• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tifa dan Reformasi. Catatan 20 Tahun Perjalanan Yayasan Tifa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tifa dan Reformasi. Catatan 20 Tahun Perjalanan Yayasan Tifa"

Copied!
255
0
0

Teks penuh

(1)

Tifa dan

nyala api RefoRmasi

Catatan

20 Tahun

perjalanan

yayasan Tifa

(2)
(3)

Tifa dan nyala api RefoRmasi

Catatan 20 Tahun

perjalanan yayasan Tifa

(4)

Tifa dan nyala api RefoRmasi Catatan 20 Tahun perjalanan yayasan Tifa Copyright ©️2020, yayasan Tifa

x + 243 halaman penulis:

mardiyah Chamim idrus f. shahab purwanto setiadi yosep suprayogi desain:

eko punto pambudi ilusTRaToR:

Kiagus auliansyah ediToR Bahasa:

uu suhardi peRiseT:

Kartika B. Wijayanti sinta Rachmawati diTeRBiTKan oleh:

yayasan Tifa

isBn 978-602-7590-08-3

(5)

daftar isi

Kata pengantar ...vii

Bagian 1 Tifa dalam linTasan sejarah1 Bab 1 Tifa dan nyala api Reformasi ...3

BaB 2 Jurus mundur sebelum maju ... 11

infografis: Tifa dalam Jejak Kita ...26

infografis: Tonggak ...46

infografis: Tifa dalam Tiga frasa ...48

masyarakat Terbuka dalam arti seluasnya ...50

• Refleksi tentang Kemarin, Kini, dan masa depan ...56

Daniel Dhakidae • Tifa anak Kandung Reformasi ...64

Lukas Luwarso • membangun demokrasi, menegakkan hak asasi ... 73

Todung Mulya Lubis • perlunya ‘Resource Center’ Tifa ... 81

Felia Salim • Reformasi yayasan Tifa 2015-2017 ...86

Rizal Malik Bagian 2 menjaga masyarakaT TerBuka Bab 3 demokrasi setelah segregasi dibongkar ...95

Keterbukaan informasi setengah hati ... 104

‘Good Governance’ di Rumah sendiri ... 109

(6)

• skema Coba-coba dan pokemon ...111 Debra Yatim

• metode Ganda untuk pemilu yang adil ... 117 Mickael B. Hoelman

Bab 4 dicari: negara yang melindungi ...123

• Gerakan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan untuk Kewargaan yang setara ...132 Renata Arianingtyas

• manajemen pengetahuan dalam Tifa...138 Tri Nuke Pudjiastuti

Bab 5 Bicara Bebas dalam Jebakan ‘Ranjau’ ...145

• Quo Vadis Jurnalisme di indonesia ...153 Yuli Ismartono

• Ruang publik pascareformasi ...157 Redemptus Kristiawan

Bagian 3 TanTangan menuju masa depan

Bab 6 Teknologi: yang merekatkan, Bukan merenggangkan ....165

• artificial intelligence, Teknologi disruptif,

dan perlunya Basis etika ... 177 Riefqi Muna

• Komunitas dan Jantung perubahan ...182 Shita Laksmi

Bab 7 ‘deja Vu’ setelah dua dasawarsa ...187

• Tantangan Kemajemukan dalam era politik identitas ... 196 Jacklevyn Frits Manuputty

• potret Reformasi hukum dan peradilan:

sebuah Renungan Cita-cita demokrasi ...202 Wiwiek Awiati

• politik perempuan di persimpangan Jalan demokrasi ...208 Ani Soetjipto

• Kebebasan pers indonesia: The next 20 years ...218 Endy Bayuni

(7)

• ‘Grant making’ dan Tantangan bagi (pengelola hibah)

masyarakat sipil di indonesia ... 222 Tri Nugroho

mengalir sampai Jauh ...231

(8)
(9)

Kata pengantar

seBelum meninggal, John lewis, anggota Kongres amerika serikat, menulis tentang demokrasi: “demokrasi bukan suatu keadaan, melainkan tindakan”. mengutip kata-kata rekannya itu, wakil presiden perempuan pertama (2020-2024) Kamala harris menegaskan betapa demokrasi di negerinya harus dipertahankan dan diperjuangkan. ada pengorbanan, ada sukacita, juga kemajuan di dalamnya. Bagaimana dengan demokrasi indonesia? 

Ketika pada 1998 reformasi menggantikan kekuasaan otoriter soeharto, hal yang bergemuruh adalah semangat perubahan:

kehidupan ekonomi tak boleh lagi dimonopoli keluarga presiden;

kritik tak diberangus; militer tak mengendalikan kehidupan sipil;

orang tak boleh ditahan sebagai tersangka selama-lamanya; partai tak dihambat berdiri; kekuasaan tak ditumpuk di pusat; dan pemimpin, sejak presiden sampai dengan bupati, dipilih dengan masa jabatan yang terbatas.

ya, orang menghendaki perubahan yang besar. Tapi dua puluh tahun berselang, kita pun mendapati semangat “revolusi” di dalam reformasi itu seperti cerita di masa lalu. demokrasi tidak cuma melahirkan para demokrat, tapi juga sibuk menciptakan negosiasi, transaksi, dan--tentu saja--pemungutan suara yang hiruk-pikuk. dan apa mau dikata, proses politik yang berlangsung di masa reformasi ternyata tidak selalu sejalan-seirama dengan demokratisasi. 

Ketika para politikus mengutamakan kepentingan jangka pendek kelompoknya ketimbang kepentingan bersama jangka panjang, hasilnya memang menyesakkan: partai-partai semakin hegemonik, parlemen berfokus memupuk kekuasaan pada lembaga legislatif, ongkos politik menjadi sangat mahal, munculnya oligarki dan populisme yang makin teramplifikasi dengan media sosial. Tatkala

(10)

antara yang ideal dan yang riil, antara das sein dan das sollen, terasa makin tak terjembatani, pesimisme pun menyebar bagai wabah.

nasib indonesia memang lebih baik dibanding negeri-negeri di Timur Tengah yang meledak dalam konflik berdarah sejak runtuhnya para otokrat dalam “musim semi arab”. indonesia juga tak mengembalikan kekuasaan otoriter seperti di Rusia dan Cina-- paling tidak, tanda-tanda ke arah itu masih timbul-tenggelam. Tapi perlu dicatat, bukan contoh serta alasan yang menenteramkan itu yang kita butuhkan sekarang.

Kala toleransi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan kian menipis, bahkan intoleransi ini dimanipulasi untuk kepentingan politik, tidak ada alasan untuk berdiam diri.

demokrasi perlu ditegakkan dan pemerintah perlu didesak bila negara lalu tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap represi yang dilakukan kepada minoritas. Bukankah demokrasi menjadi punya arti ketika negara dapat melindungi kaum minoritas yang lemah di hadapan mayoritas yang berkuasa atau menang pemilu?

hal yang sama terjadi jika negara tak pilih kasih pada salah satu pihak yang tengah bersilang sengketa.

Buku Tifa dan Nyala Api Reformasi: Catatan 20 Tahun Perjalanan Yayasan Tifa ini tidak hanya berisi tentang bagaimana Tifa secara organisasi berjalan selama 20 tahun, tetapi memotret perjalanan indonesia selama dua dasawarsa. misalnya Bab 4, secara khusus mengulas bagaimana seharusnya peran negara terhadap konflik antarkelompok agama yang kerap kali menimpa bangsa ini. ada kelompok mayoritas yang sekonyong-konyong gemar mendesakkan pandangannya, ada oportunis yang menggunakan konflik untuk kepentingan pribadi atau kelompok, dan ada kaum minoritas yang tak berdaya dalam konflik horizontal yang menyedihkan ini.

ironis sekali negara yang ragu-ragu bertindak ini tampak begitu dominan ketika menghadapi tekanan masyarakat sipil yang menolak undang-undang Komisi pemberantasan Korupsi yang baru. Kesimpulannya: sudah saatnya Tifa mengajak semua elemen masyarakat sipil, termasuk organisasi non-pemerintah tentunya, duduk bersama dan mencari jalan keluar atas ketidakberdayaan

(11)

yang memprihatinkan ini.

di Tifa, nilai-nilai kebinekaan, kesetaraan, keadilan, pelindungan terhadap minoritas dan kaum yang termarginalkan, kebebasan berekspresi, dan jaminan hak individu senantiasa dipertahankan dan diperjuangkan. Tak ada yang berubah dalam mempertahankan nilai-nilai “masyarakat terbuka”--yang disesuaikan dengan kondisi indonesia itu. namun, diselang-selingi oleh interupsi, dunia terus-menerus berubah, dan perjuangan demi tegaknya nilai- nilai itu ternyata lebih dari sekadar berdemonstrasi di jalan-jalan, menuliskan petisi, atau melobi para pembuat kebijakan.

