• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial, dan pembangunan pada dasarnya adalah proses yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan masyarakat (Soetomo, 2013:294). Kesejahteraan ditandai dengan kemakmuran, yaitu meningkatnya konsumsi yang disebabkan oleh meningkatnya pendapatan.

Pendapatan meningkat sebagai hasil produksi yang semakin meningkat pula yang kemudian bertujuan untuk pemerataan dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk mentransformasikan pertumbuhan masyarakat sebagai kekuatan nyata masyarakat, untuk meningkatkan ekonomi dan memperjuangkan nilai-nilai dan kepentingan di dalam arena segenap aspek kehidupan. Hal tersebut mempunyai arti meningkatkan kemampuan atau meningkatkan kemandirian masyarakat. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat bukan hanya meliputi penguatan individu tetapi juga pranata-pranata sosialnya.

Dalam uapaya pemberdayaan masyarakat, sangat mutlak ditingkatkan penciptaan kondisi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan hak-hak ekonomi, sosial, dan politik dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat (Soetandyo Wignyosoebroto, 2005: 75). Pemberdayaan masyarakat merupakan sebagai tindakan sosial dimana penduduk sebuah komunitas mengorganisasikan diri dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan sumberdaya yang dimilikinya.

(2)

Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu pilar kebijakan untuk mengaktifkan potensi yang dimiliki masyarakat setempat, atau penanggulangan kemiskinan terpenting. Agus Sutoyo (2000: 123) mengatakan bahwa masyarakat yang kurang memahami peran kreatifitas angota-anggotanya akan terbentuk masyarakat yang kurang dinamis dan kurang kreatif. Sehingga Demi tercapainya taraf kesejateraan dalam hidup, masyarakat berusaha untuk bekerja keras agar terpenuhi kebutuhannya dan tersalurkan kreatifitasnya.

Yesmil Anwar dan Adang (2008: 26) membagi model masyarakat kedalam dua kelompok, yaitu Masyarakat dinamis yang senantiasa melakukan perubahan dan masyarakat statis yang didalamnya hanya terdapat sifat-sifat sosial.

Masyarakat dinamis akan selalu berfikir untuk mengembangkan kesejahteraan lingkungannya, sehingga hal ini yang mendorong bahwa pemberdayaan tidak terlepas dari orientasi ekonomi masyarakat. Oleh karenanya sekecil apapun peluang harus dimanfaatkan dengan baik agar dinamika sosial terarah pada tujuan dan hasil yang positif terlebih dibidang ekonomi.

Ekonomi masyarakat dewasa ini berada dalam persimpangan jalan. Potensi untuk berkembang semakin terbuka, karena seluruh bangsa sangat menyadari mutlak perlunya pemerataan sebagai prakondisi perwujudan keadilan sosial.

Artinya ekonomi masyarakat kecil yang selama ini tertekan atau tergusur perlu benar-benar diperhatikan apabila selama ini pembangunan yang telah dilakukan lebih mengarah kepada sifat formalisasi karena segala sesuatunya telah ditetapkan dan diatur dari atas. Maka dalam pembangunan yang memihak masyarakat menuntut semua perencanaan, keputusan dan pelaksanaan dilakukan masyarakat sendiri.

Tidak dapat dipungkiri kesejahteraan hidup merupakan dambaan setiap manusia, masyarakat yang sejahtera tidak akan terwujud jika masyarakatnya hidup dalam keadaan miskin. Oleh sebab itu, setiap masyarakat berusaha untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya melalui pengembangan usaha mikro yang baik, konsumtif penuh dengan gizi dan vitamin, dan dapat dengan mudah diperoleh atau diolahnya, seperti ikan.

(3)

Manfaat daging ikan untuk kesehatan memang sangat banyak sekali.

Perkembangan Informasi memang membuat banyak perubahan dalam perilaku kesehatan masyarakat. Dulu ada anggapan. "Kalau kebanyakan makan ikan , bisa cacingan," sehingga banyak anak kecil enggan makan ikan. Sekarang, banyak makan ikan malah dianjurkan, karena dipercaya dapat mencegah gangguan jantung.

