeli jilbab.
Pembeli: “Yuk!,laris dodolane yo.” ‘kak!, laris jualannya ya.’
Penjual: “Allhamdullilah yuk.”
2. Pola Panggilan-Jawaban
Pola Panggilan-Jawaban yaitu percakapan antara penutur memanggil nama atau orang dan penutur lain menjawab panggilan tersebut. contoh data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Konteks: penjual baju yang sedang memanggil pembeli untuk menawarkan dagangannya, dan pembeli menjawab panggilan tersebut.
Penjual: “Cari opo yuk! Dasternya, celananya ada, sinilah!.”
Pembeli: “Gak, arek delok-delok ndesek.” ‘gak, mau lihat-lihat dulu.’
tuturan di atas merupakan salah satu contoh struktur percakapan bersesuaian yang terdapat di pasar tradisional Bengkel dengan menggunakan bahasa Jawa.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1Bentuk-Bentuk Tindak Tutur Ilokusi Pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Bengkel dalam Bahasa Jawa.
Tindak tutur yang dipakai dalam interaksi jual beli di pasar tradisiona l Bengkel yaitu tindak ilokusi (Representatif, Direktif, Ekspresif, Komisif, Deklaratif) dan tindak perlokusi.
Tindak tutur yang paling dominan yang terdapat dalam interaksi jual beli di pasar tradisional Bengkel adalah bentuk tindak tutur direktif (pertanyaan, memohon, menyuruh, menantang, dan lain-lain).
Tuturan dalam kegiatan tawar-menawar di pasar tradisional Bengkel sering didapati menggunakan tindak tutur ilokusi. Para pedagang dan pembeli biasanya tidak menyadari dan kurang memahami mengenai jenis yang dituturkannya ketika sedang berinteraksi tawar- menawar.
4.1.1 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Asertif/Representatif pada Tawar-Menawar di pasar Tradisional Bengkel.
Bentuk pertuturan Asertif adalah sesuatu yang terjadi meyakinkan. Fungsi Asertif berupa: menyatakan, memberitahu, melaporkan, mengeluh, meyakini, dan menyarankan.
Asertif merupakan tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. Tindak tutur jenis ini juga disebut dengan tindak tutur Representatif.
Pada tawar-menawar di pasar tradisional Bengkel ditemukan bentuk tuturan Asertif.
Berikut adalah beberapa contoh data tuturan Asertif dalam tawar-menawar:
(3) Tempat:Pasar tradisional bengkel di pedagang jilbab.
Waktu : Pagi hari
Konteks : Tuturan ini terjadi ketika seorang pembeli menawar harga ciput (dalaman jilbab) kepada penjual.
Pembeli : Eneng ciput buk, Siji piro ? (direktif/petanyaan) (‘ada ciput buk, berapa satu ?’)
Penjual : Eneng yuk, sepuluh ewu ae. (asertif/memberitahu) (‘ada kak, sepuluh ribu aja’)
Pembeli : Limo ewu yo. (deklaratif/memutuskan) (‘lima ribu ya.’)
Penjual : Ora intuk lo yuk semono, tambah eneh la. (perlokusi) (‘gak dapat lo kak segitu, tambah lagi la’)
Pembeli : Emoh, arek tuku okeh kok. (asertif/memberitahukan) (‘enggak, mau beli banyak kok’)
Penjual : Ya uwes tak kurangi, arek tuku piro? (direktif/pertanyaan) Ya udah dikurangi, mau beli berapa?
Pembeli : kasih 10 buk. (direktif/meminta)
Pada percakapan (3) di atas merupakan representatif. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan “Emoh, arek tuku okeh kok.” Tuturan tersebut bertujuan untuk menginformasikan atau memberitahukan bahwa si pembeli akan membeli ciput (dalaman jilbab) dalam jumlah yang banyak bila menemukan harga kesepakatan dalam tawar- menawar dengan si penjual. Sedangkan “Ora intuk lo yuk senguno, tambah eneh la”
adalah tindak tutur perlokusi karena digunakan untuk membujuk mitra tutur agar mau membeli anak jilbab dengan harga yang diinginkan.