Kini privasi dan pelindungan data pribadi merupakan salah satu kerja awal Tifa di 2020 ini. dalam menjaga relevansi, Tifa memilih untuk mengubah struktur organisasi supaya menjadi agile dengan proses pengambilan keputusan yang lebih cepat serta mengembangkan kapasitas staf untuk isu terbaru. Tifa akan terus membuat dirinya relevan dengan kebutuhan masyarakat sipil di indonesia saat ini dan masa depan. sebab, seperti halnya di amerika, demokrasi di indonesia “bukan keadaan, melainkan tindakan.” di sini ada perjuangan panjang akan nilai-nilai demokrasi yang senantiasa harus dipertahankan-diperjuangkan.

Shita Laksmi

direktur eksekutif yayasan Tifa

(12)
(13)

Tifa dalam lintasan sejarah

Bagian 1

(14)
(15)

BaB 1

Tifa dan nyala api Reformasi

Bertunas di tengah suasana reformasi, Yayasan Tifa mengiringi perjalanan negeri. Dua puluh tahun bekerja menguatkan kuda- kuda kehidupan demokrasi. Buku ini bukan semata kenangan yang lalu, tapi untuk mengukuhkan langkah ke depan.

dua puluh tahun. Rentang yang bermakna bagi sebuah lembaga.

Jejaring telah tumbuh luas. otot-otot tumbuh kuat ditempa beraneka gerakan di berbagai medan. sirkuit energi sel-sel kelabu penyimpan miliaran informasi siap menyala saat disulut percikan peristiwa. pohon pengetahuan telah berdaun rimbun. pokoknya mengguratkan lingkaran kambium penanda usia.

dua puluh tahun yayasan Tifa. sebuah usia yang layak mendapat salut. perjalanan yang penuh warna, beriringan dengan perjalanan Republik di tengah deru reformasi pasca-1998. Tidak berlebihan bila Tifa disebut sebagai anak kandung reformasi, seperti yang ditulis lukas luwarso dalam buku ini. “Tifa lahir dari desakan untuk memperbaiki indonesia dengan memerangi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKn). praktik penyalahgunaan kekuasaan era orde Baru telah menyemai ketimpangan sosial-ekonomi, membungkam ekspresi politik, dan menindas kemanusiaan,” tulis lukas, salah satu founder Tifa.

Kegentingan adalah nyawa di hari-hari menjelang Tifa berdiri, 8 desember 2000. Transisi dari negara otoriter menjadi negara demokratis, sebuah proses yang harus betul-betul dijaga. nyala api reformasi tak boleh padam. “Transisi yang terjadi di indonesia menjadi perhatian dunia,” kata Todung mulya lubis, pengacara

(16)

senior dan duta Besar Ri untuk norwegia yang juga pendiri Tifa.

“indonesia punya posisi penting. Kita ini barometer regional. apa yang terjadi di sini akan mempengaruhi situasi regional.”

aktivis dari berbagai penjuru negeri terpanggil mengawal proses transisi. Babak baru yang menentukan perjalanan bangsa. Bata demi bata harus dipikirkan bersama. negeri ini tak boleh kembali jatuh dalam kegelapan pemerintahan otoritarian. “mimpi buruk orde Baru sungguh traumatis. segregasi masyarakat begitu nyata. Tentara adalah kelas elite, anak sulung yang dianggap berhak menentukan wajah negeri,” kata daniel dhakidae, wartawan senior yang juga salah satu pendiri Tifa. “lalu ada Golkar yang juga anak emas pemerintahan soeharto.

Benar, ketika itu juga ada dua partai lain, yakni partai persatuan pembangunan dan partai demokrasi indonesia. Tapi keduanya hiasan saja,” kata daniel. masyarakat ke- banyakan adalah kelas bawah yang tak berhak menentukan nasib bangsa. “sebetulnya, segregasi di masa orde Baru ini mirip di masa kolonialisme. penguasa dan kelas elitenya saja yang berbeda,” kata daniel.

hari monumental itu pun datang, 21 mei 1998. soeharto jatuh. euforia melambung bersama situasi yang serba tak menentu.

indonesia bergerak mencari keseimbangan baru. Kelompok masyarakat sipil bergerak, berkonsolidasi. masa-masa traumatis tak boleh terulang. segregasi yang mencengkeram di masa soeharto, dengan lem perekat berupa KKn, wajib dibongkar. indonesia harus merancang jalan menuju negara yang demokratis.

awal 1999. Goenawan mohamad, Todung mulya lubis, Riefqi muna, Budi santoso, lukas luwarso, smita notosusanto, dan Chusnul mar’iyah memenuhi undangan maureen aung-Thwin, direktur Burma project and southeast asia initiative, open society institute (osi). mereka bertujuh terbang ke paris, bertemu dengan

“Kami ingin

lembaga

ini seperti

kendang,

yang

suaranya

bertalu-

talu dan

terdengar

sampai

ke segala

penjuru

negeri.”

(17)

George soros, sosok kontroversial ketika itu, dan tim osi. sebuah pertemuan yang berujung pada ajakan kerja sama mewujudkan open society, masyarakat terbuka, di indonesia (baca “Tifa anak Kandung Reformasi”).

Kembali ke Jakarta, tujuh tokoh tadi bergegas merapat dengan para aktivis dan tokoh dari berbagai kalangan. Rapat demi rapat digelar maraton. daniel, hadi soesastro, felia salim, dan debra yatim, diajak turut serta berembuk. sampai akhirnya, mereka sepakat mendirikan sebuah lembaga grant making atau penyalur dana dari lembaga donor. misi utamanya adalah penguatan masyarakat sipil untuk menuju masyarakat terbuka, mengikis segregasi masyarakat tertutup ala soeharto.

“saya usul namanya Tiffa, dengan dua huruf f, diambil dari nama alat musik perkusi. Kendang dari papua,” kata daniel. “Kami ingin lembaga ini seperti kendang, yang suaranya bertalu-talu dan terdengar sampai ke segala penjuru negeri.”

Kini, kendang itu telah berusia 20 tahun dan terus berkembang.

Tapak-tapaknya tertera pada banyak langkah Republik, baik lokal maupun nasional. dari penguatan demokrasi, penegakan ham, akses pada keadilan, peningkatan kapasitas masyarakat sipil, menjaga kebebasan berekspresi, mendukung media dan kebebasan pers, hingga melindungi kelompok marginal dan merawat kebinekaan.

sebagai anak kandung reformasi, perjalanan Tifa layak dan wajib didokumentasikan dengan baik. itulah sebabnya kami langsung mengiyakan tawaran direktur eksekutif Tifa shita laksmi untuk mewujudkan buku ini. sebuah tawaran berharga. Kami segera membentuk tim penulis, yang terdiri atas saya (mardiyah Chamim), idrus fahmi shahab, purwanto setiadi, dan yosep suprayogi.

serangkaian pertemuan pun kami buat pada februari dan awal maret 2020. Kami bertemu dengan sebagian pengurus dan alumnus pengurus Tifa untuk merancang konsep buku.

pembahasan yang, tentu saja, tak lepas dari perbincangan tentang perjalanan negeri. dinamika, lembah dan bukit, yang dilalui Tifa sedikit-banyak adalah cermin perjalanan indonesia. Tokoh yang harus kami temui untuk penggalian bahan buku amat beragam

(18)
(19)

Indonesia adalah negeri yang mewadahi keragaman.

