1
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Deskripsi Subyek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga yang berjumlah 28 siswa, yang terdiri dari 13 laki-laki dan 15 perempuan. Dari 28 siswa terdapat 6 siswa yang memiliki percaya diri dengan kategori rendah, dan 2 siswa yang memiliki percaya diri dengan kategori sangat rendah. Oleh karena itu 8 siswa ini dijadikan sebagai subyek penelitian yang tergabung kedalam kelompok eksperimen.
4.1.2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Uji instrumen yang telah dilakukan terhadap 32 butir pernyataan yang ada di dalam angket percaya diri menghasilkan 27 butir memenuhi syarat dengan nilai r lebih besar dari 0,30 dan 5 butir gugur. Nilai r (Corrected Aitem-Total Correlation) dari 27 butir yang memenuhi syarat bergerak dari 0,300 – 0,844 dengan koefisien Alpha Cronbach 0,909 yang termasuk dalam kategori sangat kuat, sehingga angket percaya diri dapat diandalkan (reliable) untuk digunakan sebagai alat ukur. Adapun rincian hasil uji reliabilitas angket percaya diri dipaparkan pada tabel berikut:
Tabel 4.1.
Hasil Uji Reliabilitas Instrumen
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.909 27
Sedangkan hasil uji validitas item angket percaya diri dipaparkan pada tabel berikut:
2 Tabel 4.2.
Hasil Uji Validitas Item Angket Percaya Diri
Item-Total Statistics Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item- Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item
Deleted
Butir01 75.2963 195.293 .513 .906
Butir02 74.2963 187.755 .758 .901
Butir03 74.4815 197.259 .569 .905
Butir05 75.1111 204.872 .300 .909
Butir06 73.4074 194.174 .670 .904
Butir07 74.4815 182.798 .803 .899
Butir08 75.8519 231.362 .777 .926
Butir09 75.2593 217.738 .364 .917
Butir10 74.7037 189.755 .705 .902
Butir11 75.0000 198.692 .565 .906
Butir13 74.9630 201.037 .395 .908
Butir14 74.3704 187.858 .746 .901
Butir15 74.8148 199.849 .338 .909
Butir16 74.0741 197.225 .504 .906
Butir17 74.3704 190.781 .621 .904
Butir18 74.0370 184.191 .796 .900
Butir19 74.7407 194.969 .584 .905
Butir21 74.7037 197.832 .435 .907
Butir22 74.9630 198.191 .463 .907
Butir23 73.5185 184.182 .844 .899
Butir24 74.1111 186.487 .748 .901
Butir25 74.4074 193.174 .617 .904
Butir26 73.7037 181.524 .836 .899
Butir28 75.8148 221.387 .437 .920
Butir29 74.7037 193.140 .634 .904
Butir30 74.8889 202.256 .397 .908
Butir32 74.4444 193.949 .599 .904
4.1.3. Pelaksanaan Penelitian
4.1.3.1. Gambaran Sikap Percaya Diri Siswa Sebelum diberikan Layanan Konseling Kelompok
Gambaran awal kondisi percaya diri siswa sebelum diberikan layanan konseling kelompok dapat diprediksi melalui penyebaran angket percaya diri kepada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga. Angket percaya diri yang berisi pernyataan sebanyak 32 item dengan 5 pilihan jawaban, bertujuan untuk mencari dan mengetahui kondisi percaya diri siswa yang mempunyai kecenderungan percaya diri dengan kategori rendah. Dari 32 siswa kelas VIIIF SMP
3 Negeri 7 Salatiga terdapat 2 siswa yang memiliki percaya diri dengan kategori sangat rendah, 6 siswa yang memiliki percaya diri dengan kategori rendah, sisanya 20 siswa memiliki percaya diri dengan kategori sedang. Delapan siswa yang memiliki rasa percaya diri rendah dan sangat rendah ditentukan sebagai anggota kelompok eksperimen.