(4) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedagang sayur.
Waktu : pagi hari
Konteks : Tuturan ini terjadi saat penjual menawarkan dagangannya kepada sang pembeli.
Pembeli : Cabe abang sekilo piro yuk? (direktif/pertanyaan) Cabe merah berapa sekilo kak?
Penjual : Rolas ewu. (asertif/memberitahukan) Dua belas ribu.
Penjual : Telung puluh ewu. (asertif/memberitahukan) Tiga puluh ribu.
Pembeli : Ke’i cabe setengah yuk, brambange seperempat ae.
(direktif/memerintah)
Kasih cabe setengah kilo kak, bawangnya seperempat aja.
Penjual : Ora sekalian iki tomate yuk, sekilo limang ewu ae.
(asertif/menyarankan)
Gak sekalian ini tomatnya kak, satu kilo lima ribu aja.
Tuturan di atas (4) yang dicetak tebal merupakan representatif menyarankan. Karena pada tuturan Ora sekalian iki tomate yuk, sekilo limang ewu aebertujuan untuk menarik minat pembeli agar membeli tomatnya. Pedagang sengaja menyarankan tomatnya agar sang pembeli tertarik dan membeli karna harganya yang murah.
(5) Tempat : Pasar tradisional bengkel pada pedagang baju.
Waktu : Siang hari
Konteks : Tuturan terjadi saat pembeli menawar harga baju.
Pembeli : Piroan baju iki yuk, kok ayu tenan la.
(ilokusi,perlokusi)
Berapaan harga baju ini kak, kok cantik kali.
Penjual : Yang iku satus ewu yuk, iso kurang. (asertif/memberitahu) Yang ini seratus ribu kak, bisa kurang.
Pembeli : Pitung puluh yo, men dadi. (direktif/memohon) Tujuh puluh ya, biar jadi.
Penjual : Ojolah semono, barang baru iki lo yuk.
(asertif/memberitahukan)
Janganlah segitu, barang baru la ini kak.
Pembeli : Ya uwesla, welung puluh. (deklarasi/memutuskan) Ya udahla, lapan puluh.
Penjual : suwon yo yuk. (ekspresif/terima kasih) Makasi ya kak.
Tuturan yang dicetak tebal di atas merupakan tuturan representatif karena di dalam tuturan tersebut bertujuan untuk memberitahukan atau menginformasikan kebenaran proposisi yang diekspresikan kepada mitra tutur. Pedagang baju tersebut memberitahukan kepada pembeli bahwa barang itu adalah barang baru masuk, sehingga pembeli memahami dan menaikan harga jual kepada pedagang. Maksud dan fungsi dari tuturan
“Piroan baju iki yuk, kok ayu tenan la.” Bisa berarti pujian atau ejekan, pujian kalau memang baju itu terlihat cantik dan ejekan kalau baju itu terlihat tidak bagus. Tindak tutur perlokusi karena bisa menimbulkan reaksi bagi pendengar. Reaksi itu bisa menjadi sedih atau muram, dan dapat juga mengucapkan terima kasih.
(6) Tempat : Pasar tradisionaL Bengkel di pedagang tas.
Waktu : Siang hari
Konteks : Tuturan terjadi saat seorang pembeli menawar harga kepada pedagang.
Penjual : Tasnya buk’e, dompetnya diobral aja. (komisif/menawarkan) Pembeli Piroan seng iku dompet’e.? (direktif/pertanyaan)
Berapaan yang ini dompetnya?
Penjual : Iku yuk, enem puluh ewu. (asertif/memberitahukan) Itu kak enam puluh ribu.
Pembeli : Telung puluhla.. (deklarasi/memutuskan) Tiga puluhla.
Penjual : Ora intukla, iku ae modale patang puluh buk’e.
