• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengendalian jumlah penduduk bertujuan untuk menyeimbangkan pertumbuhan penduduk dengan laju pertumbuhan ekonomi sehingga dapat terwujud peningkatan kesejahteraan masyarakat (Sudibia et al., 2015). Indikator utama upaya pengendalian penduduk adalah tingkat kelahiran. Peningkatan usia pertama kali menikah merupakan salah satu upaya menurunkan laju pertumbuhan penduduk (Febriyanti & Dewi, 2017). Kelahiran dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dibedakan atas faktor demografi maupun faktor non demografi.

Faktor demografi seperti struktur atau komposisi umur, status perkawinan, umur kawin pertama, dan proporsi penduduk yang kawin. Faktor non demografi seperti keadaan ekonomi penduduk, tingkat pendidikan, perbaikan status wanita, urbanisasi dan industrialisasi. Faktor-faktor tersebut di atas dapat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kelahiran (Sudibia et al., 2015).

Bonus demografi dipahami sebagai suatu kondisi komposisi atau struktur penduduk sangat menguntungkan dari segi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sementara proporsi penduduk yang tidak produktif (berusia kurang dari 14 tahun dan di atas 64 tahun) semakin kecil.

Bonus demografi merupakan keuntungan ekonomi yang disebabkan oleh menurunnya rasio ketergantungan sebagai hasil penurunan fertilitas jangka panjang (Wongboonsin, et al., 2003). Bonus demografi terjadi karena penurunan kelahiran yang dalam jangka panjang menurunkan proporsi penduduk muda sehingga investasi untuk pemenuhan kebutuhan berkurang dan sumber daya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga (Ross, 2004)

Dampak bonus demografi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan terjadi peningkatan tabungan masyarakat dan tabungan nasional, yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Dilihat dari struktur demografi Indonesia dewasa ini, pada tahun 2020-2030 Indonesia berpeluangcommit to user

(2)

untuk mengalami bonus demografi. Negara Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif, sementara yang tidak produktif berkurang menjadi 60 juta jiwa. Ini berarti 10 orang usia produktif akan menanggung 3-4 orang usia tidak produktif (Rizkitama & Indrawati, 2015).

Salah satu upaya dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan program keluarga berencana. Vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi pria. Meskipun metode ini sangat efektif dan aman untuk mencegah kehamilan, adanya isu tentang vasektomi di masyarakat seperti vasektomi sama dengan infertil (mandul), tindakan operasi yang menyeramkan atau cemas terhadap prosedur pelaksanaan vasektomi, menyebabkan pria impotensi, gairah seks (libido) menurun, membuat pria tidak bisa ejakulasi, dan suami dapat dengan mudah untuk selingkuh. Sosialisasi atau informasi yang kurang menyebabkan pemahaman keliru tentang vasektomi, sehingga pria yang melakukan vasektomi pun rendah.

Berdasarkan studi pendahuluan dilokasi penelitian yang dilakukan peneliti terhadap 15 orang sampel laki-laki ditemukan masih banyak warga masyarakat yang salah dalam memahami vasektomi, diantaranya adalah menganggap program KB adalah untuk perempuan, vasektomi dapat menyebabkan kemandulan, penurunan seksualitas dan juga kekuatiran kaum ibu jika suami yang divasektomi akan mudah melakukan penyelewengan seksualitas. Hal ini yang menyebabkan rendahnya pemanfaatan vasektomi sebagai alat kontrasepsi pria. Upaya pemerintah dalam melakukan pendidikan dan promosi kesehatan tentang vasektomi sudah gencar dilakukan, namun hasilnya belum optimal (Risani et al., 2017).

Angka partisipasi pria dalam penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia masih sangat rendah, yaitu hanya 2,1% peserta KB pria dan mereka umumnya memakai kondom. Persentase tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Iran (12%), Tunisia (16%), Malaysia (9-11%), bahkan di Amerika Serikat mencapai 32%. Sangat sedikit pria yang mau menggunakan alat kontrasepsi, baik kondom maupun vasektomi. Dari total jumlah aseptor KB di Indonesia, sekitar

commit to user

(3)

97% adalah perempuan. Oleh sebab itu, promosi program KB di kalangan pria harus ditingkatkan (Sutinah, 2017).