Ada berbagai macam ikan yang dapat dikonsumsi, diantaranya adalah sebagaimana berikut:

Tabel 1.1. Jenis Ikan yang bisa dipindang No Jenis ikan

pindang

Komposisi kimiawi %

Air Protein Lemak Abu Garam

1 Layang 60 30,0 2,80 - -

2 Bandeng 65,5 21,7 6,16 6,10 1,92

3 Tongkol 52,09 47,1 4,56 - -

4 Tanjan 23,5 22,0 2,5 1 -

5 Deles 12,86 55,7 2,0 - -

6 Lemuru 15,7 23.0 3,7 2,0 1

Masyarakat blok Langgen Desa Wangunharja Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon merupakan salah satu daerah pengelola ikan pindang.

walaupun tidak dipungkiri bahwa masyarakat tersebut memiliki beragam mata pencaharian, seperti petani, buruh tani, produsen ikan pindang, pengusaha dan jasa ban suntik atau vulkanisir, jasa anyaman rotan, pengusha batu bata, pedagang keliling, peternak, pendaur ulang Integrited Circuit (IC) bekas barang-barang elektroik, PNS, TNI, POLRI, pengusaha plotokan, dan lain-lain.

Diantara beberapa potensi perekonomian yang dimiliki masyarakat Desa Wangunharja, terdapat ke-khas-an yang unik dari potensi yang ada di tiap blok desa tersebut. Yakni blok Kertayasa mayoritas matapencahariannya adalah anyaman rotan, petani, dan ban; blok Limbangan dan Bonjot mayoritas bermata pencaharian sebagai pendaur ulang Integrited Circuit (IC) bekas barang-barang elektroik, blok babakan bermata pencaharian sebagai peternak kambing; dan blok

(4)

Imba atau Langgen bermata pencaharian sebagai pemindang atau industri rumahan ikan pindang.

Industri rumahan ikan pindang di blok Langgen Desa Wangunharja merupakan potensi perekonomian yang paling menarik diantara beberapa potensi tersebut di atas. Pasalnya, Desa Wangunharja bukan merupakan desa pesisir yang tidak berpotensi sebagai penghasil ikan, melainkan wilayah agraris yang berpotensi dalam pertaniannya. Walaupun demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat Desa Wangunharja khususnya blok Imba atau lebih di kenal blok Langgen untuk membangun usaha produksi ikan pindang.

Pengolahan ikan pindang di blok Langgen, Wangunharja tersebut dapat dilakukan dengan cara direbus dan dipresto. Proses produksi ikan pindang menyisakan limbah kepala ikan, duri-duri, dan isi perut ikan. Masyarakat blok Langgen, menjadikan limbah tersebut sesuatu yang bermanfaat dan berguna untuk sekitarnya. Mulai dari kepala ikan dan durinya dapat diolah menjadi popan (pakan ayam), isi perut ikan pun dapat dijadikan pakan ikan lele, sedangkan dari hasil proses pemasakan ikan itu (airnya) dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat petis, kecap, baso ikan. Bukan tidak mungkin jika nantinya masih ada cara pengolahan atau pemanfaatan yang lain agar tidak ada limbah yang terbuang sia-sia.

Sejarah industri ikan pindang menurut Ibu Meni salah satu warga Blok Langgen yang sudah mulai memindang sejak tahun 1965, produksi ikan pindang muncul sejak tahun 1900 an. Ibu Meni lahir sekitar tahun 1950-an dan mulai belajar memindang sejak kelas 4 sekolah dasar dari ibunya dan merupakan generasi kedua. Pasokan bahan dasar ikan pindang diperoleh dari Celancang, dan Losari.

Latar belakang produksi ikan pindang di Desa Wangunharja sudah turun temurun sekitar tiga turunan. Namun ketika generasi ke 3 yang di pegang oleh bapak Sutono, akhirnya dia berfikir untuk membuat pemberdayaan ikan pindang agar dapat mensejahterakan masyarakat sekitar, karena dia melihat masyarakat sekitar masih mengalami kekurangan dalam pendapatan ekoniminya. Sebenarnya usaha pemberdayaan telah dilakukan oleh kepala desa tersebut dengan

(5)

menggunakan kerajinan rotan, namun tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Akhirnya dengan inisiatif bapak Sutono sebagai pelopor pemberdayaan tersebut dilakukan.