(asertif/mengeluh)
Ga dapatla, itu aja modalnya empat puluh buk.
Pembeli : Yau wesla arek ndelok-ndelok ae.
Ya udahla mau lihat-lihat aja (deklarasi/membatalkan) Penjual : mengko kalo arek rene yo buk. (komisif/menawarkan)
Nanti kalo mau kesini ya buk.
Percakapan di atas (6) yang tuturannya dicetak tebal merupakan representatif mengeluh.
Karena, pada tuturan “Ora intukla, iku ae modale patang puluh buk’e.” bertujuan untuk menginformasikan atau memberitahukan kepada pembeli bahwa dia membeli dompet itu dengan harga empat puluh ribu. Tingginya modal yang untuk membeli dompet tersebut diekspresikannya dengan suatu keluhan kepada si pembeli sehingga pembeli dapat memahami penjual yang tidak melepas dompetnya dengan harga yang diinginka pembeli.
4.1.2 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Direktif pada Tawar Menawar di Pasar Tradisional Bengkel.
Tindak tutur Direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan sesuai dengan apa yang disebutkan oleh si penutur. Fungsi direktif dapat berupa memesan, meminta, memohon, menyuruh, menasehati, dan pertanyaan.
Contoh percakapan antara penjual dan pembeli dalam tawar-menawar yang berupa bentuk tindak tutur Direktif adalah sebagai berikut:
(7) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedagang sayur.
Waktu : Pagi hari
Konteks : seorang pembeli menawar harga cabe gunung kepada penjual.
Pembeli : Kok apik tenan iki buk cabe abange? (ekspresif/memuji) Kok cantik kali cabe merahnya buk?
Penjual : Iyo, cabe gunung iki yang teko mau. (asertif/pernyataan) Iya, cabe gunung ini yang datang tadi.
Pembeli : Piroan iki? (direktif/pertanyaan) Berapaan ini?
Penjual : Telung puluh. (asertif/memberitahu) Tiga peluh ribu.
Pembeli : Ora iso kurang buk? (direktif/pertanyaan) Ga bisa kurang buk.?
Penjua : Ora iso yuk, larang. (asertif/melaporkan) Ga bisa buk, mahal.
Pada data (7) di atas merupakan direktif. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan “Ora iso kurang buk?”. Tuturan tersebut berupa pertanyaan yang berisi sebuah permintaan yang
akan menimbulkan adamya efek bagi lawan tutur. Pembeli menanyakan permintaan mengenai pengurangan harga cabe Rp 30.000,00/ kg karena dinilai terlalu mahal supaya mendapat keringan.
(8) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedagang jilbab Waktu : Siang hari
Konteks : tuturan ini terjadi saat menawar harga jilbab.
Pembali : Yuk, jilbab seng iki eneng warna ireng? (direktif/pertanyaan) Kak, jilbab yang ini ada warna hitam?
Penjual : Entekla, warna abang iki gelem? (komisif/menawarkan) Habisla, warna merah yang ini mau?
Pembeli : Emohla, arek golek warna ireng kok (deklarasi/membatalkan) Egakla, mau cari warna hitem kok kak.
Pada tuturan “Yuk, jilbab seng iki eneng warna ireng?” merupakan tindak tutur ilokusi direktif yang berupa pertanyaan dari seorang pembeli kepada penjual jilbab yang akan menimbulkan adanya efek pada lawan tutur. Tuturan tersebut berupa pertanyaan untuk mengungkapkan suatu permintaan dari pembeli untuk mencarikan jilbab yang berwarna hitam kepada pedagang jilbab.
(9) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedagang baju.
Waktu : Siang hari
Konteks : pembeli yang tertarik dengan baju yang ditawarkan penjual.
Penjual : Opo yuk, dasternya murah iku. (komisif/menawarkan) Apa kak, dasternya murah itu.
Pembeli : Murahe iku piro? (direktif/pertanyaan) Murahnya itu berapa?
