Coresponding Autor: Maria Lusian Roja
SocioEdu: Sociological Education
https://e-journal.unmuhkupang.ac.id/index.php/se ISSN 2746-3567 (online)
KEBIJAKAN PENDIDIKAN ANAK TERLANTAR DI PANTI ASUHAN ST. LOUIS DE MONFORT KOTA KUPANG
Maria Lusiana Roja
Universitas Muhammadiyah Kupang, Indonesia e-mail: [email protected]
ABSTRAK: Penelitian ini bertujauan untuk (1) mengetahui bagaimana implementasi kebijakan pendidikan anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang, dan (2) memahami bagaimana dampak kebijakan pendidikan terhadap anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfrot Kota Kupang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Subjek penelitian adalah anak terlantar dan Kepala Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data penelitian ini dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah pelaksanaan kebijakan pendidikan yang meliputi pendidikan formal, informal dan nonformal di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang. Kebijakan pendidikan formal dilakukan melalui lembaga pendidikan (sekolah) dengan mutu yang baik, yang tersebar di beberapa wilayah Kota Kupang. Pendidikan informal dilaksanakan melalui tiga sistem, yaitu kekeluargaan, keteladanan dan kedisipilinan yang mampu membentuk karakter anak.
Sedangkan keterampilan yang merupakan aspek pendidikan nonformal dilaksanakan melaui pelatihan, baik dari pihak panti sendiri maupun dari kerjasama dengan Pemerintah Kota Kupang. Dalam proses kebijakan pendidikan tersebut terdapat kendala yakni keterbatasan biaya pendidikan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur.
Kata Kunci: Kebijakan Pendidikan, Anak Terlantar
ABSTRACT: The aims of the research are (1) to find out how the implementation of the educational policy of abandoned children at the Orphanage St. Louis De Monfort Kupang, (2) to understand how the impact ofthe educational policy to abandoned children at the Orphanage St. Louis De Monfort Kupang. The research used qualitative method. The subject of the research was the Head of the St.
Orphanage Louis De Monfort Kupang. The data of this research were collected through observation, interviews, notes, and documentation. The data were analyzed using qualitative analysis techniques, it consist of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the research are the implementation of educational policies that include formal, informal and non- formal education at St. Orphanage Louis De Monfort Kupang has been implemented well in accordance with education guidelines. In the educatioaln policy process for abandoned children, it found obsatclesthat is the limited of education cost from regional government. Nevertheless, educational policy has had a positive impact to the life of abandoned children. Through the formal education, they can continue their education to a higher level. Formal education policy is carried out through educational institutions (schools) with good quality, which are spread in several areas at Kupang city.
Informal education is carried out through three systems, they are kinship, role model and discipline to shape the character of children. While skills which are aspects of non-formal education, are carried out through training, both from the orphanage itself and from collaboration with the Kupang City government.
Keywords: Educational policy, Abandoned children.
PENDAHULUAN
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal dengan kepala Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kupang (Sr. M. Stanisia, PRR) pada
tanggal 22 Oktober tahun 2019, diketahui bahwa ada persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari- hari. Persoalan yang terjadi yaitu: (1) Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap biaya
2| SocioEdu: Sociological Education
pendidikan anak di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang, dan (2) kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap biaya hidup anak di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang.
Menyikapi masalah tersebut masyarakat, pemerintah, organisasi sosial terus berupaya menangani masalah sosial tersebut agar hak-hak anak seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial lainnya (Syahrul & Datuk, 2018). Akan tetapi kesejahteraan hidupan anak panti sangat bertolak belakang dengan kebijakan pendidikan yang tidak menunjang kebutuhan kehidupan mereka. Hingga saat ini, pemerintah kurang memperhatikan serta tidak memberikan kemudahan kehidupan dan pendidikan anak terlantar tersebut (Bordonaro, 2012; Harris, Johnson, Young, & Edwards, 2011; McAlpine, Henley, Mueller, & Vetter, 2010; Naterer &
Godina, 2011; Njord, Merrill, Njord, Lindsay, &
Pachano, 2010). Panti ini didirikan setelah disetujui oleh pemerintah dan bekerjasama dengan pemerintah, tapi kenyataannya sampai saat ini Pemerintah kurang memperhatikan panti asuhan tersebut dari biaya pendidikan hingga kehidupan sehari-harinya sehingga para pengurus yayasan dan pengurus panti harus berjuang dan bekerja mati- matian demi pendidikan dan kehidupan anak panti tersebut (Stanisia, 2019).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nurhidayat, tentang kebijakan pemerintah kota terhadap pendidikan anak terlantar (Studi Kasus Pemkot Surakarta), menunjukan bahwa dengan mendirikan rumah singga dan program beasiswa pendidikan untuk anak terlantar merupakan perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kota Surakarta. Namun dengan kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut yang sangat benar menekuni dalam mengelolah anak terlantar, khususnya di dalam sektor pendidikan yang menjadi masalahannya. Di sisi lain, dengan adanya rumah singgah tersebut masih terdapat banyak anak terlantar yang merasa diri mereka tidak bebas karena hidup mereka selalu dikekang. Sedangkan pelaksanaan perencanaan pendidikan anak terlantar dengan mendirikan rumah singgah tersebut serta memberikan program beasiswa pendidikan bagi anak terlantar merupakan model kebijakan pemerintah daerah Kota Surakarta. Pendidikan formal serta pendidikan keterampilan merupakan proses pelaksanaan pembelajaran oleh pemerintah daerah Kota Surakarta. Agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih maksimal, Pemerintah Kota sebagai pengatur juga mengadakan suatu kerjasama dengan lembaga pendidikan anak terlantar, dan program ini juga didukung oleh seluruh elemen masyarakat (Nurhidayat, 2012).