4.1.3.2. Pre-Test
Sebelum diberikan layanan konseling kelompok, perlu diketahui kondisi awal percaya diri siswa kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga. Untuk itu dilakukan pre-test dengan cara menyebar angket percaya diri kepada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga dengan hasil seperti tampak pada Tabel 4.3. di bawah ini:
Tabel 4.3.
Kondisi Percaya Diri Siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga Sebelum Layanan Konseling Kelompok
Skor Kategori Jumlah
siswa
140 – 166 Sangat
tinggi
-
113 – 139 Tinggi -
86 – 112 Sedang 20
59 – 85 Rendah 6
32 – 58 Sangat
rendah
2
Total 28
Hasil pre-test menunjukkan 2 siswa memiliki percaya diri dengan kategori sangat rendah, 6 siswa memiliki percaya diri dengan kategori rendah, dan sisanya 20 siswa memiliki percaya diri dengan kategori sedang. Siswa yang memiliki percaya diri rendah dan sangat rendah dijadikan sebagai subyek penelitian dan dimasukkan ke dalam kelompok eksperimen.
4.1.3.3. Pemberian Perlakuan (Treatment)
Treatment diberikan dengan memberi layanan secara berkelanjutan dengan menggunakan konseling kelompok pendekatan Client Centered. Kegiatan eksperimen dilaksanakan 6 kali pertemuan yaitu mulai tanggal 8 Agustus 2017 sampai tanggal 17 Oktober 2017. Layanan ini dikatakan berhasil apabila subyek penelitian menunjukkan antusiasme dalam mengikuti kegiatan dan mereka dapat meningkatkan rasa percaya dirinya. Pada setiap sesi layanan selalu diawali dengan mengucapkan salam dan membuka sesi layanan dengan berdoa, yang dilanjutkan dengan
4 mengisi daftar hadir. Adapun sesi eksperimen melalui konseling kelompok dengan pendekatan Client Centered dirinci sebagai berikut:
1. Pertemuan I dilaksanakan pada hari Selasa, 8 Agustus 2017, jam 09:10 – 09:50.
Pertemuan I merupakan perkenalan. Tujuan dari pertemuan ini adalah agar anggota kelompok memahami arti konseling kelompok, asas-asas konseling kelompok, responden dapat memahami peran masing-masing di dalam kelompok, dan dapat mengucapkan ikrar janji konseling secara bersama-sama. Setelah menjelaskan pengertian konseling kelompok, kegiatan dilanjutkan dengan memilih ketua kelompok, serta menjelaskan peran masing- masing anggota kelompok.
Pertemuan ini diawali dengan menjelaskan arti konseling kelompok, dan diikuti dengan tanya jawab agar supaya anggota kelompok ikut berperan aktif di dalam konseling kelompok.
Dikarenakan Pertemuan I ini merupakan pertemuan perkenalan, pada awal pertemuan semua anggota kelompok kurang aktif. Anggota kelompok masih diliputi rasa malu dan enggan untuk berbicara.
Pada akhir layanan, semua anggota kelompok diminta untuk menyampaikan pesan dan kesan tentang layanan konseling kelompok yang telah dilakukan, dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan selanjutnya pada pertemuan kedua dengan topik percaya diri.
2. Pertemuan II dilaksanakan pada hari Selasa, 15 Agustus 2017, jam 09:00 – 09:50.
Topik pada pertemuan II adalah percaya diri. Pertemuan diawali dengan menjelaskan pengertian percaya diri, aspek-aspek percaya diri, dan faktor-faktor percaya diri. Tujuan dari pertemuan ini adalah agar anggota kelompok memahami arti percaya diri, sehingga anggota kelompok dapat menjelaskan arti percaya diri, dapat menyebutkan karakteristik individu yang percaya diri dan karakteristik individu yang kurang percaya diri, dapat menyebutkan cara mengatasi kurang percaya diri, dan anggota kelompok mampu menceritakan masalah kurang percaya diri yang dialami.