Bapak Sutono menuturkan bahwa produksi ikan pindang memiliki keuntungan yang cukup besar didukung dengan konsumen yang semakin memahami asupan makanan yang penuh gizi. Oleh karenanya hal ini akan menjadi pendorong yang kuat untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dengan melakukan produksi besar-besaran dan dilakukan secara mandiri, sehingga masyarakat yang baru memulai usaha dengan ikan ika pindang dapat meraih keuntungan maksimal.

Selain kemandirian dan kesejahteraan yang didapat oleh masyarakat setempat, dia juga bermaksud untuk membesarkan pemasaran ikan pindang tersebut. Dengan target awal pemasaran ikan pindang yaitu wilayah III Cirebon, Bandung, Tasik, Ciamis. Menanggapi hal tersebut akhirnya pemberdayaan home industri diawali dengan sosialisai, kemudian dilanjutkan dengan rempug warga, dengan tujuan menyamakan persepsi dalam proses pemberdayaan. Setelah itu dilakukan perencanaan, didalamnya terdapat pelatihan, praktek kemudian dimonitoring dan dievaluasi hingga sekarang.

Setelah melakukan proses tersebut, bapak Sutono memberikan modal berupa ikan mentah kepada warga binaanya untuk memulai produksi ikan pindang dirumah masing-masing. Dengan harapan agar warga binaannya dapat berkembang secara mandiri. Setelah berjalannya waktu, akhirnya mayoritas masyarakat blok langen yang dihuni sekitar 350 kepala keluarga 90% dari mereka berpenghasilan dengan memproduksi ikan pindang.

Berdasarkan latar belakang tersebut, saya sebagai peneliti merasa tertarik untuk melakukan pnelitian terkait Pemberdayaan Kelompok Home Industri Ikan Pindang dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga. Tentunya sudah banyak penelitian yag dilakukan terkait pemberdayaan masyarakat. Oleh karenanya sebagai pembanding dari penelitian yang saya lakukan di desa Wangunharja, berikut saya sajikan beberapa penelitian terkait pemberdayaan masyarakat khususnya dengan menggunakan produksi ikan pindang.

(6)

Tabel 1.2. Penelitian terkait pemberdayaan masyarakat

No Penulis / Tahun Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Raymond Marbun

Lumban/ 2012

Analisis

Pengembangan Usaha Pemindangan Ikan Di Kecamatan Bekasi Barat

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan perangkatan analisisnya menggunakan SWOT. Hasil penelitian ini

menunjukan bahwa

perusahaan pemindangan ikan di Bekasi Barat, menerapkan strategi agresif.

2 Rifka Nur Anisah / 2007

Kajian manajemen Pemasaran Ikan Pindang Layang Di Kota Tegal

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ikan layang sebagai bahan baku diperoleh dari PPI Tegalsari, PPI Pelabuhan, dan PPI Muarareja. Distribusi ikan layang mencakup nelayan, pedagang besar, pengolah.

Pola pemasaran ikan pindang tidak terlalu kompleks.

3 Nova Firdaus /2014

AnalisisNilaiTambah Usaha

PemindanganIkan (StudiKasus di UD.

Tujuan penelitian ini adalah mengukur nilai tambah yang diperoleh pada pengolahan pindang biasa dan pindang

(7)

Cindy Group, Kabupaten Bogor

higienis dan menganalisis alokasi proporsi nilai tambah yang diperoleh pada pengolahan pindang biasa dan pindang higienis.

Analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami. Hasil yang diperoleh adalah nilai tambah pada pengolahan pindang higienis lebih besar dibandingkan dengan pengolahan pindang biasa karena perbedaan pengaruh teknologi yang digunakan.

Perbedaan mendasar terkait tabel penelitian yang telah dilakukan tersebut adalah metode penelitian, pendekatan, objek dan subjek penelitiannya. Metode yang saya gunakan dalam penelitian ini yaitu metode Kualitatif Deskriptif dengan subjek masyarakat Wangunharja dan pemberdayaan home industri ikan pindang sebagai objek penelitian tersebut.

Penelitian yang dilakukan di desa Wangunharja lebih menekankan pada aspek pemberdayaan home industri dan respon masyarakat setempat.

