Pembelajaran Kosakata dalam Percakapan Melalui Media Gambar
Oleh:
Renny Anggraeny, S.S., M.Pd.
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR
2014
Vocabulary learning with visual media ABSTRACT
Renny Anggraeny Language skills very important possesed by people who are learning Japanese.
Learning the language is essentially a teaching language skills, not learning about the language. Speaking skills that need to be emphasized is listening skilss, writing, reading, and talking. With language skills, then one can communicate or talk properly. Learners who have mastered the four language skilss, and therefore would be a good Japanese speaker. By differentiating teaching media, learners will not easily become bored during learning process.
Teachers could also easily devide the type of materials into two namely, visual and the non visual, which made learners could easily develop their creativity based on their own personal preferences. By applying the model of visual media with pictures learning to learners, language skilss, the activities can be carried out brilliant results to the learners.
Keywords: language skilss, speaking skilss, visual media
Pembelajaran Kosakata dalam Percakapan Melalui Media Gambar
I. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial dan tindakannya yang pertama dan yang paling penting adalah tindakan sosial, suatu tindakan tempat saling mempertukarkan pengalaman, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan serta menyetujui sesuatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu, maka di dalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen yang umum yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan suatu masyarakat. Untuk menghubungkan sesama anggota masyarakat maka diperlukan komunikasi.
Komunikasi mempersatukan para individu ke dalam kelompok-kelompok dengan jalan menghablurkan konsep-konsep umum, memelihara serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain dan menetapkan suatu tindakan tidak akan ada serta dapat bertahan lama tanpa adanya masyarakat-masyarakat bahasa. Dengan perkataan lain, masyarakat berada dalam komunikasi linguistik.
Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur : mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal.
Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin
terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan.
Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir.
(Tarigan, 1980:1)
Penggunaan media dalam pembelajaran berbicara sangat penting sekali karena berfungsi untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Selain memegang peranan penting dalam usaha untuk memperlancar tercapainya tujuan pengajaran, media pembelajaran berfungsi untuk menarik minat pembelajar sehingga pembelajaran lebih menarik dan dapat menumbuhkan motivasi pembelajar. Melalui media pembelajaran, kualitas dan aktivitas belajar pembelajar dalam kelas dapat ditingkatkan. Media pembelajaran juga dapat menjadi salah satu sumber belajar yang ikut membantu pengajar memperkaya wawasan pembelajar.
Dalam makalah ini membahas pembelajaran kosakata dalam percakapan dengan menggunakan media gambar.
II. Tinjauan Pustaka
2.1 Hubungan antara Berbicara dengan Menyimak
Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap-muka atau face-to-face communication.
Hal-hal yang dapat memperlihatkan eratnya hubungan antara berbicara dengan menyimak adalah:
a) Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi). Oleh karena itu maka contoh atau model yang disimak atau direkam oleh sang anak/siswa sangat penting dalam penguasaan kecakapan berbicara.
b) Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh perangsang (stimuli) yang mereka temui (misalnya kehidupan desa/kota) dan kata- kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam menyampaikan ide- ide atau gagasan mereka.
c) Ujaran sang anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan dalam masyarakat tempatnya hidup; misalnya: ucapan, intonasi, kosakata, penggunaan kata-kata, pola- pola kalimat.
d) Anak yang lebih muda lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit dibandingkan kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya.
e) Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
f) Bunyi atau suara merupakan suatu faktor penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata sang anak. Oleh karena itu sang anak akan tertolong kalau mereka menyimak ujaran-ujaran yang baik dari para guru, rekaman-rekaman yang bermutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi, dan lain-lain.
g) Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak. Umumnya sang anak mempergunakan/meniru bahasa yang didengarnya.
(Tarigan, 1980:1-2;Dawson,1963:29)
2.2 Batasan dan tujuan berbicara
Ujaran (speech) merupakan suatu bagian yang integral dari keseluruhan personalitas atau kepribadian, mencerminkan lingkungan sang pembicara, kontak-kontak sosial dan pendidikannya. Aspek-aspek lain, seperti cara berpakaian adalah bersifat eksternal, tetapi ujaran sudah bersifat inheren, pembawaan.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Sebagai perluasan dari batasan ini dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Lebih jauh lagi, berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.
Dengan demikian maka berbicara itu lebih daripada hanya sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan- gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya, dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak.
(Mulgrave, 1954 : 3-4)
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogianyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan; dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap (para) pendengarnya, dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
2.3 Ragam seni berbicara
Secara garis besar, maka berbicara dapat dibagi atas:
1) Berbicara di muka umum pada masyarakat (public speaking) yang mencakup empat jenis, yaitu:
a) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan, yang bersifat informatif (informative speaking);
b) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan, persahabatan (fellowship speaking);
c) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (peasuasive speaking);
d) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberative speaking).
2) Berbicara pada konferensi (conference speaking) yang meliputi:
A) Diskusi kelompok (group discussion), yang dapat dibedakan atas:
(a) Tidak resmi (informal) dan masih dapat diperinci lagi atas:
(i) Kelompok studi (study groups)
(ii) Kelompok pembuat kebijaksanaan (policy making groups) (iii)Komik
(b) Resmi (formal) yang mencakup pula:
(i) Konferensi
(ii) Diskusi panel (iii)Simposium
B) Prosedur parlementer (parliamentary prosedure) C) Debat
2.4 Jenis Media Pembelajaran 2.4.1 Media Visual
Danasasmita (2009:125-127), media visual juga disebut media pandang karena media tersebut melalui pandangan/penglihatan. Media ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (a) media visual yang tidak diproyeksikan, dan (b) media visual yang diproyeksikan.
Dalam makalah ini hanya membahas media visual yang tidak diproyeksikan, yaitu gambar mati.
a.Media visual yang tidak diproyeksikan
Media ini sangat sederhana, tidak membutuhkan pesawat/proyeksi. Oleh karena itu, sifat perangkat lunak yang tidak tembus cahaya (non-transparan), maka tidak dapat dipantulkan pada layar. Akan tetapi, media ini paling banyak digunakan oleh para pengajar dilingkungan kita dibandingkan dengan media-media audiovisual yang lain. Faktor-faktor teknis seperti tidak adanya aliran listrik, faktor ekonomis seperti dana yang rendah, menyebabkan pengajar menggunakan media yang lebih praktis. Beberapa contoh jenis media diantaranya adalah gambar mati, ilustrasi, karikatur, poster, bagan, diagram, grafik, peta, realita dan model.
2.4.2 Keunggulan media gambar:
a) Dapat menerjemahkan ide-ide abstrak ke dalam bentuk yang lebih nyata b) Banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, koran, katalog atau kalender c) Gambar sangat mudah dipakai karena tidak membutuhkan peralatan d) Gambar relatif tidak mahal
e) Dapat digunakan untuk semua tingkat pengajaran dalam bidang studi 2.4.3 Kelemahan media gambar:
a) Gambar kecil tidak dapat dilihat oleh semua siswa pada kelas yang besar
b) Gambar mati ialah gambar dua dimensi. Untuk menunjukkan dimensi yang ketiga (kedalaman benda), harus digunakan satu seri gambar dari objek yang sama tetapi dari sisi yang berbeda
c) Tidak dapat menunjukkan atau menggambarkan sesuatu yang bergerak
d) Anak tidak selalu mengetahui bagaimana “membaca” (menginterprestasikan) gambar 2.4.4 Manfaat media gambar sebagai media visual
a) Menimbulkan daya tarik pada diri pembelajar, yaitu gambar dengan berbagai warna akan lebih menarik dan membangkitkan perhatian serta minat belajar
b) Mempermudah pengertian pembelajar, suatu penjelasan yang sifatnya abstrak, dapat dibantu dengan gambar sehingga ia lebih mudah memahami apa yang dimaksud c) Memperjelas bagian-bagian yang penting, yaitu melalui gambar, kita dapat
memperbesar bagian-bagian yang penting atau kecil sehingga dapat diamati dengan kelas
d) Menyingkat suatu uraian, yaitu suatu informasi yang dijelaskan dengan kata-kata mungkin membutuhkan uraian yang panjang. Uraian tersebut dapat ditunjukkan hanya dengan sebuah gambar
2.4.5 Ciri-ciri media gambar yang baik:
a) Cocok dengan tingkatan umur/kemampuan anak
b) Bersahaja dalam arti yang tidak terlalu kompleks, karena dengan gambar itu pembelajar dengan mudah akan mendapatkan gambaran pokok. Kalau gambar kompleks, perhatian pembelajar akan terbagi. Akibatnya ada sesuatu yang justru penting tetapi malah tidak tertangkap oleh mereka
c) Realitas, maksudnya gambar itu seperti benda sesungguhnya/sesuai dengan apa yang digambar. Sudah tentu perbandingan ukuran juga harus diperhatikan
d) Gambar dapat diperlakukan dengan tangan. Sebagai media pembelajaran, gambar harus dapat dipegang, diraba dan dapat digunakan oleh pembelajar untuk kepentingan kegiatan belajarnya
III. Pembahasan
Danasasmita (2009: 85-86), untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar pelajaran berbicara bahasa Jepang memiliki beberapa tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Namun dalam tahap pelaksanaannya terbagi atas:
a) Pengulangan materi pelajaran
Kegiatan yang dilakukan oleh pengajar mengulas atau menerangkan kembali kepada pembelajar tentang materi pembelajaran yang telah diajarkan pada pelajaran sebelumnya.
Tujuannya agar pembelajar mengingat kembali materi sebelumnya dan dapat menggunakannya dengan materi baru pada latihan berikutnya. Kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai evaluasi untuk menilai sampai sejauh mana pembelajar dapat menguasai dan mengingat materi pembelajaran yang telah diberikan.
b) Pengantar atau pemanasan
Kegiatan yang dilakukan oleh pengajar untuk menjelaskan kepada pembelajar tentang target atau sasaran pelajaran yang akan dicapai saat itu. Pada kegiatan ini pengajar menjelaskan kepada pembelajar pokok-pokok bahasan materi pembelajaran yang akan diberikan. Tujuannya agar para pembelajar mengetahui materi pembelajaran yang akan diperoleh mereka dalam kegiatan belajar mengajar yang akan diikutinya.
c) Pengenalan materi dan latihan dasar
Kegiatan pengajar mengenalkan atau mengajarkan materi pelajaran baru kepada pembelajar sehingga mereka dapat mengerti dan memahami arti dan cara pemakaian kosakata, pola kalimat, ungkapan-ungkapan baru dan lain sebagainya. Selain itu juga melakukan latihan-latihan dasar agar pembelajar dapat mengucapkan dan mengingat arti dan bentuk kalimat atau ungkapan dengan benar serta dapat menggunakan kosakata, pola kalimat, ungkapan yang diajarkan. Pengajar biasanya banyak dipakai untuk menerangkan tatabahasa yang berhubungan dengan materi ajar saat itu.
d) Tahap latihan penerapan
Tahapan pengajar memberi latihan-latihan kepada pembelajar, materi yang telah dijelaskan pada tahap sebelumnya, seperti pemakaian kosakata, pola kalimat, ungkapan dengan situasi atau kondisi komunikasi yang mendekati keadaan yang sebenarnya. Tujuannya agar pembelajar dapat menggunakan materi pelajaran tersebut pada situasi komunikasi yang sebenarnya.
e) Tahap simpulan
Tahapan pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar untuk menilai apakah materi ajar yang diberikan dapat dikuasai dengan baik oleh pembelajar, atau adakah materi pembelajaran yang dianggap terlalu sulit bagi pembelajar. Karena itu, bila memungkinkan waktunya, tentu saja perlu diberi penjelasan kembali dan diadakan latihan khusus untuk materi tersebut.
Kegiatan ini disebut juga tahap pasca latihan.
Di bawah ini adalah contoh-contoh penerapan percakapan dengan menggunakan media gambar:
Gambar 1
Kosakata: 鼻血が出る Percakapan 1
B, C, D, E : どうしましたか。
A : 鼻血が出るんです。
B : じゃ、うちへ帰って、寝たほうがいいですよ。
C : きょうはおふろに入らないほうがいいですよ。
D : 熱いお茶を飲んだほうがいいですよ。
E : 勉強しないほうがいいですよ。
A : わかりました。じゃ、きょうはうちへ帰って、
帰ります。
B, C, D, E : お大事に。
Gambar 2
Kosakata: 鮪 Percakapan 2
A : きのう初めて鮪を食べました。
B : どうでしたか。
A : とてもおいしかったです。
Gambar 3
Kosakata: 新幹線 Percakapan 3
A : あした東京へいきます。
B : 何で行きますか。
A : 新幹線でいきます。
B : 一人でいきますか。
A : いいえ、会社の人と行きます。
Gambar 4
Kosakata: 美術館 Percakapan 4
A : はい、やまと美術館です。
B : すみません。そちらは何時から何時までですか。
A : 10時から4時までです。
B : 休みは何曜日ですか。
A : 月曜日です。
Gambar 5
Kosakata: 本屋 Percakapan 5
A : いつもこの店で本を買いますか。
B : ええ。
A : わたしも時々ここで買います。
B : そうですか。
IV. Simpulan
Penggunaan media gambar dalam pengajaran berbicara memegang peranan yang sangat penting. Kosakata-kosakata yang belum dikuasai oleh para pembelajar bahasa Jepang, melalui media gambar ini dapat dipahami secara langsung arti dari kosakata tersebut.
Kosakata-kosakata baru dapat diperoleh dengan media gambar ini banyak tersedia di dalam buku-buku, majalah, koran, katalog atau kalender dan gambar relatif tidak mahal. Dalam sebuah percakapan dengan adanya komunikasi yang terjalin diantara kedua belah pihak dengan baik, maka tujuan pembelajaran berbicara akan dapat tercapai. Akan tetapi, kemampuan berbahasa tidak hanya kemampuan berbicara saja, ketiga keterampilan berbahasa lainnya, seperti kemampuan menulis, menyimak dan membaca sangatlah penting dan saling memiliki keterkaitan satu sama lain.
DAFTAR PUSTAKA
Biwako, Takahashi dkk. (2008). Shin Nihongo Kiso II. Tokyo : Suriieenettowaaku.
Danasasmita, Wawan. (2009). Metodologi Pembelajaran Bahasa Jepang. Bandung : Rizqi Press
Iwao, Ogawa. (2000). Minna no Nihongo shokyuu I.Tokyo : Suriieenettowaaku.
Kobayashi, Mina. (1998). Yokuwakaru Kyoujuhou. Tokyo : Kabushiki Kaisha.
Sauri, Sofyan.,Dr.Drs.H.M.Pd. (2006). Pendidikan Berbahasa Santun. Bandung : PT.
Genesindo.
Tarigan, Henry Guntur.,Prof.DR.(1981) Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung : Angkasa.