Analisis kebijakan pendidikan untuk anak terlantar di kota Yogyakarta dari hasil penelitian Syahrul menunjukan bahwa di dalam kebijakan pendidikan layanan khusus untuk mengangkat anak terlantar dengan melalui pendidikan informal dan nonformal sudah tidak sama lagi dengan realita kehidupan di Kota Yogyakarta. Bukan hanya itu saja, juga dalam pelaksanaan “akuntabilitas jalur pendek” oleh Dinas Sosnakertrans Kota Yogyakarta yang menyalurkan bantuan secara langsung ke rekening masing-masing anak terlantar, sementara
“akuntabilitas jalur panjang” oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta memberikan bantuan untuk anak terlantar melalui penghubung pengelola PKBM atau rumah singgah. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan berdampak pada anak terlantar di Kota Yogyakarta, namun kebijakan ini belum maksimal karena kurangnya dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta dan anak terlantar hanya sebagai profit bagi pengelola lembaga pendidikan anak terlantar (Syahrul & Wardana, 2017).
Di sisi lain, Griya Baca Kota Malang telah menunjukan bahwa pada Griya Baca Kota Malang sudah melaksanakan pendidikan karekter bagi para anak terlantar. Penelitian melihat adanya implementasi pendidikan karekter bagi anak terlantar menggunakan cara melatih mereka, menanamkan nilai religius, akhlak, dan melatih membaca Al-Qur’an sekaligus materi keagamaan juga dapat membantu mengembangkan bakat dan minat yang ada pada diri anak terlantar tersebut (Parera, 2016). Sementara itu, dalam hasil penelitian Harefa tentang pelaksanaan kebijakan program pembinaan anak terlantar di Kota Medan menunjukkan pelaksanaan program penertiban dan sosialisasi serta pelatihan keterampilan adalah kebijakan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Medan (Harefa, 2017).
Selain itu, hasil penelitian Febrianti tentang pelayanan kesejateraan sosial terhadap anak terlantar di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama dapat diketahui bahwa tahapan pelayanan anak terlantar menggunakan Generalist Intervention Model (GIM) yakni: tahapan pendekatan awal (engagement), assesment, tahapan planning, tahapan intervention (yang di dalamnya terdapat pelayanan bimbingan sosial, bimbingan keterampilan, bimbingan fisik, bimbingan mental, bimbingan pendidikan), tahapan evaluasi, tahapan pengakhiran pelayanan atau terminasi dan follow-up (tindak lanjut) meliputi tahapan resosialisasi, tahapan penyaluran, dan tahapan bimbingan lanjut.
Kemudian dapat diketahui juga bentuk-bentuk dari pelayanan kesejahteraan sosial yakni, pelayanan pengasramaan, pelayanan kebutuhan pangan, pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan,
SocioEdu: Sociological Education|3 pelayanan konseling, pelayanan keagamaan,
pelayanan keterampilan, pelayanan transportasi, pelayanan rekreasi atau hiburan, dan pelayanan tabungan (Febrianti, 2014).
Berdasarkan pada beberapa penelitian di atas, maka penelitian ini bertujauan untuk mengetahui bagaimana implementasi kebijakan pendidikan anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang, dan memahami bagaimana dampak kebijakan pendidikan terhadap anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfrot Kota Kupang.
METODE
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah Kepala Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh diuji kembali dengan menggunakaan triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu. Data kemudia dianalisis dengan menggunakan model yang di terapkan oleh Miles dan Huberman yang di dalamnya terdiri atas empat hal yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kebijakan Pendidikan untuk Anak Terlantar di Kota Kupang
Pemerintah Kota Kupang yang bermitra dengan Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang dalam memberikan pelayanan ketentraman bagi anak terlantar yang tinggal di Panti Asuhan St.
Louis De Monfort Kota Kupang. Mereka terdiri dari anak yang diterlantarkan oleh orang tuanya, anak yatim, anak piatu, maupun anak yatim piatu. Oleh karena itu, mereka sangat mendambakan dan merindukan kasih sayang dari orangtua, bimbingan, tuntutan, perhatian serta pendidikan dengan harapan mereka dapat terangkat fungsi sosialnya tanpa harus merasa minder apabila terjun ke dalam masyarakat nanti (Mas’ud, 2019).
Masa depan anak-anak ini jika diterawang akan terlihat suram. Betapa tidak, karena pendidikan dari hari ke hari, dari waktu ke waktu terus berkembang sesuai dengan tuntutan pembangunan yang memerlukan banyak aktifitas.
Anak-anak terlantar di era sekarang ini menjadi sulit kedudukannya untuk berpacu dengan anak-anak lain yang masih memiliki orangtua dalam segala bidang, terutama pendidikan. Mendidik dan mengurus anak-anak terlantar tidaklah mudah, melainkan membutuhkan keseriusan dan keahlian yang lebih agar kelak anak-anak tersebut menjadi seorang yang mandiri dalam hidupnya. Berangkat
dari gambaran-gambaran di atas, maka program pendidikan anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang dapat digambarkan sebagai berikut.
Pendidikan Formal untuk Anak Terlantar oleh Pemerintah Kota Kupang
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang berlangsung secara teratur, sistematis, mempunyi jenjang serta mengikuti peraturan- peraturan tertentu secara ketat dan disiplin.
Pendidikan ini berlangsung di sekolah dan terikat oleh waktu yang telah ditentukan. Pelaksanaan pendidikan formal oleh Pemerintah Kota Kupang yang bekerja sama dengan Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang berusaha memenuhi kebutuhan anak terlantar terhadap pendidikan formal dengan memasukan anak terlantar ke sekolah.
Stanisia (Wawancara Sabtu 29 Februari 2020) mengatakan bahwa,
pertama, anak-anak terlantar di Panti Asuhan St.
Louis De Monfor Kota Kupang yang yang mengakses pendidikan jalur formal dikelompokan sesuai usianya, yaitu (1) anak yang berusia sekitar 4 sampai 6 tahun disekolahkan pada sekolah Taman Kanak-Kanak (TKK), (2) yang berusia 7 sampai 12 tahun disekolahkan di Sekolah Dasar (SD), (3) yang usianya 13 sampai 15 tahun disekolahkan di Sekolah Menengah Pertama (SMP), (4) sedangkan anak usia 16 sampai 18 tahun disekolahkan di Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat. Kedua, anak-anak terlantar usia TKK sampai SMP yang dibina di dalam Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang mengikuti pendidikan formal di bawah Yayasan Mgr. Gabriel Manek, SVD. Sedangkan anak-anak terlantar usia setingkat SMA mengakses pendidikan secara tersebar di beberapa sekolah umum di Kota Kupang. Anak-anak terlantar mendapatkan beasiswa dan mereka dibebaskan dari biaya pendidikan (Stanisia, 2020a).
Berdasarkan pernyataan di atas, alasan pemilihan lokasi sekolah formal bagi anak-anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang meliputi tiga hal, yaitu,
Pertama adalah jarak sekolah tidak terlalu jauh dengan Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang, jarak yang tidak terlalu jauh tersebut mempermudah anak untuk menjangkau sekolah.
Kedua adalah mutu atau kualitas sekolah tersebut, apabila mutu atau kualitas sekolah tersebut baik.
Alasan yang ketiga adalah karena sekolah tersebut akan mendukung dalam membekali anak-anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang untuk mencari pekerjaan selepas SMA, rata-rata lulus SMA, anak-anak akan
4| SocioEdu: Sociological Education
banyak yang memiliki keinginan untuk bekerja (Stanisia, 2020a).
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengurus Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang tentang anak terlantar yang menempuh jalur pendidikan formal tahun 2019/2020 terdiri dari TKK 3 peserta didik, SD 11 peserta didik, SMP 17 peserta didik, dan SMA/sederajat 16 peserta didik.
Di antara program pendidikan formal tersebut anak yatim, anak piatu, dan anak yatim piatau bahkan ada anak yang sengaja diterlantarkan oleh orangtuanya karena faktor ekonomi bahkan ada masalah- masalah lain pada orangtuanya yang membuat anaknya menjadi tak terurus. Jadwal kegiatan pendidikan formal atau kegiatan sekolah untuk masing-masing anak terlantar antara jam 07:00 Wita–14:00 Wita. Pendidikan tersebut dilakukan Senin sampai dengan Sabtu dan berlangsung di lingkungan sekolah masing-masing (Stanisia, 2020a).
Pendidikan Informal untuk Anak Terlantar oleh Pemerintah Kota Kupang
Pendidikan informal merupakan pendidikan yang didapat oleh sesorang dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari baik secara sadar ataupun tidak sadar di sepanjang hidup. Proses pendidikan ini berlangsung di dalam keluarga, pergaulan dan perkumpulan. Pendidikan informal merupakan suatu proses belajar yang berjalan alami dan berlangsung bebas menyertai kehidupan setiap harinya. Usia anak merupakan masa dimana pembentukan dasar-dasar karakteristik atau watak kejiwaan mereka dimulai (Syahrul & Wardana, 2017).
Di dalam lingkungan Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang, selain diusahakan terjaminnya kebutuhan lengkap yang diperlukan anak yaitu, kebutuhan fisik dan psikologis, anak juga dididik harus bisa untuk hidup mandiri. Anak dituntut untuk dapat bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya sesuai dengan kemampuannya sebagai seorang anak, sehingga Pemerntah Kota Kupang dan pengurus Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang mengharapkan anak terlantar tanggap terhadap permasalahan kemanusiaan, terhadap lingkungan dan alam sekitarnya serta peka terhadap kerja.
Anak terlantar dididik oleh pengurus dan pengasuh tentang budi pekerti, sopan santun dan tentang rasa antara sesama penghuni panti.
Pendidikan, peraturan, dan kehidupan ala panti secara otomatis terakumulasi di dalam diri anak terlantar sehingga mereka antara sadar dan tidak sadar mendapatkan pendidikan yang belum tentu mereka dapatkan dalam keluarga mereka sendiri.
Pemerintah Kota Kupang yang bermitra dengan Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang melaksanakan program pendidikan informal melalui beberapa metode atau cara sebagai berikut:
Pendidikan Informal dengan Sistem Kekeluargaan Proses pendidikan informal yang saat ini sedang berlangsung di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang menggunakan pendidikan informal dengan menggunakan sistem kekeluaragaan yang mengaitkan hubungan antara anak terlantar dengan para pengurus panti, ataupun sebaliknya pula dan serta sesama mereka anak terlantar. Salah satu sistem kekeluargaan yang ditanamkan sejak dulu di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang adalah dengan memposisikan antara pengurus panti dan anak terlantar layaknya seorang teman tanpa harus membeda-bedakan, apa lagi kita ketahui bahwa mereka sangat membutuhkan perhatian yang lebih dari para pengurus panti. Jika ada permasalahan yang dialami oleh anak terlantar biasanya diselesaikan sendiri, baru setelah mengalami kesulitan anak-anak akan menceritakan dengan pengurus panti.
Pengurus panti yang bertindak sebagai penganti orangtua anak tersebut selalau memberikan nasehat kepada anak terlantar dan berusaha selalu menjadi seorang kawan atau sahabat yang terbaik tanpa harus membedakan bahwa ia seorang anak dan ia seorang pengurus panti, sehingga anak terlantar tersebut akan merasa mereka sanagat akrab dengan pengurus panti.
Mereka juga harus selalu mampu meberikan dorongan dan motivasi yang mendorong anak-anak terlantar tersebut. Selain itu, anak terlantar tersebut akan dilatih oleh para pengurus panti untuk memiliki kepekaan tinggi kepada lingkungan setempat di sekitar, mempunyai empati atau persaudaraan terhadap sesama anak maupun pengurus panti asuhan tersebut. Hal tersebut dapat ditunjukan dengan tingkah laku anak yamg dengan saadarnya membantu dan menolong penghuni panti yang lain yang sangat membutuhkan bantuan.
Pendidikan Informal dengan Sistem Keteladanan Pendidikan informal yang saat ini sedang berjalan di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang berlaku adanya sistem keteladanan pengurus panti. Keteladaan tersebut dilakukan oleh para pengurus panti dengan tujuan agar bisa mendorong dan memotivasi anak terlantar agar bisa mengikuti tingkah laku dan tindakan yang telah dicontohkan oleh pengurus panti tersebut.
Pendidikan informal yang diperoleh anak terlantar dari tugas-tugas yang dipercayakan
SocioEdu: Sociological Education|5 terhadapnya merupakan pengalaman yang
didapatnya dalam kehidupan sehari-hari yang memiliki dampak yang baik bagi diri anak terlantar tersebut. Ini bisa terjadi dalam lingkungan keluarga atau panti sendiri, dalam pergaulan sehari-hari, organisasi dan sebagainya. Maka anak-anak terlantar yang tinggal di panti secara langsung atau tidak langsung akan mengikuti peraturan yang berlaku di panti asuhan tersebut.
Pendidikan Informal dengan Sistem Kedisiplinan Proses sosialisasi di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang berlaku ganjaran dan hukuman. Pemberian hukuman dan ganjaran tersebut diberikan kepada anak terlantar agar melatih kedisiplinan anak-anak. Hukuman yang dikenakan pada semua anak terlantar dengan tetap melihat usia anak terlantar tersebut. Pemberian hukuman tersebut disesuaikan dengan bidang kegiatan yang sedang dijalankan. Anak-anak akan dituntut untuk dapat bertanggung jawab terhadap apa yang diberikan panti, sanski sifatnya hanya membuat kesalahan sama dikemudian hari.
Dalam mendidik anak-anak terlantar baik yang masih kecil ataupun sudah dewasa semuanya dilakukan dengan penuh perasaan dan juga kesabaran sehingga anak terlantar tersebut mudah mengerti dan memahami. Hal ini dimaksudkan agar para pengurus panti lebih dekat dengan anak terlantar. Meski demikian dalam mendidik anak terlantar yang masih kecil relatif lebih sulit karena kemampuan anak kecil dalam menerima dan memahami apa yang diajarkan oleh para pengurus panti masih cukup rendah.
Pendidikan Nonformal untuk Anak Terlantar oleh Pemerintah Kota Kupang
Pendidikan nonformal yaitu pendidikan yang dilaksanakan secara tertentu dan sadar tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan yang ketat. Pendidikan berlangsung di luar sekolah dan dilaksaanakan secara terstruktur, terprogram serta, bersifat fungsional dan praktis (Syahrul & Wardana, 2017).
Program ini dilakukan oleh pihak Panti Asuhan St.
Louis De Monfort Kota Kupang dengan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kupang memberikan pendidikan nonformal kepada anak terlantar dengan pengajar atau pelatihannya dari panti asuhan sendiri. Tujuannya tidak hanya memberikan pengetahuan saja tetapi juga untuk membekali anak-anak dengan keterampilan-keterampilan yang nantinya sangat diharapakan dapat berguna bagi kelangsungan hidup anak terlantar, atau dapat dikatakan sebagai modal kehidupan mereka setelah mereka sudah keluar dari panti dan berada di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan pendidikan
nonformal di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang diketahui sebagai berikut.
Pembinaan Keagamaan
Agama merupakan suatu dasar atau fondasi dalam menjalani kehidupan kita manusia sehari- hari. Apabila kita sebagai manusia memiliki agama yang sangat kuat maka dengan sendirinya akan memiliki prinsip yang akan kuat pula. Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang yang bermitra dengan Pemerintah Kota Kupang mengadakan pembinaan keagamaan untuk membekali lebih dalam keagamaan tersebut otomatis pengetahuan tentang agama kepada anak terlantar. Anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang semua beragama Katolik sehingga pembinaan yang dilaksanakan di setiap harinya hanya pembinaan agama Katolik saja.
Kegiatan kegamaan yang setiap hari dilakukan anak terlantar ialah meliputi syering kitab suci serta berdoa setiap pagi dan sore. Berdoa setiap pagi dilakukan di gereja terdekat, sedangkan berdoa sore dilakukan di panti asuhan. Berdoa pagi dilakukan tepat pukul 06.00 Wita sedangkan berdoa sore dilakukan tepat pukul 18.00 Wita.
Pendidikan Keterampilan
Pendidikan keterampilan ini dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Kupang yang bekerjasama dengan Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang. Program pendidikan keterampilan menekankan pada kegiatan mengasah keterampilan.
Dalam program ini anak diberikan berbagai keterampilan, seperti menjahit, bercocok tanam seperti sayur-sayuran. Penyelenggaraan kegiatan keterampilan ini dilaksanakan di Panti Asuhan St.
Louis De Monfort Kota Kupang pada setiap hari Minggu maupun hari libur lainnya. Dengan adanya suatu program pendidikan keterampilan di panti ini sangat bermanfaat bagi anak terlantar karena keterampilan ini yang dapat diterapakan oleh anak untuk mempersiapkan mereka menuju masa depan yang lebih baik lagi. Selain itu, keterampilan ini diharapkan agar semua anak terlantar dapat hidup lebih mandiri setelah keluar dari panti asuhan tersebut.
Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Kebijakan Pendidikan Anak Terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang
Faktor Pendukung
Adanya Bantuan dari Masyarakaat
Masyarakat setempat atau masyarakat dari luar dapat berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikan anak-
6| SocioEdu: Sociological Education
anak yang menempati atau tinggal di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang baik berupa bantuan dalam bentuk uang atau dalam bentuk perlengkapan dan peralatan sekolah, seperti buku, tas,sepatu dan seragam. Hal ini diperjelas oleh Stanisia (Sabtu 7 Maret 2020) yang mengungkapkan bahwa
kami pengurus panti berjuang dengan cara kami masing-masing, ada suster yang meminta bantuan dari para pengusaha di Kota Kupang dan ada suster juga yang meminta bantuan lewat teman suster yang lain di Jakarta. Puji Tuhan, ada pengusaha di Kota Kupang bahkan ada yang dari Jakarta yang bekerja sama dengan teman suster disana, tiap bulan mereka memberikan donasi berupa uang. Tidak hanya itu, ada masyarakat setempat juga yang ikut berpartisipasi dengan memberikan sumbangan berupa uang maupun peralatan dan perlengkapan sekolah, seperti buku, tas, sepatu dan seragam (Stanisia, 2020b).
Adanya Bantuan dari Pemerintah Kota Kupang Terkait dengan pemenuhan dan kebutuhan hak-hak anak terlantar, maka Pemerintah Kota Kupang bekerjasama dengan Yayasan Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang memiliki program yang bertujuan mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan formal, informal dan non formal.
Stanisia sebagai Kepala Panti Asuhan St.
Louis De Monfort Kota Kupang mengungkapkan bahwa bantuan dari Pemerintah Kota Kupang sebesar Rp. 900.000/anak tiap tahunnya. Dari sisi lainnya, bantuan yang datang dari pemerintah Kota Kupang tersebut cukup membantu panti asuhan dalam meringankan biaya pendidikan anak di panti asuhan tersebut. Namun dari sisi lain, nilai uang yang diberikan oleh pemerintah sangat tergolong kecil dan bahkan hsmpir tidak bisa digunakan untuk memenuhi biaya pendidikan anak terlantar yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah atas/sederajat (Stanisia, 2020b).
Faktor Penghambat
Terbatasnya biaya pendidikan menjadi suatu faktor yang meperlambat implementasi kebijakan pendidikan untuk anak terlantar di Panti Asuhan St.
Louis De Monfort Kota Kupang. Sumber dana Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang berasal dari Pemerintah Kota Kupang, donatur tetap, seperti beberapa pengusaha di Kota Kupang dan Jakarta, dan donatur tidak tetap, seperti masyarakat setempat.
Jumlah nominal uang yang diberikan oleh setiap orang yang memberi bantuan atau penyumbang tidak selalu sama setiap diberikan
semuanya tergantung dari orang yang akan memeberikan sumbangan. Lain halnya dengan bantuan dari para Pemerintah Kota Kupang yang memberikan bantuan biaya pendidikan kepada anak terlantar tersebut. Pemerintah Kota Kupang memberikan sumbangan biaya pendidikan kepada anak terlantar ke panti asuhan pertahunnya Rp.
900.000/anak untuk dikelolah. Namun yang menjadi persoalan adalah pertama, bantuan tersebut tidak mencukupi untuk biaya pendidikan anak di jenjang Sekolah Menengah Atas karena anak-anak terlantar usia setingkat SMA yang mengakses pendidikan di sekolah umum diberlakukan biaya administrasi yang seragam dengan anak-anak yang bukan anak terlantar. Kedua, tidak semua anak terlantar mendapatkan beasiswa (Stanisia, 2020b).
Sebuah pelaksanaan peraturan perlu dijelaskan secara terbuka tujuan yang umum menjadi tujuan khusus yang lebih pasti. Dalam penjelasan peraturan itu, perlu adanya pengaturan sumber daya serta peralatan kelompok lainnya.
Dalam proses pelaksanaan peraturan pendidikan, ada beberapa hal terkait faktor pendukung dan faktor penghambat yang perlu diperhatikan yaitu, yang pertama ialah manusia setelah itu struktur, proses administrasi manajemen diikuti oleh dana dan daya (Hasbullah, 2015).
Berdasarkan data hasil penelitian diketahui bahwa faktor penghambat kebijakan pendidikan untuk anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang adalah keterbatasan biaya pendidikan. Menyikapi masalah tersebut para pengurus panti berjuang dan bekerja keras guna mencukupi biaya pendidikan anak.
Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hasbullah mengenai indikator keberhasilan kebijakan pendidikan adalah perlu dianalisa kembali tentang peraturan yang dapat mendukung kebijakan tersebut, personil, keuangan, dan prasarana lainnya yang dapat mendukung pelaksanaan suatu kebijakan. Banyak pihak yang berkaitan juga sangat menentukan akan keberhasilan dalam pelaksanaan peraturan pendidikan seperti kelompok formal, informal, suprastruktur, infrastruktur, dan fungsional (Hasbullah, 2015).
Dengan demikian jika dibandingkan dengan situasi yang ada di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang telah dilakukan tahap peningkatan kesejahteraan anak oleh para pengurus panti melalui kerjasama dengan masyarakat setempat maupun pihak lain, sehingga pada konteks ini menunjukan upaya untuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam proses kebijakan pendidikan anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang.
SocioEdu: Sociological Education|7 Dampak Kebijakan Pendidikan untuk Anak
Terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang
Pelaksanaan kebijakan pendidikan bagi anak terlantar merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Dasar 1945 Alinea keempat dan pasal 34 ayat (1) UUD 1945. Apabila kebijakan ini dilaksanakan dengan tepat makan akan tercapai keadilan dan pemerataan di bidang pendidikan.
Menurut Hasbullah, untuk mencapai suatu keberhasilan implementas kebijakan perlu adanya kesamaan pandangan, tujuan dan komitmen semua pihak untuk memberikan dukungan bagi pelaksanaan (Hasbullah, 2015).
Adanya kerjasama dan dukungan dari instansi pemerintah Kota Kupang, pengusaha dan masyarakat yang peduli terhadap anak terlantar, telah menjadi sala satu faktor yang mendukung implementasi kebijakan dalam bidang pendidikan.
Sala satu bukti nyata dari upaya ini dapat terlihat pada anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang. Anak terlantar pada panti asuhan tersebut sudah sepenuhnya mendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan melalui kebijakan pendidikan berupa programpendidikan formal, informal dan nonformal.
Dampak Pendidikan Formal pada Anak Terlantar Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan formal merupakan pendidkan yang berlangsung secara teratur, sistematis, mempunyi jenjang serta mengikuti syarat-syarat tertentu secara ketat (Dillahunt, Wang, & Teasley, 2014; Saltan & Arslan, 2016). Sekolah merupakan lembaga yang memberikan layanan pendidikan formal bagi masyarakat. Tujuan utama dari pendidikan formal adalah agar dapat membantu anak untuk membentuk kepribadiannya yang akan mendorong seorang anak terlantar tersebut memiliki kedewasaan jasmani maupun rohani (Asongu & Odhiambo, 2019; Mondada et al., 2017).
Selain itu, pendidikan formal juga membantu dalam meningkatkan kemampuan akademis sehingga anak mampu memecahkan berbagai permasalahan.
Pendidikan formal juga berperan melatih mental, fisik, kedisiplinan dan tanggung jawab seseorang. Melalui pendidikan formal, sesorang mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri, membangun interaksi sosial dengan sesama dan yang utama adalah membentuk identitas diri.
Pendidikan formal menjadi sarana untuk mempersiapkan seseorang menuju suatu pendidikan yang sempurna dan mendalami pendidikan yang akan lanjutan tersebut agar dapat memperkuat ilmu yang telah mereka dapatkan (Cohen, Jones, Smith,
& Calandra, 2017). Hal ini juga yang dirasakan oleh
beberapa anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort. Setelah mereka menyelesaikan pendidikan pada tingkat SMA/sederajat, mereka mampu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Bukti ini merupakan wujud tercapainya kebijakan program pendidikan formal pada anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang (Stanisia, 2020b).
Dampak Pendidikan Informal pada Anak Terlantar
Pendidikan informal ini sangat dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan masyarakat setempat dalam membentuk sikap dan prilaku seseorang anak. Di sisni anak mengenal bahasa paling pertama, serta kebiasaan yang sering dilakukan oleh keluargamya ia akan ingat dan akan dibawa hingga dewasa, sehingga pendidikan ini akan mempengaruhi jiwa seorang anak. Pendidikan informal merupakan pendidikan yang sangat fundamental, sebelum melanjutkan pendidikan formal. Keberhasilan pendidikan formal atau pendidikan sekolah semuanya sangat bergantung pada pendidikan dalam kelurga seperti yang kita ketahui baik buruknya tingkah laku seorang anak tergantung bagaiamana cara keluaraga lebih khususmya kedua orangtua mengajari mereka dari awal pertumbuhan dari mereka lahir sampai pada mereka mengerti.
Menurut Mansur pendidikan keluarga merupakan proses pemberian yang positif bagi tumbuh kembang anak dan merupakan dasar untuk pendidikan selanjutnya (Mansur, 2005). Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Abdullah yang mendefinisikan pendidikan keluarga sebagai usaha orangtua, berupa pembiasaan dan improvisasi untuk membantu dalam perkembangan pribadi anak (Abdullah, 2003).
Bagi anak-anak terlantar yang tidak memiliki keluarga, panti asuhan dan rumah singgah menjadi salah satu tempat untuk mendapatkan pendidikan informal berupa nilai-nilai moral, keteladanan dan interaksi sosial. Hal ini terlihat pada anak-anak terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort.
Pendidikan informal yang diterapkan oleh Panti asuhan ini telah mampu mengubah perilaku dan kepribadian anak-anak menjadi lebih baik.
Beberapa anak yang awalnya merasa asing dengan lingkungan sekitar, kini memiliki kepedulian yang tinggi, rasa percaya diri dan disiplin. Fakta ini menunjukkan bahwa panti asuhan, yang didukung oleh pemerintah Kota Kupang, telah menjalankan peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anak (Stanisia, 2020b).
8| SocioEdu: Sociological Education
Dampak Pendidikan Nonformal pada Anak terlantar
Menurut Pasal 1 ayat 12 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan peraturan pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan menyebutkan bahwa pendidikan nonformal dalah jalur pendidikan yang diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidkan nonformal sangat penting untuk pemenuhan kebutuhan pendidikan masyarakat. Hal ini sejalan dengan kebijakan pembangunan pendidikkan Nasional yang telah diarahkan untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadilan, bermutu yang sangat bagus dan relevan dengan kebutuhan masyarakat (Syahrul & Wardana, 2017).
Seperti yang telah diketahui bahwa tujuan pendidikan nonformal bagi anak-anak terlantar, tidak hanya memberikan pengetahuan melainkan juga membekali anak-anak dengan ketereampilan- keterampilan yang dapat berguna bagi kelangsungan hidup mereka di kemudian hari.
Keterampilan-keterampilan ini merupakan modal awal ketika mereka sudah keluar dari panti, bekerja dan berada ditengah-tengah masyarakat (Archibald, 2015; Lytvynova & Melnyk, 2018).
Pihak Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kupang telah memberikan pendidikan nonformal yang layak kepada anak terlantar. Hal ini dibuktikan melalui kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan dan dampaknya yang mulai terasa. Beberapa anak sudah hidup mandiri diluar panti dengan bekal keterampilan yang didapatkan melalui pendidikan nonformal (Stanisia, 2020b).
Kebijakan pendidikan melalui pendidikan formal, informal dan nonformal yang diterapkan di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang, secara keseluruhan telah memberikan dampak positif bagi kehidupan anak asuh, baik yang masih berada di lingkungan panti, maupun yang sudah hidup mandiri di tengah masyarakat. Namun, di sisi lain, pelaksanaan kebijakan ini masih menemui banyak hambatan.
Kendala-kendala ini terkait dengan bantuan dari Pemerintah Kota Kupang. Diketahui bahwa sumbangan untuk biaya pendidikan anak terlantar, tidak cukup untuk membiaya pendidikan anak pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, bantuan tersebut tidak diberikan secara merata sehingga pihak panti harus berupaya menutupi kekurangan biaya tersebut.
Kendala semacam ini tidak seharusnya dihadapi, jika pengolahan dana pendidikan anak
terlantar dikelola secara baik dan transparan oleh pemerintah daerah. Selain itu, kerjasama masyarakat dan pihak swasta juga sangat dibutuhkan, baik melalui beasiswa ataupun sumbangan langsung. Apabila semua hambatan ini masih terus terjadi, maka akan sangat berdampak pada pendidikan anak dan secara tidak langsung berpengaruh pada program pemerataan pendidikan yang sedang dijalankan pemerintah pusat.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah peneliti jelaskan di atas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa, pelaksanaan kebijakan pendidikan yang meliputi pendidikan formal, informal dan nonformal di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan pedoman pendidikan.
Dalam proses kebijakan pendidikan untuk anak terlantar terdapat kendala yakni keterbatasan biaya pendidikan yang disediakan oleh pemerintah daerah. Walaupun demikian, kebijakan pendidikan telah memberikan dampak yang positif pada kehidupan anak terlantar. Melalui pendidikan formal, mereka mendapatkan bekal untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi seperti anak lain rasakan. Nilai moral, sosial dan kedisiplinan yang ditanamkan dari pendidikan informal telah mengubah perilaku dan sikap anak menjadi lebih baik. Sementara itu, pendidikan nonformal berupa keterampilan- keterampilan dasar yang diberikan telah diaplikasikan oleh beberapa anak yang hidup mandiri, bekerja dan berinteraksi di tengah masyarakat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Dengan terselesainya artikel ini, maka penulis sangat banyak berterima kasih kepada: (1) Tuhan Yang Mahakuasa atas tuntunan, campur tangan, rahmat, dan cinta kasih Tuhan sehingga penulis dapat melakukanpenelitian dan menyelesaikan artikel ilmiah ini dengan tepat waktu. (2) Kepala Panti Asuhan (Sr. M. Stanisia, PRR) beserta anak-anak di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang yang telah menerima peneliti dengan senang hati di Panti Asuhan St.
Louis De Monfort Kota Kupang.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. I. (2003). Pendidikan Keluarga Bagi Anak. Cirebon: Lektur.
Archibald, T. (2015). “They Just Know”: The epistemological politics of “evidence- based” non-formal education. Evaluation
SocioEdu: Sociological Education|9 and Program Planning, 48, 137–148.
https://doi.org/10.1016/j.evalprogplan.201 4.08.001
Asongu, S. A., & Odhiambo, N. M. (2019). Basic formal education quality, information technology, and inclusive human development in sub-Saharan Africa.
Sustainable Development, 27(3), 419–428.
https://doi.org/10.1002/sd.1914
Bordonaro, L. I. (2012). Agency does not mean freedom. Cape Verdean street children and the politics of children’s agency. Children’s Geographies, 10(4), 413–426.
https://doi.org/10.1080/14733285.2012.72 6068
Cohen, J., Jones, W. M., Smith, S., & Calandra, B.
(2017). Makification: Towards a Framework for Leveraging the Maker Movement in Formal Education. Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 26(3), 217–229. Retrieved from https://www.learntechlib.org/primary/p/17 4191/
Dillahunt, T., Wang, Z., & Teasley, S. D. (2014).
Democratizing Higher Education:
Exploring MOOC Use Among Those Who Cannot Afford a Formal Education.
International Review of Research in Open and Distributed Learning, 15(5), 177–196.
https://doi.org/10.19173/irrodl.v15i5.1841 Febrianti, P. (2014). Pelayanan Kesejahteraan
Sosial Terhadap Anak Terlantar Di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Putra Utama 03 Tebet Jakarta Selatan. Retrieved from http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle /123456789/26932
Harefa, F. S. (2017). Implementasi Kebijakan Program Pembinaan Anak Jalanan di Kota
Medan. Retrieved from
http://repository.uma.ac.id/handle/1234567 89/8294
Harris, M. S., Johnson, K., Young, L., & Edwards, J. (2011). Community reinsertion success of street children programs in Brazil and Peru. Children and Youth Services Review,
33(5), 723–731.
https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2010.1 1.017
Hasbullah. (2015). Kebijakan Pendidikan (Dalam Perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi Objektif Pendidikan di Indonesia). Jakarta:
Rajawali Pers.
Lytvynova, S., & Melnyk, O. (2018). Professional Development of Teachers Using Cloud Services During Non-formal Education.
ArXiv:1807.05987 [Cs]. Retrieved from http://arxiv.org/abs/1807.05987
Mansur. (2005). Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mas’ud, F. (2019). Implikasi Undang-Undang Perlindungan Anak terhadap Pekerja Anak (Suatu Kajian Sosiologi Hukum terhadap Anak Penjual Koran di Kota Kupang). JPK (Jurnal Pancasila Dan Kewarganegaraan),
4(2), 11–19.
https://doi.org/10.24269/jpk.v4.n2.2019.pp 11-19
McAlpine, K., Henley, R., Mueller, M., & Vetter, S.
(2010). A Survey of Street Children in Northern Tanzania: How Abuse or Support Factors May Influence Migration to the Street. Community Mental Health Journal,
46(1), 26–32.
https://doi.org/10.1007/s10597-009-9196-5 Mondada, F., Bonani, M., Riedo, F., Briod, M., Pereyre, L., Retornaz, P., & Magnenat, S.
(2017). Bringing Robotics to Formal Education: The Thymio Open-Source Hardware Robot. IEEE Robotics Automation Magazine, 24(1), 77–85.
https://doi.org/10.1109/MRA.2016.263637 2
Naterer, A., & Godina, V. V. (2011). Bomzhi and their subculture: An anthropological study of the street children subculture in Makeevka, eastern Ukraine. Childhood,
18(1), 20–38.
https://doi.org/10.1177/090756821037992 4
Njord, L., Merrill, R. M., Njord, R., Lindsay, R., &
Pachano, J. D. R. (2010). Drug Use Among Street Children and Non—Street Children in the Philippines. Asia Pacific Journal of Public Health, 22(2), 203–211.
https://doi.org/10.1177/101053951036151 5
10| SocioEdu: Sociological Education
Nurhidayat, A. (2012). Kebijakan Pemkot Pada Pendidikan Anak Jalanan (Studi Kasus Pemerintah Kota Surakarta) (S2, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
http://eprints.ums.ac.id/22196/10/BAB_VI .pdf
Parera, M. M. A. E. (2016). Implementasi Pendidikan Karakter Bagi Anak Jalanan Di Griya Baca Kota Malang (Other, University of Muhammadiyah Malang).
University of Muhammadiyah Malang.
Retrieved from
http://eprints.umm.ac.id/33104/
Saltan, F., & Arslan, Ö. (2016). The Use of Augmented Reality in Formal Education: A Scoping Review. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 13(2), 503–520.
https://doi.org/10.12973/eurasia.2017.0062 8a
Stanisia. (2019, October 22). Kebijakan Pendidikan Anak Terlantar di Panti Asuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang.
Stanisia. (2020a, February 29). Pendidikan Formal, Informal dan Nonformal untuk Anak Terlantar oleh Pemerintah Kota Kupang (M. L. Roja, Interviewer).
Stanisia. (2020b, March 7). Faktor Pendukung, Penghambat dan Dampak Implementasi Kebijakan Pendidikan Anak Terlantar di Panti Ashuhan St. Louis De Monfort Kota Kupang (M. L. Roja, Interviewer).
Syahrul, S., & Datuk, A. (2018). Perilaku Sosial Anak Penjual Koran di Kota Kupang Dalam Mempertahankan Eksistensinya di Sekolah. DIMENSIA: Jurnal Kajian Sosiologi, 7(2), 68–82. Retrieved from https://journal.uny.ac.id/index.php/dimensi a/article/view/32651
Syahrul, S., & Wardana, A. (2017). Analisis kebijakan pendidikan untuk anak jalanan di Kota Yogyakarta. Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS, 4(2), 117–130.
https://doi.org/10.21831/hsjpi.v4i2.10388