28 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Menurut Moleong (2007) mengatakan bahwa penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka dengan rinci, dibentuk dengan kata-kata dan gambaran. Oleh sebab itu penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Dalam penelitian ini yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan berupa data. Dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti berharap mampu menjawab permasalahan dalam penelitian melalui data-data yang diperoleh dilapangan.
3.2 Lokasi Penelitian
Gambar 3.1. Peta kabupaten Blitar.
Dalam penelitian ini lokasi yang peneliti lakuan di jalan raya ngantru no 16 Tulungangung di rumah narasumber. Kegiatan yang peneliti lakukan di sini karena tempat ini sering dijadikan tempat untuk latihan menari, serta tempat ini juga merupakan tempat terbentuknya tari Bedhaya Sri Tanjung, kemudian bertanya tentang kesibukan
29 sehari-hari narasumber. Di rumahnya terkadang narasumber juga mengajar tari anak- anak sekitar yang membutuhkan bimbingan dalam belajar tari. Keseharian narasumber sangat sederhana dan baik sekali pada orang yang membutuhkan bantuan. Setelah bertanya mengenai keseharian beliau langsung pada topik utama yaitu tarian karya narasumber tari Bedhaya Sri Tanjung. Tari ini memang diciptakan untuk menciptakan blitar sebagai desa wisata budaya serta melestarikan kearifan lokal yang ada di kabupaten Blitar,
Tari ini juga sering di tampilkan pada event-event kabupaten blitar, seperti Purnama Seruling Penataran, HUT kabupaten Blitar. Alasan peneliti memilih tempat penelitian ini adalah :
1. Tempat ini adalah tempat diciptakannya tari Bedhaya Sri Tanjung.
2. Tempat yang sering di gunakan untuk latihan menari dan di mana Bedhaya Sri Tanjung dibentuk.
3. Proses pembelajaran yang lumayan cepat bias diserap oleh orang-orang yang belajar di sana. Karena teknik pengajaran langsung menggunakan sistem tutor sebaya didampingi narasumber.
3.3 Subjek
Penelitian dilakukan di Sanggar Bedhaya dan Rumah kediaman pencipta tari Bedhaya Sri Tanjung dimana teks maupun data wawancara dijadikan peneliti sebagai pembahasan dikarenakan dokumentasi dapat dijadikan sebagai analisis untuk diolah.
Teknik Sampling : Disini saya sebagai peneliti menggunakan Non Probabilty Sampling yaitu dengan Purposive Sampling, tujuannya agar mendapat informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan dari pakarnya langsung, tujuan penggunaannya adalah data yang dikumpulkan dijadikan pertimbangan sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.
30 Kriteria dari Subyek :
1) Pencipta Tari
2) Senior pada Penata Musik 3) Senior pada Wiraswara 4) Bersedia diwawancara
Sesuai kriteria diatas maka didadapatkan tiga subyek penelitian : 1) Mijil Purwana Is selaku pencipta Tari Bedhaya Sri Tanjung
2) Tuminem selaku senior di Sanggar Tari Bedhaya dan juga Penata Musik 3) Sudemi selaku senior di Sanggar Tari Bedhaya dan juga sebagai Wiraswara.
3.4 Jenis & Sumber Data 3.4.1 Data Primer
Menurut Moloeng (2007) data primer data yang didapatkan melalui fakta langsung di lapangan atau tempat itu terjadi, dalam penelitian kualittif data utama berasal dari ucapan maupun tindakan langsung dari sumbernya, sehingga peneliti menggunakan gaya penelitian seperti ini untuk mendapatkan data yang valid meneganai Tari Bedhaya Sri Tanjung yang difokuskan dalam peneltian ini.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat dari berbagai sumber yang ada di lokasi maupun lapangan, data-data tersebut bias jadi berupa hasil survey, lampiran-lampiran dan lain sebagainya. Peneliti menggunkanan data sekunder agar mendapatkan beberapadata seakurat mungkin.
Novyta Mijil selaku pencipta tari Bedhaya Sri Tanjung, Mbah Tuminem sebagai penata musik, dan Mbah Sukemi sebagai Wiraswara. Menurut Sugiyono (2013), data dapat ditentukan melalui berbagai cara baik dari sumber maupun
31 settingnya. Dari narasumber di atas peneliti dapat mengetahui dan menggali secara mendalam informasi mengenai hubungan tari Sri Tanjung dengan relif Sri Tanjung yang ada pada candi Penataran Sumber data dapat berupa:
1. Kata-kata dan tindakan
Kata-kata peneliti dapat dihasilkan peneliti saat melakukan wawancara dengan narasumber sebagai data utama. Narasumber pertama yaitu Novyta Mijil sebagai pencipta tari, Tuminem sebagai penata musik, Sukemi sebagai Wiraswara. Sumber data utama dapat dicatat melalui catatan tertulis atau merekam video, audio maupun foto ketika sedang melakukan penelitian. Dari kata-kata tersebut peneliti dapat mengetahui Bentuk dan Fungsi Tari Bedhaya Sri Tanjung sebagai Sarana Komunkasi Budaya di Kabupaten
Blittar.