Berdasarkan renstra BKKBN 2015-2019, target akseptor KB pria sebesar 4,3%. Partisipasi pria di Jawa Timur sebagai akseptor KB hanya sebesar 1,66%

(Puspita, 2019). Berdasarkan data profil kesehatan kota Madiun, cakupan akseptor KB Aktif pada Tahun 2018 sebesar 67,7%, yaitu 20.335 peserta dari jumlah 30.038 PUS (Proyeksi estimasi BPS). Jika dibandingkan dengan PUS riil yaitu sebesar 26.241 PUS maka cakupan peserta KB Aktif sebesar 77,19%. Jika dibandingkan dengan capaian pada Tahun 2017 peserta KB Aktif sebesar 77.2%

mengalami penurunan. Berdasarkan data penggunaan kontrasepsi pada peserta KB aktif Kota Madiun Tahun 2018 ditemukan hanya sebesar 0,9% menggunakan medis operatif pria / vasektomi (Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana, 2019).

Konferensi Internasional tahun 1994 tentang Kependudukan dan Pembangunan di Kairo memperkuat kebutuhan untuk mengikutsertakan laki-laki dalam program keluarga berencana dan mengakui peran mereka dalam kesehatan reproduksi (Thummalachetty et al., 2017). Oleh Karena diberbagai komunitas, masalah KB dan kesehatan reproduksi masih dipandang sebagai tanggung jawab perempuan. Pengetahuan dan kesadaran laki-laki dan keluarga terkait program keluarga berenacana masih relatif rendah. Selain itu ada keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas pelayanan kontrasepsi laki-laki. Pengetahuan masyarakat perkotaan maupun pedesaan terhadap program KB belum berkembang secara optimal, walaupun pendidikan masyarakat perkotaan pada umumnya lebih maju dari masyarakat pedesaan (Sutinah, 2017).

Keikutsertaan pria dalam penerimaan sebagai akseptor program KB dianggap sebagai cermin yang menentukan kehidupan pria. Partisipasi pria yang efektif dalam kontrasepsi dapat memicu perubahan individu, keluarga, sosial dan budaya yang signifikan. Peningkatan pelayanan terhadap literasi ilmiah tentang kontrasepsi, terutama bagi mereka yang menghadapi kesulitan untuk mendapatkan informasi yang tepat, dianggap sebagai sesuatu yang penting untuk penggunaan kontrasepsi yang efektif (Hoga et al., 2014). Salah satu pendekatan untuk commit to user

(4)

meningkatkan penerimaan kontrasepsi di kalangan pria adalah dukungan perempuan dalam program keluarga berencana. Penelitian Thummalachetty et al (2017) menunjukkan bahwa meskipun pengambilan keputusan kontrasepsi sering terjadi pada tingkat pasangan, pria memiliki pengaruh yang besar terhadap keputusan KB. Sebagai contoh, penelitian di Ethiopia menunjukkan bahwa lebih dari separuh sampel pria kawin melaporkan *pengambilan keputusan bersama tentang kapan harus memiliki anak lagi dan kapan harus berhenti melahirkan anak, dan mayoritas responden melaporkan pengambilan keputusan bersama tentang metode kontrasepsi yang digunakan (Thummalachetty et al., 2017). Peran utama pria untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan keluarga juga didukung oleh penelitian di negara lain di Afrika (Chanthakoumane, Maguet and Essink, 2020).

Keikutsertaan pria dalam keluarga berencana adalah prediktor yang signifikan dari penyerapan dan penggunaan kontrasepsi dalam pasangan.

Intervensi motivator laki-laki di Malawi, yang disampaikan oleh teman sebaya yang menargetkan laki-laki untuk meningkatkan penggunaan kontrasepsi pasangan, mengungkapkan peningkatan yang signifikan dalam penggunaan pasca- intervensi kontrasepsi. Kemudahan dan frekuensi komunikasi tentang keluarga berencana dalam pasangan secara signifikan memprediksi penggunaan kontrasepsi, merupakan indikasi bahwa pria memengaruhi penggunaan kontrasepsi dan pilihan dan penggunaan kontrasepsi berasal dari pengambilan keputusan bersama (Thummalachetty et al., 2017).

Sejak tahun 1999 keikutsertaan kaum laki-laki dalam program KB sudah digagas dan dimulai. Sebelumnya, perhatian dan pelaksanaan Progam KB cenderung lebih difokuskan pada kaum perempuan, sehingga ada kesan bahwa KB adalah urusan dan tanggung jawab kaum perempuan. Pemakaian kontrasepsi di kalangan perempuan sebesar 98,7 persen, sedangkan untuk kontrasepsi laki-laki hanya 1,3 persen. Pada tahun 2014 menunjukkan bahwa jumlah KB laki-laki hanya mencapai 1,81% (Sutinah, 2017). Di era post modern, salah satu upaya yang dikembangkan pemerintah untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan Program KB adalah mengikutsertakan dan mendorong peran aktif kaum laki-laki commit to user

(5)

dalam mengatur kehamilan dan kelahiran untuk kesejahteraan keluarga. Peran laki-laki dalam KB diharapkan bukan sekadar sebagai peserta KB pasif atau sekadar mendukung pasangan menggunakan alat kontrasepsi tertentu, melainkan diharapkan kaum laki-laki juga berperan dalam kesehatan reproduksi menjadi akseptor vasektomi (Sutinah, 2017).

Promosi kesehatan sangat penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat berkaitan masalah kontrasepsi dengan membutuhkan pertimbangan seperti masalah sosial dan budaya yang memengaruhi kesehatan dan penyakit.

Faktor-faktor seperti strata sosial, etnis, agama dan tradisi budaya menimbulkan pengaruh kuat pada sikap terhadap pemilihan kontrasepsi, serta faktor-faktor seperti itu terintegrasi dan tidak boleh dianggap terpisah. Kondisi saat ini, penyedia layanan kesehatan harus memiliki pengetahuan mendalam tentang keragaman sosial dan budaya dan mempertimbangkan peran faktor-faktor ini dalam perawatan kesehatan. Ketika masalah reproduksi terlibat, pendekatan yang tepat terhadap latar belakang pasien sangat penting (Hoga et al., 2014).

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Theory Planned Behavior menurut Ajzen, teori perencanaan dan evaluasi program promosi kesehatan LW.

Green dan Kreuter, serta Social Cognitive Theory menurut Bandura. Pada TPB komponen yang digunakan adalah sikap terhadap program KB, norma subjektif terhadap program KB, kontrol perilaku terhadap KB, niat Keluarga Berencana, dan perilaku KB. Teori perilaku kesehatan Lawrence Green mengambil bagian faktor predisposisi: pengetahuan dan faktor pendukung: ketersediaan sumber daya kesehatan dan sarana prasarana kesehatan. Social Cognitive Theory hanya mengambil environment yaitu: dukungan (isteri dan sebaya), akses informasi, dan akses pelayanan kesehatan.

B. Rumusan Masalah

Penelitian ini mengaplikasikan 3 teori dalam memecahkan masalah untuk meningkatkan jumlah kepesertaan pria dalam Keluarga Berencana terutama

commit to user

(6)

dengan menggunakan metode vasektomi. Peran serta pria dalam Keluarga Berencana sangat penting untuk membangun keluarga bahagia dan sejahtera.