Tifa mencerminkan hal itu.

foto: tEMPo/SubEkti

(20)

dan penuh warna. Kami yakin, pembuatan buku ini pasti sebuah proses yang mengasyikkan dan membuka cakrawala.

apa boleh buat, badai pandemi Covid-19 datang menghembalang dunia. pertengahan maret, seruan work from home #dirumahsaja bergulir. pertemuan langsung tak bisa dilakukan. semua orang dianjurkan berada di rumah saja demi menekan laju penularan virus corona. Kami harus mengubah strategi. Wawancara dilakukan melalui teknologi internet. awalnya, enggan juga kami mewawancarai para narasumber secara virtual. Tapi, setelah dilakukan, ternyata penggalian bahan melalui tayangan video internet bisa juga berlangsung asyik. Bahkan interviu online sering kali lebih efektif. setidaknya tak ada alasan terlambat akibat lalu lintas macet.

sepanjang april-Juli, belasan orang kami wawancarai. puluhan laporan perjalanan, catatan program, dan buku-buku terbitan Tifa kami baca. dedikasi, kesungguhan, kerja keras, juga kecintaan tim Tifa berupaya mewujudkan masyarakat terbuka benar-benar tampak. pantas jika yuli ismartono, wartawan senior yang juga mantan anggota dewan pengurus (board) Tifa, bangga pada perjalanan lembaga penyalur dana (grant making) untuk masyarakat sipil ini. “saya menyaksikan betul bahwa tim Tifa bekerja keras, penuh semangat, mencari mitra yang tepat, mengawal, dan bekerja sama mewujudkan program dengan para mitra di lapangan,” kata yuli. “Tidak mudah, lo. perjalanan yag penuh tantangan.”

Buku ini terdiri atas tiga bagian utama. Bagian pertama berkisah tentang latar belakang sejarah, perjalanan konsolidasi masyarakat sipil, juga situasi sosial-politik yang mendorong berdirinya yayasan Tifa. Bagian kedua bercerita tentang tapak-tapak penting yang diayun Tifa dalam konteks menguatkan demokrasi, meluaskan akses pada keadilan, menjaga kebebasan berekspresi, merawat kebebasan pers dan keterbukaan informasi, menegakkan ham, dan menjaga kebinekaan. Tifa juga berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat sipil. “Kami ingin Tifa menjadi pusat pengembangan sumber daya, resource center, knowledge center,”

(21)

kata felia salim, salah satu founder Tifa. Berbagai pelatihan, riset, penulisan buku, juga pemberian beasiswa kepada aktivis dilakukan demi mendorong peningkatan kapasitas ini.

Bagian ketiga buku ini berkisah tentang situasi yang dihadapi Tifa, kini dan nanti. Bagian yang amat penting. Revolusi digital kian menghebat, big data dan kecerdasan buatan sudah ada di beranda rumah, juga iklim politik yang diwarnai polarisasi, tumbuhnya konservatisme, meluasnya pengaruh populisme, dan yang terakhir adalah perubahan lanskap kehidupan akibat pandemi Covid-19. “Bagaimana Tifa tetap relevan dengan derap zaman adalah tantangan yang utama bagi kami,” kata direktur eksekutif Tifa shita laksmi.

Kami memahami bahwa buku ini tidak mungkin menampilkan setiap detail dalam perjalanan dua dasawarsa. Buku ini hanya mampu menampilkan potret cakrawala besar garis perjalanan Tifa. Rincian bata demi bata yang selama 20 tahun membangun Tifa tidak mungkin kami suguhkan. Tak semua pihak yang terkait dengan Tifa bisa kami wawancarai. semuanya karena keterbatasan energi dan waktu. Kami meminta maaf sebesar-besarnya untuk kekurangan dan keterbatasan tersebut.

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Tifa yang telah mempercayakan pembuatan buku ini kepada kami. adalah sebuah kehormatan bagi kami untuk terlibat dalam pendokumentasian perjalanan yayasan Tifa.

Buku ini memiliki nilai penting bukan saja bagi Tifa dan mitranya, tetapi juga bagi indonesia. perjalanan 20 tahun, yang dibingkai peristiwa demi peristiwa, pembelajaran, konteks sosial- politik-ekonomi-budaya, perlu direkam dengan baik. merekam ingatan, bersama menggarisbawahi apa yang perlu diperbaiki, dilanjutkan, diperluas, dan apa yang sebaiknya disimpan dalam lemari sejarah. Tifa memang lembaga kecil saja untuk ukuran indonesia Raya, tapi perjalanannya kaya dengan dialektika yang dinamis dengan kondisi sosial-politik bangsa. “Karena itu, ingatan kolektif perlu sama-sama kita jaga. agar negeri ini bisa melangkah ke depan dengan lebih baik,” kata daniel.

(22)

Kerusuhan Mei 1998 membuka jalan bagi pergantian kekuasaan—dengan turunnya Presiden Soeharto setelah 30 tahun lebih memerintah.

foto: tEMPo/DR/Rully kESuMa

(23)

BaB 2

Jurus mundur sebelum maju

Tifa adalah lembaga kecil dengan mimpi besar demokrasi. Tifa dipercaya mendistribusikan dana kepada lembaga swadaya masyarakat yang terlibat dalam demokratisasi Indonesia.

pada 1966, seorang tentara pendiam menggantikan sukarno yang telah memerintah enam tahun dengan demokrasi Terpimpin- nya yang gegap-gempita. ia tampan, banyak tersenyum, di tangannya ada selembar surat mandat berkuasa: supersemar.

sejak itu, bahkan bertahun-tahun setelah jenazahnya dikebu- mikan di astana Giribangun, solo, pada 2008, mayor jenderal pendiam itu terus mengharu biru bangsa ini. ya, soeharto (1921- 2008) tak berhenti di situ.

ada nostalgia yang selalu membuat orang rindu akan stabilitas yang dibangunnya dulu manakala demokrasi menimbulkan riak- riak ketidakpastian: munculnya raja-raja kecil di daerah, kebebasan berekspresi yang berisik, unjuk rasa yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi anarki, dan para oportunis yang senantiasa mendominasi panggung-panggung kekuasaan. pendiriannya yang tak pernah beringsut dari doktrin negara Kesatuan Republik indonesia (nKRi) dan tidak toleran terhadap aspirasi daerah juga sekonyong-konyong jadi alternatif ketika potensi separatisme mulai muncul.

Tiga puluh dua tahun berkuasa, soeharto tentu saja mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat baik ataupun buruk. namun ada proses yang terus-menerus berlangsung di masa pemerintahan yang panjangnya hanya bisa ditandingi pemimpin Kuba yang

(24)

telah tiada, fidel Castro, itu, yakni sentralisasi, bahkan kemudian personalisasi, dengan sosok soeharto sebagai nukleus dari segenap perkembangan di negeri ini.

proses sentralisasi bisa tercium sejak dini. Tepatnya tatkala ia menyederhanakan partai-partai—kantong-kantong kekuasaan di luar pemerintah—peninggalan demokrasi liberal yang dibikin lumpuh demokrasi Terpimpin-nya sukarno. pada pemilu 1971, seperti ditulis herbert feith dalam The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, partai yang jumlahnya puluhan itu disederhanakan menjadi sepuluh saja, dan segenap aturan pemilu

digiring ke satu tujuan: kemenangan Golkar.

pengikisan kekuasaan di luar nukleus pemerintahan orde Baru ternyata tidak berhenti. sebuah kejadian pada pertengahan 1970-an mengantar pengikisan selanjutnya:

sepuluh partai diringkas menjadi partai demokrasi indonesia, partai persatuan pembangunan, dan Golkar. sementara itu, sentralisasi kekuasaan yang berjalan selama satu periode itu pun mencapai tahap yang cukup mencengangkan: nukleus itu melebar.

putra-putri presiden soeharto yang sudah mulai besar menjadi bagian dari inti sel dan terjun ke dunia bisnis berbekal ”hak-hak istimewa” sebagai anak presiden. majalah Forbes memberitakan, betapa setelah krisis moneter 1997, kekayaan soeharto dan keluarganya mencapai us$

16 miliar.

dalam memoarnya yang tebal, From Third World to First, perdana menteri singapura lee Kuan yew mengatakan, “saya tidak mengerti mengapa anak-anaknya perlu menjadi begitu kaya.” dalam buku yang sama, lee menyayangkan soeharto telah mengabaikan nasihat mantan panglima angkatan Bersenjata Jenderal Benny moerdani pada akhir 1980-an supaya ia mengekang gairah anak-anaknya untuk mendapatkan aneka privilese bisnis.