Sumber data yang berupa kata-kata, peneliti diperoleh dari pernyataan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada informan yang telah ditentukan peneliti. Kata-kata yang dibuat yaitu mengenai Bentuk dan Fungsi tari Bedhaya Sri Tanjung Karya Novyta Mijil di Kabupaten Blitar.
Sumber data berupa foto dilakukan peneliti dengan izin informan yaitu dengan Xiaomi Mi Max 2 dan kamera DSLR merk Canon 600D, penelitian pengambilan informasi itu dilakukan pada Juli 2020, peneliti melakukan pendokumentasian pada saat penelitian.
2. Sumber tertulis
Sumber yang diperoleh dari narasumber berupa informasi tentang penciptaan karya tari Bedhaya Sri Tanjung. Kepustakaan yang dijadikan referensi peneliti yaitu dokumen buku tentang candi Penataran yang dapat menambah
32 wawasan tentang relief-relief candi. Juga mengenai kearifan lokal kabupaten Blitar diperoleh peneliti melalui buku perpustakan Makam Bung Karno, untuk menunjang penelitian lebih spesifik dan akurat.
3. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang disesuaikan oleh peneliti akan sumbernya seperti ini lebih memudahkan peneliti untuk menghasilkan data yang valid dan mempermudah untuk melakukan penulisan. Metode pengumpulan data yaitu dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Prosedur pengumpulan data dilakukan agar data yang dihasilkan semakin akurat. Penelitian ini terdapat tiga metode yang digunakan, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi adalah mencari data yang dicari dan bersumber dari informan langsung, sehingga Informan mengerti kegiatan-kegiatan peneliti selama kegiatan penelitian.
b. Wawancara
Moleong (2007) mengatakan, “wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu”. Peneliti melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi sesuai rumusan masalah yang peneliti angkat, sehingga peneliti menentukan Narasumber atau informan Novyta Mijil selaku pencipta tari Bedhaya Sri Tanjung, Mbah Tuminem penata musik, dan Sukemi sebagai Wiraswara.
33 Dalam wawancara ini peneliti menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan di ajukan kepada Novyta Mijil selaku pencipta tari Bedhaya Sri Tanjung. Serta informan pendukung yaitu Tuminem sebagai penata musik dan
ditambah dengan Sukemi sebagai Wiraswara.
1. Wawancara tidak terstruktur
Menurut Moloeng (2007) Wawancara tak terstruktur terjadi secara spontan dan leluasa kepada informan tanpa terikat oleh susunan-susunan pertanyaan yang sudah di siapkan terlebih dahulu. Hasil dari wawancara tak terstruktur bisa berupa informasi yang sangat luas kaitannya dengan rumusan masalah yang akan peneliti angkat.
Alasan dilakukan wawancara dengan jenis untuk mendapatkan jawaban atau informasi secara luas dari narasumber. Wawancara tidak terstruktur ini peneliti gunakanan untuk menggali data yang lebih akurat tentang proses penciptaan tari Bedhaya Sri Tanjung pada informan pertama yaitu Novyta Mijil selaku pencipta tari Bedhaya Sri Tanjung dan Tuminem sebagai penata musik.
2. Dokumentasi
Selain menggunakan metode wawancara, peneliti juga melakukan kegiatan dokumentasi untuk mendapatkan data-data pendukung yang dapat digunakan sebagai referensi dalam melakukan analisa penelitian. Dokumen yang diambil diantaranya berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari sumber data . Peneliti menggunakan Handphone Xiaomi Mi Max 2 untuk mendokumentasikan tari Bedhaya Sri Tanjung dan dokumentasi selama wawancara dengan narasumber yang dilakukan selama penelitian, terkadang juga menggunakan camera DSLR Canon 600D untuk pengambilan
34 data gambar yang lebih jelas. Pada saat pementasan di pendopo agung kabupaten Blitar peneliti juga mendokumentasikan pertunjukan tari Bedhaya Sri Tanjung dengan menggunakan alat-alat yang telah diterangkan di atas.
3.5 Analisis data
Menurut Moleong (2007) analisis data ini dilakukan dalam suatu proses, yaitu data dilakukan menggunakan model interaktif, dimana dalam model ini analisis data dilakukan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Prosedur analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi.
1. Reduksi data
Reduksi data di sini penelitian harus akurat dalam mengumpulkan datanya, memilah dan memilih sumber secara benar dan mecocokan antara sumber satu dengan yang lain harus teliti. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal- hal yang penting, dicari tema,dan polanya
Demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data Bentuk dan Fungsi Tari Bedhaya Sri Tanjung sebagai Sarana Komunikasi Budaya di Kabupaten Blitar. Setelah data yang dibutuhkan sudah terkumpul dari narasumber, kemudian data dirangkum sesuai dengan tema yang dikaji.
2. Penyajian data
Penulis memulai dan menyusun data dari tarian Bedhaya Sri Tanjung dan sehingga menjadi deskripsi dalam bentuk narasi dengan rangkaian kalimat yang dibuat secara logis dan sistematis. Semua data yang direduksi kemudian
35 Sudemi (Wiraswara)
dikelompokkan dan dideskripsikan menurut bagian-bagian dari tari Bedhaya Sri Tanjung untuk mengetahui bentuk dan fungsinya..
3. Penyimpulan Data (verifikasi)
Terkumpulnya data di berbagai dokumen atau dalam satu dokumen penting seperti gambar dan visualisasi lainnya dimana disusun secara utuh, sebab akibat dan proporsi masalah yang sedang dikaji yaitu Bentuk dan Fungsi Tari Bedhaya Sri Tanjung sebagai Sarana Komunikasi Budaya di Kabupaten Blitar.
4. Pengecekan Keabsahan Data
Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi Moleong (2007) dimana mengukur sumbr keakuratan data dalam beberpa unsur yaitu sudut kepercayaan sumber lewat beberapa tekhnik pengumpulan lalu melalui sumber informan yang sama.
Dalam hal ini peneliti menggunakan dua tahap triangulasi, yaitu : a. Trianggulasi sumber
Peneliti berusaha menggali informasi dari Novyta Mijil selaku pencipta tari Bedhaya Sri Tanjung, Sukemi sebagai Wiraswara tari Bedhaya Sri Tanjung dan Tuminem sebagai penata musik yaitu mengenai Tari Bedhaya Sri Tanjung Karya Novyta Mijil di Kabupaten Blitar.
Novyta Mijil (Pencipta Tari) Tuminem (Penata Musik)
36 3.6 Dimodifikasi dari Triangulasi Sumber Sugiyono (2010)
b. Trianggulasi Metode
Triangulasi metode merupakan kegiatan penelitian yang berupa pengecekan data untuk mendapatkan data yang sama dan digunakan lebih dari satu metode, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Di dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengecekan data melalui 3 metode tersebut agar memperoleh data yang valid. Contohnya permasalahan tentang keunikan tata busana tari Bedhaya Sri Tanjung yang bernuansa hijau dengan melakukan wawancara terhadap Novyta Mijil
sebagai pencipta yang selanjutnya peneliti melakukan triangulasi metode yaitu dengan menggunakan metode dokumentasi berupa foto tata busana pada saat pertunjukan tari Bedhaya Sri Tanjung di pendopo kabupaten Blitar, dari hasil pengecekan data melalui metode tersebut peneliti dapat menghubungkan data dari data yang diperoleh dengan hasil observasi yang dilakukan, setelah membandingkan kedua hasil penelitian yang didapatkan dari kedua hasil yang didapatkan kemudian disimpulkan menjadi satu.
Gambar 3.3 Dimodifikasi dari Triangulasi Metode Sugiyono (2010).
3.7 Tahap-tahap penelitian
Ada tiga tahapan dalam penelitian yang dilakukan, antara lain:
3.7.1 Tahap persiapan
Novyta Mijil Observasi
Wawancara
Dokumentasi
37 Tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah mengurus surat ijin observasi di candi Penataran kabupaten Blitar. Setelah mengurus surat ijin untuk penelitian, tahap selanjutnya yaitu observasi ke tempat yang ingin dijadikan sebagai objek penelitian, bertemu langsung dengan narasumber dan membahas perijinan untuk penelitian, penentuan sumber data, dan melihat kondisi latar penelitian.
3.7.2 Tahap penyusunan rancangan penelitian
Tahap pertama ini diawali dengan mengunjungi tempat yang sudah ditentukan dengan membawa surat ijin penelitian, yaitu di candi Penataran di kabupaten blitar yang sekaligus juga satu lokasi dengan tempat berlangsungnya acara tari Bedhaya Sri Tanjung.
3.7.3 Tahap pelaksanaan
Tahapan ini diawali dengan datang pada kediaman Novyta Mijil selaku Pencipta. Peneliti mulai untuk melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Sebelum datang ke lapangan terlebih dahulu peneliti menghubungi narasumber melalui sarana telekomunikasi handphone agar mengetahui keberadaan informan yang akan diteliti untuk meminta ijin penelitin.
Dalam proses wawancara dan pengambilan data penelitian, peneliti berusaha untuk menciptakan suasana yang kondusif lalu peneliti dapat menganalisis tentang proses penciptaan Bedhaya Sri Tanjung. Pengumpulan data dilakukan sejak observasi awal sampai pada proses wawancara dengan informan serta upaya untuk memperoleh dokumen yang mendukung hasil penelitian.
3.7.4 Tahap Pelaporan
Dalam bukunya Sugiyono (2014) Tahap akhir ini peneliti menyusun hasil
38 temuan-temuan data untuk dijadikan laporan penelitian secara sistematik.
Kesimpulan didapat dari data-data yang telah diterima oleh peneliti secara langsung melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahap ini memuaat hasil laporan yang sebelumnya sudah disusun dengan baik oleh peneliti guna melakukan penelitian dengan segala kegiatan maupun aktifitas penelitian yang telah dilakukan. Pemaparan mengenai permasalahan-permasalahan yang diteliti serta data-data yang diperoleh diuraikan secara keseluruhan pada bab pembahasan.