Penjual : Enem pulu ae lo yuk. (asertif/memberitahukan) Enam puluh ribu aja lo kak.
Pembeli : Patang puluh yo, klo iso tak jumuk.(direktif/memohon) Empat puluh ya, kalau bisa diambil.
Penjual : Tambah enehla. (direktif/memohon) Tambah lagi la.
Pembeli : Emohla sengono ae. (deklarasi/memutuskan) Ga la, segitu aja.
Penjual : Ya uwela, langganan yo yuk. (komisif/menyetujui) Ya udhla, langganan kita ya kak.
Pada percakapan (9) yang tuturannya dicetak tebal merupakan direktif mengeluh. Karena,
seorang pembeli yang meminta harga yang diinginkannya kepada pedagang. Pembeli sengaja memohon untuk mendapatkan simpati atau efek dari pedagang sehingga pedagang memahami dan menyetujui permintaan pembeli.
(10) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedagang tas
Waktu : Pagi hari
Konteks : seorang pembeli yang mencoba menawar harga taskepada pedagang tas.
Penjual : Gelem yuk seng iku? (direktif/pertanyaan) Mau kak yang itu?.
Pembeli : Piroan tas iki ? (direktif/pertanyaan) Berapaan tas ini?
Penjual : Pitung puluh. (asertif/memberitahu) Tujuh puluh
Pembeli : lima puluh ya (direktif/meminta)
Penjual : Oraiso kurang eneh yuk. (deklarasi/memutuskan) Ga bisa kurang lagi kak.
Pembeli : Kurangi setitik enehla, mosok ora kurang. (direktif/memohon) Kurangi sedikit lagi la, masak ga kurang.
Penjual : ya uwes, enem puluh pase. (komisif/menyutujui) Ya udah, enam puluh pasnya.
Pembeli : Bungkuslah. (direktif/memerintah) Penjual : Suwon yo yuk.
(makasi ya kak)
Pada percakapan (10) di atas, tuturan yang dicetak tebal tersebut merupakan tindak tutur ilokusi direktif karena di dalam tuturan tersebut untuk mengungkapkan suatu permintaan yang akan menimbulkan adanya efek bagi lawan tutur. Pada tuturan “Kurangi setitik enehla, mosok ora kurang.”tersebut berupa permohonan dari seorang pembeli kepada
pedagang tas yang bertujuan untuk meminta pengurangan harga tas yang terlalu tinggi sehingga penjual dapat memahami dan menuruti permintaan pembeli.
4.1.3 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Ekspresif pada Tawar-Menawar di Pasar Tradisional Bengkel.
Bentuk tindak tutur Ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturan diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalama tuturan itu, yang termasuk tuturan Ekspresif adalah meliputi tuturan mengucapkan terima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, mengkritik, mengejek, dan berbela sungkawa.
Berikut contoh data dari bentuk tindak tutur Ekspresif:
(11) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedaganng sayur.
Waktu : Pagi hari
Konteks : Tuturan terjadi saat membeli sayur.
Pembeli : Piroan bayam seiket? (direktif/pertanyaan) Berapaan bayam seikat?
Penjual : Telung ewu (asertif/memberitahu) Tiga ribu.
Pembeli : Rong iket limong ewu yo. (direktif/meminta) Dua iket lima ribu ya.
Penjual : ( mengangguk) loro ae? (deklarasi/mengizinkan) Dua aja.
Pembeli : Iyo, suwon buk. (ekspresif) Iya, makasi buk.
Pada percakapan (11) di atas merupakan tindak tutur ilokusi ekspresif. Hal tersebut terlihat pada tuturan “Iyo, suwon buk.” digunakan untuk mengungkapkan suatu perasaan dan sikap tentang suatu keadaan. Tuturan tersebut berisi ungkapan rasa terima kasih yang di tuturan oleh pembeli karena telah diberikan harga yang sesuai diinginkannya.
(12) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedagang baju Waktu : siang hari
Penjual : Golek opo yuk, renelah melebu.