Pemberdayaan yang dilakukan bukan hanya mengentaskan kemiskinan, tapi memberdayakan masyarakat yang pasif atau kurang produktif menjadi masyarakat yang produktif dan inovatif.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1.2.1. Bagaimana proses pemberdayaan kelompok home industri ikan pindang?

(8)

1.2.2. Bagaimana alur proses industri ikan pindang?

1.2.3. Bagaimana dampak home industri ikan pindang terhadap meningkatkan ekonomi keluarga?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah ditas maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1.3.1. Agar dapat mengetahui proses pemberdayaan kelompok home industri ikan pindang

1.3.2. Agar mengetahui alur proses industri ikan pindang

1.3.3. Agar mengetahui dampak home industri ikan pindang terhadap meningkatkan ekonomi keluarga.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini sebagaimana berikut:

1.4.1. Manfaat Akademika

Sebagai tugas laporan akhir yaitu Skipsi untuk mencapai gelar S1.

1.4.2. Manfaat Teoritis

Sebagai pendalaman ilmu pengetahuan dibidang ilmu sosial, dan sebagai perpaduan antara teori-teori sosial yang dipelajari, terhadap kehidupan di masyarakat (fakta sosial).

1.4.3. Manfaat Praktis

Sebagai pembelajaran partisipasi peneliti dalam melihat fakta sosial yang terjadi dalam masyarakat dan Sebagai informasi untuk semua lapisan masyarakat mengenai usaha produksi ikan pindang di Desa Wangunharja.

1.5. Signifikansi Penelitian

Desa Wangunharja merupakan desa agraris yang notabene merupakan wilayah pertanian. Walaupun demikian, kegiatan usaha produksi ikan pindang di Desa Wangunharja sangat massif, terutama di Blok Langgen. Hal ini menjadi

(9)

daya tarik tersendiri bagi peneliti untuk lebih mengetahui bagaimana peran dan pemberdayan home industri dengan usaha ikanp indang di Desa Wangunharja dapat berjalan baik. Desa ini mampu mengembangkan potensi dari sumber daya manusianya untuk memanfaatkan keahlian sebagian besar masyarakatnya dalam mengolah ikan menjadi sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Kesadaran masyarakat akan pemanfaatan limbah dari pengolahan pindang sudah cukup tinggi karena hampir sebagian besar sudah dimanfaatkan seperti air dari pengolahan ikan pindang dipakai sebagai campuran dalam pembutan makanan seperti baso ikan, bagian dari ikan yang tidak diperlukan dalam membuat ikan pindang seperti kepala ikan tongkol, kotoran ikan ini semua dijadikan sebagai pakan ikan lele.

Referensi

Dokumen terkait

Dari uaraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa optimalisasi peran masjid bukan hanya bersifat mikro saja yaitu sebagai tempat beribadah akan tetapi dalam

• Adanya Insiden Atapupu semakin menguatkan dugaan bahwa kedudukan Pelabuhan Atapupu sangat penting yaitu sebagai pelabuhan feeder ke Pelabuhan Kupang, dimana Pelanuhan

Daya pembeda butir soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang tidak pandai (berkemampuan rendah)

 Kuliah&Diskusi [TM:1x(1x60”)] Tugas : meringkas dan mengkaji Konsep Kebidanan Komunitas  [BT+BM:(1+1)x(2x60”)] CTJ Cooperative learning Ketepatan penguasaa n Quis

• Berdasarkan uji kompetensi pejabat administrasi atau pejabat fungsional yang tidak memenuhi standar kompetensi jabatan dapat dipindahkan pada jabatan lain yang sesuai

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi risiko-risiko yang mungkin timbul dalam pembangunan sistem perizinan online tersebut, melakukan analisa

Adapun implementasi konsep konservasi pada Kawasan Pertanian Terpadu di Desa Pematang Tujuh yaitu dengan menyediakan fasilitas pengolahan limbah dari pertanian maupun

Menginstruksikan KPA Satker terkait agar memberikan sanksi administratif sesuai ketentuan yang berlaku kepada PPK dan Konsultan Pengawas atas kelalaiannya dalam melakukan pengawasan