“open society adalah masyarakat terbuka.

semua

terbuka,

maka tidak

ada kelas

sosial yang

diakui

dan tidak

diakui."

(25)

puncak sentralisasi yang sangat nepotistis itu akhirnya tampil dalam bentuk yang begitu transparan pada 11 maret 1998: ia terpilih untuk ketujuh kalinya, dan itu berarti hampir separuh dari usianya dihabiskan sebagai presiden negeri ini. dalam Kabinet pembangunan Vii, siti hardijanti Rukmana, putri sulungnya, diangkat menjadi menteri sosial. dan manakala jangkauan wewenang yang diberikan kepada seorang menteri sosial kemudian terlihat begitu luas, orang pun mulai membayangkan sebuah suksesi yang tidak berbeda dengan peristiwa keluarga:

sang putri sulung mengambil alih peran ayahnya.

syukurlah, drama politik dinasti yang sangat dikhawatirkan di atas ternyata tidak pernah menjadi kenyataan. pada 1997, krisis moneter menghadang bangsa ini, dan gelombang demonstrasi yang dipicu melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBm) dan sembilan bahan pokok itu kemudian cepat menjelma menjadi tuntutan agar presiden yang telah puluhan tahun ditakuti itu segera turun takhta.

diakui atau tidak, gaya soeharto yang sentralistis, nepotistis, dan represif tidak mungkin berumur panjang tanpa dukungan militer. inilah lapisan masyarakat yang senantiasa mendapat perlakuan istimewa lantaran dukungannya terhadap status quo dan klaim terhadap peristiwa penting dalam sejarah: dalam perang Kemerdekaan, serta penumpasan anggota—plus simpatisan—partai Komunis indonesia 1965. yang terakhir itu adalah suatu privilese yang, menurut pakar politik, pendiri yayasan Tifa yang kritis, daniel dhakidae, dibangun di atas genangan darah tapi disokong oleh hampir semua partai, kelompok, dan agama ketika itu.

setelah “bulan madu” singkat orde Baru dengan kelompok- kelompok antikomunis, orang pun menyaksikan ikhtiar yang luar biasa untuk menyeragamkan isi kepala, sekaligus membungkam kritik segenap warga. Bukan cuma pers yang was-was karena sewaktu-waktu surat izin usaha penerbitan (siupp) yang menentukan mati-hidup penerbitan bisa dicabut. orde Baru yang bersandar pada legitimasi sejarah itu mengerahkan perhatian khusus untuk mengontrol apa saja yang menyangkut dirinya—bahkan dalam jurnal-

(26)

Diharapkan menjadi ujung tombak pemberantasan praktik rasuah yang sudah bertahun-tahun mengakar, Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya tak berdaya juga menghadapi serangan bertubi-tubi terhadap dirinya.

foto: tEMPo/iMaM SukaMto

(27)
(28)

jurnal ilmiah dan dalam buku-buku pelajaran sekolah.

Karena sejarah sudah menjadi urusan negara, buku-buku pelajaran sejarah smp dan sma pun, misalnya, mendudukkan soeharto sebagai konseptor serangan umum 1 maret 1949, seraya mengecilkan arti pertemuan soeharto-sultan hamengkubuwono iX yang sangat boleh jadi membahas soal itu sebelumnya. Bukan cuma itu. Kala membahas peran pKi, di antara 5-6 versi tentang peristiwa Gerakan Tiga puluh september, sekolah-sekolah hanya mengajarkan versi dengan kesimpulan tunggal: pKi dan Biro Chususnya yang mendalangi semua itu.

daniel dhakidae punya pandangan menarik tentang tata susunan masyarakat produk rezim ini. di indonesia yang luas ini terbentuklah stratifikasi masyarakat orde Baru yang meletakkan aBRi atau militer pada pucuk piramida, birokrasi pada lapisan kedua di bawahnya, dan terakhir masyarakat umum pada lapisan terbawah. Tak ada klaim pemerintah atau hukum yang mengukuhkan kebijakan diskriminatif ini. namun, ironis sekali, di tangan orde Baru, diskriminasi sosial yang berpuluh tahun lalu diterapkan pemerintah kolonial hindia Belanda melalui penggolongan masyarakat ke dalam lapisan eropa, Timur asing, dan pribumi itu seperti hidup kembali.

elitisme ini seakan-akan mendapatkan pembuktian yang paling terang-terangan tatkala lapisan “warga kelas satu” ini dinyatakan berhak menunjuk 150 orang untuk mewakili aspirasinya di dpR- mpR. Tatkala urusan penunjukan atau penggantian paruh waktu 150 orang di lembaga “wakil rakyat” itu menjadi urusan “internal” badan yang mengutusnya semata, masyarakat umum pun dipaksa tahu diri bahwa mereka bukan siapa-siapa di republik ini.

mei 1998, soeharto turun takhta. para pencinta demokrasi melihat kesempatan untuk menghancurkan bangun sosial yang diskriminatif dan hegemonik itu terbuka. dan beberapa bulan setelah sang autokrat lengser, sejumlah orang langsung merasa

“bertemu jodohnya” tatkala open society institute mengulurkan tangan untuk suatu kerja sama yang menjanjikan: demokratisasi indonesia.

(29)

dipimpin sosok kontroversial George soros, open society institute (belakangan mengubah nama menjadi open society foundation) memiliki reputasi khusus di kalangan masyarakat internasional. organisasi ini banyak membantu negara-negara di eropa Timur dan pecahan uni soviet melalui saat-saat kritis, masa transisi dari otoritarianisme ke demokrasi.

“Open society adalah masyarakat terbuka. semua terbuka, maka tidak ada kelas sosial yang diakui dan tidak diakui. semua adalah citizens dan semua mempunyai hak yang sama dalam partisipasi dalam demokrasi itu,” ujar daniel mengenang masa-masa awal reformasi. pada 2000, berdirilah yayasan Tifa, yang bergerak sebagai suatu grant maker atau donor agent bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau kelompok-kelompok masyarakat sipil yang tengah sibuk di negeri yang berubah ini.

Tifa adalah lembaga kecil dengan mimpi besar demokrasi.