Kepesertaan KB vasektomi dipengaruhi oleh jumlah anak, umur isteri, ketersediaan sumber daya kesehatan dan sarana prasarana kesehatan KB vasektomi serta akses pelayanan kesehatan KB vasektomi. Niat Kepesertaan KB vasektomi dipengaruhi oleh pembelajaran pengamatan, persepsi kontrol perilaku dan dukungan sebaya serta dukungan isteri melalui persepsi control perilaku

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

a. Apakah ada pengaruh tidak langsung dukungan sebaya dalam kepesertaan program KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi melalui persepsi kontrol perilaku ?

b. Apakah ada pengaruh tidak langsung dukungan isteri dalam kepesertaan program KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi melalui persepsi kontrol perilaku ?

c. Apakah ada pengaruh tidak langsung persepsi kontrol perilaku dalam kepesertaan program KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi melalui niat ?

d. Apakah ada pengaruh tidak langsung Pembelajaran pengamatan akseptor KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi melalui niat ?

e. Apakah ada pengaruh langsung persepsi kontrol perilaku dalam kepesertaan progam KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi ?

f. Apakah ada pengaruh langsung niat kepesertaan KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi ?

g. Apakah ada pengaruh langsung jumlah anak terhadap kepesertaan KB vasektomi ?

h. Apakah ada pengaruh langsung umur isteri dalam kepesertaan program KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi ?

i. Apakah ada pengaruh langsung ketersediaan sumber daya Kesehatan dan sarana prasarana kesehatan dalam kepesertaan program KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi ? commit to user

(7)

j. Apakah ada pengaruh langsung akses pelayanan Kesehatan KB vasektomi terhadap kepesertaan KB vasektomi ?

k. Bagaimanakah rumusan model promosi kesehatan pada kepesertaan program KB vasektomi ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Merumuskan model promosi kesehatan pria usia subur untuk meningkatkan kepesertaan program keluarga berencana vasektomi.

2. Tujuan khusus

a. Menganalisis pengaruh tidak langsung dukungan sebaya terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi melalui persepsi kontrol perilaku

b. Menganalisis pengaruh tidak langsung dukungan isteri terhadap penngkatan kepesertaan program KB vasektomi melalui persepsi kontrol perilaku.

c. Menganalisis pengaruh tidak langsung persepsi kontrol perilaku terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi melalui niat.

d. Menganalisis pengaruh tidak langsung Pembelajaran pengamatan akseptor KB vasektomi terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi melalui niat.

e. Menganalisis pengaruh langsung persepsi kontrol perilaku terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi.

f. Menganalisis pengaruh langsung niat kepesertaan KB vasektomi terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi.

g. Menganalisis pengaruh langsung jumlah anak terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi.

h. Menganalisis pengaruh langsung umur isteri terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi.

commit to user

(8)

i. Menganalisis pengaruh langsung ketersediaan sumber daya Kesehatan dan sarana prasarana kesehatan terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi.

j. Menganalisis pengaruh langsung akses pelayanan Kesehatan KB vasektomi terhadap peningkatan kepesertaan program KB vasektomi k. Merumuskan model promosi kesehatan untuk meningkatkan kepesertaan

program KB vasektomi.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai upaya program keluarga berencana khususnya meningkatkan kepesertaan program KB vasektomi. Dalam penelitian ini beberapa teori yang digunakan yaitu theory planned behavior menurut Ajzen, teori perencanaan dan evaluasi program promosi kesehatan LW.

Green dan Kreuter, dan Social Cognitive Theory Bandura.

2. Metodologis

a. Metode analisis jalur dapat mengetahui besaran pengaruh langsung maupun tidak langsung secara keseluruhan variabel eksogen terhadap variabel endogen pada kepesertaan program KB vasektomi.

b. Dapat menjadi bahan rujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam mengatasi kependudukan khususnya dalam kepesertaan program KB vasektomi.

3. Praktis

a. Bagi pengambil kebijakan : sebagai landasan dan rujukan untuk merumuskan kebijakan program KB metode kontrasepsi vasektomi

b. Bagi profesi kesehatan dan petugas KB di komunitas dapat meningkatkan informasi dan pengetahuan tentang model pemberdayaan masyarakat terkait program KB vasektomi

c. Bagi peneliti : dapat menambah wawasan pengetahuan, dan pengalaman di bidang penelitian kepesertaan KB vasektomi selanjutnya. commit to user

(9)

d. Bagi akseptor KB vasektomi dan masyarakat bisa menambah pengetahuan dan memberikan informasi factual dan benar terkait KB vasektomi kepada masyarakat khususnya pasangan usia subur untuk menjadi akseptor baru.

E. Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu tentang penggunaan kontrasepsi pada pria meliputi judul, tujuan, variabel dan metode dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Stewart, et al. (2017), dengan judul Contraception? what about the men?

Experience, knowledge and attitudes: a survey of 2438 heterosexual men using an online dating service. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengalaman, pengetahuan, sikap dan keyakinan kontrasepsi dari sampel pria heteroseksual yang aktif secara seksual melalui situs kencan online. Penelitian ini menggunakan metode An anonymous online survey. Kesimpulan hasil penelitian ini menjelaskan bahan penggunaan kontrasepsi yang tinggi, terutama vasektomi pada pria yang lebih tua dan berdiskusi dalam hal menentukan kontrasepsi yang digunakan dengan pasangannya. Namun rendahnya kesadaran terhadap beberapa cara kontrasepsi dan kesalahan persepsi tentang metode kontrasepsi hormonal, terutama pil kontrasepsi darurat, menyoroti akan pentingnya kebutuhan akan pendidikan kesehatan bagi pria. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, metode yang digunakan dan analisis data untuk menemukan pemodelan dalam promosi kesehatan.

2. Thummalachetty et al., (2017), dengan judul Contraceptive knowledge, perceptions, and concerns among men in Uganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan (gap) dalam pengetahuan dan pemahaman dari apa yang ada di Uganda tentang pengetahuan tentang kontrasepsi dan persepsi dari metode kontrasepsi yang berbeda. Penelitian ini juga digunakan untuk meningkatkan pemahaman tentang interaksi dengan orang-orang yang ingin menggunakan informasi yang tepat untuk orang-orang tertentu. Penelitian ini commit to user

(10)

menggunakan metode deskriptif kualitatif. Kesimpulan hasil penelitian adalah pria melaporkan pengetahuan tentang alat kontrasepsi berdasarkan tentang pengalaman pasangan terhadap efek samping, pengetahuan pasangan dari penyedia layanan kesehatan dan sosialisasi media massa, dan pengetahuan teman dari teman lainnya. Pria cenderung mendapatkan pengetahuan kontrasepsi berhubungan dengan penyedia layanan kesehatan, sosialisasi media massa, atau teman sebaya. Perhatian pria tentang berbagai metode kontrasepsi dikaitkan secara luas dengan kegagalan metode kontrasepsi untuk bekerja dengan baik, efek kesehatan yang merugikan pada wanita, dan efek buruk pada anak-anak. Status HIV / AIDS seseorang atau pasangan tidak berdampak pada pengetahuan kontrasepsi. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, metode yang digunakan kuantitatif dan analisis data dengan path analisis.

3. Okigbo, et al. (2015), dengan judul Exposure to family planning messages and modern contraceptive use among men in urban Kenya, Nigeria, and Senegal:

A cross-sectional study. Penelitian ini bertujuan untuk mempertimbangkan keterpaparan laki-laki terhadap keluarga berencana yang dihubungkan dengan penggunaan metode kontrasepsi modern. Penelitian ini menggunakan metode crossectional (A two-stage cluster sampling). Kesimpulan penelitian adalah menginformasikan kegiatan program KB di masa depan harus melibatkan laki- laki. Kegiatan ini harus disesuaikan dengan konteks geografis karena hasil dari penelitian ini menunjukkan variasi yang berbeda baik di kota dan negara.

Program komprehensif dan spesifik gender cenderung berhasil dalam menurunkan tidak terpenuhinya kebutuhan KB. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian lebih luas, jumlah variabel penelitian yang digunakan, pengambilan sampel dan analisis data.

4. Haddad et al., (2018), dengan judul Factors associated with condom use among men and women living with HIV in Lilongwe, Malawi: a cross- sectional study. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor terkait dengan penggunaan kondom di antara individu yang terinfeksi HIV commit to user

(11)

yang menerima perawatan di Lilongwe, Malawi. Penelitian ini menggunakan metode crosssectional. Kesimpulan hasil penelitian adalah bahwa di antara wanita: Masing-masih 38% dan 55% melaporkan penggunaan kondom konsisten dan penggunaan kondom pada saat terakhir coitus. Bagi wanita, penggunaan kondom yang konsisten dan penggunaan kondom pada koitus terakhir secara positif terkait dengan kemampuan untuk menolak seks tanpa kondom dan pengambilan keputusan bersama dibandingkan dengan membuat keputusan sendiri mengenai penggunaan kondom, dan berhubungan secara negatif dengan keinginan untuk anak-anak di masa depan.

Di antara pria : masing-masing 51% dan 69% melaporkan penggunaan kondom yang konsisten dan penggunaan kondom pada koitus terakhir. Bagi pria, kemampuan untuk menolak seks tanpa kondom dikaitkan dengan penggunaan yang konsisten dan penggunaan pada saat koitus terakhir, dan percaya bahwa kondom harus digunakan dengan kontrasepsi lain dikaitkan dengan penggunaan yang konsisten. Penggunaan kondom berkelanjutan yang rendah diantara orang HIV positif dan menyoroti bahwa ART dan penggunaan kontrasepsi tidak mencegah penggunaan kondom. Upaya untuk meningkatkan pemanfaatan kondom harus mengenali faktor tingkat individu yang memengaruhi penggunaan dan harus berfokus pada dinamika hubungan dan promosi pemberdayaan dan self-efficacy. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, jenis KB yang digunakan, dan analisis data.

5. Osei, et al. (2014), dengan judul Fertility decisions and contraceptive use at different stages of relationships: Windows of risk among men and women in Accra.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan baru antara variabel- variabel dan penggunaan kontrasepsi modern di Ghana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Kesimpulan hasil penelitian adalah bahwa: program kontrasepsi mungkin lebih berhasil jika mereka menyampaikan program tersebut sesuai dengan kelompok masyarakat yang akan berpasangan, melibatkan pria dan bekerja dengan keinginan orang untuk commit to user

(12)

menggunakan metode tradisional pada waktu tertentu untuk memastikan bahwa mereka dapat melakukannya dengan aman. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, metode yang digunakan kuantitatif, jenis penggunaan KB dan analisis data.

6. Berhane, et al. (2015), judul Male involvement in family planning program in Northern Ethiopia: An application of the Transtheoretical model

Tujuan penelitian : untuk menggunakan model perilaku Transtheoretical untuk menilai keterlibatan laki-laki dalam keluarga berencana. Penelitian ini menggunakan metode crossectional. Kesimpulan hasil penelitian adalah bahwa penemuan menunjukkan bahwa konselor perlu memahami perubahan perilaku adalah proses yang terjadi dalam serangkaian tahapan dan oleh karena itu dapat memfasilitasi perubahan perilaku dengan berbagai strategi.

Pendidik kesehatan perlu mengembangkan komponen pendidikan yang sesuai dengan tahapan perubahan. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, pengambilan sampel dan analisis data dengan path analisis untuk menemukan pemodelan.

7. Morais, et al. (2014), dengan judul Men's Participation in Family Planning:

What Do The Women Think ?. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki persepsi wanita tentang partisipasi pria dalam keluarga berencana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Kesimpulan hasil penelitian adalah bahwa: Para wanita menganggap partisipasi pria tidak mencukupi, dan percaya bahwa kontribusi yang lebih efektif akan mencakup teman yang menemani mereka untuk konsultasi. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, metode yang digunakan, sasaran lebih menekankan pada kaum pria dan analisis data.

8. Mishra et al., (2014), dengan judul Men’s attitudes on gender equality and their contraceptive use in Uttar Pradesh India. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap laki-laki tentang kesetaraan gender dikaitkan dengan perilaku kontrasepsi. Penelitian ini menggunakan metode crossectional.

Kesimpulan hasil penelitian adalah bahwa: Studi ini menunjukkan bahwa program kontrasepsi perlu melibatkan pria dan menunujukkan perilaku commit to user

(13)

kesetaraan gender; ini dapat dilakukan melalui komunikasi interpersonal atau melalui media massa. Melibatkan laki-laki untuk menjadi lebih setara secara gender mungkin memiliki pengaruh penggunaan kontrasepsi dalam konteks di mana laki-laki memainkan peran penting di dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, analisis data, hasil dan kesimpulan.