Pada Pertemuan II ini, anggota kelompok secara berangsur mulai membuka diri dan bersedia untuk bertukar pendapat tentang percaya diri yang mereka miliki. Permasalahan percaya diri yang diungkapkan meliputi berbagai bidang konseling yakni bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir. Masalah yang diungkapkan para anggota kelompok antara lain: merasa ragu dan
5 tidak yakin dengan kemampuan sendiri, malu dengan kondisi fisik sendiri, merasa paling jelek, grogi saat berada dihadapan orang banyak, tidak berani mengungkapkan pendapat, dan takut untuk mencoba hal baru karena takut gagal.
Pada akhir layanan, semua anggota kelompok menyampaikan kesan dan pesan tentang layanan konseling kelompok yang telah dilakukan, dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan untuk pertemuan berikutnya yaitu topik cinta diri.
3. Pertemuan III dilaksanakan pada hari Selasa, 22 Agustus 2017, jam 9:10 – 9:50.
Melalui pertemuan III ini dijelaskan tentang pengertian cinta diri. Tujuan dari pertemuan ini adalah agar anggota kelompok mampu berpikir positif.
Pada Pertemuan III, anggota kelompok sudah mampu berperan aktif dalam kegiatan. Setiap anggota kelompok diminta untuk menanggapi, menyampaikan pertanyaan, ataupun memberikan tanggapan terhadap pendapat anggota lain terkait dengan pemahaman cinta diri dan hubungannya dengan percaya diri, sehingga terjadi dialog yang menarik. Dari dialog ini tampak anggota kelompok secara berangsur mulai merubah pola pikir dari berpikir negatif ke berpikir positif.
Pada akhir layanan, semua anggota kelompok menyampaikan kesan dan pesan tentang layanan konseling kelompok yang telah dilakukan, dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan untuk pertemuan berikutnya yaitu topik pemahaman diri.
6 4. Pertemuan IV dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Agustus 2017, jam 9:10 – 9:50.
Pada pertemuan IV dibahas tentang pengertian pemahaman diri sebagai upaya untuk mengenal diri sendiri, sehingga anggota kelompok mampu mengetahui kelemahan-kelemahan yang menjadi penghambat keberhasilan dan mengetahui potensi untuk mengembangkan diri.
Tujuan dari sesi ini adalah agar anggota kelompok memiliki pamahaman tentang dirinya sendiri, anggota kelompok dapat menjelaskan bagaimana cara memahami diri, dan anggota kelompok dapat menerapkan pemahaman tentang dirinya sendiri dan orang lain.
Dalam pertemuan ini anggota kelompok semakin aktif bertukar pendapat tentang pengalaman mereka selama bersekolah di SMP Negeri 7 Salatiga. Anggota kelompok bertukar pendapat sekitar hambatan-hambatan yang mereka alami, dan saling memberikan saran jalan keluarnya.
Selama menjalankan kegiatan ini, anggota kelompok tampak semakin terbuka untuk berdialog.
Pada akhir layanan, semua anggota kelompok menyampaikan kesan dan pesan tentang layanan konseling kelompok yang telah dilakukan, dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan untuk pertemuan berikutnya dengan topik memiliki tujuan hidup yang jelas.
5. Pertemuan V dilaksanakan pada hari Selasa, 5 September 2017, jam 09:10 – 09:50.
Pertemuan V menjelaskan tentang memiliki tujuan hidup yang jelas. Tujuan pertemuan ini agar anggota kelompok memahami pentingnya memiliki tujuan hidup yang jelas. Karena dengan memiliki tujuan hidup yang jelas, anggota kelompok dapat mengarahkan tindakannya untuk mencapai tujuan yang telah direncanakannya, yang pada gilirannya akan mendorong anggota kelompok lebih percaya diri untuk membuat sebuah keputusan.
Pada akhir layanan, semua anggota kelompok menyampaikan kesan dan pesan tentang layanan konseling kelompok yang telah dilakukan, dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan untuk pertemuan berikutnya dengan topik optimis.