Tifa dipercaya mendistribusikan dana kepada lembaga swadaya masyarakat yang terlibat dalam demokratisasi indonesia. di mata lembaga-lembaga donor internasional, indonesia yang mayoritas penduduknya muslim tapi mencoba menegakkan demokrasi itu tampak seksi. sangat seksi.

namun indonesia yang telah maju, “demokratis”, dan masuk kelas middle income country dewasa ini bukan hanya tidak seseksi dulu, tapi juga harus menelan kenyataan pahit. ya, periode 20 tahun perjalanan reformasi ini ditandai dengan sebuah fakta menyedihkan: elitisme—atau segregasi menurut istilah daniel dhakidae—bertahan dengan baik, seraya bermetamorfosis menjadi oligarki, suatu penyakit yang paling mengerikan buat demokrasi indonesia saat ini.

lll

Tiga dekade menikmati perlakuan istimewa sebagai “pembebas indonesia dari kolonialisme Belanda dan komunisme”, reformasi Tni yang akhirnya meletakkan tentara setara dengan warga

(30)
(31)

Mahasiswa menduduki gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam demonstrasi besar menuntut turunnya Presiden Soeharto, Mei 1998.

foto: tEMPo/DR/Rully kESuMa

(32)

biasa itu tidak mudah dijalankan. namun reformasi, seperti halnya revolusi, yang diharapkan membongkar segregasi yang dipertahankan orde Baru itu adalah karya kolektif yang melibatkan berbagai elemen bangsa. inilah kekuatan kombinasi antara situasi darurat, gelombang demonstrasi mahasiswa, tekanan kelompok- kelompok prodemokrasi, desakan elite, bahkan “penumpang gelap”. Tak terkecuali militer sendiri.

pakar reformasi sektor keamanan lembaga ilmu pengetahuan indonesia (lipi) yang juga pengurus yayasan Tifa, Riefqi muna, mengingatkan peran panglima Tni (waktu itu) Jenderal Wiranto yang krusial pada mei 1998. mendapatkan mandat untuk menegakkan ketertiban dari presiden yang undur diri, Wiranto tidak serta- merta menggunakan kekerasan yang dapat membuat reformasi mati muda. Kendati yang bersangkutan berhak melakukannya, Wiranto membiarkan roda reformasi menggelinding.

sebenarnya perkembangan ini tak begitu mengejutkan. pada 1998 pula markas Besar aBRi menerbitkan buku istimewa dengan judul ABRI Abad XXI: Redefinisi, Reposisi, dan Reaktualisasi Peran ABRI dalam Kehidupan Bangsa. “Keputusan itu dikeluarkan oleh mabes Tni, bukan Kementerian pertahanan, lo,” kata Riefqi muna mengingatkan. pada penerbitan kedua, buku yang terbit beberapa tahapan ini memuat satu timetable: kapan mereka mulai meninggalkan politik, juga saat polisi keluar dari aBRi.

memang, tak semua perwira militer dalam lapisan prestisius itu bersukacita menjadi pendukung status quo. ada sejumlah perwira tinggi yang melangkah maju dengan visi melampaui zamannya.

mereka tidak mengkritik dominasi militer di hampir setiap lini kehidupan negeri ini, tapi merumuskan kesiapan lembaga itu menghadapi abad ke-21, manakala otoritarianisme perlahan digantikan dengan indonesia yang lebih demokratis, lebih pro- penegakan ham dan Tni sudah meninggalkan politik praktis.

Wajah progresif Tni di era ini tampak lebih jelas setelah mpR mengeluarkan Ketetapan mpR no. 6/2000 yang menggariskan timeline, tahapan-tahapan, bilamana Tni keluar dari dpR. Tentara ternyata memutuskan angkat kaki dari parlemen sebelum waktunya.

(33)

menurut Riefqi muna, bila dibandingkan dengan militer negara- negara eropa Timur eks uni soviet atau amerika latin yang baru saja lepas dari kediktatoran dan melaksanakan democratic reform, militer di indonesia memiliki karakteristik yang lebih independen.

maka cukup memprihatinkan bila pemerintahan sipil kini seperti berlomba-lomba dengan oposisi untuk memasukkan jenderal angkatan darat dan Kepolisian ke barisan masing- masing. Tokoh-tokoh sipil yang lebih memikirkan kepentingan jangka pendek ini mungkin lupa bahwa angkat kakinya militer dari politik praktis merupakan tindakan luar biasa yang menyehatkan demokasi indonesia.

lll

dalam sebuah penyataannya yang terkenal, pemimpin Cina, mao Zedong, mengingatkan bahwa revolusi bukanlah pesta kebun, melainkan peristiwa kekerasan, ketika kelas yang satu mengempaskan kelas yang lain. Tapi reformasi memang bukan revolusi. ia, “Revolusi yang dikerjakan dengan tanggung,” kata daniel dhakidae.

dua dasawarsa reformasi, sirkulasi elite masih sangat terbatas, pemilu tak kuasa membebaskan diri dari politik uang, oligarki semakin mewarnai perpolitikan kita, dan masyarakat sipil tak berdaya menghadapi perkembangan yang bertolak belakang dengan semangat reformasi ini.

Keadaan bertambah menggelisahkan dengan menajamnya intoleransi dan menguatnya politik identitas yang menomorsatukan kepentingan kelompok dan menomorduakan orang di luar kelompok. politik populis dengan massa yang mudah terbakar sekaligus mudah diperalat ini begitu cepat unjuk gigi di jalan-jalan jika identitas agama atau etnisnya tersakiti.

Tentu saja, demokratisasi di negeri ini telah berjalan jauh, telah memperkuat pemerintahan daerah, membuka keran buat kebebasan pers, dan lain-lain. sungguh, sebelum mengalami

(34)
(35)

Salah satu momen pertarungan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan kalangan yang menginginkan lembaga antirasuah itu dilemahkan.

foto: tEMPo/iMaM SukaMto

(36)

“kelumpuhan sementara” yang menyesakkan sekarang ini, masyarakat sipil—termasuk Tifa—telah berhasil mendesakkan sejumlah kemajuan.

empat amendemen undang-undang dasar 1945 memang bukan karya yang sempurna, tapi menurut Todung mulya lubis, salah satu pendiri Tifa, kita patut beryukur. adanya bab tentang hak asasi manusia, otonomi daerah, mahkamah konstitusi, dan keberadaan state auxiliary agencies, seperti Komisi pemberantasan Korupsi (KpK), Komisi pemilihan umum (Kpu), dan ombudsman, merupakan pencapaian lumayan besar di negara demokrasi.

“itu semua adalah pranata yang memang diinginkan untuk memperkuat checks and balances dalam pemerintahan. supaya aspirasi publik lebih bisa didengar,” kata pengacara serta aktivis hak asasi manusia yang kini duta Besar indonesia di norwegia ini.

namun, dengan perkembangan seperti oligarki yang makin mencorong atau politik uang yang mencederai hakikat pemilu, dan KpK yang tak lagi berdaya menghadang korupsi, jelaslah ini bukan saat yang tepat untuk merayakan demokrasi. Todung mulya lubis, misalnya, meski tak ingin pesimistis, mengakui bahwa kita mengalami sebuah “regresi politik”. satu-satunya yang sedikit meredakan kekhawatiran para pencinta demokrasi: bukan indonesia saja yang mengalami kemunduran ini.

Gerakan “people power” di filipina yang menegakkan demokrasi setelah tenggelamnya kediktatoran ferdinand marcos pada 1986 kini harus menerima fakta tak menyenangkan. Terpilih pada 2016, presiden Rodrigo duterte ternyata lebih merupakan seorang pemimpin otoriter ketimbang demokrat. sebelumnya, menurut Todung mulya lubis, ada Thailand yang telah memperlihatkan banyak kemajuan dalam demokrasi, tapi kemudian jatuh ke tangan penguasa militer.

namun tidak mungkin kita menyerah dalam perjalanan panjang demokrasi indonesia yang semakin tidak mudah. Boleh jadi ini saat yang tepat buat mendengarkan pendiri yang juga pernah menjadi anggota dewan pembina yayasan Tifa, felia salim, tentang masyarakat sipil: kita awali dengan diri sendiri. melihat proliferasi,

(37)

orientasi politik yang begitu beragam di antara masyarakat sipil kini, kiranya sekarang waktunya untuk kembali duduk bersama:

membuat kesepakatan bersama, membicarakan langkah prioritas bersama untuk indonesia yang lebih demokratis.

menyaksikan ini semua, Riefqi muna tampaknya telah menyimpulkan dengan bijak: kita telah maju tiga langkah, sekarang mundur selangkah. dan mudah-mudahan ini “kemunduran” yang pada akhirnya membuat kita melangkah lebih jauh ke depan.

(38)

Tifa dalam Jejak Kita

selama dua dekade yayasan Tifa ikut mendorong terwujudnya masyarakat terbuka di indonesia. Jejaknya terserak di hampir semua provinsi dengan puluhan kata kunci yang terhubung pada nilai-nilai Tifa—keterbukaan, kebinekaan, kesetaraan, dan keadilan.

2000

13 tokoh masyarakat sipil mendirikan Yayasan Tifa pada 8 Desember 2000. Yayasan Tifa memiliki visi “mewujudkan masyarakat terbuka yang berkhidmat kepada kebinekaan, kesetaraan, dan keadilan”. Para pendiri:

Hadi Soesastro,

Pendiri CSIS Felia Salim,

Pakar ekonomi

Daniel Dhakidae,

Pakar politik Todung Mulya Lubis,

Pakar hukum

Goenawan Mohamad,

Budayawan Bambang Widjojanto,

Pendiri KontraS

Tosca Santoso, Jurnalis

Riefqi Muna,

Pendiri Center for Security and Defence Studies

Debra Yatim,

Jurnalis Lukas Luwarso,

Jurnalis

Budi Santoso, Pakar hukum

Chusnul Mar’iyah, Pendiri Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi

Smita Notosusanto, Pendiri Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan

(39)

• Evaluasi Tata Pemerintahan Kota Bandar Lampung Tahun 2001

LBH Bandar Lampung

• Seminar nasional: Aceh: Hak Asasi Manusia, Konflik Bersenjata dan Dampak Sosial Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM

• Lokakarya Kekerasan Nega ra LEKSIP Kalimantan Timur

• Seminar nasional: Perubahan Konstitusi Negara dalam Rangka Mewujudkan Demokratisasi dan Kesejahteraan Rakyat Yayasan Perduli Kesejahteraan Rakyat

• Seminar nasional: Penyele saian Konflik Aceh di Era Megawati Sukarnoputri

Solidarity Without Border (Solidamor)

49

Inisiatif

13

Provinsi

2001

tema 3 utama

Tata Pemerintahan

Pemerintahan Daerah

HAM

Bagian grafik yang diperbesar pada halaman ini.

(40)

US$ 901.380

Total dana hibah

2002

tema 5 utama

20,6%

Jejaring OSI 1,5%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

30,7%

Pemerintahan Daerah

18,9%

Peningkatan Kapasitas NGO

29,2%

HAM

• Lokakarya Menuju Radio Komunitas yang Cerdas dan Terorganisir

COMBINE Resource Institution

• Lokakarya Penyusunan Modul Liputan Jurnalis di Wilayah Konflik Aceh dalam Perspektif Jurnalisme Damai

Kajian Informasi Pendidikan dan Penerbitan Sumatera

• Seminar Bisnis Militer di Balik 3 Wilayah Konflik (Aceh, Maluku, dan Papua)

Forum Nasional Kepedulian HAM Papua, Papua

• Harmonisasi dan Pemantauan Pembahasan RUU Penyiaran oleh Pansus DPR RI

ISAI dan COMBINE Resource Institution

• Penerbitan Buku: Peta Kekerasan - Pengalaman Perempuan Indonesia

Komnas Perempuan

• Seminar dan lokakarya Advokasi RUU Anti Terorisme Sensitif HAM

PBHI Nasional

• Antisipasi Ormas Sipil atas Pemberlakuan UU Yayasan

YAPPIKA - Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi

• Lokakarya Rencana Strategis Forum Lintas Antar Iman se-Jawa Timur

Yayasan Forum Lintas Agama (FLA) Jawa Timur

• Program Penguatan Kapasitas Organisasi Difabel di Yogyakarta

Yayasan Dria Manunggal

• Program Kampanye dan Investigasi Calon Hakim Agung

KRHN

• Lokakarya Otonomi Daerah dan Dampaknya bagi Partisipasi Perempuan dalam Politik Lokal Women Research Institute

• Persiapan Program Akreditasi dan Sertifikasi LSM Indonesia

Satunama Yogyakarta

• Program Advokasi Hak Anak atas Identitas Kultural LSPP

• Program Konsultasi Publik Revisi UU Politik Pusat Reformasi Pemilu

• Uji Publik Pemilihan Gubernur Lampung 2003-2008 Lampung Parliament Watch

organisasi

64

kemasyarakatan

(41)

• Advokasi PP Lembaga Penyiaran Komunitas COMBINE Resource Institution

• Kajian Perda Kab. Lombok Timur tentang Pemerintahan Desa

Yayasan Dinamika Pembangunan Masyarakat (YDPM)

• Kajian Perubahan Regulasi Terkait Antiterorisme PPOTODA Universitas Brawijaya

• Workshop modul Pemantauan Proses Pemilu 2004 LSPP

• Penyiapan dan Penguatan Kapasitas Lembaga Mahkamah Konstitusi

Konsorsium Reformasi Hukum Nasional

• Penyusunan Strategi Komunikasi untuk Kampanye Hak-Hak Penyandang Cacat

Lembaga Suara Anak Negeri

• Program Pelembagaan Association for Critical Thinking

Asosiasi untuk Pemikiran Kritis

• Advokasi RUU Kerukunan Umat Beragama Lembaga Kajian Agama dan Jender

• Program Semiloka Kesehatan dan HAM Ikatan Dokter Indonesia

• Mengungkap Tabir Tragedi Kemanusiaan 1965 Solidaritas Nusa Bangsa

• Pembangunan Kantor Penghubung Aceh di Jakarta IMPARSIAL - PACEDEPES

• Pelatihan Forensik KontraS

• Jambore korban pelanggaran HAM Desember 2003 Komnas HAM

• Advokasi pelaksanaan APBD perdamaian Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Sorak Aceh

US$ 1.959.875

Total dana hibah

2003

tema 5 utama

17,4%

Pemerintahan Daerah

25,5%

Peningkatan Kapasitas NGO 2,1%

Media 22,7%

HAM

41,5%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

organisasi

107

kemasyarakatan

Bagian grafik yang diperbesar pada dua halaman ini.

(42)

US$ 2.360.650

Total dana hibah

2004

tema 6 utama

12,7%

Pluralisme 6,8%

Peningkatan Kapasitas NGO

11,7%

Pemerintahan Daerah Media10%

22,5%

HAM

39,6%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

• Yap Thiam Hien Award 2004

Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (YAPUSHAM)

• Konsultasi Publik Penyusunan Rancangan PP Pengaturan Desa

Yayasan Bina Masyarakat Mandiri

• Penyusunan Mekanisme Penyelesaian Perkara Pers LBH Pers

• Sosialisasi Hasil Political Tracking Capres dan Cawapres

LSPP

• Program Hitung Cepat dan Survei Preferensi Pemilih

LP3ES

• Pengembangan Sistem Peringatan Dini terhadap Konflik di Indonesia

Institut Titian Perdamaian

• Rapat Umum Tani untuk Mendorong Pelaksanaan Pembaruan Agraria Konsorsium Pembaruan Agraria

• Identifikasi dan Pemetaan Inovasi Program Pemkab Jembrana

Fisipol UI

• Diseminasi Draft Rancangan PP Penyiaran Komunitas Versi Publik

Jaringan Radio Komunitas Yogyakarta

• Penerbitan Koran Profil Caleg Bermasalah Yayasan Harkat Bangsa

• Kampanye Menolak RUU TNI yang Mengancam Demokrasi Indonesia

IMPARSIAL - PACEDEPES

• Mendorong Transparansi dan Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan UU Buruh Migran Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia

• Pembentukan dan Penguatan Organisasi Nasional Radio Komunitas

Yayasan Sketsa Pojok

• Capacity Building NGO Muslim Progresif di Indonesia

The Wahid Institute

• Penelitian tentang Perimbangan Keuangan Kabupaten-Desa

Forum Pengembangan Pembaharuan Desa

• Bantuan Hukum untuk Masyarakat Marginal LBH di berbagai kota

• Perhimpunan Bantuan Hukum Nusa Tenggara Perkumpulan Bantaya

organisasi

97

kemasyarakatan

(43)