(komisif/menawarkan) Cari apa kak, sinilah masuk.
Pembeli : Yuk, baju kodok iki piro yo? (direktif/pertanyaan) Kak, baju kodo k yang ini berapa ya?
Penjual : Satus limong puluh ewu yuk, (asertif/memberitahu) Seratus lima puluh ribu kak.
Pembeli : Ah mahal tenan, paske satus ewu lah.
(deklarasi/memutuskan)
Ah mahal kali, paskan seratus ribulah.
Penjual : Ora iso yuk. iku bahane apik lo. Oponeh riko seng ngenggo pasti ayu tenan, pas ambek badane (ekspresif/memuji).
Ga bisa kak, itu bahanya bagus lo. Apalagi kamu yang pake pasti cantki kali, pas sama badannya.
Pembeli : Satus loro puluh ewu yo, men dadi.(direktif/meminta) Seratus dua puluh ribu ya biar jadi.
Penjual : satus telung puluh ewu lah. (direktif/memohon) Seratus tiga puluh ribu la.
Pembeli : Emohlah. (deklarasi/membatalkan) Egaklah.
Penjual : Ya uweslah, men langganan yo yuk (komisif/menyetujui)
Ya udahlah biar langganan kita ya kak.
pada percakapan (12) di atas terdapat tuturan ekspresif yang mengungkapkan suatu perasaan dan sikap tentang suatu keadaan. Pada tuturan “Ora iso yuk. iku bahane apik lo. Oponeh riko seng ngenggo pasti ayu tenan, pas ambek badane.” Merupakan pujian
terhadap pembeli yang bertujuan untuk merayu sang pembeli agar membeli baju dengan harga yang lebih tinggi dari penawaran pembeli karna pedagang masih belum mendapatkan untung dari penawaran tersebut.
(13) Tempat : Pasar tradisional Bengkel di pedagang jilbab Waktu: Siang hari
Konteks : tuturan tersebut terjadi saat seorang pembeli menanyakan harga jilbab.
Pembeli : Yuk, tanya jilbab satin seng kembang-kembang iku piroan?
(direktif/pertanyaan)
Kak, Tanya jilbab satin yang corak bunga-bunga itu berapaan?
Penjual : patang puluh dek. (asertif/memberitahu) Empat puluh dek.
Pembeli : Harga pasnya yuk? (direktif/pertanyaan) Penjual : Iku uwes harga pasnya dek. (asertif/pernyataan)
Itu udah harga pasnya dek.
Pembeli : Oh iyo yuk makasi. (ekspresif) Oh iya kak makasi.
Percakapan (13) di atas adalah tindak tutur ilokusi ekspresif. Hal tersebut terlihat dari tuturan “Oh iyo yuk makasih”. Tuturan tersebut digunakan untuk mengungkapkan suatu perasaan dan sikap tentang suatu keadaan. Tuturan yang dicetak tebal itu mengungkapkan rasa terima kasih yang diucapkan oleh pembeli karena telah diberikan informasi dengan baik mengenai harga jilbab yang dituturkan kepada pedagang.
(14) Tempat : Pasar tradisional Bengkel Waktu : Siang hari
Konteks : Seorang pembeli yang menawar harga dompet.
Penjual : Opo cari yuk, dompete, tas sekolah eneng yuk.(komisif) Apa cari kak, dompetnya, tas sekolah ada kak.
Pembeli : Seng iki piroan? (direktif/pertanyaan) Yang ini berapaan?
Penjual : Seng iku enem puluh ae yuk, harga obral ae iku. (asertif) Yang itu enam puluh aja kak, harga obral aja itu.
Pembeli : Patang puluh yo. (direktif/meminta) Empat puluh ya.
Penjual : Patang puluh seng iku yuk. (komisif/menawarkan) Empat puluh yang itu kak.
Pembeli : Mosok ora kurang. (asertif/mengeluh) Masa enggak kurang.