6. Pertemuan VI dilaksanakan pada hari Selasa, 12 September 2017, jam 09:10 – 09:50.
Pertemuan VI diawali dengan menjelaskan pengertian optimis dan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang memiliki sikap optimis. Tujuan dari pertemuan ini agar anggota kelompok mampu membangun sikap optimis, karena orang yang optimis lebih percaya diri dan merasa yakin mampu mengendalikan masa depan mereka sendiri.
7 Pada akhir layanan, semua anggota kelompok menyampaikan kesan dan pesan tentang layanan konseling kelompok yang telah dilakukan, dan dilanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan untuk pertemuan berikutnya dengan topik optimis.
7. Pertemuan VII dilaksanakan pada hari Selasa, 19 September 2017, jam 09:10 – 09:50.
Pertemuan VII merupakan pertemuan terakhir. Pertemuan ini diadakan untuk melaksanakan post-test.
4.1.3.4. Hasil Observasi
Observasi yang dilakukan selama pelaksanaan layanan konseling kelompok dirangkum pada Tabel 4.2. sebagai berikut.
Tabel 4.4.
Hasil Observasi Terhadap Layanan Konseling Kelompok
Topik Materi Hasil
Pertemuan I Konseling
kelompo k
Pengertian konselin g kelompo k
Anggota kelompok dapat memahami arti konseling kelompok, asas-asas konseling kelompok, dan dapat mengucapkan ikrar janji konseling secara bersama-sama, anggota kelompok dapat memahami peran masing-masing sebagai anggota kelompok.
Secara keseluruhan pertemuan I berjalan lancar. Walaupun ada beberapa anggota yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan, hal ini disebabkan karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan, sehingga masih dipengaruhi oleh rasa malu.
Topik Materi Hasil
Pertemuan II Percaya diri
Pengertian percaya diri
Anggota kelompok berpendapat bahwa percaya diri adalah percaya pada diri sendiri. Saat diminta untuk menyebutkan ciri-ciri orang yang percaya diri, anggota kelompok sangat antusias dalam menjawabnya.
Ketika anggota kelompok diminta untuk bercerita didepan anggota lainnya, pada awalnya mereka
8 merasa canggung, namun secara
berangsur canggung dapat diatasi, dan
mereka merasa sangat senang dengan kegiatan layanan yang dilaksanakan.
Kesimpulan: konseling kelompok dalam mengatasi rasa kurang percaya diri dapat dikatakan berhasil.
Pertemuan III Cinta diri
Pengertian cinta diri
Anggota kelompok dapat mengerti arti penting mencintai diri sendiri, dan pentingnya untuk selalu berpikir positif.
Pertemuan IV Pemahaman
diri
Pengertian pemaha man diri
Anggota kelompok berupaya untuk memahami diri sendiri dan memahami anggota kelompok yang lain. Mereka mulai bertukar informasi tentang kelemahan dan kelebihan yang mereka miliki.
Meskipun agak sulit diajak untuk berpikir positif, namun semua anggota kelompok mulai berupaya untuk menghilangkan pikiran- pikiran negatif tentang orang lain dan diri mereka sendiri. Anggota kelompok tampak sudah mulai mengembangkan rasa percaya dirinya.
Pertemuan VI Optimis
Pengertian optimis
Pada kegiatan ini anggota kelompok diminta untuk mendiskusikan pengertian optimis dan pesimis.
Semua anggota kelompok antusias untuk berpendapat dan menceritakan pengalaman mereka tentang sikap optimis dan pesimis yang mereka miliki. Anggota kelompok tampak mulai berani membuka diri dan lebih percaya diri.
9 4.1.3.5. Post-Test
Setelah pemberian layanan konseling kelompok pendekatan Client Centered, kemudian dilanjutkan dengan mengadakan post-test dengan hasil seperti tampak pada Tabel 4.3. di bawah ini:
Tabel 4.5.