US$ 1.470.355

Total dana hibah

2005

• Workshop Rencana Aksi Advokasi Kasus Kekerasan Agama

Yayasan Averroes

• Melawan Impunitas melalui Pengusutan Tuntas Kasus Pembunuhan Politik terhadap Munir Voice of Human Rights (VHR)

• Pertemuan Ulama Aceh untuk Perumusan RUU Pemerintahan Aceh pasca-Perdamaian Aceh Rabithah Thaliban/Ikatan Santri Dayah NAD

• Replika Inovasi Kabupaten Jembrana di Kabupaten Enrekang

Center for Regional Economic Research (CoRNER)

• Pembuatan Latar Belakang Konflik Kalimantan Barat dan Sistem Peringatan Dini Konflik Institut Kemanusiaan dan Perdamaian (Stikma)

• Advokasi Prosedur Izin Siar Lembaga Penyiaran Komunitas

COMBINE Resource Institution

• Diseminasi Rancangan Alternatif Perpres Pengambilalihan Bisnis Militer

Research Institute for Democracy and Peace (The RIDEP Institute)

• Partisipasi Pemilih melalui Kontrak Politik Pilkada Bandar Lampung dan Metro Pusat Studi Strategi dan Kebijakan (PuSSbik)/

Kantor Bantuan Hukum (KBH) Lampung

• Jejak Rekam (Political Tracking) Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Binjai Pilkada 2005 FITRA Sumut

• Advokasi APBD Kota Cirebon Menuju APBD Pro-Poor

Grage Institute

• Advokasi Kebijakan Berbasis Formalisasi Agama di Nusa Tenggara Barat

YPKM NTB

• Menuju Polisi yang Berwawasan HAM PBHI Yogyakarta

• Membangun Kebebasan Pers yang Beretika Dewan Pers

• Revenue Watch Penerimaan Parkir Provinsi DKI Jakarta

Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

• Diseminasi Ide-ide Keislaman yang Pluralis, Inklusif dan Demokratis di Kampus Jaringan Islam Liberal (JIL) organisasi

96

kemasyarakatan tema 6

utama

HAM16%

15,7%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

7,8%

Peningkatan Kapasitas NGO 19,6%

Pemerintahan Daerah 15,6%

Media 25,1%

Pluralisme

Bagian grafik yang diperbesar pada dua halaman ini.

(44)

US$ 1.622.239

Total dana hibah

2006

organisasi

85

kemasyarakatan

• Mempromosikan Open Parliament di Tingkat Lokal Indonesia Budget Center (IBC)

• Akselerasi Legislasi RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik

Yayasan Kelompok Kerja Visi Anak Bangsa (YKKVAB)

• Perumusan Naskah Alternatif Rancangan Undang- Undang Rahasia Negara

PACIVIS Universitas Indonesia

• Advokasi HAM Pasca-MoU di Aceh Koalisi NGO HAM Aceh

• Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas Penerimaan Anggaran Negara Sektor BUMN Seknas FITRA

• Asesmen WALHI Daerah dengan Instrumen TANGO WALHI Eksekutif Nasional

• Peningkatan Kapabilitas NGO di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat

Yayasan Esensi

• Lokakarya Anggaran Rakyat dalam Konteks Otonomi Khusus Papua

Perkumpulan Masyarakat Jakarta Peduli (POKJA) Papua

• Konsolidasi Nasional Bhinneka Tunggal Ika Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA)

• Penelusuran Anggaran Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh

Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh

• Fasilitasi Penyusunan Rancangan Perda Deli Serdang tentang Alokasi Dana Desa Yayasan Pusaka Indonesia

• Critical Riview dan Advokasi Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN)

• Advokasi Kebebasan Berekspresi dalam RKUHP LBH Pers

• RKUHP dan Pluralisme, Perlindungan

Minoritas, Multikulturalisme, serta Kebebasan Berkeyakinan/Agama

The Wahid Institute

• Advokasi Hak Etnis Tionghoa dan Pemeluk Konghucu

Jaringan Islam Anti Diskriminasi tema 6

utama

13,8%

Pluralisme Peningkatan 10%

Kapasitas NGO

Media7%

Pemerintahan Daerah14%

54,1%

HAM

0,4%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

(45)

US$ 1.661.297

Total dana hibah

2007

organisasi

78

kemasyarakatan

• Peningkatan Kapasitas Advokat dalam Perlindungan dan Pembelaan HIV/AIDS

LBH Bali

• Advokasi RUU Keterbukaan Informasi Publik ISAI

• Eksaminasi Publik terhadap Putusan MA: Majalah Time Vs Soeharto LBH Pers

• Persiapan Implementasi Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik

Yayasan Kelompok Kerja Visi Anak Bangsa (YKKVAB)

• Pilkada Mudah Akses Difabel dan Gubernur Tanggap Difabel Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA Penca)

• Survei Preferensi Politik Masyarakat dan Quick Count di Pilkada Jakarta 2007

LP3ES

• Mendorong Proses Legislasi RUU Penghapusan Diskriminasi Yayasan Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi (GANDI) Rating Publik untuk Pemberdayaan Pemirsa Televisi di Indonesia Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET)

• Advokasi Penghapusan PPN Media Cetak dan Kampanye Menuju No Tax on Knowledge Melalui Amendemen UU tentang PPN Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat

• Pengawasan Dana Recovery untuk Poso Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu

• Kongkow Bareng Gus Dur

Center for Multicultural Understanding

• Pendampingan Parlemen dan Sinkronisasi Kebebasan Memperoleh Informasi Publik dalam Proses Legislasi RUU Rahasia Negara

PACIVIS UI

• Monitoring Kasus-kasus Kekerasan terhadap LGBT Arus Pelangi

• Membangun Kesadaran Perempuan sebagai Pelaku Aktif Demokrasi

Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia

tema 6 utama

15,1%

Pemerintahan Daerah

6,7%

Peningkatan Kapasitas NGO

7,8%

Pluralisme 17,4%

HAM 15,6%

Media

40,9%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

Bagian grafik yang diperbesar pada dua halaman ini.

(46)

US$ 2.426.048

Total dana hibah

2008

tema 5 utama

8,7%

Pluralisme

16,1%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

26,6%

Media Pemerintahan 18%

Daerah

30,6%

HAM organisasi

104

kemasyarakatan

• Temu Nasional Televisi Komunitas Indonesia Yayasan Masyarakat Anti Pencemaran Lingkungan

• Kampanye Penggunaan UU KIP bagi Jurnalis Nasional dan Kontributor Asing

ISAI

• Advokasi Hak Minoritas dan Masyarakat Adat Pusat Studi Asia Pasifik UGM

• Peluncuran Buku Papua Road Map P2P LIPI

• Advokasi RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara dan Bahaya Militerisme

IMPARSIAL - PACEDEPES

• Keberagaman Melalui Film Yayasan Kampung Halaman

• Advokasi Pembahasan RUU Pelayanan Publik yang Partisipatif, Adil, dan Berkualitas

Yayasan

• Mendorong Pemenuhan Hak Politik Buruh Migran Indonesia pada Pemilu 2009

Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat

• Mendorong Pembentukan Aliansi Nasional Advokasi RUU KUHAP

Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat

• Kampanye Independensi dan Profesionalisme Media 2008

AJI Indonesia

• Pengembangan Sikola Mombine (Sekolah Pendidikan Politik Perempuan)

Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Sulawesi Tengah

• Rating Publik untuk Pemberdayaan Pemirsa Televisi II

Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET)

• Penyusunan Manual Pendidikan Paralegal LBH Tingkat Nasional

LBH Yogyakarta

• Membangun Sistem Perlindungan Buruh Migran melalui Penyediaan Layanan Terpadu di Bandara Perkumpulan Panca Karsa Mataram

• Pengembangan Mahnetik (Rumah Internet TKI) Dian Mutiara

Women’s Crisis Centre

(47)

US$ 2.186.333

Total dana hibah

2009

organisasi

93

kemasyarakatan

• Penguatan Partisipasi Masyarakat dalam Mendukung Kebebasan Pers dan Memberantas Praktik Penyalahgunaan Profesi Wartawan

Dewan Pers

• Program Asistensi Implementasi UU Kebebasan Informasi kepada Badan Publik

Yayasan Visi Anak Bangsa

• Mencegah Konflik Melalui Penguatan Hak-hak Politik Rakyat di Kota Palu dan Kabupaten Poso Komite Independen Pemantau

Pemilu (KIPP) Sulawesi Tengah

• Riset Pengadilan terhadap Pers di Indonesia LBH Pers

• Advokasi APBD dan Pendidikan Politik Anggaran bagi Masyarakat di Muna, Sulteng

Perkumpulan Swadaya Masyarakat Indonesia (SWAMI)

• Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Musrenbang Desa melalui Penguatan PKK

Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK)

• Sekolah Islam Rakyat

Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies (IMPULSE)

• Pemetaan Kecenderungan Konflik di NTB dengan Metode Analisis Trend Konflik

LBH Nusa Tenggara Barat

• Pengembangan Mekanisme Komplain Publik terhadap Kerja Jurnalis/Media

Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi (SOMASI) Nusa Tenggara Barat

• Penguatan Hak-Hak Reparasi Korban dan Keluarga Korban Pelanggaran HAM Peristiwa 65 di Sulawesi Utara Yayasan Dian Rakyat Indonesia (YDRI)

• Kampanye Keterbukaan Informasi Publik dalam Kasus Lumpur Lapindo

WALHI Jawa Timur

• Pengembangan Model Pemantauan Anggaran Kesehatan Daerah CSIS

• Advokasi Penundaan Pengesahan RUU Rahasia Negara Institute for Defense, Security and Peace Studies (IDSPS) tema 6

utama

19,9%

Pemerintahan Daerah

17,9%

HAM

6,7%

Buruh Migran 14,8%

Pluralisme 15,1%

Demokrasi &

Masyarakat Sipil

25,7%

Media

Bagian grafik yang diperbesar pada dua halaman ini.

(48)

US$ 2.938.817

Total dana hibah

2010

tema 4 utama

28,3%

HAM dan Keadilan

29,1%

Media dan Informasi

2,8%

Buruh Migran

39,7%

Demokrasi dan Pemerintahan

organisasi

94

kemasyarakatan

• Pelatihan Pemanfaatan UU KIP bagi Jurnalis Radio Aliansi Wartawan Radio Indonesia

• Jaminan Sosial bagi Pekerja

Sektor Informal di Kabupaten Sumbawa Yayasan Boan

• Advokasi RUU Bantuan Hukum 2010 YLBHI Jakarta

• Pemetaan Penilaian Para Pemangku Kepentingan terhadap Kebijakan dan Program Bank Dunia

Universitas Katolik Atma Jaya

• Mochtar Lubis Award 2010

Lembaga Studi Pers & Pembangunan (LSPP)

• Dialog Jakarta-Papua Sebuah Keniscayaan IMPARSIAL - PACEDEPES

• Ceramah”Kebebasan dan Para Musuhnya” Dato’ Seri Anwar Ibrahim

Komunitas Salihara

• Desain Alternatif RUU Rahasia Negara

Institute for Defense, Security and Peace Studies (IDSPS)

• Inisiasi Model Konsultasi Warga-Wakil Rakyat Jakarta Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Jakarta

• Mencari Formula Dana Perimbangan Pusat Daerah yang Berkeadilan dan Transparan

Seknas FITRA

• Pilot Project Penelitian Indeks Demokrasi Lokal:

Menumbuhkan Pemimpin-Pemimpin Demokratis Baru Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)

• Dokumenter Penegakan Kebenaran dan Rekonsiliasi Korban Peristiwa Madiun 1948 di Pesantren Sabilil Muttaqien, Jawa Timur

Jaringan Videomaker Independen (JAVIN)

• Peningkatan Profesionalisme Wartawan Papua AJI Kota Jayapura

• Evaluasi dan Monitoring Implementasi UU & PP Pelayanan Publik yang nondiskriminatif

Yayasan Pengkajian Hukum Indonesia

• Menguatkan Strategi Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dalam Pembangunan Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Pulau-Pulau Kecil

Koalisi HAK

Bagian grafik yang diperbesar pada dua halaman ini.

(49)

organisasi

90

kemasyarakatan

US$ 3.111.192

Total dana hibah

2011

• Jaringan Saksi Independen Indonesia untuk Menanggulangi Politik Uang dalam Pemilu

Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia

• Mendorong Peran dan Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Mewujudkan Dialog dalam Penyelesaian Konflik Papua IMPARSIAL - PACEDEPES

• Menemukenali Data dan Informasi yang Berdayaguna dalam Sistem Informasi Desa di Desa Terong

• Bantul

COMBINE Resource Institution

• Mengawal Perubahan UU Penyiaran

• Pemantau Regulasi dan Regulator Media Yayasan

• Pemetaan Mekanisme Indoktrinasi Paham Skripturalisme dan Fundamentalisme dalam Ormas Kepemudaan Islam Nusantara Centre

• Pengembangan One Stop Portal untuk Buruh Migran Indonesia Lembaga Kajian Pengembangan Pendidikan, Sosial, Agama dan Kebudayaan

• Situs Keterbukaan Informasi Publik Sektor Kepolisian Perkumpulan Air Putih

• Workshop Advokat Berperspektif Pers LBH Pers

• Riset Pemetaan Masalah Perpajakan Indonesia Indonesia Tax Care (INTAC)

• Advoksi RUU Desa Berbasis Konsolidasi Jaringan Advokasi RUU Desa

Forum Pengembangan Pembaharuan Desa

• Advokasi Hak-hak Petani atas Benih melalui Judicial Review Mahkamah Konstitusi

Yayasan FIELD

• Pengembangan Model Citizen Jury sebagai Mekanisme Akuntabilitas Anggaran

JARI Indonesia

• Advokasi UU Intelijen Negara Melalui Judicial Review Mahkamah Konstitusi

Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia

• Memastikan Pengakuan Hak-Hak Pekerja Rumah Tangga dalam Revisi UU PPTKILN

Lembaga Penelitian dan Analisis Sosial

• Menguatkan Akses dan Kontrol Masyarakat Miskin Perdesaan atas Tanah melalui PP Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Telantar Konsorsium Pembaruan Agraria

tema 4 utama

27,9%

HAM dan Keadilan

Media dan 30%

Informasi 5,2%

Buruh Migran

Demokrasi dan 37%

Pemerintahan

Referensi

Dokumen terkait

Kisi-kisi instrumen merupakan pedoman atau panduan dalam merumuskan pernyataan-pernyataan instrument yang diturunkan dari variabel evaluasi yang akan diamati.

pelayanan dari perusahaan yang sesuai dengan harapan konsumen. Kepuasan konsumen dapat dilihat dengan cara membandingkan antara harapan dan kenyataan yang di dapat oleh konsumen.2.

pengajaran secara perlahan dan bertahap, b) kesiapan tenaga pendidik tergantung pada kemampuan masing-masing guru dan juga kemauan guru untuk belajar

Tujuan penelitian yaitu mengetahui dan mempelajari kadar lemak, protein, dan bahan kering tanpa lemak pada produksi susu sapi perah Fries Holland hasil pemerahan pagi

Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan terkait dengan penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum untuk menghindarkan diri atau menolak

Kegiatan.. Tetapi mengapa kapal laut bisa terapung? Ber d asarkan Hukum Archime d es, kapal d apat terapung karena berat kapal sama d engan gaya ke atas yang d ikerjakan oleh

PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN PERKEMBANGAN EMOSI DAN SOSIAL PADA SISWA PROGRAM AKSELERASI DI SMPN 1 SUMEDANG Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

keragaman di Indonesia merupakan suatu konstruksi sosial yang tidak terpisahkan dari upaya merekayasa kondisi sosial bangsa Indonesia dalam upaya untuk terus melegitimasikan