Penjual : Uwesla tak kurangi limong ewu. (deklarasi/memutuskan) Udahla ku kurangi lima ribu.
Pembeli : Suwon yo yuk. (ekspresif) Makasi ya kak.
Pada percakapan (14) di atas merupakan penawaran seorang pembeli kepada pedagang.
Pada tuturan “Suwon yo yuk” yang di ucapkan oleh pembeli merupakan tindak tutur
perasaan atau keadaan. Seorang pembeli mengucapkan perasaan senangnya dengan berterima kasih kepada pedagang karena pedagang bersedia mengurangi harga dompet yang ditawarnya.
4.1.4 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Komisif pada Tawar-Menawar di Pasar Tradisional Bengkel.
Tindak tutur Komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya. Misalnya, berjanji, menyetujui, bersumpah, dan menawarkan sesuatu.
Berikut cotoh data dari bentuk tindak tutur Komisif:
(15) Tempat : Pasar tradisional Bengkel Waktu : Siang hari
Konteks: pembeli yang bernegoisasi kepada pedagang baju.
Pembeli : Baju kaos seng iki piro? (direktif/pertanyaan) Baju kaos yang ini berapa?
Penjual : Iku pitung puluh. (asertif/memberitahu) Itu tujuh puluh.
Pembeli : Ora iso kurang buk? (direktif/pertanyaan) Enggak bisa kurang buk?
Penjual : Iyo, mengko tak kurangi. (komisif/berjanji) Iya, nanti dikurangi.
Pembeli : Pitung puluh yo. (direktif/meminta) Empat puluh ya.
Penjual : Ora iso, gurung intuk untung. (asertif/menyatakan) Enggak bisa, belom dapat untung.
Pembeli : Intuk’e piro? (direktif/pertanyaan) Dapatnya berapa?
Penjual : Harga passe enem puluh iku. (deklarasi/memutuskan) Harga pasnya enam puluh itu.
Pembeli : 55 yo. (direktif/meminta) 55 ya.
Penjual : Ya uwesla, sowun yuk. (ekspresif) Ya udahla, makasi kak.
Percakapan (15) di atas terdapat tuturan “Iyo, mengko tak kurangi.” Yang merupakan tindak tutur ilokusi komisif karena tuturan tersebut melibatkan pembicaraan pada beberapa tindakan yang akan datang atau dilakukan. Pada tuturan tersebut pedagang baju dalam tuturannya menjanjikan akan mengurangi atau menurunkan harga baju kepada pembeli. Pedagang menjanjikan pengurangan harga baju untuk mencapai kesepakatan kepada pembeli.
(16) Tempat : Pasar tradisional Bengkel Waktu : Siang hari
Konteks : Seorang pembeli yang menawar harga tas.
Pembeli : Tas iki piroan? (komisifdirektif/pertanyaan) Tas ini berapaan?
Penjual : 120 iso kurang yuk.. (asertif/memberitahukan) 120 bisa kurang kak.
Pembeli : Wolung puloh yo. (direktif/meminta) Delapan puluh ya.
Penjual : Ora intukla yuk, tambah enehlah. (direktif/ memohon) Ga dapat kak, tambah lagi lah
Pembeli : Mohla, kalo dike’i semono tak jumuk.
(deklarasi/ memutuskan)
Enggalah, kalau dikasih segitu diambil.
Penjual : Wolung puluh seng iku yuk. (komisif/menawarkan) Delapan puluh yang itu kak.
Pembeli : Emohlah. (deklarasi/ membatalkan) Enggaklah.
Konteks tuturan (16) di atas adalah seorang pembeli yang menawar harga tas kepada pedagang dengan harga delapan puluh ribu. Pedagang menolak penawaran pembeli dengan tuturan “Wolung puluh seng iku yuk” .Tuturan tersebut merupakan tindak tutur ilokusi komisif karena di dalam tuturan tersebut melibatkan pembicaraan pada beberapa tindakan yang akan datang atau dilakukan. Pada tuturan tersebut penjual tas
penawaran kepada pembeli. Penjual menawarkan harga tasdelapan puluh ribu dengan kualitas yang lebih rendah dari tas yang diinginkan pembeli.
(17) Tempat : Pasar tradisional Bengkel Waktu : Pagi hari
Konteks : seorang pembeli yang menawar harga brokoli.
Pembeli : Pak, piro brokoli seng iki? (direktif/pertanyaan) Pak, berapa brokoli yang ini?
Penjual : Seng iku rolas ewu. (asertif/memberitahu) Yang itu dua belas ribu.
Pembeli : Sepoloh yo? (direktif/meminta) sepuluh ya.
Penjual : Sepoloh seng cilik buk. (asertif/memberitahu) Sepulluh yang kecil buk.
Pembeli : Oh yauwes pak kasih sitok ae.
(direktif/memerintah)
Ooh yaudah pak, kasih satu aja.
Penjual : Seng lain opo meneh buk? (komisif/menawarkan) Yang lain apa lagi buk?
Pembeli : Enggak pak. (deklarasi/membatalkan)
Pada percakapan data (17) di atas merupakan tindak tutur ilokusi komisif. Hal tersebut terlihat dari tuturan “Seng lain opo meneh buk?”. Tuturan itu merupakan suatu penawaran yang diucapkan atau dituturkan oleh si pedagang untuk menawarkan sesuatu kepada pembeli untuk membeli sayuran atau dagangannya yang lain.
(18) Tempat : Pasar tradisional Bengkel Waktu : Siang hari
Konteks : seorang pembeli mencoba bernegoisasi harga jilbab.
Pembeli : Buk, seng iki jilbab pasmina opo segi empat? (direktif) Buk, yang ini jilbab pashmina apa segi empat?
Penjual: Iku pasmina dek, bahane apik lo iku.
(asertif/memberitahu)
Itu pashmina dek, bahannya bagus lo itu.
Pembeli : piroan buk? (direktif/pertanyaan) Berapaan buk?
Penjual : Limong puluh ewu dek. (asertif/memberitahu) Lima puluh ribu dek.
Pembeli : Patang puluh yo? (direktif/meminta) Empat puluh ya?
Penjual : Tambah goceng yo. (direktif/memohon) Tambah goceng (5 ribu) ya.
Pembeli : Emohla, wes langganan kok ambek riko. (asertif/menyatakan) Enggaklah, udah langganan kok sama kamu.
Penjual : Yauwesla arek sitok ae dek, ora sekalian segi empatnya.
(komisif/menyetujui)
Yaudahla mau satu aja dek, gak sekalian segi empatnya.
Pembeli : Wes iku ae. (deklarasi/memutuskan) Udah itu aja.
Pada percakapan (18) di atas merupakan tindak tutur ilokusi komisif karena tuturan tersebut melibatkan pembicaraan pada beberapa tindakan yang akan datang atau dilakukan. Tuturan “Yauwesla arek sitok ae dek, ora sekalian segi empatnya.”
Merupakan komisif menyetujui yang diucapkan oleh pedagang jilbab pada suatu penawaran harga yang diminta oleh pembeli sebab mereka sudah lama berlangganan serta sengaja menawarkan jilbab lainnya yang bertujuan agar sang pembeli tertarik mengambil jilbab lainnya. Kata menyetujui ditandai dengan kata “Yauwesla” (yaudahla).
4.1.5 Penggunaan Tindak Tutur Ilokusi Deklarasi pada Tawar-Menawar di Pasar Tradisional Bengkel.
Tuturan ini menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru.
Yang termasuk ke dalam jenis tuturan ini adalah tuturan dengan maksud menghukum, memberi nama, memecat, memutuskan, mengizinkan, membatalkan, dan mengucilkan.
Adapun bentuk tuturan Deklarasi adalah sebagai berikut:
(19) Tempat : Pasar tradisional Bengkel