Kategori Percaya Diri Siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga Sesudah Layanan Konseling Kelompok
Skor Kategori Jumlah
siswa
140 – 166 Sangat
tinggi
-
113 – 139 Tinggi -
86 – 112 Sedang 8
59 – 85 Rendah -
32 – 58 Sangat
rendah
-
Total 8
Tabel 4.5. di atas menunjukkan kondisi percaya diri siswa kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga setelah pelaksanaan layanan konseling kelompok Client Centered, dimana tidak ada lagi siswa yang memiliki percaya diri dengan kategori rendah dan sangat rendah. Adapun peningkatan skor 8 siswa yang tergabung dalam kelompok eksperimen dipaparkan pada Tabel 4.4. di bawah ini:
Tabel 4.6.
Skor Kelompok Eksperimen
Sebelum dan Sesudah Layanan Konseling Kelompok
Responden
Jumlah Skor Sebelum
Layanan
Sesudah Layanan
R1 72 92
R2 61 92
R3 66 98
R4 68 101
R5 71 92
R6 69 92
R7 55 99
R8 56 91
10
11 4.1.3.6. Uji Hipotesis
Untuk mengetahui apakah layanan konseling kelompok pendekatan Client Centered berhasil meningkatkan percaya diri 8 siswa yang tergabung dalam kelompok eksperimen dilakukan dengan cara menguji skor pre-test dan post-test melalui uji Wilcoxon seperti tampak pada tabel berikut:
Tabel 4.7.
Hasil Uji Hipotesis
Test Statisticsb
Sesudah - Sebelum
Z 2.527a
Asymp. Sig. (2-tailed) .012 a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test
Tabel 4.7. di atas menunjukkan nilai Zhitung= 2,527 > Ztabel= 0,240 dengan nilai signifikansi adalah 0,012 < 0,05 yang berarti ada perbedaan yang signifikan kondisi percaya diri 8 siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga sebelum dan sesudah diberi layanan konseling kelompok pendekatan Client Centered. Perbedaan itu ditunjukkan oleh meningkatnya percaya diri siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga yang memiliki percaya diri dengan kategori rendah dan sangat rendah meningkat menjadi kategori sedang. Hal ini dapat diartikan bahwa konseling kelompok dengan pendekatan Client Centered dapat meningkatkan percaya diri siswa yang tergabung dalam kelompok eksperimen.
Adapun skor peningkatan percaya diri siswa yang tergabung dalam kelompok eksperimen, dapat dilihat pada Tabel 4.8. di bawah ini:
Tabel 4.8.
Skor Pres-Test dan Post-Test
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Pre-Test 8 64.7500 6.62786 55.00 72.00
Post-Test 8 94.6250 3.99777 91.00 101.00
12 Tabel 4.8. di atas menunjukkan skor minimum sebelum pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan pendekatan Client Centered adalah 55 dan skor maksimum adalah 72. Sesudah pelaksanaan layanan konseling kelompok dengan pendekatan Client Centered skor minimum meningkat menjadi 91 dan skor maksimum 101.
4.2. Pembahasan Hasil Penelitian
Temuan penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan skor pre-test dengan post-test kelompok eksperimen, yang menunjukkan adanya perbedaan tingkat percaya diri yang dimiliki oleh anggota kelompok eksperimen yang diberi treatment konseling kelompok pendekatan Client Centered. Dengan demikian dapat dipahami bahwa layanan konseling kelompok pendekatan Client Centered mempengaruhi perbedaan tersebut. Adapun perbedaan tingkat percaya diri siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga sebelum dan sesudah treatment dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.9.