9. Le Guen, et al. (2015), dengan judul Men's contraceptive practices in France:

Evidence of male involvement in family planning. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik-praktik kontrasepsi dalam hubungan, di mana metode yang digunakan oleh wanita sangat dominan, dan untuk mengeksplorasi mereka. Penelitian ini menggunakan metode crossectional.

Kesimpulan hasil penelitian adalah bahwa: Kesadaran yang tinggi terhadap praktik kontrasepsi dan penggunaan beberapa metode yang kooperatif menunjukkan keterlibatan mereka dalam praktik kontrasepsi dalam konteks hubungan. Penggunaan kondom dikaitkan dengan pencegahan IMS / HIV untuk pria yang tidak berhubungan, tetapi pria yang tinggal dengan pasangan wanita mereka tampaknya menggunakan kondom terutama sebagai metode kontrasepsi. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian, variabel penelitian yang digunakan, dominasi subyek penelitian dan analisis data.

10. Dorman et al., (2018), dengan judul Modeling the impact of novel male

contraceptive methods on reductions in unintended pregnancies in Nigeria, South Africa, and the United States. Tujuan penelitian ini adalah mencontoh dampak potensial metode kontrasepsi pria baru untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan di AS, Afrika Selatan, dan Nigeria. Penelitian ini menggunakan metode Established methodology. Kesimpulan penelitian adalah: Pengenalan pil laki-laki atau oklusi vasektomi sementara dapat berkontribusi secara bermakna untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan dalam berbagai konteks, terutama dalam pengaturan di mana penggunaan kontrasepsi saat ini rendah. Perbedaan dengan penelitian ini

commit to user

(14)

adalah tujuan, variabel penelitian, jenis kontrasepsi, metode yang digunakan dan analisis data.

Adapun kebaruan (novelty) penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan model promosi kesehatan pada peningkatan kepesertaan program KB vasektomi

b. Lingkup variabel yang diteliti

1) Variabel endogen : kepesertaan KB vasektomi.

2) Variabel eksogen : pembelajaran pengamatan KB vasektomi, persepsi kontrol perilaku kepesertaan KB vasektomi, niat kepesertaan KB vasektomi, dukungan sebaya dan dukungan isteri, ketersediaan sumber daya kesehatan dan sarana prasarana program KB vasektomi, akses pelayanan Kb vasektomi, jumlah anak dan umur isteri

c. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossectional dengan analisis jalur.

d. Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah terumuskannya model promosi kesehatan kepesertaan program keluarga berencana vasektomi.

Dengan demikian penelitian ini merupakan hal yang baru dan asli, karena sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional, obyektif, dan terbuka, serta dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara ilmiah dan terbuka untuk kritikan-kritikan yang sifatnya membangun terkait dengan topik dan permasalahan dalam penelitian ini.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,000 < 0,05 yang artinya Ho di tolak dan Ha diterima, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata

pada gambar 35 berikut. User DB KMS KMS Extend Searching Show employee list Download attachment Storage User Show my profile DB KMS KMS Edit Save Cancel Extend Extend Extend

Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Integrated Marketing Communication (IMC) yang terdiri dari advertising, sales promotion, personal selling, direct

Setelah itu pengguna tinggal memilih button yang tersedia untuk masuk ke menu utama.Setelah pengguna memasukkan nama ke menu login, akan muncul tampilan menu utama,

Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif, Untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam

Kegiatan Pembelajaran siswa MI Miftahul Huda Wonorejo Gandusari dan MI Hidayatul Mubtadiin Sukorame Gandusari Trenggalek, di dalam dan luar kelas4. Observasi dan

bermacam bentuk, seperti gerakan separatis dan lain-lain, antara lain: Gerakan Separatis dengan lepasnya Timor Timur dari Indonesia yang dimulai dengan

Terakhir peserta disajikan Pos-Test tentang materi akuntansi secara umum untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman akuntansi masing-masing pelaku IKM KUB RRT