DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR
1. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 2
1.3 Kerangka Logis Kegiatan 2
2. METODE DAN PENDEKATAN TEKNIS 3
2.1. Lokasi Kegiatan 3
2.2 Tahapan Kegiatan 4
3. BASELINE KHG S. BATANGHARI- MENDAHARA ULU 7
3.1 Karakteristik KHG 7
3.2 Kondisi Sosial-Ekonomi 13
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 17
4.1 Rewetting 17
4.2 Revegetasi dengan Agroforestri Paludikultur 25
4.3 Revitalisasi 42
DAFTAR PUSTAKA 43
LAMPIRAN 45
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kerangka Logis Kegiatan 2
Tabel 2 Observasi parameter lingkungan pada lokasi kegiatan. 6 Tabel 3 Jumlah Penduduk Menurut Desa/Kelurahan dan Jenis Kelamin di
Kecamatan Mendahara Ulu, 2015 14
Tabel 4 Luas Wilayah. Jumlah Penduduk. Kepadatan. menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu Tahun 2015 14 Tabel 5 Luas Tanam, Produksi Padi dan Palawija Menurut
Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2015 15 Tabel 6 Sektor Perkebunan di Kecamatan Mandahara UluTahun 2017 16 Tabel 7 Jumlah Alokasi Dana Desa (ADD), Dana Desa (DD), Pajak Dan
Retribusi Daerah (PDRD), dan Silpa 2014 Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2015 16 Tabel 8 Tinggi muka air gambut sebelum dilakukan penyekatan kanal 23 Tabel 9 Tinggi muka air gambut sesaat setelah dilakukan penyekatan kanal 23
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Lokasi Pilot Projek di KHG Sungai Batanghari- Sungai Mendahara, Kabupaten Tanjab Timur, Provinsi Jambi 3 Gambar 2 Gambaran hutan lahan gambut dan kubah di KHG Batnghari-
Mendahara 5
Gambar 3 Sebaran KHG di seluruh Indonesia 7
Gambar 4 Ilustrasi kubah gambut dan kawasan lindung gambut 8
Gambar 5 Status kawasan lokasi pilot projek 9
Gambar 6 Penggunaan lahan pada KHG Batanghari-Mendahara 9 Gambar 7 Penggunaan lahan pada lokasi pilot projek di Sungai Beras. 10 Gambar 8 Sawit yang ditanam pada gambut 3m di lokasi pilot projek 10 Gambar 9 Sebaran kedalaman gambut di KHG Batanghari – Mendahara 11 Gambar 10 Posisi kubah gambut di KHG Batanghari – Mendahara 11 Gambar 11 Kondisi topografi gambut disekitar kubah gambut dengan
ketinggian > 25 m di KHG Batanghari – Mendahara 12 Gambar 12 Kondisi topografi gambut disekitar kubah gambut dengan
ketinggian > 35 m di KHG Batanghari – Mendahara 12 Gambar 13 Pola aliran makro pada sub-KHG S. Batanghari – S.
Mendahara 13
Gambar 14 Piramida Penduduk Kecamatan Mendahara Ulu, 2015 15 Gambar 15 Pola aliran sub- KHG 1 di sekitar lokasi pilot projek. 17 Gambar 16 Bocoran aliran air yang keluar dari kubah gambut melalui sub-
KHG 1 18
Gambar 17 Posisi sekat kanal di lokasi pilot projek yang berjumlah 10 buah (4IPB dan 6 BRG) yang ditempatkan pada arah aliran air
sub-KHG. 20
Gambar 18 Sekat Kanal A4 20
Gambar 19 Sekat Kanal A3 21
Gambar 20 Sekat Kanal A2 21
Gambar 21 Sekat Kanal A1 22
Gambar 22 Lokasi Sekat Kanal dan Piezometer 22
Gambar 23 Pengukuran tinggi muka air gambut dengan piezometer dan
tongkat subsiden (merah) 24
Gambar 24 Peta kedalaman gambut pada demplot pilot project
agroforestry. 25
Gambar 25 Disain penanaman pada demplot pilot project agroforestry 27
Gambar 26 Kegiatan pembersihan lahan 27
Gambar 27 Kegiatan Pemangkasan pelepah sawit oleh seorang petani 28 Gambar 28 Kegiatan penebangan sawit di demplot penelitian 28
Gambar 29 Pengajiran di area kerja 29
Gambar 30 Pemberian dolomit 30
Gambar 31 Bibit Jelutung 31
Gambar 32 Bibit Gaharu 31
Gambar 33 Bibit Alpokat, Bibit Jengkol, dan Bibit Petai 31
Gambar 34 Bibit jelutung yang sudah ditanam 32
Gambar 35 Pak Jemali pemilik lahan sedang menanam bibit Alpokat 32 Gambar 36 Bu Jemali akan mengangkut bibit Jeliutung 32 Gambar 37 Bu Ali akan mengangkut bibit Jelutung 32 Gambar 38 Peneliti dan Pak Jemali sedang berempug tentang penanaman 33 Gambar 39 Peneliti dan asisten sedang berembug menentukan langkah-
langkah berikutnya 33
Gambar 40 Bibit Alpokat yang sudah ditanam 33
Gambar 41 Bibit Jengkol yang sudah ditanam 34
Gambar 42 Bibit Petai yang sudah ditanam 34
Gambar 43 Bibit Nanas yang sudah ditanam 34
Gambar 44 Bibit Serai Wangi yang sudah ditanam 35
Gambar 45 Bibit Buah Naga yang sudah ditanam 35
Gambar 46 Peneliti melakukan pengecatan ajir 35
Gambar 47 Pengukuran diameter Jelutung yang sudah ada di lahan
sebelum kegiatan 36
Gambar 48 Pengukuran tinggi Jelutung yang sudah ada sebelum kegiatan 36 Gambar 49 Peneliti dengan Pak Ali membuka kotak berisi bibit Buah
Naga dan Serai Wangi dari Bogor 36
Gambar 50 Peneliti, Pak Ali, dan Asisten menyiapkan jalur tanamian
pagar Serai Wangi 37
Gambar 51 Pak Johari anggota Kelopok Tani mengangkut bibit tanaman
Alpokat 37
Gambar 52 Asisten sedang mengukur tinggi bibit tanaman Jelutung 37 Gambar 53 Peneliti dan asisten setelah penanaman bibit buah naga, salam
kompak 38
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kubah gambut mempunyai peranaan penting dalam menjaga keseimbanagn ekologis lahan gambut. Kubah gambut berfungsi menyimpan air pada musim penghujan dalm jumlah yang sangan besar karena porositas gambut dapat mencapai 80%, yang artinya jika hujan yang turun sebesar 100 mm maka yang tersimpan adalah sebanayak 80 mm.
Kebakaran gambut di Indonesia berpotensi terjadi setiap musim kemarau panjang yang mengancam terjadinya kerusakan ekologis lahan gambut yang irreversible dan emisi CO2 yang tinggi. Dengan demikian pencegahan terhadap kebakaran gambut merupakan prioritas utama dalam pengelolaan lahan gambut. Sekali gambut terbakar maka akan terjadi cekungan pada lokasi tersebut yang berakibat genangan permanen sehingga potensi gambut untuk fungsi ekologis menjadi hilang.
Kemampuan kubah gambut dalam menyimpan air berfungsi untuk menjaga kelembaban lahan gambut disekitarnya sehingga mengurangi potensi ancaman kebakaran pada musim kemarau.
Keberadaan kanal-kanal yang mengarah ke kubah gambut berpotensi menguras dan mengurangi kemampuan kubah gambut dalam menyimpan air. Adanya drainase ini mengakibatkan pengurasan air sehingga berdampak pada keringnya ekosistem gambut. Kondisi ini menghasilkan dampak negatif seperti tidak tersedianya air bagi wilayah di bawah kubah, terjadinya kebakaran lahan, lepasnya karbon ke udara, terjadinya subsiden, intrusi air laut, dan lainnya (KLH, 2007). Masalah yang mendapat sorotan kuat saat ini adalah kejadian kebakaran yang sudah terjadi lebih dari 10 tahun, dan intensitas makin besar. Tahun 2015, kebakaran sangat luas yang mencapai 2,0 juta hektar hutan, lahan gambut dan lahan kering (LAPAN, 2015), dan menghasilkan kerugian yang sangat besar diduga mencapai Rp 221 T atau US
$ 16.1 M (World Bank, 2015). Dengan demikian penyelamatan simpanan air kubah gambut merupakan prioritas utama dalam restorasi gambut.
Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan juga dapat menjaga kelangsungan usaha ekonomi di lahan gambut, maka diperlukan penyusunan berbagai program yang bersifat memperbaiki lingkungan gambut dan menjaga lahan yang masih baik.
Program tersebut perlu diletakkan dalam kesatuan ruang. Program ini akan menyebar dari yang bersifat jangka pendek seperti mencegah kebakaran, mencakup perijinan perusahaan di tempat yang tidak sesuai, melakukan restorasi drainase, reklamasi lahan, dan pengaturan ruang secara keseluruhan (KLHK, 2015b; BRG, 2016). Dalam jangka panjang pengelolaan eksistem gambut harus mencakup pengelolaan ruang kubah gambut dan revitalisasi masyarakat untuk berpartisipasi mengelola ekosistem gambut di lokasi masing-masing.
Peraturan yang sudah ada dianggap belum memadai untuk melindungi dan mengelola ekosistem gambut, sehingga akhirnya muncul PP No 71, 2014. Dalam peraturan ini dikembangkan satuan ekosistem gambut yang disebut dengan Kesatuan Hidrologi Gambut, yang perlu diidentifikasi karakeristiknya sehingga dapat dijadikan sebagai fungsi lindung dan atau fungsi budidaya. Daerah fungsi lindung berada di daerah kubah gambut, minimal 30 persen, ditambah dengan
gambut yang berkedalaman lebih dari 3 meter, dan lainnya. Daerah yang berfungsi lindung akan mempunyai pemanfaatan terbatas, sedangkan daerah fungsi budidaya akan diijinkan pemanfaatan budidaya.
Perbaikan lingkungan dilakukan untuk perbaikan air (restorasi) maupun untuk perbaikan tanah dan tanaman (rehabilitasi). Tindakan jangka pendek, yang sekarang banyak dimunculkan adalah pembasahan lahan melalui kegiatan pembuatan sekat kanal. Dalam jangka menengah, akan dilakukan penutupan usaha setelah habis ijinnya jika berusaha di area fungsi lindung, sedangkan usaha di area fungsi budidaya akan diatur sehingga tidak terjadi kerusakan lahan, yang diindikasikan dari keberadaan muda air tanah yang tidak lebih dari 0,4 meter dalam kurun waktu tertentu. Dalam jangka panjang akan diatur kembali pemanfaatan ruang.
1.2 Tujuan
Tujuan kegiatan adalah untuk membangun pilot project restorasi lahan gambut berkelanjutan yang dapat direplikasi menggunakan sistem agroforestry paludikultur di KHG Sungai Batanghari- Sungai Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Adapun tujuan khususnya adalah restorasi lahan gambut yang ditanami sawit dan pinang pada kawasan lindung dengan model agroforestry paludikultur.
1.3 Kerangka Logis Kegiatan
Kerangka logis dari kegiatan ini yang terdiri dari tujuan umum, tujuan khusus, output dan cara verifikasi tercantum paa Tabel 1.
Tabel 1 Kerangka Logis Kegiatan
Tujuan Output Cara Verifikasi
Tujuan umum: membangun pilot projek restorasi lahan gambut berkelanjutan menggunakan model agroforestry paludikultur di KHG S. Batanghari - S.
Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi
Keberadaan plot model agroforestry
paludikultur
Fungsi-fungsi ekosistem yang berjalan dari model paludikultur (produksi, konservasi dll)
Tujuan khusus 1: membangun sekat kanal pada lokasi pilot project
Terbangunnya sekat kanal pada lokasi pilot project
Tinggi muka air < 40 cm pada lahan gambut
Kelompok tani ikut serta berpartsipasi penuh dalam pembuatan sekat kanal Tujuan khusus 2 : melakukan
revegetasi lahan gambut yang ditanami sawit dan pinang pada kawasan lindung dengan model agroforestry paludikultur.
Lahan gambut yang ditanami sawit dan pinang pada kawasan lindung direstorasi dengan model agroforestry paludikultur
Keberadaan lahan gambut yang direstorasi dengan model agroforestry paludikultur
Kelompok tani ikut berpartisipasi penuh dalam penyiapan lahan
Tujuan Output Cara Verifikasi Tujuan 3 : peningkatan
pendapatan petani peserta pilot project.
Terdapat potensi peningkatan pendapatan petani peserta pilot project
Potensi peningkatan pendapatan petani sebesar 5-10% dari sistem pertanian paludikultur/agroforestry
2. METODE DAN PENDEKATAN TEKNIS
2.1. Lokasi Kegiatan
Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan faktor berikut: a) Lokasi pilot projek masuk dalam satu kesatuan hidrologis gambut (KHG), b) bukan areal yang mempunyai HGU, c) terdapat kelompok tani yang bersedia berpartisipasi dalam kegiatan resorasi gambut.
Berdasarkan kategori tersebut di atas maka diputuskan untuk memilih lokasi pilot projek pada KHG Sungai Batanghari- Sungai Mendahara. KHG tersebut merupakan ekosistem hutan gambut pedalaman dan mendapat luapan air tawar dari Sei. Mendahara dengan luas 12.879 hektar, yaitu 1,9% dari luas total gambut yang ada di Provinsi Jambi (seluas 676.341 hektar). HLG Sungai Batanghari- Sungai Mendahara terbentuk sejalan dengan proses pembentukan gambut Jambi, yaitu kira-kira 6000 SM.
Gambar 1 Lokasi Pilot Projek di KHG Sungai Batanghari- Sungai Mendahara, Kabupaten Tanjab Timur, Provinsi Jambi
Lokasi pilot projek yang dipilih adalah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, tepatnya di Desa Sungai Beras, Kecamatan Mendahara Ulu. Desa ini merupakan Desa yang berada di Kawasan Hutan Lindung Gambut dan Area Produksi Lain (APL). Di Desa Sungai Beras terdapat beberapa kelompok tani.
Disamping sudah terbentuknya kelompok tani, pemilihan desa tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa desa tersebut sudah menyadari pentingnya usaha restorasi lahan gambut dengan menggunakan jelutung.
Secara administratif, batas wilayah desa Sungai Beras berbatasan dengan beberapa desa, diantaranya sebelah utara berbatasan dengan Desa Merbau dan Desa Bakti Idaman, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sinar Wajo, sebelah Barat
berbatasan dengan Desa Pematang Lumut dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pandan Sejahtera. Selain itu, berdasarkan data morfologi tahun 2017 bahwa luas Desa Sungai Beras adalah 11.220 Ha yang terbagi ke dalam enam dusun yakni Dusun Sungai Beras 1, Dusun Sungai Beras 2, Dusun Karya Bakti, Dusun Setia Budi, Dusun Gudang Indah dan Dusun Sungai Beringin. Ada Sungai Mendahara yang membelah antara wilayah desa bagian timur dan bagian barat dan merupakan jalur transportasi utama yang digunakan masyarakat tersebut.
Perjalanan dari Bandara Sultan Thaha yang berada di Kota jambi menuju lokasi kerja menempuh waktu dengan lama perjalanan selama ± 3 jam. Perjalanan dari kota Jambi dapat dilakukan melalui transportasi darat yakni roda empat melewati wilayah Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Perjalanan darat yang dilakukan melalui areal PT. Wirakarya Sakti, dan kemudian berhenti di daerah parit Jawa Timur. Perjalanan dilakukan menggunakan perahu lokal yang disebut dengan ketinting dengan lama perjalanan sekitar 10-15 menit ke desa Sungai Beras.
2.2 Tahapan Kegiatan
2.2.1 Baselining KHG
Kondisi gambut di KHG Batanghari-Mendahara di sekitar lokasi pilot projek diperkirakan masih relatif lebih bagus dibandingkan dengan gambut disekitarnya (misalnya di HLG Londerang). Gambut di sekitar lokasi pliot projek hampir tidak pernah terbakar dan hutan di kubah gambut masih intact. Keadaan gambut yang masih bagus tersebut diperkirakan arena kubah gambut masih berfungsi dengan baik memberikan suplai air untuk membasahi ekosistem gambut disekitarnya, Namun sangat disayangan, informasi terkait kondisi biofisik, tata air masih sangat minim dilokasi ini. Dalam rangka pengelolaan KHG yang komprehensif diperlukan data detil terkait topografi gambut, pola aliran air, keberadaan kanal-kanal, pengunaan lahan, dan HGU perkebunan.
Pada kegiatan ini dicoba dikumpulkan beberapa informasi penting KHG, seperti kondisi topografi yang diperoleh dari ASTER DEM resolusi 12.5 m, peta penggunaan lahan KHG, pola aliran air makro dari kubah gambut, dan informasi lainnya yang dianggap penting.
Gambar 2 Gambaran hutan lahan gambut dan kubah di KHG Batnghari-Mendahara
2.2.2 Focus Group Discussion (FGD)
Salah satu output penting dari FGD ini adalah mengetahui preferensi kelompok tanai terhadap kombinasi tanaman kehutanan dan multipurpose tree species (MPTS) yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga adopsi petani tehadap aksi restorasi berkelanjutan.
2.2.3 Rewetting Dengan Konstruksi Sekat Kanal
Sebelum melakukan revegetasi, maka terlebih dahulu dilakukan pengelolaan tata air sehingga reweting lahan gambut terjamin termasuk pada musim kemarau sehingga potensi kebakaran dapat dikurangi. Mengingat bahwa kegiatan ini dilakukan pada kedalaman gambut < 3 m, maka kegiatan rewetting selain untuk mendukung revegetasi juga disesuaikan dengan praktek budidaya petani setempat.
Luas lahan gambut dijadikan jadi pilot projek adalah seluas 3 ha. Sekat kanal yang dibuat berjumlah 4 buah sekat kanal.
2.2.4 Revegetasi Dengan Model Agorofrestry Paludikultur
Berdasarkan Permen LHK Nomor P.16 tahun 2017 menyatakan bahwa revegetasi merupakan upaya pemulihan tutupan lahan pada ekosistem gambut melalui penanaman jenis tanaman asli pada fungsi lindung atau dengan jenis tanaman lain yang adaptif terhadap lahan basah dan memiliki nilai ekonomi pada fungsi budidaya. Pada kegiatan revegetasi ini yakni menerapkan model agroforestry
paludikultur yang memiliki prinsip bahwa agroforestry ini bersifat kontinu atau berkelanjutan, produktivitas dan mudah diterapkan atau diadopsi.
2.2.5 Kajian Potensi Peningkatan Pendapatan Masyarakat Sekitar Lahan Gambut Dengan Sistem Agroforestry Paludikultur
Salah satu aspek penting dalam menjamin keberlanjutan program restorasi gambut adalah terjaminnya peningkatan pendapatan masyarakat peserta, sehingga sumber daya manusia dapat dimanfaatkan secara maksimal. Aspek safeguarding menjadi sangat penting yang salah satu ukuran keberhasilan adalah terealisasinya peningkatan pendapatan petani serta partisipasi aktif dalam kegiatan restorasi.
Melalui pola agroforestry yang didisain pada kegiatan sebelumnya, berbagai alternatif sumber pendapatan petani diasumsikan dapat memberikan kontribusi peningkatan pendapatan. Untuk itu diperlukan kajian khusus terkait hal ini yang sangat erat kaitannya dengan revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengkaji berbagai potensi pendapatan tambahan masyarakat yang dapat diperoleh melalui intervensi pembangunan model agroforestry/paludikultur di lahan gambut.
Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah nilai ekonomis agroforestry dengan kombinasi tanaman paludikultur pada lahan gambut.
2.2.6 Observasi dan Monitoring
Disamping kegiatan rewetting, persiapan lahan untuk revegation dan revitalization juga dilakukan observasi parameter lingkungan sebelum, selama dan sesudah kegiatan. Paramater yang diamati adalah seperti tertera pada Table .
Tabel 2 Observasi parameter lingkungan pada lokasi kegiatan.
Parameter Metoda Pra-
kegiatan
Selama kegiatan
Pasca- kegiatan Kematangan gambut Observasi bor gambut x
Kedalaman gambut Observasi bor gambut x
Penggunaan lahan Survey grid x x
Survival rate pohon paludikultur dan komponen agroforestry
Pengukuran lapang x
Kondisi saluran Pengukuran lapang x x
Tinggi muka air di saluran pada setiap jarak 500 m
Peiscale pada setiap jarak 500 m
x x x
Tinggi muka air pada lahan gambut diantara saluran
Piezometer pada setiap 0.5 ha
x x x
Curah hujan Ombrometer x x x
Hubungan tinggi muka air dan pipa kapilaritas
Pengukuran kadar air setiap kedalamaan 20 cm setiap minggu dengan metode gravimetrik
x x x
Mata pencaharian masyarakat FGD x x x
--·---- --- --
�Kesotuon Hid1ol09i Gomlwt: KHGUnlOtP,...,;,,.; [ �,.___... �
-
--�.. ---
• :::�::::.��I*> ---·- -;�;�-=-
... --B
--- I-MM l"rovlntl -·--· I.at• Kabu,..t-,Jkota
:.":"
_
_, ,
...
_ - , ... - . -
"'-
-�
PETA
KESATUAN HIOROLOGI GAMBUT (PROVtNSI, KABUPATEN/KOTA)
I N O O N E S 1 A
Parameter Metoda Pra-
kegiatan
Selama kegiatan
Pasca- kegiatan Kebiasaan masyarakat dalam
membuka lahan
FGD Pendapatan usahatani
masyarakat
FGD x x
3. BASELINE KHG S. BATANGHARI- S. MENDAHARA ULU
3.1 Karakteristik KHG
Pengelolaan ekosistem gambut harus dilakukan dalam satu satuan KHG.
Ekosistem gambut di Indonesia mempunyai luas 26.4 juta ha dengan luas lahan gambut sendiri sekitar 15 juta ha. Eksositem gambut di seluruh kepulauan tersebut terdiri dari 673 sub-sub KGH (Gambar 3).
Gambar 3. Sebaran KHG di seluruh Indonesia
KHG merupakan ekosistem gambut yang dibatasi oleh dua buah sungai utama.
Batas kubah gambut yang dijadikan kawasan lindung gambut adalah minimal 30%
(Gambar 4)
---
,._.... • ,. --=::__.._____
d•..-ah kubah yang dlu,oulkan m•nJ•dl kawas•n Unduna aambut
•
- - - .-.�
,,_
: -.
��-....,;:::::,:: :::::::--:--...
•_ ... .. ... . .... - . .. . . . .
Gambar 4. Ilustrasi kubah gambut dan kawasan lindung gambut 3.1.1 Status Kawasan
Secara umum, kondisi lahan gambut di Desa Sungai Beras relatif baik bila dibandingkan dengan desa sekitarnya, khususnya di kawasan HLG. Hal ini dikarenakan kawasan HLG telah diberikan akses pengelolaannya oleh negara kepada masyarakat Desa Sungai Beras melalui skema Perhutanan Sosial. Hutan Desa telah dibentuk melalui skema ijin pengelolaan kawasan dari Menteri Kehutanan pada tahun 2014 (Gambar 5). Dengan adanya ijin pengelolaan sebagai hutan desa maka skim keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan hutan memakai prinsip pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (Perhutanan sosial).
L o k a s l P i l o t P r o j e c t
PU.0. IT.0.TUI lAIUJI LOIUI.Sl""-OTPIIO.lf:(;I 111!.lfOIIUI.SI LAff4N GAM8UT 8flll([U.IIJUTAII W:IIGGUIIMA.11 SIITl! .. ,\OROl'ORUlR"fl'ALUOll<ULT\IR
DIKHGKI.UiAll-�...,.OAHIJU.
IU.IIUPA�TAIIJUIIOH.BUIIOTMHI fl
���������····=������� ---- e .... =-�--��"=====--��·�
· - - o-- ... -
-- ____ ...
....---
PETA PENGGUNAAN LA.HAN KHG SEI BATANGHARI - SEI MENOAHARA
PROVINS! JAMBI
"
o ... � __ .. __
--"""
,-�-
... , .. "" " _So_ ...
...
_.._--·-
... _T_,..,
... ,_ o---·
Som.,.,POIII 111 .. uo,ot "1MO!ovl Koll....,.,
llomen!fflon Llng�""II"" Hldup llln Kehvtonon
•••
Ket')aaama,
, a
,�V
Gambar 5. Status kawasan lokasi pilot projek 3.1.2 Tutupan dan Penggunaan Lahan
Secara makro KHG Batanghari-Mendahara didominasi oleh hutan alam dan perkebunan (Gambar 6)
Gambar 6 Penggunaan lahan pada KHG Batanghari-Mendahara
PETA PENGGONAAN LAHAN KHG SEI BATANGHARI • SEI MENOAHARA
PROVINS! JAMBI
"
Sumbo, Pota ·
, e
,�V
O o, 08
�nd•
· - -
-- .. --
o---- ...,.
u-�-
__ ...
...,.__
---- ...::--
o---- = --- ==--- --- --r..-, ...
Gambar 7. Penggunaan lahan pada lokasi pilot projek di Sungai Beras.
Pada lahan APL sebagian besar masyarakat menanam pinang dan sawit.
Penanaman tersebut sebagian sudah masuk ke arl hutan lindung. Menurut masyarakat setempat kawasan lindung (TGHK) ditetapkan kemudian setelah masyarakat mengusakan lahan di kawasan hutan lindung.
Gambar 8 Sawit yang ditanam pada gambut 3m di lokasi pilot projek Sawit dan
Pinang
PETA KEOALAIIIAN GAMBUT KHG SEI BATANGHARI - SEI WENO ... HARA
PROVINS! JAMBI
·+·
-- ---
-- ..
---
3.1.3 Karakteristik Gambut
Kedalaman gambut di KHG Batanghari – Mendahara dapat mencapai kedalaman lebih dari 4 m (Gambar 9). Pada lokasi pilot projek kedalaman gambut mencapai 2-3 m.
Gambar 9 Sebaran kedalaman gambut di KHG Batanghari – Mendahara
Gambar 10 Posisi kubah gambut di KHG Batanghari – Mendahara
Gambar 11 Kondisi topografi gambut disekitar kubah gambut dengan ketinggian
> 25 m di KHG Batanghari – Mendahara
Gambar 12 Kondisi topografi gambut disekitar kubah gambut dengan ketinggian
> 35 m di KHG Batanghari – Mendahara
3.1.4 Karakteristik Hidrologis
Pola aliran makro KHG ditunjukan oleh adanya pola aliran air yang jelas dari puncak kubah ke daerah yang lebih rendah ke seluruh arah. Pola aliran tersebut terbagi sesuai dengan sub-KHG (DAS). Terdapat 10 buah sub-KHG (DAS) dengan luas bervariasi dari 1 000 ha - 4 000 ha
Gambar 13 Pola aliran makro pada sub-KHG S. Batanghari – S. Mendahara Terdapat beberapa saluran yang dapat berfungsi menguras air dari kubah masuk ke sungai Mendahara. Salah satu saluran tersebut terdapat pada sub-KHG no 1 yang langsung mengalirkan air dari kubah gambut menuju Sungai Mendahara
3.2 Kondisi Sosial-Ekonomi
Lokasi kegiatan terletak pada kecamatan Mendahara Ulu dengan Ibukota Kecamatan adalah Pematang Rahim. Jarak Pematang Rahim ke Ibukota Kabupaten adalah 30 km. Jumlah desa di Kecamatan Mendahara Ulu adalah 6 buah, diantaranya adalah Sungai Beras dan Sinar Wajo. Luas tanaman padi di Kec.
Mendahara Ulu adalah 302 ha, jagung 204 ha, kopi 141 ha, karet 125 ha, pinang 586 ha, kelapa sawit 8,885 ha, kemiri 9 ha, coklat 18 ha.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tanjab Timur Jumlah Penduduk Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2015 sebanyak 16933 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 3713 rumah tangga. Selama kurun waktu 2014-2015 terjadi pertumbuhan penduduk sebesar 2.97 %. Jumlah penduduk terbanyak berada di Desa Sungai Beras dengan jumlah penduduk sebesar 3724 jiwa.
Tabel 3 Jumlah Penduduk Menurut Desa/Kelurahan dan Jenis Kelamin di Kecamatan Mendahara Ulu, 2015
Desa/Kelurahan Laki-
laki
Perempuan Jumlah
1 Bukit Tempurung 584 502 1086
2 Sungai Toman 1340 1225 2565
3 Simpang Tuan 1158 1021 2179
4 Pematang Rahim 1802 1672 3474
5 Sinar Wajo 1410 1038 2448
6 Sungai Beras 1901 1823 3724
7 Mencolok 806 651 1457
Jumlah 2015 9001 7932 16933
2014 8747 7708 16445
2013 7966 7102 15068
2012 7920 7099 15019
Sumber : BPS Kabupaten Tanjab Timur
Kepadatan penduduk tahun 2015 sebesar 32.86 jiwa/km2. Hal ini berarti di Kecamatan Mendahara Ulu setiap 1 km2 terdapat 33 jiwa. Kepadatan penduduk tertinggi berada di Desa Pematang Rahim dengan kepadatan penduduk sebesar 37,76 jiwa/km2.
Tabel 4 Luas Wilayah. Jumlah Penduduk. Kepadatan. menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu Tahun 2015
Desa/Kelurahan Luas (Km) Jumlah Penduduk
Kepadatan Penduduk tiap Km2
1. Bukit Tempurung
38.55 1086 28.17
2. Sungai Toman 75.57 2565 33.94
3. Simpang Tuan 63.29 2179 34.43
4. Pematang Rahim 91.99 3474 37.76
5. Sinar Wajo 73.65 2448 33.24
6. Sungai Beras 112.2 3724 33.19
7. Mencolok 60.06 1457 24.26
J u m l a h 2015 515.32 16933 32.86
2014 515.32 16445 3191
2013 515.32 15068 29.24
2012 515.32 15019 29.13
Sumber : BPS Kabupaten Tanjab Timur
Jumlah penduduk berdasarkan usia di Kecamatan Mendahata Ulu dapat dilihat pada Gambar 14. Berdasrkan Gambar 14 secara total presentasi penduduk di Kecamatan Mendahala Ulu didominasi oleh anak-anak dengan usai 10-14 dengan presentasi sebesar 11.81 persen. Untuk Penduduk Perempuan presentasi yang besar adalah penduduk dengan usai 0-4 diikuti oleh penduduk berusia 10-14 tahun. Penduduk berjenis kelamin laki-laki paling banyak adalah usis 0-4 tahun diikuti penduduk usia 30-34. Presentase jumlah penduduk paling rendah adalah penduduk yang berusia 70-44.
Gambar 14 Piramida Penduduk Kecamatan Mendahara Ulu, 2015 Sumber : BPS Kabupaten Tanjab Timur
Pertanian
Komoditas Pertanian untuk komoditas pertanian padi dan paliwaja di kecamatan Mandahara Ulu dapat dilihat pda Tabel 5. Luas tanaman jagung adalah komoditi yang paling unggul diantara komoditi lain untuk komoditas pertanian padi dan palawija. Luas tanaman jagung di Kecamatan Mendahara Ulu tahun 2015 seluas 270 hektar dengan produksi sebesar 503 ton. Luas tanaman kedelai tahun 2015 seluas 66 hektar dengan produksi 16 ton.Sedangkan luas tanaman ubi kayu, seluas 28 hektar dengan produksi sebesar 461 ton.
Tabel 5 Luas Tanam, Produksi Padi dan Palawija Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2015
Komoditas Luas Tanam Tahun lalu (Ha)
Luas Tanam Tahun sekarang (Ha)
Luas Tanaman
Kumulatif (Ha) Produksi (ton)
1. Padi - 74 74 -
2. Padi Ladang - - - -
3. Jagung 110 160 270 503
4. Kedelai 12 54 66 18
5. Kacang
Tanah 4 5 9 8
6. Kacang Hijau - - - -
7. Ubi Kayu 9 19 28 461
-15.00% -10.00% -5.00% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00%
0-4 10-14 20-24 30-34 40-44 50-54 60-64 70-74
Perempuan Laki-Laki
Komoditas Luas Tanam Tahun lalu (Ha)
Luas Tanam Tahun sekarang (Ha)
Luas Tanaman
Kumulatif (Ha) Produksi (ton)
8. Ubi Jalar - 1 1 7
J u m l a h 2015 313 448 997
Sumber : Kantor BP3K Mendahara Ulu
Sektor perkebunan di Kecamatan Mendahara Ulu didominasi oleh kelapa sawit, karet dan pinang. Pada tahun 2015 luas tanam kelapa sawit 10.879 hektar, karet 1.561 hektar dan pinang 523 hektar.
Tabel 6 Sektor Perkebunan di Kecamatan Mandahara UluTahun 2017
Komoditi Luas
Tanaman (Ha)
Jumlah Produksi (ton)
Rata Rata
Produksi (Kg/ha) Jumlah Petani
1. Kopi / Coffee 141 74 612 47
2. Karet / Rubber 3125 987 694 1561
3. Kelapa Hibrida - - - -
4. Pinang / Areca 586 517 1261 523
5. Lada / Papper 15 - - 21
6. Kelapa Dalam /Coconut 762 484 1175 443
7. Kelapa Sawit /Palm Oil 10879 13.860 1695 1609
8. Kemiri 9 2 667 31
9. Coklat / Cacao 18 4 500 8
Sumber: BPS, Tanjung Jabung Timur Dalam Angka 2015 Ekonomi
Salah satu bentuk transfer dana dari pemerintah adalah Alokasi Dana Desa(ADD).
secara umum ADD bertujuan peningkatan aspek pembangunan baik prasarana fisik maupun non fisik dalam rangka mendorong tingkat partisipasi masyarakat untuk pemberdayaan dan perbaikan taraf hidupnya. Pada tahun 2015, desa-desa di Kecamatan Mendahara Ulu mendapat anggaran sebesar Rp 4.920.214.093. dengan rincian Rp 3.007.855.163 untuk alokasi ADD, Rp 1.751.547.693 untuk alokasi dana Desa, Rp100.657.929, untuk dana Pajak dan Retribusi Daerah (PDRD) dan Rp 60.153.308 berasal dari Silpa ADD tahun 2014.
Tabel 7 Jumlah Alokasi Dana Desa (ADD), Dana Desa (DD), Pajak Dan Retribusi Daerah (PDRD), dan Silpa 2014 Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Mendahara Ulu, 2015
Desa/Kelurahan ADD Dana Desa PDRB Silpa
2014 Total
1. Bukit
Tempurung 441472137 273251398 20193371 4189943 739106849 2. Sungai
Toman 509603282 284403831 19994036 21448000 835449149 3. Simpang
Tuan - - - - -
4. Pematang
Rahim 546700399 313937182 12340397 3102817 876080795 5. Sinar Wajo 537656512 292585445 13300465 4922500 848464922 6. Sungai Beras 524217591 295932482 18949687 4990000 844089760 7. Mencolok 448205242 291437355 15879973 21500048 777022618 Jumlah 2015 3007855163 1751547693 100657929 60153308 4920214093 Sumber: Kecamatan Mandaharu Ulu dalam angka
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Rewetting
Salah satu kegiatan untuk rewetting adalah pembuatan sekat-sekat kanal.
Pembuatan sekat kanal harus memperhatikan aliran air makro di sekitar kubah gambut (Gambar 15). Ada kemungkinan penyekatan dilakukan tidak pada posisi yang benar sehingga sekat kanal tidak berfungsi efektif karena air bisa bocor keluar sub-KGH dari sisi yang bukan disekat.
Gambar 15. Pola aliran sub- KHG 1 di sekitar lokasi pilot projek.
Pada lokasi pilot projek, penyekatan dilakukan pada outlet sub-KGH no 1 (Gambar 15). Pada saat pengamatan lapang, total air yang keluar dari kubah gambut lewat sub-KHG no 1 ini mencapai 0.3-0.5 m3 det-1 (Gambar 16). Luas sub-KHG no 1 ini adalah sekitar 1 000 ha.
Luas seluruh sub-KHG adalah sekitar 14 000, sehingga debit air yang keluar dari kubah gambut diperkirakan mencapai 4 - 7 m3 det-1, suatu debit yang sangat besar menguras air dari kubah gambut.
Gambar 16. Bocoran aliran air yang keluar dari kubah gambut melalui sub-KHG 1 Mengingat lokasi pilot projek berada pada areal hutan lindung maka sekat kanal yang dibuat harus berfungsi menutup kanal yang ada tanpa spillway. Namun
seringkali terdapat hambatan dalam penyekatan kanal di lahan gambut karena masyarakat tidak bersedia dibangun sekat tanpa spillway.
4.1.1 Penyekatan Kanal
Ada beberapa tahapan dalam membangun sekat tersebut seperti melakukan survei lokasi kanal, desain sekat kanal, alat dan bahan yang digunakan serta waktu dan pelaksanaan pembangunan sekat kanal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penentuan lokasi kanal adalah harus berada pada lokasi lahan yang akan kita tanami guna berdampak pada peningkatan tinggi muka air yakni kurang dari 0.4 m setelah dilakukan penyekatan. Mengingat lokasi pilot projek berada pada hutan lindung maka tinggi muka air kita naikkan menjadi 0.2m. Selain itu, rancangan atau disain sekat kanal perlu dibuat guna mendukung terhadap pembangunan sekat di kanal yang ada, seperti lebar kanal, panjang kanal dan kedalaman kanal. Bentangan alam atau landskap perlu diperhatikan guna mendukung atau memiliki pengaruh pada demplot penelitian maupun secara keseluruhan.
Pembangunan sekat kanal sudah dilakukan sebanyak 4 buah sekat kanal, hal ini sesuai dengan perencanaan kegiatan pilot project agroforestry paludikultur. Posisi sekat kanal berada pada kanal yang sama dengan jarak antar sekat kanal adalah 100- 200 meter. Pembangunan keempat sekat kanal tersebut dilakukan oleh anggota kelompok tani Senang Jaya dan kelompok tani Pagar Indah I.
Ada sekat kanal lain yang di dibangun pada kanal-kanal yang lain, tepatnya di Desa Sungai Beras. Pembangunannya dilakukan oleh BRG (Badan Restorasi Gambut) bagian deputi dua yang bekerja sama dengan petani atau kelompok tani. Sekat kanal yang dibangun adalah sebanyak enam sekat kanal. Adanya beberapa sekat kanal tersebut secara landskap hidrologi akan bermanfaat dan berpengaruh terhadap pembasahan (rewetting) pada areal tersebut.
Sekat kanal harus ditempatkan pada pola aliran air yang arahnya keluar dari kubah gambut (Gambar 17).
Gambar 17. Posisi sekat kanal di lokasi pilot projek yang berjumlah 10 buah ( 4IPB dan 6 BRG) yang ditempatkan pada arah aliran air sub-KHG.
Gambar 18. Sekat Kanal A4
Gambar 19. Sekat Kanal A3
Gambar 20. Sekat Kanal A2
•
•
•
PETA LOKASI SEKAT KAMALDAN PIEZOMETER KHG SEI BATANGHARI • SEI MENDAHARA
PROVINS! JAMBI
Leg•nda
• Stu\ Kanai IP9
• s.+:.1KINIBRG
'?lo•-·
-- - ---
Sumber Pata 1 l)ogita,I 8-vo- "'°""" (OEM) \2 m
�00-
2 ... K-n UIPong 2017
,,
• ,, '
• • ,, ' '
• ' '
• • '
..;...
•
Gambar 21. Sekat Kanal A1
4.1.2 Pengukuran Tinggi Muka Air dan Tingkat Subsidensi
Pengukuran tinggi muka air dilakukan sebelum dan sesudah pembangunan sekat.
Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari pembangunan sekat yang berdampak pada peningkatan tinggi muka air gambut (TMA). Alat yang digunakan dalam pengukuran tinggi muka air di lapangan adalah piezometer.
Gambar 22. Lokasi Sekat Kanal dan Piezometer
Tabel 8 Tinggi muka air gambut sebelum dilakukan penyekatan kanal
Titik TMA (cm) Titik TMA (cm)
0 70 23 55
1 53 24 51
2 60 25 53
3 60 26 54
4 53 27 55
5 66 28 54
6 57 29 54
7 50 30 50
8 50 31 57
9 71 32 64
10 61 33 56
11 53 34 69
12 60 35 44
13 56 36 49
14 63 37 49
15 53 38 55
16 52 39 54
17 50 40 54
18 52 41 62
19 59 42 60
20 53 43 68
21 57 44 60
22 60 45 48
Rata-rata 57
Terdapat dua belas piezometer yang tersebar di dalam dan di luar areal lahan pilot projek sebanyak masing-masing enam buah (Gambar 22). Pengukuran dilakukan tiga kali sehari yakni pagi, siang dan sore.
Tabel 9 Tinggi muka air gambut setelah dilakukan penyekatan kanal
Waktu Pengukuran Piezometer TMA (cm)
Pagi
A1 42
A2 42
B1 40
B2 39
C1 44
C2 50
Siang
A1 42
A2 43
B1 40
B2 38
C1 45
C2 51
Sore
A1 43
A2 44
B1 41
B2 39
C1 45
C2 51
Rata-rata 43
Gambar 23 Pengukuran tinggi muka air gambut dengan piezometer dan tongkat subsiden (merah)
Waktu pengukuran yang berbeda dilakukan guna melihat tinggi muka air yang dipengaruhi oleh pasang surut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari ketiga waktu tersebut menunjukkan tingkat muka yang berbeda. Selain itu, hasil dari pengamatan sebelum dan sesudah dilakukan penyekatan kanal menunjukkan tinggi muka air di lahan gambut meningkat.
Sebelum dilakukan penyekatan, dilakukan pengamatan tinggi muka air gambut secara berkesinambungan dari pagi hingga sore hari (Tabel 8). Rata-rata tinggi muka air gambut yang dihasilkan sebesar 57 cm. Sesaat setelah dilakukan penyekatan kanal, TMA gambut mengalami kenaikan menjadi 43 cm (Tabel 9). Hal ini memberikan pengaruh yang baik guna mendukung terhadap kegiatan restorasi selanjutnya yakni revegetasi.
Pengukuran ini dilakukan secara rutin oleh petani lahan dan menjadikan peningkatan pengetahuan petani dalam menjaga ekosistem gambut. Hal ini menjadi pengetahuan yang baru bagi petani bahwa adanya pengukuran tersebut berimplikasi baik pada pembangunan ekosistem gambut.
Disamping pengukuran tinggi muka air peani juga dapat mengamati subsiden di lahannya melalui tongkat subsiden yang dipasang di sekitar piezometer.
PETA l<EDAU.MAN GAMBUT RESTORASI U.HAN GAMBUT BEAl<EU.NJUTAN
MENGGUNAl<AN SI STEM AGAOFOAESTAY PALUOll<ULTUA DI l<HG SEI BATANGHARt • SEI MENDAHARA
KABUPATEN TANJUNG JAB UNG TIMUR
C r---'"-o_,_.,_,_.,_•_•_•_• ---,
E
,.,.,..
1.5 - 2 m (0.rrbul Seoang) - 2 3 m (Gambut Dalam)
Surrt>er Peta 1 Pete RUP8 Sum lndones;a
Badan lnbrmasl GeosP8s.al 2 Has,I SuNei Lapang
Kel}ll5llme ·
• •
4.2 Revegetasi dengan Agroforestri Paludikultur
Ada beberapa tahapan dalam revegetasi lahan gambut terdegradasi dengan model agroforestri paludikultur, antara lain
4.2.1 Revegetasi dengan Agroforestri Paludikultur a. Pemilihan lahan
Lahan yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek, antara lain: (1) lahan berada pada lahan gambut kedalaman sedang sampai dengan gambut kedalaman dalam, (2) status lahan adalah kawasan hutan lindung, (3) posisi lahan terintegrasi dengan lokasi pembangunan sekat kanal, (4) lahan tidak dalam status konflik, (5) petani merupakan anggota kelompok tani yang bisa bekerjasama dan berpartisipasi aktif.
Berdasarkan atas pertimbangan di atas, terpilihlah lahan dengan pemilik Bapak Jemali dan Bapak Ali. Bapak Jemali adalah Ketua Kelompok Tani Pagar Indah 2. Peta kedalaman lahan gambut lokasi demplot disajikan pada Gambar 24.
Gambar 24 Peta kedalaman gambut pada demplot pilot project agroforestry.
b. Penentuan luas lahan penanaman
Luas lahan yang telah dipilih untuk penanaman adalah 2.5 ha dari luas demplot keseluruhan yakni 2.7 ha. Luasan lahan tersebut ditentukan guna menjadi contoh atau model penanaman di lahan gambut pada lokasi yang lain. Penentuan luas lahan penanaman juga ditentukan pada hasil pengamatan kedalaman gambut. Harapannya luas penanaman dapat mewakili pada kedalaman gambut sedang (<2 meter) dan gambut dalam (2-3 meter).
c. Pemilihan jenis tanaman
Pemilihan jenis tanaman merupakan tahapan yang penting dalam kegiatan revegetasi, perlu memperhatikan berbagai aspek guna mendukung terhadap jenis yang dipilih. Ada tiga aspek yang umum dipertimbangkan dan dilakukan dalam pemilihan jenis, yakni:
1) Aspek Ekologi 2) Aspek Ekonomi 3) Aspek Sosial
Jenis tanaman yang terpilih merupakan hasil musyawarah yang dilakukan dalam forum group discussion (FGD). Peneliti, para petani, dan tokoh masyarakat bermusyawarah dan berdiskusi dalam suasana yang kekeluargaan dalam pemilihan jenis tanaman dalam forum tersebut. Umumnya jenis tanaman yang dipilih petani adalah jenis yang biasa mereka temukan di lahan gambut dan bermanfaat bagi kehidupannya. Hasil FGD menyimpulkan bahwa ada 20 jenis yang disepakati dalam forum tersebut antara tim peneliti dengan para petani.
Jenis-jenis tanaman tersebut adalah: jelutung, gaharu, alpokat, jengkol, petai, nangka, mangga, rambutan, melinjo, sirsak, sawo, sukun, kelengkeng, matoa, nanas, lada, jernang, salak pondoh, pepaya, tebu.
Pada tahun pertama (2017) telah selesai dilakukan penanaman bibit pohon jelutung, gaharu, alpokat, jengkol, petai, dan nanas. Uji coba tanaman serai wangi dan buah naga juga dilakukan. Tanaman serehwangi ditanam di pinggir lahan dan diharapkan berfungsi sebagai tanaman pagar. Tanaman serehwangi memiliki manfaat ganda, antara lain: bahan baku minyak atsiri, daunnya setelah disuling bisa dimanfaatkan sebagai pakan tenak, dan pelindung dari gangguan babi hutan.
d. Disain penanaman
Setelah jenis ditentukan, langkah selanjutnya adalah pembuatan disain penanaman untuk mendukung dalam pembangunan peananaman di lapangan.
Tanaman jelutung menjadi tanaman yang dominan yang ditanam (X) dengan jarak tanam 3 x 3 meter, nanas merupakan tanaman sela yang berada diantara tanaman jelutung, dan tanaman buah berada diantara tanaman jelutung dengan jarak tanam 3 x 6 meter dan diselingi tanaman gaharu. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 25.
x x x x x x x
: D-{
. . . . . . .
3 meter Ix
.
x.
x.
x.
x x.
x.
x
.
x.
x.
x.
x.
x.
x.
xx
.
x.
x.
x.
x.
x.
x.
xx
.
x.
x.
x.
x.
x.
x· -
xx
.
x 0 x.
x 0 x.
x 0 x· -
xe-1
3 meter Ix x x x x x x x
y
I I I�--3_m_e_t_e_r_�I �I __ G_m_e_t_e_r_�
Keterangan:
x
D
Jelutung Nanas Gaharu Tanaman buah
Gambar 25 Disain penanaman pada demplot pilot project agroforestry e. Persiapan lahan
(1) Pembersihan lahan
Kegiatan pembersihan lahan merupakan bagian dari penyiapan lahan, kegiatan ini dilakukan dengan membabat atau memangkas ilalang atau tanaman bawah yang tumbuh dominan sehingga ada ruang untuk dapat ditanami.
Gambar 26 Kegiatan pembersihan lahan (2) Penebangan sawit
Sawit merupakan tanaman dominan yang ada pada lahan demplot penelitian ini.
Usaha yang dilakukan adalah penebangan sawit. Tahap pertama adalah
melakukan pemangkasan pelepah sawit agar dapat membantu dalam penebangan sawit, selanjutnya dilakukan penebangan.
Gambar 27 Kegiatan Pemangkasan pelepah sawit oleh seorang petani Kegiatan penebangan sawit dilakukan setelah kegiatan pemangkasan pelepah sawit selesai dilakukan. Penebangan sawit dilakukan oleh petani menggunakan chainsaw dan dibantu oleh 2-3 petani dalam melakukan penarikan tanaman sawit di lahan tersebut.
Gambar 28 Kegiatan penebangan sawit di demplot penelitian
f. Persiapan Penanaman
(1) Pembuatan ajir dan pengajiran
Pembuatan ajir dilakukan oleh 2-3 orang petani dari kelompok tani Pagar Indah 2. Bahan ajir berasal dari batang kayu yang ada di sekitar lahan demplot penelitian. Setelah ajir terkumpul langkah selanjutnya dilakukan pengajiran yang disesuaikan dengan pola tanam atau disain penanaman, sebagai contoh di lapangan bahwa ajir yang berwarna merah menunjukkan ajir tersebut akan ditanami dengan tanaman jelutung, sedangkan ajir yang berwarna biru diperuntukkan jenis-jenis buah-buahan.
Gambar 29 Pengajiran di area kerja (2) Pendangiran dan pemberian dolomit
Penambahan dolomit pada lahan gambut telah dilakukan dengan menabur disekitar ajir yang sebelumnya telah dilakukan pendangiran dengan menggemburkan bagian tanah gambut disekitar ajir. Pemberian dolomit dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan atau menetralkan pH tanah.
Gambar 30 Pemberian dolomit
g. Kegiatan penanaman
Kegiatan penanaman sudah dilakukan oleh para petani dari kelompok tani Pagar Indah 2. Pencapaian kegiatannya adalah sudah hampir selesai, ada beberapa bibit yang belum ditanam terkait dengan jumlah bibit yang belum tersedia.
Namun, alasan tersebut segera terselesaikan dengan mendatangkan bibit yang kurang dari tempat lain.
Tahapan kegiatan penanaman terdiri atas pembuatan lubang tanam dengan alat yang biasa dikenal dengan sebutan “tugal”, selanjutnya polybag dari bibit tersebut dibuka dan tanah pada bibit tersebut telah dipadatkan dengan kepalan tangan dan selanjutnya dimasukkan ke lubang tanam yang ukurannya kurang lebih sama dengan ukuran polybag. Kemudian tanah atau gambut yang ada disekitar bibit yang sudah ditanam di tekan atau diinjak agar terjadi pemadatan tanah sehingga tanaman/bibit yang ditanam dapat menyatu dengan gambut sehingga perakarannya terjaga. Beberapa aktifitas kegiatan penanaman disajikan pada Gambar 31 sampai dengan Gambar 53.
Gambar 31 Bibit Jelutung
Gambar 32 Bibit Gaharu
Gambar 33 Bibit Alpokat, Bibit Jengkol, dan Bibit Petai
Gambar 34 Bibit jelutung yang sudah ditanam
Gambar 35 Pak Jemali pemilik lahan sedang menanam bibit Alpokat
Gambar 36 Bu Jemali akan mengangkut bibit Jeliutung
Gambar 37 Bu Ali akan mengangkut bibit Jelutung
Gambar 38 Peneliti dan Pak Jemali sedang berempug tentang penanaman
Gambar 39 Peneliti dan asisten sedang berembug menentukan langkah- langkah berikutnya
Gambar 40 Bibit Alpokat yang sudah ditanam
Gambar 41 Bibit Jengkol yang sudah ditanam
Gambar 42 Bibit Petai yang sudah ditanam
Gambar 43 Bibit Nanas yang sudah ditanam
Gambar 44 Bibit Serai Wangi yang sudah ditanam
Gambar 45 Bibit Buah Naga yang sudah ditanam
Gambar 46 Peneliti melakukan pengecatan ajir
Gambar 47 Pengukuran diameter Jelutung yang sudah ada di lahan sebelum kegiatan
Gambar 48 Pengukuran tinggi Jelutung yang sudah ada sebelum kegiatan
Gambar 49 Peneliti dengan Pak Ali membuka kotak berisi bibit Buah Naga dan Serai Wangi dari Bogor
Gambar 50 Peneliti, Pak Ali, dan Asisten menyiapkan jalur tanamian pagar Serai Wangi
Gambar 51 Pak Johari anggota Kelopok Tani mengangkut bibit tanaman Alpokat
Gambar 52 Asisten sedang mengukur tinggi bibit tanaman Jelutung
Gambar 53 Peneliti dan asisten setelah penanaman bibit buah naga, salam kompak
h. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan merupakan hal yang paling penting setelah penanaman dilaksanakan. Ada upaya yang harus dilakukan secara intensif guna tanaman yang ditanam tersebut mampu beradaptasi dengan baik yang ditandai dengan kondisi fisik atau performa tanaman tersebut terlihat segar. Pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan penambahan pupuk organik agar tanaman memperoleh hara yang tersedia.
Setelah penanaman dilakukan, kegiatan penyulaman atau mengganti jenis yang mati atau rusak dengan bibit tanaman yang tersedia dapat dilakukan guna meningkatkan persen keberhasilan dari penanaman tersebut.
4.2.2 Deskripsi Singkat Jenis Tanaman
a. Jelutung rawa
Jelutung rawa emiliki arti penting bagi ekologi dan ekonomi. Dari segi ekonomi, jelutung merupakan jenis penghasil getah atau lateks yang bernilai ekonomi sebagai sumber bahan baku permen karet dan kerajinan tangan. Selain itu, kayunya dapat digunakan sebagai bahan baku pensil dan furniture. Sampai saat ini yang menjadi kendala utama pengembangan jelutung adalah ketersediaan pasar sehingga perlu dukungan sektor swasta sebagai konsumen getah jelutung dan dukungan pemerintah dalam memfasilitasi peluang pasar getah jelutung.
Secara ekologis, jelutung yang teradaptasi hidup di rawa tergenang sangat sesuai untuk sistem paludikultur, terutama pada lahan gambut yang basah. Rata-rata
cadangan karbon jelutung di hutan alam dilaporkan sebesar 80 t ha-1 (pada biomassa permukaan saja) (Joshi et al., 2010), dan belum memperhitungkan cadangan karbon gambutnya. Emisi CO2 dari gambut dengan kanal yang ditutup lebih rendah daripada emisi CO2 pada lahan gambut terdrainase sehingga paludikultur dengan jenis jelutung sangat prospektif untuk dilaksanakan.
Jelutung rawa tumbuh alami di hutan rawa gambut dataran rendah yang tersebar di pesisir timur Pulau Sumatera dan Kalimantan (Middleton, 2004).
Kemampuannya beradaptasi pada kondisi rawa gambut tergenang disebabkan karena jelutung memiliki akar nafas (pneumatophore), yaitu akar yang mencuat ke atas permukaan air dan gambut agar dapat menyerap oksigen. Walaupun dapat ditanam pada tanah mineral alluvial, tetapi jelutung rawa tumbuh lebih baik pada lahan gambut.
b. Gaharu
Sesuai kebijakan pemanfaatan sumberdaya hutan (SDH) yang berkelanjutan, pada masa datang pengambilan gaharu dari alam akan terus dikurangi dan pengembangan budidaya gaharu ditingkatkan. Pengembangan budidaya gaharu ada yang dikaitkan dengan program rehabilitasi kawasan hutan yang rusak/terdegradasi. Budidaya gaharu diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat bawah. Gaharu memiliki manfaat sebagai hasil ikutan.
Jenis-jenis ini tersebar pada berbagai ekosistem hutan, baik di hutan dataran rendah, pegunungan maupun hutan rawa gambut Indonesia. Rata-rata tempat tumbuh tanaman penghasil gaharu di Indonesia, mempunyai karakter, yaitu : ketinggian antara 0-2400 meter dpl, tipe iklim A atau B, dengan paramenter suhu udara antara 28 ºC hingga 34 ºC, kelembaban antara 80%-90%, dan dengan curah hujan 1000->2000 mm/tahun. Lahan tempat tumbuh tanaman ini memiliki variasi kondisi stuktur tanah dan tekstur yaitu : berlempung, lempung berpasir dan bebatuan dan liat. Selain itu, kondisi tanah juga harus remah baik pada lahan dengan kesuburan tinggi, sedang hingga lahan-lahan ekstrim.
c. Alpokat
Tumbuh pada tanah pH rendah hingga 4, membutuhkan kelembaban tanah yang tinggi, tetapi peka terhadap genangan. Buahnya mengandung banyak lemak, protein, dan mineral; dapat dikomsumsi dalam bentuk segar atau sebagai bahan baku industri kosmetika.
d. Jengkol
Tanaman jengkol membutuhkan kadar penyinaran yang tinggi sepanjang hari, oleh karena itu pastikan lahan tanam jengkol tidak tertutup dari sinar matahari.
Selain itu, pohon jengkol membutuhkan pasokan air yang tinggi yang juga diikuti dengan kadar kelembaban yang cukup. Pohon jengkol yang cukup adaptatif dapat ditanam dimanapun asalkan dekat dengan sumber air. Meskipun
pohon jengkol dapat tumbuh dimana saja dan tidak membutuhkan lahan khusus, tetapi jengkol perlu diperhatikan dari mulai penanaman. Dari percobaan, pohon jengkol akan lebih mudah berkembang apabila ditanam di awal musim hujan dan pohon akan lebih cepat tumbuh dan berkembang.
e. Petai
Tanaman ini dapat tumbuh subur pada lahan dengan ketinggian 10 sampai 800 meter dari permukaan laut. Budidaya petai biasanya dilakukan dengan teknik monokultur. Namun tak jarang petani petai yang menanam tanaman ini dengan teknik tumpang sari. Tanaman yang biasanya dibudidayakan secara tumpang sari dengan tanaman petai antara lain adalah keladi dan kacang tanah.
f. Nanas
Tanaman nanas dapat tumbuh pada keadaan iklim basah maupun kering, baik tipe iklim A, B, C maupun D, E, F. Tipe iklim A terdapat di daerah yg amat basah, B (daerah basah), C (daerah agak basah), D (daerah sedang), E (daerah agak kering) & F (daerah kering).
Pada umumnya tanaman nanas ini toleran terhadap kekeringan serta memiliki kisaran curah hujan yg luas sekitar 1000- 1500 mm/tahun. Akan tetapi tanaman nanas tidak toleran terhadap hujan salju karena rendahnya suhu.
Tanaman nanas dapat tumbuh dengan baik dengan cahaya matahari rata-rata 33-71% dari kelangsungan maksimumnya, dengan angka tahunan rata-rata 2000 jam.
Suhu yg sesuai utk budidaya tanaman nanas adalah 23-32 ° C, tetapi juga dapat hidup di lahan bersuhu rendah sampai 10 ° C.
g. Buah Naga
Tanaman buah naga termasuk tanaman tropis. Tanaman ini mudah beradaptasi dengan berbagai lingkungan tumbuh dan perubahan cuaca, seperti curah hujan dan sinar matahari. Walaupun demikian, harus memperhatikan syarat tumbuh tanaman buah naga berikut ini agar tanaman buah naga tsb dapat tumbuh subur, berbuah lebat dan manis.
1. Curah hujan yang ideal bagi pertumbuhan tanaman buah naga adalah sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Tanaman buah naga masih dapat mentolerir curah hujan 600 – 1.300 mm/tahun. Curah hujan di atas itu, deras dan berkepanjangan dapat menggenangi tanaman buah naga yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan tanaman terutama pembusukan akar.
2. Intensitas sinar matahari yang dibutuhkan oleh tanaman buah naga adalah sekitar 70 – 80 %, oleh karena itu tanaman buah naga lebih baik ditanam dilahan tanpa naungan dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
3. Tanaman buah naga akan tumbuh lebih optimal bila ditanam di daratan rendah antara 0 – 350 mdpl.
4. Suhu udara yang ideal untuk pertumbuhan tanaman buah naga adalah sekitar 26 – 36 derajat celcius dengan kelembaban 70 – 90 %.
5. Tanah atau media tanam yang digunakan untuk penanaman tanaman buah naga harus memiliki aerasi dan drainase yang baik. Tanah / media tanam tsb harus memiliki derajat keasaman pH 6,5 – 7. Media tanaman yang digunakan harus kaya nutrisi dengan kandungan kalsium yang tinggi agar tanaman buah naga dapat tumbuh dengan baik dan maksimal.
h. Serehwangi
Serehwangi (Cymbopogon nardus L). Serehwangi ( Cymbopogon nardus L) termasuk famili Graminae mampu hidup pada pH tanah berkisar 5-7, bertekstur lempung atau liat berpasir ( Rosman 2012), merupakan jenis tanaman dengan pertumbuhan cepat, jumlah akar cukup padat sehingga mampu menahan tanah, daunnya rimbun dan berprospek menghasilkan minyak serehwangi (Fery 2004).
Hal ini didukung oleh Zaenal et al. (2004), Serehwangi sangat berpeluang sebagai komoditas yang bernilai ganda di lahan kritis, karena dapat mengkonservasi lahan dan bernilai ekonomis dengan menghasilkan minyak atsiri serehwangi.
4.2.3 Prospek Kegiatan Agroforestry
Revegetasi lahan gambut dengan penerapan agroforestry paludikultur saat ini dan ke depan sangat penting. Hal ini karena penerapan sistem agroforestry akan memberikan keuntungan dari aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Dari aspek ekologi, lahan gambut yang terdegradasi akan terpulihkan dan ekosistem gambut dapat berfungsi kembali dengan baik.. Dari aspek ekonomi, penghasilan petani dapat ditingkatkan dan petanipun memperoleh hasil yang beragam. Keragaman hasil yang diperoleh tersebut, dapat memberikan tingkat resiko usaha yang lebih rendah. Produk pun dapat dipanen dan dikelola dalam kalender waktu yang berbeda, ada harian, mingguan, bulanan, musiman, tahunan, dan jangka panjang.
Dari aspek sosial, tingkat kebersamaan petani dalam kelembagaan sosial kelompok tani menjadi meningkat. Kondisi ini diharapkan akan mendorong tumbuhnya rasa percaya diri mereka menghadapi persaingan usaha yang ada. Posisi tawar mereka menjadi diperhitungkan oleh pelaku pasar yang ada. Berdasrkan atas penjelasan di atas, maka selayaknyalah kegiatan ini dapat dilanjutkan di tahun-tahun mendatang sehingga terwujud hutan lestari dan masyarakatnya berseri.