Perbedaan Tingkat Percaya Diri Siswa Kelas VIIIF SMP Negeri 7 Salatiga Sebelum dan Sesudah Treatment
Skor Kategori
Jumlah Siswa Sebelum
treat ment
Sesudah treat ment
140 – 166 Sangat
tinggi
- -
113 – 139 Tinggi - -
86 – 112 Sedang - 8
59 – 85 Rendah 6 -
32 – 58 Sangat
rendah
2
Total 8 8
Tabel 4.9. menunjukkan adanya perbedaan jumlah siswa yang memiliki percaya diri, dimana sebelum diberi treatment konseling kelompok pendekatan Client Centered terdapat 6 siswa memiliki percaya diri dengan kategori rendah dan 2 siswa memiliki percaya diri dengan kategori sangat rendah. Setelah diberi layanan konseling kelompok pendekatan Client Centered tidak ada lagi siswa yang memiliki rasa percaya diri dengan kategori rendah dan sangat rendah.
Naiknya tingkat percaya diri yang terjadi pada 8 siswa di atas, tidak dapat dilepaskan dari treatment konseling kelompok pendekatan Client Centered yang diberikan kepada kelompok
13 eksperimen. Hal ini disebabkan pendekatan Client Centered lebih menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan hal-hal yang penting bagi diri klien sendiri dan alternatif pemecahan masalah yang dialami oleh klien. Sebagaimana diungkapkan oleh Corey (2005) yang mengungkapkan, bahwa pendekatan Client Centered percaya pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Pendekatan Client Centered memandang manusia secara positif. Klien mengalami perasaan-perasaan yang sebelumnya diingkari. Klien mewujudkan potensi yang dimiliki dan bergerak ke arah meningkatkan kesadaran, spontanitas, kepercayaan diri dan keterarahan dalam mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Klien mempunyai kemampuan untuk menyadari masalahnya dan mengatasinya. Klien sanggup mengarahkan dirinya.
Pelaksanaan konseling kelompok dengan pendekatan Client Centered telah berhasil membantu R1, R2, R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 mengentaskan masalah yang mereka sharingkan dalam pertemuan kelompok. Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Natawijaya (2009), bahwa konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada pilihan individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhan anggota kelompok. Kedelapan subyek penelitian masing-masing mengalami perubahan perilaku dan mempelajari keterampilan sosial, mereka belajar menjalin hubungan pribadi yang lebih mendalam dengan teman kelompoknya. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Wibowo (2005), bahwa nilai tambah konseling kelompok terdapat pada pemberian umpan balik dari sesama konseli dan anggota kelompok mempunyai kesempatan untuk saling membantu dan berempati secara tulus di dalam konseling kelompok.
Motivasi individu muncul dari hubungan yang terjalin dalam kelompok kecil. Oleh karena itu peningkatan percaya diri yang dialami masing-masing anggota kelompok tidak terlepas dari peran para anggota kelompok. Anggota kelompok saling memotivasi dan ikut melibatkan diri pada kondisi kelompok sehingga manfaat mengikuti layanan konseling kelompok dapat dirasakan. R1, R2, R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 bersemangat untuk berubah. Mereka menjadi lebih terbuka, dan belajar untuk menerima diri berdasarkan masukan dari teman kelompoknya. Seperti yang diungkapkan oleh Corey (2006), bahwa dalam pendekatan Client Centered dengan pola pembentukan kelompok telah menjadikan kelompok sebagai sebuah kelompok yang membantu anggotanya untuk mandiri, berfungsi penuh dan memecahkan
14 masalahnya sendiri sesuai dengan pilihan atas dasar tanggung jawab dan kemampuan masing- masing.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa layanan konseling kelompok dengan pendekatan Client Centered dapat meningkatkan rasa percaya diri R1, R2, R3, R4, R5, R6, R7 dan R8. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dahlani (2006), dan mengisi celah penelitian (research gap) yang telah dilakukan oleh Lenterani (2013) yang menguji penerapan konseling kelompok Gestalt dengan teknik reversal untuk meningkatkan percaya diri pada siswa VII-D SMP Negeri 1 Mojosari, serta penelitian Damayanti, Sedanayasa
& Antari (2014) yang mengkaji penerapan konseling Client Centered dengan teknik self understanding untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa.